Namjoon tertawa lebar.

"Ya! Kemari sini, penyihir kecil!"

Sedang pemuda kecil didepannya berlari riang mengapit sapu lidi diantara kaki pendeknya, berimajinasi seolah dia terbang seperti Harry Potter dan para penyihir. Menghindari Namjoon yang berusaha mengejarnya seperti para dementor. Tapi dia tidak peduli, dia tidak lelah meskipun berlari kencang di panas matahari. Meski ia tahu akhirnya akan tertangkap juga. Namjoon sangat hebat. "Argh, lepas!"

"Tidak semudah itu, Hufflepuff nakal."

"Huuuh, aku suka jadi Listerin," balasnya merengek saat Namjoon menggendongnya begitu kuat, memukul bahu Namjoon lemah dan melotot tidak terima. Karena menurutnya Hufflepuff sama sekali bukan tipenya, terlalu banyak tingkah dan menyebalkan. Bibirnya merengut saat Namjoon tertawa ringan lantas mengacak rambutnya halus, "Slytherin, Sayang. Bukan Listerin, itu obat kumur."

Yang kecil mengangguk, "Oh, iya ya. Aku bilang Slytherin kok tadi."

"Kecil-kecil pandai bohong, hm?" lalu Namjoon mencubit perut anak itu main-main, lebih banyak menggelitiki dan mengecup pipinya bertubi-tubi hingga dia terbahak geli. "Nah, karena sudah siang, kita pulang yuk. Mama pasti sudah masak, nih," dia membenarkan gendongannya yang longgar. Berjalan cepat sebab perutnya juga sudah meronta kelaparan. Mengejar dan bermain dengan anak kecil cukup merepotkan, ternyata. Dia tidak biasa meski selalu melakukannya setiap Minggu. "Coba tebak, kira-kira Mama masak apa, ya?"

"Kalau aku benar, Papa kasih apa?"

Namjoon berpikir sambil mengelus rambut anaknya, "Buku?"

"Yaaaah, kenapa buku?" dia merengek, Namjoon mengernyit. "Ya biar pintar, dong. Banyak membaca itu berguna biar jadi cerdas. Kalau pintar nanti sekolahnya gampang, disayang guru dan teman, jadi juara satu di sekolah, banyak penggemar, dan terkenal," ia mencubit pipi anaknya gemas karena dia masih menggerutu lucu tentang dia yang tidak suka membaca karena itu merepotkan untuk melihat banyak sekali huruf diatas kertas. Katanya lebih suka gambar; banyak warna dan bentuk, menarik untuk dilihat jadi Namjoon tertawa lagi dan mencium pipinya, "Baiklah, akan Papa belikan buku gambar dan krayon supaya kau bisa menggambar."

"Wah! Serius?" matanya berbinar namun kemudian meredup, "Kata Mama tidak boleh,"

Namjoon menggigit bibirnya gemas, "Karena Taetae suka mencoret apapun makanya Mama marah. Kalau Taetae janji tidak akan nakal begitu akan Papa belikan," lantas tersenyum lagi saat Taehyung, anaknya, terkesiap dalam gendongannya. Matanya membola senang dan wajahnya merekah seperti bunga di musim semi –cantik. Taehyung bertepuk tangan riang dan memeluk leher Namjoon, mengusak kepalanya manja di leher Namjoon berusaha ber-aegyeo dengan suara manisnya, yang tidak akan bisa Namjoon tolak. "Karena Taetae memberi aegyeo, akan Papa berikan bonus cat air dan kuas!"

"Wah?! Terima kasih, Papa!"

Dan senyum lebar tercipta usai Taehyung mengecup bibirnya sayang.

.


My Mama

..

Kim Taehyung

Jeon Jungkook –role as Kim Jungkook

[Vkook both KookV]

..

Mind to tell the story?

.


Keadaan kembali.

Rasanya baru kemarin ketika Jungkook menjadi anak manis dan banyak bicara. Taehyung kembali menghela ketika menuang susu ke gelas kaca, matanya melirik Jungkook yang memakan roti selai buahnya dalam diam. Tapi dia tahu Jungkook punya pikiran yang bercabang. Dia tidak berani menegur, apalagi mencampuri urusannya. Jadi dengan gerakan sepelan mungkin dia meletakkan susu untuk Jungkook kemudian duduk dihadapannya, sekali lagi, dengan perlahan.

Dia tidak langsung sarapan, masih asyik menatap Jungkook.

Mungkin ini salahnya. Kelepasan memanggil Papa di hadapan adiknya, padahal dia sudah berjanji untuk merahasiakan ini darinya. Dengan maksud melindungi adiknya. Susah payah dia menyembunyikan identitas Papa mereka tapi bodohnya dia pula yang membongkar. Entahlah. Dia hanya reflek memanggilnya begitu, mungkin karena sudah begitu lama, nyaris membuatnya sesak menahan rindu. Dia sayang Papanya, dia rindu Papanya, dan itu terjadi begitu saja. Dia tidak punya pemikiran kalau Jungkook ternyata sudah mengenal Namjoon, sungguh tidak pernah terbayangkan. Rasanya lucu sekali, ketika Taehyung berpikir; bagaimana bisa? Mungkin karena Jihoon? Tapi tidak, Namjoon tidak pernah mengantar jemput Jihoon kecuali jika sekolah mengadakan acara. Jangan bertanya bagaimana Taehyung bisa tahu. Terkadang, dia bisa melakukan hal bodoh apa pun ketika rindu Papanya.

"Aku berangkat," Jungkook bangkit dan mengusap bibirnya yang basah oleh susu. Ia memakai almamater sekolahnya dan menggendong ransel merahnya, matanya masih tidak fokus dan tidak mau bertatap dengan Kakaknya. Taehyung diam saja, juga mengalihkan pandangan. Namun dia melirik ketika Jungkook membungkuk sedikit dan menjadi aneh, "Terima kasih sarapannya."

Kemudian dia pergi, meninggalkan Taehyung yang menghela.

.

Jungkook melangkah pelan, menuruni tangga sambil memasang earphone di telinganya.

Mungkin, mendengar lagu bisa jadi menyenangkan. Dia merasa lelah sekali hari ini padahal dia belum apa-apa. Tubuhnya terasa pegal sekali, matanya berat dan mengantuk. Dia malas sekali pergi sekolah tapi dia tidak ingin kemana-mana atau terkurung di rumah. Entahlah, kepalanya masih pusing untuk berpikir. Tahu-tahu dia menjadi bodoh, tidak bisa melakukan hal dengan fokus. Sudah berkali-kali dia hampir menabrak sesuatu atau tersandung. Kepalanya berat untuk jadi tertunduk, seperti ada yang menariknya kebawah. Dia terlalu malas menatap dunia.

Tapi ketika ia melihat sepatu pantopel mengilat, khas seseorang, dia berhenti.

Cukup lama sampai dia mau mendongak dan bertemu tatap dengan Namjoon.

Pria itu berdiri tegap sejauh lima puluh senti dari mobil mahalnya. Matanya hangat dan wajahnya menjadi lembut, tersenyum tipis dan hendak mendekat sebelum Jungkook menghindar hingga Namjoon pun menghentikan niatnya, matanya terpaku dan ada sedikit rasa kecewa di raut mukanya. Jungkook tidak tahu mengapa tapi dia sedang tidak mood untuk berurusan dengan orang-orang. Termasuk Namjoon, dia bertambah lelah melihatnya. "Jungkook –"

"Mau apa?"

"Dengar dulu, Jungkook. Aku –"

Cepat Jungkook mengalihkan tatapan atau dia bisa saja terjebak. "Tidak ada waktu. Aku sudah sangat terlambat untuk ke sekolah," ujarnya ketus dan beranjak pergi saat ia dengar langkah Namjoon yang tebal kemudian menahannya pergi dengan menggenggam lengannya erat, disana dia bisa merasakan getar aneh di jemari Namjoon yang dingin. Dia menatap jemari panjang itu lama sekali, entahlah, mungkin tidak akan bisa jika yang ditatap adalah mata Namjoon. "Aku bilang, aku sangat terlambat. Pagi ini aku ada ulangan Sejarah,"

"Aku antar."

"Tidak perlu," Jungkook menarik lengannya saat Namjoon lengah. "Tidak ada gunanya lagi."

Lantas dia meninggalkan Namjoon yang masih menahan tangisnya.


Pelajaran olahraga.

Bukan ulangan Sejarah untuk pagi ini. Tadi Jungkook berbohong dengan asal, supaya bisa cepat pergi dari Namjoon. Sudahlah, lagipula pria itu tidak mungkin marah jika dibohongi sekecil ini. Memang peduli apa dia dengannya, ini bukan urusannya. Jungkook juga tidak mau ambil pusing. Dia tidak mau memikirkan apa pun tentang Namjoon. Untuk saat ini, ia ingin diam saja. Terlalu melelahkan untuk dipikirkan. Buat apa jika itu hanya membuatnya muak? Ya, lupakan saja.

"Oi! Jungkook –awas!"

Dan pandangan menjadi gelap.

.

.

Kepalanya terasa pusing ketika cahaya lampu begitu menyilaukan saat ia membuka mata. Dia ingat saat dirinya melamun seperti dungu kemudian pingsan karena hantaman bola basket. Dia tidak tahu dirinya bisa jadi selemah itu tapi mungkin tubuhnya memang sedang tidak baik. Seharian merasa sakit dan lelah meski tidak melakukan apa-apa. sudahlah, lagipula tidur saat pelajaran itu menyenangkan. Dia tidak harus berpikir dan terpaksa melek saat guru berbicara di kelas. Setidaknya saat dia tidur dia ruang kesehatan, dia bebas melakukan apa pun. Dia sedang malas sekali hari ini.

"Kau tidak sarapan pagi ini?"

Jungkook terkejut mendengarnya, reflek mendudukkan diri sampai kepalanya sakit. Ia memijit pelan sembari meringis ngilu. Setelahnya ia menatap Jihoon yang duduk tenang di bangku sebelah ranjangnya, melipat tangannya di dada dan balik menatapnya malas. "Kau pingsan terbentur bola basket, apa kau sedang tidak sehat?"

"Apa pedulimu,"

"Aku yang menggendongmu kemari."

Jungkook berdecih samar, masih muak melihat Jihoon. "Bangsat. Kau pikir ada yang percaya dengan ucapanmu itu? Dasar konyol," ia kemudian terdiam dan membuah wajahnya, malas menatap Jihoon. Wajahnya terlalu memuakkan untuk dilihat. Jihoon adalah satu dari sekian orang yang sangat ingin dia jauhi untuk beberapa hari ke depan. Tapi mungkin ini akan jadi sulit, setelah tadi pagi bertemu Namjoon, rencananya makin gagal ketika ia justru terjebak berdua dengan Jihoon. Situasi yang sangat tidak nyaman dan Jungkook ingin Jihoon pergi. "Sana pergi, anak teladan sepertimu tidak seharusnya membolos kelas. Dan aku sudah sarapan pagi ini jadi tidak usah sok peduli dan pergi saja."

"Seseorang harus disini atau kau bisa saja berbuat hal aneh."

"Heh. Kau pikir apa yang bisa kulakukan disini?" Jungkook mendesis tidak suka, "Aku hanya akan tidur di tempat kecil beraroma kain pel ini. Memang apa yang kau pikirkan tentang hal aneh, oh Lee Jihoon si anak emas tauladan, putra kesayangan guru-guru dan –" ia bernapas panjang, " –pewaris Lee Namjoon."

Seketika mereka terdiam.

Jihoon merubah rautnya menjadi lebih dingin. Matanya dibuat setenang mungkin meskipun sebenarnya dia ingin sekali bangkit dan melempar Jungkook dari lantai tiga ini, atau paling tidak menonjok kepalanya sampai robek dan kehabisan darah. Tapi dia tidak bisa bertindak gegabah, terlalu banyak resiko dan akan merepotkan ketika memilih opsi bertengkar dengan Jungkook.

Dia tahu, hubungan mereka tidak baik. Sangat rusak. Sejak awal mereka tidak pernah akur bahkan untuk terlihat mengobrol hangat atau saling menyapa. Semuanya terjadi begitu alami, seolah mereka tahu bahwa mereka tidak cocok untuk bersama kecuali untuk adu mulut. Tapi Jihoon juga tahu kalau bagaimana pun mereka punya ikatan. Sebesar apa pun benci yang dia punya, dia tidak akan pernah lupa kalau diantara mereka ada satu status yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Seperti dua utas tali yang menjadi pondasi jembatan kayu diantara dua dataran tinggi rapuh, mereka sebenarnya saling berhubungan dan ketika satu saja tali itu terputus, maka hancur lah satu jembatan itu.

"Bagaimana bisa?"

Jungkook yang memulai, suaranya serak. Jihoon menatapnya dalam, meskipun ia hanya bisa memandangi punggungnya. Yang dihadapannya masih enggan bertatap muka. Tapi Jihoon tidak begitu ambil pusing, dia juga malas melihat Jungkook.

Dia tidak langsung menjawab, menurutnya Jungkook masih ingin bertanya lagi. Kalimat barusan terdengar menggantung, seolah dia masih akan memberikan pertanyaan tambahan. Sesuatu yang sedang mengacaukan pikirannya. Jihoon tahu, makanya dia menunggu. Entahlah, mungkin ini satu dua utas tali yang dimaksud itu. Semacam ada ikatan batin yang tipis diantara mereka, ketika Jihoon maupun Jungkook sama-sama bisa merasakan sesuatu dalam diri masing-masing. "Mengapa... kita bersaudara? Sebenarnya kenapa... maksudku... kenapa kita? Kau, aku, Taehyung; kenapa harus kita?"

Takdir menarik dari Tuhan.

"Kehidupan yang tidak adil," Jungkook melanjutkan. "Aku, selama hidupku yang payah ini, selalu menderita seperti kecoa yang ditakdirkan untuk dibunuh manusia karena menjijikkan. Selama ini aku selalu begitu, berakhir menyedihkan. Dan coba lihat ini –" ia terkekeh miris, " –cerita konyol macam apa yang coba Tuhan buat untukku. Dia memberikanku keluarga antah berantah yang menyedihkan. Keluarga yang hancur dan tidak jelas. Terjebak dalam iming-iming saudara dengan orang yang aku benci di hidupku, Lee Jihoon, diantara ribuan orang di dunia, kenapa harus kau..." ia bernapas pendek-pendek sebab merasa sesak di dadanya. " –kenapa harus Lee Namjoon?"

"Bisa kau hilangkan kata 'kenapa'?"

Jungkook menoleh, "Ini sangat konyol. Kau tidak mengerti, seharusnya tidak seperti ini!"

"Lalu seperti apa keluarga yang kau inginkan itu?!" Jihoon membentak, sedikit heran dengan reaksi Jungkook yang nampak terkejut oleh gertaknya barusan. Ia mendengus, "Kau juga satu dari sekian orang yang aku benci di hidupku. Berhenti bertanya kenapa seolah kau pikir ini adalah kutukan. Jika aku adalah saudaramu dan Namjoon, Papaku, adalah Papamu lalu kenapa? Sekarang aku yang bertanya, kenapa? Jika ini adalah keluargamu sebenarnya, lalu kenapa? Kenapa kau masalah dengan itu?" ia bangkit, menyamakan tingginya dengan Jungkook yang menatapnya nyalang. Ia tidak mau kalah dengan tatapan menyebalkan itu. "Kenapa itu salah jika aku dan Ayah adalah bagian dari keluargamu?"

"Karena ini tidak adil!" Jungkook memukul keras ranjangnya sembari berteriak kesal. "Kalian –kau, hidup dengan enak seperti kau adalah putra tunggal Lee Namjoon. Lahir dengan tangis bahagia dan kecupan sayang dari semua orang, juga doa dari semua orang. Kau hidup bersama orangtuamu sampai detik ini, tanpa berusaha sedikit pun sudah bahagia!" ia menatap tajam Jihoon. "Kenapa aku benci? Karena kau merebut kebahagiaanku! Kau pencuri, pendosa, egois! Kau merampas hakku, kau pikir kau siapa sampai Papa harus membesarkanmu? Sialan kau, seharunya Papa itu menghidupi aku. Bukan kau! Seharusnya nama Lee itu ada padaku, seharusnya namaku bukan Kim tapi Lee; Lee Jungkook!"

Jihoon mengernyit tidak percaya, "Apa?"

"Dasar brengsek kecil," Jungkook mendesis. "Seharusnya kami bisa hidup dengan baik. Seharusnya kami tidak tidur didalam kandang yang menurut Taehyung adalah rumah. Seharusnya kami bisa makan enak dan hidup tanpa lilitan hutang yang mencekik leher kami setiap detik, seharusnya kami bisa hidup lebih baik jika kau tidak datang dan mengacaukan segalanya, bangsat! Kau merampas kebahagiaanku dan seenaknya kau berkata kita saudara? Tidak! Tidak pernah sudi aku!" ia meremas sprei ranjangnya kuat, menahan amarahnya meski dia sudah meluapkannya. Dia menarik napas panjang, dia tidak ingin kepalanya sakit lagi. Dia ingin mengakhiri pembicaraan menyebalkan ini, topik yang membuatnya marah dan sakit luar biasa. Tapi dia tidak bisa. "Karena kau ada, kami menderita. Karena ada Lee Jihoon di dunia ini, aku menderita. Karena Jihoon ada, aku tidak bisa hidup dengan baik. Aku harus merangkak bersama hyung payah itu, hidup seperti gembel yang terus dikasihani orang. Tidak bisa makan enak, tidak punya baju bagus, tidak bisa ikut kegiatan sekolah, tidak bisa pergi kemana-mana, selalu takut dengan hutang. Pikiran kami hanya uang, uang, dan uang."

Jungkook mengetatkan rahangnya, "Lee Jihoon, kau merebut apa yang seharusnya kumiliki."

"Kau ini mabuk atau apa?"

"Dasar perempuan jalang," dia mengucapkannya dengan nada dingin dan dalam. Menampar Jihoon yang masih kebingungan dengan gerutuan Jungkook. Tubuhnya menegang kaku, meski tubuhnya seketika panas serasa terbakar. Dia marah tidak terima, "Apa maksudmu?"

Jungkook berdecih, "Hidupku akan baik-baik saja jika perempuan jalang itu tidak datang menggoda Papaku dan akhirnya menjadi bayi yang lahir dengan nama Lee Jihoon –" lantas ungkapnya terputus kala Jihoon menonjok wajahnya, tepat mengenai sudut bibirnya hingga robek dan berdarah kecil. Jungkook cukup terkejut dengan tindakan Jihoon barusan. Dilihatnya dia meraup napas banyak-banyak dan matanya berkaca seperti akan menangis. Jungkook terdiam saat Jihoon menonjoknya lagi, entahlah, tiba-tiba saja dia merasa sakit juga saat melihat mata Jihoon.

"Jangan sembarangan bicara, brengsek."

Tangisnya turun. Tidak ada isak kekanakkan, airmatanya meleleh begitu saja. Jihoon menangis tapi napasnya masih baik-baik saja. "Ibuku bukan perempuan seperti itu. Kau tidak tahu apa pun tentangnya jadi kau tidak berhak bicara seenaknya tentang dia. Kau pikir kau siapa berani berpikir dan mengatainya jalang? Kau hebat? Kau anak Namjoon? Lalu kenapa kalau kau anak Namjoon? Punya hak apa bilang Ibuku adalah perempuan yang menggoda Papamu? Eoh?!" ia mengusak sudut matanya dengan gerakan cepat dan kasar. Lantas berdecih, "Jika bicara tentang jalang, bukankah terlihat jelas dengan perilakunya yang terwariskan olehmu? Kenapa tidak membicarakan Ibumu saja, jika kita bicara tentang siapa yang jalang disini?"

"Apa?"

"Bagaimana jika faktanya Mamamu adalah jalangnya?"

Tidak mungkin. Buktinya, Taehyung lahir lebih dulu. Jihoon tidak punya Kakak. Jika Taehyung adalah anak pertama Namjoon maka jelas Mamanya adalah yang lebih dulu menjadi istri Namjoon. Akan jadi sangat mustahil jika dia menikahi Ibu Jihoon dan punya anak dari Mama Jungkook dan Taehyung, lagipula umurnya terpaut cukup jauh. Jungkook tertawa remeh, "Kau tidak pandai berbohong, Jihoon. Ucapanmu itu konyol dan tidak masuk akal. Jelas Taehyung lahir lebih dulu dibanding kau dan aku. Itu artinya Mamaku yang lebih dulu bersama Namjoon," Jungkook menonjok balik Jihoon. "Ibumu yang kemudian datang seperti penggoda dan merebut semuanya. Dia yang jalang. Itu jelas."

"Kau tahu apa, sih, tentang semua ini?"

Kemudian Jungkook terdiam.

Benar. Dia tidak tahu apa pun.

"Sekarang mungkin kau belum percaya," Jihoon mengusap hidungnya yang berdenyut ngilu usai mendapat bogem dari Jungkook. Dia tidak lupa kalau Jungkook memiliki otot yang luar biasa padat dan berisi. Mendapat satu pukulan saja rasanya lumayan. "Kutunggu sampai waktunya tiba. Dimana kau sudah tahu bagaimana ini bisa terjadi, berawal darimana cerita kutukan ini dimulai. Siapa dalang dari permasalahan konyol ini yang menjadikan kita sialnya bersaudara." Ia berdecih dan melangkah pergi, cukup melelahkan bertengkar dengan Jungkook. Ia sudah muak dan masih tidak percaya Jungkook berani berpikir kotor tentang Ibunya. Sialan dia.

Ia berhenti saat membuka pintu, "Kita lihat, Ibu siapa yang jadi jalangnya Lee Namjoon."


Pagi yang cerah, bersama senyum Taehyung.

Setelah diusir dari dapur karena terus merusuh pacarnya, Jimin terkekeh dan tidak menyerah. Dia mencoba mengambil gambar pemuda manisnya dengan ponselnya dari jauh. Seperti fans perempuan yang gigih memotret idola mereka. Dia terkikik melihat hasilnya, manis sekali, Kim Taehyung akan selalu jadi kue manisnya Jimin. Biarlah dia menyimpannya, untuk dijadikan wallpaper atau sesekali menggoda Taehyung dengan foto-foto itu.

Kemudian, saat suara lonceng khas pintu terbuka menginterupsi, Jimin bersiap diri. Memasukkan ponselnya dan mempersiapkan senyuman manis untuk menyambut pelanggan, namun semuanya sirna tatkala ia mendapatkan sosok tinggi gagah dan berbalut jas mengilat yang wangi. Berdiri tegap menghalangi cahaya dengan raut wajah tenang yang tampan. Sebenarnya Jimin bisa saja terpukau tapi dia sudah muak. Dia tidak ingin bertemu orang ini, setelah sekian lama, kenapa harus sekarang?

"Sudah lama sekali," dia mendekat. "Kau tumbuh dengan baik, Jimin."

Jimin diam saja, tidak suka namanya disebut olehnya.

"Restoranmu bagus. Saat kecil, kau hanya suka makan. Sampai sering diejek gendut oleh teman-teman kemudian berakhir menangis di pelukan Taetae. Setelah belasan tahun berlalu, kau sudah sukses menjadi pengusaha," pria itu tersenyum hangat. "Selamat, Jimin-ah."

"Buat apa kau kemari?"

Pria itu menghilangkan senyumnya, "Aku perlu bertemu Taehyung."

Selanjutnya Jimin terpaku. Tidak lagi. Taehyung tidak boleh bertemu orang ini, atau pemuda lugu itu akan sedih lagi. Jimin tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, selama ini Taehyung sudah cukup menderita sendirian dan sekarang tugasnya adalah melindunginya. Maka dengan gerakan sehalus kepakan merpati, dia menggeser tubuhnya untuk menghalau pandangan pria itu menuju dapur. Dia hanya bisa berbuat sampai disana, Taehyung suka berjalan-jalan dan dia tidak bisa menjamin kedua orang ini tidak bertemu tapi Jimin akan mencoba sebisanya. "Tidak bisa. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, diantara kalian sudah tidak ada satu hal pun yang harus diluruskan jadi sebaiknya Anda pergi sebelum aku benar-benar kehabisan sabar dan bersikap tidak sopan dengan menendang Anda keluar,"

"Kau tidak mengerti," ujarnya kalem. "Aku harus bicara padanya, pada anakku."

Jimin berdecih, "Anakmu? Oh, sejak kapan? Seingatku Ayah Taehyung sudah meninggal." Ujarnya dengan ketus menjawab pria dihadapannya. Dia sungguh muak dan kesal, mendengar ucapan pria yang sungguh menyebalkan. Sudah lama sekali pria ini menghilang kemudian akhirnya dia kembali di saat keadaan sudah mulai membaik dan dengan mudahnya dia menghancurkan itu, sungguh membuat Jimin kesal seharian saat dia tahu Taehyung kembali murung oleh adiknya. "Lagipula, dia Kim Taehyung. Bukan Lee Taehyung, jadi pergilah! Pergi, Lee Namjoon! Dia tidak butuh Anda sebagai siapapun, dia tidak punya Ayah sepertimu yang pergi dan datang seenaknya seperti jelangkung membawa malapetaka! Kenapa kau tidak biarkan dia hidup tenang, hah?" ia mengepalkan tangannya, "Kumohon, sebelum aku benar-benar marah dan berani bersikap tidak sopan, pergilah dan jangan pernah temui Taehyung atau Jungkook. Jangan pernah coba untuk muncul lagi dimana pun, kapan pun."

Namjoon tidak menyerah, "Jimin –"

"Pergi!"

"Jimin?" suara langkah kaki mendekat, keduanya menoleh. Ada Taehyung disana, berjalan kikuk dengan mata yang bergetar ketakutan. Ada rasa ingin mendekat tapi otaknya berkata untuk lari dan pergi, dia tidak tahu harus memilih yang mana. Tetap berjalan dan menghadapi kejutan dari Tuhan atau kabur dengan rasa penyesalan dari tumpukan rindu yang selalu dia pendam. "P-Papa..." ia memainkan jemarinya tidak beraturan, menahan rasa gugup dan gemetar hatinya. Ia menatap takut-takut, ada Namjoon yang memandanginya lembut dan Jimin yang menatapnya tajam seolah dia marah luar biasa.

Dia takut sekali.

.

.

"Hanya sepuluh menit." Jimin mendelik tegas, "Setelah itu, Anda benar-benar harus pergi."

Kemudian Jimin pergi dengan langkah menghentak. Napasnya memburu masih kesal, memindai dua pria tinggi yang merupakan Ayah dan anak; Lee Namjoon dan Kim Taehyung. Dua manusia yang bermain-main dengan cerita konyol yang diciptakan Tuhan hingga mereka terombang-ambing dalam takdir yang tidak jelas akhirnya. Penuh lika-liku menyusahkan dan tidak tertebak. Jimin iba. Dia tidak tega.

"Minum dulu, Taehyung,"

"A-ah.. iya," kemudian dia menggenggam cangkir teh hangatnya dengan jari gemetar, meminumnya dengan perlahan sambil melirik Namjoon malu-malu. Dilihatnya Namjoon jadi semakin tampan dan gagah, tidak jauh berbeda ketika dia kecil. Taehyung yang mengidolakan Papanya yang hangat dan kharismatik, yang tertawa lebar dan rela berguling-guling di tanah saat bermain perang-perangan dengannya, yang menjadi konyol saat menyuapinya, yang menjadi keren saat membantunya menjawab pr sekolah, atau ketika dia mampu membuat sepuluh orang tumbang oleh bogemannya yang kuat karena telah berani menjahili Taehyung. Dia rindu kenangan itu, dia ingat semuanya tapi dia tahu dia tidak seharusnya hidup dalam bayangan masa lalu menyedihkan itu. "Kenapa... a-apa ada sesuatu yang ingin, uhm, Papa katakan padaku?"

Lidahnya gatal ketika ia canggung memanggil Namjoon dengan sebutan apa.

"Taehyung-ah," Namjoon menghela panjang. "Bagaimana kabarmu?"

"A-aku baik. Memang tidak bisa mendapat pekerjaan yang keren sepertimu, atau teman-teman yang lain. Aku hanya jadi pelayan restoran, hidupku miskin, dan aku sudah lama berhenti sekolah. T-Tapi aku tidak menyerah, Papa. Aku tetap menyekolahkan Jungkook sampai sekarang, paling tidak sampai dia berhasil masuk universitas nanti, aku akan bertanggung jawab." Ia mengatakannya dengan menahan sesak di dada. "Selain itu... kami, aku dan Jungkook, baik-baik saja."

Namjoon terdiam. Rautnya tak terbaca tapi yang jelas dia mengetatkan rahangnya.

"Waktu kita tidak banyak," Namjoon menenggak kopi hitamnya cepat. Teringat dengan jadwal rapat di kantornya tiga puluh menit ke depan. dia sudah kebanjiran pesan dari sekretarisnya tentang itu jadi dia pikir dia harus cepat menyelesaikan ini. Dihadapannya ada Taehyung, anak kecilnya yang sudah tumbuh dewasa. Masih cantik dengan binar mata bulatnya, masih manis dengan rambut tebal dan bulu mata panjang nan lebatnya. Jauh dalam hatinya dia rindu, kangen bagaimana mereka dulu tidur bersama, main sepeda, lempar-lempar salju, atau menjadi Harry Potter dan Voldemort. Itu saat yang menyenangkan untuk diingat tapi dia tidak kuasa. Dia merasa gagal sebagai seorang Ayah dan mungkin tidaklah pantas baginya untuk terus mengingat itu. "Sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi,"

Taehyung meremas jemarinya sendiri.

"Kau pasti terkejut, setelah begitu lama kita berpisah, akhirnya bertemu disaat semuanya sudah berbeda. Tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk merubah sesuatu, atau bahkan memperbaikinya. Ini mungkin menyakitkan untukmu," dia meneguk ludahnya sedikit berat, " –untukku juga." Ia mengatakannya dengan tulus, sedikit merasa sesak di dadanya. Ini cukup menyakitkan bagi Namjoon untuk benar-benar putus hubungan dengan anaknya. Ini mungkin terdengar bodoh tapi dia tidak bisa terus berhubungan dengannya. Dia tidak bisa hidup bersama masa lalu, Taehyung adalah lampau, dan Namjoon tidak akan pernah mau untuk kembali. "Tapi kita benar-benar harus berpisah. Awalnya aku bertanya; kenapa kau harus muncul? Kenapa kau harus kembali di hidupku; ini mengacaukan semuanya. Taehyung, kau tidak seharusnya datang dan memporak-porandakan hidupku yang sudah susah payah aku bangun dengan baik," ia menautkan jemari panjangnya. "Apa kau mengerti maksudku?"

Yang ditanya tidak bisa menjawab tapi dia menangis.

"Taetae, dengarkan aku –" maka Namjoon menggengam jemari kurus Taehyung. " –mari berpisah. Kita jalani hidup masing-masing dan jangan pernah bertemu lagi. Terlepas ikatan apa yang kita miliki di masa lalu, lupakan semuanya. Lupakan setiap detil termasuk setiap tawa yang kita lewati saat itu, hapus ingatanmu tentang itu. Mari sama-sama berusaha untuk terus maju, menatap ke depan, dan berhenti menoleh untuk mengingat masa lalu," ia melarikan ibu jarinya untuk mengusap pipi Taehyung yang basah oleh airmatanya. Dia tersenyum, sedikit mirip saat Taehyung menangis dimarahi Mamanya kemudian Namjoon membujuknya keluar kamar. "Jangan menangis, aku percaya Taetae adalah cowok yang kuat. Iya, 'kan? Tapi aku tidak bisa, Sayang. Keadaan sudah jauh berubah, sekali pun kita bertemu kemarin, kuharap itu yang terakhir. Jangan pernah lagi temui aku, atau Jihoon. Hiduplah dengan baik dan jauhi kami, atau kita akan terus tenggelam dalam masa lalu. Aku tidak mau, sangat tidak."

Taehyung semakin kencang terisak, "T-Tapi... aku rindu Papa,"

"Aku juga kangen Hufflepuff kesayanganku," Namjoon mencubit ringan hidung Taehyung. "Tapi kita tidak bisa bertemu di cerita selanjutnya. Mungkin sedikit kejam, dan seperti aku tidak bertanggung jawab atasmu dan Jungkook. Tapi biarlah, toh, jauh sebelum ini terjadi aku sudah gagal menjadi Ayah yang baik untukmu. Jadi, tidakkah ini sudah biasa untukmu?" Namjoon tersenyum, "Aku tidak mau mengingat apa pun tentang dulu; tentang kamu maupun Mamamu. Aku sudah hidup bahagia dengan Jihoon, lantas apa kamu berani mengacaukannya? Apa kamu tega, mengacaukan hidupku? Taetae, kamu boleh merindukan aku karena terkadang aku pun rindu kamu tapi kumohon, jangan muncul dihadapanku apalagi di hidupku, jangan pernah," ia melanjutkan, "Aku tidak mau."

"Papa..." Taehyung merengek, "Aku ingin bersamamu,"

"Tidak bisa,"

Kemudian Taehyung menangis hebat, membiarkan Namjoon mengelus rambutnya pelan dan teratur. Sentuhannya terasa hangat sekali, jadi dia nyaman dengan itu. Sedikit mampu membayar rasa sakit yang diberikan Namjoon untuknya, satu permintaan yang menghujam jantungnya, ketika Papanya meminta untuk tidak bertemu selamanya. Ini sangat menyakitkan untuknya, bagaimana dia bisa menahan rindu seumur hidupnya? Dia tidak bisa, dan tidak mau. Tapi dia tidak punya pilihan. "Sudahlah, Taetae. Jangan menangis seperti anak cengeng. Sekarang, karena kau sudah dewasa, hiduplah seperti laki-laki jantan. Itu bagus kau bisa merawat Jungkook sampai sebesar ini," ia tersenyum simpul. "Sekarang, mari teruskan hidup kita masing-masing. Jangan pernah mencari aku atau Jihoon. Ini semua demi kita juga, Taetae. Kau mungkin tidak mengerti, tapi akan sangat salah jika kita bersatu lagi. Kau akan mengerti pada waktunya, sekarang kau harus melakukannya. Suka atau tidak."

Taehyung menggeleng kuat, "Papa –"

"Jangan bandel, matahariku." Namjoon menangkup wajah Taehyung dan tersenyum. "Pikirkan baik-baik. Apakah itu bagus jika kita bersama; tidak. Kita akan hancur jika bersatu, seperti cermin yang sudah retak, tidak ada gunanya menyatukan kembali. Sama seperti piring yang pecah, tidak ada gunanya menyatukannya kembali. Hubungan kita yang sudah buruk ini, jangan kau keruhkan lagi. Cukup sampai disini, dan lupakan. Seperti ujian; datang, kerjakan, lupakan." Ia mengelap sudut mata Taehyung. "Jangan menjadikan ini sebuah ingatan dalam kepalamu. Hapus kenangan kita, dan jalanlah di takdir Tuhan masing-masing. Mari berpisah, selamanya. Demi aku, demi Mama, dan demi Jungkook –"

Namjoon menekan sudut bibir Taehyung, " –mau kan?"

Dengan berat, Taehyung menggangguk.

"Pintar, kau diijinkan jadi Slytherin." kemudian tertawa dengan lelucon garing itu. Dulu Taehyung menyukai Harry Potter dan terus berkata ingin jadi seorang Slytherin yang keren. Namun menurutnya, hati yang lembut dan binar memesona dalam diri Taehyung membuatnya terus berkata Taehyung sangat cocok menjadi Hufflepuff. "Ah, tapi aku ingin meminta satu hal."

Taehyung mendongak, "Apa?"

"Ijinkan aku terus berhubungan dengan Jungkook."

Tidak adil. Kata itu terus terngiang di kepala Taehyung. Hatinya remuk sekali lagi, mendengar permintaan kurang ajar dari Namjoon membuatnya sakit kepala. Bagaimana bisa dia begitu kejam meminta sesuatu sedang dirinya bahkan dipaksa menerima sesuatu yang tidak dia inginkan. Apa sulitnya hidup bersama dan membangun satu keluarga dari awal? Dia hanya ingin kembali pada kebahagiaannya, dia rindu Papanya, namun dia dihempas begitu saja seperti lalat. Dan ketika ia pasrah menerima, Papanya malah meminta untuk terus berhubungan dengan adiknya. Apa ini? Kenapa hanya Jungkook, kenapa hanya adiknya yang Namjoon ingin temui, kenapa dirinya justru dibuang seperti sampah? Kenapa seperti ini, setelah dia dengan berat hati melepas apa yang ia miliki. "K-Kenapa –? Kenapa hanya dia –Jungkook, kenapa hanya dia? Kenapa Papa justru tidak ingin bertemu denganku, memohon untuk berpisah dan lain-lain sedangkan Papa ingin terus berhubungan dengan Jungkook? Kenapa –" ia mengusap sudut matanya yang berkedut marah. " tidak adil. Pilih kasih."

"Hei, Taetae Kakak yang baik, 'kan?" Namjoon menggenggam jemari Taehyung. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Kau punya kenangan denganku tapi Jungkook tidak. Aku memang sudah cukup brengsek untuk hadir diantara kalian tapi beri aku waktu, sedikit saja, untuk memberi Jungkook kesempatan merasakan kasih sayang seorang Ayah," dia tersenyum hangat, "Karena Jungkook belum pernah diasuh orangtua, bukan? Kasihanilah dia, dia tidak pernah bahagia seperti anak-anak lain dengan orangtuanya. Aku ingin meminta waktu, untuk menjadi Ayah paling tidak hanya sebentar untuknya, untuk anakku."

Taehyung menggeleng, "Tidak –"

"Taehyung, dewasalah!" Namjoon menggeram kesal. Dia tidak punya waktu. "Jangan jadi egois! Aku hanya ingin menebus dosaku sedikit saja, dengan membahagiakan Jungkook meski hanya sesaat. Meski hanya mengenalkan sosok Ayah padanya sebentar. Kita sudah melewati banyak hal bersama jadi kenapa kau terus egois untuk mengekang adikmu? Apa ini yang dilakukan seorang Kakak? Taehyung, coba kau pikir ini baik-baik, saat aku terus berhubungan dengannya, tidakkah itu membuatnya sedikit bahagia karena tahu Ayahnya disini? Dia bisa bergantung padaku, tidak perlu lagi merepotkanmu. Ini simbiosis mutualisme diantara kita. Pikirkan itu baik-baik," ia menghela dan bersiap pergi. "Aku ingin memberi kenangan manis juga untuknya. Kau dan Jihoon, sudah cukup mendapatkan kasih sayang seorang Ayah dariku tapi Jungkook sama sekali tidak. Kalau kau adalah Kakak yang baik, cobalah mengerti kalau ini jalan terbaik. Ini permintaan kecil jadi jangan kekanakkan,"

"Tapi aku juga ingin terus berhubungan denganmu –"

Namjoon bangkit dengan marah yang ditahan, "Tidak bisa, Tae. Sudahlah, kita tidak punya waktu."

"Papa! Tidak mau –Papa!" Taehyung bangkit dan berusaha mengejar Namjoon yang berlari memasuki mobil mengilatnya dan langsung tancap gas pergi melesat ke kantornya. Taehyung menangis dipelukan Jimin yang menahannya pergi lebih jauh, meluapkan semua emosi yang dipendamnya begitu lama disana, bersama dengan gumaman penenang dari Jimin yang terdengar begitu syahdu. Membiarkan dirinya mungkin remuk oleh dekapan erat darinya yang begitu menyesakkan seiring dengan hatinya yang tersayat pilu. Dia tidak mau hidup seperti ini; tapi dia tidak punya pilihan. Dia marah tapi tidak bisa mengungkapnya. Dia sedih tapi mungkin dia tidak pantas.

Dia ingin Papa tapi dia sudah dibuang.


"Wow, tidak kusangka kau sadism."

Sehun terkekeh ringan, meminum sampanye miliknya dengan tenang sembari memindai Jungkook yang berjalan dengan gontai. Matanya berat dan tubuhnya lelah. Dia terduduk setelah mengerang, seperti tulangnya remuk semua tanpa sisa. "Pelanggan semalam berkata, kau sangat kasar. Beruntungnya dia itu masokis yang sangat oke dengan perlakuanmu. Aku tidak mendengar detilnya tapi yang kuingat kau benar-benar panas dan kasar, bung, kalau tidak hati-hati, kau bisa dituntut." Sehun menggerus kentang goreng yang tinggal separuh porsi. "Tidak semua wanita suka dikasari, dan biasanya orang di kelas Platinum tidak suka memiliki bekas di tubuhnya. Kau tahu man, wanita karir tetap mementingkan penampilan meski sebenarnya mereka lemah di ranjang,"

"Hei, aku bicara denganmu –" Sehun menarik pipi Jungkook, " –dengar tidak sih?!"

"Argh, iya aku dengar! Sudahlah jangan bicara terus. Aku sedang tidak mood."

Kemudian Sehun terdiam menatap Jungkook yang memejamkan matanya. Terlihat lelah sekali, dia juga jadi lebih pendiam dibanding biasa. Meskipun aslinya Jungkook sudah pendiam. Tapi belakangan dia tidak fokus melakukan apa pun, atau kedapatan sering melamun. Beberapa pelanggan mengeluh ketika Jungkook tiba-tiba menarik diri dan pergi begitu saja ditengah kegiatan intim mereka. Itu cukup aneh untuk seseorang sepertinya yang memiliki ambisi pada rasa puas, bebas, dan uang. "Kau ada masalah, ya? Cerita saja, aku tidak memaksa, sih. Terserah kau juga."

"Entahlah," Jungkook menghela kasar. "Rasanya aku mau marah. Tapi malas."

"Marah kenapa?"

Jungkook tak langsung menyahut. Matanya dibuka dan menatap langit-langit, menerawang apa yang terjadi padanya belakangan ini. Hal yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih berhari-hari, juga membuat hidupnya tidak tenang. Sebuah cerita memusingkan tentang keluarga anehnya yang sialnya terikat pada orang yang tidak dia duga. Sampai ia melihat asap rokok di sudut pandangnya, juga dadanya yang seketika sesak oleh itu, dia tersadar dan menatap Sehun. Asyik menghisap rokoknya dengan tenang, seolah dia itu bos besar atau apa. "Hidupku seperti mainan, layaknya buku dongeng yang mengada-ada. Terlalu konyol untuk dipercaya tapi –nyata." Ia mendengus sebal ketika Sehun meniupkan asap rokok tepat ke wajahnya, ia terbatuk keras. "Aku dan Jihoon –bersaudara. Entah bagaimana bisa Namjoon adalah Ayahku, dan Namjoon adalah Ayah Jihoon jadi kesimpulannya kami ini bersaudara. Bisa kau bayangkan itu?! Konyol, bukan? Bagaimana bisa, orang seperti dia, kami, jadi saudara?! Bangsat."

"Ah, ya. Aku sudah dengar itu,"

"Tahu darimana?"

Sehun menyeringai, "Aku selalu tahu tentangmu, Kelinci." Kemudian meraih gelas tingginya yang berisi cairan hijau bening yang cantik. Aromanya manis dan menggelitik, ada busa dipinggir gelas yang memperindah visualnya. Sehun mengerling pada Jungkook dan menyodorkan gelasnya, tersenyum puas kala Jungkook menerimanya dengan sukarela. "Minumlah dan rileks. Setelah ini kau ada wanita usia dua puluh lima pemilik saham SM grup jadi kau harus kosongkan pikiran amburadulmu itu. Hal kecil itu bisa mengganggu kinerjamu, ingat? Aku tidak mau dengar keluhan apa pun. Kau disini untuk bekerja, bukan sebagai teman yang kuajak minum-minum gratis. Jadi bersikaplah profesional,"

Lama Jungkook terdiam, "Baiklah."

.

.

Taehyung baru selesai menggosok gigi dan mencuci muka.

Baru saja merasa segar oleh guyuran air ketika ia mendapati Jungkook pulang dengan langkah gontai yang berat, kepalanya menunduk, dan seperti sempoyongan. Ini bukan yang pertama tapi Taehyung tetap belum terbiasa melihatnya mabuk berat seperti ini. Pasti karena kejadian waktu itu, yang mana membuat adiknya kembali mabuk dan pulang malam. Dia tidak mengerti sampai kapan cerita menyedihkan ini berakhir. Dia sudah muak.

"Ganti baju dulu, ya." Taehyung membopong Jungkook yang lemas. Mendudukkan tubuh besar adiknya di tepi ranjang lantas mencari kaus tipis dan celana pendek di dalam lemari, berniat memakaikan baju ganti untuk adiknya yang sudah kumal. Kalau saja Jungkook sedang sadar, Taehyung bisa saja terkekeh. Mendapati adiknya diam pasrah saat dipakaikan baju, persis seperti ketika mereka kecil dan Jungkook terus tidak bisa memakai baju sendiri. "Nah, tidurlah. Sudah larut, besok sekolah."

Tadinya dia sudah akan pergi, kalau Jungkook tidak menariknya.

Menahan tengkuk hangat Taehyung lantas mengurung bibirnya kuat-kuat. Bermain lihai dengan bibir Kakaknya seolah dia sedang mengulum permen atau apa. Tidak segan-segan menyapu seluruh bagian mulut Taehyung yang panas dan bergetar, dan sesekali menggigitnya hingga berdarah. Namun dia hanya tersenyum miring dan malah menyesap darah itu, sedikit membuatnya lebih terangsang kala Taehyung mengerang oleh perbuatannya. Lantas dia sudah kepalang hasrat saat Taehyung malah makin kencang mendesah padahal dia hanya mengelus perut dan punggungnya, terus menggeliat dan berusaha melepas ciumannya ketika dadanya dipermainkan begitu lambat. Jungkook tidak menyangka Kakaknya bisa jadi sangat lemah dan binal ketika disentuh begitu sederhana. Dia jadi terpikir untuk merusaknya sampai hancur dan membuat Taehyung memohon padanya untuk disetubuhi.

Terdengar menarik.

Dan itu berhasil. Ketika Jungkook sengaja menggoda Kakaknya sampai begitu nafsu dan sengaja mengulur waktu, Taehyung berteriak dengan nelangsa memohon. Berkata dengan mata bulatnya yang rusak dan berair, wajah memerah pekat, dan bibir yang basah oleh liur, juga keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Mengangkang lebar dengan miliknya yang mengacung hebat dan tangannya yang memainkan dadanya sendiri, memanggil Jungkook dan terus memohon. Berteriak dengan suara seraknya yang mendayu, kala Jungkook terus memukulnya begitu kasar hingga dirinya lupa dunia. Atau ketika Jungkook membuatnya menungging dan semakin liar. Seketika merusak akal sehat Taehyung untuk terus meminta, memohon, berharap lebih, lebih, lebih lagi.

Tidak peduli sudah berapa kali dia meledak.

"H –haaah.. J-Jungkook –ah,"

Itu suara Taehyung, saat Jungkook meremas pinggulnya kuat dan menaik turunkan tubuhnya diatas pangkuan adiknya, kakinya sengaja melebarkan kaki Taehyung dan sesekali meremas milik Kakaknya atau memainkan dada itu. Posisi Taehyung membelakangi, hingga Jungkook hanya bisa mencium leher Kakaknya dengan kasar. Sedang Taehyung sudah sangat tidak kuat, ketika ia pikir Jungkook masuk terlalu dalam, bisa jadi merusak lubangnya hingga dirinya benar-benar kehabisan akal hingga matanya nyaris terbalik saking nikmat. Tubuhnya bergetar kala tangan lebar Jungkook meremas bokongnya dan beberapa jemarinya masuk, lantas satu hentakan liar membuatnya meledak lagi.

"J-Jungkook –ngghh.."

Selanjutnya Jungkook tersenyum miring, mengambil satu obat di laci nakasnya. Dengan cepat memberikannya pada Taehyung melalui jarum suntik saat Taehyung masih mengatur napasnya, terbaring lemah dan mengenaskan dengan tubuh yang kotor dan rusak. Jungkook tersenyum puas, belum pernah dia melihat Taehyung jadi secantik ini. Benar-benar puas dalam hatinya berdoa, kala Taehyung bahkan masih kuat saat Jungkook selesai dan kembali menciumnya, Jungkook berseru senang bahwa Kakaknya sangat cocok untuknya. "Tidurlah, Taehyung."

"J-Jungkook –"

Matanya terasa lebih berat, Jungkook mengecup sudut mata Kakaknya. "Good night."


[Ayah ingin bertemu denganmu.

Pukul empat, di cafe De'Lux.]

Dengan malas separuh terbakar, Jungkook mematikan ponselnya. Berusaha mengabaikan pesan yang baru saja dia baca. Datang dari Jihoon (yang entah bagaimana dia bisa punya nomor Jungkook) yang bahkan hanya berjarak kurang dari lima meter tempatnya duduk. Bertingkah kalem dengan membaca buku dan mendengar musik melalui earphone. Jungkook berdecih sama memandanginya dari jauh, terlihat begitu naif dan pengecut. "Buat apa dia begitu, ha? Aneh."

"Bicara sendiri?"

"Eoh –Seokmin," Jungkook tersenyum simpul. Menerima kala Seokmin mendekat untuk duduk di teritorialnya mengajak bicara. "Tidak ke kantin?" sebab biasanya ia akan menemukan teman baiknya itu menenteng kantung plastik berisi macam-macam snack atau susu kotak. Melihatnya tidak membawa apapun berhubungan dengan makanan agak membuatnya bingung. Bagai jantung dan otak, agak aneh melihat Seokmin tidak memegang makanan. "Tidak usah sok diet, lah,"

Lama Seokmin menatap mata Jungkook, "Karena kau tidak makan denganku lagi."

Kemudian Jungkook terpaku.

Antara ingin tertawa karena ucapan Seokmin yang konyol atau menangis karena tersentuh. Dulu, ketika semua kebodohan Jungkook dimulai, mereka sering pergi berdua. Berawal dari Seokmin yang terus memintanya ditemani pergi ke kantin, dan tabiat itu tak kunjung hilang. Anggota bertambah satu oleh kehadiran Mingyu yang biasanya sudah bawa bekal sendiri. Tapi mereka akan selalu menghabiskan waktu istirahat siang bersama, dengan Mingyu dan Seokmin yang selalu memaksa Jungkook makan makanan mereka. Itu agak membuatnya rindu, ketika tiba-tiba bayangan tawa lebar Seokmin dan ceramah menenangkan dari Mingyu menggema dalam pikirannya. Ia sadar kalau ia sudah terlalu jauh dari sahabat baiknya, dan ia tidak tahu kalau presensinya bahkan dianggap. Ia tidak tahu harus merasa senang atau repot karenanya. "Kau tidak perlu menungguku untuk makan, 'kan? Ada aku atau tidak, itu akan jadi sama saja. Lagipula kan Mingyu selalu bersamamu, maaf ya, sudah lama sekali kita tidak kumpul bareng."

"Memang ada urusan apa, sih." Seokmin merengut, "Kulihat kamu jadi dekat dengan Sehun. Bukannya apa, tapi aku agak tidak suka melihatnya. Jangan tersinggung, kau tahu sendiri bagaimana kelakukannya di sekolah. Dia itu tukang berantem dan memanfaatkan kuasanya untuk menjadi superior. Dia agak sombong, aku tidak suka dengan itu," ia menghela panjang. Mengalihkan pandangan ke luar jendela, seketika merasa sedih karena Jungkook jadi menjauh darinya. Dia rindu sifat menggemaskan dari teman baiknya itu, dimana dia akan bertingkah cuek meski sebenarnya sangat peduli dan baik. "Makan siang terasa berbeda tanpamu, sungguh. Aku jadi tidak bisa beli banyak makanan dan susu karena aku tidak akan bisa menghabiskannya sendirian, biasanya 'kan kamu yang merampasnya dariku," lantas ia tersenyum kala melihat Jungkook terkekeh ringan. "Mingyu juga kangen. Dia masih sering bawa dua porsi bekal makan siang karena dia pikir suatu saat kamu akan bergabung lagi. Dia jadi lebih diam, dan tidak nafsu makan. Dia bilang rasanya aneh kalau tidak ada Jungkook yang biasanya dia ceramahi tentang pola makan yang baik,"

Seokmin tersenyum lebih lebar, "Kami kangen kau,"

"Hei..."

"Tapi hanya aku yang bisa bilang," Seokmin mengulum bibirnya. "Mingyu tidak berani."

Sejenak, dia merasa sedih kehilangan teman baiknya.

"Kapan-kapan, makan bareng lagi, ya." ujar Seokmin dengan nada lirih yang mendayu. Terdengar begitu pasrah seolah tahu sebenarnya mustahil untuk Jungkook kembali bersama mereka. Seolah tahu bahwa hanya kemungkinan kecil bagi mereka kumpul bersama lagi. Jungkook diam melihatnya, agak miris mendengar suara menyedihkan dari Seokmin. Bayang-bayang wajah Mingyu menghantui benaknya, membayangkan dia benar-benar merengut sedih. Lama dia melamun sampai akhirnya Seokmin mengetuk meja kayunya dan tersenyum, beranjak pergi. "Mingyu rindu sekali padamu. Sebenarnya, dia suka menunggumu sepulang sekolah tapi tidak berani mendekat. Dia memerhatikan dari jauh, tidak akan punya nyali untuk sekadar menyapa," ia mengerling, "Kau tahu lah, Mingyu seperti apa."

Selanjutnya Seokmin benar-benar bangkit. "T-Tunggu, Seokmin –"

"Ya?"

"Sampaikan salamku padanya," Jungkook meremas jemarinya sendiri, "Aku... aku juga rindu padanya. Kalau tidak ada dia mungkin aku akan sembelit karena tidak makan sayur. Aku rindu pada ceramah membosankannya, rindu pada tatapan tajamnya, rindu pada suara beratnya, bahkan aku rindu pada lelucon garingnya. Aku kangen dia... kau juga, Seokmin-ah." Ia menghembuskan napasnya sedikit lebih berat setara dengan pundaknya yang terasa berat dan kaku. "Lain kali, aku janji, kita akan makan bersama dan bercanda. Entah kapan, tapi aku janji."

Seokmin tersenyum. "Mingyu akan senang, ah, seharusnya aku rekam suaramu tadi."


Jungkook melangkah malas.

Kelasnya berakhir larut sekali. Dia sudah kepayahan dan ingin cepat tidur. Matanya terasa begitu berat dan kepalanya masih berputar oleh rumus matematika yang sangat acak dalam ingatannya. Dia tidak suka menghitung, apalagi matematika. Tapi dia harus dapat nilai bagus kalau ingin lulus, jadi Jungkook harus ikut kelas tambahan atau dia akan gagal. Sadar dia sudah nyaris oleng, Jungkook menepuk pipinya dan mencubit sudut matanya supaya tetap terjaga. Akan jadi konyol kalau dia oleng ke tengah jalan dan tertabrak mobil. Ha ha.

Ah, sepatu pantopel itu lagi.

"Sudah kuduga," Jungkook menatap mata pria tinggi itu. "Kau pasti kabur."

"Kelasku baru saja berakhir."

Namjoon mendekat dengan raut wajah yang kusut, seperti ada banyak sekali beban yang siap meruntuhkan seluruh aset kharismatik di wajahnya yang halus. Jungkook harus akui bahwa Namjoon sangat tidak cocok dengan masalah, wajahnya jadi sedikit rusak dan dia kecewa melihat sisi rapuh dari pria tangguh itu. Ada iba dalam sudut hatinya yang tergerak untuk mengelus pipi lembut itu kemudian memeluknya hangat. Tapi Jungkook tidak bisa. "Lalu kau tidak mengabariku, dan bahkan tidak berusaha datang ke De'Lux. Aku menunggu seperti orang bodoh, meskipun aku harus bersyukur untuk bertemu denganmu disini." Ia hendak menyentuh pundak Jungkook namun ditepisnya, "Bagaimana sekolahmu? Apakah melelahkan mengikuti kelas tambahan? Apa kau sudah makan?"

"Kenapa Anda peduli tentang itu?"

"Mau makan nasi atau ramyun?"

Jungkook memutar bola matanya pongah. "Pulang sana, aku mau cepat tidur."

"Atau eskrim?"

"Aku tidak bisa bedakan apakah Anda tengah bertanya atau sedang mabuk?"

Pertanyaan itu sedikit menusuk relung dada Namjoon. Sadar telah menjadi bodoh, Namjoon menghela dan mencoba jadi lebih tenang. Mengatur respirasinya hingga ia lebih rileks dan kembali menatap Jungkook yang masih memandangnya dengan tatapan heran bercampur kesal. Dia tahu Jungkook pasti marah padanya, setelah fakta menyedihkan yang disembunyikan bertahun-tahun, mustahil jika anak semuda dia akan diam saja. Tapi Namjoon tidak akan pernah menyerah, paling tidak dia harus menebus dosanya walau hanya secuil, tak lebih luas dari permukaan kertas A5. "Aku khawatir padamu, Jungkook-ah. Benar-benar peduli. Ini sudah cukup larut bagimu pulang sendirian ke rumah. Aku antar, ya?"

"Kenapa itu jadi penting?"

"Jungkook –"

"Apa Anda sadar –" Jungkook menahan napasnya sesaat, " –sudah tidak ada gunanya. Sudah sangat lama sejak kau meninggalkan kami hingga aku sudah punya akal untuk berpikir rasional bahwa ini sudah sangat terlambat bagimu memohon ampun dengan berbagai cara." Ia meneguk ludahnya sedikit berat kala mata Namjoon berubah, jadi lebih redup dan ada gurat kecewa disana. Mungkin ini terdengar begitu kurang ajar tapi, entahlah, Jungkook begitu marah melihat Namjoon di hadapannya. Dia kesal tatkala kehadiran Namjoon masih ada. Dia sebal karena Namjoon masih gigih berusaha mendekatinya dengan seribu satu alasan. Dan sesungguhnya dia benci melihat Namjoon kehilangan gagahnya dengan menjadi rapuh oleh kata-kata menusuknya saat menolak semua sikap murah hati Namjoon. Dia adalah penyebab Namjoon menjadi selemah kupu-kupu dan dia benci dengan fakta itu. "Aku tidak perlu lagi. Tidak perlu siapa-siapa. Semuanya akan berakhir sama, aku dan Taehyung, Anda dan Jihoon, akan terus hidup di jalan masing-masing. Jadi tidak ada gunanya Anda berusaha untuk berbuat baik padaku, menawarkan semua kebajikan dan fasilitas, memberikan uluran tangan dan senyum hangat, serta payung yang menjadi pelindung; tidak ada gunanya."

Jungkook menatap mata Namjoon yang bergetar, "Bagiku, kau adalah orang jahat."

Jika ditelaah lebih jauh, sesungguhnya itu benar. Bahwa Namjoon tak lebih dari seorang penjahat yang harus sirna dari muka bumi. Telah sangat kurang ajar untuk pergi begitu jauh dari keluarga kecilnya, meninggalkan satu cerita pahit yang harus mereka telan seperti obat, begitu lama hingga Namjoon bahkan tidak kuasa untuk menghitung. Bahkan membayangkannya saja dia tidak berani. Dia merasa sangat berdosa atas apa yang dilakukannya, dan dia selalu terhantui olehnya.

"Saat ini, mau Anda bicara benar sekali pun," Jungkook mendengus, "Bagiku kau berbohong."

"Anda tidak lebih dari orang yang kejam."

"Dan kupikir tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Setelah sekian lama kita mengenal sejauh ini, dengan fakta konyol bahwa kau adalah Ayahku, bagiku ini adalah kutukan. Tidak ada yang perlu diluruskan lagi jika bahkan dahulu kau meninggalkan kami." Jungkook mengucapkannya dengan menggebu seolah dadanya terasa begitu sesak oleh amarah. Dia merasa sangat kesal dan pening terasa begitu menusuk di ubun-ubunnya hingga ia nyaris gila. Pemandangan Namjoon yang memupuk airmata di kelopak tegasnya membuat Jungkook semakin lemah. "Biar saja ini mengalir. Aku tidak bisa mengatakan aku membencimu sebab aku memang tidak bisa. Kau sangat baik padaku, kau perhatian padaku, kau lembut, kau hangat, dan kau begitu mengayomi aku seperti Ayahku sendiri," kemudian ia tertawa setelah sadar tangisnya sudah lepas. " –ah, aku sampai lupa kau adalah Ayahku. Ya, selama ini aku terus bertanya mengapa aku dengan bodohnya terus kepikiran tentangmu. Mengapa kau dengan mudahnya mengganggu fokusku dengan segala wibawa dan pesonamu, dan aku mulai berpikir bahwa aku sudah gila saat aku berani berdebar untukmu."

Lantas Namjoon diam-diam mendekat.

Sekuat tenaga ditahan tangisnya. Masih memindai Jungkook yang menunduk dan terisak memilukan. Jauh dalam benaknya teringat bagaimana Taehyung dulu menangis, persis bagaimana perawakan Jungkook saat ini. Nampak begitu lemah dan mungil, rapuh dan ringkih, membuatnya tergerak ingin memeluknya dengan lembut hingga sosoknya terdiam dan tenang. Tapi dia tahu dia tidak bisa berbuat seperti itu seenaknya. Dia harus menahan diri atau Jungkook akan benar-benar lari darinya. Maka dia hanya menatapi bagaimana Jungkook terus berceloteh dalam tangisnya. "Aku tidak mengerti –aku sangat bingung, bagaimana, bagaimana bisa –kau, aish.. kenapa aku jadi cengeng begini." Kemudian dia mengusap matanya meski airmatanya terus mengalir deras, "Maksudku, Paman –aku, aku tidak tahu harus bagaimana menyikapimu. Aku tidak tahu bagaimana aku harus memanggilmu; apakah Namjoon, atau Paman –atau Ayah? Papa? Tapi aku tidak bisa, lidahku kaku untuk mengatakannya. Bahkan rasanya aneh melihat dan bertemu denganmu setelah tahu fakta bahwa kau adalah Ayahku."

"Tidak apa, Jungkook." Namjoon melarikan jemarinya mengelus kepala anaknya. "Jika menangis itu adalah satu-satunya yang bisa kau lakukan maka menangislah. Tidak semua laki-laki harus menahan sedihnya. Kau boleh menangis bahkan jika itu akan nampak seperti anak kecil," ia tersenyum kala Jungkook terisak dengan suara deguk menggemaskan. "Aku akan mendengar, bahkan untuk semua umpatanmu tentangku. Maki dan hina aku yang telah kurang ajar ini, Jungkook. Ayah bodoh yang tidak tahu diri ini, silahkan kau marahi aku sesuka hati. Pukul aku jika itu membuatmu lega –"

Namun ucapannya terhenti ketika Jungkook lantas memeluknya.

Dia terdiam dengan mata mengerjap. Separuh tidak menyangka dengan tindakan tiba-tiba dari Jungkook yang tidak dibayangkannya. Ia telah berpikir mungkin Jungkook akan meludahinya dan mencacinya sampai mampus hingga mereka tidak bisa bertemu lagi oleh rasa benci dalam diri Jungkook. Namun ia dibuat bingung sekaligus terkejut oleh pelukan erat darinya, yang mana membuatnya terpaku tidak tahu harus melakukan apa selain membalas dekapan manis itu. Mengelus punggung yang bergetar oleh tangis yang tak jua mereda (bahkan semakin kencang) upaya menghantarkan ketenangan bagi yang lebih muda. Menggumamkan kalimat penenang dengan suara beratnya yang sedikit serak dan lembut, dengan harapan Jungkook mendengar dan berhenti menangis.

.

.

Jungkook terduduk setelah tangisnya berhenti.

Kepalanya mendongak ketika Namjoon sampai mengulurkan sekaleng kopi dingin padanya, tersenyum simpul dan membiarkan pria gagah itu duduk disampingnya. Lantas ia meminum kopinya diam, respirasinya masih belum begitu stabil untuk bicara banyak. Ia menunggu Namjoon untuk bicara, karena dia sudah kepalang penat dan ingin segera tidur.

"Tidak ada susu," kata Namjoon usai menikmati kopinya. "Jadi aku belikan kopi."

Jungkook mengangguk pelan, "Tidak ada masalah dengan itu."

"Jungkook-ah," bahkan cara Namjoon memanggil namanya terdengar begitu kharismatik. Membuat empunya nama berdebar kurang ajar oleh panggilan sederhana itu. Jungkook menahan napasnya kepayahan, entah kenapa dia bisa begini kalut. Dia tidak mengerti pula bagaimana Namjoon mampu menjadikannya begitu dungu untuk merespon tindakannya. Namun ia hanya bisa diam menunggu kelanjutan ucapan Namjoon. "Mungkin ini sulit untukmu tapi... maafkan aku," kemudian ada desah menyedihkan dalam napasnya untuk melanjutkan, "Aku tidak tahu, bahkan aku tidak kepikiran bahwa kau akan memaafkan aku tapi sungguh... aku minta maaf,"

Lama Jungkook diam dan meremas kaleng kopinya, "Untuk?"

"Pergi dan menelantarkan kalian."

Selanjutnya diam mengalun, menjadi musik usai Namjoon mengakui dosanya masa dulu. Ada Namjoon yang memerhatikan ekspresi tak terbaca dari Jungkook yang menatap jalanan kosong dan meremas kaleng kopinya berantakan. Ia menghela kemudian mengelus rambut Jungkook yang halus dan beraroma vanilla, teringat dulu Taehyung juga menyukai esens vanilla pada setiap barangnya. "Maaf telah menciptakan cerita konyol yang menyakitkan untukmu. Aku memang bodoh untuk kabur dan bersikap tidak peduli pada kalian. Tujuh belas tahun menghilang bagai pengecut dan akhirnya bertemu ketika takdir sudah bermain sampai sejauh ini," ia mengusak rambut Jungkook. "Menyedihkan, ya?"

"Tapi Jungkook –" ia melarikan jemari panjangnya ke tengkuk dingin Jungkook, meremasnya sesaat kemudian beralih menggengam jemari Jungkook yang membeku. Entah oleh embun dingin dari kaleng kopi atau karena udara malam yang menusuk, yang jelas jemari itu dengan cepat kembali hangat saat Namjoon memberi senyum menenangkan pada Jungkook yang lantas bersemu merah di pipi. Mata bulatnya berbinar menggemaskan penuh penasaran. " –bisakah kita mulai dari awal?"

"A-Apa... maksudnya?"

Namjoon tersenyum lebih lebar, tak ayal membuat Jungkook makin berani berdebar. Sialan dia dengan seribu satu pesonanya yang mematikan. "Kita mulai hubungan kita dari awal. Mari kita berhubungan sebagaimana mestinya; ikatan Ayah dan anak yang manis. Kita awali cerita ini dengan membina relasi yang lebih baik dari sebelumnya." Ia berujar begitu tenang dan percaya diri. "Aku mengerti maksud pikiranmu, Jungkook. Maka dari itu aku membicarakan ini sebab aku peduli padamu, aku khawatir padamu, dan aku sayang padamu. Jika kau tersiksa dengan pemikiran mengapa aku selalu ada dalam benakmu hingga mengganggu, maka aku ingin berkata bahwa aku juga merasakannya –" ia mengetuk dada kirinya tepat dimana jantungnya hinggap. " –persis bagaimana kau mengalaminya. Aku merasa aneh bahkan hanya karena melihat senyum manismu. Hanya karena kau bersikap begitu lugu dan menggemaskan di mataku. Hanya karena melihatmu tertawa dan makan dengan baik, hanya karena melihatmu tersenyum dengan tulus, hanya karena ada kau, Jungkook."

Jungkook dibuat terdiam.

"Ada rasa dimana aku memandangmu begitu berbeda," Namjoon menambahkan. "Jauh dibanding aku melihat siapapun selama ini. Lebih dalam dibanding aku memerhatikan istriku sendiri. Seolah aku ingin terus bersamamu untuk satu alasan, seperti aku ingin terus melindungimu; memastikan kau hidup dengan baik dan tidak pernah merasa sedih atau susah oleh apapun," lantas ia tersenyum simpul sembari mengelus jemari Jungkook, "Dan ketika aku tahu, nyatanya adalah kau anakku. Kim Jungkook yang sudah tumbuh dewasa ini adalah anakku, yang telah hidup mandiri ini adalah anakku, yang telah lama berjuang dalam kejamnya dunia ini adalah anakku, yang telah lama kupikirkan bagaimana keadaannya saat ini, dihadapanku, adalah anakku –" ia berhenti sebentar, " –sebab kau adalah anakku, buah hatiku, aku mengerti mengapa aku begitu tertarik padamu. Mengapa aku terus kepikiran dan nyaris obsesi padamu. Mengapa ada rasa menggebu dalam diriku ini, tak lain karena kau anakku, yang sudah lama hinggap dalam bayanganku sejak lama, tanpa tahu bagaimana rupanya. Dan kini berada di hadapanku dalam sosok tampan yang baik hati."

Rasanya ingin menangis saja, kata Jungkook dalam benaknya.

"Maka dari itu, mari kita mulai dari awal." Namjoon terkekeh ringan dan mengusap sudut mata Jungkook yang berair dan membengkak kemerahan. "Kau dan aku memulai satu cerita yang baru sebagai keluarga kecil yang manis. Kau bisa bergantung padaku setiap saat, biarkan aku menebus kesalahanku padamu. Melihatmu jauh dariku membuatku sadar bahwa aku telah salah, tidak pernah memberi sedikit pun kesempatan bagimu untuk mencicipi bagaimana menjadi seorang anak sebagaimana mestinya," ia mengelus rambut Jungkook lagi. "Sekarang, jika kau berkenan dan sudi untuk membantuku setidaknya sekali saja, kita bangun lagi semuanya. Mari terus berkontak dengan baik, jadikan aku Ayahmu yang sebenarnya. Biarkan aku menjadi seorang Ayah yang baik untukmu meski itu sudah sangat terlambat untuk dimulai. Tapi aku tidak masalah dengan itu. Aku akan sangat menyesal dan bisa sangat berdosa ketika bahkan mati sebelum aku bisa memberikanmu kasih sayang, itu terus membuatku kepikiran. Bagaimana kalau aku mengasuhmu, sebelum aku benar-benar mati dan meninggalkan penyesalan terbesar dalam hidupku?"

Jungkook merengek dan menggeleng lucu, "Kau tidak akan mati,"

"Yah, baiklah." Namjoon terkekeh dan menepuk kepala Jungkook gemas. "Aku mengatakannya supaya kau terpaksa melakukannya. Supaya kau mau menerima aku jadi Papamu, supaya hubungan kita membaik untuk seterusnya, aku tidak suka jauh darimu, nak." Ia mencubit pipi Jungkook yang semakin memerah entah oleh angin malam atau tersipu. "Umurku sudah tidak muda. Tahun akan terus berganti dan tidak seorang pun tahu kapan aku akan mati. Waktu akan berjalan begitu cepat jika aku tak segera mengatakan ini padamu. Tidak masalah jika kau menolak tapi sungguh, mungkin aku akan mati dengan satu penyesalan besar bersama raga kosongku di dalam peti bawah tanah."

"Jangan bicara mati terus,"

Namjoon tersenyum simpul, "Oke, Jungkook. Sekarang, serius, jadi bagaimana?"

"Itu –" Jungkook mengulum bibirnya dan mendengung sebentar. " –iya,"

"Pintar." Lantas Namjoon tersenyum bahagia. Perasaan lega menjalar ke seluruh raganya hingga ia merasa seperti terbang. Ia memeluk Jungkook sebentar dan menyempatkan diri untuk mengecup sayang pelipis Jungkook yang masih dingin. Ia kemudian balas menatap mata Jungkook yang berbinar cerah seperti anak kecil. Ia tertawa ringan atas bagaimana dia terlihat begitu menggemaskan di matanya, persis seperti Taehyung yang senang ketika ia membelikannya buku gambar. "Sekarang coba kau panggil aku,"

Lama Jungkook mengumpulkan keberanian, "P-Papa... aish, apa itu terdengar aneh?"

"Tidak. Aku suka sekali."

Kemudian Jungkook tersenyum lebar, "Papa... Papa... Papa..."

"Ya, begitu, manis." Namjoon mengusak rambut Jungkook. Mungkin dia akan terobsesi dengan rambut lebat anaknya yang satu ini. Karena dia bahkan tidak bisa berhenti bermain dengan itu. "Terasa seperti aku baru saja mengajarkan bayi mengatakan Mama Papa, dan itu lucu. Aku merasa seperti baru saja menikah dan masih muda, astaga." Kemudian dia tertawa oleh lelucon garing itu, bahkan membuat Jungkook juga tertawa renyah dengan ekspresi Namjoon yang dibuat konyol. "Rasanya jadi terharu mendengarmu memanggilku Papa. Astaga, mungkin ini lebay tapi aku jadi ingin menangis sebab kau sudi untuk mengakuiku sebagai Papamu, Jungkook."

"Karena orang tua harus dikasihani,"

Lantas Namjoon melotot dan mengetuk dahi Jungkook keras, "Tidak sopan."

Kemudian mereka tertawa. Lupa dengan konflik mereka. Lupa dunia, lupa waktu, lupa status mereka yang masing mengambang-ngambang seperti paus terdampar. Hanya dengan menghabiskan waktu dengan obrolan santai yang mengocok perut, mereka dibuat lupa sudah mengalami kejadian konyol yang sempat menjadikan relasi mereka retak. Seketika kembali seperti yang lalu hanya iklan pasta gigi di televisi yang tidak penting. Begitulah, Jungkook dengan mudah menerima Namjoon sebagai Ayahnya setelah lama berperang dengan pemikirannya sendiri. Juga setelah Namjoon memohon dengan lirih dan tulus, mungkin Jungkook akan mencoba, meski mungkin akan sulit. Tapi dia tidak berpikir bahwa berhubungan dengan Namjoon adalah sesuatu yang salah. dia yakin Namjoon adalah orang yang baik dan mampu menjadi Ayah untuknya. Maka untuk apa dia menyia-nyiakannya?

Maka dia menghabiskan malam dengan tertawa bersama Namjoon.

Sampai lupa dunia. Lupa waktu. Lupa dimensi.

Bahkan tidak tahu, jika Taehyung di ujung sana. Memperhatikan, dengan senyuman lirih.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

[edisi: sesi panjang lebar]

Noun; cuap-cuap

...

Hai! Astaga, iya ini udah lama banget sampai akhirnya update. Iya, lama banget 'kan? Maaf lho, serius aku ga tahu kalau kalian menunggu ini dengan begitu sabarnya, astaga, aku terharu ingin menangis. Seperti Jungkook, tapi aku gapunya Namjun yang bisa meluk aku (lah apaan).

Iya iya, akhirnya update. Astagah aku senang akhirnya update.

Serius, di semester empat ini bener-bener hectic banget. Tiap waktu adalah rush hour kami, kampus yang warbyasah ya emang, huhuhuhu. Jadi maap banget ini updatenya lama.

Hm, gimana? Apakah ada penurunan feel...?

[ sugantea ]