Satu kontrak gila dari Jungkook memusingkan Taehyung.
Permintaan luar biasa konyol darinya sungguh gila. Benar-benar gila; bersetubuh. Astaga, meski bukan pertama kali mereka melakukannya, tetap saja, dia tidak ingin berakhir seperti ini. Dia mengharapkan hubungan manis antara Kakak beradik sebagaimana biasanya, bukan pasangan konyol yang terlarang seperti ini. Dia memang ingin Jungkook kembali bersamanya, menjadi adik manisnya, dan membangun relasi manis diantara mereka yang retak sejak lama. Tapi apakah harus dengan cara ini?
Setiap Jungkook pulang larut, Taehyung tergilas kewarasannya.
Tubuhnya terhentak gila, dan desahnya bertebaran.
Malamnya menjadi panjang dan menggairahkan.
Dan Jungkook tak pernah berhenti.
Pernah satu kali Taehyung bertanya, mengapa Jungkook memintanya demikian. Dan dia hanya mendapat satu gendikan bahu, seolah Jungkook pun tidak mengerti kenapa. Seperti apa yang dia katakan adalah main-main yang terlontar begitu saja, jadi Taehyung berhenti bertanya meski otaknya terus meronta kalau ini salah. Meskipun sebenarnya, menyenangkan. Jungkook menuruti janjinya, jadi anak manis yang menurut dan pintar. Prestasinya membaik di sekolah, dan dia sering tersenyum padanya saat bicara, bahkan tekadang menggenggam jemarinya saat Taehyung menjemputnya pulang sekolah, dan berhenti bicara kasar. Kecuali saat menggaulinya, dan menggunakan kata jalang.
Terdengar menyedihkan tapi percayalah, Taehyung terangsang dengan keyword itu.
Rasanya begitu menjijikkan, dia tidak berani bercermin dengan nyaman. Dia merasa jijik dengan dirinya sendiri, mengamati noda ungu bekas sesi panas itu membuatnya terbakar amarah. Mengingat terkadang Jungkook menggunakan obat untuknya, entah itu dipaksa lewat mulut atau alat suntik, membuatnya kesal. Dia marah tapi dia hanya bisa diam, dia tidak tahu harus melakukan apa selain diam dan menurut. Dia lelah memberontak dan tidak setuju, dia tidak bisa kehilangan siapapun lagi termasuk Jungkook. "Hyung,"
"Uhm?"
"Sudah cukup buat kimchinya," sahut Jungkook yang melangkah mendekat. Matanya berbinar kala melihat Taehyung mendongak padanya dengan mengerjap bingung. Lucu sekali, sampai rasanya dia ingin sekali berteriak tidak kuasa. Ia menyeringai, menggapai tengkuk Taehyung. "Mulutmu jadi belepotan saus dan aku sangat tidak tahan melihatnya,"
Taehyung mengerjap lagi, "Tidak... tahan bagaimana?"
"Memakanmu."
Dan untuk sekian kalinya, Taehyung dipermainkan Jungkook lagi.
.
.
My Mama
.
Kim Taehyung
Jeon Jungkook –role as Kim Jungkook
.
I'm sorry for hurting you more
.
Kebahagiaan seorang Kim Taehyung juga kebahagiaan bagi Park Jimin.
Setelah episode melankolis yang tak henti-henti, pemuda manis itu akhirnya tersenyum. Setelah kejadian menyedihkan yang terus membuatnya menderita, akhirnya dia tertawa lepas. Dan Jimin memperhatikannya dengan tenang, dia lega bahwa Taehyung kembali ceria. Dia masih ingat kalau dulu Kim Taehyung adalah anak yang bersinar dan terus menebar senyum, pandai bergaul, dan sangat mencolok untuk menarik perhatian orang. Hampir seluruh murid suka padanya, karena sifatnya yang pengertian dan suka disalahkira sebagai bentuk rasa suka. Ah, kebodohan anak kecil memang lucu kalau diingat-ingat. "Kim Taehyung, Cantikku."
"Ya! Berhenti begitu!" Taehyung tambah cemberut saat Jimin mengusak rambutnya. "Tapi.. ada apa, Jimin-ah? Kau kenapa tersenyum seperti itu? Auramu merah muda sekali dan astaga, aku serius, berhenti nyengir seperti itu karena gigimu membutakan mataku. Gigi kuningmu itu membuat silau, sialan aku bisa jadi minus!"
"Aigoo, gwiyeopta." (Cute)
"Yaaaa~! Berhenti –!" Taehyung merengek saat Jimin mencubit pipinya kuat-kuat, lanjut mencubiti seluruh wajahnya bahkan hidung dan bibirnya. Dari pandangan matanya ia melihat beberapa staf memperhatikan mereka dengan raut tak terbaca. Seharusnya ini sudah jadi tontonan biasa tapi entah kenapa mereka selalu suka memandanginya dan Jimin saat sedang seperti ini. Jujur saja ini membuatnya malu dan dia tidak punya keberanian cukup untuk terang-terangan melakukan adegan manis dengan Jimin. Dia tidak nyaman dengan tatapan orang, dia merasa buruk karena memiliki hubungan khusus dengan bosnya dan perasaan itu tidak kunjung hilang.
Saat ia merasakan kecupan di sudut bibirnya, ia menatap Jimin. "Kubilang, berhenti berpikir aneh. Biarkan saja mereka melihat kita, mereka hanya iri karena aku punya kau untuk dicium." Ucapnya dengan begitu manis sampai Taehyung nyaris meleleh tapi ia terburu untuk mendesis dan memutar bola matanya pongah. "Apaan, aku tidak se-istimewa itu, jebal. Aku masih tidak nyaman dengan mata mereka, bagaimana pun status kita berbeda. Mereka pikir aku berusaha menggodamu atau apalah supaya aku dapat jabatan tinggi dan semacamnya," ia mengatakannya begitu polos dengan wajah mengerut tidak suka. Dan Jimin hanya terkekeh tertahan.
"Tapi kau memang menggodaku,"
Taehyung terbelalak, "Aku tidak!"
"Kau berkedip manja saja aku sudah tergoda," ia menangkup pipi Taehyung lantas mencium pipinya lama sekali dan bertubi-tubi sampai empunya kegelian oleh jutaan kupu-kupu yang berlarian di sekitar perutnya lalu terbang ke paru-parunya. "Dengar ya, kucing kecil. Kamu bernapas, hidup, dan berdiri di hadapanku saja sudah menggodaku habis-habisan. Kamu saja yang tidak peka tapi kau selalu menarik perhatian orang dengan godaan invisible-mu itu, Sayang. Makanya aku harus dor! duluan supaya kau tidak jatuh ke pelukan yang salah," ia memeluk Taehyung dan menyamankan dagunya di bahu kurus Taehyung yang terasa hangat dan lembut seperti kapas, "Pelukanku nyaman, bukan? Ya pasti nyaman, pelukan Park Jimin melebihi kekuatan Downy. Kau berada dalam rumah yang tepat."
Darahnya berdesir hebat, dan Taehyung merona.
Dia meremas kemeja Jimin kuat sembari menahan napasnya, "G-Gombal."
"Ah, merona." Ujarnya menggoda tapi langsung mengaduh saat Taehyung mencubit pinggangnya tapi dia hanya tertawa saat melihat Taehyung terkikik. "Pergi yuk?"
"Untuk?"
"Karena melihatmu tersenyum."
Taehyung memutar bola matanya malas, "Apa senyumku itu Big Moon? Aku tidak sekaku itu untuk kau pikir sangat jarang tersenyum, Park Jimin yang terhormat tapi menyebalkan." Ia menyilangkan lengannya di dada dan menyipitkan mata berusaha jadi tegas tapi nampak seperti mata kucing ngambek di mata Jimin; masih lucu dan minta dipeluk. "Memang kenapa sih kau seheboh itu hanya karena aku tersenyum? Tiap hari juga tersenyum, kenapa pakai pergi-pergi segala? Kau mau mengajakku pergi kemana kali ini? Kalau tidak menyenangkan, kau dilarang keras menyentuhku seujung jari dan mencuri ciuman dimanapun, aku serius. Dan aku tidak mau ke taman lagi, bosan."
Lucu sekali. Sedetik lalu ia terdengar ogah dan detik selanjutnya menuntut.
Benar-benar tipikal kucing; spesies langka, Kim Taehyung
"Yang satu ini pasti kau akan suka,"
Matanya berbinar lucu, dan Jimin hampir melepas tawa. "Kemana? Kemana? Menara Eifell?"
"Ke Pelaminan."
Taehyung tersedak meski wajahnya memerah, "Dasar gila!"
.
.
"Sumpah, aku tidak mengerti apa maumu, Babe."
Taehyung berdecak malas, mengenakan jaket tebalnya setelah berganti pakaian; setelah susah payah dia mengeluarkan Jimin yang berusaha masuk ke ruang ganti dengan bermacam-macam alasan. Terkadang Jimin jadi sangat mesum di waktu yang tak tertebak, Taehyung harus lebih waspada saat ini. dan senyumnya itu, bukan main, kotor sekali. "Aku hanya mau pulang sendiri, apa itu masalah untukmu? Tidak, 'kan? Jadi berhenti bicara omong kosong sebelum kusumpal mulutmu."
"Sumpal bibirmu, kan?"
"Apa sih, Jimin?!" ia memekik dan menepuk bibir Jimin keras, "Berurusan denganmu terkadang jadi sangat melelahkan ternyata. Biasanya juga kita pulang sendiri-sendiri, lagipula dari sini ke rumahku itu dekat. Kau yang mengantarku dengan mobil itu ide yang buruk, bensinmu jadi terbuang percuma. Dan aku menikmati pulang sendirian, jalan kaki, dan menghirup angin malam."
Jimin meraih telapak tangan Taehyung, "Nanti kamu masuk angin? Diculik? Tersesat?"
"Jimin, mari kita luruskan satu hal." Ia mendesah berat, Jimin adalah pribadi menyenangkan yang tenang dan berwibawa. Jauh lebih dewasa dalam menyikapi permasalahan dan lebih jantan darinya, tapi dia juga bisa jadi pria yang kekanakkan dan berpikiran konyol hanya karena satu dua hal yang begitu penting dalam hidupnya. Kim Taehyung adalah satu dari pemegang kunci itu, dan dia tidak tahu harus merasa bangga atau repot karenanya. "Aku bukan anak kecil, aku sudah dua puluh lima sama seperti kau. Jadi jangan terus berpikir aku sebegitu lemahnya untuk menjaga diriku sendiri. Aku memang tidak jago memukul atau melawan tapi aku pandai berlari, ingat? Aku akan berlari," ia mengepalkan tangan dan berlari ditempat dengan ekspresi yang lucu. "Jadi tenang saja, saat ada sesuatu yang mencurigakan aku akan berlari dan teriak sekencang mungkin supaya polisi datang menyelamatkanku. Ayolah, aku tahu kau ini latihan boxing dan taekwondo tapi kamu bukan bodyguard-ku, kau tidak harus selalu dua puluh empat jam bersamaku."
"Kau... tidak suka kita bersama terus?"
"Astaga, bukan begitu –" Taehyung menghela berat sekali. "Ini hanya persoalan pulang saja, astaga. Jangan jadi berlebihan hanya masalah ini, jebal. Kamu sayang padaku, 'kan?" dan Jimin dengan semangat mengangguk lucu, "Kalau begitu coba percaya padaku. Kalau kau sayang aku, please, percaya kalau aku juga bisa menjaga diri. Percaya kalau aku bisa melakukan sesuatu hal sendiri, aku lelah merasa tergantung pada orang lain, Jimin. Mengertilah aku yang payah ini. Mulai saat ini, please, percaya bahwa aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri dan hidup oleh takdir dan usahaku sendiri," ia membawa jemari kurusnya ke pipi Jimin dan mengelusnya lembut. "Bisa?"
Lama Jimin terdiam sampai ia tersenyum dan memangku Taehyung, "Aku mau nangis rasanya."
"Cengeng."
"Gara-gara siapa, hah?" Jimin mencubit pipi Taehyung gemas lalu menciuminya, "Baiklah, baiklah. Mulai sekarang aku akan mencoba meyakini kalau kau cukup mandiri untuk pulang malam-malam. Maaf jika masih membebanimu dengan sikap protektifku, aku hanya khawatir dan sialnya itu berlebihan. Aku hanya terlalu sayang kamu, tahu," ia mencubit pipi Taehyung lagi. "Aku masih tidak bisa melupakan dimana kau datang dengan wajah bonyok seperti titan dan berjalan terseok bagai kain pel lusuh. Darahmu mengucur dimana-mana dan tanganmu terus bergetar. Kau pikir pacar mana yang tidak khawatir melihat itu, eoh? Aku masih takut," dia memainkan rambut Taehyung. "Tapi aku akan mencoba, jika itu membuatmu senang memangnya aku bisa apa? Menolak? For Taehyung, refusing is a big no, you're my absolute order. Kau minta, aku berikan. Apa pun."
Taehyung tergagap lantas memukul dada Jimin, "Jangan membuatku melamun untuk memikirkan perkataanmu ini, bangsat. Aku akan dikatai gila karena senyum-senyum sendiri,"
"Ah, a cute baby~"
"Ya! Berhenti!"
.
.
Taehyung menghela, lantas masuk ke dalam gang sempit.
"Ah, dilihat dari langkahmu, sudah mulai berani." Ucap seorang pria gembul yang sedang duduk merokok bersama dua pria kekar di sisinya, berdecih dan bangkit menatap Taehyung yang sedikit gemetaran dan menunduk. Ia tertawa meremehkan, "Senang bertemu denganmu lagi. Melihat wajahmu yang mulus itu membuat tanganku gatal, tahu?" ia membuang rokoknya asal dan mendekat bersama dua antek-anteknya, tersenyum miring melihat Taehyung yang menahan napasnya kuat. "Kau sudah cukup pintar untuk tahu mengapa kau kemari, nak?"
"Y-ya," Taehyung berujar patah-patah, "A-Aku bawa uang, Paman..."
"Bagus, kemarikan uangmu –" ia langsung menarik uang yang Taehyung sodorkan dan menyimpannya di saku mantel, lantas melirik dua anak buahnya dan memberi isyarat. " –dan silahkan pasrah dipukuli, seperti biasa, kau kuat 'kan? Kim Taehyung anak Mama itu anak yang kuat, 'kan?" ia tertawa saat Taehyung sudah terlonjak dipukul perutnya, mengaduh seperti kucing kecil yang menyedihkan dan rapuh, bahkan terjatuh begitu tulang keringnya ditendang. "Anak kuat itu tidak melawan, kata Mama? Jangan melawan orang dewasa, ya, Taehyungie? Astaga, aku tidak menyangka kau akan selemah ini. bangsat macam apa yang mengajarkan seperti itu pada anak laki-laki?"
Taehyung menggeram marah, "Mama bukan orang bangsat!"
"Pukul dia." Ujarnya lebih dingin, matanya menajam tidak suka. "Kau berteriak padaku? Hei, Mamamu kurang bangsat apa sampai menjual tubuhnya sendiri untuk melunasi hutang? Bangsat apa yang memohon seperti pengemis, berlutut dikakiku, rela mencium seluruh ujung jari kakiku demi uang sekolahmu? Sungguh anak durhaka kamu, nak," ia menggeleng dramatis. "Kalau bukan karena kasihan, mana sudi aku menghabiskan uang untuk kalian?! Memangnya aku ini bapak kalian? Dasar anak haram tidak punya Bapak! Urus hidupmu sendiri, kenapa malah menyusahkan aku?!"
"Aku punya Papa!"
Lantas pria itu, Tuan Shin, berdecih semakin tidak suka. Tertawa kemudian, suaranya keras begitu menggema hingga telinga Taehyung nyaris pecah. Begitu meremehkan dan menghina, dan itu sungguh terdengar menjijikkan. "Papa dari bulan? Tidak usah berkhayal, Papamu sudah tidak ada." Kemudian ia menajamkan tatapannya lagi, menyuruh anak buahnya memukul Taehyung lebih kuat, tidak peduli jika ada rengekkan lemah atau pekikan melengking di telinganya. Dia sibuk menghitung uang sampai tiba-tiba kepalanya dipukul balok kayu, terkejut dia hingga oleng. "Siapa lagi bangsat ini?!"
Jungkook mengetuk tanah dengan balok kayunya, lantas memukul dua orang yang sedang menyiksa Taehyung, lantas berdecih dan menatap Tuan Shin tajam. Merogoh sakunya lantas mengeluarkan satu amplop tebal berwarna cokelat muda, melemparnya ke arah Tuan Shin. "Ambil itu, brengsek. Hapuskan hutang Ibu dan Kakakku. Jangan pernah lagi kau pukul dan minta uang darinya."
"Apa-apaan ini – "
"Ambil saja dan pergi!" teriak Jungkook marah, "Semua hutang dan bunga sudah kubayar untukmu, brengsek, jadi pergi; pergi dari kehidupan kami dan bawa seluruh lemak menjijikkan di tubuhmu itu! Jangan muncul dan membuatku muak dengan tampan konyolmu itu –" ia menggeram gemas karena pria itu tak jua mendengar, malah terdiam. Jadi Jungkook mengangkat balok kayu itu dan mengarahkannya pada Tuan Shin lantas berteriak, "Cepat pergi dari sini!"
Entah karena suara dan balok kayunya, atau karena uang itu terlalu banyak, Tuan Shin berlari dengan anak buahnya. Nyaris terpleset saking takutnya. Jungkook mendengus tertawa melihatnya, melempar balok kayunya jauh-jauh dan menepak telapak tangannya yang berdebu. Dilihatnya Taehyung yang masih terbatuk mengenaskan dan tertatih mencoba bangkit. Hatinya mencelos tidak tega tapi dia hanya diam memerhatikan saja, tidak mau terlibat terlalu banyak.
"Ayo pulang, hyung."
.
.
Setelah menempelkan satu band-aid, Jungkook selesai.
Pertama kalinya pula dia merawat luka; terlebih untuk Kakaknya. Jemarinya bergetar dan matanya panas ingin menangis tapi sekuat tenaga dia tahan. Tatapan Taehyung yang tak terbaca artinya itu membuatnya gugup tidak tahu harus berbuat apa. "Terima kasih, Jungkookie,"
Hanya itu yang dia ucapkan setelah lama tak bersua.
"Aku tahu," Jungkook menanggapi kalem. Meminum airnya santai dan melirik Taehyung yang masih terdiam menatapnya. Lama-lama ia dibuat risih dengan mata besar itu, "Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada sesuatu yang mau kau katakan lagi? Apa tanganmu sakit? Kakimu; kepala; wajah; atau ada gigimu yang patah?"
Taehyung menggeleng pelan. "Aku... hanya..."
"Apa?"
Lama Taehyung menggigit bibir, "Aku ingin tahu darimana kamu dapat semua uang itu," pintanya dengan suara yang lemah dan ragu. Dia tidak berani membicarakan hal sensitif seperti ini, pada awalnya, tapi dia sungguh tidak bisa menahannya lebih lama. Dia harus tahu bagaimana Jungkook mendapatkan uang, untuk segala hal aneh yang datang, Taehyung patut bertanya-tanya. "Sekali ini saja, Kookie, bicarakan padaku dan beritahu bagaimana kamu mendapatkan uang? Itu bagus jika kamu bekerja, Kookie. Jadi tidak apa, ceritakan saja darimana semua uang itu berasal." Ia berusaha menatap mata Jungkook dengan berani, meski sedikit bergetar karena terlalu dia paksa. Belakangan ini ia jadi sedikit takut pada adiknya sendiri, fakta bahwa Jungkook mampu membuatnya mendesah sudah cukup baginya untuk membuatnya merasa minor, sekarang dalam benaknya Jungkook adalah dominan dan itu membuatnya takut, tatapan mata adiknya juga lebih tajam. "Kau bahkan melunasi hutang Mama dan membeli banyak barang bagus, kurasa kau melakukan pekerjaanmu dengan baik. T-tapi bisakah kau beritahu pekerjaan apa itu? Barangkali, mungkin, aku bisa berkunjung d-dan –"
" –mungkin aku bisa bekerja disana juga."
Jungkook terkejut, kentara dari bola matanya. Jantungnya terasa berhenti sesaat dan ia pikir apa yang dia dengar adalah lelucon. Tapi dia tidak sebegitu bodoh untuk mencerna ucapan Taehyung barusan. Tidak mungkin dia menceritakannya sebab akan sangat berisiko. Selain karena Kakaknya pasti mengomel dan menangis seperti pecundang, dia pasti akan mengecapnya hina. Selama ini ia sudah cukup geli dengan fakta bahwa mereka seks tapi entah kenapa hati terdasar Jungkook tidak menginginkan Taehyung tahu bagaimana dia mendapatkan uang. Sangat mustahil untuk jujur bahwa ia seks untuk mendapat uang. Dicoba pun sulit, bahkan untuk membuka mulut saja rasanya kaku. Dan dia tidak punya jawaban alternatif untuk merespon. "Pekerjaanku baik, dan lancar."
Nyatanya ia hanya bisa berkata demikian.
"Y-ya tapi pekerjaan apa itu?"
"Kau tidak perlu tahu," Jungkook menjawab cepat, melarikan jemarinya pada helai rambut Taehyung lantas meremasnya hingga empunya meringis tertahan. Dan anehnya suara itu justru terdengar mengundang di telinga Jungkook sampai bola matanya menggelap. Tapi dia mati-matian menahan hasrat sebab demi Tuhan, Kakaknya sedang tidak dalam keadaan baik. "Ada batas bernama privasi yang menjadi hak asasi milik setiap orang, dan aku memakai alasan itu."
Tapi dasarnya Jungkook sudah haus, Jungkook memberikan satu ciuman panjang untuknya.
"Diam saja dan lihat –" Jungkook meremas tengkuk Taehyung, " –bagaimana aku bisa membuat kehidupan kita menjadi lebih baik, jauh lebih baik dari bagaimana kau melakukan segala hal. Lihat bagaimana aku bisa mengangkat derajat kita, setelah kau dengan mudahnya menjatuhkan martabatku dihadapan orang banyak, kali ini akan kutunjukkan bagaimana rasanya jadi rendahan."
"Memangnya ada acara apa, sih, Babe?"
Taehyung mengerucutkan bibirnya pelan, nyaris membuat Jimin pingsan melihatnya. Sialan betul memang pacar manisnya itu masih sempat menggoda ingin dicium. Kalau saja bukan di dalam kantornya, terpisah oleh meja kayunya yang menahan tubuhnya, dan keberadaan Soonyoung di dalam sana, sudah habis Taehyung dia cium. "Hari ini spesial!" jawabnya ceria lantas menautkan jemari panjangnya dan tersenyum lebar. Begitu cepatnya merambat kebahagiaan pada Jimin dan Soonyoung yang ikut tersenyum melihatnya. "Jungkookie mengajakku jalan-jalan. Sebenarnya aku yang minta karena dia juara satu lomba melukis! Lukisannya baguuuus dan aku senang. Dia bilang, dia ingin pergi bersama. Jalan-jalan, makan siang, beli eskrim, dan menonton! Bukankah itu menyenangkan?"
Boleh tidak Jimin cemburu?
"Terdengar seperti kencan," Jimin berkomentar gusar. Mereka bahkan tidak pernah menonton film di bioskop seperti pasangan lain, jalan-jalan saja jarang. Ini lagi Jungkook sudah ambil paket combo seperti orang pacaran, mana bisa Jimin diam saja. Hatinya sudah menggeram marah, cengiran Taehyung sama sekali tidak membantu. Sedang Taehyung menghela dan memutar bola matanya pongah kemudian mengusak lehernya, "Ya ampun, Park Jimin. dia ini adikku, kencan apanya sama adik sendiri. Kalau cemburu itu dipikir-pikir dulu dengan siapa kamu beragumen. Kita bisa pergi kapan-kapan, lagipula kita sudah sering pergi bersama, jangan lebay." Jawabnya dengan malas sesekali melirik Soonyoung yang masih betah berdiri mendengarkan dan tertawa renyah. "Malu dilihat Soonyoung-ssi, kau terlihat seperti anak kecil, Jimin."
"Oh? Aku minta maaf jika mengganggu,"
Buru-buru Taehyung mengibaskan tangannya, "Bukan begitu. Aku yang merasa tidak enak karena kau harus mendengar pembicaraan aneh seperti ini. Kau bisa pergi jika sudah selesai, t-tapi bukan maksudku mengusirmu pergi –mm, maksudku, yah... jangan biarkan kami menahanmu lebih lama," kemudian dia jadi benar-benar tidak enak hati saat Soonyoung malah tertawa. "S-Soonyoung, ma-maaf jika itu mengganggumu. Aku tidak enak kamu berdiri terus disitu karena kupikir bicara dengan Jimin ini akan jadi lama, takutnya kau masih ada sesuatu yang dikerjakan."
Jimin hanya tersenyum miring memerhatikan.
"Aku akan pertaruhkan apapun agar menonton kalian pacaran," jawab Soonyoung santai. Lantas tertawa semakin kencang saat Taehyung melotot kaget atas reaksinya. Terlihat sangat menggemaskan sebenarnya, tapi dia tidak ingin Jimin mencakar wajahnya jadi dia diam saja. "Kalian sangat lucu dan manis. Pembicaraan kalian menyenangkan didengar, dan aku lebih senang diam disini daripada harus mengelap meja dan piring kotor sebenarnya."
Taehyung tertawa canggung, "A-apaan itu,"
"Yah, kau boleh keluar, Soonyoung." Jimin menggasak rambutnya ke belakang, "Aku tidak bisa menanggung jika kau diabetes melihat Taehyung dan aku pacaran. Bahaya."
"Jimin!"
Soonyoung tertawa saja saat Taehyung memekik kesal dan Jimin memasang wajah sok tak berdosa miliknya yang terlihat menjengkelkan. Kemudian mengangguk dan pergi setelah menggoda Taehyung sampai pemuda itu memerah wajahnya. "Memangnya kita ini kue manis, apa? Bikin orang diabetes, pick up line macam apa itu, murahan banget. Sekarang aku benar-benar tidak punya muka untuk berhadapan dengan yang lain, tahu? Memalukan sekali, sumpah."
"Salah sendiri kau manis,"
"Aku tidak –!"
"Katanya mau pergi?" Jimin bertanya cepat, hingga Taehyung terbelalak sebentar dan melihat jam tangannya lantas terkejut dan berteriak kecil, "Oh, astaga kau benar! Aku harus siap-siap sekarang. Hei, Jimin, kau mengijinkan aku pergi, tidak? Kau belum menjawab pertanyaanku," Taehyung berkata dengan cepat sampai Jimin hampir tidak mendengar dengan baik. Jimin sebenarnya ingin menjawab tidak sebab dia sangat tidak rela pacarnya itu pergi jalan-jalan bahkan dengan adiknya. Tapi melihat Taehyung begitu semangat dan ceria dia sungguh lemah. Lama sekali dia tidak begitu bergairah akan hidupnya dan melihat Jungkook bisa membuatnya bahagia seperti ini sedikit banyak membuatnya juga bahagia. Dia mencintai Taehyung maka dia juga tidak bisa egois akan keutuhan Taehyung. Pada dasarnya pemuda itu bukan sepenuhnya miliknya. Tapi dia tahu kalau dia harus membuatnya bahagia. "Kau boleh pergi, Sweets. Tidak ada yang melarangmu, kenapa pakai ijinku segala, sih. Pergilah, dan bersenang-senang. Begitu selesai, hubungi aku dan ceritakan pengalaman menyenangkanmu hari ini."
Taehyung tersenyum lebar dan mengangguk. "Oke. Aku pergi!"
Dia tertawa dan sudah melompat-lompat kecil, melangkah riang menuju pintu sebelum dia berhenti dan kembali menuju Jimin dengan senyum yang dia kulum dan wajah memerah lucu. Melangkah mendekat lantas menjawab kebingungan Jimin dengan ciuman pendeknya. Kecupan lucu yang terasa manis di belah bibir Jimin hingga empunya merinding. Aneh, hanya kecupan dan Jimin bergetar. Begitu simpel namun sanggup meluluhkan hati dan seluruh tulangnya. Senyuman halus Taehyung hanya membuatnya semakin meleleh dan nyaris lupa diri.
"Makasih," Taehyung terkikik lucu, "Aku cinta kamu."
.
.
Setelah berseteru dengan kungkungan ketiak dan desakkan orang, Taehyung berhasil turun dari bus dengan selamat. Sedikit terengah mengingat aroma ketiak menjijikkan dari salah satu bapak-bapak di dalam sana tapi selebihnya dia baik-baik saja. Kemudian dia berlari, melupakan keringat di wajahnya yang sudah mengganggu. Jungkook sudah menunggunya dan dia sudah terlambat, pemikiran bahwa Jungkook bisa saja kesal dan pergi terus mengganggunya jadi dia mempercepat larinya.
"Jungkookie!"
Yang dipanggil menoleh dan menghela. Memerhatikan Taehyung yang menumpu tubuhnya pada lutut dan mengatur napasnya susah payah. "Kau darimana saja? Aku sudah hampir pulang lagi, kau tahu aku paling malas kalau disuruh menunggu. Hari ini cukup panas dan menunggumu itu sangat menyebalkan. Kenapa baru datang jam segini?" gerutu Jungkook kemudian menarik lengan Taehyung dan membuatnya berdiri tegak. Ia bernapas kesal kemudian mengeluarkan sapu tangan lantas mengelap wajah Kakaknya yang belepotan. "Kenapa nyengir begitu?"
"Aku senang," jawab Taehyung sambil tertawa, "Kalau dulu, aku yang mengelap keringatmu. Setelah pulang sekolah biasanya kamu main sepak bola dulu jadi keringatnya banyak. Sekarang, sepuluh tahun kemudian, Kookie tumbuh besar dan mengelap wajah hyung yang keringatan. Rasanya lucu, kita jadi bertukar peran seperti ini," ia tersenyum lebar, "Terima kasih, Jungkook."
Jungkook terdiam sebentar, "Hm. Sudahlah, ayo masuk."
"Ayo!" seru Taehyung yang melompat kegirangan kemudian menggenggam jemari hangat Jungkook, menyatukan tangan mereka dan berjalan beriringan. Taehyung tidak berhenti tersenyum dengan momen sederhana yang manis seperti ini. fakta bahwa Jungkook tidak protes saat dia menyentuhnya begitu erat membuatnya senang.
.
"Ini."
Jungkook memberikan satu scoop eskrim taro untuk Kakaknya yang duduk menunggu sambil mengayunkan kakinya sabar. Disambut girang luar biasa dan tawa manis dari Taehyung, membuat Jungkook tersenyum tipis. Rasanya menyenangkan melihat Taehyung senang, dan dia tidak bisa bohong kalau ia suka melihatnya gembira. Terlihat menggemaskan, sebenarnya. Terasa seperti dia punya adik atau apa, padahal pemuda dua puluh lima tahun yang menjilat eskrim di sampingnya ini adalah Kakaknya. Dia tertawa dalam hati atas pemikirannya. "Kau terlihat menyukainya. Memangnya seenak itu, apa?"
"Aku paling suka eskrim taro."
"Oh,"
Setelahnya tidak ada balasan lagi. Jungkook memakan eskrim cokelatnya diam, sesekali melirik Taehyung yang masih mengayunkan kakinya seperti bocah dan bersenandung saat menjilati eskrimnya. Tiba-tiba saja pikiran tentang dosa mereka selama ini muncul. Melihat Taehyung bertingkah polos seperti itu membuatnya merasa bersalah. Tega sekali dia menjadikannya mainan seks sesuka hatinya. Kadang pemikiran seperti ini terus menghantuinya. Bagaimana bisa dia menjadikan Taehyung budak seksnya, memanfaatkan kepolosan dan kebodohannya untuk menikmati tubuh itu. Terkadang dia merasa berdosa sekali tapi tidak tahu kenapa dia tidak bisa berhenti melakukannya.
"Kookie, eskrimmu meleleh."
"Oh?" lantas Jungkook mengerjap kaget, sadar dari lamunannya ketika tangannya sudah lengket oleh eskrim. Dengan cepat menjilati tangannya sendiri, dan ketika matanya bertemu dengan manik bulat Taehyung, dia berpikiran kotor. Dia berfantasi jika saja Taehyung langsung menarik tangannya kemudian menjilatnya. Menggunakan lidah panasnya sambil sesekali menghisapnya sensual. Ah, sial. Dia jadi sesak oleh bayangan bejatnya sendiri. "Jungkook, kau melamun."
Jungkook jadi salah tingkah. Tiba-tiba menjadi kikuk dan bingung, pemikiran kotor ternyata berdampak cukup besar untuk kesejahteraan pikirannya. "Sepertinya kita harus ke toilet. Kau mengotori bajumu, mungkin kau perlu guyuran air. Wajahmu kelihatan capek sekali, Jungkook." Ia kemudian bangkit dan menarik lengan adiknya lembut, "Yuk, aku antar ke toilet."
.
Jungkook menyugar wajahnya dengan air dari pancuran keran. Wajahnya jadi lebih segar, dan kesadarannya kembali. Ia mengatur napasnya, kemudian menepak wajahnya supaya matanya terbuka dan ia berhenti berpikiran kotor. Ini bahaya jika diteruskan, karena mereka ada di tempat umum. Bahaya jika ia melakukan hal intim padanya di tempat terbuka seperti ini.
"Kookie? Sudah selesai belum?"
Setelahnya ia menepak kemejanya lantas keluar dari toilet, matanya bertatapan dengan Taehyung yang nyengir lebar dan sendawa kecil. "Eskrimmu sudah meleleh parah, jadi aku habiskan. Tidak apa, 'kan? Aku tidak mau mengotori tanganku, hehehe."
Astaga, Jungkook tertawa.
"Kupikir apa," Jungkook mengusak rambut Taehyung. Masih bernapas pendek karena tertawa, "Itu hanya eskrim, kenapa harus ijin untuk makan eskrim milikku. Ah, karena makananku habis aku jadi ingin waffle. Ayo pergi beli satu," kemudian menarik lembut lengan Taehyung dan berjalan beriringan lagi. Mengitari mall sambil berbincang beberapa hal ringan. Terkadang Jungkook tertawa menanggapi, atau bertanya hal yang tidak dia mengerti. Atau sesekali Taehyung menunjuk hal-hal yang baru pertama dia temui dan Jungkook menjelaskan dengan sabar. Taehyung terus mengoceh tentang betapa ini sangat mirip ketika mereka masih kecil, hanya dengan peran yang berbeda. Dan Jungkook hanya tersenyum merespon itu, dia masih berusaha mengingat-ingat kejadian masa kecil mereka.
Mereka berhenti ketika Taehyung dengan semangat menemukan penjual waffle, menarik lengan Jungkook dengan girang dan menunggunya memesan. Dia terperangah memerhatikan bagaimana penjual itu membuat waffle. Tertawa keheranan dan bertepuk tangan riang. Jungkook pikir itu sedikit memalukan karena Kakaknya terlihat kampungan tapi sebenarnya itu terlihat menggemaskan jadi Jungkook tersenyum tipis melihatnya. Ia membayar pesanannya kemudian menerima wafflenya, diliriknya Taehyung yang terkekeh riang. "Mau coba?"
Taehyung mengangguk senang dan menggigitnya besar, "Enak!"
"Tentu saja," Jungkook menggigit wafflenya santai, kemudian berjalan lagi. Diam mendengarkan Taehyung yang mengoceh bercerita banyak hal. Dia tidak banyak merespon, tapi dia mengingat setiap detil cerita yang disampaikan. Sesekali menyuapi Taehyung dengan wafflenya sampai ia menyerah dan menyerahkan wafflenya pada Taehyung. Kakaknya tertawa saja, dan berkata bahwa dia masih sama seperti dulu. Membuang makanan padanya karena Jungkook bukan pemakan besar.
Dia terus mendengarkan sampai matanya menangkap perawakan Namjoon di ujung sana. Tiba-tiba dia merasa menggebu dan senang.
"Hyung, kita kesana –"
"Kemana? Eh –eh –"
Jungkook menarik lengan Taehyung dan berlari. Seingatnya Namjoon masuk ke restoran bibimbap jadi dia akan mencoba masuk kesana. Ini mungkin aneh tapi dia ingin bertemu dengan pria keren itu, hatinya sedang baik dan mungkin dia akan mengenalkan Taehyung padanya. Matanya memindai seisi restoran sampai akhirnya menemukan sosok gagah dan duduk dengan tegap dalam balutan jas kantor mengilat yang rapi dan bersih di meja nomor empat belas di bagian pojok. Ia akhirnya menarik Taehyung dan berlari mendekat, "Paman!"
"Oh? Jungkook –" Namjoon berdiri dan Jihoon datang setelah dari toilet, "Wah, pertemuan besar."
"Jungkook? Buat apa kau disini?" jihoon berkata, dan maniknya membola mendapati Taehyung berada di balik punggung Jungkook. Seketika napasnya tertahan, seakan mengerti dengan tatapan gelisah Taehyung, mengerti dengan wajah terkejut dan getaran kecil Taehyung. Jemarinya dikepalkan erat pada kemeja Jungkook dan dengan cepat Jungkook menoleh padanya. Mengernyit keheranan pada tingkah aneh Kakaknya yang hampir meremukkan waffle hingga jadi sampah. "H-Hyung?"
Sedang Namjoon meneguk ludahnya berat, "J-Jungkook, kupikir –"
"Papa,"
Satu panggilan lirih dari Taehyung membunuh tiga jantung disana. Suasana menjadi canggung dan begitu kaku. Namjoon menahan napasnya menatap ketiga bocah laki-laki dihadapannya dengan raut gelisah dan takut. Jihoon merasa sakit kepala sedangkan Jungkook seperti ditikam seribu pisau tepat pada jantungnya. Satu kata dari Taehyung begitu menghantam kewarasannya sampai ia pikir mungkin ini adalah mimpi atau fantasi belaka. Begitu simpel dan juga membunuh. Satu kata penuh makna yang sanggup membuat seluruh tubuhnya kaku tidak bisa bergerak. Dia menjadi batu di saat ini dan otaknya seketika kosong habis terbakar oleh satu kata lirih barusan. Jungkook benar-benar terdiam seperti dungu dan dia pikir dia bisa mati karena terlalu lama tidak bernapas dan berkedip.
"P-Papa...?" Jungkook memicing, memastikan ini hanya salah dengar. "Papa?"
"J-Jungkook –"
Jungkook memundurkan langkahnya, menjauh dari sentuhan siapapun. Kepalanya terlalu pusing karena kosong dan dia masih bergetar dengan pemikiran anehnya. "Apa maksudnya? Papa? Papa siapa?" ia bertanya, entah pada dirinya, Taehyung, atau pada angin. Tatapannya kosong namun menajam pada tiga titik dihadapannya. Dia butuh penjelasan tapi mungkin tangis Taehyung mampu menjawabnya meski tanpa satu patah kata pun. Matanya bergetar takut, "S-siapa...? Papa siapa yang kau maksud, Kim Taehyung?! Sialan siapa yang kau sebut Papa?! Siapa?!"
Ketika Taehyung ingin mendekat, Jihoon menahan tubuhnya. "Sudahlah, hyung."
"Apa Lee Namjoon –" Jungkook meremas dadanya yang sesak, " –Papa kita?"
.
.
.
.
To Be Continued
.
[edisi: sesi panjang lebar]
Noun; cuap-cuap
...
Yawla. Akhirnya update.
Iya, rencananya mau update pas liburan kemarin. Eh saya sibuk dengan acara pergi-pergi sama temen SMA buat rencana bikin foody vlog gitu. Sampe akhirnya drop dan tipes, berada di rumah sakit lima hari lamanya, yawla. Gak enak banget. Tangan udah gatel gitu kan pengen ngetik lagi, pengen update, dan malah kesampean di hari pertama ngampus. Untungnya masuk sore jadi masih sempet update. Alhamdulillah.
Mungkin cerita ini agak terlalu lama untuk ketemu titik masalahnya ya? padahal bagiku, ketika vkook naena itu udah masuk permasalahannya wkwkwkwk. Dan sekarang... terkuak siapa Papanya! Yeay, seratus buat yang mengira kalau Namjoon adalah Papa Taekook!
Bisa sampai sejauh ini, sungguh sebuah penghargaan. Terima kasih atas dukungan dan kritiknya yang sangat membangun. Maaf kalau fanfik ini lama updatenya karena satu dua hal di real life saya tapi saya usahakan untuk terus lanjut sampai kita bertemu di lembar Ending. Let's fly together!
[copyright-sugantea]
