Jantungnya berdegup luar biasa hebat. Rona merah sejak tadi sudah muncul bahkan sejak Jungkook mematut dirinya sendiri di depan cermin. Tubuhnya terbalut kemeja tipis berwarna merah maroon kesukaannya dengan lengan panjang dilipat hingga ke siku tajamnya. Ia mengenakan levis hitam sederhana, lagipula ia tidak punya baju mahal. Ia ingin pakai topi, tadinya. Tapi ia justru menghabiskan tiga puluh menit hanya untuk menata rambutnya jadi ia batal mengenakannya. Ia menggerutu saat tahu jam tangannya sudah tidak berdetak. Taehyung selalu lupa perintahnya untuk memperbaikinya, sial, Taehyung dan kepikunannya membuat Jungkook geram. Memangnya dia kakek, apa?

Tapi tidak apa, toh, ia sedang senang.

Kemarin saat ia tidak sengaja bertemu Namjoon, pria itu mengajaknya pergi di hari Minggu. Tentu Jungkook senang bukan kepalang. Ia hanya bisa mengangguk cepat dan menyetujui. Memang punya alasan apa hingga ia menolak? Tidak ada. Salahkan Namjoon dan pesona memikatnya. "Lama menunggu, Jungkookie?"

Namanya tidak pernah terdengar seindah ini sebelumnya.

"Tidak, kok. Baru saja," baru duduk setelah dua puluh menit berdiri. Jungkook tersenyum simpul sedikit canggung. Meski tetap menampilkan gigi besarnya yang nampak lucu. Ia hanya berjalan disamping Namjoon kala pria itu mengajaknya. Berbincang banyak sekali hal sampai Jungkook sempat lupa dengan degup jantungnya yang menggila. "Aku membutuhkan koper baru. Sebenarnya, sekadar informasi, kalau aku ini God of Destruction; Master dari perusak. Tanganku yang besar ini hanya berguna untuk reparasi alat elektronik dan membuat laporan kantor saja. Sisanya hanya bisa membuat kadaluarsa sebuah barang jadi lebih cepat," curah Namjoon di perjalanan. Jungkook senantiasa mendengar begitu baik, menaruh perhatian besar pada tiap kata yang keluar.

"Memangnya Paman akan pergi ke suatu tempat?"

Namjoon menunjuk satu toko peralatan berlibur, isyarat untuk melihat-lihat. Dan mereka langsung masuk. Dengan cepat melangkah dan mata memindai, mencari koper yang bagus. "Dua hari lagi akan ada dinas ke Jinan, ada proyek perkembangan cabang disana. Aku turut hadir karena aku berpartisipasi dalam pembuatan proposalnya," ia menyentuh satu koper berwarna coklat lembut. "Menurutmu yang ini bagaimana?"

"Aku tidak paham beginian," Jungkook nyengir malu. "Tapi coba lihat dalamnya?"

Namjoon mengangguk, mencoba melihat bagian dalam kopernya. Seorang SPG wanita menghampiri dengan senyum ramah, bertanya hal-hal kecil yang mungkin bisa membantu Namjoon menemukan koper yang sesuai untuknya. Sedangkan Jungkook menatap sekeliling, banyak sekali barang disini. Baju santai, baju pantai, baju renang, topi, papan selancar, tas backpack, sandal gunung, sepeda. Daritadi ia pun sudah melihat harga yang dipasang disini dan itu sungguh membuatnya mual. Namun saat ia melihat deretan papan selancar yang bermotif lembut, ia terpaku. Seketika teringat laut yang berhiaskan debur ombak membelah khidmat, yang panasnya menembus kulit hingga ia nyaris terpanggang, serta pasir lembut yang sangat hangat dan menyatu dengan kulitnya.

Ia rindu Busan.

Jauh sebelum ia dan Taehyung tinggal di Seoul, rumahnya adalah Busan. Sudah dua belas tahun lalu jika diingat-ingat. Entah apa gerangan yang membuat Kakaknya pindah ke tempat mengerikan seperti ini, ia jua tak mengerti. Paling tidak, ia bisa bertemu banyak orang yang berarti di hidupnya, juga melihat kemerlap Metropolitan secara langsung. Setidaknya, Seoul tidak seburuk itu.

"Hei," lamunan Jungkook buyar saat Namjoon menepuk kepalanya. "Melamunkan apa? Kau mau membeli sesuatu disini?" ah, pertanyaan yang konyol. Mana mungkin Jungkook membeli barang di tempat mahal seperti ini. Masuk mall sebesar ini saja ia sudah merasa kecil sekali, ia tidak biasa dengan hembusan AC yang kuat dan kemerlap menyilaukan dari lampu-lampu toko mahal yang hanya melihat dari price tagnya saja nyaris membuat Jungkook jantungan. Jual ginjal dulu baru mampu dia. Jungkook menggeleng kecil dan tersenyum lembut, "Hanya lihat-lihat saja. Lagipula aku tidak membutuhkan apapun, kok. Aku tidak ada rencana berlibur kemana pun."

"Bukankah sebentar lagi liburan tiba?"

Yang ditanya tertawa kecil, "Ya, dan sebentar lagi itu adalah enam bulan."

"Oh? Benarkah?" Namjoon membulatkan matanya kaget, nampak begitu konyol hingga Jungkook tambah terpingkal hingga perutnya nyeri. Ah, Namjoon mudah sekali membuatnya senang. Padahal hanya membuat raut terkejut, tetapi nampak sangat lucu dimatanya. Namjoon turut tertawa dihadapannya. Kemudian terinterupsi sejenak saat sang SPG datang membawakan koper yang telah dibeli Namjoon, terbungkus rapi dan elegan. Bahkan Jungkook tahu, bungkusnya saja mahal. "Ayo kita makan? Aku mendengar suara perutmu tadi,"

Sontak Jungkook memeluk perutnya, matanya membola. "Aku tidak,"

"Bercanda," ujar Namjoon kalem. Tertawa singkat dan merangkul Jungkook lantas pergi dari toko itu, berjalan santai dengan ribuan bahasan yang ia coba singgung untuk Jungkook. Matanya memindai cepat, memilih restoran yang cocok untuk keduanya. Sebelum Jungkook malah terjatuh begitu tiba-tiba hingga suaranya begitu kencang dan membuat Namjoon kaget. Lantas berlutut dan memastikan keadaan Jungkook yang sedang meringis pilu. Matanya terpancar kekhawatiran, "Sakit sekali tidak?"

Jungkook mengangguk kecil, bibirnya ia gigit. "Lumayan,"

"Bisa berdiri?" Namjoon kemudian terus menatap Jungkook meski ia turut membantunya bangkit. Tubuhnya agak goyah namun kembali tegap. Disana Jungkook tersenyum lemah dan menepak lututnya yang tadi terbentur keras sekali. Namjoon menggeleng pelan, kenapa pula dia bisa begitu ceroboh hanya untuk berjalan? Lucu sekali. "Aku baik-baik saja, aku laki-laki. Ayo kita –lah...?"

Namjoon turut menurunkan pandangannya, mengikuti Jungkook yang memekik heboh. Kakinya ia angkat satu dan mengerang sebal. Menatap sepatunya yang menganga dan rusak. Nampak konyol dan memalukan. Sial, sudah jatuh tertimpa sial. Sial sekali, kalau begini habis sudah citra dirinya dihadapan Namjoon. Malu bukan main. Kenapa juga sepatunya harus rusak di saat seperti ini. "Ayo kita belikan satu untukmu,"

"Eh? Tidak usah, aku bisa –"

"Kau mau berjalan seperti apa dengan sepatu begitu?" Namjoon menantang. Menyeret tubuh Jungkook menuju toko sepatu yang seingatnya ada sekitar lima toko dari tempat mereka berada. Ingatannya tidak begitu buruk, Namjoon yakin. Mana tega ia membiarkan Jungkook begitu. "Lagipula kenapa kau selalu memakai sepatu itu, sih?" ia menggerutu sebal. "Seingatku itu juga sepatu sekolahmu,"

Jungkook menggigit bibir, "Aku cuma punya satu sepatu."

Selanjutnya diam. Namjoon menatap Jungkook dengan raut tak terbaca. Membuat Jungkook tertunduk dan menggigit bibirnya kuat-kuat. Mata Namjoon tak lagi hangat, senyumnya hilang, alisnya bertaut tidak enak dilihat. Dan Jungkook sangat tidak suka melihatnya seperti itu, ia takut. "Maka kita harus benar-benar membeli sepatu,"

"Paman,"

"Kau mau mempermalukan aku atau dirimu sendiri?" tanya Namjoon dengan nada dingin. Yang ditanya terkesirap kaget mendapat nada yang membuatnya tak nyaman. Benar, ia memalukan saat ini setidaknya di hadapan Namjoon. Dan ia tidak bisa seperti ini terus, ia akan nampak bodoh. Jadi ia hanya diam dan menunduk, mengucap maaf, membiarkan tubuhnya ditarik lembut menuju toko sepatu. Meski dalam diam ia ingin menangis. Ia tidak enak hati, sudah malu, masih saja ia diperhatikan. Kurang baik apa Namjoon terhadapanya. "Tuan Lee Namjoon –"

Yang lebih tua mendudukkan Jungkook di sofa kecil di toko sepatu yang baru saja mereka masuki. Menjatuhkan dirinya dengan posisi berlutut, jemari meremas bahu mungil Jungkook, dan menatap mata bulat yang jernih dan cantik itu disertai senyuman kecil yang menenangkan. "Maafkan sikapku tadi, aku tidak bermaksud mengataimu memalukan," ujarnya kemudian. "Aku tidak tega melihatnya. Terlebih mendengarmu mengakui hanya punya satu sepatu. Itu menyayat hatiku, Jungkook. Apa orangtuamu sangat tidak memperhatikanmu? Apa baju ini juga hanya satu? Apa celana ini juga hanya satu? Tahu begini kita belanja untukmu, aku hanya perlu ke tukang reparasi tas,"

Jungkook menggeleng kuat. "Aku merasa tidak enak hati,"

"Jikalau demikian, maka terimalah hadiahku." Ia tersenyum lembut, "Kita akan belanja untukmu."

.


My Mama

.

Kim Taehyung

Jeon Jungkook – role as Kim Jungkook

Lee Jihoon

Kim Namjoon – role as Lee Namjoon

[Vkook. Koov. – brothership]

And The rest of Bangtan members.

.

Jungkook hanya tidak melihat apa yang Taehyung lakukan untuknya.

Juga tidak mau tahu atau sekadar memikirkannya.

.


Begitu Jungkook sampai di depan rumah, langkahnya tertahan. Matanya memandangi sepatu baru yang dibelikan Namjoon tadi. Ia menimang, apakah ia harus sejelas ini pulang dengan meletakkan sepatu mahal yang tidak pernah terlihat di rumah mereka? Ia malas menanggapi pertanyaan tidak penting Taehyung tentang ini itu yang pasti banyak sekali. Apalagi jika ia dikira macam-macam karena pulang membawa barang bagus dan mahal. Sebelum ia turun dari mobil Namjoon tadi, ia melirik jam digital disana; pukul sembilan. Dan ia ingat betul kalau hari Minggu jadwal Taehyung bekerja hanya separuh hari. Jadi pasti dia sudah pulang dan menunggu. Ah, dia bingung.

Tetapi ia tetap mengganti sepatunya.

Kembali mengenakan sepatu rusaknya, kemudian menyimpan sepatu barunya pada paper bag di genggamannya. Untung Namjoon mengalah tidak membuang sepatu lusuhnya ini. Kemudian ia masuk usai memastikan penampilannya tidak mencurigakan. "Aku pulang,"

Tidak ada sahutan.

Tapi lampu menyala terang. Sepatu Taehyung ada, dan rumahnya tidak dikunci; sudah pasti dia di rumah. Biasanya jika Jungkook pulang terlambat, pasti Kakaknya akan lari dan memeluk tubuhnya dan mengatakan rindu lalu bertanya banyak hal yang mengganggu. Tapi ini tidak, lantas Jungkook buru-buru melepas sepatunya dan berlari ke kamar. Membuka pintu kamarnya cepat dan melempar paper bag ke dalam sana, menghasilkan suara debuman keras. "Jungkookie?"

"Oh! Ya, ya!" refleks dia berteriak kaget, menatap Kakaknya yang mengernyit heran. "Kenapa gugup begitu?"

"Aku tidak,"

Taehyung terdiam saja, memilih setuju. "Habis darimana saja? Malam sekali pulangnya,"

"Terserah aku lah."

Lantas Jungkook melenggang pergi ke kamar mandi. Tubuhnya lengket karena keringat, meskipun dia berada dalam lindungan AC nyaris seharian penuh, tapi rasanya tetap tidak nyaman. Ia perlu menyegarkan pikirannya pula. Besok sudah Senin dimana ia harus sekolah lagi. Bertemu Oh Sehun yang menyebalkan lagi. Ah, sial.

.

.

Taehyung baru selesai gosok gigi. Sudah selesai merapikan rumah dan cuci piring. Ia meregangkan tubuh pegalnya dan mengambil kunci yang sengaja ia gantung di dekat jam dinding. Menguap lebar begitu tahu sekarang pukul dua belas malam. Lantas mengusak mata berairnya dan berjalan pelan menuju pintu depan hendak menguncinya. Meski tidak punya barang mahal tapi ia pun tidak mau ada pencuri masuk, meski ia tidak tahu apa yang mungkin bisa dicuri dari tempat seperti ini, sih. Ia membuka matanya yang sudah nyaris terpejam sebab menginjak sepatu yang tergeletak berantakan. Kemudian berjongkok menatapnya lekat-lekat. Memfokuskan pandangannya. "Bukankah ini sepatu Kookie?"

Lantas matanya kemudian membola kala menemukan sepatu itu rusak, menganga lebar dan nampak lusuh sekali. Hatinya mencelos tidak tega, seketika wajah Jungkook yang tersenyum mengenakan seragam sekolahnya terlintas di benaknya. Ia semakin tidak enak hati. Pasalnya Adiknya hanya punya satu sepatu, sempat dia merengek minta beli yang baru. Tapi Taehyung dipersulit dengan tagihan kontrak rumah dan listrik. Sejak saat itu Jungkook tidak pernah meminta lagi, ditambah sifat pelupa miliknya yang mengganggu. Dia merasa bodoh sekali. Bagaimana Jungkook bisa ke sekolah dengan sepatu seperti ini? Yang ada dia dibuat malu lagi.

"Aku ini memang payah sekali," ujarnya melas. Lantas buru-buru mengunci pintu dan membawa sepatu Jungkook bersamanya. Mampir sebentar ke gudang dan mengambil lem kayu, serta benang sol dan jarumnya. Duduk di ruang tengah dan fokus memperbaiki sepatu adiknya yang mengenaskan. Sekali saja, ia ingin membuat Jungkook tersenyum tulus. Besok dia akan beli sepatu baru untuknya, jangan sampai ia lupa lagi. Tapi paling tidak, hanya sampai besok, sepatu ini bisa dipakai sementara. Setelah itu dia berjanji akan membelikan adiknya sepatu baru yang layak pakai.

.

.

"Kau suka sepatu merk apa, Kookie?"

Yang ditanya nyaris tersedak susu vanillanya. Ia mengernyitkan dahi tidak mengerti. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti yang kau coba tanyakan padaku saat ini." ujarnya mencoba jujur, sebenarnya Kakaknya ini habis tertimpa apa sampai bisa gegar otak begini. Tiba-tiba menjadi Kakak yang baik dan selalu bertanya apa yang dia suka, apa yang dia inginkan, apa yang dia mimpikan. Kalau dulu, dia merengek saja Taehyung tidak mampu beri, dan apa sekarang dia mencoba mewujudkannya? Terlambat, dia sudah tidak butuh. Taehyung memang payah.

"Sepatumu kan rusak," Jungkook terpaku, matanya bergerak gelisah. "Kau tidak bilang padaku."

"Percuma. Sudah jauh-jauh bulan aku minta yang baru, kau dan seribu alasan tunggakan pembayaran itu membuatku muak, hyung. Aku lelah meminta, toh, tidak akan dapat."

Taehyung tersenyum meski hatinya tersayat sedikit. "Maaf. Tapi untuk kali ini aku berjanji akan membelikannya untukmu. Sekarang tinggal katakan saja, kau suka sepatu yang seperti apa? Aku sudah meminta Jimin menemaniku. Dia pandai memilih sesuatu yang bagus dan kurasa –"

"Tidak perlu."

Ucapan dingin itu membuat Taehyung bungkam. Mengerjap tidak mengerti, apakah Adiknya terlampau marah sampai ia akan menghukumnya seperti ini? Tapi tetap saja, mana bisa Jungkook terus memakai sepatu bututnya ke sekolah, tidak ada yang tahu sampai kapan sepatu itu bertahan. Dilihatnya Jungkook menghela sebal. Susunya ia tenggak cepat lantas bangkit dan masuk kamar, mengambil ranselnya kemudian menenteng sepatu, lebih bersih dan mengilap. Membuat Taehyung melotot dan menganga kecil melihatnya. Ia hendak bicara namun Jungkook cepat menyela, "Aku sudah punya yang baru." Ujarnya cepat lantas memakainya dan berjalan ke pintu. "Aku berangkat,"

"T-tunggu dulu!" Taehyung menahan lengan Jungkook. Di putarnya tubuh itu menghadapnya, "Kau dapat darimana sepatu itu? Kapan kau membeli yang baru? Apa kemarin –"

"Argh! Berhenti bertanya ini itu padaku!"

Jungkook berteriak, membuat Taehyung lagi-lagi diam. Tidak tahu harus bicara apa lagi. "Memangnya kenapa kalau aku punya sepatu baru? Kau berpikir, karena aku masih anak ingusan yang masih sekolah makanya aku tidak bisa membeli apa yang aku mau? Kau pikir karena aku ini masih bocah maka aku tidak bisa memiliki apa yang aku butuhkan?" suaranya ia buat tinggi. Lelah sekali.

"Jungkook, aku hanya – "

"Ya, aku mengerti. Sebab kau adalah tulang punggung keluarga, kau merasa bertanggung jawab atas aku. Kau merasa karena hanya kau yang paling tua, seharusnya kau yang menghidupi aku. Ya memang sebaiknya seperti itu tapi apa? Tidak bisa, kan?" Jungkook menepis lengan Taehyung. "Hanya karena kau memiliki pekerjaan bukan berarti kau bisa memberikan apa yang aku butuh. Kau bahkan tidak peduli apakah sepatuku rusak, apakah bukuku sudah habis, apakah tasku jebol, apakah bajuku sudah sempit tidak muat, apakah pensilku sudah sependek jari kelingking; kau tidak peduli. Sama sekali tidak, yang kau pikirkan hanya uang, uang, dan uang. Bagaimana caranya kau melunasi hutang piutang tentang tunggakan kontrak dan listrik, juga makanan. Sisanya tentang aku kau tidak mau tahu."

Taehyung menggeleng, "Aku melakukan ini untukmu,"

"Untukku bagaimana?" ia bertanya dengan nada merana. "Coba katakan apa yang lakukan untuk menghidupi aku dengan benar, apa yang bisa kau berikan padaku supaya aku tersenyum dan tidak terlihat memalukan di hadapan yang lain; tidak usah dijawab, jawabannya tidak ada!" ia menepak seragamnya yang barusan menjadi kusut. "Terserah aku dapat sepatu darimana, dari siapa, kapan aku membelinya, dimana aku membelinya, bagaimana bisa aku membelinya. Kalau kau tidak bisa memberikan apa yang aku mau dan butuh, yasudah. Aku bisa mendapatkannya sendiri."

"Jungkook –"

"Aku pergi." Lantas Jungkook keluar rumah dengan segera. Mengabaikan Kakaknya yang terdiam menganga seperti orang bodoh di depan pintu. Otaknya terlalu kosong untuk berpikir, tiap kata yang keluar dari ucapan Jungkook beberapa menit lalu terus menggerayangi pikirannya hingga ia nyaris gila. Ia menggigit bibirnya dalam-dalam, lantas menatap sepatu yang sudah ia siapkan dengan rapi di depan pintu, berharap Jungkook terkesima dengan hasil karyanya. Nyatanya tidak. Cacian yang ia dapatkan.

Kim Taehyung memang bodoh.


Jimin sudah rapi dengan kemeja tipis berwarna hijau tosca yang lembut dan levis coklat, mengenakan sepatu pantofel hitam mengilat, Army Swiss di lengan kirinya, bahkan mengenakan pomade tipis di rambutnya yang baru saja dicukur. Ganteng, menurutnya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana yang sengaja ia ketatkan sedikit. Melangkah keluar dari ruang kantornya dan menghampiri Taehyung yang sedang sibuk dengan nampan-nampan kotor. Wajahnya manis sekali.

"Hei," ia menegurnya halus, mempertahankan senyumnya. "Jadi kencan tidak?"

Yang diajak bicara mendelik dan ingin muntah. "Kencan apanya."

"Kalau mengajak Park Jimin pergi, itu artinya kencan." Jimin menyuarakan pendapatnya lantas terkikik oleh reaksi Taehyung yang wajahnya sudah tertulis annoyed. Ia memilih duduk di samping Taehyung dan menarik nampan-nampan yang belum selesai di bersihkan dengan kain. Menghasilkan dengungan malas dari karyawannya yang terdengar lucu itu. "Ayo, katanya mau beli sepatu."

Taehyung merengut, meniup poninya sambil menyandarkan punggung lelahnya. Matanya sedikit kosong dan tidak bersinar, rautnya malas ogah-ogahan, dan Jimin tahu pasti ada sesuatu yang mengganggunya lagi. Ah, anak ini memang sangat sensitif. "Kenapa babe?" kemudian ia harus berteriak nyaring usai Taehyung mencubit pinggangnya luar biasa kencang. Sial Taehyung dan jari kurusnya yang jago menyiksa tubuh Jimin tanpa ampun. "Hei, ayo, jadi tidak? Kucium kalau sampai tidak jadi, aku sudah dandan sampe ganteng begini, nih. Cepat ganti baju sana, aku tunggu."

"Menurutmu apa masih sempat?"

"Apanya?"

Diam sebentar, Taehyung tidak langsung menjawab. "Membeli sepatu. Jungkook sudah punya yang baru, tidakkah aku terlambat?"

"Jungkook dapat sepatu baru darimana?" Jimin memiringkan kepalanya bingung. Ditatapnya Taehyung yang menghela, raut wajahnya sudah jelas lelah. Capai, nyaris gila dengan seluruh pemikiran yang menghantuinya setiap detik. Jimin juga tidak berani ikut campur terlalu dalam. "Aku juga tidak tahu, kemarin dia memang pergi sama temannya saat aku sudah berangkat kerja. Besok paginya dia menenteng sepatu baru yang terlihat mahal dan mengenakannya ke sekolah," Taehyung menghela lagi sampai Jimin bosan melihatnya. "Ah, aku menyesal jadi seseorang yang suka menunda-nuda dan pelupa. Seharusnya sudah sejak lama aku membelikannya sepatu. Sekarang Kookie punya sepatu baru dan aku tidak tahu dia dapat darimana. Bukannya aku ingin berpikir yang tidak-tidak, tapi –"

Dengan cepat Jimin menghentak pundak kurus Taehyung menghadapnya, menatap mata Taehyung yang sangat pekat seperti gumpalan darah. Menghela sebentar sebab merasa terlalu penat dengan sikap temannya yang sangat diluar nalar. "Hentikan pemikiran bodohmu, payah. Tidak ada bedanya apakah kau yang pertama atau bahkan terakhir yang memberinya sepatu. Sama saja, Jungkook tetap mendapatkan sepatu bagus. Kau tidak bisa memberikannya waktu itu sebab kau belum punya banyak uang dan masih ada tunggakkan, kan?" ia mendengus sebentar. "Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Taehyung. Kau punya alasan atas apa yang kau lakukan. Dan berhenti berpikir kau ini payah, kumohon berhenti, bisa tidak?"

"Jimin,"

Lantas Jimin mengacak rambut halus Taehyung dan membantunya bangkit. Mendorongnya menuju ruang ganti karyawan dan menutup pintunya. Berseru dari luar, "Cepatlah ganti baju. Dandan yang cantik dan ayo kita kencan, Sayang."

"Bangsat! Aku bukan cewekmu, sial."

.

.

"Kau makan seperti anak kecil, Taetae."

Jimin berdecak halus kemudian mengeluarkan selembar tissue lantas membersihkan sudut bibir Taehyung yang belepotan eskrim cokelat. Sahabatnya itu hanya terdiam saat Jimin mengelapnya lembut dan telaten, kemudian tertawa konyol. Bisa apa Jimin; marah? Tidak mungkin, ia hanya tertawa senang melihat Taehyung nampak begitu lucu. Dia lemah pada Taehyung. "Siapa yang tadi merengek tidak mau eskrim, ha? Lihat caramu makan ini, ah... kau benar-benar,"

"Aku tidak enak padamu," balasnya mengelak. Kembali melahap eskrimnya, "Kau bahkan membayar untuk sepatu ini, sudah kubilang aku ingin beli sendiri! Kau ini ngeyel banget, sih. Aku kan punya uang. Kau juga yang membayar eskrim ini, bagaimana bisa aku iya iya saja."

"Katakan itu pada yang sedang makan dua porsi Mc Flurry sekarang."

Taehyung nyengir polos lantas mencolek dagu Jimin main-main kemudian menaik turunkan alisnya jenaka, tertawa kala Jimin hanya mencebik lucu pura-pura marah. Maka ia mengambil sesendok eskrimnya dan mengolesnya pada pipi dan bibir Jimin. Membuat sahabatnya itu memekik konyol dan membalas perbuatan Taehyung lebih kejam. "Yya! Sudah, sudah. Aku mengalah saja,"

"Dasar bocah kau, Taehyung."

"Kita kan seumuran," balasnya. Mencebik pada Jimin yang selalu mengejeknya kekanakan. Paling sebal kalau ia dikatai lucu, manis, dan semacamnya. Dia bukan anak delapan tahun yang biasa Jimin sayang-sayang seperti dulu, dia sudah lewat dua puluh lima. Kadang ia kesal kalau Jimin masih memperlakukannya seperti bayi rapuh. "Oh, besok akan kuganti semua ini –jangan mengelak dan memotong pembicaraanku! Kau bangsat, diam saja kali ini dengarkan aku."

Dihadapannya Jimin terduduk lemas, baru saja ingin menyela.

"Aku tidak mau hutang, apalagi sama kamu." Taehyung mengawali, "Pokoknya ini semua, khususnya sepatu ini akan aku bayar dengan uangku sendiri besok pagi. Jangan menolak, kumohon. Sekali saja kau menyetujui apa yang aku lakukan. Aku sudah dua puluh lima, Jimin. Aku bisa membelikan barang untuk Adikku dengan uang hasilku bekerja. Aku capek untuk dia, kalau jadinya kau yang membelikan, namanya ini darimu. Bukan dariku, aku tidak terima."

"Setengahnya saja, anggap kita patungan membelinya."

Taehyung tidak setuju. "Aku bilang apa saat di telepon kemarin? Aku ingin membeli sepatu untuk Jungkookie. Aku tidak minta bantuanmu untuk menyumbang separuhnya, aku hanya minta tolong antarkan dan pilihkan yang sesuai anak kekinian." Ia merengut sebal, "Kenapa sih kau susah sekali membuatku merasa senang sedikit saja? Aku ingin membuat Adikku senang dan itu karenaku, bukan karena derma orang lain."

"Aku tidak derma, Taehyung."

"Kenapa kau tidak biarkan saja sih," Taehyung menggerutu, melipat tangannya di dada. "Kau selalu tidak setuju pada apa yang ingin aku lakukan. Terlebih soal uang, kau sangat protektif terhadapku. Aku punya pekerjaan, Jimin bosku yang katanya ganteng. Aku punya uang, berhenti membelanjakan aku semuanya. Aku tidak bisa seperti ini terus. Apa kau melakukan ini karena kau kasihan padaku? Kau kasihan melihat aku yang miskin dan bodoh ini?"

Segera Jimin membulatkan matanya dan menangkup wajah Taehyung. "Astaga, apa yang kau pikirkan, Taehyung? Mana mungkin aku sekejam itu. Aku tidak bermaksud merendahkanmu, sama sekali tidak, jika itu yang kau takutkan. Maaf bila aku terlihat seperti itu," ia menghela lantas mengelus rambut Taehyung yang halus dan sedikit bercabang dan tambah panjang. "Baiklah, kau boleh membayar semuanya besok." Kemudian menepuk pipi Taehyung dan menjauh.

Baru saja Taehyung ingin bicara, Jimin menyela.

"Dengan satu syarat,"

Diam sebentar, Taehyung mengerjap dan berpikir tanpa curiga. "Dan itu adalah...?"

Jimin tersenyum sebentar, nyaris tertawa kemudian sedikit bangkit dan bergerak maju secepat kilat meraih wajah mungil Taehyung yang manis dan mengecup pipinya begitu lama, menggunakan lidahnya sedikit sebab ia ingat ada olesan eskrim belepotan disana. Dan Taehyung hanya diam terpaku, tanpa dapat ia kontrol jantungnya berdegup kencang seakan ingin lepas dari kungkungan tulang rusuknya dan napasnya praktis berhenti sesaat. Jemarinya bergetar pelan dan ia tergagap. Bibir Jimin menempel jelas di pipinya yang dingin oleh hembusan AC. Menjadikan Taehyung lemas dan kaku di satu waktu.

Tak lama sampai Taehyung nyaris pingsan, Jimin melepas ciumannya. Lantas tersenyum jahil meski Taehyung sudah menahan napasnya lagi hingga wajahnya memerah total. Matanya tidak berhenti membola dan bernapas pendek-pendek hingga ia pusing. Jimin hanya tertawa melihatnya.

"Baiklah, itu cukup untuk membuatku setuju." Ia terkekeh lagi, "Mau pulang sekarang?"


Jungkook baru saja ingin merebahkan tubuh pegalnya ketika ia mendapati sebuah kotak berukuran sedang berwarna biru muda di kamarnya. Dengan mata mengerjap pelan dan perasaan bingung, ia melangkah masuk. Lantas mendudukkan dirinya dan mengambil kotak itu, mengamatinya lekat-lekat sebab terlampau penasaran. Ia hanya sendirian di rumah, Taehyung belum pulang. Ia menggoyangkannya, mencoba dengar sesuatu dari dalam kotak. Memang tidak membantu, maka Jungkook mengambil gunting dan merobek kertas kado yang membungkus kotak itu.

"Oh... sepatu?"

Ada dua pasang sepatu didalam kotak itu. Sepasang sepatu Adidas berwarna hitam dengan highlight merah di sisi kanan dan kirinya. Konsistensinya kuat namun lentur, mengilap nyaris menyilaukan mata, kokoh dan indah. Sepasang lagi adalah converse merah, simpel namun elegan, cantik dengan kesederhanaannya, menyala, dan sukses mengambil hati Jungkook sejak pandangan pertama. Jungkook masih menganga disana. liurnya nyaris menetes ketika ia menemukan sebuah amplop berwarna biru laut di sudut kotak, lantas mengambil dan membaca sebuah surat yang ada didalamnya.

Semoga kau menyukainya. Aku tahu aku bukan Kakak yang baik, untuk sekadar memperhatikan semua kebutuhanmu selama ini. Padahal aku yang bilang bahwa aku janji untuk membuatmu tersenyum. Maka aku minta maaf untuk itu. Meski bukan aku yang pertama memberikan sepatu untukmu, kuharap kau tetap menerimanya. Aku masih ingat, kalau kau suka warna hitam, biru dan merah. Aku hebat, kan?

Setelah membeli ini, aku mampir pulang untuk memberikan hadiah ini sebagai kejutan. Apa kau terkejut? Jimin yang memilihkan ini untukmu, kau tahu dia hebat dalam mode, bukan? Ah, kita harus berkumpul bersama kapan-kapan, oke? Hm, mungkin itu saja. Dipakai, ya Kookie.

Tertanda, Kim Taehyung.

Terdiam. Dia hanya bisa diam.

"Kakak..." jemari Jungkook bergetar. Entah kenapa dadanya sesak sekali, wajahnya memanas seiring kerongkongannya yang tercekat hebat. Tidak, ia tidak bisa menangis. Untuk apa menangisi hal seperti ini, sungguh tidak pantas. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Jungkook merasa sedih. Dan ia tidak mengerti kenapa ia mendengar bisikan yang menghakiminya. Bahwa ia bodoh, jahat, tidak tahu diri. Ini bukan salahnya, Jungkook membutuhkan sepatu. Tapi ia terus bergelut dengan hati terdalamnya yang terus meronta berkata bahwa dirinya sangat tidak pantas seperti ini. Salah, ini sudah benar. Memang sudah seharusnya Taehyung memperlakukannya dengan baik. Bahkan temannya mungkin punya lebih dari lima macam sepatu untuk seorang. Ini hanya sepatu, lagipula memang bisa dia pergi kemana-mana dengan telanjang kaki?

Sekali lagi, usai ia berdebat dengan dirinya sendiri, ia menang.


Tidak biasanya Jungkook menunggu.

Sekarang nyaris pukul dua belas malam tapi Kakaknya belum pulang. Dan biasanya Jungkook tidak pernah mau menunggu. Bahkan jam sepuluh dia sudah berpetualang didalam mimpi. Tapi entah karena apa dia malah tetap membuka mata dan duduk di ruang tengah, menatap jam dinding yang terdus berdetak membunuh waktu, semakin larut namun tidak ada tanda-tanda Kakaknya pulang. Dia sudah terduduk di depan pintu, kakinya terbalut sepatu converse yang baru didapatnya tadi sepulang sekolah. Dipandangnya terus sepatu merah itu, sangat cantik meski ia pun sering melihatnya. Namun baginya converse miliknya sangat terang dan membuatnya senang. Bahkan ia sudah mengenakannya sejak selesai mandi di dalam rumah. Untuk sesaat Jungkook tidak mengerti kenapa ia bisa begini konyol.

Jungkook sebenarnya tidak mau peduli, tetapi dia tetap merasa gelisah. Sekalipun larut, taehyung akan pulang paling lambat jam sebelas. Sepuluh menit lagi jam setengah satu, dan Kakaknya belum juga datang. Dia tidak bisa berpikir apa-apa. dia tidak khawatir, dia penasaran dan kesal. Kenapa bisa-bisanya Taehyung malah menelantarkannya sendirian seperti ini. siapa yang besok menyiapkan sarapan dan mennyetrika seragamnya? Tentu harus Taehyung. Jungkook tidak mahir seperti itu.

"Ah, merepotkan." Entah kenapa pula ia justru memilih menyusul Taehyung ke kafe miliki Jimin, meniliknya dari jauh dan menyeretnya pulang jika benar pemuda itu masih disana. pikirnya dia bisa seenak itu pergi dari tanggung jawabnya di rumah; tidak bisa. Taehyung memang bisa saja dan harus bekerja tapi dia juga memiliki peran di rumah yakni mengurusnya sebelum pergi ke sekolah. Bila setelah ia berangkat, Taehyung bisa pergi bekerja lagi. Tapi paling tidak, Taehyung harus ada di rumah kalau Jungkook pun begitu.

Tetapi kafe itu sudah gelap dan tutup.

Tidak ada siapa-siapa disana. Benar juga, Jimin tidak mendirikan kafe dua puluh empat jam. Jadi kemana kiranya Taehyung pergi? Jungkook mengedarkan pandangannya, barangkali Taehyung kecapekan dan malah lupa tempat lalu tidur di pinggir jalan. Kalau Taehyung sudah pulang, seharusnya paling tidak mereka bertemu saat Jungkook berjalan kesini. Tapi tadi keadaan sangat sepi.

Ah, menyebalkan.

Jika tahu begini, lebih baik Jungkook tidur saja. Buat apa sih dia repot mencari Kakaknya yang bahkan sudah usia dua puluh lima. Dia punya kaki dan otak, bisa mengingat jalan rumah dan berjalan pulang. Dia bukan anak kecil yang tersesat dan hanya bisa menangis. Jungkook menghela, merutuki kebodohannya yang mungkin sebab tertular dari Taehyung. Seharusnya ia sudah tidur nyenyak, toh, pasti Taehyung akan pulang. Buat apa dia peduli apakah Kakaknya pulang jam satu, dua atau bahkan lima pagi; dia tidak perlu tahu. Dan pergi kemari hanya membuatnya lelah dan nampak konyol.

Jungkook berbalik dan terperanjat kaget saat mendengar suara bruk yang sangat keras. Ia menatap sekitar, mendapatkan kesunyian sesaat kemudian suara bruk itu kembali terdengar. Juga suara rintihan memilukan dan pekikan nyaring. Sejenak ia merinding; suara apa barusan? Ia menajamkan indera pendengarannya dan kakinya praktis menuju kesana. Sekitar empat puluh langkah, arah jam tiga dari tempatnya berdiri. Sebuah jalan buntu dengan ruang sempit yang beraroma sampah dan lembap. Nyaris membuatnya terbatuk dan muntah. Namun ia bertahan dan mencoba mengintai dari jauh.

"Tunggu –"

Itu Kim Taehyung; terjatuh mengenaskan usai ditendang seorang pria gembul dan seorang pria berbadan tinggi kekar mengangkatnya bangkit. Jungkook tercekat melihatnya, ia membulatkan mata tidak percaya melihat apa yang ada dihadapannya. Tubuh ringkih Taehyung dibenturkan ke dinding bata kemudian dipukul lagi, wajahnya sudah habis ditonjok sampai lebam, darah keluar dari hidung dan sudut bibirnya robek. Perutnya ditendang dan dipukul kuat sampai tubuhnya terhentak seakan bisa saja tubuh kurus itu mental hanya karena di tendang sedikit. Rambutnya dijambak sampai Taehyung meronta keras namun lemah; seperti rambutnya hampir saja rontok dari kulit kepalanya. Tapi dia diam saja, tidak melawan. Hanya memekik dan merintih.

Sedang Adiknya juga hanya diam memantau. Buku jarinya mengepal hingga memutih, sekujur tubuhnya gemetar sampai tegang. Keringat dingin keluar dari tiap inchi tubuhnya, bibirnya ia gigit kuat-kuat hingga kebas seiring dentum jantungnya yang tidak karuan. "Lawan, bodoh! Kenapa diam saja seperti pencundang, kau lemah! Tendang dia balik, keparat. Jangan diam seperti ikan teri!"

"Kau tahu, kami hanya akan berhenti kalau kau melunasinya."

Dan Jungkook terpaku mendengarnya. Seorang pria yang gembul megatakan demikian, membuat Jungkook terpekur dalam diam. Memikirkan makna dari pria itu dalam-dalam. Matanya memindai Taehyung yang sudah terduduk lemas di hadapan mereka dan terbatuk mengenaskan. Tapi dia masih diam seperti orang bodoh, matanya sudah bengkak. "Aku tahu, aku akan berusaha –" ucapannya terhenti sebentar kala dia merasa tulangnya remuk. Sakit sekali sampai ia nyaris pingsan. " –aku selalu menyicilnya setiap bulan. Tidakkah itu sudah terhitung?"

Suara mereka terlalu kencang untuk kesunyian ini, Jungkook mendengarnya dengan jelas.

"Jarak dari Ibumu meninggal sampai sekarang itu tahunan," si pria gembul membalas. "Dan kau tahu bahwa bunga terus berlaku sampai hutangnya terbayar lunas. Sekalipun kau menyicil sampai mati, itu akan habis untuk melunasi bunga saja. Dalam artian lain, hutangnya sama sekali tidak terbayar."

Hutang apalagi yang mereka punya? Jungkook tidak mengerti, kenapa sampai saat ini mereka terus saja terlilit hutang? Ia pikir semuanya sudah selesai. Dan hutang apalagi yang mereka harus tanggung, jika dihitung bahkan sejak Ibu mereka meninggal itu sudah lama sekali. Dan itu artinya Taehyung sudah tujuh belas tahun menyembunyikan ini darinya; berani sekali. Hutang apa yang Kakaknya itu punya sampai dipukul seperti itu? Jungkook mengetatkan rahang, mengalihkan pandangan kala di pria kekar kembali memukul Taehyung sampai ia benar-benar kepayahan bahkan untuk berdiri. Lantas matanya memindai kedua pria tua yang segera pergi dari sana menaiki mobil Toyota dengan kecepatan tinggi.

"Si bodoh itu... bangun, dasar lemah!"

Usai lima menit, akhirnya Taehyung berusaha bangkit meski ia rasa beberapa tulangnya ada yang patah. Rasanya ngilu setiap ia mencoba melangkah. Beberapa bagian di rusuknya nyeri hebat, dan lututnya sepertinya memar. Jemarinya kaku dan kakinya gemetar tidak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Ia nyaris oleng, namun segera bertopang pada dinding di sampingnya. Lantas mengatur respirasinya sebentar kemudian lanjut melangkah sangat pelan dan tertatih. Sesekali berteriak kala kakinya berdenyut ngilu dan ada krepitasi saat ia menggerakkan tubuhnya. Meski begitu Taehyung tetap berjalan, walaupun darah dari hidungnya belum berhenti mengalir.

Jungkook mengikuti dalam diam. Mematai Kakaknya yang mencoba pergi ke apotek dan membeli peralatan first aid. Terduduk lemah dibantu seorang apoteker disana, meskipun Taehyung tetap mengobati dirinya sendiri. Enggan dibantu apoteker yang tampan dan berwajah kalem itu. Dilihatnya pria itu masuk dan kembali dengan segelas minuman hangat. Tersenyum santai dan menyuruh Taehyung minum, sedikit memaksa sebab Taehyung sudah jelas menolak. Maka Taehyung tidak memiliki pilihan lain, ia meminumnya pelan. Tangannya masih ngilu dan jarinya perih. "Apa yang coba kau sembunyikan dariku, hyung? Kau pikir kau hebat dengan bertingkah sok jagoan seperti itu? Kau merasa seperti pahlawan sebab kau tidak melibatkan aku dalam masalah ini? Kau merasa super sebab kau yang berjuang sendirian dalam hal konyol ini, menyerahkan dirimu untuk melindungiku, dan berkorban untukku sampai seperti ini?"

Ia mendecih dan berbalik pulang. "Terserah. Urus saja urusanmu sendiri. Kau tidak butuh aku."

.


Paginya, Jungkook terbangun dengan malas. Matanya sembab terlalu mengantuk, tidurnya kurang sebab kegiatan konyolnya semalam usai mengikuti Taehyung dan berakhir tidur jam dua pagi. Sekarang tubuhnya pegal dan lehernya kaku, rasanya sangat memuakkan dan tidak enak. Tetapi ketika ia mendapati rumahnya sunyi tanpa suara, Jungkook terpekur. Lantas pergi menuju ruang makan dan kembali dibuat bingung. Makanan sudah tersaji, masih hangat dan aromanya langsung membuat Jungkook lapar.

Ia memindai, dan Taehyung tidak di rumah. Sepatunya sudah tidak ada, jelas ia sudah berangkat kerja. Jungkook menatap jam dinding, lalu mengeryit bingung. Masih pukul enam, terlalu pagi untuknya pergi ke kafe. Biasanya Taehyung akan berangkat usai Jungkook pergi ke sekolah. Dan ia sekarang sudah kabur duluan, meninggalkan Jungkook yang bahkan belum mandi. "Ada apa dengannya,"

Jungkook mendudukkan diri dan menatap sarapannya dalam diam. Kemudian menemukan secarik kertas berwarna kayu lembut di sudut meja. Lantas mengambil kemudian membaca pesan disana, dari Kakaknya yang sudah berangkat. Tertulis bahwa Taehyung sudah menyiapkan segala hal tanpa terlewat barang satu hal kecil pun. Seragam, sepatu, kaus kaki, pakaian olahraga, bahkan ia sudah menyiapkan susu pisang dan roti untuk Jungkook bawa ke sekolah. Yang memegang surat diam saja, tidak tahu harus berkespresi seperti apa. Lantas menghela dan pergi mandi,

"Pahlawan, tidak mau dilihat menyedihkan dengan luka itu, huh?"

.

.

Sore itu, Jungkook sedang main kucing yang mampir untuk minta makan. Bulunya halus sedikit basah. Gembul dan cantik, matanya berwarna hijau jamrud, bersinar terang seperti purnama. Tidak memiliki kalung bandul yang mana tanda kepemilikan. Tapi Jungkook berpikir, bagaimana bisa ada kucing liar yang secantik ini. Begitu memikat hatinya sampai ia nyaris lupa bahwa ia akan memanjakan kucing itu. Tapi yang namanya Jungkook, tetap saja luluh pada tatapan mata melas dan rayuan meong yang sangat imut terdengar di telinganya. Ia masuk untuk mengambil susu dan memberikannya di halaman depan rumahnya yang sempit. Ia berjongkok dan mengelus tubuh kucing yang sibuk minum dengan lahap. Sesekali menggaruk gemas dagu kucing itu sampai si kucing terpejam nikmat.

"Jungkook,"

Yang dipanggil seketika menoleh, lantas mengerjap dan menganga kecil mendapati Jimin berada lima langkah di hadapannya tengah membopong Taehyung yang nampak menyedihkan. Lantas bangkit dan menatap kedua Kakaknya dalam diam. Jimin menghela dan melangkah maju, "Kakakmu terluka, Jungkook-ah. Kau tidak membiarkannya masuk?"

"Uh.. oh, masuklah, hyung." Lama sekali mereka tidak saling bertemu. Canggung sekali rasanya, dan tatapan serta nada bicara Jimin begitu dingin; Jungkook tidak menyukainya. Ia merasa tak enak hati dan tidak nyaman. Tetapi Jimin adalah satu dari sekian orang penting yang membantunya tetap hidup. Keluarga Park banyak membantunya dalam menopang perekonomiannya, yang menyekolahkan Jungkook, yang mengurusnya saat kecil, bahkan Mama Park adalah wanita yang menyusuinya saat ia masih bayi; Jungkook tidak punya kewenangan untuk melawan siapapun di keluarga Park.

"Bisakah kau membuatkan teh atau apa?"

Jungkook tersentak dari lamunannya, kemudian mengangguk. Matanya memindai kedua pria yang terduduk di ruang tengah sembari menyeduh teh. Samar-samar ia mendengar Jimin mengomel pada Kakaknya yang masih merintih lemah. Jungkook menyeruput sesendok, mengetes apakah tehnya terlalu manis atau pahit. Usai membuat dua cangkir (karena tidak mungkin Jimin tidak dibuatkan minum) lantas ia pergi menyusul. Ia hanya diam namun tetap melirik. "Sudah kubilang pulang saja!"

"Argh, berhenti berteriak padaku,"

Jungkook diam mendengarkan. "Lihat tingkah kepala batumu ini. Kau tidak akan dipecat hanya karena tidak masuk satu hari, astaga dasar bodoh." Jimin mendengus dan meraih secangkir teh dan sigap meminumkannya pada Taehyung yang membuka mata saja tidak kuat. Kemudian mengusak lembut rambut Taehyung yang menutupi dahinya, lanjut mengelus kepalanya luar biasa hati-hati sebab Taehyung terus mengeluh sakit setiap Jimin menyentuh tubuhnya. "Perlu aku menginap disini?"

"Tidak usah,"

Yang paling tua menghela, "Aku bisa menyuruh Jiwoo nuna untuk mengurus kafe sementara. Dan aku akan disini mengurusmu sampai sembuh betul. Kau harus terima ini, Tae." Ujarnya memaksa. Sejak awal Taehyung sampai di kafe dengan tampilan mengerikan, Jimin sudah menyuruhnya pulang dan istirahat. Tetapi sahabatnya ini memang keras kepala, dan memaksakan diri tetap bekerja. Meski kakinya terus berdenyut ngilu di setiap langkahnya. Tangannya terlalu gemetaran dan beberapa kali menumpahkan pesananan sebab tidak kuat mengangkat nampan. "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Aku sudah besar,"

"Menurutmu, apa orang sekarat bisa menolong dirinya sendiri?"

"Aku tidak sekarat," ujar Taehyung dengan suara sangat pelan. Lantas memekik saat Jimin tidak sengaja meremas lengannya yang membiru. Semua terperanjat mendengarnya, lantas sunyi kembali menerpa. Jungkook mengamati Jimin yang diam saja menatap Taehyung khawatir. Ia memang tidak begitu dekat dengan Jimin tapi ia tahu betul bahwa Kakak itu sangat menyayangi Taehyung melebihi apapun. "Tae, kita tidak punya pilihan selain aku menginap disini beberapa waktu sampai kau sembuh."

Taehyung menggeleng, "Aku tidak mau."

"Taehyung –" baru Jimin ingin membantah, sahabatnya sudah meremas bahu kokoh milik Jimin dengan lemah. Matanya yang sepekat darah memancar menenangkan, berusaha mengirimkan pesan bahwa ia benar baik-baik saja. Ia membubuhkan senyuman lembut; Jimin selalu begini protektif padanya. "Aku oke, Jimin. Tidak apa, hanya beberapa memar dan luka terbuka saja. Hanya seperti ini aku masih bisa mengobatinya sendiri. Aku sudah diberitahu cara perawatan luka oleh apoteker di dekat kafemu. Jangan mengkhawatirkan aku. Kau tahu kan, Chan suka merepotkan kalau kau tidak ada di sana."

"Bagaimana aku bisa tidak khawatir dengan keadaanmu yang seperti habis tertabrak truk, bodoh."

Taehyung tertawa lemah, "Tidak apa, sungguh. Aku ijin dua hari, ya, boss."

"Sampai aku melihatmu masih penuh luka dan berjalan pincang, aku sungguhan akan menyeretmu ke rumah sakit dan operasi." Ujar Jimin usai mendengus sebal, lantas ditertawakan Taehyung. Tetapi Jimin tidak langsung menyerah begitu saja. Ia tidak bisa mempercayai Jungkook sepenuhnya untuk mengurus Taehyung yang separah ini. Dia sangat tidak tenang. "Ijinkan aku untuk malam ini saja, please?"

"Hei –"

Jimin menangkup jemari Taehyung yang masih lecet. "Please? Semalam saja dan kau bisa pastikan saat kau membuka mata besok, aku tidak ada dimana pun kecuali di kantor kerjaku. Janji. Tapi please, aku akan disini sampai kau tertidur, oke?"

"Baiklah,"

.

.

"Jungkook?"

Yang dipanggil sedang mengerjakan tugas di dalam kamar, kaget begitu Jimin berdiri di ambang pintu dan melongok ragu. Lantas menegakkan tubuhnya dan tersenyum simpul. "Ada apa, hyung?"

Jimin masuk dengan langkah pelan, mendekati Jungkook yang memilih duduk bersila dengan nyaman diatas futon menunggunya datang. Lama sekali mereka tak berjumpa dan berbincang, meskipun wajah Jungkook tidak begitu berubah saat ia masih kecil, kecuali dengan perawakannya yang sangat berbeda; bagaimana bisa anak kecil yang hanya bisa menangis bisa jadi begini kekar dan tinggi. "Kau tahu, kan, mengapa Taehyung mendapatkan luka seperti itu?"

Jungkook terdiam sesaat, kemudian mengangguk pelan. Jimin menghela dan menautkan jemarinya gusar, napasnya kacau, dan matanya berkaca-kaca. "Dia tidak bercerita padaku. Pada dasarnya dia memang selalu menyembunyikan apapun dariku. Dia tahu aku akan begini protektif padanya, makanya dia hanya diam saja. Dia itu memang bodoh, selalu menghadapi masalah sendirian tanpa membiarkan orang lain berkesempatan membantu," Jimin menghela lagi, lebih berat. Dan dalam hati Jungkook membenarkan apa yang dikatakannya. Ia juga kesal dengan Kakaknya itu. "Entah bagaimana caranya kau tahu. Aku bahkan tidak akan tahu kalau aku tidak memaksanya bercerita tadi." Ia menangkup wajahnya frustasi. "Bahkan aku yang selalu bersamanya, berusaha selalu dekat dengannya, mendeklarasikan sebagai sahabat terbaik sehidup sematinya, tidak tahu masalahnya. Aku juga sama bodohnya."

Ruangan itu hanya penuh dengan gumaman Jimin yang frustasi, Jungkook hanya diam mendengarkan. Tidak tahu harus menganggapi apa. jimin meneteskan airmata dalam diam, dan membuat Jungkook mau tak mau menoleh dan menatapnya dalam. "Ibumu.. Ibu kalian punya hutang besar pada Tuan Shin si saudagar kaya yang sombong itu. Aku tidak tahu –sama sekali tidak tahu," ucapannya sempat tertahan oleh tangisnya sendiri. "Sejak Ayah kalian tiada, Ibu kalian banyak meminjam uang pada si lintah darat itu. Padahal kalau saja Beliau merengek pada kami, kami akan memberikannya percuma. Tapi lihat yang diakibatkannya; Taehyung harus menanggung semuanya. Dan ini membuatku marah saat Taehyung bahkan tidak memberitahukan apa pun padaku."

"Memangnya... Ibu punya hutang apa, hyung?"

"Semua biaya kehidupan Taehyung dan keluarga kalian," Jimin menjawab. "Mama Taetae dikeluarkan dari kantor karena kesalah pahaman. Dan itu membuat keuangan kalian terhenti begitu lama sebab Mama kalian tidak memilki pekerjaan yang menghasilkan uang cukup, Taehyung masih usia delapan tahun, dan kau lima bulan." Ia kembali menangkup wajahnya, menangis sebentar mengingatnya. Taehyung adalah kelemahan terbesar dalam hidupnya. "Mereka terlihat bahagia sampai aku bisa menangis hanya karena melihat senyum dan mata bercahaya itu. Sampai aku tahu mereka hanya berbohong. Mereka tersenyum meski beribu permasalahan berada pada pundak mereka yang kecil dan rapuh itu. Mereka terluka tapi sangat baik-baik saja,"

Tidak tega melihat Jimin menangis, Jungkook menyodorkan tissue. "Mungkin aku akan menjadi kurang ajar jika mengatakan ini, Jungkook." Ia mengelap pipi dan sudut matanya yang basah, ia bahkan tidak mampu lagi mengontrol tangisnya. Dadanya terlalu sesak. "Aku tidak tahu diri untuk mengungkapkannya kepadamu, mengingat Mama Taetae sudah lama tiada dan hidup bahagia di surga. Tapi entah mengapa, aku ingin mengatakannya padamu."

Jungkook hanya diam. Tetapi ia tertarik, "Apa itu menyakitiku atau Kakakku?"

"Mungkin, sebab Taehyung bahkan menangis saat menceritakannya." Jimin meremas tissuenya dan kembali meneteskan airmata. Wajahnya memerah hebat dan bibirnya gemetaran. "Tidak apa kalau kau tidak mau dengar, kupikir kau akan lebih menaruh perasaanmu kali ini. Jangan berpikir karena kita tidak lagi bertemu, aku tidak tahu apa saja yang telah kau lakukan pada Taehyung, aku selalu tahu. Aku tahu semuanya, Jungkook. Dan kuperingatkan untuk berhenti, berhenti membebani Taehyung. Kau tahu dia tidak kuat, dia rapuh sebagaimana manusia biasa."

Yang diberi petuah terdiam lagi. Nyalinya menciut kala mendapati Jimin marah padanya. Separuh terkejut bagaimana Jimin tahu apa yang dia perbuat. Jemarinya ia remas kuat-kuat, menunduk dalam-dalam dan menggigit bibirnya kuat. Ia tidak suka merasa kalah. "Hyung –"

"Ibumu menyerahkan diri."

Jungkook mendongak cepat. "Apa... maksudmu?"

"Seringkali, Ibumu terpaksa... melakukannya," ujar Jimin dengan napasnya yang berantakan. "Tuan Shin itu memang brengsek dan kurang ajar. Ibu kalian memang tidak akan hanya bergantung padanya, Beliau tetap bekerja apa saja tetapi entah permainan konyol apa yang Shin keparat itu lakukan hingga hutangnya malah menumpuk, bukan berkurang. Dan kau tahu, hal apa yang sebanding dengan hutang menggunung seperti itu,"

Lantas Jungkook ikut gemetar, matanya membola. "Tubuh... ibuku?"

Jimin tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangan kemudian menunduk dalam. Semakin dipikir semakin membuatnya sakit dan sesak. Tangisnya semakin deras dan tak terbendung. Ia masih pusing dengan permasalahan yang dimiliki sahabatnya sendirian. Bagaimana bisa Taehyung menyembunyikan hal sebesar ini darinya. Bagaimana bisa Taehyung diam saja? Bagaimana bisa Taehyung bertingkah ceria seperti hidup ini memang semenyenangkan itu untuk dijalani; sedang ia menderita setiap harinya. Ia ingin marah namun tidak mampu. Ia ingin memukul Taehyung tapi tak kuasa pun tega. "Kuharap, setelah kau tahu apa yang telah keluargamu berikan untukmu, kau bisa berpikir. Mereka melakukan apapun supaya kau tetap hidup enak, supaya kau bisa sekolah dan makan, bergaul, tidak perlu repot mengangkut barang dan menjual kardus hanya untuk makan nasi,"

"Aku tidak menyuruhmu untuk ikutan mencari uang," Jimin menambahkan. "Terkadang uang tidak bisa menyelesaikan masalah, orang bangsat seperti tuan Shin tidak akan mudah melepaskan kalian. Diberi satu milyar pun dia tetap akan menyiksa Taehyung. Dia itu gila, memang. Apa yang ingin aku sampaikan padamu, berperilaku lah sebagaimana seorang Adik pada Kakaknya. Kau boleh saja meminta perhatian dan merengek minta apa pun darinya, tapi kau jangan lupa untuk memberinya afeksi pula. Dia pun tersiksa oleh tingkahmu yang sudah kelewatan. Paling tidak, berikan dia waktu untuk bersenang-senang denganmu. Dia dengan bodohnya selalu berkata apa yang terjadi pada kalian adalah salahnya, dan aku sudah tidak tahan lagi." Ia mendengus, memilih menatap langsung pada Jungkook yang memilki mata gelap, sama seperti Kakaknya. "Kau tahu dia terluka tetapi mengapa kau hanya diam?"

"Aku..."

Ucapan itu terhenti, ia tidak tahu apa lanjutannya. "Aku tidak mengerti apa yang ada dibenak kalian. Sama-sama keras kepala dan bodoh. Bodoh sekali sampai aku ingin membenturkan kepala kalian berdua hingga otak kalian geser dan menjadi benar, sumpah." Jimin mendengus, "Jungkook. Aku minta tolong dengan sangat, untuk kau mencintai Kakakmu. Sekali saja kau renungkan sikapmu selama ini terhadapnya dan kumohon ubah pemikiran burukmu tentangnya. Taehyung melakukan semua hal dalam hidupnya, tak lebih hanya untukmu, Jungkook. Dari ia membuka mata sampai tertidur yang dipikirkannya hanya kamu, dik. Tolong, sekali ini kau perlakukan dia dengan sebaik-baiknya. Aku sungguh tidak memintamu untuk mencari uang banyak supaya hutang kalian lunas, sama sekali tidak."

Jimin meremas bahu Jungkook lembut. "Taehyung tidak butuh uang untuk tersenyum. Dia membutuhkan kau yang selalu berada di sisinya dan tersenyum bahagia karenanya. Dia bisa bahagia hanya karena kau selalu ada dipikirannya. Dia merasa lengkap hanya karena kau masih sehat dan sekolah dengan baik," ia menepuk pundak kekar itu. "Sekali ini saja, dan kuharap sampai selamanya, bersyukurlah kau memiliki Taehyung sebagai satu-satunya keluarga terhebat yang melindungimu dari segala hal buruk di dunia ini. Dia hanya butuh senyum dan kau yang seperti dulu, Kookie yang manis dan ceria seperti tujuh tahun lalu. Kookie yang tersenyum dan cengeng, sering tertawa dan bicara banyak hal pada Kakaknya dengan menggebu, cukup seperti itu."

Kalimat Jimin membuat Jungkook terpekur.

Apa dia sudah sejahat itu? Benarkah ia begini jahat pada Kakaknya sendiri; yang menghidupinya sejak bayi hingga sebesar ini sendirian? Apa Jungkook benar-benar sebodoh itu?

"Sudah malam," Jimin menepuk kepala Jungkook, lantas bangkit. "Taehyung sudah tidur. Aku akan pulang sekarang, kau akan baik-baik saja, kan?"

"Ya, tentu."

Jimin tersenyum dan mengenakan jaket tebalnya. "Aku titip Taehyung padamu, dik."


Usai lima menit hanya merenung dan berdiri di depan pintu, Jungkook memilih masuk. Kepalanya melongok ragu, kemudian melangkah mendekat. Taehyung masih tertidur di kasur tipisnya, tubuh terlentang berbalut selimut tebal. Nyenyak sekali sampai suara dengkurannya nyaris tak terdengar, wajahnya amat manis saat diam, dan rapi. Cantik seperti putri tidur. Jungkook memerhatikannya dalam diam, meski pikirannya sudah melanglang buana tidak jelas. Terbesit di benaknya percakapannya dengan Jimin semalam. Ia menghela, ditatapnya wajah Taehyung yang berubah mengerut. Apa dia bermimpi buruk, sampai merasa tidak nyaman meski tertidur? Ia kembali dilanda rasa bersalah, apa benar dia sudah membebani Taehyung dengan tingkahnya?

Pusing ia memikirkannya. "Hei, bangun."

Jungkook terduduk dan menggoyangkan tubuh Taehyung. "Hyung, bangun. Sudah semakin siang, aku harus berangkat kalau tidak, aku akan terlambat." Lantas menghela mendapati Taehyung lambat sekali membuka matanya. Gerakannya sungguh membuat Jungkook gemas, sangat lambat dan Jungkook bukan orang penyabar. "Hyung, cepat bangun."

"Ah... ne," suara serak Taehyung membalas. Akhirnya ia membuka matanya yang masih terasa sangat berat dan lengket. Lantas berusaha bangkit meski tubuhnya gemetaran dan masih nyeri. Sempat terjatuh sedetik namun ia menahan pekikannya. Meringis pelan dan berhasil duduk meski pantatnya benar-benar ngilu seperti nyaris patah. Tubuhnya benar-benar kesakitan setelah bangun tidur. Kaku dan semakin sakit begitu dipaksa bergerak.

Sedang Jungkook diam saja. Mengalihkan pandangan tak kuasa lantas bangkit dan pergi keluar kamar tanpa repot-repot menoleh ke arah Taehyung yang masih menahan desis pilu. "Mandilah, sudah kusiapkan bubur di meja. Aku pergi sekarang."

.

.

Kim Taehyung itu keras kepala. Belum dua hari tetapi dia sudah kembali bekerja. Sempat Jimin menegur dan hampir menyeret sahabatnya itu ke rumah sakit, namun wajah melas Taehyung sanggup meluluhkan hati Jimin yang sangat rapuh pada Taehyung. Pemuda itu beralasan terlalu bosan dan kesepian jika dirumah terus. Ya mana bisa Jimin tega pada suara merajuk dan rengutan bibir Taehyung yang nyaris membuat Jimin lupa diri. Kalau saja ia khilaf, mungkin Taehyung sudah habis ia cium.

Dan semenjak Taehyung kembali bekerja, Jungkook tidak langsung pulang seperti biasanya. Bahkan berani menolak ajakan pergi Namjoon. Terkadang ia menyesal melakukannya, tetapi selalu dia lakukan tanpa sadar. Sesudah sekolah, Jungkook akan duduk menatapi Taehyung dari jauh. Memindai Taehyung yang fokus bekerja dibalik meja staff, sesekali tersenyum manis kala gadis-gadis masuk ke kafe, mengantar mereka ke meja yang kosong, menunggu pesanan, mangantar pesanan –meski sering jatuh karena tangannya bergetar tidak kuat, atau kala Taehyung terdiam lugu saat orang menghakiminya yang tidak becus bekerja.

Entah untuk apa Jungkook mengikuti Taehyung seperti ini. Terdiam seperti orang dungu dan menatap Taehyung dari jauh. Memerhatikan wajah Kakaknya yang berubah-ubah; manis, lucu, kadang sedih, kesal saat orang menggodanya, dan lebih sering menggemaskan. Ia bahkan tidak sadar sudah lama nyaman menatap wajah sempurna itu. Meski berulang kali ia merasakan perih tatkala Taehyung masih sangat kesakitan dengan luka di tubuhnya. Berusaha begitu keras, meski tahu tubuhnya nyaris remuk.

Tapi Jungkook diam saja.

"Kau mau diantar, tidak?" suara cempreng Jimin mengagetkan Jungkook. Baru ia sadar sekarang sudah malam, waktunya kafe tutup. Dia terlena dengan wajah Taehyung sampai lupa pulang untuk membersihkan diri; bahkan dia masih mengenakan seragam. Ia pun turut bangkit dan bersiap pulang mengikuti Taehyung dari belakang. Dilihatnya Taehyung tersenyum dan menggeleng, kemudian berpisah dengan Jimin dan pulang setelah Jimin memeluknya lembut.

Jungkook melangkah pelan, sebagaimana Taehyung yang berjalan tertatih. Ia menjaga jarak sepuluh meter dibelakang Kakaknya. Memerhatikan Kakaknya dalam diam, sesekali terperanjat refleks ketika Taehyung terjatuh. Tapi ia hanya diam dan meremas jemarinya sendiri, meneguk ludahnya begitu pahit, dan menunggu Kakaknya bangkit sendiri. Lantas melanjutkan perjalanan lambat mereka.

Dan ketika Kakaknya ditarik ke dalam gang sempit, Jungkook tercekat. "Hyung –!"

"Aduh, kenapa lagi dia?" Jungkook menggigiti jemarinya gusar, gelisah di tempatnya kemudian menyusul Taehyung ketika ia mendengar Kakaknya berteriak nelangsa. Pikirannya kalut dan seketika kekhawatiran merebak di dalam dadanya tanpa ampun. Disana ia melihat Kakaknya dipukul lagi oleh Tuan Shin dan pesuruhnya yang kekar. Jungkook bernapas pendek-pendek, tidak tenang, ketakutan. Namun ia hanya mampu menggigit jemarinya dan diam, sesekali menahan napas melihat Taehyung terhentak hebat usai perutnya terpukul lalu memuntahkan darah dari mulutnya. Suara batuk yang parau menggerus akal sehatnya hingga Jungkook benar-benar tidak kuasa dan gemetar. "Lawan, hyung. jangan diam seperti pecundang –bodoh, lawan!"

"Argh –!" Taehyung berteriak nyaring kala kakinya diinjak Tuan Shin.

Dan Jungkook bernapas kacau usai melihat Taehyung menyodorkan uang pada si gembul. Kakaknya tetap mendapat satu dua pukulan di tubuhnya sampai dia terjatuh lemas. Ia nyaris menangis kala Taehyung terbatuk darah setelah Tuan Shin pergi. Dilihatnya Taehyung yang bernapas sengau, matanya bengkak dan robekan di sudut bibirnya semakin lebar, luka ditubuhnya yang belum sembuh benar kembali berdarah, dan Jungkook tidak bodoh untuk tahu bahwa tulang-tulang Kakaknya sudah patah. Jelas Taehyung menderita, dan ia hanya bisa menangis ditempat. "Bangun, hyung –"

" –cepat bangun dan pulang, bodoh."


"Argh..."

Taehyung menyentuh sudut bibirnya. Rasanya masih perih, mengingat lukanya masih baru. Kemudian kembali fokus pada masakannya. Sudah terlalu siang dan ia terlambat bangun. Beruntung sekarang hari Minggu hingga ia tak perlu pontang-panting menyiapkan kebutuhan sekolah Jungkook. Kemarin, Jimin marah besar padanya dan benar-benar menyeretnya ke rumah sakit begitu melihat luka baru di tubuh dan wajahnya. Dan ia sungguhan dilarang bekerja olehnya.

Ia mencicipi sup ayamnya sebentar, lantas mematikan kompor. Mengenakan sarung tangan tebal dan mengangkat panci panas itu berniat menghidangkannya di meja. "Oh... Jungkookie?"

"Pagi, Kookie." Ujar Taehyung tersenyum simpul dan merapikan tubuhnya. Lantas duduk dan menyuruh adiknya yang masih berdiri dan menatapnya dalam diam. Ia menyerahkan semangkuk nasi ke hadapan Jungkook dan menuang sesendok sup panas, menyajikannya. "Ayo dimakan, Kookie."

Lama Jungkook terdiam. "Baiklah,"

Mereka makan dalam diam. Sunyi yang berteman dengan suara dentingan sumpit dan bunyi seruput yang merusak keheningan. Taehyung makan dengan tenang dan sangat lambat, jemarinya tidak memegang sumpit dengan benar dan gemetaran. Ia harus meniup supnya hingga benar-benar dingin sebab panas kuahnya membuat rasa perih di lukanya bertambah. Sesekali ia berdesis, membuat Jungkook menatapnya melalui lirikan. Namun hanya diam saja. Meski lama-lama itu membuatnya gemas tidak tahan lagi mendengar nyanyian penuh luka itu. "Kak.. berapa hutang Mama?"

Taehyung tersedak. "A-apa?"

"Biar aku bantu." Jungkook menghela. "Katakan berapa hutang Mama, aku akan mencari uang untuk melunasinya."

"Tidak perlu, Kookie –"

"Lalu mau bagaimana?!" Jungkook menantang. "Kau harus berhenti bersikap sok pahlawan. Dengar, kau sangat tidak membantu jika seperti ini. Kau tidak bisa terus diam dan menyembunyikan apapun. Berhenti diam seperti kau melindungiku, seolah kau kuat, seolah kau mampu; sebab kau tidak mampu. Aku lelah melihatnya, tahu? Melihatmu dipukul seperti tikus yang berhadapan dengan kucing, kau seperti rusa yang sudah berada dalam mulut singa. Terkoyak dengan banyak darah, terluka namun hanya bisa pasrah dengan keadaan. Dan kau pikir itu membantu?"

Taehyung terdiam. Masih tidak setuju. "Tapi kau tidak perlu mencari uang."

"Dan melihatmu seperti zombie begini?" Jungkook berdecih. "Kau senang terlihat jagoan dimata adikmu? Kau senang terlihat begitu gagah karena telah melindungi adiknya dari pukulan penagih hutang? Sebab kau terluka untuk aku; kau merasa bangga? Kau tidak pantas, kau itu lemah. Seorang pencundang akan melawan, bukan merintih dan berteriak seperti wanita saat dipukul."

"Aku sudah membayarnya, Tuan Shin memang akan memukulku meski aku selalu membayarnya setiap hari, dan akan selalu begitu."

Jungkook memejamkan mata dan menarik napas sebal. "Apa sih yang ada di pikiran bodohmu itu? Kenapa sulit bagimu menerima bantuan dari orang lain? Kenapa tidak mudah bagimu untu sekadar membiarkan orang memikul beban yang sama denganmu?" ia meninggikan suaranya. "Jimin hyung benar; kau itu bodoh. Bodoh sekali untuk melakukan semua ini. Apa kau pikir dengan membiarkan tubuhmu terluka, maka masalah akan selesai? Shin keparat itu hanya akan berhenti kalau kita melunasi hutang Mama. Dia memukulmu terus menerus sebab hutang kita tidak pernah terbayar! Buka pemikiran sempitmu itu, hyung! Kenapa kau diam saja saat dipukul? Kenapa kau menceritakan apapun? Kenapa?!"

Suaranya tercekat di akhir kalimat. "Apa kau sedang menerapkan cara Mama?"

"Apa yang kau maksud?"

Jungkook mendengus, "Kau membayar dengan tubuhmu, kan?"

Pertanyaan yang terdengar seperti pernyataan itu menohok Taehyung begitu dalam. Sampai ia tidak mampu bernapas, jemarinya gemetar, dan tubuhnya seketika kaku. Matanya membola dan bergerak gelisah tidak percaya. Bagaimana bisa Adiknya bicara seperti itu padanya. Ia merasakan sesak di dadanya semakin membunuh. "Apa maksudmu? Tentu tidak," namun balasan Taehyung hanya menghasilkan decihan geli dari Jungkook yang kini tersenyum miris hampir tertawa konyol. "Aku tidak bermaksud kearah sana, sebenarnya. Aku sedang bertanya tentang luka di tubuhmu itu. Kau membayar hutang Mama dengan luka di sekujur tubuhmu itu, kan? Tapi yang kau pikirkan ternyata lain maksud, oh... apa mungkin kau benar-benar seperti Mama; membayar hutang dengan tubuhmu?"

"Kim Jungkook!"

Jungkook berdecih lagi. "Memang benar, kan? Mama membayar hutang piutang dengan tubuhnya! Bercinta dengan orang jelek seperti dia; sekali lihat saja aku tahu dia itu penyakitan. Entah berapa banyak virus yang ada ditubuh Mama setelah bercinta dengan dia –" ia mendengus kala Taehyung berteriak mengingatkan. Tapi ia tidak mau peduli. Ia telah lama muak dengan semua hal yang memusingkanya. Ia semakin marah membayangkan betapa konyol Mamanya menyerahkan diri hanya untuk uang. " –murah. Benar-benar murah! Kenapa kalian tidak minta tolong saja sama keluarga Park?! Kalian mengemis satu juta won sehari pun mereka akan memberi tanpa pikir panjang! Kenapa sampai berhutang dengan orang sepertia dia?! Memang keluarga Park kurang kaya apalagi?! Kalian tahu Shin bangsat itu akan seperti ini tapi kenapa –kenapa kalian bodoh seperti ini?!"

"Tidak kusangka Mama sebegini jalang hanya karena uang."

Dan kalimat terakhir dari Adiknya merupakan puncak dari amarah Taehyung. Ia menampar pipi Jungkook begitu keras, napasnya pendek-pendek dan kasar, matanya basah siap menangis, bahkan jemarinya bergetar, tangannya masih sakit untuk menampar adiknya itu. Tapi ia tidak terima, ia tidak bisa mendengar keburukan apapun tentang Mama. Dan ia tidak bisa percaya kata-kata kotor untuk orang tersayangnya keluar dari Adiknya sendiri. Taehyung sangat marah. "Jaga ucapanmu, Jungkook."

"Terserah!"

Dan sarapan mereka menjadi dingin begitu saja termakan waktu.

.

.

Jungkook mengunci pintu kamarnya. Ia marah sekali, dadanya kembang kempis begitu cepat dan dalam. Ia ingin berteriak namun terlalu sesak sampai ia tidak mampu berucap apa-apa. Ia menyentuh pipinya yang panas dan memerah oleh tamparan keras Taehyung beberapa detik lalu. Ia menggigit bibirnya kuat nyaris menangis. Selama tujuh belas tahun ia hidup, baru pertama Taehyung membentak dan menamparnya begini keras. Jungkook masih ingat betul suara telapak tangan yang membentur pipinya begitu kencang menggema di ruang makan. Benar-benar memekak dan membuatnya sakit, ia tidak terima dan terlampau terkejut. Baru pertama ia melihat Taehyung yang dilanda amarah.

"Bodoh –kau bodoh!"

Lantas ia duduk di kasur tipisnya dan menangis. Semua ini membuat kepalanya semakin pusing, ia tidak bisa seperti ini. Ia tidak suka merasa seperti ini. Entah kenapa tamparan Kakaknya masih terasa sangat menyakitkan dan pipinya terus berdenyut. Ia sungguh kesakitan. "Dasar bodoh! Bodoh!"

Ia menangis kencang, tidak peduli bila Taehyung menggedor pintunya. Tidak peduli bila orang mungkin mendengar suara tangisnya yang seperti anak kecil. Ia merasa begitu menyedihkan dan sakit. Ia tidak suka dengan Taehyung. Sangat benci pada Kakaknya. Tidak mau terus merasa bodoh sebab menjadi cengeng, ia berusaha menghentikan tangisnya. Mengatur respirasinya sampai kembali normal meski hatinya masih digeluti amarah dan dengki. Ia berusaha berpikir jernih. Dan entah kenapa matanya justru teralih pada buku matematika yang ada di atas nakas di samping tubuhnya. Lantas ia mengambil buku tebal itu dan membukanya pada halaman seratus tujuh puluh.

Jungkook terdiam. Berpikir masak-masak sebelum akhirnya meraih kartu nama Sehun yang pernah pemuda licik itu berikan padanya. Seorang CEO dari klub malam yang ternama di pusat kota. Penuh dengan kerlipan lampu menyilaukan dan aroma manis dari alkohol yang berbaur dengan aroma seks di seluruh ruangan. Begitu mewah, berbeda dengan klub murah di sudut kota yang tidak memiliki ijin pembangunan. Maka Wings Club adalah satu dari sekian klub yang termegah dan cantik.

Lama ia berpikir dan mengelus nomor Sehun yang tertera di kartu itu. Sampai akhirnya ia mengambil ponsel miliknya dan menelpon pemuda keparat itu. Meski ia tahu pasti Sehun akan tertawa pertama ia mengangkat panggilan. Tidak apa, ia akan keluar dari sini.

"Halo, kelinci."

Jungkook sudah tahu dia akan tertawa. "Aku menerima ajakanmu."

.

.

.

To Be Continued

.

[Edisi: sesi panjang lebar]

noun; cuap-cuap

...

oke... aku kembali. setelah sekian lama kehabisan ide, dan akhirnya aku membuktikan penelitian bahwa kreatifitas itu terbentuk mulai jam sepuluh malam hingga tiga pagi. dan aku mengetik ini jam sebelas... walaupun tetep dilanjut hari-hari esoknya, sih...

makasih buat semuaaanya yang sudah berpartisipasi dalam cerita ini. yang review, yang favs dan follow, yang sider. juga anggota grup di Line yang jadi penyemangat saya untuk terus berkarya #halah. juga momen momen bangtan yang bikin saya gemes. ada beberapa komentar yang membangun dan jadi kritikan soal typo, pengejaan, pemakaian kalimat, semua saya terima. terima kasih sekali. dan sekadar memperingatkan, jika ada kekeliruan saya soal beberapa status di dalam cerita, saya minta maaf. saya baru sadar di awal saya mengisahkan Jungkook itu kelas tiga tetapi di chapter selanjutnya dia dibilang kelas dua. maaf, itu kesalahan saya.. akan saya perbaiki untuk kedepannya. mohon pengertiannya, terima kasih.

ah, omong-omong CONGRATULATIONS TO MY BELOVED! FINALLY, DAESANG AWARD GOES TO BANGTAN! meskipun menuai kontroversi, pihak Melon tetap membuktikan bahwa cintaku sama sekali tidak curang dan memang berhak mendapatkan penghargaan sebesar itu. meski dihujat banyak pihak, nyatanya angka rate yang Bangtan miliki terkait album HYYH memang yang paling tinggi. well, meskipun haters tetaplah haters. intinya, ada satu ucapan dari fans yang membuatku sangat setuju.

apa salahnya membiarkan sebuah grup merasakan kebahagiaan itu?

itu sangat dalam untuk saya. saya tidak menjelekkan fandom sebelah, toh bangtan menjalin persahabatan yang baik dengan sunbae dan hoobae mereka. seharusnya kita pula seperti itu. dan sesungguhnya, serakah itu dosa. benar?

sekian cuap-cuap saya, terus membaca cerita saya, oke? kalau punya waktu luang bisa kok mampir ke cerita saya yang lain. ehehehe

[copyright-sugantea]