Di pikirannya sudah tidak ada jernih. Semuanya kalang kabut, termakan emosi dan ribuan tanya yang mengganggu. Jungkook mengemudikan motornya super laju, persetan dengan rambu lalu lintas. Toh Namjoon sudah menunggu dengan marah, buat apa memperlambat lagi. Ia sekuat tenaga menahan keinginannya untuk menangis dan mengamuk. Setidaknya ia harus tiba di kantor Namjoon dengan selamat kalau ingin memukul Papanya.
Motornya langsung dijatuhkan begitu sampai di parkiran. Kakinya melesat, berlari, jemarinya tertekuk dan gemetar hebat hingga berkeringat. Teriakan satpam penjaga yang mengomel diabaikan, ia memilih naik tangga sambil berlari ketimbang menunggu lift sampai kakinya kesemutan. Lari, tidak peduli jika otot-ototnya malah semakin lemas.
"Darimana saja, sih?! Lama betul,"
Jungkook sesenggukan oleh ludahnya, "P-Papa, jelaskan –"
"Mana berkasnya?" Namjoon memindai cepat dan menarik map dalam dekapan Jungkook, mendengus keras dan berbalik. Sebelum terlalu jauh, Jungkook mencekalnya. Sungguh Namjoon tak memiliki banyak waktu lagi untuk meladeni apa pun. Dan anaknya terlihat masih gugup untuk bicara satu dua patah kata. "Jungkook, Papa sedang sibuk."
Cepat Jungkook menyodorkan selembar foto yang ia ambil. Foto mengerikan yang ditemukannya saat mencari berkas Papanya. Figur menyedihkan yang membuat Jungkook kebingungan setengah mampus hingga ia nyaris mati memikirkannya. Ia tahu ujung jarinya gemetar, tetapi Jungkook memberanikan diri. Dia tidak bisa menerka-nerka semua ini sendirian dan Namjoon adalah orang yang paling tepat untuk dimintai jawaban; apa pun penjelasan yang akan diterimanya nanti.
"J-Jungkook –"
"Apa ini, Pa? Kenapa –" Jungkook tersedak, oleh ludahnya lagi, " –ini Mama, 'kan?! Ini Mama dan Taehyung! Apa ini –foto mengerikan apa ini?!"
Seketika Namjoon tak tahu, mana yang lebih prioritas.
"A-Apa maksudnya ini, Pa..." Jungkook nyaris menangis. Namun, Namjoon mengalihkan pandangannya. Ia mendengar rekan kerjanya berteriak memanggil, ia memberi sinyal 'oke' dan menatap Jungkook tak tega –meski ia juga tak sanggup untuk lebih lama berdiri di sini. Ia menghembuskan napasnya kasar, ia sangat lelah. "Pulang sana."
Kertas foto itu diremukkan, jemari Jungkook semakin tertekuk asal. Ujung-ujungnya memerah sakit tetapi tak dipedulikan. Susah payah ditahannya, akhirnya tangis meluncur. Pelan, kemudian kencang seperti anak kehilangan Ibunya. Tetapi ia tidak merasakan hal itu sejak kecil, karena Ibunya sudah jauh lama meninggal sebelum ia ingat ia bisa berjalan sendiri. Namun, mungkin inilah yang dirasakan Kakaknya dahulu. Ketika ia masih sangat kecil untuk bertarung dengan semua kepahitan dunia yang tidak abadi. Masih terlalu bodoh untuk memahami kalau ia sendirian tanpa seorang Ibu yang biasa memasak dan memeluknya ketika tidur, atau menggendongnya dan mengantar jemput ke sekolah. Inikah pedih yang Taehyung rasakan ketika kehilangan seseorang yang berarti di hidupnya; orangtuanya? Yang terbiasa melindunginya dan menyambutnya hangat sepulang sekolah, atau menemani bermain layang-layang dan menonton bersama saat hari Minggu. Rasanya sungguh menyesakkan; Jungkook baru tahu rasanya. Sesak, marah, sedih, kecewa. Ini lebih dari sekadar campur aduk. Ia bahkan baru mengenal Ibunya lewat album foto dan ia sudah sesedih ini kehilangannya.
Tubuhnya jatuh, terduduk. Ia menyembunyikan wajahnya di lipatan kakinya yang gemetaran dan lemas. Tubuhnya terguncang; seperti hatinya yang tidak siap. Ia menangis kencang, panjang sekali. Mengabaikan pandangan heran dari orang-orang dan beberapa karyawan yang mengetuk pundaknya dan bertanya kenapa. Jungkook tidak menjawab; kecuali menangis. Ia meraung seperti anak tersesat. Sebab ia tidak bisa menerima ini; ini bahkan baru sekeping dari fakta menyedihkan yang ia temukan. Entah kejutan apa lagi yang bisa ia ketahui nantinya.
Ia merasa sedih, dan tersakiti. Karena telah ditipu selama belasan tahun.
Dan ia percaya,
Karena Taehyung bilang, Mama meninggal karena sakit perut.
My Mama
..
Kim Taehyung
Jeon Jungkoom –role as Kim Jungkook
Park Jimin
[Namjoon; Jihoon; Kim Hana – OC; Choi Luna – OC; other casts]
..
[Vkook – KookV as brothers]
[MinV]
..
Let's go to the past,
..
Agak berat rasanya jika harus meninggalkan pekerjaannya lagi. Jaehwan dan Sir Yoo bilang tidak apa-apa dan masih tertawa biasa. Taehyung tidak enak hati, ia merasa diperlakukan berbeda. Ia tidak ingin seperti ini, tetapi ia merasa tubuhnya jauh lebih rapuh dari yang bisa ia ingat. Entah apa yang terjadi di dalam tubuhnya. Ia merasa tidak enak badan, dan yang bisa ia pikirkan adalah amukan Jimin jika ia mengacau lagi. Taehyung mungkin bisa menahan sakitnya sendirian tetapi ia tidak bisa mencegah ia tidak membuat kecerobohan di tempatnya berdiri. Sudah cukup ia membuat keributan minggu lalu, ia tidak mau merepotkan siapa pun lagi.
"Kau tahu, katanya cacing tanah bagus untuk kesehatan,"
Taehyung merengut jijik, "Tidak, hyung. itu terdengar menggelikan."
"Kau harus coba!" ujar Jaehwan sambil tergelak.
Taehyung makin merengut, Jaehwan selalu bicara aneh padanya. Bukan sesuatu yang macam-macam, hanya saja kadang ucapannya terdengar konyol. Meski tak jarang membuatnya terbahak karena dia suka melucu. Ia merapikan seragam kerja dan menggendong ranselnya. Tali sepatunya ia ikat kuat supaya tak mudah lepas. Sejenak ia tersenyum, ini pemberian Jimin. Padahal ia tak pernah minta dibelikan apa pun tetapi Jimin selalu punya cara mewujudkan keinginan bodohnya. Taehyung tersentuh, dan menjadikan sepatu ini sebagai favoritnya. Jimin sempat meledeknya tetapi karena Taehyung akting marah, Jimin berhenti dan meminta maaf dengan panik dan wajah yang lucu. Kalau diingat, itu memori yang indah.
Ponsel yang diletakkan di atas nakas ia masukkan ke dalam kantung celana. Ia merapikan tampilannya dan memakai topi. Cuaca agak panas dan ia tak mau membakar rambutnya hingga jadi seperti rambut jagung. Taehyung tersenyum dan pamit pada Jaehwan. Berjanji ia akan istirahat dengan benar supaya besok masuk kerja. Ia baru melangkah sekitar tiga, kemudian tertahan oleh bunyi lonceng pintu.
"Hyung,"
Taehyung meneguk ludahnya, "Jihoon?"
.
.
"Kudengar kau sempat masuk rumah sakit,"
Yang lebih tua tersenyum lembut, "Hanya demam biasa. Hyung kecapekan bekerja dan lupa makan, hal yang biasa dialami orang bekerja," ia mendekatkan teh hangat di depan Jihoon yang terus menatap matanya dalam. Meski malu, ia akui tatapan itu cukup mengganggunya karena itu cukup terlihat menakutkan. "Diminum dong, tehnya. Enak, lho."
"Hyung, jangan pergi."
"Aku selalu disini, Jihoon."
Jihoon menggeleng kuat, "Hyung pikir aku bodoh? Memangnya aku tidak tahu kalau hyung menghindariku dan Jungkook? Aku tahu, hyung. Tetapi salahku juga, karena aku tidak berusaha. Aku bukannya bergerak, malah diam." Jemarinya ia buat kepalan, "Tapi jangan seperti ini. Kita ini saudara, jangan menjauh seperti dua benua yang terpisah samudera. Kenapa? Kenapa hyung pergi? Apa hyung marah padaku? Apa aku telah melakukan hal salah?"
"Ngomong apa, sih, kamu. Tidak ada yang pergi dan tidak ada yang salah,"
"Sejak Jungkook tinggal bersamaku, kalian aneh. Hyung aneh, dia juga. Apa yang terjadi? J-Jimin hyung bilang itu nomor kamar yang benar, tapi saat aku datang kau sudah pergi hyung. Kau sengaja pergi dari sana sebelum aku sempat datang melihatmu. Itu menyakitiku, hyung. Apa ini ada hubungannya dengan Jungkook? Apa dia menyakitimu lagi? Biar aku menghajarnya nanti!"
Dengan lembut Taehyung menahan tinju Jihoon, "Tidak ada yang menyakiti aku, Jihoon. Tenanglah, jangan gegabah menyimpulkan sesuatu sendirian. Pikiranmu itu kacau balau, terkaanmu meleset. Jimin yang mungkin tidak sengaja mengerjaimu, dia hanya asal bicara karena aku sudah memarahinya yang sangat lama membawa makanan. Aku hanya menginap satu malam karena esoknya aku sudah baikan. Sudahlah, jangan dipikir lebih. Maaf kalau menyakitimu demikian karena aku tak tahu kau akan datang," ia sentil dahi Jihoon, "Harusnya kau menghubungi hyung dulu, jadi salah siapa, hm?"
"Jangan bohong, hyung."
"Tidak, hyung tidak bohong."
Ucapannya harus terdengar meyakinkan. Taehyung lelah dikejar-kejar seperti anjing, ia benar-benar ingin melepas semuanya. Meskipun itu akan terasa sakit untuknya; ini adalah pilihan yang ia ambil dan sudah tak bisa diganggu gugat. Sabar ia menenangkan Jihoon dan meladeni gerutuannya yang manis dan tak henti. "Bagaimana hubungan kalian? Apa masih suka bertengkar? Pertemuan awal kalian tidak begitu bagus, seingatku."
"Dia masih menyebalkan," Jihoon manyun dan menyeruput tehnya yang mendingin, "Tetapi, yeah, dia juga baik. Mungkin hyung benar, dia nakal karena tak dapat perhatian orangtua. Sekarang dia rajin belajar dan prestasinya membaik; meskipun tidak juara kelas." Ia mengendikkan bahunya dan melengkungkan bibir tipisnya, "Entah kerasukan apa dia ikut lomba ini itu. Dia suka matematika, jadi Ayah membelikan buku tentang angka-angka mengerikan itu dan dia jadi serius untuk belajar itu. Dia ikut olimpiade dan menyabet medali perak; permulaan yang bagus. Dia juga ikut lomba antar kelas, antar sekolah, tetapi yang tingkat nasional kemarin dia hanya sampai babak penyisihan. Dia murung seharian, tapi esoknya baik lagi."
Senyum terpatri, Taehyung bangga. "Begitukah?"
Anggukan lucu membuat senyum Taehyung merekah. "Jungkook bilang, hyung yang menyuruhnya begitu. Apa benar?"
"Jungkook bilang begitu?"
"Ya. Kenapa?"
"Ah, itu. Hyung hanya berpesan, supaya jadi orang berguna di masa depan. Belajar yang benar dan jangan mengecewakan Papa yang sudah membiayai hidupnya sekarang. Tidak kusangka dia benar-benar melakukannya, sekarang aku bangga padanya," Taehyung melarikan jemari panjangnya di sela-sela rambut Jihoon yang halus dan sewangi madu. Ia mengernyit sedikit karena warnanya jadi sedikit lebih terang; mungkin ash brown? Tetapi ia mendiamkannya karena Jihoon masih muda dan punya hak kebebasan bergaya. "Sampaikan padanya, hyung bangga."
Tangan Jihoon yang lebih mungil meraih milik Kakaknya, ia menggeleng kecil dan menghirup napas yang sedih dan lelah. "Sampaikan sendiri."
"Jihoon,"
"Aku bukan kurir pos," Jihoon minum tehnya, "Pesan-pesan silahkan katakan sendiri."
Ia mengerti maksud adiknya, dan Taehyung hanya tersenyum maklum. Tidak mengiyakan, tak juga menolak. Ia bimbang dan memilih diam ketimbang salah bicara. Sejujurnya ia sangat ingin melakukannya tetapi ia tak bisa. Tidak setelah apa yang mereka lakukan; mungkin itu sudah sangat lama jika diingat tetapi Taehyung tak mudah melupakannya. Mengirim surat ke loker Jungkook saja sudah membuatnya gemetaran setengah mampus. Apalagi harus bertemu mata. Mungkin ia akan pingsan dan mimisan, oh, jangan. "Sampai kapan kita akan begini? Sampai kapan hyung seperti ini?"
"Sampai kalian tumbuh dewasa dan sukses,"
"Lalu kita akan bersama-sama; sampai mati?"
Taehyung tergelak. "Tentu, pegang janjiku."
"Janji?"
Ia mengaitkan kelingkingnya dengan milik Jihoon yang jauh lebih mungil darinya. Tersenyum cerah meyakinkan adiknya. "Janji." Ia tersenyum lebar, "Nah, hyung ada janji bertemu orang, sekarang hyung pamit, ya?"
.
.
Pintu kaca didorong pelan, nyaris tak membunyikan lonceng kecil diatasnya. Langkahnya pelan, lelah menghadapi sengat mentari. Sepatunya kena percikan air dari kubangan. Cepat ia berjalan ke meja nomor dua belas; sesuai perjanjian lewat kakaotalk. Ia menghirup hembusan ac yang sejuk di sela hentakan kakinya yang beradu dengan marmer putih gading. Begitu sampai, ia menengok memastikan tidak salah orang. Kebiasaannya sejak dulu.
"Kau mengagetkanku, Taehyung-ssi."
Yang berdiri disana terkekeh, mendekat dan duduk dihadapannya. "Ups, maaf?"
"Es jeruk dan masalah selesai,"
"Hei, aku belum gajian, Jiyeon-ssi," Taehyung balas melucu. Kemudian keduanya tertawa karena lelucon aneh mereka sendiri. Jiyeon memainkan ponselnya sejenak untuk membalas pesan dan Taehyung melepas topinya, melesakkan tubuhnya tenggelam di sofa dan membiarkan sejuknya kafe menghujani kulit keringatannya yang berdebu. "Apa aku lama? Tadi adikku datang, kami mengobrol banyak dan.. hehe, aku lupa waktu."
Jiyeon mengibaskan tangannya yang cantik, "Bukan masalah. Aku yang minta maaf karena mengganggu waktumu, Taehyung-ssi. Oh, apa kau tidak bekerja?"
"Aku merasa agak kurang enak badan,"
"Kau sakit? Kenapa mengiyakan ajakanku bertemu?" Jiyeon melotot kaget, setengah marah. Meski Taehyung tahu dia hanya main-main dengan marahnya. Taehyung berkata untuk tidak mengkhawatirkan dirinya, "Hanya pusing sedikit saja, makan minum sedikit langsung baikan. Boleh aku pesan sesuatu?"
Jiyeon tergelak, "Kenapa pakai tanya? Pesan saja!"
Akhirnya Taehyung menjatuhkan pilihan pada sepotong kue krim keju dan susu cokelat hangat. Dia baru ingat kalau kafe tempatnya duduk tidak punya menu nasi padahal dia sudah lapar jadi ia memilih menu yang cukup mengisi perutnya yang berbunyi. "Kenapa minta bertemu, Jiyeon-ssi?"
"Mari berteman,"
"Eh?"
Sungguh pemintaan yang aneh. "Kita bertemu dengan takdir yang tidak menyenangkan. Terlebih, bukankah kita ini satu tahun kelahiran? Kenapa jadi formal; panggil saya Jiyeon dan aku bisa memanggilmu Taehyung. Tapi kurasa kita harus menjadi teman untuk itu," gadis yang rambutnya dikepang dua menyuap parfaitnya lebar, "Dan bukannya kita sama-sama Kim? Harusnya ada ikatan yang lebih diantara kita, 'kan?"
Terkadang Taehyung berpikir Jiyeon tidak seanggun kelihatannya. Gadis yang selalu pakai rok dan mengikat rambutnya rapih, memakai jepit atau bandana, warnanya selalu cerah, tak pernah pakai heels atau sneakers (hanya pakai flat shoes); ternyata suka berkelakar dan bicara ngelantur. Bukan berarti dia aneh, hanya saja dia suka bicara tak terduga. Dan kebanyakan membuat Taehyung terkekeh ringan. "Apa-apaan, itu? Kim dalam dirimu karena Ayahmu, kalau aku; Kim dalam diriku adalah Ibuku. Jelas berbeda, walau sama-sama Kim. Tetapi, mari berteman."
Senyum Jiyeon merekah. "Nah, begitu, dong."
"Kau memintaku bertemu hanya untuk bilang itu?"
"Memang mau dengar apa?"
Ludah ditelan kasar. Taehyung gugup memakan kuenya, tiba-tiba kerongkongannya gatal. Ia minum susu cokelatnya dan merasa lebih baik. Kalau bukan karena Jiyeon meminta bertemu, mungkin ia akan pulang saja karena merasa lelah. Justru ini karena Jiyeon, dia menyempatkan diri untuk datang. Dia tidak berharap banyak, tetapi di pikirannya, mungkin mereka akan membahas Jimin dan mungkin, hubungan rumit mereka. Namun, Taehyung juga tak bisa langsung bilang kalau ia berpikir Jiyeon akan membicarakan Jimin. Ada rasa gengsi dan malu; juga bersalah.
"Taehyung,"
Raut wajah Jiyeon berubah, Taehyung merasakannya. "Y-Ya?"
"Jaga Jimin untukku," mata berbinar itu berubah jadi berkaca-kaca, "Aku mohon."
"A-Apa... kenapa tiba-tiba –"
"Ah, jangan bercanda terus," Jiyeon menepuk ringan telapak tangan Taehyung. Tersenyum lirih mengguratkan sedih. Taehyung tak bisa menghindarinya, ia melihat itu. Dan sungguh ia tak bisa menahan perasaannya sendiri untuk merasa bersalah lebih dalam lagi. Ini jelas tentang Jimin dan hubungan mereka yang runyam. Kalau sudah begini, jelas Taehyung tak mampu. Ia mungkin lemah tetapi ia akan pecah jika melihat perempuan sedih, apalagi menangis karenanya.
Ragu, Taehyung mengelus jemari Jiyeon yang halus. "Jangan begini,"
"Taehyung, karena kita berteman... aku tidak apa-apa,"
"Jiyeon –"
"Awalnya seperti kena peluru," ia menutup matanya, mengekspresikan kesakitannya, "Sakit. Semacam langsung tepat kena jantungku, atau bahkan kepalaku. Luar biasa mencekik. Dan itu perasaan yang sangat menyebalkan. Saat aku tahu, ini semua hanya kepura-puraan; hanya pilihan yang salah. Aku merasa seperti kelinci percobaan, kau tahu, diberi ini itu padahal tidak tahu efeknya bagaimana. Hanya ada dua pilihan: hidup atau mati. Untuk yang ini, bersyukur aku masih bisa bernapas dan tidak tinggal nama,"
Taehyung menahan napasnya kaget, "Bicaramu, Jiyeon."
"Iya, aku tahu." Gadis itu tergelak sesaat, meski Taehyung tetap menangkap airmata di sudut matanya, siap turun kapan saja ia berkedip. "Padahal aku ingin marah, merasa bahwa ini tidak adil karena kau merebutnya dariku. Maksudku, siapapun kau, berapa lama kau sudah bersamanya, seberapa dalam kau mengenalnya; tetap aku yang akan hidup bersamanya sampai mati. Tetapi itu bukan sungguhan, seperti, kau tahu? Ini adalah misteri tak tertebak, dan aku bisa apa? Marah pada siapa? Ibu Jimin; kupikir aku takkan bisa melakukannya meski aku orang jahat."
Dalam hati Taehyung mengamini.
Ibu Jimin terlalu baik hati untuk dimarahi, apalagi dibenci.
"Salahkan aku, Jiyeon."
Perempuan itu mendengus, "Kita 'kan berteman. Aku mana bisa memarahi temanku,"
"Kau terlalu baik," Taehyung memandangi Jiyeon. "Jangan seperti itu. Pukul aku,"
"Lalu apa? Kalau aku memukulmu, lalu apa? Aku tetap menjadi Jiyeon yang lama, yang sama seperti sekarang ini. Bukan siapa-siapa, tidak akan ada yang berubah sekalipun aku memukulmu dengan tumpukan batu." Ia memandang ke luar jendela, "Aku tetap bukan pilihan Jimin, sebaik apapun orang bilang, secantik apapun kata orang; aku bukan kemauannya. Karena aku bukan Kim Taehyung. Seperti katamu; meski sama-sama Kim, kita berbeda."
Taehyung kehabisan kata. Bukan karena ingin mengelak, tapi karena tak ada kata lain selain maaf di ujung lidahnya yang gatal. Ia ingin menghibur Jiyeon tetapi tentu ucapannya tak akan berguna sedikit pun. Itu tidak akan mengubah apa pun; ini semakin membuatnya terpuruk dalam rasa bersalah yang semakin dalam. "Seharusnya, kau marah. Jangan perlakukan aku sebaik ini, jangan berteman denganku, jangan menemuiku dengan bicara sebaik ini, jangan diam saja dan pukul aku. Perlakukan aku seperti ribuan lelaki brengsek disana; karena aku brengsek!" ia mengepal marah, "Jangan diam saja! Kenapa?! Apa kau senang membuatku merasa semakin bersalah? Aku tidak punya kata lain selain maaf; maafkan aku, maafkan pria bajingan ini yang merenggut mimpi dan cintamu. Kalau saja aku tidak kurang ajar untuk masuk ke kehidupan bahagia kalian, akhirnya tidak begini, kisahnya tak seperti ini. Lantas kenapa kau berperan sebagai gadis baik hati?! Siksa aku sebagaimana seharusnya! Jangan buat aku tercekik dengan kebaikanmu itu, Kim Jiyeon."
"Sudah bicaranya?"
Taehyung mengerang, "Jiyeon –"
"Ketika aku mendapat sial, bukan berarti aku harus marah." Jiyeon berujar kelewat tenang, membuat Taehyung menjatuhkan rahangnya konyol. Tak habis pikir bagaimana perempuan dapat mengendalikan emosinya sedemikian baik; jika ia biasanya melihat perempuan akan bertindak gegabah di luar akal karena percintaan. Ia menggigit bibir; seharusnya Jiyeon pantas di sisi Jimin karena nyatanya dia sebaik ini. "Semua orang punya cara masing-masing untuk menyelesaikan masalah. Dan kau tahu? Kalaupun aku benar-benar menyiksamu, itu akan menyiksaku pula. Jimin tidak peduli siapa pun itu; yang melukai Taehyung akan mati. Kau pikir aku mau dibenci Jimin? Aku menyukainya, bukan berarti aku membabat habis semua sainganku. Kecuali dia jahat; tetapi kau –Kim Taehyung, adalah orang yang tepat."
"Jiyeon,"
Tangannya digenggam Jiyeon. Erat dan hangat. "Kau orang yang tepat. Kau tidak buruk. Kau bukan orang yang masuk dengan kurang ajar; bukan. Justru aku yang seenaknya nyempil diantara kalian. Aku Si Kurang Ajar itu, yang membuat kalian bertengkar dan hubungan kalian rumit. Jika pun ada yang marah, seharusnya itu kau. Jangan perlakukan aku sebaik ini, aku yang merebut Jimin darimu, jadi siksa aku sebagaimana seharusnya."
"Aku tidak bisa menyakiti perempuan."
"Aku tahu."
Taehyung terdiam, memilih untuk menunggu Jiyeon. "Oh, Taehyung."
"Ya?"
"Maafkan aku."
"Jangan,"
Jiyeon menggeleng, "Sekarang jangan pikirkan apa-apa. Jimin hanya cinta kau,"
"Jiyeon –" mulut Taehyung tertutup lagi karena ia tak tahu harus balas apa. Sejujurnya ia ingin menangis, karena sungguh, Jiyeon adalah gadis terbaik yang pernah ia temui. Perempuan tangguh yang cantik, yang tidak marah karena kekasih dan cintanya ia renggut begitu kurang ajar. Dia yang masih tersenyum manis dan berkata untuk berteman. Bagaimana Taehyung tidak tersentuh akan itu? Ia berpikir, mengapa Jimin begitu bodoh untuk melepas orang setulus Jiyeon dan lari padanya; jika ia bisa mendapatkan seluruh kebaikan dari perempuan di hadapannya ini. " –maafkan aku."
"Kita 'kan teman."
Matanya panas, tiba-tiba menjadi basah. Susah payah ia tahan tangisnya sendiri. Rasanya sesak minta ampun, luar biasa mencekik tenggorokannya hingga ia nyaris tersedak. Sungguh perasaan yang bukan main campur aduk. Kalau saja bisa, ia ingin memeluk Jiyeon tetapi ia merasa tak pantas untuk itu. Perempuan itu terlalu baik untuknya. Taehyung mengangguk keras, malu menampakkan wajah basahnya. "Ya, kita teman."
"Dan teman akan saling menjaga,"
"Ya."
Jiyeon sendiri sudah menangis. "Teman akan mendengar kata temannya,"
"Ya," suaranya serak di akhir.
"Jadi kuharap, kau menjaga Jimin. Kau mau?"
Tentu saja. Taehyung tak akan mengecewakannya. "Ya, Jiyeon. Ya."
Bayang-bayang penyesalan terbesit di pikirannya. Keringat mengucur sebesar biji jagung, ia mengatur volume AC mobil jadi tiga. Tetap gelisah dan gerah. Namjoon berdecak kesal; tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Menyetir saja tidak fokus. Dia melajukan mobilnya sampai nyaris 100km/jam. Itu mungkin bisa membunuhnya; ia berkali-kali hilang pikiran menyetir di jalanan. Sesekali pikirannya berkelana kemana-mana. Alurnya maju-mundur.
"Argh!" ia membanting setir dan berhenti di bahu jalan.
Napasnya putus-putus. Jantungnya berdegup terlalu kencang dan itu menyakitinya. Ia pejam mata dan membanting kepalanya ke jok dan melepas seatbelt yang melilit tubuhnya. Jari panjangnya ia larikan untuk mengusak rambutnya yang lepek dan bau matahari. Napasnya jadi semakin dalam ketika ia membuka jendela. Lambat ia membuka matanya, menatap jalanan yang hanya dilalui empat lima mobil dengan kencang.
Sampai ia mendengar decit ban mobil dan suara mobil berdebum.
"Sial!" dia kembali ke dunia nyata. Itu hanya bisikan mengerikan yang sudah sangat lama tidak ia dengar. Masih sama menyakitinya dengan luar biasa kejam. Ia memukul kepalanya yang pusing dan berat. Semuanya berputar-putar, hingga Namjoon pikir ia akan pingsan disini. Seluruh tubuhnya panas dan sesak. "Fuck,"
Berkali-kali, ia mendengar bisikan aneh. Yang melolong. Yang nyaring.
Ia merogoh saku celana kainnya yang lecek. Jarinya yang gemetaran menekan speed dial nomor dua dan masih menunggu seseorang menjawabnya; ia sudah tidak kuat lagi. Suara-suara itu terus meneriaki telinganya hingga tuli. Membuat kepalanya berdenyut tidak karuan.
"Ibu" Namjoon memanggil lirih,
["Namjoon! Ada apa, kenapa suaramu?"]
"I-Ibu," tahu-tahu airmatanya terjun, suaranya berganti isakan. "Aku harus bagaimana,"
["Astaga, Namjoon! Kenapa?"]
Ia menutup mulutnya sendiri dengan tangannya yang besar dan basah. Meski ia yakin Ibunya masih bisa mendengarnya menangis. Namjoon terlalu lemah untuk menangis di hadapan Ibunya; ia terlalu gengsi untuk mengaku. Dan disini dia menahan tangisnya dengan konyol, mendiamkan Ibunya yang terus berteriak heboh memanggil-manggil.
.
.
Namjoon tiba dengan tubuh yang tak bertenaga. Ia hanya menggoyangkan kakinya untuk melepas sepatu dan hanya berlalu tanpa repot merapikan di rak. Pandangannya kosong dan masih berputar-putar. Ia hanya berharap dapat sampai di ranjangnya dengan cepat. Ia melirik Jihoon yang sedang memasak sesuatu di dapur, dan ia akan melangkah pelan agar anaknya tak mendengar. Ia baru mengambil langkah sekitar lima dan ada Jungkook di hadapannya; yang terkejut mendapatinya.
Dan ia justru terdiam, meneguk ludah. Suasana yang aneh.
"Makanlah, sudah malam." Hanya itu yang keluar dari mulutnya kemudian.
Lantas ia melewati Jungkook dan bergegas ke kamarnya untuk merenung, sampai Jungkook memanggilnya hingga Namjoon hampir terjungkal dengan suara beratnya. "Papa,"
"Hm,"
"Taehyung cukup konyol sudah membohongiku bertahun-tahun," Jungkook mengawali, menatap punggung Namjoon di depan pintu. "Dan kuharap, Papa tidak sama. Aku akan menunggu sampai kau siap, tidak apa-apa. Meski aku tak yakin rasa penasaran bodohku ini mungkin lebih besar dari yang Papa kira. Entahlah, mungkin aku bisa cari tahu sendiri?"
Namjoon terhenyak.
"Sebaiknya Papa mengatakan yang sebenarnya, aku memohon."
"Aku tidak mengerti, Jungkook."
"Akan lebih baik jika aku tahu itu darimu, Pa. Daripada aku mengetahuinya dari orang lain dan bisa saja aku punya penilaian berbeda untukmu setelahnya, karena saat ini pun perkiraanku tentang Papa meragukan. Aku ragu. Maksudku, ini konyol punya keluarga hancur seperti ini. Papa yang penuh misteri dan membingungkan, bagaimana aku bisa tidak curiga?"
Meski memalukan untuk diakui tapi Namjoon benar-benar sakit hati. Bukan sepenuhnya salah Jungkook karena wajar dia berpikiran seperti itu. Mengetahui hal menyedihkan yang selama bertahun-tahun ia anggap baik-baik saja; dan tak mendapat penjelasan berarti –tentu Jungkook marah dan bisa saja dia pergi mencari tahu sendiri. Tetapi Namjoon berharap, Jungkook tak menemukan apapun sebab tak ada saksi atau bukti yang mengarah pada lembar foto itu lagi. Itu hanya kenangan perih, sudah sangat lama untuk diingat.
"Aku tak bisa menjelaskan apa pun."
Jungkook mendengus, "Maka aku akan cari tahu sendiri."
"Kau akan kehabisan waktu."
"Dan aku tidak peduli."
Ada ketegasan di dalam mata Jungkook. Namjoon bisa merasakan aura membara itu dalam diri Jungkook. Sedikit banyak ini membuatnya ketar-ketir dan merasa gelisah, tetapi ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Seperti yang ia harapkan, Jungkook tak mungkin menemukan apa pun dan Namjoon seharusnya tak perlu khawatir. Tidak ada satu pun hal yang bisa membantu Jungkook menemukan kenangan itu. Hanya satu: dirinya; jadi Jungkook sama sekali tak punya kesempatan meski hanya selebar daun kelor.
Setelah menghela, Namjoon kembali melangkah. Masuk kamarnya, menjatuhkan diri dengan dramatis menggesekkan punggung lebarnya di daun pintu. Kepalanya berdenyut lagi. Ingatan itu kembali; kenangan itu kembali. Satu hal yang terus menyakitinya dengan kurang ajar. Terkadang Namjoon berpikir, apakah memori ini bisa dihapus seperti data komputer? Dia tidak memerlukan recycle bin atau aplikasi yang memunculkan datanya lagi; ia benar-benar ingin menghancurkan kenangan menyesakkan itu.
"Sial," Namjoon menjambak rambutnya sendiri sampai rontok tiga helai.
.
.
.
.
.
"Hana!"
Saat serius membaca catatan biologinya, Hana terkejut ada yang berteriak di telinganya. Ia hanya mendelik malas pada Luna, si sialan yang meneriakinya, yang malah terkikik karena sudah bertingkah jahil. Hana menggeser duduknya agar Luna dapat duduk di sampingnya. Ia menutup buku catatannya dan menatap Luna, menunggunya bicara. "Apa sih lihat-lihat,"
"Kau mau ngomong apa?"
Wajahnya memerah, "Memang sejelas itu?"
"Iya."
"Hei, ini rahasia kita berdua loh." Ia berbisik, mencetak pandangan curiga di wajah Hana yang tidak mengerti Luna sedang bicara apa. Ia diam saja dengan kernyitan di dahinya, tidak paham kenapa wajah temannya makin merah. Apa dia sakit? Tapi tingkahnya tidak demikian. "Bahkan tidak boleh kau kasih tahu Namjoon,"
Ini semakin aneh. "Biasanya kau lebih dulu curhat padanya dibanding aku?"
"Ya tapi ini lain,"
"Apa itu?"
Lama, Hana mengulum bibirnya malu. "Aku suka Namjoon."
.
.
"Kudengar kau dapat banyak cokelat, Namjoon."
Namjoon tersedak sesaat, Luna membagi air minumnya. Hana hanya memandang mereka berdua sambil terus mengunyah makan siangnya. "Apa kau mengintip lokerku?"
"Aku bilang, 'aku dengar', Namjoon!"
"Yah, santai saja. Seperti kau betulan memeriksa lokerku,"
Ucapan itu membuat Luna tersedak ludahnya sendiri. "Aaa, itu.." tapi dia tidak melanjutkan gumamannya yang sekecil bisikan semut. Ia hanya memalingkan wajahnya yang menghangat karena menatap mata tajam Namjoon. "Y-Ya maksudku, kau 'kan populer! Betul, populer! Banyak anak baru juga, pasti wajahmu menyedot perhatian."
"Memang kenapa dengan wajahku?"
"Ah, itu..."
Hana menenggak air minumnya, "Menurutnya, kau tampan."
"HAH?! TIDAK!"
Dalam hati Luna menggerutu karena Hana mengatakan hal yang tak pantas. Sejak dia bercerita kalau ia menyukai Namjoon, Hana jadi sering menggodanya dengan banyak bicara menjurus. Terkadang ia berterima kasih karena itu membuatnya melihat Namjoon berpikir; karena baginya pose berpikir Namjoon itu seksi dan ganteng. "Loh, memangnya aku tidak tampan?"
"Y-Ya itu sih... gimana, ya,"
"Luna bilang, kalau kita bertiga tidak bersahabat pasti dia akan jadi fans beratmu."
Kemudian Namjoon tertawa lepas. Tangan besarnya menggebrak meja dengan kasar sampai mangkuk dan gelas memantul-mantul. Dia memang kuat dan suka merusak. Gelak tawanya berat dan serak di akhir, beberapa memerhatikannya karena suaranya kencang. Luna nyengir saja karena melihat Namjoon bisa tergelak begitu konyol. Itu menyenangkan untuk dilihat. "Benarkah? Kalau kau jadi fansku, aku akan memerhatikanmu saja diantara yang lain! Dan akan memberikan special service untukmu!"
Oh, sial Namjoon.
"Kenapa?"
"Ya mungkin karena kau cantik?"
Gantian Hana yang tergelak karena Namjoon mengaduh saat lengannya dicubit Luna dengan brutal. Laki-laki itu memang kuat dan dapat menghancurkan barang tetapi selalu kalah dengan cubitan dan pukulan sahabat ceweknya. Itu sedikit manis. "Jangan menggodaku!"
"Ya! Kan kau memang cantik!" Namjoon mengaduh dengan konyol, "Memang aneh kau ini, cewek 'kan suka dipuji cantik. Dasar macan betina! Aduh! Sakit, tahu!"
"Bukan begitu –" hanya saja aku terlalu malu mendengarnya.
Hana menggelengkan kepalanya maklum. Sudah terbiasa melihat pertengkaran konyol sahabat-sahabatnya. Seperti kucing dan tikus, setiap hari ribut ini itu. Tapi itu yang menjadikan suasananya hangat karena Hana tidak suka banyak bicara. "Hei, Namjoon. Apa kau berniat memberikan cokelat pada seseorang yang kau suka?"
Pertengkaran terhenti. Fokus mereka teralih.
"Bukankah itu dilakukan oleh perempuan?"
Luna menatap Namjoon penuh harap, "Siapa bilang? Asal tujuannya menyatakan cinta; 'kan sama saja. Laki perempuan gak ada beda." Ia menjelaskan dengan sedikit gugup menanti jawaban Namjoon. Ia sungguh penasaran dengan pendapat Namjoon kali ini. untuk yang satu ini, ia berterima kasih kepada Hana karena telah bersua. Namjoon nampak berpikir, "Hm, begitu, ya?"
"Iya. Jadi apa kau akan menyatakan perasaanmu?"
Namjoon menatap Luna bingung; teman ceweknya ini sangat bersemangat.
"Memang ada seseorang yang kau suka?"
Pertanyaan Hana semakin membuat Luna berdegup menanti. Namjoon memusatkan pandangan pada mata Hana yang memandangnya penuh tanya dan penasaran. Ia melirik Luna yang menunggu jawaban dengan gelisah. "Ada, sih."
"Siapa?! Gak pernah cerita," Luna sedikit takut.
"Dan seingatku dia tidak suka cokelat, jadi aku harus kasih apa?"
.
.
Awalnya, mereka duduk bertiga di halte. Menunggu hujan reda dan mengeringkan tubuh yang basah kuyup. Ini ide Luna yang iseng mengajak mereka hujan-hujanan dan lomba lari ke halte. Mereka tergelak seperti anak kecil, dan saling menyipratkan air dari kibasan rambut atau perasan seragam. Namun, baru lima menit bersenang-senang, Luna mendapat telepon Ayahnya akan menjemput karena mereka harus pergi ke suatu tempat. Jadi sekarang hanya Namjoon dan Hana yang menunggu tubuh mereka kering.
Tidak ada percakapan berarti. Hana adalah pendiam, dan Namjoon cenderung membalas ucapan ketimbang membuka obrolan. Mereka memang bersahabat bertiga sejak SMP tetapi akan lengkap jika ada Luna yang ceria. Bukan berarti ia tak suka bersama Hana berdua, hanya saja rasanya lebih canggung karena sampai kapan pun Hana tak akan mau membuka percakapan, atau sekadar mengajaknya ngobrol lebih dulu.
"Hei,"
Bahkan hanya dijawab oleh tatapan mata. "Canggung, ya."
"Maaf,"
"Untuk apa? Tidak masalah, kok." Namjoon menggaruk tengkuknya, gatal dan makin canggung dengan wajah bersalah Hana. Ia tak bermaksud menghakimini atau apa pun. "Aku hanya merasa, yah, kau tahu? Luna itu ceria sekali, ya? Tidak ada dia rasanya aneh sekali, seperti ketika matahari tenggelam dan malam tiba; begitulah."
Hana mengangguk, "Aku tahu. Dan aku minta maaf, karena tidak bisa mengajakmu bicara seperti Luna si tukang oceh. Aku juga tidak mengerti diriku sendiri, tapi kau harus tahu bukan berarti aku benci kalian. Aku hanya malas bicara, kau mengerti, 'kan?"
"Iya."
"Dan kedengarannya kau tertarik pada Luna?"
"Apa?"
Hana menatapnya dalam, "Yang tadi."
Kemudian Namjoon diam, dan meneguk ludahnya lambat. Ia menatap mata Hana cukup lama sampai akhirnya ia melepas ranselnya dan membukanya, merogoh-rogoh sesuatu di dalamnya. Hana menatapnya penasaran. Wajah Namjoon berubah-ubah dari gelisah, panik, dan senang. Ia menggelengkan kepalanya dan menatap langit yang sudah terang. Hujan sudah berhenti. Ia memeriksa tubuhnya sendiri dan mendapati seragamnya sedikit lebih baik dari basah kuyup.
"Hei, sudah tidak hujan. Ayo pulang –"
Dan ia tidak bisa menahan ekspresi kagetnya. Ia baru saja menoleh ke arah Namjoon dan mendapatinya menyodorkan sebatang cokelat.
"N-Namjoon –"
Pria itu tersenyum, "Untukmu."
Hana terbengong dengan konyol. Matanya mengerjap banyak-banyak. Kebingungan melihat Namjoon memberikannya cokelat. Jika saja ini hari biasa, mungkin ia tidak akan berpikir macam-macam tetapi ini adalah empat belas februari, dan mereka baru saja membahas ini. Bibirnya bergetar seiring hatinya yang bekecamuk tidak karuan. Matanya menatap liar, tidak tahu harus merespon apa selain meneguk ludahnya sendiri.
"Kau tahu artinya, 'kan?"
Kepalanya ia tolehkan, "T-Tapi kau bilang –"
"Kau pernah bilang, kau tidak suka cokelat." Namjoon memangku cokelat di genggamannya, pandangannya masih pada Hana yang gelagapan, dan itu terlihat lucu di matanya. "Karena kau bilang, itu membuatmu sakit gigi. Dan rasanya yang terlalu manis membuatmu mual. Kali ini aku berikan cokelat yang bisa kau makan," ia menyodorkannya lagi, "Dark chocolate."
"Aku tidak..."
"Kaget? Maaf. Tadi aku berkata begitu supaya tidak ketahuan. Aku tahu kau suka cokelat, meski hanya dark chocolate. Aku bilang seperti yang tadi siang itu supaya kelihatan misterius saja, gitu. Yah, walaupun gagal sih." Namjoon tergelak sendiri.
Sementara Hana masih pada posisinya, tidak tahu harus melakukan apa. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kehabisan akal oleh perangai Namjoon yang tidak diduganya. Berulangkali ia mengatakan bahwa ini salah; ini tidak benar. Ada Luna yang menitipkan harapan di genggamannya, ada Luna yang menggantungkan harapannya pada Namjoon, yang bertingkah sabar ketika Namjoon didekati cewek lain, yang salah tingkah saat digoda Namjoon, yang memekik senang ketika Namjoon membuatnya bahagia, yang sedih ketika Namjoon berduka. Ada Luna yang mencintai Namjoon begitu dalam.
"Mm, Hana.. kau tahu, aku –"
Ingin sekali Hana pergi dari situasi ini.
" –menyukaimu. Mau jadi pacarku?"
.
[tiga jam lalu, di sekolah, setelah perbincangan makan siang]
"Hei, apa orang yang dimaksud itu aku?"
Luna menangkup wajahnya yang menghangat dan merah. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya yang berdenyut. Sesekali memekik girang sampai Hana nyaris tuli. Gadis ini memang suka bertingkah menyebalkan. "Bisa jadi,"
"Dia bilang perempuan yang disuka itu tidak suka cokelat,"
"Bukannya kau suka cokelat?"
Luna mendengus, "Bodoh! Itu hanya alasan, tahu! Aku ini alergi cokelat; jadi secara tidak langsung aku tidak suka cokelat. Itu maksudnya!"
Oh, begitu ya?
.
.
"Namjoon,"
Pria itu hanya menggumam sampai Luna gemas. "Kalo diajak bicara itu dilihat orangnya, bukan main ponsel. Buang semua game pornomu itu, jebal."
"Apa, sih?"
"Besok kau ada waktu tidak?"
Namjoon mengerutkan dahi, menjawab dengan ragu, "Mau pergi kemana? Bertiga?" ia memasukkan ponselnya ke dalam saku seragam sekolahnya. Ekor matanya melirik Luna yang tampak sedikit kecewa dan merengut tipis. Mereka duduk berdua, menunggu Hana yang sedang pipis di toilet karena kebanyakan tertawa. Begitu ia fokus sepenuhnya pada wajah Luna yang sedikit merah (dan Namjoon khawatir sahabatnya sakit), Luna menjawab, "Berdua saja memangnya tidak boleh?"
"Biasanya 'kan bertiga. Hanya heran saja, kok."
"Ya, aku maunya berdua gitu."
"Biasanya cewek suka jalan-jalan bareng,"
Luna mendengus, "Kau sebegitu tidak sukanya jalan denganku?!"
"Cuma bertanya, kok." Kali ini Namjoon bingung dengan tingkah Luna. Tidak ada yang salah dengan pertanyaannya tadi, tetapi itu sedikit membingungkan mengapa dia tidak mengajak Hana ikut bersama jika biasanya salah satu dari mereka tidak bisa pergi, maka Luna juga malas. Nah, ini dia akan mengajaknya pergi berdua. Namjoon membuka perkiraan di dalam otaknya; barangkali ada sesuatu yang harus mereka lakukan berdua? Tetapi dia belum menemukan apa itu. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Seingatnya Hana belum akan berulang tahun, jadi kemungkinan mereka membeli kado atau memberi kejutan untuknya itu salah. "Sudahlah. Aku tidak hatam kode perempuan."
"Ya intinya mau tidak pergi denganku?"
"Kemana?"
"Enaknya kemana?"
"Loh kan kamu yang ajak pergi."
"Akan aku pikir lagi," Luna gemas. "Bisa tidak?"
Namjoon melirik Hana yang keluar toilet dan menepuk-nepuk seragamnya yang lecek sebentar, kemudian membalas tatapan menunggu teman cewek di hadapannya. "Maaf. Aku ada urusan lain."
.
.
Pagi-pagi, pintu rumah Hana terketuk.
"Namjoon?"
"Hai,"
Hana mendorong tubuh tinggi Namjoon yang hendak masuk rumahnya. Sejak menjadi sahabat, teman-teman anehnya suka menjadikan rumahnya menjadi rumah mereka. Mungkin konsep 'anggap rumah sendiri' itu seharusnya tidak ia ucapkan saat pertama mereka berkunjung. Ia memindai tampilan Namjoon yang rapi. Kaus biru dongker dengan garis putih melintang, celana jeans yang sobek di lutut dan beberapa bagian paha, converse merah favoritnya, dan jam tangan di lengan kirinya yang besar. Rambutnya disisir rapi, terlihat seperti gumpalan kapas berwarna cokelat karamel. "Buat apa kemari?"
"Mengajakmu pergi," ia menunjukkan senyum dan giginya yang rapi.
"Kita tidak buat janji."
"Memang tidak. Aku tunggu, ganti baju sana."
Sadar bahwa ini salah, Hana menggeleng. "Kalau kau memang tidak ada kerjaan, kenapa menolak ajakan Luna?" dia berkata santai, sampai Namjoon terhenyak dan bengong. Kerut di dahinya tercetak, karena dia tidak mengerti. "Telepon Luna sana, dia pasti masih mau pergi denganmu."
"Apa Luna cerita padamu?"
Mulut Hana bungkam. Entah karena malas atau takut. "Sudah kubilang, tidak perlu khawatir. Kita bertiga tetap akan bersahabat. Jangan campakkan aku dengan alasan klise itu, Hana. Memang kenapa kalau Luna tahu? Tidak akan ada yang berubah," ia mencekal lengan Hana yang tadi sudah hampir masuk dan tak mau mendengar. "Dengar, jangan jadikan Luna sebagai alasan. Perlakukan aku sesuai kata hatimu saja,"
"Kau bercanda?" Hana menarik lengannya, "Aku tidak ada rasa padamu."
"Bohong."
"Terserahmu, Namjoon."
Terkadang pola pikir lelaki adalah satu dari sekian banyak hal yang tak dia mengerti. Laki-laki bisa dengan mudah berkata: semua baik-baik saja. Padahal nyatanya tidak seperti itu, ini bukan sebuah drama dengan skrip, atau game yang punya chip, atau film Disney dengan akhir indahnya yang menyentuh. Dunia itu bagian satu dari neraka. Kubangan dosa yang nyatanya sedalam palung jika sekali jatuh. Hana tidak setuju dengan debat Namjoon. Akan tetapi ia juga tidak banyak berdalih, karena ia sudah berjanji merahasiakan perasaan Luna untuk Namjoon; sampai Luna menyatakannya sendiri. Dan hal yang membuatnya kesal adalah betapa sahabat cowoknya sangat tidak paham perempuan. Dia mungkin pandai dalam filosofi dan cerdas bertutur kata tetapi dia betul-betul bodoh menyikapi hal picisan begini. Dia tidak mengerti bagaimana Luna telah berubah untuknya dan dia tidak mengerti kalau Hana tidak ingin merusak apa pun.
Meski satu jiwa egoisnya ingin sekali.
"Jangan sia-siakan penampilan kerenmu hari ini,"
"Hana –"
Cepat perempuan itu menutup pintu. "Hubungi Luna dan pergilah!"
.
Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya Namjoon ditolak. Biasanya perempuan akan lebih dulu menyatakan perasaan padanya; semua dia tolak. Dulu dia hanya mencintai buku dan film fantasi seperti Harry Potter dan Lord Of The Ring. Dan bersahabat dengan perempuan membuatnya terlalu nyaman sampai-sampai ia berpikir apakah dia satu dari kaum gay itu? Tapi dia menjernihkan pikirannya ketika melihat grup After School tampil di tv saat main ke rumah Hana. Saat itu dia terbengong-bengong menatap paha dan dada mereka. Begitu liurnya menetes, dia lega karena tahu dia masih normal.
Ini cinta pertamanya. Jika diingat, sudah sejak kelas tiga SMP. Hana yang pendiam dan tidak banyak tingkah justru menarik perhatiannya. Satu momen ketika ia memahami arti dari peribahasa: jangan menilai isi buku dari sampulnya. Namjoon yang selalu enggan dan berpikir Hana adalah pribadi kelewat cuek, harus tertohok begitu menemukannya dengan cahaya senter. Memekik dengan suara seraknya dan terburu menuruni jalan yang curam. Menolongnya yang terperosok saat mendaki dan tidak ada yang menyadari. Tetapi Hana berani, menantang malam dan cerita hantu yang disampaikan kawan mereka. Membopongnya dengan kuat. Membantunya naik, meski ia tahu Hana juga takut dan sakit. Saat itu ia tahu Hana orang yang luar biasa.
Dan cinta itu tumbuh begitu saja.
"Hah, bikin galau saja." Namjoon membuka bungkus lolipopnya dan mengemutnya dengan menggeram sebal. Hatinya masih sakit diperlakukan seperti tadi. Kesepian malah membuatnya mengingat masa-masa ia jatuh cinta dengan Hana, dan itu membuatnya sedih. Namjoon duduk di depan minimarket, menatap jalan yang ramai. Ia mendesah sedih. "Sudah ganteng begini padahal."
Agak lama dia merenung sampai ia mendengar derap langkah kaki mendekat, "Namjoon!"
"Luna?"
"Apa yang kau lakukan? Katanya ada urusan?"
Namjoon merengut tipis, "Tidak jadi. Orangnya marah,"
"Siapa? Memangnya kalian ada urusan apa, sih?"
"Bisnis." Hm. Bisnis kepalamu gundul, Namjoon.
Luna bertepuk tangan kecil, dan Namjoon tidak mengerti kenapa ia melakukan itu. Wajahnya juga tampak senang dan bergumam sendiri. Belakangan ini ia sering berpikir kalau Luna punya penyakit: jadi orang aneh. Ia baru akan bertanya ketika seorang pria tegap dengan setelan jas mengilat mendekat, mengusak rambut Luna yang rapi. "Ayah, ini Namjoon."
"Apa kabar,"
Pria yang sewangi apel itu menjabat lengan Namjoon. "Jadi ini Namjoon itu?"
"Saya teman Luna sejak SMP, Om."
"Ah, formal banget." Luna menepuk bahu Namjoon, "Salah Ayahku yang terlalu sibuk bekerja keliling dunia sampai tidak tahu siapa temanku. Kalau aku tidak kirim chat mungkin dia juga lupa punya anak." Ucapan frontal itu terdengar jenaka meski secara literatur sangat menyakiti. Mereka bertiga tertawa ringan dan Ayah Luna nampak keren ketika tertawa. Namjoon dapat merasakan ketegasan dan kehangatan di dalam diri pria itu. "Oh, Ayah. Karena ada Namjoon disini, aku pergi dengannya saja, ya?"
Pria itu menatap Namjoon, "Tidak apa-apa?"
"Ya, saya juga sedang senggang."
"Oke, kamu bawa mobil untuk membawanya pergi dan mengantarnya pulang?"
Ah, itu terdengar sedikit... menantang? Luna menyikut perut Ayahnya. "Apa sih! Aku bisa pulang naik bus dengannya, enak jalan kaki. Bisa menikmati jalan berlama-lama." Dan kalimat terakhir itu ia ucapkan malu-malu. Dia sudah membayangkan akan berjalan kaki bersama Namjoon yang mengantarnya pulang ke rumah. Oh, hatinya berdebar tidak karuan hanya dengan mengimpikannya. Dan sejak tadi ia susah bernapas karena penampilan Namjoon itu benar-benar kasual tetapi nampak pas untuk tubuh jangkungnya yang berisi dan tegap.
"Baiklah. Hati-hati."
.
"Namjoon,"
"Apa?"
Luna memperlambat langkahnya untuk menatap bintang-bintang di langit. Bertaburan seperti garam di atas nasi. Bulannya penuh seperti pupil Namjoon yang bersinar. Yang dia heran adalah mengapa Namjoon tetap harum sitrus setelah berjalan-jalan. Bahkan dia sendiri pun tak yakin parfumnya masih menempel. "Soal cokelat dan perempuan yang kau suka itu... sudah kau kasih tahu perasaanmu?"
Ada jeda waktu sampai Namjoon memilih, "Aku tidak berani.", berbohong.
"Oh. Begitu, ya? Valentine berikutnya, nyatakan, dong!"
"Oke."
"Kenapa begitu? Suaramu terdengar jelek," Luna menegok, memerhatikan wajah Namjoon yang muram. Dia jadi merasa bersalah karena Namjoon pasti lelah menemaninya belanja kesana kemari. Bahkan masih harus mengantarnya pulang. Tetapi dia tersenyum, menyemangati Namjoon supaya jalan terus dan dia janji akan memberikannya es teh saat tiba. "Ayo dong, cowok kok lemah? Nanti aku masak nasi goreng untukmu, deh. Hei, senyum, dong."
Namjoon menatapnya malas. "Iiiih ayo senyum!"
"Nih." Ia menarik sudut bibirnya dengan cepat, Luna mencubitnya gemas dan tergelak seolah Namjoon sedang melawak. Padahal wajahnya suram. "Ah, kau ini. Aku jadi berpikir ingin membuatkanmu kue juga. Kau pandai membuatku jadi pelayanmu, sial."
"Pelayan apanya. Aku membawakan belanjaanmu yang membuatku pegal, tahu! Kau ini belanja barang apa sekalian seisi toko kau beli?!"
Gelaknya meledak. "Siapa yang bilang begini: cowok harus jadi ksatria untuk cewek. Sini kubantu bawakan barangmu."
"Kau gila!"
Mereka berjalan lagi. Tidak melanjutkan percakapan. Luna sudah capek tertawa dan haus, sedang Namjoon benar-benar lelah dengan kantung belanja Luna yang tergantung di dua tangannya. Rasanya seperti tangannya akan copot karena sekarang sudah mulai kebas. Dan entah mengapa jalur menuju rumah Luna seakan tak ada ujungnya. Tak sampai-sampai. Ia mendesah ketika napasnya hampir habis di tiap langkahnya. Ia berjalan sedikit lebih cepat karena nyaris tidak kuat, meninggalkan Luna yang termenung di belakang. "Hei! Apa yang kau lakukan? Aku pegal."
"Namjoon,"
"Apa..." suaranya terdengar malas.
"Aku tidak bisa menunggu lagi."
Namjoon mengernyitkan dahi, "Aku juga, jadi ayo gerakkan kaki babimu supaya cepat sampai dan aku mendapatkan es teh dan nasi gorengku!" tetapi Luna bergeming, tidak mendengar kalimat Namjoon yang marah. Jemarinya ia kaitkan gelisah, dan matanya bergerak liar. Namjoon kesal dengan tingkanya yang aneh; sebentar begini sebentar begitu. "Hei, Luna!"
Teriakan itu mengagetkannya.
Mata itu bertemu. Hingga Namjoon terhenyak dengan pendar pupil Luna yang berbeda. Dia tidak sedang bergurau atau mengajak ribut. Wajahnya campur aduk. Dan itu sedikit banyak mengganggunya karena Luna tampak sedih. "H-Hei, kau kenapa?"
"Aku suka kamu, Namjoon."
Fakta itu mengejutkannya. Dia tidak tahu. Betapa konyolnya.
"Aku mengira perempuan yang kau bilang tidak suka cokelat itu adalah aku. Jadi aku menunggu dengan sabar, kapan kau akan mengatakan suka padaku. Tapi sampai sekarang pun tidak ada apa-apa. Bahkan kau bilang; kau tidak berani. Kalau begitu, aku saja, Namjoon. Aku saja yang bilang dan menyatakannya: aku suka kamu!"
"Luna..."
Wajahnya menunduk, "Kedengarannya, gadis itu bukan aku. Iya?"
"Aku ingin mempertahankan persahabatan kita,"
"Oh, begitu." Kemudian Luna berlari kencang menuju Namjoon dan menarik paksa kantung belanjanya dan berlalu. Meninggalkan Namjoon yang berteriak memanggil-manggil, dan menenteng dua tiga kantung yang tidak bisa (atau tidak sempat) Luna ambil alih. Tetapi Luna justru berlari, menjauh, berusaha tidak mendengar pekikan Namjoon yang bahkan hanya bisa berdiri dengan bodoh dan menatap punggung kecil sahabatnya menghilang dimakan malam.
Namjoon menunduk. Malu. Karena telah memperlakukan sahabatnya begitu buruk. Ia berpikir lagi, bagaimana bisa setelah ini persahabatan mereka kembali? Bahkan Hana sudah mulai menjaga jarak, dan penolakan Namjoon untuk Luna hanya memperburuk keadaan. Dia tidak menyangka hubungan ini bisa jadi rumit. Cinta diantara persahabatan merusak segalanya. Dan Namjoon hanya bisa menghela karena tidak tahu apa yang harus dilakukan oleh seorang lelaki.
Suasana di kelas ribut. Satu jam setelah Ibu Guru Nam memberi petuah tentang perubahan perilaku, nilai, tugas, kelas tambahan, dan formulir minat universitas suasana kelas ricuh. Telinga mereka panas mendengar ocehan Ibu Nam. Yang lain berdiskusi karena buntu pikiran universitas mana yang akan mereka pilih. Sebagian yang tidak peduli melipat formulir untuk jadi pesawat mainan. Tergelak seperti anak SD habis diberi makan gratis.
Jungkook duduk dan berpikir. Menatap formulirnya dengan bimbang, sesekali melirik Jihoon yang mengambil duduk dihadapannya. Mereka berhadapan. Kaki Jihoon mengangkang dan nyaris tidak menapak lantai. Saudaranya itu sama bingung, beberapa kali searching di Naver tentang universitas favorit dan kejurusan yang menarik minatnya. "Bukannya kau suka biologi?"
"Iya. Tapi tidak mau itu, kurasa."
"Lalu apa?"
Ia berdengung sejenak, "Mungkin kesenian? Aku ingin ambil kelas vokal atau musik."
"Aku tidak tahu kau suka musik." Kata Jungkook yang penasaran. Jihoon hanya mengendikkan bahunya tidak begitu peduli. Masih fokus dengan layar ponselnya dengan daftar universitas yang kemungkinan akan ia pilih nantinya. "Kau sendiri akan masuk universitas mana? Jurusan apa?"
"Hm, mungkin bisnis."
"Menarik, kenapa?"
"Aku ingin punya perusahaanku sendiri dan jadi kaya raya," ucapnya dengan gamang dan terkekeh di akhir. Merasa konyol dengan pendapatnya sendiri. Dia yang malas berpikir dan bekerja masih sempat bermimpi jadi pebisnis sukses di masa depan. saat ini pun, ia bekerja dengan kotor; menjajakan tubuhnya untuk perempuan yang haus belaian. Demi segepok uang, ia rela jadi hina. Lalu untuk apa ia bermimpi tinggi-tinggi? Jauh dia berpikir, tiba-tiba bayang Taehyung mampir di benaknya. Ah, Kakaknya. Mungkin satu-satunya alasan ia bertahan dengan mimpi bodohnya adalah karena ada seseorang yang ingin ia banggakan. Ia ingin Taehyung melihat kerja kerasnya, ia ingin Taehyung tersenyum bangga dan memeluknya, ia ingin melihat Taehyung hidup di depan matanya. Jadi mungkin, jalur tercepat menjadi sukses adalah menjadi pebisnis.
Jihoon mengetuk dahi Jungkook dengan pena, "Cepat diisi! Jam tiga harus dikumpul."
"Mungkin Konkuk cukup keren?"
.
.
"Terima kasih, Jungkook-ssi."
Pemuda itu mengangguk kecil, "Saya pamit, Seonsaengnim." Kemudian melangkah keluar dan menutup pintu. Ketua kelas menyuruhnya menyerahkan formulir minat universitas. Jungkook mendesah capek. Memutuskan akan ke kantin membeli air namun lebih dulu bertatap muka dengan Mingyu yang sedang mengambil bola yang menggelinding ke arahnya.
Dapat dilihat Mingyu agak ragu mendekat, tetapi akhirnya ia memberanikan diri untuk membawa tubuhnya membungkuk dan mengambil bola di sebelah kaki Jungkook. Kalau tidak salah lihat, ekor mata Mingyu kedapatan kaki Jungkook yang gemetar. Ia bangkit, berdiri memberi ruang baginya berhadapan dengan kawannya. Mereka bertatapan, meski Jungkook harus sedikit mendongak karena Mingyu lebih tinggi darinya. Tetapi mereka masih diam, seperti ragu untuk bicara barang satu kata; meski nyatanya memang begitu. Mingyu bukan tipikal orang yang mudah membuka percakapan, dia hanya meremat bola sepak di tangannya dan memandang rambut hitam Jungkook yang dia rindukan. "Apa kau tidak apa-apa?"
"Hm?" Jungkook mengerjap tak paham.
"Apa bolanya melukaimu?"
"O-Oh, tidak! Tidak sama sekali," Jungkook menggigit lidahnya, "Itu tadi hanya menggelinding pelan kemari. B-Bolanya sama sekali tidak mengenaiku. A-Aku oke,"
Mingyu mengangguk. Kehabisan topik. "Baiklah."
"M-Mingyu –!"
Pemuda itu sudah berbalik dan hendak kembali ke lapangan, tetapi pekikan Jungkook yang tersendat itu menggelitik telinganya. Maka ia memutar kembali tubuhnya, menubrukkan mata tajamnya pada binar bulat Jungkook. Oh, dia juga rindu mata itu. "Kau sudah tahu akan masuk universitas mana?" Jungkook bahkan tidak mengerti kenapa ia menanyakan ini.
Memang peduli apa? Toh, mereka sudah bukan teman... 'kan?
"Belum kepikiran. Kau sendiri?"
Ada senyum simpul di bibir Jungkook begitu Mingyu menanggapi pertanyaan konyolnya dengan baik. Jujur sahja dia merindukan kawan pendiam yang satu ini. "Bisnis, di Konkuk... mungkin?"
"Itu bagus. Aku tak tahu kau suka berdagang."
Gelaknya lepas. "Aku akan mendirikan perusahaan sehebat Samsung."
"Tidak, harus lebih hebat." Jungkook tersenyum karena semangat dari Mingyu, "Iya."
Lalu mereka diam lagi. Jungkook kehabisan topik, dan Mingyu juga sepertinya sama. Mereka hanya melirik-lirik, tidak berani tatap mata. Sampai akhirnya Mingyu memutar balik tubuhnya dan melangkah pergi, Jungkook hanya memandangi tubuh menjulangnya. Untuk kemudian ia ambil napas dan memanggilnya lagi. Mingyu hanya menolehkan kepalanya.
"Aku rindu kalian."
Kalimat itu mungkin memiliki arti bagi Mingyu. Meski dia hanya diam saja, tetapi pupilnya bergetar dan pandangnya dialihkan. Jungkook menggigit pipi bagian dalamnya, merasa takut dan bodoh sudah mengatakan hal yang tak seharusnya dia katakan. Kalau pun memang begitu, seharusnya Jungkook memendamnya sendiri. Mereka tidak berkawan seperti dulu lagi, ada status yang berbeda diantara mereka sekarang. Seperti tembok yang membatasi dua negara yang bersinggungan. Padahal Jungkook yang membangun dindingnya sendiri, tetapi dia juga yang mengeluh tak dapat melihat ke depan. Masih bisa berkata: aku rindu, padahal seharusnya dia tidak pantas bicara begitu pada orang yang disakitinya.
"Aku tidak tahu," Mingyu berujar. "Seokmin marah besar, tetapi aku tahu dia –kami, tidak bisa bisa membencimu. Meski nyatanya kau sebrengsek itu, ada hal yang membuat kami tidak bisa berkata: aku benci Jungkook. Entahlah, kita sudah besar. Masalah begini seharusnya bisa diselesaikan dengan baik. Maksudku, cowok merokok lalu kenapa?" ia memutar-mutar bola dan memandanginya. "Tetapi tetap ada hal yang membuat kami merasa jauh, Jungkook. Sesulit apapun kami coba untuk memahami, kami tidak bisa. Ada hal yang membuat kita seperti burung yang beda pendapat dan memilih jalannya masing-masing. Yang membuat kita jadi seperti ini,"
Jungkook bernapas dengan berat.
"Kepercayaan," Mingyu menambahkan, ia tersenyum simpul. Tapi hatinya tak bahagia, "Hal itu terkikis sejak saat itu. Kau tahu, ketika aku menemukan kau mengakui kebrengsekanmu sendiri dan tak bisa mengelak, aku marah. Aku ingin marah. Ibu mendidikku untuk berkepala dingin dan diam menyikapi masalah. Tapi hari itu aku ingin sekali marah. Tapi ceramah Ibu menguasai pikiranku dan aku tetap diam. Meski... aku akhirnya memukul Seokmin,"
Pengakuan itu membuat Jungkook kaget dan bingung.
"Kami mungkin bicara kasar dan membentakmu, tapi kami tidak bisa memukulmu. Jadi kami beradu fisik karena kami benar-benar marah. Hanya karena kami tidak bisa melukaimu."
Jungkook tersedak, "K-Kenapa...?"
"Karena kita... teman?"
Pertanyaan menggantung itu membuat mata Jungkook basah.
Jimin memangku wajahnya, puas menatapi figur Taehyung yang mengunyah dada ayam lembutnya dengan lambat. Senyumnya tidak luntur, sesekali berkilah dan pura-pura melanjutkan makannya ketika Taehyung balas mendelik. Dia terkikik tertahan, masih melirik Taehyung yang mendengus sebal dan memukul dahinya dengan garpu. "Apa, sih, Dear?"
"Makan yang benar, jangan lihat-lihat aku!"
"Lihat mukamu aku kenyang," Jimin berkedip nakal, "Jadi ingin makan."
Selanjutnya Taehyung terhenyak. Seperti jantungnya terpukul kuat sampai rasanya mengejutkan dan sakit dada. Dia tahu Jimin hanya menggodanya tetapi dia masih menyimpan ketakutan di dalam dirinya mengenai sesuatu tentang hal menjurus kesana. Ia tahu Jimin tidak bermaksud menyakitinya tetapi ia masih takut mendengarnya. Lirih dia berkata, "A-Aku bukan.. makanan,"
"O-Oh... Tae, aku.. aku tak bermaksud."
Taehyung diam, memasukkan daging ayamnya lambat. Jimin menghela, "Maafkan aku. Aku salah bicara, aku tidak bermaksud. Meski kalimatku mengatakan sebaliknya. Maaf." Jimin tersenyum kecil dan mendekat, memberi satu kecup cepat di bibir Taehyung. Pemuda yang diciumnya kaget, matanya berbinar lucu dan pipinya merah muda; membuat Jimin jadi gemas luar biasa pada pacarnya ini. Baru ingin menggodanya lagi, ia sudah memekik karena Taehyung mencubit pinggangnya dengan brutal. "A-Aaah! Sakit! Sakit, adu-duh!"
"Cium-cium tidak tahu tempat!"
Jimin merengut pasang wajah lucu, "Kan biar Taetae tidak sedih lagi, ung ung?" bahkan sempat menambahkan aegyeo yang mana membuat Taehyung sedikit muak tetapi gemas juga karena sebenarnya Jimin itu lucu: kalau tidak mencoba tegas dalam berciuman. Hm. Taehyung memutar matanya, melarikan jemarinya mencubit ringan pipi Jimin yang berisi. "Aku masih bekerja, Jimin. Kalau kamu cium pas ketahuan orang kan aku malu! Lagian kenapa bawakan aku makan segala? Kasihan Jaehwan hyung makan siang sendiri, aduh nyebelin." Ia berdecak, "Harus ya kita makan di balik meja kasir begini?"
Gelak tawa Jimin meledak tak karuan. "Pacar yang baik ya perhatian begini."
"Terserahmu lah."
"Oh iya, bukankah Jungkook akan ujian kelulusan?"
Fokusnya teralih, topik yang menarik. "Benarkah? Aku tidak tahu, kapan itu?"
"Kata Jihyun sih, besok." Jimin mengingat-ingat cerita sepupunya yang sudah kelas tiga SMA. Dan karena itu dia mengatakannya pada Taehyung karena dia punya adik di tingkat sama. Meski ia belum bisa sepenuhnya memaafkan Jungkook, ia mencoba bersabar karena Taehyung teramat sayang pada adiknya. Ketika Taehyung bahagia karena adiknya, maka tak ada yang membahagiakan hati Jimin lebih dari itu. "Kau tidak mau kirim surat atau apa... gitu? Seperti yang biasa kau lakukan?"
"Aku kehabisan topik."
"Ayolah, kau selalu banyak oceh saat bersamaku," Jimin menjawil dagu Taehyung, "Dan lama tak bertemu dengannya pasti membuatmu menabung banyak cerita untuknya. Momen-momen yang kau dapatkan selama tak ada Jungkook bisa kau ceritakan, dan kau bisa memberi sesuatu seperti.. pensil atau pena? Untuk dipakainya saat ujian."
Taehyung berpikir sejenak. "Begitukah? Tapi aku tak yakin akan mengirimkannya ke sekolah lagi. Entahlah, apa menurutmu memberinya surat ke rumah adalah ide bagus?"
"Wah, pintarnya pacarku!" Jimin berseru gembira.
"Kelihatannya kau senang?"
"Tentu. Sudah ratusan kali kukatakan: temui adikmu. Aku tidak mengerti kisah persaudaraan, tapi aku tahu ini sulit untuk dilalui sepasang saudara. Terpisah begitu lama dengan ketidakadilan, pasti membuatmu jutaan kali lebih rindu. Aku paham, Taehyung." Jimin menepuk kepala Taehyung, mengelusnya lembut berkali-kali tanpa bosan. "Kalau kau berani lebih dekat dengannya, itu bagus. Walaupun aku mengerti alasanmu pergi. Supaya kau melupakan sakit itu, 'kan? Supaya menghukum dirimu sendiri? Tuhan sudah memaafkanmu, Taehyung. Kau punya hak menjadi lebih dekat dengan saudaramu. Dan kurasa Jungkook pasti senang mendapat surat dan barang darimu, yeah, meski hanya sebuah pemberian. Tapi aku yakin dia jauh akan lebih senang jika menerimanya di rumah."
Taehyung tersenyum simpul. "Menurutmu begitu?"
"Apa pun keputusanmu, aku mendukungmu."
Bunyi denting memantul-mantul. Ada suara kecap lidah dan tegukan air yang lewat kerongkongan. Suasananya cukup hening untuk dikategorikan makan malam yang harmonis, yang biasa. Bahkan Namjoon yang biasa berceloteh menanyakan ini itu hanya terdiam menikmati makan malamnya. Wajahnya nampak lelah dan tak mau diganggu. Tetapi Jihoon tidak betah dengan keheningan saat makan malam jadi dia membuka percakapan. "Ayah, tidak mau beri kami sesuatu?"
"Oh ya, kalian sudah selesai ujian, ya?"
Mereka mengangguk lucu. "Bagaimana kemarin? Sulit tidak?"
"Lumayan, lah." Jihoon meneguk airnya dan bergerak gemas di kursinya. "Karena kami sudah bekerja keras, apa Ayah tidak berniat memberikan sesuatu? Maksudku, Ayah jadi super sibuk belakangan ini. Bahkan pergi bekerja di hari Minggu. Bukankah menyenangkan kalau kita pergi merayakannya? Karena kurasa kalau sudah pengumuman, kami akan pergi dengan teman-teman."
Jungkook setuju, "Boleh juga."
"Ayah tidak bisa janji, kids."
"Yah... kenapa?"
Namjoon menepuk bahu mungil Jihoon. "Perusahaan sedang sibuk sekali, Ayah benar-benar bekerja keras kali ini. Jika kalian berharap kita pergi dalam waktu dekat, Ayah rasa Ayah tidak bisa. Maaf sekali. Paling tidak baru dua bulan ke depan kita bisa bersenang-senang,"
"Lama sekali," keluh Jungkook.
Namjoon tersenyum menanggapi. "Tidak apa. Pergilah dengan teman-teman, kapan pun kalian butuh uang jangan pernah sungkan untuk bilang ke Ayah. Oke?"
"Oke," mereka menjawab dengan kecewa.
.
.
Jungkook pamit keluar, berkata dia butuh susu stroberi. Padahal sebenarnya dia hanya ingin menghirup angin malam yang sejuknya menusuk kulit. Kepalanya penat setelah mengerjakan serangkaian ujian kemarin. Seperti yang Jihoon katakan, dia butuh refreshing dan bepergian. Jika Namjoon tidak bisa maka dia akan pergi sendiri. Dia sudah baik hati mengajak Jihoon tetapi saudara malasnya sudah asyik bergerumul di dalam selimut.
Hoodie abu-abunya ia pakai, beres pakai sepatu ia tutup pintu. Melangkah keluar dengan santai dan menoleh pada kotak surat yang hampir reyot karena karat. Dia tidak tahu kenapa ia begitu tertarik dengan itu, perasaannya bilang; siapa tahu ada orang yang masih kirim surat di jaman seperti ini. Atau bahkan ada surat untuknya? Meski ia lebih yakin kotak terbengkalai itu lebih cocok untuk jadi kandang tikus atau kalong yang nyasar ke rumahnya.
Dengan sedikit penasaran Jungkook membuka kotak usang itu. Bunyi reyot yang nyaring memekakkan telinganya. Ketika ia melongok, tak dapat dipungkiri ia terkejut mendapat sebuah surat dengan amplop panjang. Ia meraihnya dan merasa bingung; bagaimana tak seorang pun di rumah sadar ada surat yang sampai? Ia mengernyit menemukan guratan namanya di lembar depan. Jadi dia membukanya semakin penasaran.
[Mungkin ini terlambat. Tetapi semoga ujianmu lancar dan dapat nilai bagus, jadi kau bisa masuk universitas bagus! Oh, atau kau mau ikut audisi agensi; seperti yang kau pernah mimpikan itu? Hyung masih ingat, loh. Jihoon bercerita kalau Kookie sekarang rajin dan itu membuatku senang, jadi teruskan, ya! Aku tak tahu apa ini berguna untukmu tapi Jimin berkata aku bisa memberikanmu pensil dan pena untuk dipakai ujian. Kalau tidak, ya simpan saja. Tahu tidak, aku yakin kau lulus dan aku bisa membayangkan kamu memakai almamater fakultasmu nanti.]
"Masih saja bodoh," Jungkook tertawa. Memutar pensil dan pena di tangannya dan memandanginya lama sekali. Senyumnya tipis dan itu membuatnya rindu pada Kakaknya. Ia tidak tahu apa mungkin Kakaknya sudah makan malam atau belum. Ia bernapas dalam dan merasa lega karena punya rasa penasaran pada kotak surat. Kalau tidak mungkin surat ini tak akan sampai di tangannya seperti saat ini. Ia memasukkannya lagi ke dalam amplop dan masuk kantung hoodienya.
Ia menatap langit dan tersenyum, "Hah.. malam yang dingin."
.
.
Jungkook langsung meminum susu stroberinya setelah membayar. Satu kotak lagi dia masukkan ke kantung celana trainingnya. Hembusan AC sedikit membuatnya meremang dingin tetapi dia suka perasaan kedinginan seperti ini. Menantang tetapi tenang. Dia hendak keluar toko kalau matanya tidak kedapatan Kakaknya sedang makan mi instan di bangku yang berhadapan dengan jendela kaca toko, jadi pemuda itu dapat melihat kepulan asap dari kuah mi mendidih dan juga dari mulutnya yang kepanasan dan kepedasan.
Mereka dalam satu garis yang sama, bersebelahan dengan jarak. Jungkook menatapnya dari tempat dia berdiri. Lama sekali sampai akhirnya dia berkedip lambat, memindai figur Taehyung dalam kepalanya untuk dapat ia ingat kembali. Tubuh Kakaknya sedikit lebih kurus, meski rambut tebal panjangnya memberi ilusi. Sejujurnya ia ingin berlari dan menarik mangkuk mi itu dan memarahi Kakaknya karena masih sempat makan mi malam-malam. Seharusnya dia makan nasi, sayur, dan daging supaya gemuk dan sehat. Dan terakhir, kenapa Taehyung tidak di rumah selarut ini?
Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu.
Sadar ini bukan waktu yang tepat, Jungkook mengalihkan pandangannya lagi. Matanya mengeja tulisan dorong di pintu kanan dan tarik di pintu kiri. Ada jeda sekitar lima detik sampai akhirnya ia menyedot susunya dan pergi. Tanpa menimbulkan suara yang menarik.
Kenangan pahit apa yang terjadi di masa lalu, Kak?
Jungkook meremas karton susunya. Apa benar Mama meninggal karena sakit perut?
Hah. Konyol. Itu 'kan hanya ucapan anak kecil.
Jungkook mengusak rambutnya kasar dan menggeram. Lalu kenapa tidak jujur padaku kalau kau kehilangan Mama dengan begitu pedihnya? Apa kau tidak percaya aku?
Siapa? Siapa bajingan yang melukai kalian?
.
"Ah.. lumayan, kenyang." Taehyung mendesah lega karena perutnya menghangat. Ia menyeruput kuah mi yang hampir dingin dengan cepat sampai tak bersisa. Memberi dirinya waktu untuk sendawa dan mengelus perutnya yang terasa nyaman. Sadar sudah terlalu malam, ia bangkit untuk pulang. Sampah ia bawa untuk dibuang, tempat sampah ada di luar sebenarnya tetapi karena sering kemari dan mengenal penjaga shift malam, dia suka membuangnya di balik meja kasir dan mengobrol sebentar. "Jisoo, aku mau air yang dingin ya. Satu."
Jisoo menahan tangan Taehyung yang sudah membuka dompetnya. "Seorang pembeli memberimu ini tadi sebelum dia pergi."
"Susu cokelat?"
Yang ditanya mengangkat bahunya tidak paham. "Dia hanya bilang untuk memberikan ini padamu supaya kau tidak perlu beli minum. Tapi aku tak kenal siapa dia,"
"Oh, begitu. Seperti apa rupanya?" Taehyung meminum susu kartonnya. Dingin.
"Tinggi, rambutnya hitam, kulitnya sedikit gelap, pakai hoodie kelabu dan training."
Taehyung mengendikkan bahu. "Ya sudahlah. Lumayan. Aku pulang, ya!"
Perayaan kelulusan berjalan lancar. Kelasnya mengadakan pesta kecil di rumah Song Seungyun. Semua menikmatinya, sampai larut malam. Jungkook masuk rumah dengan tubuh yang lelah. Ia melirik jam dan berdecak karena sudah terlalu larut baginya pulang. Sepatu ia buka dengan malas, hanya ia tendang halus ke bawah rak karena sudah terlalu malas. Ia bahkan belum mandi, dan tubuhnya lengket oleh keringat. Parahnya ia kepalang capek dan ingin tidur saja. Belum tahu apa yang harus ia dahulukan, ia berjalan ke dapur untuk meneguk air dingin. Barangkali dapat menyegarkan pikirannya yang kusut.
"Jungkook,"
Kalau sistem pertahanan kagetnya buruk, mungkin Jungkook dapat menyemburkan air minumnya. Suara Namjoon yang berat dan serak membuatnya terkejut. Selain karena ia benar-benar nyaris jantungan karena dentuman suara Papanya, ia takut ia akan memarahinya karena pulang terlalu malam. Bahkan Jungkook yakin Jihoon sudah berkelanan di dalam mimpinya. Memang saudara pemalasnya itu sudah tak perlu ditanya lagi kelakuannya.
"Kaget?"
Angguknya lemas. "Kukira apa,"
"Aku sudah berpikir," Namjoon mendekat dan mengambil duduk di bangku bar, berhadapan dengan Jungkook yang berdiri di depan kulkas. Dengan sabar ia menunggu Jungkook menetralkan jantungnya dan turut duduk di sampingnya. Jungkook sudah menawarinya air tetapi Namjoon tidak nafsu minum apa pun saat ini. wajahnya tertekuk karena pusing dan mengantuk. "Mungkin ini akan jadi cerita yang panjang, dan menyedihkan. Tetapi setelah sekian lama, aku berpikir, memberitahumu adalah cara yang paling benar."
Ini yang lama ia nantikan. Namun, kenapa ia malah ingin lari?
Atau karena Jungkook belum siap?
Yang bisa dilakukannya hanya meremas sisi mugnya. "Aku... entahlah, bingung."
"Kepalaku pusing. Tak ada hentinya. Rasanya menyesakkan, menyimpan ini bertahun-tahun sampai mungkin dadaku bisa berlubang hanya karena memendamnya terlalu lama. Ini menyakitkan pula untukku, Jungkook. Tidak hanya kamu dan Kakakmu, aku juga menderita. Kenangan ini adalah pahit, yang selama ini berusaha aku kubur dalam-dalam, sampai aku memohon kepada Tuhan untuk dapat melupakan setiap detilnya," Namjoon mengepal, menjatuhkan kepalanya kesana dan menghela berat. "Tetapi nyatanya semakin aku berusaha, semakin terasa nyata di dalam kepalaku. Semakin jelas ingatan buruk itu. Semakin dalam perasaan bersalah dan sakitku. Hingga aku tidak tahu lagi, ketika kamu datang menunjukkan kepingan perih itu padaku, kurasa aku nyaris hancur lagi. Seperti aku terjun kembali ke titik nol."
Rasanya semakin tidak siap. Dan Jungkook benci merasa bimbang begini.
"Maaf, Pa. Aku egois, aku tak tahu itu menyakitimu pula."
Namjoon menggeleng. "Aku yang bersalah di dunia ini. Aku pantas disakiti atas apa yang telah aku lakukan untuknya."
"Papa..."
"Apa kamu sayang Papa?"
Jungkook mengangguk, Namjoon tersenyum. "Kalau Taehyung hyung? Sayang?"
"Iya."
Namjoon tersenyum tipis. "Kalau begitu, bantu Papa dan Hyung." ia mengelus rambut Jungkook yang sedikit lepek dan dingin karena malam. Memandangi ekspresi Jungkook yang belum mengerti ucapannya barusan. Karena Namjoon bicara berputar-putar. "Papa akan menceritakan sebuah dongeng mengerikan untukmu,"
"Papa –"
"Aku mengalah," Namjoon menepuk bahu Jungkook dan kembali duduk dengan lesu. "Aku tidak bisa lagi membayangkan kamu pergi kesana kemari mencari sesuatu tentang Mamamu. Aku tidak cukup kuat membayangkanmu kalut mengetahuinya sendirian; bagaimana jika kamu tahu ketika kamu tengah sedih? Bagaimana jika kamu kaget? Bagaimana jika kamu tak percaya? Bagaimana jika kamu membenciku? Itu yang terus kupikirkan, dan hanya membuat kepalaku semakin sakit disaat aku juga sesekali berkelana ke masa lalu."
Perasaan Jungkook tidak enak, ia melupakan dahaganya. "Aku –"
"Kita buat perjanjian, ya?"
Alisnya mengerut satu, jantungnya berdebar-debar menanti. Pupil matanya mengikuti gerak jari Namjoon yang mengorek saku training hijaunya. Sebuah amplop putih dengan kop surat berwarna biru tua, Jungkook belum dapat membaca tulisannya secara utuh; terlalu kecil. Waktu berjalan dan pandangannya berakhir ketika Namjoon berhenti mendorong amplopnya tepat di depan Jungkook yang kebingungan. Ditatapnya jemari panjang Namjoon menutupi sebagian besar dari lembar depan, tetapi melihat tulisan alfabet disana membuatnya tak nyaman. Kenapa tidak menggunakan aksara Korea? Dan itu terbaca seperti bahasa Inggris. "Perjanjian apa?"
"Papa akan ceritakan semuanya," Namjoon menjauhkan jemarinya, "Tetapi kita harus pergi."
[Ohio University]
Jelas matanya membola: bingung dan terkejut. "Papa,"
"Ini universitas yang bagus untukmu. Jihoon juga sudah diterima," Namjoon berkata dengan santai seolah ini memang dirancang begitu. Tidak peduli dengan rahang Jungkook yang sudah mengetat karena marah dan tidak terima. Namjoon hanya tersenyum tak ikhlas. "Tetapi dia juga belum tahu. Bahagialah, karena kamu tahu lebih dulu. Besok pagi ini akan jadi kejutan,"
"Pa! Ini bukan lelucon!"
Dengusan serak Namjoon terdengar frustasi. "Papa hanya pegawai kantoran. Bukan personil Running Man. Kita harus pergi, Jungkook."
"Kenapa kita terus berlari seperti tikus?"
"Karena aku tidak sanggup lagi, Jungkook-ah. Aku ingin melupakan semuanya."
Jungkook menggeleng takut, "Lalu bagaimana dengan hyung?"
"Tahukah kamu, kalau Taehyung juga ingin melupakan semua ini?"
Gelengannya kuat, tidak terima persepsi Namjoon yang menurutnya salah. Salah. Taehyung tidak ingin melupakan apa pun. Taehyung mencintai keluarganya lebih dari apa yang Papanya tahu, Jungkook bisa menjamin itu. Kakaknya lebih baik dari apa yang Papanya kira: dia tidak sebrengsek itu untuk berharap ingin melupakan kenangan bersama keluarganya. Dia selalu menyimpannya baik-baik di sudut hatinya yang murni dan rapuh. Namjoon hanya tak tahu. "Jangan bodohi aku lagi. Aku sudah merasa cukup bodoh untuk pergi meninggalkan hyung kemari, dan jangan ancam aku supaya aku pergi dengan Papa lagi! Apalagi ke luar negeri! Aku bukan buronan yang terus pergi dihantui rasa bersalah!"
"Papa hanya ingin menceritakannya sekali seumur hidup. Kemudian pergi meninggalkan tempat dimana kenangan itu terus membayangiku. Kau jangan egois, ikuti saja kata Papa! Ini yang terbaik, tinggalkan Korea dan hiduplah baik-baik di Amerika, di Ohio!"
"Tapi di Korea ada Taehyung! Taehyung masih bertahan di sini, apa itu bisa dibilang dia ingin melupakan semua? Lalu unuk apa dia bertahan jika dia hanya akan terluka?!"
Namjoon membalas, "Karena dia memang ingin!"
"Apa...?"
"Aku tidak ingin terluka sepertinya. Penyesalanku sudah cukup dalam,"
"Lalu kau tega... padanya?"
Namjoon bernapas lirih. "Justru karena aku ingin menyelamatkannya. Karena aku ingin membantunya. Aku ingin menolongnya. Dia juga ingin melupakan semuanya, Jungkook. Dia benar-benar ingin. Keberadaanmu hanya memperburuk keadaan. Tidakkah kau sadar, hidup seperti ini membuatnya lebih bahagia karena lupa? Dia melupakan kenangan bersama keluarganya dan itu membuatnya hidup lebih baik."
"Papa bohong padaku," Jungkook sudah menangis.
"Aku dan Taehyung punya cara berbeda untuk menyelesaikan masalah."
..
Malam itu, Jungkook tak henti menangis. Ada sudut hatinya yang terluka, perih sekali sampai rasanya ia tak tahu apakah itu dapat sembuh. Terlalu dalam hingga ia berpikir mungkin akan membekas selamanya. Katakan dia berlebihan tetapi ia sungguh-sungguh. Ia tidak mengerti mengapa ada takdir semacam ini; konyol dan tak tertebak. Seperti ia terombang-ambing di lautan luas tanpa nahkoda. Tersesat dan tak tahu arah. Hanya bisa menangis dan menerima. Kini hatinya semakin bimbang: antara ingin menemukan fakta menyedihkan atau terpuruk dalam penyesalan yang baru, dengan pergi meninggalkan semuanya?
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued.
.
[edisi: sesi panjang lebar]
Noun; cuap-cuap
..
Nah loh. Pergi lagi deh tuh Namjoon. Ngajak Jihun sama Kuki lagi... gimana dong? Seseorang tolong tampar Namjoon! [jangan, aslinya mah dia perhatian banget. Gemes sama kepiting kayaknya mah cuma dia doang. Kan aku jadi ikut gemes liat dia ketawa bahagia].
Gak bosen-bosen aku selalu ucapkan: TERIMA KASIH.
Review kalian, kritik dan saran kalian, itu bener-bener ngebangun mood aku untuk nerusin cerita ini walau ada kalanya aku mentok ide untuk lanjutin alur yang terombang-ambing ini. malah nambah masalah baru? Gimana ya... sejujurnya nih ya, ini udah mau end. Kalo plot di kepalaku, ini udah mau end. Gak tahu ya dengan kebiasaan ngetikku yang kelewat kesetanan suka manjang-manjangin alur. Nikmatin aja yah guys.
Disini lebih fokus ke Namjoon dan Kuki yah. Karena mulai di chap ini akan saya bongkar masa lalu bapak kita tertjinta Kim Namjoon (kalau disini Lee Namjoon) hingga bagaimana beliau terus ngomong beliau menderita dan terkesan menjauhi uri Taetae. Mungkin akan ada dua chap khusus flashback tentang kenangan masa lalunya. Hm. Terus aja gaz.
Nah, sampai disini dulu deh cuap-cuapnya. Tunggu terus kelanjutan kisah absurd ini, oke?
[ sugantea ]
