Pukul sebelas malam, dan Jungkook belum pulang.

Hati seorang Kakak mana yang tidak khawatir. Taehyung sudah sejak tadi mondar-mandir di depan rumah kecil mereka. Terus-menerus menelpon teman-teman yang sekiranya ia pikir melihat adiknya dimanapun; namun tak jua menemukan jawaban. Pun tanda bahwa Jungkook akan pulang. Ia terlanjur takut luar biasa. Hatinya ketar-ketir merasa bersalah, ia terus kepikiran tentang kejadian memalukannya tadi siang. Bahkan jika ditelaah, kejadian itu bahkan tidak memalukannya; tetapi memalukan Jungkook. Semakin dipikir, Taehyung merasa ia telah membuat Jungkook malu. Dan sedikit banyak ia paham mengapa Jungkook begitu marah padanya, sebab ia pantas mendapatkannya.

"Jungkook-ah," Taehyung menggigiti ujung jemarinya. "Dimana kau –"

Tidak peduli apa-apa lagi, Taehyung segera menyambar mantel dan bergegas lari pontang-panting. Berteriak dengan nada parau dan suara sekencang ia mampu, membelah keheningan malam hingga beberapa orang memaki Taehyung yang mengganggu waktu tidur mereka. Namun siapa peduli; Taehyung lebih khawatir, dan seribu kali lebih peduli pada adiknya yang entah dimana dan sedang apa dia sekarang. "Jungkook-ah..."

Sampai kakinya mencapai ambang batas lelah, tanpa sadar Taehyung berjalan pulang. Lesu dan hampir menangis sebab telah lalai sebagai kakak. Ia masih ketakutan memikirkan bagaimana keadaan adiknya sekarang, Jungkook adalah kelemahan terbesarnya. Ia masuk dengan hati berkeping, merutuki kebodohannya yang bisa begini besar tanpa batas. Melepas sepatunya asal dan nyaris terisak hebat tatkala ia terkejut mendapati Jungkook duduk meringkuk di ruang tengah.

"Kim Jungkook!"

Taehyung memekik dengan suara perih. Langsung menerjang tubuh menggigil adiknya, memeluknya erat sampai dadanya sesak menahan tangis. Jungkook membulatkan matanya sedikit kaget dan ikut sesak napas, jantungnya berdegup luar biasa hebat. Ujung jemarinya bergetar perlahan tatkala merasakan deru napas pendek-pendek dan kasar milik kakaknya di tengkuk dinginnya. "H-Hyung –"

"Maafkan hyung," Taehyung menggumam. "Hyung bodoh, maafkan hyung,"

"Jangan pergi seperti tadi, aku takut sekali." Taehyung mengeratkan tautan jemarinya di leher Jungkook yang dingin. Dengan tergesa dan lelah mengecup pelipisnya sayang penuh ketakutan, mengirim sinyal listrik kecil ke seluruh tubuh Jungkook hingga ia merinding. Meski tak mampu ia pungkiri bahwa ia merasa nyaman dan tenang. "Kau tidak tahu betapa takutnya aku; kukira kau tidak akan pulang. Kupikir kau benar-benar marah padaku. Kupikir, kau benci padaku. Aku pantas mendapatkannya tapi aku tetap takut sebab aku hanya memiliki kau, Jungkook. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidupku, dik. Apapun; apapun untukmu selama kau bahagia, akan aku lakukan. Asal kau tidak ikut pergi bersama Mama. Jungkook, tetaplah di sisiku."

Usai berkata demikian, dengan ingus yang nyaris terjun, Taehyung mengernyit pelan tatkala tak jua mendengar jawaban. Ia melonggarkan pelukannya dan tersenyum geli menatap adiknya sudah terlelap dengan mulut menganga kecil. Wajahnya manis dan polos, benar-benar sama ketika ia masih kecil. Pipinya tembam dan matanya bulat, bulu matanya panjang dan lentik, ditambah dengan sapuan merah muda di ujung hidungnya (mungkin kedinginan), Taehyung tidak tahan untuk tidak mengusap rambut Jungkook yang lepek dan berantakan. Menggendongnya masuk kamar dan mengganti bajunya dengan gerakan pelan, hati-hati, dan selembut kapas. Sesekali terkikik kala mendengar adiknya mengigau dengan wajah mengerut lucu. Masih sama dengan Jungkook saat usia sepuluh; menggemaskan tiada banding. Selamanya Jungkook akan jadi adik manisnya. Yang lucu saat merengek meski kadang menyebalkan dan nakal.

"Aku sayang kau, Jungkook-ah."

.


My Mama

.

Kim Taehyung

Jeon Jungkook – role as Kim Jungkook

Park Jimin

[Vkook. Koov. – brothership]

And The rest of Bangtan members.

.

Sejak Jungkook lahir, Taehyung lah yang merawatnya. Meski dibantu oleh Mama Jimin pada percobaan pertama. Ia belajar bagaimana caranya mengganti popok, memberinya susu, memandikan, juga menidurkannya. Bahkan sampai cara menghentikan tangisnya. Taehyung memang mengijinkan Mama Jimin menyusui adiknya, tapi ia tidak mau merepotkan keluarga Park untuk menampungnya. Taehyung mampu hidup sendiri bersama adiknya. Ia mampu merawat adiknya. Satu dua kali mungkin ia akan meminta bantuan. Tapi ia menolak untuk masuk ke keluarga Park. Taehyung yang bertanggung jawab atas Jungkook dan tidak ada siapapun yang berani menentangnya. Sebab seperti janjinya pada Mama, Taehyung akan melindungi dan membesarkan Jungkook dengan usahanya sendiri. Seperti Mama yang membesarkannya seorang diri.


Jungkook tahu benar ia sedang dibicarakan.

Pendengarannya masih dapat mendengar sayup-sayup beberapa teman sekelasnya berbisik dengan nada menyebalkan. Matanya tak henti melirik ke seluruh penjuru kelas yang menangkap pandangan orang-orang padanya. Ia berdecih pelan, berusaha tak peduli dan mengeluarkan buku matematika. Ada begitu banyak soal phytagoras yang lebih menarik diperhatikan ketimbang hal sepele seperti ini.

Sampai ia tahu benar suara gemerusuk dan gedebuk menyebalkan. Terdengar begitu biasa di kelasnya, hingga siapapun tahu, bedebah siapa yang datang dengan gaya sok seperti itu. Jungkook hanya melirik dua detik kemudian kembali fokus dengan phytagorasnya. Nyaris selesai dengan satu soal hingga ia berjengit kaget dengan suara gebrakan di meja belajarnya, begitu keras dan memekak. Hingga tanpa sadar, seluruh aktifitas di kelas terhenti, menitik beratkan pusat kepada Jungkook dan orang menyebalkan yang menggebrak mejanya. Tersenyum miring sok ganteng, perilakunya dibuat seperti preman meski Jungkook tak sekali pun takut maupun berpikir dia ini menyeramkan. "Apa?"

"Wow," Pemuda itu berdecih. "Angin memberiku kabar bahwa kau memiliki Kakak idiot,"

"A-apa?"

Pemuda itu menarik bangku dan duduk dihadapan Jungkook. "Ada sesuatu yang kulewatkan kemarin. Coba kuingat, kudengar ada seseorang yang dengan bodohnya membuat ruangan bau taik saat pertemuan orangtua kemarin." Seketika seisi kelas tertawa, dan rahang Jungkook mengeras. Marah luar biasa, tidak terima. Pikirnya siapa mereka berani mempermalukan dirinya sehina ini. dan di saat seperti ini malah Seokmin belum datang. Sial, dia jadi tidak memiliki pembela. "Ah, astaga, ada rumor mengatakan kau ini anak orang kaya, yang orangtuanya tidak memiliki waktu untuk datang sekali pun ke pertemuan. Kudengar mereka pengusaha sukses jadi terlalu sibuk mengurusi sekolahmu dan... apa ini, mereka malah mengirimkan si idiot untuk datang dan membuat sepuluh ibu-ibu muntah di tempat."

Jungkook mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Berhenti bicara ngawur, Oh Sehun."

"Ah, ada yang marah." Sehun terkikik. "Oh, aku juga mendengar kalau kau lari kesetanan dari pelajaran Guru Song hanya untuk menyeret Kakak bodohmu keluar. Wow, padahal Guru Song itu sekejam penyihir, kau berani sekali, Jungkook. Aku saja takut, sebegitu kahwatirnya kau dengan Kakak dungumu itu, ya?"

"Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?"

Hening sebentar. Suara Jungkook terdengar begitu dalam dan berat. Sehun mengernyit sebentar kemudian akhirnya mendengus tertawa, baru pertama ini ia mendengar Jungkook mampu begini berani. Membuatnya ingin melihat Jungkook lebih marah lagi. "Hanya ingin mengonfirmasi langsung darimu. Benar kemarin itu –yang bodoh dan idiot, pakaiannya norak, penampilannya amburadul, celingak-celinguk, tersesat, planga-plongo, dan membawa taik ayam itu – Kakakmu?"

Rahang Jungkook mengetat. "Bukan."

"Lalu siapa, dan mengapa kau terlihat menyeretnya pergi dan membentaknya di depan sekolah?"

Seisi kelas penuh dengan suara bisikan gadis-gadis, beberapa pria juga mendegus geli dan bergunjing di tempat. Menanyakan kebenaran yang Sehun coba tanyakan pada Jungkook. Sementara Jungkook mati-matian menahan luapan amarah yang terus bergerumul di dadanya. Rasanya sesak dan malu bukan main, dalam hati mengutuk Kakaknya yang benar-benar begitu dungu untuk menurut. "Bukan aku,"

"Hei, tidak apa kalau pun mengaku," Sehun mengibaskan tangannya. "Toh kalian sama-sama dungu."

"Aku tidak –"

"Bisakah kau diam?"

Ucapan Jungkook terhenti oleh interupsi suara yang berat dan sedikit lucu di ujung sana. Semua menoleh ke arah suara dan mendapati Jihoon memangku wajahnya, rautnya malas dan bola mata memutar pongah, sedikit berdecih. Ia menyandarkan bahu mungilnya dan berdecak malas, menyingkap lengan kurusnya, dan mendengus. "Kalian hanya bicara omong-kosong sejak tadi, tahu?" kemudian menghela napasnya dan memijit keningnya pelan. Lama-lama penat dengan kebiasaan teman-teman kelasnya yang bisa begini konyol dan berlebihan menyikapi sesuatu.

"Hei, kau membela Jungkook?" Sehun bertanya serius, jarang-jarang Jihoon membuka suara. "Aku hanya merasa ini tidak penting. Kalau dia datang dan membuat rapat orangtua bubar, lalu kenapa? Tidak peduli itu siapa, memang hubungannya denganmu apa? Apa, Oh Sehun? Bisa kau bayangkan jika yang dibicarakan hina begini adalah Kakak atau Adikmu, atau Ibumu?"

Di hadapannya, Sehun berdecih. "Kau ini membual saja."

Perlahan Sehun bangkit dari bangkunya dan pergi, menuju bangkunya sendiri yang bersebrangan dengan Jihoon. Menggerutu kecil terus-menerus hingga dahinya berkerut. Suasana kelas kembali normal, tidak ada titik fokus untuk di tonton lagi. Dan Jungkook masih terpaku menatap Jihoon yang asyik memainkan ponselnya. Ia terpekur mengingat-ingat kejadian barusan. Sepanjang sejarah, Jihoon tidak akan bersua jika bukan tentang biologi. Jika ada teman kelasnya yang dihajar pun ia tidak repot peduli dan malah melenggang pergi lalu kembali saat pertengkaran usai. Dan kali ini, pertama dalam Jungkook mengenal Jihoon, pemuda itu menyuarakan pendapat untuk melerainya dan Sehun. Dan ia paham, bahwa secara tidak langsung, Jihoon melindunginya. Hanya satu pertanyaan yang mengawang tak henti dalam benaknya.

.

"Kenapa kau melakukannya?"

Hampir mati penasaran, Jungkook menyeret Jihoon menuju lorong perpustakaan. Sepi dan jarang orang berlalu lalang di sekitar sini. Jihoon menatapnya bingung tidak mengerti, yang ia tahu ia cukup kaget mendapati Jungkook datang ke mejanya kemudian menariknya paksa. Bukan paksa sebenarnya, sebab Jihoon hanya pasrah tanpa berontak. Meski sebenarnya ia tahu apa yang ingin Jungkook lakukan padanya, Jihoon hanya mengenalnya dengan baik. "Entah, memang apa yang ku lakukan?"

"Lee Jihoon," Jungkook menggertakkan giginya. "Kau ini pendiam lalu kenapa kau membelaku seperti tadi? Pikirmu aku lemah sampai harus ditolong seperti itu; aku kuat dan aku mampu membuat Sehun diam. Jangan pikir kau itu hebat hanya karena kata orang kau itu menyeramkan. Kau hanya maniak biologi aneh dan kutu buku!"

"Siapa bilang aku membelamu?"

Jungkook terdiam. Tidak mengharapkan jawaban macam ini. "Memang, kau pikir kau siapa hingga harus ku tolong seperti tadi? Jangan berlagak, aku tidak menyelamatkanmu. Aku tidak membelamu. Aku tidak menolongmu dari pertanyaan menyebalkan Sehun atau gunjingan orang-orang." Jihoon bersua lagi, dan Jungkook nyaris terbelalak. Baru tahu Jihoon bisa begini panjang bicara –kecuali jika bicara tentang sel dan Hukum Mendel – dan kali ini ia melihat ekspresi di wajahnya. Semua orang mengenal Jihoon sebagai pria dingin tanpa gurat ekspresi. Senang, sedih, marah, kecewa, kesal; semuanya nampak sama. Dan untuk pertama kali, ia melihat raut kecewa, marah, dan sedih di wajah Jihoon. "Sebenarnya apa yang kau coba –"

"Kakakmu," Jihoon memotong, Jungkook terpekur. "Aku menolong Kakakmu. Yang mereka bilang idiot, payah, bodoh, tidak tahu malu –aku menolong dan membelanya. Aku melakukan hal tadi untuknya, bukan untukmu."

"Apa yang kau –"

"Kau pikir kau sudah cukup baik jadi adik?" Jihoon meninggikan nada suaranya, membuat Jungkook benar-benar berjengit. Jihoon jadi orang yang berbeda hari ini. "Berhenti membuatnya terlihat buruk. Sebab bukan dia yang bodoh untuk melakukan hal tetapi kau yang payah untuk membuatnya benar. Kau yang tolol untuk melindunginya dengan baik. Kau bodoh untuk menyadari betapa hebat Kakakmu itu."

Penyataan Jihoon terdengar konyol. Jungkook mengernyit heran dengan ucapan yang ia dengar, tidak menyangka Jihoon akan begini berani padanya. Seingatnya, Jihoon bukanlah sahabat maupun teman masa kecil yang memiliki kenangan manis dengannya bertahun-tahun. Mereka tidak saling mengenal sebelum berakhir pada kelas yang sama sejak kelas satu. Dan pernyataan juga pertanyaan Jihoon membuatnya kebingungan sebab terdengar begitu merana. Seolah Jihoon mengenal keluarganya dengan baik, seolah ia mengetahui siapa Kakaknya, seolah ia tahu dengan baik bagaimana Kakaknya. Dan entah mengapa ia tidak suka. Jungkook tidak suka dibuat bingung. "Kau kenal dengan Kakakku?"

Diam sebentar sampai Jihoon menelan ludahnya berat. "Terserah bagaimana kau mengartikannya saja."

"Lee Jihoon," Jungkook menggeram kecil. "Kutanya, apa kau mengenal Kakakku?"

"Jikalau demikian, kenapa?"

Jungkook terdiam beberapa detik. Mengalihkan tatapannya, membuang wajahnya ke sisi barat dan terpekur sebentar. Benar, jika Jihoon memang mengenalnya, lalu apa? Mengapa ia jadi begini bodoh untuk sekadar merasa tidak suka jika benar ia mengenal Kakaknya. "Dengarkan aku. Terlepas apakah aku mengenal Kakakmu atau tidak, jangan lakukan hal tadi. Itu memalukan dan hal terpayah yang pernah ada sepanjang sejarah. Kau tidak pantas melakukannya, sama sekali tidak."

"Melakukan... apa?"

"Tidak mengakui Kakakmu." Jihoon menggeram di ujung katanya. Mendesis gemas dengan tingkah Jungkook yang bisa begini bodoh dan tidak paham situasi. Ia terlampau sebal dengan sifat Jungkook yang seperti ini. merasa tidak bersalah atas apa yang ia perbuat. "Aku mungkin tidak jauh berbeda denganmu. Aku pun tidak lebih darimu, aku tidak berhati malaikat atau lebih hebat untuk menggurui. Tapi paling tidak aku ingin mengatakan satu hal; sayangi Kakakmu dengan benar. Jangan buat dia kecewa pun merasa sedih. Sebab tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Perlakukan dia dengan benar sebab kau adalah adiknya. Kau adalah saudaranya. Kau adalah darahnya."

Melihat jemari Jihoon yang bergetar dalam kepalan tangannya, Jungkook tambah terpekur. Matanya membulat agak terkejut pada Jihoon yang menatapnya sangsi. Menahan geramnya hingga bibirnya turut gemetar dan napasnya jadi pendek-pendek. "Buat dia bahagia sebab dia hanya memilikimu."

Dan setelah kepergian Jihoon, Jungkook masih terpekur. Menari dalam angannya hingga termangu seperti orang bodoh. Menatap punggung Jihoon yang semakin mengecil dalam jarak pandangnya sampai menghilang. Ia merasa tubuhnya lemas seperti habis tertampar keras, begitu tepat mengenai wajahnya hingga ia nyeri berdenyut-denyut. Hanya sebuah ungkapan sederhana yang sedikit sarkatis namun ia tahu, bahwa Jihoon menyindirnya.

.

.


Taehyung sudah rapi dengan seragam cleaning servicenya. Datang yang paling pagi bersama beberapa rekannya; Sungjae, Minho, dan Hakyeon. Mereka pegawai baru, dan belum bisa langsung menjabat sebagai pelayan –sekiranya itulah regulasi yang dibuat Jimin. Taehyung segera mengepel lantai begitu melihat yang lain sudah membersihkan jendela dan merapikan bangku. Tersenyum diam-diam begitu sadar aroma pelnya adalah jeruk dan pinus; persis favorit Jungkook. Sedikit tercenung dengan kejadian kemarin, dimana ia membuat Jungkook mati malu. Dan sampai sekarang rasa bersalah itu terus besarang dalam hatinya. Adiknya hanya bungkam saat sarapan tadi, dan itu membuatnya sedikit tidak tenang.

"Taetae!"

Suara melengking itu membuat Taehyung menumpahkan terlalu banyak air ke lantai. Siapa yang tidak kaget dengan panggilan mengejutkan seperti itu. Dan ia hanya melirik sebal dengan pemilik suara yang berlari konyol menghampirinya. Bahkan memeluknya heboh dan suaranya –demi Tuhan– sangat menyiksa sebab terlalu dekat dengan telinganya. "Hei, Jimin –aku –aish, lepas!"

"Kim Tae, kau oke?!" Jimin memekik lagi, menangkup wajah Taehyung. "Kau tidak cerita padaku!"

"Cerita apa memangnya, hah?"

Dengan tergesa, Jimin menarik lengan kurus Taehyung dan menggiringnya duduk. Mengabaikan pekikan protes Taehyung yang hendak mengepel dan malah menyuruh Sungjae untuk meneruskan pekerjaannya. Taehyung protes, merasa tidak enak namun jika Jimin mengancam dengan kata pecat, apalah daya. Ia tidak bisa keluar pekerjaan lagi, masih ada Jungkook yang butuh makan dan sekolah. Ia sudah berjanji padanya untuk kerja dengan benar. Jadi dengan raut wajah pongah, Taehyung mendengarkan Jimin meski ia sudah lelah. Lagipula Jimin memang senang membesarkan masalah, paling-paling bukan hal yang penting. "Kau tidak bilang kalau Jungkookie berubah jadi anak biadab."

"Ap –apa kau bilang barusan?!" Taehyung memekik. "Siapa yang mengajarimu bicara begitu?!"

"Uh... sorry, aku hanya terbawa suasana." Jimin nyengir dan menggaruk tengkuknya canggung, luar biasa canggung dan perasaan bersalah. Ia tahu benar betapa besar rasa sayang Taehyung pada adiknya. Sejak kecil, Taehyung cukup protektif pada Jungkook sebab sebagaimana mereka tahu, Taehyung dan adiknya tidak memiliki Mama. Dan jika itu tentang Jungkook, maka Taehyung akan yang pertama memberi reaksi. Terlebih jika mendengar nama Jungkook jadi buruk, Taehyung pula yang pertama mampu menghajarnya. Dan Jimin beruntung mereka berteman baik. "Maksudku –hei, aku hanya salah bicara. Jangan melotot seperti itu; oke aku salah. Maafkan aku. Jadi sampai mana –oh! Kau tidak bilang padaku kalau Jungkook bisa begitu... berani? Maksudnya adalah, kau adalah saudaranya; mana bisa dia begitu kasar padamu hanya karena hal kecil?"

Diingatkan membuat Taehyung merengut. "Itu hal besar, Jimin-ah. Aku membuatnya malu, tidak seharusnya aku datang. Mestinya aku menurut dan mendengar Jungkook kemarin. Kau –kau tidak tahu betapa bodohnya aku kemarin. Jika kau adalah Jungkook saat itu, kau pasti akan melakukan hal yang sama. Kau jangan mengiranya nakal, sebab aku yang payah."

"Kau bergurau?" Jimin mendongakkan wajah Taehyung yang menunduk. "Kau adalah Kakak terhebat yang pernah ada di dunia. Sepayah apapun, mana tega aku menendangmu keluar hanya karena kau membuat ruangan rapat jadi bau? Jika aku adalah Jungkook, maka aku akan membersihkanmu dulu kemudian ruang rapat."

"Jungkook tidak menendangku keluar,"

"Itu hanya perumpamaan, bodoh." Jimin menjitak kepala Taehyung, membuat sahabatnya mengaduh kecil. Relung dadanya sedikit sesak mendengar jawaban Taehyung; apa-apaan. Mengapa ia malah memperlihatkan sisi lemahnya begini. Kim Taehyung tidak serapuh ini, dan Jimin tahu. Ia marah luar biasa begitu mendapat kabar konyol tentang sahabatnya yang dipermalukan. Ia menggeleng kuat-kuat, bukan Jungkook yang dipermalukan. Seharusnya bukan Jungkook yang merasa malu, tetapi Taehyung. Namun ia memang sering tidak mengerti apa yang ada dalam benak Taehyung. "Tae, jangan lemah seperti ini. Jika aku tidak ingat kau bisa menggorok leherku, aku sudah menghabisi Jungkook kemarin, tahu? Kau berhak marah padanya, kau harus tegas padanya. Kau tidak bisa takluk padanya; kau itu Kakaknya, bukan anak buahnya yang senantiasa menuruti ucapannya. Kalian ini keluarga, bersaudara. Kalian tidak bisa seperti ini, bukan seperti ini yang Mamamu dan Mamaku ingin lihat,"

Sontak mata Taehyung membola. "Jimin –"

"Mama ingin kau jadi Kakak yang baik, bukan berati selalu memberikan apa yang Jungkook mau begitu mudah. Kakak yang baik bukan yang lemah untuk selalu mengiyakan adiknya, juga bukan yang diam dan menangis kala adiknya marah dan kasar. Kau Kakaknya dan kau berhak marah atas kenakalannya, kau berhak membentaknya atas ketidak sopanannya. Kau punya kuasa akan itu, dan kau tidak bisa berpura-pura kau baik-baik saja," Jimin meremas bahu kurus sahabatnya. "Ajarkan dia bagaimana menjadi adik yang baik. Jangan terlalu fokus untuk bagaimana membuatnya bahagia dengan apa yang ia inginkan. Sesekali kau harus membuatnya mengerti, untuk apa kau melakukan ini. buat dia menyadari dan melihat dengan jelas, bahwa kau berjuang untuknya semata."

"Jungkook tidak begitu,"

Taehyung menggigit bibirnya ragu, Jimin menghela napasnya lelah. "Aku –aku sedang berusaha menjadi Kakak yang baik. Selama ini kupikir, aku lengah. Kupikir Jungkook bahagia dengan hidup bersamaku berdua. Kupikir Jungkook senang dengan kehidupannya. Kupikir Jungkook senang dengan telur mata sapi setiap pagi. Kupikir Jungkook baik-baik saja; nyatanya tidak. Adikku terlalu lama memendam sedih dan kecewa padaku. Dan aku tidak bisa diam selamanya. Aku menjanjikan kebahagiaan pada Jungkook untuk Mama dan aku sadar bahwa aku sudah ingkar."

" –Jungkook tidak pernah bicara maupun menatapku dengan benar. Dia punya banyak kegundahan dalam hatinya, punya banyak masalah dalam hidupnya, dan dia tidak mampu mengutarakannya padaku sebagaimana perbicangan Kakak Adik biasanya. Dia tidak nyaman membicarakannya," Taehyung menghela napas sedikit sedih. "Dan itu semua karenaku. Aku; bukan Kakak yang baik yang selalu ada untuknya di kala ia butuh. Aku pergi terlalu pagi dan pulang terlalu malam. Tidak becus bekerja hingga selalu repot dengan pemecatan. Juga kerepotan tatkala tagihan menumpuk. Dan tanpa aku mau tahu, Jungkook menyimpan begitu banyak kebencian pada apa yang kuberikan."

"Nyatanya, aku tidak bisa memberikan apa pun untuknya."

Tidak percaya; Jimin tidak sekalipun percaya akan omong kosong yang Taehyung sampaikan. Sebab semua yang Taehyung lakukan sudah sangat baik, terlepas dari kepayahan dalam bekerja, dia sudah berjuang luar biasa hebat sebagai keluarga –ralat, satu-satunya keluarga untuk adiknya. Dan adalah dusta jika mengatakan bahwa Taehyung tak mampu memberi Jungkook satu pun hal yang tidak berharga. Adalah sebuah kebohongan apabila Taehyung berkata, dirinya lalai menjadi Kakak sebab tidak, Taehyung tidak lalai menjadi Kakak juga Mama untuk Jungkook.

.

.


Jungkook mengeringkan rambutnya dengan handuk lebar warna oranye. Mendesah lelah sebab ia hanya membasahinya tanpa memberi shampoo. Sepertinya Kakaknya mulai pikun lagi untuk membeli satu, dan seingatnya pula, Taehyung memang baru masuk bekerja di kafe Jimin belum ada satu bulan penuh. Mungkin itu jadi satu dua hal mengapa ia tidak mendapatkan beberapa peralatan mandi terisi penuh kembali, tersisa sangat sedikit dan membuatnya gatal; tidak tahan. Meski sebenarnya ia hanya biasa saja sebab memang ini biasa terjadi. Ia kemudian menjemur handuk basahnya dan pergi ke ruang tengah.

Sampai ia mencium aroma yang aneh. Bukan sesuatu yang dikategorikan bau atau semacamnya, ia hanya merasa janggal dengan wangi seenak ini. Bukan ini yang biasa ia hirup saat pagi hari, terutama Minggu pagi. Ia terbiasa dengan aroma margarin dan telur yang menyatu dengan esensi gurih dari garam juga aroma manis lengket dari nasi putih khas magic com. Dan tanpa sadar, Jungkook mendekat dan semakin heran melihat punggung Taehyung yang berkutat di dapur. "Hyung?"

"Uh?" Taehyung terlonjak dan membalik badan. "Ah, Kookie. Sudah selesai mandi?"

"Apa yang sedang kau masak?" Jungkook terlampau penasaran dengan aroma sesedap ini. Amat sangat luar biasa jika Taehyung memang benar-benar masak untuknya, sebab ia pun paham dengan kondisi keuangan mereka. Bukan berarti mereka benar-benar miskin, hanya saja... dengan keterampilan payah Taehyung, mana mungkin. Jika bukan Jungkook yang teliti, mungkin mereka tidak pernah punya air panas sebab Taehyung terlalu ceroboh untuk selalu meninggalkan teko di kompor.

Taehyung tersenyum lebar sekali, menggenggam jemari Jungkook yang masih lembap dan membantunya duduk di meja makan yang kecil. Membuat adiknya terperangah kaget sebab bahkan ia tidak sadar ada begitu banyak makanan di meja. Masih panas jika dilihat dari uapnya, pantas aromanya tercium begitu kuat. Dan Taehyung terkekeh kecil menatap adiknya yang hampir berliur sebab menganga terlalu lebar itu. Mengusak rambutnya gemas dan duduk disampingnya. Mengambil semangkuk nasi dan menyodorkannya ke Jungkook. "Selamat makan,"

"Hyung?"

Lagi, Taehyung melayangkan senyum manis. "Kau suka? Aku sudah menyiapkannya sejak jam lima tadi. Meski aku tidak pandai memasak seperti Mama, barangkali ini cukup sedap. Aku sudah mencicipinya sebelum menghidangkannya, tenang saja." Ia menuangkan Seollotang ke mangkuk kecil, menyodorkannya lagi pada Jungkook sembari terus tersenyum senang sekali. "Selamat makan, Jungkook-ah. Dan selamat pagi."

Apakah ini mimpi atau bukan; batin Jungkook sejak tadi. Jika biasanya ia akan mengeluh hanya dengan menghirup aroma telur saja di pagi hari, maka kali ini tenggorokannya tercekat. Satu set menu sarapan tradisional ada dihadapannya, tersaji begitu menggiurkan di meja makan mereka yang kecil dan jadi satu dengan meja ruang tengah, ruang tv, dan ruang tamu. Meja serbaguna. Semuanya lengkap mulai dari nasi manis hangat, galbi, telur gulung, seollotang, kimchi, tumis sawi, jeruk, dan susu. Ia nyaris tidak percaya bahwa ini adalah nyata. Biasanya, meski pun mampu, Taehyung tidak akan menyiapkan semua ini. Dia tidak pandai memasak, pun punya banyak uang untuk membeli iga sapi dan semua bahan makanan sebanyak ini; jumlahnya terlalu banyak, ia bahkan sudah kenyang saat menatapnya.

"Apa hyung barusan menang judi?"

Taehyung tersedak air mineralnya. "Aku tidak berjudi, Kookie."

"Lalu apa semua ini?" Jungkook menyeruput seollotangnya, memejamkan mata tanpa sadar kala tahu bahwa rasanya sungguh luar biasa. Entah dia berlebihan atau ia jarang makan seperti ini. "Kau bukan orang yang bisa memberikanku makan seperti ini, hyung. Dan iga –iga? Kita bahkan sering menunggak tagihan listrik selama tiga bulan dan kau beli iga? Apa kau serius?"

"Ah..." Taehyung menggaruk kepalanya canggung. "Aku banyak belajar, bahwa kau tidak bahagia sebagai adikku. Dan sedikit banyak aku paham mengapa kau sering marah padaku, sebab aku salah besar. Aku terlalu fokus pada diriku sendiri, aku hanya memikirkan uang tanpa tahu kau tersiksa sendirian. Aku hanya berpikir bagaimana caranya supaya kau bisa makan dan sekolah sampai lulus, tanpa tahu kau menyimpan banyak kisah yang bisa kau ceritakan padaku, tetapi aku tidak ada di sisimu. Selama ini kukira, aku sudah memberikan semuanya tapi sebagaimana kau bilang; aku tidak pernah memberikanmu apapun."

Taehyung menunduk sebentar sampai akhirnya menatap Jungkook dengan mata berbinar cerah, tersenyum luar biasa lebar, hingga Jungkook terenyuh seketika. "Dan kali ini, aku berjanji. Pada Mama, padamu, dan pada diriku sendiri; aku akan menjadi Kakak yang baik untukmu. Aku akan bekerja dengan giat supaya kau hidup dengan baik, aku siap dua puluh empat jam untukmu. Dan aku akan mendengar apa yang kau katakan dengan baik. Jika kau bilang tidak maka artinya tidak. Aku akan memberikan apa yang aku miliki untukmu, sebab kita saudara."

"Hyung tidak perlu –"

"Tidak apa, Kookie." Taehyung mengelus rambut basah adiknya. "Beberapa hari lalu, Jimin mengangkatku jadi pelayan; secara asidental, mendadak. Perbedaan gajinya cukup besar, loh. Dan Jimin bilang dia kangen kau, Mamanya dan dia memberikan banyak sekali bahan makanan kemarin malam. Tapi tidak bisa menginap disini untuk bertemu denganmu. Ah, dapat salam dari mereka."

Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Jungkook. Ia terlalu bingung dengan keadaan, terlalu mendadak dan sungguh berbeda dari biasanya. Bukan juga ia tidak menyukainya; ia sangat menyukainya. Ini yang ia inginkan saat sarapan, waktu bersama keluarga berbincang banyak hal dan makan sepuasnya, sesukanya, dan semua tersedia sampai rasanya ia tidak perlu makan siang. Makanan sebanyak ini sudah cukup membuatnya kenyang seharian penuh, dan entah mengapa tiba-tiba dadanya merasa sesak. Ia tidak mau repot-repot merasa terharu dengan hal sederhana ini. Ini biasa dan memang sudah seharusnya Taehyung memberikan makanan yang layak untuknya. Sebab ini adalah haknya, maka ia tidak perlu repot untuk berbasa-basi sekadar 'terima kasih'. Tidak ada siapapun yang membutuhkannya saat ini, toh, Taehyung senang-senang saja. Terlihat dari raut wajahnya yang bahagia.

Dan Jungkook tidak tahu kenapa ia merasa ingin menangis.

.

.


Jikalau Jungkook diijinkan berpendapat maka ia ingin mengatakan bahwa hidupnya adalah manifestasi dari kesialan tanpa ujung.

Dan hidup dalam ruang lingkup Oh Sehun adalah satu dari kesialan terbesar dalam hidupnya. Pemuda itu sungguh licik dan menyebalkan, untuk ukuran pria. Penuh ambisi untuk menang dalam segala hal, bermulut pedas, dan bertingkah layaknya preman. Tidak tahu aturan dan sok ganteng. Dan entah mengapa Guru Shin memasukkan namanya dalam satu kelompok Oh Sehun untuk tugas sejarah. Bahkan ia tidak memiliki satu pun teman yang membantu. Itu artinya, tidak ada Seokmin atau Mingyu, atau Jihoon saja tidak. Tamat sudah.

Jungkook tahu benar suara ketukan sepatu sekolah Sehun yang membentur lantai tiap ia melangkah, dan ia hanya melirik malas pada Sehun yang sudah berdiri sok kuasa dihadapannya. "Jika kau ingin bernegosiasi, maaf saja. Kau harus mengerjakan bagianmu; ini tugas kelompok."

"Astaga, kelinci ini." Sehun terkikik kala Jungkook mendelik. "Aku sedang berbaik hati tapi kau terus saja menganggapku buruk. Kau tahu, aku pun manusia yang bisa merasakan sakit."

"Memangnya kau manusia?"

Hampir saja Sehun melempar bogeman. "Aku sedang dalam pengawasan Ayahku jadi, kuharap kali ini kita bisa bekerja sama. Terserah tentang pembagian tugas dan segala jahanamnya, tapi karena aku pun manusia yang punya hati nurani, aku ingin menebar kebajikan. Dengan menyantuni orang miskin,"

"Apa kau bilang?!"

"Whoa, santai, bruh." Sehun menepuk kepala Jungkook. "Maksudku adalah, kau harus mengikuti kemauan kami perihal tempat kerja kelompok. Kuberi kemudahan, kau akan jadi team leader kali ini tapi kau harus setuju pada pilihan tempat kami. Sebab –oh, come on, we're a young wild, don't be a nerd in your school life. Am i right?"

Sejak tahu bahwa seorang Sehun adalah pemuda nakal dan tidak bisa diatur, banyak tingkah, penuh tipu muslihat, dan sederet catatan buruk lainnya, Jungkook tidak bisa langsung menyetujui ide gila darinya. Siapa tahu kalau ada maksud terselubung dari kata tempat kerja kelompok. Kalau itu berarti rumahnya yang seluas benua Australia dan ia bisa membanggakannya, maka Jungkook bersumpah akan membuang hajat di ruang keluarganya. Pikirnya dia sehebat itu; tidak. "Tidak usah banyak berpikir, kau akan nampak seperti pria tiga puluhan. Ambil saja positifnya; team leader, pembagian tugas sesukamu –yang artinya kami tidak akan marah jika itu berarti 10 berbanding 90, kujamin makanan, fasilitas mandi, baju bersih baru yang mahal, dan tempat bermalam yang nyaman."

"Tempat bermalam?"

Sehun mengangguk kecil dan menyeringai tipis. "Ya, jauh lebih hebat dan berkelas daripada seluruh hotel bintang lima yang pernah kau temui. Oh, dari yang kulihat, bahkan kau tidak pernah bermalam di motel ataupun sauna. Poin plusnya, aku akan menunjukkan bagaimana itu Seoul padamu. Yang sesungguhnya. Kau bisa melihat kemewahan yang belum pernah kau temukan selama tujuh belas tahun kau hidup; menarik, bukan?"

Kemewahan? Terdengar amat menggiurkan.

Bukan begitu, Jungkook?

.

.

.

To Be Continued

.

[edisi: sesi panjang lebar]

Noun; cuap-cuap

...

First, i want to give my biggest thanks for you guys! Ga nyangka dapat atensi sebanyak ini padahal baru chapter pertama. Dan jujur ini juga jadi ketakutan saya untuk melanjutkan sebab terlalu takut akan persepsi pembaca terhadap update-an saya. Takut juga jika sampai feel-nya turun, atau terlalu ngelantur, atau jadi tidak jelas. It's the risk, anyway.

Kedua, saya mohon maaf banget karena terlalu lama untuk update. Disebabkan satu dua hal yang menghambat diantaranya; kuliah, ide mentok, feel saya menurun, sakit, dan spp (ya ini bikin down banget ya spp kuliah saya gede banget ku takkuasa). Tapi alhamdulillah ini sudah saya sempatkan untuk update sebab terlalu lama tidak menulis bikin gatel juga.

Ketiga, semoga apa yang saya sampaikan bisa menghibur dan menyegarkan pikiran pembaca. Terlepas dari kekurangannya, saya mohon kritik dan saran yang membangun. Saya on setiap hari, kok. Silahkan jika ada yang perlu dibicarakan (kepedean padahal gaada yg mau ajak ngomong, lol). Dan sekali lagi, ini adalah sebuah fanfiksi. Cerita khayal yang dibuat oleh imajinasi penulis saja. Jangan terlalu dibawa serius apalagi kalau sampai benci pada satu dua tokoh yang saya hadirkan. Tidak lebih dari sekadar kesejahteraan cerita saja...

Happy reading~!^^

[copyright – sugantea]