Jungkook sudah lama menantikan hari ini.
Gurunya bilang, tanggal empat belas di bulan Februari, sekolah akan mengadakan hari kasih sayang. Akan ada pesta kecil internal dimana semua murid akan mempertunjukkan berbagai mahakarya kreatif kepada seseorang yang mereka sayang. Seluruh orangtua diundang, dan diwajibkan untuk membawa sesuatu untuk kemudian dikumpul pada sebuah kotak super besar pada loby depan. Seluruh tumpukan kado itu akan berakhir pada puncak acara dimana anak-anak akan mengambil hadiahnya secara acak dan mata tertutup. Cukup menyenangkan, setidaknya untuk para murid.
Dan setelah persiapan yang melelahkan, Jungkook menghela.
Kali ini dia akan mempersembahkan sebuah lukisan. Ia bahkan memberanikan diri untuk mengajak Seulgi si ketua klub melukis untuk mengajarinya menggambar. Butuh setidaknya tiga bulan bagi Jungkook untuk membiasakan jemarinya terlatih menggunakan kuas, membedakan warna dan memilih gradasi dengan baik, juga memvisualisasikan imajinasinya pada selembar kanvas polos. Setiap hari ia akan pergi dari kelas dengan semangat menuju ruang melukis, menunggu Seulgi datang dengan perasaan membuncah. Kakak kelas yang cantik dan baik itu sangat membantunya, gambar Seulgi sangat luar biasa cantik, pertama Jungkook melihatnya, ia tergugu.
Padahal dia baru berusia delapan tahun, dan Seulgi sepuluh tahun. Tapi Jungkook tidak henti menatap lukisan Seulgi tentang imajinasinya perihal rasi bintang kala itu. Ia jatuh tenggelam pada lukisan tersebut, dengan mudah ia tersedot pada kegelapan yang membeku juga gemerlap bintang yang tersusun rapi nan cantik. Seketika membuncah dadanya untuk berusaha membuat sesuatu yang seperti itu, hal yang dapat menjerumus jiwa dan mematikan serta menyenangkan di satu waktu.
Dia ingin Taehyung-hyung melihat keindahan ini.
"Astaga," suara Kakaknya tercekat, Jungkook menggigit bibirnya resah. "Ya Tuhan, Jungkook –ini sungguh... sungguh –indah, lebih dari indah."
Hati Jungkook mencelos lega.
"Benarkah, hyung?"
"Kau –indah, Jungkookie, lukisan ini cantik, luar biasa," Taehyung nyaris terisak, kerongkongannya gatal untuk merintih haru. Matanya sudah berkaca nyaris menumpahkan airmata di ujung matanya, hampir tidak kuat menahannya lebih lama. Binar polos dari mata Jungkook membuat Taehyung semakin sesak dan merasa terharu ingin menangis, juga senyum lebar adiknya yang membuatnya semakin lemah. Baru kali pertama ia merasa campur aduk seperti ini. "Jungkook, lukisanmu sungguh cantik. Ini.. benar-benar ... aku?"
Jungkook mengangguk semangat. "Karena hyung indah, makanya lukisannya indah."
"Jungkook,"
"Kurang lebih enam bulan," Jungkook memulai. Menatap tangannya sendiri, "Untuk pertama kali, aku berani bicara pada seorang perempuan... yang lebih tua. Namanya Kang Seulgi, dia kakak kelas yang baik hati mengajariku caranya menggambar. Aku berlatih setiap hari untuk memberikan hyung lukisan ini, sebenarnya menurutku masih ada yang kurang tapi Seulgi nuna bilang, hyung akan suka jadi –"
Belum selesai Jungkook bicara, Taehyung sudah terburu memeluk adiknya itu. Begitu erat sampai nyaris merenggut napas mereka masing-masing. Taehyung sudah tidak peduli, ia menangis kuat seperti anak kecil dan memeluk leher mungil adiknya, membasahi bahu Jungkook dengan airmatanya dan menginvasi telinga adiknya dengan teriakan konyolnya. Sedang Jungkook tertawa kecil, melarikan jemarinya mengelus rambut halus Taehyung dan menepuk kepalanya. Menggumam kecil supaya Taehyung memelankan suaranya yang memalukan. "Sudahlah, hyung."
"Jungkookie –adikku,"
Jungkook tertawa lagi, melepas pelukan Kakaknya pelan. Menangkup wajah lebar Taehyung yang sangat indah dan tampan di matanya. Lantas tersenyum melihatnya terisak seperti anak kecil, ia mengusap pelan wajah yang basah itu, "Selamat hari kasih sayang, hyung."
"N-ne..." Taehyung masih terisak, namun mencium puncak kepala adiknya penuh afeksi. "Terima kasih, terima kasih, terima kasih untuk semuanya, Kookie. Hyung sayang kamu,"
"Aku jauh lebih sayang hyung."
.
.
My Mama
.
Kim Taehyung
Jeon Jungkook – role as Kim Jungkook
.
And this world is too confusing to understand
.
Paginya, Jungkook terbangun dengan kerongkongan yang perih dan gatal seperti terbakar. Membuatnya mengernyit merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Gerakannya yang tiba-tiba pula membuatnya seketika pening kala melihat sinar matahari langsung. Sekujur tubuhnya pegal dan kaku, bahkan jemari kakinya terasa sangat kebas dan kesemutan. Bibirnya perih dan mungkin sedikit bengkak, rambutnya berantakan seperti surai singa dan Jungkook tidak mengerti apa yang tengah terjadi.
Tapi siapa peduli, Jungkook butuh air sekarang. ia harus cepat minum atau ia bisa pingsan. Tubuhnya lemas nyaris tak bertenaga, bahkan untuk jalan saja ia terlalu rapuh. Ia berusaha sekuat mungkin untuk mencapai dapur, meraih minum dan membasahi kerongkongannya yang sangat sakit. Sampai ia terduduk lemas di ruang tengah karena tidak kuat, menimbulkan suara gedebuk kencang karena lututnya bertubrukan dengan lantai kayu begitu hebatnya.
Pertama ia membuka mata, wajah Taehyung yang ia lihat.
"Hei, Kookie, kau kenapa?"
"Ugh..." ia hanya bisa mengerang, kepalanya terlalu pusing untuk menjawab. Ia terlalu lemas untuk merespon apa pun jadi ia hanya diam ketika Kakaknya mengelus dahinya yang berkeringat pelan, lantas menggendongnya dan mendudukkannya lembut di futon kamarnya. Wajahnya tidak berhenti melukiskan raut khawatir, terus bernapas pendek. Kemudian berlari dan kembali membawa segelas air hangat yang telah ia campur dengan madu. Meminumkannya lembut untuk Jungkook. "Merasa lebih baik, sekarang? Kookie, buka matamu,"
Jungkook membuka matanya dan menghela, "Ya, sedikit."
"Ada apa denganmu, dik?"
Jungkook menggeleng pelan. Ia pula tidak tahu kenapa tubuhnya ringkih seperti ini. yang jelas kepalanya pusing sekali karena pandangannya berputar, perutnya serasa dikocok sampai ia mual, dan sekujur tubuhnya lemas dan kebas. Tapi paling tidak, dengan air madu hangat yang diberikan Taehyung membuatnya merasa sedikit lebih baik. Kerongkongannya tidak kering lagi, dan ia merasa sedikit lega oleh basuhan air madu hangat. "Kepalaku pusing,"
Lantas Taehyung duduk di pinggir dan menyeka dahi Jungkook. Memijat keningnya pelan hingga Jungkook terpejam, jemari panjang Kakaknya sangat terampil melakukannya jadi Jungkook merasa sedikit lebih baik pada kepalanya. Mereka terdiam dalam telaga pikirannya, menciptakan keheningan yang membuat mereka tergugu dengan lidah yang gatal ingin memecah beku. "Apa... aku harus ijin bekerja hari ini? Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.. dalam kondisi begini,"
"Tidak perlu, kurasa hanya perlu tidur dan semua selesai."
Taehyung tidak menjawab. Tapi hatinya tidak lega.
"Kalau kau sendirian, kemungkinan besar kau tidak makan dan minum obat. Tertidur sepanjang hari tidak lantas membuatmu merasa baikan," Taehyung berujar, masih menyeka keringat di dahi Jungkook. Matanya memindai tubuh adiknya yang lemas. Ia khawatir dan sudah berpikir untuk menelpon Jimin dan meminta ijin libur satu hari mengurus adiknya. Karena biasanya, Jungkook jadi lebih bandel saat sakit jadi Taehyung harus mengawasinya. "Aku akan menyiapkan makanan, dan menelpon Jimin."
"Tidak usah –"
Dengan cepat Jungkook menahan lengan kurus Taehyung yang hendak pergi. Ditatapnya bola mata pekat milik Taehyung itu, yang entah mengapa terlihat bergerak gelisah dan gugup. Ia sempat mengerutkan kening mendapati balasan dari Kakaknya yang menurutnya aneh. Buat apa dia gugup saat ditatap oleh adiknya sendiri? Jungkook tidak mau peduli, sebenarnya. "Tidak usah ijin bekerja. Aku baik-baik saja, bukannya sakit. Aku hanya –"
Ucapannya tertahan, Taehyung menunggu.
–terlalu mabuk. " –pusing. Entah apa yang kulakukan semalam."
Dan pernyataan itu membuat keheningan semakin merebak. Juga suasana canggung yang membunuh keduanya, terasa sangat asing dan kaku. Jungkook merasa heran, kenapa Taehyung jadi terdiam aneh seperti itu, seolah ada yang salah dari ucapannya. Ia mencoba menerka, gerangan apa yang membuat Kakaknya terlonjak kaget dan terdiam dengan mata kosong dan sorot mata sendu, juga suasana aneh yang barusan menamparnya. Ia tidak tahu mengapa tapi rasanya ada sesuatu yang menusuk jantungnya secara perlahan, terasa perih dan menyakitkan. Cepat ia berdeham, "Buatkan saja bubur atau apa, dan telpon Jimin hyung untuk ijin terlambat. Kalau hyung sangat khawatir, pastikan aku menghabiskan makan dan meminum obat. Setelahnya kau bisa pergi,"
"Baiklah..."
Taehyung sudah akan pergi lagi sebelum Jungkook menahannya. "Tunggu lima menit. Temani aku sebentar disini," Jungkook mengucapkannya susah payah. Ia menjilat bibirnya sendiri dan berdeham canggung. Ia hanya tidak mengerti kenapa ia merasa ingin berada di dekat Kakaknya lebih lama. Mungkin pening di kepalanya membuat ia lebih bodoh, sedikit. "Pijat kepalaku lagi,"
Meski diam saja, Taehyung tetap melakukannya.
"Kenapa hyung diam saja?"
Taehyung terkejut dalam diam. Matanya membola lantas bertemu tatap dengan manik adiknya yang sangat jernih. Ia masih terdiam, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Ia tidak punya jawaban di kepalanya yang sangat penuh oleh pemikiran acak. Ia juga tidak tahu kenapa ia ingin diam seharian ini, fakta bahwa semalam mereka bersetubuh membuatnya semakin kacau. Ia ingat jelas adiknya sudah menyentuhnya tapi kenyataan bahwa Jungkook sudah melupakan itu membuatnya sungguh tidak tahu harus merespon apa. Mereka jelas melakukannya, Taehyung tidak mengingau pun bermimpi. Bahkan tubuhnya masih sakit, dan sekujur tubuhnya banyak bekas gigitan Jungkook. Tapi sekali lagi, ia hanya bisa diam sebab Jungkook pun diam. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. "Memangnya kenapa? Aku... tidak apa-apa,"
Jungkook merenung sebentar, "Lupakan saja."
Lantas Taehyung mengangguk kecil dan kembali mengelus kepala Jungkook sembari memijatnya lembut. Tapi dalam hati, ia ingin mengumpat dan berteriak. Ia ingin sekali memekik di hadapan adiknya, bertanya kenapa ia bisa menyentuhnya malam itu. Ia ingin bertanya untuk apa Jungkook mabuk kemarin. Ia sangat ingin bertanya kenapa sangat mudah melupakan apa yang terjadi diantara mereka semalam, padahal jelas mereka bersetubuh. Taehyung ingin menangis dan berteriak.
Apa ucapan Aku Mencintaimu juga hanya efek mabuk?
Dan Jungkook sudah lupa ia mengucapkannya?
Entahlah. Terlalu memusingkan untuk dipikirkan. Ia sudah lelah memikirkannya semalaman. Setelah sesi panasnya bersama Jungkook –adiknya sendiri, ia tercenung dalam diam. Ia menangis hebat saat Jungkook tak sadar diri. Ia menangisi hidupnya yang konyol. Sungguh konyol bagaimana ia bisa begitu murah dan bodoh untuk disetubuhi adiknya, adiknya, adiknya. Dan betapa dungu ia masih bisa berpikir bahwa apa yang dialaminya itu menyenangkan, bahwa setiap jengkal dari sentuhan dan hentakkan yang Jungkook beri adalah kenikmatan. Ia merasa kotor, dan pemikiran itu membuatnya hina. Jelas ini sangat salah dimana ia baru saja mengatakan cinta pada Jimin dan bercinta dengan adiknya sendiri, parahnya ia masih berpikir seks dengan Jungkook itu menyenangkan.
"Hyung?"
Panggilan lucu dari Jungkook membuyarkan lamunan Taehyung. "Y-Ya?"
"Itu.. kenapa –" Jungkook menggigit bibirnya dan sedikit menggantungkan ucapannya. Telunjuknya mengetuk pelan lehernya sendiri dan matanya berbinar penasaran. " –merah, ungu. Kenapa lehermu banyak sekali ruam-ruam begitu? Apa hyung barusan makan udang? Bukankah hyung alergi udang; kenapa masih berani makan itu –lihat, lehermu jadi banyak sekali –"
Jungkook hendak menyentuh leher Jungkook sebelum Taehyung memundurkan dirinya begitu cepat dan mengejutkan bagi keduanya. Mata mereka sama-sama terbelalak, dan terdiam. Tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Jungkook mengernyit heran menatapi Taehyung yang perlahan menyentuh lehernya sendiri, mengelusnya pelan dan menggigit bibir ragu. Matanya bergerak gelisah dan dapat Jungkook lihat Kakaknya bernapas tanpa ritme. Ia hendak bertanya lagi namun Taehyung sudah bangkit dengan cepat dan bicara tanpa menatap wajahnya.
Entah kenapa itu membuat Jungkook merasa sakit.
"Aku harus membuatkanmu bubur," ujarnya ragu dan kaku. "Dan, mungkin aku akan pergi sebentar membeli obat sakit kepala, tapi mungkin aku –aku tidak bisa menemanimu sampai terlelap. M-Maksudku, aku baru ingat kalau hari ini cafe akan sibuk dan Jimin membutuhkanku," ia menggigit bibirnya kuat sekali saat berhenti bicara. "Jadi aku akan langsung pergi setelah buburnya matang, kuharap itu oke untukmu,"
Jungkook terdiam sebentar mendapati sikap aneh Kakaknya. "Baiklah,"
"Kalau begitu aku keluar dulu,"
.
Cafe sedang sibuk. Jimin berhasil melangsungkan promosi hari Peppero. Sudah jauh-jauh hari ia merencanakannya bersama para pengurus cafe. Mengadakan rapat berminggu-minggu untuk merayakan hari kasih sayang kedua setelah empat belas februari. Awalnya ini bermula dari gagasan tidak sengaja dari Kwon Soonyoung yang sedang ngobrol santai dengan beberapa pelayan dan Jimin yang menyesap kopi hangatnya di balik counter. Dengan hati yang sedang berbunga-bunga, Jimin menelpon beberapa kawannya yang membantu membangun cafe ini dan merundingkan hal ini yang nyatanya disambut baik oleh mereka.
Promosi menu pasangan.
Seketika cafe milik Jimin seperti vaccum cleaner; menyedot seluruh umat masuk dan memenuhi setiap sudut di cafe bahkan beberapa orang tidak bisa masuk karena penuh. Dan ajaibnya, mereka rela menunggu diluar. Jimin terheran, padahal ini bukan hari Valentine tapi antusias pengunjung lumayan besar. Ia bersyukur akan itu. Walaupun didalam hatinya ia juga ingin merayakan hari Peppero ini, bersama Taehyung. Sayangnya pemuda itu sedang aneh –menurutnya. Sejak tadi terdiam dan tidak fokus, berulang kali salah melakukan hal dan melamun. Entah apa yang ada di pikirannya.
"Cantikku, minum dulu."
Taehyung menoleh dengan terkejut. Kemudian menghela begitu melihat Jimin yang datang menghampiri, ia menerima segelas jus jeruk yang diberikan lantas meminumnya pelan setelah ia memukul bahu Jimin dan bergumam, "Apaan panggilan konyol itu."
"Kau memang cantik."
Taehyung memutar bola matanya pongah. Kembali meminum jus jeruknya yang segar dan membasuh kerongkongannya yang sudah keriput. Ia lelah sekali, cafe sangat ramai dan pelayan nyaris mengeluh patah kaki karena melayani semua orang. Dilihatnya Soonyoung yang kerepotan mengantarkan es kopi ke masing-masing meja, juga Seungkwan yang nampaknya bermasalah dengan pelanggan asing di meja sebelas, juga Minhyuk yang direpotkan oleh ulah iseng anak kecil yang menumpahkan makanannya. Ia tahu Minhyuk sedang menahan marah sebab meskipun dia itu tampan, sebenarnya dia yang paling temperamental. Ia tertawa tertahan melihatnya.
Sedangkan dirinya, terduduk lesu. Barusan tukar jaga dengan Jongup karena merasa kepalanya pusing, dan Jongup pun baru datang karena ada insiden kecil. Jadi dia menjauh dari hiruk pikuk yang membuat gendang telinganya nyaris pecah dan merenung. Semuanya baik-baik saja sampai Jimin datang dengan suara cempreng dan pertanyaan tidak bermutunya. "Kau ini kenapa, sih? Hei, lihat aku."
Jimin menangkup wajah Taehyung dan membuatnya berhadapan.
"Kau ada masalah apa?"
Taehyung menggigit bibirnya pelan. Seharusnya ia tidak membiarkan Jimin mendekatinya. Ia paham kalau sekuat apa pun Taehyung mencoba menyembunyikan sesuatu, selalu ada cara bagi Jimin untuk tahu bahwa ada yang mengganjal di hatinya. Jimin hanya terlalu peka terhadap sesuatu, dan ia tidak mau sombong tapi Jimin sangat mengerti dirinya. "Aku... tidak bisa bilang,"
Tentu saja. Tidak mungkin dia bercerita kalau Jungkook, adiknya, baru saja menyentuhnya tepat setelah mereka pulang bersama dan saling mengatakan cinta. Tepat setelah Taehyung mengatakan dengan gugup dan lucu bahwa dia mencintai pemuda di hadapannya. Tepat setelah mereka pulang bergandengan tangan. Tepat setelah episode manis mereka, dan ia menikmatinya.
"Baiklah," Jimin mengelus rambut Taehyung. "Tapi jangan murung seperti itu. Aku tidak tega melihatnya, tahu? Aku terus merasa khawatir dan tentu kau tidak senang aku seperti itu padamu, bukan?" ia hanya terlalu mengenal Taehyung, pemuda yang tidak pernah tega membiarkan orang repot memikirkan pun mengkhawatirkannya. "Sebegitu besar masalahmu, hm?"
"Sangat,"
Jimin terdiam mendengar suara lirih dari bibir Taehyung. Ia merasa janggal dari ucapannya, juga tatapan sendu yang dipancarkan Taehyung namun kendati pemuda itu tak mau bicara tentang apa pun, Jimin tidak bisa mengganggunya dengan keegoisan dalam dirinya. Ia ingin tahu hal bodoh apa yang berada dalam kepalanya tapi juga tidak ingin membuat Taehyung terbebani. Rasanya sungguh dilema, dan Jimin sangat tidak suka dalam situasi seperti ini. Seolah dia tidak penting untuk Taehyung bagi kisahnya, juga tidak berguna untuk membantu Taehyung. "Sini, datang ke pelukanku."
Meskipun akhirnya ia tetap tersenyum kala Taehyung masih berpikir bahwa dirinya adalah penting. Dia senang saat Taehyung masih menerima kehadirannya, dan menganggapnya ada. Kala Taehyung menjadi pemuda manis yang suka pelukan, Jimin bahagia. Ia pikir tidak mungkin ada yang bisa memeluk Taehyung seerat dan senyaman ini. Kendati wangi Taehyung yang sangat manis dan tubuh ringkihnya yang sangat lembut dalam pelukannya membuat Jimin meleleh. Mereka sering berpelukan tapi Jimin selalu berdebar setiap melakukannya, terutama saat Taehyung yang memeluknya lebih dulu. Mengeratkan jemari kurusnya di leher Jimin, mengendus tubuhnya, dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Jimin, menemukan kenyamanan disana. Jimin merasa jadi pria paling bahagia karena bisa memeluk makhluk terindah seperti Taehyung.
"Mau pergi denganku?"
Taehyung melepas pelukannya, menatap Jimin bingung. "Sekarang?"
"Tentu, Cantik." Jimin mencubit pipi Taehyung gemas, tertawa kecil mendengar rengekan lucu dari bibir Taehyung lantas mencubit bibirnya pula. "Kepalaku pusing disini, aku butuh udara segar."
"Kemana?"
Jimin mencubit hidung Taehyung yang mancung, "Pergi saja dulu,"
.
.
Suasana di mobil tidak jauh berbeda.
Hening. Jimin tidak sepenuhnya fokus menyetir. Pemikiran tentang Taehyung yang lanjut melamun di mobil membuatnya tidak nyaman. Ia ingin merubah suasana hati Taehyung yang sedang mendung tapi mungkin ia belum mampu. Ia terus melirik pemuda di sampingnya yang menopang dagu dan menatap ke luar jendela dengan mata sendu yang kosong. Berulang kali menghela panjang, dan menggigit bibirnya kuat, sampai Jimin meringis sendiri. Ia tidak bisa fokus saat tahu Taehyung seperti ini.
Maka setelah pertimbangan panjang, Jimin menurunkan jendela Taehyung.
"Berteriaklah," ujar Jimin saat Taehyung menatapnya dengan raut terkejut.
Sedang pemuda itu masih bergeming.
"Jangan pedulikan siapapun," Jimin memulai dengan suara lembut. Ia tidak bisa memaksa Taehyung bercerita tentang apa pun, dan satu-satunya jalan adalah membuatnya nyaman dan memerlakukannya dengan lembut dan sabar. "Berteriaklah, jika itu membuatmu merasa lebih lega. Kita berada di jalur cepat saat ini. tidak ada banyak mobil sekarang, kau tidak akan di tuntut sebagai pengganggu ketertiban dan hak asasi manusia atas dasar polusi suara,"
"Jimin –"
Dengan cepat Jimin menginterupsi, "Tidak apa kalau kau tidak mau cerita padaku. Aku tidak bisa memaksamu, lagipula. Tapi aku benar-benar tidak tahan melihatmu merenung sendirian. aku mengerti kamu, Tae; yang senang memendam masalah sendirian, dan juga memikirkan semuanya saat sudah tertumpuk jadi satu." Ia menghela, sedikit sedih. "Berteriaklah, jika itu membantu. Keluarkan emosimu; marah, sedih, kacau. Hentakkan semua pikiran acakmu disini, saat aku melaju kencang dengan suara sengaumu yang parah. Menangis bila perlu, aku akan selalu disini, mendengarmu. Juga menjadi tempat bagimu pulang,"
"Aku selalu disini, Tae."
Pertahanan Taehyung runtuh, ia meneteskan airmatanya begitu mudah. Kata-kata Jimin menghantam kepalanya begitu kuat seakan meremas jantungnya. Kalimat manis darinya membuat Taehyung merasa sesak dan bahagia, ia bahagia memiliki Jimin di sisinya. Juga sesak mengetahui bahwa Jimin memang selalu ada untuknya, dan kenyataan itu membuatnya sangat senang. Maka setelah mengangguk lambat usai menjawab pernyataan Jimin, Taehyung mengeluarkan kepalanya ke jendela. Menerpa wajah basahnya dengan angin kencang dan terpejam sesaat. Mengumpulkan emosinya jadi satu hingga tertahan di tenggorokannya lantas membuka bibir dinginnya dan berteriak sekuat tenaga.
.
.
Kim Taehyung itu sederhana.
Membuatnya senang dan merasa lebih baik itu tidak sulit. Jimin membawanya ke taman yang sedikit sepi dari hiruk pikuk dan menyewa sepeda. Jimin tersenyum senang saat melihat Taehyung baikan, wajahnya tidak semurung tadi, dan paling tidak ia jadi bawel lagi. Bahkan dia sudah bisa memilih sepeda keinginannya dan bercerita beberapa hal tentang betapa lama mereka sudah tidak bersepeda seperti saat masa sekolah dasar. "Kulihat kau sudah lebih baik,"
"Ah, ya.." Taehyung tersenyum dan melepas pegangannya lantas terus mengayuh. Mengabaikan peringatan Jimin yang menyuruhnya tetap memegang stang sepeda. "Itu pun karenamu, Jimin. untuk pertama kalinya, aku berteriak seperti tarzan. Memalukan tapi aku senang, kau ingat wajah orang di mobil bak tadi? Apa aku sekonyol itu tadi?" ujarnya sambil terkekeh geli, dan sedikit banyak membuat Jimin turut tertawa senang mendengar tawa itu. "Terima kasih, Jimin."
Taehyung menghentikan kayuhannya, pun Jimin.
"Kamu sangat mengerti aku," ujarnya kemudian. Menatap bola mata Jimin yang sangat jernih dan murni, membuat Taehyung berdebar tanpa sadar. Rambut hitam Jimin yang tertiup angin sampai jadi berantakan pun menjadikannya tambah tampan dan membuat Taehyung nyaris sesak napas menatapnya tanpa berkedip. Sialnya, Jimin sangat ganteng. "Apa jadinya aku tanpamu. Kau adalah orang yang sangat tenang dan fokus, bijak dan perhatian, aku senang memiliki sahabat sepertimu. Dan juga, telah membawaku kesini, terima kasih. Mungkin ini sudah jutaan kali tapi ... terima kasih,"
Mendengar untaian kalimat polos seperti itu menjadikan Jimin pun berdebar. Matanya tidak berkedip menatap Taehyung yang bicara dengan halus dan sedikit gugup. Makna dari pernyataan Taehyung sangat tulus dan itu menyentuh dasar hati terdalam Jimin, hingga ia terharu. Pemuda itu memang selalu mengucap terima kasih padanya dan baru kali ini Taehyung mengucapkannya dengan amat sangat lembut, meskipun ia tahu setiap ungkapannya adalah tulus dan murni. Tapi yang satu ini sangat mengetuk hatinya dan ia ingin memeluk Taehyung sekarang juga.
"Ayo kita duduk," Taehyung tersenyum. "Kakiku capek."
Jimin tersenyum simpul, mempersilahkan Taehyung berjalan menuju sebuah bangku panjang berwarna merah maroon sedangkan ia pergi ke arah sebaliknya selagi Taehyung tidak sadar. Ia mengayuh sepedanya dengan cepat dan kembali, nyaris tidak ada waktu bagi Taehyung untuk sadar Jimin sempat pergi. Yang ia tahu saat ia membalikkan badan untuk duduk, Jimin sudah menyuguhkan eskrim taro tepat di depan wajahnya. Ia mengerjap pelan, lantas menerimanya. "Kapan kau beli ini?"
"Baru saja," Jimin duduk di samping Taehyung.
Taehyung menikmati eskrimnya, sesekali melirik Jimin yang menyandarkan tubuhnya dan bernapas dengan lembut. Memandang seisi taman dengan raut tenang, beberapa rambutnya beterbangan tertiup angin dan itu nampak sangat indah untuk Jimin. "Kita bisa membagi eskrim ini,"
"Hm?" Jimin memandang Taehyung, "Itu untukmu, Cantik."
Kendati merasa sebal dan malu, Taehyung menonjok bahu Jimin. Mendengus kala mendapat suara tawa menyebalkan dari belah bibir pemuda di sampingnya. "Berhenti memanggilku cantik, aku tidak cantik. Berapa kali aku harus mengatakannya padamu?" lantas melahap eskrimnya dengan beringas tanpa peduli bahwa mungkin ia akan mengalami beku otak sebentar lagi. Jimin hanya tertawa melihatnya, tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat Taehyung menjadi dirinya yang bertingkah menggemaskan. "Serius, nih. Sebelum aku benar-benar menghabiskan semuanya, kau mau eskrim-nya gak? Ini enak, loh. Aku tidak bohong,"
"Habiskan saja,"
"Yang benar," Taehyung memainkan nada bicaranya, mencoba menggoda Jimin dengan eskrim di tangannya, menganyunkannya lucu di depan wajah Jimin yang tersenyum santai dan nampak serius dengan ucapannya. Dan itu sedikit membuat Taehyung merengut, karena jujur saja dia rindu bertengkar dan merebutkan sesuatu dengannya, "Awas kalau menyesal!"
Selanjutnya Taehyung benar-benar melampiaskan emosinya pada eskrim. Memakannya beringas, tanpa jilatan manis dan langsung menerkamnya buas seperti orang gila. Lantas mengaduh saat giginya ngilu mendadak dan kepalanya serasa di hantam. Jimin tertawa saja, karena menurutnya itu adalah hal lucu meskipun Taehyug tentu saja menderita. Tapi Taehyung hanya mendengus dan mencubit perut Jimin yang semakin kencang; mungkin efek gym. Terkadang, Taehyung dan pikiran konyolnya bertanya bagaimana kerennya perut Jimin tanpa penghalang. Astaga.
"Makan dengan pelan, Tae."
"Hm." Setelah kepalanya terasa lebih baik, Taehyung mengendalikan tingkahnya. Ia terduduk rapi dan manis, menjilat eskrimnya pelan dan penuh penghayatan. Jimin tahu benar Taehyung suka eskrim rasa taro. Dan itu membuatnya senang karena Jimin masih mengingat hal-hal kecil tentangnya yang pikirnya Jimin sudah lupa. Sebenarnya, pergi bersama Jimin seperti ini sudah membuatnya merasa lega. Bersepeda dengan angin sore yang lembut sungguh membuatnya merasa lebih baik dan tenang. Jimin sangat pandai membuatnya tenang, dan itu satu dari sekian banyak hal tentangnya yang Taehyung suka darinya. Ia tersenyum tertahan sembari menikmati eskrimnya, hendak mengatakan sesuatu sebelum Jimin lebih dulu mendekat.
Membawa bibir tipisnya pada eskrim dalam genggamannya. Turut menikmati eskrim taro itu, dan mempertemukan kedua ujung bibir mereka dalam lembutnya eskrim yang nyaris meleleh. Tanpa diperintah lebih lanjut menjadikan Taehyung terbelalak dan menatap manik Jimin yang juga memandanginya dengan sorot mata tenang namun tajam. Ia tidak bisa merespon apapun selain diam tergugu seperti manekin, terlampau tenggelam pada lautan pupil dan iris Jimin yang sangat bening dan menghanyutkan begitu dahsyatnya. Taehyung ingin melakukan sesuatu tapi ia tidak punya satu pun pemikiran tentang apa yang harus ia perbuat.
Sampai akhirnya Jimin menciumnya.
Bersama dengan sedikit eskrim yang terbawa oleh bibir Jimin, menjadikan ciuman mereka terasa berbeda. Ada perpaduan panas dan dingin, serta manis yang kelebihan kadar. Taehyung hanya mengerjap berkali-kali, tidak sanggup merespon banyak saat Jimin sudah menginvasi mulutnya dengan begitu sopan dan jantan. Ada makna dalam setiap sentuhan kecil dari bibirnya saat menekan setiap sudut bibir Taehyung, dan setiap itu pula Taehyung merasa pusing. Ia merasa sesak dan berdebar disaat yang sama. Saat ia merasakan eskrim diantara bibir mereka menetes karena sudah meleleh, Taehyung pikir dia juga mungkin sudah meleleh. Tubuhnya terasa panas seketika, dan setiap Jimin menyentuh bibirnya begitu benar, Taehyung sangat terpana.
Tapi jauh dalam lubuk hatinya, ia merasa ini salah.
Pemikiran tentang dosa yang jadi tanggungannya sejak semalam, yang mengacaukan dan memporak-porandakan benaknya, yang menjadi bebannya. Adalah sesi panas-nya bersama adiknya, yang membuatnya merasa amat sangat bersalah. Ingatan tentang bagaimana ia menerima dan menikmati dosa malam itu membuatny sungguh hina dihadapan Jimin. Pemuda di hadapannya sangat baik, tulus, menyayanginya begitu besar dan ia hanya memberi luka; meski Jimin tidak tahu.
Tapi sangat menyakitkan bahwa Taehyung telah mengkhianati Jimin dibelakangnya. Tepat saat ia berkata bahwa ia mencintai pemuda ini, yang melindungi dan menciumnya dengan tulus tanpa alkohol. Dan ia merasa kotor saat menerima rasa asih seindah ini, dari seorang malaikat. Sedang seharusnya mereka tidak seperti ini. Mungkin semua akan baik-baik saja jika kejadian seks kilat itu tidak terjadi tapi Taehyung tidak bisa melupakannya semudah cara bernapas. Ia merasa Jimin tidak pantas disakiti seperti ini, pemuda ini, yang tengah mengelus pipinya ini, tidak pantas diperlakukan sejahat ini.
Taehyung sudah bercinta dengan orang lain,
Dia menikmatinya,
Sedang mulutnya bicara Aku Cinta Kamu pada Jimin,
Dia sungguh munafik.
Seorang malaikat, dalam artian harfiah adalah Park Jimin, tidak cocok bersama seorang pendusta dan pendosa seperti Kim Taehyung. Orang mana yang tega melakukan seks dengan adiknya sendiri? Jika saja ia berani dan tidak punya malu untuk bicara, ia yakin Jimin tak akan segan memecatnya dan memutuskan segala hubungan yang mereka punya. Jimin mungkin orang yang baik tapi dia tegas dan akan sangat seram jika sudah marah dan jijik. Jika Taehyung mengungkapkannya, Jimin pasti jijik. Satu hal pemikiran konyol di benak Taehyung adalah ia tidak ingin kehilangan Jimin. Dan ia merasa sangat egois saat ini.
"Kenapa?" Jimin bertanya saat Taehyung menjauhkan bibirnya, melepas tautan manis itu. Tidak menatap tepat ke mata Jimin. Wajahnya masih memerah tetapi bola matanya bergetar seperti akan menangis. Sedangkan Jimin hanya bisa menatapnya sendu, ia sudah kehabisan akal tentang ada apa dengan Taehyung hari ini. Dan itu membuatnya frustasi. "Apa aku menyaikitimu, Tae?"
Ia tidak langsung menjawab, membuat Jimin merendahkan suaranya.
"Apa aku menyakitimu?"
Taehyung menggeleng, "Jimin –"
"Kali ini apa, Taehyung?" Jimin berucap dengan nada lirih. "Pembelaan apa yang coba kau lontarkan padaku sekarang? Kau akan mengatakan alasan apalagi? Bicaralah, aku akan dengar semuanya. Dan anggap saja aku percaya meskipun aku tahu, kita semua tahu, itu bohong." Ujarnya dengan penuh emosi nyaris saja berteriak di akhir kalimatnya. Tetapi sorot mata berkaca dari manik Taehyung membuatnya lemah tanpa syarat, membuatnya tidak tega untuk menyakitinya lebih jauh. "Setelah ini kita ke Dokter, aku ingin periksa apa mungkin aku berhalusinasi atau pendengaranku terganggu. Karena aku berdelusi seorang Kim Taehyung berkata bahwa dia cinta padaku."
"Tidak, Jimin. Aku –" Aku mencintaimu.
Jimin menghela, melepas gundahnya bersamaan dengan napasnya. Ia menyugar rambutnya hingga jadi berantakan, lantas mengeluarkan tisu basah dan dengan sigap membuang eskrim meleleh dari tangan Taehyung dan membersihkan telapak tangan lebar dan kebiruan karena membeku. Masih menahan suara karena takut ucapannya bisa menyakiti Taehyung. Getaran kecil di ujung jemari Taehyung membuatnya menggigit bibir, apa pemuda itu tengah ketakutan, atau bahkan menangis? Membayangkannya saja Jimin tidak sanggup. "Maafkan aku,"
Taehyung menggeleng, "Aku yang minta maaf."
"Salahku lebih besar –" dan Taehyung dengan cepat menginterupsi, "Dosaku paling besar."
Jimin terdiam tidak mengerti dengan pengakuan Taehyung yang setengah-setengah itu. Tapi ia segera mengalihkan pandangannya sebab tidak mampu melihat pemuda manis-nya menangis dan gemetar ketakutan. ia sungguh lemah jika itu tentang dia. Ia menghela lagi sebelum mengelus rambut halus Taehyung dan menangkup pipinya dan tersenyum simpul, "Kita pulang sekarang."
"Tapi, Jimin –"
"Kau butuh tidur," ia dengan cepat menyela. "Dan mungkin cokelat hangat, dan pelukan."
.
Setelah berkompromi dengan pusing dikepalanya, Jungkook pergi.
Ia tidak tahu harus berbuat apa di rumah. Taehyung sudah pergi bekerja dan meninggalkan bubur juga obat sakit kepala untuknya, Jungkook hanya memakannya sedikit dan meminum obatnya lantas menyambar jaket denim dan pergi. Dia butuh udara segar, entah kenapa ia merasa penat dan dadanya terus merasa sesak tanpa alasan jelas. Perasaan sakit tentang Taehyung yang bersikap berbeda membuatnya kepikiran dan jujur saja itu menyakitkan saat Kakaknya bertingkah menjauhinya. Seolah ada sesuatu yang salah; entah itu darinya atau kejadian semalam. Dia tidak bisa mengingat apa pun, semakin diingat kepalanya berdenyut jadi ia lelah mencoba. Tapi sejujurnya dia penasaran kenapa Taehyung sangat berbeda dari biasanya.
"Jungkook?"
Yang dipanggil menoleh, terkejut mendapati Namjoon yang berjalan mendekat. Masih mengenakan seragam formal yang sialnya melekat pas di tubuh jangkungnya. Penampilannya masih sangat keren dan muda, bahkan wanginya masih sama. Itu membuat Jungkook nyaris pingsan dalam aroma memabukkan dari tubuh Namjoon yang selembut madu. Pria itu tersenyum dan menepuk bahu Jungkook ramah, nyaris membuatnya meleleh oleh sentuhan sederhana itu. "Lama tidak bertemu,"
"N-Ne..." sialnya suara Jungkook tersendat. "Apa kabar, Paman?"
"Senang melihatmu, Jungkook. Kabarku baik, kulihat kau tumbuh dengan baik pula. Ah, aku benar-benar rindu padamu. Dinasku diperpanjang jadi seminggu dan kupikir mataku sudah berkantung," keluh Namjoon dengan suara parau yang membuat Jungkook tertawa karena menurutnya itu lucu. Saat Ayah Jihoon bertingkah seperti anak muda, terlihat sangat lucu. "Ya! kenapa tertawa, itu tidak lucu. Aku benar-benar dibuat pusing oleh kantor."
Jungkook terkikik, "Itu sih urusan Paman."
Mendengarnya membuat Namjoon melotot jenaka dan mencubit hidung bangir Jungkook sampai yang lebih muda tambah kencang tertawa dan merengek seperti bayi. Tanpa syarat menularkan tawa bahagia bagi Namjoon yang tengah pusing. Melihat Jungkook tersenyum dan tertawa lepas seperti itu membuatnya merasa lega. Mungkin ini aneh tapi Namjoon bahkan tidak tahu kenapa, ada sebuah perasaan bahagia dan penuh kala melihatnya bahagia. Seluruh beban di pundaknya lepas begitu mudahnya, dan seketika ia turut tersenyum. Sungguh cara yang sederhana.
"Kau sudah makan?" ia bertanya tapi sudah menarik lengan Jungkook dan berjalan, "Kupikir pemuda beken sepertimu tahu restoran sup tahu yang enak?" ia menatap Jungkook dengan pandangan yang tenang. Terus berjalan beriringan menuju mobilnya yang diparkir di seberang jalan. "Aku ingin makan sup tahu, apa itu oke untukmu?"
"Aku tidak punya pilihan untuk menolak, lagipula."
.
.
Jungkook mendegus geli, menyodorkan selembar tisu pada Namjoon yang nampak sangat berantakan untuk ukuran pria tiga puluhan dengan anak satu. "Paman seperti belum makan tiga hari," lantas ia tertawa atas ucapannya sendiri. Sedikit kasar tapi ia tahu Namjoon pasti menganggapnya hanya sebuah candaan konyol. Kemudian ia melanjutkan makan dengan tenang, meski matanya masih memerhatikan Namjoon dalam diam. Sialnya, bahkan hanya mengelap sudut bibirnya yang belepotan pria itu nampak sangat keren dan tampan. Pemikiran kotornya masih sempat berteriak bahwa Namjoon sangat seksi.
"Bagaimana sekolahmu?"
Lantas fantasi jeleknya buyar. "Baik, ujian semester akan dimulai dua minggu lagi."
"Baguslah," ujar Namjoon mengangguk samar dan kembali fokus pada sup tahu-nya. "Belajarlah dengan baik, kau bisa belajar bersama dengan Jihoon di rumah kami. Itu kalau kau mau, dan kalau Jihoon mau. Tapi mungkin dia tidak akan setuju, sih. Ah, entah ada apa dengannya. Padahal menurutku kau orang yang baik dan sopan. Kupikir kalian lucu saat bersama."
"Lucu apanya,"
Namjoon terkekeh, membalas pesan kakao dari teman kantornya sebentar. Kemudian kembali memandang Jungkook yang menyuap sup tahu-nya dengan tenang. Perasaan aneh ini datang lagi; perasaan lega dan bahagia melihat Jungkook hidup dengan baik. Namjoon sangat tidak mengerti mengapa ada sebuah rasa seperti ini dalam dirinya. Padahal Jungkook bukan wanita, atau seseorang yang patut dia cintai. Dan mereka tidak sedekat itu jika dihitung dari lama mereka mengenal. Tapi perasaan senang itu terus muncul saat bersama Jungkook. Ini aneh tapi sebenarnya menyenangkan. Jadi dia membiarkan semuanya terjadi. "Mungkin sedikit lancang, tapi apa kau mendengarkan kata-kataku?"
"Hm?" Jungkook mengerjap cepat, "Kata-kata yang mana?"
"Tentang larangan mabuk,"
Jungkook terdiam dan mengalihkan pandangannya. Berdeham canggung saat Namjoon menanyakan hal itu. Ia tidak pandai berbohong dan entah kenapa dia tidak bisa berbuat seenaknya di depan pria ini, tatapan mata Namjoon yang tajam membuatnya risih dan terintimidasi. Seluruh kata hanya tertelan bulat-bulat ke dalam tenggorokannya dan ia kehabisan alasan. Tapi dia sungguh tidak ingin terlihat buruk di hadapannya. Mereka akhirnya bertemu setelah sekian lama, Jungkook merindukannya, dan ia tidak bisa menghancurkan hubungan konyol mereka yang sudah sejauh ini. "Tidak, seperti yang Paman bilang padaku kalau mabuk itu tidak baik."
Maaf tapi Jungkook cukup egois.
Dia ingin menikmati dunia malam tapi juga tampil baik di depan Namjoon.
"Good boy," puji Namjoon sembari menepuk kepala Jungkook halus. Dan itu membuatnya merasa sangat nyaman hanya karena sentuhan sederhana. Jungkook juga tidak mengerti kenapa ia sangat senang diperhatikan oleh Namjoon seperti ini. seluruh senyum dan afeksinya, ucapan konyolnya, dan wangi pria yang sangat maskulin itu sungguh membuatnya terpana dan berdebar. Ini berbeda saat ia berdegup saat bersama Jiyoon atau dalam pengaruh alkohol. Perasaannya jauh lebih tulus dan ringan saat dengan Namjoon dan itu membuatnya senang. "Kau memang anak yang baik, Jungkook. Tidak salah aku percaya padamu. Aku tahu, remaja memang rawan menjadi nakal. Itu tidak masalah sebab kalian masih anak-anak, tapi aku yakin kau bisa mengendalikan dirimu. Bukan begitu?"
Jungkook menahan napasnya, "Iya."
Namjoon tersenyum lebar sampai lesung pipinya nampak jelas. Membuatnya nampak sangat tampan dan manis di satu waktu. Jungkook menatapnya tanpa berkedip dan terpaku, rasanya seperti membeku di musim dingin. Demi Tuhan, Namjoon hanya tersenyum hangat padanya dan Jungkook bisa se-kurang ajar ini menyukai senyuman maut itu dan berdebar. Kenapa pula dia harus bernapas dengan tersengal hanya karena satu tarikan bibir tebal merah itu. Katakan saja dia gila tapi Jungkook sangat terpana oleh sebuah senyuman, senyuman Namjoon.
Sampai akhirnya ia tersadar dari lamunan konyolnya saat Namjoon menaruh potongan kimchi di mangkuknya, masih tersenyum dengan manisnya. Nyaris membuat mata indahnya tenggelam seperti bulan saat menjelang pagi. Entah kenapa ia sangat tidak sabar menanti Namjoon mengatak sesuatu untuknya, bahkan jantungnya terus berdentum gila. "Makanlah, dan sehat selalu."
"N-ne.."
Jungkook tersenyum tertahan. Ucapan yang sangat sederhana dan mungkin bisa ia dapatkan dari bibir siapapun tapi mungkin karena Namjoon yang mengucapkannya, Jungkook sangat bahagia. Ia menyumpit kimchi-nya lantas memakannya dengan sepenuh hati. Ia menyesap rasa khas dari kimchi lantas menatap Namjoon yang masih memandanginya dengan mata tajamnya yang indah. "Gomawoyo..."
Drrrt.
Sebuah getaran di saku celana jeans milik Jungkook mengagetkannya. Ia hampir saja tersedak sebab momennya sungguh tidak tepat. Ia nyaris mengumpat kalau saja ia tidak ingat tengah bersama Namjoon. Kalau sempat ia mengatakan satu kata saja seperti shit, misalnya, ia akan mati. Mau taruh dimana mukanya. Ia tersenyum canggung dan mengeluarkan ponselnya. Sebuah pesan dari Oh Sehun, dan itu membuatnya memutar bola matanya pongah. Mau apa lagi si brengsek ini? ia sempat menyesal memberikan pelukan dan perhatian pada bocah manja itu. Dia melunjak sekarang.
Mari kita bertemu. –Sehun
Hanya itu isi pesan dari si Chaebol. Membingungkan sebab ia tidak tahu makna terselubung apa yang ada di dalam pesan itu. Sebab Oh Sehun adalah orang brengsek, Jungkook tidak ingin jatuh dalam perangkapnya. Tapi sialnya seluruh godaannya sangat menantang dan ia paling benci diremehkan oleh anak manja kesepian seperti Sehun. Lagipula mengalahkan si brengsek itu menyenangkan.
"Dari siapa?"
Jungkook tersentak, menggeleng cepat. "Bukan sesuatu yang penting,"
Namjoon mengangguk saja, kembali makan. Sedangkan Jungkook masih memandangi ponselnya, membaca pesan Sehun dan berpikir keras. Dia harus berpikir rasional atau ia bisa jadi orang dungu di hadapan Sehun. Pemuda itu sangat mahir bermain dan mengacaukan hidup orang. Meskipun mereka sudah cukup dekat untuk hanya dikatakan sebagai kenalan, dan fakta bahwa Sehun telah memberitahunya tentang permasalahan rumah dan kegundahannya membuat Jungkook merasa ia punya arti lebih di mata Sehun. Sebab selama ini mungkin tidak ada yang sudi tulus berteman dengannya. Menyedihkan tapi Sehun terlalu menyebalkan untuk dikasihani.
Kemudian ia menghela, mengetik cepat.
Baiklah, aku akan ke Wings Club malam ini.
.
.
.
To Be Continued.
..
edisi: sesi panjang lebar
noun; cuap-cuap
...
pertama, saya ingin mengonfirmasi beberapa hal. sedikit saja.
sejak awal, fanfiksi ini sudah saya beri tag Vkook dan KookV. tidak ada perubahan summary sama sekali, dan untuk alur cerita yang tidak sesuai ekspektasi Anda, harap maklumi karena bukan Anda yang menjalankan cerita ini. saya hanya memberitahu kalau mungkin beberapa unsur dalam cerita yang saya buat sangat menggelikan bagi sebagian orang, tapi sekali lagi, ini hanya sebuah fanfiksi. cerita karangan, dan ini buatan manusia yaitu Saya. jadi mungkin saya harap Anda memaklumi kesalahan yang saya buat.
..
kedua, terima kasih atas perhatiannya selama ini! kyaah, gak nyangka loh aku sampe nembus 100 reviews asli aku terkejut. sampe ada yang repot-repot pm aku untuk nanya kelanjutan cerita ini. hehe. seperti yang saya bilang, saya cukup berkomitmen dalam membuat cerita chaptered. masalah ada di real life saya saja karena saya nulis saat ada mood tanpa paksaan.
...
ketiga, selamat membaca. plus mungkin bisa singgah di wattpad saya sugacoffee
..
[copyright-sugantea]
