Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only
Warnings : AU, OOC, language—maybe? Small talk about religions, lame, cheesy, semi-drabbles
"Aku menyukaimu, Ciel."
Ciel kembali memejamkan matanya. Kata-kata itu terasa seperti imajiner―antara nyata dan tidak nyata. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa semuanya akan berakhir seperti ini. Rasa hangat masih terasa di kedua sisi pipinya, dan dalam cara yang ia tidak mengerti, kehangatan itu membuatnya tenang.
Menyukainya.
Suka?
Ia menggigit bibir bawahnya pelan. Semua pikirannya dan fakta yang baru saja ia telan bulat-bulat membuatnya bingung. Sekali lagi ia cermati tiga kata dari Sebastian itu dalam-dalam. Semakin serius ia memikirkannya, semakin kusut benang-benang pemikiran yang ada di dalam benaknya.
Suka.
Apa perasaan itulah yang selama ini menggelayutinya?
"Aku menyukaimu." ulang Sebastian, dan suara velvet itu membawa Ciel kembali ke dunia nyata.
Ciel tersenyum tipis, merasa layaknya ada ratusan kupu-kupu kecil berterbangan di perutnya saat Sebastian mengatakan itu sekali lagi. Ia menaruh telapak tangannya di atas tangan Sebastian yang menangkup pipinya, dibawanya tangan hangat itu ke hadapannya. Ia menarik diri dari wajah tampan itu dan menatap mata crimson yang membuka perlahan lekat-lekat.
"Benarkah?"
Sebastian menghela napas pendek lalu tertawa kecil, seolah menertawakan dirinya sendiri. Ia melepas tangan kanannya dari genggaman Ciel dan mengelus pipi remaja itu dengan punggung tangannya. "Ya, aku tahu ini konyol. Tapi memang itulah kenyataannya. Aku menyukaimu… sejak pertama kali kita bertemu."
Ia membuka mulut untuk mengutarakan perasaannya lebih lanjut, namun niatnya terhenti saat melihat orb royal blue di depannya menatapnya dengan emosi rumit yang terpantul di permukaannya.
Penilaian. Pertimbangan. Keraguan.
Raven itu menggeleng pelan. Semua emosi itu membuatnya seakan mati rasa.
"Aku… aku minta maaf—"
"Tidak." jemari kurus Ciel menahan kedua belah bibir Sebastian. "Kau tidak perlu meminta maaf. Itu bukan salahmu, bukan—ini bukan kesalahan."
Sebastian menatap Ciel, sangat tidak menyangka dengan apa yang remaja itu katakan.
"Mungkin aku juga menyukaimu." ujar Ciel, jelas-jelas keraguan terselip di suaranya. "Mungkin. Iya. Tidak. Aku tidak tahu. Semua ini terasa terlalu cepat dan membuatku bingung dan aku…"
Ciel berhenti di tengah ucapannya, tangan kanannya menggenggam tangan Sebastian dengan erat seolah tindakan itu bersifat telepatis—padahal kenyataannya bukan. Sebastian sama sekali tidak berkeinginan untuk menyelanya, dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah diam. Menunggu apa yang selanjutnya remaja itu ucapkan.
Si rambut biru-kelabu itu menekurkan wajahnya. Selang beberapa detik, ia kembali berujar.
"Beri aku waktu." gumamnya. "Jika kau tidak keberatan, beri aku waktu untuk memikirkan semua ini."
Sebastian tidak tahu apakah ia harus tertawa lega atau meringis kecewa. Tapi yang jelas, kalimat itu membuat bebannya sedikit terangkat.
Setidaknya, ia sudah mengatakannya.
Dan ia pun tersenyum, sengaja membuat lengkungan tipis di bibirnya itu sebagai jawaban untuk Ciel.
"Baiklah." ujarnya lembut sambil mengecup kening Ciel untuk yang kedua kalinya hari itu. "Jika itu maumu."
000
Dan pikiran itu terus menghantuinya.
"Oh, astaga, Ciel, hentikan itu." suara Rachel terdengar dari ruang makan. Seketika ia muncul ke dapur―tempat dimana Ciel berada―dan menyambar kotak susu yang ada di tangan remaja itu. Ciel berjengit kaget dan buru-buru melihat tangannya yang kini kosong dan gelas yang ada di atas meja yang kini sangat penuh dengan cairan putih encer―bahkan ada sedikit jejak tumpahan di sekelilingnya.
"Jangan melamun saat menuang susu!" tegur ibunya sambil menaruh kotak susu itu ke atas counter bar, lalu menatap anaknya dengan kedua tangan di pinggang. "Ayo bereskan itu sebelum susunya mengering dan lengket."
Ciel mengangguk lunglai. Ia menarik beberapa lembar tisu dan membasahinya dengan sedikit air dan mulai membersihkan tumpahan susu di atas meja itu. Rachel memerhatikan Ciel dengan intens, dan wanita itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dear, kau sedang memikirkan sesuatu?"
Si rambut biru-kelabu itu pun menoleh. "Apa? Eh, tidak." bohongnya.
Rachel hanya diam, memerhatikan anaknya yang kembali berbalik untuk mengelap meja, lalu menghela napas.
"Mum tahu―"
"Aku datang!"
Lengkingan dengan sengau khas memotong perkataan Rachel dan tiba-tiba saja sosok serba merah muncul dari arah ruang tengah. Sontak Rachel dan Ciel menolehkan pandangannya ke objek penginterupsi itu, dan mereka mendapati Angelina yang tersenyum lebar sambil mengangkat sebuah bungkusan di tangannya.
"Oh, An," Rachel berjalan menghampiri Angelina. "Kupikir kau tidak akan datang."
"Mmmm, sœur, maaf. Aku baru punya waktu luang hari ini." katanya sambil mencium pipi kanan dan kiri Rachel. "Aku tidak akan lupa untuk berkunjung."
Tangan berkuku merah Angelina terangkat, menyodorkan bungkusan besar kepada Rachel. Rachel menerimanya dan membukanya, wajahnya langsung cerah saat ia mengetahui apa isi bungkusan itu.
"Oh, Ciel akan menyukai ini."
"Tentu, tentu!" Angelina membuka mantel bulunya dengan hati-hati. "Ciel si Monster Makanan Manis akan menyukainya."
"Apa? Aku?" dengan lamban, Ciel merespon. Ia segera melempar tisu di tangannya ke dalam keranjang sampah sebelum mendekat ke arah Rachel. Diliriknya bungkusan yang setengah terbuka di tangan ibunya itu, lalu menyeringai.
"Monster Makanan Manis, yeah." cicitnya. "Boleh aku ambil satu?"
Angelina tertawa lalu membuat gestur mempersilakan dengan kedua tangannya. Ciel pun tersenyum lebar dan mengambil satu meringue dari bungkusan itu dan memakannya.
"Bagaimana dengan segelas cokelat panas, hmm? Mereka akan menjadi pasangan yang tepat." Angelina menepuk pundak kakaknya pelan. Rachel memutar matanya sebagai jawaban, lalu terkikik geli.
Lima menit kemudian, Rachel sudah siap dengan tiga cangkir cokelat panas di ruang tamu. Angelina tersenyum puas melihat asap tipis yang mengepul dari cangkir-cangkir itu. Tanpa perlu menunggu basa-basi kakaknya, ia duduk dengan manis di sofa, mengangkat secangkir cokelat, meniupnya perlahan, dan meminumnya.
"Apa pekerjaanmu disini sudah selesai, An?" Rachel membuka percakapan setelah menyeruput cokelat panas miliknya.
Angelina menggeleng. "Belum. Masih ada dua minggu lagi sebelum Natal. Pihak penyelenggara memberiku waktu untuk beristirahat. Mungkin dua atau tiga hari lagi, aku akan kembali sibuk."
Tiba-tiba Rachel teringat akan sesuatu. "Oh, Apa hari Sabtu depan kau masih bisa meluangkan sedikit waktu?"
"Sabtu depan? Aku tak tahu." Angelina mendecap. "Memangnya ada apa di hari Sabtu depan?"
Rachel menggigit bibir bawahnya. Diam-diam, ia melongokkan kepalanya ke arah ruang tengah―tangga, setelah dirasa aman, ia berujar.
"Tanggal empat belas Desember―"
"Ah! Iya! Aku ingat!" Angelina menjentikkan jarinya. "Ulang tahun Ciel!"
"Sssst! Jangan keras-keras!" bisik Rachel gusar. Ia kembali melirik ruang tengah sebelum berkata kembali. "Aku ingin membuat acara kejutan untuknya!"
Rambut merah Angelina berayun kesana kemari saking antusiasnya. "Tentu saja! Sebisa mungkin aku akan meluangkan waktuku untuk menghadiri ulang tahun keponakanku tersayang!"
"Aku sangat berharap kau bisa." Rahcel tersenyum tipis. "Ehm, Ciel sudah tidak merayakan ulang tahunnya bersama kami sejak saat umur empat tahun, dan kejutan ini sebenarnya ide Alois dan Elizabeth…"
"Alois dan Elizabeth?" tanya Angelina. "Duo pirang dari keluarga Middleford itu?"
Rachel mengangguk. "Tapi Alois masih menggunakan nama belakang keluarganya."
"Hmm." Angelina berdeham. "Aku bertemu dengan mereka sesekali di Castlemont. Sudah lama sekali rasanya."
"Kau bisa mengunjungi mereka." saran Rachel. "Rumah mereka hanya berjarak dua rumah lagi dari sini."
"Mungkin aku akan menyempatkan diri untuk mengunjungi mereka setelah ini." putusnya. "Bagaimana kabar Francis? Apa ia masih galak seperti biasanya?"
"Mungkin… sekarang dia lebih galak dari biasanya." Rachel tertawa.
"Ah, itu sedikit mengurungkan niatku." candanya. "Kau tahu? Aku tidak mengerti bagaimana bisa Alexis bisa tahan bertahun-tahun dengan semua omelannya…"
Dan kedua ibu-ibu itu terus bergosip sampai bunyi bel terdengar dari pintu depan.
"Sebentar, biar kubukakan dulu pintunya." Rachel bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu bergagang dua itu dengan hati-hati, dan agak kaget saat ia melihat wujud si tamu.
"Sebastian?" Rachel menaikkan sebelah alisnya melihat pemuda berambut jet black itu dengan penampilan rapinya, seakan-akan hendak pergi ke suatu tempat. Asap putih mengepul setiap kali Sebastian menghembuskan napas, dan sesekali ia mengosokkan kedua telapak tangannya.
"Selamat pagi, Mrs. Phantomhive." ia memberi salam sopan. "Apa kedatangan saya mengganggu Anda?"
Rachel menggeleng pelan. "Tidak, tidak sama sekali. Kenapa kau kemari pagi-pagi begini, Sebastian? Apa ada yang bisa kubantu?"
"Siapa itu, Rachel? Kenapa kau tidak mempersilakannya masuk?" suara Angelina terdengar dari ruang tamu.
"Uhm, iya―silakan―"
"Tidak, Mrs. Phantomhive, terima kasih." tolak Sebastian. "Saya hanya sebentar."
"Tapi di luar dingin." Rachel menunjuk udara kosong di belakang Sebastian. "Kau bisa mati beku."
"Ah, tidak perlu, sungguh" Sebastian kembali menolak. "Saya hanya―"
"Rachel, apa yang kau lakukan? Membiarkan tamu kedinginan di luar…" Angelina pun muncul dengan heroik, membuka pintu di sisi sebelahnya agar bisa melihat si tamu. "Oh, siapa lelaki tampan ini?"
"Selamat pagi, Madame Durles." Sebastian menganggukkan kepalanya pada Angelina, dan wanita itu tampak sedikit terkejut. Sebastian pun buru-buru menambahkan kalimatnya. "Ciel bercerita banyak tentang Anda kepada saya."
"An, dia mahasiswa yang tinggal di seberang rumah. Namanya Sebastian." Rachel memperkenalkan Sebastian ke Angelina. Angelina tersenyum sumringah, tangannya menyusuri kancing coat yang dikenakan Sebastian. Tentu saja hal itu membuat Sebastian salah tingkah.
"Sayang sekali, masih mahasiswa." Angelina menopang pipi kirinya dengan dramatis. "Padahal dia cukup tampan…"
"Oh, berhenti menggodanya, An." Rachel menghela napas. "Aku tidak mau kau dicap sebagai tante-tante penggoda. Uh, Sebastian… maafkan kelakuan adikku ini..."
Sebastian hanya bisa menanggapinya dengan tawa tidak enak. Saat ia melayangkan pandangannya ke dalam kediaman Phantomhive di hadapannya, sekilas ia melihat sosok Ciel yang berjalan melewati ruang tengah ke arah dalam. Ciel pun menyadari tatapan bola mata scarlet Sebastian yang mengikutinya, dan dengan canggung, Ciel memalingkan wajah dan berlalu kembali ke ruang tengah.
"Eh, jadi, Mrs. Phantomhive…" Sebastian kembali fokus ke tujuannya semula. "Saya datang kemari untuk pamit."
"Pamit?" ulang Rachel, dahinya sedikit berkerut.
"Ya. Saya dan Claude akan pergi mengunjungi keluarga kami selama beberapa minggu." jelasnya. "Kami akan meninggalkan rumah selama itu, dan yah… kami ingin meminta tolong pada anda untuk mengawasi rumah kami selama kami pergi."
"Ah, begitu. Tentu saja." jawab Rachel, dan Sebastian menggumamkan 'terima kasih' pelan. "Kalau boleh tahu… dimana tempat tinggal orang tuamu dan Claude?"
"Portsmouth." ujarnya. "Saya dan Claude akan mengambil penerbangan siang ini. Claude sudah ke bandara lebih dulu untuk mengurus semua keperluan dan administrasi."
"O, Brittish!" kicau Angelina dengan aksen sengau-nya. "Lelaki tampan dari Inggris!"
Rachel menyikut lengan Angelina dan sekali lagi memutar matanya. "Libur Natal dan merayakannya bersama orang tuamu, eh?"
Sebastian tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Saya lahir dari keluarga atheis. Kami tidak merayakannya. Dan mungkin kami akan pulang sebelum Natal."
"Oh, maaf."
"Tidak apa-apa."
"Kalau begitu, tunggu sebentar." Rachel menahan Sebastian, lalu membalikkan badan dan berlari kecil ke ruang tengah. Sementara itu, ponsel Angelina berdering, dan wanita serba merah itu tersenyum pada Sebastian lalu undur diri untuk menjawab panggilan di ponselnya, meninggalkan pemuda itu sendirian di depan pintu.
Lamat-lamat, Ciel muncul dari persembunyiannya―di balik tangga. Sebastian tertawa kecil saat remaja biru-kelabu itu dengan canggung mengambil dua potong meringue yang tersaji di atas meja, memakan yang satunya dan dengan absurd menyodorkan satunya lagi pada Sebastian.
"Mau?"
"Terima kasih." Sebastian menerima manisan berwarna putih itu dari tangan Ciel. Ia tidak segera memakannya, dan ia malah sibuk memerhatikan Ciel yang kembali mengambil beberapa potong meringue dan melahapnya seolah tidak akan menjumpai manisan itu lagi.
"Jadi…" ujar Ciel setelah menghabiskan meringue terakhirnya. "Kau akan pergi?"
"Hmm. Begitulah." Sebastian mengedikkan bahunya. Ia menyipitkan matanya, agak heran melihat wajah Ciel yang tidak begitu bersemangat.
"Ke Inggris, eh?" Ciel memaksakan tawa. "Aku tidak mengira laki-laki amburadul sepertimu adalah orang Inggris."
Sebastian terkekeh. "Lalu, kenapa? Kau tidak suka?" Balasnya dengan logat inggris yang kental. Ciel membulatkan matanya lalu meninju bahu Sebastian pelan.
"Eew, hentikan dengusan menyebalkan itu." katanya geli. Mereka tertawa sejenak, setelah itu diam sampai suasana canggung kembali menyelimuti.
"Monday Dew pasti akan terasa sepi."
Sebastian menghela napas pendek. "Kan masih ada Ron dan yang lain..."
"Tapi tetap saja berbeda." Ciel buru-buru bergumam, lebih seperti menyangah perkataan Sebastian.
Dan Sebastian tidak dapat menahan dirinya. Dielusnya puncak helaian biru-kelabu itu dengan lembut, dan Ciel menundukkan kepalanya, seolah tidak ingin kontak fisik itu terhenti.
"Aku tidak akan lama." Sebastian menarik tangannya, ia tertawa pelan saat melihat wajah merengut Ciel.
"Be―"
"Syukurlah kau masih kuat menunggu." Rachel tiba-tiba muncul dari belakang Ciel, membuat remaja itu sedikit terkejut. "Ini untukmu"
Rachel menyerahkan sekotak meringue ke tangan Sebastian. "Untuk camilan di perjalanan. Maaf, aku tidak bisa memberi sesuatu yang lebih baik."
"Astaga, Mrs. Phantomhive, terima kasih banyak." Sebastian melirik Ciel dengan tatapan jahil sebelum menundukkan kepalanya. "Anda tidak perlu repot-repot..."
"Aku sama sekali tidak repot, Sebastian." Rachel pura-pura menggurui Sebastian. "Nah, aku tidak mau menahanmu lama-lama di luar dengan cuaca dingin seperti ini."
Sebastian mengangguk, lalu tersenyum. "Baiklah. Saya permisi dulu, Mrs. Phantomhive. Sekali lagi, terima kasih banyak."
"Ya, ya." kicau Rachel. "Hm, Ciel, bagaimana jika kau antar Sebastian sampai depan?"
Ciel menggembungkan pipinya. "Okeeeeee."
"Saya pergi dulu." Sebastian memberi salam. Rachel memberi lambaian tangan sebagai balasan.
"Sampaikan salamku dan Vincent untuk keluargamu dan Claude, ya!"
Sebastian tersenyum, tanda mengiyakan, dan berlalu bersama Ciel.
"Apa yang membuatmu pindah ke Amerika?" tanya Ciel serta-merta.
"Hm?" Sebastian menolehkan wajahnya. "Sekolahku yang lama membuka peluang beasiswa ke Universitas Lincoln, kurasa itu kesempatan yang bagus, dan aku mengambilnya."
"Begitu juga Claude?"
Pemuda bermata red wine itu mendengus. "Orang tuaku tidak mengizinkanku keluar Inggris sendirian. Mereka berhasil meyakinkan orang tua Claude untuk membuatnya masuk ke Lincoln."
"Itu membuatmu kedengaran seperti anak ingusan." canda Ciel. Sebastian hanya bisa tersenyum masam.
Keduanya pun berhenti di depan sedan hitam milik Sebastian yang terparkir di depan rumah Ciel. Raven itu hendak membuka pintu pengemudi saat Ciel tiba-tiba mengatakan sesuatu.
"Kapan kau akan kembali?"
Sebastian membulatkan matanya, lalu tersenyum tipis.
"Secepatnya."
"Uhm..." Ciel menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuk. "Tentang jawabanku... untuk yang waktu itu..."
Ia menatap Sebastian ragu, dan entah karena angin apa, Sebastian dapat mengerti betul apa maksud remaja biru-kelabu di hadapannya itu.
"Aku tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama." ujarnya tenang.
Ciel menggigit bibir bawahnya, matanya sibuk memerhatikan batas trotoar yang basah, dan menghela napas.
"Kurasa ini waktunya untuk pergi." Sebastian melirik jam tangannya sekilas, lalu dengan spontan mencubit pipi Ciel dengan kedua tangannya. "Berusahalah untuk tidak merindukanku, oke?"
Ciel meringis kesakitan saat Sebastian melepas cubitannya dan melenggang masuk ke dalam mobilnya dengan tawa jumawa. "Memangnya siapa juga yang akan merindukanmu, mesum?"
Tawa Sebastian semakin kencang saat kata mesum meluncur dari mulut Ciel. "Berani taruhan, kau akan merindukanku karena itu!"
Ciel menjulurkan lidahnya pada sedan hitam di depannya yang mulai menjauh. Bahkan ia berani sumpah ia masih bisa melihat wajah Sebastian yang tertawa puas dari pantulan kaca spion.
Setelah mobil itu benar-benar hilang dari pandangan, Ciel menggantikan senyum geli di wajahnya dengan raut datar. Ia mengerjapkan matanya kuat-kuat, lalu menyentuh pipinya yang baru saja menjadi 'korban kekerasan' Sebastian beberapa saat lalu. Bagian itu masih terasa agak sakit, dan rasa tidak nyaman itu semakin diperparah dengan hawa hangat yang muncul saat ia mengingat kembali kejadian itu.
Tanpa sepengetahuannya, seulas senyum kembali muncul di bibirnya.
"Kurasa..." lirihnya pelan. "Aku memang akan merindukanmu."
000
Sebelas Desember.
Sudah satu minggu berlalu setelah Sebastian dan Claude meninggalkan Oakland. Ciel menyapukan jempolnya pada layar touchscreen ponselnya, membuat layar itu menampilkan kalender, jam analog, dan wallpaper kosong silih berganti. Jarinya berhenti bergerak saat tampilan kalender muncul, mata biru langitnya menekuni angka itu lekat-lekat.
Tak lama, dimasukkannya gadget itu ke dalam saku celananya dengan asal. Sambil membuang napas, ia mengayunkan ayunan tua yang didudukinya pelan-pelan. Ujung kakinya tetap menjejak tanah, pandangannya kosong menatap kolam pasir berantakan yang berjarak dua meter dari tempatnya. Ember dan sekop plastik berlumur pasir tergeletak sekenanya di pinggirannya, dan Ciel nyaris ingin bermain bersama kedua benda itu jika saja ia tidak segera ingat umur dan gengsi.
"Lama sekali." sahutnya pada sosok pirang pucat yang muncul dari kejauhan. Kedua tangannya masing-masing penuh dengan segulung pork burrito porsi sedang dengan asap tipis yang masih mengepul.
"Antriannya panjang sekali." Alois menyerahkan pork burrito di tangan kirinya pada Ciel. "Makanan seperti ini memang sangat laku di musim dingin."
Ciel menggigit bagiannya dan menggumamkan sesuatu yang kurang lebih menyatakan komentarnya untuk rasa makanan itu.
"Apa yang akan kau lakukan sampai akhir minggu ini?"
Ciel buru-buru menelan kunyahan pork burrito di mulutnya sebelum merespon pertanyaan Alois. "Entahlah. Mungkin berdiam saja di rumah."
"Kau bercanda." Alois memutar matanya. "Jika aku menjadi dirimu, empat-lima jam kemudian, aku akan mati bosan."
"Ha. Cara mati yang konyol." gelak Ciel. "Yah, habisnya... apa lagi yang bisa dan harus kulakukan?"
"Nah, itu maksudku." si pirang pucat itu menatap kedepan dengan pandangan menerawang. "Aku benar-benar benci saat mereka tidak ada di sini."
Ciel menelengkan kepalanya. "Mereka?"
"Kau tahu maksudku."
Alois menaikkan alisnya, seolah memberi isyarat, dan Ciel segera membulatkan bibirnya sambil berkata, "Ooh."
"Yah, mereka memang selalu pergi setiap menjelang Natal." kata Alois pelan.
Ciel menatapnya dengan skeptis, namun ia tidak berkomentar apa-apa.
"Semoga mereka cepat kembali." Alois membasahi bibirnya dengan canggung. Ia menoleh ke arah Ciel, dan sedikit heran dengan tatapan remaja biru-kelabu itu. "Kenapa akhir-akhir ini kau selalu melihatku seperti itu?"
"Melihatmu seperti apa?" sembur Ciel defensif.
"Seperti itu!" dengking Alois. "Seakan kau sedang menilaiku!"
"Delusi." Ciel mengibaskan tangannya, menyapukan topik itu ke sisi lain. "Sudahlah, aku tidak mengerti apa maksudmu, dan aku juga tidak peduli. Bisakah kita mencari bahan pembicaraan lain?"
Alois menyipitkan matanya, giginya dikatup rapat-rapat sambil mengeluarkan suara berdesis janggal.
"Hmm, oke." Ciel memutar matanya dan kembali mengunyah pork burrito miliknya seolah tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi. "Tanpa bahan pembicaraan juga tidak apa-apa."
Sekian menit berikutnya hanya dihabiskan oleh mereka dengan aksi kunyah-mengunyah makanan, ditemani dengan suara keriut ayunan tua dan bunyi teriakan anak-anak yang berlarian di lapangan, hanyut dala, pusaran pikiran masing-masing. Setelah menyelesaikan makanannya, Alois melempar kertas pembungkus burrito ke tanah seenaknya, menunggu Ciel selesai sebelum kembali mengajaknya kembali berbicara.
"Ngomong-ngomong," ujar Alois setelah Ciel membersihkan remah burrito di sekitar mulutnya, "yang waktu itu... apa yang Sebastian katakan padamu setelah Beatrice meninggalkan kalian? Hmm?"
Pertanyaan Alios itu nyaris membuat Ciel memuntahkan kembali pork burrito-nya.
"U-uh..." bola mata azure Ciel bergerak tak nyaman di ronggannya. "Kenapa kau tanya―"
"Ahaaa... pasti memang sudah terjadi sesuatu!" ledek Alois. Ciel meringis dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menyangkal.
"Kenapa sih, kau selalu seperti itu?" kali ini nada suara Alois merendah, dan tentu saja hal ini membuat Ciel surprise.
"Kau selalu berkilah." katanya lagi. "Tidak pernah membiarkan orang lain tahu bagaimana perasaanmu."
Bagaimana perasaannya? Ciel membatin. Bagaimana perasaannya?
Ciel menundukan wajahnya sementara Alois terus berbicara. "Terkadang aku merasa bahwa sifat tertutupmu itu sangat sulit untuk dihilangkan. Dan kau ingat? Kita sudah pernah berjanji untuk tidak menyimpan satu rahasia pun."
Remaja biru-kelabu itu menggigit bibir bawahnya, mencerna setiap kata yang ia dengar dari sepupu angkatnya itu baik-baik. Pemikirannya seperti bergejolak. Ada sisi yang ingin ia berbuat persis serperti apa yang ia sebenarnya inginkan, tapi di sisi lain mengatakan untuk menutup persoalan itu serapat mungkin.
Ada konfrontasi, jauh di dalam dirinya.
"Bukan begitu," akhirnya Ciel berani mengeluarkan suaranya. "Aku... aku tidak bermaksud seperti itu."
Alois menaikkan sebelah alisnya. "Lalu? Apa yang membuatmu terus-terusan bungkam?"
"Aku tidak bungkam. Aku hanya bingung."
"...Bingung?"
Ciel menggangguk. "Kau tahu, Al... aku bukan jenis orang yang terbiasa dengan lingkukan sosial. Sulit, canggung, dan kau harus tahu bagaimana, dengan seharusnya, aku menghadapi seseorang yang tiba-tiba―"
Ia menghentikan kalimatnya, lalu menoleh ke arah Alois untuk mencari tanda-tanda negatif dari reaksinya. Namun sebaliknya, Alois hanya menatap Ciel dengan pandangan statis dan berhati-hati.
"Teruskan." ujarnya. "Aku mendengarkan."
Ciel menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
"Bagaimana..." jeda, "aku harus menghadapi seseorang yang tiba-tiba muncul dengan tidak sopannya dalam kehidupanku?"
"...Sebastian, maksudmu?"
Ciel merasa ia tidak perlu menjawabnya.
"Lalu?"
"Aku bingung." ulangnya pelan. "Dia... dia bilang dia menyukaiku."
Alois membulatkan matanya, terkejut, namun ia menahan diri untuk berkomentar selama Ciel bercerita.
"Yah, aku tahu itu kedengaran aneh," Ciel tertawa pahit. "Seorang laki-laki menyukaiku―"
"Ehm, bisakah kita langsung ke intinya?" putus Alois tak sabaran. Ciel serta-merta memukul kepala sepupu angkatnya itu.
"Kau merusak suasananya, tahu!" Ciel menggerutu. ""Aku juga akan segera menceritakan intinya!"
Alois hanya mengelus bekas pukulan Ciel di kepalanya sambil merengut. "Iya, iya, lanjutkan."
"Aku tidak tahu harus bagaimana." lirihnya. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Apa yang harus kau lakukan?" Alois memimiki pertanyaan Ciel. "Kau bertanya padaku apa yang harus kau lakukan?"
Si biru-kelabu itu pun mengangguk, sorot matanya penuh tanda tanya.
"Aku hanya bisa memberi saran." Alois mengayunkan ayunannya pelan-pelan sambil menepuk pundak Ciel. "Kenapa kau tidak tanyakan pada hatimu, apa yang harus kau lakukan?"
Ciel tertegun. Lidahnya kelu untuk menanggapi saran itu.
"Aku..."
"Kau pasti tahu."
Ia memalingkan wajahnya. Alois diam saja, sengaja memberi waktu pada Ciel untuk berpikir, dan menunggu.
"Kurasa apa yang kau katakan waktu itu benar." Ciel kembali menatap Alois, dan remaja pirang itu pun kembali pada posisi pendengar yang baik.
"Saat dia pergi, aku selalu memikirkannya. Sampai-sampai sebagian besar pikiranku tersita hanya untuknya." jelas Ciel, senyum tipis terkembang di wajahnya. "Dan walaupun kami lebih sering bertengkar, rasanya... hanya berada di dekatnya saja, aku merasa nyaman."
"Itu artinya kau cinta Sebastian."
Cinta?
Mencintainya?
"Tapi dia bilang, dia menyukaiku." Ciel. menelengkan kepalanya. "Kau membuatku tambah bingung, Al."
Alois mengibaskan tangannya. "Untuk apa kau bingung?" ia menyipitkan matanya. "Tunggu, tunggu, tunggu... Sebastian bilang suka?"
Ciel mengangguk.
"Padamu?"
Ciel mengangguk lebih kencang.
"Kau jawab apa?"
"Aku belum menjawabnya."
Alois menyikutnya. "Kenapa?"
"Karena... aku bingung."
"Astaga, memang apa bedanya suka dengan cinta?"
Ciel hanya diam, keningnya berkerut, tanda sedang berpikir keras.
"Tentu saja berbeda!" serunya. "Suka ya suka. Cinta ya cinta. Dari segi alfabetis saja mereka sudah berbeda."
"Hei, apa kau sudah lupa dengan sinonim?"
"Lalu apa kau juga lupa dengan antonim?" Ciel tidak mau kalah. "Suka, lawannya benci. Sedangkan cinta? Apa lawan kata cinta?"
"Uh... Benci?" cicit Alois tidak yakin.
"Bukan!"
"Ya sudahlah, aku juga tidak peduli!" Alois melengos dan menggeretakkan giginya. "Hal itu sudah jelas, kan? Kenapa kau masih memusingkannya?"
"Aah! Kau membuat semuanya rumit!" erang Ciel, dan ia pun bangkit berdiri. "Sudahlah, aku mau pulang!"
Dengan tergesa-gesa, Ciel keluar dari lapangan bermain itu, meninggalkan Alois sendirian. Sebelum melangkah lebih jauh, Ciel tersadar akan sesuatu. Ia hendah menyampaikannya pada Alois, dan saat ia berbalik, ia baru ingat kalau ia baru saja 'perang mulut' dengan sepupu angkatnya itu, dan ia pun memberi salam tidak perlu sebagai alibi.
"Sampai jumpa besok," katanya agak ketus.
Alois menatapnya dengan heran sampai sosok biru-kelabu itu hilang dari pandangan. Bahkan ia butuh waktu untuk memahami benar apa yang terjadi di antara mereka sebelumnya. Dan seiring dengan seringaian penuh arti muncul di wajahnya yang pucat, ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponselnya dan setelah menekan beberapa tombol, terdengar nada sambung sebelum ada respon.
"Halo?"
"Astaga, astaga, Liz, kau harus mendengar ini." Alois mulai meracau seperti ibu-ibu. "Kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang baru saja kudengar."
"Alois? Apa maksudmu?" ujar Lizzy di seberang sambungan, agaknya ia ikut panik karena nada suara Alois yang sama sekali tidak santai.
"Kau ingat dengan rencana yang kuceritakan padamu saat itu?" tanyanya buru-buru. Terdengar gumaman pelan sebagai tanda mengiyakan dari Lizzy.
"Nah, Ciel bercerita padaku kalau Sebastian menyatakan perasaan padanya." jelasnya sambil sesekali terkikik geli. "Dan ia bilang kalau ia juga menyukai Sebastian, err―atau apalah itu."
Terdengar suara agak gaduh dan bunyi 'tuk' pelan dari speaker ponsel Alois, diiringi dengan rutukan Lizzy di belakangnya. "Sial."
"Apa? Apa yang kau lakukan?"
"Lihat ulahmu, botol kuteks milikku jatuh dan kini cairan oranye ini tumpah kemana-mana." gerutunya, namun ia segera tertawa. "Tapi, kau serius?"
Alois memutar matanya. "Untuk apa aku berbohong?"
"Kau ada dimana?"
"Di taman. Oh, oh, sebegitu tidak sabarannya?"
"Diam, sapi." dengus Lizzy. "Sekarang cepat kemari dan kau harus bertanggung jawab atas kuteks-ku yang tumpah―ceritakan semuanya padaku, tanpa kecuali."
"Aye, Nona!"
Alois pun memutuskan sambungan koneksi. Ia tertawa keras-keras sampai memegangi perutnya, lalu mulai bertingkah gila. Ia berteriak dan melompat-lompat liar, setelah itu ia menggerakkan anggota tubuhnya dan membuat gerakan aneh seperti octopus dance sambil berseru, "Aku berhasil! Aku berhasil!"
Tapi tingkah sintingnya itu segera terhenti saat ia menyadari sekumpulan anak kecil yang menontonnya dengan heran dan antusias di pinggir taman. Alois buru-buru berdeham, kembali kalem dan dan pura-pura membenarkan jaketnya, lalu memelototi anak-anak itu.
"Apa? Apa yang kalian lihat, hah?" bentaknya pada kerumunan mini tersebut. "Kalau kalian masih berani terus seperti itu, aku akan mengubur kalian satu per satu ke dalam kolam pasir ini."
Seketika anak-anak kecil itu berteriak horor, beberapa diantaranya menangis, dan langsung berlarian kesana kemari, pulang dan berlindung di bawah ketiak ibu mereka dari monster jahat bernama Alois Trancy.
"Dasar gumpalan ingus berjalan."
Ia pun tertawa sepuas-puasnya, lalu kembali menari dengan brutal.
000
Ciel meregangkan tubuhnya di atas kasur. Pandangannya masih kabur, dikerjapkannya mata kebiruannya berberapa kali sampai penglihatannya kembali normal. Dengan malas, ia bangkit dari tempat tidur. Ia menatap jendela kamarnya yang menampilkan langit yang mulai menggelap dan mengambil ponselnya untuk melihat jam digital yang tertera di layarnya.
"Jam lima sore." gumamnya pada dirinya sendiri. Ia menguap sekali lagi sebelum melempar ponselnya seenaknya ke atas kasur lalu menyeret langkahnya menuju kamar mandi.
Udara dingin membuatnya gampang tertidur akhir-akhir ini. Ia ingat sekali, bahkan tiga jam yang lalu, ia masih asyik bersantai mendengarkan lagu dari pemutar musik miliknya di sambil membaca buku di atas tempat tidur sampai—bahkan ia tidak menyadarinya—tertidur.
Ciel sedikit berjengit saat air dingin dari shower menyentuh kulitnya, dan ia buru-buru memutar kenop keran air panas sampai air hangat mengalir menggantikan air dingin, nyaris beku. Dan seperti setiap ritual mandi sore sebelumnya, ia selalu menghabiskan waktu dengan melamun.
Ini adalah hari ketiga setelah terakhir kali ia melihat dan berbincang dengan Alois, saat mereka menghabiskan waktu di taman. Ia tahu, sikap keras kepalanya memang menyebalkan saat itu. Ciel merasa sangat tidak enak pada Alois setelahnya, dan keesokan harinya ia memutuskan untuk berkunjung ke kediaman Middleford guna menyelesaikan masalah dan meminta maaf pada Alois. Sayangnya, Edward yang saat itu menyambutnya di pintu depan memberi tahu bahwa Alois sedang tidak ada di rumah, begitu pula Lizzy. Demikian pula keesokan harinya, ia berkunjung kembali dan Alois lagi-lagi sedang tidak di rumah. Bedanya, ia agak sial kali itu karena saat itu Bibi Francis-lah yang membukakan pintu. Wanita itu tidak membiarkannya pergi sebelum menceramahinya tentang rambutnya yang berponi dan penampilannya yang sedikit urakan.
Tidak hanya itu, ia berusaha mengirimi pesan ke Alois berkali-kali, namun tak ada satu pun respon yang ia terima. Sedangkan Lizzy, nihil. Setiap kali ia mencoba menghubunginya, selalu saja nada sibuk yang ia dengar. Sedikit-banyak, ia menyalahkan status gadis populer yang disandang Lizzy karena itu.
Dan tiba-tiba saja, pemikiran tentang Sebastian terlintas di benaknya.
Ia pun menggeleng. Ini mulai terasa random, dan Ciel pun mencoba untuk menghilangkan pemikiran itu secepat yang ia bisa. Ia tidak mengerti. Bahkan saat ia melamunkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan raven itu pun, tetap saja hal-hal tentangnya ikut terbawa layaknya pasir yang selalu terbawa arus sungai.
Dan jika Ciel tidak menghentiknnya saat itu juga, sudah bisa dipastikan bayangan itu tidak akan hilang dari otaknya.
Ciel mulai gemetaran karena terlalu lama terkena guyuran air. Ia mengangkat sebelah tangannya dan bergidik saat melihat kerutan jelek di ujung-ujung jemarinya, lalu memutuskan untuk keluar dari shower box. Ia menyambar handuk yang tergantung di bar panjang di samping shower box kemudian mengeringkan tubuh dan rambutnya dengan terburu-buru dan meninggalkan kamar mandi.
Lima menit kemudian, Ciel sudah siap dengan penampilannya yang rapi dan segar. Ia berjalan menuju tempat tidur, meraba-raba permukaan seprai dan berdecak saat ia tidak dapat menemukan ponselnya. Diangkatnya semua bantal dan selimut di atas tempat tidur itu, dan akhirnya ia menemukan benda pipih hitam yang ia cari itu terselip di antara lipatan bed cover. Dimasukannya ponsel itu sekenanya ke dalam saku celananya dan ia pun segera keluar dari kamarnya.
Ia agak heran melihat suasana lantai dua yang masih agak gelap. Ia menjulurkan kepalanya dari tangga untuk melihat ke bawah, dan ia tidak bisa melihat apa-apa karena gelap, dan ini sungguh tidak biasa.
Ibunya tidak pernah lupa untuk menyalakan seluruh lampu di rumah di atas jam lima sore. Tapi sekarang, seluruh penjuru rumah gelap gulita. Saat ia menapakkan kakinya di anak tangga pertama, sayup-sayup ia mendengar suara bisik-bisik ribut dan suara keletukan seperti benda-benda yang saling berbenturan dari arah bawah.
"Mum? Kau di bawah sana?" seru Ciel hati-hati. Ia menunggu, namun tidak ada jawaban.
Ciel mulai berpikiran macam-macam. Bagimana kalau ia sedang dalam bahaya? Bagaimana jika rumahnya sedang kerampokan? Bagaimana jika suara berisik itu datang dari para perampok yang sedang menjarah rumahnya? Bagaimana dengan ibu dan ayahnya? Bagaimana jika mereka tidak baik-baik saja? Dan seribu satu 'bagaimana-bagaimana' lainnya pun terus berlarian di kepala Ciel tanpa henti, dan itu membuatnya panik.
Sepelan mungkin, ia kembali mundur. Matanya mencari-cari sesuatu dalam kegelapan, dan akhirnya menemukan tongkat baseball yang tersandar di sudut ruangan. Ia mengambil tongkat itu dengan hati-hati, mengangkatnya setinggi bahu dan memasang posisi seakan hendak memukul bola baseball yang akan dilemparkan ke arahnya. Lalu ia menuruni tangga perlahan-lahan, berusaha untuk tidak membuat suara sekecil apapun. Sorot matanya waspada, sesekali melirik ke kiri dan ke kanan. Dua anak tangga lagi sebelum ia mencapai tangga dasar, ia menemukan sakelar lampu di sisi dinding sebelah tangga. Perlahan dan hati-hati, dijulurkannya satu tangannya ke sakelar itu. Dadanya serasa mencelos, namun ia segera memantapkan hati untuk menyalakan lampu dan menyerang apa pun yang pertama kali ditemuinya.
Dengan hitungan mundur yang kacau, ia menekan sakelar dan memejamkan matanya rapat-rapat sebelum cahaya menyeruak. Tepat sebelum ia hendak mengayunkan tongkat baseball itu ke hadapannya, ia dikejutkan oleh suara ramai yang berteriak secara bersamaan.
"Selamat ulang tahun, Cieeeel!"
Serta-merta, Ciel memberanikan diri membuka mata. "...Eh?"
Ia bahkan tidak sempat berbuat apa-apa saat beberapa party pops dilemparkan ke arahnya, membuat tubuhnya seketika dipenuhi pita-pita panjang dan kertas-kertas kecil berkerlap-kerlip. Gelak tawa dan bunyi terompet sumbang menyambangi indera pendengarannya, membuatnya kembali dari momen keterkejutannya.
"Selamat ulang tahun, dear!" Vincent dan Rachel memeluknya bersamaan. Ciel mengerjapkan matanya sesaat setelah kedua orang tuanya melepaskan pelukan mereka.
"Mum? Dad?" Ciel bahkan masih merasa sedikit janggal saat melihat kedua orang tuanya dengan topi pesta konyol dari kertas bertengger di kepala dan senyum lebar di wajah mereka. "Apa ini?"
"Astaga, Nak! Kau serius?" Vincent menatap putranya seolah-olah ia baru saja memamah rumput tetangga. "Jangan bilang padaku kalau kau bahkan tidak tahu tanggal berapa sekarang."
Ciel menggeleng dan mengedikkan bahunya. "Memangnya, tanggal berapa sekarang?"
"Ooh, chérie, empat belas Desember!" Angelina yang tepat berdiri di samping Rachel menepuk dahinya dengan dramatis lalu maju untuk memeluk keponakan tersayangnya itu. "Selamat ulang tahun, dear chérie!"
"Aah, iya, iya." Ciel memaksakan senyum saat Angelina memeluknya dengan amat erat. Berapa kali pun bibinya memanggilnya dengan sebutan chérie, tetap saja ia merasa geli dengan panggilan itu. "Terima kasih, Bi—Madame."
Dan semua yang hadir pun satu per satu memberi ucapan selama pada Ciel secara bergantian. Terlebih saat Francis Middleford maju ke arahnya untuk mengucapkan selamat—rasanya Ciel ingin pura-pura pingsan saja. Wanita itu memberi selamat dan pelukan hangat dengan ekspresi kebahagiaan yang nyaris tidak terlihat. Bahkan ia sempat-sempatnya menyisir poni Ciel dengan jemarinya dan menyusupkan sejumput rambut itu ke balik topi pesta kertas yang sebelumnya sudah dipasangkan oleh Rachel.
"Selamat ulang tahun!" setengah melompat, Lizzy menghampiri Ciel dan memberi pelukan erat pada remaja itu.
"Li—ukh! Pelan-pelan!" Ciel berusaha melepaskan diri dari 'pelukan maut' Lizzy dengan susah payah. "Kau ini! Aku jadi susah bernapas!" gerutunya. Ia melihat ke sekeliling dengan waspada, menyadari Francis tidak ada di dekatnya, dan ia buru-buru merapikan kembali poninya ke arah depan.
"Maaf! Aku terlalu gembira!" dengking Lizzy riang. Ia mengeluarkan suara seperti dengkingan dibalik tenggorokannya, lalu mengangkat sebuah kotak terbungkus kertas merah muda dari balik punggungnya. "Ta-daa! Ini untukmu!"
Ciel tersenyum lebar, lalu menerima kotak itu. "Terima kasih banyak, Liz." katanya.
Lizzy mengangguk, lalu menoleh ke arah kiri dan kanan sebelum fokus kembali pada kotak di tangan Ciel. "Oh, ya, benar. Seharusnya ini kutaruh di tumpukan kado di sebelah sana saja! Ahahaha! Aku memang merepotkan!" cerocosnya lebih kepada diri sendiri. Ia lalu menyambar kotak itu dari tangan Ciel, lalu berjalan sekenanya untuk menaruh kotak itu di tempat yang sudah disediakan, meninggalkan Ciel yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
Rachel lalu muncul dari arah dapur dengan sebuah tart besar penuh krim di tangannya. Ia meletakkan tart itu di atas meja tinggi lalu menyuruh Vincent untuk menyeret Ciel ke tengah kerumunan dan mereka mulai menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk Ciel, menyuruhnya untuk meniup lilin yang ditancapkan di atas tart itu di akhir nyanyian.
"Jangan lupa ucapkan permohonan!" bisik Lizzy yang berada di sampingnya sebelum ia siap meniup lilin.
Ciel mengangguk dan memejamkan matanya, mengucapkan permohonannya dalam hati, lalu meniup tujuh belas lilin yang ada di atas tart berulang kali sampai semuanya padam, ditutup oleh riuh tepuk tangan.
"Jadi, apa permohonanmu?" Lizzy bertanya pada Ciel saat remaja itu menyerahkan potongan kue tart padanya. Tentu saja pertanyaannya itu membuat Ciel tertawa geli.
"Astaga, Liz! Kalau kuberitahukan padamu, permohonanku tidak akan terkabul."
Lizzy menjulurkan lidahnya, salah tingkah. "Ahaha! Benar juga, ya! Tapi..." ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagunya, lalu memasang senyum misterius ke arah Ciel. "kurasa salah satu permohonanmu akan segera terkabul."
Ciel mengerutkan alisnya, sementara Lizzy malah tertawa dan melenggang pergi ke arah kerumunan. Ia tidak habis pikir. Semua orang bertingkah membingungkan akhir-akhir ini.
Dan konyolnya, Ciel baru menyadari bahwa ia tidak melihat Alois di mana pun sedari tadi. Ia menghela napas maklum, mungkin remaja pirang itu masih marah padanya. Ciel hendak menanyakan tentang Alois pada Lizzy, namun saat ia membalikkan badan dan menemukan sepupunya itu sedang sibuk berbincang dengan Francis, ia segera mengurungkan niatnya. Tiba-tiba ia merasa seseorang menepuk pundaknya dari belakang, dan ia berjengit.
"Alois!" seru Ciel saat ia melihat sosok pirang yang baru saja menepuk pundaknya. Alois tersenyum, memamerkan giginya, lalu tertawa.
"Selamat ulang tahun, sepupu!" ujarnya sambil meninju bahu Ciel pelan, sementara Ciel menatap Alois seolah-olah Alois sedang memamah rumput. "...Tatapan macam apa itu?"
"Kukira..." Ciel terbata, "kukira kau masih marah padaku karena masalah itu."
"Apa, sih? Kau pikir aku marah pada waktu itu? Sensitif sekali." Alois tertawa terbahak-bahak. "Kelihatannya kau kesepian tanpa aku."
"Kau menyebalkan." Ciel menggeram, lalu ikut tertawa—tawa lega. "Lalu kemana saja kau dua hari yang lalu? Aku mengunjungi rumahmu dua hari berturut-turut dan kau selalu sedang tidak ada di rumah."
"Mempersiapkan pesta kejutan untukmu, tentu saja." Alois mengedikkan bahu. "Ibumu minta bantuan padaku untuk itu. Dan kurasa itu bagus—dua rencana berjalan dalam satu kesempatan."
"Licik." decak Ciel.
"Kau sudah tahu itu."
"Dan kau datang kemari dengan tangan kosong?" canda si biru-kelabu saat melihat kedua tangan Alois yang sedang tidak memegang apa-apa. "Payah."
"Sangat menginginkan hadiah, eh?" Alois mengerinyitkan dahinya. "Oh, tenang saja. Kau akan menyukai hadiah dariku."
Ciel memiringkan kepalanya, bingung. Ia hendak bertanya, namun Alois tiba-tiba menyeretnya menjauh dari ruang keluarga menuju bagian belakang rumah.
"Hei—kau mau membawaku kemana?" tanya Ciel setengah panik.
"Menemui hadiahmu, tentu saja." Alois berbelok ke arah dapur, menuju taman belakang. "Aku sudah membawakan hadiah yang tepat untukmu kali ini."
Mereka berdua sampai di pintu menuju halaman belakang. Ciel menaikkan sebelah alisnya, dan Alois merespon dengan menganggukkan kepalanya keras-keras, memberi isyarat padanya untuk membuka pintu itu.
Ciel mengulurkan tangannya dengan ragu ke gagang pintu. Remaja itu tidak segera membukanya—ia malah menatap Alois sekali lagi, seolah mengatakan 'kau yakin?' padanya. Alois memutar matanya, dan dengan tak sabaran diayunkannya tangan Ciel yang menempel di gagang pintu, membuat pintu itu seketika terbuka.
Halaman belakang itu sepi dan terasa asing—kurang lebih karena Ciel memang jarang ke bagian rumahnya itu. Ia menolehkan kepalanya ke segala penjuru seperti pencuri. Tanpa pikir panjang, Alois menariknya menuju tengah taman yang lebih terang, dan betapa terkejutnya Ciel saat ia menyadari sosok yang sedang duduk tenang di sebuah bangku taman.
Adalah Sebastian, dengan pakaian hitam-hitamnya, duduk sambil menyilangkan lengan. Wajahnya tampak bosan dan kedinginan, asap putih mengepul setiap kali ia membuang napas dan sesekali ia mengusapkan telapak tangannya ke sisi-sisi lengannya. Di atas kepalanya ada sesuatu—seperti pita berwarna biru malam yang terpasang konyol di puncak kepalanya.
Sedikit tidak percaya, Ciel melangkahkan kakinya untuk mendekat. Saat telapaknya sandalnya beradu dengan rerumputan, menimbulkan bunyi gemerisik, membuat raven itu tersentak dan menoleh ke arahnya.
"Kejutan!" sorak Alois dari belakang. Ciel mengabaikannya, terlalu terkejut melihat Sebastian yang menatapnya sambil tersenyum. Ia berjalan sampai spasi yang memisahkan mereka berkurang, dan hanya pertemuan ujung-ujung kaki yang memisahkan mereka.
"A—" Ciel membalikkan badannya, bermaksud untuk bertanya pada Alois apakah Sebastian yang ada di hadapannya nyata atau tidak, tetapi remaja pirang itu sudah menghilang entah kemana.
Lagi-lagi, ia dijebak.
Ciel bersungut, lalu dengan perlahan dan hati-hati sekali, ia kembali memutar badannya. Sebastian menatapnya heran, begitu pula dengan dirinya—lebih heran.
"Selamat ulang tahun," Sebastian yang pertama kali berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Badannya bergerak canggung, tidak tahu harus memberi remaja itu salaman, pelukan, atau yang lebih ngawur—ciuman. Namun ia mengangkat tangan kanannya perlahan dan mengacak rambut Ciel, seperti yang biasa ia lakukan. "Apa kau merindukanku?"
"...Ma-kasih..." gumam Ciel tidak jelas, matanya tidak beralih sesenti pun dari wajah Sebastian, terlalu terkejut untuk menjawab pertanyaan raven itu. Tiba-tiba sesuatu menghantam pikirannya, membuatnya tersadar dan buru-buru menggelengkan kepalanya berkali-kali, merasa seperti orang bodoh. "Oh, maaf. Aku tidak bermaksud untuk... tapi..." keningnya sedikit berkerut, "kapan kau kembali?"
Raven itu mengedikkan kepalanya. "Tadi sore." jawabnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. "Alois dan Lizzy buru-buru mencegatku sebelum aku sampai di rumah—ia takut kau melihatku. Yah, seperti yang kau lihat... Ia hendak membuatku sebagai kado kejutan untukmu."
Ciel tertawa geli saat Sebastian mengarahkan bola matanya ke atas, merujuk pada pita biru aneh yang bertengger di atas kepalanya. "Alois memang sahabat terbaik yang pernah kumiliki." ujar Ciel disela tawanya.
"Eh, apa?"
"Iya," Ciel mengangguk, "dia memberiku hadiah ulang tahun terbaik dari semuanya."
Mata crimson Sebastian membola—baru mengerti apa yang dimaksudkan oleh remaja itu. Ia tersenyum hangat pada Ciel, dan Ciel balas tersenyum, seolah sebatas kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan semua yang mereka rasakan.
"Ah, benar juga." Sebastian tiba-tiba berbalik dan mengangkat sesuatu dari bangku taman yang ia duduki. Sebuah kotak plastik dengan banyak lubang-lubang kecil di atasnya dan dibungkus dengan hanya seutas pita. "Ini hadiah dariku."
"Terima kasih." ujar Ciel sambil menerima kotak itu. Ia menimbang-nimbang kotak itu, memperkirakan isinya. Sementara itu Sebastian menatapnya dengan antusias, seakan tidak sabar menunggu Ciel untuk membukanya.
"Iya, iya, kubuka sekarang." Ciel terkekeh sambil membuka pita pembungkus kotak itu. Ciel merasa setiap kali ia menggerakkan tangannya, isi kotak itu serasa selalu bergeser dan berpindah ke sisi-sisi yang berlainan, dan hal itu membuatnya semakin penasaran.
"Aku membelinya karena dia mengingatkanku padamu." jelas Sebastian saat Ciel selesai dengan pitanya. "Kuharap kau menyukainya."
Alis Ciel terangkat. "Dia?" gumamnya, dan Sebastian mengangguk. Tangannya pun beralih untuk membuka tutup kotak itu dan seketika hidungnya terasa geli. "Apa maksudmu dengan di-a—ah—hah—hatsyi!"
Kotak di tangannya nyaris jatuh berdebam jika saja Sebastian tidak sigap dan langsung menangkap kotak itu sebelum menyentuh tanah. Sebastian mengangkat kotak itu hati-hati, tidak begitu memedulikan kondisinya karena seluruh perhatiannya teralih pada Ciel yang tak henti-hentinya bersin.
"Ku-kucing!" jerit Ciel di sela bersinnya. Sebastian kehilangan kata-kata, dipandangnya hewan kecil berbulu abu-abu di dalam kotak itu dan hewan itu balas memandangnya tanpa dosa. Ia segera menaruh kotak itu kembali ke atas bangku taman, merogoh saku jaketnya dan menemukan selembar tisu. Sebastian buru-buru memberikan tisu itu pada Ciel dan Ciel langsung menutup hidung dan mulutnya dengan itu.
"Maaf," Sebastian terdengar panik, "aku tidak tahu kau alergi terhadap kucing."
Ciel bersin beberapa kali lagi sebelum ia merespon Sebastian. "Uh—tidak apa-apa." ia meringis. "Bukan—hatsyi!— salahmu."
Bersin Ciel mulai mereda dan remaja itu pun membersihkan hidungnya sementara Sebastian mengusap-usap punggung Ciel, berharap hal itu bisa membantu. Ciel tertawa kecil sambil menarik napas keras-keras sebelum kembali menatap Sebastian
"Sayang sekali, sepertinya aku tidak bisa menyimpan hadiah darimu." katanya. "Kecuali jika aku memang berniat untuk mati perlahan-lahan karena bersin sepanjang waktu."
Ciel tekekeh geli karena leluconnya sendiri. Sebastian tersenyum miris, masih merasa bersalah karena sudah menyebabkan hal yang buruk pada remaja biru-kelabu itu. Namun untunglah Ciel segera menyadari perubahan suasana hati Sebastian. Ia pun menghentikan tawanya dan cepat-cepat menggeleng.
"Oh, tidak, tidak. Bukan masalah besar, sungguh." sekali lagi, ia mencoba meyakinkan Sebastian. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya. "Hei, mungkin aku tidak bisa memeliharanya, tapi... bagaimana jika kau pelihara dia—untukku?"
"Eh?"
"Iya," Ciel mengangguk, "aku yakin kau bisa merawatnya dengan baik."
Sebastian menatap remaja di depannya itu sedikit heran, dan Ciel segera menambahkan kalimatnya. "Tidak apa seperti itu. Lagipula itu hadiah darimu untukku, kan? Aku sangat berterima kasih—dan menghargainya, dan aku mempercayakannya padamu."
"...Baiklah." Sebastian tersenyum kecil pada makhluk berbulu yang ada di dalam kotak di belakangnya—meski ia tahu hewan itu tidak akan mengerti apa maksud dari senyumannya. Ia kembali menoleh pada Ciel, lalu berujar, "Apa kau mau memberinya nama?"
Ciel menaruh tangannya ke dagu, berusaha memikiran sesuatu. "Hmm... entahlah. Aku tidak bisa memikirkan sesuatu yang bagus."
"Ciel..." Ciel membulatkan matanya, terkejut saat namanya meluncur dari bibir Sebastian. Pemuda itu ternyata tengah menatap kucing yang masih berada dalam kotak dengan pandangan dalam. "Dia sangat mirip denganmu. Bagaimana kalau 'Ciel'?"
Sedikit bingung, Ciel melongokkan kepalanya ke arah kotak itu sambil menangkupkan tangan ke hidung dan mulutnya. Dan akhirnya ia bisa melihat objek penyebab alerginya itu dengan jelas—seekor russian blue kecil bermata kekuningan yang balas mendongak padanya. Dalam hati ia membatin, 'sebelah mananya yang mirip?'. Ia tahu Sebastian menyukai kucing, dan sedikit-banyak ia menyalahkan sisi pecinta-kucing Sebastian karena itu.
"...Jadi kau bermaksud menyamakanku dengan kucing?" Ciel memasang raut wajah pura-pura tersinggung. Sebastian mengangkat sebelah alisnya dengan jenaka, dan Ciel tertawa. "Baiklah, baiklah... Kita beri nama dia 'Ciel'"
Bahkan Ciel merasa aneh saat menyebutkan namanya sendiri untuk merujuk sesuatu yang bukan dirinya. Tapi ia merasa sangat lega saat melihat Sebastian kembali dengan senyumnya.
"Jadi..." Ciel terbatuk sebelum menyelesaikan kalimatnya, "apa aku boleh membuka hadiahku sekarang?"
"Hmm? Apa?" Sebastian menatap Ciel yang memandangi puncak kepalanya sambil senyam-senyum aneh. Tak lama, Sebastian mengerti maksudnya, dan ia pun sedikit merundukkan badannya sampai tingginya menyamai remaja itu. "Ya, silakan." candanya.
Ciel menarik pita biru di puncak kepala Sebastian hati-hati, lalu menjatuhkannya begitu saja ke tanah. Ia menyampirkan telapak tangan kanannya ke bahu raven itu, namun tiba-tiba senyumnya menghilang saat Sebastian kembali menyatakan rasa bersalahnya. "Aku tetap merasa tidak—"
Dan tangan Ciel yang lain buru-buru menghentikan Sebastian dan komplainnnya. Ditangkupkannya jemarinya di atas bibir pemuda itu, dan ia menggeleng pelan. "Ini sudah cukup."
Sebastian balas menatapnya dengan pandangan bingung.
"...Kurasa aku memang merindukanmu." katanya pelan. "Dan kini kau disini, di hari ulang tahunku, itu sudah cukup."
Dan entah apa yang datang merasukinya, Ciel memindahkan tangannya yang semula berada di bahu ke sisi wajah Sebastian. Sorot matanya meredup sampai ia memejamkan matanya dan tanpa ia sadari, ia mengecup pipi dingin pemuda itu.
Lama, ia bertahan. Kini kedua tangannya menyentuh sisi-sisi wajah Sebastian, seakan tidak menginginkan pemuda itu cepat pergi. Ciel ingin waktu berhenti agar ia bisa terus menikmati momen itu bersama Sebastian—mengecupnya, menghirup aromanya, menyentuh kulitnya yang dingin. Bersama orang yang menyukainya.
Menyukainya, ya. Pemikiran itu mungkin tidak pernah bisa hilang dari benaknya, terlebih sejak tiga hari yang lalu, sejak pertengkaran kecilnya dengan Alois. Suka. Cinta. Apa bedanya? Omong kosong. Yang kini memenuhi pikiran Ciel adalah Sebastian, Sebastian, dan Sebastian. Yang membuat sulutan api membakar tiap jengkal nadinya setiap ia pikirkan pemuda itu.
Tapi, sekali lagi, ia masih belum yakin benar akan perasaannya sendiri. Sebastian bilang suka. Alois bilang cinta. Jadi, yang mana dari keduanya yang benar-benar dirasakannya?
Ciel belum mengerti. Ciel tidak mengerti. Dan Ciel tak akan pernah mengerti
Padahal, dia sudah tahu jawabannya, dan jawabannya-lah yang tidak ia mengerti.
Terkecuali jika ia memutuskannya sekarang.
Perlahan-lahan, Ciel mulai menjauhkan wajahnya. Ia membuka mata dan mendapati wajah Sebastian yang terkesan absurd—antara shock, bahagia, dan tidak percaya. Ciel mengosongkan pikirannya dari seribu satu rasa ragu, bahkan ia sampai tak kuasa mengangkat wajah. Ia menggigit bibir pelan sebelum akhirnya berani menegakkan kepalanya dan berbicara.
"Aku..."
GUSRAAAK
"Aduh!"
Sontak Ciel maupun Sebastian menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya mereka saat melihat Claude dan Alois yang tertelungkup di rumput tak jauh dari mereka—seakan-akan muncul begitu saja dari balik semak daffodil. Seluruh tubuh mereka dipenuhi kuncup bunga dan daun, dan dari posisi mereka terjatuh, sepertinya mereka sedang berkelahi atau apa.
"Ehm, kalian—"
Keduanya buru-buru berdiri dan merapikan pakaian mereka. Claude yang pertama kali selesai dengan urusannya berdeham canggung, salah tingkah, mengangkat tangannya ke arah Ciel dan Sebastian. "Oh, itu—selamat ulang tahun, Ciel!"
"...Hah? Te-terima kasih." dahi Ciel berkerut saat Alois bergerak cepat di samping Claude, dan pemuda bermata keemasan itu dengan sigap menjauhkan tangan kanannya yang terlihat seperti menggenggam sesuatu—seolah Alois berusaha merebut benda yang ada di tangan Claude. Pemuda itu segera menahan remaja pirang di sampingnya dengan tangan kirinya yang bebas, raut wajahnya sedikit kesal. Tapi Claude cepat-cepat menolehkan kepalanya kembali ke arah Sebastian dan Ciel dan mengumbar senyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sebelumnya, tolong maafkan kami, kami tidak bermaksud untuk mengintip dan menguping pembicaraan kalian. Tapi—eeeppfff—" suara Claude tidak terdengar jelas saat tangan Alois berhasil membekap mulutnya, namun Claude dengan mudah melepaskan diri, "puah—Tapi Alois berniat jahat untuk merekam apa yang kalian lakukan, aku berusaha mencegahnya dengan merebut ponselnya. Dia—ufft—marah, menyerangku, dan kami, yah... terjatuh."
"Ah..." Sebastian tidak yakin harus merespon seperti apa. "Tindakan yang sangat bijaksana, Claude."
"Claude!" Alois berteriak, tangannya masih sibuk menggapai sementara badannya ditahan oleh pemuda berkacamata itu. "Kembalikan ponselku sekarang!"
Claude menggeleng. "Tidak. Tidak sebelum kau berjanji untuk tidak melakukannya lagi."
"Aah! Iya, iya! Aku berjanji!" katanya tak sabaran. Claude menaikkan alisnya, seolah-olah meragukan janji yang dibuat Alois, namun setelah ia memandang remaja itu lekat-lekat, air mukanya melunak.
"Baiklah." ujarnya kemudian, dan Alois berhenti memberontak. "Aku pegang janjimu."
Alois menggertakkan giginya, lalu merenggut. "Ini tidak adil!" serunya. "Kenapa aku tidak boleh melakukannya? Padahal kan aku yang sudah berjuang mati-matian mempertemukan mereka dan membuat mereka saling—" si pirang itu menoleh ke arah Ciel dan Sebastian, yang tampak sangat terkejut, dan tololnya ia juga baru menyadari apa yang telah ia katakan, dan ia membelalakkan matanya, "—ASTAGA!"
Alois tampak kacau. Ia memalingkan wajahnya ke Claude, dan pemuda itu juga terlihat sama kagetnya. Ia meringis saat Claude hanya menghela napas, lalu melambaikan tangannya pada Ciel dan Sebastian.
"Anggap saja kami tidal pernah ada di sini bersama kalian—dan angap saja omongan Alois barusan seolah dengung nyamuk." pemuda itu pun membalikan badannya. "Ayo, Alois. Kalau ini memang rencanamu, jangan merusaknya."
"Tapi kembalikan ponselku!" sambil berjalan menjauh, Alois kembali merebut pnselnya yang masih berada di tangan Claude, dan dengan maksud bercanda, Claude mengangkat tangannya yang mengenggan ponsel remaja itu setinggi mungkin. Tentu saja hal itu membuat Alois semakin sulit untuk mengambilnya. Ia mengeluh, berteriak, sementara Claude tertawa terhibur. Alois makin kesal, dan akhirnya ditariknya tangan pemuda itu keras-keras sampai Claude sedikit menurunkan tangannya, sampai ke jarak yang bisa dijangkau oleh Alois.
"Dasar," Claude masih belum menghentikan tawanya, "memangnya kau tidak tumbuh meninggi selama ini?"
Alois merengut, wajahnya memerah karena kesal. "Salahmu yang tumbuh terlalu tinggi!" teriaknya.
"Hmm? Lalu kenapa? Kau tak suka?" Claude menaikkan sebelah alisnya, lalu menoleh ke remaja pirang itu tiba-tiba.
Alois terdiam—aneh sekali. Genggamannya pada pakaian yang dikenakan Claude melonggar, seolah pemuda itu baru saja mengatakan hal yang salah. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang entah karena sebab apa—malah semakin memerah.
"Tidak..." gumamnya, nyaris tidak kedengaran. "...aku suka itu."
Dan dengan itu, sosok mereka berdua pun menghilang di balik pintu.
Sebastian mengela napas—agaknya merasa lega karena 'pengganggu' sudah pergi. Senyumnya kembali terkembang, ia menoleh ke arah Ciel yang berdiri di sampingnya dengan sangat tenang sehingga hal itu membuatnya sedikit heran.
Ternyata benar saja, Ciel terdiam menatap titik dimana Claude dan Alois terakhir kali berada sebelum meninggalkan mereka dengan pandangan aneh—kosong, namun seolah sedang memikirkan banyak hal sekaligus. Sedangkan dalam benak Ciel sendiri, nyatanya memang banyak hal yang berlarian mengitari ruang pikirannya.
"...aku suka itu."
Kata-kata Alois itu terus mengingatkannya pada suatu hal yang penting—tapi entah apa—sulit untuk diingatnya. Sekali lagi diputarnya memori tentang percakapan mereka secara mundur, terus mundur, sampai ia menemukan titik terang.
'Tentu saja! Kenapa aku bisa lupa?' ia merutuk dalam hati. 'Kenapa aku bisa melupakan apa yang ia katakan saat itu?'
Ya, Ciel akhirnya ingat. Hal penting itu. Hal yang memang awalnya membuat bingung, bahkan tidak ia pedulikan sama sekali, namun kini ia mengerti. Sangat mengerti.
Seakan-akan ingatan itu kini membuatnya merasa seperti sahabat yang tidak tahu bagaimana cara membalas budi.
"Sebastian?" panggilnya kemudian, dan suara gumaman terdengar dari sampingnya sebagai respon. Ia memutar wajahnya ke samping dan mendapati Sebastian yang memerhatikannya dengan raut heran.
"Tentang jawabanku untuk yang waktu itu..." diraihnya tangan raven itu dan digenggamnya dengan erat, seolah menekankan maksud perkatannya. "bisakah aku menundanya lagi... sedikit lebih lama?"
Sebastian menelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan apa yang ada di balik ucapan remaja itu. "Apa yang membuatmu—"
"Nanti. Kujelaskan nanti." ia memotong cepat-cepat. "Ada sesuatu yang masih mengganjal pikiranku—dan aku tahu apa yang bisa menghilangkannya. Kumohon, jangan marah, tapi ini harus kulakukan. Aku ingin membalasnya."
Mata cerulean itu menatap manik rubi di depannya dengan mantap sebelum meneruskan kalimatnya.
"Aku..." ujarnya pelan, "aku harus bisa membantu menyelesaikan masalah mereka, seperti apa yang sudah mereka lakukan pada kita."
A/N : Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan yang kebangetan ini! TO, US, UP, segala macam ujian sudah saya tempuh dalam satu setengah bulan kemarin dan itu menghalangi saya untuk melakukan satu hal yang benar : nge-post lanjutan fic ini.
Tapi teknologi memang selalu mempunyai sisi baik! Jadilah saya ngetik keseluruhan chapter ini di i-Pod saya tiap ada waktu luang, sampai jempol saya mati rasa, dan ini bahkan saya upload lewat benda satu itu -_- disana nggak ada fasilitas spelling check, jadi saya mohon maaf jika masih ada typo. And I know, I'm such a teaser. Kenyataannya, mereka berdua nggak jadian :D
Oke, cukup curcolnya. Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : sherry males log in, Yuutachi, Rose, Chernaya shapochka, Chellerine Reana, Nada-chan Laurant, Zie-kun Kuroba Michaelis, risa777, Dangaard, Nero-Dark Ventus, Yuu-Zai Baka, RaFa LLight S.N, amimi, Fleur deCerisier Phantomhive, Kojima Michiyo, killinheaven, AutumnLee13, Aldred van Kuroschiffer, Arya Angevin, xblacklolitax dan Kai Shadowchrive Noisseggra! You have no idea how happy I am when I read them all!
For anon reviewers :
sherry males log in : Manis banget? Sampai bikin tutup mulut? Hahaha, terima kasih buat reviewnya, Sherry-san!
Yuutachi : Ehm, itu baru 'cara' mereka jadian, lho. Coba kalo udah XD terima kasih buat reviewnya, Yuutachi-san!
Rose : Wah, pertanyaannya bagus sekali... Mungkin nanti akan saya jelaskan di chapter lain. Terima kasih lagi buat reviewnya, Rose-san!
amimi : Oke, ini saya sudah update! Apa ini masih kurang panjang? Terima kasih buat reviewnya, Amimi-san!
Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D
