"Ayolah, Kookie. Kau harus sekolah."

Taehyung kewalahan menarik selimut yang dipakai Jungkook dalam tidurnya. Ia menghela dengan napas kasarnya. Dia tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini adiknya menjadi pendiam dan pemalas. Pada awalnya, Jungkook sangat semangat untuk sekolah. Bahkan terbangun jam empat pagi hanya untuk siap-siap. Dan sudah nyaris lima hari Jungkook kembali merajuk. Dia diam tetapi Taehyung tahu ada sesuatu yang disembunyikan adiknya. "Bukannya Kookie yang mau sekolah? Ayo cepat mandi dan sarapan, nanti hyung antar."

"Aku tidak enak badan, hyung."

"Terus saja bohong, Kook." Taehyung menarik selimutnya kuat. Jungkook meringkuk dengan tatapan mata yang kosong dan wajah lelah. "Sebenarnya ada apa denganmu? Kau bisa cerita pada hyung jika ada masalah, jangan seperti ini. sekarang, mandi dan pakai seragammu. Kita sarapan lalu berangkat. Kook, kau dengar atau tidak?"

Dengan gemas, Taehyung menggelitik tubuh Jungkook, "A-ah! Hyung, geli! Iya, iya, aku bangun –argh, hyung, hentikan! Geli! Hyuuuung~!"

.

.

Taehyung berlari kencang. Sadar betul kalau dirinya terlambat menjemput Jungkook pulang. Bosnya menahan semua karyawan pulang untuk audit. Sialnya Taehyung tidak sempat mengabari atau menelpon ke sekolah, menitip salam untuk Jungkook agar sabar menunggu. Dia khawatir, pasti adiknya gelisah ketakutan. Sudah hampir dua jam dia terlambat, dan Taehyung benar-benar harus cepat. Selain karena tidak enak hati, adiknya pasti menahan lapar.

"Sendirian saja, nih? Kasihan banget, sih!"

Larinya terhenti. Selain karena memang sudah sampai, dia melihat adik kecilnya di kerumuni teman sebayanya. Ada lima atau tujuh orang, semuanya laki-laki. Membuat lingkaran diantara Jungkook yang menunduk di ayunan. Taehyung diam mengamati penasaran. Langkahnya mendekat untuk lebih jelas. "Katanya kamu punya Mama Papa, mana? Kami gak pernah lihat, tuh! Kamu bohong, 'kan?"

"Hei, jawab! Berani sekali mengabaikan Jaehyun!"

Jungkook masih diam menunduk. "Tidak usah berlagak. Anak yatim piatu kayak kamu ini emang sepatutnya dikasihani, tapi tidak dengan tingkah menyebalkanmu! Apa-apaan kemarin itu, ha? Mau jadi sok pintar? Senang, ya, dapat nilai seratus?! Merasa hebat?!" bahkan ketika yang bernama Jaehyun menjitak kepala Jungkook, Jungkook masih diam. Menunduk. Entah ketakutan atau merasa tidak peduli. Itu membuat amarah Jaehyun membara. "Tidak punya mulut? Atau tuli? Jawab, bodoh! Aku tidak menghabiskan waktu untuk bicara dengan babi sepertimu."

Yang lain tertawa.

Tetapi Taehyung menggeram marah. Babi, katanya? Sialan.

"Hei, sepertinya babi ini memang cuma bisa bicara kalau di depan guru."

"Yah, kau tahu lah, biar dapat nilai bagus. Sombong sekali. Kau pikir dengan begitu orang-orang akan suka padamu? Dasar sok pamer. Punya jawaban itu dibagi-bagi!"

Taehyung nyaris tidak tahan lagi. Bagaimana bisa anak SD seperti itu sudah pandai berkata kasar dan memperlakukan temannya dengan buruk? Memangnya ini jaman kapan? Megalitikum yang masih merebutkan makanan untuk bertahan hidup? Gila.

"Dasar anak pungut! Pungut! Pungut yang sok dan menyebalkan!"

Yang lain tertawa lagi. "Dia terus berbohong kalau berlibur ke pantai dan Lotte Wold saat liburan tetapi aku lihat dia bekerja di kebun! Dasar penipu!" dia menarik rambut Jungkook, "Itu supaya babi ini dapat uang untuk makan. Dia kan gak punya orangtua, pantas saja hidupnya susah.Kasihan banget sih, mau makan saja harus cari-cari kardus dan sampah untuk diloak. Miskin banget hidupmu, Jungkook."

"Aku punya Mama! Aku punya Papa!"

Mereka tertawa lebih keras. "Kau pikir kami percaya? Heh, anak yatim piatu ya mengaku saja. Orangtuamu sudah gak ada; sudah mati. Mana bisa disebut punya? Mimpi, ya?"

"Tidak! Aku punya!"

"Siapa? Hyung tinggi yang bajunya bau kertas kayu itu?" yang namanya Jaehyung mendecih, "Ya ampun, kakak adik sama-sama menyedihkan. Sekali lihat saja sudah tahu kalian hidup susah, kakak adik yang serasi, sih. Sama-sama kumuh dan membuat jijik. Jijik tahu, dengar kau bicara omong-kosong? Supaya apa, sih? Dapat perhatian? Tidak usah berpura-pura punya orangtua dan uang untuk jalan-jalan kalau makan saja masih mengemis!"

"Memangnya kau tahu apa?!"

Jaehyun mengernyitkan keningnya, "Kau berani juga, ha?"

"Taehyung hyung bekerja keras demi aku! Dia kuat dan berani, bertanggungjawab, dan pekerja yang rajin. Aku boleh miskin, daripada kau yang bisanya minta seperti penjilat untuk mendapat semua yang kau mau." Jaehyun memukul kepala Jungkook, marah dan kesal. "Aku bisa mendapatkan apa yang aku mau! Kenapa? Bilang saja kau iri, kan? Apa begini tingkah anak yatim piatu? Menyebalkan sekali! Sudah miskin, belagu lagi! Capek aku bicara dengan babi ini."

Kemudian semuanya pergi. Meninggalkan Jungkook yang menunduk dan menangis tertahan. Taehyung masih menatapnya dari jauh, belum berani mendekat. Seharusnya dia disana membela adiknya. Seharusnya dia bisa datang dan memukul anak-anak yang berani kurang ajar pada adiknya. Tetapi mengapa... sulit? Rasanya sangat menyakitkan mendengar ucapan anak bernama Jaehyun tadi. Sebab apa yang dikatakannya mungkin benar. Taehyung merasa bodoh untuk tidak tahu kalau Jungkook suka berkhayal memiliki orangtua untuk diceritakan ke teman-temannya. Padahal kenyataannya dia hanya punya Taehyung yang bahkan tidak bisa menghidupi Jungkook dengan baik. Tidak dengan diskriminasi oleh status kemiskinan yang mereka sandang.

"Jungkook, ayo pulang."

Yang dipanggil mengelap pipinya yang basah, mendongak lucu. "Ah, ya, hyung."

"Maaf hyung terlambat. Bos hyung mengatakan sesuatu."

"Uhm, tidak apa, hyung."

"Mau eskrim?"

"Tidak usah, hyung. Ayo pulang. Ada banyak tugas yang harus dikerjakan."

Mereka pulang, menyisakan Taehyung yang merasa pedih ketika Jungkook menepis tautan jemari yang seharusnya biasa. Jungkook melangkah di depan, meninggalkan Taehyung yang terpaku tidak mengerti.


My Mama

..

Kim Taehyung

Jeon Jungkook –role as Kim Jungkook

..

[Vkook both KookV as brothership]

[MinV]

..

Again, it's a goodbye

.


"Hyung, Taehyung hyung!"

Yang dipanggil membuka mata, melotot, membuka mulutnya lebar bernapas dalam. Tubuhnya naik dan terduduk cepat. Jantunya bertalu-talu. Jungkook menariknya dalam sebuah pelukan yang lembut, "Hyung, ada apa? Apa habis mendapat mimpi buruk?"

"Jungkook," napasnya terengah.

"Ya, ssshh, tenanglah hyung."

Jungkook menguap kecil. Masih pukul dua pagi. Taehyung yang tertidur disampingnya bergerak gelisah. Mengerang ketakutan dan keringatan. Jungkook tidak nyaman dengan itu jadi dia membangunkan Kakaknya supaya cepat bebas dari mimpi buruk. Ia mengusap lembut rambut halus Taehyung dan bergumam rendah menenangkannya. Pelukan Taehyung di punggungnya mengendur, napasnya lebih ringan, detak jantungnya tidak berantakan lagi. "Apa yang kau mimpikan, hyung? Kau ketakutan sekali, aku khawatir."

Perlahan Jungkook melepas pelukannya. Mata Taehyung masih gemetar, "Semuanya pergi, Kook. Tidak ada siapapun. Sepi. Gelap. Sunyi. Kalian semua meninggalkan aku. Aku –aku tidak bisa sendirian, Jungkook. Itu menyakitkan melihat kalian pergi dari sisiku. Tahu-tahu dadaku merasa sangat sesak, kepalaku sakit, semuanya bergetar. Itu mengerikan,"

"Itu hanya mimpi,"

"Tapi terasa nyata," Taehyung menggigit bibirnya, "Menakutkan."

Jungkook dapat merasakan kegelisahan yang dirasa Taehyung. Mungkin itu memang mimpi tetapi tentu akan sangat menyakitkan melihat orang-orang yang kau sayangi pergi dari hidupmu. Meski dalam bunga tidur sekali pun. Membayangkannya saja sangat menyesakkan. Dengan lembut, Jungkook menyentuh pipi Taehyung. Memerangkap rahang tegasnya dengan hati-hati, mendekat dan mencium bibir dingin Taehyung yang gemetaran. "Tenanglah, hyung. Tidak akan ada yang pergi darimu lagi. Aku disini, bersamamu, hyung."

"Jungkook –"

"Percaya padaku, hyung. Aku tidak akan pergi."


Sejak semalam Jimin berkata, dia tidak mau.

Namun, Mama memang pandai sekali yang namanya merengek. Padahal Jiyeon juga berkata, tidak perlu secepat ini. Jimin berdecih dengan mata berbinar milik Mamanya. Belajar darimana beliau? Dengan amat sangat terpaksa, setelah sebelumnya Jimin merengek harus ke kafe dulu selama dua jam, Jimin pergi dengan Jiyeon. Suasana di dalam mobil ada diantara dua dunia. Tidak hangat, tidak juga canggung dan dingin. Biasa. Jiyeon melirik Jimin yang lebih banyak diam, dia sedikit bingung dengan tingkahnya. Rasanya aneh tidak melihat dia berceloteh.

Mereka sampai. Jiyeon tersipu ketika Jimin membukakan pintu untuknya.

"Wah, Jimin? Akhirnya bertemu lagi, kau makin ganteng."

Jimin tersenyum simpul. "Trims, apa kabar, Miss Eve? Kau nampak keriput."

"Ya! Astaga, aku sudah memujimu tapi ini balasanmu?"

"Sorry, Miss." Jimin nyengir santai.

Miss Eve menopang dagunya dan menajamkan pandangannya, "Dan gadis itu adalah...?"

"Ah, salam, saya Kim Jiyeon –" ia melirik kearah Jimin, " –tunangannya."

Miss Eve mengernyitkan keningnya sejenak, kemudian terdiam cukup lama. Dia bertatap dengan Jimin yang menghela diam-diam. Mulutnya terkatup rapat mendapati Miss Eve melihatnya dengan mata yang sipit dan mengintimidasi. Rasanya cukup menantang, pasti Miss Eve akan menerornya dengan banyak pertanyaan. Tinggal tunggu waktu, apakah langsung secara verbal atau dia akan membanjiri percakapan kakaonya. "Ya, Mamamu memang berkata demikian, sih. Tapi kukira itu hanya candaan. Kupikir Mamamu tahu, Jimin."

Skakmat. "Tunjukkan saja rancangannya, Miss."

"Ikut aku."

Mereka masuk lebih dalam. Ke ruangan yang hanya beberapa orang dapat masuki. Ruang pribadi Miss Eve merancang baju. Bulan lalu, dengan mengejutkan Mama Jimin menelpon dan berkata akan memesan sepasang baju pengantin yang cantik dan elegan. Miss Eve tertawa dengan detil pesanannya, mengira itu hanya lelucon. Meski ia juga mengerjakannya, sekalian iseng. Sudah lama sejak ia membuat gaun pengantin.

Dia membuka tirai hitam tinggi di sudut ruangan. Berdiri sepasang manekin tanpa kepala mengenakan baju pasangan pengantin. Warnya perpaduan peach dan coklat. Tuksedo pria lebih dominan warna putih tulang dan perak-perak di berbagai sisi. Ada hiasan bunga kertas berwarna peach lembut dan oranye serta kristal bening yang memantul di saku kiri. Gagah dan sederhana, manis yang elegan. Gaun putri berwarna dasar peach lembut, coklat nampak mencolok di lengan dan bagian pinggul. Ada ukiran menyerupai sayap lebar di area selangka yang jadi perpaduan oranye dan coklat. Warna yang lucu dan menarik, manis, dan lembut.

Suara Miss Eve terdengar datar. "Bagaimana? Bisa berubah sesuai keinginan."

"Bagus, kurasa sudah cukup."

Jimin masih diam, belum menerima. Atau belum sadar. "Jimin?"

"Y-Ya?" Jiyeon tersenyum lembut. "Miss Eve bertanya padamu, bagaimana bajunya?"

Jimin menggigit bibir. "Kupikir... bagus. Yah, kau memang pandai merancang busana, Miss. Tidak salah jika Ibu meminta bantuan padamu," ia tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Tatapan Miss Eve benar-benar menusuk dan itu sangat membuatnya tidak nyaman. Miss Eve tertawa, namun kedengarannya sangat palsu. Semacam formalitas. "Kau tahu aku memang bergelut di dunia ini selama nyaris puluhan tahun. Kau ini pelupa atau bagaimana? Kenapa kau jadi banyak berubah, hm? Seperti aku tidak sedang bicara dengan Park Jimin yang tegas dan ceria."

"Oh, ya?" Jiyeon ikut dalam pembicaraan.

"Aku tidak mengerti, Miss. Biarkan Jiyeon mencoba gaunnya."

Miss Eve mendengus, "Jadi ini sungguhan? Heol, baiklah. Silahkan, panggil aku jika butuh sesuatu. Aku akan menyeduh teh melati untuk menyegarkan pikiranku."

.

.

Jiyeon pulang lebih dulu. Dia berkata ada dokumen yang harus dia periksa di kantor. Awalnya Jimin menawarkan untuk mengantar tetapi Jiyeon berkata dia akan pergi dengan teman kantornya yang kebetulan punya peranan penting juga. Jimin mengalah, dan membiarkan Jiyeon pergi.

Dia duduk di sebuah kursi kayu yang panjang di atas gedung. Butik Miss Eve sangat besar. Itu karena Miss Eve hidup disini, jadi selain bekerja, butik ini adalah rumahnya. Bagian atap adalah satu dari sekian tempat menyenangkan yang bisa dikunjungi. Jimin sudah terbiasa kemari, menikmati angin yang menyibak rambutnya jahil dan menatap jalanan ramai dibawah sana. Itu cukup membuatnya sedikit rileks.

Miss Eve datang, membawa nampan berisi dua mangkuk lasagna dan es jeruk. Senyumnya awet meski itu terlihat tidak natural. Jimin menghela dan menggeser duduknya, memberi ruang untuk Miss Eve duduk disampingnya. Dia mengambil lasagna miliknya dan segera menyantapnya, lasagna buatan Miss Eve memang terbaik yang pernah masuk mulutnya. "Tahu saja aku sedang lapar, Miss. Rasanya masih sama nikmat. Kau bisa menjual ini,"

"Memasak hanya hobiku. Aku tidak berniat menghasilkan uang dari makanan."

Jimin melahap lasagnanya lagi. Nikmat dan juicy. "Pasti kau kaget, ya?"

"Tentu. Saat mendengar kau akan berkunjung, aku sudah bersiap. Aku memakai baju terbaikku hari ini, tahu? Aku mengecat rambutku jadi warna kesukaannya; ungu. Tapi kau mengejutkan aku dengan membawa orang lain," Miss Eve mengelap bibirnya dengan tisu, "Itu menyakiti hatiku, Jimin. Kupikir kau serius, karena aku suka dia."

"Aku serius, Miss."

Miss Eve mendelik, "Lalu kenapa kau akan menikahi Jiyeon?"

Jimin terdiam sebentar. "Mama. Mama yang melakukannya."

Selanjutnya Miss Eve terbahak, Jimin menatapnya heran. Tidak mengerti kenapa wanita itu tertawa dengan jawabannya barusan. Memang apa yang lucu? Kadang dia tidak paham dengan bagaimana wanita itu berpikir. "Kau ini cowok atau bukan? Ha? Hanya karena orangtuamu menyuruh untuk menikahi dia, kau iya saja? Kau terima saja? Pengecut, ini yang kau bilang serius?! Serius dari sisi mana, hah?"

"Miss –"

"Aku sudah menyiapkan baju untukmu dan Taehyung,"

Kemudian Jimin terdiam, menganga tidak percaya.

"Aku benaran tidak menyangka ini sungguhan, kupikir Mamamu bercanda untuk memintaku merancang pakaian pengantin dengan gaun yang cantik. Karena setahuku, kau bersama Taehyung. Setahuku, kau mencintai Taehyung. Setahuku, kau ingin hidup dengan Taehyung," Miss Eve meletakkan mangkuknya kasar. Tidak nafsu lagi makan. "Tapi lelucon macam apa, ini? Aku berharap kau datang menggandeng Taehyung. Tertawa karena berhasil mengusili bocah lucu seperti dia. Tertawa karena akhirnya kau akan bersamanya. Tertawa karena kau akan bersanding dengannya. Tetapi kau merengut. Kau jelas tidak menyukainya, tidak menyukai lelucon ini, aku pun tidak. Oke, Jiyeon memang cantik dan baik tetapi bukan berarti aku menyukainya untuk bersamamu, Jimin. Aku suka Taehyung, aku suka jika itu Taehyung yang bersamamu."

"Sama halnya denganku, Miss."

"Lalu kenapa bisa begini?!"

"Kau tidak mengerti!" Jimin bernapas pendek-pendek. Kepalanya berdenyut nyaris pecah menahan marah. Miss Eve dan mulutnya yang menyebalkan. Dia tahu akan jadi seperti ini jadinya, tetapi Jimin juga tidak tahu harus melakukan apa. Dia bingung, bahkan tidak yakin dengan yang tengah dia lakukan ini... apakah sudah benar? Entahlah. "Ini salahku, Miss. Ini hukuman untukku, aku pantas mendapatkan ini, sumpah. Kupikir ini yang dinamakan karma? Kenapa rasanya menyakitkan, Miss? Kau benar, aku tidak menyukai semua kegilaan ini. Aku tidak mau, aku tidak mau menikahi Jiyeon. Tapi aku juga tidak bisa... Mama..."

Miss Eve menatap iba pada Jimin. Menarik tubuh mungil Jimin kedalam pelukannya, mengusap lembut kepala sampai punggung Jimin yang hangat. "Jimin, astaga, apa yang terjadi?"

"Taehyung, Taehyung," Jimin mencengkeram kemeja rapi milik Miss Eve dan menangis pelan di bahu kurus wanita yang sudan dia anggap ibunya pula. "Salahku yang melepasnya pergi, dan ketika aku memohon untuk dia kembali, dia sudah terlalu dalam jatuh dan tidak sanggup untuk bangkit. Dia tidak sanggup berdiri dan kembali terluka," ia terisak di sela-sela Miss Eve yang mengucap, astaga, astaga, terus menerus.

"Aku juga tidak bisa melihatnya terluka lebih dalam, Miss."

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Jimin semakin terisak, "Bertahan dengan hal menyakitkan ini atau berlari? Aku ingin berlari dari kotak menyesakkan ini, aku ingin berlari pada Taehyung. Aku ingin menggapainya lagi, aku ingin dia percaya padaku lagi. Aku ingin dia tahu aku benar menyayanginya, aku cinta dia, aku hanya ingin bersamanya; tidak dengan yang lain. Hanya Kim Taehyung dan akan selalu seperti itu."

Miss Eve masih mengusap rambut halus Jimin, "Astaga, Jimin. Menangislah,"

"Apa yang harus kulakukan, Miss?"


Taehyung duduk meminum susu kartonnya. Menatap jalanan yang sedikit ramai.

Dia menghela, berpikir kalau dia harus cepat dapat pekerjaan lagi. Apapun itu. Dia sudah mengundurkan diri dari Jimin, tidak mungkin juga dia menjual apel Kakek lagi, dia sudah tidak punya muka untuk bertemu mereka. Tetapi mungkin akan sulit menemukan pekerjaan yang cocok dengan skill bodohnya. Apa dia harus coba jadi pelayan minimarket? Kedengarannya menarik.

"Oh, Taehyung hyung, apa kabar?"

Lama sekali Taehyung memindai. "Ya, siapa?"

"Ah, aku Min Yoongi," dia mengambil duduk di samping Taehyung, "Ketua Kedispilinan sekolah yang waktu itu di ruangan bersama Jungkook. Uhm, itu saat Jungkook kedapatan bolos dan memukul murid lain." Kemudian Taehyung mengangguk setelah mengingat-ingat. Dia tidak ingat jelas tetapi dia sedikit ingat dengan seseorang yang seperti Yoongi di sana. Wajahnya tegas dan membawa buku tebal. Mungkin memang Yoongi ini orangnya. Ingatan Taehyung cukup buruk jadi dia tersenyum lebar dan menyambut Yoongi. "Maaf aku tidak mengenalimu. Aku tersanjung kau mengingatku, Yoongi."

"Ya, aku punya daya ingat yang cukup baik."

Taehyung tersenyum. Yoongi meminum sodanya. "Sedang apa hyung?"

"Berpikir,"

"Tentang?"

"Sesuatu yang bisa dikerjakan," Taehyung nyengir, "Aku baru keluar dari pekerjaan."

Yoongi tersedak minumnya sebentar, "Oh, pamanku punya toko kecil dan sering tutup karena tidak ada yang menjaga. Toko itu hanya selingan, dia punya pekerjaan tetap di kantor. Mungkin kalau mendapat pelayan, tokonya akan berkembang dan tidak buka tutup. Itu kalau hyung berkenan. Gajinya tidak besar, sih. Soalnya hanya toko kecil."

"Call! Tidak masalah, dimana itu?"

.

.

"Ini kunci tokonya. Kau sudah hapal rak-raknya, 'kan?"

Taehyung mengangguk yakin, "Tentu, Sir. Kurasa tidak sulit menghapalnya."

"Baiklah, kupercayakan toko padamu. Untung Yoongi mengenal seseorang yang butuh. Yah, aku memang iseng membuka toko ini, walau awalnya aku memang bermimpi menjadi pengusaha permen saat besar. Tapi hidup tidak semudah itu, bukan?" Namanya Yoo Jaesuk, lebih senang dipanggil Sir Yoo, atau hanya Sir. Katanya itu terdengar keren. Wajahnya awet muda padahal sudah usia lima puluh. Bekerja di kantor pusat perusahaan Zhen Grup; sebagai teknisi komputer. Bercerita kalau dia pernah berkhayal hidup dalam dunia gula-gula seperti yang ada di film Charlie and The Chocolate Factory. "Aku memilih tempat yang bagus, kan? Disini dekat dengan SD, SMP, dan ada tiga SMA di daerah sini. Kuharap saat valentine tiba, tokoku ramai."

"Itu pasti, Sir."

"Oke, aku harus mengurus komputer yang terkena virus sekarang. Orang-orang bodoh itu, sialan, apa sih yang mereka lakukan sampai aku harus melakukan reparasi terus-menerus?" kemudian dia benar-benar pergi setelah memberi Taehyung secangkir cokelat hangat. Taehyung menyeruputnya lambat, memandangi jalanan yang cukup ramai. Menghela bosan karena belum ada pelanggan yang berinisiatif membeli sesuatu yang manis di toko.

Satu jam berlalu dengan membosankan.

Taehyung terlanjur lelah, dia merebahkan diri sambil membaca buku yang Sir Yoo punya di rak buku (itu sengaja dia pajang disana, entah apa fungsinya). Namun, sensor telinganya merespon cepat kala mendengar bunyi lonceng. Pintu terbuka lebar. Seorang pria tinggi dengan mantel panjang berwarna coklat karamel masuk, dia menggunakan masker hitam yang sepertinya berbahan kain. Mendekat ke arah Taehyung yang menunggu. Dia membuka identitasnya, "Loh? Hoseok hyung? Itu kau, rupanya."

"Kau bekerja disini?"

"Ya, baru saja." Taehyung nyengir, "Mau beli apa, hyung?"

"Ah, Ibuku minta cokelat dan sepotong kue krim keju."

Taehyung mengangguk paham, lantas mengambil kotak dus dan membungkus pesanan Hoseok dengan rapi. Memasukkannya kedalam kantung plastik dan menghitung total, "Dua puluh ribu won, Tuan Hoseok," dia bergurau dengan nada bicaranya. Lantas Hoseok tertawa renyah, mengeluarkan uang pas dari dompet Levisnya. Jemari kurusnya menggenggam kantung plastiknya, menentengnya dengan apik. "Kurasa kau cocok bekerja disini, Taehyung."

"Oh ya? Mengapa?"

"Karena kau manis," Hoseok mengedipkan matanya jahil, "Sesuai dengan yang kau sajikan."

Oleh candaan garing itu, Taehyung tertawa.

.

Panas. Matanya serasa terbakar. Perasaan menyebalkan ini lagi.

Jimin mengeratkan cengkeramannya pada setir mobil. Tinju kanannya dia layangkan pada dashboard. Napasnya putus-putus oleh amarah. Dia marah. Dia menjadi emosi hanya karena apa yang dia lihat. Bagaimana ketika ia melihat Taehyung tertawa dengan Hoseok. Itu sangat menjengkelkan karena ia tidak bisa lagi memiliki tawa manis itu. Kini tidak semudah itu untuk melihat senyum menggemaskannya. Itu membuatnya gemas menahan tangis.

Pintu sisi kanannya terbuka, suara kresek kresek jadi sangat berisik.

"Bagaimana? Kau puas melihatnya tertawa?"

Jimin menggerit marah, "Trims. Tapi aku harus melihatnya begitu karena aku."

"Dia butuh waktu, Jimin. Ini tidak semudah yang kau pikir."

"Aku tahu," Jimin merenung, sadar posisinya. "Aku tahu. Maka dari itu aku tetap disini, masih diam di tempat yang sama. Berharap dengan konyol dia akan lari ke dalam pelukanku dan menangis memohon maaf karena berani pergi dariku. Meski itu hanya sebuah kemungkinan yang tidak berdasar. Tidak masalah. Sampai kapan pun, aku akan menunggunya."

"Kau bodoh, kalian berdua bodoh."

Jimin tersenyum, "Kami tahu. Anyway, terima kasih sudah membuatnya tertawa, Hoseok hyung."


Pekerjaan yang melelahkan. Meski tidak banyak pelanggan, duduk sepanjang waktu untuk menunggu juga bisa jadi sangat melelahkan. Sebagian besar adalah anak-anak, membeli permen loli atau jeli warna-warni. Taehyung bermain sebentar dengan mereka mengusir bosan. Dia sangat suka dengan anak kecil. Menggemaskan dan polos; tipikal yang membuatnya cepat meleleh. Atau beberapa murid SMA yang bergosip tentang cowok keren di sekolahnya, ada satu dua perempuan yang berbisik-bisik sambil meliriknya. Itu membuatnya tidak nyaman tapi dia tahan itu.

Taehyung membuka pintu. Keningnya berkerut menemukan gelap.

"Kejutan!"

Dan oh, Jungkook memecahkan balon dan menyalakan lampu. Wajahnya girang, "Selamat sudah mendapat pekerjaan baru, hyung. Duduk sini, aku pesan ayam goreng untuk makan malam." Dia menarik lengan Taehyung ke dapur, menyuruhnya duduk manis dan langsung makan. Dia tertawa dan jadi sangat manis untuk berceloteh. Jungkook berkata dia senang saat Taehyung mengiriminya pesan bahwa dirinya memiliki pekerjaan lagi. Jungkook mendukungnya. Itu bagus, Taehyung tidak bisa selamanya di rumah sepanjang hari. "Jadi, bagaimana kau mendapatkannya? Itu toko cokelat dan kue-kue, bukan?"

"Ya, Min Yoongi yang memberitahu aku,"

Kening Jungkook berkerut, "Si Ketua Kedisplinan itu? Kenal darimana?"

"Uhm, ajaibnya, dia mengingat aku." Taehyung mengendikkan bahu, "Dan kami mengobrol, aku berkata sedang mencari pekerjaan dan dia bilang Pamannya membuka toko dan membutuhkan seseorang untuk menjaganya, jadi aku ambil. Apa... ada masalah dengan itu?"

"Tidak, selama kau senang, tak apa."

"Apa kau sebegitu tidak suka dengan Yoongi?"

Jungkook mendengus, "Tidak ada yang suka dengan orang sekaku dia."

"Dia ramah dan sopan, kau hanya tidak pernah mengobrol dengannya cukup lama."

"Tidak punya waktu –" Jungkook mengernyit, "Tunggu, kenapa jadi bicarakan dia? Aku 'kan sedang makan ayam, hyung~ fokus saja dengan ini! Bagaimana? Apa enak?"

Taehyung mengangguk girang. Tidak sanggup menjawab, ayam gorengnya benar-benar enak. Entah karena memang begitu atau karena kali ini ia makan bersama adiknya. Ia menyukai itu, tidak perlu makanan mewah, sebenarnya, ia hanya butuh suasana hangat makan malam dengan keluarga yang dimiliki. Dan malam ini, benar-benar impiannya, yang akhirnya terwujud. Taehyung bersyukur atas itu. Jungkook disana, makan dengan gembira, berceloteh riang, mengajaknya bicara, tersenyum manis, dan bertingkah menggemaskan. Seperti melihat Jungkook usia delapan, itu sedikit mengupas memorinya lagi tentang masa lalu yang menyenangkan. "Yah, Kookie, kau sudah besar. Makanlah dengan benar, ya ampun." Taehyung berdecak dan mengusap sudut bibir Jungkook yang kotor oleh bumbu dan remah tepung ayam goreng.

"Hyung,"

"Hm?"

Jungkook meneguk ludahnya, "Bisakah aku minta sesuatu?"

"Kedengarannya serius."

"Kau tahu, bagaimana perasaanku padamu," Jungkook memasang wajah sendu, "Aku tidak bercanda soal itu. Aku mengerti, aku sudah besar dan aku paham perasaan apa yang aku punya. Jika hyung terus mengelak dan memberi stereotip kalau aku hanya rindu kasih sayang kakak, itu salah. Aku benar-benar punya perasaan lebih padamu, aku tidak tahu kenapa, tapi kumohon hargai perasaan konyolku ini, hyung." mungkin kedengaran konyol tetapi Jungkook tidak bisa menahan ini lebih lama. Terdengar menjengkelkan dan egois tetapi dia tidak mau terus membohongi dirinya sendiri. dia tidak ingin menyakiti Kakaknya dengan terus menyentuhnya tanpa peduli perasaan Taehyung. Mungkin dia bisa jadi liar dengan terus menyentuh dan merusaknya tetapi rasanya tidak adil jika Taehyung masih menganggapnya seorang adik dengan apa yang telah mereka lalui. Tidak adil jika ia menyukainya tetapi Taehyung tidak sedikit pun merespon. "Bisakah aku berharap, meski mungkin akan terdengar konyol dan kurang ajar? Aku hanya meminta sedikit hal darimu, hyung. Hanya sedikit, perjanjian diantara kita."

Benar, terdengar konyol. "Perjanjian?"

"Ya, semacam kontrak antara kita berdua," Jungkook melebarkan matanya; berharap, "Apakah boleh aku meminta yang seperti itu?"

"Perjanjian apa yang kau maksud?"

Lama sekali sampai Jungkook berdeham. "Aku pernah berkata jika tidak apa kalau hyung tidak mencintai aku sebagaimana aku begitu padamu. Toh, perasaanku yang salah arah. Tetapi aku tidak bisa menjamin aku dapat terus menahannya, yang kutakutkan adalah aku bisa jadi semakin menyukaimu dan tidak terkontrol," ia menatap mata bulat Taehyung, "Jadi aku berpikir, aku akan berusaha semampuku agar tidak menyakitimu dengan terus menyentuhmu. Beberapa waktu mungkin aku akan menjadi hilang akal tapi kuharap aku bisa menenangkan pikiranku. Dan selama aku berpikir, itu karena aku jarang memiliki kontak denganmu,"

Pernyataan Jungkook terlalu berputar-putar. Taehyung sedikit bingung.

"Bagaimana jika kita membuat persetujuan," Jungkook tersenyum tipis, "Aku akan menyentuhmu pada batas yang kau perbolehkan. Tetapi kau harus biarkan aku tetap menyentuhmu. Maksudnya adalah, misal, sebuah ciuman di pagi hari. Atau pelukan sebelum tidur, atau membuat tanda. Mengingat kau sudah pergi dari Jimin –" sedetik, Jungkook mendapat perubahan di raut muka Taehyung, " –aku bebas. Ini hakku untuk menyentuhmu, 'kan? Hyung sudah tidak punya pacar, tidak ada siapapun yang bisa menghalangi aku. Aku mungkin egois untuk memintamu seperti ini tetapi tolong, kumohon, biarkan aku begini. Aku tidak tahu harus apa untuk melupakan perasaan ini, menghapusnya saja aku tidak yakin bisa atau tidak."

"Ini konyol, Jungkook."

"Aku tahu. Logikanya begini, jika aku terbiasa memberimu afeksi sederhana, mungkin aku akan lebih tenang dan tidak gegabah untuk terus menyetuhmu lebih jauh," Jungkook bernapas tenang, "Rasanya menyesakkan terus memendam monster dalam tubuhku, hyung. Aku tidak bisa tenang jika melihatmu menggemaskan sedikit saja, rasanya hatiku terus berkata untuk menyentuhmu. Untuk merusakmu. Itu memang menyenangkan tetapi aku juga tertekan setelahnya, bagaimana aku melihatmu menjadi lemah dan kesakitan di pagi hari, aku menyesal. Tetapi siklus itu tidak pernah berhenti," ia menggenggam jemari Taehyung, "Kupikir, jika aku menyentuhmu dengan cara yang sederhana, aku akan lebih tenang dan terkendali. Tetapi aku tidak bisa benar-benar kehilanganmu. Ini rumit. Jadi biarkan aku memberimu ciuman dan pelukan, dan bantu aku untuk mengendalikan monster mengerikan ini, hyung."

Taehyung mengerjap, "J-Jungkook –"

"Argh, jangan menatapku begitu!"

"Kenapa?"

"Itu menggemaskan," Jungkook meremas rambutnya, "Saat ini aku sudah berpikir untuk menyentuhmu lagi! Monster jelek ini! Hyung, bagaimana?!"

Semua omong-kosong ini terdengar konyol.

Lalu apakah dia harus menuruti keinginan bodoh Jungkook?

Dan melukai dirinya sendiri? Dia tidak berpikir ini ide yang bagus.


Pintu terketuk pelan.

"Masuk."

Langkahnya berat namun tegas. "Ini data yang Anda minta, Tuan."

"Oke. Kau bisa pergi sekarang."

Pria besar itu membungkuk hormat, melangkah pergi keluar ruangan. Menyisakan Sehun yang bangkit dari bangku mengilatnya, meraih amplop coklat berukuran sedang diatas mejanya, kemudian merebahkan tubuh jenjangnya di sofa panjang di sudut ruangan. Di depannya ada meja kecil, sudah tersaji kopi vietnam yang hangat. Dia meneguknya elegan. Kemudian tersenyum miring memandangi amplop ditangannya. Ia menghela senang, membuka amplop pesanannya dengan hati berdebar riang. Ada dokumen dan beberapa foto. "Manisnya,"

"Kim Taehyung," Sehun mengeja, " –akan jadi milikku"


Taehyung berlari kencang. Gelisah. Khawatir.

"Permisi,"

Pemandangan ini lagi. Semua mata memandangnya tidak suka. Taehyung menunduk sedikit, lantas membawa langkahnya ke dalam. Mendudukkan dirinya di sofa sisi kanan Seokjin yang sudah menunggu, senyumnya awet dan pas di wajah Seokjin. "Maaf lagi-lagi kami mengganggu hari Anda, Taehyung-ssi." Ia tersenyum kalem, "Tetapi Jungkook bermasalah lagi dan ini sudah peringatan yang kedua jadi kupikir aku harus memanggil Anda lagi."

"K-Kenapa? Apa yang dilakukan adikku?"

"Kasus yang sama,"

Taehyung merasa tidak enak. Yoongi dihadapannya, dia merasa payah sekali. Yoongi pasti berpikir dirinya sangat rendahan. Padahal anak itu bersikap baik dengan memberinya pekerjaan tetapi mungkin apa yang ada dalam benak Yoongi bisa jadi jelek. Yoongi mungkin berpikir Taehyung adalah orang sembrono yang tidak becus mengurus seorang adik. "Maafkan saya, Guru Kim. Saya tidak pandai mendidik adik saya."

"Sebenarnya, apakah Jungkook punya masalah di rumah?"

"Tidak, Guru Kim."

Seokjin mengulum senyumnya. "Dia tidak mau memberitahu mengapa dia memukul murid lain. Emosinya benar-benar tidak terkendali. Kalau Yoongi tidak berhasil melerai mungkin Jungkook mampu mematahkan kaki atau tangan mereka," dia mengurut keningnya yang berdenyut, "Saat dirumah, cobalah bicarakan ini dengannya. Kami berharap dia merubah sikapnya. Percuma dia pintar kalau sikapnya buruk. Kami tidak bisa terus melindungi dia, dan kami juga lelah dengan gugatan dari orangtua murid. Jujur saja, ibu-ibu itu menakutkan."

"Ya, maafkan saya."

"Guru Kim, Jungkook dan yang lain sudah datang."

"Oh, biarkan mereka duduk, Yoongi."

Datang Jungkook dan tiga murid lain yang keadaannya babak belur. Jungkook menatap tajam pada sekeliling, namun ketika bertemu tatap dengan Taehyung, ia lari. Tidak berani menatap mata bulat yang berkaca-kaca itu, dia tahu Taehyung pasti khawatir dan kecewa. Maka Jungkook diam saja, meski dia yakin Taehyung akan bertanya-tanya. "Jungkook, kau benar-benar harus belajar. Kau pikir sekolah ini ring tinju? Berhenti memukul temanmu tanpa alasan."

"Mereka bukan temanku!" Jungkook mendengus, "Tentu ada alasannya. Tapi aku tidak bisa bilang kenapa. Aku tidak mau bilang kenapa."

"Jungkook, tidak baik memukul orang sampai hancur begitu. Kau pikir aku tidak pusing menghadapi omelan ibu-ibu mereka? Mengertilah sedikit, kau akan menghadapi ujian akhir jadi sebaiknya kau jaga sikapmu." Seokjin mengerutkan kening, tidak mudah bicara dengan murid yang satu ini. selalu membangkang dan tidak peduli. Ini merepotkan. "Kasihan Kakakmu, dia harus datang kemari melihat adiknya berperilaku buruk di sekolah. Kau tidak punya siapa-siapa selain Kakakmu jadi kau harus membuatnya bangga."

Jungkook mendelik, "Apa?"

"Jungkook, kau harus membuatnya bangga dengan berprestasi. Kau tidak punya orangtua yang siap siaga melindungimu. Beban orangtua ada pada Kakakmu, jadi tolong lihat dan buat sesuatu yang berguna. Kau tidak kasihan melihatnya seperti ini?" Seokjin menghela, "Dia harus bekerja, memasak, mengurus rumah, mengurusmu; itu melelahkan. Seharusnya kau mengerti keadaan Kakakmu yang akan jadi lebih repot kalau kau terus berulah."

Baru saja Jungkook akan bicara, pintu terbuka lagi.

"Siapa bilang dia tidak punya orangtua?"

Semua menoleh, hanya Taehyung dan Jungkook yang terkejut.

"Dia punya aku," pria itu mendekat dan duduk disamping Jungkook, merangkulnya hangat dan mengusap rambut Jungkook. Tersenyum dan mengulurkan tangan pada Seokjin, "Lee Namjoon, ayah biologis dari Kim Jungkook. Jadi berhenti bilang kalau dia tidak punya orangtua. Aku adalah orangtua sah darinya."

"Ah... tapi –" Seokjin canggung, matanya melirik Taehyung yang hilang jiwanya.

Namjoon tersenyum, "Aku yang akan mengurus semuanya."

.

.

"Aku tidak mengerti."

Namjoon menunduk, memandangi rambut lebat Taehyung. Coklat yang indah. "Nak, aku tidak bisa lagi terus membiarkan semuanya. Aku tahu. Mungkin lebih banyak darimu. Jungkook harus memperbaiki sikapnya dan kenapa tidak kau lakukan?" Namjoon mengelus pundak kurus Taehyung yang bergetar. Senyumnya tipis dan sedikit bergetar, "Jika keadaan kalian begini, seharusnya kau bilang padaku. Seharusnya kau katakan kalau Jungkook perlu bimbingan orangtua, kudengar dia sudah pernah di skors karena berkelahi. Apa-apaan ini? Aku menitipkan Jungkook padamu karena kupikir kau bisa menjaganya. Taetae, kenapa seperti ini?"

"Bukankah Papa yang melarangku datang?"

"Taehyung –"

"Bukankah Papa yang melarangku muncul?!" Taehyung berteriak marah, "Bukankah Papa yang tidak peduli padaku? Terus menyuruhku pergi seperti serangga menggelikan dengan alasan-alasan konyol?! Itu Papa, itu Papa yang tidak memberikanku kesempatan untuk mengatakan apa pun! Bahkan untuk memelukmu sebentar saja aku pasti akan ditendang; lalu kenapa? Kenapa Papa malah datang sekarang? Kenapa Papa datang sebagai orangtuanya dan berkata akan menjaganya? Ini bukan candaan, Papa. Aku tidak mengerti apa maumu, aku bingung –"

Kejadian di ruang kedisplinan kembali terputar. Taehyung menggelengkan kepalanya tidak mengerti, tangisnya turun lagi. Itu sungguh memalukan, ketika Namjoon tahu-tahu datang dan berkata dirinya adalah Ayah Jungkook dan akan memerhatikan Jungkook lebih baik. Taehyung tidak mengerti kenapa Namjoon melakukannya. Ketika Namjoon terus berkata padanya untuk menjauhi hidupnya lantas kenapa dia terus datang seperti hantu. Ini rumit, dia tidak tahu apa maksud Namjoon jadi begitu sayang pada Jungkook. "Lalu apa... apa lagi sekarang? Apa yang Papa rencanakan kali ini untuk menyakitiku? Apa menyenangkan melihatku tersiksa seperti ini?"

"Tidak begitu, Nak." Namjoon mengusap pipi Taehyung.

Rasanya aneh tetapi Taehyung senang Namjoon masih sedikit peduli padanya.

"Kalau kau tidak mampu mengurus Jungkook, seharusnya kau bilang padaku."

"Aku bisa."

"Dan menjadikannya monster yang suka berkelahi?" Namjoon mencubit ringan hidung mancung Taehyung yang memerah. "Sekolah bukan lapangan bola ataupun ring tinju. Seharusnya dia belajar dengan baik dan menciptakan prestasi. Kalau dia jago beladiri dengan ikut lomba taekwondo atau karate sih tidak masalah. Tapi dia berkelahi, Tae. Apa itu yang kau katakan kau bisa mendidiknya? Jangan bercanda,"

Taehyung menepis jemari Namjoon, "Lalu apa?"

"Jungkook akan tinggal bersamaku."

"A-Apa?"

"Biarkan Jungkook tinggal dirumahku; bersama Jihoon." Namjoon tersenyum tipis, "Dia akan kudidik dengan caraku. Kau lihat bagaimana Jihoon menjadi murid baik yang berprestasi, bukan? Maka dari itu, kupikir itu ide bagus untuk membawa Jungkook ke rumahku. Dia akan belajar bersama Jihoon dan lebih fokus kepada sekolah. Bukannya berkelahi."

Taehyung mengernyit, "Kenapa dia harus kesana?"

"Kalian hanya tinggal berdua, kan? Kau meninggalkan rumah kosong sampai malam karena bekerja dan Jungkook jadi kesepian. Dia hanya belajar di sekolah, barangkali dia hanya main setelah pulang sekolah dan kau tidak tahu itu. Jadi kau tidak bisa memastikan dia belajar dengan baik sebab ketika kau pulang hanya bisa mendapatinya tertidur kelelahan," Namjoon mengusak rambut Taehyung. "Kau juga tidak tahu bagaimana kehidupannya. Kau tidak bisa memastikan keadaannya dua puluh empat jam; meskipun aku juga tidak sih. Tapi aku bisa memastikan dia hidup dengan baik, aku akan membuatkan jadwal kesehariannya sehingga aku akan selalu tahu apa yang dia lakukan. Itu adalah hal yang tidak bisa kau perbuat, Taehyung."

"Kenapa Papa melakukan ini?"

"Karena Jungkook adalah anakku."

Taehyung diam. Merasa tidak puas dengan jawaban Namjoon. Apa maksudnya itu? Aneh sekali ketika dia berkata begitu. Lalu mengapa jika Jungkook memang anaknya? Taehyung juga anaknya tetapi kenapa Namjoon senang membeda-bedakan? Ini memuakkan. Taehyung tidak terima ini, jika Namjoon berpikir akan membawa Jungkook pergi, lalu apa dia pikir Taehyung bisa hidup bahagia sendirian? Jelas Namjoon tidak akan mengajak Taehyung hidup bersama. Ini membingungkan ketika Namjoon sangat tidak konsisten dengan perkataannya. "Papa, jangan seperti ini. aku membutuhkan Jungkook untuk berada disisiku, jangan bawa dia pergi."

"Taehyung, kenapa kau egois sekali?"

"Aku tidak begitu."

"Maka biarkan Jungkook pergi denganku," Namjoon memberatkan suaranya, "Aku bisa merawatnya lebih baik dari yang kau lakukan. Aku yang bisa membesarkannya dengan benar, kau sudah cukup main-mainnya, Taehyung. Jungkook ini punya potensi besar untuk sukses. Jangan kau menghalanginya dengan menjadikan dia pecundang yang tidak becus sekolah. Kau tahu apa yang terjadi padamu, bukan? Jika dia tidak lulus kau akan menjadi pencundang sepertimu. Dia tidak akan menjadi seseorang yang berguna dan menjadi parasit. Tentu kau tidak mau adikmu hidup menyedihkan seperti itu –sepertimu. Pikirkan ini baik-baik, Taehyung."

Tidak. Tidak.

Mungkin benar apa yang dikatakan Namjoon tetapi Taehyung masih tidak bisa membayangkan jika ia harus membiarkan Jungkook pergi darinya. Adiknya, satu-satunya yang dia miliki di dunia, jika dia harus merelakannya pergi selamanya, Taehyung tidak tahu apakah itu ide bagus. Bahkan mungkin ia hanya bisa menangis setiap waktu. Jungkook adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini. Susah payah dia membuat Jungkook kembali manis padanya, namun bagaimana bisa secepat ini takdir memporak-porandakan impiannya? Jungkook baru saja menjadi baik dan hangat padanya lalu mengapa secepat ini ia berada di pilihan yang menyesakkan? Ini sungguh rumit ketika ia membenarkan perkataan Namjoon namun juga tidak sanggup mengiyakan.

"Kau begini karena punya uang saja."

"Tidak, Nak. Mengertilah, ini demi kebaikan Jungkook juga."

Taehyung sesenggukkan, "Lalu bagaimana denganku? Bagaimana... aku? Memangnya aku bisa apa tanpa dia? Aku tidak bisa apa-apa jika tidak ada Jungkook disisiku. Aku payah tanpanya bersamaku. Aku menjadi lemah dan bodoh tanpa Jungkook. Dia memang nakal dan susah dikasih tahu tapi aku sayang padanya, dia adik manisku, adik pintarku, adik baikku, adikku." Dia menangis lagi, tidak kepikiran bagaimana Namjoon bisa jadi menyebalkan. "Dia keluargaku. Yang tidak membuangku. Yang memelukku saat aku datang. Yang memelukku saat mimpi buruk. Yang tersenyum hangat padaku setiap hari. Yang selalu ada untukku. Dia memang menyebalkan untuk berulah di sekolah tetapi dia adikku, keluarga satu-satunya yang kumiliki."

"Apa bisa kau jadi begini kejam merebutnya dariku?!"

Teriakan Taehyung mengagetkan Namjoon. Jemarinya dia kepalkan saking terkejutnya, tidak menyangka Taehyung akan berteriak dengan suara beratnya yang tegas. Dia memang lemah dan terlihat rapuh, mudah menangis dan payah, tetapi dia yakin Taehyung punya sisi kuat. Hanya saja Namjoon tidak menyangka Taehyung jadi seperti itu. Namjoon masih membulatkan matanya lebar, menatap Taehyung yang bernapas pendek-pendek. "Nak, dengarkan aku –"

"Aku bisa apa... tanpa Jungkook –" Taehyung menangis lagi. " –aku tidak bisa. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Di dunia ini, hanya Jungkook yang aku miliki. Aku sendiri dan akan selalu seperti itu, kalau Jungkook benar-benar akan pergi lalu aku bagaimana? Bagaimana aku bisa hidup jika itu artinya harus sendiri tanpa adikku? Aku bisa bertahan karena dia," ia mencengkeram dada kirinya yang terasa berdenyut, lebih sakit. "Kalau saja bukan karena memikirkan Jungkook yang tersenyum hangat, aku sudah mengakhiri hidupku yang menyedihkan. Aku mungkin sudah memilih mati daripada terus hidup di dunia, tetapi aku ingat Jungkook. Aku punya Jungkook yang menungguku di rumah. Aku punya Jungkook yang melebarkan tangannya untuk menggenggam tanganku. Aku punya Jungkook yang terus memelukku. Aku punya Jungkook yang menjadi alasan aku tersenyum, karena aku punya Jungkook, aku bisa hidup. Maka kumohon, jangan bawa dia pergi jika Papa masih ingin melihatku hidup."

"Taehyung,"

"Apapun, apapun akan kulakukan." Taehyung menggenggam jemari Namjoon, memohon dengan wajah berantakannya yang basah dan melas. Jemari Namjoon ikut basah dan tercengkeram kuat, gemetaran dari Taehyung menular cepat. "Asal jangan ajak dia tinggal bersamamu. Berikan aku kesempatan satu kali lagi untuk mendidiknya dengan baik. Aku janji, Jungkook akan rajin belajar dan berhenti berkelahi. Aku akan melakukannya, tapi –tapi jangan pisahkan dia dariku. Aku yang tidak sanggup jika harus begitu, kumohon Papa. Kumohon –"

Cepat Namjoon menarik tangannya. Dia mendengus ketika Taehyung mengerjap.

Memusingkan. Tatapan Taehyung selalu membuat Namjoon lemah. Tetapi Namjoon tidak bisa terus begitu. Dia risih jika anaknya tidak sekolah dengan benar, itu sangat mengganggunya. Dia pikir Taehyung membesarkan Jungkook dengan baik tetapi mendengar Jungkook punya perangai buruk di sekolah membuatnya kesal. Ini adalah pilihan yang benar untuk membawa Jungkook tinggal bersamanya. Tidak ada yang buruk. Taehyung hanya berlebihan menyikapinya, mungkin, ini karena dia tidak terbiasa hidup tanpa Jungkook. Ya, Namjoon pikir begitu. "Aku serius, Taehyung. Aku tidak main-main dengan perkataanku. Ini menggangguku jika diam saja melihat Jungkook punya nilai buruk di sekolah. Dia harus sukses dan hidup bahagia. Kau tidak berhak mengekangnya menjadi seorang pecundang. Jadilah pecundang untuk dirimu sendiri, jangan ajak adikmu menjadi orang yang seperti itu."

"Tidak, Papa. Bukan begitu."

"Lalu apa? kau mau jadikan apa Jungkook? Pengangguran sepertimu? Jungkook itu cerdas, dia bisa jadi apa yang dia mau. Dia hanya perlu pelajaran budi pekerti dan tata krama. Yang mana tidak bisa kau berikan, itu tugasku mendidiknya begitu. Kenapa kau menjadi seperti ini, Taehyung? Tentu kau bisa hidup tanpa Jungkook," Namjoon mendengus, "Lagipula Jungkook tidak aku bunuh. Jungkook masih di Korea. Masih di bumi. Kau bicara seolah dia akan pergi ke surga, jangan ngawur. Dengan sikapmu itu aku tahu kau punya seribu satu ide untuk kalian bertemu. Berhenti berlebihan seperti itu."

"Memangnya Papa mengijinkan aku tinggal bersama?"

Namjoon tersenyum miring. "Tentu tidak. Aku sudah bilang, aku tidak mau lihat mukamu lagi. Tapi aku bukan penyihir jahat. Tentu kalian boleh bertemu, kalian bisa bertemu jika ada waktu. Aku mungkin kejam memisahkan kalian tetapi aku tidak melarang kalian bertemu. Hanya saja, pikirlah, ini ide bagus. Jungkook perlu asuhan dariku untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Daripada berkelahi, aku akan menjadikannya atlet beladiri. Daripada bermain tidak jelas, lebih baik dia ikut les. Aku bisa melakukannya," dia mengusak pundak Taehyung dan tersenyum lembut. Melarikan jemari panjangnya mengusap wajah Taehyung. "Aku tidak sejahat itu. Maaf telah menyebutmu pecundang. Tapi aku tidak mau Jungkook kehilangan gerbang menuju kesuksesannya. Dia berbakat dan pintar. Dia harus mendapatkan kebahagiaan. Belajar dengan benar adalah kelemahannya. Dia butuh bimbinganku, Taehyung. Mengertilah ini."

"Tapi, Papa –"

"Ssssh, kau mau adikmu jadi apa?"

Taehyung terdiam sejenak. "Pilot? Pengusaha? Entahlah... dia pernah berkata kalau dia ingin menyanyi dan menari. Tapi dia pandai sekali olahraga. Dia.. hebat dalam segala hal."

"Nah, benar, 'kan?"

"Hm?"

"Kalau mewujudkan cita-cita, apa yang harus dilakukan?" Namjoon memindai mata bulat Taehyung yang seakan bersinar, tersenyum tipis. "Belajar. Lulus sekolah, kuliah, bekerja, menikah. Kemudian hidup bahagia. Bukankah itu yang Taehyung inginkan dari Jungkook?" dia tambah tersenyum melihat Taehyung mengangguk lucu. "Lalu jika dia dibiarkan begini, apa mungkin Jungkook bisa menggapai impiannya menjadi sukses? Tidak, Nak. Dengar, Jungkook akan tinggal dirumahku untuk belajar lebih baik lagi. Aku akan memfasilitasinya dengan semua hal yang dia butuhkan untuk menggapai mimpinya. Dia tidak perlu bekerja untuk mencari uang, dia akan tidur nyaman di ranjang empuk, penghangat di musim dingin dan penyejuk di musim panas. Tidak akan kesepian karena ada Jihoon di rumah. Fokus mengerjakan tugas dan belajar. Tidak akan berkelahi dan mengalihkannya pada olahraga yang berguna, sesimpel itu."

Namjoon memeluk Taehyung, mendekapnya hangat. Taehyung nyaris menangis mencium aroma Papanya yang sangat hangat dan manis. Dia balas memeluk tubuh tegap Namjoon yang kuat dan lembut. Rasanya menyenangkan. "Aduh, jangan nangis dong, Taetae~" Namjoon terkekeh ringan ketika Taehyung mengusak kepalanya di leher Namjoon. "Sudah besar, loh. Jangan manja, ini sudah Papa peluk. Jangan menangis dan berteriak padaku seperti tadi, mengerti?"

"Uhm, maaf, Papa."

Dengan lembut, Namjoon melepas dekapannya. "Jadi?"

Taehyung menggigit bibir.

Tidak tahu harus menjawab apa. Ya? atau justru Tidak? Dia bingung. Jika Ya, maka itu artinya dia harus hidup tanpa kehangatan Jungkook dirumah. Dia sendirian dan tidak ada yang tidur bersamanya lagi. Tidak ada yang memanggil hyung dengan lucu lagi. Namun, jika Tidak, itu artinya dia membiarkan Jungkook terus menjadi anak nakal. Dia sadar kalau dia tidak bisa merawat Jungkook dengan baik. Sudah dua kali kena surat pelanggaran. Prestasinya menurun, dia khawatir dengan kelulusan adiknya. Ini menyusahkan, dia tidak tahu harus memutuskan apa. Dia tidak ingin Jungkook menjadi pecundang sepertinya tetapi juga dia tidak ingin kehilangannya.

"Nak, Taehyung?"

Tatapan Namjoon benar-benar membuatnya sesak.

"Pikirkanlah, hidup itu memang harus memilih. Kau tidak bisa terus egois. Ini demi adikmu juga, kau harus memikirkan kehidupannya. Dia harus belajar dengan baik dan lulus, sangat susah untuk masuk kuliah jika dia punya catatan buruk, nilai pas-pasan akan sangat merepotkan dia. Hidup tidak selalu tentang senang-senang saja, merelakan adalah suatu tantangan kehidupan. Kau sudah dewasa untuk membuat keputusan, kau harus memilih –"

"Ya."

Jeda beberapa detik kemudian Namjoon bertanya, "Apa? Kau –"

"Ya, bawa Jungkook ke rumahmu, Papa."

"Taehyung, kau yakin?"

Taehyung mengangguk, menjauhkan dirinya. "Jika itu berarti Jungkook akan hidup lebih baik, ya, bawalah Jungkook pergi. Senang mendengar adikku akan kuliah. Aku tidak kepikiran memberikannya les tambahan, ya, itu ide bagus. Aku suka, Jungkook pasti senang dengan ini. Mungkin dia akan meminta les musik," ia mengusap sudut matanya, "Dia sering berkata ingin belajar taekwondo dan menari. Ah, dia juga suka menyanyi. Dia pintar matematika, tapi dia juga ingin bisa lancara berbahasa Inggris. Mungkin Papa akan mendengarnya cerewet meminta les macam-macam. Yah, Jungkook memang begitu."

Kenapa jadi menyedihkan ketika Taehyung justru melepas Jungkook?

Namjoon sedikit terenyuh. Dia merasa sakit. Kenapa? Tidak ada yang salah.

Itu jawaban yang dia inginkan, tapi kenapa?

Rasanya sedikit sesak. Memisahkan dua saudara yang bersama sejak lama... terdengar sedikit kejam dan tidak tahu diri. Namjoon merasa payah sekali.

"Taehyung,"

"Jadi kapan Jungkook pindah?"

.

.

.

.

.

To Be Continued.

..

[edisi: sesi panjang lebar]

Noun; cuap-cuap

/

Hai! Kita berjumpa lagi.

Setelah dapat komen yang campur aduk di chapter kemarin, akhirnya saya memberanikan diri untuk muncul lagi (heuheuheu). Ya, reaksinya macam-macam. Ada yang sebel karena Jimin malah ngejauh dan diem aja. Ada yang gemesh karena Jungkook mulai lunak sama Taehyung. Ada yang jengkel kenapa Taehyung lemah banget buat dipegang-pegang. Ada semua pokoknya wkwk.

Ada juga yang nanya, mana Namjoon? Nah ini muncul.

Tapi... yah, tahu lah ya. hehe. Nyiksa lagi.

Dan, oh, beberapa gak sadar kalau Seokjin sama Yungi sebenernya udah muncul di chapter lalu (saya lupa tepatnya) sebagai Guru BP sama student council. Nih, saya munculkan lagi. Hehe.

Terima kasih dukungannya sampai sejauh ini. gak nyangka bisa dapet begitu banyak respon baik (dan negatif) untuk fanfiksi ini. semua saran dan kritik saya terima buat introspeksi. Maaf juga kalau beberapa adegan dan alur tidak sesuai ekspektasi karena ya, ini cerita saya.

Nah, silahkan dinikmati untuk chapter ini! sampai berjumpa di chapter selanjutnya.

[ sugantea ]