Note : umhh,,, anu... -speechless-... silakan dinikmati. Happy Reading guys ^_^
Chapter 9
Beberapa Hari Kemudian, Lee Mansion
Well, jika ada yang namanya hari terburuk diantara yang terburuk. Inilah harinya bagi seorang Lee Minho, 'bagaimana bisa? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa?' hanya itu yang bisa Minho ucapkan.
"bagaimana bisa? Bagaimana bisa ibu tanpa memberitahuku mengumumkan begitu saja semua hal konyol ini!" teriak Minho pada seorang lelaki yang tengah menundukkan kepalanya pada Minho.
"semua keputusan sudah dibuat dengan penuh pertimbangan oleh nyonya, tuan muda" jawab lelaki tersebut.
"dan kenapa tak ada satupun yang memberitahuku...?" teriak Minho dengan geram. "kalian pikir, siapa yang kalian jadikan lelucon disini? Aku? Apakah aku badut kalian?" tekan Minho seraya menahan kekesalannya. Mereka sudah keterlaluan dengan semua ini. Mereka tak meminta pendapatnya terlebih dahulu.
Bayangkan saja, saat kau tengah bersantai ria seraya melihat galeri ponselmu yang penuh dengan potret wajah kekasihmu dan kau mendengar berita di televisi yang menurut telingamu berita yang sangat salah dan tak benar. Bagaimana perasaanmu? Baiklah karena kalian belum mendengar beritanya jadi kalian tak akan mengerti.
Berita yang ditayangkan dalam televisi itu pasti salah, Minho terus menggumam seperti itu. Bagaimana bisa ibu mengumumkan acara pertunanganku dengan lelaki itu, lalu apa itu? Di adakan pesta meriah bagi kalangan atas yang di undang dalam acara itu. Apa ibu berniat membuatku gila dalam sekejap? Apa yang harus ku lakukan sekarang?
Minho terus berjalan mondar-mandir karena gelisah yang dirasanya. Yesung pasti sudah melihat berita ini! Jerit Minho dalam hati. Lalu, ia tiba-tiba teringat dengan ucapan Kimbum saat terakhir kali mereka bicara, heol? Apa ini yang dimaksudnya? Tapi, darimana dia tahu ini sedangkan aku saja baru tahu sekarang, lebih parahnya aku mengetahuinya lewat sebuah televisi. Gosh, ibu benar-benar ingin mengekang kehidupanku secara keseluruhan. Ibu benar-benar sudah tak waras dengan melakukan semua ini. Jerit Minho lagi.
"dimana ibu sekarang?" Tanya Minho dengan tergesa saat sadar jika Ia seharusnya menanyakan semua hal ini pada ibunya, bukan marah-marah tak jelas.
"nyonya sudah berangkat beberapa menit yang lalu" jawab salah satu pelayan disana.
"kemana?" kali ini Minho tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
"beliau bilang, beliau harus melakukan kunjungan ke salah satu perusahaan cabang yang ada di New York..." jawab pelayan itu lagi.
"New York?!" jerit Minho tak paham, "setelah menciptakan semua kekacauan ini, ibu dengan seenaknya pergi ke New York? Yang benar saja...!" decih Minho. Lalu tanpa basa basi, Minho keluar dari kamarnya. Ia berlari-tergesa gesa-menuruni tangga, dan berjalan menuju basement dimana mobilnya terparkir.
"tuan muda, anda mau kemana...?!" tanya para pelayan yang berusaha mengejar Minho. "Nyonya berpesan jika anda harus tetap diam di rumah...!" lanjut pelayan tersebut.
"apa lagi ini?" tanya Minho dengan marah, "kalian pikir aku anak kecil yang masih harus mendengar dan menuruti perintah ini itu dari ibunya...?" cecar Minho dengan kesal. "aku akan pergi entah kalian mau melaporkannya pada ibu atau tidak." Tekan Minho dengan marah.
"tapi, tuan...!"
Ucapan sang pelayan terputus oleh suara bell rumah yang dibunyikan, tanda ada seseorang yang datang berkunjung.
"kalian urus saja tamu yang datang itu, aku ingin pergi terlebih dahulu..." usir Minho pada pelayan yang masih ada di hadapannya.
"tapi, tamunya adalah tuan muda Ryeowook..." cicit sang pelayan, takut jika kena marah tuan mudanya lagi.
"Apa? Siapa?" tanya Minho dengan sangsi, takut-takut jika telinganya sudah bermasalah.
"Tuan Muda Ryeowook...!" kali ini sang pelayan menjawab dengan suara yang cukup untuk didengar Minho.
"mau apa dia kemari?" tanya Minho tak mengerti.
"nyonya berpesan, jika anda harus menemani tuan muda Ryeowook hari ini. Tuan muda Ryeowook berencana untuk berbelanja hal yang di perlukan oleh tuan muda di pesta pertunangan nanti..." kali ini si pelayan menjelaskan dengan lebih detail.
"arghhh!" kesal Minho, lalu dengan kesal Ia memukul kaca jendela yang ada di dekat tempat Ia berdiri. Tak terhindarkan, kaca jendela tersebut pecah dan tangan Minho berdarah, lalu beberapa pelayan wanita yang berdiri dibelakang si pelayan laki-laki beringsut mundur perlahan karena takut dengan kemarahan tuan muda mereka.
"Tuan Muda!" teriak si pelayan lelaki tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"sekarang lihat!" ujar Minho seraya menunjuk tangannya yang berdarah. "aku tak bisa pergi kemana pun dengan tangan terluka seperti ini..." tekan Minho, "bilang padanya untuk segera pergi dan katakan aku sakit." Lanjutnya lagi seraya beranjak dari tempatnya berdiri, mengacuhkan para pelayannya yang bergidik ketakutan melihat luka yang ada pada tangannya.
Minho kembali ke kamarnya, Ia membuka pintu kamarnya dengan kasar lalu menutupnya dengan kasar pula. Ia ingin marah, namun tak ada yang bisa Ia lakukan, satu-satunya orang yang bisa Ia mintai penjelasan malah pergi jauh. Dengan perasaan kesal, marah dan jengkel yang telah menumpuk, Minho melampiaskan amarahnya pada benda-benda yang ada di kamarnya.
Ia membanting vas bunga yang ada, sambil berteriak kesal dan marah. Tak cukup dengan itu, Minho melempar kursi belajarnya pada meja yang dipenuhi dengan barang-barang. Seakan perasaan marahnya belum terlampiaskan, Minho kembali mengambil tongkat baseball yang ada di kamarnya dan menghancurkan meja kaca yang ada dikamarnya.
"ARGHHH...!" jerit Minho dengan marah. Ia masih mengabaikan luka di tangannya yang semakin banyak mengeluarkan darah. Setelah puas membuat kamarnya berantakan-well, kamarnya yang tadinya sangat rapi dan mencerminkan jika seorang pangeran tinggal di dalamnya kini berubah bentuk menjadi sebuah kamar yang mirip seperti sebuah rumah yang habis diterjang badai.
Minho melempar sembarangan tongkat baseball yang tadi di pegangnya. Lalu Ia melemparkan tubuhnya sendiri ke kasur yang sepertinya tak terlalu parah kerusakannya. Ia menutup matanya menggunakan lengan kanannya, mencoba menetralkan pernafasannya yang ngos-ngosan karena marah.
Setelah beberapa lama, ia mengambil smartphone-nya. Mendial satu nomor dengan ragu. Menunggu panggilan tersambung dengan gelisah. Syukurlah panggilannya di angkat pada dering ketiga.
"aku merindukanmu..." ujar Minho dengan lirih sebelum orang yang diseberang sempat mengucapkan sepatah kata pun. "aku ingin..." jeda, "kau disini bersamaku..." lalu klik, sambungan telepon tersebut diputus secara sepihak oleh Minho sendiri.
Minho mencoba menenangkan pikirannya, Ia merasa begitu kacau saat ini. Ia ingin Yesung disampingnya, ingin Yesung memeluknya dan mengatakan jika semua ini hanya mimpi.
Perlahan, kantuk dan lelah menyerangnya sehingga Minho terlelap.
.
.
.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di rumah seorang Kim Kimbum.
Yesung hanya bisa duduk termenung di dalam kamarnya, fokus pandangannya mengarah keluar jendela kamarnya. Ia tak mengerti, apa yang harus dilakukannya saat ini. Perasaannya tak enak, semua yang dilakukannya terasa serba salah. Dan kini Yesung hanya bisa menghela napas dengan lelah.
"aku tahu, badai baru saja akan dimulai... aku hanya bertanya pada diriku sendiri... apakah aku sanggup untuk melewati itu semua ataukah aku akan mundur mengenaskan secara perlahan." Lirih Yesung entah pada siapa. "namun, aku ingin sekali ini saja mencoba untuk memperjuangkan yang kurasa memang pantas dan mampu membuatku bahagia..."
.
.
.
.
.
Te..Be..Ce
A/N : sebagai penanda jika saya belum lupa akan fanfict ini serta fanfict yang lainnya. Akan ada short chapter macam begini untuk kedepannya.
