"Satu lagi, man."

Jungkook mengerang, matanya berat dan berkantung. Dadanya terasa sesak namun Sehun sama sekali tidak membantu dengan bibirnya yang terus saja mengoceh dan tangannya yang usil meraba tubuhnya hingga ia kegelian. "Ayolah, man. Satu vodka tidak mampu membuatmu tumbang, kan?"

"Aku bukan pecundang," ujar Jungkook marah. Lantas meneguk vodkanya dengan ritme berantakan, nyaris menumpahkan separuh dari isi gelas kaca itu. Bibirnya sudah merah dan bengkak. Ia tidak sudi menolak tantangan Sehun. Ini pilihannya untuk datang kemari, taruh dimana mukanya jika menjadi lemah seperti anak kucing kecebur empang. "Ah, kepalaku,"

"Hangover, uhm?"

Yang diledek mendelik sebal. "Big no. You are,"

Sehun tertawa lepas. Nyaris membuat Jungkook terpana akan bagaimana rahang tajam itu nampak sangat fleksibel dan cantik. Bibirnya merah sekali, ada semburat oranye di bagian tengah –sepertinya dia pakai liptint oranye. Rambut Sehun lembut sekali, bergerak kesana kemari mengikuti gerak kepalanya. Aromanya maskulin, tegas, meskipun ada wangi madu di sela keringatnya. Jungkook menelan ludahnya berat sekali sebab sialnya Sehun benar-benar menggoda. Dia bingung harus terpana atau merasa dosa.

Namanya Oh Sehun, orangnya peka. "Daripada orgasme melihatku, lebih baik kau buat gadis-gadis disini orgasme dibawah kendalimu."

"Aku ini cowok mahal," Jungkook menyandarkan kepalanya yang pusing. "Gadis disini –bukan gadis. Mereka sudah tidak perawan, 'kan? Lebih bagus dipanggil jalang, toh, mereka lebih mudah turn ketika dipanggil begitu."

"Kau pikir jalang ditempatku ini murahan?"

Jungkook tertawa pelan, meski matanya tertutup lelah. "Bukannya merendahkan, sih. Namanya jalang; mau di Wings Club atau Miami sekalipun tetap saja, mereka perempuan murah." Lantas menepuk kepala Sehun meremehkan. "Aku tidak mau pakai barang murah, man."

Selanjutnya mereka terdiam. Sehun pun tidak menjawab. Namun pikirannya mengawang-awang, matanya menelusuri Jungkook yang sudah tenggelam dalam batas alkoholnya. Dia berhasil membawa anak kelinci itu kemari, dan menurutnya apa yang mereka lakukan ini tidak cukup. "Hei, kelinci."

"Uhm?"

"Memangnya... kau hanya akan seks dengan istrimu saja kelak?" Sehun bertanya, meminum Martininya anggun sesekali menggerus french fries dan nacho di hadapannya. Diliriknya Jungkook yang perlahan membuka mata, dan mengerjap sebentar. Keningnya berkerut sebentar lantas mendesis, "Ya memang harus dengan siapa lagi? Seks adalah bercinta, dan jika tidak melakukannya dengan orang yang kita cinta, apa bisa disebut seks; tidak, 'kan?"

Sehun terpekur. "Kurasa, ini pendapatku, tapi aku tidak percaya cinta."

Terdengar suara kikikan dari bibir Jungkook. "Aku tidak tahu kau bisa melankolis karena cinta. Punya kenangan buruk, huh? Ditinggal pacar ke luar negeri? Diduakan? Ditinggal hamil? Ditinggal menikah?"

"Tidak seperti itu, bodoh." Sehun mendengus. "Tidak usah sok tahu. Cinta itu memang tidak ada, mereka tidak nyata, dan lagi –bualan. Seks bukanlah bercinta; tapi bersetubuh, pemuasan hasrat dan birahi. Tidak semua orang melakukannya hanya karena cinta."

"Ya lalu kenapa kau malah bercerita konyol?"

Sehun menghela napas. Matanya melirik ke arah barat dan memberi sinyal melalui tatapannya pada seorang perempuan tinggi seksi yang sudah menyilangkan tangannya di dada. Perempuan itu tersenyum dan mendekat, tiba-tiba duduk di samping Jungkook dan menangkup pinggul kokohnya. Perempuan itu seketika meremang, tubuh Jungkook panas, panas, panas sekali. Ototnya menegang dan aromanya bercampur; manis dan memabukkan. Mata perempuan itu tak lepas dari mata hitam Jungkook yang sangat jernih seperti gundu. "Dan siapa kau?"

"Choi Jiyoon," jawab gadis itu cepat. Bulu kuduknya meremang mendengar suara parau Jungkook. "Kau oke, dan luar biasa panas –" sesaat ia melirik Sehun. "Apa dia bisa aku pinjam?"

"Pakai semaumu, dan tinggalkan saja nominal yang kau mau."

Jungkook mendelik. "Kenapa seolah aku yang jadi pelacur disini?"

" –Tidak," gadis itu berujar lembut usai mencium pipi Jungkook. Jemarinya mengelus tengkuk pemuda manis itu hingga ia benar-benar ingin merengek. Jungkook benar-benar panas, dan ia sungguh tidak bisa menahan ini lebih lama lagi. Atau ia akan mati oleh birahi. "Kau hanya perlu penyegaran, Babe. Aku tidak murah seperti apa yang kau bayangkan. Tanya Sehun seberapa jarang aku ada disini. Aku pun pilih-pilih saat akan melakukannya. Kau tahu, aku tidak mau kena HIV." Jiyoon merengut saat Jungkook mencoba mengelak sentuhannya.

Menarik.

Pria seperti Jungkook yang dia suka. "Kau terlihat polos sekali," ujarnya kemudian. "One night stand doesn't kill or hurt anyone. We find pleasure, Dearest. Aku nyaris tidak percaya Sehun mengundang anak sepertimu kemari, setahuku, temannya adalah pria lapar yang banyak uang. Bukan anak kecebong kayak kamu, baru sekali aku melihat yang seberani kamu kemari."

"Dan... Anda lebih tua?"

Jiyoon tertawa. "Anda? Yah! Kenapa kau bawa anak kecil kemari, Oh Sehun?" ia melirik Sehun yang sedang mencibir dan memutar bola matanya pongah. "Secara hukum, ya. Aku lebih tua enam tahun menurut kalkulasi Korea dan lima tahun secara global. Kudengar, kau suka noona?"

Menarik. Jungkook suka.

Tapi yang sedang dielus tengkuknya itu diam saja. Lama-lama enak juga dibelai seperti ini. Tangan Jiyoon sangat lembut sampai Jungkook gemetar. Harumnya menusuk; coklat dan buah berry –mungkin sedikit segar dengan semerbak limun dan peppermint. Dan wajah Jiyoon –sangat– oke. "Namamu?"

"Jungkook," ia bahkan tidak sadar sudah meremas pinggang Jiyoon. Ramping sekali, Jungkook benar-benar gemas ingin menyentuhnya atau ia bisa gila. "Kim Jungkook,"

"Cute,"

Dengan satu tarikan kuat, Jungkook mendekatkan tubuh Jiyoon dengan mudahnya. Tahu-tahu hidung Jungkook sudah menghirup aroma kuat Jiyoon di lehernya. "Jadi, kau suka Daddy atau Oppa?"

"Aku bukan Oppa, Jiyoon –apa aku harus panggil kau nuna?"

Jiyoon terkikik dan mendorong wajah lebar Jungkook, menangkupnya gemas. "It depends on you. Kau suka dengan itu, tak masalah. I love young boy, i love to sex with young boy –dan kau sungguh tipeku. Terdengar gombal tapi kau sangat –sungguh panas," ia mengerang di akhir kalimatnya. Entah Jungkook sengaja atau tidak saat tangannya sudah tiba di pangkal payudaranya dan ototnya sungguh membuatnya panas.

Sialan.

Belum pernah ia merasa begini murah oleh sentuhan sederhana begini.

Dihadapannya Jungkook tersenyum miring. "Dimulai dari sebuah ciuman, itu oke?"

.

.


My Mama

.

Kim Taehyung

Jeon Jungkook – role as Kim Jungkook

.

From this chapter, the rate changed to M.

.

Kita memiliki dua jiwa didalam tubuh, dimana kita tidak tahu apa yang dilakukan salah satu jiwa dalam tubuh kita begitu memulai hari baru.

.


Taehyung memasang sedotan pada botol yoghurtnya lantas meminumnya dalam diam. Matanya sibuk membaca lowongan kerja di koran halaman lima belas pagi itu. Keningnya berkerut serius, sesekali menggumam bingung. Dia tidak tahu harus melamar dimana; tidak ada yang dia suka dan kebanyakan persyaratan yang diajukan cukup sulit. Sekolah saja dia tidak lulus.

"Apa jadinya aku tanpa Jimin," ia mengeluh. Menyandarkan tubuhnya pada bangku plastik lantas mendongak menatap langit cerah. Matanya terpejam tidak mampu menerima matahari. "Pekerjaan saja kalau bukan dia yang beri –aku tidak tahu lagi."

Saat senggang seperti ini adalah waktu bagi Taehyung untuk merenungi hidupnya yang payah. Tidak bisa menjadi Kakak yang baik untuk adiknya, sekolah tidak benar, cari kerja kesana kemari selalu ditolak, hanya mampu jadi buruh, dan selalu dipecat. Hidupnya dihantui hutang dan tunggakkan. Untuk sesaat ia merasa sangat bodoh.

Dia lelah.

Sempat terbesit dibenaknya untuk mati. Sudah berkali-kali ia melakukan percobaan bunuh diri. Puluhan kali ia terdiam di pinggir jembatan dengan kaki telanjang dan menatap sungai. Puluhan kali ia menerobos lampu merah pejalan kaki. Puluhan kali ia menggenggam pisau lipat. Puluhan kali ia mematung diatas gedung lima belas lantai, menatap jalanan yang ramai dan segala hiruk pikuknya. Ia ingin mati, tapi tidak bisa. Dia tidak berani. Wajah Jungkook selalu membayanginya setiap saat.

"Apa sih yang aku pikirkan,"

Sadar bukan waktu yang tepat untuk melamun, Taehyung bangkit. Waktu shiftnya akan dimulai dalam waktu tiga jam. Masih ada waktu untuk beres-beres rumah. Seingatnya seragam olahraga Jungkook belum ia gosok. Ia melangkah dengan pelan usai membuang botol yoghurt kecilnya kedalam tong sampah. Perutnya gemetar kelaparan tapi uangnya hanya cukup membeli yoghurt tadi saja. Dia harus cepat pulang dan makan sesuatu.

Dan ia hampir terpeleset sebab menginjak apel merah yang menggelinding ke arahnya. Ia kaget dan mengambil apel yang sudah setengah remuk oleh kaki kurusnya. Ia mengalihkan pandangan pada penjual apel di sudut jalan. Seorang Kakek yang sedang kerepotan membungkus apel pesanan pembeli, tidak sadar kalau beberapa anak SMA mencuri apelnya. Lantas Taehyung mendekat dan mencengkeram lengan kurus anak sekolah itu, "Kembalikan apel paman itu."

"Apaan, sih!"

Sontak Kakek penjual apel menoleh, beserta beberapa pembeli dihadapannya turut memerhatikan dalam diam, meskipun penasaran juga. "Kakek, dia mencuri apelmu –" Taehyung merogoh kantung blazer dan kantung celana anak SMA itu dengan susah payah lantas menyodorkannya pada si penjual apel dengan wajah merengut. " –nih, dia mencuri!"

Belum sempat Kakek merespon, si anak itu sudah lari.

"Tuan, mana apelku? Cepatlah," seorang wanita nampak begitu buru-buru.

"Ah! Iya, ini –silahkan."

Kakek menghela. Lantas menatap Taehyung yang masih memandangnya dalam diam dan mengerjap seolah tidak mengerti apa yang barusan terjadi. Sang Kakek tersenyum dan mengayunkan tangannya memanggil Taehyung mendekat. Lantas Taehyung berlari kecil menghampiri. Tatapannya lugu sampai Kakek nyaris tertawa gemas. "Cucuku,"

"Eh... tapi aku bukan –"

"Yang tadi," Kakek tersenyum lagi. Menepuk kepala Taehyung gemas. "Yang tadi mencuri apel itu cucuku. Namanya Lee Chan, masih llima belas tahun. Kalau kau tahu SMA Hankook, ya disitu cucuku sekolah."

Taehyung mengangguk lamat. Pantas Kakek itu diam saja, wajahnya nampak pongah dan sudah biasa. Ternyata cucunya yang mencuri apel. Dasar anak-anak. "Memangnya Chan biasa mencuri apel?"

"Ya, sebab dia tidak bisa makan daging."

"Lah..? hubungannya apa, dong?"

Kakek tertawa lepas. Lantas menarik Taehyung duduk disebelahnya, menyodorkannya sebuah apel merah besar. Taehyung bingung namun hanya diam dan menerima apel itu. Seketika perutnya makin meronta. Dia benar-benar lapar, dia harus pulang sekarang. masih banyak baju yang harus disetrika di rumah. Dia juga harus bersiap kerja. "Kau boleh makan apel itu, kalau kau mau bantu aku."

"Menangkap Lee Chan?"

"Astaga," dia tertawa lagi. "Buat apa menangkap anak cacing kayak dia. Mendengarnya bicara saja gendang telingaku bisa pecah. Aku tidak tahan kalau harus selalu bersamanya." Kemudian tertawa lagi begitu Taehyung memiringkan kepalanya tidak mengerti. Keningnya berkerut dan wajahnya serius sekali, Kakek tidak mengerti kenapa ada orang seperti ini. polosnya tidak karuan –atau bodoh, mungkin lebih tepat seperti itu.

Kakek mengeluarkan pisau dan mengambil apel di tangan Taehyung, memotongnya cepat lantas menyodorkannya ke mulut Taehyung. Taehyung mengerjap pelan, lantas memakan potongan apel itu. Manis dan asam, rasanya lucu tapi enak. Sangat pas di indera perasanya. Dia sangat suka.

"Bantu aku jual ini?"

Sontak Taehyung terperanjat. Apa ini sebuah kesempatan?

"Benar?" Taehyung meremas lembut jemari Kakek. "Aku boleh kerja denganmu?"

Kakek itu tertawa lagi. "Apa aku punya pilihan untuk menolak?"

"Yes!" lantas Taehyung bangkit dengan senyum lebar dan kegirangan. Buru-buru merapikan apel yang berantakan agar nampak cantik dan segar. Kemudian berseru lantang menjajakan apel merah besar itu, suaranya terdengar sangat manis dan lucu. Meski berat dan sedikit bass, namun suaranya sangat bulat dan kuat. Tebal dan berwarna, membuat banyak orang berhenti, berpikir, lantas mendekat.

Hari itu, pertama kalinya apel Kakek laris terjual.


Jungkook tahu Sehun itu berandal. Ini adalah resiko dari komitmen yang ia putuskan jika berteman dengannya. Ketika pagi menjelang, seketika ia merengek frustasi –ia baru ingat. Kejadian konyol bersama Sehun di club-nya, juga adegan panas bersama seorang nuna yang namanya saja ia lupa. Yang jelas mereka berciuman sangat lama, hampir buka-bukaan kalau saja ia tidak pingsan. Ia malu.

Sampai ia terbatuk oleh asap rokok yang menerpa wajahnya.

"Here," Sehun menggigit rokoknya begitu seksi, menyodorkan sebatang yang baru pada Jungkook yang baru tersadar dari lamunannya. "Marlboro Mint; dapat menyegarkan pikiranmu. Wajahmu jelek kalau sedang kusut seperti itu. Ini mahal, jangan coba-coba kau menolak."

Jemari Jungkook bertaut gelisah. Matanya bergetar takut. Ia memang sudah berandal sejak pertama meneguk alkohol bersama raja berandal ini tapi bukan merokok. Ia masih takut merokok; ia tidak bisa membiarkan tembakau mematikan itu merenggut paru-parunya. "Aku tidak mau,"

Suaranya terdengar mencicit, dan Sehun hanya tertawa.

"A cry baby always be a cry baby," ia menghirup rokoknya dalam lantas menghembuskannya kuat, seolah tidak peduli kalau guru atau student council bisa saja melihat kepulan itu. Mereka sedang duduk-duduk di belakang sekolah, dan Jungkook tidak bisa berhenti berpikir kalau ini ide buruk. Dia tidak suka nampak berandal di depan teman-teman; Seokmin dan Mingyu, misalnya. "Ini soal bagaimana kau mampu mengontrol dirimu sendiri, kiddo. Aku perokok aktif, dan aku mampu mengendalikan setan dalam diriku untuk kecanduan akan benda ini. Sedikit informasi saja, aku hanya menggunakannya jika aku sedang kacau, dalam artian benar-benar kacau."

Terdengar seru.

"Kau sedang kacau?" Jungkook menatap Sehun. "Kupikir kau hanya bisa mengacaukan hidup orang."

Lantas Sehun tertawa saat menghembuskan asap rokoknya. "Ya, itu salah satu keahlian dan kuasaku untuk membuat hidup orang lain jadi berantakan," kemudian ia menyandarkan punggung lebarnya ke dinding di belakang tubuhnya. Kakinya ia tumpuk indah dan tangannya bersedekap. "Dua hari lagi hidupku akan berada di ambang kehancuran,"

"Kau... mencoba curhat padaku?"

"Terserah," Sehun memejamkan matanya sembari menghirup rokoknya dalam. "Dua hari lagi sidang perceraian orangtuaku akan menuju akhir. Yang menjadi awal bagiku untuk hidup berada dibawah tangan siapa. Mereka berdua tidak ada bagus-bagusnya, dan aku tidak punya pilihan. Sebab mereka sama kejamnya, seperti setan." Ia berucap lirih, membuat Jungkook termangu. Baru pertama ia melihat Oh Sehun, si raja berandal bersikap melankolis begini. Ia bahkan melihat jemarinya bergetar, dan ucapannya terdengar ragu, lambat, dan pahit. "Mom dan Dad; kalau aku bisa memilih, aku ingin tinggal sendirian saja."

"Kenapa?"

Sehun melirik Jungkook tajam. "Mereka itu iblis. Licik dan senang berseteru. Aku tidak suka dijadikan bahan permainan untuk mendapatkan sesuatu," ia menghela. "Meskipun aku senang saja mereka memberiku uang dan segala yang aku mau. Diluar itu, mereka benar-benar iblis. Informasi lagi, tatto di tubuhku hanyalah tambalan dari luka yang kudapat dari mereka."

Yang benar saja. Pengakuan tiba-tiba itu membuat Jungkook kaget. Ia sungguh tidak menyangka kalau Sehun mendapat kekerasan fisik di rumah oleh orangtuanya sendiri. Ia memang pernah melihat tubuh setengah telanjang Sehun saat mereka berada di ruang ganti yang sama. Tattonya benar-benar keren, dan ia baru tahu itu hanya penambal luka. Seingatnya, tatto Sehun nyaris menutupi seluruh permukaan kulit di tubuhnya; apa itu artinya Sehun terluka sebegitu banyak? Jungkook tidak tahu.

"Menurutmu, mana yang lebih baik?" Sehun membuka suara. "Ayahku; yang tidak pernah peduli apakah tabiatku buruk di sekolah dan selalu memukulku dengan Degen saat mabuk tapi selalu memberiku uang, atau Ibuku; yang selalu memamerkanku di depan teman-temannya untuk dijodohkan demi kelancaran bisnis dan akan mencakar punggungku jika tidak ada yang mau menjadikanku menantu, tapi selalu menelponku setiap malam dan mengirim makan siang setiap hari Minggu?"

Tidak ada jawaban. Lantas Sehun tertawa lagi. Mematikan rokoknya dengan telapak tangannya sendiri, membuat Jungkook memekik kaget. Namun Sehun hanya menatap Jungkook dengan geli dan meniup abu rokok di tangannya santai. Ia nampak biasa saja. "Aku sudah terlatih merasakan sakit. Kau ingat tatto mawar merah di dada kananku? Itu saat Dad mematikan rokoknya disana, apa itu terlihat keren?"

Jungkook menghela.

"Sehun,"

Yang dipanggil tidak mengerti kenapa Jungkook melebarkan tangannya ke samping. Keningnya berkerut tidak percaya. Tidak mungkin kelinci ini menawarkan sebuah pelukan, bukan? Terdengar konyol dan kekanakkan. Sehun tidak membutuhkan kehangatan atau sesuatu seperti itu. Tapi sepertinya Jungkook sangat yakin tentang apa yang dia lakukan saat ini. "Mungkin, sebuah pelukan terasa begitu konyol dan menye-menye. Tapi menurutku, akan terasa lebih baik ketimbang menutup luka dengan merenung dan menghisap tembakau. Aku tahu kau tidak percaya cinta, tapi kasih sayang itu ada, ingat?"

"Aku tahu ini nampak bodoh," ia berdecih sebentar. "Ya, aku sedang menawarkan pelukan pada si brengsek Oh Sehun. Anggap saja ini rasa terima kasihku karena membiarkanku mendengar cerita melankolismu dan untuk apa yang telah kau beri padaku, kurasa ini cukup?"

"Kau... aneh. Pelukan itu hanya untuk wanita, kecuali kau banci."

Jungkook menghela lagi. "Ya, aku tahu. Ketimbang memilih Ayah atau Ibumu, yang memberi luka sebegini besar padamu.. mungkin lebih baik jika kau memilih temanmu. Atau aku, itu tidak masalah."

"Memangnya kita berteman?"

"Tidak," Jungkook menggeleng cepat. "Tapi kau bisa percaya padaku."

Untuk pertama kalinya, Sehun merasa nyaman oleh sebuah pelukan.

.


"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?"

Jihoon menoleh kaget. Seorang karyawan yang sepertinya seorang waiter datang menghampirinya. Ia tertawa canggung ditatap oleh pelayan itu. Ia merasa konyol sekali, barusan ia memindai ke dalam cafe dari balik jendela kaca di luar. Mungkin ia nampak bodoh saat celingukan seperti orang kampungan. Tapi ia segera menunduk sopan, dibalas senyum manis dari pelayan itu. "Sebenarnya, aku mencari Kakakku."

Pelayan itu tersenyum lagi. "Raspberry squash sangat cocok saat seperti ini."

"Maaf?"

Ia membuka pintu kaca itu dan mempersilahkan Jihoon masuk dengan sopan. Tersenyum lagi sampai Jihoon pikir mungkin pria ini bisa merobek bibirnya sendiri. Meski ia akui senyumnya itu manis juga, maksudnya sampai ia berdebar begini. Luar biasa. "Kami juga punya cheesecake dan chocolava cake. Atau mungkin fries and chips, kalau kau tidak suka sesuatu yang manis?"

Kenapa dia jadi menawarkan menu.

"Aku tidak –"

Dengan cepat pelayan itu menangkap bahu mungil Jihoon dan menggiringnya masuk dengan lembut meski tetap sopan sebagaimana tertuang dalam peraturan pegawai pasal dua. Jihoon hanya diam tidak mengerti meski ia mau saja dibawa ke meja nomor tujuh belas, yang berhadapan langsung dengan barista. Jihoon mengerjap kebingungan saat ia sudah duduk di sofa empuk. "Jadi, raspberry squash dengan fries and chips?"

"Uh, ya. Dengan tambahan saus mayo pedas."

"Oke," pelayan itu mencatat cepat. Lantas bertemu tatap dengan Jihoon lagi, "Dan nama Kakakmu?"

Akhirnya, dia dapat yang dia mau. "Kim Taehyung."

Pelayan itu mengangguk. Memastikan Jihoon untuk menunggu dengan tenang, menjelaskan padanya kalau ia bisa mengambil keripik kentang atau permen di ujung barat sembari menunggu. Kemudian ia pamit sebelum Jihoon memekik dan menahannya sebentar untuk menanyakan namanya.

"Kwon Soonyoung,"

"Oh.. ya, terima kasih." Lantas Soonyoung pergi menuju counternya sendiri. Meneriakkan pesanan Jihoon dan memanggil Taehyung yang entah ada dimana. Jihoon hanya menatapnya dalam diam, meski ia terheran. "Bagaimana ia bisa tahu aku suka squash berry dan tidak suka makanan manis?"

Sudahlah. Ia tidak mau tahu. Ia sering dengar kalau ada cafe yang menerapkan training pada calon karyawannya. Mungkin Soonyoung sudah terlatih untuk membaca karakter orang dan ia hanya terlalu pandai untuk menawarkan menu terbaik bagi pelanggan. Jangan lupa senyumnya yang manis itu, siapa yang tidak terbuai dengan kelembutan seperti itu.

"Jihoon?"

Yang dipanggil menoleh dan girang mendapati Taehyung sudah dihadapannya. Tapi Taehyung tidak sesenang dirinya, setidaknya itu yang dia lihat. "Kupikir Jungkook yang datang kemari," ia menoleh ke belakang. "Soonyoung bilang adikku mencari."

"Aku bukan adikmu, begitu?" Jihoon merengut sebal. Taehyung hanya tertawa dan duduk di hadapan Jihoon yang masih mengembungkan pipinya tanda marah. "Bukan begitu. Kau tetap adikku, Jihoonie. Aku hanya –entahlah, memang aku terlalu berharap Jungkook akan kemari. Aneh, kan? Seharusnya aku tahu kau akan kemari. Omong-omong, kau tidak menghubungi dulu kalau mau datang."

"Kejutan, dong. Dan –" Jihoon menyipitkan mata dan mendorong tubuhnya mendekati Taehyung. "Hyung! Ya ampun, ada apa dengan wajahmu?! Ya Tuhan aku baru sadar, apa ini? kenapa wajahmu jadi babak belur seperti ini?"

Taehyung tersenyum. "Bukan masalah besar, kok."

"Bohong!" Jihoon tahu tabiat Taehyung yang suka memendam luka. "Hyung, jangan coba bilang kalau kau berhutang dengan lintah darat dan mereka memukulmu seperti ini."

"Baiklah, aku akan tutup mulut."

"Hyung!"

Taehyung menghela, menepuk pundak Jihoon dan menuntunnya duduk santai kembali. Mengelus rambut Jihoon pelan dan mencubit pipi adiknya ini sedikit. "Hyung tidak apa, hei, jangan berlebihan. Aku kuat, jangan pikir hyung-mu ini lemah, dong. Ini hanya luka, sebentar lagi juga sembuh." Ujarnya lambat dan tenang. Membuat Jihoon secara terpaksa menghela dan menerima. Toh, sudah terjadi dan lagi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Tapi melihat luka itu sungguh membuat Jihoon merengek, ia ingin menangis tapi Taehyung selalu mengingatkannya untuk tidak menangis karenanya. Jadi Jihoon hanya diam menunduk dan menggenggam jemari panjang Taehyung erat. "Cobalah kau bujuk dia, dek."

Jihoon mendongak.

Seorang pria yang nampak maskulin dengan senyum lembutnya datang. Membawa nampan berisi pesanannya tadi, dengan tambahan susu cokelat dan biskuit jahe. Ia duduk dan meletakkan apa yang dibawanya di meja dan menatap Jihoon dengan senyum yang tak luntur. Jihoon bingung, apa menjadi karyawan disini memang harus punya senyum yang awet dan lebar seperti ini? Dan ia hanya diam mengerjap saat pria itu menarik tangannya dan berjabat. "Aku Park Jimin, kudengar dari Taetae kau ingin bertemu denganku?"

"Ah, Jimin hyung yang itu?" Jihoon memekik senang. "Salam kenal, aku Lee Jihoon."

Jimin tersenyum dan mengangguk. "Kau manis, seperti apa yang Taetae ceritakan padaku." Ia menopang wajahnya dengan lengan kiri, sedang lengan kanan dipakainya untuk mengambil biskuit jahe lantas menggigitnya pelan kemudian memasukkannya ke mulut Taehyung. Menuai protes dari korban, meskipun Jimin santai saja tetap menjejalkan biskuit itu dan Taehyung juga pasrah disuapi biskuit. Melihat itu, Jihoon terdiam. Mungkin ia mengerti kenapa Taehyung sayang Jimin. "Ayo, dimakan, Jihoonie. Keburu dingin, loh."

"Ah... iya, hyung." jihoon mulai makan fries and chipsnya diam. Sesekali memindai interaksi Jimin dan Taehyung yang menurutnya sangat lucu. Disana Jimin terus memaksa Taehyung untuk menghabiskan biskuit dan susu cokelatnya, sedang Taehyung terus merengek tidak mau. Jihoon terkekeh pelan melihatnya. Ia senang melihat Kakaknya diperhatikan dengan baik. Dan sepertinya, Jimin adalah sahabat yang sangat baik untuk Taehyung. Mungkin, ia bisa percaya pada Jimin.

.

.

"Yakin, tidak mau naik mobilku saja?"

Taehyung menggeleng dan tersenyum. "Kau hanya punya waktu dua puluh menit untuk pergi menemui Jihyun di rumah. Lagipula Mama pasti sudah menunggumu sambil bersedekap dan siap melemparimu dengan sepatu busukmu kalau kau terlambat." Ia terkekeh dengan ucapannya sendiri, sedangkan Jimin merengut sebal. Kalau saja Jihyun tidak menelponnya untuk pulang lebih cepat meminta bantuannya mengerjakan tugas rumah, ia sudah akan mengantar Taehyung dan Jihoon pulang. Mama sama sekali tidak membantu dengan turut mengancam. Menyebalkan. "Bocah setan itu, aku yang akan patahkan lehernya saat sudah dirumah nanti."

"Ya ya, terserah." Taehyung merapatkan jaketnya dan merangkul Jihoon. "Kami pulang, ya."

"Hati-hati!"

Taehyung hanya bergumam membalasnya, melambaikan tangannya semangat. Kemudian menggengam jemari Jihoon erat lantas tersenyum saat Jihoon menatapnya diam. Rasanya hangat dan nyaman, sekujur tubuh Taehyung meremang dan ini sungguh menyenangkan. Sudah lama sekali sejak terakhir ia berjalan bergandengan tangan seperti ini. perawakan Jihoon yang kecil malah mengingatkannya saat dulu, dimana ia selalu menggandeng Jungkook yang pulang dari sekolahnya. Ia merindukan masa itu untuk sesaat, tapi ia berusaha menapisnya. Ia tidak ingin Jihoon mersa kecewa karena memikirkan Jungkook jika sedang bersamanya. Taehyung tidak tahu mengapa, tapi Jihoon selalu sebal kalau Taehyung menyebut Jungkook jika mereka sedang berdua. "Hyung,"

"Hm?"

"Tangan hyung besar sekali," Jihoon tersenyum. "Hangat, aku suka. Suka sekali."

Dulu Jungkook juga bilang begitu.

"Ya, terima kasih. Tanganmu kecil, pas untuk digenggam."

Biasanya kalau diledek seperti itu, Jihoon akan marah. Tapi ini Taehyung. Selain ia tidak bisa marah padanya, seluruh ucapan Taehyung bahkan tidak ada yang menyinggungnya. Justru membuatnya merasa senang seperti diperhatikan. Ah, jadi begini rasanya memiliki Kakak. Betapa menyenangkannya dilindungi begini, meski hanya bergandengan tangan. Tapi ia merasa sungguh senang.

Tidak apa ia pulang larut hari ini. Lagipula Ayah sedang dinas di Jinan. Jadi tidak ada yang bisa memarahinya atau mendiktenya setiap waktu. Kalau soal pekerjaan, Namjoon selalu menjadi profesional dan tidak melibatkan urusan pribadi. Meskipun kalau malam atau jam makan siang tiba, Jihoon terkadang dihubungi Namjoon. Tapi sepertinya malam ini Namjoon kewalahan. Sudah lewat jam sepuluh dan ponsel Jihoon tidak ada notifikasi apapun. biarlah, ia pasti sedang rehat. "Mungkin dimata orang lain, hyung terlihat seperti menggandeng anak smp, atau keponakan."

"Tumben kamu meledek dirimu sendiri,"

"Iseng saja." Jihoon mengendikkan bahu. "Habisnya, hyung tinggi sekali."

Mendengar suara lucu dan pendapat konyol dari Jihoon, Taehyung tertawa. Kembali mengeratkan tautan jemari mereka yang semakin dingin oleh angin malam. "Ya jelas, dong. Ini warisan Papa,"

Lantas Jihoon berhenti.

"Uh... hyung –" Jihoon berkelu. Lidahnya kaku namun gatal ingin merespon. Kendati motoriknya tidak bekerja dengan benar, pun dengan otaknya yang mampet seketika, ia terdiam. Menatap Taehyung yang juga sama kagetnya dengan ucapannya sendiri. Namun Taehyung cepat tersenyum, "Ya 'kan Papa orangnya tinggi. Mungkin aku dapat hereditas darinya. Gantengku ini juga mungkin darinya,"

Hendak merepon, Jihoon terhenti lagi oleh derap kaki yang mendekat.

"Hyung?" Ada Jungkook disana, wajahnya tidak terbaca. Mata mereka bertemu. "Lee Jihoon?"

"Kookie?" Taehyung membeo nada tanya Jungkook.

Sedangkan Jungkook menaikkan alisnya. Heran mendapati Taehyung dan Jihoon bersama, bergandengan tangan malam-malam begini. Bahkan dia tidak tahu kalau mereka saling mengenal; apa-apaan ini. Ini bukan lelucon dan Jungkook sama sekali tidak senang akan ini. Entah kenapa dia tidak suka melihat mereka bersama. Entah itu karena ia tidak ingin anak sekolah tahu siapa Kakaknya, atau karena Jihoon selalu bertingkah sok dekat dengan kakaknya. Bahkan Jungkook sudah lama sekali tidak menggenggam tangan Taehyung seperti itu. Sialan sekali Lee Jihoon. Dia bukan siapa-siapa.

"Kenapa kau keluar malam begini, Kookie?"

Tidak peka dan tidak tahu suasana adalah kelemahan Taehyung. Jihoon sudah menggigit bibir dan menatap Taehyung khawatir. Bahkan genggaman mereka masih bertaut erat, sialan Taehyung dengan kepolosannya yang tidak ada batas. "Kau –kalian.. sejak kapan saling kenal?"

Refleks Jihoon meremas telapak Taehyung yang dingin. Matanya bersitatap dengan Taehyung memohon, sementara yang lebih tua tampak tidak mengerti apa yang tengah dimaksud. Tapi ia paham kalau mungkin Jihoon tidak ingin diketahui lebih banyak oleh adiknya ini. Entah apa alasannya, tapi Taehyung tahu ia harus melakukannya. "Baru saja, uhm... katanya dia teman sekelasmu dan –"

"Kau ini bodoh?"

"Uh?"

Jungkook mendengus. "Mana ada baru kenal sudah pegang tangan seperti itu," ia menunjuk tautan tangan Jihoon dan Taehyung yang masih saja tercipta membelah beku. Raut wajah Jungkook benar-benar kacau; ia sendiri tidak tahu kenapa. Ada rasa kesal dan sedikit cemburu didalam dadanya, maksudnya, siapa sih Jihoon ini? Bagaimana bisa dia ada di kehidupan –Kakaknya. Pegang tangan segala, dan apa maksud tatapannya itu, ia tidak mengerti tapi ia sangat sebal. Sungguh, Jihoon bukan siapa-siapa tapi mengapa seolah Jihoon adalah orang terdekat diantara dia dan Kakaknya. "Kecuali kau orang bodoh atau jalang, yang mudah diseret oleh orang asing seperti pelacur."

"Bicaramu, Jungkook."

"Apa, sih?" Jungkook melotot pada Jihoon. "Memangnya kau itu siapa?! Buat apa kau pegang-pegang tangan Kakakku segala, kau juga membelanya, kau bersikap seolah kau itu dekat dengannya. Aku tidak mengerti hubungan apa yang kalian punya, tapi tolong, aku tidak mau lihat. Memuakkan."

Kemudian Jungkook pergi, dengan hati yang kebingungan.

.


Lamborghini Veneno putih berhenti, decit bannya halus sekali nyaris tak bersua. Jungkook masih terpukau oleh kemewahan mobil Sehun ini. Pasti mahal sekali, terlihat dari penampilannya saja membuat Jungkook meneteskan liur. Saat ia mendudukkan diri, ia nyaris tenggelam. Luar biasa. Sebenarnya seberapa banyak kekayaan yang dimiliki Sehun? Meskipun ia tahu, Sehun merasakan banyak luka untuk apa yang dimilikinya ini. Harta berbayar luka. Sejenak ia merasa iba dan tidak tega, tapi sekali lagi, Sehun ini berandal jadi Jungkook malas untuk kasihan. Toh Sehun bisa memuaskan dirinya dengan mudah. "Sudah sampai, ayo. Kau bisa mengagumi mobilku lain waktu."

"Iya, bawel." Lantas Jungkook turun, mengekori Sehun dan masuk ke dalam Wings Club. Mungkin sudah belasan kali ia kesini bersama si brengsek, tetapi ia tetap belum terbiasa. Wanginya memang enak; manis dan sepat yang memambukkan. Tapi suara gemuruh yang membuat jantungnya berdentum sungguh tidak nyaman. Belum lagi segelintir wanita yang pamer seksi terus lewat.

Malam ini, Jungkook ingin mabuk lagi.

Dan mungkin, sebenarnya, ia berharap bisa bertemu nuna malam itu. Yang seksi dan panas, pandai berciuman, dan tubuh oke punya. Benar-benar tipe Jungkook. Dan dia bukan perempuan nakal murah yang penurut. Dia punya sisi dewasa yang melindungi dan dominasi di beberapa waktu, dan itu sungguh seksi. Ia benar-benar lupa siapa namanya, dan ia malas bertanya pada si brengsek.

"Jiyoon sedang bersama Dad,"

Terdengar seperti Sehun mengajaknya bicara. "Hah?"

"Kamu mencari Jiyoon, kan?"

"Siapa, tuh?" Jungkook berdengung sambil meminum Martininya. Diliriknya Sehun yang menghela napas dan wajahnya kacau. Oh, mungkin dia sedang sedih lagi. "Nuna yang malam itu kau cium. Jangan bilang kau lupa siapa namanya; dasar Kelinci." Lantas turut minum Martini di gelasnya, matanya mengamati Jungkook yang mengangguk lamat dan berpikir dalam diam. Ia ingin bicara lagi, "Kau tidak bisa menyukainya, atau siapapun disini. Jiyoon hanya pemuas, dia tidak bisa terikat siapapun. Bukti pahitnya adalah dia juga dipakai Dad," ia mendengus. "Tidak ada hati atau cinta disini."

Ada perasaan sesak didadanya. Entah apa namanya tapi Jungkook sebal dengan fakta bahwa ia tidak bisa memiliki Jiyoon nuna. Ia semakin kesal dengan kenyataan bahwa sekali lagi, Jiyoon hanyalah perempuan jalang lainnya yang menyukai kebebasan dan kepuasan. Entah kenapa ia merasa marah bahwa ia tidak bisa mencium Jiyoon sebab siapa yang suka mencium gadis yang menjajakan bibirnya pada siapapun?

Sampai tiba-tiba suara memekik kecil mampir. Jungkook menoleh dan ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia memang sebal tapi melihat Jiyoon berdiri di hadapannya, mengenakan dress berwarna peach lembut yang menutupi lekuk tubuhnya. Kali ini dia mengeluarkan sisi lembu seorang wanita; bukan yang panas dan seksi seperti malam itu tetapi tetap saja membuat Jungkook terpana. Bahkan senyum gadis itu masih sama memikatnya. "Kau datang lagi,"

"Ya, tentu." Jungkook bersua. "Sebenarnya, gaya berpakaian seperti apa yang kau suka?"

"Memangnya kenapa?"

Jungkook memindai tubuh Jiyoon yang sudah duduk disampingnya. "Nampak berbeda, untuk malam ini. Kalau malam itu kau seksi dan panas. Tapi sekarang –" ia meneguk ludahnya berat. "Kau benar-benar nampak nuna, dalam artian lembut dan manis. Tapi kau tetap seksi meskipun dress itu tidak mencekikmu seperti malam kita bertemu. Cukup proporsional dan tidak ketat, tapi seksi."

Yang dibicarakan tertawa anggun, hingga Jungkook berdebar. Jiyoon meneguk martini milik Jungkook, sengaja menempatkan bibirnya pada jejak bibir Jungkook di pinggir gelasnya. Sial, pandai sekali dia menggoda. Tatapannya tajam dan berkelas, tidak jalang dan murah. Jiyoon benar-benar berbeda dari apa yang bisa Jungkook bayangkan. "Kau sudah merindukanku, hm?"

"Sangat,"

Peduli setan atas apa yang Jungkook ucapkan. Ia benar-benar ingin menyentuh Jiyoon lagi, dan kalau bisa, lebih dari apa yang sudah mereka lakukan malam itu. Entah kenapa, ia ingin memiliki Jiyoon dalam genggamannya. Menarik Jiyoon dari tatapan lapar pria yang memandangi bokong padatnya. Sebab ia kesal dengan fakta bahwa ia tidak bisa memiliki gadis ini. Persetan dengan status nuna pada perempuan seksi itu. Jungkook tidak peduli, lagipula, Jiyoon pun oke dengannya. Memang terdengar terlalu percaya diri tapi Jungkook yakin bahwa Jiyoon menaruh suatu rasa padanya pula. Entah itu hanya tertarik karena perbedaan umur mereka atau tertantang oleh panasnya Jungkook jika sudah menenggak alkohol.

"Aku baru saja mandi,"

Bahkan rengutan lucu di wajah Jiyoon masih nampak seksi. "Tapi khusus untukmu, King of Hotness, aku tidak masalah melewati sesi panas dan intim bersamamu lagi." Ia tertawa kala melihat Jungkook melebarkan bola matanya terkejut. Meski akhirnya mereka bertatapan dalam diam, Jiyoon tersenyum saat Jungkook pula tersenyum miring dan menariknya pada sebuah ciuman. "Lebih dari sebuah ciuman dan sentuh-menyentuh, apa itu diperbolehkan?"

Persetan.

Jiyoon hanya bisa dan hanya akan merengek untuk bocah ini. Aura-nya sungguh berbeda dan panas, benar-benar panas sampai ia nyaris gila karena menelan abunya sendiri. Baru pertama ia merasa seperti jalang dan memohon seperti kucing. "Sialan, aku –sungguh... ingin,"

Sebuah senyum puas terpatri di wajah Oh Sehun yang diam mengamati Jungkook bercinta.

.


Taehyung terbangun usai mimpi masuk ke kamar mandi. Dan ia benar-benar harus buang air, sial. Ia sudah kebelet sekali. Sekarang ia baru mengerti kenapa orang sering bicara tentang jangan pernah masuk ke kamar mandi saat sedang bermimpi. Tapi ia sendiri mana bisa mengontrol alam bawah sadarnya untuk pergi dan datang. Mimpi adalah dimensi lain dimana ia tidak bisa menyentuh atau bahkan mengingat pesan dari bunga tidurnya sendiri. Toh, mimpi hanyalah mimpi.

Dan kala ia bergerak melewati ruang tengah untuk mengambil handuk, ia terhenti melihat Jihoon terduduk di sofa dan menonton TV dengan tenang. Ia berjalan mendekat dan sedetik kemudian Jihoon menoleh dan tersenyum, menarik Taehyung duduk disampingnya. Menawarkan semangkuk sereal milo hangat padanya. "Kukira kau sudah pulang,"

"Kita sampai pukul dua belas," Jihoon memakan serealnya pula. "Dan hyung yang melarangku pulang, juga menarikku tidur dan memelukku sambil mengigau. Memangnya tidak ingat?"

Taehyung tidak langsung menjawab tapi dia mencicit. "Tidak, maaf kalau begitu."

"Bukan masalah,"

Jihoon dengan cepat menghabiskan serealnya. "Ayo sarapan yang cepat, hyung. Antar aku sekolah."

.

.

"Sayang sekali kita harus berpisah sekarang,"

Taehyung tertawa, lantas mengusak rambut Jihoon. "Jangan lebay, deh. Kita bisa bertemu kapan saja, kau bisa datang ke tempatku bekerja dan bicara banyak hal," ujarnya lembut kemudian melepas gandengan tangan mereka usai sampai di sekolah. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit. "Terima kasih sudah menemaniku seharian kemarin. Hari itu sangat menyenangkan, dan pelukanmu sangat nyaman. Itu membantuku tertidur pulas."

"Aku senang itu membuatmu nyaman."

Mereka terdiam. Taehyung hanya mengangguk dan tersenyum. "Aku harus pergi sekarang."

"Jangan buat aku menahanmu,"

Lantas Taehyung melambaikan tangannya dan benar-benar pergi. Dia bilang dia punya jadwal pagi hari ini. Mungkin dia harus bebenah rumah dan menyiapkan diri, dia belum mandi saat mengantar Jihoon kemari jadi Taehyung harus cepat pulang karena ritual mandinya sangat lama. Entah apa yang dilakukannya di kamar mandi. Jihoon bernapas pelan dan tersenyum menatap kepergian Taehyung. Ia juga merasakannya; senang. Kemarin sangat menyenangkan menghabiskan waktu dengan Kakaknya itu. Ia juga sudah bertemu Jimin, dan dia pria yang baik dan sopan. Pelindung yang kuat dan humoris, serta perhatian dan lembut. Dari sekali lihat, Jihoon berpikir yakin kalau Jimin menyukai Taehyung.

Lagipula mereka manis bersama.

"Dan apa ini yang dilakukan kedua orang yang baru saling kenal?"

Suara menyebalkan Jungkook terdengar. Jihoon menoleh dan memasang raut datar yang pongah. Jika ia mencintai Taehyung dan bersikap manis manja dihadapannya, maka ia tidak bisa begitu pada Jungkook. Ia tidak mau bersikap seperti itu pada seorang bajingan. "Dan ada yang lupa dimana rumahnya semalam,"

"Tidak usah mengalihkan pembicaraan."

Jihoon hanya mengendikkan bahu. Jungkook mendesis sebal. "Mengaku saja kalau kalian punya hubungan spesial, lebih dari apa yang aku bayangkan." Ujarnya kesal. Entah kenapa melihat wajah Jihoon membuatnya muak. Ia seketika teringat tautan jemari Jihoon dan taehyung malam tadi; sungguh menyebalkan hingga ia tidak bisa berpikir jernih. Decihan dari Jihoon sungguh tidak membantu memngembalikan moodnya, ia benar-benar sebal. "Dan apa yang kalian lakukan dirumahku?"

"Rumah siapa kau bilang?" Jihoon mencibir, "Kau bahkan tidak memiliki hak apapun atas itu."

"Apasih yang coba kau bicarakan padaku?"

Jihoon membuang pandangan. Malas meladeni Jungkook dengan temperamen seperti itu, hanya akan menghabiskan tenaganya saja. Jadi ia segera pergi tanpa menjawab apa pun. Ia melangkah cepat menuju kelasnya, mengabaikan pekikan Jungkook yang menggema memanggilnya kembali. Ia menulikan telinganya berusaha tidak peduli. Pagi ini terlalu buruk untuk dihabiskan berdebat dengan Jungkook.

"Ada yang cemburu,"

Sontak Jungkook menoleh. Sehun hanya terkekeh disampingnya. "Kau mengagetkanku, idiot. Omong-omong, kau sudah memarkirkan mobilmu itu?"

"Hm," dan Sehun masih belum puas. "Apa Jihoon membuatmu sebal karena dia lebih dekat dengan Kakakmu, sampai bergandengan tangan mesra, hm? Dia membuatmu kesal karena Kakakmu menyayangi orang lain lebih ketimbang dirimu, 'kan? Dia membuatmu muak karena telah menusukmu dari belakang, mengambil alih perhatian Kakakmu secara diam-diam dan licik. Jihoon itu... munafik, kan?"

Jungkook tidak langsung menjawab. Tapi dalam hati ia setuju.

.


Sejak dulu, Kim Taehyung itu manis. Punya tubuh yang bagus dan menarik. Suaranya lucu meski sangat berat dan bulat. Tapi aksennya sungguh lembut dan manis seperti anak kecil. Sejak Jimin dan Taehyung kecil, Jimin sering memerhatikan sahabatnya itu. Ia tahu banyak yang tertarik pada sahabat baiknya itu. Taehyung dicintai banyak orang karena sifatnya yang baik dan sopan, ramah dan murah senyum, suka menolong dan tulus, jujur dan konyol. Wajahnya juga oke, dan dia perhatian. Nyaris membuat orang salah mengartikan sifat polosnya itu.

Sekarang, Taehyung berusia dua puluh lima. Benar-benar cantik dan manis. Tubuhnya tegap dan tumbuh lebih tinggi ketimbang dirinya. Kulitnya terbakar matahari hingga lebih gelap dibanding miliknya. Tapi Taehyung sangat kurus untuk laki-laki, wajahnya masih sialan manis. Suaranya lebih berat dan itu benar-benar terdengar lucu saat ia merengek dan tertawa. Rambutnya tumbuh lebih lebat dan lembut. Dan ia tidak menghilangkan kebiasaannya menggunaakn wewangian manis dari buah dan susu. Taehyung nampak seperti bayi besar, dan itu membuat Jimin frustasi.

"Berhenti menatapku, Jimin."

Yang ditegur hanya nyengir. Sudah lima puluh menit penuh ia memandang Taehyung yang sibuk dengan gelas dan piring berdebu. Jimin menegakkan tubuhnya dan kembali memidai tubuh sahabatnya yang sangat pas dalam balutan seragam kerjanya. "Menatapmu itu sudah jadi hobi –ah, tidak. Itu kebutuhanku agar aku tetap hidup dengan baik dan bernapas normal. Jadi jangan larang aku melakukannya kalau kau masih ingin melihatku baik-baik saja,"

Taehyung mendengus.

"Aku bukan oksigen," ia menyuarakan pendapatnya. "Juga bukan Suzy atau Jun Jihyun."

"Menurutku, kau lebih cantik dari mereka."

Nyaris saja, kalau Taehyung tidak punya refleks bagus pagi ini, piring digenggamannya sudah pecah. Ia mendelik pada sahabatnya yang tersenyum lebar tanpa dosa diujung sana. Mengamatinya mengelap piring dan gelas berdebu dibalik counter. Sialan apa yang membuat Jimin berani mengatakannya; cantik bagian mana dari diri Taehyung. Demi Tuhan, dia ini laki-laki. "Aku bukan cewek, astaga."

"Ya, tapi kau cantik." Ujarnya lagi, mengedipkan matanya seksi. "Dan manis."

"Enyahlah, Jimin. Tanganku gatal untuk menjejalkan pecahan beling kedalam mulut sialanmu kalau kau tidak segera berhenti bicara konyol tentang apa pun yang berhubungan dengan cantik," Taehyung mengancam. Matanya menyalang tajam dan ia mendengus kala Jimin hanya membalasnya dengan tertawa geli. Terkadang ia sebal kalau Jimin sering mempermainkannya. "Berhenti mengataiku seperti itu, sialan. Aku ini cowok dua puluh lima, bukan Taetae usia delapan yang sering kau dandani jadi lady bug untuk halloween demi seember permen cokelat."

Lantas Jimin menepuk tangannya. "Nah, kau ingat! Kau tidak tahu saat itu kau sangat sialan cantik sampai aku lupa kau itu kau. Kau ingat, kan?"

"Iya," Taehyung mendengus sebal. "Itu ciuman pertamaku, brengsek."

"Tapi kau diam saja waktu itu."

Dan Taehyung tidak tahu harus menjawab apa. "Aku masih kecil, jadi tidak tahu."

"Bohong," Jimin tersenyum miring. "Kau suka aku cium, 'kan?"

Persetan. Taehyung sudah malas meladeni temannya kalau sudah kumat seperti ini. Ia hanya menghela dan kembali menyibukkan diri dengan piring dan gelas. Setelah ini dia harus memastikan stok bahan habis pakai di gudang. Dia sibuk sekali karena shift pagi hari ini sepi, dan dia harus mengerjakan bagian temannya. Merepotkan memang, tapi tawaran tips dari Jimin membuatnya terdiam dan melaksanakannya dengan sukarela.

"Kau tidak menjawab,"

Dan ia tidak tahu sejak kapan Jimin sudah berada disampingnya. Menatapnya serius dan sial wajahnya begitu dekat sampai ia kaget. "Apaan, sih."

"Kau tidak suka, ya, dicium Park Jimin?" tanya Jimin memastikan. Meski ia sedikit sedih dengan perkiraan akan jawaban yang mungkin dijawab Taehyung. Ia senang mencium Taehyung, entah itu di pipi, pelipis, atau bibir sekalipun. Tapi mungkin sahabatnya sedikit terganggu. Sudah lama sekali sejak interaksi manis seperti itu. Taehyung sudah tidak mau dicium lagi, dan itu membuat Jimin sedikit banyak merasa kesal dan gemas. Ia tidak tahu kenapa ia justru semakin ingin menciumnya lebih banyak. "Habisnya kau sangat manis –aku sungguhan. Kau itu, sangat cantik. Dan manis. Aku tidak tahu kata apalagi yang tepat untuk menggambarkan wajahmu itu, Tae. Tapi kau benar-benar cantik."

Oh, Taehyung berdebar.

Sebab suara Jimin terdengar tulus dan ringan. Menghantam kepalanya begitu kuat hingga ia ingin tumbang seketika. Sahabatnya memang sering memanggilnya manis dan cantik tapi tidak pernah tedengar begini serius dan dalam. Ada sebuah kebenaran yang mendasar dari ucapannya, di tiap silabelnya, di sela katanya. Menjadikan Taehyung merinding. "Semakin besar bukan semakin tampan tetapi semakin manis. Aku tidak mengerti kenapa kau tumbuh seperti ini. Kau tahu dengan jelas ini bisa membuatku gila karena aku, sialannya, tidak bisa berhenti memikirkanmu dan wajah sialan manismu itu setiap malam, bangsat."

Enyalah, pipi merona.

"Suara tawamu bahkan masih sama," Jimin memijit keningnya. "Yang sialannya terdengar sama manis dengan Taetae di usia lima. Senyum dan gigi besarmu, mulut kotakmu saat nyengir, mata bulan sabitmu itu. Sialan, aku benar-benar frustasi mengingatnya. Bahkan aku merasa melihat Taetae kecil disini, bukan Kim Taehyung karyawanku berusia dua puluh lima." Ia menatap Taehyung yang memandanginya dengan raut tak terbaca. Matanya terpaku pada bola mata Taehyung yang gelap dan pekat seperti mawar. Memindai tubuh Taehyung yang terdiam kaku. "Bahkan aroma-mu masih sama. Keparatnya, sama manis dan lembut seperti dulu. Kim Taehyung, kau –"

" –sialan apa yang membuatmu begini?"

Taehyung termangu. Jantungnya berdegup manja.

Tapi ia segera tersadar, dan tidak mau membawa perasaannya. "Uh... terserah kamu aja, lah."

Kalau saja bisa, Taehyung ingin mengumpat. Sialan Jimin dan sentuhannya. Dengan tiba-tiba mendekapnya begitu erat dari belakang. Bernapas pelan di lehernya yang merinding, begitu panas dan lembut hingga ia hanya diam terpaku. Lengan kokohnya begitu kuat memeluk pinggangnya, sedikit memberi remasan di sisi pinggul kurusnya hingga ia berjengit pelan. Rambut halusnya sungguh tidak membantu dengan membelai kulit selangkanya dari belakang kala Jimin menenggelamkan kepalanya pada bahu dan perpotongan leher Taehyung. Kulitnya semakin meremang saat Jimin menghirupnya kuat, dan ia merasa begitu bodoh karena masih sempat takut bahwa Jimin akan menjauhinya karena ia sudah berkeringat banyak pagi ini. Ini konyol tapi Taehyung khawatir Jimin tidak menyukai aroma peluh dari tubuhnya, sebab wangi sabun dan shampoonya sudah habis. Dan ia tidak suka membiarkan Jimin kecewa karenanya.

Ini lucu tapi Taehyung ingin Jimin memeluknya begini selamanya.

"Aku mencintaimu."

Dan dengan mudah ia meneteskan airmata. Hanya oleh sebuah kalimat singkat yang menusuk jantungnya begitu dalam. Membuatnya melolong dalam hati. Ia merasa sedih sekaligus bahagia dengan apa yang dia dengar. Mungkin terdengar berlebihan tetapi Taehyung sangat mendalami kalimat yang Jimin ungkapkan padanya. Ada banyak makna pada kalimat tersebut tapi Taehyung tidak begitu peduli maksud mana yang Jimin coba sampaikan. Lagipula Taehyung pun mencintainya pula.

Mereka sudah bersahabat lama, 'kan?

Wajar saja sahabat saling mencintai.

.

.

Taehyung tidak berhenti tersenyum. Ia pula tidak bisa mengontrol dirinya. Entah setan apa yang membuatnya senang. Usai episode dramatisnya tadi pagi dengan Jimin, mereka saling melempar senyum sembari menunggu matahari tenggelam. Mereka berciuman saat Jimin mendengar Taehyung menangis di pelukannya. Dan itu membuat Taehyung sangat senang untuk alasan yang tidak dapat ia ketahui, yang jelas rasanya menyenangkan. Taehyung kembali bekerja seperti biasa, dan kala ia tidak sengaja bertemu pandang dengan Jimin, pria itu akan tersenyum dan berkedip manja hingga semangat Taehyung naik drastis –begitu pula dengan detak jantungnya.

Dan malam ini, Jimin melupakan mobilnya. Ia memaksa Taehyung untuk pulang bersamanya dengan jalan kaki dan bergandengan tangan. Ingin merasakan apa yang Jihoon lakukan dengannya malam itu, katanya. Meski Taehyung tidak punya ide bagaimana Jimin tahu mereka pulang bergandengan tangan. Tetapi bergandengan dengan Jimin tidaklah buruk. Rasanya nyaman dan ia merasa dilindungi, berbeda ketika menggandeng Jihoon atau Jungkook. Ini terasa lebih hangat dan penuh. Jadi Taehyung diam saja menurut dan mengulum senyumnya.

Ia juga bingung harus bereaksi seperti apa ketika mereka sudah sampai di rumah Taehyung. Jimin tidak juga melepas genggaman hangatnya. Mereka hanya bertatapan dalam diam. Taehyung tidak tahu harus mengatakan apa, dan Jimin sama sekali tidak mencoba melepaskan ini, pun mencoba memecah keheningan yang menyerta. Lagipula, Taehyung menyukai ini. Keheningan yang hangat, sungguh berbeda dan rasanya menyenangkan. Meskipun lama-lama ia tidak tahan ditatap Jimin begitu dalam, maka ia menunduk dan berdoa pipinya tidak merona atau ia bisa pingsan.

"Masuklah, malam akan semakin dingin,"

Taehyung mendongak kala Jimin mengucapkannya sembari mengelus kepalanya, "Ya... tapi, lepaskan dulu tanganmu. Bagaimana caranya aku bisa masuk dengan tangan kita yang masih bergandengan seperti ini?" ujarnya mencoba tidak terdengar menyinggung Jimin. Ia pun tidak ingin melepaskannya kalau bisa tapi ia juga ingin cepat masuk rumah dan menghangatkan diri. Sedangkan Jimin tersenyum lebar hingga matanya tenggelam. "Baiklah,"

Lantas Jimin meremas telapak tangan Taehyung sebentar dan melepasnya pelan. Yang mana membuat keduanya merasa hampa. Jimin yang kehilangan kehangatan dan Taehyung yang tiba-tiba merasa sedih dan tidak rela. Entah kenapa Taehyung masih tidak mau melepaskannya, sebenarnya. Ada perasaan kecewa saat Jimin melepas genggaman mereka. Tapi ia tidak mau terdengar konyol dengan pendapatnya jadi ia diam saja. Dan berharap ia bisa melakukannya lagi lain waktu. Itu pun kalau Jimin mengijinkan menyentuh telapaknya yang hangat dan nyaman.

"Kalau begitu.. aku pulang?"

Taehyung mengangguk. "Hm, terima kasih sudah mengantarku."

"Masuklah,"

Taehyung mengerjap. "Ya, setelah kau benar-benar pulang."

"Aku tidak akan beranjak kecuali sudah melihatmu masuk." Ujar Jimin dengan lembut, memasukkan jemarinya kedalam saku mantel tebalnya. Taehyung yang melihatnya hanya bisa menggigit bibir, pasti dia kedinginan –dia pun juga. Kalau saja dia bisa menggenggamnya lagi. "Masuklah dan minum susu atau cokelat hangat lalu tidur. Aku akan pulang, kalau kau sudah di dalam rumah. Cepatlah, kau pasti kedinginan. Hidungmu memerah,"

Lantas Taehyung menutup hidungnya dan mengangguk. Mengucapkan selamat malam pada Jimin dan berlari ke dalam rumahnya yang kecil dan hangat. Jimin tertawa pelan melihat sahabatnya yang lucu, kemudian menghela dan beranjak pergi sebelum ia mendengar suara pintu terbuka dan Taehyung nampak di depan pintu rumahnya, memanggil Jimin dengan suara kencang yang lemah.

"Kenapa keluar lagi?"

Ia tidak langsung menjawab, tapi dengan ragu ia bicara. "Itu... Jimin, hati-hati dijalan."

"Astaga," Jimin terkekeh. Dikiranya apa. "Tentu, ada lagi?"

Taehyung menggeleng tetapi dengan cepat mengankat tangannya dan memekik. Lantas menciut kala Jimin menatapnya dan menunggu Taehyung bicara. Ia menggigit bibir dan tampak tidak yakin. Namun ia tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan Jimin membeku diluar sana jadi dia tidak peduli ia akan terlihat memalukan dan cepat bicara, "Aku suka kita bergandengan tangan!"

Jimin terdiam, matanya mengerjap pelan.

"Dan –" Taehyung meremas kenop pintu. " –aku juga... mencintaimu."

Kemudian hanya butuh dua detik untuk Taehyung tertawa konyol dan mengucap selamat jalan dengan canggung pada Jimin yang masih termangu di depan rumahnya kemudian menutup pintu dan berlari ke dalam kamar. Ia tidak peduli tentang susu atau cokelat hangat atau mandi. Ia ingin segera membenamkan wajah panasnya di bantal dan berteriak. Sialan. Ia malu sekali.

.

Tapi rumahnya gelap. Lebih gelap dan ada aura mencekan dari aroma aneh yang menguar. Taehyung tidak tahu apa yang sedang terjadi tapi ia merasa takut. Ia tidak benci gelap, juga tidak mudah panik akan suatu hal. Namun ia mendadak khawatir akan suatu hal. Seharusnya Jungkook sudah pulang dan adiknya itu lah yang tidak menyukai gelap. Seharusnya rumahnya terang saat ia pulang. Belakangan ini memang adiknya jarang sekali pulang, meskipun ia akan menemukan Jungkook tertidur di kamarnya mulai pukul satu. Entah jam berapa dia sampai ke rumah.

Ia memiliki banyak ketakutan semenjak Jungkook berubah.

Ketakutan bahwa Jungkook mungkin sudah tidak menyukainya lagi. Kecemasan akan kenangan manis yang hancur sebab adiknya kini membangun jarak dengannya. Ia tidak mengerti lagi bagian mana yang harus ia perbaiki dari relasi rusak mereka. Mungkin ini memang salahnya karena membuat hidup Jungkook menjadi sulit. Menjadi keluarga miskin dan membuat adiknya dijauhi teman sekolah. Tapi ia sungguh tidak berniat begitu, dan ia berharap Jungkook mengerti. Tapi mungkin adiknya hanya terlalu kecil untuk memahami.

"J-Jungkook?"

Meski begitu, Taehyung tetap menyayangi adiknya. Maka kala ia melihat Jungkook meringkuk di ruang tengah, ia berlari kecil dan meremas bahu Jungkook lembut. Ia terus memanggil adiknya, yang tak jua menjawab panggilannya pun mengeluarkan suara. Ia khawatir akan bayangan Jungkook yang menjadi stress, ia sudah nyaris menangis sebelum Jungkook mendongak. Menunjukkan wajah kacaunya yang memerah dan senyum miring yang menakutkan. Setidaknya itu yang Taehyung lihat.

"Hai, cantik."

Suara parau dari mulutnya justru membuat Taehyung merinding. Keningnya berkerut kala ia mencium aroma alkohol dari napas adiknya. Seketika ia dilanda pening; adiknya mabuk. Kim Jungkook mabuk. Ini sudah kelewatan, dan ia sudah di batas ambang ketakutan. Ia tidak bisa tidak khawatir dengan adiknya yang berada dalam kendali minuman keras. Sejak kapan adiknya seperti ini? Mengapa ia melakukannya? Untuk apa dia minum-minum? Taehyung menangkup wajah adiknya, memberi remasan di rahangnya lantas bibirnya bergetar dan lidahnya kelu. "Jungkook, adikku, buat apa kamu mabuk?"

"Disini gelap sekali," Jungkook bersuara. "Tapi wajahmu tetap terlihat; cantik sekali."

"Kim Jungkook –"

Ucapan Taehyung terhenti begitu Jungkook menepis lengan kurusnya kemudian mendorong tubuhnya kuat lantas menindihnya cepat. Jemari kokohnya bertengger di rahang tirus Taehyung dan mencengkeramnya begitu erat dan mendesis. Matanya sayu dan ia masih tersenyum miring. "Cantik sekali," ujarnya pelan kemudian mendesis. "Kim Taehyung, cantik, matamu besar sekali. Perpotongan wajahmu sungguh luar biasa manis –sialan. Rahang kurusmu bahkan terasa manis, benar-benar cantik."

Ketakutannya bertambah.

Jungkook terlihat sangat menakutkan meskipun ia nampak luar biasa tampan dan memesona. Ia tahu kalau adiknya punya visual yang menarik, tetapi jika keadaannya seperti ini, ia sungguh takut. Kata cantik dan pujian yang keluar dari bibir Jungkook semakin membuatnya kalut. Bahkan remasan di sisi tubuh dan wajahnya hanya membuatnya gemetar cemas. Ia ingin mendesis tapi suaranya tercekat. Jungkook semakin mendekatkan tubuh pada Kakaknya, yang mana membuat Taehyung nyaris pingsan oleh aroma memabukkan dari alkohol manis di napas adiknya. "J-Jungkook, k-kau kenapa –"

Suaranya teredam kembali kala Jungkook menghirup lehernya. Ia memejamkan mata kala adiknya menempelkan bibir dinginnya pada lehernya, lantas mengeluarkan lidahnya kemudian membelai kulitnya begitu panas dan panas. Taehyung terkesiap dan matanya langsung terbelalak. Ia tidak tahu kenapa Jungkook melakukan ini padanya. Tapi ia kemudian berteriak saat Jungkook menggigit lehernya begitu kuat dan mencium luka itu.

Tubuh Taehyung kaku saat Jungkook mencium bibirnya.

Dimulai dari sudut bibirnya yang dingin, kemudian menyusuri. Berawal dari sebuah kecupan kupu-kupu hingga Jungkook menggunakan lidah panasnya membelai bibir Taehyung lantas membuka bibir merahnya dan menciumnya lebih dalam. Menggerus dan memporak-porandakan isi mulut Taehyung berikut lidah tebalnya yang kaku. Berkali-kali melepas ciuman kemudian menghisapnya lagi, menjadikan ciuman itu begitu basah dan berisik dengan suara beceknya, juga berantakan tanpa ritme.

Taehyung hanya diam dan lemas kala Jungkook pula memasukkan jemari panasnya ke dalam kaus tebal milik Taehyung dan mengirimkan panas ke tubuhnya. Sekujur perut dan dadanya langsung panas dan mengejang oleh sentuhan adiknya. Tanpa sadar melengkungkan punggungnya saat jemari Jungkook dengan sengaja menyentuh puting Taehyung dan menekannya gemas. Lantas Taehyung mengerang begitu saja. Jungkook menghisap bibir Kakaknya kuat kemudian melepasnya dengan suara kecupan yang menggema, hingga Taehyung merinding. Dengan cepat Jungkook melepaskan pakaian Taehyung, tanpa suara dan tak bisa dibantah. Lagipula Kakaknya hanya diam dan terpaku, terlalu sibuk mengatur napas dan tidak mengerti keadaan.

Apa yang tengah dilakukannya ini? Bersama adiknya?

Sampai ia tersadar begitu Jungkook sudah bermain dengan miliknya. Taehyung memekik dan mengerang terkejut. Jungkook memainkannya begitu lihai dan lembut, membuat Taehyung dengan mudah terlena meski ia tahu ini sepenuhnya salah. Tapi ia tidak munafik untuk berpikir bahwa lidah Jungkook begitu panas saat menyentuhnya, bahkan bibirnya terasa begitu benar menghisap miliknya. Dan jemari adiknya yang panjang dan berisi terasa menyenangkan kala keluar masuk lubangnya.

Ia tahu ini salah tapi rasanya menyenangkan.

Bahkan saat Jungkook melebarkan kedua kakinya paksa dan menghunus lubangnya dengan lidah panasnya yang sialannya sungguh licin dan menggairahkan, Taehyung hanya mendesah dan menerima. Ia menangis tapi ia merasa senang untuk alasan yang entah apa. Adiknya memang kurang ajar tapi ia tidak tahu kenapa ia senang disentuh seperti ini. Ia senang saat Jungkook memberikan ciuman membekas di sekujur tubuhnya, meremas miliknya, menghisapnya, mencium bibirnya dalam, dan menghunus lubangnya dengan lembut maupun kasar; dengan jari panjangnya atau miliknya. Ia suka disentuh seintim ini, dan ia merasa dirinya penuh dan bahagia kala Jungkook keluar didalamnya.

Sebab ini adalah pertama, sejak hubungan mereka buruk, Jungkook mendekapnya erat. Menyentuhnya dengan rasa sayang, menciumnya tulus, dan mengatakan,

"Aku mencintaimu."

.

.

.

To Be Continued

.

[edisi: sesi panjang lebar]

Noun; cuap-cuap

...

Ehehehe.

Akhirnya kembali setelah sekian lama.

Iya, lama banget, kan? Soalnya saya ada praktikum klinik, dimana saya harus turun ke Rumah Sakit untuk praktik disana selama dua minggu penuh. Saya juga disibukkan dengan tugas kampus dan evaluasi praktikum yang waktunya mepet banget. Sialnya, saya gak sempert nyentuh laptop kecuali untuk nonton aja... ehehehe, maap banget ya ini updatenya lama. Sampe ada yang PM aku untuk minta aku jangan discontinue cerita ini. astaga, tidak... saya cukup berkomitmen kalau memutuskan untuk menulis cerita chaptered, kok. Ini hanya masalah waktu dan prioritas life saja. Well, penulis fanfiksi juga punya kehidupan pribadi yang lebih penting, kan? Walaupun ini sama pentingnya juga, sih..

Dan... tadah! Aku menghadirkan romance disini.. memang sih akan menuai protes karena temanya family. Tapi aku memang membumbui sedikit romance disini yakni vmin! Hahahaha. Meskipun itu juga tidak menjamin apakah mereka akan bersama di akhir cerita #jahatdikitbolehlah. Juga aduh, maap banget ya Taekook dibikin enaena di chapter ini... hanya untuk memeriahkan cerita kok. Dan emang sudah plotnya seperti itu sejak awal, karena bakal nyambung sama keberlangsungan cerita ini. saya harap sih bisa diterima...

Btw, mungkin ini sedikit promosi... tapi saya punya akun wattpad loh. (sombong banget baru bikin padahal, followernya juga seiprit). Silahkan kunjungi /sugacoffee. Emang belum post apa-apa kecuali fanfik seventeen, sih. Aku bikin The8 (minghao) dan OC cewek. Karena wattpad rencananya memang untuk fanfik straight dan friendship aja... jika berkenan, bisa follow!

Silahkan memberi komentar, saran, dan kritik, atau unek-unek kalian di kolom reviews!

Happy Reading~!

[copyright-sugantea]