Afifa's Note : hello guys~ #NyengirGaje bagaimana liburannya? Saya sangat menikmati liburan panjangnya #plakk #DidemoReader oke saya lanjutin nih chapter BBF nya. Terima kasih buat yang sudah mengingatkan saya di facebook untuk melanjutkan nih FF. Hehe :3 ini dia FF nya. Saya bingung dengan kelanjutan ni FF, saya ngga bisa bikin konflik yang terlalu pelik. :3
setelah banyak perang konflik yang terjadi dengan bathin saya, akhirnya saya memutuskan untuk membuat bed scene mereka secara terpisah dan tidak bersatu dengan chapter ini. abis sudah terlanjur rate T sih dan saya berpikir tentang beberapa reader atau siders yang mungkin saja masih di bawah umur.
Oke dah ngga banyak omong, silakan di nikmati ^^
_-_Happy Reading_-_
.
.
.
"saatnya pulang... kita sudah terlalu lama disini." ujar seorang namja manis yang kita ketahui bersama adalah pemeran utama dalam cerita ini.
"aku masih ingin disini, menghabiskan waktu bersamamu." Jawab namja satunya.
Ya mereka adalah pemeran utama dalam cerita ini. masih ingat dengan mereka yang dengan seenak jidatnya berlibur disaat hari masih sekolah. Ya, itu mereka berdua. Lee Minho dan Kim Yesung.
Lalu? Apa yang mereka ributkan? Simple, Yesung merasa ingin pulang. Ia merasa sudah terlalu lama bolos sekolah, dan Minho malah seenak jidatnya ingin disini untuk beberapa hari lagi.
"ayolah..." Minho memohon lagi pada Yesung. Sebenarnya dia memohon bukan untuk segera pulang, tapi untuk berlibur beberapa hari lagi disini.
"anni. Pokoknya, kita harus pulang hari ini. ya...?" jawab Yesung, meminta pada Minho dengan menggunakan aegyo charmnya. Siapa yang bisa menolak aegyo charm seorang Kim Yesung. Tidak ada, bahkan Minho sekalipun.
Dengan helaan napas pasrah, akhirnya Minho menganggukkan kepalanya dengan enggan.
"baiklah, kita pulang hari ini." jawab Minho dengan enggan.
Dengan memberikan eyesmile terbaiknya, Yesung berjalan mendekat menuju Minho dan berjinjit saat berdiri tepat di hadapan Minho.
Chu~
Meskipun hanya sekedar menempel dan cuman sebentar, ciuman itu membuat Minho tersenyum. Tersenyum layaknya idiot. Hah, rasanya senang sekali.
Baiklah mari kita tinggalkan pasangan satu ini.
.
.
.
.
.
Seoul.
"apa kau tahu kemana Minho pergi?" tanya seorang yeoja paruh baya dengan pakaian dan tatanan rambut yang begitu berkelas pada namja yang menjabat sebagai sekertarisnya.
"tuan muda pergi berlibur ke pulau, nyonya..." jawab sang sekertaris.
"berlibur?" tanya sang nyonya dengan heran. "dengan teman-temannya...?" lanjutnya lagi.
"tidak, nyonya. kali ini tuan muda pergi sendiri..." jawab sang sekertaris.
"bahkan tidak mengajak Ryeowookie...?" tanyanya lagi seraya menanyakan calon menantunya.
"iye, nyonya..." jawab sang sekertaris lagi.
"suruh dia pulang..." perintah sang nyonya.
"baik..." apalagi yang bisa dilakukan sang sekertaris selain menuruti perintah nyonyanya.
.
.
.
.
.
The Island
"Minho-ya... dimana seragamku?" tanya seorang namja manis, kepada namja yang masih tiduran di tengah kasur.
"untuk apa...?" jawab Minho seraya mengangkat salah satu alisnya heran.
"kau bilang untuk apa? tentu saja, untuk ku bawa dan akan ku pakai untuk sekolah..." jawab Yesung dengan cemberut.
"tapi seragamnya sudah ku buang, chagiya~" melas Minho.
"kau!" jerit Yesung tak percaya, lalu mencoba mengatur nafasnya. Sepertinya Yesung harus belajar menahan emosi mulai sekarang.
"tenang baby, kita bisa membeli seragam baru..." sahut Minho seraya cengengesan. Tanpa tahu jika Yesung sedang menahan emosinya untuk memarahi seorang Lee Minho.
Pelan Yesung mencoba untuk menormalkan emosinya. Dia sedang tak stabil, Yesung tahu itu. Ide untuk pulang saat ini sebenarnya membuat Ia khawatir setengah mati. Firasatnya mengatakan jika suatu hal yang besar akan terjadi, tapi apa?
.
.
.
.
.
Waktu untuk pulang sudah tiba. Sebuah helikopter dengan lambang Shinwa berwarna emas tercetak dengan rapi di helikopter tersebut untuk mengantar mereka ke bandara dan melakukan perjalanan menuju seoul.
"Kenapa harus naik heli...?" tanya Yesung dengan heran kearah Minho, saat melihat sebuah helikopter siap terbang.
"Supaya cepat sampai ke bandara, sayang..." jawab Minho seraya membukakan pintu untuk Yesung.
"bukankah saat kita kemari naik mobil...?" tanya Yesung lagi.
"dan kenapa kau begitu cerewet..." jeda Minho, "apa mungkin kau masih ingin berduaan denganku disini, eoh?" sela Minho lagi saat melihat Yesung akan protes.
"terserah..." jawab Yesung menggidikkan bahunya dan berjalan memasuki helikopter.
Minho mengikuti Yesung berjalan memasuki helikopter. Sebenarnya, helikopter yang Ia pakai saat ini adalah karena suruhan ibunya yang memintanya agar cepat pulang. Dengan senyum getir Ia memandang sendu punggung Yesung di depannya. "Apa kita bisa...?" lirihnya yang tak terdengar oleh siapapun.
Setelah beberapa saat, Minho segera masuk ke dalam helikopter dan duduk di sebelah Yesung. Tanpa di minta oleh Yesung sekalipun, Minho memasangkan seatbelt Yesung. "Kau ingat bukan..." Jeda, "Apa yang ku katakan saat kita berangkat kesini." lanjut Minho tanpa mengalihkan matanya dari seatbelt.
"hm..." jawab Yesung, "Jangan katakan apapun, aku merasakan firasat buruk..." lanjut Yesung seraya menunduk, memperhatikan tangannya yang kini di genggam oleh Minho.
"Apapun yang terjadi, ku mohon jangan meragukanku..." ucap Minho lagi, "dan tunggulah aku," lanjut Minho dengan nada memohon.
"aku tak ingin bertanya, apa yang terjadi, apa yang akan meragukanku, dan kenapa aku harus menunggumu..." jeda Yesung, "namun kurasa, aku memang akan melakukannya, aku akan menunggumu tak peduli berapa lama itu, aku akan selalu mempercayaimu tak peduli seberapa besar kebohongan yang mereka bicarakan... apa kau senang?" tanya Yesung dengan senyuman.
"ya, aku sangat senang, Lee Yesung..." jawab Minho dengan kekehan yang menghias di bibirnya.
Selanjutnya, perjalanan mereka di isi keheningan, namun sesekali Minho akan bertanya saat Yesung bergerak gelisah di kursinya. Mungkin saja dia kurang nyaman, atau membutuhkan sesuatu.
.
.
.
.
.
Perjalanan yang memakan waktu 1 jam tersebut berjalan dengan cepat. Tanpa sadar mereka sudah sampai di Seoul.
"ayo masuk..." kata Minho seraya membuka pintu mobil penumpang untuk Yesung. Namun Yesung hanya merespon dengan mengernyitkan dahinya. "Aku akan mengantarmu pulang, aku yakin Kimbum pasti marah-marah..." jawab Minho dengan nada malas.
"ah!" Jerit Yesung saat teringat sesuatu, "kau memang harus bertanggung jawab, aku pasti di marahi Bummie Hyung..." lanjut Yesung tanpa sadar mengerucutkan bibirnya dan masuk ke dalam mobil.
Minho hanya bisa menghela nafas dengan lelah, 'apa aku bisa meninggalkannya sendirian disini, dia begitu polos' inner Minho dan mengusak wajahnya frustasi. Setelahnya, Minho segera masuk ke mobil lewat pintu sebelahnya.
"Jadi, apa yang akan kau katakan pada Hyungie, soal kepergian kita ke pulau, hm?" Tanya Yesung langsung saat Minho mendudukkan dirinya di kursi sebelah.
"Rahasia. Itu obrolan antara lelaki..." Jawab Minho dengan Jahil seraya menggoda Yesungnya.
"Ya! kau pikir aku bukan lelaki?" Gerutu Yesung dengan menggemaskan.
"Tentu saja kau lelaki..." Jeda Minho, "Lelaki manisku..." sambungnya dengan gombalan tak bermutu yang harus sedikit di akui Yesung-hanya sedikit, ingat itu-terdengar manis.
"Kau, si tukang gombal murahan..." Sahut Yesung dengan malas.
"He he, kau mencintai si tukang gombal murahan ini..." Jawab Minho dengan cengengesan.
Perjalanan menuju rumah Yesung lebih tepatnya rumah Kimbum di isi dengan perbincangan mereka.
"Jangan pernah lelah mencintaiku..." kata Minho saat tak ada lagi bahan obrolan, meski hanya sekedar mengisi keheningan namun Minho serius dengan ucapannya. Ia ingin Yesung benar-benar takkan pernah lelah dalam mencintainya.
"sejak keberangkatan kita menuju pulau, ada terlalu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan..." jawab Yesung tak sesuai dengan ucapan Minho. "namun aku sudah tahu, meski aku terus menanyakannya maka kau pun semakin tak ingin menjawabnya... Aku betul bukan?" tanya Yesung.
"kau benar, semakin kau memaksa untuk bertanya maka semakin tak ingin pula aku menjawab semua pertanyaanmu..." jawab Minho seraya mengecup punggung tangan Yesung yang berada dalam genggamannya. "hanya saja..." Minho menatap intens kedua mata Yesung yang memandangnya, "kau harus terus percaya padaku dan jangan pernah lelah mencintaiku..." satu kecupan di terima Yesung di keningnya. "karena aku sangat mencintaimu, Lee Yesung." Kecupan lain, kali ini tepat di bibir.
Tanpa mengucapkan apapun, yang Yesung tahu tanpa sadar Ia sudah menganggukan kepalanya, mengiyakan semua ucapan Minho dan membuat Ia menerima kecupan lain disertai lumatan manis di bibirnya.
.
.
.
.
.
"Anda sudah sampai di kediaman tuan muda kim, tuan muda." Ujar sang sopir yang eksistensinya hampir dilupakan oleh Minho dan Yesung. Setelah mengatakan tersebut, si sopir langsung keluar mobil dan membukakan pintu untuk Minho namun kalah cepat karena Minho sudah keluar dan sedang membukakan sisi pintu mobil yang lainnya, untuk Yesung keluar.
"aku tak ingin diperlakukan seperti wanita, Lee Minho." Ketus Yesung saat Ia keluar dari mobil dengan Minho yang membukakan pintunya.
"oh, ayolah... masa kita masih harus bertengkar dengan hal sepele seperti ini, saat beberapa menit yang lalu kita baru saja saling berlovey dovey, sayang..." keluh Minho dengan malas.
Saat mereka akan bertengkar lagi,
"Kim Yesung...! Masuk sekarang...!" Teriak sebuah suara dengan nyaring. "dan kau Tuan Muda yang Terhormat, Lee Minho. Jangan pernah menemuinya lagi." Ujarnya dengan dingin, tangannya dengan sigap meraih pergelangan tangan Yesung dan tanpa aba-aba menariknya ke dalam rumah. Siapa lagi kalau bukan Kim Kimbum.
"Bum-ah, dengarkan aku dulu..." ujar Minho menahan tangan Yesung yang lain.
"aku tak peduli denganmun, jangan pernah menemuinya lagi..." jawab Kimbum dan segera melepaskan pegangan tangan Minho pada Yesung, dan berlalu begitu saja meninggalkan Minho yang memandang Yesung dengan tatapan memohon. Yesung pun tak bisa mengatakan apapun, Kimbum sangat mengerikan jika Ia marah, asal kalian tahu. Ia hanya menatap balas menatap Minho dengan tatapan yang menenangkan. Seolah menyiratkan 'tenang saja Minho-ya, aku akan menanganinya dengan baik'.
.
.
.
.
.
TBC Dulu dunksss yahh :D
Oke. Selamat menunggu chapter berikutnya yang akan di publish minggu depan. Jika sempat :D #plakkk
