Terkutuk Oh Sehun.
Seharusnya Jungkook tidak mendengarkan pemuda licik itu. Seharusnya ia cuek dan menentang segala ucapan konyol dari belah bibir pemuda sok tampan itu. Dadanya terasa meletup-letup ingin meledak saking sebalnya. Kalau saja dia punya pendirian, dia tidak akan terjebak dalam ruangan bau dan menyilaukan seperti ini. Terlalu riskan dan memuakkan. Apa ini yang dinamakan kemewahan? Jungkook rasa ini bukanlah jawaban yang benar.
"Sehun –hei, brengsek! Dengarkan aku!"
Menghadapi manusia konyol seperti Sehun tidak perlu sopan satun, Jungkook muak dan dengan santai menyiram wajah mesumnya dengan air yang tersuguh dihadapannya. Berdecih pelan saat wanita dalam rengkuhan Sehun mencebik sok lucu. Cantik saja tidak –meskipun dadanya oke, sih. "Hei, kelinci. Nikmati saja waktumu disini, ini berharga, tahu? Tidak sembarang orang kaya bisa masuk kemari dan kau adalah satu dari sepuluh juta umat yang bisa kesini begitu mudahnya sebab apa?"
"Aku," Sehun menatap Jungkook sayu dan menepuk dadanya. "Karena kuasaku, kau bisa disini, bodoh. Kau pikir aku tidak nyaris jantungan melihat tugas yang harus kukerjakan, hah? Sekarang, aku hanya –katakan saja, membalas kebajikanmu."
"Kau pikir bar menjijikkan seperti ini bisa membantuku mengerjakan tugas?!"
Sehun tertawa nyaring, sudah satu jam dia mabuk. "Aigoo, kan sudah kubilang. Ini tempat yang keren, akui saja kau penasaran dengan seluruh ruangan ini, kau nyaris mati penasaran dengan semua menu cocktail dan alkohol manis, juga hampir saja lepas kendali melihat semua dada dan pantat yang bergoyang-goyang dihadapanmu setiap saat. Bukan begitu?"
"Fuck you, Sehun."
"Just fuck the bitches around," Sehun menyeringai, menegak alkoholnya lagi. Tersenyum dalam gelasnya ketika menyadari Jungkook menatapnya terperangah, jakunnya naik turun menelan liur, tatapannya liar dan berbinar. Sehun bisa mengartikannya dengan jelas dan tepat bahwa, Jungkook sungguh penasaran menjadi dirinya. Lucu sekali. Ia melirik pelayan yang datang menghidangkan alkohol manis menggoda berwarna biru. "Aku tidak dalam mode untuk bertengkar denganmu. Aku sedang senang hari ini, maka tak apa menguras dompetku sedikit, toh aku masih punya banyak black card untuk dihabiskan."
Ingin rasanya Jungkook menyumpal mulut Sehun dengan linggis.
Sehun mengusap rambut panjang wanita disampingnya, tersenyum miring. "Sudah kupesankan minuman terbaik, sekaligus termahal yang ada disini. Karena kau masih pemula, okelah kau ambil dosis terendah. Paling tidak, take a try, kiddo."
"What –i'm not kid, you bastard!" Jungkook bangkit marah, menenteng ranselnya. "Dan aku mau pulang saja. Silahkan ingin kau buang atau kau minum atau kau jadikan obat kumur –aku tidak peduli. Aku tidak suka berada disini, dan kuingatkan untuk mengumpulkan tugasmu besok. Tepat pukul delapan pagi."
"Hei, jangan begitu, kelinci~" Sehun bangkit menahan lengan Jungkook yang kurus namun berotot, tersenyum lemah menatap Jungkook yang menggeram kesal. Wajahnya memerah lucu dengan dengusan sebal di sela napasnya yang putus-putus. Menepuknya lembut dan membimbingnya duduk nyaman di sofa empuk berwarna coklat karamel beraroma kayu manis. Mengelus kepalanya hangat dan menepuk pundaknya ramah. Dengan sigap meraih segelas cokctail dengan menggerakkan jemari lembut Jungkook untuk menggenggamnya sendiri. Mengerling licik nyaris tertawa. "Cobalah. Kau akan menyesali hidup yang telah sia-sia selama tujuh belas tahun jika tidak mencicipinya barang seteguk. Tidak akan ada bedanya apabila itu dua puluh tahun atau tiga puluh, atau tujuh belas. Alkohol berarti kedewasaan dan coba jawab aku,"
"Apa kau masih anak kecil, Kim Jungkook?"
Marah. Ingin Jungkook memukul hebat rahang tegas milik Sehun dengan balok kayu. Berani benar ia meremehkan dirinya. Pikirnya dia sehebat itu untuk mengguruinya; tidak. Sehun tidak lebih baik bahkan bila dibandingkan dengan Kakak bodohnya. Dan kali ini ia mencoba menantangnya dengan menggunakan embel-ebel kedewasaan; sialan Oh Sehun dan kuasanya. Dia akan buktikan jika dirinya pun mampu melakukan apa yang Sehun biasa perbuat. Bahkan jauh lebih hebat.
"I'm not a freakin kid."
Selanjutnya, hanya seringaian dalam wajah Sehun ketika Jungkook meneguk kasar alkoholnya dan memesan lagi, lagi, dan lagi. Senang bukan kepalang bahwa Jungkook bahkan tidak tahu jika ucapannya adalah bohong. Mana sudi ia memesan dosis terendah untuk si payah ini; sudah jelas jika ia memberikan dosis tinggi dalam alkoholnya. Dan meski ia akui, ia nyaris menganga begitu tahu Jungkook ternyata memiliki toleran tinggi pada alkohol.
"What a cute, bunny"
.
My Mama
.
Kim Taehyung
Jeon Jungkook – role as Kim Jungkook
Park Jimin
[Vkook. Koov. – brothership]
And The rest of Bangtan members.
.
Sejak Jungkook lahir, Taehyung lah yang merawatnya. Meski dibantu oleh Mama Jimin pada percobaan pertama. Ia belajar bagaimana caranya mengganti popok, memberinya susu, memandikan, juga menidurkannya. Bahkan sampai cara menghentikan tangisnya. Taehyung memang mengijinkan Mama Jimin menyusui adiknya, tapi ia tidak mau merepotkan keluarga Park untuk menampungnya. Taehyung mampu hidup sendiri bersama adiknya. Ia mampu merawat adiknya. Satu dua kali mungkin ia akan meminta bantuan. Tapi ia menolak untuk masuk ke keluarga Park. Taehyung yang bertanggung jawab atas Jungkook dan tidak ada siapapun yang berani menentangnya. Sebab seperti janjinya pada Mama, Taehyung akan melindungi dan membesarkan Jungkook dengan usahanya sendiri. Seperti Mama yang membesarkannya seorang diri.
.
Sudah pukul satu pagi, dan Jihoon terbangun. Hanya sekadar buang air kecil tetapi ia tidak bisa kembali tertidur. Menonton film Sherlock Holmes favoritnya di laptop adalah satu dari opsi terbaiknya. Dan ia terlonjak kaget begitu mendengar suara debuman keras sekali. Lagi, ia menatap jam dinding di arah barat dan ia sedikit takut kalau yang tadi adalah perbuatan pencuri. Maka dengan langkah gemetar dan jantung berdegup hebat, ia melangkah keluar. Dan mengernyit heran pada kamar Ayahnya yang menyala terang dan pintunya terbuka lebar. Kepalanya melongok ragu, "Ayah?"
"Oh?" Ayah Jihoon membalik badan usai berjengit kaget. "Hai, Jihoonie. Mengapa tidak tidur?"
"Hanya terbagun," Kemudian Jihoon melangkah masuk dan memasang wajah bingung. Kepalanya celingukan penasaran dengan sesuatu yang berada dibalik tubuh tegap Ayahnya. Apa ini karena Jihoon mengantuk atau ia memang melihat manusia tadi? Ia menatap Ayahnya heran. "Siapa itu?"
Ayahnya tersenyum dan menepuk kepala Jihoon. Mengecup pelipisnya sayang dan beranjak mengganti seragam ketatnya yang sudah lepek oleh keringat. Barulah disana Jihoon melotot tidak percaya, bagaimana bisa Ayahnya membawa orang ini. Ia membalikkan badan dan mengerut kesal menatap Ayahnya yang terlihat santai sekali. "Kenapa ada Jungkook bersamamu?"
"Ha?" Ayahnya sudah siap dengan handuk, ingin mandi. "Kau mengenalnya, Nak?"
"Kami teman sekelas," Agak lirih Jihoon menjawab. Kemudian ia melayangkan tatapan tajamnya pada sang Ayah. Kepalanya mendidih melihat pemandangan ambigu seperti ini. Ia dibuat tidak mengerti oleh keadaan konyol seperti ini. Sialan; apalagi yang Ayahnya perbuat. "Apa yang kalian lakukan? Kenapa Ayah membawa Jungkook kemari, bagaimana bisa –"
Buru-buru Ayah Jihoon menginterupsi. "Dia mabuk."
"A-apa?"
Dihadapannya, Ayah Jihoon mengangguk dramatis. Memerhatikan ponselnya kemudian meletakkannya di meja. Ia merasa tubuhnya lengket semua dan benar-benar butuh mandi segera. "Tadi ada perayaan kepulangan Profesor Goo di Wings Club, dan ada keributan yang melibatkan dua remaja dan kau tahu, kau yang paling tahu aku tidak tega dengan anak-anak." Sedikit mengingat-ingat kejadian beberapa jam lalu dimana ia nyaris mabuk dan seisi bar terkejut dengan gelegar konyol di sudut VIP; dua orang remaja adu jotos tidak jelas dan entah mungkin karena wajah Jungkook nampak seperti baik-baik, dan tidak ada yang bertanggung jawab atasnya, ia ingin membawanya kerumah. Dan ini hasilnya, Jihoon mengira yang tidak-tidak. "He's cute, anyway. Tapi aku bukan begitu, Jihoonie anakku. Aku hanya kebetulan punya rasa kasihan padanya. Kabar bagusnya, sebab kalian adalah teman, jadi, tidak akan canggung nantinya. Bukan begitu?"
"Tapi, kami tidak sedekat itu untuk –"
"Ayah mandi dulu, Nak. Oh, dan selamat pagi. Bicara denganmu memang selalu menguras waktu tanpa kusadari. Urus temanmu itu, sayang."
Jihoon berdecih sebal, selalu begitu saat Ayahnya tidak mau bertanggung jawab. Mana sudia ia melayani bocah ingusan kurang ajar sperti ini. Melihatnya saja ia sudah mual dan sebal. Dan ia masih dongkol dengan pernyataan barusan bahwa Jungkook baru saja mabuk. Demi Tuhan, perangai konyol apalagi yang cecunguk ini perbuat. Jihoon tidak habis pikir untuk menerka bagaimana sifat Jungkook yang sebenarnya. Ia tidak mengira pemuda itu bisa begini mabuk. Sialan, bahkan aromanya membuatnya ikut mual dan sesak napas. Tapi apa boleh buat, ia harus mengurusnya meski hatinya jengkel setengah mati.
Ia membopong tubuh Jungkook yang dua kali lebih besar darinya. "Kau dasar anak babi gendut."
.
.
Jungkook terbangun karena kerongkongannya perih, panas seperti terbakar, nyaris membuatnya gila. Tatkala ia memaksakan diri untuk bangkit, kepalanya didera nyeri luar biasa tak tertahankan. Ia meringis sebab pandangannya ikut berkunang dan tidak fokus. Seluruh tubuhnya terbujur lemas dan panas, dan otaknya kosong ketika netranya mulai menangkap gambar yang direfleksikan retinanya. Sebab ia yakin bahwa ini bukan rumahnya atau pun tempat yang ia kenal. Bahkan bajunya sudah berganti, dan ia tidak bisa lebih panik dari ini. Sialan Sehun dan omong kosongnya, jangan bilang ia barusan kehilangan keperjakaanya.
"Kau ada di rumahku,"
Dan begitu suara serak itu menginterupsi pemikiran bodohnya, Jungkook menoleh. Terkejut dengan fakta bahwa ia mendapati Jihoon ada di hadapannya, berdiri congkak, terbalut dalam seragam sekolah yang sudah rapi. Tangannya menenteng handuk dan sikat gigi, melangkah masuk dan melempar apa yang ia genggam kepada Jungkook. "Cepat mandi atau kau harus berangkat sendiri."
"Hei, apa-apaan!" Jungkook menahan lengan Jihoon. "Kenapa aku bisa ada disini? Kau apakan aku?"
"Oh, astaga." Jihoon merotasikan matanya pongah. Sempat-sempatnya Jungkook berpikiran konyol saat ini. Memangnya ada yang salah dengan keadaannya pagi ini? Toh ia terbangun di ranjang empuk yang wangi bermandikan hembusan ac dan baju hangat yang bersih beraroma lavender. Kurang ajar sekali Kim Jungkook ini dalam cara berterima kasih. "Kau pikir aku barusan memperkosamu, begitu? Kau itu memang bodoh, Kim Jungkook! Sebelum kau menuduh orang disekitarmu, silahkan menghadap cermin dan lihat betapa buruknya tingkah lakumu itu."
Kepala Jungkook berdenyut nyeri. "Aish, bicara apa kau ini. Aku tidak mengerti."
"Memang dasar otak udang kau!" Jihoon mendamprat kepalanya dengan handuk begitu keras, menyebabkan teriakan melengking dari Jungkook sebab tahu-tahu pandangannya berputar hingga ia pening mendadak. Saat itu ia baru sadar bahwa Jihoon –meskipun kecil– tenaganya kuat sekali seperti badak bercula satu. "Kau itu sadar atau tidak semalam sudah mabuk, ha? Jikalau bukan Ayahku yang mengantarmu kemari oleh rasa iba, kau sudah habis jadi pelacur."
"Jaga bicaramu, Lee Jihoon."
Jihoon berdecih. "Apa pantas seorang berandal mengatakan itu? Bukankah lebih benar jika; Jaga tingkahmu, Kim Jungkook! Kau ini hanya bocah tidak tahu diri, bodoh, keparat brengsek. Entah bagaimana Kakakmu tahan dengan semua perangai konyolmu ini."
"Kakak..." Jungkook terpekur, baru ia ingat bahwa Sehun memaksanya untuk menginap dan itulah yang ia katakan pada Taehyung kemarin malam. Yang sungguh sialnya ia berakhir memalukan dihadapan orang yang membuatnya kebingungan dan membencinya sebegini dalam. Bahkan ia tidak tahu mengapa Jihoon sampai jauh tidak menyukainya seperti ini. Tapi entah mengapa ia teringat Kakaknya, ia mendadak merasa bahwa mungkin Kakaknya sedang menunggunya di rumah. Menangis seperti bocah dan duduk meringkuk di ruang tengah dengan raut wajah kusut. Tahu-tahu dadanya merasa sesak oleh sebab yang sama sekali tak ia pahami. "Aku harus pulang,"
Sampai mereka menoleh begitu mendengar ketukan sepatu pantofel yang begitu jelas iramanya, dan senyuman secerah matahari yang menyambut mereka berdua. Menenteng dua mug besar susu coklat panas bercampur oatmeals kemudian melangkah masuk. "Maafkan Jihoonie, ya, Nak Jungkook."
Serius demi apa, Jihoonie? Terdengar imut, tidak cocok dengannya.
"Saya hanya membawamu kemari karena Saya melihatmu dipukuli oleh teman minummu, dan kau terlihat mabuk berat, Nak. Maaf jika itu mengganggu," Suara itu terdengar amat syahdu, tanpa sadar menggelitik relung jiwanya begitu mudah hingga tubuhnya lemas seketika. Ada getaran dalam tubuhnya yang membuat Jungkook sesak napas tanpa sebab jelas. Ia benci menjadi lemah tak berkutik seperti ini. bahkan ketika jemarinya digerakkan untuk menggenggam mug hangat itu, Jungkook termangu. Senyumannya tampan hingga ia benar-benar meleleh di satu waktu. "Take your time, kita akan berangkat bersama. Bukan begitu, Jihoonie?"
Diujung sana Jihoon berjalan menghentak-hentak. "Terserah."
Dengan terburu, Jihoon melepas seatbelt dan mengenakan ranselnya. Nyaris keluar mobil sebelum Ayahnya mencekal lengan kurusnya dengan pandangan bertanya yang konyol. Jihoon menghela napas luar biasa lelah. Ia tidak mau terlibat lebih jauh, sebenarnya. "Biarkan aku turun lebih dulu, please? Aku tidak mau siapapun melihat kami turun dari mobil yang sama." Ucapnya kemudian melirik Jungkook yang terdiam seperti anak kucing di jok belakang, memangku ranselnya erat.
"Sure, have a nice day."
Setelah mengecup pipi sang Ayah, Jihoon sempat melirik tajam pada Jungkook kemudian benar-benar pergi dari mobil. Melangkah dengan menghentak-hentak kemudian berlari menuju kelas, di dalam mobil Ayahnya mendengus geli pada tingkah anaknya yang menurutnya lucu. Kemudian memosisikan tubuhnya menghadap Jungkook yang masih tidak fokus, tersenyum sebentar. "Apa Jihoon memang seperti itu kalau di sekolah?"
"Uh? Ah..." Jungkook mengenakan ranselnya dengan gerakan lambat. "Sepertinya begitu? Dia jarang berbicara pada teman-teman –" bahkan aku ragu dia punya teman. Hanya tertahan diujung lidahnya, mana berani ia mengucapnya begitu lantang. "Tapi dia pintar di Biologi, nilainya sempurna nyaris pada setiap ujian. Well, tidak hanya Biologi sih, tetapi juga musik, matematika, dan fisika. Hampir semuanya oke dalam akademis, meskipun nilai olahraganya tidak begitu baik. Dia cukup payah bahkan untuk mendapat nilai B dalam marathon. Tapi akumulasi nilainya baik, mengingat dia selalu menduduki peringkat nomor satu dikelas dan nomor dua untuk seantero sekolah."
Entah apa yang membuatnya mampu bicara panjang lebar begini dihadapan orang asing. Dan yang sejak tadi Jungkook renungkan adalah; apa arti degupan jantung yang gemuruh ini. Ia tidak mengerti mengapa hanya karena sebuah senyuman simpul sederhana dan suara berat yang mendayu lembut mampu membuatnya merinding dalam kenikmatan. Sekujur tubuhnya lemas namun tegang di satu waktu dan ia tidak mengerti mengapa harus orang ini. "Kau lucu,"
"A-apa?" Berdoa saja ia barusan salah dengar. Oh, tawa Ayah Jihoon terdengar manis. "Yah, kau lucu untuk ukuran anak SMA tingkat dua. Pada dasarnya kalian memang masih anak-anak, sih. Tapi Jihoonie jarang bersikap hangat padaku, atau manja-maja, bahkan untuk bercerita panjang lebar tentang dia maupun temannya pun, tidak. Terkadang aku iri dengan rekan kerjaku yang selalu menceritakan anaknya, sebab aku... tidak memiliki satu pun hal yang bisa aku banggakan, maksudnya, kuceritakan. Aku hanya tahu perkembangan Jihoon melalui rapot atau Bibi pengurus rumah. Selebihnya, Jihoon membungkam diri dan aku tidak tahu kenapa."
Apakah salah jika Jungkook merasa iba? Pasalnya rasa kasihan yang bernaung dalam hatinya terasa amat besar dan begitu menyayat hati. Entah mengapa ia benar-benar sedih dan tidak tega usai Ayah Jihoon sedikit bercerita tentang relasinya dengan Jihoon yang tidak begitu baik. Dadanya ikut merasa sesak dan Jungkook tidak mengerti kenapa, ia ingin sekali mengusap kepala Ayah Jihoon dengan sayang. Bahkan jemarinya tengah ia kepalkan kuat-kuat. Sialan, perasaan apa ini. "Paman... Aku –kurasa..."
Ayah Jihoon tersadar dari lamunannya, kemudian menatap Jungkook dalam diam.
"Barangkali –ah, maksudku, kalau mungkin aku bisa menjadi pelampiasanmu..." sialan. Ini terdengar sepenuhnya salah. Lagipula mengapa ia kehabisan kata begini. Apa pula degupan jantung yang kian menggebu begini dan juga... mengapa sekujur wajahnya panas? Sialan. "Kau –maksudku, Paman... bisa –well, perlakukan aku sebagai anakmu. Dan aku juga... bisa melakukan apa yang Jihoon tidak ingin lakukan bersama Anda. Memang terdengar lancang, tapi... entah mengapa.. aku –maksudku, hatiku terasa sakit mendengar keluh kesah Anda. Aku bisa jadi cerewet atau bermanja-manja, seperti yang Anda bilang; saya lucu. Jikalau saya boleh kurang ajar, Paman bisa jadikan aku Jihoonie."
"Maaf?"
Barulah kali ini Jungkook benar-benar kehabisan kata-kata. "Ah, tidak. Lupakan saja, sepertinya aku masih mabuk. Iya, kepalaku –maksudku, otakku masih dibawah kendali alkohol. Ya, aku masih belum sadar betul, hehehe." Jungkook langsung membuka pintu mobil dan turun dengan tergesa. Tanpa sadar Ayah Jihoon ikut turun dan menghalangi jalan Jungkook dengan lengan panjang dan kekarnya. Disana Jungkook menahan napas; aroma maskulin bercampur sabun mandi membuat Jungkook nyaris gila karena terpikat. Bahkan ia yakin wajahnya memerah betul. "Ah... Tuan Lee, itu aku –"
"Kalau kau belum sembuh benar, jangan masuk dulu." Jungkook mengerjap pelan. Terdengar seperti Paman itu mengkhawatirkannya. Apakah ia benar-benar khawatir padanya? "Aku bisa mengantarmu pulang, sekarang juga."
"T-tidak!" Jungkook menggenggam lengan Ayah Jihoon yang sudah akan membuka pintu mobil lagi. Jungkook menelan ludahnya pahit sebab tatapan mata yang ia dapatkan sungguhlah luar biasa memikat. Ia nyaris terperosok begitu dalamnya. "Tidak perlu," ia melepas genggamannya. "Aku akan sekolah, hanya butuh tidur lima belas menit dan minum susu vanilla. Tidak perlu pulang, aku bisa mengatasinya sendiri, kok. Paman silahkan bekerja, jangan pikirkan apa-apa."
Ayah Jihoon tersenyum lembut, mengelus kepala Jungkook yang empunya sedang termangu dengan degupan jantung tanpa irama jelas. Aromanya semakin menguar jika begini. "Baiklah, kuharap kau menjaga ucapanmu itu. Aku akan senang kalau kau tidak mabuk lagi, well, kalian masih anak-anak. Kalau begitu aku akan pergi sekarang. Tidak ada yang tertinggal di mobil, kan?"
Jungkook hanya mampu menggeleng.
"Hm, oke." Ayah Jihoon membuka pintu mobilnya, namun urung masuk dan kembali bersitatap dengan Jungkook yang membulatkan matanya terkejut. "Ah, untuk tadi –aku berterima kasih. Aku mengerti yang kau ucapkan, juga, saran konyolmu. Memang terdengar konyol, sih." Ia tertawa sebentar. "Tapi aku paham maksudmu menawarkannya padaku. Sebenarnya Jihoonie hanya terlalu dingin padaku, bukan berarti dia bukan anak yang baik. Jika di rumah sebenarnya dia sangat imut, dia hanya tidak suka memerlihatkannya. Tapi kalau menemanimu makan atau berbelanja saja, itu tidak masalah."
"N-ne?"
Ayah Jihoon menepuk bahu Jungkook, lagi, tersenyum manis. "Kau pasti mengerti maksudku."
Dan selanjutnya Jungkook diam terpaku menganga sendirian. Masih tetap begitu walaupun mobil Ayah Jihoon sudah tidak berada disana lagi. Lengkap tujuh menit ia berdiri seperti orang bodoh dan ia terlambat menyadari bahwa jantung ini berdegup untuk siapa, dan wajah memerah ini untuk siapa, dan rasa menggebu ini untuk siapa. Ia menangkup wajahnya sendiri, nyaris tidak percaya pada apa yang barusan ia alami. Rasanya terlalu menggelitik dan ia hampir meledak.
"Aku pulang,"
Taehyung melepas mantel kumuhnya yang nyaris bau oleh keringat. Melangkah pelan sebab kakinya nyaris mati rasa oleh kesemutan dan pegal. Kerja kerasnya benar-benar menguras tenaga. Menjadi pelayan di sebuah kafe tidak semudah dan semenyenangkan kelihatannya di televisi. Drama memang menipu seluruh umat. Ia terduduk di futon tipis, mengerang tatkala tulang punggungnya mengalami krepitasi dan membuatnya mendesah lega kemudian. Ia menidurkan separuh tubuhnya diatas meja kecil di ruang tengah itu, nyaris mendengkur ketika ia ingat bahwa Jungkook belum pulang. "Oh, astaga –"
"Aku disini."
Tadinya rasa sakit itu sudah sirna, Taehyung hampir berlari kalang kabut lagi jikalau Jungkook tidak bersuara dengan nada beratnya. Ia menghela napas lega, syukurlah bila adiknya sudah pulang dengan selamat. Semalaman ia tak bisa tidur nyenyak, pikirannya penuh dengan Jungkook di sana. Adiknya memang sudah mengatakan untuk menginap di rumah temannya, tapi Taehyung tidak bisa santai-santai saja meski ia mengijinkan Jungkook pergi. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia tidak mau. Ingin rasanya ia menyuruh teman-teman Jungkook mengerjakan tugas mereka disini. Tapi ia pun tahu diri, jika ia tidak boleh mempermalukan Jungkook lebih dari ini. Jungkook harus memiliki teman. Dan Taehyung tidak boleh egois ataupun kalah dari rasa takutnya. "Bagaimana tugasnya?"
"Berjalan baik," Jungkook menyuguhkan teh hangat, membuat Taehyung mengernyitkan dahinya. "Minum saja, aku tahu kau lelah. Begini pun aku masih punya hati." Ucapnya, nyaris tersendat kala melihat Kakaknya menatapnya berbinar dan mata berkaca-kaca. Kenapa pula Taehyung bisa begini manis dan menyedihkan di satu waktu, membuat Jungkook merasa sedikit sakit. "Apa pekerjaanmu baik-baik saja... hyung?"
Agak aneh mendengarnya, tapi Taehyung senang. "Ya! tentu saja, aku bertemu banyaaak sekali pengunjung. Mereka bermacam-macam; judes, murah senyum, pemalu, cuek, galak, bahkan yang menggombal pun banyak. Lelah sekali jadi pelayan, harus menunggu pesanan, kesana kemari, membawakan pesanan yang tak terhitung jumlahnya, bahkan kami yang membersihkan meja, ah, rasanya... pinggangku mau patah," tanpa sadar ia berceloteh banyak. Nyaris lupa dengan tehnya yang hampir dingin termakan waktu. Nadanya ceria sekali sebab terlalu senang. "Tapi,"
Taehyung menggantungkan kalimatnya. Jungkook menautkan alisnya bingung dan menatap Kakaknya yang tersenyum lembut sekali. " –melihatmu ada di rumah dengan baik-baik saja, aku senang. Capek dan pegalku sirna semua. Hilang seperti disulap begitu saja."
Oh. Pandai sekali Taehyung membuat Jungkook berdegup.
"Apaan, sih, kau ini." Jungkook mengusak rambutnya sendiri. Kemudian bangkit dan menatap Taehyung, "Kau sudah makan belum?" ia melirik jam dinding. Berdecih geli saat pikiran konyolnya sebenarnya sudah tahu jawabannya secara pasti. Entah kenapa ia melakukan hal aneh ini. "Ini sudah jam sebelas. Kubunuh kau jika menjawab belum."
Taehyung tersenyum lagi, "Mau ramen?"
"Hashh," Jungkook mengusak rambutnya lagi. "Terserah. Dengan kimchi atau telur?"
Taehyung nyengir, nyaris membuat Jungkook menciumnya gemas. "Kimchi!"
.
.
Dengan semangat, Taehyung menggenggam sumpit. Mendekatkan tubuhnya ke meja begitu Jungkook datang menenteng sepanci ramen yang baru saja matang. Terkekeh senang sekali, sudah lupa dengan rasa pegal mematikan dan kantuknya. Bergumam ceria begitu Jungkook membuka tutup panci dan uap panas nya menampar wajah Taehyung, bersamaan dengan aroma pedas gurih dari kuah ramen yang berwarna oranye pekat dan meletup-letup, sukses membuat Taehyung semakin kelaparan. "Selamat makan~"
Jungkook berdecak kala Taehyung menggunakan tutup panci sebagai piringnya. Ia menghela napas kemudian mengambil mangkuk kecil dan menuangkan ramen di mangkuknya sendiri. Melahap ramen begitu antusias begitu sadar rasanya enak sekali. Ia masih mengunyah ketika Taehyung meletakkan kimchi di mangkuknya dan tersenyum. Bibirnya belepotan kuah dan kotor disana. "Makanlah dengan baik, Kookie. Meski hanya dengan ramen dan kimchi, sehatlah selalu."
"Ya, tentu," Jungkook agak lama memproses maksud ucapan Taehyung. "Kau –maksudku, hyung juga, jangan sampai sakit dan merepotkan aku. Kerjalah dengan baik, aku tidak mau dengar seribu alasan kau dipecat lagi. Kelak aku ingin kita sama sekali tidak memiliki satu pun bungkus ramen di lemari penyimpanan makanan. Kau tahu, makanan ini tidak baik untuk kesehatan."
"Ah, aku tahu." Taehyung menyeruput kuahnya. Sedap sekali. "Aku akan berusaha keras untukmu Kookie. Jangan khawatir, aku sudah berjuang sedemikian rupa. Aku tidak ingin kau kecewa lagi, pokoknya sehat selalu. Kau pasti bisa kuliah di Amerika!"
Terdengar mustahil, tapi Jungkook diam saja.
Sebenarnya Jungkook tidak begitu lapar. Maka dia hanya cukup makan semangkuk kecil. Ia kemudian minum air dan hanya diam melihat Taehyung makan begitu rakus. Liar dan lahap. Nyaris seperti orang kelaparan sejak dua hari. Sempat terbesit dalam pikirnya, apakah sebenarnya Taehyung memang sebegini lapar? Apakah Taehyung memang sebegini lelah? Apakah Taehyung benar-benar bekerja dengan begitu kerasnya hingga ia tak peduli apabila kakinya patah ataupun lambungnya mengkerut? Melihatnya makan begini gila, sedikit banyak membuat Jungkook sakit. Dari segi manapun, Taehyung memang terlihat menyedihkan. "Kau tidak makan?"
"Sudah, tadi." Jungkook tersentak dari lamunannya. "Habiskan saja,"
Taehyung mengangguk, lanjut makan begitu girangnya. Jungkook terpekur saja menatapnya. Rasa iba itu muncul lagi dalam dadanya. Sialan, buat apa dia begini melankolis. Toh, sejak dulu memang mereka sudah terbiasa dengan kelaparan. Makan satu kali sehari saja sudah bersyukur, buat apa dia merasa begini kasihan. Lagipula Jimin tidak mungkin tega membiarkan Taehyung kelaparan. Ia tahu kalau Jimin adalah manusia baik hati. Taehyung tidak mungkin kekurangan makan; curang. Bahkan Jungkook harus mengemis pada Seokmin agar ia dibelikan makan. Taehyung mana bisa memberinya bekal atau uang saku, Jungkook akan sujud syukur bila pun terjadi. "Kau melamun, Kookie."
"Uh? Oh... tidak apa,"
"Ada sesuatu yang mau kau tanyakan?"
Sebenarnya ada. Tapi ia tidak tahu harus dimulai dengan percakapan seperti apa, ia bingung harus mengungkapkannya bagaimana. Tapi... ia penasaran juga. "Ayah kita... seperti apa dia?" dan akhirnya Jungkook bersua. Meski hening menjawabnya. Taehyung terdiam dan menatap Jungkook dengan raut tak terbaca, entah apa artinya. Matanya kosong dan pikirannya mengawang jauh kemana-mana. Ia menghentikan pergerakan tangannya di udara. Terasa seperti waktu berhenti seketika. Dan disana Jungkook mengernyitkan dahinya, bingung dengan reaksi Kakaknya yang aneh. "Kenapa diam? Apa Ayah juga meninggal... sebelum hyung lahir, makanya hyung tidak tahu?"
"Hyung?" Jungkook sedikit sebal dengan diamnya Taehyung. "Ah... Kookie, itu –hanya saja,"
"Hanya saja...?"
Taehyung mengerjapkan matanya. Memutus kontak mata dengan Jungkook dan meneguk ludahnya berat kemudian melahap ramennya lagi, mengunyahnya begitu lambat sebab rasanya mendadak jadi hambar bersamaan dengan hatinya yang turut hampa. "Kenapa kau mau tahu? Sebelumnya –sebelum ini kau tidak pernah tanya, maksudku, bahkan kau jarang menanyakan perihal Mama. Mendengarmu bertanya soal Papa membuatku... terkejut," ungkap Taehyung. "Kupikir, ini pertama kalinya dalam tujuh belas tahun kita bersama kau bertanya Papa itu orang yang bagaimana. Aku... tidak marah, hanya terkejut tapi –entahlah,"
Jungkook terus menunggu. "Kurasa aku tidak tahu harus menjawabnya bagaimana."
"Maksudmu?"
"Aku tidak tahu," Taehyung mengucapnya begitu lambat. Seiring dengan nafsu makannya yang lambat laun hilang. Ia sudah melepas genggamannya pada sumpit besi. Menunduk begitu dalam dan perlahan mundur kemudian bangkit dengan gontai. Sedangkan Jungkook hanya diam memerhatikan. "Maaf aku tidak bisa menjawabnya, Kookie. Tapi mungkin dia orang yang baik, juga gagah, tampan, dan... baik."
Kemudian Taehyung berjalan ke kamarnya dalam diam. Jungkook pun tak menahan kepergiannya, ia terlalu bingung dengan maksud Kakaknya. Otaknya masih lambat dalam mencerna ucapan Taehyung, namun ia hanya diam. Menatap ramen yang sudah dingin dan tersisa sedikit. Kenapa Taehyung nampak seperti menyembunyikan sesuatu? Apabila memang Papanya sudah meninggal, lalu kenapa? Mereka sudah dewasa dan Jungkook bisa menerimanya. Kenapa Taehyung terlihat tidak bahagia membicarakannya? Jauh saat Jungkook berumur delapan, ia ingat, betapa ceria Taehyung menceritakan soal Mama kepadanya yang kala itu bertanya 'Bagaimana Mama waktu hyung masih kecil?'. Matanya berbinar, terang, gerakannya aktif, penuh senyum dan tawa. Berbeda ketika ia menyebut Ayah, kemurungan yang ia dapat. Terbesit dalam benaknya, apakah Ayahnya dulu jahat?
Tidak, Taehyung bilang, Papa itu orang baik.
.
"Mama adalah perempuan hebat! Mama pandai memasak, menjahit, dan bernyanyi!" Taehyung menceritakkannya menggebu sambil terus menyuapi bubur untuk Jungkook yang sedang demam. Wajahnya memerah lucu dan ingusnya terus terjun. "Suara Mama baguuuus sekali, kata Jiminie suara Mama seperti kicauan burung gereja. Ah, dia bahkan lupa kalau Mama itu ketua paduan suara di Gereja. Ah, dan Mama itu kuat sekali! Membawa barang belanja sepuluh kilo pun bisa!"
Mata Jungkook membulat. "Sepuluh kilo? Mama beli apa saja?"
"Belanjaannya sih tiga kilo," Taehyung nyengir, mencubit hidung adiknya. "Tapi aku minta gendong, dan beratku saat itu masih tujuh kilo –atau delapan, ya? lupa, hehehe. Pokoknya, Mama kuat sekali, Kookie! Mama memang hebaaat sekali!"
"Hebat~!" Jungkook mengangguk kuat, bertepuk tangan riang. "Kalau begitu, Mama itu superman?"
Taehyung tertawa hebat sekali, mengusak rambut Jungkook begitu riangnya. Meletakkan mangkuk bubur yang tersisa sedikit dan memeluk Jungkook erat dan memekik gemas. Jungkook menjerit geli sebab Kakaknya turut meremas perut buncitnya dan mengendusi pipi juga lehernya. "Jungkookie, Jungkookie, superman itu hyung! Kim Taehyung adalah Superman, kalau Mama, namanya SuperMama! Ayo, bilang yang benar, Kookie!"
"Taetae hyung adalah Superman!" Jungkook menepuk pipi Kakaknya. "Mama adalah SuperMama!"
.
Jungkook keluar dari ruang guru dengan raut kusut. Ia menghembuskan napas lemas, kepalanya serasa dihantam begitu kuatnya. Jemarinya ia kepal erat-erat hingga memutih, hatinya terus mengutuk penuh dengki pada pemuda yang membuatnya merasa semarah ini. Oh Sehun, pria yang cukup membuatnya lelah menghadapi hidup. Sialan memang pemuda licik itu. "Terkutuk kau, bangsat."
"Untuk siapa, itu?"
Suara itu benar-benar terdengar menggelikan. Jungkook mendelik sebal, kepalannya semakin kuat seiring dengusan napas kesal yang ia keluarkan tatkala melihat seringai konyol dari wajah Oh Sehun dihadapannya, berdiri angkuh dan tidak tahu diri. "Kau, brengsek. Seluruh umpatan dan caci maki yang keluar dari mulutku, khusus untukmu, keparat bangsat."
"Ah, Kelinci~" Sehun mengelus kepala Jungkook lagi, namun cepat ditepis empunya. "Kau –maksudku kita, tepat berada di depan ruang guru. Aku tidak bisa menolongmu apabila kau diberi peringatan satu tentang mengucap kalimat kotor. Lagipula, mendapat nilai C dalam presentasi, bukankah sudah cukup memalukan bagi siswa berprestasi sepertimu, Kim Jungkook?"
"Apa maumu, Sehun sialan?"
Sehun membungkam mulut Jungkook dengan telunjuknya. "Kau ini agresif sekali. Mari bicara ditempat yang lebih tenang? Yang jauh dari keramaian, dan dimana kita bisa bernegosiasi," Sehun menyeringai lagi kemudian mendorong bahu kurus Jungkook pergi bersamanya. Terkekeh kecil menyadari bahwa Jungkook cukup menurut padanya. Seperti anak kecil yang selalu berkata iya, pada seluruh perintahnya. Dan itu membuat Sehun senang bermain dengan Jungkook. "Hei, kawan. Aku minta maaf soal kemarin, kau tahu, alkohol mengendalikan semuanya."
Dihadapannya, Jungkook mendengus. "Kau nyaris membuat rahangku patah, brengsek. Dan apa-apaan cocktail kemarin itu, ha? Kau pasti sengaja memesan dosis tinggi untukku!" ajunya marah. Ia kesal luar biasa, sudah tidak tertahankan lagi. Sejak dulu, Oh Sehun memang senang membuatnya marah. "Dan kau ingkar! Aku sudah menuruti kemauan konyolmu itu tapi apa balasanmu? Kau tidak mengerjakan bagianmu, apa-apaan ini? kau pikir tugas ini hanya mainan?!" Jungkook mencengkeram kerah seragam Oh Sehun yang mengilat. "Katakan padaku; apa kau sedang mempermainkanku?"
"H-hei, tenang, bung." Sehun melepas cengkeraman Jungkook begitu mudahnya. "Aku lupa, okay? Aku terlalu asyik kemarin malam, lagipula aku tidak seluruhnya tidak mengerjakan –"
"Kau hanya menuliskan judul Bab, bodoh!"
Sehun tertawa renyah, "Okay, sorry. Aku benar-benar lupa, kelinci." Kemudian mengelap bagian kerah seragamnya dengan congkak dan menatap Jungkook begitu licik, menyeringai, dan geli. "Lagipula, kau hebat sekali semalam. Kutebak, itu pertama kalinya kau menegak alkohol? Kuakui, kau hebat juga. Butuh waktu lama bagiku untuk memiliki toleran tinggi, dan kau –lumayan,"
"Itu karena aku memang lebih hebat ketimbang kau."
"Makanya, ikutlah denganku." Ujarnya kemudian, yang dibalas kernyitan tidak mengerti di dahi Jungkook. Apaan pula maksud pemuda ini; ikut kemana maksudnya? "Aku mengundangmu secara ekslusif ke klubku, silahkan minum sepuasnya dan akan lebih menyenangkan lagi untukku apabila kau bersedia tidur bersama jalang-jalang disana."
Tanpa diduga, secepat kilat Jungkook melayangkan bogeman. "Kau pikir aku semurah itu? Aku tidak sama dengamu, kau pikir kau hebat sebab bisa minum-minum dan seks dengan wanita yang bahkan entah kemana keperawanannya? Kau salah. Kau itu murah, Oh Sehun. Kau justru tidak jauh beda dengan para budak seks didalam sana, bermain hanya karena nafsu dan uang semata. Kau yang jalang, Oh Sehun."
"Ck, omong kosong." Sehun terkekeh miris. "Kau belum tahu rasanya, sudah berani menggurui."
"Aku tidak perlu tahu,"
Kemudian Sehun mengusak rambutnya yang berantakan. "Ah, aku lupa kau ini anak mami. A crybaby, yah, anak sepertimu memang tidak tahu apa itu hidup," kemudian tertawa kala menangkap Jungkook menatapnya sedikit kaget dan penasaran. Wajahnya kentara betul ingin tahu apa yang Sehun utarakan, begitu manis dan lucu –mudah tertipu. "Aku bahkan ragu kau sudah mimpi basah atau belum,"
"Kau ini cari mati, ha?!"
"Makanya, ikut denganku." Sehun menegaskan, ditatapnya Jungkook yang tengah bernapas pendek-pendek. Meski bola matanya tetap memancarkan keingintahuan yang utuh, rasa penasaran itu terus membumbung dihatinya ingin meledak. Dan Sehun tahu. Ia mengeluarkan kartu nama dirinya yang merupakan CEO dari Wings Club, menyodorkannya pada Jungkook. "Datanglah kapanpun kau siap, akan kusambut kehadiranmu dengan sukacita. Mari minum bersama, dan warnai hidup dengan manisnya alkohol. Bukankah indah, Kim Jungkook?"
Tidak ada yang bisa diselamatkan lagi dari nilai buruknya pada presentasi Sejarah. Sialnya, ini terjadi karena Oh Sehun dan tetek bengeknya yang kurang ajar telah membohonginya. Jika dipikir, betapa bodoh Jungkook telah percaya begitu saja pada sekumpulan serangga seperti mereka. Buat apa pula berharap mereka dapat mengerjakan tugasnya, jika tugas mereka sendiri saja selalu terbengkalai. Sialnya, Jungkook tidak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya dengan cara apapun. Padahal dia tengah giat untuk mengoleksi nilai bagus untuk beasiswa. Dan mendapat nilai C sungguh membuatnya muak bukan main; bagaimana jika ini terhitung di raport? Ah, sialan Oh Sehun itu.
Jungkook terus melangkah dengan sebal. Sampai tahu-tahu ia berhenti di depan restoran pasta yang nampak mewah sekali. Ia berdiri tepat di depan jendela kaca besar, terdiam menatap dua orang pria yang asyik makan dan berbincang penuh canda. Mereka memesan spagethi bolognese dan lasagna. Jangan tanya darimana Jungkook tahu meski ia menyentuhnya saja belum pernah. Lama sekali ia menatap makanan lezat itu kemudian memerhatikan bagaimana interaksi kedua pemuda itu. Begitu hangat dan penuh tawa. Bertabur pelukan dan rasa asih yang luar biasa. Ia memang tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan tapi ia bisa menangkap gerak bibir pemuda yang nampak lebih muda disana, tertawa lebar dan memanggil pemuda satunya dengan 'hyung'.
Ah, Kakak Beradik.
"Seandainya Taehyung juga begitu," gumam Jungkook. Kemudian ia segera tersadar akan pemikiran konyolnya. Buat apa ia berpikir seperti itu. Tentu dia tidak akan mampu bahkan untuk menjadi petugas kebersihan di restoran semewah ini; apalagi makan di dalam sana. Tidak mau disangka orang aneh, Jungkook lantas pergi dari sana. Nyaris terjungkal begitu ia mendapati Ayah Jihoon tiba-tiba berada di hadapannya. Mengenakan coat hitam panjang yang nampak dewasa sekali, kemudian tersenyum begitu manis dan sesuai kadarnya. Tanpa sadar membuat Jungkook mendekat meski kakinya gemetar mendadak, "Paman?"
"Ya," Ayah Jihoon tersenyum lagi. "Kau lebih suka Dunkin Donuts atau Starbucks?"
Entah apa itu, Jungkook tidak tahu. "N-ne?" kalau tidak salah, itu nama tempat minum kopi yang harganya lumayan mahal? Tapi kenapa ia bertanya pada Jungkook; mana pernah ia pergi ke tempat seperti itu. Tahu bentuknya saja tidak, ah, sial –ia pasti nampak bodoh saat ini. "Ah, tidak. Tidak. Kau nampak kurus, Dunkin Donuts bukan pilihan bagus. Kalau begitu, Mc Donalds! Ya, benar, Mc Donalds memang sebuah jawaban yang tepat untuk semua masalah."
Jungkook terperanjat begitu Ayah Jihoon menarik lengannya masuk mobil. Ia hanya mengerjap pelan, menunggunya turut masuk mobil usai menutup pintu untuknya. Kemudian kata-kata tertahan begitu saja tatkala Ayah Jihoon duduk dan seluruh aromanya menyeruak di dalam sana. Membuatnya terpejam sesaat menikmati harumnya yang khas dan memabukkan. Namun ia tersadar ketika mobil mulai bergerak maju. "Uh... Paman, kita mau kemana?"
"Hm? Mc Donalds!" ujarnya riang, berbanding terbalik dengan Jungkook yang masih bingung. "Kau pasti belum makan, 'kan? Kebetulan aku pun melewatkan makan siangku, jadi, aku benar-benar lapar. Ditambah melihatmu berdiri konyol di La Pasta membuatku sedih." Kemudian wajah Jungkook memerah malu. Ternyata ia benar-benar nampak konyol tadi, sialnya, Ayah Jihoon melihat ekspresinya dan menganggapnya seperti pengemis. "Karena kopi dan donut tidak akan membuatmu kenyang, jadi mungkin burger dan kentang bisa? Ah, tapi kau suka Mc Donalds, 'kan? Masih ada waktu untuk menentukan sesuai keinginanmu,"
Setiap untaian kata yang keluar dari Ayah Jihoon begitu menggelitiknya. Rasanya hangat dan mendebarkan, bahkan ia sempat memberi kesempatan bagi Jungkook untuk memilih padahal ia pun tidak meminta. Ayah Jihoon memang benar-benar malaikat. "T-terserah Paman saja," akhirnya ia memilih menurut dan diam. Lagipula ia tidak pernah mencoba Mc Donalds, apakah itu enak? Entah kenapa pemikiran konyolnya berkata, jika Ayah Jihoon bilang itu pilihan tepat, maka pasti benar-benar enak. Yah, entah kenapa Jungkook tiba-tiba menyukai Mc Donalds.
"Ayo," sampai tahu-tahu Jungkook sudah berada di dalam Mc Donalds. "Kau mau pesan apa?"
"Uh... apa saja,"
Sebab Jungkook tidak tahu apa yang harus dipesan. Tahu menunya saja tidak. "Kalau begitu, aku akan cari tempat duduk saja," usul Jungkook kemudian. Ayah Jihoon mengangguk dan Jungkook segera menjauh, mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka. Hingga akhirnya ia memilih yang dekat jendela besar dan berada di sudut. Ah, sial, apa ini terlihat ambigu? Ia harap tidak, toh, hari ini Mc Donalds penuh sesak dengan orang-orang. Ia pun menunggu bersama degup jantungnya yang kian menggebu. Kemudian menoleh dan matanya berbinar menatap apa yang Ayah Jihoon bawa diatas nampannya. Banyak dan nampak enak, membuat Jungkook terperangah kagum. "Kau memilih tempat yang bagus," puji Ayah Jihoon yang kemudian membuat Jungkook nyaris tersedak. "Ah... aku hanya asal memilih saja, disini ramai sekali. Mm, Paman lapar sekali, ya? Banyak sekali yang dipesan."
Dihadapannya, Ayah Jihoon tertawa usai menegak cola. "Aku cukup sadis saat makan. Jadi, beginilah. Apalagi kalau sudah dengan McD, aku –ah, kadang aku menyesal di akhir begitu sadar aku telah menghabiskan banyak uang hanya untuk burger." Kemudian Jungkook ikut tertawa. "Tapi, aku tidak merepotkan Paman, kan? Aku... tidak begitu lapar, kok. Paman saja yang langsung menyeretku kemari tanpa tanya dulu."
"I'm okay," ujarnya kalem. Menyuguhkan burger ke hadapan Jungkook. "Double Mc Spicy; satu dari yang terbaik dari Mc Donalds. Kuharap kau suka sesuatu yang pedas, sebab rasanya luar biasa!"
Jungkook terkekeh, "Tentu. Aku berterima kasih,"
Sejak awal mereka bertemu, Ayah Jihoon memang orang yang baik. Lembut pada tiap ucapan maupun tindakan, penuh kasih sayang, dan humoris. Ayah Jihoon adalah orang yang menyenangkan diajak bicara dan berdiskusi. Poin tambahan, wajahnya benar-benar tampan hingga Jungkook tercekat dalam pesonanya. Bahkan kalau Jungkook tidak ingat pria ini sudah punya anak, mungkin ia pikir pria ini masih dua puluhan. Wajahnya terawat dan bersih, mulus nyaris sempurna, rahangnya tegas, matanya tajam, bibirnya pas, dan lesung pipi itu membuat Jungkook terus menerus menatapnya kagum. Manis dan gagah dalam satu wujud. Keramahannya yang membuatnya luluh di satu waktu. "Kenapa Paman mengajakku kemari, dan tidak bersama Jihoon?"
"Ah, dia menghubungiku kalau ada latihan paduan suara," ia menjawab kalem. Kemudian menggigit burgernya lebar-lebar dan mengunyahnya rakus. Suaranya terdengar lucu saat menggilas habis roti dan daging itu. "Kalau hari Rabu dan Jum'at, memang jadwalnya latihan di Gereja." Lanjutnya kemudian, "Dan aku butuh teman makan, lagipula, bukankah kau sendiri yang mengajukan diri sebagai anakku?"
Pertanyaan itu membuatnya tersedak.
Jungkook tersenyum canggung, "Dan setelah kupikir, ide yang bagus. Setelah ini mungkin aku tidak akan kesepian ketika pulang bekerja untuk mampir makan malam," Ayah Jihoon mengunyah french friesnya nikmat, kemudian mengemut jari panjangnya untuk menghilangkan remah garam disana. "Belakangan ini Jihoon jadi super sibuk, dia bilang ada kompetisi Lomba Biologi atau apa, yang diselenggarakan di Sekolah Hangeuk itu. Dia sudah minta ijinku untuk berpartisipasi, Ayah mana yang akan menolak, bukan? Aku mendukungnya, jadi mungkin Jihoonie sedang giat belajar untuk itu."
"Ah, ya. Wali kelas kami yang mengajukannya." Jungkook bersua. Ditatapnya Ayah Jihoon yang tenang meminum colanya. Jakunnya naik turun begitu lambat dan seksi. Jungkook menatapnya lama hingga ia nyaris merasa sesak napas. "Aku tidak masalah, jika bisa membantu Paman. Aku tidak punya jadwal tambahan di luar sekolah, begitu sekolah berakhir, aku akan langsung pulang."
"Tidak ada les?" Ayah Jihoon bertanya heran. Jungkook menggeleng pelan, "Kakakku tidak punya uang banyak untuk itu. Bisa makan dengan baik saja sudah bersyukur, lagipula aku tidak membutuhkannya. Aku bisa belajar darimana saja, aku punya Seokmin yang pandai Biologi dan Mingyu yang mahir matematika. Aku cukup oke dalam pelajaran yang lain, tapi aku masih belum punya teman yang jago bahasa Inggris, aku benar-benar payah dalam bahasa itu," Jungkook tertawa. "Terdengar seperti bukan bahasa manusia. Aku sedikit pun tidak mengerti apa yang diucapkan."
Ayah Jihoon terkekeh geli. "Aku lumayan bisa bahasa Inggris, kalau kau mau tahu."
"Benarkah?" Jungkook melebarkan bola matanya riang. "Aku bisa bertanya padamu, seonsaengnim?" tanyanya penuh nada gurau. Membuat mereka berdua tertawa lepas, seketika lupa dengan jantung yang berdetak begitu gemuruhnya. Membawa mereka pada seribu candaan dan perbincangan seterusnya, yang terasa tanpa ujung dan kian tersambung. Hingga Ayah Jihoon mengambil tissue dan menangkup wajah Jungkook yang sedang asyik tertawa tadi. Membuatnya bungkam tak berkedip, hingga jemarinya kemudian bergetar kala Ayah Jihoon mengelap sudut bibir Jungkook yang belepotan saus. Kemudian bengong lagi saat Ayah Jihoon tersenyum lembut. "Makanmu cukup berantakan,"
"Ah... Maaf,"
Lagi, Ayah Jihoon tertawa menanggapinya. "Tidak masalah, kau lucu saat wajahmu penuh saus."
Ah, entah kenapa Jungkook menyukai kata lucu mulai saat ini.
Pukul tujuh pagi, dan Jungkook sudah berangkat sekolah. Setelah sempat minum susu hangat buatan Taehyung yang entah kenapa rasanya nikmat sekali. Mungkin karena akhir-akhir ini ia merasa senang, sesuatu dalam dadanya sering bergemuruh dan meluap-luap. Terkadang ia heran, mengapa ia bisa begini konyol seperti anak perempuan. Bahkan penyebabnya adalah seorang Ayah dari temannya sendiri, sering ia merasa bahwa perasaan gila ini adalah bodoh. Mana mungkin ia menyukai Ayah Jihoon, sebab Demi Tuhan, meskipun ganteng dan oke, Tuan Lee sudah punya anak. Bayangkan jika mereka menikah, apa sudi Jihoon memanggilnya Mama?
Apa yang kau pikirkan, Kim Jungkook?
"Kurasa aku sudah gila," gumamnya usai sadar atas pemikiran bodohnya. Kemudian menghembuskan napas pelan dan kembali menuruni anak tangga yang tak jua habis. Sampai ia berhenti dan menganga seperti dungu ketika mendapati mobil yang luar biasa ia kenal. Dengan pria tinggi yang tubuhnya terbalut kemeja ketat warna hijau pastel, bersandar pada badan mobil, wajah menengadah menantang cerahnya langit dan menggenggam segelas kopi yang masih beruap. Jungkook menatapnya tanpa berkedip bahkan untuk sedetik. Malah gemetar tatkala pria itu menoleh dan tersenyum, melepas kacamata hitamnya dan berdiri tegak menghadapnya. Jungkook pun meneguk ludahnya pahit dan melangkah mendekat. "Paman Lee?"
"Ya," dia menjawab demikian. "Selamat pagi, Jungkook."
Kendati merasa jantungnya kembali tak normal, Jungkook salah tingkah. "A-apa yang Paman lakukan disini?" ia celingukan sebentar, matanya memicing kedalam mobil. "Jihoon bersama Anda?"
"No," dia menjawab singkat, meletakkan tangannya di bahu Jungkook dan menggiringnya mendekat. Menambahkan senyuman lembut yang hangat dan manis. "Jihoonie sedang ada seleksi untuk lomba di Sekolah Hangeuk, dia pergi pagi sekali. Aku kemari untuk mengantarmu ke sekolah," ujarnya kalem namun membuat Jungkook sesak menahan napasnya. Aromanya di pagi hari begitu pekat sampai Jungkook pusing tenggelam dalam wangi yang memabukkan ini. "Masuklah,"
Jungkook mengangguk cepat, wajahnya konyol sebab ia belum sempurna memproses apa yang barusan terjadi padanya. Ia tidak mengira jika Ayah Jihoon akan menjemputnya seperti ini. Dengan tampilan sekeren tadi, juga mendadak seperti ini. Bahkan Jungkook yakin, parfumnya pagi ini sedikit ditambahkan. Penciumannya cukup tajam, dan aroma Ayah Jihoon sedikit lebih pekat dibanding biasanya. Sialnya, ini membuat Jungkook nyaris mati oleh seluruh kesempurnaan dalam diri Ayah Jihoon yang luar biasa memikat. Kemudian ia segera masuk ke dalam mobil. Hendak menutup pintu sebelum Ayah Jihoon justru menarik pintunya lagi dan Jungkook hampir terjatuh dari sana. Mata mereka bertemu dan Jungkook tidak bisa lebih dari gugup saat ini. "Buat apa kau duduk dibelakang bila kau bisa duduk disampingku, Jungkook?"
Suaranya terdengar sedih dan dingin. "Keluar dari sana, dan duduk di sebelahku."
"Ah... Tentu," Jungkook masih dalam keadaan blank. Kemudian turun dan segera duduk di depan, tepat di sebelah sisi pengemudi. Matanya melirik takut pada Ayah Jihoon yang menatap jalan dalam diam, serius, dan sedikit berkurang kehangatannya. Jungkook menggigit bibir, apa ia barusan salah? Rasanya tidak begitu berarti jika hanya salah persepsi untuk tempat duduk. "Maaf ya, membuatmu terkejut,"
Barulah Jungkook berani menatap mata Ayah Jihoon kembali.
"Ah, tidak apa," ia menjawab sekenanya. Ayah Jihoon tersenyum lembut, "Kurasa yang barusan cukup berlebihan. Aku minta maaf, ya." ia mengatakannya begitu sungguh-sungguh hingga Jungkook merasa dirinya kembali tersedot kedalam pesonanya. Sialan, bahkan saat memelas dan meminta maaf saja rautnya tetap tampan dan membuatnya luluh begitu mudah. "Sebab kau bukan orang asing bagiku, jadi tidak ada hak untukmu duduk di belakang seperti tamu. Kau layak duduk disampingku sebagaimana Jihoon biasa berada. Hanya itu saja, selebihnya karena aku terkadang berlebihan menyikapi sesuatu. Tapi kuharap itu tidak membuatmu benci padaku,"
"T-tidak, kok!" Mana mungkin aku membencimu, tampan.
Ayah Jihoon tersenyum lagi kemudian mengelus kepala Jungkook dengan lembut. Segera mengemudikan mobilnya dengan tenang menuju sekolah. Sesekali menyelipkan bahan diskusi yang menemani keheningan selama perjalanan. Juga Jungkook yang memekik girang saat tahu Ayah Jihoon memutar lagu G-Dragon sebab ia cinta mati pada sosok idola yang keren semacam dia. Disanalah bermula perbincangan tiada henti dan karaoke dadakan seiring perjalanan. Terasa menyenangkan dapat membunuh waktu seperti ini. "Sudah sampai," Jungkook mengangguk. Waktu memang cepat berlalu jika digunakan secara optimal.
Baru saja Jungkook pamit dan hendak turun, sebelum Ayah Jihoon menahannya. "Sebentar," katanya, kemudian mengeluarkan ponsel dan menelpon satu dial yang ada di kontaknya. Tak berselang satu menit hingga ponsel Jungkook bergetar dalam saku celananya. Jungkook melirik Ayah Jihoon kemudian melihat ponselnya. Dahinya berkerut kala menemukan nomor tanpa identitas disana. Ia kembali menatap Ayah Jihoon yang tersenyum penuh arti. "Itu nomorku,"
"T-tapi..." Jungkook menggigit bibirnya kuat. "Tahu nomorku darimana?"
"Jihoonie yang memberikannya." Jawabnya kalem, kemudian mematikan sambungan. Kembali menyimpan ponselnya kedalam saku celana dan menatap Jungkook yang sibuk degan ponselnya. Masih dengan gigitan di bibirnya yang gugup, Jungkook segera menyimpan nomor berharga itu. Kemudian jemarinya terhenti pada opsi editing kontak. Dengan pelan menoleh pada Ayah Jihoon yang senantiasa menatapnya penuh senyum. "Aku –itu, harus kusimpan dengan nama Tuan Lee... atau...?"
Dengan cepat ia menjawab, "Namjoon."
"N-ne?"
Ayah Jihoon tersenyum lagi, mencubit hidung Jungkook gemas. "Aku baru ingat kau belum tahu namaku, ya, Jungkook?" ia kemudian tertawa atas kebodohan kecilnya. Menatap Jungkook yang mengerutkan dahi kebingungan. "Simpan dengan nama Lee Namjoon."
Meskipun sering berpartisipasi dalam banyak lomba, Jihoon tetap lelah dan tidak biasa. Mengikuti kelas tambahan seringkali membuatnya mual. Begitu banyak rumus, kosakata, ilmu, dan substansi yang membuatnya pening. Namun ia tidak bisa membiarkan tatapan memelas Guru Han yang memintanya untuk ikut lomba ini itu. Tahu begini, sejak awal Jihoon diam saja pur-pura bodoh. "Kepalaku –ah, rasanya kepalaku sudah bertambah berat satu kilo."
Kelas telah berakhir. Sejak ia lulus tahapan awal seleksi lomba di Sekolah Hangeuk, semua langsung membombardirnya dengan materi. Kelasnya jadi intensif dan Jihoon jadi jarang di rumah, bahkan memiliki waktu senggang untuk tidur nyenyak saja tidak bisa. Memang lomba yang hanya ada setahun sekali itu cukup bermutu dan bergengsi, sebuah keajaiban jika bisa mengikutinya –lebih, menang dan membuat nama sekolah jadi lebih baik. Jihoon melihat arlojinya, masih pukul empat sore. Hari ini ia mendapat kebebasan, tidak ada kelas, tidak ada materi tambahan, tidak ada pembelajaran. Yang jadi permasalahan adalah, justru ia tidak tahu harus berbuat apa. "Oh, Jihoonie!"
Yang dipanggil menoleh, membalas singkat. "Kau sudah mau pulang?" Jihoon berbicara kemudian, menatap teman lesnya yang juga lolos seleksi awal perlombaan Sekolah Hangeuk. Yang diajak bicara mengangguk semangat seraya tersenyum lebar, nyaris merobek bibirnya sendiri. "Kakak sudah janji padaku, kami akan pergi makan bersama di Johnny's Pizza. Dia baru saja pulang dari Jeju, dan aku sudah tidak sabar bertemu dengannya!" ujarnya begitu semangat, nyaris menularkan senyumnya pada Jihoon. Ia menepuk tangannya girang dan tak henti tertawa. "Kalau begitu, aku duluan?"
Jihoon mengangguk. "Jangan biarkan aku menahanmu."
Kemudian ia pergi, Jihoon menatap punggung sempitnya dari jauh. Tersenyum pelan mengingat senyum cerahnya barusan. Mungkin, hanya ia yang tidak memiliki rencana bagus untuk bersenang-senang. Ia merasa konyol, ketika jadwal padat ia meminta ruang. Namun ketika ia mendapat kesempatan, ia justru tidak tahu harus melakukan apa. Seketika ia teringat temannya barusan, yang akan melakukan hal menyenangkan bersama Kakaknya. Dan ia terpekur, mungkin ia juga akan bermain dengan Kakaknya?
.
.
Jihoon berlari kecil. Napasnya megap-megap sebab kelelahan, namun tak menghilangkan kebahagiaan yang membuncah di dadanya. Ia menatap paper bag dalam genggamannya, tersenyum lagi sebab merasa senang. Kemudian mengedarkan pandangan dan duduk di sebuah ayunan yang sedikit reyot termakan waktu. Mengeluarkan bunyi memilukan namun tetap mampu menahan massa Jihoon untuk terduduk disana. Ia memeluk erat paper bagnya, menggerakkan ayunan pelan-pelan, dan tersenyum sembari menunggu.
Kiranya sudah lama ia menunggu.
Entah itu sudah tiga atau lima tahun lalu. Terhitung sudah ia tidak bertemu Kakak tersayangnya. Lama sekali sampai ia merasa luar biasa rindu. Biasanya, pemuda itu akan lewat setiap hari disini. Tapi entah sejak kapan, ia mulai menghilang dari kehidupan Jihoon. Tahu-tahu tidak pernah lewat nyaris lima tahun sampai sekarang. Dan Jihoon tidak bisa tidak merasa sedih sebab kehilangan. Ia rindu sosok manisnya, senyum lebarnya, juga segala afeksi lembut dari tiap usapan jemarinya yang seringan kapas dan memabukkan. Dan untuk pertama dalam tiga tahun terakhir ia tidak menunggu, ia kembali. Terduduk dengan riang dan tersenyum manis. Berharap Kakaknya datang, paling tidak sekali saja.
Dan akhirnya datang.
"Kakak...?" Jihoon memicing, nyaris tidak percaya begitu saja Kakaknya lewat di ujung jalan sana. Ia melebarkan senyumnya dan meloncat turun dari ayunan. Berlari dengan kekuatan maksimal mendekat kesana. Memanggilnya kencang nyaris menangis bahagia. Akhirnya, ia bertemu lagi. "Hyung!" Jihoon lantas semakin kencang berlari sebab yang dipanggil tak menoleh, pun mendengar.
Lantas ia mencekal lengan Kakaknya. Terperangah senang mendapati ini benar. "Hyung!"
Yang ditunggu pun menoleh terkejut. Mendapati Jihoon tersenyum lebar dengan wajah berbinarnya serta mata berkaca-kaca membuatnya terharu dalam sedetik. Kemudian melongo kaget sebab benar ini adalah Jihoon. Ia nyaris tidak percaya dan menutup mulutnya, "Lee Jihoon?" tanyanya memastikan. Kemudian tertawa lebar begitu Jihoon mengangguk mengiyakan. Kemudian Jihoon memeluk Kakaknya begitu senang dan erat. Hampir saja ia sesak kehabisan napas bila Kakaknya tak lantas melepas pelukan itu, mengusak rambut Jihoon dan tersenyum lembut. "Apa kau menungguku?"
"Tentu," Jihoon mengangguk semangat. Kemudian menarik pergelangan tangan Kakaknya, menggiringnya duduk bersebelahan di ayunan tadi. "Aku selalu menunggu, hyung. Tapi sudah tidak lagi dalam tiga tahun terakhir. Aku sibuk dengan banyak perlombaan dan ujian kenaikan tingkat. Sistem pendidikan di Korea sekarang cukup rumit." Keluhnya sejenak, "Tapi aku sedang libur hari ini! dan mungkin intuisiku sedang tajam, sebab entah kenapa aku ingin sekali kemari. Aku marah soalnya hyung hilang begitu saja tanpa memberitahuku kemana kau selama ini," kemudian Jihoon merengut.
Kakaknya tertawa. "Aku punya pekerjaan baru sekarang. Akan jauh jika aku pulang lewat jalan ini."
"Lantas hari ini...?"
"Mungkin kita jodoh?" Taehyung tertawa kecil. "Sebab entah kenapa aku pun ingin kemari."
Jihoon tertawa renyah. "Begitukah? Baguslah, soalnya aku rindu sekali denganmu, hyung." Kemudian mengambil paper bag di bawah kakinya, dan menyodorkannya kepada Kakaknya. Menghadirkan kerutan tidak mengerti disana. Jihoon tersenyum lembut sekali, "Ayo kita makan? Aku lapar~"
"Astaga, kau bukan anak kecil lagi, kan?"
Mereka tertawa, Jihoon mengeluarkan isi paper bag itu. Sekotak pizza ukuran medium dengan topping jamur dan sosis dengan tambahan ekstrak keju dan lada hitam. Satu dari favorit Jihoon dan Kakaknya, mengambil satu potong lantas menyuapkan untuk Kakaknya, "Astaga, aku bisa ambil sendiri, Jihoonie." Kemudian turut mengunyahnya dan terkekeh kecil. Ikut mengambil satu potong dan menyuapkannya pada Jihoon yang dibalas tawa renyah. "Hei, mulutmu belepotan. Sebentar,"
Jihoon tersenyum dalam diam ketika Kakaknya mengelap sudut bibir yang kotor oleh saus dan remah pizza yang berantakan disana. Matanya menelisik wajah Kakaknya yang masih manis dan cantik, begitu memikat dengan mata bulat, hidung tegas, dan bibir tebal merahnya. "Terima kasih, Taetae hyung."
Yang lebih tua tersenyum lembut.
"Omong-omong, pekerjaan apa itu?" Jihoon memulai, kembali mengunyah pizzanya. "Ah, hanya sebagai pelayan di restoran teman lamaku –ah, bukan. Sekarang masih jadi teman, maksudku, sahabat. Kau masih ingat Park Jimin, kan?" dihadapannya, Jihoon mengangguk lucu. Kemudian menyuarakan pendapatnya. Memang jika bersama Taehyung, ia ingin banyak sekali bicara. "Yang baik hati seperti malaikat itu, kan? Yang menemani Taetae hyung bermain dan sekolah? Aku ingat, tapi belum pernah bertemu barang sekali. Kapan-kapan, kenalkan padaku, hyung. Ah, tidak. Berikan aku alamat tempat kerjamu maka aku akan kesana lain waktu."
"Baiklah,"
Jihoon terkekeh senang masih mengunyah pizzanya. "Lama sekali tidak bertemu seperti ini, hyung. Aku sedih tidak bisa melihatmu setiap hari seperti lima tahun lalu." Ujarnya polos, membuat Taehyung menatapnya dengan perasaan bersalah dalam dadanya. Ia tersenyum lirih dan mengusap kepala Jihoon penuh sayang. Menggumam maaf dengan suara pelan namun Jihoon tetap mampu mendengarnya. Ia tidak begitu memusingkan lagi, toh, ia dan Taehyung sudah bertemu sekarang. tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding menghabiskan waktu dengan Taehyung yang sudah lama tak dijumpanya. Seketika rasa penat lenyap begitu mudahnya, berganti dengan semangat yang kian menggebu dalam tubuhnya tanpa henti. "Apa kehidupanmu jauh lebih baik sekarang, hyung?"
"Tentu, kenapa bertanya?" Taehyung mengelap sudut bibirnya. "Aku sudah punya pekerjaan tetap sekarang. mendengarmu begitu aku jadi ingat Jungkook. Terus saja bertanya tentang keadaanku, sering kupikir kalian ini sama. Setipe dan mirip, meskipun dalam penampilan berbeda jauh, sih."
"Jangan samakan aku dengan dia!"
Taehyung hanya tertawa begitu Jihoon merajuk, mengerucutkan bibirnya namun tetap mengunyah pizza dengan suara mencebik lucu. Jihoon memang selalu nampak lucu dimatanya, nyaris sama dengan Jungkook yang sedang ngambek. Menggemaskan sekali sampai Taehyung tidak tahan ingin mencubit pipinya kuat-kuat. "Hyung,"
"Apa?"
Hening sebentar, Jihoon nampak berpikir sebentar sebelum kembali bersua. "Tidak bisakah, kalian tinggal saja bersamaku?" ujarnya penuh keraguan. Matanya melirik Taehyung yang terdiam, membisu dengan wajah datar dan raut tak sedap. Dari sana Jihoon tahu, bahwa ucapannya salah. Tidak seharusnya ia berkata demikian apabila itu berarti menghilangkan senyum di wajah cantik itu. Tapi sering ia pikir bahwa Taehyung layak hidup enak seperti dirinya pula. Mereka sering membahas ini, berawal dari usul Jihoon dan selalu berakhir pada emosi Taehyung yang tidak stabil. Sering mereka bertengkar karena diskusi seperti ini, di satu sisi, Jihoon merasa menyesal sekali. Ia pun tahu harga diri Taehyung sangat tinggi. "Jihoonie, ini sudah lima tahun lamanya," ia memulai. "Dan tidak ada alasan untukku memenuhinya. Toh, aku punya kehidupan yang sudah jauh lebih baik ketimbang dulu. Kau tidak perlu khawatir lagi. Aku sudah besar, dan bertanggung jawab menghidupi Jungkook dengan tangan dan keringatku sendiri. Aku tidak perlu rumah mewah dan kekayaan. Aku bisa menghasilkan uang dengan tenagaku sendiri, meski sulit, aku harus melakukannya seorang diri."
"Kelak, aku akan mengirim Jungkook ke Amerika untuk kuliah," Taehyung tersenyum. "Dan kurasa Mama akan jauh lebih bangga padaku bila itu atas kerja kerasku sendiri, bukan derma dari siapapun. Kau sudah kuanggap adik sendiri, Jihoonie. Aku senang bisa bermain dan menghabiskan waktu denganmu tapi aku tidak bisa merepotkanmu lebih dari lima tahun lalu. Aku sudah lewat dua puluh lima, akan memalukan bila aku masih bergantung pada seseorang untuk bertahan hidup."
"Hyung –"
Buru-buru Taehyung menyela, "Aku bahagia hidup begini. Aku sudah janji pada Mama dan Jungkook agar hidup lebih baik. Bekerja lebih giat supaya keuangan kami membaik. Bila Jungkook bisa kuliah di Amerika, jelas ia akan menjadi batu loncatan untuk kehidupanku pula." Ia mengelus rambut Jihoon yang beraroma mawar. "Hei, jangan tunjukkan wajah seperti itu –astaga, kau membuatku tidak tega." Lantas memeluk tubuh mungil Jihoon yang terlihat sangat menggemaskan.
"Aku oke, Jihoonie." Ujarnya meyakinkan. "Kalau kau sudah seumurku, pasti mengerti."
"Jadi hyung menganggapku masih kecil?!"
Taehyung tertawa kemudian melepas pelukannya. "Memang, kan? Bahkan kau masih kelas dua," kemudian lanjut tertawa begitu Jihoon merengut sebal. Meski akhirnya ikut tertawa pula, toh, suara tawa itu terdengar menyenangkan dan menular begitu dahsyatnya. Sejenak Jihoon berpikir, mungkin benar jika Taehyung sudah lebih baik, jauh lebih baik ketimbang lima tahun lalu. Ia tersenyum dalam diam menatap sosok yang lebih tua, yang sejak lama jadi Kakak dan panutannya, yang ia rindukan sebab lama tak bertemu, yang memendam luka sebegitu dalam meski ia hanya diam dan tersenyum saja sepanjang waktu. Seolah semua memang baik-baik saja, dan itu sama sekali tidak menggangunya. Ia hanya bisa diam jika Taehyung sudah menyuarakan pendapatnya sebab satu sifat dalam dirinya adalah keras kepala. Harga dirinya tinggi dan berteguh hati. Namun tak apa, Jihoon menghargainya. Selama ia masih bisa bertemu seperti ini, sedekat ini, sehangat ini, semenyenangkan ini.
"Hyung, maafkan aku."
.
.
.
To Be Continue
.
[edisi: sesi panjang lebar]
Noun; cuap-cuap
...
Ah, akhirnya aku kembali.
Ini... mungkin sudah nampak begitu jelas alur ceritanya. Yah, saya memang tidak begitu mahir dalam menyembunyikan sesuatu dan membungkusnya jadi kisah misteri bercabang-cabang. Saya tidak se jago itu, menurut saya. Tapi paling tidak, cerita ini terus berlanjut. Hahaha
Juga, terima kasih kepada para pembaca, yang memberi favs & follows, dan reviewers, juga para sider. Saya juga terkadang hanya jadi sider jadi saya pun maklum. Tapi silahkan jikalau ada kritik pun saran yang ingin diungkapkan. Kemarin, ada yang berkeluh soal sifat Taehyung yang terlalu naif dan lemah. Saya hanya tertawa membacanya, saya memang sengaja membuatnya nampak lemah sejak awal. Dia sebenarnya kuat namun hanya dipendam. Saya menggambarkan Taehyung yang lemah di luar namun kuat dalam berpendirian dan menerima cercaan. Seperti itulah, saya harap semua memahami karakterisasi yang saya buat. Maaf jika itu mengganggu, lagipula saya pun tidak mungkin selamanya membuatnya pasrah keadaan, kok. Pasti ada saatnya ia meledak, sebab tidak ada manusia yang sempurna, kan?
Mungkin cukup sekian cuap-cuapnya. Terima kasih, dan semoga bermanfaat.
Happy reading~!^^
[copyright-sugantea]
