Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only

Warnings : AU, OOC, language—maybe? Contain Sho-ai , extremely minor OCs, revised names, genderswitch character scenes, semi-drabbles


Minggu ketiga bulan November tahun ini mungkin menjadi momen yang tidak begitu spesial bagi para penghuni kota kecil seperti Oakland.

Menjelang puncak musim dingin, temperatur udara terus menurun setiap harinya dengan dengan tingkatan yang cukup konstan. Hujan terus-menerus mengguyur kota itu dan matahari jarang sekali menampakan diri akhir-akhir ini. Sebagian besar jalanan pusat kota tampak lengang, payung-payung lebar dan meja bundar plus kursi yang terletak di depan restoran-restoran kecil pinggir jalan sudah diangsur ke dalam gudang oleh pemiliknya—karena siapa juga yang akan menghabiskan waktunya hanya untuk duduk-duduk di pinggir jalan terbuka sementara hujan turun dengan derasnya?

Dari balik kaca sebuah restoran cepat saji, orang-orang berlalu lalang di jalanan yang tidak begitu lapang. Semuanya mengenakan pakaian tebal dan sebisa mungkin menutupi badan mereka dengan rapat—kecuali beberapa wanita yang masih gigih menantang suhu dengan pakaian provokatif. Orang-orang itu berjalan bagai diburu waktu, setiap langkah sengaja dilebar-lebarkan. Kebanyakan wajah mereka tampak semendung langit pada saat itu.

Dan dua manik cerulean memerhatikan semua pergerakan itu dengan pandangan kosong.

"Ciel?"

Suara setengah-cemas Alois tampaknya tidak cukup untuk mengembalikan Ciel dari alam bawah sadarnya. Merasa tindakannya berjalan tanpa hasil, remaja pirang itu pun mengguncang tangan yang terkepal kaku di hadapannya hati-hati. Sentuhan spontan itu membuat Ciel tersentak dan mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menolehkan wajahnya dan mendapati Alois yang menatapnya heran bercampur khawatir.

"Ciel, ada apa denganmu?" tanya Alois lagi—kali ini dengan sedikit penekanan. "Sejak awal perjalanan pulang kuperhatikan kau terus-terusan diam. Ada apa?"

Ciel tidak langsung menjawab, ia malah menatap Alois agak lama, sebelum menghela napas pendek.

"Tidak ada apa-apa."

Alois mendengus. "Kau semakin tidak pintar berbohong, ya?"

Remaja biru-kelabu itu mulai bergerak-gerak tidak nyaman di kursinya. Diedarkannya pandangannya ke sekeliling restoran cepat saji itu dengan cepat. Kondisinya hampir tiga-perempat penuh, obrolan yang terdengar seperti gumaman pelan menambah kesan ramai pada ruangan segi empat itu. Jelajahan matanya berhenti pada antrian panjang di depan kasir, dengan dua objek diantaranya yang sangat ia kenali di bagian depan antrian. Dua orang pemuda yang sedang sibuk mendiskusikan sesuatu sambil sesekali menunjuk-nunjuk daftar menu yang dipajang di sisi atas kasir. Pemuda yang berkacamata dan berambut hitam kebiruan tampak seperti sedang membicarakan opsi menu makanan yang dipilihnya sementara yang pemuda yang satu lagi—yang ber-iris kemerahan dan sedikit lebih tinggi dari yang sebelumnya—kelihatan sedang menimbang-nimbang opsi tersebut sambil mengangguk pelan.

Ciel pun kembali menolehkan pandangannya dari dua pemuda di antrian itu ke Alois.

"Sebelumnya aku ingin bertanya tentang satu hal." ujarnya kemudian.

"Eh?"

Jemari kurus Ciel mengetuk-ngetuk tepian meja dengan sedikit gusar. Ia membuka mulutnya, tapi segera ditutupnya kembali. Digigitnya bibir bawahnya, seolah berpikir ulang, sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara.

"Kau…" katanya ragu, "apa kau tahu bagaimana perasaan saat kau jatuh cinta pada seseorang?"

Alois nyaris saja tersedak ludahnya sendiri.

"A-apa?" tanyanya, sedikit tidak yakin.

Ciel menutupi kedua pipinya, sedikit-banyak merasa malu. "Kau dengar aku."

Rasanya Alois ingin sekali tertawa terbahak-bahak. Tumben sekali Ciel menanyakan sesuatu sekonyol ini. Ia tersenyum geli seolah mengetahui kenapa remaja satu itu bertanya—walau memang sebenarnya ia tahu. Ia memberi Ciel tatapan skeptis sebelum merespon pertanyaan itu.

"Memangnya kau sedang jatuh cinta?"

"Puh," Ciel menundukkan kepalanya, berusaha keras memerangi udara hangat yang mengelilingi wajahnya, "hahahaha! Bahasa macam apa itu? Kau pikir aku ini apa? Anak perempuan?"

Alois mengedikkan bahu, dan itu membuat Ciel menghentikan tawa canggungnya.

"Hanya sekedar ingin tahu saja, kok." ia beralasan, matanya kembali mengawasi dua pemuda yang kini sedang memesan makanan di order row. "Memangnya itu salah?"

"Tidak. Tentu saja tidak."

Jeda beberapa detik sampai Alois kembali buka suara.

"Tidak banyak yang aku tahu." kata Alois pelan, matanya menerawang. "Yang aku tahu… kau akan selalu memikirkannya disaat orang yang kau sukai tidak bersamamu. Kau akan sulit berpikir jernih saat ia menatapmu, dan…" ia menarik napas, "kau akan merasa nyaman saat ia di dekatmu."

"Begitukah?" Ciel menopang dagunya dan ikut menerawang―lebih tepatnya, mencermati setiap kata yang diucapkan sepupu angkatnya barusan dengan semua yang telah dialaminya.

"Ngomong-ngomong… siapa dia?"

Ciel buru-buru memukul tangan Alois dengan pelan. "Kan sudah kubilang, aku hanya bertanya!"

"Aah, betapa beruntungnya orang itu." Alois tertawa geli. "Disukai oleh seorang lelaki tampan—"

"Hei, stop! Stop!" Ciel merinding mendengar kalimat menggelikan seperti itu. Tapi anehnya, setelah itu ia malah ikut tertawa. "Apa, sih? Sepertinya kau jadi cemburu…"

"Eww, yang itu baru 'hentikan'!" Alois buru-buru memotong sambil membuat mimik seolah-olah jijik akan sesuatu. "Kau tahu? Lama-lama kita kedengaran seperti dua orang remaja labil yang sedang meragukan gender dan orientasi—aduh!"

Rasa ngilu menjalar di sekujur kaki kiri Alois saat Ciel tiba-tiba saja menendang tulang keringnya. Ia juga sedikit dikejutkan dengan bunyi tray penuh makanan yang beradu dengan permukaan meja kayu dan dua sosok menjulang—Sebastian dan Claude—yang memandangi mereka berdua penuh tanda tanya. Alois kembali memutar wajahnya ke arah Ciel dan mendapati remaja biru-kelabu itu balas menatapnya santai seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa diantara mereka.

"Ada ribut-ribut apa ini?" Claude menatap keduanya bergantian sambil duduk di kursi yang tersedia.

"Tidak ada apa-apa." jawab Ciel sekenanya. Ia melirik ke Alois yang menatapnya tajam, kurang-lebih karena kakinya yang ditendang semena-mena. "Kami hanya membicarakan soal pekerjaaan rumah. Tidak lebih." bohongnya.

"Hmm." Claude ber-hm mafhum. Ia lalu memberi isyarat pada Sebastian yang belum sempat duduk untuk mengambil sedotan dan saus di booth yang tersedia, dan dengan wajah pura-pura bete, Sebastian menurutinya.

"Tunggu apa lagi? Ayo ambil bagian kalian." pemuda berkacamata itu menyodorkan tray lain yang sama penuhnya dengan yang satunya ke arah Ciel dan Alois yang masih saling diam. Alois yang memang sedang kelaparan langsung saja menyikat nugget set dan hashbrown pesanannya, sementara Ciel mengambil duo fries miliknya dengan hati-hati, menaruhnya di hadapannya dan menatap makanan hangat itu begitu saja setelah menyadari bahwa tidak ada saus di atas tray itu.

Sebastian kembali dari tugas 'paksa'nya, membawa beberapa sedotan dan dua botol saus. Ia mengambil tempat di samping Ciel, satu-satunya tempat yang tersisa, dan Ciel sedikit kaget saat mendengar suara kursi yang sedikit bergeser di lantai saat Sebastian duduk. Sebastian menaruh dua botol saus itu di tengah meja dan memberikan sedotan pada Alois dan Claude di hadapannya, dan ia menaruh sedotan miliknya sendiri di dekat minumannya sebelum membantu menancapkan sedotan di gelas minuman milik Ciel.

Masih dengan pikiran setengah kosong, Ciel memerhatikan tangan pucat berkuku hitam itu—satu lagi fakta kecil acak yang diketahui Ciel tentang Sebastian—bekerja dengan sedotan dan gelas minumannya. Ia membiarkan tangan itu berlalu dari hadapannya tanpa sempat untuk mengucapkan 'terima kasih'.

Bahkan tanpa sempat untuk menyadari Sebastian melakukan itu hanya untuknya, tidak untuk yang lain.

Mereka berempat pun mulai menikmati bagian masing-masing dengan tenang. Tidak ada secicit suara pun yang keluar, sampai saat mereka hampir selesai, Claude mengeluarkan ponsel miliknya dari saku coat yang dikenakannya. Kelihatannya ia baru saja menerima pesan singkat, dan saat pemuda itu membacanya, ekspresinya yang semula rileks berubah sedikit keruh. Claude pun menutup ponsel flip itu dengan terburu-buru, lalu kembali memakan burger-nya dan mengunyah makanan itu sedikit lebih cepat dari sebelumnya.

"Dari Hannah?" tanya Sebastian pada Claude—segera setelah air muka pemuda itu berubah. Claude mengangguk pelan.

"Ada apa dengan kalian?" ia bertanya lagi. "Akhir-akhir ini kau jarang menemuinya, begitu juga dia. Apa kalian sedang ada masalah?"

Claude menghela napas. "Begitulah. Kami baru saja bertengkar… kecil."

"Bertengkar kecil?" ulang Alois, nadanya seolah tidak percaya. "Kalian berdua selalu saja bertengkar kecil. Kurasa kali ini lebih dari itu."

"Aku tidak tahu." ujar Claude sambil meremat kertas bungkusan burger miliknya. "Wanita. Aku tidak pernah mengerti jalan pikiran mereka."

Sebastian menatap Claude sejenak, lalu menekurkan wajahnya, seakan meresapi kata-kata Claude barusan sebelum menanggapinya.

"Kau benar." gumamnya kemudian.

Alois mengerutkan dahinya mendengar opini Sebastian, tapi sepertinya ia mengabaikan hal itu dengan cepat. "Yah, kuharap masalah kalian cepat selesai."

"Kuharap juga begitu."

"Oke, kurasa aku sudah selesai." kata Sebastian sambil membersihkan remah-remah makanan di ujung jarinya. "Bagaimana kalau kita pulang sekarang? Sudah mulai gerimis di luar."

"Ugh, bisakah kita duduk disini sedikit lebih lama? Rasanya makananku belum turun semua ke lambung." Alois melonggarkan ikat pinggangnya, wajahnya seolah-olah hendak muntah.

"Kau bisa melakukannya di dalam mobil." Sebastian menghela napas. "Aku takut hujan akan semakin deras, dan kau tahu aku benci mengendarai mobil saat hujan."

Claude tertawa kecil. "Bukannya kau malah benci itu karena hujan mengotori mobilmu?"

"Yang itu juga." pemuda berambut jet black itu pun bangkit dari tempat duduknya, diikuti oleh Alois, Claude, dan Ciel. "Ayo."

Keempatnya berjalan menuju pintu keluar. Di sekitar pintu keluar, banyak orang-orang yang berkumpul, lebih seperti menumpuk, untuk berteduh di bagian atap restoran yang agak menjorok dari hujan yang mulai deras. Orang-orang itu memenuhi jalan keluar, sehingga untuk keluar dari sana, butuh sedikit perjuangan ekstra.

Sebastian yang berjalan paling depan berusaha membuka jalan. Beberapa orang sedikit merapat ke sisi-sisi berlawanan, membuat jalan kecil kosong untuk mereka lewati. Tepat di depan pintu sensor-otomatis, kerumunan semakin padat. Sulit untuk menembus kerumunan itu, kecuali jika ia menggunakan sedikit usaha untuk 'memaksa' mereka untuk menepi. Akan tetapi, karena ulahnya itu, Sebastian membuat seorang wanita hampir jatuh tersungkur di depannya, kalau saja dia dengan tidak sigap menolong wanita itu.

"Ah, maaf… maafkan saya," Sebastian berkali-kali meminta maaf pada wanita itu sambil membantunya untuk berdiri. Meski di tengah keramaian, ia bisa mendengar wanita itu sedikit merengut saat ia berusaha menyeimbangkan posisinya. Sebastian menopang tangan wanita itu dengan kedua tangannya, dan saat wanita itu sudah dapat menyeimbangkan posisinya, akhirnya ia mendongakkan wajahnya dari balik rambut hitam keriting tebal yang menutupi saat ia menunduk.

"Tidak a―" ucapan wanita itu terputus saat ia melihat wajah si penolong―sekaligus yang membuatnya nyaris celaka. Mata bulatnya bermaskaranya mengerjap kaget, dan seolah refleks, Sebastian memimiki apa yang dilakukan wanita itu. Ia juga sama kagetnya dengan wanita cantik berambut keriting itu.

Claude dan Alois yang menyusul di belakang Sebastian juga menatap wanita itu dengan pandangan tidak percaya. Bahkan Alois sampai menyikut lengan Claude agak keras dan bertanya pada mahasiswa berkacamata itu dengan sangat heran.

"Claude, bukannya dia…"

Bahkan saking kagetnya, Claude tidak dapat memberikan respon.

"Sebastian!"

Sekonyong-konyong, wanita itu memeluk Sebastian erat-erat. Ia melingkarkan tangannya ke leher Sebastian, sedikit berjinjit untuk menyamai tinggi raven itu. Ekspresi bahagia terlukis jelas di wajahnya, pipinya merona merah muda.

Sementara Ciel yang tertinggal agak jauh di belakang karena terlalu banyak melamun buru-buru menyusul mereka, tentu saja dengan sedikit kesulitan karena kerumunan itu sudah kembali menutup jalan yang sebelumnya dibuka oleh Sebastian. Ia sempat heran melihat Claude dan Alois yang terdiam di dekat pintu keluar, dan jauh lebih heran saat ia melihat Sebastian,yang berdiri tepat di samping pintu sensor-otomatis, dengan seorang wanita berambut keriting yang tengah memeluknya.

Sebastian sendiri, masih sedikit terdistorsi dengan pikirannya yang dilanda keheranan, mengangkat tangan kanannya dengan sangat ragu untuk menyentuh pundak wanita itu, seolah-olah ia bukanlah makhluk nyata.

Entah kenapa, dada Ciel terasa sesak. Perasaannya seketika kacau balau melihat pemandangan itu.

Dan akhirnya Sebastian dapat menggunakan suaranya kembali untuk berbicara.

"…Beatrice?"

000

"K-kau serius?"

Alois buru-buru mendekatkan jari telunjuknya ke bibirnya, isyarat untuk mengatakan 'jangan berbicara keras-keras!'. Lizzy yang duduk di belakangnya refleks menutup mulut dengan kedua tangannya, meski ia tahu tindakan itu tidak lagi berguna.

"Maaf." katanya pelan. "Tapi, aku… uh, Beatrice? Kenapa ia bisa ada di sini?"

Alois menggeram pelan. Ia menoleh kembali ke depan kelas, dimana Mr. Kettler, si pengajar-Kimia-dengan-berat-badan-berlebih, tengah sibuk menjelaskan tentang larutan buffer dengan mulut berbusa. Dan seperti biasa, hampir seratus persen murid yang lain―termasuk dia sendiri―tidak mengacuhkannya.

"Aku juga tidak tahu. Kami tiba-tiba saja bertemu, dan… begitulah."

"Lalu apa yang Sebastian lakukan? Apa ia menamparnya?" tanya Lizzy lagi.

"Di tengah kerumunan begitu? Yang benar saja!" desis Alois. "Kau pasti tidak bisa membayangkan apa yang wanita itu lakukan."

Lizzy mengangkat sebelah alisnya. "Apa? Beatrice? Apa yang berani dia lakukan?"

Alois membulatkan matanya, seolah-olah ia akan menceritakan kisah horor pada Lizzy. "Dia memeluk Sebastian!"

"Di tengah kerumunan?"

Alois mengangguk cepat-cepat.

"Astaga!" Lizzy tampak shock. "Astaga, Beatrice! Berani-beraninya dia… setelah apa yang dia lakukan pada Sebastian…"

"Kau saja berpikiran seperti itu." dengus Alois. "Kau pasti tidak punya ide apa yang harus kau lakukan jika kau ada di posisiku saat itu."

"Untuk apa dia kesini?" mata hijau emerald Lizzy menyipit. "Apa yang ia inginkan?"

"Sudah kubilang, aku tidak tahu!" Alois berbalik sepenuhnya ke arah belakang agar bisa berbicara pada gadis pirang itu dengan mudah, dan kontan saja nada suaranya naik beberapa tingkat. "Yang jelas, dia bisa saja membuat rencanaku gagal total!"

Lizzy memajukan posisi duduknya. "Rencana? Apa mak―"

"Dan Mr. Trancy!" suara Mr. Kettler tiba-tiba menggelegar, membuat Alois terkejut dan hampir terjatuh dari kursinya. "Mr. Trancy yang baik hati akan menjadi sukarela untuk mengerjakan dua soal pertama di papan tulis, anak-anak. Bisakah anda, , yang sepertinya sudah sangat menguasai materi ini sampai tidak perlu lagi melihat apa yang saya terangkan, menyelesaikan persoalan-persoalan ini?"

Alois mengerjap, melihat ke arah papan tulis yang sudah ditulisi dengan beberapa angka dan rumus kimia yang cukup sulit dan sama sekali tidak ia mengerti, lalu menatap Mr. Kettler yang balas menatapnya dengan seringai menyebalkan.

"Psst, maaf! Sepertinya dia sedang dalam mood buruk hari ini." bisik Lizzy setengah mengejek dari belakangnya. "Dan kau masih berhutang menjelaskan tentang 'rencana' itu padaku!" tambahnya.

Dan ia kembali melihat yang masih menatapnya dengan ekspresi yang sama.

"Well, Mr. Trancy?"

Ingin rasanya remaja pirang itu lompat dari lantai tiga gedung Castlemont saat itu juga.

000

"Alois! Di sini!"

Ciel melambaikan tangannya di udara saat melihat Alois yang menyusuri lorong loker dengan agak canggung. Sepupu angkatnya itu setengah berlari menghampirinya saat ia menyadari Ciel yang ternyata berdiri di dekat pintu yang menuju lobby.

"Maaf, aku agak lama." ujar Alois dengan napas sedikit terputus-putus. "Big Kettler menceramahiku panjang lebar karena aku tidak memerhatikan pelajarannya."

Dengan wajah Alois yang santai saat ia menceritakan hal itu, Ciel menggeleng-gelengkan kepala. Anak satu ini memang sangat tidak peduli dengan segala hal, batinnya.

"Wah, tenyata ancaman para pemandu sorak itu ampuh juga, ya?" Alois tertawa pelan sambil memerhatikan sekelilingnya. "Gadis-gadis centil itu tidak lagi mengelilingimu."

"Yeah. Dan aku harus berterima kasih pada Liz untuk hal itu." gumamnya. "Ngomong-ngomong, dimana dia? Dari kemarin dia tidak pulang bersama kita."

"Regenerasi angkatan." jawab Alois. "Sebentar lagi kita akan lulus, kan? Para pemandu sorak itu harus menyerahkan posisi mereka untuk para penerusnya sebelum akhir tahun."

"Oh." Ciel membulatkan bibirnya. "Sudah jam berapa sekarang?"

Alois mengangkat tangan kirinya dan menatap benda putih yang melingkar di pergelangan tangannya. "Setengah satu siang. Masih ada setengah jam lagi sebelum Sebastian dan Claude menjemput kita."

"Setengah jam? Itu cukup lama." ujar Ciel sambil membuka pintu ke arah lobby. "Bagaimana jika kita menunggu di sini sebelum pergi ke lapangan parkir?"

Alois mengangguk. "Ide bagus. Ayo."

Keduanya memasuki lobby Castlemont yang sepi dan memilih untuk duduk di kursi panjang di dekat ruang siaran. Air conditioner di tempat luas itu belum dimatikan, dan ditambah dengan hujan rintik-rintik yang turun membuat mereka harus merapatkan jaket yang mereka kenakan.

"Al," Ciel memutuskan untuk membuka percakapan. "Apa kau mengenal wanita yang kemarin, eh… bersama Sebastian?"

Alois menolehkan wajahnya, sama sekali tidak menyangka bahwa Ciel akan bertanya soal itu di saat seperti ini. Ia memutar otak, berusaha menemukan bagaimana cara menjawab pertanyaan itu dengan tepat, dan berdeham.

"Dia Beatrice Kelvin." jelas Alois dengan suara yang sengaja dibuat serendah mungkin. "Beatrice adalah… salah satu kenalan baik Sebastian." sambungnya tak yakin.

"Kenalan baik?" Ciel menaikkan sebelah alisnya. "Tapi dari caranya memeluk Sebastian kemarin, sepertinya ia lebih dari sekadar kenalan baik."

"Baiklah, baiklah. Aku akan memberitahu yang sebenarnya." Alois menyerah untuk berpura-pura. "Beatrice dan Sebastian… dulu pernah terlibat dalam suatu hubungan yang romantis."

"…Mantan pacar, maksudmu?" Ciel memutar matanya. "Kenapa malah dibuat rumit seperti itu, sih?"

"Agak lucu untuk mengatakannya." cicitnya. "Mereka memulai hubungan itu sekitar dua tahun lalu. Sebastian mengenalkannya pada kami tidak lama setelah itu. Dia… yah, cantik, kau tahu itu. Aku tidak begitu mengenalnya dengan baik, dan sejauh itu kurasa dia cukup baik. Mereka dulu adalah pasangan yang… serasi."

"Kalau begitu, kenapa mereka bisa…"

"Mengakhiri hubungan? Yah, awalnya kami juga tidak mengerti." Alois melemaskan bahunya. "Tidak sempat ada konflik, malah. Tapi tiba-tiba saja, suatu ketika, kira-kira satu bulan sebelum kau datang ke Oakland, Beatrice menghilang. Dia meninggalkan Sebastian begitu saja. Kami tidak pernah lagi mendengar tentangnya setelah itu. Kami yakin Sebastian tahu, tapi ia tidak pernah menceritakannya."

"Maksudmu, dia pindah ke suatu tempat?" dahi Ciel sedikit berkerut.

"Ha, lebih klise dari itu, sepertinya." kata Alois sinis. "Aku pernah melihat Beatrice bersama laki-laki lain, dan aku yakin Sebastian sudah tahu hal itu, tapi ia tetap saja diam. Dan sepertinya itu adalah alasan kenapa Beatrice meninggalkannya," ia menghela napas sebelum meneruskan, "Meski di luar ia terlihat tidak apa-apa, kurasa Sebastian masih sulit untuk melupakannya… mungkin sampai saat ini."

Ciel hanya bisa terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka, dibalik sikapnya yang terkesan santai dan easy going, Sebastian ternyata memendam hal seburuk itu. Meskipun Ciel tidak mengerti tentang segala macam hal-hal yang berbau percintaan seperti ini, ia tahu bagaimana perasaan Sebastian.

Ditinggalkan. Kosong. Sama seperti apa yang dirasakannya seperti sebelum pindah ke Oakland.

Ia mengingat raut wajah raven itu saat Beatrice memeluknya kemarin, dan ia tentu saja tampak sangat terkejut. Akan tetapi, di samping itu, Ciel dapat melihat segelintir rasa bahagia yang tersirat di mata claret Sebastian.

Dan ia merasa sangat, sangat kecewa.

Tunggu―kenapa ia harus kecewa?

Alois memerhatikan Ciel yang tampak tidak nyaman, dan itu membuatnya tersenyum geli. Ia menyikut lengan Ciel pelan, dan remaja itu sedikit tersentak.

"Sudah dulu ceritanya." ia bangkit berdiri. "Sudah hampir jam satu. Sepertinya Sebastian dan Claude sudah datang."

Mereka berdua buru-buru ke lapangan parkit timur, tempai biasanya dua mahasiswa itu menunggu mereka. Dan benar saja, sebuah sedan hitam sudah terparkir di lapangan parkir. Untungnya mobil itu terparkir tidak jauh dari gedung, sehingga mereka tidak usah repot-repot berlari menembus hujan. Saat Alois melongokkan kepalanya ke arah kaca mobil bagian pengemudi yang setengah terbuka, betapa terkejutnya ia saat mendapati orang yang mengendarai mobil itu bukanlah pemuda berambut legam seperti biasanya.

"Claude?" Ciel-lah yang pertama kali bereaksi. "Kenapa kau yang mengemudikan mobilnya?" ia melirik ke arah dalam mobil melalui celah yang cukup besar itu. "Mana Sebastian?"

"Nanti kuceritakan." si kacamata itu menengadahkan tangannya ke langit, merasakan air hujan yang membasahi telapak tangannya. "Masuklah ke dalam. Hujannya makin deras."

Ciel dan Alois menurut, keduanya memilih untuk tetap duduk di kursi penumpang belakang. Hal ini mengingatkan Ciel pada reaksi Sebasian saat itu, saat ia dan Sebastian pulang berdua dan Sebastian tak suka ia duduk di kursi penumpang belakang karena itu membuatnya merasa seperti seorang sopir, dan Ciel tersenyum geli karena ingatan itu. Namun kali ini sepertinya itu tidak menjadi masalah besar untuk Claude karena pemuda itu tidak mengatakan apa-apa saat mereka berdua masuk lewat pintu penumpang belakang.

"Nah, sekarang kami sudah masuk." ujar Alois sambil mengatur suhu heater bagian belakang. "Beritahu kami kenapa kau membawa mobil Sebastian, sementara orangnya tidak ada. Kemana dia?"

Claude memutar setir ke arah jalan raya sebelum menjawab pertanyaan Alois. "Beatrice datang ke Kampus Lincoln tadi siang untuk menemui Sebastian dan wanita itu membawanya pergi." ia berhenti bercerita lalu tertawa kecil. "Sungguh kejadian yang tak diduga."

"Beatrice menculiknya?" sembur Alois sembarangan.

"Bukan 'menculik', Alois. Hanya mengajaknya pergi." sambung Claude. "Kau tahu, Sebastian tidak bisa menolaknya. Ia menitipkan mobil ini padaku untuk menjemput kalian."

Alois menggeleng pelan. "Tidak berubah, ya?"

"Bukan begitu." Claude menatap mata icy blue Alois melalui spion tengah. "Ia tidak punya pilihan. Sebastian mungkin merasa tidak enak menolaknya karena Beatrice sudah jauh-jauh datang untuk menemuinya."

"Bisa jadi dia memiliki maksud lain." balas remaja pirang itu. "Benar kan, Ci―oops."

Claude tertawa saat melihat Ciel yang memasang wajah heran―lagi-lagi melalui kaca spion tengah. "Kenapa kau menanyakan hal itu pada Ciel? Dia kan tidak tahu apa-apa."

"Aku sudah menceritakan semuanya, sedetail mungkin." balas Alois defensif sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Ah, begitukah?" Claude berdeham pelan. "Kau sudah tahu tentang Beatrice Kelvin dan hubungannya dengan Sebastian, Ciel?"

"Ya, aku tahu." jawab Ciel, lebih seperti gumaman daripada berbicara. "Menurutku… dia agak jahat."

"Jahat?" Alois berdecih. "Jahat, katamu? Setelah apa yang dia lakukan, dan alasan yang mungin saja membuatnya bisa kembali ke sini, kau masih berani mengatakan kalau dia jahat?" ia tertawa sarkastis. "Menurutku itu lebih menjurus ke arah licik."

"Kita tidak tahu apa yang akan ia lakukan, Alois." Claude berkata dengan tenang. "Jangan menghakiminya seperti itu terlalu cepat. Siapa yang tahu Beatrice hanya sekadar ingin memperbaiki hubungannya dengan Sebastian karena kesalahannya saat itu."

Remaja pirang itu menanggapinya dengan sinis. "Dan jangan harap Sebastian mau menerimanya kembali."

Sebastian mau menerimanya kembali.

Lagi-lagi kata-kata seperti itu mampu membuat rongga dada Ciel serasa diisi oleh serpihan besi yang tajam.

000

Sudah hampir satu minggu sedan hitam Sebastian ditangguhkan pada Claude, dan selama itu pula Ciel jarang bertemu dengan si pemilik mobil bermata crimson itu. Terlebih karena ibunya yang sudah mulai mengurangi jadwal tutoring-nya―Rachel merasa sebagian besar nilai Ciel, terutama Matematika, mengalami peningkatan sehingga ia berbaik hati untuk memperbanyak waktu luang anaknya. Jika bertemu pun, Sebastian selalu memiliki kesempatan untuk menyibukkan Ciel dengan setumpuk soal-soal yang kian lama levelnya kian mencekik leher.

Sikapnya juga sedikit berbeda. Kini Sebastian lebih banyak diam, atau lebih sering menghabiskan waktu hanya untuk mengecek ponselnya. Setelah tutoring, biasanya raven itu langsung menyambar trench coat hitamnya dan bergegas keluar rumah, biasanya dibarengi dengan sorakan dari Ronald atau cibiran Grell dari ruang tengah, dan ia membalasnya dengan alasan hanya ingin mencari angin segar―tidak lebih.

Tapi Ciel tahu alasan Sebastian yang sebenarnya.

Menemui Beatrice, tentu saja. Sesekali Ciel pernah mendengar Sebastian bicara lewat ponselnya dan mendengarnya menyebutkan nama wanita itu. Atau yang sudah hampir menjadi sesuatu yang rutin, Mustang cokelat selalu terparkir di depan rumah nomor enam itu setiap pagi. Beatrice Kelvin selalu keluar dari sisi pengemudi Mustang dan pindah ke sisi penumpang, lalu membiarkan Sebastian yang mengendarai mobil itu. Ciel selalu melihat hal itu setiap harinya dari balik kaca kamarnya yang berembun.

Ciel tahu itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya, tapi ia tidak bisa mengenyahkan pikiran itu dari benaknya. Dan setiap kali ia mengingat itu, perasaan yang selalu membuatnya tidak nyaman selalu muncul, dan itu hampir membuatnya gila.

"Ciel? Kau melamun lagi?"

Suara kekanakan Lizzy membuat Ciel sedikit terkejut, dan ia menolehkan wajahnya ke sumber suara. Mata kehijauan gadis itu menatapnya agak cemas, dan ia menyadari jemari dengan kuku berpoles merah muda Lizzy mencengkram bagian lengan kausnya, agaknya tindakan itu sebagai penekanan kecemasannya pada remaja biru-kelabu itu.

"Ah, iya. Maaf. Pemandangan di luar bagus sekali." Lizzy tahu benar Ciel berbohong, karena sepanjang perjalanan, yang mereka temui adalah kemacetan yang lumayan panjang―dan itu sama sekali bukan jenis pemandangan yang bagus. Gadis itu pun menghela napas.

"Sudahlah." putusnya. "Ayo turun, kita sudah sampai."

"Sudah sampai?" Ciel mengerjapkan matanya, lalu berpaling ke arah jendela. Ia melihat banyak orang berjalan menyusuri jalan setapak berbatu dengan pepohonan di satu sisi. Dari kejauhan, ia bisa melihat genangan air biru yang luas dengan kano-kano kecil bertebaran di pinggirannya.

"Dimana ini?" tanyanya pelan sambil menutup pintu sedan hitam di belakangnya.

"Lakeside Park." Lizzy tertawa kecil, membuat rambut pirang ikalnya bergoyang sesuai gerakan kepalanya. "Hari ini cuacanya lumayan cerah, ya?"

Ciel mengangguk. Telinga sensitifnya tiba-tiba menangkap suara seseorang memanggilnya dari kejauhan, dan benar saja, ia melihat seseorang melambai ke arahnya dari jarak sekitar seratus meter. Ia menyipitkan matanya untuk dapat lebih jelas, dan ternyata itu adalah Alois dan Claude. Setengah berlari, Ciel dan Lizzy menghampiri kedua orang itu.

"Ayo, cepat," serunya, "di sana masih ada tempat kosong. Kita harus cepat-cepat ke sana sebelum orang lain menempatinya."

Alois lalu berbalik, dan entah ia melakukannya secara spontan atau tidak, remaja pirang itu serta merta menggenggam tangan pucat Claude dan berjalan ke arah gazebo. Sesekali ia menolehkan wajahnya ke pemuda berkacamata itu, mengatakan sesuatu, lalu tertawa bersama.

Tidak pernah Ciel melihat Alois tertawa sebahagia itu.

"Cieeeel? Lagi?" Lizzy memutar matanya lalu menyeret Ciel mengikuti Alois dan Claude yang sudah agak jauh lagi di depan mereka. "Serius, deh. Kebiasaan melamunmu akhir-akhir ini semakin parah."

Ciel tidak menjawab, ia hanya pasrah mengikuti arah seretan Lizzy. Mereka duduk di tempat yang berada agak di ujung gazebo yang lumayan ramai. Hal yang wajar karena ini adalah akhir minggu, dan kebanyakan yang mengunjungi tempat wisata itu adalah pasangan muda-mudi. Seorang pramusaji magang bercelemek putih-hijau muda menghampiri mereka dan menawarkan buku menu dari café tempat ia magang. Claude memberi sebuah isyarat tangan dan pramusaji itu pun kembali berbalik ke tempatnya dengan wajah sedikit masam.

"Lho, itu…" tiba-tiba Alois sedikit memajukan posisi duduknya. Kedua celah matanya menyempit, seolah-olah sedang fokus menatap sesuatu. "Bukankah itu Beatrice dan… Sebastian?"

Sontak ketiganya menolehkan kepala ke arah yang sedari tadi diamati oleh Alois. Mereka menangkap dua sosok familiar yang duduk agak jauh dari posisi mereka. Seorang wanita berambut keriting ikal tebal dengan pakaian yang sedikit terbuka―Beatrice―duduk dengan posisi membelakangi mereka sementara Sebastian duduk di seberangnya, wajahnya jelas sekali tampak tidak begitu senang.

"Benar! Itu Beatrice dan Sebastian." Lizzy mengiyakan. "Ternyata mereka juga berencana ke Lakeside Park… tunggu, apa-apaan raut wajah Sebastian itu?"

"Ia kelihatan tidak nyaman." selidik Claude sambil mengeluarkan ponselnya. "Sepertinya Beatrice sedang menceritakan sesuatu dan dia tidak begitu menikmatinya. Apa yang dibicarakan wanita itu?"

Ciel baru menyadari, lama-kelamaan mereka terdengar seperti tidak menyukai Beatrice dari cara mereka membicarakannya. Claude mengetikkan sesuatu dengan cepat di keypad ponselnya, dan lima detik setelah jemari Claude berhenti bekerja, mereka melihat Sebastian dengan terburu-buru merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel dari sana, melihat ke benda itu sejenak dan ia segera mendongakkan wajahnya ke arah mereka berempat, dan ia tampak sedikit terkejut.

'Ada apa?' Claude menggerak-gerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara ke arah Sebastian. 'Kau tampak kacau. Apa yang ia lakukan padamu?'

Dan tanpa diduga, wajah Sebastian tiba-tiba berganti ekspresi seolah siap untuk berteriak minta tolong.

"Pfft―apa-apaan lagi raut wajah seperti itu?" Alois nyaris tertawa dan terjatuh dari kursinya. Claude kembali menanyakan hal yang sama pada raven itu, dan ia menjawabnya dengan lambaian tangan cepat dari sisi bawah meja, sepertinya sengaja ia lakukan agar Beatrice tidak mencurigainya.

"Kita tunggu saja." Claude mengangguk, seakan paham akan isyarat itu. Tiba-tiba Beatrice berdiri dari tempat duduknya, sekali lagi mengatakan sesuatu ke Sebastian dan ia merespon dengan senyum kecil yang agak dipaksakan. Wanita itu pun berbalik dan berjalan agak terburu-buru ke arah restroom, dan hal ini refleks membuat mereka berempat memalingkan wajah agar Beatrice tidak menyadari keberadaan mereka. Setelah Beatrice hilang dari pandangannya, Sebastian dengan cepat berjalan ke pojok gazebo menghampiri mereka dengan wajah kalut.

"Lama-lama, aku muak." ujar Sebastian pada mereka sesampainya ia disana. Tentu saja perkataannya ini membuat mereka berempat heran.

"Apa yang dilakukan Beatrice?" tanya Lizzy hati-hati, dan tiba-tiba matanya membola. "Oh, jangan bilang kalau dia―"

"―Iya. Sial." desisnya kesal. "Beatrice berusaha sangat keras agar aku mau menerimanya kembali setelah apa yang ia lakukan padaku."

Tidak, tanpa sadar Ciel membatin. Jangan begitu. Tidak boleh begitu.

"Apa dia gila?" Alois menggertakkan giginya, kepalan tinjunya menyentuh meja. "Ia masih punya muka untuk berkata seperti itu padamu? Apa yang membuatnya―"

"Tolong jangan tanyakan hal itu padaku." Sebastian menggeram, dan ini membuat mereka sedikit bergidik. "Aku sudah mengatakan berbagai alasan untuk menolaknya secara tersirat―sampai berbohong kalau aku sudah punya pacar―dan ia sama sekali tidak peduli. Ia sangat percaya diri untuk bisa kembali seperti dulu, dan sikapnya itu membuatku muak." katanya. "Kupikir dia sudah berubah."

"Tidak sama sekali, sepertinya." Claude mencoba menenangkan emosi Sebastian dengan menahan bahu pemuda itu. "Jadi, apa yang akan kau lakukan?"

Sebastian mengerjapkan mata rubinya dengan segelintir rasa ragu sebelum menjawab. "Kali ini, kumohon… tolong aku. Entah kenapa, aku tidak bisa melakukanya sendirian. Aku yakin kalian bisa―aku sudah kehabisan akal." Ia menghela napas frustasi sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya.

"…Baiklah." Claude membenarkan letak kacamatanya. "Kami akan coba menemukan ide. Tapi mungkin kau akan sedikit keberatan jika kami menggunakan cara―"

"―Dengan cara apapun, aku tidak peduli." Sebastian menekankan, nada suaranya terdengar putus asa. "Yang aku inginkan sekarang adalah lepas darinya. Aku tidak peduli apakah kalian menggunakan cara paling memalukan sekalipun."

Lizzy yang mengangguk paling pelan menggeser pandangannya ke arah luar gazebo dan menyadari seorang wanita berambut keriting yang berjalan menuju tempat itu. "Sebastian, Beatrice datang!"

"Aku harus kembali." katanya pelan sebelum kembali ke tempatnya semula. Ia memandang mereka berempat dengan sorot mata memohon untuk yang terakhir kalinya dan mendapat balasan berupa anggukan meyakinkan dari Claude, acungan jempol dari Alois dan senyum tipis yang menyemangati dari Lizzy. Sementara Ciel, ia tidak memberikan balasan apa-apa. Ia hanya menatap pemuda itu berjalan menjauh. Saat Sebastian menatapnya dengan harapan mendapatkan sedikit dukungan darinya, Ciel tetap tak bergeming.

Sesaat setelah itu, Ciel berani bertaruh kalau ia bisa melihat sebersit rasa kecewa di mata merah pekat Sebastian sebelum pemuda itu benar-benar berbalik meninggalkan mereka.

000

"Jadi, apa rencanamu?"

"Oh, Alois, kau sudah bertanya seperti itu untuk yang keempatbelas kalinya." Lizzy meringis. "Aku tidak tahu!"

"Ini sangat sulit." Claude menempelkan jari telunjuk dan jempolnya ke dagu. "Beatrice adalah orang yang sangat keras kepala. Ia terlalu mempercayai dirinya sendiri. Butuh rencana yang kuat untuk dapat membuatnya merasa 'kalah'."

Alois berdeham. Keningnya berkerut banyak, tampaknya ia sedang berpikir keras. Kini mereka sudah pindah ke taman yang posisinya tidak begitu jauh dari gazebo, namun masih dalam jarak yang aman untuk mengawasi Sebastian dan Beatrice yang masih berada di dalam. Saat ia kembali melayangkan pandangannya ke dua objek itu, tiba-tiba remaja pirang itu teringat akan sesuatu.

"Tadi Sebastian sudah katakan alasan ke Beatrice kalau dia sudah punya pacar, kan?" ujarnya pelan sementara Claude, Lizzy dan Ciel mendengrkan baik-baik.

"Iya, kalau tidak salah." Claude menerawang. "Lalu, apa yang akan kau lakukan dengan itu?"

Kedua sudut bibir Alois pun tertarik ke sisi-sisinya, membuat senyum yang hampir mirip seringai. "Bagaimana jika… kita munculkan dia?"

"Dia? Dia siapa, maksudmu… oh!" Lizzy mengerjapkan matanya. "Dia, pacar Sebastian!"

"Pacar ilusi! Bohongan!" serunya. "Menurutku, jika kita bisa memunculkan si 'pacar' ini di depan mereka berdua, pasti itu bisa membuat Beatrice percaya dan ia akan mundur!"

Claude menatap Alois agak sangsi. "Rasanya itu sedikit mustahil. Jika ia hanya sekadar datang, itu tidak akan menimbulkan efek apa-apa."

"Mudah saja." Alois mengedikkan bahunya. "Si 'pacar' itu bisa berpura-pura mesra dengan Sebastian atau apalah."

"Idemu boleh juga." pemuda berkacamata di sampingnya itu akhirnya setuju. "Masalahnya sekarang adalah… siapa yang akan memerankan tokoh palsu itu?"

"Tentu saja Elizabeth!" Alois mengacungkan telunjuknya ke gadis pirang di seberangnya yang langsung berjengit. "Dia kan perempuan!"

"Konyol! Aku tidak mau!" Lizzy tak terima. Bola matanya berkeliaran ke segala penjuru, mencari alasan yang lebih meyakinkan untuk menolak. "Lagipula… Beatrice kan sudah kenal wajahku!"

"Benar juga, ya…" Alois kembali berpikir. "Jika aku mengambil peran itu dan berdandan seperti perempuan pun, ia juga pastinya sudah mengenaliku."

Yang lainnya mengangguk mengiyakan. Alois menolehkan wajahnya ke Claude dengan ide yang masih sama di dalam benaknya. Seakan bisa membaca pikiran Alois, pemuda bermata kekuningan itu langsung memelototinya seakan berkata 'tidak'. Ia pun menghela napas kecewa.

"Kalau begitu, hanya tinggal satu cara." Alois menatap Ciel yang sejak tadi―bahkan sedari awal― hanya diam saja dalam-dalam. Ciel yang memang kenyataannya hanya melamun sama sekali tidak tahu kemana arah pembicaraan Alois, Lizzy dan Claude barusan.

"Apa?" katanya, sama sekali tidak merasakan aura gelap dari seringaian Alois. "Kalian sudah punya ide?"

"Oh, tentu saja kami sudah punya ide, Ci-el." Alois memelankan suaranya dengan dramatis, ia sedikit lega karena Ciel terlihat seperti sama sekali tidak mendengar pembicaraan mereka tentang 'ide' itu. "Dan kami butuh sedikit bantuan darimu untuk melaksanakan ide itu. Apa kau keberatan?"

Setengah sadar, Ciel menggeleng. "Tidak." jawabnya.

"Bagus sekali." seringai Alois semakin lebar sementara Lizzy dan Claude sedikit kaget―dan tersenyum geli sepersekian detik kemudian. "Dan aku yakin ideku kali ini akan berhasil…" ia menggantungkan kata terakhirnya dengan sedikit penekanan setelah itu, "seratus persen."

000

"Ada apa, Sebastian?"

Suara seorang wanita membuat Sebastian tertarik tiba-tiba dari lautan pikirannya. Ia memutar kepalanya dan menghadap lurus ke depan, mendapati mata kecoklatan Beatrice yang menatapnya dengan sedikit khawatir dan genggaman pelan di tangan kanannya. Sebastian buru-buru menarik tangannya dari jemari Beatrice senatural mungkin.

"Kau tampak sangat gelisah." katanya lagi sambil saling menangkupkan kedua tangannya. "Dan kau selalu mengecek ponselmu setiap lima menit."

Sebastian pun segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam sakunya karena perkataan Beatrice yang terdengar mulai curiga.

"Beritahu aku apa yang membuatmu terganggu."

Lidah Sebastian gatal sekali untuk menjawab "Kau-lah yang menggangguku," tepat di depan Beatrice, namun dia menahannya dengan senyum terpaksa.

"Semuanya baik-baik saja, Beatrice." ia mencoba meyakinkan wanita itu. "Semua baik-baik saja."

Namun pada kenyataannya, semua tidaklah baik-baik saja. Sudah hampir satu jam berlalu setelah ia bertemu dengan empat orang itu dan meminta bantuan pada mereka―tapi nihil. Tidak ada tanda-tanda bantuan akan datang, dan bahkan Sebastian baru menyadari bahwa mereka sudah menghilang. Ia kembali menatap Beatrice yang sedang memerhatikan danau dengan sorot mata terhibur, lalu menghela napas.

Sepertinya ini akan sia-sia.

"Hei, Sebastian," panggil Beatrice pelan. "Bagaimana jika kita ke danau dan naik kano?" ajaknya. "Seperti yang dulu sering kita lakukan."

Kalimat terakhir Beatrice terngiang di telinga Sebastian, dan sesaat itu membawanya pada kenangan manis yang pernah dilaluinya. Sesuatu yang ia tidak inginkan untuk berakhir. Sayangnya, hal itu berbeda jauh dengan apa yang diharapkannya saat ini.

Ia sangat berharap agar semua ini segera berakhir. Bahkan jika ia mampu, ia tidak ingin semua ini terjadi.

Sebastian mengangkat wajanya. "Beatrice, aku―"

"Kumohon."

Untuk yang kesekian kalinya, Beatrice menatapnya dengan tatapan itu. Tatapan yang selalu berhasil untuknya jika ia tidak ingin Sebastian melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan. Tatapan yang sangat ingin ia lupakan sampai akhir hayatnya. Tatapan yang seminggu terakhir ini kembali dan berhasil membiusnya.

Tatapan Beatrice yang tak mampu membuatnya untuk mengatakan 'tidak'.

Ia mengangguk, tapi tetap diam. Beatrice si Bebal benar-benar memanfaatkan hal itu―dan itu membuatnya tampak lebih bahagia.

"Baiklah!" serunya sambil berdiri dari tempat duduknya. "Kalau begitu ayo kita―"

BRUK

"Aduh!"

Sontak Beatrice mengusap-usap bahunya yang terasa sedikit ngilu. Rupanya saat ia hendak berbalik, ia menabrak seseorang yang sedang berjalan dengan tidak sengaja. Sebastian buru-buru menghampiri Beatrice dan orang yang ditabrak wanita itu untuk membantunya.

"Oh, maafkan aku!" ujar Beatrice setengah meringis. "Salahku karena sudah tidak berhati-hati!"

Sebastian membuka mulutnya, bersiap untuk mewakili Beatrice untuk meminta maaf untuk yang kedua kalinya saat 'korban tabrak' itu―yang ternyata seorang perempuan―cepat-cepat mendongakkan wajahnya, dan pergerakan kecil itu membuat Sebastian seketika lupa akan tujuannya semula.

"Tidak, harusnya akulah yang meminta maaf…" mata biru pekatnya mengerjap saat ia memandang Sebastian, lalu membola karena kaget. "…Sebastian?"

Tentu saja itu membuat mata vermilion Sebastian ikut membola. Bagaimana tidak, kenapa perempuan asing itu bisa mengenalnya?

Sebastian tidak habis pikir. Ditatapnya perempuan asing itu sekali lagi. Perempuan itu agaknya masih muda―enam atau tujuh belas tahun, tebaknya―dan sangat, sangat cantik. Bahkan ia berani mengatakan bahwa Beatrice pun tidak dapan menyamai kecantikan perempuan―gadis― ini seujung kuku pun. Ia mengenakan setelan santai yang biasa dipakai gadis-gadis seusianya. Ia tidak begitu tinggi, kira-kira hanya sekuping Beatrice atau sedagunya, meskipun gadis itu sudah mengenakan wedges tujuh senti. Dan yang terpenting dari semua itu, gadis itu memiliki rambut biru-kelabu yang terurai indah dan mata biru yang menawan.

Gadis itu sedikit banyak mengingatkannya kepada…

…seseorang.

Ia kembali memerhatikan gadis itu dengan saksama. Mulai dari mata besarnya yang menyiratkan sedikit perasaan risih, cardigan putih gadingnya yang kelihatan satu ukuran lebih besar, sampai kakinya yang bergerak kaku karena sepatu hak tinggi yang ia kenakan.

Dia tahu benar siapa gadis asing itu.

Bantuan telah tiba.

"Sebastian? Kau mengenalnya?" Beatrice memandangi Sebastian dan gadis itu bergantian. Refleks Sebastian mengangguk.

"Ya," katanya, merasa jauh lebih lega dari sebelumnya. "Beatrice, kenalkan. Ini Ciel."

Ciel menghembuskan napas lega. Untung saja Sebastian mengenalinya meski kini ia dalam wujud seorang perempuan―dan harus ia akui, ini memalukan.

"Eh, yah―halo." Ciel mengangguk sopan, suaranya dibuat semanis mungkin. "Aku Ciel."

"Beatrice. Beatrice Kelvin." Beatrice menjabat tangan Ciel singkat. Meski tersenyum, alisnya sedikit berkedut. "Apa kau…"

"Aku teman Sebastian." jawab Ciel asal karena ia sama sekali tidak ingin menyebutkan perannya sebagai 'pacar' palsu, disamping Sebastian belum tahu tentang ide itu. Beatrice pun ber-hm paham.

"Maaf sudah menabrakmu tadi." ulang wanita itu. "Aku tidak sengaja, sungguh."

"Astaga, sudah kubilang, tidak apa-apa." ia melirik ke arah Sebastian yang tampak sedang memikirkan sesuatu, lalu berdeham.

"Ah, Kebetulan sekali bisa bertemu denganmu disini, Ciel." Sebastian pura-pura berbasa-basi. "Kau sendirian saja?"

"Tidak juga." respon Ciel mengikuti skenario yang sebelumnya telah disusun oleh Claude. "Sebenarnya aku ada janji bertemu dengan temanku. Tapi aku datang terlambat lima belas menit dan ternyata dia menunggu di dekat danau, tapi aku terlanjur mencarinya di sini."

Ciel bisa melihat sedikit rasa tidak suka tersirat di mata Beatrice yang bening, tapi wanita itu segera menutupinya dengan senyum lebar dan dibuat seakan ramah. "Lagi-lagi kebetulan! Kami berdua baru saja akan ke danau itu untuk naik kano. Iya, kan, Sebastian?"

Beatrice menggamit tangan Sebastian erat-erat seolah ia tak akan melepaskan pemuda itu. Sebastian hanya bisa membuang muka, dan Ciel menyembunyikan rasa kesalnya dengan senyum sopan.

Kesal? Kenapa ia harus kesal?

Tapi ia tidak sempat memikirkan hal itu lebih lanjut karena Beatrice cepat-cepat menawarkan untuk mengunjungi danau itu bersama dan ia langsung berjalan tanpa peduli dengan jawaban Ciel. Sebastian memberi isyarat untuk cepat mengikuti, dan ia mengangguk sambil menggeram pelan.

Jarak gazebo ke danau cukup jauh, kira-kira harus berjalan tiga ratus meter dan melewati taman yang luas. Sebastian dan Ciel sendiri sama sekali tidak saling bicara selama di perjalanan. Hanya Beatrice yang terus berkicau, bertanya ini dan itu pada Ciel. Awalnya Ciel merasa santai, tapi lama kelamaan ia jengah karena pertanyaan-pertanyaan Beatrice mulai menyinggung masalah ia dan Sebastian. Untungnya Claude sudah menyediakan skenario palsu yang lengkap untuknya sebelum ia terjun ke medan ini.

"Temanmu menunggu di sini?" tanya Betarice untuk yang terakhir kalinya―dalam sesi kali itu―pada Ciel.

Ciel mengangguk sambil pura-pura celingukan mencari 'teman'nya. "Iya, tapi aku tidak melihatnya."

"Aneh. Kau bilang dia sudah menunggu di sini." Beatrice tertawa pelan.

Saat Beatrice tengah sibuk tertawa, Ciel melirik Sebastian yang mengangkat sebelah alisnya, seakan bertanya apa rencananya kali ini. Tololnya, Ciel sama sekali tidak tahu bagaimana caranya menjadi 'pacar' palsu Sebastian dan bersikap pura-pura mesra padanya setelah mengingat ia terlanjur mengenalkan dirinya sebagai teman pemuda itu, terlebih karena Beatrice yang masih menggamit tangan kanan Sebastian dengan erat.

"Maaf." tanpa sadar, kata itu meluncur dari mulutnya. "Sepertinya aku harus ke kamar kecil. Eh, yah… mungkin aku akan langsung bertemu dengan temanku setelah itu. Aku harus pergi sekarang. Terima kasih untuk waktunya."

Sebastian menatap Ciel tidak percaya, tapi Ciel tidak bisa berbuat apa-apa. Ia membalas tatapan itu dengan gerakan bibir 'semua akan baik-baik' saja pada Sebastian saat Beatrice menoleh ke arah lain setelah melambai kepadanya. Ia tahu betul, tatapan Sebastian menyiratkan bahwa ia khawatir Ciel akan kabur dan menggagalkan rencana untuk menolongnya.

Tapi ia memang tidak berniat untuk melakukan hal itu. Ia hanya membutuhkan waktu untuk berpikir jernih.

Ia segera memutar telapak wedges-nya dan berjalan ke arah kamar kecil umum yang tersedia. Belum sampai setengah perjalanan, Ciel tiba-tiba teringat akan sesuatu yang penting.

Kamar kecil. Ia tidak tahu harus menggunakan kamar kecil yang mana.

Ciel yang pada hakekatnya laki-laki―namun kini dengan suatu alasan berpakaian seperti perempuan. Jika ia menggunakan kamar kecil perempuan, ia tahu gendernya tidak akan ketahuan, tapi entah kenapa ada sesuatu yang membuatnya sangat paranoid. Tapi jika ia menggunakan kamar kecil laki-laki, mungkin orang-orang akan memandangnya dengan heran.

Lagipula, ia tidak bisa menunda lebih lanjut. Segalam macam perasaan aneh yang ia alami mungkin akan lebih baik disingkirkan terlebih dahulu karena rasa risih dengan pakaian perempuan yang dikenakannya lebih membuatnya sangat tidak nyaman pada saat ini.

Ciel kembali berbalik menuju tempat dimana ia tadi meninggalkan Beatrice dan Sebastian. Ia akan menyelesaikan semuanya sesuai skenario Claude. Pura-pura bersikap baik seolah ia adalah pacar Sebastian, mengatakannya disaat Beatrice mulai percaya, dan semuanya akan selesai.

Ternyata keduanya sudah pindah ke bangku taman di dekat danau, dan bangku itu terletak sedikit di pinggir dan terhalang oleh pohon besar di belakannya. Ciel menyiapkan mentalnya, siap untuk tiba-tiba memanggil nama Sebastian dengan manja dan menggelayut padanya―walau dalam hati ia ingin menangis meraung-raung. Namun langkanya terhenti saat ia mendengar suara Beatrice yang agak berbeda dari sebelumnya.

"Akhirnya temanmu itu pergi juga." katanya blak-blakan. "Sekarang tidak ada lagi yang mengganggu kita."

"Apa lagi, Beatrice? Masih ada yang ingin kau bicarakan padaku?" kali ini Sebastian mulai berani menggunakan nada tidak suka pada tiap kata-katanya.

Ciel seketika merapatkan tubuhnya ke pohon besar itu agar dapat mendengar mereka lebih jelas.

"Ya. Dan aku akan tetap berkeras." ia menatap Sebastian dengan tajam. "Sebastian, aku sudah minta maaf. Itu semua memang salahku. Aku tahu tidak seharusnya aku meninggalkanmu saat itu, dan kau tahu? Jake memang brengsek. Tapi kini aku sudah memutuskan hubunganku dengannya, dan aku ingin kau kembali padaku, Sebastian."

Ciel mencengkramkan jemarinya ke kulit pohon di depannya. Berani-beraninya wanita itu mempermainkan Sebastian! Setelah ia mencampakkannya hanya karena laki-laki lain, membuat Sebastian menderita, dan kini dengan mudahnya ia meminta Sebastian kembali padanya.

Ia tahu perbuatan itu salah. Tapi yang lagi-lagi membuatnya bingung adalah satu perasaan yang menyakitkan yang terselip diantaranya. Rasa sakit yang sama saat ia tahu Beatrice adalah orang yang pernah berarti bagi Sebastian, saat Beatrice menghabiskan waktunya bersama Sebastian, saat Alois menceritakan masa lalu Beatrice dan Sebastian, dan saat ia mendengar Beatrice ingi kembali ke sisi Sebastian.

"Beatrice, aku―"

"Sebastian, tatap aku." paksanya. "Aku tahu kau masih membutuhkanku. Aku tahu kau masih mencintaiku."

Ciel mencengkram kerah cardigan-nya dengan amat erat. Entah kenapa, ia teringat tatapan kecewa pemuda itu saat ia tidak mengatakan apa-apa saat ia membutuhkan dukungan darinya.

Bukan, ia yakin apa yang Sebastian butuhkan bukanlah dukungan.

Dan saat itulah Ciel tahu apa yang seharusnya ia selesaikan.

Dengan langkah berani, ia keluar dari pohon besar persembunyiannya. Beatrice sontak membelalakkan matanya saat melihat remaja―bukan, gadis manis itu tersenyum mengancam padanya. Sebastian, dengan keterkagetannya sendiri, tampak sedikit tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya.

"Kau!" katanya setengah menjerit. "Bu-bukankah kau―"

"Mencari temanku. Ya." ia mengangguk sambil tersenyum semanis yang ia bisa. Sedikit-banyak, ia sedikit terhibur melihat gurat kemerahan di wajah Beatrice karena rasa malu.

"Tapi kenapa kau masih disini?" gertaknya. Ciel tetap tersenyum, lalu menoleh ke arah Sebastian yang memandangnya heran. "Kau kesulitan mencarinya dengan matamu yang kelewat besar itu, hah?"

"Tidak." ia menggeleng. "Aku sudah bertemu dengannya, malah."

Beatrice berdiri di depan Ciel dengan sikap menantang. "Kalau begitu, kenapa kau kembali ke sini?"

"Karena dia ada di sini." jawabnya tenang sebelum menarik Sebastian mendekat, membuat Beatrice terkesiap akan aksinya.

"Halo, Sebastian. Maaf membuatmu lama menunggu."

Sebastian memakukan pandangannya ke safir Ciel yang menatapnya dalam, meyelami semua emosi yang meluap-luap di lingkaran biru itu saat dua tangan hangat mendekap wajahnya dengan lembut. Sebastian mendeham lembut pada sentuhan itu, dan secepat kedipan mata, bibir lembut Ciel menyentuh bibirnya untuk yang kedua kalinya.

Bahkan Ciel tidak tahu apa yang merasukinya sampai ia bisa bertindak sejauh itu. Walau matanya terpejam, ia bisa mendengar suara geraman Beatrice yang menahan amarah, dan itu seperti menendang seluruh inderanya.

Tangannya beralih meremat rambut hitam Sebastian sementara ia memiringkan kepalanya ke arah yang berlawanan agar Sebastian dapat menciumnya lebih leluasa, dan untungnya Sebastian dengan senang hati mengikuti alur yang dibuatnya. Ciuman mereka kali ini tarafnya sedikit lebih 'berani' dari yang pertama, karena ia tahu ia harus melakukan sesuatu yang lebih dari itu untuk bisa mendepak Beatrice. Ciel bahkan sengaja mengeluarkan suara "mmm," pelan saat Sebastian memperdalam ciumannya. Disamping itu, ia berusaha untuk membuat semua emosinya tersalur jujur ke Sebastian, dan ia bisa merasakan hal yang sama terjadi pada pemuda itu.

Paru-paru Ciel mulai terasa sedikit sesak karena kekurangan pasokan oksigen, dan ia pun melepas ciumannya dengan hati-hati. Ia membuka matanya perlahan, dan begitu juga Sebastian yang kini tangannya telah melingkari pinggang kurusnya tanpa Ciel sadari. Ciel kembali memindahkan kedua tangannya ke pipi Sebastian. Napas mereka sedikit memburu, dan Ciel mendekatkan wajahnya kembali ke wajah Sebastian sebelum kembali mengecup singkat bibir pemuda itu. Ia pun melepas tangannya, tersenyum tulus pada Sebastian yang anehnya membalas senyuman itu.

"Aku yakin sebelumnya Sebastian sudah menyinggung-nyinggung tentangku padamu." Ciel tersenyum puas melihat Beatrice yang tampak sangat kacau. "Kau memang handal, tapi matamu tidak setajam mulutmu." sindirnya.

"Tidak… tidak mungkin." Beatrice menggeleng, pandangannya nanar.

"Ya." bantahnya. "Kau tidak lagi menjadi wanita yang khusus bagi Sebastian, Beatrice. Posisimu sudah kugantikan."

Air mata tampak menggenang di mata Beatrice. Ciel akui, ia tidak tega melihatnya. Tapi mengingat apa yang telah ia lakukan pada Sebastian, rasanya wanita itu pantas mendapatkan ini.

"Dan berhenti mengganggu hidup Sebastian mulai saat ini." Ciel menggenggam tangan Sebastian dengan erat sebagai penekanan. "Dia bukan bonekamu yang bisa kau mainkan dan kau campakkan sesuka hatimu." ia memandang Beatrice dengan tatapan tajam. "Bahkan kau tak tahu bagaimana perasaannya saat kau meninggalkannya."

Sebastian menghela napas, mencoba menenangkan situasi. Ia berjalan mendekat ke arah Ciel dan merangkul remaja itu. "Sudahlah, Beatrice. Aku… aku bukannya benci padamu. Tapi sia-sia saja jika kau masih berkeras untuk membuatku kembali kepadamu. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah berkata 'ya'."

Bahu Beatrice bergetar hebat, dan sebelum Ciel sempat membuka mulutnya untuk melawan wanita itu lebih lanjut, Beatrice berlari secepat mungkin meninggalkan mereka.

Baik Sebastian maupun Ciel tetap pada posisi mereka semula. Tangan kanan Ciel masih menggenggam tangan Sebastian sementara tangannya yang lain merangkul bahu Ciel. Ciel melayangkan pandangannya ke sekeliling, mendapati beberapa anak gadis yang tersenyum dan saling berbisik, pasangan yang menatap mereka dengan iri atau orangtua yang melepas telapak tangan mereka dari mata anak balita mereka.

Ia menyadari tiga objek yang muncul dari balik booth ice cream kosong―siapa lagi kalau bukan Alois, Claude dan Lizzy―dan membelalakkan matanya. Mereka keluar dari tempat pengintaian mereka diam-diam, namun bukannya berjalan menghampirinya dan Sebastian, mereka malah berlalu pelan-pelan sambil mengacungkan dua jempol, lalu tertawa dan menghilang lagi ke arah gazebo. Ciel menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa sedikit heran dengan tindakan mereka bertiga.

Sebastian melepas rangkulannya, tapi ia berusaha untuk tidak melepaskan genggaman Ciel di tangannya. Mereka berdua pun duduk di bangku taman dalam diam, tidak mengatakan sepatah kata pun selama beberapa saat sampai Sebastian akhirnya mengangkat wajahnya untuk menatap remaja di sampingnya.

"Kurasa itu cukup untuk membuatnya pergi jauh dari kehidupanmu." Ciel yang pertama kali buka suara. Ia memiringkan posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Sebastian.

"Terima kasih." ujar Sebastian pelan. Mata rubinya menatap Ciel dari atas sampai bawah, dan Ciel hanya bisa tersenyum canggung.

"Mereka yang memaksaku berpenampilan seperti ini." ia mengangkat lengan kirinya yang terbalut cardigan putih gading. "Lizzy langsung menyeretku ke toko pakaian terdekat dan mendandaniku seperti ini."

Sebastian menyentuh ujung rambut kelabu panjang Ciel dan memainkannya. "Apa ini rambut palsu?"

"Tentu saja, ini adalah rambut palsu yang terpasang di manekin toko itu." Ciel memutar matanya. "Lizzy bahkan membelinya dan memaksaku untuk mengenakan ini." jeda beberapa detik sebelum ia menyambung perkatannya. "Apa aku terlihat memalukan?"

Pemuda bermata claret itu mengelus kepala Ciel yang tertutupi rambut palsu itu dengan lembut. "Tidak. Kau tetap terlihat seperti Ciel yang biasanya." ujarnya, dan itu membuat pipi Ciel sedikit merona. "Disamping cardigan yang sedikit kebesaran ini, yang membuatmu kelihatan agak konyol."

Ciel mendengus dan memalingkan wajahnya. "Setidaknya ini lebih baik dari blus merah muda penuh pita dan renda yang sebelumnya direkomendasikan Lizzy."

Sebastian tertawa terbahak-bahak, dan Ciel segera tahu apa maksud tawa itu. "Jangan dibayangkan!" desisnya.

"Baiklah, maaf." Sebastian memegangi perutnya yang sedikit kram. Ciel memukul lengan Sebastian pelan agar pemuda itu menghentikan tawanya.

"Dan itu sepenuhnya adalah ide Alois." katanya kemudian. "Ia otak dibalik semua ini, merencanakan untuk membuatku seolah-olah aku ini 'pacar'mu. Claude yang menyusun setiap hal kecil yang harus aku katakan, dan Lizzy bertugas untuk membuat penyamaran."

"Termasuk menciumku?"

Ciel terdiam. Sejujurnya, itu adalah seratus persen idenya. Apa yang Claude arahkan padanya bahkan tidak sedikit pun mengacu ke sana. Ia ingat saat Beatrice terakhir kali meyakinkan bahwa Sebastian masih mencintainya, namun ia tahu Sebastian tidak. Ada sesuatu yang membuncah di dadanya, dan itulah yang mendorongnya untuk mencium Sebastian.

Perasaannya-lah yang mengarahkannya.

Sesaat, ia menundukkan kepalanya. Ia masih amat ragu dengan perasaan itu―walaupun ia mengerti sekali tentang itu secara harfiah. Sekali dua kali, ia telah disadarkan.

Dan baru sekarang-lah ia mengerti maksud Alois dibalik ulahnya yang mengirim link artikel aneh waktu itu.

Pikirannya menggantung antara jujur tentang perasaannya pada Sebastian meski ia tahu risiko besar di hadapannya, atau tetap diam mengunci mulut meski lama kelamaan perasaan itu serasa membunuhnya. Satu detik, dua detik, ia memantapkan hati. Lalu dengan berani ia menegakkan kepalanya dan menatap lurus ke rubi Sebastian yang setia menunggu jawaban darinya.

"Sebastian." ujarnya lirih, namun mantap. "Sebastian, aku―"

"Ciel."

Ciel mengerjapkan matanya saat Sebastian mengucapkan namanya perlahan, tangan kanan pemuda itu menyusuri pipinya dan ia menyapukan jemarinya ke bibir Ciel sebelum remaja itu menyelesaikan perkataannya. Ciel kembali diam, detak jantungnya semakin kencang seiring dengan Sebastian yang makin mendekatkan wajahnya. Lagi-lagi―dan selalu terjadi, Ciel tak mampu untuk memikirkan hal sekecil apapun karena tindakan Sebastian itu membuat sistem di otaknya tidak dapat bekerja dengan benar.

Seolah tahu apa yang akan terjadi, Ciel menutup matanya perlahan saat ujung hidung Sebastian menyentuh bulu matanya. Sebastian membawa bibirnya ke kening Ciel, dan mengecupnya lembut.

Ciel menyandarkan kepalanya lebih dekat ke dalam sentuhan itu, berusaha menikmati momen itu dalam setiap detik waktu yang berjalan. Ia bisa merasakan Sebastian melepas kecupannya dan membenamkan hidungnya ke rambut biru-kelabunya, menghirup aromanya dalam-dalam. Ciel mendesah, sedikit kecewa saat Sebastian menjauhkan wajahnya. Tetapi kekecewaannya menghilang saat Sebastian kembali mendekat, saling menempelkan kening mereka.

"Aku tahu ini terdengar seperti drama." ujar Sebastian lembut sebelum menatap Ciel. Ciel balas menatapnya dengan sorot mata penuh tanda tanya.

Sebastian menutup matanya kembali, dan menarik napas. Kedua tangannya masih menangkupi wajah Ciel, jempolnya perlahan membuat gerakan melingkar di kulit pucat itu. "Sudah lama aku ingin mengatakan ini, tapi…"

Ucapannya lagi-lagi terputus, sejenak ia tampak ragu. Ia pun kembali menatap cerulean di hadapannya, dan seakan mendapat kekuatan dari manik biru itu, lalu dengan mantap Sebastian berkata :

"…Aku menyukaimu, Ciel."


A/N : Ampun! Tolong jangan marahin saya kalo chapter ini panjang banget! Saya juga nggak ngerti kenapa bisa begini. Yang jelas saya cuma kejer deadline buat rampungin chapter ini dalam waktu 2 minggu karena… you know, tomorrow is a big day for me. Saya mau nyiapin semuanya dengan baik untuk hari spesial saya, tapi saya takut cerita ini jadi keteteran gara-gara itu. Jadilah saya bikin ini agak ngebut. Tapi semoga chapter kali ini nggak mengecewakan.

Ngomong-ngomong, Beatrice dan Jake itu sebenernya Beast sama Joker, tokoh yang ada di versi manga. Nama ini direkomendasiin sama temen saya dan sengaja saya ubah, soalnya saya ngerasa aneh kalo ada orang punya nama begitu di fic AU. Mohon maaf buat para FC kedua tokoh ini karena nama mereka saya ganti.

And Keshahaha, I made this whole chapter just especially for you. God bless us!

Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : Aldred van Kuroschiffer, Chernaya shapochka, Nada-chan Laurant, Ariefyana Fuji Lestari, Chlairine Lou, RaFa LLight S.N, Kai Shadowchrive Noisseggra, Kojima Michiyo, Dangaard dan Yuu-Zai Baka! Jeg elsker dig! Yeaah! XD

For anon reviewers :

RaFa LLight S. N : Iyeey, harapan Rafa-san terkabul di chapter ini, lho! Baik, kan, saya? *dijambak* Terima kasih lagi yaa buat review-nya!

Daaaaan mohon maaf lagi kalau masih ada typo dan kalimat salah struktur :(

Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D