Pukul satu siang.
Setelah bergelut dengan batinnya sendiri, Hana memilih untuk menyetujui ajakan Luna untuk bertemu. Entah gerangan apa yang membuat wanita itu memintanya berjumpa, sudah lama sekali, jika dihitung. Awalnya dia tidak ingin, takut dia tidak sanggup untuk menahan emosinya. Tetapi lagi, Luna adalah teman baiknya di masa lalu. Meskipun, entah apakah status itu masih diakui olehnya. Dirinya sendiri bahkan tidak yakin mereka masih berteman baik.
"Maaf, apakah aku lama?"
Hana mengalihkan fokusnya dari teh hangatnya, "Uh... tidak juga,"
"Baguslah. Uhm, sebentar. Aku haus," kemudian Luna memesan es jeruk dan melepas tas selempangnya, merebahkan bahu kecilnya di sofa empuk yang didudukinya dan mendesah lelah. Menggerutu kecil tentang cuaca yang sangat tidak bersahabat. Dari dulu Luna selalu tidak cocok dengan panas, dia berkata keringat cepat membuatnya bau badan. "Kau datang awal sekali, hei, sejak kapan kau duduk melamun seperti itu?"
"Tidak apa, aku memang ingin kesini."
"Oh, begitu. Sampai lupa," Luna menyedot es jeruknya beringas, "Apa kabar?"
Itu basa-basi, Hana tahu. "Cukup baik. Meskipun, belakangan ini malamku cukup melelahkan. Aku masih sibuk dengan toko kueku, meski capek aku justru tidak bisa tidur di malam hari." Dia berkata, dengan suara lirih, menyuarakan hatinya yang turut pilu. Berharap Luna sedikit saja mengerti dan menaruh simpati, meski rasanya sangat mustahil bagi gadis itu untuk menangkap sinyal kode itu. Dia tahu kalau Luna sering bersikap tak acuh, selama itu bukan kepentingannya. Hana menghela, bahkan sepertinya Luna terlalu fokus dengan es jeruknya, seolah lupa siapa yang mengajak bertemu. Dia mulai lelah berpura-pura, "Sebenarnya kenapa kau meminta bertemu?"
"Aku menunggu pertanyaan itu sejak tadi,"
Hana yakin ini sesuatu tentang Namjoon. Dia sudah menyiapkan diri.
"Bagaimana rasanya?"
Sakit, aku nyaris mati.
"Ketika seseorang yang kau cinta harus pergi, selamanya, bagaimana rasanya?"
Bahkan aku tidak tahu, apakah aku mampu bernapas bila itu terjadi.
"Ketika seseorang yang kau sebut, hidup dan matimu, jatuh dalam pelukan orang lain; bagaimana rasanya? Menyakitkan? Sakit? Apa kau merasa begitu?" dia bertanya dengan suara yang tajam dan dingin, raut wajahnya berbeda dengan dua menit lalu. Suasana menjadi lebih canggung, Hana tidak bisa balas menatap Luna yang memandangnya nyalang dengan bola mata yang gelap. Memang benar dikata, ini menyakitkan. Tetapi dia sudah menyakin diri, kalau ia bisa, dan ia tidak ingin terus bersembunyi seperti tikus tanah. Tidak, kali ini ia harus bersua, meski mungkin isinya adalah dusta. "Rasanya... sakit, sakit sekali. Seperti aku tidak tahu apa yang akan kulakukan detik berikutnya. Aku tidak bisa berpikir atau menerka, apakah besok atau detik selanjutnya aku bisa membuka mata dan bernapas. Benar, kau benar. Namjoon –hidup dan matiku."
Luna menggigit bibirnya dalam, "Itu pun yang kurasakan."
"Ketika seharusnya Namjoon menjadi milikku, ketika Namjoon seharusnya hidup bersamaku, ketika dia harusnya berdiri di sampingku di atas altar memasangkan cincin dan memiliki anak –seharusnya Namjoon yang menjadi hidup dan matiku, waktu itu, seharusnya aku yang bersamanya." Luna mengalihkan pandangannya dan mendegus geli, nyaris tertawa. "Tapi kau... perempuan macam kau, yang kupikir perempuan baik dan tulus, bertingkah seolah kau Ratu dan membawa Namjoon pergi dariku. Kau menariknya menjauh dan pergi dariku, saekkiya! Perempuan tidak tahu malu yang menyeret Namjoon pergi dariku secara tidak bermoral bahkan sampai memiliki anak –sialan! Kau pikir, aku tidak sakit? Kau pikir, apa aku bisa sedikit saja merasa baik? Apakah kau kira... aku... aku tidak nyaris mati sebab Namjoon memilih orang lain ketimbang aku –aku –aku pikir, aku mau mati saja."
Hana diam, tidak tahu apakah ia bisa menyela atau tidak.
"Bertahun-tahun aku hidup dalam gelap, tidak mengenal dunia seperti orang cacat karena siapa? Saekkiya! Aku hidup dalam penderitaan sedang kau bersenang-senang dengan Namjoon, tidak tahu malu, kau jelas tahu dengan siapa dia seharusnya bersanding!" Luna menggeram marah, jemarinya ia kepal. "Seperti saat kau berkata, siapa cepat dia dapat, seharusnya itu aku, brengsek! Itu aku, aku yang seharusnya bersama dia. Aku yang lebih dulu menyukainya, mencintainya, aku yang lebih dulu mengikat dia. Jauh sebelum kau bahkan berpikir menyukainya, jauh sebelum kau berkata kau mencintainya, jauh sebelum itu! Aku yang sejak awal menyukai dan menyanjungnya. Kau jelas tahu, kau tahu, Kim Hana... tapi kenapa –kenapa harus kau, wanita yang bersama Namjoon? Setelah bertahun-tahun, kau menusukku dari belakang! Apa ini yang dinamakan teman? Jawab aku, apa ini namanya teman?!"
"Maafkan aku, Luna."
Luna berdecih, "Tidak ada gunanya. Sekarang, rasakan bagaimana tersiksanya ketika Namjoon pergi darimu. Rasakan bagaimana sosoknya hilang dari hidupmu, selamanya. Rasakan bagaimana sakitnya ketika dia berada dalam pelukan dan status dengan orang lain. Dengan temanmu sendiri. Rasakan bagaimana pedihnya kehilangan seseorang yang kau panggil, belahan jiwa. Rasakan itu, Hana. Aku mau kau juga merasakan apa yang kurasakan sejak bertahun-tahun," kemudian ia meneguk ludahnya kasar, "Dan kali ini aku tidak akan diam. Aku tidak mau kehilangan dia lagi, tidak olehmu atau siapapun. Aku akan membawanya pergi, bersamaku. Jauh darimu, kuharap kau paham maksudku ini."
Lama Hana terdiam sampai akhirnya ia mengangguk, "Ya, aku mengerti. Maafkan aku,"
"Aku tidak peduli lagi, Hana." Luna meneteskan airmata di mata kanannya, "Mungkin kau berpikir aku cukup brengsek untuk melakukan ini tetapi aku sungguh tidak bisa... kehilangan Namjoon adalah kelemahan terbesarku. Seumur hidup, aku akan menyesali jika aku membiarkan kalian bersama. Mungkin kau berpikir aku orang yang jahat, memisahkan kalian yang sudah membangun keluarga tetapi –" ia terisak, tidak kuat lagi menahan tangis yang susah payah ia bendung. " –tidak bisa, tidak bisa. Aku tidak bisa jika itu bukan Namjoon. Maaf, Hana. Aku harus mendapatkan Namjoon, meski itu akan melukaimu atau bahkan menyiksa Namjoon, aku tidak peduli."
Katakan saja Hana bodoh untuk melepas Namjoon begitu saja. Namun, ia mengerti penderitaan Luna, ia memahami bagaimana tersiksanya dia tanpa Namjoon. Selama ini, ia hidup bahagia dengan pria itu, lupa bahwa ada satu hati yang patah luar biasa terhadap itu. Ia dibuat lupa bahwa Luna, temannya sendiri, yang sejak dulu menyatakan suka pada Namjoon, dibuat hancur oleh kisah picisannya. Hana merasakan itu, ketidakadilan yang dialami Luna, dia tahu. Dia memang tidak ingin Namjoon meninggalkannya dan Taehyung tetapi dia tahu kalau dirinya juga berkontribusi dalam kesalahan ini. Dia adalah orang ketiga diantara mereka, seharusnya seperti itu.
"Luna?"
Suara Namjoon. Hana menegang dalam duduknya. Diam saja tatkala Namjoon juga terkejut ketika mata mereka bersirobok dengan kurang ajar. Didengarnya langkah berat Namjoon mendekat, hatinya menjerit tidak rela kala jemari Namjoon menyetuh bahu Luna. "Ah, Namjoon? Cepat sekali, aku baru saja duduk dan minum es jeruk."
"Paman Choi berkata, aku harus menjemputmu."
"Ya, jangan panggil Ayah dengan Paman terus," Luna mengerling pada Hana, "Sebentar lagi dia juga jadi Ayahmu, 'kan? Biasakan itu. Kau ini keras kepala atau memang pikun, sih?"
Namjoon melirik Hana yang diam saja, "Ah, ya. Maafkan aku."
"Oh, ya. Hana, kami akan pulang. Kau bisa menumpang, ya 'kan, Namjoon?"
Semua menunggu jawaban Hana. Memang apa yang akan dikatakannya akan menjadi plottwist adegan ini, Luna pun tahu jawaban apa yang ada di benak perempuan itu tetapi ia suka sekali melihat raut menderita di wajahnya yang lelah. Mungkin ia memang jahat, ketika ia ingin tertawa melihat ekspresi Namjoon yang menggu dengan was-was, jawaban apa yang akan dilontarkan Hana. "Tidak apa, kalian pulanglah. Tehku belum habis, dan aku masih ingin menyendiri. Jangan buat aku menghalangi kalian," Oh, Luna sudah tahu inilah yang akan dikatakan Hana. Namun Luna memasang ekspresi kecewa, merengek kecil dan cemberut menyayangkan jawaban itu. Berkata dengan riang untuk Hana lain kali menyetujui ajakan pergi bersama. Meski itu tidak akan terjadi.
Namjoon diam saja, dan itu membuat Luna gemas. "Sini, Namjoon –"
Rasanya seperti ingin mati.
Ketika Luna menarik wajah Namjoon mendekat dan memberi satu ciuman di bibirnya yang dingin dan memerah. Hana sudah berusaha untuk tidak melihatnya tetapi lehernya terlalu sakit untuk menoleh, ia justru terperangkap dalam bola mata Namjoon yang gelap seperti gumpalan darah, dingin, tajam. Hana tidak tahu apa maksud Namjoon menatapnya sedang dia berciuman dengan Luna. Ini sungguh memuakkan tetapi sialnya dia tidak bisa melepas pandangnya dari Namjoon. "Kenapa mencium tiba-tiba?" Namjoon bertanya, membuat Hana semakin muak dengan pertanyaan polos itu. Dia menulikan telinga dari interaksi mereka berdua dengan menyeruput teh hangatnya. Dia tidak mau peduli lagi. "Hana, kami pulang."
"Oh? Ya, hati-hati dijalan."
Luna melambaikan tangannya dan melenggang pergi, meninggalkan Namjoon yang masih terpaku disana menatap Hana. Mereka sama-sama diam, tidak bertegur sapa, atau bersua. Hanya sunyi dan saling menatap, menyuarakan kepedihan dalam diri masing-masing melalui ekspresi mata. Sama-sama mengeluh dengan keadaan yang bisa jadi begini konyol. Mereka lelah untuk berdebat dan mungkin hal-hal kecil semacam telepati begini akan lebih mudah dilakukan. "Namjoon? Ada apa? Ayo cepat~"
Namjoon menoleh dan merespon 'ya'. Lantas menatap Hana lagi dan menunduk, langkahnya berat kemudian pergi dengan tidak rela. Tidak peduli dengan rengekan Luna dan juga tarikan-tarikannya, ia melangkah biasa menuju mobil. Masih curi-curi pandang pada Hana yang menatapnya di balik kaca cafe. Masih memindai setiap geraknya bahkan ketika Namjoon siap melajukan mobil. Dia menghela lebih berat, semakin tidak tega pada Hana yang duduk sendirian disana. menajamkan tatapannya dan membuka bibirnya, menggerakkannya tanpa suara, "Maaf, aku mencintaimu."
Sedangkan Hana masih diam, tatapannya sendu. Masih mengikuti kemana mobil Namjoon melaju. Lantas tangannya turun, pandangannya turun, ke daerah perutnya. Jemarinya bergetar mengelus perutnya sendiri dengan gerakan memutar dan ia mendengus geli, menertawakan hidupnya yang aneh. "Ya, aku juga mencintaimu, Namjoon."
..
My Mama
..
Kim Taehyung
Jeon Jungkook –role as Kim Jungkook
[Vkook KookV as brothership]
[MinV]
..
I want to say goodbye, but is it the right decision for us?
.
Mungkin Jimin benar, kalau dirinya sudah gila.
Setelah mendengar petuah dari Kakek penjual apel, Taehyung berpikir. Meski Jungkook terus berkata dia tidak akan mampu berpikir dengan baik. Tapi dia mencoba, melakukan apa yang Kakek itu katakan padanya untuk memikirkan satu harapan, satu keinginannya untuk menyelesaikan masalah tak berujung ini. Dia sudah lelah merasa sedih, dia capek merasa lemah, dia penat dan dia ingin semuanya berakhir.
Keputusan untuk pergi dirasa yang paling baik. Mungkin akan terdengar konyol dan kekanakkan, tidak dewasa, dan gegabah. Memutuskan untuk pergi menjauh dari orang yang ia sayangi. Itu akan menyakitkan baginya sendiri, ketika itu artinya ia akan berada jauh dari Jimin. Tentu akan membuatnya sakit jika ia pergi dari sisinya. Tetapi ia berpikir lagi, mungkin ini yang terbaik. Terlepas dari hubungan apa yang mereka miliki sejauh ini, ia ingin Jimin menjauh darinya yang payah ini. dia tidak sanggup melihat Jimin menjadi berbeda karenanya. Dia ingin Jimin bahagia, meski itu berarti bukan karenanya.
"Sebenarnya, maaf, Taehyung. Kantorku tidak membutuhkan pegawai,"
Taehyung tersenyum kecut. "Tidak apa, hyung. Aku akan pergi sekarang,"
"Tetapi kenapa tiba-tiba ingin bekerja disini? Suatu keajaiban melihatmu di Daegu, Taehyung. Apa kau pindah kemari?" pria itu menyuguhkan teh hangat pada Taehyung dan membuka percakapan santai. Dia adalah Do Jihan, kakak tingkatnya semasa SMP. Mereka cukup dekat di masa lalu, bahkan ketika biografi Taehyung tertera di mejanya, Jihan langsung menelponnya. Setahunya, Taehyung tinggal di Seoul dan menetap disana. Kedatangannya untuk melamar sebuah pekerjaan cukup membuatnya terkejut, dia tidak berpikir kalau Taehyung, di usia produktf, masih melanglang buana mencari pekerjaan. "Aku baru dipecat, hyung. Kupikir, Seoul tidak cocok untukku yang payah ini. Bukannya merendahkan Daegu tetapi mungkin aku bisa mengimbanginya jika itu disini," Taehyung tersenyum lugu, "Tapi aku juga tidak memaksamu untuk memberiku pekerjaan padaku, hyung. Kalau aku disini nanti perusahaanmu meledak,"
Lantas Jihan tertawa atas lelucon receh Taehyung.
"Tetapi aku mengenal seseorang yang mungkin bisa membantu. Bukan perusahaan besar sepertiku, ups, maaf kalau aku sombong," dia tertawa sebentar, "Dia punya supermarket di distrik lima, kudengar itu cabang ke tiga dan baru diresmikan dua hari lalu. Mungkin dia butuh beberapa karyawan entah itu kasir, cleaning service, atau SPG. Bukan maksudku merendahkan kemampuanmu tapi –"
"Ah, hyung seperti bicara dengan siapa saja, aku tidak akan tersinggung."
Jihan tersenyum, "Baiklah. Semoga beruntung, Taehyung."
"Oke, aku harus kesana," Taehyung melihat arlojinya, "Atau aku akan melewatkan makan malam."
"Hati-hati dijalan, dan –oh, temanku itu namanya Park Bogum."
"Baik, akan kuingat namanya. Tempatnya?"
"Akan kukirim via email, atau maps?"
Taehyung bangkit dan tersenyum, "Maps saja, lebih mudah."
..
"Mencari sesuatu?"
Jihoon terlonjak ketika Soonyoung datang dengan suara beratnya, memilih duduk dihadapannya dan menyugar rambutnya yang lepek oleh keringat. Jihoon meneguk ludahnya tanpa sadar, dia tidak tahu kalau Soonyoung bisa tampak begitu menarik hanya dengan menyisir rambutnya. "Kau celingak-celinguk seperti anak hilang. Apa ada seseorang yang ingin kau temui?"
"Kim Taehyung, dia, kemana?"
"Nah, seharusnya aku yang bertanya." Jihoon menukikkan alisnya tidak mengerti, "Beberapa hari ini dia tidak masuk kerja. Aku tidak tahu kemana dia pergi sebab dia absen tanpa keterangan. Tidak ada yang bisa kutanya selain Jimin dan fyi, mereka sedang dalam masalah. Dan kurasa, permasalahan mereka cukup berat. Taehyung tampak begitu menderita, bahkan sanggup membentakku dan menangis." Dia memerhatikan reaksi Jihoon yang terkejut, alisnya menukik, dan bibirnya ia kulum banyak-banyak. Ia menghela, bagaimana bisa Taehyung melibatkan banyak orang untuk mengkhawatirkannya. Meski banyak membuat masalah di dapur, nyatanya ketiadaan Taehyung cukup berarti. Tidak ada suasanan heboh lagi, yang artinya dapur menjadi sepi tanpa kecerobohan Taehyung atau sekadar lelucon garingnya. Dia akui, meski cukup merepotkan, ia cukup merindukan Taehyung. "Kupikir, kau adiknya?"
Jihoon memijit pangkal hidungnya, "Ya. Tetapi saudara tiri, kami beda ibu. Kami tidak tinggal bersama meski kami cukup dekat, well, aku cukup bodoh untuk tidak memiliki nomor ponselnya."
"Ponselnya nonaktif."
"Apa?"
"Sepertinya Taehyung mengganti nomornya, kudengar Jimin mengaum marah saat ratusan kali mencoba menelponnya. Aku belum pernah mendengarnya sefrustasi itu. Kami berteman baik selama ikut akademi tari modern dan baru kali ini, meski tidak melihat ekspresinya, aku tahu dia marah dan menderita." Bayangannya terbang pada beberapa hari lalu, dimana suasana kafe jadi sangat mencekam dan tidak bersahabat, hari dimana seluruh karyawan tahu bahwa Taehyung pergi tanpa sempat memunculkan diri mengucap kata pamit. Dia terkejut, terpukul, sama sedihnya dengan yang lain tetapi ia tidak tahu kalau Jimin mungkin bisa jadi gila ketika Taehyung benar-benar pergi darinya. "Kupikir, kedatanganmu kemari ingin memberi pencerahan. Yah, meskipun kami semua bertanya-tanya kemana Taehyung pergi tetapi jika itu adalah keputusanya untuk pergi, pasti dia memiliki alasan."
Jihoon mengernyit, "Dan alasannya...?"
"Aku tidak tahu, bahkan Jimin, tidak akan pernah bisa menebak apa yang seorang Kim Taehyung pikirkan. Dia terlalu unik dan tak tertebak,"
.
.
Jungkook tengah merapikan sepatu saat pintu rumahnya terketuk.
"Jimin hyung?"
"Panggil Taehyung keluar."
Jungkook mengerjap cepat, "T-Tapi dia tidak pulang berhari-hari."
"Sialan." Jimin menggeram marah, Jungkook terkesiap menahan pekikannya. Cukup menyeramkan melihat Jimin marah. Terakhir kali mereka bertemu, dalam situasi yang memuakkan dan kali itu Jimin marah besar padanya. Meski malam itu dia berusaha tampak sok keren tetapi hati kecilnya bergetar takut. Saat ini, tentu Jimin kesal karena kehilangan Taehyung. Dia menelpon seseorang dan mengumpat marah, Jungkook tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Apakah menyuruhnya masuk? Lalu apa? Mereka tidak dalam hubungan yang baik, Jimin masih membencinya. Tidak mungkin ia bersikap sok ramah seperti itu tetapi juga ia tidak mau melihatnya frustasi di depan pintu. Jungkook tegak saat Jimin kembali menatapnya, "Apa dia benar-benar tidak memberitahu, atau mengirim pesan kemana dia akan pergi?"
"Tidak, hyung."
Jimin mendengus dan melenggang pergi. "Hyung!"
Mendengar panggilan itu, Jimin menghentikan langkah. Namun ia tidak menoleh, terlalu muak untuk menatap wajah Jungkook. Hatinya masih terlalu sakit, ia tidak sanggup. "Maafkan aku, hyung."
Lalu Jimin harus menjawab apa? Tidak apa-apa? Konyol.
"Kau pasti marah padaku, atas apa yang ku lakukan pada Taehyung."
Sebenarnya Jungkook itu ingin bicara apa, sih. "Aku tidak peduli. Sekarang semuanya kacau, hancur jadi amburadul. Aku frustasi sekali, sekarang. Semua kebodohan yang kau lakukan membuat semuanya jadi runyam dan mungkin akan jadi lebih rumit lagi. Sekarang Taehyung pergi dengan kebodohannya, dan tidak seorang pun peduli padanya kecuali aku." Jimin menjerit marah, "Kau, adik kandungnya, telah melukainya begitu dalam sampai begitu hancurnya. Kemudian kau menaruh semua tanggunggan di pundak kurusnya untuk memikul semua kesalahanmu. Dan dia pergi demi kau; adik yang brengsek. Yang tidak sedikit pun peduli pada Kakaknya yang entah dimana sekarang. Apakah dia makan, tidur, atau dia masih bisa benapas dengan baik? Apa dia diculik atau justru jadi gelandangan? Semua pemikiran buruk terus menghantuiku sampai rasanya aku hampir gila. Mencari anak bandel itu kesana kemari seperti orang bodoh, bahkan tidak tahu harus seperti apa lagi untuk mengejarnya."
Jungkook diam saja.
"Aku tidak mengerti apa yang ada dipikiranmu tetapi bisakah sedikit saja kau memahami, bahwa Kakakmu sebegini terlukanya karenamu. Aku telah berulangkali mengatakan untuk jadi pribadi yang lebih baik tapi kenapa –kenapa kau begini tega –" Jimin mengepalkan tangannya, " –menghancurkan malaikat seperti Kim Taehyung. Kau benar-benar bajingan, Jungkook. Aku menyesal percaya bahwa kau bisa merubah sikap dan hidup dengannya baik-baik. Ternyata, Taehyung tersenyum karena kebodohan ini. Senyumnya palsu, dia tersenyum dan berkata kalau adiknya menjadi manis dan baik. Jadi penurut seperti Kookie saat usia delapan, mengajaknya bicara dan makan bersama, memeluknya dan tersenyum. Tapi ia harus membayar untuk mendapatkannya, sial. Bodoh sekali dia," ia mendengus luar biasa geram. "Bajingan. Kau bajingan yang tega menyentuhnya demi kesenanganmu sendiri, sedang dia hanya mengharapkan interaksi manis kakak adik denganmu. Apa itu sangat sulit bagimu mewujudkannya?! Sialan apa yang membuatmu berpikir, untuk bisa seperti itu, Taehyung harus kau tiduri? Taehyung harus membayarnya dengan tubuhnya?! Sialan siapa yang mengajarimu jadi bangsat sepertini, siapa?!"
Dan mulutnya terkatup, tidak punya jawaban.
"Kemana Taehyung pergi?"
Jungkook mendelik marah. "Kenapa kau menanyakan itu padaku?"
"Karena kau adiknya!"
"Lalu siapa yang terus berlagak jadi adik manisnya?!" Jungkook mendorong bahu Jihoon hingga terbentur ke dinding dingin. Matanya menatap nyalang pada Jihoon yang balas menatapnya garang, dia mengurungkan niat untuk menonjok wajah Jihoon. "Bisakah kalian berhenti? berhenti bertanya kemana Taehyung pergi, aku sudah muak! Aku muak dengan kalian yang sangat bawel dengan Taehyung! Aku muak kalian terus menggangguku dengan menanyakan dimana dia; aku tidak tahu!" dia berkata dengan deru napas yang kacau, menyuarakan kepenatannya yang selama ini dipendam. Dia lelah pada orang-orang yang bertemu untuk menanyakan Taehyung. Dia tidak tahu, tidak peduli, tidak mau tahu –tetapi kenapa orang selalu berpikir Jungkook adalah poros; dimana dia adalah kunci yang mengetahui segala sesuatu tentangnya. Dia muak dengan semua ini. jungkook baru ingin bicara lagi namun Jihoon lebih dulu menonjok wajahnya, "Dasar brengsek! Kenapa semua orang bertanya padamu? Kau masih bertanya?! Jawabannya hanya satu; kau adiknya! Satu-satunya orang yang dia sayangi demi seluruh volume darahnya, demi setiap sel tubuhnya; hanya kau, Jungkook! Si brengsek ini, dengan idiotnya masih bertanya kenapa semua orang bertanya padamu?!"
Jungkook balas menonjok Jihoon, "Aku sudah muak; aku tidak tahu!"
"Dia tidak punya siapa-siapa!"
Bentakan itu menohok Jungkook. Bogemannya tertahan.
"Selain dirimu, di dunia ini, tidak ada siapa pun yang lebih berarti dibanding kau!" Jihoon menudingnya dengan telunjuk kecilnya. Peduli setan dengan selisih tubuh mereka yang sangat jauh, dia sudah kepalang geram dengan sikap Jungkook yang sangat bodoh. "Kau si brengsek, orang yang sialnya selalu ada di pikiran Taehyung, di hati Taehyung, di seluruh napasnya; kau, Jungkook! Dia bisa memiliki aku, teman-teman, atau Jimin tetapi kau jauh lebih berharga dibanding kami semua. Jauh lebih berarti, yang selalu dilindunginya, yang selalu diingatnya, kau saja! Hanya kau seorang, idiot!"
"Berhenti –"
"Jika bukan kau, maka siapa lagi yang harus kami tanya? Siapa?! Taehyung tidak punya siapa-siapa lagi selain kau, brengsek. Hanya kau, satu-satunya orang, yang bisa tahu kemana Taehyung pergi. Hanya kau yang memiliki penglihatan dimana Taehyung berada, hanya kau yang tahu mengapa dia pergi. Seharusnya itu adalah kau, tetapi mungkin... kau benar," Jihoon mendesis marah, "Kau terlalu brengsek untuk dia. Ya, aku tidak tahu kebangsatan apa yang kau lakukan untuknya hingga ia pergi seperti ini. Tetapi semakin kupikir, kau benar-benar bajingan. Bagaimana bisa kau diam saja, ketika Kakakmu pergi dengan semua masalah dipundaknya?"
Jungkook menutup matanya erat, "Bukan hanya dia yang punya masalah!"
"Tetapi coba kau bandingkan dengan miliknya!"
Kemudian ia bergetar, tidak tahu harus merespon apa. Dia kesal, bukan hanya Taehyung yang memiliki masalah. dirinya juga bermasalah tetapi kenapa semua orang tidak berpihak padanya, terus berkata dirinya ini orang yang brengsek, bajingan, bangsat, semuanya. Dia masih terbelenggu dengan perasaan laknatnya terhadap Taehyung dan jauh dalam lubuk hatinya; ia sama tersiksa. Ia juga menderita dengan kepergian Taehyung. Orang bisa berpikir dirinya tidak peduli tetapi sejujurnya dia sangat terpukul. Dia belum menyelesaikan masalah rumitnya dengan Taehyung dan orang itu justru pergi entah kemana. Bagaimana bisa orang berpikir dia sebegitu brengseknya untuk apatis?
Jungkook juga bertanya-tanya kemana Taehyung pergi.
Namun, dia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Atau dia harus pergi kemana?
Dia tidak tahu.
..
Pusing mendera kepala Jimin.
Tiga ketukan di pintu kantornya membangunkan lamunannya. Berkata dengan malas supaya orang itu masuk dengan cepat. Dia benar-benar lelah dengan masalahnya berhari-hari. Tidak habis-habis problema yang dia punya rasanya, ketika masalah satu muncul, belum juga selesai masih ada masalah lain yang sama beratnya menghadang. Seolah Tuhan ingin menguji, apakah Jimin sanggup menjalaninya meski dirinya sendiri bahkan tidak yakin dia mampu. Tidak jika itu berarti kehilangan Taehyung.
"Uhm, Jimin? Aku memanggilmu daritadi,"
"Oh? Ah, maaf. Aku tidak dengar. Ada apa, Eliz?"
Wanita itu tersenyum maklum, melangkah mendekat dan duduk di sofa dekat tempat Jimin duduk memijat pelipisnya yang berkerut. Ia bangkit sejenak dan menyeduh teh hijau, tidak perlu sungkan dengan Bos didepannya itu. Mereka berteman lama sekali sampai Eliz punya wewenang untuk melakukan hal yang dia suka di teritori Jimin. dia berdeham sejenak, "Merana karena Kim Taehyung, eh?"
"Diam saja kalau kau belum menemukan keberadaannya. Segera angkat bokong bisulanmu dari sini dan berhenti menghabiskan teh hijauku, Medusa."
Eliz merengut, "Padahal kedatanganku kemari ingin membawa berita tentang Kim Taehyung."
"Kau menemukannya?" Jimin terkejut bukan main.
Eliz meletakkan cangkir tehnya, mengambil amplop coklat dalam tas jinjingnya dan memberikannya kepada Jimin, "Dia terlihat di daerah Daegu. Tidak dapat dipastikan alasan apa dia kemari. Tidak punya saudara atau kerabat di Daegu, atau biografi di Daegu. Tetapi dia kedapatan melamar pekerjaan di Do Family Grup dan berakhir bekerja di Supermarket Sunny Hills." Ia melirik ekspresi Jimin yang mengeras dan nampak frustasi. Dia pasti tidak berpikir Taehyung akan ke Daegu; untuk apa dia jauh-jauh ke sana jika tidak ada siapa pun yang ia kenal? Tetapi ia bisa menangkap kelegaan dalam auranya, mengetahui kalau paling tidak, Kim Taehyung hidup dengan baik. Meski ia sendiri tidak tahu bagaimana kehidupan yang sesungguhnya itu bagi sosok Kim Taehyung. "Tampaknya dia dekat dengan seseorang di Sunny Hills. Disinyalir pria itu adalah pemilik pribadi Supermarket. Ah, aku lupa. Direktur Utama Do Family Grup adalah kawan lama Kim Taehyung. Sejauh itu yang kudapatkan."
"Tempat tinggalnya?"
"Dia menyewa flat sempit di daerah yang cukup kumuh, meski itu cukup dekat dari Sunny Hills. Mungkin agar dia tidak mengeluarkan ongkos transport. Percayalah, hanya itu yang kutahu. Tidak mudah melakukannya, tahu? Mencari Taehyung diantara seratus Taehyung di Daegu itu menguras tenaga dan waktuku." Eliz mengerutkan alisnya penasaran, "Kau benar-benar mencintai dia, ya?"
Jimin diam, matanya menggelap. Cepat dia bangkit dan mengambil kunci mobilnya, "Hei! Kau mau kemana?"
"Mengejar si bandel itu."
"Ke Daegu? Sekarang juga?"
"Ini belum malam, Eliz. Dan aku tidak punya banyak waktu,"
"Ya tapi kau ada pertemuan keluarga satu jam lagi. Remember?"
Jimin memutar bola matanya pongah dan menjerit gemas.
.
.
"Jimin, Nak, kau terlambat."
Dia tersenyum simpul, sudah rapi dengan setelan jas biru dongkernya yang mengilat. Mendekati Ayah dan Ibunya yang berdiri dan mengobrol dengan paman Kim. Sejauh yang dia ingat, paman Kim punya hubungan yang baik dengan keluarganya. Suka menolong dan ramah, sopan dan dermawan, serta humoris. Dia jarang bertemu langsung tetapi ia ingat kebaikan kecil yang dilakukan paman Kim ketika ia masih kecil. Jimin tersenyum dan memeluknya erat, sedikit rindu pada pria tua itu. "Wah, Jiminie kecil sudah jadi besar dan sukses, ya? Dulu kau hanya bisa menangis dan makan saja." Begitu katanya, tetapi Jimin hanya tertawa menanggapi. Dia tidak tersinggung, paman Kim terlalu baik untuk bisa menyakitinya. Ia menerima wine yang disuguhkan pelayan. Matanya mengedar sekeliling ruangan.
Terpikir bahwa keluarganya ini cukup berlebihan. Ketika yang lain berkata ini adalah pertemuan keluarga, maka Jimin berpikir ini adalah prom night. Ruangannya sangat besar, gemerlap, mewah, dan glamor. Dia tidak terbiasa dengan suasana pesta seperti ini tetapi dia tidak bisa menolak juga. "Sepertinya kau jadi pria yang tidak bisa mabuk, hm?" paman Kim berceloteh menggoda, "Ya. Aku hanya tidak suka mabuk tetapi aku mahir mengendalikan diriku. Aku cukup hebat saat minum,"
"Kita harus minum bersama suatu saat,"
"Atau Ayah akan serangan jantung lagi."
Ada suara perempuan. Jimin menoleh ke belakang dan mendapati seorang perempuan yang lebih pendek darinya mendekat dengan senyum tipisnya. Dia manis dan cantik dengan setelan warna pastel yang lembut. Wajahnya familiar tetapi Jimin gagal mengingat siapa dia. Dilihat dari interasinya dengan paman Kim dan panggilan Ayah, dia hanya bisa menafsirkan gadis itu anak paman Kim. "Aigoo, Jiyeon. Kau jadi tambah cantik dan manis. Pengaruh Paris sangat bagus untukmu," itu kata Ibu Jimin.
"Jiyeon? Kim Jiyeon si tukang ngompol itu?"
"Hei! Itu masa lalu!"
Mereka semua tertawa, Jimin mendengus geli. "Lama tak berjumpa. Jadi kau benar-benar mengejar Paris?"
"Sama seperti kau mengejar makanan."
"Manusia tidak akan hidup tanpa makanan."
"Dan manusia tidak akan hidup tanpa mengenakan baju."
Ibu Jimin terpingkal, menepuk bahu Jimin. "Kalian tidak berubah, masih suka berdebat. Setelah belasan tahun tak bertemu kenapa kalian masih saja bertengkar, eh?" dia mengacak rambut Jimin dengan lembut dan melontarkan beberapa lelucon. Jimin tertawa menanggapi meski dalam hati dia berharap ini segera berakhir. Dia sudah capek berpura-pura. Dia harus segera ke Daegu mengejar Taehyung. Dia sudah terlalu bodoh untuk melepasnya dan dia tidak ingin kesalahan itu terus berlanjut. Dia tidak punya banyak waktu, lagipula sudah setengah jam dia menampakkan diri. "Ibu, aku ada urusan penting. Jadi –"
"Ei, tunggu sebentar, Jimin-ah. Ini lebih penting lagi,"
"Ada apa?"
Ibu Jimin membawa bibirnya ke telinga Jimin dan berbisik, "Ada berita perjodohan heboh."
"Taehyung-ssi, tolong bawa ini ke stase buah. Letakkan apelnya sesuai nama yang kutulis di kotak, sudah kusiapkan di sana. Tolong perhatikan namanya, jangan sampai tertukar."
"Siap, Juhyeon nuna."
Kemudian Taehyung membawa dua dus apel merah ke stase buah di sudut ruangan. Ia melihat apel Rome Beauty di kotak dus dan mencari nama yang sesuai dengan tulisan Juhyeon di tempat display buah. Dia menemukannya dan tersenyum singkat. Dengan cekatan memindahkan apel-apel segar ke dalam tempat display sambil bersenandung mengikuti alunan musik dari radio yang tersambung speaker ruangan. Sesekali ia memerhatikan apel, berpikir kalau mungkin ia harus membeli beberapa. Tiba-tiba saja ingin makan apel. "Mm, Taehyung?"
"Oh, Bogum hyung?"
"Aku mengganggu tidak?"
"Tidak juga," Taehyung meletakkan dua apel terakhir, "Baru saja selesai. Ada sesuatu?"
Bogum tersenyum simpul, "Mau makan denganku tidak?"
"Sekarang?" Taehyung bertanya dengan ekspresi tidak mengerti. Bogum tertawa ringan, "Maksudku nanti siang. Nona Soojung tidak datang karena sakit perut jadi aku tidak punya kawan seharian ini. Ternyata keberadaan seorang asisten bisa jadi sangat menyenangkan. Nah, maksudku adalah tidak ada Soojung artinya tidak ada yang memerhatikan makanku, tidak ada yang memesankan aku makan, tidak ada yang menemani aku makan," ia berdeham canggung dan menggaruk tengkuknya, "Y-Yah, aku hanya bertanya apa mungkin kau mau menemaniku makan atau tidak."
"Begitu saja pakai tanya, tentu aku mau."
Bola mata Bogum berbinar, "Benarkah?"
"Ya, akan kuhubungi ketika tugasku selesai."
.
.
Bogum suka sekali makan ayam goreng.
Taehyung baru tahu kebiasaan itu. Dia tersenyum kecil melihat betapa girang Bogum memakan ayam gorengnya seperti anak kecil. "Taehyung, kenapa tidak makan?"
"Aku makan, kok."
"Itu hanya burger dan cola," Bogum terbatuk sebentar, "Itu tidak akan cukup untuk mengganti energimu selama bekerja. Lagipula kau nampak pucat, apa kau sakit?" Taehyung menggeleng pelan dan tersenyum ringan. Berkata bahwa dirinya baik-baik saja, tidak sakit atau merasa tidak nyaman. Ia memakan burgernya dengan lambat. Sejujurnya dia tidak terlalu nafsu makan tetapi jika bosmu mengajak makan siang bersama, apakah bisa ditolak? Tentu tidak. Paling tidak dia harus berlagak dia merasa sedikit lapar. Ia hanya merasa haus jadi ia lebih banyak minum toh, cola membuatnya kenyang. "Hei, Taehyung."
"Hm –"
Itu terlalu cepat ketika Bogum mendekat dan mengusap sudut bibirnya. Saus tomat, atau mungkin lelehan keju, semacam itulah. Masalahnya adalah Bogum terlalu cekatan, tatapannya intens, napasnya berat, dan mengecup jemarinya yang tadi digunakan mengelap sudut bibir Taehyung. Bohong kalau dia tidak berdebar, dulu, Jimin suka melakukan itu untuk menggodanya. Dan kali ini Bogum melakukannya. Dia tidak terbiasa dan merasa sedikit tidak nyaman dengan debaran aneh ini.
Sepertinya Bogum menangkap sinyal itu. "Kau tidak suka ya? Maaf sudah lancang,"
"A-Ah, tidak, bukan begitu."
"Apa kau sudah punya pacar, Taehyung?"
Harus dijawab apa? Punya; siapa? Jimin? dia tidak yakin apakah Jimin bahkan masih sudi menganggapnya pacar jika dia sudah menyakiti Jimin sedalam ini. Dia tidak tahu jawaban apa yang tepat. Dijawab tidak punya, bukannya apa, dia takut Bogum bisa saja mengincarnya. Katakan dia terlalu percaya diri tetapi dia menangkap sinyal-sinyal itu. Pesan tak tersirat yang mengatakan kalau Bogum setidaknya menaruh ketertarikan padanya. Maksudnya, tidak mungkin Bos besar mengajak karyawan kecil macam Taehyung makan bersama. Dengan alasan paling konyol sedunia. Lalu, Taehyung harus menjawab seperti apa?
"Entahlah, hyung."
.
.
Dia berpikir kalau dia harus minta maaf pada Bogum. Secara tidak langsung dia sudah menolak pria baik itu, meski sejujurnya Taehyung juga tidak menaruh ketertarikan khusus padanya. Dia tampan dan sopan tetapi Taehyung tidak menyukainya secara khsusus. Sebagaimana dia menyukai Jimin. Omong-omong, bagaimana kabar pria iseng itu? Meski berada jauh, Taehyung tidak pernah sekali pun melupakan dia, sosok yang cukup jahil untuk mencuri kecupan di tempat publik, atau pegang-pegang tubuhnya. Dia tersenyum geli setiap mengingat tingkah konyol Jimin. Ini mungkin memalukan tetapi biarkan dia merindukan Jimin meski sudah tak terhitung seberapa banyak ia melukai Jimin.
Taehyung berjalan gontai. Supermarket sangat ramai sejak baru dibuka. Dia senang bekerja disana tapi dia tidak menyangka kalau bekerja disana akan jadi sangat melelahkan. Dia rindu kafe Jimin. Dia rindu Soonyoung dan Seungkwan yang suka berdebat atau berkelakar. Intinya, dia rindu kehidupan yang dulu. Tetapi dia sudah nyaman disini, meski menyisakan luka tentang kerinduan namun ia pikir ini adalah yang terbaik untuk dilakukan. Dia tidak bisa terus melibatkan orang-orang yang ia sayangi. Tidak bisa lagi ia lihat siapapun menderita atau sekadar memikirkan dirinya.
"Lambat sekali, dasar siput."
Ditengah lamunannya, Taehyung mendongak. Bola matanya terbuka lebar mendapati Jimin bersandar santai di depan pintu flatnya. Tubuhnya menegang tidak percaya, bagaimana bisa Jimin ada di Daegu. Ia sudah memastikan tidak seorang pun mengetahui keberadaannya tetapi mengapa Jimin malah bersedekap dengan wajah garang di sana. Apakah dia menunggunya pulang bekerja? Selarut ini?
"Terkejut, eh?"
"K-Kau.. Kenapa –"
"Sudah cukup kucing-kucingannya, Taehyung." Jimin bangkit dan mendekat, kemudian mengernyit ketika Taehyung terkesiap mengambil langkah mundur. Apakah Taehyung menghindarinya; kenapa? Jimin mendesis tidak percaya. Bukan untuk ini dia jauh-jauh ke Daegu. "Kau pikir, tindakanmu ini benar? Dasar kekanakan, kau idiot! Buat apa kau pergi kesini, hah?"
Taehyung terdiam dan meneguk ludahnya berat. Sebisa mungkin ia membuang pandangannya, kemana pun, asalkan tidak menatap mata gelap Jimin yang membara. Dia merasa sesak oleh rasa rindu tetapi dia tidak bisa berbuat sesukanya. Tangannya ia kepal erat-erat, jemarinya meremas tali tas di samping tubuhnya untuk mencegah dia memeluk Jimin. mungkin sulit tetapi ia akan mencoba terus melangkah mundur atau ia bisa saja goyah dan memeluknya. Tidak, keputusannya sudah bulat untuk pergi. Dia tidak bisa selamanya menjadi lemah. "Pergilah, Jimin."
"Aku jauh-jauh kemari bukan untuk mendengar itu."
"Katakan yang ingin kau dengar lalu silahkan pergi."
"Kim Taehyung –"
"Aku sudah melakukannya!" Taehyung menjerit dengan mata tertutup rapat, napasnya pendek-pendek menahan sesak. Tubuhnya gemetaran dengan kumpulan emosi dalam dadanya yang nyaris meledak. Dia benar-benar lelah merasakan semua ini. "Kenapa kau kemari? Aku sudah melakukannya, Jimin. Aku sudah melakukan apa yang kau katakan lalu kenapa kau masih berada disini seolah kau peduli?! Kau bilang padaku untuk pergi maka itu yang aku lakukan! Berhenti peduli padaku seolah kau memang iya. Berhenti mengejar aku seolah kau butuh aku, berhenti terus menghantui aku seolah kau menarikku kembali. Aku tidak ingin kembali, tidak dengan kebodohan yang aku miliki." Ia menangis tersedu, tidak peduli jika tetangga menguping. Ia mendengar Jimin menghela dan mendekat lagi jadi dia melangkah mundur dan menggeleng. "Berhenti seperti ini, aku tidak mau terus merasakan sesak karenamu. Aku lelah seperti ini, biar saja aku pergi dan bahagia. Kenapa kau seperti mereka yang senang menyiksaku seperti serangga?! Aku tidak mau kembali, jika itu tujuanmu kemari."
Jimin menggeram, "Kau bodoh. Kau pikir aku akan benar-benar mengusirmu pergi?!"
"Kau yang mengatakannya sendiri, dan ya! aku bodoh, jadi pergi dari sini!"
"Tidak sebelum kau juga pergi denganku."
"Aku muak, Jimin. Aku muak dengan semua omong-kosong ini," Taehyung mencengkeram dada kirinya yang bertalu-talu kurang ajar. Kepalanya terus berdenyut ngilu sampai ia pikir ia bisa saja mati di tempat. Mengapa Jimin masih peduli padanya seperti ini; sebuah penghinaan baginya ketika Jimin masih terus memikirkannya dan rela jauh-jauh kemari untuk membawanya pulang. Setelah apa yang mereka lalui, kenapa Jimin berpikir bodoh untuk kemari dan mengejarnya. Konyol. "Aku muak, aku benci. Aku tidak ingin berurusan dengan siapa pun lagi. Tidak denganmu dan siapa pun. Biarkan aku pergi dengan tenang, jika kau masih ingat janjimu untuk membuatku senang, maka wujudkan sekarang."
Bodoh sekali ia bicara. "Kau pikir, aku akan menuruti itu?"
"Sekali saja kau dengar aku! Aku muak denganmu, aku benci melihatmu jadi pergi dari sini! Pergi dan jangan pernah berpikir untuk menemuiku sebab aku tidak sudi!"
Taehyung berkata dengan amburadul, mendorong Jimin hingga terjatuh dan masuk ke dalam flatnya tergesa. Meninggalkan Jimin yang terus mengetuk pintunya seperti orang kesetanan memanggil namanya. Taehyung tidak peduli, berusaha menulikan pendengarannya. Ia terjatuh di depan pintu, terduduk mengenaskan dan menangis lebih kencang. Meredam panggilan Jimin dengan suara tangisnya sendiri, supaya ia tidak mendengar suara lelah yang dirindunya. Ia tentu ingin memeluknya lagi tetapi sungguh ia tidak mampu. Ia tidak bisa terus terjatuh dan kembali melukai Jimin. "Pergi, Jimin. Kubilang pergi!"
"Aku akan menunggu disini sampai kau membuka pintu dan ikut denganku."
"Malam akan turun hujan dan dingin," ia berkata meski bibirnya gemetar, "Jadi pulanglah sebelum kau berubah menjadi mayat beku di depan pintu. Pergi ke Seoul sebelum hujan benar-benar datang. Aku tidak peduli jika kau kebasahan diluar sana, Jimin. Pergi! Pergi!" kemudian ia menangkup wajahnya dan menangis lagi, tidak peduli dengan gedoran pintu yang terus menggema. "Kumohon pergi, Jimin... Biarkan aku hidup disini tanpamu," ia bergumam lirih, bersua pada angin, "Pergi sebelum aku kembali menyakitimu dengan berada di sisimu lagi. Aku tidak bisa, Jimin. Pergilah, pergi..."
Sedangkan Jimin juga merosot di depan pintu, tak kuasa menahan tangis. Kepalan tangannya masih menggedor pintu flat Taehyung dengan lemah. Bibirnya terus memanggil, Taehyung, Taehyung, Taehyung, sampai tak terhitung berapa ratus. Hujan sudah mengguyurnya tetapi ia tidak sudi untuk bangkit. Tidak sebelum Taehyung berpikir jernih untuk kembali bersamanya.
"Kembali padaku," tubuhnya menggigil kedinginan, "Jika kau tidak ingin menyakitiku."
.
.
Matanya sembap, hidungnya memerah. Taehyung bahkan terbangun di depan pintu, bukan di ranjangnya. Dia merasa bodoh sekali ketiduran selepas menangis. Dia sudah siap bekerja, ini sudah pukul tujuh dan dijadwalkan ada stok buah yang harus ia terima setengah jam lagi. Ia menghentikan gerak tangannya yang sudah akan membuka pintu. Katakan dia egois dan brengsek untuk berharap Jimin masih disana menunggunya seperti apa yang dikatakan. "Maafkan aku, Jimin."
Taehyung mengunci pintu, mendudukkan dirinya di hadapan Jimin yang tertidur meringkuk kedinginan. Wajahnya pucat seperti tertimbun salju. Taehyung sudah memperkirakan ini jadi dia menyampirkan selimut di tubuh basah Jimin, tersenyum lemah kemudian pergi dengan langkah pelan setelah mencuri satu ciuman pendek di bibir dingin pemuda menyebalkan itu.
Musik bertalu-talu. Beberapa orang lewat dan meliriknya, tetapi Jungkook tidak peduli. Dia benar-benar tidak mood untuk melakukan apa pun selain duduk diam. Dia baru saja melayani seorang noona, dan kamarnya sedang dibersihkan. Saat ini ia belum dipesan siapa pun jadi dia terbengong terus sambil minum dan mengunyah kentang goreng.
Sehun datang membawa taco dan duduk di samping Jungkook. "Dia ada di Daegu."
"Siapa?"
"Kakakmu."
Jungkook mengerap, "Kau tahu? Bagaimana bisa?" dia terkejut bukan main. Tidak menyangka Sehun akan peduli tentangnya, bahkan tahu dimana Kakaknya berada. Meski cukup dekat, dia tidak pernah membicarakan tentang kehidupan pribadinya. Apalagi Taehyung; dia tidak pernah menyinggung sesuatu tentang dia. Tapi bagaimana Sehun bisa peduli? Sehun tersenyum singkat, menyesap rokoknya yang baru dia bakar. "Sudah seringkali kukatakan, aku tahu segalanya tentangmu. Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku. Kau bisa berpikir ini lancang tetapi aku mendalami kehidupan semua orang yang berhubungan denganku. Jangan percaya diri, aku melakukan ini pada semua karyawanku, temanku, dan keluargaku. Aku punya tim yang mengurusi ini, ketika aku berkata lacak maka mereka harus melakukannya." Ia menatap Jungkook, "Dan kudengar, Kakakmu meninggalkan Seoul. Kurang lebih itu berdampak pada kinerjamu, Jungkook."
"Dan kau menemukannya?"
"Di Daegu, dia bekerja di pasar swalayan."
Kemudian pertanyaan menghampiri Jungkook. Lalu apa? ketika dia tahu Taehyung kabur dan berada di Daegu, lalu apa? Apa yang harus dia lakukan? Dia punya banyak keraguan dalam dirinya untuk memutuskan sesuatu. Tidak sepenuhnya yakin akan apa yang harus dilakukan. "Pergilah," kata Sehun.
"A-Apa?"
"Temuilah Kakakmu. Kurasa kau ingin kesana,"
"Aku tidak tahu," Jungkook menghela, "Aku tidak yakin."
"Mengapa?"
Jungkook menggigit bibirnya, "Hubungan kami tidak baik dan kurasa... tidak ada artinya jika aku ke Daegu. Maksudnya, jika aku kesana, tidak berarti dia akan kembali ke Seoul. Atau yang lebih membingungkannya lagi, aku harus apa? mengejarnya dan membawanya kembali? Untuk apa?" ia menunduk. Dadanya semakin bergemuruh mengingat Taehyung. Dia masih menyimpan rasa itu, masih sama besar. Begitu hancur dan kusut seperti gumpalan benang. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia merasa kacau tetapi tidak bisa bohong kalau dia benar-benar menyukai Taehyung dalam arti lain. "Jika aku begitu, apakah dia akan terluka? Aku belum pernah melihat dia sehebat itu menangis, dia terluka karena aku. Saat aku sadar telah menyakitinya begitu dalam, aku dibuat bingung."
Dia menarik napas panjang, "Apakah aku benar-benar menyakitinya? Sebegitu dalam? Sebegitu tersiksakah dia karena aku? Apa benar dia benar-benar menderita olehku? Aku cukup bajingan, memang. Ketika aku melihatnya menangis dan berteriak pilu, rasanya sakit." Dia meremas jemarinya sendiri, "Jantungku seakan diremas begitu hebatnya saat dia berkata dia lelah, dia penat, dia ingin mati. Dia ingin mati, Sehun. Apa itu bahkan terdengar menyenangkan? Aku terkejut, aku tidak tahu harus merespon apa. aku diam saja, tetapi aku tidak berani membalas. Saat dia pergi, aku tahu bahwa aku telah membunuh dia perlahan."
Mengingat itu membuatnya semakin sesak. Susah payah dia tahan tangisnya, membayangkan Taehyung yang berjuang sendirian di Daegu membuatnya penasaran setengah mati. Apa dia bahagia? Atau dia justru semakin menderita? Dia tidak tahu, apakah dia harus merelakan Taehyung pergi atau menariknya kembali ke rumah, lalu menyiksanya seperti semestinya? Dia kebingungan.
"Aku rindu dia,"
Siang ini Bogum mengajaknya makan lagi.
Taehyung menghela tidak rela tetapi dia tidak mau kehilangan pekerjaan. Dia juga tidak bisa menolak. Permasalahannya adalah Bogum orang yang baik, sopan, ramah, dan tidak perhitungan. Dia tidak menyerah meski Taehyung selalu berkata tidak. Itu sedikit meluluhkan hatinya jadi dia menerima setiap ajakan makan siang dari Bogum.
Kali ini ia ingin makan steak, Taehyung tidak terbiasa dengan itu. Dia sudah mengutarakan kalau dia bisa saja mempermalukan mereka kalau tetap memaksa tetapi Bogum dengan sopannya berkata akan mengajari dan mengenalkan itu pada Taehyung. Jadi dia tidak bisa menolaknya. Dia bahkan hampir tidak rela naik mobil Bogum yang mahal. Tetapi Bogum santai dan tersenyum, berkata tidak apa-apa dan menyuruhnya untuk terbiasa dan santai. Oh, bagaimana bisa? Taehyung tidak terbiasa dengan kemewahan.
"Kita parkir harus parkir di sini, di sana akan sangat sesak pada jam makan siang."
"Oh ya?"
"Hm. Aku takut kita kehabisan waktu dengan berputar-putar sambil kelaparan, atau terkunci oleh mobil-mobil yang parkir sembarangan hingga kita susah keluar. Hanya butuh menyebrang sekali, tidak apa, kan?"
"Itu lebih baik," Taehyung tersenyum. Mengikuti Bogum untuk keluar mobil dan berjalan di sampingnya, tangan mereka bersentuhan. Taehyung sadar itu tetapi ia pura-pura tidak tahu. Ia dengan perlahan sedikit memberi jarak supaya Bogum tidak memiliki kesempatan untuk mengait jemarinya. Mereka berdiri di trotoar, lampu masih merah untuk pejalan kaki jadi mereka menunggu. Ada dering ponsel milik Bogum, dan Taehyung menunggunya selesai bercakap. "Sebentar, Taehyung. Aku butuh tempat yang tenang, kau bisa kesana lebih dulu? Pilih saja kursinya, dan catat menu yang ingin kau coba. Itu oke?"
Dia mengangguk, "Baiklah."
Setelah Bogum memisahkan diri darinya, Taehyung menunggu setidaknya dua puluh detik hingga lampu pejalan kaki menjadi hijau. Dia terkesiap dan melangkah maju, hanya ada seorang pria yang ikut menyebrang, itu pun masih sedikit di belakang Taehyung. Secepat ia berjalan, secepat itu pula ia tertabrak oleh motor yang melaju kurang ajar dengan cepat. Dia sedikit oleng tetapi memilih tancap gas tidak peduli dengan Taehyung yang terjatuh mengenaskan dan teriakan beberapa orang.
"Sialan, Kim Taehyung!"
Semuanya terjadi begitu cepat, ketika ia belum sempat bangkit dan tubuhnya sudah digendong. Dia merasa tubuhnya sangat ringan, meski lengan dan lututnya terasa begitu perih. Mungkin ada luka terbuka disana, atau aspal yang menggores kulitnya hingga memerah. Dia meringis pelan, tetapi kemudian jadi bungkam ketika ia didudukkan dengan hati-hati. Dia terkejut, tidak tahu harus berucap atau pergi. "Jimin –"
"Ini akibatnya kau pergi!"
"Kau –"
"Sialan, darahnya banyak, Taehyung!" suaranya terdengar parau dan marah. Taehyung mengerjap dan melihat tangannya terluka, darahnya keluar begitu banyak. Dia lupa kalau dirinya anemia, tidak memiliki sistem koagulasi yang baik sehingga akan sulit jika ia berdarah. Jimin tampak begitu panik dan marah, membuat Taehyung lebih merasa sakit. "Sial, harus bagaimana? Ayo, kita ke rumah sakit."
Taehyung menarik lengan Jimin, "Tidak, Tidak. Aku tidak apa-apa."
"Kau pikir aku akan mendengar itu? Ayo ke rumah sakit."
"Tidak Jimin, aku tidak mau."
"Mengapa?"
"Ini luka biasa. Kita bisa ke apotek membeli obat dan beberapa plester."
Jimin menarik napasnya marah, "Kau masih sama. Tubuhmu ini, tidak, maksudku darahmu ini punya sistem pembekuan yang buruk. Kau anemia, artinya apa? Darah ini tidak akan cepat berhenti jika tidak ditangani segera. Kau mau mati, ya?" Taehyung mengulum bibirnya ketakutan, "Tapi tidak, Jimin. aku tidak bisa pergi. Ada seseorang yang –"
"Kau tidak mau pergi karena pria itu, kan?"
"Apa?"
"Ketika keselamatanmu sudah diambang kematian, kau masih memikirkan dia? Apa kau benar-benar peduli padanya lebih darimu sendiri? Apa kau hanya memikirkan dia? Pria brengsek itu?"
"Dia tidak brengsek,"
Jimin semakin marah. "Maka berhenti mempedulikan dia! Kau harus diobati dengan cepat tetapi kenapa masih berpikir untuk makan siang dengannya?! Kau sebegitu inginnya bersama dia? Begitu?" itu terdengar sangat menyakitkan. Taehyung tertohok bukan main, merasa Jimin sudah benar-benar marah padanya. Dia terdengar sangat benci padanya dan itu sangat menyakitkan. Semua nada tinggi dan dengusannya sangat menguras kewarasan Taehyung untuk tetap terjaga. "Apa aku terlihat murah sekarang?"
"Kau bicara apa?"
"Ketika aku lebih memikirkan pria yang mengajakku makan siang, sedangkan aku sudah berdarah dan mungkin pingsan karena kehabisan darah. Apakah aku terlihat murah, Jimin? Apakah itu yang ada di kepalamu sekarang, begitukah penilaianmu terhadapku?"
Kali ini Jimin yang tertohok. Bagaimana bisa Taehyung berpikir demikian.
"Kau tidak mengerti,"
"Ya, aku memang tidak. Pergilah, aku bisa ke apotek. Atau lebih baik aku menunggu Bogum hyung untuk membawaku kesana." Dia terdengar putus asa dan Jimin semakin marah mendengarnya. Dia benci ketika ada nama pria lain yang Taehyung pikir akan lebih baik untuk pergi bersamanya. Itu sangat menjengkelkan. Dirinya ada disini lalu mengapa Taehyung lebih memilih yang lain? Itu benar-benar penghinaan besar; jujur saja Jimin tidak suka diperlakukan demikian. "Kau ikut aku sekarang!"
"J-Jimin –!"
Tanpa banyak bicara, masih menyimpan amarah, Jimin menaruh tubuh kurus Taehyung dalam gendongannya dan melangkah pergi. Mengabaikan rontaan tubuh Taehyung yang menggila, Jimin tetap melaju seperti orang tuli. Dia bertemu Bogum dengan tidak diduga, raut wajahnya mengeras. Melihat ekspresi kebingungannya membuat Jimin mendengus, "Pacarku terluka dan aku harus membawanya ke Rumah Sakit sekarang juga. Tolong jangan bertanya apalagi menahanku. Jangan dengarkan Taehyung atau kita akan benar-benar terlambat menangani anak bandel ini."
"E-Eh...?"
"Bogum hyung, tolong ak –ya! Jimin, jangan berlari!"
Apa pun yang dilakukan Jimin saat ini, sungguh membuatnya pusing. Mungkin anemianya benar-benar kambuh, posisi tubuhnya yang terbalik dalam gendongan Jimin (dia meletakkan tubuh Taehyung di bahunya, dan Taehyung tidak mengira Jimin sekuat itu), dan pelarian ini membuat kepalanya benar-benar berputar. Mungkin dia sudah pucat, entahlah, tubuhnya sudah lemas untuk meronta lebih dari ini. dia membiarkan Jimin melakukan apa yang dia mau. Jantungnya bertalu-talu, dan dia mual.
"Kau baik-baik saja?"
Dia sudah duduk di jok mobil Jimin. taehyung menghirup udara sejenak, aroma pinus. Masih sama persis dan sangat beraroma Jimin. airmata menggenang di pelupuknya, ia ingin menangis. Tidak tahu harus menjawab dengan suara atau tangisnya. Kepalanya terasa berat dan pandangannya berputar. Jimin menangkup pipinya yang dingin, matanya bergetar pilu. "Taehyung, kau mendengarku?"
"Tidak." Dengan sisa kekuatannya, Taehyung mendorong Jimin, berusaha melarikan diri meski ia tahu dirinya akan terjatuh begitu cepat. Sial dengan anemia pada tubuhnya. Lukanya semakin lebar. Jimin menangkap tubuh rapuhnya dan membopongnya lagi, Taehyung mencoba menahannya. Dia menggeleng dan bersikeras menolak. Dia tidak bisa menerima ini. "Aku tidak mau –"
"Kau harus pergi atau kau akan mati disini!"
"Lalu apa masalahmu?!"
"Kim Taehyung, dengarkan aku!" Jimin membentak, dia benar-benar kehabisan rasa sabar. Dadanya naik turun, matanya basah nyaris menangis. Ia mengukung tubuh kurus Taehyung pada sisi mobil, masih sulit membuatnya kembali masuk mobil dengan tenang. "Aku tidak bisa, Taehyung. Kehilanganmu adalah kelemahanku, kau tahu? Tanpamu aku tidak dapat melakukan segala hal dengan benar. Apa kau tahu seberapa tersiksanya aku selama kau menghilang? Ini tepat satu bulan dan kau masih berpura-pura kau baik-baik saja? Ha ha ha, lucu, Kim Taehyung tapi aku tidak tertawa!" ia mengerjap, "Aku tersiksa saat kehilanganmu. Ini tidak semudah yang kubayangkan, ketika aku pernah berkata aku ingin kau pergi dari hidupku kupikir itu akan jadi sangat melegakan untuk tidak melihat wajahmu. Tetapi nyatanya ketika itu terjadi aku hancur, aku nol, aku jatuh dan tidak bisa bangkit kecuali tanpamu,"
Taehyung menangis dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, Jimin. Aku baik disini,"
"Apa ini yang kau sebut baik?"
Jimin mengusap pipi Taehyung yang basah, memerah, dan dingin. Mengecupnya lambat sekali seperti tidak tahu waktu, penuh dengan perasaan yang selama ini ia pendam. Ia merindukan wangi Taehyung, pipi Taehyung, senyumnya, matanya, bahkan bibirnya. Dia merindukan Taehyung dan itu terbaca dari caranya memanjakan wajah Taehyung dengan ciuman kupu-kupu yang melelehkan perut Taehyung yang sudah bergejolak luar biasa. "Kau menangis saat aku ada dihadapanmu, apa itu yang disebut baik? Kau mengusirku pergi ketika aku di depanmu, apa itu baik? Tangismu mengatakan dengan jelas, kau membutuhkan aku. Kau ingin bersamaku, lagi, seperti sebelumnya." Ia mendaratkan satu kecupan panjang di kelopak mata Taehyung, "Seperti seharusnya."
"Aku tidak mau menyakitimu."
"Dan aku tidak mau kau menyakiti dirimu sendiri."
Taehyung diam, mulutnya terkatup rapat saat Jimin memeluknya begitu erat nyaris membuatnya sesak oleh rindu yang beradu dalam dadanya. Ia ingin menyentuh Jimin, ingin membalas pelukan hangatnya. Ciuman lembut di wajahnya membuat Taehyung begitu tersentuh dan jatuh. "Pulanglah, Taehyung. Rumahmu bukan disini. Aku adalah tempatmu kembali, jangan sekali pun berpikir untuk pergi dariku. Ini akan jadi yang terakhir kau bisa kabur. Lain waktu, jika kau pergi lagi, aku akan mengejarmu bahkan jika aku harus mempertaruhkan seluruh hidupku." Dia mencium bibir Taehyung lama sekali, menyapu langi-langit mulut yang dia rindu dengan teramat sangat, menyisakan suara kecup yang intens. "Kuperingatkan sekali lagi, Kim Taehyung. Jangan pernah berani kau pergi dariku atau aku akan terus mengejarmu kemana pun kau pergi. Coba saja lakukan dan kau akan terkejut karena aku dapat menemukanmu, dimana pun."
"J-Jimin –"
Astaga, Jimin benar-benar panas. Kepalanya semakin berputar.
"Kau memang bodoh, bagaimana bisa kau berpikir aku akan bahagia tanpamu? Kau seharusnya tahu saat aku berkata padamu untuk pergi, itu adalah dusta. Apa pernah aku serius tentang itu? Seharusnya kau tahu itu dengan baik, Taehyung. Kenapa kau malah benar-benar pergi dengan semua kerumitan yang kau berikan padaku? Kau pergi saat semuanya rusak begitu saja, saat semuanya masih kusut dan belum selesai; kau pergi saat aku masih bertanya-tanya," Jimin mendesis, matanya menggelap. "Kau membuat pilihan yang sulit untukku, Taehyung. Apakah aku harus membiarkanmu pergi dan mati atau mengejarmu dengan penolakan seperti ini? Bahkan aku sama bodohnya untuk terus mengejarmu yang bodoh ini,"
Taehyung tidak kuat melihat raut tegas Jimin.
Kepalanya berdenyut nyeri, entah karena anemia atau tatapan tajam dari Jimin. "Kembali padaku. Tidak peduli jika itu akan membunuhku sekali pun. Aku tidak peduli, jika aku akan mati tersiksa olehmu, itu akan lebih baik mati daripada mati merindukanmu tanpa sempat melihat wajahmu sebelum menutup mata. Jangan buat aku drama seperti ini, Taehyung." Jimin melembut dan Taehyung kembali meleleh, "Tatap mataku dan katakan kau ingin bersamaku, selamanya, mulai saat ini dan seterusnya. Bahkan jika itu hanya mendatangkan luka, jika itu menyakitkan, mari terluka bersama-sama. Dan mati bersama."
Saat itu, Taehyung kembali jatuh pada Park Jimin.
.
.
Rumah.
Terdengar sangat nyaman, dan rindu. Taehyung berdebar mendengar kata itu, cukup membuatnya sesak oleh rasa gembira dan mendamba. Dia merindukan rumah, suasana hangat, aroma kayu bercampur pinus dan jeruk. Namun dia juga gugup, sudah lama dia tidak bertemu dengan sesuatu yang bisa dia sebut rumah. Dia tinggal di flat yang dingin dan sempit. Sendirian. dan Taehyung tersiksa oleh kesepian yang mencekiknya setiap waktu. Tetapi pula, ketika ia dihadapkan dengan rumah, ia bingung. Terpikir olehnya apakah ini pilihan tepat untuk kembali dan memulai? Atau justru menghadapi masalah selanjutnya?
Pintu mobilnya terbuka, membuyarkan lamunannya.
Jimin tersenyum dan melepas seatbeltnya, membantunya turun dan menggenggam jemarinya begitu hangat dan intens. Dia merindukan ini, kelembutan Park Jimin yang mampu membiusnya. Dia menatap mata Jimin yang hangat dan berkaca, dia merasa senang bisa seperti ini lagi. Namun, apakah ini pilihan yang baik? Taehyung tidak yakin, meski Jimin telah meyakinkannya berkali-kali ia tetap merasa ragu. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, dan itu mengganggu. Jimin menciumnya lagi, lebih lembut dan halus. Dia dibuat meleleh lagi. Senyum Jimin menular padanya. "Kau haru terus tersenyum seperti itu, Sweets."
Ah, panggilan itu. Sejak kapan Taehyung jadi menyukainya? Mungkin karena lama tak ia dengar, lama-lama jadi merindukan. Dia berdebar karenanya.
Jimin menariknya ke dalam rumah besarnya. Taehyung nyaris tidak percaya tidak ada yang berubah dari rumah ini. semuanya masih sama seperti dulu. "Oh, Taehyung? Lama tak bertemu, astaga." Itu Ibu Jimin yang kebetulan tengah menuruni tangga. Langkahnya cepat dan memeluk tubuh kurus Taehyung yang lebih tinggi darinya. Wanita itu tersenyum, "Ya ampun, tanganmu kenapa?"
"Dia keserempet motor, Bu. Aku membawanya ke Rumah Sakit."
"Apa segitu parah?"
"Tidak kalau itu aku, tapi Taehyung punya masalah dengan koagulasi darah."
Ibu Jimin tersenyum dan mengelus rambut Taehyung, meski itu harus membuat Taehyung menunduk sedikit. Taehyung balas tersenyum. Rasanya ia juga rindu dengan Mamanya ini. "Ah, sebenarnya kalian cukup telat untuk sampai ke rumah, tapi sebaiknya kalian makan dulu. Aku akan menemani saja, ayo ayo kalian pasti kelaparan. Terlihat dari wajah melas Jimin," kemudian dia tertawa sementara Jimin mencibir. Taehyung melirik dan terkekeh. Membiarkan lengannya digenggam dan ditarik Jimin pergi ke ruang makan. Ibunya bicara lagi, "Kalian akan suka masakan Jiyeon. Ayah sudah tambah tiga porsi, lho."
Siapa itu Jiyeon? Taehyung bertanya melalui tatapan matanya, tetapi Jimin tidak melihat.
"Jiyeon-ah, apa kau bisa menghangatkan makan siang? Jimin dan Taehyung pulang."
"Ah, halo."
Taehyung tersenyum kaku dan menunduk tanda salam, tangannya sedikit bergetar ketika menjabat uluran tangan dari Jiyeon. Wanita itu cantik dan manis. Suaranya syahdu dan halus, tubuhnya agak sedikit pendek tetapi sepertinya dia baik. Caranya tersenyum tidak palsu, Taehyung rasa dia menyukai Jiyeon. Yang dia heran adalah Jimin diam saja sejak tadi. "Kudengar, Taehyung-ssi seumuran dengan Jimin? Berarti kita juga seumuran. Oh, duduklah. Kelihatannya kalian lelah, aku akan menyiapkan makan."
Kemudian mereka duduk, Ibu Jimin nampak heboh. Taehyung diam memerhatikan. "Hei, Taehyungie. Bukankah Jiyeon sangat cantik? Dia hebat memasak, dan sikapnya santun. Menurutmu bagaimana?"
Kenapa ada pertanyaan macam ini?
"Sempurna, dia gadis yang diidamkan para orangtua, kurasa."
"Nah, tidak salah berarti –"
"Ibu!"
Jimin berteriak tiba-tiba, Taehyung terlonjak di kursinya. "Ei, jangan bilang kau belum bilang pada Taehyungie? Astaga, Jimin! Kau benar-benar payah atau pikun?"
Apa? Tentang apa?
"Aku tidak –"
Ibu Jimin menepuk kepala Taehyung, "Jiyeon sudah bertunangan dengan Jimin."
.
.
.
.
To be Continued.
.
[edisi: sesi panjang lebar]
Noun; cuap-cuap
..
Lah? Kok Jimin tunangan sama orang lain?
Hahahaha. Bagian dari penyiksaan Taehyung yang hakiki. Aku kok baper, yha. Aku sedih lihat Taehyung menderita. Dia baru saja memberi kepercayaan dan mencoba kembali meski dia akan merasakan sakit. Dan, astaga, kesakitan macam apa ini?!
Percayalah, segala sesuatu disini sudah saya perhitungkan dengan baik. Hehe.
Maaf kalau kesannya jadi ngelantur dan keluar jalur. Masalahnya bukan selesai malah muncul masalah baru, maaf banget. Sumpah, aku ingin mencoba realistis aja sih. Ketika kita memilih sesuatu yang salah, masalah akan bermunculan, kan?
Dan oh ya saya mau menegakan sekali lagi, kalau tag Vkook atau KookV disini sejatinya untuk hubungan saudara saja. Sebenarnya ini akan jadi kisah persaudaraan mereka yang berawal dari kehancuran, begitu maksud saya. Tapi emang dirancang kalau mereka terjebak dalam perasaan laknat satu arah. Emang ada cinta-cintanya walau temanya family, buat bumbu supaya cerita dan masalahnya dapet. Itu aja sih, diharap kalian mengerti dan bersukarela atas itu.
Bagaimana pendapat kalian tentang chapter ini?
[ sugantea ]
