Pada awalnya, Jungkook tak pernah berharap kehidupannya akan sesulit ini. Berpikir pun tidak kesampaian. Sesuatu yang tidak ia sukai akan menjadi hal yang diharap jauh-jauh darinya, dan ia pikir semua orang memang begitu. Namun, agaknya ia percaya bahwa ungkapan: hidup tak semulus yang kau kira; itu benar adanya. Dia percaya ada Tuhan, dan dia percaya Tuhan memang tukang ngatur yang hebat. Hebatnya membuat orang sekecil dia porak-poranda.
Dia sering berdoa, agar hidupnya jauh lebih baik. Bangkit dari kemiskinan dan pergi dari bisik-bisik meremehkan. Tetangga sering membicarakan mereka, Jungkook tahu meski ia berusaha tak mendengar. Pemilik rumah kontrak suka mengumbar-ngumbar kejelekan, meski sebenarnya dia kasihan pada mereka. Anak muda bisa apa, sih? Mungkin itu yang dipikirkan, jadi Ibu itu kadang juga bersikap baik dan membiarkan uang sewa menunggak berbulan-bulan.
Kadang dia juga berharap, dirinya lahir di keluarga yang lain. Bukan yang hancur seperti ini. Kakak yang payah, tidak ada Mama dan Papa, dan ia kesepian. Dia mungkin terlihat diam tetapi ia sungguh mengharapkan seseorang dapat datang dan memberikannya harapan untuk tersenyum, meski ia tahu ini sulit. Ya. Hidup tak seindah yang orang bayangkan. Sering dia berdoa agar terbangun di ranjang emput dan selimut hangat, kamar luas dan rapi, segudang pakaian mahal, sarapan bergizi, dan melihat uang banyak.
Tetapi mungkin, dia menyesal memimpikan itu.
Sebab nyatanya, ketika itu terjadi, ia harus kehilangan. Kehilangan sesuatu yang sejatinya berharga untuk seharusnya ia jaga. Keluarga. Namjoon dan Jihoon mungkin memang keluarga, tetapi Taehyung jauh lebih berarti dari itu. Sejak kecil kakaknya yang merawat dirinya: memandikan, mengganti popok, menyiapkan makan, mengajari membaca, mengajarinya berjalan dan berlari, menggandengnya kemana-mana; itu semua Taehyung yang beri. Sesuatu tentang kehidupan yang diberikan Taehyung sungguh jauh lebih berarti ketimbang uang. Dan bodohnya, Jungkook baru sadar ketika semua sudah jauh terkubur dalam-dalam untuk bisa ia bongkar lagi. Seolah tak terbuka lagi pintu maaf baginya untuk meminta. Semua sudah terlanjur.
Memang sesuatu akan terasa berharga ketika kita kehilangannya.
"Jungkook,"
Dia menoleh, menegakkan tubuh yang ia sandarkan di pagar besi. Tersenyum kecil dengan hati yang berkecamuk seperti isi kepalanya. Meledak-ledak dalam diam. Ia berjalan mendekat, langkahnya pelan dan gemetar, takut-takut bumi bisa runtuh jika ia terlalu kuat menghentak. Sebut saja hiperbolis, nyatanya begitu isi hatinya. "Hyung,"
"Kau baik-baik saja,"
Itu terdengar seperti pernyataan ketimbang pertanyaan. Jungkook mengangguk, meski sejujurnya ia tak begitu yakin apakah memang ia baik-baik saja. Butuh waktu lama baginya memindai sosok kakaknya yang jauh lebih kurus dibanding apa yang ia ingat. Masih sama tinggi, dan rambutnya lebat sekali seperti Taehyung tak berpikir akan memotongnya. Ia tersenyum kecil, itu jadi terlihat seperti gumpalan rambut anjing. Halus dan lucu. Warnanya coklat madu, begitu indah di kepala Taehyung. Dia menatap matanya kemudian, "Hyung terlihat kurus, makanlah yang banyak."
"Aku hanya tak bisa gemuk,"
"Pasti bisa." Jungkook meyakinkan, "Makanlah semuanya,"
Taehyung tersenyum mengangguk, "Baiklah."
Lalu angin berhembus, menggantikan kebisuan. Mereka berdiri berhadapan, sama-sama menenggelamkan kedua tangan di kantung mantel. Kalau dari dinginnya, mungkin musim dingin akan tiba sebentar lagi. Dan mereka berdua menanti salju pertama turun, sebab itu adalah pemandangan yang sangat cantik. Putih dan meriah. "Hyung, mungkin kau mau duduk? Aku bisa belikan kopi hangat,"
"Katakan saja sekarang, Kookie."
Jungkook merasa matanya basah. Seluruh wajahnya dingin, tetapi sesuatu di dalam dadanya terasa panas dan sesak. Mendorongnya untuk menangis. Sebab dia merasa sakit. Sesuatu yang diucapkan Taehyung terasa menyakitkan. Dia baru saja ditolak. Padahal Jungkook pikir, setelah sekian lama tak berjumpa, Taehyung justru akan menangis dan menjadi manja. Menariknya ke pelukan dan mungkin menggendongnya ke rumah untuk makan ramen hangat. Nyatanya ini jauh dari apa yang ia harapkan. Taehyung mendorongnya jauh, untuk tak bergerak dari tempatnya berdiri. Jungkook dengan bodohnya berpikir untuk menahan kakaknya lebih lama, tetapi memang apa yang dia harapkan? Dia datang saja patutnya Jungkook bersyukur. "Kita sudah lama tak jumpa, hyung."
"Malam sudah larut, kau bisa flu dengan pakaian setipis itu."
Ada rasa senang disana, ketika Taehyung terdengar peduli padanya.
"Maaf mengganggu waktumu, hyung." Jungkook menjilat bibirnya yang hampir beku. Rasanya ia ingin terus mengucap hyung dengan lidahnya sepanjang waktu. Tanpa terasa itu menjadi adiktif baginya, dan ia menyesal hanya bisa melakukannya dengan benar di saat seperti ini. Jika saja Tuhan berbaik hati, sekali saja, ia ingin mengulang waktu. "Tetapi kurasa, aku butuh melihatmu. Mendengar dan bicara denganmu. Walau hanya beberapa menit, hanya butuh sesaat, untuk dapat kukenang selamanya... Agar aku tak mati karena rindu,"
Taehyung nyaris tersedak ludahnya sendiri.
"Ada banyak yang ingin kusampaikan, pada awalnya. Tetapi ketika melihatmu di hadapanku, semuanya buyar. Berhamburan. Seperti otakku kosong, padahal aku sudah menata dan menyiapkan apa yang akan aku katakan, sekarang.. hanya karena melihatmu, aku tergugu. Tidak punya satu pun kata yang mewakili ribuan kalimat dalam kepalaku," ia menunduk dan mengacak rambutnya frustasi, "Aku ngomong apa, sih, sejak tadi. Astaga. Mungkin aku sudah gila, aku bicara banyak dan tak satu pun punya arti," lantas dia tertawa. Lebih kepada menertawai dirinya sendiri karena merasa bodoh. "Hyung, setelah sekian lama... kau tak mau memelukku?"
"Jangan buat ini semakin sulit, Jungkook."
"Entahlah, aku baru merasakan betapa merindukannya pelukanmu itu."
Rambutnya tertiup angin. Taehyung memeluk dirinya hampir menggigil kedinginan. Jimin berkata untuk tidak membawa tubuhnya kedinginan atau ia bisa flu lagi. Dia memenuhi pikirannya dengan segala hal, asal tidak memikirkan betapa Jungkook terlihat rapuh untuk dipeluk. Jauh dalam lubuk hatinya ia tak tega. Berpikir akan mendekat dan memeluk adiknya yang memucat karena angin malam, tetapi ia sudah bersumpah dengan dirinya sendiri untuk menjadi tegas. Dan ia tak bisa jatuh kembali ke luka yang sama.
"Aku akan pergi,"
Kini justru ia yang merasa sakit. "Kemana?"
"Kupikir hyung tak cukup peduli,"
"Jangan bicara separuh-separuh,"
Jungkook meneguk ludahnya, "Jika itu aku akan pergi, kedengarannya lebih menarik, ya? Apa sesuka itu hyung ingin aku pergi? Jauh darimu?"
"Jungkook –"
"Jauh, sangat jauh,"
Kemudian Taehyung bungkam. Tahu jika situasi ini sudah serius. Jungkook tak tengah menjahilinya atau bermain-main. Hanya saja Taehyung benar-benar merasa takut, pergi jauh yang dikatakan Jungkook sungguh membuatnya tak tenang. Mengapa tak dikatakan saja? Pergi jauh kemana yang dimaksud? Isi kepalanya acak-acakan karena menebak, tetapi sebisa mungkin mempertahankan ekspresi wajahnya. Ia melihat Jungkook tersenyum kecil. Dan itu membuatnya rindu wajah manis adiknya, sungguh-sungguh rindu. "Aku akan belajar di tempat yang jauh."
"Ah, begitu..."
"Tapi aku tak yakin jika –"
"Pergilah,"
Jungkook menatap mata Taehyung. "Pergilah, jika itu bisa membuat hidupmu lebih baik. Aku tahu kau menginginkan ini, karena aku juga. Aku ingin kau belajar dengan baik agar kelak hidupmu jauh lebih baik. Kau pantas pergi untuk sesuatu yang ingin kau gapai, meski itu artinya kau harus mengenyam pendidikan di ujung dunia, tuntutlah itu. Aku akan mendukungmu, selalu."
"H-Hyung,"
"Pergilah, dan hidup dengan baik."
My Mama
..
Kim Taehyung, Jeon Jungkook (as Kim Jungkook), Park Jimin, Kim Namjoon (as Lee Namjoon), Kim Hana dan Choi Luna (OC), and other supporting casts
..
[Vkook as brothers]
[MinV]
..
Let's go to the past
..
[Tahun 1985]
"Namjoon!"
Pria itu tersenyum, berusaha tampil gagah dengan pakaian sederhananya. Dia tak tahu jamuan makan malam macam apa yang diadakan Luna. Mendadak, dia menelpon dan menyuruhnya datang untuk makan malam bersama. Dia bertanya ada apa? tetapi Luna hanya tertawa ringan dan mengingatkannya untuk datang pukul delapan. Namjoon mematut dirinya begitu lama, karena tahu keluarga Luna bukanlah sembarang orang. Saudagar yang kekayaannya tak dapat dihitung lagi, perusahaan dimana-mana, kolega dimana-mana, dan pendukung yang kuat. Sejenak Namjoon menjadi gugup, Luna berkata mereka akan makan bertiga dengan Ayahnya. Justru itu yang ditakutkannya. Kalau-kalau ia membuat penilaian buruk di mata beliau.
Dia masuk setelah Luna menarik lengannya. "Kau tampan sekali, Namjoon."
"Terima kasih. Kau cantik,"
"Dasar gombal." Dia terkekeh, mungkin malu.
Mereka sampai di meja makan. Namjoon tak dapat menahan dirinya untuk menganga. Sangat lebar sampai mungkin ia akan membanjiri rumah temannya oleh air liur. Luna menyikut perutnya sambil terkikik jahil. Dia tersadar dan bersikap normal. Manner is the most important, itu yang Namjoon tahu jika berhadapan dengan orang kaya. Dia membungkuk sopan pada Ayah Luna yang menyapanya di sela kegiatan berbicara kepada kelapa dapur. Kemudian duduk setelah Luna menyuruhnya. Gugupnya masih mendera, dan seketika perutnya terasa tak enak. "Apa kau suka anggur, Namjoon?"
"Buah anggur, maksudnya?"
"Ya! Pabo! Maksudnya wine,"
Namjoon tertawa malu, "Saya tak yakin. Ini yang pertama,"
"Lagipula kalian masih SMA, nanti saja kalau sudah legal minum soju." Beliau mengenakan kemeja polos berwarna biru langit. Diperhatikan dari halus kainnya, itu pasti sangat mahal. Entah bahan kainnya, jahitannya, detergen dan softenernya, atau cara menggosoknya. Yang jelas pakaian kasual yang sopan itu benar-benar pas di tubuh tegapnya. "Silahkan makan, oh, sebelumnya berdo'a dulu. Semoga Tuhan memberkati makan malam ini,"
"Amin."
.
Makan malam berjalan dengan lancar. Namjoon lega karena tak memalukan dirinya di meja makan. Dan berkali-kali ia memuji kenikmatan masakan rumah yang rasa restoran itu. Dia baru tahu kalau Luna bahkan punya penasihat nutrisi pribadi, dan Namjoon hanya terbengong saking kagetnya. Dipikir-pikir, apa begini caranya bangsawan menghabiskan uang? Penasihat nutrisi? Namjoon bahkan tak peduli jika harus makan ramen setiap hari. Asal kenyang, hidupnya damai.
"Kudengar, kau termasuk yang paling pintar di sekolah."
Namjoon melirik Luna, "Tidak begitu."
"IQ-nya 148, Ayah! Dan dia mahir bicara bahasa Inggris."
"Saya hanya suka membaca. Semua buku saya baca. Ensiklopedi, buku pelajaran, novel, biografi, sastra, puisi, cerita fiksi; hampir semua saya lahap. Itu menyenangkan secara pribadi. Dan tahu-tahu itu mengajari saya secara tak langsung," Namjoon bertutur jujur. "Dan aku berpikir kalau bahasa Inggris sangat penting di jaman sekarang ini. Jadi aku belajar dengan buku-buku di perpustakaan dan mencatat kosakata di notes yang selalu kubawa,"
"Kenapa dicatat?"
Namjoon tersenyum, "Supaya lebih ingat. Dan karena saya tak membeli kamus. Uang yang saya punya biasanya akan ditabung, karena Ibu saya bekerja sendiri. Dia single parent, dan saya begitu bangga punya Ibu sehebat beliau." Ia terkekeh, "Duh.. kenapa jadi emosional, ya? seperti ingin menangis rasanya."
"Aigoo, Namjoon-ah.."
"Apa hidup kalian sesulit itu?"
Namjoon menggeleng, "Tidak. Hanya saja aku berpikir, Ibuku semakin tua. Akan ada saatnya dia menjadi tak produktif lagi. Dia mudah lelah dan punya asma, jadi pasti waktunya bekerja hanya sebentar. Disaat seperti itu mungkin aku belum layak bekerja, jadi aku lebih baik menyimpan uang kalau-kalau Ibu sakit atau dipecat. Bukan artinya aku berharap begitu, tetapi kata orang, ada baiknya mempunyai sampan meski kau sudah diatas perahu."
Malam itu, penilaian Ayah Luna tentang Namjoon benar-benar baik.
[Tahun 1987]
Ada orang berkata, kejarlah cintamu sampai mati. Luna berusaha menerapkan itu ke dalam hidupnya, karena ia berpikir cinta yang diperjuangkan itu benar-benar romantis. Dia begitu menyukai Namjoon sampai gila. Hanya memikirkannya membuat isi kepalanya hampir meledak karena senang. Atau ketika momen-momen dimana Namjoon menjadi lebih dekat dengannya, ia akan jadi gila dan memekik seperti lumba-lumba. Ia hanya begitu menyukai Namjoon.
Dia tak berpikir kalau perasaannya yang berlebih dapat melukai dirinya sendiri. Asal ia dan Namjoon berhubungan baik maka ia rasa semua akan terasa mudah. Ia memang belum yakin pria itu akan menyukainya dalam waktu dekat setelah penolakan itu tetapi ia akan berusaha. Bahkan semangat juangnya sudah sangat gila (kalau dia pikir-pikir karena dirinya pemalas dan masa bodoh soal kehidupan) dan berhasil mengejar Namjoon ke SNU. Luna senang sekali mendengar ini, meski mereka berbeda jurusan, asal itu ia berdiri di tempat yang sama maka itu cukup. Dan setelah Hana berkata dia juga lolos ujian SNU, girangnya bukan main. Karena persahabatan mereka tak merenggang oleh waktu dan tempat.
Akan tetapi, mungkin itu dulu. Jauh sebelum Luna ditampar kuat-kuat.
"K-Kalian –?"
"Luna,"
Dahinya mengerut. Seperti tidak yakin dengan apa yang ia lihat. Dia berbaik hati membeli ayam goreng dan soda untuk dimakan bersama. Perayaan karena dirinya mendapat nila A untuk kelas kimia dasar yang dosennya seram minta ampun. Tetapi ia tak kepikiran kalau ia mendapati Namjoon dan Hana yang berciuman sembari menunggunya. Luna nyaris tertawa, karena sungguh, ini bukan lelucon seperti Saturday Night Live atau Running Man. Ini sama sekali tak lucu. Malah menyakitinya begitu dalam. "Luna –"
"Kau hanya membual, Namjoon?"
"Aku –"
"Ingin mempertahankan persahabatan, kau bilang?" Luna menggeritkan giginya marah. Genggamannya pada kotak ayam goreng menguat, tak pedulikan bagaimana perihnya. Bukankah mendapati seseorang yang kau cintai berciuman dengan sahabat sendiri jauh lebih pedih? Luna mendengus benar-benar tak percaya. Namjoon hanya menatapnya penuh bersalah dan Hana menunduk, menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangannya. Matanya memicing tajam, walau ia rasa pasti airmatanya siap tumpah. "Omong kosong, Namjoon! Apanya yang persahabatan jika kau bersama dia?! Kenapa kau memakai alasan bodoh itu padaku dan tidak padanya? Ini tidak adil, Namjoon..."
Tubuhnya gemetar, ujung jari-jarinya melemas. "Katakan kalau memang tak bisa. Apa harus melukaiku seperti ini? Aku tak tahu kau bisa sekejam ini, Namjoon. Maksudku.. aku –kupikir kau benar-benar setulus itu membicarakan persahabatan. Tidak perlu berbohong untuk menolakku, bukan?! Apa aku serendah itu sampai kau permainkan?!" ia menjerit marah. Ia marah, tidak terima betapa Namjoon memperlakukannya begini tega. Tangisnya pecah, dan ia tak tahu bagaimana dia akan menata kembali hatinya jika dia sudah sehancur ini oleh kepalsuan. "Kau ... brengsek, tahu? Bodohnya aku bisa sebegini dalam menyukaimu, bahkan di saat sehancur ini aku masih berharap kau hanya mengerjaiku. Apa begitu? Bodoh. Tentu saja itu nyata, iya kan?"
"Luna –"
"DIAM, HANA!"
Mulutnya bungkam. Matanya bergerak gelisah, merasa luar biasa bersalah. Tahu dia sudah begitu payah dalam menjaga kepercayaan. Mati-matian menahan dirinya untuk egois, dan kemudian jatuh ke dalam dosa. Ia merasa berdosa kepada Luna dan dirinya sendiri. Ada hati yang begitu murni dititipkan baik-baik untuk ia jaga, tetapi ia justru menghancurkannya sampai menyisakan abu. Tak ada yang lebih menyakitkan dari melihatnya begitu hancur. Tetapi ia tahu, memeluknya akan menambah masalah. Dan ia tak bisa melukai Luna lebih jauh lagi dengan menjadi baik dan menunjukkan betapa berdosanya ia.
Namjoon mengenggam tangannya hangat. Hana tak berpikir itu berhasil sama sekali. Ada perasaan yang rusak di sana, dan tak ada seorang pun yang dapat menyelamatkannya. Satu sentuhan dan itu akan benar-benar tinggal puing-puing.
"Aku mempercayakan hatiku pada kalian," ia tertawa lirih, "Dan kemudian kalian permainkan. Betapa bodohnya aku berpikir, ini menyenangkan bertemu kalian di sini. Berharap persahabatan kita baik-baik saja sampai mati, kemudian kalian seperti mengajakku naik roller coaster dan melepas sabuk pengamanku lalu mendorongku jatuh. Dalam. Jauh. Gelap."
"Maafkan aku," Namjoon merendahkan suaranya.
Luna mendongak, menatap mata Namjoon. Merutuki dirinya karena masih berpikir itu tampak sangat indah seperti mutiara. Itu sudah tak berguna, dan Luna sudah muak dengan situasi aneh seperti ini. Setelah berperang cukup lama dengan batinnya sendiri, ia meletakkan kotak ayam gorengnya di bawah. Tertawa dengan mata yang basah, "Bahkan jika kau rela mati untuk meminta maaf, itu tak dapat mengubah apa pun."
"Kita bisa membicarakannya, Luna. Dengar dulu, aku –"
"Sudah. Berhenti menjanjikan hal yang tak bisa kau tepati," Luna meneguk ludahnya bulat-bulat. Seperti dia menelan pahit kenyataan. "Aku sudah muak, kalau harus jujur. Berhenti, sudah cukup sampai disini saja. Nyatanya aku sudah hancur, di saat aku benar-benar berharap untuk menggapaimu. Ini sulit untukku. Kalian berdua tahu perasaanku dan masih tega melakukannya, aku tak dapat bayangkan jika aku tak pernah mengungkapkannya. Barangkali jika aku tak seegois ini, jika waktu itu aku tak egois, pasti rasanya tak akan sesakit ini."
Mereka bertiga sama-sama merasakan sakit. Pedih, setiap kali mencoba bernapas. Ada rasa sesak yang menyayat paru-paru mereka. Ini lebih dari sekadar patah hati, namun juga hubungan mereka yang rumit dan hancurnya kepercayaan yang mereka bangun. Semua runtuh begitu saja karena hal sederharna seperti cinta. Dan tak seorang pun dari mereka menginginkan kenangan seperti ini.
Luna mengangguk, "Aku tahu aku harus mendoakan kalian,"
"Luna –"
"Tetapi mungkin, hati yang hancur harus diselamatkan... bukan?"
Katakan saja Luna bodoh untuk menyerah. Dia sudah lelah mencoba, sudah capek berlari. Dia lelah disakiti jika sudah begini. Maka dia akan pergi untuk menata hatinya, barangkali bisa membuatnya jauh lebih baik ketimbang menahan sakit lebih lama. Luna datang meraung-raung pada Ayahnya, kemudian ia diminta pergi. Tanpa berpikir dua kali dia langsung mau. Mungkin memang ini yang bisa ia lakukan untuk mengobati lukanya sendiri. Walau ia pun tak yakin.
"Kau tidak perlu pergi, Luna."
Dia tersenyum simpul. Melepas genggaman Hana yang hangat dari jemarinya yang dingin. Dia belum bisa menatap matanya. Rasanya masih sakit. Bahkan ketika Hana repot-repot datang ke bandara sebelum dia pergi. Kenapa dia begitu? Apa Hana sengaja bermain peran dan ingin menunjukkan kalau dia menang? Luna tak ingin mengotori pikirannya sendiri, tetapi kehadiran Hana disini justru melukainya. Dia ingin pergi, tanpa siapa pun tahu. "Ini yang bisa aku lakukan. Kalian putus pun tak dapat mengubah apa pun,"
"Aku bersalah,"
"Aku tak ingin mendengar itu."
"Paling tidak, jangan pergi."
Luna menarik sudut bibirnya yang gemetar, "Aku sudah diterima di Universitas bagus."
"Luna!"
Mereka berdua menoleh. Dan seketika hati Luna terenyuh. Melihat Namjoon berlari sampai tersandung-sandung membuatnya iba dan terharu. Apakah itu untuknya? Wajahnya bahkan terlihat frustasi, apa itu juga untuknya? Tetapi Luna benci jika itu hanya karena mereka kasihan. Dia tidak suka dikasihani karena sudah terluka. Dia ingin dihargai karena memang punya perasaan, bukan sebagai orang yang ditolak dan ditampar oleh kenyataan. "Pergi, Namjoon."
"Aku hampir tertabrak mobil dan kau berani bilang begitu?!"
"Memang siapa yang suruh?!"
"Itu karena aku khawatir!"
Teriak melawan teriak. Namjoon dan Luna adalah orang yang tak pandai mengontrol emosinya, suka meledak-ledak jika memang kepalanya pusing. Hana menunduk dalam, mundur selangkah dan memberi waktu bagi dua sahabatnya bicara. Meski mungkin mereka hanya akan adu mulut. Paling tidak ia ingin membuat mereka punya kenangan sebelum Luna benar-benar pergi.
Luna memejam mata, "Aku tidak butuh rasa kasihanmu!"
"Memangnya kamu orang miskin? Aku tidak kasihan!"
"Maka berhenti bersikap begitu!"
"Yang bagaimana?!" Luna memukul bahu Namjoon, meski tubuh pria itu hanya terguncang bahunya. Dia kuat dan tegap, dorongan dari lengan kecil Luna tak ada artinya. Tetapi hatinya yang jatuh, dalam sekali. Dia yang telah menyakiti seorang perempuan dan itu malah membuatnya jauh lebih sakit melihatnya hancur. "Aku tidak memperlakukanmu berbeda. Kau tetap sahabatku karena begitulah perasaanku padamu. Aku tidak membual karena aku memang ingin mempertahankan hubungan itu, yang jauh lebih kuat dibanding cinta. Tetapi maaf jika itu memang melukaimu, aku sungguh tidak bermaksud. Luna, aku sayang padamu."
Luna berteriak kencang, "Diam saja, Namjoon! Aku tak dengar!"
"Jangan begitu. Hei,"
"Nanananana!"
Tubuh Luna ditarik lembut oleh Ayahnya. Dibawa kebelakang badannya yang tegap dan hangat. Mencari perlindungan dibalik lebar punggung Ayahnya. Luna meremas jasnya erat sekali, sedikit melukai punggung Ayahnya tanpa sadar. Pria dewasa itu menghela napasnya berat, kerut di dahinya tak hilang. Seperti bakso urat, menyeramkan dan membuatnya tegang. Tetapi Namjoon paham jika beliau bersikap begitu, dia pantas mendapatkannya. "Om, maaf."
"Inilah mengapa aku tak suka pertemanan antar lelaki dan wanita,"
Namjoon menunduk diam. Ayah Luna bicara lagi, "Sudah cukup. Aku tak bisa menyalahkan siapa pun. Ini tentu ada campur tangan kalian bertiga. Tak sepenuhnya salah seorang saja, aku mencoba berpikir seperti itu untuk menjadi adil." Ia melarikan tangannya ke belakang, meremas lembut lengan Luna yang gemetar dan kaku, "Tetapi aku juga seorang Ayah. Yang tidak tega melihat anak cantiknya menangis karena hal sepele seperti cinta. Ini hanya permainan, hal sederhana yang kalian buat rumit. Tetapi aku mengerti, kalian masih muda. Luna, anakku, dia sudah hancur. Dan tak ada yang lebih menyakitkan untukku melihatnya begitu. Jadi kumohon, biarkan dia pergi. Meski kalian mengemis seperti budak, ini sudah pilihannya untuk lari."
Kini Namjoon dan Hana terdiam. Tak dapat membalas.
"Jika kau begini, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri." Ujar Hana.
"Kau perempuan, pasti mengerti perasaan Luna." Ayahnya menjadi juru bicara dadakan. Padahal biasanya dia hanya diam dan sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Tetapi memang pada dasarnya dia adalah orangtua, yang lemah jika anaknya sakit. "Dia sedang terluka karena patah hati. Memang pilihannya terdengar seperti pecundang, tetapi kuharap kalian menghargainya... sebagai sahabat, bukankah itu gunanya kalian?"
Mereka mengangguk, menahan tangis.
"Kalian akan bertemu lagi, jika Tuhan berkata."
Namjoon mendongak dan menatap Luna yang masih sembunyi, "Mungkin aku sudah bodoh untuk melukai orang sebaik kamu, tetapi percayalah kalau aku sayang padamu. Sebagai sahabat, dan kau juga berharga untukku, pada posisi yang berbeda. Aku mengerti jika kau ingin pergi, tak apa, jika itu membuatmu bahagia. Kau lupakan aku juga tak apa," ia tersenyum, "Itu hukuman untukku."
Hati Luna berdenyut ngilu. Bagaimana melupakan orang seperti Namjoon jika di hari ia akan pergi dia tetap bersikap baik dan manis? Bahkan setelah melukainya dia tetap membuatnya nyaman. Ini sebuah perasaan yang rumit, dan Luna sudah lelah seperti ini.
"Selamat tinggal." Hana mengatakannya dengan lirih.
.
.
"Ayah,"
Pria itu menoleh dan tersenyum. Menunggu perkataan selanjutnya dengan sabar. Saat ini Luna sedang dalam emosi yang fluktuatif dan ia berusaha memahaminya. Dia sudah lama tak memerhatikan anaknya sendiri, jadi saat ini ia berusaha menebusnya. Persetan dengan urusan perusahaannya, toh anaknya memang jauh lebih penting.
Luna balas menatapnya, "Aku mau Namjoon."
"Apa? Tapi kamu kan –"
"Ribuan kali kupikir, dan aku terus jatuh hati." Luna kemudian menunduk, memainkan ujung kausnya dengan jari-jarinya yang kurus. Bibirnya dikulum lama sekali, ujung lidahnya gatal ingin bicara. Isi kepalanya amburadul, masih berusaha ia tata agar menjadi kalimat. Tetapi memang, berulang kali ia mencoba bangkit, rasanya sulit. Ini aneh dan terkesan bodoh, tetapi semakin besar usahanya menghapus perasaannya, sebesar itu pula perasaannya untuk Namjoon. Semakin ia memikirkan lukanya, semakin ia terjatuh untuk Namjoon. Luna tak tahu ada perasaan yang seperti ini. Apa namanya? Mengapa ia justru semakin jatuh hati ketika tahu ia telah disakiti?
Ayahnya meremas bahu Luna, "Sayang, tak perlu paksakan dirimu."
"Tidak, Ayah. Aku serius,"
"Apa...?"
Tekadnya bulat. Meski isi kepalanya masih acak, "Aku mau Namjoon."
[Tahun 1992]
Bohong jika ia telah melupakan Namjoon. Nyatanya, ia semakin mencintainya, meski telah disakiti. Dia tak mengerti ada perasaan yang sedangkal ini dalam percintaan. Entah mengapa pula ia tak mampu melihat orang lain selain Namjoon. Hanya ada ingatan tentangnya di kepala Luna, berulang-ulang seperti kaset rusak. Ucapan maaf darinya hanya membuatnya semakin jatuh, entah karena suara seraknya atau ketulusannya.
Menghirup udara Korea membuatnya semakin terperosok.
Terasa seperti rumah, dan kalau boleh hiperbolis, ini tercium seperti aroma Namjoon. Aromanya beterbaran dimana-mana, di setiap ia melangkah dan berkedip, di setiap ia bernapas, ia selalu ingat aroma Namjoon. Manis dan menenangkan, hingga rasanya seperti ia berada di sisi Namjoon. Semakin dirasa, ia semakin rindu pria itu. Bagaimana kabarnya?
Dia baik-baik saja. Dan jauh lebih tampan.
"Tenyata kemampuan bahasamu jauh berkembang," ia menyedot es kopinya. Duduk memangku wajah dengan tangannya, menatap Namjoon dari tempatnya, jauh. Menatapi Namjoon yang fokus bekerja di depan komputer. Memakai kacamata baca, mata menyipit, wajah keringatan, dahi mengerut, jemari panjangnya mengetik banyak, sesekali meminum kopi yang masih mengepul uapnya. Luna akan menjerit jika ia tak tahu malu.
Namjoon dan keseriusan yang tampak seksi. Mati saja.
Setelah mendapatkan informasi akurat dari orang terpercaya, Luna langsung ambil tiket tercepat ke Korea. Memang ia sudah ingin kembali, tetapi ia ingin memastikan kehidupan Namjoon lebih dulu. Ia memekik sampai jendela apartemennya retak ketika dikabari Namjoon sudah bekerja di kantor penerjemahan. Dan ia bertugas di penerjemahan buku asing. Sial, dia benar-benar hebat sekarang. Bahkan Luna hanya main-main dengan kuliahnya. Karena berpikir akan menjadi penerus usaha Ayahnya saja. Ia sudah pusing dengan kimia.
Jam delapan malam, Luna bangkit. Bersamaan dengan orang-orang kantor.
Ia akan memastikan Namjoon pulang dengan selamat.
"Pagi, Namjoon-ssi."
Dia tersenyum lebar, "Pagi nuna. Tumben sudah datang?"
"Hm. Suamiku ada panggilan memotret di tempat yang jauh, jadi aku harus ikut dia berangkat pagi. Aduh, aku masih mengantuk," wanita yang kurus itu mengucek mata. Bangku kerjanya berdampingan dengan Namjoon, dan ia begitu perhatian pada Namjoon. Karena tahu Namjoon masih muda, wanita itu –namanya Han Mari, banyak mengajarinya pada saat bekerja. Selain karena terpesona dan kagum ada anak muda yang begitu bertalenta seperti Namjoon. "Omong-omong, apa sih yang kau lihat?"
"Apa nuna melihat seseorang menaruh ini?"
Nona Mari melotot, "Wow! Sarapan? Aku baru lihat yang seperti ini di mejamu, eyyy, kukira kamu jomblo? Sudah punya pacar, eh?"
"Benar tidak tahu siapa yang memberiku ini?" Namjoon menatap banyak makanan di mejanya yang kecil dan sempit. Roti, susu, yoghurt, cokelat, snack beras, puding –Namjoon sudah kenyang hanya dengan melihat saja. Tetapi isi kepalanya memproses, berpikir siapa yang dikira repot-repot meletakkan banyak makanan di sini. Dan pasti dia meletakkannya pagi-pagi buta karena nona Mari bahkan tak lihat siapa.
Namjoon menggaruk kepalanya, bingung, tapi tak bisa menolak. Kebetulan memang dia belum makan pagi. Dan dia suka kelaparan sebelum jam makan siang, atau jam-jam sore sekitar jam empat sampai jam enam. Lumayan, kan?
"Kenalin dong, pacarnya! Pasti cantik, baik lagi. Aku minta puding dong!"
"Ah, iya. Ambil saja, nuna."
Tapi siapa? Ibunya tak mungkin, Hana apalagi.
Dipandang berapa lama pun, ia tak bosan. Ada kerinduan yang menyenangkan ketika Luna melihat rumah Namjoon yang sederhana. Tak berbeda jauh. Padahal ia merasa sudah begitu lama pergi dari Korea. Tetapi nyatanya ini masih sama saja, kecuali penambahan waktu dan sesuatu yang berkembang; seperti Namjoon yang sudah bekerja kantoran, misalnya.
Ia mengisi waktu dengan menggambar. Agaknya sudah sejak jam enam dia duduk mengemper di dekat rumah Namjoon. Sudah selesai urusan tidak-pentingnya memberikan sarapan untuk Namjoon di meja kantornya. Kini menatap benda tak bergerak yang kosong itu selama hampir tiga jam, tersenyum seperti orang idiot, dengan memori yang berputar seperti kaset dvd. Ingatannya terbang ketika jaman sekolah dulu, ketika ia suka mampir kesini setelah pulang sekolah dan makan sup ayam jahe buatan Ibu Namjoon. Yang paling enak di lidahnya.
"Luna-yah,"
Buku gambarnya ditutup. Terkejut. "A-Ah... Imo.."
"Benar Luna," wanita itu tersenyum lembut. Ikut duduk di samping Luna. "Lama tak bertemu, Namjoon bilang kamu ke luar negeri untuk kuliah."
"Iya... Imo, jangan duduk di situ. Kotor,"
"Gak apa, kan Luna juga tadi duduk disini."
Luna mengulum bibirnya. Malu. Dia tak menyangka Ibu Namjoon masih mengenalinya, bahkan dari belakang tubuhnya. Menyapanya lembut dan mengelus bahunya sayang. Ia rindu wanita tua ini, yang begitu sayang pada Namjoon dan kawan-kawannya. "Kenapa tidak masuk saja, pintu rumah kami kan selalu terbuka. Seperti orang asing saja,"
"Rumahnya kan kosong,"
"Kamu kan tahu dimana biasanya kami menaruh kunci."
Itu benar. Tetapi akan jadi lucu jika Ibu Namjoon pulang dan mendapatinya duduk manis di ruang tengah setelah begitu lama menghilang tanpa pamit. Luna tak se-kurangajar itu, ia lebih baik menunggu seperti katak meminta hujan. Walau sebenarnya, ia tak berpikir akan berkunjung kesana. Ia hanya tak siap, walau ia juga ingin sekali menuntaskan kerinduannya. "Imo habis belanja? Mau kubantu bawa masuk ke dapur?"
"Tak perlu. Aku bisa sendiri, memangnya kamu gak ada kerjaan?"
"Sebenarnya sih, ada urusan dengan teman." Ia tertawa kecil.
"Aku baru pulang, shift malam yang melelahkan,"
"Memangnya Imo bekerja dimana?"
"GCF Corp., yang besar itu... Ah, tapi Imo hanya jadi tukang bersih-bersih saja. Imo kan hanya wanita tua yang butuh pekerjaan. Begini-begini Imo masih kuat kok membersihkan gedung, kalau di rumah saja rasanya membosankan. Aku tak tahu harus ngapain di rumah, Namjoon sudah bekerja sekarang. Apa kalian tidak ketemuan? Karena anak itu belum cerita kalau Luna sudah pulang, kalian tidak bertengkar, kan?"
Luna tersenyum meyakinkan, "Tidak kok."
"Baguslah. Lain kali, datanglah ke rumah. Kita makan sup ayam lagi, seperti jaman kalian sekolah. Ah, sudah lama sekali, hm? Rasanya baru kemarin kalian pakai seragam sekarang sudah bisa menghasilkan uang sendiri," Ibu Namjoon tertawa kecil. Ia bangkit dan menolak bantuan Luna, merasa mampu menggotong kantung-kantung belanja penuh sayur dan makanan untuk satu bulan. Senyum teduhnya semakin membuat Luna luluh, dan merasa bahagia karena diingat dengan baik dan masih diterima begini lembutnya. "Kamu hati-hati, loh. Jangan lupa mampir main,"
"Iya. Pasti. Masak yang enak, ya!"
"Aku tahu. Aku masuk ya," langkahnya pelan. Sepertinya keberatan dengan kantung-kantung belanjaannya. Luna menatap punggung ringkihnya, sedikit tak mengerti mengapa Ibu Namjoon tak ingin dibantu. Tetapi ia tak begitu peduli. Karena memang tubuh wanita itu masih nampak segar seperti dulu. Luna tersenyum kecil, berpikir apakah tangannya masih kuat juga? Dulu saat mereka nakal Ibu Namjoon akan mengomel dan menjewer telinga. Sampai merah dan hampir copot. Memori yang lucu. Ibu Namjoon sudah ia anggap seperti Mamanya sendiri, karena sejak ia lahir Luna tak punya Ibu di rumah. Jadi ia juga sayang sekali padanya.
Ponselnya di keluarkan. Langsung tekan speed dial nomor satu, "Ayah, aku berangkat sekarang. Dan aku benar-benar serius, aku mau Namjoon. Tolong bantu aku,"
"Ayolah, kau masih muda! Habiskan waktumu dengan senang-senang,"
Namjoon tersenyum maklum, "Tidak ah, hyung. Aku ada kerjaan lain,"
"Kau bekerja lagi? Kau itu robot, ya?"
"Aku sedang mengumpulkan uang, hyung."
Nona Mari datang merangkul Namjoon. Tersenyum jahil pada kawan-kawan kantornya, "Apa kalian tidak tahu? Namjoon akan melamar pacarnya! Mereka mau menikah, makanya si anak bawang ini cari duit seperti orang gila. Mungkin dia bisa siapkan rumah kalau begini," dia nyeletuk dengan santai. Sontak rekan kerja Namjoon bersorak heboh dan memukul punggung Namjoon, kebiasaan mereka ketika selebrasi. Mereka tertawa bersama. Namjoon mau tak mau ikut tersenyum mendapat begitu banyak perhatian dan doa. Rekan tertua yang juga kepala divisi, Kim Taekwoon, menepuk bahunya suportif. "Kupikir kau jomblo sampai mati, Namjoon."
"Ya kan? Kukira juga begitu, ternyata sudah ada yang punya!"
"Pantas selalu menolak dikenalkan cewek cantik,"
"Eyyyy semangat Namjoon-ah!"
Kenapa rasanya menyenangkan? Namjoon jadi semangat bekerja.
"Nanti kalau sudah selesai perjuanganmu, baru minum-minum. Oke?"
"Iya. Maaf ya aku tidak bisa ikut minum-minum terus,"
"Apaan, sih! Sudah sana cari uang dan menikah! Hahaha."
.
.
Namjoon mengikat tali sepatunya yang regang. Kemudian berdiri tegap dan berjalan pelan. Jam di tangannya menunjukkan pukul satu pagi. Hari yang melelahkan. Mungkin teman kerjanya benar mengatakan kalau ia sudah seperti robot. Tubuhnya lama-lama merasa capek, sebab kurang tidur dan banyak pikiran. Tetapi ia sudah bertekad untuk mengumpulkan uang secepat mungkin, karena itu yang dibutuhkannya. Biar saja orang mengatainya gila.
Langkahnya terhenti ketika hendak menanjak.
"Luna...?" suaranya tercekat. Nyaris tak percaya.
Gadis itu tersenyum, "Hai."
"Kau –" langsung ia berlari mengejarnya yang berdiri tenang di atas. " –kau pulang? Sejak kapan? Aku sengaja tak pernah mengganti nomor ponsel dan akun kakaotalk supaya kau bisa menghubungiku kapan saja. Tetapi tak pernah sekalipun, aku juga tak bisa menghubungimu duluan... setelah apa yang telah terjadi, aku merasa tak pantas begitu. Untuk mengemis saja aku tak punya muka. Tapi kau sekarang ada disini dan tersenyum padaku? Apa kau tidak –"
"Aduuuh! Cerewet!"
Bibir tebalnya dicubit keras oleh Luna. Gadis itu tertawa ringan karena wajah merengut Namjoon yang tampak lucu. Bagaimana bisa ada pria tegas yang bisa bertingkah menggemaskan dengan memonyongkan bibirnya? Ini juga hal yang membuatnya rindu, dan akhirnya terbayar sudah. Cukup bertemu dengannya sesederhana ini, ia sudah bahagia. Melihat Namjoon hidup dengan baik dan masih cerewet padanya. Ada perasaan bangga terselip, ketika tahu betapa Namjoon ternyata menyimpan kebingungan dan kepedulian untuknya. Meski itu hanya diam.
Ternyata pria itu bisa jadi manis juga.
"Aku datang bukannya disambut gimana kek gitu,"
"Kamu tidak bilang-bilang," dahinya berkerut, memindai tubuh Luna. "Dan kenapa pakai baju setipis itu? Biasa panas-panasan di Hawaii? Ini Korea, Luna. Malam akan jadi sangat dingin. Jaket macam apa itu!" jaket tebalnya ia lepas dari tubuhnya. Dipakaikan ke bahu Luna yang jauh lebih mungil darinya dan merapikannya sekaligus. "Sudah lama kau menungguku?"
Luna tersenyum, "Hanya kangen."
"Ya. Aku juga,"
"Kudengar kamu sudah bekerja di penerjemahan buku. Keren,"
"Tidak juga. Tapi gajinya memang lumayan,"
Hanya anggukan kecil. Tak tahu harus balas apa. Baru kemudian Namjoon mengusak rambut Luna yang ia cat menjadi warna ungu seperti anggur. "Ayo ke rumah, hari ini Ibuku masak sup ayam jahe yang selalu kau kasih cap jempol!"
"Tidak perlu. Aku harus pulang,"
"Cepat sekali?"
"Iyaaa, aku akan menemuimu lain waktu." Luna tersenyum ringan. Dia tak berpikir untuk berkunjung ke rumah Namjoon malam ini. Walau ia sangat ingin. Sup ayam jahe Ibu Namjoon itu memang juara. Tapi ia sedang tidak dalam suasana yang baik. Ia melepas jaket tebal Namjoon untuk dikembalikan tetapi lengan besar pria itu mencengkeramnya, "Bawa saja. Rumahmu jauh dari sini dan angin malam tak bagus untukmu. Maaf aku tak bisa mengantarmu, aku tak bisa meninggalkan Ibu akhir-akhir ini."
Sentuhannya terasa hangat sekali. "Iya. Tak apa,"
Ada sesuatu yang aneh dari Ibunya. Namjoon tidak pernah mengerti beliau. Wanita tua yang harusnya ada di rumah berkutat dengan bersih-bersih, memasak, dan mencuci baju. Tetapi, beliau akan marah-marah kalau dinasihati untuk istirahat. Beliau akan mencari seribu alasan untuk tetap bekerja. Padahal pekerjaannya juga tak jauh beda jika di rumah: bersih-bersih. Walau pada akhirnya Namjoon mengalah dan membiarkannya, yang penting ia tak pernah lupa mengingatkan Ibunya untuk minum air putih dan vitamin, makan sayur dan buah, dan selalu mengabarinya lewat pesan singkat. Juga mengatur panggilan cepat nomor satu untuk nomor ponselnya.
Dan hari ini Ibunya mengirimkan pesan membingungkan.
[Tolong bawakan makan siang untuk Ibu. Apa saja. Dan temui Ibu di kantor, bilang pada resepsionis untuk menunjukkanmu kantor utama Tuan Choi. Jam dua belas tepat.]
Pertama; untuk apa Ibunya minta dibawakan makan jika biasanya Ibunya akan makan sendiri dan jadi orang yang tak mau repot membawa bekal. Kedua; mengapa dia harus menemuinya di kantor Tuan Choi? Siapa itu Tuan Choi? Apa hubungannya makan siang dengan Tuan Choi? Seharusnya Ibu tahu Namjoon tak punya waktu banyak jam siang seperti ini.
"Permisi, saya ingin tanya, ruangan Tuan Choi ada dimana?"
Wanita cantik itu tersenyum, "Sudah ada janji?"
"Ah, Ibu saya berkata saya harus menemuinya disana. Nama beliau Lee Minah,"
"Oh. Tuan Choi sudah memberitahu saya. Apa Anda yang bernama Lee Namjoon?"
"Tepat."
"Silahkan ikuti saya,"
.
.
Namjoon tak pernah mengira ada jebakan sekonyol ini.
Tak bisa ia gambarkan suasana canggung yang tercipta di ruangannya duduk. Bersisian dengan Ibunya, sedakan Luna dan Ayahnya di hadapan. Jadi Tuan Choi yang dimaksud adalah Choi Juhyeok; ayah Luna? Lalu CGF Corp. yang pernah dikatakan Ibunya itu adalah Golden Choi Group (dia baru tahu kepanjangannya tadi) –dan beliau adalah direktur utama?
Ada, ya, takdir yang seperti ini? Apa namanya?
"Lama tak bertemu, ya?"
"Ah, iya, Om." Namjoon merasa lidahnya nyaris terpeleset. Entah karena telinganya bermasalah atau bagaimana tetapi ia mendengar suara Juhyeok begitu dalam. Sedingin pertemuan terakhir mereka di bandara beberapa waktu silam. Bisa saja karena masih ada sedikit rasa kesal di hatinya pada Namjoon sebab melukai Luna. "Aku tak tahu kalian sudah kembali ke Korea,"
Juhyeok menyesap teh manisnya, "Singkat saja. Aku sibuk dan aku tahu kau pun sama, jadi kubuat sederhana saja dalam percakapan ringan."
Ragu jadi hal yang pertama kali otaknya katakan. Tetapi Namjoon tetap diam menunggu, sebab ia tak punya ide tentang apa pun saat ini. Suasana yang kaku dan dingin membuatnya tak nyaman meski sofa yang didudukinya terlampau empuk nyaris menenggelamkan tubuhnya. Teh hangatnya belum ia sentuh. Tak berani.
"Menikahlah dengan Luna."
"Maaf?"
Juhyeok memiringkan kepalanya. Senyum miring di wajahnya. "Ada sesuatu yang salah dengan itu? Katakan satu alasan bagus untuk menolak putriku, dan pastikan kau punya muka untuk melakukan itu di hadapanku." Suaranya dalam dan tegas. Tak mau dibantah. Nyaris membuat Namjoon jantungan dan pingsan. Tetapi seketika isi kepalanya berputar, hingga jadi pening, berusaha mencari jalan keluar. Atau paling tidak, bertanya, apa yang sedang terjadi saat ini.
Ketidakpastian dan kejutan akan selalu ada di dalam kehidupan. Dan Namjoon satu dari orang yang memercayai teori itu sebab dia percaya adanya Tuhan. Namun, sesuatu yang tak pernah ia temukan jawabannya adalah: bagaimana sistem itu bekerja? Ketika Tuhan mungkin bosan dengan kehidupan manis buatan Disney, dan iseng menjadikannya sebuah cerita yang seru. Seperti seniman boneka memainkan puppetnya dengan lihai, juga bagaimana seorang penulis menggambarkan cerita begitu detil dengan kerumitan. Selalu ada hal yang tak pernah Namjoon pahami tentang bagaimana hal ini bisa terjadi? Apakah itu ada kaitannya dengan sistem hukum karma? Atau karena manusia butuh batu dan pohon untuk merangkak naik agar tak terus mengalir bersama air sungai?
Namjoon mengetatkan rahang, "Maaf, Om."
"Kubilang beri satu alasan bagus padaku."
"Saya hanya tak bisa," ia melirik ketika Ibunya menggenggam tangannya. Basah dan gemetar, kebiasaan beliau jika khawatir dan gugup. "Saya punya pilihan sendiri. Dan atas segala hormat, saya tak bisa menikahi putri Anda, Tuan Choi. Saya mungkin menyayanginya, tetapi tak lebih dari sekadar bagaimana sahabat memperlakukannya demikian. Dan saya rasa, akan selalu begitu. Sekali lagi saya minta maaf karena tak mampu,"
"Namjoon-ah,"
Dia tersenyum kecil ketika Luna memanggilnya. Meski mata yang berpendar dengan harapan dan perasaan kecewa yang kembali datang, Namjoon tetap tak bisa. Ada hati yang harus ia jaga sampai mati. Dia tak pernah berpikir hal seperti ini akan datang lagi. Bukankah ini sudah berakhir? Sudah cukup ia merasa brengsek untuk menjadi orang yang Luna pilih. Lalu jika dia pergi begitu lama, mengapa dia kembali untuk jatuh lagi? Apakah waktu tak bisa membuatnya pulih dan sadar bahwa tak akan pernah ada celah baginya untuk menerima? "Dan aku tak cukup baik untukmu, Luna. Maafkan aku tetapi sungguh, kau tak pantas mendapatkan aku. Ada yang jauh lebih baik –"
"Kubilang alasan yang bagus!" bentak Juhyeok.
"Maaf, Tuan Choi. Anda tidak bisa memaksa saya,"
Pria yang mengerutkan dahi itu berdecak. "Apa iya aku harus menggunakan cara murahan begini? Aku juga tak mau tetapi putriku meminta memangnya aku bisa diam?! Aku sudah sudi untuk menurunkan derajatku pada orang kurang ajar sepertimu dan masih berani kau tolak? Aku tak tahu Ibumu mengajari anaknya seperti ini," ia mendengus karena Namjoon mengepalkan tangannya menahan marah. "Singkat saja: nikahi Luna atau Ibumu kupecat?"
"Tuan Choi!"
"Nyonya Lee, Anda dipecat!"
"Brengsek!"
Kemudian hening lagi. Cepat dalam sekejap. Tepat setelah Namjoon mengumpat dengan suaranya yang serak, Ibunya memukul kepala Namjoon dengan kuat. Napas beratnya memantul-mantul di ruang yang dingin itu. Terdengar menyeramkan. Mungkin sedikit pedih. Tetapi Namjoon tahu, ada hal yang lebih dalam dari itu. Malu. Ibunya pasti merasa luar biasa malu dengan sikap anaknya yang kurang ajar pada bos besarnya. Brengsek sekali memang dia. Membawa-bawa tabiat buruknya ketika ada Ibunya. Tentu Ibunya sangat malu.
Tetapi Namjoon tidak suka diatur-atur seperti mainan.
Pikirnya menikah itu mudah?
"Maafkan saya, Tuan." Ibunya berdiri, menarik tubuh Namjoon yang lemas. Membungkuk penuh hormat, menyesal karena bertingkah kurang ajar. "Dia hanya terlalu gugup dan tak tahu apa yang dia bicarakan jadi saya harap Anda memakluminya. Karena akhir-akhir ini Namjoon stres dengan pekerjaan dan ini terlalu mendadak untuknya. Akan saya pastikan dia menemui Anda dengan pikiran yang jernih esok pagi. Tetapi mohon ampun saya –"
"Keluar."
Ibu Namjoon tercekat, "Tuan,"
"Ayah, jangan seperti itu."
Pria itu bernapas kesal. Kepalanya terasa berat, penat. "Baiklah. Pegang janjimu untuk membawanya ke hadapanku dengan rasa penyesalan dan kesiapan menikahi anakku, atau kau mau keluar dari sini silahkan saja."
"Baik, Tuan.."
Namjoon tak bisa merasakan apa pun. Seperti mati. Bukan karena kepalanya sakit dipukul, Ibunya sudah tak sekuat dulu ia semasa sekolah. Bukan karena Ibunya menarik-narik keluar dan memarahinya. Tetapi karena merasa syok. Juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini. kenapa rasanya seperti sinetron? Memuakkan ketika ia harus melakoni hal-hal remeh seperti menikahi putri Direktur agar Ibunya tak dipecat dari pekerjaannya.
Justru ia senang ibunya bisa istirahat di rumah!
"Kau ini tidak punya otak, apa?!"
"Bukannya bagus, ibu kan harus istirahat!"
"Anak ini!" ia menendang paha Namjoon, "Bukan hanya itu, idiot! Kau pikir muka Ibu mau ditaruh dimana setelah ini? Ibu sudah berkali-kali bilang Ibu tidak suka berdiam diri di rumah seperti nenek-nenek! Dan ini satu-satunya pekerjaan terbaik yang bisa didapatkan wanita tua seperti Ibu! Pikirmu gampang hidup sebagai wanita menopause? Tidak tahu apa yang dilakukannya, tidak mengerti pikirannya sendiri, tidak tenang tidur dan berdiam diri, gatal jika hanya guling-guling di ranjang!"
Namjoon menghela bingung, "Ibu... Kamu sudah tua dan memang harusnya di rumah. Aku kan sudah bekerja, jadi Ibu tidak perlu seperti ini. Aku khawatir padamu, Bu... sungguh bukan karena apa-apa. Dan lagipula, jika Ibu dikeluarkan, Ibu tak perlu bertemu dengan dia kan? Jadi buang rasa malu Ibu yang tidak berharga itu! Aku tidak bisa, Bu.. tidak bisa!"
"Apa susahnya, Namjoon? Kalau kau khawatir pada Ibu, ya sudah nikahi saja Luna. Apa kau juga tak takut aku mati sebelum menimang cucu?"
Luna datang dan memandang mereka dari jarak yang sedikit jauh. Tidak berani pula untuk terlalu dekat dan mengganggu. Paling tidak ia bisa mendengar suaranya dengan jelas. Kira-kira hanya lima meter jaraknya. Dan ia pun hanya diam, tak punya bahan untuk melerai atau menginterupsi perdebatan Ibu anak itu. Tetapi jauh dalam hatinya ia merasa bersalah, dan malu.
Namjoon tampak frustasi. "Aku tak bisa, Bu. Ada hati yang harus kujaga. Aku bekerja seperti orang gila begini juga karenanya. Karena aku harus mengumpulkan uang dan menjadi pria yang bertanggungjawab," ia meraih bahu kurus Ibunya. "Aku tidak bisa menikah tanpa rasa aneh mencintai seseorang. Dan itu bukan Luna, bukan dia, Ibu. Ada kehidupan yang aku miliki dan harus aku jaga sampai mati."
"Apa maksudmu... hati dan kehidupan?"
"Ibu,"
"Tidak mungkin Hana... 'kan?"
Pertanyaan itu membuat Luna menatap Namjoon. Harap-harap cemas. Seketika tersadar bahwa dunia tak berpusat padanya. Bahwa memorinya tak hanya tentang mereka berdua. Ada satu yang ia lupakan sejak ia menata hatinya begitu lama. Kim Hana; gadis itu –ia melupakannya begitu saja. Dan ia lupa bagaimana Namjoon terhadapnya, bodohnya ia tak pernah kepikiran kalau bisa saja Namjoon dan Hana masih bersama. Tetapi... apakah iya?
Lalu mengapa ia tak pernah melihatnya bersama Hana? Ia juga tak pernah mencari tahu keberadannya memang. Tetapi ia tak juga mendapati Namjoon berhubungan dengan Hana jadi bagaimana mungkin mereka masih saling terikat... bukan begitu?
"Iya,"
Luna menutup mulutnya. Kaget.
"Hana punya kehidupan yang harus kujaga. Anak kami, di dalam perutnya."
.
.
.
.
.
.
Bersambung
[edisi: sesi panjang lebar]
Noun; cuap-cuap.
..
Halo! Saya kembali.
Dan seperti yang sudah saya (lowkey) warning, bahwa beberapa chap kedepan akan kita setir ke masa lalunya Namjoon. Jadi sudah pasti settingnya adalah masa lalu, termasuk tokoh-tokohnya. Ya termasuk Kim Hana dan Choi Luna. Jadi sebelum diprotes, saya harap maklum karena memang saya sengaja untuk menjabarkan masa lalu Namjoon secara detil. Memang jadinya (mungkin) terlalu panjang dan bertele-tele. Tetapi sekali lagi, maaf sebesar-besarnya, ini adalah hasil pemikiran saya untuk fanfiksi ini. meskipun saya juga tak bisa lepas dari kritik maupun saran dari teman-teman sekalian.
Karena dari chap-chap sebelumnya ada banyak banget yang selalu skip bagian Namjoon ketika berkelana ke masa lalu karena dirasa ga penting dan Namjoon gak homo disini. Mohon maaf sekali, tetapi itu bagian besar dari cerita bagaimana Namjoon jadi punya karakter yang plin-plan sama pilihannya sendiri. Juga bagaimana Namjoon jadi orangtua yang buruk dan gak adil. Itu semua ada latar belakangnya dan saya berharap cara saya untuk mengisahkannya secara spesial bisa diterima dengan baik. Untuk itu saya juga mohon maaf kalau momen MinV dan Vkooknya berkurang di spesial chapter: kenangan masa lalu. Karena memang fokusnya di kisah Namjoon.
Sudah itu aja. Makasih yang udah setia nugguin banget ini fanfik udah kek sinetron yah katanya? Wkwkwk. Banyakan nonton drama kali yah? Dan makasih yang selalu support dan ngasih bantuan untuk saya selama proses proyek My Mama ini.
Happy reading!
Salam.
[ sugantea ]
