Paginya, Taehyung terbangun lebih awal.
Pada dasarnya dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Meski dapat merebahkan tubuh pegalnya di atas ranjang empuk, nyatanya itu tidak membantu. Dia terus dihantui oleh mimpi buruk yang merenggut napasnya bukan main. Rasanya jauh lebih melelahkan, dia tertidur tetapi otaknya tidak. Terus memutar semua skenario payah dalam kepalanya yang membuatnya terus mengerutkan kening sepanjang malam. Rasanya begitu menyesakkan, ketika ia seperti berlari di dalam bunga tidur. Dan itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.
Dia terduduk. Menatapi jemarinya yang dingin. Otaknya kosong untuk sesaat, dia tidak tahu harus memikirkan apa. Mimpi buruk terlalu menguras tenaganya. Dia menghirup napas dalam lantas menatap sisi kanan tubuhnya. Ada Jimin yang masih terlelap. Wajahnya tenang dan ia mendengar suara mendengkur yang halus dan lucu darinya. Taehyung menatapnya lama sekali, seluruh wajah itu habis dia perhatikan dalam-dalam. Namun kemudian otaknya kosong lagi. Tidak tahu harus berpikir apa. Atau berbuat apa.
Taehyung kembali menatap jemarinya, sembari menggigit bibir. Dia ingin menangis, lagi, tetapi pikirnya itu akan sangat membuang tenaga dan waktu. Dia sudah lelah menangis. Apakah dia harus menangis lagi? Menangis untuk apa? Karena Jimin? Taehyung benar-benar pusing. Mungkin, ini salah untuk kembali percaya sepenuhnya kepada Park Jimin. Mungkin, ini salah untuk kembali jatuh pada Jimin. Mungkin, ini salah untuk memilih terluka bersamanya. Bahkan untuk waktu yang sesingkat ini, dia tidak mampu mengatasi sakit di hatinya. Ini terlalu menyiksa. Lantas bisakah dia bertahan?
Dia tidak tahu.
Bahkan mungkin, tidak yakin.
Rasanya amat mustahil untuk benar-benar berada disamping Jimin. Mungkin kenangan manis bersamanya akan sebatas menjadi kenangan belaka. Sebuah cerita masa lalu yang sedikit banyak membuatnya senang untuk diingat. Tetapi untuk lebih dari itu, Taehyung rasa tidak bisa. Ini adalah keputusan yang salah untuk kembali, dan dia sangat menyesali ini. Untuk apa ia kembali, jika pada akhirnya mereka akan berpisah? Tidakkah itu menyakitinya? Taehyung terus berpikir, seberapa bodoh dia sudah terbohongi? Bagaimana bisa dia jadi sangat payah untuk jatuh dan kembali terluka. Dia hanya berharap, sekali saja, dia merasa bahagia dan hidupnya berguna. Apa itu sangat sulit? Oh, kepala Taehyung berdenyut tiap mengingat itu.
"Loh? Taehyung? Kok sudah rapi-rapi?"
Taehyung tersadar, ketika ia sudah berdiri di halaman rumah Jimin. Ada Jiyeon yang menyiram bunga dan beberapa tanaman obat. Pakaiannya sederhana dan seperti wanita rumah, begitu manis dan enak dipandang. Taehyung tersenyum kikuk, melangkah mendekat pada Jiyeon yang menghentikan pancuran air dari keran taman. "Kau sudah mau pulang?"
"Begitulah."
"Tapi ini masih sangat pagi,"
"Tidak apa."
"Kenapa Jimin tidak mengantarmu?"
Harus dijawab apa? Bahkan dirinya sengaja kabur diam-diam. "Ah, dia sepertinya kelelahan setelah menyetir jauh. Kupikir dia butuh istirahat cukup. Rumahku dekat jadi tidak perlu diantar," ia ikut berjongkok di sebelah Jiyeon yang sedang memberi pupuk. Matanya asik memindai kegiatan berkebun Jiyeon yang sangat menarik. Dia tidak tahu kalau Jiyeon benar-benar cocok jadi perempuan idaman. Pandai memasak, cantik, baik, sopan, pandai berkebun. Itu paket komplit. "Lagipula aku ini laki-laki. Aku bisa menjaga diri. Kalau aku perempuan, mungkin aku akan menyeretnya pergi."
Jiyeon tertawa, "Kalian dekat sekali kelihatannya."
"Kami berteman sejak kecil."
"Oh, pantas. Aku berteman dengannya saat SMA. Apa kalian tidak satu sekolah?"
Ini perbincangan yang ingin ia hindari. "Aku tidak lanjut SMA."
"Oh, mengapa?" Jiyeon nampak terkejut. Taehyung bisa melihat itu dari bagaimana cepat dia menoleh dan menatapnya dengan mata yang bergetar penasaran. Taehyung mengalihkan pandangannya sebentar hingga ia berdeham, menyusun kata yang baik dalam kepalanya. "Adikku harus masuk sekolah dan... yah, kondisi keuangan kami tidak stabil jadi aku memprioritaskannya. Lagipula, aku tidak pintar dalam belajar dan kulihat, adikku sangat mahir. Jadi itu akan bagus jika dia bergerak maju."
Nampaknya Jiyeon bersimpati. "Aku menyesal mendengarnya."
"Ah, jangan seperti itu."
Selanjutnya mereka diam. Lama sekali. Taehyung sudah akan pamit namun Jiyeon mengajaknya bicara lagi jadi dia mengurungkan niat untuk bangkit. Dia bertanya-tanya tentang kebiasaan konyol Jimin, tentang kesukaan Jimin, tentang hal yang Jimin benci, tentang Jimin. "Pokoknya, kau harus hati-hati. Sebab dia itu sedikit mesum. Dia mulai membaca komik gituan sejak umur sebelas. Dan itu jadi kebiasaannya setiap minggu. Kalau hormonnya benar-benar kacau, astaga, aku tidak bisa membayangkannya."
"Terdengar seperti kau pengalaman dengan itu."
Wajah Taehyung memerah. Ini bukan momen yang tepat untuk tersipu karena mengingat bagaimana panasnya Jimin jika mencumbui dia. Tidak, dia sedang bicara dengan orang polos. Tetapi mengapa dia masih saja bertalu-talu ketika memori Jimin menciumnya dengan kasar kembali terputar di kepalanya? Sial, ini sangat bahaya untuk dilanjutkan. "Omong-omong, aku tidak menyangka akan menjadi tunangan si menyebalkan Park Jimin."
Oh, haruskah Taehyung mendengar ini?
"Orangtua kami memang mengenal baik dan cukup dekat. Kami hanya sebatas teman SMA dan dekat karena kami anggota paduan suara. Dia populer karena ketampanan dan sikap baiknya. Setiap ada acara keluarga kami bertemu. Ya karena relasi dari orangtua kami," Jiyeon tersenyum lembut, "Tetapi aku merasa biasa aja. Pada awalnya, tidak ada rasa sedikit pun. Kami teman yang suka mengejek dan berebut makanan. Tetapi ketika Ayah berkata, ingin menikahkan aku dengan dia, itu terjadi."
Taehyung diam saja. Badannya sudah terlanjur lemas.
"Itu terjadi begitu saja, secara tiba-tiba." Jiyeon menarik napas, "Aku menyukainya secepat itu."
"O-Oh ya?"
Jiyeon mengangguk. "Mungkin aneh tetapi aku tiba-tiba menyukainya. Entah pada dasarnya aku memang suka dia atau bagaimana. Detik ketika aku tahu kami dijodohkan, jantungku berdebar kencang dan wajahku panas sekali." Ia menangkup pipinya, "Saat kami kembali bertemu, rasa itu semakin kuat. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol pergerakan tubuhku, detak jantungku, aliran darahku; berubah secepat itu hanya karena melihat Jimin." ia menutup matanya, "Detik itu pula, aku mencintai dia."
Suaranya terdengar mantap, gembira, penuh damba. Taehyung menggigit pipi bagian dalamnya kuat-kuat, seketika merasa kecil dihadapan Jiyeon. Entah bagaimana perasaan yang carut-marut dalam dadanya. Terlalu berantakan tak berwujud. Menumpuk kurang ajar hingga ia sendiri merasa sesak karenanya. Dia bisa saja memiliki Jimin, tetapi dalam hal apa? Mereka sepasang kekasih, oke. Lalu yang dihadapannya ini adalah calon pendamping hidup kekasihnya. Calon istri pacarnya. Calon ibu dari anak Park Jimin. Tentu Taehyung tidak punya status lebih tinggi daripada itu. Dia jatuh kembali, hingga tidak tahu harus berbuat apa untuk mengakhiri penderitaan tak berujung ini.
My Mama
..
Kim Taehyung
Jeon Jungkook –role as Kim Jungkook
..
[Vkook dan KookV as brothership]
[MinV]
..
Believe on me, so i'll hold you tight
..
Katakan Jimin bodoh.
Seharusnya dia tahu kalau Taehyung memang seperti kucing. Pengecut, penakut, suka berlari, dan merepotkan. Ketika ia dengan kurang ajar membawa Taehyung kembali, seharusnya ia berada disana; di sisi terlemah Taehyung untuk membantunya tegap. Menyalurkan kekuatan, mengucap 'tidak apa, aku selalu bersamamu' dengan lembut di telinga pemuda manisnya. Tetapi yang dilakukannya justru marah dan diam. Pura-pura tidak tahu. Membiarkan semuanya terjadi seperti angin lalu yang hanya lewat menggugurkan daun kering.
Taehyung diam saja. Taehyung tidak bertanya. Taehyung tidak memanggilnya.
Itu yang ada dalam pikirnya. Maka Jimin tidak bersua.
Namun, seharusnya Jimin bisa mengerti. Taehyung tidak bisa melakukannya. Taehyung bukan seorang independen. Taehyung lemah dan selalu memupuk emosinya sendirian tanpa membiarkan seseorang menyentuhnya. Memainkan peran dengan begitu hebatnya seolah dia Hamlet si Raja Teater. Seharusnya Jimin sadar untuk peduli lebih jauh. Ketika dia dengan mudahnya berkata untuk terus berada di sisinya, ketika dia berjanji untuk terus bersamanya, mengucap sumpah untuk terus mencintainya, merengek pasrah berkata dia akan mati tanpa Taehyung; seharusnya itu yang dia lakukan. Tetapi apa? Dia membuat celah untuk Taehyung kembali pergi darinya.
Jimin mengeratkan jemarinya pada sprei ranjang. Tempat seharusnya ia menemukan tubuh jenjang kurus milik Taehyung yang masih terlelap, atau dimana ia bisa melihat wajah mengantuk yang lucu dan gumaman menggemaskan. Dan itu kosong. Hampa. Tepat menohok Jimin hingga ia sesenggukkan antara ingin menangis dan marah. Dia bingung harus berbuat apa lagi. Dia telah membunuh kepercayaan Taehyung untuknya dengan menjadi seorang pembual brengsek, lalu apakah mungkin dia akan meyakinkan kekasihnya untuk bertahan bersama?
"Jangan pergi, Sweets,"
Biar saja dia menangis. Dia sudah kepalang sesak.
"Aku tidak bohong untuk berkata," tiba-tiba langit berubah mendung, "Aku mencintaimu."
"H-Hyung...?"
"Apa kau merindukanku?"
Jungkook langsung loncat, gerakannya lincah seperti hyena yang mengejar mangsa, segera menarik tubuh kurus Taehyung kedalam pelukannya yang erat. Erat dan hangat. Jungkook nyaris kehabisan kata. Tubuhnya bergerak sendiri, sarafnya berkata untuk langsung memeluk kakaknya yang berdiri di ambang pintu. Dia hampir menangis ketika menghirup aroma Taehyung. Manis dan memabukkan. Aroma rumah yang menenangkan seperti aromaterapi. Jungkook nyaris kecanduan dan nge-fly sampai akhirnya Taehyung terkekeh dan melepas rengkuhan menyesakkan itu. Mata bulatnya menatap Jungkook teduh. "Aku pulang."
"Aku –" bibirnya dia kulum, tidak tahu harus membalas apa.
Dia ragu untuk berkata. Canggung. Sebab Taehyung seakan lupa permasalahan rumit mereka sebelum dirinya menghilang begitu lama. Itu agak membuatnya kesal namun ia berpikir itu jauh lebih baik untuk sekarang tetap diam akan hal itu.
Kemudian Jungkook terpaku kala Taehyung mengelus kepalanya lambat, "Maafkan hyung. Apa kau makan dengan baik? Kau tidak hanya makan ramen saja, bukan? Tidak minum kopi, kan? Lalu bagaimana dengan sekolah? Apakah nilaimu meningkat? Kapan ujian akan diselenggarakan? Kita harus makan bersama sebelum dan sesudahnya."
Kalimatnya terdengar manis. Jungkook nyaris menangis.
"Hei, jangan menangis, Kookie."
"Hyung, a-aku –" dia tergagap lagi.
Taehyung tertawa, manis sekali. "Kookie adalah cowok yang kuat. Aku percaya adikku ini bisa hidup mandiri tanpa hyung yang payah ini. Kau sudah bekerja untuk menghidupimu, itu bagus, Kook. Aku bangga, sangat bangga." Ia menunduk dan menghapus air mata yang meluncur ke pipi tembam milik adiknya lantas tersenyum lebih hangat. "Pasti Kookie hidup dengan baik selama aku pergi, bukan? Kau sudah besar, Kook. Seharusnya aku yang menangis karena melihatmu tumbuh dengan baik. Ya, seharusnya aku yang menangis ketika pulang. Hei, jangan menangis lagi, Kookie. Nanti dimarahi Mama, lho."
Bahkan Jungkook lupa dia punya Mama. Dia tambah menangis.
"Astaga, dasar bayi besar."
"Aku merindukanmu, hyung, sungguh, maafkan aku."
"Kenapa? Apa yang salah darimu? Kau adik terbaik yang kumiliki, sungguh."
Jungkook menggeleng, "Aku brengsek, hyung. Aku bodoh. Aku bersalah, maafkan aku. Aku sungguh merindukanmu. Maafkan aku, jangan pergi lagi. Tidak ada yang mengomeli aku karena tidak memakan sayuran hijau." Ia memeluk leher Taehyung dan menenggelamkan wajah basahnya disana, menyisakan desau tawa renyah dari Taehyung yang geli karena leher adalah titik sensitifnya dan sifat lucu Jungkook yang seperti anak-anak. "Jangan pergi lagi, hyung."
"Ya, Jungkook. Aku sudah di rumah."
.
.
"Hyung, suapi aku."
Taehyung tertawa, meski tangannya melakukan apa yang Jungkook minta. "Kau benar-benar masih bayi, Jungkook. Ah, buka mulutmu." Kemudian dengan telaten menyuapi potongan buah melon dingin kedalam mulut Jungkook yang menganga lebar dengan senyum manis. Taehyung mengusak lembut rambut adiknya. Tersenyum lagi. Tidak ada yang lebih indah dari ini. bercengkerama hangat dengan Jungkook adalah satu hal yang lama ia rindu dan nanti. Sudah sangat lama sejak terakhir mereka lakukan. Jauh sebelum semua masalah rumit singgah di hidupnya hingga ia berantakan. Dia sangat mendambakan momentum kecil ini.
Ya, mungkin selama ada Jungkook, itu tak apa.
"Hyung juga makan, dong." Jungkook merebut garpu dari jemari panjang Taehyung dan menusuk potongan melon yang besar, membawanya ke mulut Taehyung. Tertawa pelan saat Taehyung hampir kepayahan mengunyah potongan yang terlalu besar untuknya. Ada setetes air yang lolos dan meluncur kurang ajar di dagunya. "Yah, astaga,"
Jungkook memerhatikan Taehyung yang mengelap mulut dan dagunya dengan tisu. Dia diam saja, meski di kepalanya sudah seperti terbakar. Separuh melompong dan separuh bergerilya. Antara cemas dan berdebar. Dia ingin sekali mencium Kakaknya lagi, tetapi, apakah ini hal yang benar dilakukan? Maksudnya, Taehyung jelas menentang itu. Tetapi bukan salahnya kalau Taehyung memang sangat menggoda, bahkan jika hanya mengedipkan mata bulatnya yang terselimuti bulu mata yang lebat dan panjang. Jelas Jungkook bukan orang yang pandai menahan.
"Kenapa, Kookie?"
"Aku suka kau, hyung."
Kemudian diam lagi. Jungkook merasa bodoh. Taehyung tergugu.
Canggung bersua.
"Aku tidak masalah," Jungkook berucap sebelum Taehyung membuka mulut. "Itu tidak apa jika kau menolak. Kau punya hak, lagipula ini salahku untuk jatuh padamu. Ya, kita adalah saudara dan ini adalah salahku menaruh perasaan untukmu." Ia mengetuk dada bagian kirinya dan tersenyum miris, " –disini. Tergantung bagaimana kau perlakukan aku, hyung. Jika kau tersenyum dan bahagia bersamaku maka dia akan berdetak sangat kencang. Jika kau sakit karena aku, juga menendangku jauh dari kehidupanmu, dia akan mati. Katakan aku terlalu puitis tetapi begitu yang aku rasakan, hyung. Maaf aku tidak bisa mengendalikannya,"
"Jungkook,"
"Bahkan aku tidak tahu kenapa. Sejak kapan. Bagaimana bisa."
Taehyung melarikan jemarinya mengelus jemari Jungkook. Matanya menatap teduh pada milik adiknya yang berkaca-kaca. Dia tersenyum meski hatinya merasa pedih. Itu perasaan yang sangat membingungkan ketika ia dihadapkan pada pilihan yang berat. Menerima perasaan Jungkook dan membuatnya berdosa atau melepasnya dan terus menyakitinya. Taehyung tidak tahu, apa yang harus dia lakukan. Ini aneh. Memusingkan. "Kau saudaraku. Adikku. Tentu aku tidak akan membuangmu, aku sayang padamu. Tetapi, aku benar mencintaimu sebagai Kakak. Kuharap kau sadar bahwa perasaanmu hanyalah sesaat, fana, dan semu. Kau tidak memiliki perasaan apa pun padaku. Kau hanya kebingungan, dan ini salahku."
"Berhenti menyalahkan dirimu, hyung."
"Salahku. Salahku yang lama tidak memerhatikanmu. Sibuk dengan uang. Kau tidak mendapatkan kasih sayang dari keluargamu sendiri. Ini salahku tidak bersamamu selama kau tumbuh dan berkembang. Kau tidak punya siapa-siapa selain aku tetapi aku lah yang terus pergi, aku yang terus berbuat salah, aku meninggalkanmu sendirian demi uang," Taehyung mengulum bibirnya, "Salahku, kau berpikir mencintaiku sebab kau merindukan sosok keluarga. Kau kehilangan kasih sayang dari hyung. Seharusnya aku yang mengucap maaf. Maafkan hyung, Kookie."
Jungkook terdiam kehabisan kata. Bagaimana bisa? Mengapa Taehyung berpikir seperti itu? Apakah semua ucapannya tidak dia dengar? Mengapa dengan mudah Taehyung menyimpulkan hal serendah itu? Dia berpikir kalau Jungkook hanya merindukan sosok Kakak yang seharusnya melindungi, hanya sebatas rasa kangen dimanja Kakak, sebatas saudara, tidak lebih dari itu. Jungkook mendengus tidak percaya. Taehyung masih bodoh untuk mengerti. Bukan ini yang ia maksud. Tentu dia cukup dewasa untuk membedakan mana perasaan cinta dan kasih sayang saudara. Dia tidak sepicik itu. Dia mencintai Taehyung setulus itu, mengapa Taehyung tidak mengerti kalau dirinya sungguhan mencintai dia secara literal?
Ketika Taehyung menarik tubuhnya kedalam pelukan, Jungkook mendesah. Tangan besarnya ia pakai untuk merengkuh tubuh kurus Taehyung. Menggenggam erat punggung dan sisi pinggangnya yang ramping dan rapuh. Terlampau kuat. Seakan takut Taehyung bisa saja pergi kalau-kalau Jungkook lengah melepas Taehyung. "J-Jungkook, pelukanmu –"
Dia tidak peduli. Dia marah.
Secepat itu pula Jungkook mendorong keras tubuh Taehyung kemudian menariknya lagi dalam sebuah ciuman yang intens. Dalam dan amburadul. Jungkook langsung membuka mulut Taehyung yang merah dan dingin, menyusupkan lidah panasnya lantas bergerilya dan menari-nari. Membasahi seluruh organ dalam mulut Taehyung tanpa ritme berarti dan menyesap seluruhnya. Langit-langit, lidah, gigi, bahkan pipi dalam. Jungkook melepas ciumannya dengan suara yang sangat basah kemudian mencium Taehyung lagi, dalam, kasar, namun juga lembut. Susah didefinisikan bagaimana Jungkook berciuman. Berantakan dan panas. Lembut yang membuai. Dia semakin menyesap ketika mendengar Taehyung menggeram dalam ciumannya. Atau desah yang kelepasan saat Jungkook memutus ciumannya. Tetapi Jungkook terus melakukannya.
Tangannya masuk kedalam kaus tipis Taehyung. Kaus baru yang Jungkook belikan. Kebesaran dan sialnya jadi seksi kalau saat seperti ini. Dia putar tangannya di seluruh tubuh Taehyung yang tegang dan gemetar. Menekan dengan sensual ruas-ruas tulang belakang Taehyung hingga empunya menggeliat tidak sabaran. Antara terbuai dan kegelian. Memang sial kalau Jungkook sudah menyentuhnya begini. Taehyung tidak bisa bedakan mana yang benar dan salah.
"Jungkook, jangan,"
"Kenapa –" Jungkook juga terengah mencium Taehyung habis-habisan, " –bodoh. Aku mencintaimu. Aku bisa bedakan mana cinta dan sayang. Aku bukan bocah. Aku yang telah memiliki tubuhmu, telah bercinta denganmu, dan masih meremehkan kemampuan berpikirku? Aku telah mengatakan yang sebenarnya tetapi kenapa –" ia membuat tanda di rahang Taehyung. Dia sampai di tulang selangka yang menonjol begitu menggemaskan. " –segitu bencinya untuk menerima perasaanku? Kenapa? Begitu inginnya kau menolak aku? Kenapa? Kenapa kau berpikir untuk menolak jika tubuhmu tidak. Dia patuh padaku. Agresif. Impulsif. Menyenangkan dengan segala kegairahan yang menggemaskan. Menggigit. Menggoda. Panas yang manis."
Taehyung merem melek ketika Jungkook sudah menurunkan celana pendeknya, dibiarkan menggantung di pergelangan kakinya. Tubuhnya dibawa ke pangkuan. Secara refleks mengalungkan lengan pada Jungkook yang masih sibuk. Mendesah pendek-pendek kala Jungkook sudah bermain dengan lubangnya. Gatal. Gatal. Gatal. Tanpa sadar dia juga mengecup sekilas rahang tegas Jungkook. Antara keenakan dan ingin lepas. Terlalu tipis. Dia hanya mampu mendesah saat dirinya terbang. Jungkook menyentuhnya lagi. Dia tidak sanggup berpikir jernih, Jungkook menemukan titiknya. Pandai sekali. Taehyung nyaris tidak sadar dia memainkan nada desahnya sendiri. Dia hanya mengulang kata yang sama dalam benaknya. Gatal. Gatal. Gatal.
Hanya butuh dua menit Jungkook menaik-turunkan miliknya.
Lambat. Cepat. Lambat lagi.
Taehyung keenakkan, entah sadar atau tidak. Dipanggilnya nama Jungkook saja.
Tubuhnya jadi naik turun sendiri. Mendesah, "Aaahhh, ooohhh, aahh, oohhh,"
"Jungkook," kemudian dia orgasme.
Meledak begitu kencang dan banyak. Jungkook nyaris tidak percaya.
Kemudian pandangan Taehyung buram, dan gelap usai Jungkook menciumnya
"Kau lihat yang disana itu? Manis juga,"
"Hei, dia milik seseorang."
"Yah, tidak heran, sih." Seungkwan menggaruk dagunya. "Wajah secantik itu tidak mungkin menyandang status single, apalagi jomblo. Jelas dia punya seseorang. Beruntungnya~ dia terlihat seperti gadis yang baik bibit bebet bobotnya. Taruhan, dia pandai memasak," dia bicara panjang lebar, mengutarakan pendapatnya pada Hansol. "Tapi... kira-kira dia dengan siapa, ya?"
"Dengan Park Jimin."
"Oh, astaga!" Seungkwan mengelus dada.
Kemudian melotot garang pada Soonyoung yang tiba-tiba muncul dengan suara beratnya. Menggerutu kecil lantas bertanya penasaran. "Mereka bertunangan? Wah, astaga. Beruntung sekali bos mendapatkan gadis secantik itu. Lihat, dia bahkan sabar menanti bos keluar ruangan. Wajahnya tidak menampakkan keluh, tipeku sekali." Seungkwan terus memuja.
"Tapi, yang kutahu, bukankah Jimin dengan Taehyung?"
Kemudian diam. Tidak ada yang menjawab. Ketiganya menunduk.
Benar, seharusnya Jimin bersama Taehyung. Namun, setelah lama Taehyung menghilang, muncul perempuan cantik duduk di meja lima menunggu Jimin. kelihatannya mereka akan pergi ke suatu tempat. Soonyoung menghela, dia menyayangkan keputusan bodoh Jimin. dia tidak habis pikir bagaimana bisa menukar Taehyung dengan perempuan itu. Dia mungkin terlihat baik dan cantik tetapi apakah hati Jimin menerima? Dia yakin, semarah apapun Jimin pada Taehyung, rasa itu tidak akan pernah sekali pun berubah. Dia hanya tidak tahu, mengapa Jimin melakukannya.
"Maaf, lama menunggu?"
"Ah, tidak juga, sih." Jiyeon berdiri, tersipu ketika Jimin mengaitkan jemari-jemari mereka. Jimin melirik kearah tiga karyawan yang memandanginya. Matanya tertuju pada Soonyoung, ada rasa menyesal disana. namun, dengan cepat diputuskan tatapan itu. Memasang senyum untuk Jiyeon yang masih berdiri menunggu, "Ayo, kita pergi."
Mungkin Soonyoung butuh penjelasan.
.
.
"Aku tidak bisa,"
"Tidak bisa apa? Bagian mananya?"
Jimin menggeleng, menenggak whiskeynya lamban. "Kurasa aku sudah sangat melukainya. Mungkin aku sudah egois untuk memaksanya berada disisiku. Aku yang bodoh untuk tidak peduli betapa ia tersiksa untuk terus bersamaku," ia tersedak sesaat, "Brengsek sudah. Kim Taehyung harus bahagia, meski itu berarti aku harus melepasnya pergi. Kesedihannya adalah kelemahan terbesarku. Aku sudah salah mengira, kupikir terluka bersama adalah pilihan bagus. Tetapi nyatanya, melihatnya terluka sedikit saja aku tidak bisa. Aku marah. Aku murka. Aku benci melihatnya menangis, terlebih karena aku."
"Kau membawanya kembali untuk tahu semua omong-kosong ini. Lalu untuk apa? Mengapa kau melakukannya, jika tahu dia akan terluka?"
"Tadinya, aku ingin tahu," Jimin meloloskan tangis dari sudut mata kirinya. "Apakah dia tersiksa, apakah dia menderita, apakah dia merasa sakit; ketika tahu aku akan bersanding dengan yang lain. Aku ingin tahu, apa sebesar itu perasaannya padaku? Apa benar dia mencintaiku? Jika dia memang begitu, mengapa dia hanya diam dan menangis? Dia bungkam dan menjerit sendirian," ia menangkup wajahnya yang memerah dan basah. Kepalanya pusing, "Aku ingin tahu, apakah dia bisa merasakan bagaimana sakitnya aku melihatnya bercinta dengan orang lain? Ini hanya sebuah pertunangan, seharusnya Taehyung tidak sesakit aku. Seharusnya dia marah dan menciumku, dia hanya perlu menyuruhku menolak semua ini dan aku akan melakukannya,"
Sunyi yang mencekam. Deru isak Jimin mengalun.
" –tetapi dia tidak. Dia diam, seolah ini bukan masalahnya. Seakan ini bukan apa-apa. Tetapi dia menangis. Dia tersiksa sendirian, meringkuk disampingku, tanpa mau sekali saja aku peluk agar paling tidak, ia merasa lebih baik." Jimin mengeratkan jemarinya, "Aku tidak mengerti. Aku bingung, Soonyoung. Mengapa Taehyung seperti itu? Diam dan pergi; apa dia benar-benar tidak tahu kalau aku sudah nyaris mati disini? Apakah dia tidak mencintai aku sebagaimana aku padanya? Ini membingungkan, brengsek. Aku tidak tahu harus melakukan apa selain diam, sebab Taehyung juga tidak bersua. Tidakkah kau pikir, Taehyung merelakan aku jauh darinya?"
Buk!
Secepat angin malam berhembus, secepat itu Soonyoung melayakan tinju pada wajah Jimin. matanya menggelap, napasnya terburu menahan muak. Jimin berkedip tidak mengerti, tubuhnya oleh, dan ia bingung mengapa Soonyoung memukulnya tiba-tiba. "Kau –"
"Brengsek! Taehyung tidak seperti itu, bangsat!"
"Soonyoung,"
Dia melayangkan satu tinju lagi. "Kau yang lebih lama hidup bersamanya. Kau yang lebih memahami dirinya. Kau yang tahu segalanya tentang dia. Seharusnya kau juga tahu Taehyung tidak serendah itu! Kau benar-benar bajingan untuk berpikir, Taehyung tidak mencintaimu, sialan! Apa sehancur itu kau terluka? Hanya karena dijodohkan, kau jadi lemah seperti ini?" Soonyoung mendengus tertawa, nyaris tidak percaya. "Malu, Jimin, malu! Taehyung jauh lebih menderita dibanding kau tetapi dia bisa melewatinya. Dia lebih tersiksa tetapi dia bertahan. Orang bisa menilai dia lemah untuk terus tinggal tetapi kau lebih lemah karena memilih pergi."
"Ini tidak semudah yang kau bayangkan, brengsek."
"Ya, tahu apa, sih aku?!" Soonyoung menggeram marah. "Kalian yang menjalani hidup kenapa jadi aku yang repot, sih. Ya, mungkin aku sudah salah untuk ikut campur tetapi astaga, bangsat Jimin sahabatku yang bego, kau benar-benar bodoh jika melepasnya dengan alasan basi seperti itu! Apa kau berpikir dia bahagia tanpamu? Tidak bisa, bodoh! Buka matamu!"
Jimin terdiam. Ucapan Soonyoung menohok batinnya tanpa ampun.
Mungkin benar jika Taehyung lebih menderita darinya. Dan dia bertahan. Meski luka terus tercipta di hatinya, Taehyung memilih bertahan, tinggal, tidak beranjak. Jimin merasa sakit. Seperti ada tangan jahil yang mencubit jantungnya. Ini memalukan, Soonyoung benar. "Tapi, aku tidak tahu bagaimana reaksi Ibu dan Ayah nantinya. Kami bersahabat sejak dulu, itu bukan alasan kuat yang menjadikan mereka setuju dengan anomaliku. Kau pikir, orangtua mana yang suka anak laki-lakinya menikah dengan laki-laki? Real talk, Soonyoung. Kupikir ini pondasi yang benar."
"Mulutmu benar minta digilas."
"Kau tidak mengerti,"
"Terserah! Aku sudah capek memendam semuanya." Soonyoung mengelus tengkuknya yang tegang otot. Bicara dengan Jimin sangat menguras tenaga. "Aku lelah terus diam diantara kalian berdua. Memangnya aku ini Mama Dedeh yang bisa kalian pakai untuk tempat curhat? Aku lelah menyembunyikan semuanya, brengsek." Kemudian ia meneguk jus jeruknya. Dia tidak minum alkohol. Tenggorokannya tidak bisa beradaptasi dengan itu. "Sekarang dengar aku, bangsat."
Jimin menahan napas.
"Jika benar kau mencintai Taehyung, bawa dia bersamamu. Dia tidak akan mengatakan apapun, kau yang tahu bagaimana cara Taehyung mengatasi masalahnya. Sampai kau hamil pun dia tidak akan pernah mengutarakan rasa kecewanya. Dia kecewa, Jimin. Dia kehilangan rasa percaya. Dia lelah terus terjatuh pada setiap omong-kosongmu jika kau terus melukainya. Jika benar kau mencintai dia, maka bawa dia bersamamu. Peluk dia, cium dia, ikat dia. Jika benar kau mencintai Taehyung, seharusnya kau berjuang. Lakukan apa yang Taehyung lakukan, berjuangdan bertahan. Aku tidak mengira orang berandal sepertimu akan melankolis karena masalah cinta," ia menyentil dahi berkerut milik Jimin. "Orangtuamu akan mengerti, jika kau bicara. You're not speak up yet, how could they know? Mencoba bukanlah sesuatu yang memalukan. Taehyung sudah lama memperjuangkan dirimu, apakah kau bisa melakukan untuknya juga? Berani berkata bukan berarti kau lemah dan menyerah. Kau berjuang, kau kuat. Yakinlah, percaya padaku, saat ini di tempat yang berbeda, Taehyung sedang menangisi keputusanmu melepasnya pergi."
Kepala Jimin amburadul, carut-marut, porak-poranda.
"Kim Taehyung itu spesial, banyak yang menginginkan dia –"
"Brengsek! Taehyung milikku!"
Soonyoung tersenyum miring, merasa lega. "Jadi?"
"Aku masih tidak tahu," Jimin berderit kesal, "Tapi yang pasti, Taehyung tidak akan jatuh pada orang lain selain aku. Tidak, Kim Taehyung adalah milikku. Berani dekat, bacok."
"Ini Sehun, teman di sekolahku."
Taehyung tersenyum dan mengulurkan tangan, "Kim Taehyung, hyungnya Jungkook."
"Ya, aku tahu."
"Mm, jadi, apa kalian akan mengerjakan tugas disini? Sampai malam?"
Jungkook mendekatkan semangkuk popcorn dan memakan yang rasa karamel, "Tidak tahu. Kalau bisa selesai cepat, ya bagus. Memang kenapa, hyung?"
"Sekalian makan malam bersama saja?"
"Oke."
"Sehun suka makan apa?"
Cepat Jungkook menginterupsi, "Dia makan apa saja, hyung. Buatkan saja dengan bahan yang ada. Orang seperti dia jangan dimanja terus. Bawaan lahir sudah manja mau jadi apa." ia menjulurkan lidahnya pada Sehun yang menatapnya garang. Taehyung tertawa renyah hingga Jungkook menoleh dan tersenyum lebar, "Masak yang enak, hyung!"
"Aku tahu,"
Lantas Taehyung bangkit dan menuju dapur. Rencana memasak japchae dan telur gulung, dan mungkin akan menggoreng ikan tuna yang sudah ia bumbui semalam. Ini akan jadi makan malam yang menyenangkan. Taehyung senang Jungkook mengundang temannya ke rumah. Itu artinya dia bersosialisasi dengan baik di sekolah. Mungkin ia akan berterima kasih pada Sehun yang sudi masuk kedalam rumahnya. Jungkook sudah berkata kalau Sehun adalah yang terkaya di sekolah, itu membuatnya gugup; takut kalau Sehun menjauh dari adiknya karena rumah kumuhnya. Tetapi sepertinya Sehun orang yang baik. Meskipun raut mukanya sangat tidak bersahabat.
"Apa yang kau lihat?"
Sehun menjilat bibir, "Dia manis."
"Kau –apa?"
"Mau siaran ulang jujur atau bohong?"
Jungkook menggeram, "Brengsek, dia Kakakku!"
"Lalu? Toh, kalian hanya saudara." Ucapan itu membuat Jungkook benar-benar marah. Kata saudara jadi topik yang sensitif untuknya. Jungkook tidak menyukainya. "Kakakmu jauh berbeda denganmu. Dia manis dan hangat, ceria, sopan, manis. Manis sekali. Benar-benar tipeku, Jungkook. Memangnya aku salah?"
Pernyataan yang benar, sialan.
"Berani kau dekat dengannya, habis kau."
Sehun terkekeh, menantang. "Kenapa?"
"Dia milikku."
.
.
Taehyung mencuci piring setelah makan malam yang panjang dan hangat.
Dia bersenandung kecil saat melakukan tugasnya. "Hyung!"
"Ya?"
"Aku harus ke suatu tempat, hanya sebentar."
Barulah Taehyung menoleh untuk melihat adiknya yang sudah rapi. "Apa ada sesuatu yang penting? Kau nampak tergesa, Kookie."
"Lumayan. Ingat tumpukan komik yang kita bereskan minggu lalu?" Taehyung mengangguk lamat setelah lama mengingat-ingat momen bersama Jungkook di hari Minggu. "Aku menjualnya di situs online, daripada menyesakkan rumah. Dan ada seseorang yang menghubungi untuk membelinya. Sialnya dia mau bertemu di depan toko buku Lonceng Emas. Jadi, aku harus pergi sekarang."
Taehyung mengangguk paham, "Lalu Sehun?"
Yang dibicarakan muncul dan nyengir, mengabaikan delikkan tajam dari Jungkook yang menusuk. Jungkook mendengus, "Aku tahu dia hanya alasan, tapi dia berkata supirnya belum tiba menjemput. Butuh waktu sekitar setengah jam." Dengan sangat tidak rela ia melihat senyum Taehyung untuk Sehun. Dia sebal bukan main. "Jadi terpaksa dia harus disini dulu. Tapi tenang, hyung. Aku akan lari jadi akan kembali dengan cepat."
"Jangan tergesa begitu, nanti jatuh."
Jungkook merengut, "Aku hanya tidak suka meninggalkan kalian berdua."
"Memangnya ada masalah apa? Hyung aman, kok. Tidak akan buat macam-macam."
"Hyung jelas tidak," ia mendelik pada Sehun, "Tapi dia yang kukhawatirkan."
.
.
"Jadi umurmu berapa, hyung?"
Taehyung duduk dan menyuguhkan es teh manis. "Menuju dua puluh enam."
"Oh, kapankah itu?"
"Tiga puluh Desember nanti,"
Sehun bercengkerama hangat dengan Taehyung. Bertanya macam-macam yang ingin ia ketahui. Bukan hal yang berat. Pokoknya semua tentang Taehyung. Sejak awal melihat mata sejernih madu itu, Sehun terpukau. Dia bertemu banyak pria manis dan wanita tetapi Taehyung sangat memikat dengan sikap polosnya yang manis dan lembut. Sehun menyukai itu, dia hangat dan terbuka. Cukup menyenangkan hanya untuk berbincang ringan dengannya. "Apa hyung punya kekasih?"
Pertanyaan seperti ini lagi.
"Tidak tahu, oh, apa kau mau kupotongkan apel?"
"Tidak usah, aku hanya butuh wajahmu, hyung."
Ha? Pernyataan konyol apa itu?
"Mungkin kau suka keripik kentang –ah!" baru ingin pergi, lengan kurus Taehyung ditarik mendekat pada Sehun yang sewangi mawar. Sejenak Taehyung pusing dengan aroma menyengat itu. Tetapi ia lebih pusing dengan tatapan aneh dari pria itu. "S-Sehun –"
"Aku hanya mau hyung, boleh?"
Taehyung menelan ludahnya gugup. Jangan lagi. Apa dia semurah ini?
"Atau harus kupanggil –Taehyungie?"
Jemari Sehun yang panas bermain di pinggul Taehyung yang bergerak gelisah. Rautnya senang melihat Taehyung tergagap, menahan nafas hingga wajahnya memerah, dan suaranya tercekik tenggorokannya sendiri. Ini sangat lucu. Sehun semakin penasaran, "Jangan banyak gerak, Taehyung. Susah sekali menciummu."
"Tidak, Sehun-ssi. Sadarlah,"
Kecupan berhasil didapat, ditandai di leher. "Aku sepenuhnya sadar. Sekarang diam."
Taehyung meronta. Ini tidak benar. Jangan seperti ini lagi.
Sehun mendecak, "Kita harus cepat. Pak Hyun mungkin akan sampai –"
Pintu terketuk nyaring.
Oh, sial.
Taehyung menggunakan kesempatan itu untuk melompat turun dari pangkuan menyesakkan Sehun dan mengambil napasnya banyak-banyak. Didengarnya pintu terbuka, derap kaki menggema di ruangan. Itu Jungkook yang nyaris tersandung, "Hyung! kau oke, kan? Sehun brengsek ini tidak berbuat macam-macam, 'kan?" dia mendekati Taehyung dan menatap mata Kakaknya yang sedikit bergetar. Jungkook mengeryit bingung, hendak bertanya lebih ketika Sehun bangkit dan memanggil. "Aku akan pulang,"
"Oh, iya. Tadi supirmu sudah menunggu. Kau budeg, apa? Dia sudah mengetuk pintu berkali-kali. Sana pergi, syuh syuh!"
Sehun tertawa tertahan dan menepak seragamnya yang kusut. Beradu tatap dengan Taehyung sejenak, melayangkan seringai tipisnya yang membuat Taehyung tegang ketakutan. ia memutus tatapan mengerikan itu. Didengarnya Sehun menutup pintu. Dia sudah pergi.
Yang tadi itu nyaris saja.
Taehyung berjalan pelan.
Malam-malam begini cukup dingin, tetapi dia benar-benar ingin pergi. Kakinya melangkah sendiri seperti kesetanan. Atau justru otaknya yang menyuruhnya pergi? Itu terlalu tipis bedanya. Taehyung memasukkan jemarinya yang nyaris beku kedalam saku jaketnya. Berjalan lagi, pelan, hati-hati, sedikit tidak sanggup.
Dia berhenti.
"Rasanya sakit untuk merindukanmu," Taehyung menatap kafe milik Jimin yang sudah ditutup. Gelap dan kelam. Taehyung terus menatapnya, lama sekali. Jauh membayangkan kegiatan sehari-harinya saat siang. Atau ketika kafe ini ramai pengunjung saat hari kasih sayang. Dia menghela, mengingat momentum menyenangkan yang pernah dia lalui disini. "Apa kabar? Kurasa, kau baik-baik saja, Jimin. Dan, oh, apa kau senang bersama Jiyeon? Aku sudah bercakap dengannya, dia tidak buruk. Lebih dari itu, dia sempurna. Kau pantas, Jimin."
Bibirnya gemetar menahan tangis. Matanya basah. Namun Taehyung berusaha tegar. Dia tidak bisa selamanya selemah ini. dia bisa tanpa Jimin. Memangnya, kenapa kalau Jimin pergi? Bukankah orang berkata, selama dia bahagia, kita akan bahagia? Taehyung percaya itu. Meski kemungkinan akan sulit melihat Jimin tersenyum dengan baju pengantin menggandeng wanita, paling tidak ia buka si egois yang mengikat Jimin.
Sebenarnya, kenapa juga dia terbuai oleh omong-kosong Jimin?
Ha, mungkin dia segitu cintanya.
"Aku selalu menata hatiku yang kembali hancur, Jimin." Taehyung menarik napas dalam, "Bisakah aku sedikit egois untuk berpikir, kau juga sama hancurnya? Ini terdengar jahat, 'kan? Saat ini aku ingin kau merasakan hancur seperti halnya aku, yeah, aku ini brengsek, 'kan? Maka dari itu, jangan pilih aku. Mama memang tahu yang terbaik, Mama tidak pernah salah memberikan yang terbaik untukmu, Jimin." ia mengepal tangannya kuat, "Tapi apa boleh? Boleh tidak, aku berharap kau terluka juga? Kuharap kau menangisi aku, menjerit kesetanan saat menemukan ranjangmu kosong pagi itu, marah-marah seperti hulk saat aku pergi lagi. Boleh tidak, aku ingin kau masih menyimpan perasaan untukku? Apakah boleh? Jimin... bolehkah?"
Gila saja dia bicara sendiri. Taehyung tertawa.
Buang waktu dia pergi kemari. Sudah lama sekali dia menahan dirinya sendiri untuk pergi, tetapi dia kepalang rindu. Dadanya sesak menahan emosi yang meluap-luap. Seharusnya Taehyung tahu kalau ini akan menjadi sia-sia. Jimin dan dirinya sudah berpisah tanpa kata. Seharusnya ini menjadi alarm baginya untuk benar-benar pergi, tanpa sekalipun menoleh untuk kembali. Tetapi rindu dalam hatinya terlalu menggebu, saking hebatnya membuat gila. Taehyung menjadi amburadul untuk waktu yang lama.
"Ah, astaga, bagaimana bisa tertinggal –"
Suara itu.
Taehyung terdiam. Tidak bergerak bahkan bernapas. Matanya bersirobok dengan milik Jimin yang tergopoh mencapai pintu kafe. Seperti adegan dramatis, mereka membeku dalam tatapan yang canggung dan penuh rindu. Taehyung mengulum bibirnya, berusaha menyimpan baik-baik wajah Jimin dihadapannya untuk ia ingat dalam benak selamanya. Sebab mungkin, ini akan jadi yang terakhir dia kembali jatuh untuk pemuda itu. "Diam disitu, Taehyung."
"Ini sudah malam, permisi."
"Kim Taehyung!"
Pasal pertama; Kim Taehyung lemah. Lari seperti itu bukan tandingan Jimin si pemain sepak bola. Tentu lengan kurus Taehyung dapat dia raih dengan cepat. Jimin bahkan tidak kelelahan, deru napas berantakan itu keluar sebab menahan sesak rindu dalam dadanya. Taehyung ada disini, dihadapannya, dalam genggamannya. Namun mengapa rasanya begitu jauh? Begitu tinggi untuk digapai kembali? Ini menyakitkan. "Jangan pergi,"
"Jangan buat aku jatuh, Jimin."
"Taehyung, jangan pergi."
Taehyung memejamkan matanya, "Aku sudah lelah terluka. Aku sudah tidak bisa bangkit lagi. Aku lelah terjatuh untukmu. Hari itu akan jadi yang terakhir bagiku untuk mengalah, Jimin, tidakkah kau tahu ini menyakitkan karena kau mengikat aku untuk kemudian kau buang begitu saja? Pernahkan kau berpikir kalau ini melelahkan untukku terus bertahan dan terluka? Aku bisa saja tetap tinggal tetapi aku punya batasan. Katakan aku lemah untuk pergi," ia masih berusaha menarik lengan yang digenggam Jimin, "Aku capek, Jimin. Toh, aku egois."
"Tidak, jangan pernah berhenti. Tetaplah bertahan untukku, Taehyung."
"Kau tidak mengerti betapa sakitnya berada disisimu."
Jimin menatap Taehyung dengan mata berkaca, "Kumohon, jangan menyerah untuk bersamaku. Aku yang egois untuk menahanmu tetap tinggal, Taehyung. Aku yang egois. Kumohon, jangan lelah untuk berjuang, demi aku."
"Aku begini demi kau."
"Tidak, bukan begini, Taehyung." Jimin tidak peduli meski ia menangis. "Jadilah kuat, oke? Jangan sekali pun kau merasa lelah. Aku disini untukmu saja, Taehyung. Tidak ada Jiyeon atau siapa pun brengsek diantara kita. Kumohon untuk bertahan sedikit lagi,"
"Untuk kemudian kau jatuhkan lagi? Tidak, Jimin, aku tidak sanggup."
Jimin menari wajah Taehyung untuk dia tangkupkan, matanya memanas menatap milik Taehyung yang sudah memerah dan basah. Hatinya perih menahan sesak. "Tidak, tidak, tidak. Dengarkan aku, hanya kau alasan aku hidup. Tidak yang lain. Bukan siapapun kecuali kamu. Sayang, aku hanya butuh kau seumur hidup, tidak yang lain. Salahku untuk melepasmu pergi, salahku, salahku. Aku sudah kurang ajar untuk berbohong padamu; sekarang aku benar-benar disini. Benar-benar disisi terlemahmu untuk sama-sama berjuang –"
"Kau masih sama."
Suara gemetar itu membuat Jimin merinding.
"Tidak apa jika hubungan ini akan penuh luka. Mari terluka bersama. Itu yang kau katakan padaku untuk membuatku kembali. Tetapi tidak bisa, Jimin. kau sudah menjatuhkan aku begitu dalam. Aku sudah lelah untuk menahan luka, tidak bisa lagi, aku tidak sanggup."
"Ya, itu salahku, Sweets. Saat ini aku sudah sadar untuk bersamamu,"
"Lalu saat itu kau tidak sadar?"
Jimin menggigit bibirnya. Kenapa Taehyung menjadi sulit.
"Sudahlah, Jimin. Aku harus pergi."
"Jangan –!" kemudian dia tarik tubuh kurus Taehyung kedalam dekapan erat. Tidak peduli dengan rontaan Taehyung. Ia menerima semua pukulan yang Taehyung beri di punggung, wajah, bahkan kepalanya. Ketika dia menendang kaki Jimin pun, ia hanya terdiam dan berusaha tetap tegap. Ia tidak bisa melepas Taehyung lagi. Lepas atau mati. Ucapan Soonyoung kala itu menyadarkan dia, kalau Taehyung tidak bisa dilepas. Taehyung harus ia lindungi. Ia sungguh menyesal telah membuat celah bagi Taehyung untuk pergi. Dia menangis ketika Taehyung berteriak di telinganya dan memintanya melepaskan dia. Jimin menggeleng dan mengeratkan pelukannya. Lupa dengan ringkihnya tubuh Taehyung. "Jangan pergi, jangan pergi, aku tidak bisa jika itu bukan kau, Taehyung. Kenapa kau tidak juga mengerti? Aku egois! Aku ingin bersamamu sampai mati! Aku sudah melukaimu sebanyak ini... Taehyung, jangan pergi dariku. Sungguh pun kau demikian, aku benar-benar akan mati. Persetan dengan Jiyeon, Ibu, dan Ayah. Aku ingin kau!"
"Gila! Kau gila, Jimin! Lepaskan aku!"
"Tidak jika berarti harus kehilanganmu lagi."
"Lepaskan –" Taehyung masih meronta. Suaranya pecah dan dia menangis kencang, kepalan tangannya memukul punggung lebar Jimin dengan lemah. Ia kebingungan. Ia tidak kuasa melihat Jimin menderita seperti ini. Jimin yang mengemis sangat membuatnya sakit. Brengsek sekali dirinya sudah membuat pemuda seperti Jimin jatuh seperti ini. Taehyung dibuat merana. Antara teguh dengan pilihannya untuk pergi atau kembali jatuh seperti yang sudah-sudah. Dia tidak tahu harus melakukan apa. jimin benar-benar menangis untuknya; ini menyakitkan. " –jangan seperti ini. Park Jimin tidak boleh lemah begini, Park Jimin harus bahagia. Jangan menangisi orang sebrengsek aku, jangan, tidak boleh. Park Jimin dilarang mengemis pada orang seperti aku. Harga dirimu akan jatuh, dan aku tidak mau itu terjadi. Jadi lepaskan aku dan biarkan aku lari, jauh dari kehidupan baikmu, kupastikan aku tidak mengganggumu kelak. Aku berjanji. Demi nyawaku."
Jimin menangis lebih kencang, mengeratkan kungkungannya.
"Tidak, biar aku menangis dan mengemis padamu. Kau pantas,"
"Hentikan, Jimin. aku benci melihatmu sakit,"
"Maka berhenti lari dariku, kembali padaku. Hanya sesimpel itu."
Taehyung menelan ludahnya kepayahan, "Jimin, jangan begini."
"Aku hanya mau Kim Taehyung! Apa itu masalah?!"
Derap suara lari memantul-mantul, kemudian Taehyung tertarik menjauh darinya. Jimin menjerit kaget, tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Kehampaan itu muncul lagi, kini Taehyung berada jauh dihadapannya, begitu sulit dia gapai. Jimin menggeram, "Jungkook, kau –"
"Masalah! Kau tidak bisa memiliki dia lagi, Jimin!"
"Brengsek, diam saja!"
Jungkook maju dan memberi pukulan di rahang Jimin. "Pergi dan jauhi Kakakku, brengsek. Orang sepertimu hanya membuatnya terluka, mengapa jadi sok hebat begitu, hah? Orang yang sudah menyakiti Kakakku, sepertimu, bagaimana bisa memohon hal menjijikkan seperti itu?! Brengsek, kau yang brengsek! Berhenti membebaninya dengan omong-kosongmu!" kemudian dia melayangkan pukulan lagi di wajah Jimin. Kausnya ditarik kuat oleh Taehyung yang berwajah panik, berteriak menghentikan aksi Jungkook atau Jimin bisa benar-benar pingsan. "Bahkan Kakakku masih bisa membelamu saat ini, cih, kalau kau hanya bisa menyakiti dia, lebih baik pergi dan nikahi wanita itu! Pergi jauh-jauh dari Kakakku dan jangan kembali melukainya!"
Selanjutnya Jimin berteriak memanggil Taehyung yang dibawa lari oleh Jungkook. Dia tersungkur di tanah, tubuhnya mendadak kaku dan kesakitan. Bibirnya tambah robek ketika dipaksa memanggil Taehyung yang semakin menjauh. "Kim Taehyung!"
Saat pemuda manis itu menoleh dengan mata yang ia rindu, Jimin menyesal.
Betapa bodohnya ia belum mengucap maaf.
Jungkook tergopoh membawa segelas air untuk Taehyung. Pelan ia mengusap wajah basah Taehyung yang dingin, menatapnya gelisah dan khawatir. "Minum dulu, hyung."
"Terima kasih."
"Jangan menangis lagi," Jungkook meremas lembut jemari Taehyung, "Apa sesakit itu pergi darinya? Apa sesakit itu untuk melepasnya? Sampai kau menangis seperti ini, hyung, aku benci melihat omong-kosong ini. Kumohon, berhenti menangisi dia."
Taehyung menggeleng meski airmatanya terus mengalir, "Menyakitkan, Jungkook. Kau tidak mengerti, mungkin mudah bagimu mengatakannya. Tetapi aku tidak bisa bohong, aku benar-benar sakit untuk melepasnya. Memikirkannya membuatku pusing, sejujurnya, sampai kapan pun aku tidak akan siap pergi darinya, tetapi aku harus," ia menggenggam telapak tangan Jungkook yang mengelus wajahnya lembut. "Katakan padaku ini benar, Jungkook. Katakan kalau pilihanku ini benar. Aku tidak mau salah memilih lagi. Menyakitkan sekali, aku tidak sanggup –"
Tangisnya terputus ketika Jungkook mengecup bibirnya sekilas.
"Kau melakukan hal yang benar, hyung."
Ia mengelus rambut lebat Taehyung, "Lakukan apa yang menurutmu benar."
"Dan jangan menangis lagi,"
.
.
.
.
To Be Continued
/
[edisi: sesi panjang lebar]
Noun; cuap-cuap
..
ah, akhirnya bisa update.
berhubung praktek lahan sudah selesai.. yosh! akhirnya bisa update, hehehe. soalnya ini kalo gapake wifi gabisa buka ffn. kena internet positif soalnya. naskah ini sudah kelar sejak lama, dan butuh beberapa revisi. jadi, yah, begini lah.
aku sedikit khawatir ini bakal jadi panjang. entah kenapa feelingku begitu. hawa-hawa ini bakalan jadi chapter yang sangaaat panjang tapi semoga gak ya. soalnya kasian aku liat taehyung menderita. huhuhuhu.
scene terakhir sebelum tbc emang gantung banget. gak klimaks atau greget kayak chap sebelumnya :( maapkan aku :(
sekali-sekali aku pengen bikin adegan VKook yang bahagia :)
