Menembus malam yang dingin, bersama gelap yang berpendar. Bulir-bulir keringat dingin jadi satu tanda ketakutan yang tak jua reda, terus bertalu-talu. Jimin berlari kencang begitu mendapat pesan ketika ia kebetulan terbangun untuk buang air kecil. Kalau saja bukan Taehyung, dia tidak akan se-khawatir ini. Dia tidak akan sefrustasi ini. Pikirannya kalang kabut menerka-nerka, kenapa gerangan Taehyung memintanya datang.

[Jimin, aku menunggu di taman]

Kalau saja dia tidak membacanya, apa yang akan terjadi? Masih dini hari, pukul dua pagi dan masih gelap. Kantuknya hilang seketika, tergantikan oleh bayang-bayang Taehyung meringkuk sendirian di taman yang dingin. Menangis sendirian. Jimin tidak bisa membayangkannya lebih jauh sebab rasanya sangat menyesakkan. "Kim Taehyung!"

Pemuda itu mendongak. Tersenyum kecil.

"Ayo pulang,"

Taehyung masih tersenyum dan menarik lengan keringatan Jimin, menariknya duduk di ayunan sebelahnya. Meski bingung, Jimin diam saja dan menurut. Ditatapnya Taehyung yang menghela napas dan memainkan ayunannya perlahan. "Kamu kenapa, sih, Tae? Ini masih pagi."

"Tidak apa-apa," ia tertawa ringan, "Kalau tidak mau main, dorong aku. Cepat,"

Membingungkan, tetapi Jimin bangkit dan berdiri di belakang Taehyung. Menariknya sedikit untuk kemudian ia dorong hingga ayunannya bergerak. Ayunannya berderit ngilu, suara besi yang karatan dan mencekam karena disini sepi sekali. Ia masih tidak mengerti apa yang Taehyung lakukan saat ini tetapi Jimin tidak bisa memaksanya bicara. Sedikit banyak ia tahu, pemudanya punya sesuatu yang ia pendam. Jadi, ia hanya bisa diam dan menunggunya bicara. Taehyung akan melakukan apapun untuk mengelak, dan tidak ada yang bisa menggugat itu. "Sayang, meski aku bodoh... aku tahu kau sedang sedih. Jadi ayo pulang,"

"Ah, tidak seru." Taehyung turun dan menarik Jimin ke mangkok putar. Meninggalkan Jimin yang hanya menatap Taehyung naik dan memutarnya pelan-pelan, hingga akhirnya ia meminta Jimin untuk memutarnya.

Jimin tidak mengerti. "Jangan begini, Tae. Angin malam tidak bagus untukmu,"

"Ini kan sudah pagi," Taehyung turun setelah Jimin berhenti memutarnya, menarik Jimin untuk main perosotan yang besar. Warnanya merah dan kuning, menyala di tengah malam yang gelap dan nampak menyenangkan di mata Taehyung. "Kamu naik duluan, setelah itu aku."

"Taehyung,"

"Iiih, ayo cepet!"

Ya, rengekan Taehyung memang mujarab. Jimin mengalah lagi, tapi ia bersumpah setelah ini akan benar-benar menggendong Simanisnya pulang tidak peduli kalau ia berontak. Dia sebal Taehyung main kode-kodean padahal dirinya itu bodoh. Taehyung yang diam dan bermain peran itu benar-benar mengesalkan. Jimin menaiki tangga kemudian menghela dan membawa tubuhnya meluncur kencang. Ia menghela sebentar ketika sudah terduduk. Hampir saja berdiri sebelum Taehyung menubruknya dari belakang. Memerangkap tubuhnya dan memeluknya erat sekali. Jimin terkejut, tidak menyangka Taehyung akan melakukannya.

Ia bersumpah mendengar Taehyung menangis.

Jemarinya meremas lembut jari-jari dingin Taehyung yang berada di perutnya. Bahunya basah dan geli. Airmata dan napas panas Taehyung bercampur disana, suara lirih Taehyung membuatnya semakin sakit. Tubuhnya ikut bergetar karena Taehyung pun begitu. Namun, Jimin malah diam saja. Awalnya ia memanggil-manggil Taehyung dan berkata untuk tidak bercanda tetapi Taehyung malah makin erat memeluknya dan menangis. Awal dari rasa takut Jimin untuk menginterupsi tangisan itu. Ia tidak tega dan memilih membiarkan Taehyung meluapkan emosinya.

Tetapi, kenapa?

Kenapa Taehyung menangis?

Apa masih ada yang berani melukainya?

Siapa? Siapa brengsek yang membuatnya menangis?

Airmata Taehyung itu berharga. Maka, Jimin bersumpah akan membalasnya.


My Mama

..

Kim Taehyung

Jeon Jungkook –role as Kim Jungkook

Park Jimin

..

[Vkook dan KookV as brothership]

[MinV]

..

Please, tell me.


"Taehyung! Kim Taehyung!"

"Hhh –Haaah! Jungkook –!" Taehyung terbangun dengan keringat dingin, jantung berdebar-debar, napas sesak, matanya melotot menemukan Jimin yang menatapnya khawatir kemudian menariknya dalam satu dekapan hangat. Taehyung bernapas dalam-dalam dan pendek, berusaha rileks dengan usapan lembut dari tangan Jimin di punggungnya. "Maaf, Jimin. Aku membuatmu kaget, ya?"

Jimin mengecup pelipis Taehyung, "Tidak apa. Kau mimpi buruk?"

Taehyung hanya mengangguk.

"Kau... kangen Jungkook, ya?" Jimin mengulum bibirnya kemudian. Agak gatal dan menyesal telah mengatakannya tetapi ia tidak tega dengan keadaan Taehyung. Setiap malam berperang dengan mimpi buruk, dihantui rasa rindu, dan tenggelam dalam ketakutan. Jimin menjadi lemah karenanya, ia tidak tega meninggalkan Taehyung jika keadaannya seperti ini.

Malam itu ia tahu. Ketika ia bertanya-tanya mengapa Taehyung menangis, akhirnya ia tahu mengapa. Alasan airmata Taehyung turun begitu deras, juga yang jadi alasan Taehyung tidak hidup lebih baik saat ini. Taehyung menceritakannya pelan-pelan, bersama tangisnya, mengungkapkan perasaan yang mengganjal di dadanya dan semuanya.

Semuanya.

Jimin ikut menangis. Tidak tahu kalau Taehyung sangat menderita tanpanya, juga tanpa Jungkook. Ia pikir senyuman dan tingkah jahil kekasihnya adalah palsu karena dia sudah menyimpan banyak sekali kepedihan sendirian. Jimin merasa begitu payah dan bodoh telah berkata akan menjaganya lebih baik padahal yang dia lakukan hanya diam tanpa tahu apa-apa. "T-Tidak perlu dijawab kalau masih takut, Sayang."

"Ya, aku rindu dia. Aku rindu Kookie,"

"Tidak apa, Sayang," Jimin mengeratkan pelukannya sesaat, kemudian melepasnya. Ia menangkup wajah tirus Taehyung untuk ia kecup bibirnya sekilas. "Sekarang, sarapan dulu, ya?"

Taehyung tersenyum, "Kau tidak pulang?"

"Aku tidak bisa meninggalkanmu. Ayo, sarapan."

"Gendong,"

Lantas Jimin tertawa dan mengusak rambut halus Taehyung. "Aih, iya iya sini singa kecil Papa Jimin gendong, ya! Mau di depan atau di belakang?" ia mengatakannya dengan jenaka hingga Taehyung merengut dan mencubit lengan Jimin main-main dengan semburat lucu di wajahnya. Dia tentu malu diperlakukan demikian. "Aigoo, singa kecil ini lucu sekali~" kemudian Jimin menarik tubuh kurus Taehyung, mendekapnya, mencium pelipisnya, kemudian ia angkat dan gendong seperti koala. Lengan kurus Taehyung memeluk tubuh hangat Jimin dan menempel erat seperti ia bergelung nyaman di dalam selimut hangat. "Ah, manisnya Sayangku."

"Aku tidak tahu kau pandai membuat kue,"

Jimin tersenyum menopang kepalanya dengan kepalan tangan, menatapi Taehyung yang menikmati panekuk di meja. Bibirnya belepotan saus cokelat sampai Jimin gemas dan mengelapnya berkali-kali, sebab Taehyung memang bodoh dalam makan. "Enak?"

"Iya, buatkan lagi besok-besok."

"Setiap pagi akan kubuatkan," kemudian ia tertawa karena Taehyung mendelik marah. Bukan marah sebenarnya, ia malu. Dan menurut Jimin itu reaksi yang lucu. Maksudnya, bagaimana dengan kalimat seperti tadi bisa membuat rona merah di pipi Taehyung? Begitu mudahnya? Maka lain kali ia akan membuat banyak-banyak. Sesekali ia pasrah membuka mulut untuk disuapi Taehyung, pacarnya terus merengek agar dirinya ikut makan supaya dia tidak gendut sendirian. Itu benar-benar lucu. Kim Taehyung benar-benar lucu.

Tapi dia tahu Taehyung hanya menutup lukanya sendirian.

"Kau tahu, aku bisa membantumu."

Taehyung melirik, pura-pura tidak mendengar. Jimin menghela napasnya, "Kita bisa menemui Jungkook kalau itu maumu. Aku tidak tega melihatmu terus menangis di tengah malam dan bangun dengan teriakan karena mimpi buruk," ia melembutkan suaranya, "Aku mengerti kau ingin bebas dari perasaan campur aduk itu tetapi semakin kupikir, menjauhinya bukanlah tindakan tepat. Lihat, kau melepasnya dan hidupmu tidak jauh lebih baik dari sebelumnya. Taehyung, Sayang, kau bisa melihat dan menemuinya. Membiarkannya tinggal bersama Namjoon bukan artinya kau memutus hubungan dengannya. Meski aku benci bagaimana dia telah melukaimu, dia tetap adikmu. Harta berharga yang kau miliki, satu-satunya di dunia. Bahkan lebih berarti dibanding aku,"

"Tidak, Jimin... Kau berharga untukku,"

"Akui saja kalau Jungkook adalah prioritasmu," Jimin meraih wajah Taehyung untuk dia elus pipinya dengan sayang dan lembut. Senyumnya tipis dan paksa. "Ini sebabnya kau melakukan hal bodoh begini, 'kan? Melukai dirimu sendiri begini untuknya. Kau yang paling tahu bahwa kau tidak bisa berada jauh dari Jungkook. Karena dia adalah adikmu, amanah terakhir dari Mama untukmu. Permata yang harus kau jaga dan rawat sampai mati. Harta yang tak ternilai. Kim Jungkook, adikmu."

Bola mata Taehyung bergetar, "Sudah cukup, Jimin."

"Aku tidak apa-apa, Taehyung. Aku hanya ingin kamu senang, tertawa, bahagia dengan tulus, bukan karena kamu berusaha menyembunyikan kesedihanmu. Bukan karena kamu menyembunyikan rasa sakitmu. Bukan karena kamu memendam ketakutanmu. Tetapi aku ingin kau tersenyum karena kau senang, karena kau bahagia... dengan tulus,"

"Menurutmu –" Taehyung mendengus, " –yang kulakukan ini palsu? Begitu?"

Jimin menggeleng, "Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, Sayang..."

"Lalu aku harus apa?!" Taehyung melempar garpu di tangannya, "Semua orang bilang tidak seharusnya aku begini dan begitu. Semua berkata aku ini bodoh karena begini dan begitu. Semuanya bilang aku lemah dan payah, lalu ucapan siapa yang harus aku dengar?!" ia memukul dadanya yang terasa sesak. "Aku tahu aku ini brengsek dan payah, jadi berhenti! Berhenti mengataiku begitu, aku sudah tahu! Lalu aku harus apa? Ucapan siapa yang dapat aku dengar? Papa? Dia bilang aku harus berlari sejauh mungkin, hingga Jungkook sukses, kemudian aku bisa kembali padanya meski aku tidak yakin apa aku masih punya harga diri saat waktu itu tiba. Lalu aku harus bagaimana?! Aku sudah melakukannya tapi masih saja salah, aku harus apa?!"

"Tae.. tenanglah –"

"Aku capek, Jimin." Taehyung bangkit, "Aku lelah dan ingin tidur saja."


Dengan badan yang bau keringat, Jungkook masuk mobil.

"Selamat, nak. Aku tahu kau bisa."

"Ya, terima kasih, Pa." Jungkook melirik Jihoon yang main ponsel, tapi Jihoon berdeham sebentar kemudian mengucap suara juga. "Selamat untukmu," sesingkat itu dan Jungkook tersenyum lebih lebar. Ia mendesah lelah kemudian menidurkan punggung pegalnya di jok. Menghirup udara ac yang dingin dan menenangkan diri. Namjoon memerhatikan dari spion, "Kelihatannya kau lelah sekali. Apa sesulit itu mengerjakannya?"

Jungkook berdengung, "Matematika bukan hafalan. Itu butuh rumus juga strategi."

"Yah, aku tahu. Begitu pun kau tetap menang lomba, 'kan?"

"Terima kasih, Papa."

Namjoon tersenyum lembut dan melajukan mobilnya santai. Berkata dengan riang akan membeli pizza untuk di rumah dan minta maaf karena harus kembali ke kantor. Jihoon yang lebih ekspresif, sedangkan Jungkook asyik menatap jalanan luar. Termenung dan lebih banyak diam. Tidak tertarik dengan obrolan apa pun yang dilontarkan.

Ia menatap piala dan medali emas di pangkuannya. Berkilau seperti yang ia bayangkan. Kemudian ia seperti melihat Taehyung di kaca mobil. Tersenyum bangga menatapnya karena juara lomba matematika. Tetapi Jungkook tidak balas senyum, matanya berpendar sedih. Jemarinya bergetar menyentuh kaca mobil dan seketika, wajah Taehyung menghilang.

Jungkook menunduk lagi, "Hyung.. aku membuatmu bangga, 'kan?"

.

.

"Nampaknya kau senang sekali memenangkan lomba itu,"

Jungkook mendongak kaget, Jihoon masuk kamar setelah membasuh diri. Masih mengeringkan rambutnya dan duduk nyaman di ranjang yang bersebelahan dengan ranjang Jungkook, hanya berbatas dua meja belajar. Jihoon mengambil ponselnya dan mulai main game, masih menunggu jawaban Jungkook. "Aku berjanji akan mengumpulkan banyak piala dan penghargaan."

Nampak Jihoon tertarik, "Mengapa?"

"Aku ingin Taehyung bangga," Jungkook menghela, "Dia bilang aku harus begitu."

Kemudian hening. Jungkook memang malas membicarakan hal seperti ini karena ia benci situasi seperti ini. Jihoon pasti mengasihaninya, dan ia benci sesuatu yang seperti itu. Dia tidak menyedihkan dan tidak butuh welas asih. Ia mendengus sebal dengan keheningan yang tercipta kurang ajar, kemudian meletakkan piala yang sejak tadi ia genggam dan pandangi di atas nakas. Lantas merebahkan kepalanya, posisi miring menghadap Jihoon yang masih menatapnya iba.

"Bagaimana kalian bisa bertemu?"

"Aku dan Taehyung hyung?"

Jungkook mengangguk, Jihoon meletakkan ponselnya. "Kenapa kau mau tahu?"

"Itu agak menggangguku, ketika kalian telah saling mengenal di belakangku. Meski aku malas mengatakan ini tapi, aku juga... saudara kalian,"

Bola mata Jihoon bergetar sesaat. Kemudian angannya terbang ke masa lalu.

.

.

.

.

.

.

"Main apa sendirian?"

Jihoon mendongak, kegiatan serunya menggambar di tanah dengan dahan kayu diinterupsi oleh anak kecil yang tubuhnya tidak jauh beda dengannya. Mengenakan kaus oblong abu-abu dan celana selutut. Telanjang kaki dan rambutnya berantakan. Wajah dan tubuhnya kotor debu tanah, menjijikkan tetapi sialnya wajahnya manis. Matanya bulat dan mukanya putih, bersih, halus. Namun, Jihoon tidak pernah lihat dia. "Hanya menggambar," ia menunjukkan karyanya, "Aku sedang menunggu Papa. Mau ikut gambar?"

Bocah itu merengut sambil menatap gambar Jihoon, "Ini gambar eek?"

"Apa?!" kurang ajar bocah asing itu. "Jangan menghina! Ini eskrim, bodoh!"

Dia tertawa, "Ini hanya eek yang dikasih cone! Bodoh!"

"Diam! Memangnya kau jago gambar, hah?!"

"Bisa, lah! Sini aku benarkan gambar eek ini," kemudian dia melangkah lebih dekat. Tergelak keras dan menginjak-injak gambar Jihoon. Melompat-lompat dan menendang tanah berpasir yang membuat kakinya lebih kotor lagi tetapi dia tidak peduli. Dia senang dan tertawa lebih keras, menghiraukan Jihoon yang berteriak marah dan menarik lengannya. "Eek bau~ eek bau~"

Jihoon makin kesal dan mendorong bocah itu kuat, "Dasar jelek!"

"Aduh –duh! Hei! Sakit, tahu!"

Bocah itu terjatuh duduk di tanah. Debu pasir yang berhembus mampir ke matanya hingga ia kelilipan dan perih. Dengan cepat mengucek matanya dan menonjok Jihoon hingga tersungkur, membalikkan posisi. "Nih, kubalas! Biar impas!" lantas dia mengambil segenggam tanah pasir di sebelah tubuhnya untuk ia lempar ke wajah Jihoon sambil tergelak seolah ini mainan yang seru. Lagipula biasanya memang seperti itu, kan?

"Ya astaga, Jungkookie!"

Bocah itu menoleh ke belakang dan tersenyum. "Jungkook! Yah! Apa yang kau lakukan? Kamu apakan bocah ini, astaga, jangan bandel dong Sayang.. aduh,"

"Hyung, dia duluan yang menjatuhkan aku!"

"Diam, Kookie." Ia melerai Jungkook dan Jihoon, menarik dengan lembut Jihoon yang menangis kesakitan di atas tanah dengan posisi telentang menyedihkan. "Mari, dik, abang bantu. Pelan-pelan, ya.. Yuk, bangun. Gak papa, mana yang sakit?" dia masih bingung karena Jihoon terus menangis, lalu ia mendelik pada Jungkook yang merengut sebal. "Kookie, kamu apakan dia?"

Jungkook menghentakkan kakinya, "Taetae hyuuung~~"

"Kim Jungkook," ia berujar serius dan dalam.

"Aku melempar debu tanah ke wajahnya."

Nampak Taehyung marah sekali, tetapi ia harus menenangkan Jihoon lebih dulu. Jadi ia menggiringnya mendekati keran air yang memang ada di taman. Menampung air di tangannya untuk ia basuh ke wajah Jihoon pelan-pelan, terutama bagian matanya yang masih Jihoon tutup erat sekali. Masih menangis keras dan memanggil-manggil Papanya, Taehyung menggigit bibir bawahnya kuat karena merasa bersalah dan takut. Adiknya memang sangat bandel dan jahil, suka bermain kasar karena ajaran teman-teman mainnya. Kalau Papa bocah ini datang dan menuntut ganti rugi, habislah sudah. Makan tidur saja numpang di rumah Jimin. "Tidak apa-apa, buka dulu matanya biar hyung tiup supaya debunya hilang."

"Hyung! Hyung! Di mata Kookie juga ada debu, tiupin juga!"

"Aish, diamlah! Hyung sedang sibuk. Ini juga karenamu!"

Jungkook merengut, "Payah banget. Cowok tapi cengeng!"

"Diam, Jungkook. Yang sopan," Taehyung menekan suaranya supaya Jungkook diam, yang mana hanya menghasilkan Jungkook makin merengut dan melipat tangan kecilnya di depan dada, menggerutu diam-diam karena marah dan kesal. Taehyung menggeleng tidak mengerti, dan mengelus rambut Jihoon lembut dan berujar luar biasa halus. Ia butuh supaya bocah di hadapannya percaya jadi ia harus bersikap baik dan tidak mengintimidasi. "Adik, tidak apa-apa. Biar cepat sembuh dibuka matanya nanti hyung bersihkan supaya gak merah matanya. Nanti makin sakit loh, nanti hyung belikan eskrim, ya?"

"Aku mau!"

Pusing deh. Jungkook banyak omong.

Akan tetapi, Jihoon perlahan membuka matanya. Meski masih kepayahan karena perih. Ia melihat bocah bandel yang tadi mengerjainya nyengir di belakang cowok yang lebih tua di hadapannya. Kalau daritadi ia dengar, cowok ini adalah seorang hyung. Badannya lebih tinggi, ganteng tapi manis, dan senyumnya lebar. Hangat dan sangat beraroma rumah. Dia jadi ingat Papa, rasanya ingin menangis lagi. "E-Ehhh! Jangan nangis, lagi! Aduh, sakit banget?"

"P-Perih...h-hyung," lidahnya gatal karena tak terbiasa memanggil hyung.

Taehyung tersenyum, menampung air lagi dan membasuh mata Jihoon perlahan. Menggumam lembut meminta Jihoon untuk menahan perihnya sebentar lagi. Ia tersenyum lagi melihat Jihoon adalah laki-laki yang penurut, sangat manis dan menggemaskan. Jauh berbeda dari Jungkook yang bandel dan sangat aktif, sampai Taehyung pusing. "Lebih baik?"

"U-Uhm, terima kasih... h-hyung,"

"Sama-sama!" balasnya riang, "Maafkan Jungkook, ya? Dia memang bandel dan –hei! Jungkook! Pergi kemana kau, woey! Minta maaf dulu sini! Dasar bandel kau!"

Jungkook sudah kabur dan tertawa, "Aku mau main bola!"

"Hehehe," Taehyung tertawa canggung sambil mengelus tengkuknya tidak enak hati. Merepotkan memang punya adik bandel macam itu. Lari dari masalah meninggalkannya mengurusi semua sendirian. Dia harus lebih perhatian tentang ini dan akan tegas pada Jungkook, sikap anak itu harus diubah kalau ia tidak mau Jungkook terus menjahili semua anak di kota. "Maaf ya, uhm, namamu siapa?"

"Lee Jihoon, dan terima kasih bantuannya."

Sopan sekali. Taehyung melongo dengan bungkukan hormat dari bocah di hadapannya. Siapapun Papa dari anak ini, pastilah orang terdidik sampai-sampai anaknya berperilaku bak bangsawan berkelas, dramatis, tapi maksudnya adalah bocah umur segini (kira-kira sepantaran Jungkook jadi paling tidak baru tujuh atau delapan tahun) mengerti tata krama pada yang lebih tua dan Taehyung sedikit tersentuh olehnya. "Aku Kim Taehyung, yang tadi itu adikku –memang bandel, hehehe. Tapi sebenarnya baik dan manis, kok." Ia meraih lengan mungil Jihoon untuk ia jabat dengan riang bersama cengiran manisnya yang bersinar. Karena giginya putih. "Dan hyung sudah janji akan belikan eskrim, jadi Jihoonie mau beli dimana? Suka rasa apa?"

"Tidak usah, hyung."

"Eyy, ini sebagai permintaan maaf juga."

Menggiurkan tapi Papa bilang jangan suka merepotkan orang. "Tidak apa, sudah cukup aku –"

"Lee Jihoon!"

Ah, Papanya datang! Jihoon menoleh ke belakang dan berlari menyambut pelukan Papa yang sudah membuka lengan lebarnya. Jihoon terkekeh ringan, "Lama banget." Dan Papa tertawa polos sambil mengusap rambut Jihoon gemas dan meminta maaf karena urusan kantor, lagi, sampai Jihoon memutar bola matanya luar biasa bosan. Tetapi ia ingat, dunia tidak hanya tentang mereka berdua jadi ia ingin mengenalkan seseorang. "Papa, tadi aku jatuh dan hyung ini menolongku,"

.

.

"Saat itu hyung memanggilnya Papa, sama sepertiku."

Jihoon menghela kecil, "Awalnya aku tidak mengerti karena Ayah menyuruhku masuk mobil duluan tetapi aku hanya pura-pura. Aku sembunyi dan mencuri dengar, aku tidak ingat detilnya tetapi saat itu aku tahu kalau dia juga anak Ayah, dan berbeda Ibu denganku," ia merebahkan dirinya di ranjang dan menatap langit-langit kamarnya. "Aku tidak tahu bagaimana bisa. Aku tidak berani bertanya karena sejak hari itu Ayah jadi sedikit moody dan muram. Sepertinya Ayah tidak suka melihat Taehyung hyung, dan itu masih jadi pertanyaan besar untukku."

"Lalu, kalian...?"

"Oh, kami tidak sengaja bertemu di taman yang sama." Ada senyum kecil di wajah Jihoon, "Itu musim gugur yang sejuk. Taehyung hyung sedang membersihkan taman dari daun kering dengan sapu. Ada orang yang datang dan menyemangatinya, lalu memberinya uang setelah Tae hyung menyelesaikan kegiatannya."

Itu pekerjaan sambilannya, dulu.

"Aku hanya melihatnya dari jauh, tidak berani dekat-dekat karena sebenarnya Papa bilang untuk tidak berusaha menemuinya. Tapi aku tidak tahu dia ada disana, jadi aku hanya memandanginya meski aku berharap dia kedapatan melihat aku dan mengajak ngobrol," sekali lagi, senyum tersemat di wajah Jihoon. Membuat Jungkook iri, karena Jihoon memiliki banyak kenangan bahagia di hidupnya dan itu berhubungan dengan Kakaknya. Sedangkan dia, sudah banyak lupa tentang memori tawa dan suka cita bersama Taehyung. Betapa bodoh ia untuk melewatkannya padahal ia memiliki banyak waktu bersama. "Lagipula dia punya hutang eskrim denganku," tambahnya dengan jenaka dan ia tertawa sendiri dengan kalimatnya barusan.

Jungkook tertawa kecil.

"Daaaan, benar saja, kami bertemu tatap dan mengobrol," ia jadi semangat dan nampak lucu karena pada dasarnya Jihoon memang menggemaskan. Itu membuat Jungkook sedikit rindu kakaknya yang juga menggebu saat bercerita. "Dia membelikan aku eskrim dari uang hasil kerjanya, awalnya aku tidak mau kalau itu untuknya makan atau keperluan rumah tangga tapi ia memaksa jadi aku iya saja. Kami bicara banyak hal dan menjadi dekat, dia tidak malu untuk berkata kami adalah saudara tetapi, yeah, privasi adalah prioritas. Dia tidak cerita bagaimana orangtua kalian bercerai dan menikah dengan Ibuku, aku menghargai itu. Selebihnya kami berhubungan baik, dia tidak memegang ponsel waktu itu jadi satu-satunya cara kami berkomunikasi hanyalah tatap muka. Setiap sore di hari senin, rabu, dan jumat; selain karena Papa ada di kantor sampai malam juga karena itu jadwal Tae hyung saat tidak bekerja, katanya."

Pantas dulu Taehyung jadi jarang pulang.

"Tetapi kebiasaan ini berkurang sejak Tae hyung bilang dia harus rajin bekerja karena dia harus punya rumah sendiri. Aku tidak mengerti maksudnya tetapi aku menghargai keputusannya, dia sudah lulus SMP dan berkata akan menyekolahkanmu," kemudian ia mendelik, "Aku sebal sekali. Selain karena pertemuan pertama yang menyebalkan denganmu, aku kesal sebab kau membuat Taehyung melepas mimpinya. Dia memprioritaskan dirimu bahkan rela tidak sekolah, maksudku, ini Korea Selatan. Negara maju berpendidikan, bagaimana bisa ada orang yang tidak mampu bersekolah paling tidak sampai SMA? Itu sangat menyebalkan tetapi Taehyung menanggapinya dengan riang, membuatku melongo tidak mengerti."

Ah, ia ingat. Ketika Taehyung berujar semangat kalau ia lulus SMP. Bukan karena ingin masuk SMA dan menjadi keren seperti teman-teman kakaknya tetapi karena beban sekolahnya berkurang. Ia ingat saat itu ia menangis mendengar Taehyung bilang ia tidak lanjut sekolah dan akan bekerja saja. Mencari uang untuk biaya sekolahnya karena Taehyung ingin tinggal berdua dengannya, tidak di rumah keluarga Park lagi. Taehyung terdengar sangat yakin saat itu jadi Jungkook tidak bisa membantahnya.

"Dia bodoh, 'kan." Jungkook bergumam.

"Bukan bodoh," Jihoon bernapas lambat, "Dia polos."

Jungkook tertawa, "Itu sebelas dua belas."

"Dan kau dulu seperti gembel."

Jungkook mendengus geli, "Kau cengeng. Lagipula gambarmu memang jelek."

"Kau membuatku hampir buta!"

Mungkin karena wajah Jihoon sudah menggemaskan, caranya memaki malah ikut menggemaskan jadi Jungkook hanya tergelak ringan. Ini sedikit aneh karena lama-lama ia mulai nyaman menjadi saudara akrab dengan Jihoon. "Maaf sudah melukaimu waktu itu, kau nampaknya seru dijadikan bahan mainan." Itu katanya, dan Jihoon hanya merotasikan bola matanya.

"Kelihatannya kau sudah mengerti, ya?"

"Tentang apa?"

"Perkataanku waktu itu," Jihoon memosisikan tubuhnya menghadap Jungkook. "Untuk menghargai Tae hyung. Untuk mengerti keadaannya, dan mengerti kalau dia sudah berjuang untukmu sampai hampir mati. Rasanya, kau sudah mulai paham tentang ini, Kook. Apa kau sudah menyayanginya?"

Dadanya meletup-letup. Setiap kali membicarakan Taehyung. Jungkook mengerjap-ngerjap mengulur waktu dan berpikir meski otaknya kosong melompong. Dia ingat Jihoon sering berkata demikian yang jika dulu ia tak mengerti mengapa dia ceramah tentang rasa sayang saudara kini ia tahu kenapa Jihoon selalu bawel tentang itu. Karena mereka saudara. "Lebih dari itu..."

"Lebih dari itu?"

"Aku mencintainya."


Jungkook perlu mengambil buku catatan kimia di lokernya tetapi ia malah terpekur seperti patung di depan lokernya. Kepalanya kosong seketika dengan jantung yang berdegup kencang sekali.

[Jimin mengajariku memasak ini, dan aku ingat kamu saat belanja tadi siang. Susu stroberi yang gambar kelinci, hehe. Selamat makan, jangan terlalu lelah. Hyung yakin kau bisa lulus dengan baik dan masuk universitas bagus!]

Rasanya perih. Ingin menangis. Taehyung mengantarkan kotak bekal dan susu karton dingin. Jemarinya gemetaran menyentuh pemberian kakaknya dan merasakan itu masih hangat, ia sedikit terperanjat. Besar kemungkinan ini baru saja diletakkan! Jungkook mengedarkan pandangan, banyak orang lalu lalang, masih waktu makan siang kedua. "T-Tae hyung –"

Namun langkahnya terhenti.

Kenapa?

Kakinya mati rasa. Kaku, tidak sejalan dengan otaknya. Dirinya sudah berteriak ingin mengejar Taehyung yang berjalan menunduk ke arah gerbang depan tetapi dirinya pula yang menahan langkah. Jadi ia hanya memandangi kakaknya dari jauh seperti pengecut. Suaranya mencicit berharap bunyi kecil itu dapat terdengar tapi ini realita jadi Jungkook tak banyak mimpi. Dia belum berani bertemu Taehyung, tidak sebelum ia berhasil membersihkan dosanya dan menjadi seseorang yang bisa dibanggakan kakaknya. Dia telah berlumur dosa dan tidak bisa lagi menarik Taehyung untuk terus terjerumus. Cukup malam itu saja ia menyesatkannya. Ia harus menahan diri atau ia akan benar-benar kehilangan Taehyung.

"Terima kasih untuk terus peduli padaku, hyung."


Jungkook tersenyum geli.

[Hyung sudah pandai menyeduh teh. Cuaca terus menerus dingin, mungkin musim dingin akan datang lebih cepat. Jimin memaksaku menerima selimut baru darinya karena disini sangat dingin! Apa kelas malammu juga dingin? Belilah hot-pack dan pakai di dalam seragam. Dan oh, hyung rindu bermain di tumpukan daun kering bersamamu]

Kali ini Taehyung memberikan ramen cup. Sepertinya ia memintanya untuk menyeduh itu saat dingin, kebetulan hari ini jadwal kelas malam. Dia sudah kelas tiga jadi dapat program pelajaran tambahan untuk ujian kelulusan dan persiapan masuk kuliah. Tahu betul Jungkook sedang ingin makan pedas berkuah. Mungkin ikatan batin saudara? Jungkook mendengus geli.

Tetapi, kenapa ramennya ada dua?

[Ajak Jihoon makan bersama!]

"Ah, malas. Aku bahkan bisa menghabiskan enam cup untukku sendiri."

Ia menutup lokernya keras dan cemberut, ketika bertemu Jihoon di lorong ia memanggilnya dengan suara lantang dan melempar satu ramen cup dari tangannya. "Ayo ambil air panas."


Sejak Taehyung sering mengiriminya makanan dan notes, Jungkook sering menghabiskan waktu istirahatnya di depan loker dengan tersenyum geli. Orang-orang mengiranya gila tapi Jungkook tak peduli karena hanya ini satu-satunya cara ia berkomunikasi dengan Taehyung, meski tak satu pun pesan darinya yang ia balas. Ia terlalu takut. Takut kalau pesannya justru menyakiti Taehyung, atau ia akan kecanduan. Membaca pesan darinya saja sudah membuatnya kepanasan, ini sudah lebih dari cukup untuknya memastikan kakanya hidup baik dengan Jimin. Meski ia selalu berdoa supaya Jimin serius dengan ucapannya tentang menjaga Taehyung selamanya sampai mati.

Setelah bel istirahat bunyi, Jungkook akan berlari cepat.

[Meski sulit, aku berusaha! Aku bertemu Miss Eve, salah satu wanita terhebat di dunia. Dia mengajariku merajut dan menunjukkan baju-baju bagusnya! Oh, dia adalah kenalan Jimin, pembuat baju terkeren di Korea Selatan! Hehe. Dan karena sudah masuk musim dingin, aku berpikir ingin memberikan ini. Meski aku tahu Papa akan membelikanmu yang lebih mahal tapi simpan saja, sudah cukup. Stay warm, Kookie.]

Cantik. Syal dan sarung tangan rajut berwarna merah; warna favoritnya.

"Lembut," ia mengelus syal dari kakaknya, dan tersenyum. "Harum,"

Langsung ia lilitkan di lehernya dan tersenyum seperti orang gila. Tertawa sendirian tidak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang lalu lalang. Cuaca belum betul-betul dingin. Salju belum turun, masih sangat lama jika dikatakan benar-benar musim dingin. Tetapi memang jauh lebih dingin dari sebelumnya. Ia mengunci lokernya dan hendak ke kelas memamerkan ini pada Jihoon sebelum kedapatan melihat Taehyung yang berjalan menunduk menuju gerbang. Jadi mungkin Taehyung baru saja sampai.

Namun ia tak terlihat cukup baik.

"Apa kau sakit, hyung?"


"Minum dulu,"

"Terima kasih." Taehyung menerima mug dari Jimin. ia membiarkan telapak tangannya menyalurkan panas dari teh di dalam mug. Wajahnya pucat dan hidungnya merah, ingusnya meler sedikit dan terus-menerus ia tarik. Seketika napasnya tersumbat. Pelan ia meniup tehnya dan menyesapnya sedikit, "Eih, astaga, apaan ini?!"

Jimin tersenyum geli, "Teh ramuan cina. Mama yang buatkan. Enak?"

"Pahit!"

"Biar sembuh, Sayang." Jimin mengusap rambut Taehyung gemas. Menikmati raut lucu Taehyung yang sangat terganggu karena menyesap teh herbal pahit. Itu lucu karena meski merengek pahit, Taehyung terus menyesapnya seperti anak kecil penasaran mencicipi bagaimana rasa asam lemon. Jangan salahkan dia terus tertawa geli. "Masih kuat, hm?" ia mencubit ringan pipi Taehyung.

Taehyung menjulurkan lidahnya. Geli. "Sudah ah. Nanti malah muntah,"

"Ya sudah, sini." Jimin meraih mug dari tangan Taehyung dan menjauhkannya.

Ia mengeluarkan permen lemon dan memasukannya ke mulut Taehyung, "Enak, Jimin." Dan ia hanya tersenyum melihat Taehyung menikmati permen lemon di dalam mulutnya, masih sama seperti Taetae kecil jaman dulu ketika ia bilang sangat suka permen lemon tetapi wajahnya berekspresi aneh karena sebenarnya dia tidak kuat masam. "Kamu gak makan?"

"Kamu saja," Jimin mengelus kepala Taehyung, "Belakangan ini kau jadi sering flu."

"Entahlah, apa aku kelelahan? Rasanya biasa saja. Aku bekerja dengan baik, sesuai perintahmu untuk tidak memaksa diri. Toko Sir Yoo juga tidak terlalu ramai, sekarang ada Jaehwan hyung yang jadi partnerku bekerja. Terkadang Yoongi juga datang bantu-batu," Taehyung membuang ingusnya di tissue dan hidungnya merah lagi, "Aku minum vitaminku, Jimin, jangan menatapku seperti itu. Aku melakukan apa yang kau katakan, sungguh."

Jimin menghela, "Aku benar-benar khawatir. Aku tidak leluasa mengawasimu karena kau tidak ada di kafe, dan sekarang ini kau mudah sakit. Bagaimana aku tidak takut kau kenapa-kenapa, hm? Aku percaya kau melakukannya, Sayang, kau 'kan pacar yang baik. Ya 'kan?" Taehyung mengangguk semangat, "Tidak bohong lagi?" lalu Taehyung mengangguk lagi dan tersenyum polos, "Siap, kapten! Aku menepati janjiku untuk selalu jujur padamu. Percayalah,"

Diberi tatapan lugu begitu siapa yang tahan?

"Iya, aku tahu. Kalau sudah tidak kuat, telpon aku, ya."

Taehyung mendengung saja karena dia mengantuk. Setelah makan siang Jimin memaksanya minum obat dan mungkin obatnya ada efek kantuk jadi sekarang matanya terasa berat. Tubuhnya juga melemas, dan tidak meladeni afeksi atau ucapan Jimin sepenuhnya. Tetapi ia merasakan Jimin mengusap kepala dan wajahnya, yang sudah panas jadi panas lagi karena sentuhan Jimin memang dapat menjadikannya gila. Jimin juga menyelimutinya dan masih mengelus dagu dan sekitaran pipinya. Kalau saja dia tidak sakit dan mengantuk, mungkin Taehyung akan menggigit jari Jimin karena dia benar-benar malu. "Cepat sembuh dong, Taetae."

"Terima kasih."


Sebenarnya Taehyung merasa tubuhnya sudah lebih baik. Demamnya berkurang, dan hidungnya tidak memerah, sudah tidak ingusan dan bersin-bersin. Jadi ia masuk kerja, melawan tatapan khawatir dari Sir Yoo dan Jaehwan yang terus bertanya setiap lima belas menit; apakah dia pusing? Melegakan punya kawan yang perhatian tetapi lama-lama ia risih dan tak enak hati. Tetapi ia menghargai itu, jadi Taehyung senyum saja.

Namun, kepalanya pusing. Berputar-putar. Nyaris limbung di beberapa kesempatan. Dia mengingat-ingat, dan yakin kalau ia sudah sarapan. Belum masuk jam makan siang, dan ia sudah minum dua gelas air putih saat senggang. Lalu ia bingung kenapa ia sakit lagi. Perasaannya tidak enak dan ia lemas. Padahal toko sedang cukup ramai. Bagusnya adalah tidak ada satu pun dari Sir Yoo maupun Jaehwan yang sempat memerhatikan wajah pucatnya.

Jadi Taehyung lanjut kerja sampai batasnya, ia limbung.

"Astaga!"

Pekikan siswi SMA mengejutkan seisi toko. Jaehwan yang pertama menghampiri tubuh kurus Taehyung di bawah sana. Bersama Sir Yoo dan beberapa orang mengangkat Taehyung ke ruang pegawai dan menidurkannya di sofa panjang. Untungnya tubuh Taehyung seringan kapas jadi orang-orang tidak mengeluarkan banyak keringat dan mengeluh betapa merepotkannya dia. Sir Yoo inisiatif mengambil alih keadaan toko sementara Jaehwan mencari ponsel Taehyung dan menekan speed dial nomor satu.

.

.

Keringatnya mungkin sudah satu ember. Hembusan pendingin udara di dalam rumah sakit jadi satu-satunya yang menyejukkan Jimin yang tengah kebingungan dan khawatir. Dia sempat buat keributan di IGD dengan berteriak, Taehyung! Taehyung!, dan membuka semua tirai tetapi tidak menemukan yang dicarinya, seorang perawat menenangkannya dan berkata Taehyung masuk kamar inap karena terlalu lemas.

"Ya! Kim Taehyung!"

Jimin berlari kepayahan, menghirup napas banyak-banyak di tepi ranjang Taehyung. Ia melirik seseorang di sisi ranjang yang lain; pria itu tersenyum canggung tetapi itu tulus. "Aku Jaehwan, yang menelponmu barusan." Ia terkekeh ringan, "Maaf lupa mengabari kalau Taehyung dipindah ke kamar inap. Kata Dokter dia kelelahan, dehidrasi ringan, dan sangat lemas. Untuk sementara akan sangat baik jika ia dirawat dulu. Karena dari matanya dia nampak lelah,"

"Ah, ya, terima kasih."

"Jimin,"

Lirihan itu menggempur kepalanya hingga ia menoleh, "Hei, astaga kau ini! Sudah kubilang harus makan dengan benar, 'kan? Minum air putih yang banyak, istirahat cukup. Aku yakin Jaehwan dan Sir Yoo lebih memilih supaya kau istirahat sampai segar bugar daripada mengacau. Kau belum sembuh betul, Taetae. Ingat tentang jangan memaksakan diri?" ia menghela dalam, heran dengan sikap keras kepala Taehyung yang membuatnya repot merasa khawatir. Terlebih dia tidak ada dalam teritorialnya lagi untuk bisa 24 jam ia jaga. "Lihat, kau pingsan dan bikin heboh."

"Aku baik-baik saja, kok."

"Ada baiknya kau dengar pacarmu, Tae. Aku baik-baik saja kerja di toko. Kau harus sehat total untuk bekerja, jangan paksakan dirimu. Bukan karena kau merepotkan, tetapi ini demi kebaikanmu sendiri. Semakin dipaksa, semakin lama kau sehat, semakin buruk tubuhmu nanti."

Dengan jahil Jimin mengacak rambut Taehyung, "Dengar, tuh."

"Aaaa, iya-iya."

"Oh, aku mau pamit." Jaehwan berdiri dan memakai jaket levisnya, "Mungkin Sir Yoo butuh bantuanku."

Taehyung meraih lengan Jaehwan dan Jimin tidak bohong kalau dia cemburu akan itu. "Makasih, hyung. Dan maaf sudah membuat keributan, juga sudah merepotkanmu membawaku kesini dan menunggu aku sadar, titip salam untuk bos." Ditepuknya jemari dingin Taehyung dan tersenyum lembut, "Aku tahu. Ikuti kata pacarmu dan Dokter, hm? Minum obat, makan dengan baik, dan tidur cukup. Jangan terbebani dengan toko, kami baik-baik saja. Gajimu tidak akan dipotong, kok." Ia menggoda Taehyung dengan jenaka dan ikut tertawa karena Taehyung terkekeh ringan. Selanjutnya dia pergi karena tak nyaman dengan sinyal yang diberikan Jimin.

"Kau mau makan apa?"

"Tidak nafsu," dan sukses membuat Jimin gemas. "Aku akan kembali membawa beberapa makanan yang harus kau habiskan! Dasar kau ini bocah nakal,"

Kemudian rengutan Taehyung tertutupi ciuman dari Jimin.

.

.

Kalau saja Jimin bisa, ia ingin menuliskan jalan ceritanya sendiri.

Menjadi orang kaya raya, menikahi Taehyung, dan punya anak. Mungkin sudah cukup untuknya jadi bahagia. Tetapi memang dia juga manusia, tak bisa menentukan takdirnya sendiri.

Dari sekian banyak orang yang ia sesali untuk kenal, akhirnya dipertemukan oleh Lee Jihoon. Dia bukannya membenci anak manis itu. Tidak. Dia baik dan manis, tetapi dia bagian dari keluarga Taehyung yang brengsek. Juga bagian dari beban Taehyung yang menjadikannya menderita. Dan dari sekian takdir buruk yang ia dapatkan, apakah harus mereka bertemu di rumah sakit yang sama?

"Hyung? Sedang apa disini?"

Sungguh Jimin tak ingin menjawab, tetapi Jihoon mungkin mahir membaca ekspresi dan keadaan di sekitarnya, atau hanya beruntung menerka. "Apa Taehyung hyung sakit?" mimik khawatir, gelisah, dan cemas terpatri. Ia celingak-celinguk dan bertanya dengan mendesak. Jimin tidak bisa menolak wajah lucu itu, "Ya. Taehyung sedang tak enak badan, sudahlah, pulang sana."

"Aku ingin bertemu Taehyung hyung!"

"Jangan," Jimin mendesah penat, "Dia butuh istirahat. Minggir, aku sedang bawa makanan untuknya."

Tapi Jihoon tak semudah itu menyerah, ia mendesak Jimin (bahkan rela menggunakan aegyeo) untuk bertemu dengan Kakaknya. Ia khawatir. Lama sekali tidak jumpa dengan saudaranya, meski hanya saudara tiri. Dia sayang Taehyung karena dia orang yang baik; meski polos dan naif. Dan mengetahui Taehyung sakit tentu membuatnya cemas. "Apa kau bersama Jungkook?"

"Memang kenapa kalau ada aku?"

Baru saja dipertanyakan, Jungkook muncul. Beruntung Jimin tidak jantungan karena kaget, dia pandai menyembunyikan ekspresinya. Ia hanya menatap datar pada Jungkook. Bayang-bayang cerita menyedihkan dari Taehyung berputar di otaknya. Ia semakin benci pada orang di hadapannya ini. Dia tak habis pikir bagaimana bisa seorang adik begitu tega menyakiti Kakaknya tanpa ampun, tanpa belas kasih, tanpa pikir panjang, tanpa perasaan. Entah apa yang ada di otak konyol Jungkook sampai ia tega merusak orang setulus Taehyung; meski mereka bersaudara.

"Bukan apa-apa," Jimin berujar dengan nada yang jatuh. Menarik lengan mungil Jihoon dan berbisik di telinganya yang juga sama mungil, "Rahasiakan ini dari siapapun maka aku akan memberitahu kamar Taehyung untukmu. Hanya untukmu; artinya tidak untuk Namjoon atau Jungkook. Jangan katakan pada siapapun tentang ini, dan kau boleh kemari sendirian." ia menjauhkan bibirnya dan menatap mata Jihoon dengan tegas, "Apa kau mengerti?"

Entah karena takut atau tak punya pilihan, Jihoon mengangguk. Melepas Jimin yang melenggang pergi setelah melempar tatapan sinis pada Jungkook.

"Kalian membicarakan apa?"

"Jihoon?"

Barulah Jihoon sadar ia melamun, "Bukan sesuatu yang penting. Ayo kita temui Papa,"

Mereka pergi, berjalan beriringan menuju Namjoon yang duduk di depan ruang periksa poli kardiovaskular. Namjoon tersenyum dan menggiring kedua anaknya pulang karena merasa lebih baik. Jihoon memastikan keadaan Ayahnya, dan Namjoon bilang dia baik-baik saja. Dia memberitahu Ayahnya untuk mengurangi makanan berlemak dan stres, juga kopi (karena Namjoon adalah fans berat kopi) atau dia bisa sakit dada lagi. Beruntung Namjoon tidak kolaps atau serangan jantung hingga stroke. "Ayah, besok aku ingin pergi ke suatu tempat."

"Oh? Kemana?"

Jihoon menggeleng, "Tidak perlu mengantarku. Aku bisa pergi sendiri,"

Namjoon nampak tak puas, keningnya berkerut saat lampu merah menyala. Ia memerhatikan Jihoon dari spion tengah dengan bertanya-tanya. "Ya tapi kemana?"


"Sebenarnya kau mau kemana, sih?"

Jihoon menyemprotkan parfumnya dan menatap Jungkook. "Kenapa penasaran?"

"Hanya ingin tahu."

Di satu sisi ia senang akan bertemu Taehyung, tetapi ia juga merasa bersalah jika tak mengajak Jungkook serta. Pada awalnya ia memang tak akur dengannya tetapi lambat laun ia bisa menerima kehadiran saudaranya yang lain. Bagaimana pun, mereka bertiga adalah saudara. Apa bisa ia merahasiakan ini dari Jungkook dan menikmati waktunya sendirian? Ia tidak mengerti kenapa Jimin ada di pihaknya; dalam artian menjauhkan siapa pun dari Taehyung dan hanya percaya padanya. Ini mungkin tidak adil, tetapi agaknya ia tahu kenapa.

"Jungkook,"

Ia mendengung sembari merapikan ranjangnya, "Apa?"

"Ikut aku."


"Jeruknya masam,"

"Oh ya?" Jimin tergelak seperti menonton acara komedi, "Tapi wajahmu jadi lucu, makanya kujejalkan terus. Ayo makan lagi!"

Taehyung mencubit perut Jimin, sial ototnya itu. "Hentikan ah!"

"Oke, oke," Jimin meletakkan sisa buah jeruk diatas piring, menyamankan posisinya di samping Taehyung yang asik nonton televisi. Dipandanginya wajah manis Taehyung, ia jadi berdebar sendiri karena semakin suka. Ah, memang dasarnya Jimin suka Taehyung. semakin dilihat, jadi semakin suka. Mungkin wajahnya sudah terlihat bodoh sekarang. yang ia tahu, Taehyung mencubit pipinya kuat sekali sampai ia terbangun. "Sakit, Sweets."

"Tonton tv-nya, jangan aku."

"Tapi lebih menarik kau,"

"Oh, hentikan, Jimin."

Kemudian Jimin tertawa sebentar, untuk kemudian terdiam dan nampak serius. Ia mengulum bibirnya dan nampak ingin berkata sesuatu, tetapi ragu. "Kim Taehyung," ia menelan ludahnya luar biasa gugup saat Taehyung membalasnya dengan binar mata polos. Hampir saja ia lupa diri untuk mengapa-apakan pacarnya yang lucu dan manis. Ia menghela, "Aku bertemu Jihoon kemarin... dan juga Jungkook,"

Ekspresi Taehyung berubah dingin. Seolah tak mau tahu.

"Aku –" ia membasahi bibirnya yang tiba-tiba kering dan gatal, " –berkata untuk merahasiakan ini. A-Aku mengatakannya pada Jihoon, kalau itu Jihoon, tidak apa-apa, kan? M-Maksudku, kita bisa percaya Jihoon... dan dia sudah terlanjur memohon padaku, aku tidak bisa menolaknya karena dia manis, dan –" tatapan mata Taehyung menelanjanginya, " –aku sudah beritahu nomor kamarmu."

"Apa?"

Jimin menunduk, "Maaf, Taehyung."

"Jimin, kau tahu kan permintaanku?" Jimin mendongak dan memekik, "Aku tahu! Tapi kau tidak bisa terus sembunyi seperti kelinci yang lari dari buruan singa. Kau tidak bisa tinggal selamanya di semak-semak. Kau harus keluar dan hadapi kenyataan, tidak selamanya kelinci berakhir mati di perut singa, Taehyung." ia menghela sabar, "Adikmu ingin bertemu, mungkin ini bisa mengetuk hatimu. Kau bukan orang yang tega dengan seorang adik, 'kan? Aku tidak bisa menjamin apakah akhirnya Jihoon menyeret Jungkook kemari tetapi, mereka adikmu. Mereka khawatir dengan keadaanmu dan ingin bertemu. Sekali saja, apa itu sulit bagimu?"

"Sangat,"

"Taehyung –"

Dia menepis jemari hangat Jimin dari kepalanya. "Jangan paksa aku melakukan hal yang tidak bisa kulakukan. Aku sudah memutuskan untuk pergi jauh, jangan bawa aku kembali. Kalau kau bilang hidupku tak jauh lebih baik saat ini; kau salah. Aku lebih baik seperti ini. Jauh lebih baik, bukan secara fisik tetapi batin. Perasaanku jauh lebih baik dengan jarak begini, dan mungkin akan terus begini sampai kiamat," ia memejamkan mata. "Aku tidak mau. Ini sulit bagiku, Jimin. kau tidak akan mengerti bagaimana menjadi aku. Aku bingung, dan aku sudah putuskan untuk menjalani hidup seperti ini maka hargailah keputusanku dan dukung aku, bisa?"

"Tapi bagaimana jika Jihoon –"

"Aku mau pulang," suara Taehyung jatuh. "Sekarang."

.

.

Agaknya membingungkan Jihoon menggenggam tangan Jungkook sepanjang koridor rumah sakit tetapi Jungkook diam saja digandeng olehnya. Jihoon masih tak memberitahunya dengan rinci untuk apa dan untuk siapa mereka kemari. Wajah Jihoon campur aduk; antara senang, girang, juga sedih, dan cemas. Dia tidak mengerti kenapa begitu tetapi dia diam.

"Jihoon? Kamar ini kosong,"

Tidak ada suara menyahut, meski bibir Jihoon terbuka menciptakan celah. Jungkook memandanginya cukup lama dengan kebingungan tanpa ide. Jihoon nampak seperti orang kena tipu ratusan juta, dan itu nampak konyol. Dan dirinya juga tidak mau ikutan terlihat konyol termenung di koridor rumah sakit, di depan kamar yang bersih dan rapi –juga kehampaan.

.

.

Meski ia sedikit memahami Taehyung, namun Jimin tetap tidak mengerti pilihan yang dia ambil. Ini merumitkan dirinya sendiri; hidup jauh dari satu-satunya keluarga yang ia miliki dengan terus membawa sekelumit kenangan buruk yang tak henti menghantui. Jimin tidak yakin bisa sekuat Taehyung jika dia menjadi dirinya. Orang bisa berkata Taehyung sangat lemah karena lari, tetapi bagi Jimin, Kim Taehyung adalah orang terkuat di muka bumi.

Terus menderita dan tak pernah mengeluh. Dia menjalani kehidupannya seperti biasa; seolah tidak ada yang terjadi di waktu-waktu belakangan. Seperti kemarin adalah bunga tidur yang lewat satu malam, seperti tak acuh; Taehyung senantiasa memakai topengnya menatap dunia. Terkadang Jimin ingin marah tentang ini tetapi ia paham kalau beginilah cara Taehyung menghadapi hidupnya yang sulit. Setiap orang memiliki caranya masing-masing, dan berperan adalah opsi yang Taehyung ambil untuk terus bertahan hidup.

Pelan Jimin menggenggam tangan Taehyung. Tersenyum saat Taehyung menatap matanya dan tersenyum dengan manis, berkata tanpa suara. Aku baik-baik saja, Jimin menerjemahkan. Ia mengangguk tanda percaya dan Taehyung kembali memandang keluar jendela mobil, menatap jalanan yang seolah bergerak padahal taksi mereka yang melaju kencang.

Kuatlah, dan terus bertahan disisiku, Taehyung.


Pagi yang biasa, sekitar pukul delapan kalau dilihat dari cahaya mataharinya. Taehyung belum diijinkan pergi menjalani aktivitas biasa. Jimin turut andil dalam pemulihan. Awalnya Taehyung menolak, karena dia hanya sakit biasa –demam dan pilek. Akan tetapi dasarnya Jimin sudah kepalang capek dengan sikap keras kepala Taehyung, ia tidak mau mengalah lagi dengan rengekan manis pacarnya dan menjadi tegas. Jadi dia tinggal di rumah Taehyung menemani kesehariannya, terdengar romantis; karena memang begitu. Selain memastikan Taehyung cukup istirahat dan minum obat, di banyak kesempatan Jimin akan menciumnya dan cuddling setiap jam empat sore sampai jam enam. Taehyung sering mengeluh pegal tapi akan selalu luluh karena Jimin akan memberinya cokelat hangat dan waffle sebagai camilan sebelum makan malam.

"Tae, lihat siapa yang aku bawa."

Sedang menghirup ingus, ia menoleh dan memekik, "Mama!"

"Hai, Taehyungie sayang!" Mama Jimin menerjang tubuh kurus Taehyung, memeluknya erat dan menggoyangnya ke kanan kiri seperti mengajak beast berdansa. "Kok masih sakit, sih? Mama sudah khawatir dari kemarin tapi Jimini pabo selalu melarang Mama datang. Si sok jago itu, dia pikir hanya dia yang ingin merawatmu, hah?" ia mendengus dan Taehyung terkekeh, "Lupa dengan kerjaannya di kafe, meh, malah jadikan aku sebagai bos pengganti. Apa-apaan itu? Kukutuk jadi batu tahu rasa kau, ya!"

"Apaan, sih, Ma?"

Taehyung membalas pelukan Mama yang membawanya ke pangkuan. Ia jadi kangen Mamanya, yang selalu manjakan dirinya. Pangkuan Mama hangat dan empuk, itu yang bisa ia ingat sampai saat ini. Dan meskipun ia tak bisa merasakan yang senyaman itu lagi, Jimin tak pernah egois untuk membagi miliknya. Mama Jimin sudah jadi Mama baginya. Jadi ia tak pernah sungkan untuk ikut manja, meski harus banyak ia kontrol. "Ah, Taehyungieku sayang jadi makin kurus," Mama yang gemas pun mencubit pipi Taehyung, "Seharusnya aku saja yang merawatmu disini! Atau kau kerumahku, astaga, lihat~ apa Jimin tidak memberimu makanan enak? Bukannya sudah tiga hari; eh tidak, jika dihitung sekarang seharusnya sudah empat hari! Aku yakin beratmu masih kurang dari enam puluh kilo. Ya! Jimini pabo, apa kau merawatnya dengan baik, hah?"

"Aku bahkan selalu memberinya makanan manis setiap pagi dan sore,"

"Lalu kenapa Taehyung tidak gemuk?!"

"Aku yang tidak bisa gemuk, Ma," Taehyung menengahi. Jimin dan Mamanya memang suka adu mulut dan kalau tidak dilerai mungkin sudah pecah kaca jendelanya. Ia tersenyum lebar ingin meyakinkan Mama yang masih menangis tidak jelas hanya karena melihatnya kurus. Ia ingin tertawa karena kepolosan itu. Sungguh duplikat dari Jimin, oh jelas, mereka kan ibu dan anak. Kadang ia suka ingin tergelak dengan kebodohannya. "Lalu, apa Mama akan menginap?"

Mimik wajahnya cerah, "Tentu! Aku pusing dengan manajemen kafe Jimin. Durhaka sekali anak itu mengeksploitasi orangtuanya sendiri untuk bisa berduaan denganmu."

"Mama!"

Apa maksudnya itu? Taehyung menelan ludahnya gugup. Berduaan dengannya; sepenggal kata dari kalimat yang diucapkan Mama Jimin menamparnya kecil. Apa Mama Jimin sudah tahu hubungan gelap mereka? Lalu bagaimana selanjutnya? Dilihat dari apa yang dilakukan dan perhatiannya; jelas Mama Jimin tidak membenci Taehyung tetapi apakah setuju itulah yang jadi pertanyaan besar. Masalahnya adalah Jimin sudah punya tunangan; si cantik Kim Jiyeon. Lalu apa bisa mereka putus hubungan begitu saja karena si kerikil tak berfaedah; Kim Taehyung?

"Aih, sudahlah. Suaramu bikin Mama sakit telinga! Sana cepat pergi,"

Bodohnya Taehyung baru sadar kalau Jimin berpakaian rapi. "Jimin mau kemana?"

"Mama mengacau di kafe, ah, orang tua yang tak bisa diandalkan."

"Tidak sopan!"

Jimin menghela dan mendekati Taehyung, mengelus rambutnya yang semakin panjang. Ia berpikir akan mencukurnya sedikit. Sedangkan Taehyung disana kaku, tidak ingin tampak mesra dihadapan Mama Jimin karena demi apa pun ia belum siap. "Aku akan bekerja, Mama benar-benar payah mengurusi kafe. Kalau dibiarkan mereka tak akan punya gaji dan aku bangkrut. Jaga dirimu baik-baik dan jangan terlalu capek. Aku sudah berikan jadwal keseharian dan kebutuhan primermu: termasuk tidur, makan sayur, minum air putih, dan minum obat. Untuk yang satu ini aku bisa percayakan Mama," ia menghela. Menahan untuk mencium Taehyung karena gemas, "Aku berangkat, Taehyung."

"Hati-hati."

.

.

Mama meletakkan secangkir cokelat hangat di depan Taehyung, tersenyum lembut saat Taehyung menyesapnya pelan-pelan. Menjatuhkan dirinya di samping Taehyung yang asyik menatap matahari sore, yang akan segera tenggelam. Sekian detik ia habiskan untuk mengamati Taehyung yang tampak syahdu menikmati waktunya. Tenang dan indah.

"Maaf Mama tidak bisa memberikanmu ciuman dan cuddling, Tae."

Cokelat di dalam mulutnya hampir menyembur. Mata Taehyung membulat kaget, patah-patah ia menengok ke Mama Jimin yang menatapnya dalam, penuh makna yang tak bisa ia terjemahkan. Jantungnya berdentum-dentum tak karuan. Jemarinya gemetar nyaris menumpahkan cokelat di dalam mug besarnya. Terlalu cepat, terlalu mendadak, tidak bisa ia prediksi. "J-Jimin menuliskan itu di dalam jadwal, ya? M-Memang Jimin itu a-aneh, yah, dia suka b-bercanda –"

"Aku tahu, Taehyung."

Matanya basah dalam sekejap. "Mama,"

"Awalnya aku ingin marah, kenapa? Kenapa anakku menyimpang? Maksudku, tidak ada orangtua yang senang anak laki-lakinya menyukai laki-laki. Kecuali jika orang itu gila, dan aku belum gila untuk seperti itu," Mama Jimin menahan marahnya. "Seharusnya aku tahu itu lebih awal," dia terlihat frustasi dan menangkup wajahnya dengan telapak tangan. Suaranya teredam, "Bahkan jika aku jeli, Jimin mungkin sudah menyukaimu dari umur enam tahun... tapi kalian masih kecil, aku menganggapnya sebagai Jimin yang sayang kamu sebagai adik. Tetapi semakin besar, air mukanya berubah, pandangan matanya berbeda, sikap dan gelagatnya kelihatan. Itu semua jelas, aku Mamanya dan aku yang paling tahu bagaimana dirinya, Taehyung."

Sangat menusuk, dan dadanya sangat sakit. Taehyung diam dan terus mendengar.

"Dia tidak pernah membawa atau bercerita kalau dia pacaran, dengan siapapun, bahkan tampak tidak tertarik membicarakan seorang perempuan yang menarik perhatiannya. Sebagai Mama aku khawatir pada anakku, apakah karena memang tidak ada cewek cantik baik hati di sekolahnya atau –" terdengar desahan napas yang penat, tergurat frustasi. " –ia terlalu nyaman bersamamu. Dan tidak sadar kalau dia sudah jatuh untukmu. Terlalu lama bersamamu membuatnya tak bisa membedakan perasaannya lagi, batasnya terlalu tipis antara sayang sebagai keluarga atau sebagai seorang pria yang mencintai. Dan orang itu kamu, Taehyung."

"Aku tidak bermaksud,"

Mama menampilkan wajah kusutnya dan tertawa, "Aku mengerti. Tentu saja kau tidak akan bermaksud membuat Jimin menjadi sekarang ini. Kau anak polos terbodoh yang pernah aku kenal seumur hidup, Taehyung. Kuhargai itu,"

"M-Mama,"

Airmata lolos satu dari pelupuk mata. "Entah karena aku yang bodoh atau apa, aku mengesampingkan pemikiranku kala itu. Dengan gegabah aku menjodohkannya dengan Jiyeon; gadis itu juga sama polos dan bodohnya. Aku sudah memperalat dia, dan sudah menjatuhkannya pada Jimin. Gadis baik hati itu sudah pakai perasaan, dan aku tidak tega, aku merasa ikutan bodoh karena bertindak tanpa pikir panjang," ia terisak pelan, "Jimin sudah bilang tidak mau tapi aku tuli. Mama macam apa aku ini, Taehyung? Sudah sejelas itu dan aku masih menampiknya, bodoh, bukan? Aku jadi Mama yang gagal membahagiakan putraku, aku gagal!"

"Tidak, Mama, kau tidak begitu."

"Kau tidak mengerti," Mama mengusap pipinya yang basah. Ia sudah menangis. "Aku tidak suka. Aku tidak mau menerima. Hal konyol apa yang sudah kulakukan memangnya; sampai mendapat hal yang lebih konyol seperti ini? Anakku seorang gay, hahaha," ia tertawa sampai tersedak tangisnya sendiri dan Taehyung semakin sakit. "Bodohnya aku melewatkan itu semua dan berusaha tidak peduli. Aku yang seharusnya membimbingnya dan mendukungnya, malah membawanya ke jalan yang salah, hahaha, benar-benar... Ibu macam apa aku ini,"

Rasanya sangat menyakitkan melihat Mama Jimin menangis begini. Mencurahkan kepenatan dan muaknya di hadapannya langsung. Sejauh itu beliau tahu; sudah selama itu beliau memerhatikan, dan Taehyung semakin mati kutu karena Mama Jimin jelas tidak menyukai ini. Jauh di dalam lubuk hatinya Mama Jimin masih berharap putranya akan menikahi seorang perempuan baik-baik. Perasaannya campur aduk; antara sedih, marah, kecewa, dan bersalah. Tangisan Mama terdengar tidak baik-baik saja, itu yang membuat Taehyung semakin menahan sesak. Sudah diberi tumpangan hidup; begini caranya balas budi. Menjadikan putranya seorang gay. Terkadang hidup itu lucu dan tak tertebak; Taehyung jadi ingin menampar dirinya sendiri dan tertawa. Kemudian tenggelam ke dasar kerak bumi dan menghilang. Ia benar-benar terpukul. Tentu saja Mama Jimin tidak akan setuju dengan ini; orangtua mana yang rela? Gay bukan hal yang sedikit dibicarakan dewasa ini tetapi itu tetap menyimpang dari normalitas. Apa yang bisa Taehyung harapkan; restu? Meski Taehyung berjanji akan membelah gunung demi bersanding dengan Jimin pun tidak akan berhasil. Karena dia tak mungkin membelah gunung.

"Kau sudah kuanggap anakku, Sayang,"

Taehyung mengangguk dan menghirup ingus dan tangisnya.

"Kita sudah hidup sejak lama, bahkan sejak kamu belum lahir. Mama dan Mamamu sudah berkawan akrab, kau tahu itu, 'kan?" Taehyung mengangguk lagi, pasrah ketika rambutnya dielus patah-patah oleh Mama. Ia mengulum bibirnya banyak-banyak, menahan suara isaknya keluar atau ia mungkin akan merengek seperti bocah. "Aku sayang kamu, juga Jimin. Mama sayang kalian semua. Ini memang mengejutkan Mama, rasanya seperti dilempari batu saat sedang melamun. Sesakit tertusuk belati dari belakang. Merasa bodoh karena menjadi buta dan tuli dihadapan kalian dan tak mau tahu, aku jadi sama bodohnya."

"Mama –"

"Dan mungkin aku adalah orang gila itu," Mama melarikan jemari berkerutnya yang sewangi bunga krisan kuning di wajah lebar basah Taehyung. Mengusap pipinya dari airmata dengan lembut, matanya memindai lamat-lamat wajah bocah kecil yang dulu ia rawat karena Mama kandungnya meninggal disaat bocah itu terlalu kecil untuk kehilangan dunia. Memorinya bersama Taehyung berputar; tertawa, mengomel, makan bersama, tidur, membacakan cerita, mengajarinya mengurus bayi, dan malam natal. Mama ingat semua, atau karena mata Taehyung yang tengah mendongeng lewat tatapannya. Mama menggigit bibirnya kuat sekali, Taehyung menggeleng lemah dan ikut membenahi wajah frustasinya. Mengetuk bibir basahnya; berkata dalam diam untuk jangan digigiti lagi. Betapa halus Taehyung memperlakukannya.

Membuatnya semakin sadar betapa ia salah. Ia bodoh untuk menilai Taehyung. Ia sudah membuka pintu yang salah. Taehyung tidak sebajingan itu untuk menyiksanya; Jimin menjadi gay itu bukan karena siapa pun. Murni karena hatinya menyuruhnya demikian. Bukan karena Taehyung yang menjadikannya belok. Anak itu terlalu polos untuk menggiring Jimin kesana. Tidak. Dari caranya menyentuh pipi Mama dengan gerakan sehalus sutra, ia telah menyentuh hatinya pula.

"Karena Mama menginginkan kalian bersama,"


Jungkook baru akan menyentuh mimpi ketika ponselnya berdering.

["Jungkook,"]

"Ya, kenapa, Pa?" sungguh ia benaran malas meladeni siapapun. Ia butuh tidur.

["Apa kau sedang di rumah?"]

"Tentu, ada apa?"

["Jika kau tidak sibuk, tolong bawakan berkas Papa yang tertinggal di meja kamar. Warnanya hijau tosca dengan dua garis putih di sudut kiri. Ada tulisan besar; Proyek Busan disana. Tolong, Jungkook-ah. Itu bahan rapat hari ini,"] Jungkook mendengus sebal, merasa bosan dengan sifat pelupa yang dimiliki Namjoon. Entah karena terlalu sibuk dan banyak pikiran, atau karena sudah tua. Yang jelas kebiasaan buruk Namjoon meninggalkan barang sangat merepotkan. Masalahnya adalah Jungkook sedang ngantuk dan harus ke kantor Papanya dalam waktu cepat. Namjoon akan menelponnya tiap menit karena dia tidak sampai-sampai. Salah siapa ketinggalan berkas penting?

"Iya aku sudah jalan kaki ke kamar Papa sekarang,"

["Lebih cepat, Nak."]

"Aku tahu, aku akan naik motor."

["Tunggu, bukan berarti kau boleh mengemudi! Kau bahkan belum punya SIM."]

"Katanya mau cepat?"

["Yasudah, asal hati-hati. Eung, ngebut sedikit, ya."]

Sambungan diputuskan. Jungkook tertawa lepas setelah mati-matian ditahan. Namjoon terdengar sangat lucu ketika panik dan tertekan tanpa pilihan. Ia menyudahi gelak mengejek Papanya dan buru-buru masuk kamar Papanya. Dia tidak ingin Papanya marah-marah karena gagal presentasi dan murung seharian. Kamarnya tidak dikunci, memudahkan Jungkook masuk. Dia sempat berpikir mungkin pagi ini Namjoon terburu-buru dan tidak fokus sampai lupa mengunci kamar. Papanya sangat menyukai privasi dan selalu mengunci kamarnya. Namjoon lebih memilih untuk ke kamar anak-anak daripada membuka kamarnya. Entah kenapa, Jungkook tak ambil pusing.

"Proyek Busan," bibirnya mengeja pasti. Ditangannya sudah ada berkas yang diminta Namjoon, ia buka-buka sedikit dan hanya menggumam karena banyak hal yang tidak ia mengerti. Secara garis besar, perusahaan tempat kerja Papanya akan membuka cabang di Busan. Jadi mungkin Papa akan seminggu di Busan; kalau proyeknya berhasil.

Jungkook baru saja akan pergi kalau matanya tak kedapatan melihat satu rak laci meja Namjoon yang terbuka. Ia mengamati sekeliling; kamar Papanya selain rapi dan estetik, juga dirancang untuk bekerja di rumah. Dia punya meja kayu besar dan kursi empuk. Tumpukan berkas dan lampu meja. Ada cangkir dengan ampas kopi, mungkin sisa semalam. Tapi yang menarik perhatiannya adalah sticky note di laci yang terbuka itu:

[kenangan masa lalu]

Persetan dengan Namjoon yang terus menelponnya. Jungkook penasaran; murni karena ingin tahu saja apa yang dimaksud dengan kenangan masa lalu. Kenangan apa yang disimpan Namjoon sendirian. Mungkin pemikiran tentang ketakutkan ia dan Jihoon akan mengganggu kerja Papanya itu salah. Mungkin alasan Namjoon mengunci rapat kamarnya adalah karena ini; memori yang tidak ingin Namjoon bagi dengan siapa pun.

Ia menarik lacinya lebih jauh lagi. Ada buku, album, pulpen, dan gantungan kunci berbandul singa. Dan oh, dia melihat satu novel Harry Potter. Ia tertarik pada selembar kertas foto usang, warnanya pudar dan gambarnya tidak begitu jelas karena resolusi foto yang kurang apik. Tersenyum saat tahu itu adalah foto Namjoon, Taehyung, dan Mamanya. "Jadi begini rupa Mama ya, cantik."

Kemudian album. Oh, ia sangat penasaran. Kebanyakan adalah foto Taehyung saat kecil, saat masuk TK, lomba mewarnai, juga saat bermain dengan Jimin, beberapa foto bersama. Ada juga saat Mama memegangi Taehyung yang diimunisasi, Taehyung tampak menangis dan itu lucu. Lalu beberapa lembar tentang surat-surat tulisan tangan Taehyung, Namjoon, dan Mamanya. Mereka membuat puisi yang sahut-menyahut. Harmonis dan lucu.

Sampai ia di lembar terakhir, ia mengernyit.

Ada tempelan headline surat kabar: Kecelakaan tragis persimpangan distrik lima.

Lalu semuanya foto penuh darah, mobil yang ringsek, gelapnya malam, jauh lebih jelas dibanding foto-foto sebelumnya. Padahal ini foto yang menyedihkan, membuatnya mual karena tercetak jelas bagaimana tubuh seseorang jadi bersimbah darah. Seperti foto dari seorang penyelidik, karena mengambil dari jarak dekat dan cukup jelas. Semacam foto bukti kejadian perkara. Yang menarik perhatiannya adalah ia melihat wanita hamil berbaju butih –sudah luntur oleh merah darah. Dan seorang anak yang baru saja dikenalinya lewat foto album.

"Taehyung hyung,"

Terlalu lama ia mendekam penuh tanya, sampai Namjoon kesal dan menelponnya untuk kedua belas kalinya. Jungkook mengangkatnya dengan gugup. Bukan karena takut dimarahi sebab terlalu lambat mengantarkan berkas Papanya. Tetapi tercekat dengan penemuan tiba-tiba yang membingungkan ini.

"Papa, tolong jelaskan padaku apa yang sudah terjadi."

.

.

.

.

.

.

To be continued

.

[edisi: sesi panjang lebar]

Noun; cuap-cuap

..

Yosh! Saya kembali! Aduh lama banget ya emang. Hampir sebulan, kayaknya? Eh... lebih malah ya? saya merasa sedih akan itu... karena sering di pm atau di message untuk cepet update, dan hola hola (ala KARD) saya datang~

Permasalahannya emang terkesan makin pelik. Tetapi percayalah, ini sudah mendekati ending. Hm, apakah kalian percaya? Ya silahkan untuk ya atau tidak. Yang jelas sudah ada klunya, kalau ff ini akan menuju end. Meski bukan di chapter depan, hehe.

Terima kasih untuk saran dan kritiknya, tentang penulisan, penguatan karakter, penokohan, alur, semuanya! Itu sangat berarti untuk saya supaya dapat memperbaiki diri. Meski kebanyakan review dan pesan adalah kekesalan tentang betapa lemahnya Taehyung. oh tidak, dia kuat. Kuat dengan cara dan sudut pandang yang berbeda.

Dan ah, saya ingin minta maaf untuk chapter sebelumnya. Dimana saya membubuhkan scene mature dengan konten yang cukup vulgar tanpa warning. Ya, threesome. Saya sungguh bersalah akan itu dan saya minta maaf untuk tidak memberi warning sebelumnya. Karena niat saya memang dibuat secara implisit tetapi ternyata masih banyak yang tidak nyaman dengan itu. Maafkan saya. Untuk kedepannya, akan saya perbaiki, terima kasih atas ilmunya.

Nah, apa kalian bisa menebak bagaimana kisah selanjutnya? Karena kata orang cerita saya penuh dengan plot twist tak terduga jadi, yeah, nantikan kejutan-kejutan saya di chapter depan!

See you and happy reading!

[ sugantea ]