"Aku tidak mau!"

Taehyung berusaha tidak mendengar, meski suara Jungkook terlalu nyaring di telinganya hingga ia pikir ia bisa menjadi tuli. Dia terus mengepak barang Jungkook ke dalam tas besar, tidak peduli dengan rengekan adiknya sejak tadi. Bahkan tarikan darinya hanya ia hempas begitu saja. Tidak tahu bagaimana dia bisa jadi kuat begitu. "Aku bilang aku tidak mau!"

"Tidak ada yang bertanya apakah kau mau atau tidak."

"Aku tidak mau!" Jungkook menarik lengan Taehyung menjauhi tas dan baju-bajunya.

Matanya menatap nyalang. Sudah berkaca-kaca. Taehyung sama saja.

"Kenapa? Kenapa hyung lakukan ini?"

Tidak ada jawaban berarti. Hanya bola mata yang berpendar lirih.

"Apa yang Papa bilang padamu?" Jungkook berteriak frustasi, "Kenapa hyung menyuruhku tinggal bersamanya? Kenapa begini? Kenapa membuangku seperti ini?"

"Aku tidak membuangmu,"

"Lalu omong-kosong apa ini?"

Bagaimana menjelaskannya? Taehyung hanya menunduk, tidak punya jawaban bagus. Ini rumit untuk diutarakan. Setelah dipikir-pikir lagi, benar juga, kenapa? Kenapa dia bisa tega merelakan adiknya untuk tinggal bersama Papanya, yang bahkan tega membuangnya seperti sampah. Ini tidak adil tetapi kenapa juga dia mengiyakan, sudah dibilang, ini rumit. Dia tidak tahu bagaimana jalan pemikirannya sendiri. Dia tidak mengerti. "Aku tidak bisa merawatmu lagi, Jungkook. Aku bukan Kakak yang baik dan Guru Kim benar; kau butuh pengawasan orangtua. Dan aku tidak bisa,"

"Aku bukan anak kecil!"

"Ini bukan tentang itu," Taehyung mengepalkan tangannya, "Tetapi tentang kehidupanmu. Kau pantas hidup dengan baik, hingga menjadi sukses. Kau berhak hidup layak seperti anak-anak lain. Sejak dulu aku tidak bisa memberikan apa yang kau butuhkan. Kasih sayang, perhatian, uang, kehidupan, semuanya hanya omong-kosong. Ini adalah gerbang untukmu, dik. Dengan tinggal bersama Papa, kau bisa hidup lebih baik. Seperti teman-temanmu yang lain, seperti Jihoon."

Jungkook mendecih, "Bukan itu yang kubutuhkan."

"Kau tidak mengerti,"

"Maka buat aku mengerti!"

Pekikan Jungkook terdengar menyakitkan. Taehyung memandangi adiknya yang menunduk, menangkup wajahnya, lalu menangis. Dia menjadi lemah lagi. Melihat Jungkook seperti itu hanya membuatnya sesak dan tidak tega. Rasanya jauh lebih menyesal. Begitu merangsek ke dalam rongga dadanya. Nyaris menjadikannya kehabisan napas. Taehyung mengepalkan tangannya lebih kuat, menahan diri untuk memeluk Jungkook. Dia hanya berusaha tidak peduli, melihat apa pun asal bukan pemandangan adiknya yang merengek dan nampak lemah. "Aku tidak butuh Papa jika sudah punya hyung. Bagiku kau sudah seperti orangtua; Mamaku, Papaku, Kakakku. Aku tidak butuh siapapun lagi jika kau ada. Hyung, jangan seperti ini. Jangan menyuruhku pergi darimu, kenapa kau seperti ini? Apa yang kau pikirkan sampai harus begini jahat padaku– aku tidak mau, benar-benar tidak mau,"

"Jungkook, hentikan."

"Aku tidak mau!"

Akan mudah jika ini adalah Jungkook delapan tahun. Membujuknya dengan eskrim atau cokelat kesukaannya maka tangisannya akan selesai, tetapi ini permasalahan yang rumit. Taehyung tidak tahu harus menuruti yang mana. Antara rasa ibanya pada Jungkook atau perkataan Namjoon tentang jaminan kehidupan Jungkook lebih baik. Dilihat dari sisi manapun, jelas Taehyung akan kalah dibanding Ayahnya. Ini membingungkan ketika dia tidak ingin berpihak pada satu sisi namun dia menyayangi semuanya, dan ini adalah jalan yang dia pilih. "Ini demi kebaikanmu, dik. Aku tidak bisa memberikan apapun. Tapi Papa bisa. Papa bisa memberikan semua kebutuhan dan keinginanmu, kau bisa pergi les, kuliah, bahkan boleh ikut audisi menari dan menyanyi, kau boleh mendapatkannya. Kau bisa. Kau tidak perlu bekerja lagi, jadi kau akan fokus sekolah. Bukankah ini ide yang bagus?"

Taehyung tahu ucapannya konyol, tetapi ia mempetahankan senyumnya. Palsu.

"Kau juga.. belum pernah diasuh orangtua," Taehyung masih tersenyum, "Papa akan merawatmu dengan sangat baik. Kau yang pernah merasakan sendiri bagaimana Papa adalah orang baik, lembut, dan perhatian. Hangat dan bersahaja, dia Papa yang sempurna. Kau tidak akan menyesali itu, malah kau akan senang. Iya, 'kan? Kalau hyung jadi Jungkook, hyung akan senang sekali mengemas barang-barang hyung untuk pindah,"

Menggelikan. Ia memasang senyum tetapi matanya basah.

Dia benci situasi ini. Tetapi dia tidak bisa berbuat banyak.

"Aku tidak mau –"

"Hyung tidak ingin kau jadi pecundang, Jungkook. Hyung sudah mendidikmu dengan salah, sekeras apa pun aku berusaha nyatanya tetap tidak bisa menjadikanmu seseorang yang berarti. Kau akan menjadi seseorang yang berguna dibimbing Papa," Taehyung menarik napas dalam, "Lihat Jihoon, dia pintar dan hebat. Hyung juga ingin kau seperti itu. Hyung ingin Jungkook jadi anak yang pintar dan berguna. Agar Jungkook jadi orang sukses sepuluh tahun ke depan."

Jungkook mengangkat wajah basahnya, "Maafkan aku, hyung."

Kenapa?

Tiba-tiba Taehyung merasa sesak.

"Aku yang bodoh –" Jungkook memukul pelan kepalanya, " –bodoh, bodoh, bodoh. Aku yang tidak bisa jadi anak baik. Aku kasar dan brengsek. Bukan salahmu aku jadi seburuk ini, kau sudah begitu baik membesarkan aku selama ini, kau mengajari aku membaca dan menulis, mencuci, memasak, membersihkan rumah, mengerjakan pr, menjadi mandiri –semua kau lakukan untukku. Kau adalah Kakak, Mama, dan Papaku; kau keluargaku. Aku yang bodoh untuk memilih jalanku sendiri menjadi brengsek, salahku menjadi seburuk ini, salahku. Bukan karena kamu, hyung."

"Jungkook –"

" –maka dari itu, jangan suruh aku pergi," Jungkook berdeguk, "Aku tidak mau."

Lama mereka terdiam, hingga Taehyung memutuskan kontak mata mereka dan kembali mengepak barang-barang Jungkook. Memasukkan baju-baju adiknya, buku, dan beberapa figure kesukaan adiknya. Matanya tegas meski airmata sudah turun melewati pipinya. "Tidak bisa. Sekali ini, dengarkan kata hyung. Berhenti merengek seperti anak kecil dan ganti bajumu. Papa akan sampai dalam tiga puluh menit dan sebaiknya kau cepat. Aku akan tetap melakukan ini, tidak peduli kau mau atau tidak," Taehyung meneguk ludahnya, "Kau harus pergi."

"Hyung –"

"Buat apa berdiri di situ?! Cepat ganti pakaianmu dan bersiap!"

Tanpa sadar Taehyung meremas kemeja di genggamannya, menutup matanya berusaha menahan airmata keluar lebih deras. Bibirnya dia gigit kuat-kuat menahan isaknya. Benar; ini sudah keputusannya yang paling tepat. Jangan pikirkan perasaan sendiri saja, dia perlu memikirkan bagaima masa depan Jungkook akan hancur jika terus bersamanya. Ini sudah jawaban yang benar, kali ini Taehyung ingin mengucap selamat pada dirinya sendiri atas keberaniannya mengambil pilihan serumit ini. Ini tidak mudah tetapi Taehyung akan mencoba. Dia sudah terlalu lama menderita jadi hal seperti ini tentu sama saja untuknya. "Jungkook, kubilang –"

"Beri aku waktu tiga hari."

Barulah Taehyung menoleh, "Apa maksudmu? Papa sudah dalam perjalanan."

"Batalkan pertemuannya hari ini."

"Kau jangan egois,"

"Aku akan pergi –" Jungkook mengepal, matanya menggelap. "Tapi aku minta waktu."

Taehyung menghela, "Jungkook –"

"Kau ingin aku pergi?"

Tidak, jangan. Tinggallah selamanya disini. "Tentu. Itulah mengapa aku melakukan ini."

"Aku akan menurutinya, tapi hyung juga harus menuruti keinginanku."

Apalagi kali ini?

"Tiga hari –" Jungkook mendekat, menatap mata bulat Kakaknya, " –tidur denganku."

"Jungkook, kau ini aneh. Apa sih maumu?"

Jemari panjang Jungkook mencengkeram rahang tegas Taehyung, "Kuulangi sekali lagi. Tiga hari untukku sebelum angkat kaki dari sini dan ayo tidur denganku. Hanya sesimpel itu."

"Ugh, terserah. Hanya tidur saja –"

Jungkook mencengkeram lebih kuat dan menarik kepala Taehyung untuk dia cium bibir tebalnya dalam-dalam. Basah yang menggairahkan, juga penuh emosi. Entah karena marah atau apa, Jungkook nyaris mencekik leher Taehyung saat dia menciumnya lebih dalam. Untuk kemudian dia lepas dengan kasar hingga suaranya terdengar memantul-mantul. "Jungkook –"

"Bukan itu. Tidur denganku adalah tidur denganku. Seperti biasanya."

"Tapi –"

"Dan perjanjian batas sentuhan sudah tidak berlaku –" Jungkook mendesis, " –aku dibebaskan menyentuh apa yang kumau, melakukan apa yang kumau, dan hyung harus menerima semuanya dalam tiga hari. Hanya tiga hari, lalu aku akan pergi. Seperti yang kau mau."

Taehyung diam. Tidak menyangka akan serumit ini.

Kenapa? Kenapa jadi seperti ini?


My Mama

..

Kim Taehyung

Jeon Jungkook –role as Kim Jungkook

..

[Vkook dan KookV as brothership]

[MinV]

..

See you in after life

..


"Jungkook?"

Yang dipanggil mendongak, setengah terkejut, dia baru saja melamun. Tubuhnya langsung terduduk tegap dengan bibir yang dia gigit sedikit. Ia hanya membalas dengan tatapan, tidak mampu banyak bicara. Menunggu lawan bicaranya menambahkan.

"Kita sudah sampai."

Ah, suara Namjoon membuatnya pusing.

Dia bahkan bertanya-tanya bagaimana dia bisa berada di dalam mobil Namjoon dan malah berakhir di depan rumahnya. Mungkin dia tidak sadar saat itu, yang ia ingat adalah pertengkarannya dengan Taehyung yang membuahkan perjanjian singkat. Perjanjian yang rumit dan terkesan egois. Tetapi Jungkook tidak ambil pusing, yang lebih dia bingungkan adalah mengapa Namjoon membawanya kemari dan menyuruhnya tinggal bersama. "P-Pa, aku tidak meminta ini, kenapa kau berbuat begini?"

"Seseorang tidak selalu mendapatkan apa yang dia mau,"

Namjoon menambahkan, "Tetapi tentang apa yang dia butuhkan. Kau butuh ini."

"Aku sudah besar, masalah uang kami tidak apa-apa."

"Tidak, itu bukan ide bagus." Namjoon mengelus rahangnya, "Walaupun sebenarnya bekerja saat kau masih muda itu hal yang bagus tetapi perilakumu di sekolah itu benar-benar buruk. Aku tidak suka mengetahui kau suka berkelahi, Jungkook." Ia menghela, "Ayolah. Aku hanya ingin menolongmu, aku ingin berperan sebagaimana Ayah memperlakukan anaknya; kenapa kalian tidak bisa melihat itu? Katakan padaku, dimana salahku ketika aku bermaksud untuk mendidikmu dengan baik supaya kau sekolah dengan benar?"

Terdengar rasional tetapi Jungkook masih ragu.

"Aku tidak memasukkanmu ke sekolah kejuruan, atau langsung melemparmu masuk militer. Aku bukan seorang diktator kejam. Aku bahkan memfasilitasimu dengan segala kebutuhan akademikmu, kenapa itu terdengar kejam –" Namjoon memijit pelipisnya, " –hanya karena itu artinya kalian akan berpisah sementara waktu? Demi Tuhan, kalian masih di satu lingkungan tetapi kalian terlalu drama. Aku tidak sekejam itu, bukan?"

Jungkook menatap Namjoon, "Mudah bagi Papa berkata itu, kami sudah hidup bersama sejak kecil. Sejak aku lahir, Taehyung hyung yang membesarkan aku. Yang menghidupi aku, merawatku, mengajari aku banyak hal, melindungiku. Tentu akan sulit pergi darinya dengan alasan sepele seperti ini. Kami bersaudara dan tidak mudah berpisah dengan cara seperti ini." ia mendengus dan kembali membuang pandangannya ke luar jendela, "Sedangkan Papa, entah darimana kebetulan adalah Ayah biologisku tiba-tiba datang dan berusaha menjadi Ayah yang baik untukku. Ini sudah terlambat untuk itu. Sudah tidak ada gunanya. Aku tidak membutuhkan ini, aku tidak mau tinggal bersamamu. Kumohon mengerti ini,"

"Kau yang harus mengerti, Nak."

"Apanya?" Jungkook meremat celana jeansnya, "Untuk apa Papa melakukan ini?"

Namjoon menghela, "Ini demi kebaikanmu."

"Bukankah Taehyung hyung juga anakmu?"

"Kenapa kau menanyakan itu?"

Lama Jungkook terdiam, "Lalu mengapa?"

"Apanya?"

"Mengapa Papa menyakiti Taehyung hyung?" Jungkook memejamkan matanya, merasa lelah dengan hal yang terjadi. "Tidakkah Papa tahu dia sudah cukup menderita oleh banyak hal tetapi kenapa Papa masih senang menyakitinya begini? Bagimu ini terdengar berlebihan tetapi Taehyung menyayangi aku lebih dari apapun di dunia ini dan aku yakin kalau dia sudah memohon seperti pengemis agar kau tidak melakukan ini," ia terkekeh miris. "Tentu, Taehyung hyung memang seperti itu, aku tahu dia lebih dari siapapun. Lalu jawab ini; kenapa kau melakukan ini? Aku tidak bertanya tentang diriku,"

Namjoon menatap Jungkook yang memandangnya tajam. "Aku –"

"Kenapa Papa melakukan ini pada Taehyung hyung?"


Taehyung bangkit begitu terdengar suara brak kecil di meja kasir. Ah, dia melamun.

"Maaf, akan saya hitung totalnya."

Kemudian dengan sigap, setelah menggelengkan kepalanya untuk segera sadar, Taehyung menghitung total belanjaan pelanggannya. Ada tiramisu, roti perancis, cokelat bar dengan isian kismis, dan beberapa kue kering keju. Taehyung menduga orang ini pasti cukup kaya. Selain harganya yang lumayan, orang ini membeli cukup banyak kue. "Empat puluh ribu –"

Sial.

Baru sadar dia siapa orang ini. Kenapa harus disini?

"Hai, hyung."

"S-Sehun..." suara Taehyung tergagap, dia yakin senyum di wajah Sehun memiliki makna. "Totalnya empat puluh ribu," kemudian dia menundukkan wajahnya dan mengecilkan suaranya, tahu-tahu menjadi lemah dan ciut. Mengingat adegan kotor mereka saat itu, Taehyung telah berkata pada dirinya sendiri untuk waspada. Sehun bisa saja kalem tetapi dia tidak ada yang tidak mungkin jika dia bisa jadi tidak terduga. Sehun adalah orang yang harus dia jauhi, atau paling tidak ia harus membuar batas diantara mereka. "Ya, terima kasih."

Sehun menyentuh jemari hangat Taehyung, "Kembaliannya untukmu saja."

"Ah, tapi –"

"Itu karena kau manis, dan oh, aku tidak tahu kau suka kue apa jadi aku beli saja semua ini. Silahkan pilih mana yang kau suka," selanjutnya Taehyung mengernyit, tidak mengerti kenapa Sehun memperlakukannya seperti ini. Kenapa dia repot-repot membelikannya kue? Dia tidak membutuhkan sesuatu seperti ini. Seperti yang sudah ia bayangkan sebelumnya, Sehun bisa jadi tidak terduga. Ini adalah salah satunya. "Aku tidak suka kue, terima kasih."

Sehun tertawa, "Tidak perlu bohong untuk menghindariku."

Sial, apa semudah itu dirinya terbaca? Atau Sehun yang terlalu licik?

"Hm, mari kita lihat. Pertama, apa kau suka cokelat?"

"Hentikan. Jika sudah selesai, pulanglah."

Sehun menggaruk tipis dagunya, "Mana yang lebih kau suka? Manis atau segar? Lembut atau kering? Kalau tebakanku benar, kau suka cokelat. Tipe pemakan segala yang tidak bisa gemuk, apa begitu?" dia seolah tidak peduli dan masih mengajak Taehyung berbicara seolah ini perbincangan yang normal. Taehyung tidak menyukai ini, dia mendengus kasar. "Aye, aye, dasar pemarah~ aku 'kan hanya bertanya baik-baik. Jawab saja, kau mau aku cepat pergi, 'kan? Hyung, kau suka kue apa? Atau aku akan meletakkan ini di rumahmu."

"Tidak, jangan." Taehyung menghela, "Aku mau kue kering keju."

"Oh, tebakanku meleset. Bagaimana dengan cake?"

"Aku tidak terbiasa menjadikan kue sebagai pengganti makanan pokok, yang seperti itu akan cepat membuatku kenyang. Camilan akan selalu menjadi camilan. Dan aku tidak terlalu menyukai tekstur kue yang lembut seperti sponge atau kue basah lainnya,"

Sehun tersenyum miring, "Jadi lebih suka kasar?"

"Apa?"

"Kalau dikasari juga suka?"

"Kau mabuk, Sehun."

Kemudian Sehun tertawa renyah, mengulurkan kue kering keju untuk Taehyung dan kemudian menjinjing tas plastik belanjaan kuenya. Dengan cepat memajukan wajahnya untuk mencuri satu kecupan di pipi tirus Taehyung. Taehyung terkejut akan itu, Sehun sangat cepat dalam bertindak dan dia tidak sempat mengelak atau melakukan apapun. "Aku pergi. Bye~"

Taehyung yang masih terbengong akhirnya menatap kepergian Sehun.

Dan oh, sial datang dua kali.

Sekali lagi, sialan.

Apakah ini hari sial atau tanggal sial? Atau memang dasarnya Taehyung itu sial?

"Kim Taehyung,"

Kenapa? Taehyung hanya berharap dia bisa hidup normal seperti orang lain. Menjalani kehidupan yang normal seperti kebanyakan orang dan hidup bahagia. Setelah dia melepas apa yang dia punya, mengorbankan hal yang ia sayangi untuk kebaikan semuanya, kenapa masih saja kesialan mengekor seperti anjing di hidupnya. Ini membuatnya tersiksa karena hidup terasa rumit. Apakah itu sebuah kesalahan untuknya hidup biasa-biasa saja dan merasa senang?

Jantungnya bertalu-talu. Bercampur-campur.

Antara malu dan kesal, merasa bersalah, dan merindu sampai gila.

"Park Jimin..."


Namjoon menghentikan gerakan jemarinya yang mengetik.

Terdiam, seperti membatu. Matanya yang kosong beralih pada jemari panjangnya. Kemudian melamun lagi. Pikirannya kosong melompong. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di bangku empuk tempatnya duduk, lalu menerawang. Awalnya melihat langit-langit kamarnya yang berwarna krem hangat, kemudian melayang-melayang. Ingatan-ingatan masa lalu terlintas begitu saja di benaknya tanpa diminta. Wajah Taehyung menghantuinya. Membuatnya menutup mata erat-erat dan merasa sesak lagi.

Dia jahat. Dia tahu itu.

Membuang anaknya sendiri, dengan cara licik. Dia jahat. Dia tahu.

.

.

.

.

"Papa!"

Namjoon sedikit terhuyung ketika Taehyung berlari kencang kearahnya dan memeluk pinggangnya. Gerakan tiba-tiba itu tidak dapat Namjoon prediksi, dan dia baru saja pulang kerja. Ada sedikit lelah tetapi melihat semburat merah muda di wajah Taehyung membuatnya jadi gemas, anaknya yang lucu dan ganteng itu sepertinya sedang senang. Namjoon mendudukkan dirinya, menyamakan tinggi mereka. "Aigoo, Papa baru pulang sudah dikasih pelukan, nih. Ayo cerita kenapa Taetae senang begitu? Sebentar, sini Papa cubit dulu,"

"A-awwh! Ish, sakit, tahu!"

Namjoon tertawa, mengusak rambut Taehyung, "Kenapa dong?"

"Terima kasih, Papa!"

"Untuk?"

"Membuatkan aku seorang adik,"

Ah, masalah itu. Namjoon termangu sebentar. Kemudian memasang senyum lembutnya untuk Taehyung dan mencubit ringan hidung anaknya. Dia meneguk ludahnya sedikit berat karena mungkin waktunya tidak lama lagi. "Ya, sama-sama, Sayang. Tapi hanya diberi ucapan terima kasih, nih? Yang lain?" Taehyung mengerutkan bibirnya dan memiringkan kepalanya sebagai kebingungannya. Dia pikir dengan ucapan terima kasih itu cukup tetapi Namjoon mengetukkan telunjuk pada pipinya dan tersenyum, "Kisseu?"

"Oh, itu!" dan Taehyung mengecup pipi Namjoon.

Lalu mereka berpelukan.

Dan Namjoon berbicara melalui tatapan matanya dengan Hana yang memerhatikan mereka.

"Nah, karena sudah malam, sebaiknya Taetae tidur."

Taehyung melepas peluknya, matanya menyipit. Menguap kecil. "Uhm, aku juga sudah ngantuk. Hanya saja aku menunggu Papa pulang untuk mengatakannya. Habisnya, sekarang ini Papa sering berangkat terlalu pagi. Taetae 'kan belum bangun," jemari kecilnya menarik wajah Namjoon untuk ia kecup lagi lebih lama, "Goodnight, Papa." Kemudian tertawa, "Aku sudah bisa bahasa Inggris, 'kan? Supaya keren kayak Papa, gitu."

"Ya, Taetae emang cowok keren. Goodnight, Darl."

.

.

"Ini teh hijau untukmu, Nam."

Namjoon menoleh kaget, "Terima kasih, Han." Ia menyesap tehnya, hangat dan pahit. Namun, itu yang ia suka. Bukan sesuatu yang manis, atau ia akan merasa ngilu gigi. Hana paling tahu itu, jadi Namjoon merasa senang bahwa istrinya masih peduli. Dia baru saja selesai mandi, masih mengeringkan rambut dengan handuk, terduduk di pantry karena melihat Hana berkutat disana lalu disuguhkan teh hangat. Ah, ia jadi ingin menangis. "Kenapa belum tidur?"

"Belum terbiasa mengunci pintu sebelum kau pulang," wajahnya ia alihkan. "Lagipula, aku juga belum terbiasa tidur sebelum melihatmu di rumah. Rasanya masih sulit, Namjoon. Ah, omong apa sih... Lupakan yang tadi, oke? Kau istirahatlah, besok masuk pagi lagi?"

"Kau juga butuh istirahat,"

"Aku baik-baik saja."

Namjoon menarik lengan Hana dan memeluknya, "Kantung matamu besar, Han. Kau jelas lelah dan butuh istirahat, masih rewel mengguruiku. Kau satu-satunya orang yang butuh ketenangan, aku serius, Hana... Istirahatlah yang cukup, kau... sedang mengandung."

"Ini karena aku atau anak ini?"

"Aku sayang kalian berdua, jangan berpikir aneh-aneh."

"Kau meninggalkan ini untuk Taehyung, untuk aku, tapi aku tidak butuh ini –" lalu tangisnya turun begitu saja. Sangat tidak diduga untuknya kemudian menangis. Setelah sekian lama ia menahan emosinya, ia meluapkannya sekarang. Dalam dekapan Namjoon yang kokoh dan hangat. Elusan dari jemari panjang Namjoon menggerus pikirannya hingga tangisnya makin deras. Entah mengapa, meski Namjoon diam, ia semakin ingin menangis. " –kenapa harus seperti ini? Aku.. aku masih sangat mencintaimu, Namjoon. Dan tidak akan pernah berubah."

Suara wanitanya membuat Namjoon sesak. "Aku tahu. Aku juga sama cinta kau, dan tidak akan pernah sekalipun berkurang. Selalu sama setiap hari. Tetapi aku tidak punya pilihan, kalau saja... kalau saja aku berani, semuanya baik-baik saja. Semuanya akan normal." Ia mendekap istrinya lebih erat, membimbingnya duduk dipangkuannya, "Maafkan Lee Namjoon yang brengsek ini. Namjoon yang tidak tahu diri dan pengecut ini, memang sepatutnya dihukum. Maaf sudah melibatkanmu sejauh ini, Hana. Aku tak bermaksud, aku cinta kau."

"Kalau bisa, aku tak ingin kau pergi."

"So do i," Namjoon menghela, "But my Mom –"

Hana mengeratkan genggamannya di kaus Namjoon. "Kenapa harus Luna?"

.

Tok. Tok.

Namjoon terperanjat, kemudian mengusap wajahnya. Sial, dia terbawa lagi.

"Ya, masuk!"

"Tuan, meeting akan berlansung dalam waktu lima belas menit. Apakah ada ingin saya bawakan kopi dan snack sebelum itu?" sekretaris Namjoon yang masuk, "Anda nampak lelah sekali hari ini. Kalau boleh kurang ajar, saya sudah memanggil anda sejak tadi. Mungkin Tuan perlu menyegarkan pikiran sejenak,"

Namjoon mengangguk lemah, "Bawakan aku macchiato."


Suasananya canggung.

Ini adalah adegan yang dibenci Taehyung. Suasana semacam ini sangat tidak nyaman, dimana dia tidak bisa mengucapkan satu kata atau pergi dari situasi ini. Dia hanya terduduk lesu, bibirnya dia gigit berulang-ulang, jemarinya ia mainkan gelisah, dan matanya hanya memandang ujung kakinya yang juga bergerak gelisah. Dia benar-benar ingin pergi dari sini, tetapi pula tidak mampu. Jauh dalam lubuk hatinya juga, ia masih ingin disini.

Astaga, lucu sekali, Taehyung.

"Jadi, apa kau baik?"

Kalimat pertama setelah membisu dua puluh menit penuh. "Ya, kau sendiri?"

"Tidak."

Taehyung tersentak, mendongak. "Kau sedang sakit?"

"Ya, kurang lebih begitu."

"Kau harus banyak istirahat dan minum obat,"

"Tidak bisa. Ini tidak semudah yang kau bayangkan. Kau tahu sendiri aku tidak suka mengonsumsi obat, mereka pahit dan membuatku mual."

Taehyung mengerjap, "Kalau begitu minum vitaminmu,"

"Kau adalah vitaminku, Taehyung."

Ah. Sial. Beraninya bicara seperti itu, Taehyung jadi semakin meragu. Taehyung terkejut dengan ucapan itu, terlebih dengan eskpresi yang ia tangkap baru saja. Itu nampak begitu tulus, membuatnya luluh dan tersipu. Kesampingkan egonya sejenak, untuk ia merasa salah tingkah. Ia ingin egois untuk merasa berdebar. Ya, Taehyung sangat malu. "Kau harus pulang dan istirahat, Jimin... kau nampaknya membutuhkan itu."

"Kalau aku berkata aku butuh kau, apa kau akan mengatakannya?"

"Jimin –"

"Aku tidak butuh apapun," Jimin mengeratkan gigitan bibirnya, "Hanya Kim Taehyung saja. Kumohon, percaya padaku. Aku telah salah untuk meninggalkanmu dengan tidak terhormat, menyisakan pertanyaan dan rasa sakit yang membekas untukmu. Aku ini brengsek, aku tahu itu. Dan aku sangat menyesalinya, mengapa waktu itu aku justru tidak peduli padamu. Mengapa aku malah diam dan berusaha tidak mau tahu? Mengapa aku membiarkanmu berspekulasi sendirian tanpa menjelaskan satu hal padamu? Mengapa aku malah melepasmu begitu mudahnya?" kemudian kepalanya ia bawa tundu, bahunya bergetar. "Aku yang menarikmu kembali, memohon-mohon untuk kau kembali, membangun kepercayaanmu untuk kemudian kuhancurkan berkeping-keping. Kalau kukatakan aku tidak menginginkan ini, apa kau percaya? Lebih tepatnya, kalau aku bilang aku masihsangatmencintaimu, apa kau percaya?"

Taehyung diam. Tidak tahu harus menjawab apa.

Yang jelas hatinya bergetar tidak karuan. Emosinya campur aduk. Melihat Jimin menjadi selemah itu membuat Taehyung semakin kalap. Katakan saja ia lemah untuk kembali jatuh, terlepas dari apakah yang Jimin katakan adalah benar atau palsu, Taehyung tetap saja terbuai. Entah itu karena akting Jimin yang sangat lihai atau memang hatinya yang hanya jatuh untuk pria itu. "Aku.. tidak tahu, aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak mau jatuh lagi."

"Sebelumnya aku memang diam," cepat Jimin menggenggam Taehyung, "Kali ini aku akan bersua. Bahkan kepada Mama dan Papa, kepada Jiyeon, bahwa aku menolak ini. Aku akan bilang bahwa aku sudah punya kau untuk hidupku. Aku akan bilang bahwa aku hanya mau kau sebagai hidup dan matiku. Kim Taehyung dan bukan Kim Jiyeon,"

"Kau gila?! Jangan!"

Jimin menarik kuat jemari Taehyung yang sempat empunya tarik, "Kenapa? Aku akan benar-benar melakukannya. Aku sudah bodoh untuk berdiam diri, sekarang aku sadar bahwa aku harus bergerak atau aku akan kalah dan mati. Ini medan perang dan kalau aku tidak mengeluarkan senjata, mereka akan benar-benar membunuhku. Dan faktanya adalah, kau patut diperjuangkan. Aku akan memperjuangkan kau, kita." Jimin berujar yakin, "Kali ini, sekali lagi, percayalah padaku."

"Kau akan jadi anak durhaka,"

"Menolak bukan berarti durhaka kepada Ibu, Taehyung,"

Taehyung menggeleng, "Tidak... lagipula, Mama benar... Jiyeon lebih pantas untkmu. Dia cantik dan baik. Pintar memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah, jauh berbanding terbalik denganku yang perusak. Aku hanya akan menghancurkan, percayalah, insting Mama itu sangat kuat. Beliau tidak akan memutuskan secara tiba-tiba," ia meneguk ludahnya berat, "Mama sudah memikirkannya dengan matang. Percayalah padanya, itu yang terbaik untukmu."

"Kenapa kau tidak juga mengerti, Tae?"

"Jimin,"

"Berhenti, berhenti melukai dirimu lagi. Jangan hukum aku seperti ini, aku benar-benar menyesal. Sangat menyesal sampai kupikir aku pantas menjomblo seumur hidup. Tapi jangan hukum aku dengan menjadikan dirimu tersiksa, Dear. Aku tidak kuat lagi, aku hanya bisa jika itu denganmu. Hanya jika itu kamu, hanya jika itu Kim Taehyung. Kumohon, mengertilah," Jimin menunduk dan mendekatkan genggaman tangan mereka ke bibirnya yang bergetar untuk ia kecup lembut sekali sampai membuat Taehyung terenyuh, "Jangan siksa aku lagi. Cukup sampai disini saja, kembali padaku dan percaya aku. Aku akan perjuangkan semuanya, aku akan melawan semuanya, bahkan perjodohan bodoh itu. Apapun akan aku lakukan, untukmu. Bahkan jika Mama marah padaku, tidak apa-apa. Asal kau mau dengar dan percaya, untuk kemudian kau kembali padaku."

Lalu kemudian Taehyung termangu.

Jimin menangis. Panjang sekali, nyaris meraung-raung.

Ini pertama kalinya, setelah sekian lama, ia melihat Jimin menangis sehebat itu. Bahkan sejak kecil, Jimin akan menahan tangisnya di depan Taehyung. Pemuda itu berkata, laki-laki tidak boleh menangis. Dan Jimin akan menjadi sosok yang kuat untuk Taehyung, makanya dia pantang menangis. Bahkan ketika kakinya patah dan batal ikut lomba menari yang didambanya, ia hanya tersenyum memeluk Taehyung yang menangis. Jimin tidak menangis.

Tetapi kali ini, dia menangis. Karena Taehyung.

Itu sungguh mengetuk hatinya untuk semakin tergerak. Ia terkejut dengan perubahan Jimin yang drastis karenanya. Taehyung bingung, mengapa pria seperti Jimin harus menjadi lemah hanya karena dirinya yang payah ini? Jimin yang kuat dan berwibawa, menjadi rapuh dan memohon seperti gelandangan hanya karena cinta. Apakah ini benar? Tidakkah Taehyung terlalu rendah untuk dijadikan tiang utama hidup Jimin? Untuk jadi seseorang yang dicintai Jimin? Apakah dia bahkan pantas mendapatkan perasaan tulus itu? Seharusnya Jimin bahagia dan bukan menangis seperti ini, karena dia, Jimin terlibat masalah yang pelik. Apalagi jika harus memberontak perjodohan keluarga... tidakkah Taehyung benar-benar penghancur sejati?

Apa benar Taehyung pantas?

"Kalau aku berkata, lakukan demi aku, apa kau bersedia?"

Pertanyaan konyol. Taehyung semakin gugup. "J-Jimin, aku.. aku.. entahlah,"

"Lakukan ini bersamaku, ayo terluka sama-sama. Percaya padaku, aku akan menggenggam tanganmu erat. Dan aku bersumpah tak akan pernah berani untuk melepasnya barang sedetik. Aku bersumpah akan menjaga dan memperjuangkanmu sebagaimana mestinya, sebab kau pantas. Berhenti berpikir kau adalah perusak, kau adalah yang kubutuhkan di dunia ini." Jimin melarikan jemarinya mengelus kepala Taehyung, "Kumohon, percaya padaku lagi, Taehyung. Kali ini, jadilah egois dan lawan semuanya. Jadilah egois untuk memiliki aku, seperti aku egois ingin memilikimu sendirian, selamanya."

"Aku... tidak yakin,"

Jimin tersenyum tipis, memajukan tubuhnya untuk mencium Taehyung, "Kau harus yakin. Pasti bisa. Kita pasti bisa. Seseorang bilang padaku, jangan terlalu takut untuk membayangkan apa yang belum kita lakukan, atau kita akan benar-benar kalah dalam imaji. Jadi, kita harus mengatakannya untuk tahu bagaimana reaksinya." Ia mengecup hidung Taehyung, "Lagipula, paling tidak, Mama pasti menaruh rasa suka padamu. Dia sering bicara ingin punya kamu sebagai anaknya, kalau kuwujudkan sebagai menantu, bukankah aku jadi anak baik, hm?"

Ah, Jimin. Moodbooster paling handal di muka bumi.


"Rokok?"

"Trims," Jungkook mengambil sebatang rokok suguhan Sehun, membakarnya lambat untuk kemudian ia hirup dalam-dalam. Ia terbatuk keras, hingga Sehun terpingkal. Jungkook mendelik tidak suka dan membuang rokoknya kesal. "Berhenti tertawa. Tidak lucu."

Sehun mengusap sudut matanya, "Astaga. Kalau tidak bisa merokok, bilang saja, babyboy."

"Aku bukan bayi!"

"Nyatanya begitulah kau."

"Terserah," Jungkook mengacak rambutnya, "Aku sedang malas berdebat."

Helaan napas terdengar. Sehun melirik, masih menghisap rokoknya kuat. Ia tersenyum sendirian menatapi Jungkook yang nampak kacau. "Kenapa? Taehyung menolakmu lagi?" karena pertanyaan jahil itu, Jungkook menoleh kaget dan memberi tatapan mata tajam. Sehun tertawa lagi dengan reaksi lucu darinya. "Seperti yang pernah kau katakan padaku, meski menjijikkan, tidak apa untuk berbagi masalah dengan teman, 'kan? Meski aku juga tidak yakin kita berteman, tetapi jika itu akan melegakanmu untuk bercerita, aku akan dengar semuanya." Ia menghembuskan asap rokoknya dahsyat, "Kupikir, menyenangkan juga mendengar curhatan orang."

Agaknya meragukan, tapi Jungkook memang butuh teman cerita.

Tapi ini Oh Sehun. Buat apa cerita padanya? Setan brengsek ini tidak akan peduli.

"Aku menunggu,"

Masa bodoh lah. Didengar atau tidak, peduli amat. "Aku diusir."

"Taehyung?"

Jungkook mengangguk, pasrah. "Ini ulah Papaku. Entah apa yang mereka berdua bicarakan sampai akhirnya memutuskan agar aku tinggal bersamanya. Papa bilang dia akan menghidupi aku, bahkan siap memasukkan aku kuliah. Gila, 'kan?"

"Tidak juga, aku ingin pergi kuliah."

"Bukan itu intinya, sial!"

"Lalu? Papamu ingin tinggal bersama anaknya, salahnya dimana?"

"Hanya aku! Papa hanya memintaku, tetapi tidak untuk Taehyung. Yang artinya aku akan tinggal terpisah darinya dalam waktu yang lama," Jungkook mengusak rambutnya lagi. "Aneh, benar-benar aneh. Ini gila, mana bisa dia pakai alasan konyol untuk membuatku tinggal bersamanya? Hei, Sehun. Apa tidak aneh kalau Taehyung begitu dibenci Papa?"

Sehun berpikir, "Kau benar. Pasti ada sesuatu yang membuatnya tidak ingin berhubungan dengan Taehyung lagi, terlepas perasaannya padamu. Dia benar-benar sayang kau sebagai anak, 'kan?"

"Iya, sih. Tapi Taehyung?"

"Yah, aku tidak tahu." Sehun membuang putung rokoknya, sudah habis. "Pasti ada hal yang pernah terjadi, yang membekas dihatinya sampai Papamu tidak ingin melihat Taehyung lagi dan terkesan membuangnya. Tapi, entah mengapa aku yakin, kalau dia masih sayang Taehyung." Ia menyandarkan kepalanya pada kepalan tangan, "Kau mungkin tidak percaya dengan kata-kataku tapi itu sudah pasti, orang seperti Taehyung, tidak mudah dibenci orang. Apalagi jika itu orangtuanya sendiri. Apalagi kalau Papamu orang berhati lembut,"

Jungkook termangu, dalam hati mengiyakan.

"Lalu mengapa, ya?"

Sehun mengendikkan bahu, "Mungkin ada luka masa lalu diantara mereka."

"Tapi, seharusnya Taehyung yang terluka," Jungkook menghela, "Kenapa jadi orang tua yang memendam luka dan masih kekanakan untuk menyimpan sakit?"

"Hati orang, tidak ada yang pernah tahu."

"Kau belajar darimana?"

Sehun terkekeh ringan, "Keren, ya?"

"Bodo."


Mobil Jimin berhenti tepat di rumah Taehyung.

"Sampai," Jimin berujar dengan senyuman lembut, memandang Taehyung sayang dan menggenggam jemari kekasihnya erat. Sesekali ia mengusaknya jahil, membuat Taehyung ikut tersenyum kecil. Jimin asyik memandanginya tanpa henti, hingga Taehyung merona dan kepanasan. Siapa yang tidak gugup ditatap oleh Park Jimin seintens itu? Hati lemah milik Taehyung sudah jauh meleleh. "Yakin tidak mau kerja di kafeku lagi?"

"Biarkan aku mandiri, Jimin."

Taehyung merengek dan itu bahaya bagi Jimin. "Oke, oke. Jangan pasang wajah menggemaskan itu lagi, okay? Baiklah, kau boleh bekerja disana sampai kapan pun, dan kau juga harus ingat kalau tempat untukmu selalu terbuka dua puluh empat jam." Ia nyengir melihat Taehyung mengangguk lucu dan rambutnya bergerak halus, "Asal jangan seperti tadi."

"Tadi? Apanya?"

"Pria yang memberikanmu kue dan mencium pipimu,"

"Kau melihatnya?"

"Aku sudah memandangimu satu jam sebelum pria itu datang."

Salahkah Taehyung untuk merasa bahagia? Entah karena Jimin yang masih sangat peduli padanya untuk memerhatikan dia dari jauh atau karena sikap cemburu yang diutarakannya secara implisit. Itu sangat menyenangkan mendengar Jimin berkata tidak suka ada pria lain yang menginginkannya, ia suka mengetahui Jimin bersikap posesif untuknya, ia suka jika Jimin begitu menjaganya untuk tetap menjadi miliknya. Itu membuat jantungnya berdebar halus. "Dia teman Kookie, dan kebetulan, wajahku ini memang memikat semua orang."

Lihat wajah kesal Jimin itu, menyenangkan, bagi Taehyung.

"Belajar dari siapa kau, ha?"

"Bagaimana, ya? Sepertinya tidak seorang pun bisa tahan dengan wajah manisku. Meski canggung untuk berbicara, tetapi aku cukup terbuka dan ramah. Tidak salah, sih, kalau banyak orang menyukaiku. Aku pun mencintai diriku sendiri," Taehyung akan melanjutkan kalimat jahilnya tetapi Jimin buru-buru menariknya pada sebuah ciuman kasar yang panjang. Basah dan memabukkan, penuh emosi (yang dominasi adalah marah) melalui ciuman itu. Taehyung hampir kepayahan menyeimbangkan ritmenya, sebab Jimin tidak hanya menciumnya tetapi juga mengukung tubuhnya dan mencengkeram tengkuk dan kepalanya erat. Berkali-kali menyesap bibir bawahnya sangat kencang, hingga suara kecipaknya memantul-mantul di dalam mobil. Kali ini ia menciumnya sangat dalam dan berantakan, membuat Taehyung makin kepanasan dan merengek. Batasnya terlalu tipis antara ingin menghirup udara atau ciuman yang lebih intens dan membara lagi. Rasanya menyenangkan disiksa seperti ini, nyaris membuat Taehyung tidak bisa berpikir jernih untuk meminta lebih dari apa yang tengah didapatnya.

Namun, kemudian Jimin melepasnya setelah menyapu langit-langit mulut Taehyung.

"Masih berani bicara begitu, hm?"

"A-Apaan, sih?"

Jimin menyeringai, "Ucapanmu itu sialan benar. Beraninya kau menjadikannya alasan? Wajah manismu itu hanya milikku! Jangan sekalipun berani membaginya dengan siapapun, apalagi pada pria jangkung jelek tadi, tidak boleh!" ia menangkup wajah Taehyung untuk ia cium, "Semua ini milikku, setiap senti adalah punyaku, Kim Taehyung mutlak milik Park Jimin! Jadi jangan pernah beralasan dengan kemanisanmu dan berkata seperti tadi, kau belajar menggoda dari siapa, hah? Tetaplah jadi Taetae yang malu-malu, ugh, jangan tatap aku begitu! Mau kucium, hah?!"

"Memang itu yang kumau, kok bisa tahu?"

"Wah, sial, Taehyung." Jimin mengeratkan giginya, "Sejak kapan kau bisa menggoda?"

"Sejak punya pacar Park Jimin?"

.

.

.

Setelah perkelahian panjang, Jimin pulang. Menyisakan Taehyung yang meragu di depan pintu. Ia tidak yakin dengan dirinya sendiri. Sebenarnya mudah untuk masuk dan tidur, tetapi kali ini tidak akan semudah itu. Kiranya lima belas menit ia berdiri tidak jelas di depan pintu tanpa niatan membukanya dan masuk. Ia masih menimbang-nimbang, apakah harus masuk, atau justru kabur? Namun pula, kalau kabur, harus kabur kemana? Dia tidak punya tujuan. Kembali ke rumah pun cukup berat untuknya.

Perjanjian tidur tiga hari.

Hal itu yang membuatnya panas dingin. Jungkook pasti sudah menunggunya di dalam, dengan wajah garang, siap menerkamnya seperti singa kelaparan. Mulai dari malam ini, perjanjian itu dimulai. Dimana Jungkook akan menidurinya sesuka hati selama tiga hari untuk kemudian dia pergi tinggal bersama Namjoon. Sungguh pun Taehyung tidak menginginkan ini, tetapi dia adalah si lemah yang tak mampu menolak apalagi membantah, terlebih itu dari Jungkook. Apa pun kalimat yang dikeluarkan adiknya, mampu mengetuk hatinya untuk bergerak. Ia tidak ingin tidur dengan adiknya seperti yang sudah-sudah, tapi jika itu artinya Jungkook rela pergi dan tinggal bersama Namjoon, tidak masalah. Pemikiran pendeknya berkata demikian, namun hatinya meragu tidak jelas. Apa ini sudah benar? Kenapa Taehyung malah mengiyakan?

Pecundang memang diciptakan untuk kalah.

Seekor cacing memang akan selamanya dibawah tanah.

Seperti sampah busuk, dia tidak mungkin diperlakukan spesial.

Maka begitulah daur kehidupan Taehyung, diciptakan untuk menerima derita.

"Aku pulang,"

Pelan sekali, hingga Taehyung berharap Jungkook tidak mendengar suaranya. Ia berjalan pelan dalam gelap, mengendap-ngendap seperti pencuri, ketakutan. Dia tidak akan pernah siap untuk melakukan ini. Mulutnya bisa berkata iya tetapi dirinya benar-benar tidak mampu menerima kesakitan lagi. Hal kotor seperti ini seharusnya sudah berhenti mereka lakukan, tetapi kenapa ada saja hal yang menjadikan mereka harus melakukannya? Taehyung nyaris menangis saat berjalan menuju kamarnya, ia benar-benar takut. "H-Hyung pulang..."

"Terlambat."

Lampu menyala, membuat Taehyung terperanjat kaget.

Jungkook berdiri melipat tangannya di dada, memasang wajah kesalnya. Langkah besarnya menghentak menuju Taehyung yang gemetaran. "Kenapa baru pulang?"

"A-Aku.. itu –"

"Jadwalmu hanya sampai jam sepuluh, ini sudah hampir pukul dua belas!"

"Y-Ya, t-tadi ada pelanggan," Taehyung mengulum bibir, "I-Itu, dia, minta.. euh.."

"Bohong."

Taehyung terdiam, menunduk. Jungkook mendengus, "Kau berbohong padaku. Aku juga punya mata dan telinga, cukup jelas untuk dapat melihatmu berciuman dengan Jimin di mobil." Ia menggeram ketika mendapati reaksi terkejut dari Taehyung, "Jadi kalian sudah kembali? Tch, bikin aku tambah kesal saja. Kau sudah janji padaku untuk melupakannya, kenapa pacaran lagi dengannya? Dia sudah menyakitimu, hyung! Kenapa kau memberinya kesempatan lagi?! Dia akan kembali melukaimu seperti yang sudah-sudah! Jangan percaya si brengsek itu."

"Jangan sebut dia brengsek, Jungkook."

"Sekarang kau bahkan membela dia," Jungkook mendegus, "Kau sudah janji akan tidur denganku sebelum aku pergi! Kalau kau berstatus pacaran dengannya, mana bisa aku menyentuhmu? Kau pikir aku suka menyentuh milik orang lain? Terlepas dari itu, kenapa harus Jimin? Sadarlah, dia sudah membuangmu untuk seorang wanita! Dia akan menikah dan hidup bahagia tanpamu, kenapa kau masih berani untuk egois bersamanya? Jimin hanya pembual manis, dia akan melepasmu seperti waktu itu dan berjalan dengan wanita itu! Orang seperti dia tidak akan bisa melawan perjodohan itu, kalian tidak akan bisa bersama! Sadarlah, hyung!"

Taehyung masih diam, membiarkan tubuhnya diguncang oleh Jungkook. "K-Kami tidak akan tahu jika belum mencoba, 'kan?" ia berusaha tersenyum, "Aku memang bodoh untuk percaya padanya lagi. Memberikan kesempatan pada orang yang telah melukaiku adalah tindakan konyol. Tetapi aku tidak bisa diam lagi, terlepas apakah dia akan meninggalkan aku suatu saat nanti, aku tidak peduli lagi. Aku membutuhkan dia, sama seperti dia begitu. Kau tidak mengerti, tetapi aku percaya dia adalah Jimin yang sama yang mencintai aku, bukan wanita itu atau siapa pun yang lain."

"Kau bodoh, hyung."

"Aku tidak peduli,"

Jungkook baru akan membalas sebelum Taehyung mengecup bibirnya. "Cepat lakukan, dan pergi dari sini. Tidak apa jika aku sudah jadi pacar orang, kesampingkan dulu status itu. Lakukan saja sebagaimana kau melakukannya padaku, kemudian pergi." Taehyung meneteskan airmatanya perlahan, dadanya sakit. "Kumohon, lakukan saja dan pergi, Jungkook. Aku memenuhi janjiku, maka kau harus memenuhi janjimu juga untuk segera pergi ketika telah mendapatkan apa yang kau mau. Pergi dan tinggal bersama Papa. Putus hubunganmu denganku, dan jadilah sukses. Bahagialah dengan keluargamu dan buat mereka bangga, buat hyung bangga. Aku yakin, Kookie bisa melakukannya. Aku percaya padamu, dik."

Rasanya menyesakkan. Jungkook meneguk ludahnya berat.

Disaat seperti ini, Taehyung benar-benar menantangnya.

Apakah Taehyung benar-benar ingin dirinya pergi? Mengapa?

Ini sungguh menyakitkan.

Airmata menetes dari pelupuk mata Jungkook. "Kau akan menyesali ini, Kak."

"Tidak, aku yakin dengan keputusanku."

Malam itu, mereka bercinta lagi.

Hari pertama, selesai.


Hari kedua, masih sama.

Taehyung menangis lebih keras. Jungkook memberinya luka dan kenikmatan yang tiada tara hingga tubuhnya benar-benar dibuat mati rasa. Masih ada sisa dari malam pertama itu, yang mana membuatnya sangat kesakitan. Bahkan ia masih ingat, malam itu ia berdarah saking parahnya Jungkook memainkan tubuhnya. Ia menangis, selain karena sakit, juga karena Jungkook memarahinya macam-macam. Berkata padanya untuk segera melepas Jimin sebelum ia merasa lebih sakit lagi. Namun, ia menjawab tidak akan. Dan itu membuat Jungkook semakin kalap, hingga Taehyung terhentak dahsyat sampai lupa dunia.

"Jawab telponnya, hyung."

Sial, bagaimana caranya. "J-Jungkook –hhhh"

"Cepat, jawab!" tangan panjang Jungkook meraih ponsel Taehyung yang berdering sejak tadi. Bukannya apa, suaranya sangat mengganggu konsentrasi. Lagipula, melihat siapa yang menelpon, Jungkook jadi menyeringai senang. Jahil sedikit tidak masalah, kan. Ia menjawab panggilan itu, untuk kemudian ia letakkan ponselnya di sebelah kepala Taehyung, "Ayo, bicara. "

["Taehyung?"]

Tubuhnya maju mundur, sial. "J-Jimin..."

["Lama sekali menjawab telponku, kau sedang apa?"]

"A-Aku –hhh," Taehyung menggigit bibir. Tentu saja ia harus menahan desahnya. Dia tidak ingin menyakiti Jimin lagi namun di satu sisi ia tidak bisa melepas Jungkook. Ini sungguh dilema ketika ia ingin sekali menjaga perasaan Jimin namun tidak mampu menolak adiknya, bahkan untuk hal kotor seperti ini. Dia tidak menerimanya, ini hanya reflek tubuhnya saja, ketika ia mendesah dengan memanggil-manggil Jungkook. Tetapi bagaimana caranya Taehyung menjawab telpon jika bicara normal saja tidak bisa? Tubuhnya dihentak bukan main sampai pandangannya kabur, pikirannya hampir meletup ke awang-awang, tetapi dia harus tersadar supaya Jimin tidak datang ke rumahnya seperti waktu itu.

Supaya Jimin tidak pergi darinya, karena tahu Taehyung masih sebrengsek dulu untuk terus tidur dengan adiknya. Biar saja dia egois.

["Kau baru bangun tidur, ya?"]

Ah, bagus, Jimin. "Y-Yah.. Begitula –hhh,"

["Kau terdengar sakit, Tae. Butuh sesuatu?"]

"Tidak perlu –" mata Taehyung terbalik dan suaranya tercekat ketika Jungkook memasukkan miliknya terlalu dalam hingga rasanya benar-benar tidak karuan. Jungkook terkekeh melihat reaksi Kakaknya yang lucu namun kotor. Indah sekali. "Lanjutkan, hyung sayang," bisiknya mengejek Taehyung yang masih mengambil napas selepas orgasme. Ia mendekat dan menciumnya sebentar, dalam dan menggunakan lidahnya. "Aku butuh tidur, Jimin."

["Begitu?"] suara Jimin terdengar tak yakin. ["Aku bisa kesana membawa buah dan beberapa obat, Sayang. Jangan sungkan padaku, ayolah, hanya satu kata dan aku akan terbang kesana."]

Jimin tertawa, dan Taehyung menangis.

Polos sekali. Pacarnya terlalu lembut dan tulus, membuat Taehyung sesak saja. Bagaimana dia bisa tertawa disaat suaranya saja bisa terdengar mencurigakan? Apakah Jimin memang tidak peka? Atau dia memang terlalu murni untuk menaruh kepercayaan untuknya. Ini sangat berat, Taehyung semakin jatuh pada Jimin. Tetapi juga ia tidak ingin menyakitinya lagi.

Taehyung menggigit bibir, "Besok saja –hhh,"

["Ah, baiklah, Sweets. Aku mengerti."]

Maaf, Jimin.


Sehun melirik Jungkook yang melamun.

Ia menyeringai, "Kenapa lagi dengan Taehyung?"

"Tidak usah ikut campur," Jungkook mendengus, "Kepalaku sakit sekali."

"Sepertinya kalian sedang dalam masalah, ya?" Sehun mengunyah burito di tangannya, dia kelaparan karena belum makan seharian. Ia masih menanti Jungkook menjawab pertanyaannya, sebenarnya pria itu bukannya tidak mau bicara, dia sangat pemalu. Itu lucu untuk Sehun, dan lagipula mendengarkannya curhat itu menyenangkan. "Otakmu yang penuh pikiran itu bahaya untuk kinerjamu, bahaya untuk pemasukanku, tahu." Ia meminum air sejenak, "Aku tidak mau ikut campur apapun, hanya saja, jangan sampai kau mengecewakan pelanggan seperti yang sudah-sudah. Atau aku akan menurunkan kelasmu,"

Jungkook berdecak, "Iya, aku tahu, sajangnim." Ia mencibir sedikit.

Oh Sehun itu menyebalkan, tetapi Jungkook tidak paham mengapa dia terlibat terlalu jauh dengannya, seperti mereka adalah teman. "Ingat kalau aku akan pergi darinya?" ia menundukkan kepala setelah Sehun mengangguk ringan. Helaan napasnya terdengar berat, kepalanya pusing untuk dipakai berpikir. "Aku membuat perjanjian dengannya,"

"Dan itu adalah...?"

"Aku menidurinya tiga hari," ia menghela lagi, "Untuk kemudian aku pergi."

Sehun mengernyit, "Kupikir kau tidak mau pergi?"

"Pada awalnya," Jungkook menyandarkan tubuhnya di sofa. Aroma alkohol tercium sangat kuat di ruangan. Manis dan membuatnya pusing. Pertanyaan Sehun mengetuknya, benar, dia sangat tidak mau pergi. Terlepas dari kesalahannya dulu untuk menyia-nyiakan Taehyung. Saat ini ia memiliki perasaan lebih untuk Kakaknya. Perasaan bersalah juga jadi alasan mengapa ia tidak ingin pergi meninggalkan Taehyung. Meski sudah menidurinya berkali-kali seperti bejat, ia tetap merasa bersalah padanya. Ia bisa melakukan apapun yang Taehyung minta sebagai permohonan maaf tetapi lagi-lagi, Jungkook melukainya. "Dia berteriak padaku, baru kali ini aku melihatnya begitu serius dan tegas padaku. Dia benar-benar ingin aku pergi, dengan sejuta alasan konyolnya. Aku memang tidak mau pergi, tetapi aku masih ingat betul gema teriak dan tangisnya memohon aku pergi darinya, meski aku tahu itu juga menyakiti dia." Jungkook mengusak rambutnya, "Aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan."

"Lalu kau melakukannya?"

Jungkook meliriknya, "Menidurinya? Tentu saja. Ini hari terakhirku,"

"Kenapa kalian membuat perjanjian itu?"

"Aku mencintainya," Jungkook memejamkan mata. "Kukira, dengan aku merusaknya dia akan sadar bahwa perasaanku ini bukan main-main. Bukan sebagaimana dia selalu pikir bahwa aku hanya merindukan kasih sayang Kakak. Kupikir dia akan mengerti bahwa dia butuh aku, sebagaimana aku begitu padanya," kepalanya berdenyut, "Aku berharap dia akan menarik kata-katanya dan mengukungku, melarangku pergi, dan kami akan hidup bersama. Aku pikir akan seperti itu yang terjadi, tapi –"

Kemudian hening. Sehun mengunyah dengan lambat.

"Maaf, man. Aku tidak bisa merasakan empati,"

Jungkook mendengus, "Aku tahu kau brengsek."

"Jadi, bagaimana dia saat berada di bawah?" Sehun menyeringai ketika Jungkook membuka mata dan menatapnya tajam.

"Apa maksudmu?"

Sehun terkekeh, "Kau sudah sering menidurinya, aku ingin tahu apa dia hebat di ranjang?"

"Untuk apa kau tahu?"

"Kupikir, dengan tubuh kurusnya dia akan sangat menyenangkan untuk dimainkan. Suaranya memang berat, tapi bukankah jika dibuat serak akan terdengar indah?"

Jungkook mengepalkan tangannya, "Tutup mulutmu, bajingan!"

"Hei, aku tertarik padanya." Sehun menyeringai, "Boleh aku cicipi sedikit?"

"Tutup mulut sebelum kupotong lidahmu!"

"Aduh, santai, bro." Sehun tertawa ringan, "Dengar, aku punya penawaran menarik. Begini, kau berpikir dengan menyiksanya, kau bisa membuat Taehyung lemah dan butuh seseorang yang melindunginya dan itu kau, benar?" ia menambahkan dengan nada tenang, "Otakmu boleh juga, cerdas tapi tidak cukup licik. Maksudku adalah, mari bekerjasama untuk satu kesepakatan."

Ini tidak terdengar bagus, "Apapun itu, tidak akan."

"Oh ya? Ini bagus loh, simbiosis mutualisme. Dengar dulu, bro. Ayo kita tiduri Taehyung bersama. Sudah jelas siksaannya akan lebih, bukan? Dengan tekanan seperti itu, jelas Kakakmu akan jadi lemah dan luluh. Dia akan memintamu untuk menjaganya dan melarangmu pergi, persis seperti apa yang kau bayangkan," dia menjilat bibirnya yang kering, "Dan lagipula, aku memang penasaran bagaimana rasanya Taehyung; apakah manis seperti wajahnya?"

Jungkook melayangkan satu tinju, "Bajingan! Jangan harap!"

Kemudian dia bangkit dan pergi menuju kamarnya. Menunggu seseorang yang telah memesannya. Meninggalkan Sehun yang tertawa meremehkan, meski sudut bibirnya sangat perih. Pukulan Jungkook tidak main-main rupanya. Lucu sekali. Ia masih tertawa.

"Kau pikir ada yang bisa menghentikanku?"

Sehun meraih ponsel Jungkook yang tertinggal di meja. Sehun menyeringai, "Kita lihat siapa yang kau panggil bajingan tadi, hah? Kau pikir aku tidak bisa kalau kau melarang? Kau bukan siapa-siapa, Kelinci." Ia menjilat bibirnya lagi, "Nah, Kim Taehyung,"

"Jika aku tidak bisa meraihmu, aku bisa membuatmu datang padaku."

.

.

Taehyung turun dari bus kota. Kemudian memandangi ponselnya sekali lagi, memastikan. Beberapa menit lalu Jungkook mengiriminya pesan, meminta tolong membawakan barangnya yang tertinggal ke tempat kerja. Ia senang bukan main, akhirnya Jungkook terbuka akan dimana ia bekerja. Ia senang Jungkook akhirnya percaya untuk mengatakannya. Meski ia tidak tahu kenapa adiknya memintanya membawakan tteokbokki. Apakah dia begitu kelaparan? Apa bosnya tidak memberi dia makan? Kalau begitu dia harus sering membawakannya bekal.

Butuh sekitar dua puluh menit berjalan kaki dari halte. Tempatnya agak ke dalam, membuat Taehyung bertanya-tanya tempat kerja macam apa yang blusukan seperti ini. Tapi mau bagaimana pun, dia harus segera sampai karena tteokbokkinya hampir dingin. Jungkook bisa saja marah karena ini, maka dia sedikit mempercepat jalannya.

"Apa... Apa-apaan ini?"

[Wings Club]

Mengapa ia tiba disini?

Gedung tinggi bertabur lampur kelap-kelip ini jelas sekali adalah klub malam. Kenapa Taehyung berdiri di depan sini? Mengapa alamatnya sama dengan yang Jungkook kirim? Taehyung masih memindai, apa mungkin dia salah lihat? Dinginnya malam mungkin membuat pikiran dan matanya kacau. Tetapi berapa kali pun ia mengusap mata, tempat itu tak berubah. Masih sebuah klub malam yang nampak berkelas, elegan, dan kotor.

"Omong-kosong apa ini?"

Tubuhnya bergetar, meski langkahnya maju. "P-Permisi, saya Kim Taehyung, ingin b-bertemu dengan Kim Jungkook adik saya... A-Apa benar dia bekerja d-disini?"

Ada seorang penjaga di depan pintu, Taehyung bertanya dengan sedikit keraguan dalam dirinya. Berharap pria tegap itu menjawab, Jungkook tidak bekerja disini, atau sesuatu yang melegakan. Barangkali dia memang salah membaca alamat, atau Jungkook salah ketik? Ya, masih ada kemungkinan itu, benar. Tetapi jantungnya malah berdentum-dentum ketika penjaga itu menelisiknya dari atas ke bawah kemudian tersenyum, "Ah, jadi Anda Kim Taehyung. Tuan Muda Oh Sehun sudah menunggu,"

"T-Tunggu," ia meronta saat penjaga menarik lengannya, "Saya tidak mencari Sehun,"

Lengannya ditarik lebih kencang. Tatapan mata penjaga itu menajam, "Lebih baik Anda jangan meronta atau saya harus memakai kekerasan. Karena perintah Tuan Muda Oh Sehun adalah mutlak bagi kami, jadi mohon tenang dan jangan berteriak."

Taehyung bungkam. Jebakan apa lagi ini?

.

.

.

"Kenapa tidak ada? Tadi disini,"

Jungkook menggaruk kepalanya, ia baru ingat ponselnya tertinggal. Setelah bekerja dan membersihkan diri, ia bergegas ke meja tempatnya terakhir singgah. Mejanya sudah bersih, ponselnya lenyap. Meski ini tempat buruk, Jungkook cukup yakin tidak ada yang berani mencuri di sini. Sebab tempat ini masih teritorial Oh Sehun jadi, yang paling memungkinkan adalah staff kebersihan yang menemukannya. Atau yang lebih buruk, si brengsek itu yang iseng membawanya. Meski dia tidak suka berbuat jahil yang kekanakan tetapi perasaannya tidak enak.

"Jungkook-ssi,"

"Oh, Yongguk hyung," itu seorang bartender. Sedang mengelap gelas kaca yang berdebu. Ia tersenyum simpul saat Jungkook duduk di meja bar. Wajahnya lesu dan nampak lucu, maklum, Yongguk sudah hampir tiga puluh dua. Jadi ketika ia bertemu dengan orang seusia Jungkook, tidak ada kata lain selain lucu dan menggemaskan dalam benaknya. Ah, dia merasa seperti memiliki anak padahal menikah saja belum. "Shift malam ya?"

Yongguk tertawa, "Memangnya ada klub malam membuka shift pagi?"

"Oh, iya..."

Atas kepolosan (atau kebodohan itu) Yongguk menggeleng, "Kau nampak lesu. Apa pelangganmu tidak sepanas biasanya? Kau selalu keluar dengan wajah sumringah setelah bekerja karena katamu mereka panas, apa yang kali ini tidak memuaskanmu?"

"Ah, tidak, aku hanya kehilangan ponselku."

"Oh, astaga." Yongguk meletakkan gelas dalam genggamannya dan berlari ke dalam, membuat Jungkook ikut kaget dan memerhatikan. Kemudian Yongguk kembali dengan senyum hangatnya sembari berkata, "Tuan Sehun menitipkan ini. Aku hampir lupa, kalau saja kau tidak bilang tadi, Jungkook-ssi."

Jungkook menerima ponsel yang diberikan Yongguk, "Kenapa bisa ada padanya?"

"Kulihat kalian tadi mengobrol?"

"Ah, ya, benar juga." Tapi rasanya aneh, "Lalu mengapa harus dititipkan padamu?"

Yongguk menggeleng, "Entahlah. Mungkin Tuan Sehun sedang bermain? Coba cek ponselmu, barangkali ada yang hilang atau –" ia menggantungkan kalimatnya, membuat Jungkook mengernyit tidak mengerti sekaligus penasaran. Dia bertanya dengan ragu, "Atau apa?"

"Atau ia benar-benar mengajakmu bermain,"

Maka dengan cepat Jungkook memeriksa ponselnya. Perasaannya semakin tidak enak, entah apa lagi yang si brengsek itu rencanakan untuk mengacau. Yang jelas, Sehun tidak akan pernah main-main dengan apa yang sudah ia mulai. Ia bukannya takut pada Sehun, apa yang ia lakukan dan siapa targetnya adalah yang membuatnya penasaran dalam takut. Apalagi setelah mendengar sendiri si brengsek itu mengincar Kakaknya, hatinya makin ketar-ketir.

"Bangsat! Sehun brengsek!"

Yongguk terkejut ketika Jungkook berteriak dan lari, "Hei! Mau kemana?!"

[Taetae hyung, tolong bawakan aku tteokbokki pedas, hehe]

[Oh, bawakan ke tempat kerjaku ya! Akan kukirim alamatnya]

-location sent-

.

.

Lantas saja Jungkook berkeliling mencari si brengsek itu.

"Bajingan kotor!"

Hatinya makin tak tenang, Taehyung dalam bahaya. Taehyung dalam bahaya. Taehyung dalam bahaya. Ini tidak bagus. Sehun dan Taehyung; dia tidak bisa membayangkan apa yang si brengsek lakukan pada Kakaknya. Sumpah mati Jungkook akan menghajarnya jika ketemu. Masalahnya dia kehabisan akal harus melangkah kemana. Jantungnya berdentum-dentum tidak karuan.

["Kita tiduri saja Taehyung bersama."]

Sial! Kalimat itu terus terngiang di kepalanya sampai ia merasa pusing. Membuatnya semakin takut Taehyung akan dipermainkan Sehun. Jelas Sehun akan berbuat apa yang dia mau dengan Taehyung apalagi tanpa Jungkook, ia akan lebih bebas. Brengsek! Sekarang Jungkook harus kemana untuk menemukannya? Ia harus membawa Taehyung keluar dari sini.

Saat naik ke lantai tiga, ia melihat dua penjaga di depan kamar bermotif mawar hitam. Jungkook mengeritkan giginya, pasti Sehun ada di sana. Tidak salah lagi. Dadanya membara penuh amarah dan melangkah menghentak, nyaris berlari dan melayangkan tinju pada penjaga itu. Pukulannya kuat sampai orang itu jatuh. Jungkook sudah siap memukul tetapi ia heran mengapa orang-orang itu tidak membalas pukulannya, bahkan tidak menghalang tubuhnya seperti apa yang ia bayangkan. Satu penjaga yang tegap membalik badannya dan memberi kunci dengan gantungan mawar.

"Apa ini?"

"Tuan Sehun menunggu Anda."

Kemudian keduanya pergi. Meninggalkan Jungkook yang termangu bingung. Apa maksudnya? Sehun tidak menjauhkannya dari Taehyung? Ini benar-benar aneh. Mengapa dia tidak menghalanginya masuk kemari dan justru menyuruhnya masuk dengan memberikan kunci ruangan? Sehun ini brengsek yang sok misterius, tetapi dia bukanlah prioritas. Ia harus membawa Taehyung keluar dengan cepat sebelum semuanya –

Terlambat.

"J-Jungkook –hhh,"

Matanya membelalak lebar. Otaknya kosong melompong dan dadanya bergemuruh oleh amarah. Sehun sudah berani bercinta dengan Taehyung. Sialan. Jungkook terlambat datang, Kakaknya sudah telanjang bulat dan disiksa habis-habisan. Sialan. Bahkan Sehun sudah memasukkan miliknya, bangsat! Dari aromanya saja, Jungkook sudah bisa mengira ini sudah berlangsung cukup lama. Bisa bayangkan, sudah berapa kali Taehyung orgasme? Bajingan!

Beraninya Sehun membuat Taehyung menungging seperti itu?!

"Sehun... brengsek kau!"

Jungkook hampir melaju sebelum Sehun mengangkat tubuh Taehyung untuk diperlihatkan, ia lebarkan kaki Taehyung hingga penis Taehyung yang mengacung merah nampak sangat jelas. Juga memperlihatkan bagaimana miliknya sendiri keluar masuk dengan cepat, membuat Taehyung mendesah kurang ajar tetapi juga merontah ingin lepas. Wajahnya basah bercampur keringat dan air mata. Ini pandangan yang buruk untuk Jungkook.

Yang juga membuatnya panas dan tegang.

"Suka dengan yang kau lihat, Kelinci?"

Ia melihat Taehyung menggigit bibirnya, "J-Jangan, Jungkook –t-tolong..."

"Pantas kau menyukainya," Sehun menyambar leher jenjang Taehyung, "Dia manis sekali sampai aku bisa diabetes karena candu. Ah, kenapa tidak pernah cerita dia bisa sehebat ini dalam memuaskan penis, hah? Sebentar," ia memasukkan miliknya lagi lebih dalam, Taehyung menjerit dan memohon ampun untuk berhenti sementara dia terkekeh, "Wah, manisnya. Berkata untuk berhenti tetapi masih memijat penisku."

"T-Tidak –hhh, j-jangan l-laghh,"

Sehun menyeringai, "Ayo, Jungkook. Tunggu apa lagi?"

Sialan. Kenapa dia harus terangsang disaat seperti ini? Jungkook berusaha menjernihkan pikirannya tetapi tidak bisa. Dia harus apa? ia ingin membawa Taehyung pergi tetapi ia sudah sangat terlambat. Dan pemandangan erotis ini benar-benar membuatnya terbakar. Ia marah karena Sehun menyentuh Kakaknya tetapi juga ia baru tahu kalau Taehyung bisa tampak begitu menggiurkan dengan keadaan diperkosa. Suaranya benar-benar mengganggu pikirannya, serak dan desahnya makin membuatnya keringat dingin.

Apa ini yang Sehun rencanakan?

"J-Jungkook –hhh,"

Kenapa itu terdengar memanggil?

"Dia masih ketat, lho." Sehun melebarkan kaki Taehyung lagi, "Cukup untuk kita berdua, dan kurasa dia masih bisa meledak. Bukan begitu, Taehyung?"

"T-Tidak, jangan,"

Bangsat. Makin erotis saja yang dia lihat. Jemarinya gemetaran dan napasnya makin sesak, dadanya meletup-letup ingin berlari dan menerjangnya tetapi apakah tidak apa-apa? Sehun terkekeh lagi, "Memang kau rela Kakakmu hanya dipakai olehku malam ini?"

"Berhenti bicara, brengsek."

"Ini malam ketigamu, kan?" ia tersenyum miring, "Sekalian saja buat memori tak terlupa."

Sialan betul Sehun berkata. Pikirannya sudah kalang kabut, tidak bisa ia jernihkan lagi bagaimana pun caranya. Suara Taehyung yang mendayu benar-benar menggerus otaknya. Dan lagi, pemandangan tubuh kurus Taehyung yang terhentak dan lengket oleh sperma benar-benar membuatnya lapar. Sial, apa ini benar? Apa benar jika Jungkook sudah melangkah mendekat? Apakah saat ia maju dan mencium Taehyung adalah benar? Saat ia juga membuka baju dan celana, apa ini benar? Taehyung mendesah keras, sedikit meracau, membuatnya hilang akal.

"Jungkook,"

Ia menggigit bibir, "Iya Sayang, aku datang."

Dan saat Taehyung mendesah lebih keras ketika Jungkook memasukkan miliknya, dengan milik Sehun yang masih menancap disana, kemudian memainkan tubuh Taehyung lebih kasar lagi, semacam ketagihan mendengar suara desahnya. Atau karena terlalu nikmat tubuhnya.

Apa ini sudah benar?

Malam ketiga yang panas, baru dimulai.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued.

..

[edisi: sesi panjang lebar]

Noun; cuap-cuap

..

Welcome back!

Akhirnya saya kembali. Pertama, emang sih telat, tapi selamat menunaikan ibadah puasa! Hahahaha sengaja ini saya post jam segini karena kalo siang takut pada batal baca adegan bawah lmao. Dan oh, bentar lagi lebaran kan yah. Mohon maaf lahir batin guys.

Maapin juga kalo selama proyek My Mama ini ada banyak kesalahan yang tidak berkenan di hati kalian, apalagi yang sampe bapereu in real life gegara ff ini.

Dan hmmmm hayoloh kenapa jadi gini yah alurnya? Wkwkwk.

Semua sudah saya rancang sedemikian rupa. Mohon maaf kalo lagi-lagi ngajak kalian main roller coaster dan mengombang-ambingkan kalian dengan alur saya yang (kata orang) unpredictable. Selamat menikmati sajian makan malamnya gengs!

[ sugantea ]