"Maksudmu aku harus jadi pelacur?"
Sehun mendengus geli, lantas tertawa mendengar pertanyaan bodoh dari Jungkook. Ditatapnya mata bulat yang bersinar begitu polos seperti anak kecil lugu. Wajahnya sangat mendukung, hati terdasarnya mengasihani dan berharap temannya ini tidak dilihat oleh bajingan kotor yang bisa saja langsung menerkamnya. Siapa yang tahan dengan wajah lucu seperti itu lagipula.
Tapi berbincang dengannya sungguh menyenangkan. "Ambil sisi baiknya saja. Kau senang, aku senang, para pemuas senang, tambahan; kau dapat uang. Jangan samakan klub milikku dengan klub malam di sudut kota yang murah itu."
"Tetap saja!" Jungkook memekik, napasnya memburu. "Bukankah pekerja disini adalah submisif? Kenapa kau berpikiran untuk menaruhku disini, keparat kau Sehun. Aku ini kelas Top! Mungkin kau sudah lupa bagaimana kerasnya suara Jiyoon saat aku mengurungnya, membuatnya bergerak, bahkan rela memanggilku Daddy? Kau lupa bagaimana dia jadi begitu murah hanya karena ingin aku gauli sampai mampus; kau lupa? Aku ini bukan pria yang –"
"Sepuluh juta won."
Untaian kata sederhana itu membuat Jungkook terdiam. Ia berkedip pelan sedikit mengaga mendengarnya. Sepuluh juta won itu tidak sedikit, banyak, banyak sekali. Jika memang itu adalah nominal yang akan dia dapat, mungkin Jungkook akan mempertimbangkannya. Dia bukan orang dungu hingga melewatkan kesempatan emas seperti itu. "Sepuluh... juta?"
"Kupastikan akan sampai ditanganmu setiap bulan."
"K-Kau pasti sudah gila, Sehun." Jungkook sangat tidak mengerti apa yang ada di dalam kepala orang brengsek itu. Sepuluh juta won setiap bulan hanya untuk dirinya melakukan seks dengan siapa pun yang memesannya. sejak awal ia menerima pesan ambigu dari Sehun kala itu, ia menaruh rasa curiga. Maka saat ia bertemu dengannya yang nyaris mabuk oleh Wine, Jungkook semakin penasaran. Dan berujung pada ide gila dari si brengsek yang menawarkan pekerjaan padanya. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku; dengan memperlakukanku seperti ini?"
Sehun tertawa lagi, meneguk wine-nya pelan. "Kudengar kau butuh uang,"
Jungkook terdiam mendengarnya. Ia memindai perangai Sehun yang benar-benar hampir mabuk. Ia belum pernah melihatnya sekacau ini. Meskipun Jungkook lebih mahir dalam toleransi alkohol, Sehun tetaplah bukan seseorang yang patut diremehkan saat minum. Dia terbiasa minum sejak SMP jadi dia tidak mungkin semudah itu mabuk kecuali sedang kacau; seperti apa yang pernah ia ceritakan. Sempat Jungkook pikir mungkin dia ada masalah dengan Ayah atau Ibunya.
Atau mungkin ia mendapat luka baru di tubuhnya?
Entahlah.
Yang membuatnya berpikir keras adalah bagaimana Sehun bisa tahu dia butuh uang?
"Kau bisa bersenang-senang," Sehun sudah tidak mampu membuka matanya sendiri. "Dan aku akan membayarmu sepuluh juta setiap bulan. Posisimu sama seperti Jiyoon nuna; Platinum Class. Tentu tidak sembarang orang bisa menggunakanmu. Dan tenang, Kelinci," ia tesenyum miring, "Aku tentu tahu kau adalah Top yang paling baik. Dan mungkin jadi satu-satunya Top di kelas Platinum. Pelangganmu bukan om-om haus sentuhan manhole tetapi para perempuan. Entah itu istri pejabat atau pengusaha terkenal bahkan artis. Aku bahkan yakin, kau mampu menaklukan wanita sekelas Lee Hyori sekalipun."
Ingin sekali Jungkook tertawa.
Bisa-bisanya Sehun sempat berkelakar konyol. Tapi penjelasan tentang siapa yang bisa memesan pelayanan seksnya bukanlah laki-laki genit membuatnya lega. Entah kenapa. Rasa khawatirnya menguap begitu saja. Karena ia pikir Sehun berniat menjadikannya pekerja seks yang berperan sebagai submisif dan harus membiarkan para pria kotor itu menusuknya dari belakang. Sialan.
"Aku hanya tidak tahu bagaimana cara menghabiskan uang di kartuku."
Sekali lagi Jungkook ingin menonjok mukanya.
"Sepuluh juta per bulan, bahkan sampai lima tahun pun tak lantas menguras kekayaan pribadiku, Kelinci. Nikmati saja, dan coba pikir –ani, tidak usah banyak berpikir! Aku tahu kau suka melakukannya jadi pasti ini menyenangkan untukmu. Pekerjaan apa lagi yang menghasilkan uang secepat dan sebanyak ini; oh, Jungkook kau harus berterima kasih pada Jesus karena telah berteman denganku."
"Kau sudah mabuk, Sehun."
Lantas Jungkook memapahnya menuju ruangan milik Sehun. Terkadang Sehun tidur di klubnya, sering ia minta Jungkook untuk menemaninya tapi mana sudi dia tidur dengan orang brengsek. Dan baru kali ini ia masuk ke kamarnya. Tidak jauh dari bayangannya; luas, bersih, terlihat mahal. Ia benar-benar dibuat bingung sebanyak apa kekayaan yang keluarganya miliki jika apa yang Sehun punya dalam genggamannya sendiri saja sudah membuatnya serendah ini. "Tidurlah, aku mau pulang."
"Ya! Temani aku tidur, Kelinci!"
Dengan sigap Jungkook menonjok mukanya, "Kecuali aku sudah gila, aku akan tidur denganmu."
"Argh, terserah. Kau bisa ambil uang di dompetku untuk pulang dengan taksi," Sehun bicara seperti orang mengantuk dan jujur saja itu terdengar lucu untuknya. Matanya menyipit dan tingkahnya mirip anak kecil, sayangnya Jungkook tidak sempat merekam kejadian langka itu. "Tapi kau akan menerima pekerjaan itu, kan?"
"Kenapa kau memaksa?"
Sehun menaikkan selimut hingga menutupi lehernya, "Karena kau butuh uang."
"Kau bicara ngelantur, brengsek." Jungkook mendengus dan beranjak pergi. Sampai ia terhenti di depan pintu nyaris memutar kenopnya saat Sehun memanggilnya dengan suara yang serak dan ekspresi wajah yang lucu tapi Jungkook terlalu malas untuk meledeknya. "Aku sadar dengan apa yang aku katakan sejak tadi. Aku memang mabuk tapi aku bukan pelupa. Aku bicara apa yang otakku pikirkan. Jadi cobalah pikirkan apa yang sudah aku katakan. Sebelum kau menyesal karena tidak pernah menghirup sepuluh juta won di telapak tanganmu."
Jungkook tahu jelas ada maksud dari perlakuan Sehun itu tapi ia tidak tahu apa.
Tapi mungkin, Sehun benar.
.
.
My Mama
.
Kim Taehyung
Jeon Jungkook –role as Kim Jungkook
Jimin
Sehun
.
For this chapter, the rate is M
.
Let's make a deal, for the sake of our relationship
...
Jungkook sangat dekat dengan seks.
Berawal dari ketidak-pahamannya saat ia tahu-tahu bercinta dengan Jiyoon, lantas itu membuatnya ketagihan dan merasa itu menyenangkan. Saat Sehun memberikannya pekerjaan yang gila, sejenak Jungkook pikir ini terlalu hina tapi pada akhirnya ia menyukainya. Setelah ia memutuskan untuk menerima tawaran Sehun, ia diberikan kartu nama miliknya dan kunci berbandul sayap perak yang sangat cantik. Sehun bilang itu adalah kamarnya, satu-satunya tempat dimana Jungkook akan seks dengan pemesannya. Karena dia adalah Platinum maka ia punya ruangan pribadi. Sekali lagi ia bersyukur bahwa Sehun sangat kaya untuk memberikan ini semua cuma-cuma.
Setiap Rabu, Jumat, dan Sabtu malam atau Minggu sore Jungkook akan pergi ke Wings Club. Berbincang sebentar dengan Sehun atau beberapa pegawai kepercayaan Tuan Muda selagi menunggu ponselnya berdering dan dapat pelanggan. Sebenarnya disini sangat menyenangkan; mereka ramah dan pintar. Terkadang Jungkook minta bantuan Yongguk, bartender tertua diantara yang lain, untuk mengerjakan tugas Sejarah karena pria itu pecinta Sejarah –mungkin sedikit maniak.
Dan ketika seks sudah dekat dengannya, alkohol pun tak lepas.
Entah sudah berapa puluh kali ia pulang dengan langkah terseok, mengigau, dan mata tak terbuka, sempoyongan seperti orang dungu yang cacat. Menghadirkan tanya dalam kepala Taehyung yang hampir meledak dengan pemikiran mengapa adiknya sampai sekacau ini. Taehyung tidak sepolos itu untuk tidak menyadari bahwa adiknya pulang dalam keadaan mabuk berat. Dia selalu bertanya tetapi Jungkook tak pernah sudi menjawab.
Dia lelah bertanya.
Dia lelah menerka.
Saat ia hendak membangkang dan mencoba tegas padanya, ketika ia berhasil mengumpulkan emosinya, dan saat dia sudah berani menatap mata sayu adiknya, Jungkook menghempaskannya begitu saja. Begitu kuat sampai Taehyung tidak tahu harus merespon apa. Ketika ia bertanya dengan suara yang susah payah ia tinggikan, Jungkook menciumnya begitu kasar. Lagi, dosa itu terulang. Ketika adiknya begitu mudah menyentuhnya dengan kasar tanpa pernah ingat apa yang telah ia lakukan. Itu menyakiti hatinya dan Taehyung lelah mencoba lebih jauh.
Ingin ia mengetahui sebab apa Jungkook begini.
Tapi jawabannya selalu sama,
Kim Taehyung lah jawabannya.
"Ayolah, Kim Taehyung~"
Empunya nama menghela, menatap pongah pada Jimin yang sedang menautkan jemari-jemari gemuk miliknya dan merengutkan bibirnya seperti anak kecil minta dibelikan permen. Bahkan dia berani mengeluarkan suara laknat yang dia bilang adalah aegyeo. Sebenarnya Taehyung sudah jijik dengan suara melengking yang nyaris memecah gendang telinganya itu. Bukannya terlihat lucu tapi jadi menyebalkan karena Jimin terus mengganggunya selama hampir dua jam.
Dia bahkan tidak bisa fokus dengan piring kotor, astaga.
Untung sayang, dan ganteng. Hm.
"Taetaeku, my ladybug my sayang, my Cantik," Jimin kembali dengan seluruh panggilan manis yang feminim untuk Taehyung dan itu membuatnya dapat bogeman dari tangan besar Taehyung yang sangat keras mengingat tubuhnya terdiri dari tulang saja. Rasanya lebih perih. "Ya! sakit, tahu!"
"Makanya berhenti."
Jimin merengut lagi, "Sudah lama kita tidak berkencan, Babe."
"Kau tidak lihat aku sedang apa, hah?" Taehyung menekan pipi Jimin dengan gemas sampai matanya ikut melotot dan itu hanya membuat Jimin tertawa renyah. Menyenangkan menggoda Taehyung sampai jadi marah dan gemas. Wajahnya nampak lucu dan sangat konyol. "Kenapa memaksa sekali, sih? Kamu tidak sedang hamil atau apa, kenapa bertingkah seperti ibu-ibu yang ngidam makan rujak di tengah malam bulan purnama? Menyusahkan, tahu! Pusing aku mendengarnya, pusing pusing!"
Taehyung mengucapkannya dengan suara beratnya yang lucu lantas memukul kepala sendiri sembari terus mengatakan kalau dia pusing. Sesekali meloncat melampiaskan kekesalannya dan berteriak tertahan. Dan itu sangat menyenangkan dilihat jadi Jimin tertawa menikmati Taehyung menggeliat seperti larva di acara kartun Minggu pagi. Ingin sekali ia mengurungnya di rumah, tidak ada yang boleh mendekati kecuali dirinya. Ah, sial. Kim Taehyung sangat lucu dan itu membuat sistem sarafnya berkedut nyaris mati rasa. "Hei, hei, sudahlah. Nanti kau jadi tambah bodoh kalau terus memukul kepalamu begitu. Aku tidak suka pacar yang idiot,"
"Park Jimin!"
Tadinya pekikan itu ditujukan karena Taehyung sebal saat Jimin mengatakan dirinya idiot tapi akhirnya ia melakukannya sebab tiba-tiba Jimin menggendongnya dengan cepat lantas menggiringnya ke dalam ruangan kantornya kemudian duduk di sofa empuk kecil di sisi barat meja lantas mendudukkannya dalam pangkuan hangat Park Jimin. sial. Dia yakin semua orang melihatnya dan akan jadi perbincangan panas lagi untuk minggu ini. Terkadang berurusan dengan Jimin bisa jadi sangat merepotkan.
Kendati begitu, Taehyung terlalu gugup untuk melawan.
Sedangkan Jimin terlalu kuat mendominasi tatapan mereka. "Aku hanya rindu padamu, Sweetcheeks."
"H-Ha..ha..ha, kita bertemu setiap hari, pabo." Taehyung menjawab dengan terbata sebab Jimin berkata dengan suara lembutnya lagi dan itu selalu berhasil memadamkan api kekesalannya pada Jimin. Sialnya lagi saat Jimin memperlakukannya begini manis ia hanya bisa terdiam. "T-Tidak usah menatapku begitu, bangsat –kau –aish, sialan. Aku benci padamu, kepalaku semakin pusing jadinya."
"Pusing melihat kegantenganku ini, eoh?"
Dengan cepat Taehyung mencubit bibir Jimin meski ia berdebar dengan fakta yang Jimin ungkapkan. Sebab jauh dalam lubuk hatinya ia mudah pusing jika melihat wajah Jimin yang semakin tampan belakangan ini dan jujur itu mengganggu fokusnya. "Kau lucu kalau diam seperti itu,"
"Dengan rona merah jambu di pipimu, aku jadi ingin makan kamu."
Taehyung melotot dan mencubit bibir Jimin lebih keras, "Mesum!"
"Salah siapa kau menggodaku?" Jimin mencubit gemas hidung Taehyung lantas melarikan jemarinya ke helai halus rambut Taehyung. Bermain acak disana hingga rambut Taehyung jadi sedikit berantakan sebab menyenangkan menyentuh rambutnya, Jimin tambah gemas. Ditambah balasan Taehyung yang akan jadi diam dan memejamkan mata membuatnya terlihat seperti kucing persia yang sedang dibelai rambutnya. Menggemaskan sekali. "Sudah berapa lama kita punya waktu berdua saja seperti ini, uhm? Kau tidak tahu aku ini lemah kalau tanpa melihatmu sedetik saja."
"Gombal."
"Ya~ benaran." Jimin mencium pipi Taehyung gemas sampai empunya terkikik. "Karena aku membelikanmu peralatan mandi aroma buah yang baru, dan juga beberapa lotion, masker, dan parfum kau jadi orang yang perawatan, eoh? Kau tidak tahu aku menahan marah saat melihatmu terus digoda pelanggan? Kenapa kau jadi tambah cantik, sih, Sayang? Itu sungguh menyiksa,"
Taehyung merengut berusaha menahan merah di pipi. "Berhenti panggil aku Cantik, idiot."
"Hm. Cantik Cantik Cantik Cantik Cantik Cantik Cantik Cantik –"
"Ya! Geumanhae!" (berhenti)
Jimin terkikik sebentar, "Cantik –aduh! Iya iya aku berhenti, jangan pukul aku, Sweets!"
Membuat Jimin mendengarkan perkataan Taehyung itu hal yang sulit. Sekalipun ia berhenti memanggilnya Cantik, dia akan tetap menggantinya dengan panggilan manis lainnya. Lagipula dia selalu punya seribu panggilan manis dalam kamusnya jadi sekeras apa pun Taehyung mencoba dia tidak akan bisa meghentikan Jimin memanggilnya apa pun bahkan Cinderella.
"Aigoo, jangan ngambek." Jimin tertawa dan membawa Taehyung lebih dekat pada dekapannya. Dengan mudah menariknya semakin dalam pada pangkuannya hingga jarak mereka terkikis dramatis dan itu membuat Taehyung nyaris jantungan sebab mungkin oksigen di sekitarnya habis dan tatapan mata Jimin yang jernih itu terlalu memenjarakannya dalam sekejap. Rangkulan lengan kokoh Jimin di pinggang kurusnya menjadikannya lemah seketika dan napas hangat Jimin membuatnya bergetar dan berdebar di satu waktu. Perpaduan combo untuk meluluhkannya. "Meskipun wajah ngambekmu itu sebenarnya lucu, dan manis juga, sih."
Dan Jimin berhasil menciumnya lagi.
Rasanya manis sekali sampai Taehyung pikir dia akan mati. Kepalanya serasa diputar-putar dan ujung jemarinya bergetar saking senangnya. Dia senang, selalu senang saat Jimin menciumnya begitu lambat dan manis penuh afeksi dan emosi. Dia selalu seperti itu dan selalu berhasil melelehkan seluruh saraf bahkan sumsum tulang Taehyung dalam hitungan sekon. Maksudnya, Ya Tuhan, Jimin menciumnya begitu benar dan lambat hingga ia dibuat terombang-ambing dalam lautan debaran dan fantasi yang menggambarkan isi hatinya. Sial dia merasa seperti gadis saja.
Sedikit informasi, ini pertama Jimin membuka mulutnya dan memakai lidah.
Kalau saja Taehyung boleh mengumpat. Dia benar-benar dibuat gila oleh tingkah konyol Jimin yang satu ini. Berurusan dengannya memang merepotkan. Dia hampir kehabisan napas tapi Jimin terlalu egois untuk melepaskan tautan basah itu jadi Taehyung pasrah saja saat Jimin meremas rambutnya dan menarik kepalanya kemana-mana dan semakin liar menciumnya tanpa sisa.
Panas sekali.
Lidah Jimin licin sekali. Panas sekali. Seksi sekali.
"Kalau kita benar-benar tidak bisa kencan di luar, mungkin tidak apa jika kita menghabiskan waktu disini. Sebenanrnya menyenangkan juga, tidak ada yang lihat, hanya ada kita dan aku bisa lebih puas menginvasi tubuhmu. Kau dalam pelukanku seperti ini, dan sesi ciuman panjang –kencan yang menyenangkan dan terdengar unik. Bagaimana?"
Lagipula Jimin tidak mau dengar jawaban Taehyung, jadi dia menciumnya lagi.
Drrrt.
Taehyung melepas ciumannya dengan terkejut dan sedikit memaksa karena tadi Jimin sempat menahan kepala dan tengkuknya seolah berkata 'aku tidak dengar ada suara telepon jadi lanjut saja' dan bahkan sampai menyapu langit-langit mulut hingga kakinya bergetar sebentar. Sialan memang iblis dalam tubuh Park Jimin itu. Dia memukul kepala kotor Jimin sebentar sebelum mengangkat panggilan, "Yeoboseyo? Ini Kim Taehyung." (Halo)
Lama Taehyung terdiam mendengarkan sampai kemudian ia menegang dan terpaku. Membuat Jimin memerhatikannya dan bingung. Sekaligus khawatir sebab raut wajah Taehyung benar-benar tidak bisa dibilang bagus. Dia nampak terkejut sekali dan khawatir pula. "Kenapa? Ada apa?"
Taehyung memandang ponselnya usai percakapan singkat itu selesai. "Jimin,"
"Ya?"
"Antar aku ke sekolah Jungkook," ia nyaris menangis dan Jimin takut. "Sesuatu terjadi."
.
.
Dengan langkah tergesa dan suara gemuruh, Taehyung membuka pintu.
Langsung dihadapkan oleh tatapan dari tiga siswa dengan wajah mengenaskan, seorang guru BP dan student council, serta Jungkook yang meliriknya malas lantas memutar bola matanya dan berdecak. Ia mendengus setelah Taehyung dengan gugup membungkuk hormat dan duduk di sofa yang berhadapan dengan para murid. Lantas mengenalkan diri, "Annyeonghaseyo, saya Kim Taehyung, wali Kim Jungkook sendiri. J-Jadi.. apa yang dia lakukan?"
Seorang guru BP membenarkan letak kacamatanya. "Sebelumnya, perkenalkan. Nama saya Kim Seokjin. Terima kasih atas kehadiran Anda, saya tahu Anda pasti punya pekerjaan saat menerima telepon jadi mungkin ini tidak akan menghabiskan waktu lama," lantas berdeham. "Jadi Jungkook, tanggung jawab Anda ini telah berkelahi di jam pelajaran Sosiologi yang mana artinya adalah dia juga telah membolos dan membuat keributan. Dia telah memukul tiga orang di hadapan Anda, sebagaimana yang Anda lihat keadaannya sungguh –"
Taehyung menggigit bibir. "Maafkan aku,"
"Dan Jungkook tidak membuka mulutnya sedikit pun untuk dimintai keterangan, jadi kami tidak tahu kenapa dia melakukannya. Dan tindakan seperti itu termasuk pembully-an, karena tidak ada motif tertentu atas pemukulannya," lanjut Seokjin yang membuat jantung Taehyung hampir copot. Ia membolakan matanya lantas menatap Jungkook tidak percaya. Mana bisa dia percaya kalau adik manisnya adalah pembully? Sungguh konyol tapi dia tidak bisa menyangkal bukti yang ada dihadapannya saat ini. Dilihatnya Jungkook mendengus, "Bahkan jika aku mengatakan apa alasannya, aku tetap dihukum, jadi apa bedanya?!"
Seorang student council mengerutkan kening. "Setelah satu jam, ini pembelaanmu? Pemukulan, penyiksaan, dalam bentuk fisik ataupun penyerangan dalam bentuk apa pun tanpa alasan yang rasional termasuk pembullyan. Kau tidak bodoh untuk tahu itu, 'kan?"
"Maafkan –"
"Tidak adil!" Jungkook menghentakkan kakinya begitu keras, sampai semua orang terperanjat. "Kalian ingin tahu alasannya? Kenapa aku memukulnya? Baik, itu karena mereka mengesalkan, menyebalkan, terdengar tidak berpendidikan! Mulut mereka sangat brengsek sampai aku gatal ingin menggunting itu, kalian tahu tidak?!" dia melotot dan menunjuk student council itu, "Kau diam saja, idiot! Kau hanya pesuruh tolol yang sok mendisplinkan murid. Kau pikir kau sudah sempurna untuk itu? Kau sudah sesuci Bapa hingga bertingkah menyebalkan begitu? Min Yoongi, lebih baik kau cabut saja dari gelar konyolmu itu karena kau tidak pantas."
"Kim Jungkook!"
Itu suara parau Taehyung. Seketika menjadikan ruangan itu hening, membuat suara isakan tertahan darinya terdengar sangat jelas. Seokkjin menghela napasnya begitu berat dan terjadi perang mata oleh Yoongi dan Jungkook. Guru BP itu nampak lelah dan memijit keningnya pelan, mengurus anak bermasalah sungguh melelahkan. "Begini, Kim Taehyung-ssi. Kupikir Jungkook butuh suasana yang lebih tenang dan pengawasan serta binaan. Jadi kami harap mungkin Anda bisa membimbing Jungkook agar sikapnya lebih baik selama lima hari."
Jungkook berdecak, "Kim Jungkook, kamu di skors. 'Kan bisa seperti itu saja bicaranya."
Cibiran itu membuat Yoongi sangat gerah sebab dia sangat lurus pada norma dan etika, mendengarnya bicara tidak sopan seperti itu membuatnya sangat gatal ingin menjadikannya bola basket pulang sekolah nanti. Berani sekali dia, meskipun Seokjin terlihat lemah dan terlalu baik tapi dia bisa jadi sangat kejam jika sudah marah –walaupun sangat jarang. Diliriknya Seokjin hanya menghela, begitu juga Taehyung yang menundukkan kepalanya. "Kim Taehyung-ssi,"
"N-ne?"
"Anda bisa membawa pulang Jungkook sekarang,"
Jungkook berdecak lagi saat menatap Seokjin dengan sebal. Ia juga bertatapan dengan Yoongi yang menyeringai enyebalkan. Lantas bangkit dan beranjak pergi sebelum memerhatikan tiga orang yang sudah dia pukuli itu. Menggumamkan kata 'Lemah' pada mereka kemudian pergi dengan langkah secepat angin, meninggalkan Taehyung yang masih meminta maaf pada semua orang di ruangan.
.
.
"Kim Jungkook!"
Langkahnya terhenti, menoleh pada Taehyung yang berlari menyusulnya. Ia menghela dan menunggunya sampai. Dalam hati sudah tahu kalau Taehyung akan membuka mulut dengan ocehan tidak berguna yang membuat kepalanya pusing. Bahkan Kakaknya masih pakai seragam cafe Jimin, astaga, bagaimana ia tidak dibuat malu olehnya. "Kenapa kamu melakukannya?"
"Kau tidak budeg untuk mendengar alasanku tadi, 'kan?"
"Kim Jungkook adikku tidak memukul orang,"
Jungkook tertawa renyah, "Mungkin aku bukan Jungkook yang kau maksud?"
"Jungkook –"
"Lalu kenapa kau selalu mau tahu?" Jungkook mengerang kesal, menghentakkan kakinya keras. "Kau tidak seharusnya datang kemari. Ini masalahku dan aku bisa mengatasinya sendiri, membawamu kemari hanya menambah bebanku. Terserah aku mau pukul siapa pun yang aku mau, entah itu dengan alasan atau tidak. Kenapa itu jadi penting bagimu untuk tahu kenapa aku memukul, mengucilkan, atau membuat tulang orang patah sampai cacat?"
Taehyung menghela, emosinya meningkat. "Sejak kapan kau melakukannya? Apa ini yang kamu lakukan selama di sekolah? Bukannya belajar dengan benar dan menciptakan prestasi; ini yang kau lakukan? Berkelahi tidak jelas sampai anak orang babak belur seperti tadi? Bagimu sekolah adalah ring tinju untuk menghabisi murid, apa begitu, Jungkook?!" dilihatnya Jungkook terpaku dengan raut bingungnya, "Aku menyekolahkanmu bukan untuk seperti ini, Jungkook! Aku ingin kau belajar dengan benar supaya jadi orang berhasil dan jadi lulusan Universitas Seoul lalu dapat kerja dan hidup dengan baik! Bukan jadi pecundang yang memukuli orang seperti itu, kamu disekolahkan agar jadi manusia yang benar bukan jadi preman, kau tahu itu, Jungkook?!"
"K-Kenapa kau pakai nada tinggi untukku?"
"Karena kau tidak pernah mau dengar!" Taehyung berteriak dengan suara kencangnya, sepenuhnya lupa jika mereka ada di area sekolah dan kemungkinan tentang dilihat orang sangat besar. Dan Jungkook kaget setengah mampus mendengar Kakaknya berteriak sekuat tadi, ia jelas mendengar gema dari suara Taehyung dan itu baru pertama. "Sekali pun tidak. Kau selalu bicara e tanpa pernah tahu apa yang aku rasakan dan pikirkan. Kau selalu memutuskan apa pun sendirian dan pikirmu aku ini hanya anjing yang harus senantiasa menuruti kata Tuannya? Bukan, Jungkook. Aku Kakakmu, seratus persen Kakakmu, yang menghidupimu sejak kecil tanpa kau tahu bagaimana susahnya mencari uang. Kau selalu bilang untuk mencari pekerjaan dengan benar tanpa tahu bagaimana tertekannya aku! Kau pikir mencari pekerjaan semudah mencabut wortel?" ia berhenti sebentar karena dadanya sesak, dia menangis sebab terlalu membawa emosi bersama ucapannya. Seketika lidahnya gatal untuk bicara apapun. "Kamu sungguh tidak mengerti betapa keras aku mencoba. Dan sekeras apa pun aku berusaha, kamu tidak pernah mau melihat bahkan berpikir untuk menghargainya sedikit saja,"
Taehyung memejamkan matanya dan berteriak, "Aku tidak menyekolahkanmu untuk ini!"
Sedangkan yang lebih muda ikut sesak. Napasnya memburu dan matanya bergetar gelisah, jemarinya ia kepalkan kuat-kuat hingga ia merasa nyeri. Lantas mendongak angkuh dan menatap Taehyung yang masih menangis dan buka suara, "Tidak usah menceramahiku kalau sekolahmu saja belum benar."
"Kamu bahkan tidak sekolah SMA, hyung." ia menambahkan, "Jadi berhenti menggurui."
"Kenapa? Kenapa kau jadi liar seperti ini, Jungkook?"
Jungkook mendegus geli dan mengalihkan tatapannya. "Sudah kubilang aku bukan Jungkook yang kau maksud. Aku bukan Kim Jungkook adik dari Kim Taehyung yang lugu dan polos; ya, aku bukan orang yang seperti itu. Terserah jika menurutmu itu liar atau apa," ia menatap mata Taehyung lagi, menajamkan matanya dan berusaha kuat dengan menggertakkan giginya. "Aku bukan anak SD yang bisa kau atur seperti dulu lagi, aku bukan adik manismu, dan aku tumbuh seperti rumput liar di hutan. Berdiri sendiri tanpa bantuan siapa pun. Jika kau pikir aku terlalu angkuh untuk menghargaimu, maka coba renungkan apa yang sudah kau beri padaku hingga menurutmu kau pantas dihargai olehku? Kau tidak memberikanku apa pun dengan usahamu sendiri. Kalau kau lupa, keluarga Park lah yang telah memberikanku kehidupan; bukan kamu. Jadi berhenti mengkhayal."
Seketika Taehyung terpasung.
Pembelaan dari Jungkook sungguh menohoknya hingga ia tercekat. Rasanya seperti sebuah anak panah tersangkut dan menancap di tenggorokannya begitu dalam kemudian terpelintir kuat hingga bernapas saja rasanya sesak tidak mampu. Sekujur tubuhnya seperti disiram lelehan lava hingga ia mungkin sudah lemah tidak bersisa. Ia hanya tidak percaya kata-kata itu keluar dari belah bibir adiknya yang selama ini dia lindungi. Yang selama ini dia hidupi. Yang selalu ada dalam benaknya hingga ia rela hidup seperti pecundang dan tidak bunuh diri, yang menguatkannya. Namun juga yang membunuhnya di satu waktu, begitu tepat merenggut kewarasannya hingga ia nyaris mati.
Apa yang selama ini ia berikan tidak dapat Jungkook lihat.
Dan bodohnya dia terus bepikir tentang kemungkinan Jungkook akan jadi mahasiswa Universitas Seoul kemudian lulus dan bekerja sampai mapan lantas menikah. Jika apa yang ia lakukan selama ini ternyata membimbing Jungkook jadi liar. Ia sudah lelah menerima makian dan kali ini benar-benar dibuat kecewa oleh tingkah kurang ajar adiknya, ia sungguh marah dan tidak terima. Bukan ini yang Taehyung harap darinya, dia juga tidak bermimpi tinggi Jungkook jadi murid terpandai atau apa. Cukup sekolah dengan baik, kuliah, lulus, dan hidup lebih baik dari sekarang. Tapi apa yang dia dapatkan ini?
"Bagaimana? Sudah kehabisan kata?"
Taehyung menatapnya kecewa. Jungkook mendengus saja, "Berhenti bersikap seolah kau adalah pihak paling tersiksa. Aku adalah yang paling tersiksa diantara kita. Aku tidak bisa hidup dengan baik, bahkan untuk mengangkat wajahku diantara kerumunan orang saja tidak bisa, aku malu punya Kakak dan kehidupan seperti ini. Aku sudah besar dan aku akan mengungkapkannya sekarang," ia terhenti sebentar untuk mengambil napas panjang. "Aku berbohong. Aku bohong saat bilang 'Tidak apa untuk hidup miskin bersamamu'. Saat itu aku hanya kasihan melihat wajahmu. Karena kupikir setidaknya kau masih bekerja apa pun agar aku makan dan bayar sekolah. Tapi aku tidak sungguh-sungguh, saat aku bilang bahwa kehidupan seperti apapun, jika itu denganmu maka aku suka. Tidak. Aku tidak suka. Saat aku bilang Kau adalah pahlawanku, seorang Superman, dan Kakak terbaik yang pernah ada; aku berdusta. Aku hanya mengatakannya agar kau tidak merasa jadi pecundang."
"Kau bukan Kakak terbaik yang pernah ada, hyung."
"Kenapa –" Taehyung menangis lebih deras dan wajahnya semakin merah oleh seluruh emosi yang terkumpul jadi satu di dadanya. Bergerumul begitu kurang ajar hingga ia rasa ia akan mati sebab napasnya semakin sesak saja. "Kenapa kau berkata seperti itu? Aku tidak menangkap satu pun kebohongan saat itu. Berhenti mengatakan hal itu, kau benar mengatakannya, kau jujur padaku. Jungkook suka hidup dengan Kakaknya, dia akan hidup bersama Kakaknya selamanya. Bahkan dalam keadaan miskin sampai kita masing-masing telah beranak-pinak –" ia tersendat, "Katakan bahwa kebohongan itu baru kau bilang saat ini. Bahwa apa yang kau katakan padaku saat itu benar, bahwa kau sayang padaku dan bersyukur atas kehidupan yang telah Tuhan berikan meski kau hanya akan berakhir makan nasi dengan garam. Cepat katakan seperti itu,"
Hening sebentar. Jungkook tidak langsung menjawab, dia memindai Taehyung yang nampak lemah dan menangis dihadapannya. Tapi dia tidak gentar. "Tidak."
"Jungkook –"
"Aku bukan Kookie usia delapan tahun lagi!" bentaknya kencang sekali,
"Saat itu aku berpikir kau sangat menyedihkan jadi mungkin aku harus menghiburmu. Tidak lebih. Apa yang aku katakan saat itu hanya bualan, hanya mimpi supaya barangkali kau termotivasi tapi nyatanya sampai kau usia dua puluh lima pun tidak ada perubahan. Kau masih seorang Kakak yang menyedihkan,"
Taehyung benar-benar sesak. "Tidakkah kau pikir, sekecil apapun hal yang kuberi adalah anugerah untukmu? Entah itu hanya sepiring nasi atau tempat yang nyaman untuk beristirahat setelah sekolah. Aku bekerja dari pagi hingga pagi hanya supaya kau hidup dengan baik," ia menepuk dadanya saking perih itu menggerogoti seluruh tubuhnya. "Aku benar-benar berusaha, bahkan rela terlihat seperti anjing dimata orang supaya aku dapat uang. Tak pernah sekali pun aku berpikir untuk menyenangkan diriku sendiri. Hanya kau, kau, kau. Wajahmu membayangiku setiap saat dan aku selalu berpikir agar kau bahagia meski dengan Kakak yang bodoh ini. Tapi apa kau benar-benar tidak bisa melihat sedikit saja hal-hal yang telah aku lakukan hingga kau berdiri dengan seragam di Sekolah seperti ini? Sampai kau berdiri di hadapanku sebagai murid kelas tiga? Aku sangat sakit, setiap kau mengatakan bahwa aku terlalu bodoh untuk muncul didepanmu. Tapi aku hanya jadi anjing bodoh yang diam dan berpikir mungkin itu benar, bahwa aku terlalu konyol dan payah untuk hidup."
"Tapi aku tetap Kakakmu!"
Teriakan itu kencang sekali sampai Jungkook memundurkan langkahnya. "Aku yang merawat dan menghidupimu sejak kau hanya bisa menangis dan mengompol. Terbangun setiap jam dua pagi hanya untuk memberikanmu susu sebab aku tidak tega membangunkan Mama Jimin untuk memberimu susu. Aku yang menggantikan popokmu, yang memandikanmu, yang menyuapimu, yang mengajarimu berdiri, berjalan, berlari, bermain, membaca, menulis." Ia memukul kepalanya sendiri. "Aku yang mengajarimu apa itu kehidupan. Memang aku tidak memberi emas, dan hanya mampu memberi tanah tapi aku berjuang untuk memberikanmu tanah itu. Supaya kau tumbuh dengan baik dan jadi orang berguna. Aku yang memberikanmu pupuk dan menyiramimu setiap sore. Supaya kau seperti pohon yang memiliki arti dan berguna untuk semua orang," ia mengusap matanya, "Bukan seperti ini!"
"Kau .. kau menyebalkan!"
"Kim Jungkook!"
Dengan cepat Jungkook menepis legan Taehyung yang hendak menyentuhnya. "Jika memang seperti itu, baiklah, mungkin aku harus pergi." Ia bernapas memburu. "Kau berpikir aku sudah jadi anak yang liar dan kau sudah tidak mengenali siapa aku, bukan? Kau berpikir aku terlalu kurang ajar untuk menyikapimu yang sudah menghidupi aku sejak lahir. Kehidupan, astaga, kupikir mati mungkin lebih baik."
"Jungkook –"
"Jika memang kau kecewa padaku, aku akan pergi. Hebat sekali kau berkata bahwa kau menghidupi aku. Memberikan aku apapun yang aku butuhkan; tanah, air, pupuk. Tidak usah bicara sok hebat, kau sama sekali tidak menghidupi aku dengan benar jadi diam saja. Jika kau pikir aku memang sudah keterlaluan untuk tidak menghargai setiap inchi dari apa yang telah kau lakukan, maka aku akan pergi. Buat apa aku disini jika kau hanya ingin dihargai seperti itu? Aku tidak bisa melakukannya, dan lagipula aku tidak tahu apa yang bisa aku lihat dari perjuanganmu menghidupi aku." Jungkook mendegus lagi, "Mungkin terdengar berlebihan bahwa aku memang masih sekolah dengan baik sampai kelas tiga. Dan aku masih tumbuh dengan baik oleh makanan dan susu. Tapi selain itu, aku tidak bisa menilai apapun. aku tertidur meringkuk karena kedinginan. Badanku pegal tertidur di lantai. Mataku buram karena lampu rumah kita sering dimatikan oleh tunggakan listrik. Rambutku bau karena kau hanya beli shampoo dua bulan sekali, sepatuku rusak sebab hanya punya satu, tasku bolong, dan aku tidak bisa pergi dengan teman-teman hanya karena aku tidak punya satu pun lembar uang untuk membeli apa pun. Dan itu sungguh menyiksaku untuk melihat murid lain pergi melakukan tur studi dan aku hanya tertidur sebab kau tidak punya uang untuk membiayaiku. Bahkan aku harus membuat tugas konyol karena itu! Kau pikir itu yang namanya kehidupan? Tidak!"
Jungkook bernapas repetitif, kemudian menggertakkan gigi. "Aku akan pergi, jika pemikiran bahwa aku salah tetap ada di kepalamu."
"Kim Jungkook!"
Dan Jungkook tetap pergi, tanpa mau mendengar dan melihat.
Rasanya hampa.
Terlalu gelap dan kosong. Setelah insiden perdebatan mereka, Jungkook benar-benar pergi dan tak pernah kembali bahkan untuk mengambil barangnya. Taehyung hanya terduduk lesu di ruang tengah, menunggu dengan sabar barangkali adiknya datang. Atau sesekali menunggu di depan pintu, kalau-kalau Jungkook terlalu malu untuk masuk ke rumah. Tapi nyatanya Jungkook tidak pulang. Jungkook pergi dengan kemarahan dan relasi mereka yang retak. Dan Taehyung sangat sedih akan itu.
"Taehyung,"
Suara yang halus itu terus memanggilnya, tapi bukan itu yang ingin dia dengar. Suara adiknya sedikit lebih berat dari ini, jadi dia tidak peduli siapapun itu. Dia hanya butuh adiknya datang, dia tidak mau siapapun saat ini. meskipun dia sedikit terganggu dengan suara yang terus memanggilnya itu, dia diam saja sebab menurutnya sangat melelahkan untuk membantah. Tubuhnya lemas tak bertenaga, dan mungkin dia sudah tidak kuat lagi berdiri.
Sampai sesuatu yang hangat menempel di bibirnya.
Ia tersadar begitu cepat, seketika mengerjap dan bingung seperti usai di hipnotis. Dan sadar atau tidak itu membuatnya lebih hidup sebab jantungnya berdetak dengan kencang dan napasnya kembali normal, juga suhu yang jadi lebih hangat, dan pandangannya yang kembali berwarna. Taehyung mengerjap lagi dan memfokuskan pandangannya, "Jimin?"
"Kau melamun lagi," dia tersenyum. "Aku memanggilmu sejak tadi."
"O-oh.. maaf,"
Jimin tersenyum maklum dan mengusak rambut Taehyung, menggendong tubuh kurusnya untuk duduk membelakanginya dan mengeringkan rambutnya yang basah. Setelah sebelumnya dia memandikan Taehyung. Itu sungguh pengalaman yang mendebarkan. Awalnya dia hampir mimisan melihat tubuh pemuda itu tanpa sehelai benang pun, juga dimana dia harus menggosoknya dengan sabun atau memberikannya shampoo, menggosok giginya. Mungkin tidak apa jika dia mengurusi bayi tapi ini Kim Taehyung, seseorang yang dia suka, jadi mana bisa dia kalem saat melihat tubuh telanjangnya. Tapi dia jua tak punya pilihan sebab Taehyung akan berakhir bau tidak mandi karena terus merenung dan menunggu Jungkook. Jadi dia pikir dia harus mengurus Taehyung. "Kau seperti bayi besar, tahu?"
"Hm..." Taehyung memejamkan matanya, "Sudah kubilang tidak usah mandikan aku."
"Tapi kau nampak senang-senang saja,"
Sedikit, tapi Jimin lihat dia tersenyum. "Karena kau yang mandikan. Jadi kupikir itu menyenangkan, lagipula aku tidak harus mengeluarkan banyak tenaga untuk melakukan segala hal. Kau menggendongku kesana kemari bahkan memasak untukku, dan menyuapi aku," dia membuka matanya. "Itu menyenangkan dengan fakta bahwa yang melakukan semua itu adalah kamu."
Oh, Jimin berdebar. Dia tidak fokus dengan kegiatannya.
"H-Habisnya, kau tidak akan hidup jika tanpa aku," Jimin mencoba tegas meski tenggorokannya kaku. "Aku yakin kau akan terus berdiam diri melakukan mannequin challenge jika aku tidak melakukan sesuatu untukmu. Aku tahu kau ini seperti apa, dan –" ia berdeham sebentar, agak malu. " –aku juga senang dengan fakta aku melakukannya untukmu."
"Suaramu terdengar malu-malu,"
Jimin melotot, "Hei!"
"Omong-omong, apa kau sudah beli kimchi seperti yang aku minta?"
"Eoh, aku sampai beli dua kotak. Bahkan Mama sampai memberi dua lagi, kau tahu 'kan Mama jadi seheboh apa kalau sudah berurusan denganmu? Kau menelponku sambil menangis tidak jelas hanya untuk minta kimchi? Yang benar saja, Mama sampai menangis juga buatnya! Aku dimarahi karena dia pikir aku yang membuatmu menangis, tahu!" seketika Jimin memuncratkan amarahnya pada Taehyung, hanya untuk membangun suasana. Jadi malam setelah pertengkaran Kakak Beradik Kim, Jimin disuruh pulang dan Taehyung menolaknya untuk tidur disampingnya. Jimin hanya bisa menghela dan menyerah lalu kembali sebelum pemuda itu benar-benar marah padanya. Kemudian jam dua pagi Taehyung menelpon dengan suara tangis yang menghebohkan seisi rumah Park dan dia begadang oleh omelan Mama yang sibuk membuat kimchi. "Aish, kau benar-benar. Bahkan Papa sampai rela memetik sawi jam dua pagi untuk kimchi itu, pabo! Dan mereka masih bilang padaku untuk tetap beli dua kotak lagi karena mereka pikir kau akan mati jika tanpa kimchi. Kau benar-benar merepotkan seperti ibu hamil."
Taehyung merengut, "Maaf kalau begitu."
"Memang untuk apa kimchi sebanyak itu?"
"Kupikir –" suaranya tertahan, dan Taehyung meremas ujung kausnya. " –mungkin Jungkook akan pulang jika aku katakan di rumah ada kimchi."
Pemikiran yang konyol itu memnghentikan Jimin. tubuhnya menegang dan menatap Taehyung sendu. Hatinya ikut sesak oleh ucapan lirih dari Taehyung, dan ia terdiam. Dia tidak habis pikir mengapa Taehyung masih sempat berpikir dengan lugu kalau Jungkook mungkin akan kembali hanya karena kimchi. Dia yakin Taehyung tidak sebodoh itu. Masalah mereka tidak sesederhana itu. Dia tidak paham dengan pemikiran konyol pemuda ini, dan fakta bahwa Jimin tidak dapat sedikitpun membantu atau mengubah sesuatu membuatnya frustasi. Rasanya sakit saat tahu perngorbanannya memberikan kimchi pada Taehyung hanya demi sebuah ide gila yang mustahil. Ia serasa dipermainkan, dia sudah berpikir tidak-tidak dan jawabannya hanyalah sebuah kemungkinan konyol dari kepala Taehyung. Dia merasa sangat dibodohi olehnya, dan itu membuatnya marah.
"Ini salahku."
Lama dia melamun, Taehyung buka suara.
"Ini.. ini salahku, Jimin." Taehyung berbalik menghadap Jimin, mataya berpendar gelisah. "Tidak seharusnya aku membentak kencang seperti itu padanya. Seharusnya aku bicara baik-baik, menasihatinya dengan sopan dan bijak, mendengarkan penjelasannya, percaya padanya –seharusnya aku ada di pihaknya. Bukannya menyalahkan dia seperti orang lain." Dia tertunduk dan airmatanya jatuh begitu mudah, "Dia memukul bukan tanpa alasan, bukan? Seharusnya aku mendengarkan dia, seharusnya aku percaya padanya. Dia mendapat masalah dan di skors, dia hanya terkejut dan jadi begitu emosional terhadap sesuatu. Seharusnya aku di sisinya, menjadi pendengar dan Kakak yang baik untuk meminjamkan bahu dan pelukan, menjadi rumah untuknya pulang. Tapi aku hanya melemparkan bom kepadanya, hanya karena emosiku yang tidak bisa aku kendalikan." Ia terisak, "Bodohnya aku."
"Hentikan, Taehyung."
Lantas dia mencengkeram kaus Jimin. "Aku ini payah! Mengapa aku berkata dia adalah orang yang liar? Kenapa aku berpikir dia sudah berlaku kurang ajar? Kenapa aku mengatakan dia tidak pernah mau mengerti aku? Kenapa? Padahal aku adalah penyebab mengapa dia seperti itu," dia menggigit bibirnya kuat-kuat begitu dadanya sangat sakit. "Aku lah yang menjadikan dia seperti itu, aku memberikan pengajaran yang salah, aku memberikan pupuk yang salah, aku menanamnya dengan cara yang salah. Makanya dia tumbuh seperti itu; semua adalah karena aku. Aku ini bodoh! Buat apa aku berpikir dia akan sekolah dengan baik jika aku saja tidak bisa mencontohkan padanya, bagaimana sekolah yang baik itu! Aku bahkan berhenti setelah lulus SMP, buat apa aku berharap setinggi langit jika aku lupa satu pepatah,"
"Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya."
Jimin hanya terdiam melihat Taehyung meracau seperti itu. Jemarinya mengepal kuat menahan amarah, napasnya sudah sesak sekali sejak tadi. Mendengar Taehyung bicara konyol seperti itu membuatnya luar biasa marah dan ingin memukul kepala pemuda itu; bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Dia hanya mengamini satu pemikiran bahwa Taehyung sangat bodoh. Tapi tenggorokannya terlalu tercekat untuk membantah, dia tidak bisa menginterupsi. "Buat apa aku berharap dia hidup dengan baik jika aku bahkan tidak bisa mencontohkan bagaimana hidup yang baik itu. Bagaimana aku bisa menaruh beban seberat itu dipundaknya, untuk lulus dengan baik dan masuk Universitas Seoul lalu bekerja hingga mapan jika aku bahkan hanya lulusan SMP yang terus bergantung padamu?"
"Aku hanya bekicot yang terus merepotkan orang lain!" Taehyung berteriak sampai Jimin terbelalak sebab baru pertama ia mendengarnya begitu tertekan. "Aku terus menjadi parasit untuk semua orang. Aku hidup dalam payung semua orang. Aku bekerja padamu atas rasa kasihanmu padaku, aku menjual apel karena Kakek itu kasihan padaku, aku masih tidur disini karena pemilik kontrakan ini kasihan padaku, Mamamu masih mengurusiku karena kasihan padaku," ia terbatuk oleh tangisnya sendiri. "Bahkan Jungkook berada di sekitarku hanya karena kasihan padaku. Dia rela hidup miskin karena kasihan padaku, dia rela dihujat teman-teman karena kasihan padaku, dia tidak mengikuti tur sekolah karena kasihan padaku. Dia hidup karena kasihan padaku, dan aku telah begitu egois untuk bermimpi banyak tentangnya untuk menuntutnya sukses."
Taehyung menampar pipinya dan memukul kepalanya sendiri. "Aku Kakak yang buruk."
"Hei, sudah, hentik –"
"Aku bodoh, Jimin!" ia menarik tangan Jimin dan mengayunkannya untuk memukul kepalanya. "Aku ini sudah memarahi adikku sendiri dan membuatnya pergi karena ucapan kotorku! Buat apa aku berpikir dia akan kembali pada orang konyol dan bodoh seperti ini. Seharusnya aku tahu akan berakhir seperti ini tapi kenapa aku masih bodoh untuk mengatakan semua emosiku? Aku tidak pantas untuk –"
Dengan kesabaran yang habis, Jimin menarik tangannya kasar dan menonjok wajah Taehyung.
Dia sudah lelah.
Menonjok wajah Taehyung setidaknya membuatnya lebih tenang. Taehyung juga sudah terdiam dan nampak terkejut. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka kalau Jimin akan memukul Taehyung sebab sebenarnya itu sangat mustahil. Maka Taehyung membolakan matanya tidak percaya, menatap Jimin yang mengatur napasnya susah. "J-Jimin..."
"Kubilang berhenti, apa kamu budeg?!"
Sekarang waktunya untuk Jimin berteriak. "Berhenti berpikir seperti itu. Ya, kau memang bodoh tapi kau bodoh untuk berpikir bahwa kamu adalah Kakak yang buruk. Berhenti berpikir Kim Taehyung adalah seorang Kakak yang payah untuk mendidik Adiknya, bahwa Taehyung terlalu tolol untuk berharap Adiknya bisa hidup lebih baik dari sekarang, berpikir bahwa mungkin Jungkook bisa masuk Universitas dan bekerja lalu mapan hingga menikah; kau boleh berpikir begitu, kau bebas bermimpi!" dia mencengkeram bahu Taehyung lantas menggoyangkannya, "Ada apa dengan kepalamu itu, bangsat? Buat apa kamu berpikir 'bagaimana dia bisa hidup baik jika hidupmu bahkan tidak baik?' Dasar bodoh, kamu boleh berharap apapun padanya, kamu boleh berdoa apa pun untuknya, supaya dia bisa hidup jauh lebih baik dari apa yang dia punya saat ini. Kamu boleh menuntutnya apapun hanya agar dia memiliki jalur kehidupan yang lebih baik dari saat ini, kamu boleh!"
"Jimin, aku tidak pantas."
"Kamu itu berpikir dengan apa? Upil?" Jimin menangkup wajah Taehyung. "Hanya karena kau miskin dan tidak bisa memberikannya sebanding dengan apa yang teman-teman Jungkook punya, tak lantas kamu mengubur mimpinya, tak lantas kamu memberikan kehidupan yang buruk. Dia hidup dengan baik, meskipun tidak bisa makan daging atau punya lima pasang sepatu. Dia itu pintar, jadi tidak perlu khawatir dia tidak bisa kuliah." Ia mengusap pipi Taehyung yang basah, "Kau tidak merepotkan siapapun, Tae. Kami semua hanya membantu sedikit saja, sisanya kamu yang mengubah takdirmu sendiri, kamu yang menjalaninya, kamu yang memilih apa yang seharusnya kau lakukan. Kami hanya memberi bibit dan kamu yang menanam dan merawatnya. Apa selanjutnya kau terus meminta bibit pada kami? Tidak, kamu telah mendapatkan hasil panenmu sendiri dan itu membuatmu mandiri untuk memiliki bibit sendiri, dan menghidupinya. Jadi berhenti berpikir bahwa kau hidup atas rasa kasihan orang, sebab kau hidup bersama rasa sayang dari kami. Kamu hidup bersama cinta kami,"
Kalimat itu terdengar sangat tulus. Dan itu menggetarkan hati Taehyung, sungguh menyentuh, dan membuatnya terombang-ambing. Balasan dari Jimin membuatnya lebih tenang dan sedikit berpikir bahwa apa yang dia katakan adalah benar. Sedikit banyak, dia kembali tenang bersama senyum halus dari Jimin yang memikat itu, menjadikannya lebih ringan dan berhenti menangis.
Jadi saat Jimin kemudian menciumnya, dia diam menerima.
"Kami semua, bahkan Jungkook tidak hidup atas rasa kasihan padamu," Jimin memulai. Menatap Taehyung lembut sekali sampai Taehyung pikir dia akan pingsan. Kemudian kembali membasahi bibirnya dengan bibir panas Jimin, sesekali menggigit dan menghisapnya kuat namun lembut. "Kami mencintaimu, jadi jangan berpikir kamu ini bekicot yang hidup bagai parasit menyebalkan. Kami tulus hidup bersamamu, mungkin sesekali kami membantu saat kau jatuh tapi kami hanya mendorongmu untuk bangkit mandiri, sisanya kau yang menentukan."
Taehyung pikir Jimin adalah penyembuh.
"Ya, saya minta maaf."
Taehyung memutuskan panggilan itu, lantas menghela. Ia meletakkan ponselnya dan terduduk lesu, menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Barusan wali kelas Jungkook menelpon dan melapor bahwa Jungkook tidak masuk sekolah setelah masa skorsnya selesai. Maka sudah selama itu pula dia tidak pulang. Taehyung hanya bisa minta maaf karena tidak bisa membantu. Bahkan dia tidak tahu kemana perginya bocah itu. Ia menghela kasar, dia lelah dan berdoa semoga ini cepat berakhir.
Kurang lebih sepuluh hari Jungkook pergi.
Maka selama itu Taehyung menderita. Seperti kehilangan sebelah sayapnya, sakit dan tidak bisa melakukan apa-apa. hanya terbujur kaku seperti orang sakit jiwa dan meracau tidak jelas, berdoa tanpa takut bibirnya robek kekeringan, berharap meski hanya dengan kesempatan sekecil lubang semut mungkin Jungkook akan pulang. Meskipun ia tahu itu mustahil.
Dia sudah mengusir Jimin pulang. Dia tidak bisa terus menyusahkan Jimin untuk merawatnya seperti bayi, Jimin punya kehidupan dan ia tidak bisa merenggut atensi Jimin hanya untuknya seorang. Setelah susah payah selama dua jam akhirnya dia mau dibujuk setelah berkomplot dengan Mama Jimin. meskipun Jimin tetap mengingatkan kalau dia akan kembali jam delapan untuk makan malam bersama dan dia sudah mengancamnya untuk tidak menguncinya di luar. Terkadang berurusan dengan Jimin sangat sangat menggelikan. Dia tertawa mengingat itu.
Tok! Tok!
Ketukan pintu itu mengagetkannya. Taehyung bangkit dan berpikir siapa kiranya yang datang tapi secepat angin pemikirannya berkata mungkin saja itu Jungkook. Jadi dia berlari menuju pintu yang dia kunci dan membukanya cepat. Lantas terkejut mendapati adiknya benar-benar ada di depannya, nyaris dia pingsan melihatnya. Ternyata ini bisa terjadi. "Jungkook –"
"Minggir."
Lantas Jungkook menggeser tubuh Taehyung dan melangkah masuk, membawa dua orang asing yang membawa kardus besar. Dan langsung menuju ruang tengah. Taehyung melongo memperhatikan, kebingungan dengan apa yang dia lihat. Siapa orang-orang itu? Dan kenapa dia membawa TV kemari, dia tidak butuh TV dan tidak membeli TV baru atau apapun. jadi Taehyung menghampiri Jungkook yang meminum air di dapur, "Siapa mereka? Kenapa memasang TV? Aku tidak beli,"
"Aku yang beli."
"Kau... apa?" Taehyung mengernyitkan alisnya terheran. Ditatapnya Jungkook yang nampak serius dengan ucapannya. Ia memindai adiknya dari atas ke bawah, pakaiannya rapi dan terlihat mahal, bahkan dia membeli TV yang besar. Darimana dia bisa beli sesuatu seperti itu, jika makan saja Taehyung yang berikan dan untuk apa dia melakukannya? Taehyung tidak mengerti. "Terkejut? Sudah kubilang aku hidup dengan kemampuanku sendiri. Sebab hyung tidak bisa memberi apa yang aku mau dan apa yang aku butuh. Terkejut melihat apa yang bisa aku dapatkan? Jika itu kamu, aku bahkan ragu untuk mendapatkan setidaknya satu kilo daging sapi."
"J-Jungkook, bisa kau jelaskan apa ini?"
Yang lebih muda melirik Taehyung malas. "Kenapa hyung mau tahu? Bukankah aku sudah terlalu kurang ajar untuk berucap, bahwa apa yang aku katakan adalah ngawur dan liar; jadi buat apa hyung bertanya tentang kenapa aku melakukan hal yang aku mau." Dia tertawa meremehkan, "Sudah kuduga kau hidup dengan konyol jika tanpaku. Maka dengan rasa kasihan aku kembali kemari, karena apa? Karena kau begitu menyedihkan dan kupikir aku harus menghidupimu yang menyedihkan ini. Biar aku tunjukkan bagaimana arti dari menghidupi itu. Biar aku beritahu bagaimana seseorang memperlakukan saudaranya dengan baik, bagaimana seseorang menghidupi satu-satunya keluarga, dan bagaimana saudara menjadi tulang punggung untuk keluarga."
"Jadi diam saja, dan perhatikan."
.
.
Mereka berkumpul untuk makan siang.
Sudah terlambat sebenarnya, sekarang pukul tiga. Tapi Jungkook menariknya untuk makan dan menyuguhkan set menu yang sangat lengkap. Nyaris Taehyung melongo dan berliur melihatnya karena ini banyak sekali, lebih banyak dari apa yang pernah dia beri waktu itu. Sedangkan Jungkook diam menyeringai memperhatikan Kakaknya terduduk dengan wajah keheranan sekaligu terpana. Itu sangatlah menyenangkan melihatnya kalah. Dilihatnya Taehyung ke dapur untuk mengambil kimchi, dan berkata dia tidak bisa makan tanpa itu. Ditambah itu karena dibuat oleh Mama Jimin.
Jungkook mendengus, "Lihat perbedaannya?"
Taehyung mengangkat pandangnya setelah lama menunduk, enggan menggenggam sumpitnya saat ditatap begitu remehnya oleh Jungkook. Dia merasa ciut dan tidak berani, hatinya terbakar dan nyaris menjadi abu, dia marah tapi juga sedih dan takut. Merasa marah dan jadi payah dalam satu waktu dan itu sungguh perasaan yang mengganggu. Jungkook buka suara lagi, "Kamu hanya bisa menyiapkan nasi dan kimchi. Sedangkan aku memberi sebanyak ini hanya untuk makan siang. Hyung lihat dimana perbedaan antara kita? Besar sekali, dimana aku memberi lebih dari apa yang bisa kamu berikan padaku waktu itu. Aku akui saat kau menyiapkan menu sarapan yang lengkap aku terharu tapi... kupikir itu tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan, bukan?"
Rasanya terlalu malu untuk menjawab.
"Baiklah, cukup omong-kosongnya," Jungkook terkekeh dan mulai makan. "Selamat makan."
Dengan sedikit gemetar Taehyung memegang sumpitnya, lantas mulai makan. Gerakannya lambat sekali bahkan rasanya ia jadi tidak ingin makan. Rasanya hambar –hatinya hambar. Makanan dalam mulutnya sangat enak namun sesak di hatinya membuat apa yang ia kunyah jadi menggelikan. Tatapan intimidasi dari adiknya membuat tidak nyaman, dan itu sungguh mengganggu. "Enak tidak?"
"Ya... enak,"
.
.
Taehyung tidak fokus mencuci piring.
Ia menghela kasar, rasanya sesak sekali. Dia tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini, fakta tentang Jungkook pulang sama sekali tidak membuatnya senang. Dia ingin mengucap maaf padanya, ingin berkata bahwa dia menyesal telah meneriakinya, dia ingin bicara hati ke hati dengannya, bahwa dia ingin memperbaiki hubungan mereka yang sudah kusut ini. Tapi tamparan keras tentang sikap Jungkook yang semakin berbeda sungguh membuat kepalanya berdenyut.
Setelah menghela lagi, dia mematikan keran air dan meletakkan piring yang sudah dicucinya ke dalam rak penyaring supaya mereka mengering sendiri. Taehyung terlalu malas untuk mengelapnya lagipula dia tidak yakin akan melakukannya dengan benar saat melamun dan dia tidak mau membuat keributan dengan memecahkan piring. Jadi mungkin dia akan tidur saja sekarang, dan menunggu Jimin datang menyegarkan pikirannya. "Ah, kepalaku."
Taehyung menyalakan keran lagi dan membasuh wajahnya.
"Paling tidak wajahku sudah segar la –"
Lantas gerakannya tertahan konyol saat mendapati Jungkook berdiri di hadapannya, terdiam dengan wajah melongo yang tak terbaca, melhatnya mengusak wajah. Mereka membeku seperti orang bodoh untuk waktu yang lama, sampai Taehyung membuka suara. "J-Jungkook? K-Kau butuh minum?"
"Kau."
"...apa?"
Saat air yang membasahi ujung rambut Taehyung melukai matanya, Jungkook mendekat dengan langkah cepat dan menggema, lantas mencengkeram Taehyung dan menciumnya dengan cepat, kasar, dan tidak diduga. Mata Taehyung membola luar biasa, begitu selaras dengan tubuhnya yang seketika kaku dan mati rasa. Ini bukan ciuman mereka yang pertama tapi ini tetap berbeda. Taehyung masih waras untuk mengingat Jungkook sama sekali tidak minum alkohol dalam waktu terakhir, dan saat ini Jungkook sadar apa yang dia lakukan. Lalu mengapa dia menciumnya? Untuk apa?
Bahkan ketika Jungkook mendorongnya tergesa ke dalam kamar, Taehyung masih diam. Entah karena terlalu bodoh atau polos. Dia sangat terkejut dengan fakta bahwa Jungkook sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi saat ini. Dia sadar telah mencium Kakaknya, telah menindih tubuh kurusnya lalu jadi semakin liar. Taehyung terus bertanya-tanya, sampai akhirnya dia berpikir spontan untuk mendorong tubuh berotot adiknya. "Kenapa... kau melakukan ini.. padaku?"
"Karena kau dalam keadaan basah sangat panas,"
"A-apa?"
Dia terdengar sangat serius dengan ucapannya. Dan terdengar terbiasa mengucapkannya. Seolah ini bukan pertama kali mereka bercumbu meski memang benar, tapi ini pertama kali Jungkook menyentuhnya dalam keadaan sadar jadi Taehyung sangat heran. Ditatapnya mata gelap Jungkook yang mengilat seperti belahan samurai, adiknya menyeringai menyebalkan. "Kau cantik juga, kalau kuperhatikan.. manis. Tapi kenapa rasanya aneh?"
Taehyung tidak menjawab. "Aku menyentuhmu ini itu, menciummu begitu kasar bahkan sudah hampir melepas kausmu tapi kenapa kau diam saja? Aku sudah menindihmu seperti ini –" dia mendekat dan menjilat bibir bawah Taehyung, " –masih memperlakukanmu seperti ini, kenapa kau hanya diam saja, hyung? bahasa tubuhmu mengatakan bahwa kau terbiasa melakukannya. Tubuhmu bilang padaku, ini bukan yang pertama, jadi tolong jawab ini –" ia membawa bibir panasnya ke perpotongan leher Taehyung lantas menggigitnya dengan kuat dan mengecupnya lembut. " –apa kita pernah melakukannya?"
Pertanyaan yang sulit.
Mana bisa Taehyung menjawabnya. Mungkin dia bisa membuka suara tapi dia tidak tahu harus berkata jujur dan bilang ya, mereka pernah dan sering melakukannya atau berbohong untuk menutupi kerendahan dirinya di mata adiknya. Ia bingung dan berakhir tidak menjawab. "Kutebak, sudah lebih dari sekali dua kali. Entah itu hanya berciuman panas atau aku sudah keluar di dalammu –aku tahu jawabannya. Kita jelas pernah melakukannya, lalu mengapa... kau diam saja?"
Saat ini Taehyung hanya berharap semua adalah mimpi.
"Apa kau... menikmati apa yang kulakukan, hyung?"
"Lalu mengapa kau bahkan tidak mengatakannya padaku?"
"Mengapa kau memilih diam disaat mungkin aku sudah menyakitimu?"
"Tidakkah kau merasa hina telah diperkosa adikmu sendiri? Apa justru senang karenanya?"
Taehyung ingin menangis. Dia tidak tahu mengapa semua pertanyaan yang Jungkook beri semakin menghujam jantungnya begitu dalam hingga ia merasa sesak nyaris kehabisan napas. Dia tidak bisa membuka suaranya barang satu kata dan itu sungguh membuat kepalanya pusing, ia ingin bicara serius dengannya, bahwa dia tidak suka hubungan aneh seperti ini. dia punya Jimin dan dia tidak bisa melepaskannya untuk sebuah dosa, mereka harus berhenti atau semua akan kacau. "A-Aku..."
"Ssssh," Jungkook menutup bibir Taehyung dengan ibu jarinya. "Kudengar, kau merasa bersalah padaku. Setelah apa yang kau katakan dengan kurang ajar padaku, setelah kau berteriak, kau memaki, kau mengecam aku jadi liar, berpikir aku ini sudah salah; kau menyesal telah melakukannya, benar?" ia lantas tersenyum miring kala Taehyung mengerutkan keningnya. Senang dengan kemungkinan apa yang dia katakan benar. Menyenangkan melihat Kakaknya terdiam kebingungan sebab wajahnya yang mengerut itu sangat lucu untuk diperhatikan. "Karena hyung tak kunjung menjawab, dan aku sudah pegal dengan posisi seperti ini, jadi kuberi satu penawaran bagus."
Jungkook memainkan rambut Taehyung, "Apa kau mau aku memaafkanmu?"
"A-apa?"
"Kau mau hubungan kita kembali?" Jungkook menangkap kesenangan dimata Kakaknya dan itu menggelitik perutnya, nyaris membuatnya tertawa. "Seperti dulu, kau dan aku bercengkerama hangat, tidur bersama di satu kamar sambil berpelukan, makan bersama, kau bisa mengantar jemputku ke sekolah, jalan-jalan di taman, dan sekali-sekali pergi karaoke," ia berusaha tenang. "Sama seperti hyung enam belas tahun dan aku delapan, kita makan odeng di depan warung kecil. Berlari hujan-hujanan sambil bermain gawi bawi bo dan kau selalu berakhir kalah menggendongku pulang. Apa hyung mau melakukan hal seperti itu lagi denganku?"
Butuh lima detik Taehyung menjawab, "Mau."
"Aku juga," Jungkook mendekat ke telinga Taehyung dan berbisik pelan, "Tapi ada satu hal yang harus hyung lakukan untuk dua emas yang akan kau genggam. Maafku dan hubungan kita yang kembali utuh, jadi kupikir hyung sudah tahu apa yang harus kau lakukan?" ia terkekeh, "Sampai disini.. ada pertanyaan?"
"A-Apa... yang harus aku lakukan?"
Jungkook terkekeh berat, membuat Taehyung bergidik geli. "Sebegitu inginnya kau dekat denganku? Sebesar itukah kau ingin maafku? Ingin aku kembali jadi adik manismu, yang menurut dan menggenggam tanganmu saat berjalan berdampingan, yang tersenyum dan menyemanagati Kakaknya setiap hari; kau sangat menginginkan itu?" dan Taehyung memejamkan matanya sembari meneguk ludahnya berat sekali. Ia bahkan mengepalkan jemarinya kuat, ia ingin berteriak dan mengatakan ya, bahwa dia sangat sangat ingin hubungan mereka kembali akur, sebagaimana Kakak Adik berhubungan seharusnya. Dia rindu Kookie yang manis dan pintar, baik hati dan lugu, dia ingin adiknya berubah dan tidak liar seperti apa yang dia temui sepuluh hari lalu; yang memukul orang dan berkata kasar. Dia pikir mungkin ini satu jalan untuk merubahnya jadi lebih baik.
"Aku... ingin kita kembali seperti dulu, Kookie." Taehyung mengatakannya susah payah. "Aku sangat ingin kau tahu betapa aku tersiksa tanpamu disini, bahkan jika kau pulang hanya untuk marah-marah padaku, itu tidak masalah. Yang terpenting adalah kamu ada di sisiku, Jungkook. Jika kamu berada untuk rasa kasihan, bahkan itu tidak penting. Yang penting kamu ada untukku, Kookie. Aku tidak peduli kau benci padaku yang penting kamu selalu hidup di sampingku, selamanya."
Cukup lama Jungkook tertegun, "Ah, manisnya."
"Tapi karena aku masih sangat marah," Jungkook memperdalam nada suaranya. "Syarat berlaku."
"Dan itu adalah...?"
Jungkook menjauhkan wajahnya dan menatap Taehyung, "Tubuhmu."
"A-apa?"
Tidakkah itu terdengar seperti Jungkook secara sadar meminta Taehyung untuk rela disetubuhi olehnya hanya untuk sebuah permintaan maaf? Taehyung terbelalak dan ia pikir jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat, napasnya terenggut begitu saja, dan ia rasa mungkin ia akan mati mendengarnya. Dia tidak habis mengira kenapa adiknya begitu aneh dan gila untuk berpikir. "J-Jungkook, kamu –"
"Ya, Kakakku," Jungkook mencium bibir Taehyung sembari mengangkat kaus Kakaknya, "Cukup biarkan aku menyentuhmu sesukaku. Maka semua kesalahanmu padaku akan sirna dari rasa dendam dihatiku. Fakta bahwa kita telah melakukannya berulang kali dan kau diam saja, membuatku muak. Untuk alasan apapun, kau tidak boleh merahasiakannya. Kau telah mendapatkan pelayanan dariku dan kau pikir aku senang dengan itu? Dengan kamu yang menikmatinya sendirian tanpa berpikir untuk sekali saja memberitahu padaku, kau tidak berpikir bahwa itu sangat menjijikkan? Kau telah membiarkan adikmu ini jadi hina oleh menyentuh Kakaknya tapi kau terlalu lemah untuk membimbing aku, kau tidak bisa memberontak dan melawan, kau tidak memukul dan memarahi aku untuk itu; kau menerima dan menikmatinya. Kau sungguh menyebalkan, dan itu membuatku muak karena kau sangat naif."
Jungkook sudah bekerja dengan dada Taehyung, dan ia sudah mendengar desahan merintih dari Kakaknya yang sungguh tak disangka terdengar sangat merdu. "Kau Kakak yang buruk. Kau telah menjerumuskan aku untuk menjadi orang kotor yang menyentuh Kakaknya sendiri dan kau tidak pernah berkata padaku satu hal pun tentang itu! Kau hanya diam menerima, dan tidak mencoba untuk setidaknya menceramahi aku untuk berhenti, kau bahkan terus menerima setiap aku menyentuhmu dan coba pikir, betapa menjijikkannya itu?!" Jungkook meremas pinggul Taehyung. "Karena aku ini sudah hina untukmu, maka silahkan tebus dosa besar itu dengan tubuhmu sendiri. Tebus kesalahanmu dengan tubuh kurus yang menggoda ini, dan mari masuk neraka bersama. Jika aku telah berdosa maka kau harus ikut ternoda. Bukankah kau ingin aku hidup di sisimu selamanya?"
Tanpa tahu waktu, Jungkook sudah melepas celana Taehyung. "Maka mari hidup di neraka bersamaku, dengan kubangan dosa api bersama iblis. Terdengar menyenangkan, bukan?"
"J-Jungkook... Tidak begini, a-aku –"
Drrrrt. Drrrrt.
Sialnya ponsel Taehyung berbunyi. Di waktu yang tidak tepat, sangat tidak tepat. Jungkook sudah bermain dengan miliknya dan dering ponsel itu sangat mengganggu sebab tidak kunjung berhenti. siapa yang berani menelponnya disaat genting seperti ini. Dengan tertatih ia meraih ponsel yang berada di sekitarnya lantas matanya membola melihat nama Jimin tertera. Seketika napasnya tertahan dan kepalanya terasa dihantam begitu kuat. "Y-Yeoboseyo?"
"Maafkan aku, Cantik! Aku tidak bisa kerumah untuk makan malam, keadaan benar-benar genting sekarang dan aku hampir mati karena dehidrasi. Tapi aku terus kepikiran tentangmu, bagaimana? Apa kau sudah punya makanan? Aku bisa mampir sebelum pergi, atau kau mau ikut saja?"
Taehyung menggeleng dan memejamkan mata, "Tid –ah."
"Maaf, apa, Tae?" Taehyung menutup mulutnya kuat, ia sangat takut. "Kau terdengar terengah-engah disini, Sweets. Apa sesuatu terjadi? Astaga, aku jadi bingung. Katakan padaku kau kenapa, kedengarannya kau sakit? Perlu aku berlari membawa painkiller? Bagian mana yang sakit –t-tapi... aku sudah ditunggu Mama dan Jihyun, a-aku.. astaga, Cantik, aku bingung harus menemuimu atau Mamaku lebih dulu,"
"T-Tidak perlu kemari," lantas Taehyung mendesah tanpa suara saat Jungkook sudah masuk kedalam tubuhnya, ia kesakitan dan juga takut. Ia sangat bingung dan benci pada situasi seperti ini. "Memangnya... Mama –h.. kenapa? Sesuatu terjadi?"
"Mama mual-mual tidak jelas dari pagi. Aku takut dia hamil lagi karena aku terus mendengar Mama dan Papaku berbuat setiap hari. Mungkin ini terdengar konyol tapi aku takut dia hamil, serius, sangat tidak lucu aku punya adik bayi disaat usiaku dua puluh lima."
Taehyung tidak sepenuhnya mendengar. Dia tidak bisa fokus saat Jungkook terus menghentakkan tidak karuan tanpa ampun dan tanpa belas kasihan. "Hei? Kau dengar aku bicara, tidak, sih? Taehyung?"
"Y-Ya –h... aku dengar, t-tidak apa kau tidak kemari."
"Kau yakin? Suaramu terdengar –"
"J-Jimin... aku harus mematikan telpon –" dan ia belum selesai bicara saat Jungkook merebut ponselnya lantas melemparnya hingga terantuk lantai begitu keras dan ponselnya mati seketika. Taehyung yakin ponselnya sudah retak mengingat Jungkook membuangnya begitu kasar. "Aku hanya membantu, hyung. Jangan lihat aku seperti itu, nanti jatuh cinta. Kau akan jadi saudara paling berdosa jika mencintai adiknya sendiri. Sekarang sudah tidak ada yang ganggu jadi silahkan mendesah untukku,"
Taehyung mencengkeram lengan Jungkook, "A-ah, Jungkook –"
"Kutanya sekali lagi," Jungkook menariknya pada sebuah ciuman. "Apa kau mau maafku dan hubungan kita kembali; seperti dulu dimana Jungkook adalah adik manis Kim Taehyung?"
"M-Ma –h.. Mau.."
Jungkook menyeringai, "Dan kau tahu apa yang harus kau lakukan?"
"A-ah... Aku... –hhh, tahu,"
Dan Jungkook tidak perlu jawaban panjang atas pertanyaannya.
.
.
.
To Be Continued.
edisi: sesi panjang lebar
noun; cuap-cuap
...
sebelumnya, terima kasih atas support kalian terhadap My Mama. saya sangat terharu dengan komentar anda tentang fanfiksi ini, padahal ini bukanlah cerita yang sangat Dewa untuk dipuja tapi saya tetap berterima kasih yang teramat sangat. menembus 100 lebih reviews sangat membuat saya terpukau. terima kasih atas dukungan kalian semua.
kemudian, permasalahan tanpa ujung mengenai uke dan seme. ini cukup sensitif untuk dibahas, terutama dengan pola pikir masing-masing yang berbeda. kalau saya pribadi bukan penganut nama didepan adalah seme. toh ini hanya permasalahan penggabungan nama saja, secara keseluruhan dan pengalaman yang saya dapat di twitter sih ya, Vkook dan KookV sebenarnya sama saja. mereka punya sifat tegas dan lemah masing-masing. mereka laki-laki, jadi saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan siapa seme dan uke.
saya meletakkan Vkook pada pertama atas dasar mereka adalah Kakak Beradik dan Tae adalah Kakaknya, bagaimana pun dia juga lebih dewasa. dan KookV untuk beberapa adegan intim dan saat Jungkook kembali kurang ajar. meskipun itu terserah lagi dari kalian bagaimana menyikapinya, saya terima semua kritik dan saran. tetapi saya juga punya prinsip yang tidak sembarang harus saya turuti karena kemauan beberapa orang saja, lagipula itu tidak terlalu penting untuk saya sejujurnya. mohon maaf jika penjelasan saya kurang pas untuk kalian. tapi sebagai manusia kita harus saling menghargai, bukan?
yang terakhir, selamat membaca!
