"Taehyung sudah tidur?"
Namjoon tersenyum ketika menutup pintu. Berjalan mendekat pada Hana yang dudu di tepi ranjang dengan wajah bingung. Ia ikut mendudukkan diri dan mengelus kepalanya sayang, tak berhenti tersenyum. "Sudah. Sekarang dia bisa tidur tanpa dibacakan cerita,"
Wanita itu mengangguk.
Tetapi, ada sesuatu yang janggal di benak Namjoon. Tidak biasanya Hana nampak begitu gelisah, dan itu turut membuatnya gelisah pula. Ia tidak bisa melihat orang yang disayanginya merasa terbebani jadi ia mengelus bahu kurusnya. Sejenak ia merenungi Hana sudah jauh lebih kurus dari apa yang dia ingat. "Ada apa, Han?"
"Besok ulang tahun Taehyung,"
"Oh?" dia melirik kalender. "Betul, besok kita ajak dia makan enak."
Lengan kurus Hana meraih lengan Namjoon, "Ini ulang tahunnya yang keempat."
Kemudian Namjoon terpaku. Mendadak isi kepalanya seperti menguap, habis tanpa sisa. Tahu-tahu jantungnya berdegup tidak karuan karena ingat sesuatu.
Luna memberinya waktu. Untuk membangun keluarga kecilnya dengan bahagia. Namjoon sempat bingung dengan keputusan anehnya, tetapi ia sedikit bersyukur karenanya. Ada batas yang harus ia tahu, dan itu hanya empat tahun (atau lebih mudahnya, ketika Taehyung berusia empat tahun). Batas waktu yang terasa amat singkat, bahkan Namjoon belum sempat melihat anaknya masuk sekolah dasar dan mengenalkan diri di depan kelas.
Lalu apa saja yang dilakukannya? Namjoon jadi bertanya-tanya; kenapa rasanya tak pernah cukup untuknya merasa bahagia? Selalu terasa sebentar baginya tertawa dengan keluarga kecilnya untuk kemudian harus ditinggalkan. Ini terlalu melankolis untuk dibahas, tetapi Namjoon tak pernah berbohong kalau ia sungguh ingin menangis jika membahas keluarganya.
Hana dan Taehyung; dua hati yang selalu Namjoon jaga sepanjang hidupnya. Permata yang sangat disayanginya. Yang menjadi semangatnya hidup dan bekerja. Cukup mendengar suara manis Taehyung yang menyambutnya pulang kerja dan pelukan hangat Hana sudah membuatnya ingin menangis haru. Sudah sesimpel itu saja, dia tak berharap macam-macam.
"Rasanya seperti dongeng Timun Mas, ya."
Namjoon menatap Hana dalam diam.
Terlalu takut jika ia akan menyakitinya dengan menyentuhnya.
"Apa tidak bisa, hidup seperti ini selamanya?" Hana mencengkeram sprei di sisi tubuhnya. "Kenapa harus mendengar kata orang? Kenapa harus hidup diatur-atur? Memangnya kita ini budak sampai tidak punya pilihan? Aku capek, Namjoon." Napasnya berat dan lelah, "Aku lelah hidup dalam batas waktu. Rasanya seperti sia-sia, ketika kau dilahirkan kemudian tahu kapan akan mati. Itu tidak menyenangkan, tetapi menakutkan. Dan aku hidup dalam bayang-bayang ketakutanku sendiri. Apa kau mengerti perasaanku: takut melihat Taehyung tumbuh dewasa?"
Jemari Namjoon mengusap pipi Hana.
Tentu saja dia tahu. "Aku takut melihatnya tumbuh. Seperti aku ingin dia selamanya jadi bayi. Biar saja aku hidup untuk mengganti popoknya sampai mati. Ketimbang takut ia tumbuh semakin besar dan pintar, dan tanpa persiapan apa-apa –" Hana menghela lagi, nyaris menangis. " –tanpa kusadari besok dia sudah empat tahun. Waktu berjalan terlalu cepat, ya?"
"Aku juga berharap begitu,"
"Aku tidak ingin berpisah denganmu."
Ini hal yang membuat Namjoon lemah. Tangis Hana yang pecah, sebab ketika wanita itu mengeluarkan airmatanya, akan sulit baginya berhenti. Menangis adalah hal terakhir yang akan dilakukannya. Namjoon memahaminya terlalu baik, hingga tahu wanitanya lebih baik diam merenung ketimbang menangis. Jadi ketika ia sudah pecah, itu tandanya Hana sudah terlalu takut untuk hancur. Sejujurnya Namjoon juga sama. Tetapi ia jadi semakin bingung untuk melakukan apa.
Otak cerdasnya berpikir, terus-terusan, sampai rasanya mau meledak. Dia merenung sembari memeluk Hana yang gemetaran karena tangisnya sendiri. Mengusap punggung kurusnya lembut dan terus berpikir di sela-sela rutukannya karena Hana benar-benar kurus. Apakah dia tidak makan dengan baik, atau karena hal lain? Seperti memikirkan ketakutannya, misal?
Sampai akhirnya ia tahu.
"Ayo kita pergi," ucapnya kemudian.
Hana menatapnya tak mengerti. Memandangi Namjoon yang turun dari ranjang dan memasukkan seluruh pakaian ke koper besar. Dia bingung dengan pernyataannya barusan. Hana hanya diam ketika Namjoon sibuk dengan kegiatannya sendiri. Tergesa-gesa seperti dia sudah dikepung polisi dan akan lari. Tetapi dalam kasus ini, Hana melihat persamaan itu.
Mereka juga dikejar-kejar, hidup dalam kungkungan orang lain. Hingga rasanya sesak dan ingin lari karena tak tahan lagi. Memuakkan.
"Namjoon,"
Pria itu melangkah terburu, menangkup bahu Hana dan menatapnya luar biasa teduh. Meski dia dapat melihat keraguan dan ketakutan yang sama dari matanya. "Kita pergi saja. Yang jauh, jauh dari siapapun yang akan mengganggu. Kita akan pergi dengan Taehyung –"
"Dan memulai hidup baru?"
Senyumnya lirih. "Ya. Hidup yang baru,"
My Mama
..
Kim Taehyung, Jeon Jungkook (as Kim Jungkook), Park Jimin, Kim Namjoon (as Lee Namjoon), Kim Hana dan Choi Luna (OC), and other supporting casts
..
[Vkook as brothers]
[MinV]
..
(Warning! Alur maju mundur, silahkan sesuaikan sendiri)
..
You know, i know
..
"Berhenti tersenyum. Kamu bisa dikatai gila,"
Jimin menoleh dan tersenyum jahil. Menarik genggaman tangannya dengan Taehyung kemudian mengecup lembut punggung tangan Taehyung. Sekejap menjadikan pipi pemuda manisnya merona tipis oleh perlakuan manis itu. Meredam kekesalan yang singgah di kepalanya. Dalam hati Jimin tertawa oleh sikap lugu kekasihnya. "Kenapa disuruh berhenti? Aku sedang bahagia,"
Pipinya masih hangat. "Soalnya orang-orang melihatmu."
"Oh, kamu cemburu?"
"Hah?"
"Tidak suka aku membagi senyumku untuk orang lain, hm?"
Cubitan ringan mampir di pinggang Jimin. Pria itu mengaduh kecil oleh sengatan itu, tetapi kemudian terkekeh ringan karena melihat wajah lucu pacarnya. Ketika marah, Taehyung akan memerah seluruh wajah dan merengut. Yang mana bagi Jimin adalah momen termanisnya, dan ia tak akan pernah bosan untuk menciptakan itu.
Tetapi sejujurnya, Taehyung memang sedikit tidak suka bagaimana orang-orang melihat Jimin yang berwajah cerah dan tersenyum sepanjang waktu. Mereka berjalan bergandengan tangan, ini Jimin yang minta sambil merengek, dan Taehyung tak dapat lagi menghitung berapa banyak perempuan yang lirik-lirik dan berbisik. Mungkin dia tak dengar jelas, tetapi Taehyung yakin mereka menyukai wajah tampan Jimin.
Singkatnya, Taehyung cemburu.
Ugh, memalukan kalau harus jujur. Jangan bilang-bilang Jimin, ya!
"Hei, Sweets." Jimin mendekat dan memberi ciuman di pipi.
"A-Apaan!"
Jimin tersenyum geli ketika Taehyung merona lagi. "Kalau harus cemburu, ya itu aku. Kamu sibuk memperhatikan orang yang lirik-lirik aku tanpa tahu kau sendiri diperhatikan orang. Kata mereka kau manis dan cantik. Tak tahu saja dia aku bisa mematahkan lehernya!" sekarang Taehyung yang tertawa dengan lepas. "Juga beberapa orang dari jaman kita masih ingusan, ada banyaaak, Taehyung! Tidak bisa dihitung lagi berapa orang yang suka kamu. Juga orang jelek yang kau sebut Sehun itu –sial, kalau aku lihat mukanya lagi akan kugaruk dia,"
"Sudahlah. Dia tidak ganggu aku lagi,"
"Pasti itu."
"Dan aku tak tahu kau menyukaiku sejak jaman ingusan?"
Jimin menoleh dan memiringkan kepalanya, "Huuuh! Memang ya! Kim Taehyung itu memang tidak pernah peka! Ya aku tahu sih memang begitu sikapmu. Kalau tidak dinyatakan, kau tidak akan pernah tahu perasaan orang lain," sekarang dia yang merengut. "Kamu saja yang tak tahu kalau aku harus berperang dengan ratusan orang yang menyukaimu! Menyingkirkan mereka itu tidak mudah, tapi karena aku Park Jimin ya sudah tentu memenangkan hatimu,"
"Tch. Apa-apaan itu,"
"Loh, buktinya kamu jatuh cinta padaku, kan?"
Agak menggelikan, sih. Tetapi Taehyung akhirnya tersenyum dan mengangguk. Rambut panjangnya bergerak lucu sampai Jimin tak tahan untuk merapihkannya dan mengelusnya dengan luar biasa lembut. Mereka saling melempar senyum sampai Jimin menarik lengannya dan kembali berjalan berdampingan. "Mau beli sesuatu yang manis dulu?"
"Hmmm, gulali?"
"Oke." Jimin membawa pacar kurusnya ke pedagang gulali. Ia memesan satu untuknya dan menunggu. Mata tajamnya mendapati wajah gembira Taehyung yang menonton abang gulali membuatkan permen kapas di dalam mesin putarnya. Mengagumi bagaimana sedikit demi sedikit untaian gulali yang berwarna merah muda menjadi gumpalan besar yang lucu. Jimin tersenyum karena itu, dan mengelap dahi Taehyung yang basah oleh keringat.
Kasihan pacarku kegerahan. Batinnya kembali alay. Jimin juga kepanasan sebenarnya, berada di tempat ramai sejenis taman bermain itu sebenarnya sudah bukan gayanya. Dia sudah nyaris tiga puluh dan tempat seperti ini sudah bukan untuknya. Tetapi dia siap siaga (bahkan kegirangan sampai tak bisa tidur) hanya karena Taehyung mengajaknya kemari. Manis sekali, Jimin pikir. Agak jarang dia mengajaknya kencan. Terakhir mereka melakukannya, itu karena Taehyung ingin mengikuti Jungkook dan Ayahnya.
Dibicarakan, Jimin jadi teringat. Bagaimana kabar Jungkook, ya?
"Loh, loh, kenapa dikasihkan anak itu?"
Baru sekitar dua detik setelah ia sadar Taehyung yang sudah menerima gulalinya malah diberikan kepada anak kecil yang sekarang sudah berjalan menjauh dengan seorang yang menggandeng tangannya. Mungkin mereka kakak beradik. Tetapi ia masih menunggu jawaban Taehyung; yang masih menatap dua anak kecil yang berjalan lucu. Hanya berdua, dan mereka masih cukup kecil untuk berkeliaran tanpa orangtua.
Senyumnya lirih, "Mereka seperti aku dan Jungkook."
"Kenapa?"
"Yang paling kecil itu ingin permen kapas, tapi kakaknya tidak punya uang." Ia tertawa ringan masih memandangi punggung kecil kedua anak itu. "Itu mengingatkanku padanya. Ketika dia merengek minta dibelikan permen atau eskrim, tapi aku tidak punya uang. Jadi dia menangis dan seorang tukang roti kasihan, akhirnya dia membelikan kami satu-satu. Itu kenangan yang konyol, bukan?" ia tersenyum dan menggenggam tangan Jimin. "Aku tidak mau kakak itu bingung jika adiknya menangis, karena sejak tadi dia hanya bisa memandangi gulali itu. Saat kubilang ingin beri dua, kakaknya menolak. Untuk adikku saja, begitu dia bilang."
Jimin tersenyum kecil, "Sepertimu."
"Hm?"
"Tidak perlu apapun untukmu, asal adikmu mendapatkan apa yang diinginkannya kau sudah senang. Tidak muluk-muluk. Cukup adikmu senang, sudah begitu saja."
Taehyung mengangguk, "Begitu, ya..."
"Nah. Masih mau gulali?"
"Kurasa tidak," mata bulatnya mengedar. "Kita naik komidi putar, yuk?"
Merasa gemas, Jimin mengusak rambut lebat Taehyung. "Dasar kau ini."
.
.
Inginnya Jimin mengeluh dan meminta pulang. Dia benar-benar capek berjalan di bawah terik matahari dengan kebisingan. Sudah terlalu lama terbiasa duduk tenang di ruangan dingin dan berkeliling kota dengan mobil membuatnya kaget harus membumi begini. Tetapi kelihatannya Taehyung belum puas bermain, malah menyeretnya kesana kemari. Kan dia jadi terlihat seperti bapak menemani anaknya bermain. Sedih.
Ya sudah, pakai saja kata daddy dan his good boy. Hm.
"Ayolah, belum ada dua jam!"
"Kakiku pegal, Sayang."
"Aku mengajakmu kemari supaya kau senang-senang," yang lebih muda merengut lucu. Jadi Jimin mengambil kesempatan untuk mengecupnya sesingkat mungkin. Tahu kalau Taehyung bisa saja ngambek jika dia cium-cium lebih dari tiga detik, malu katanya. Padahal Jimin bisa berikan banyak-banyak. Dia tidak malu, suka banget malah. "Tapi ya aku juga tidak tega kalau kamu capek. Kasihan, pasti rumit ya mengikuti kemauanku terus?"
Jimin membesarkan matanya, "Iya. Cium dong biar aku semangat lagi!"
"Cium-cium terus otakmu itu,"
"Peliiiit!"
Mereka maju dua langkah. Semakin dekat, sebentar lagi bebas dari pegal mengantri. Taehyung memintanya naik bianglala besar. Jimin yang sudah lelah tak bisa menolak (siapa juga yang bisa kalau Taehyung ber-aegyo dengan nada lagu oppaya!) jadi dia rela mengantri lebih dari satu meter di bawah matahari. "Sebentar lagi kan duduk-duduk, sabar ya."
"Apa sih yang tidak untukmu,"
"Ya ya, Sayangku."
Tadi Jimin ingin menjerit karena Taehyung memanggilnya Sayang. Tidak salah, tuh? Biasanya hanya dia yang memanggilnya dengan ribuan kata manis, Taehyung tidak pernah sudi ikut-ikutan punya nama panggilan kesayangan untuk Jimin. Ya hanya sebatas panggil namanya saja, jadi jika saat ini pacarnya itu memanggilnya semanis itu, tentu saja Jimin gembira!
Akan tetapi giliran mereka naik bianglala. Taehyung menarik tangannya sampai Jimin bungkam, seorang petugas mengaitkan pintu bianglala dan mereka bergerak naik. Tadi Taehyung ingin duduk di seberang tapi Jimin tak mau, mereka harus duduk berdampingan! Enak saja sudah panggil manis malah menjauh. Memang Taehyung itu tak bisa peka orangnya.
Karena bianglala ini besar sekali, putarannya lambat. Makanya antriannya panjang, sebab memang satu kali naik kurang lebih sepuluh menit mereka menikmati. Penumpang diberikan waktu sekitar tiga menit untuk berhenti, jadi saat berada di puncak mereka bisa memandang kota dan berfoto –itu yang biasa dilakukan orang pacaran.
Taehyung menghabiskan waktu dengan berceloteh banyak hal. Jimin mendengarkan setengah fokus sebab asyik mengagumi wajah pacarnya. Mulus dan cantik. Bening seperti jeli. Tahi lalat di pipi dan ujung hidungnya bikin gemas, jantung Jimin berdegup-degup tak jelas. Rambut panjang Taehyung beterbangan tertiup angin, Jimin jadi berangan untuk mewarnainya lagi. Mungkin merah muda atau jingga lembut. Walau sebenarnya coklat madu begini juga sudah cocok untuknya, benar-benar definisi manis yang sesuai.
"Hei, itu pesawat!"
Telunjuk kurusnya membidik kapal udara yang melintas. Tampak begitu cantik melesat menembus awan, seperti gambar ketika masa kanak-kanak. Senyum Taehyung merekah, juga matanya yang hangat dan sedikit berair. Jimin sedikit kaget saat Taehyung mengeratkan genggaman tangan mereka. Tak mengerti, ia hanya mengelusnya ringan. "Apa itu pesawat Jungkookie?"
Ah, jadi itu. "Memangnya dia bilang jadwalnya hari ini?"
"Tidak tahu,"
"Kemana dia bilang akan pergi?"
"Ohio," Taehyung menatap gumpalan awan putih. "Itu di Amerika, bukan sih?"
Jimin maju untuk mengecup pelipis Taehyung. "Pintar deh pacarku," dia terkekeh karena Taehyung mendengus. Merasa tersinggung karena 'memangnya aku sebodoh itu apa?' tetapi dia memaafkan Jimin karena dia ganteng sekali hari ini. Alasan yang konyol, tetapi tak apa. Menyukai Jimin saja sudah jadi hal terkonyol yang tak pernah ia duga akan dilakukannya selama hidup. Namun, tak dapat dipungkiri kalau itu juga hal termanis: jatuh cinta pada Jimin. "Jadi, apakah dia akan kembali jika sudah selesai kuliah?"
"Dia berkata, jika sudah sukses dan bisa beli mobil sendiri."
"Tetapi kurasa dia akan datang sebelum itu."
Taehyung menoleh, "Kenapa?"
"Ya dia kan harus datang ke pernikahan kita."
"H-Hah?!"
Jimin tertawa geli dan mencium Taehyung selama bianglalanya berhenti berputar. Tepat di puncak, ketika angin berhembus lembut. Sehalus bagaimana ia memperlakukan Taehyung.
Jungkook mencatat mata perkuliahannya dengan baik. Buku catatannya memang sedikit lebih tebal dibanding yang lain. Keseriusan di dalam matanya membuat orang jadi mudah segan (atau barangkali takut) padanya untuk mengajak bicara di sela-sela sesi kelas. Jungkook lebih suka diam dan mendengar, dia juga menyiapkan handphonenya untuk merekam. Barangkali ada yang dia lupa di lain waktu, juga keterbatasan bahasa Inggrisnya. Di beberapa waktu dia akan bertanya pada Namjoon yang luar biasa mahir.
"We're about to lunch! Let's go, Jungkook!"
Kegiatan rapih-rapihnya terhenti. Seulas senyum merekah, "I'm fine."
"Oh, okay. Want cola or some candies, maybe?"
"Coffee, please."
Yang tersenyum itu namanya Steven. "Sure, see you at Jacob's class."
Meski dia pendiam, Jungkook punya beberapa teman dekat. Diantaranya Steven, ada Jesslyn, Christ, Leon, dan Himawari. Mereka semua berhubungan baik dan Jungkook senang karena mereka tulus. Sesaat teringat pada teman-temannya dulu. Apa kabar Mingyu dan Seokmin, ya? Tetapi Jungkook mengesampingkan itu. Lagipula mereka tak mungkin memikirkan dirinya, jadi ia juga tidak boleh memikirkan mereka; rasanya tak pantas.
Ia berjalan menyampirkan ransel di bahu kanannya. Tersenyum kecil mendapati Jihoon berdiri di dekat pintu kelasnya dan memandang ke luar, memakai earphone mendengar lagu. Ditepuk pundak kecilnya dan Jihoon menoleh kaget. Ia kemudian menyerahkan tas jinjing kecil putih padanya dengan wajah malas. "Ini makan siangmu, Pangeran."
"Ups. Maaf ya, aku kelupaan."
"Aku menambahkan potongan apel," Jihoon berjalan berdampingan dengan Jungkook. "Kelas pagiku batal dan baru dimulai pukul setengah satu. Jadi tadi aku tidur lagi dan wow, kau selalu melupakan kotak bekalmu. Berhenti begitu, aku bukan pembantu yang harus membawakannya ke kelasmu, payah!" ia melepas earphonenya. Menggulungnya rapih. "Pastikan makan buah dulu sebelum nasinya. Ingat! Itu kalau kau tak mau dia membusuk di perutmu,"
Jungkook mengangguk, "Kau bawel."
"Kau mau kemana?"
"Perpustakaan."
"Memang boleh makan disana?"
"Penjaga hari ini adalah penggemarku," Jungkook memainkan alisnya usil. "Cukup kedipkan mata dan bertingkah genit sedikit dia sudah luluh."
Jihoon mencebik, "Sifatmu seperti jalang."
"Terserah." Jungkook menepuk puncak kepala Jihoon dan berbelok ke sayap selatan kampus untuk berkunjung ke perpustakaan. Masih ada sekitar dua jam lagi untuk kelas selanjutnya. Kebetulan memang perutnya berbunyi, dan Jihoon sangat bisa diandalkan. Dia sedang malas berkumpul dengan teman-teman dan ingin sendiri.
Terkadang memang manusia seperti itu, kan. Jungkook tidak merasa aneh dengan itu. Sesupel apa pun manusia, pasti mereka punya masa dimana ingin bersenang-senang dengan kesunyian. Dan bagusnya teman-teman di kampus memahami itu. Karena ini bukan hal yang terkadang, Jungkook langganan menyendiri.
Jurus kedipan nakalnya berhasil. Nona Shannon luluh (dan memang sejak awal mendeklarasikan cinta pada Jungkook) dan mempersilahkannya duduk sambil makan. Tetapi dia tetap harus di tempat yang tertutup atau orang-orang bisa terprovokasi untuk makan di perpustakaan juga. Jungkook tidak masalah, dia memang butuh sendirian.
Ada satu bangku di pojok, dekat rak buku referensi bahasa Arab. Dia duduk nyaman dan mulai memakan potongan apel merah. Kotak bekalnya ia letakkan di pojok supaya tak kelihatan orang, kemudian dia sudah mengambil buku manajemen keuangan untuk jaga-jaga. Intuisinya mengatakan Mr. Jacob akan mengadakan kuis. Jadi ia membaca sekalian makan.
"Itu mengerikan,"
Seorang perempuan berambut pirang terkesiap. "Ya. Aku melihatnya sendiri. Itu memang mengerikan, tetapi karena wajah keriput Nyonya Levis terbayang-bayang di kepalaku aku lari saja tidak mau tahu," yang bercerita itu kulitnya gelap. Rambutnya kelam. Wanita juga. "Sebenarnya ya aku penasaran. Karena tangannya sudah terpisah, dan darahnya banyak sekali!"
"Gosh. Apa isi perutnya keluar?"
"Kau gila, ya?! Sudah pasti! Baru kali ini aku liat usus besar secara nyata!"
Jungkook menguping dan bingung. Perbincangan macam apa itu?
"Memangnya bagaimana kronologinya?"
"Biasa lah. Jadi si wanita ini tukang antar pizza dan memang ngebut jalannya. Entah dia nembak sim atau gimana yang jelas dia kencang sekali jalannya dan berusaha ngerem karena ada mobil di depannya tapi malah jatuh terseret. Sialnya, truk sedang melintas. Kau tahu kan truk tidak bisa rem sembarangan jadi mereka lebih baik melindas satu orang dibanding melempar barang di belakang dan melukai lebih banyak orang,"
Mereka mengambil referensi bahasa Jepang dan berlalu. "Hati-hati mengemudi, Vic. Kau suka mabuk, kan? Aku tidak mau kehilanganmu semengerikan itu."
"Iya, astaga. Aku bisa mengemudi dengan benar!"
Jungkook memandang kepergian dua perempuan itu agak lama sampai akhirnya ia memasukkan potongan apel terakhirnya. Jadi yang dibicarakan tadi adalah insiden kecelakaan lalu lintas, dan korbannya wanita. Parah. Tangannya putus dan organ pencernaannya berceceran. Jungkook bergidik ngeri membayangkan itu. Nafsu makannya hilang.
Delapan puluh persen karena teringat kecelakaan lain. Kemudian teringat Taehyung yang berada jauh darinya. Berpikir, kira-kira sedang apa dia disana. Kurang lebih sekarang pukul dua pagi di Korea. Apa dia sudah makan? Bagaimana rambutnya sekarang; apa tetap coklat madu atau berubah jadi merah terang atau mungkin ungu? Apakah berat badannya naik? Dengan siapa dia tidur malam? Apa masih suka mengigau?
Ia mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi kakaotalk.
Kontak Taehyung ada disana. Masih sama, memakai foto Evee sebagai display picture. Jungkook tersenyum, ingat kalau kakaknya suka dengan tokoh pokemon. Dan selalu gemas dengan karakter Evee, padahal Jungkook tidak paham serunya dimana. "Hyung, aku kangen." Memang inginnya dia kirim pesan, tapi urung.
Ding!
"Jimin hyung?"
Kenapa dia mengirim pesan duluan? Yakin ini Jimin hyung?
[Taehyung baik-baik saja bersamaku. Dia tersenyum, tertawa, dan bahagia. Bahkan ketika membicarakan dan mengingatmu, dia bahagia. Mungkin ini pilihan tepat untuk membangun jarak diantara kalian. Ini hanya masalah waktu, kupikir. Dari sudut pandangku, Taehyung perlu waktu untuk memulihkan luka di hatinya. Dan ia ingin memberimu kesempatan untuk pulih juga. Kakakmu memang tak akan pernah cerita, tetapi aku memahaminya hanya dengan melihat matanya. Dia ingin kamu juga bahagia dan sukses di sana. Bahkan dia tak peduli kapan kau kembali, meski kau tiba-tiba datang menggandeng istri sekali pun. Taehyung menikmati hidupnya, dia bilang baik-baik saja seperti ini. Tetapi aku tahu, dia juga rindu padamu. Dan kubilang, tahan sebentar. Sebentar lagi sampai kamu berhasil membuatnya bangga.]
Mata Jungkook basah dan panas. Pesannya panjang sekali.
Jempolnya gemetaran ketika pesannya muncul lagi.
[Aku berhasil membuat berat badannya naik dua kilo dalam satu bulan. Meski itu cukup merepotkan. Tak apa, aku tahu kau ingin begitu karena aku pun sama. Dia masih sama manis seperti seharusnya. Tetapi memang dia mudah sakit belakangan ini. Cuaca di Korea benar-benar buruk. Mungkin inilah efek pemanasan global. Panasnya membuat Taehyung gila, dan musim dinginnya membuatku gila karena kakakmu sampai tak bisa bangun dari kasur! Itu menyusahkan tetapi dia manis saat meringkuk jadi aku memaafkannya. Jadi, kapan kamu akan pulang? Apa benar setelah kamu bisa beli mobil?]
"Dasar Jimin hyung," dia bingung mau menangis atau tertawa.
[Sebentar lagi ulang tahunnya! Aku menyiapkan hal terbaik di dunia untuknya, melebihi bulan dan bintang di angkasa! Jangan tertawa, karena suaramu jelek! Dan maaf ya, aku sudah merubah warna rambut Taehyung jadi merah terang. Dia benar-benar kelihatan manis, dan dia tidak mau rambutnya dipotong! Dasar menyebalkan. Aku sudah gemas ingin mencabutnya sampai botak saja tapi ya dia menggemaskan dengan rambut panjang jadi aku memaafkannya. Dan oh, dia tak tahu aku menghubungimu begini dan WOW! Kamu membaca ini? Aku pegal mengetik panjang-panjang tapi ya sudahlah. Selamat belajar, Jungkook. Kuharap kamu menggunakan waktumu dengan baik dan tak mengecewakan Kakakmu.]
Jimin_hyung sent photo.
[Buah apel manisku_jpg]
Senyum Jungkook merekah. Lebar sekali sampai ia pikir mulutnya akan robek dengan itu. Hanya karena menatap foto Taehyung yang tertidur di bangku salon. Sepertinya mengantuk dan keenakan kepalanya dipijat. Lagipula mewarnai rambut itu memang lama sekali. Wajahnya seperti anak anjing. Lucu. Mulutnya menganga kecil. Tanpa pikir panjang Jungkook menyimpan gambar itu.
Ya. cukup sesederhana itu.
"Selamat ulang tahun, Taehyung!"
Matanya mengerjap. Nyaris terjungkal dan berteriak maling! tetapi dia hanya terbengong mendapati sebuah kue besar dengan krim putih cantik dan buah stroberi di atasnya, dengan lima lilin menyala. Jimin yang bawa, ada Mama dan Papa Jimin, lalu Jiyeon.
Taehyung menganga melihat kehebohan yang dibuat mereka di rumahnya. Tadi dia terbangun karena ingin kencing tetapi malah dikejutkan dengan ledakan confeti dan nyanyian riang. Tubuh lemasnya diajak menari dan berputar-putar. "Saranghaneun, Kim Taehyung~"
"Saengil chukahamnida!"
"Tiup lilinnya! Ayo cepat!"
Usai tersenyum, Taehyung menutup mata. Sejenak berdoa dan bersyukur memiliki orang-orang yang menyayanginya sebegini besar. Dia meminta kepada Tuhan untuk memberi kebahagiaan kepada mereka, dan umur panjang. Sedangkan untuknya sendiri, ia berharap akan selalu merasa lengkap seperti ini. Juga semoga Jungkook pulang dan mereka membangun hubungan saudara yang baik seperti dahulu.
Terima kasih, Tuhan. Taehyung meniup lilin.
Selanjutnya ia dipeluk dan dicium pipinya. Jimin mengerang kesal dan mendekapnya posesif, merengut sebal dan berkata 'jangan sentuh milikku!' dan lanjut bertengkar dengan Mamanya yang gemas ingin memeluk dan cium Taehyung lebih. Taehyung tertawa lepas karena itu, menikmati debat tidak penting mereka dan melepas diri. Dia benar-benar harus membersihkan diri. Paling tidak gosok gigi dan membasuh muka.
"Siapa yang masak ini semua?" Taehyung sudah segar.
Ia mengambil duduk di samping Jimin. "Ibu dan aku yang buat. Ini urusan wanita saja, Jimin sibuk dengan kuenya. Padahal kalau aku yang pesan jauh lebih bagus dari itu!" Jiyeon menjawab dengan cibiran mengejek Jimin. Ia memberikan semangkuk nasi untuk Taehyung, tersenyum lembut dan pura-pura tidak dengar gerutuan Jimin untuknya. "Jimin memang hanya bisa nyuruh! Kami disuruh masak doang, sial! Untung orang ini Taehyung si bidadari jadi aku sukarela."
Taehyung meminum jus jeruknya. Nyaris tersedak karena tertawa.
"Mereka bilang kau suka tumis daging dan chapjae."
"Ini kimchimu, Sayang." Ibu Jimin menyuapkan besar sekali.
"Ufhm yha yha!" dia kewalahan mengunyah yang sebesar itu.
Tetapi mereka makan dengan khidmat. Suasana yang hangat. Meski Ayah Jimin membuat lelucon om-om yang tidak tahu dimana lucunya, tetapi beliau ngotot untuk ditertawakan.
.
.
Taehyung meneguk air mineral sampai habis. Menghela napas kesal karena hanya duduk-duduk saja. Jadi begini, Mama dan Jiyeon tidak mengijinkannya cuci piring. Membawanya ke wastafel cuci piring saja tidak. Papa Jimin tidak membela banyak dengan mengendikkan bahu dan mengecup pelipisnya saja kemudian menonton tv. Bintang utama hari ini tidak boleh capek, begitu kata para wanita. Taehyung tak akan mengerti pola pikir perempuan.
Omong-omong Jimin kemana ya? Lama banget katanya cuma kencing.
"Ayo girls," Papa Jimin datang dan sudah memainkan kunci mobil.
Para perempuan yang masih asik memeluk Taehyung mengerang. Mama Jimin yang berteriak sebal dan minta tambahan lima menit lagi. Masih kangen, dia bilang. "Kenapa cepat sekali mau pulang? Ini bahkan baru jam sebelas," Taehyung bersuara.
"Betul! Pak tua ini kolot betul." Ini hanya Mama Jimin yang berani.
"Hei, Sayangku. Aku harus bekerja dan Jiyeon juga."
"Tinggal saja aku disini!" usulnya sambil memeluk lengan Taehyung. Papa Jimin menggeleng dan tertawa ringan, sementara Taehyung nyengir lucu. "Kita harus memberikan ruang, ingat?"
Taehyung mengerutkan kening. Ruang apa yang dimaksud itu? Tetapi segera terbangun karena Mama Jimin dan Jiyeon akhirnya melepas pelukan dan bersiap. Wajah mereka masih kusut dan merengut, Taehyung hampir tergelak karena sikap aneh mereka. Tetapi dia senang mereka sayang padanya dan mau memeluknya. "Eh, tunggu. Jimin masih di toilet –"
"Aish, biarin saja dia, Taehyung."
"Kalian kan mau pulang masa Jimin ditinggal?"
Jiyeon tersenyum, "Dia kan bos, bebas mau kerja apa tidak!"
"Ya... tapi biar kupanggilkan untuk mengantar kalian ke depan –"
"Kami bukan nenek-nenek, oke?" mama Jimin tergelak dan mencium pipi Taehyung gemas. Merasa bangga Jimin benar-benar menepati janjinya untuk menggemukkan Taehyung. Pipi gembilnya kembali dan itu terasa lembut sekali. Mereka keluar dan masuk ke dalam mobil, menyisakan Taehyung di depan menatap mereka yang melambaikan tangan heboh.
Waktu terasa singkat sekali. "Hati-hati dijalan, ya."
"Tentu! Selamat ulang tahun, Taehyungie sayang!"
Setelah mobil mereka menghilang di tikungan, Taehyung masuk ke dalam rumah. Celingukan mencari Jimin yang belum kelihatan hidungnya. Katanya mau pipis doang tapi tidak selesai-selesai. Apa dilanjut buang hajat, ya?
"Jimin?" loh. Kamar mandi malah kosong.
Taehyung melangkah ke kamar karena biasanya Jimin suka bersembunyi di sana untuk senang-senang. Kata Jimin itu wangi dirinya, padahal dia juga tidak tahu aromanya seperti apa. Dia hanya pakai sabun mandi (itu pun murah dan gonta-ganti). Dan lagipula Jimin memang biasanya nyelonong ke kamarnya dan tidur di ranjangnya tanpa tahu waktu. Jadi pasti dia ada di dalam. Oh, katakan saja ini intuisinya.
Dia menekan gagang pintu, lalu mendorongnya.
Lalu... kenapa kamarnya terang sekali?
Jendela di kamarnya terbuka, termasuk tirainya. Jadi cahaya matahari betul-betul masuk ke dalam ruangan pribadinya ini. Membuat siluet manis tubuh Jimin yang berdiri menghadapnya, tegap dengan pakaian yang diganti (tadi dia hanya pakai kaus, dan sekarang pakai kemeja kotak-kotak! Taehyung tak bisa bohong kalau dia ganteng sekali). Akan tetapi, wajahnya tertutup lima balon merah muda yang digenggam talinya. Erat sekali, tangan kanan yang bekerja. Sedangkan tangan kirinya bersembunyi di belakang punggungnya.
Taehyung mengerjap bingung. Melangkah mendekat dan terhenti.
Ia hampir berteriak ketika baru tahu ada kelopak mawar yang disusun sepanjang jaraknya dengan Jimin. Kelopak yang masih basah dan harum itu menyentuh kulit kakinya yang telanjang. Dan ia memilih terdiam di tempatnya, tidak mengerti apa yang harus dilakukannya saat ini.
Bahkan suaranya tersendat. "J-Jimin –"
"Sayangku," Jimin menaikkan balonnya sedikit di atas wajahnya.
Senyum manisnya buat Taehyung ketar-ketir. "Coba hitung ada berapa balon?"
"Lima,"
"Pintar."
Bahkan untuk bernapas saja rasanya sulit. Taehyung tidak tahu dia sedang ada di situasi macam apa. Jantungnya berdentum-dentum tanpa irama. Parah. Tatapan memuja di mata Jimin jadi hal yang tidak bagus untuk perutnya. Seperti diputar-putar. Geli, ketika sayap ringkih kupu-kupu imajiner menggelitik dinding perutnya. Taehyung tidak mengerti, tetapi dia bisa saja pingsan saat ini karena Jimin bertingkah aneh.
"Ada lima alasan dasar untuk mencintaimu,"
Jimin melepas tali balonnya. Satu, hingga dia terbang ke atas langit-langit kamar Taehyung. Dia memberi sedikit jeda karena kekasihnya menatap bagaimana balon bulat itu melayang begitu cantiknya. Mungkin masih kaget. Dia tersenyum ketika sudah mendapat atensi, "Kamu itu indah. Tanyakan pada seratus orang, dan hanya satu orang yang bisa bilang kamu jelek. Dan kuyakin, itu pun karena dia merasa iri pada keindahanmu,"
Napasnya Taehyung tahan. Apa ini?
"Aku memang menyukaimu secara seksual," dia mempertahankan senyumnya. "Karena kamu sebegitu memikatnya. Saat jaman kamu kehabisan gigi susu pun, wajahmu masih sama indah dengan detik ini. Jadi jika kamu bertanya seburuk apa kau dimataku; maka aku akan memukulmu. Karena kamu tidak bisa jelek atau terlihat buruk. Kamu selalu indah dan cantik, di mataku, bahkan ketika kamu ngiler di bahuku. Kamu mendengkur pun cantik,"
Balon kedua melayang. "Kamu adalah kekuatan dan kelemahanku."
Apa maksudnya itu? Taehyung tidak bisa bicara.
"Aku bisa jadi kuat untukmu, membelah gunung pun bisa kalau kamu minta aku begitu! Tetapi aku juga bisa lemah karenamu. Ketika kamu jatuh dan tak menginginkanku, saat itu lah aku juga jatuh dan payah. Terlalu payah untuk berani menggapaimu lagi," dia merasakan matanya basah. Tetapi Jimin harus tahan. "Ketika kamu lari, saat itu aku merasa bodoh telah melepasmu. Karena nyatanya aku betul-betul lemah tanpamu. Dan ajaibnya, kamu juga yang membuatku kuat untuk bangkit dan meraihmu. Kepercayaanmu padaku membuatku kuat untuk memperjuangkan kita."
Taehyung merasa ludahnya sulit ditelan.
Balon ketika melayang. "Kamu adalah alasan aku hidup sejauh ini."
"Jimin..."
"Kamu jadi satu-satunya alasan aku bertahan," Jimin menahan diri untuk maju dan memeluk Taehyung yang gemetaran di seberang sana. "Aku ingin kamu jadi hal pertama yang kulihat ketika membuka mata, dan jadi hal terakhir yang kuingat sebelum menutup mata. Aku ingin selalu melihatmu, untuk bisa aku rekam selamanya di ingatanku yang payah. Kau tahu, ketika aku tua nanti mungkin aku bisa jadi pikun. Jadi aku butuh wajahmu untuk kuingat,"
Balon keempat dilepas. "Aku ingin melindungimu."
Sebenarnya apa yang dia bicarakan? Otak Taehyung nyaris meledak.
Dia ingin Jimin berhenti karena dia benar-benar tak bisa mengontrol sistem tubuhnya yang nyaris error karena untaian kalimat manisnya. Taehyung hampir meledak karena jantungnya dan isi kepala yang terbakar. Itu tidak terdengar menjijikkan, tetapi Taehyung benar-benar malu! Walau di sudut hatinya ia ingin dengar sampai balon kelima.
"Hidupmu penuh luka, Taehyung. Aku mungkin melewatkan banyak hal ketika kau putus sekolah dan pergi jauh dariku sejak lulus SMP. Tetapi tak berarti aku menutup diri, tidak, aku bisa dengar kau bercerita hanya dengan menatap matamu. Dia mendongengkannya untukku, dan aku tahu kamu melalui hal-hal sulit sendirian. Aku minta maaf untuk itu,"
Taehyung menggeleng kecil. Menggumam, "Tidak."
"Oleh sebab itu, aku ingin jadi black knight untukmu. Aku ingin menjadi orang yang kau percaya, yang kau butuhkan, yang kau datangi saat sulit dan ingin menangis. Aku ingin jadi orang pertama yang ada di benakmu ketika kau merasa begitu payah. Aku ingin menjadi sisi terkuatmu, yang menopang tubuh ringkihmu dan juga memelukmu. Menyelimutimu dengan kenyamanan dan menutup telingamu dari omong-kosong para bajingan," Jimin menarik napas. "Cukup datang padaku dan percayakan bahuku untukmu menangis disini. Kau bisa percaya kepada dadaku untuk mencari kenyamanan sebab aku benar-benar ingin melindungimu sampai mati."
Sial. Matanya sudah basah. Siap turun kapan pun.
Ini balon terakhirnya. "Lastly, you are my only one."
"Jimin –"
"Cukup menjadi Kim Taehyung. Kamu adalah satu-satunya, tidak yang lain. Hanya Kim Taehyung yang ini, yang ada di hadapanku ini, yang cengeng dan suka merengek ini. Yang mudah flu dan masih berani menggoda untuk dibelikan eskrim. Yang lemah karena seekor anak anjing kehujanan di dalam kardus. Yang suka membuat orang kepayahan berlari mengejarmu yang sudah pingsan berkali-kali. Yang tidak bisa gemuk." Dia tersenyum geli melihat reaksi Taehyung. "Karena kamu adalah dirimu sendiri. Mencintaimu sejatinya tak memerlukan alasan. Semua orang di dunia ini jatuh cinta padamu. Kau dilahirkan untuk dicintai, dan itu nyata adanya."
Napasnya betul-betul sesak. "Jimin..."
"Aku mencintaimu dengan benar, Taehyung. Semua baik dan burukmu, semua kekuatan dan kelemahanmu, semua rengekan dan teriakanmu, sampai ingusmu saat pilek pun. Aku sudah gila memang untuk mencintaimu sampai ke ingus, tetapi aku memang begitu untukmu." Ia melesakkan tangannya ke dalam kantung celananya. Tersenyum menggoda. "Aku ingin jadi bagian darimu, dan ingin kamu jadi bagianku. Aku ingin mencintaimu lebih jauh, membangun kehidupan yang indah bersamamu sampai mati, dan menciummu sampai puas."
"Jimin –"
Ia mengeluarkan kotak beludru. "Kim Taehyung, buah apelku,"
Oh itu cincin.
" –jadilah milikku. Seutuhnya."
Air mata Taehyung jatuh. Deras sekali, raungannya terdengar keras sekali seperti lolongan anjing di malam hari. Perasaannya campur aduk. Masih terjebak dalam kebingungan. Tetapi Jimin hanya tersenyum geli di hadapannya. Memandangi kekasihnya yang menangis seperti Ibu-ibu di drama. Terlihat menggemaskan, ia kan tidak tega.
"Menikahlah denganku," katanya. "Aku ingin mencintaimu lebih lama."
Bulan ini adalah jatah Jungkook untuk berbelanja. Tadinya sih sudah ingin membujuk Jihoon untuk membantu karena dia malas pergi sendiri. Tetapi dia malah menulikan pendengarannya dan tertidur seperti mayat. Jungkook tidak suka menunggu dan memang sudah sebal pada Jihoon jadi dia pergi sendiri. Memasukkan banyak barang ke dalam troli. Ide jahilnya berfungsi untuk menghabiskan uang pemberian Ayahnya untuk banyak hal. Dia akan beli barang mahal!
"Thank you,"
Dia keluar menenteng masing-masing satu kantung di tangannya. Cukup berat, dia jadi mengingat-ingat apa saja sih yang dibelinya tadi? Tetapi dia sudah malas dan ingin cepat sampai ke rumah. Langkahnya sedikit lambat karena beban di tangannya. Sekitar sepuluh langkah, ia berhenti sejenak untuk memandangi seorang wanita hamil besar yang menjinjing tiga kantung besar.
Hati luluh Jungkook iba. Kasihan sekali, pikirnya. Wanita itu tentu sudah punya beban tersendiri di perutnya dan masih harus menggotong banyak. Jungkook merutuk siapa pun yang jadi suaminya karena menelantarkan wanita seksi yang cantik itu. Ehm. Dia pernah membaca, kalau wanita memang terlihat begitu cantik dan bersinar saat hamil. Jadi jangan salahkan matanya. Dia bisa memilah-milah dan tahu barang bagus.
"Let me," Jungkook mengulas senyum.
"O-Oh...? Thanks,"
Dia tahu dia bodoh karena hanya menambah beban tubuhnya dengan menenteng lima kantung belanja yang menggembung penuh. Tetapi rasa ibanya pada wanita hamil itu menyuruhnya demikian, dan ia seperti bergerak sendiri. Jungkook tersenyum memaklumi wanita itu memandanginya bangga. Mereka berjalan berdampingan, pelan karena Jungkook memang kepayahan dan wanita itu merasa pegal dengan perutnya sendiri.
"You're a good boy. Thanks –"
"I'm Jungkook Kim."
Alis wanita itu mengerut. "So that's why you look different. But still handsome,"
"Thanks." Ia berlari ke belakang bagasi taksi. Wanita itu memanggil taksi, dan Jungkook bantu meletakkan belanjaannya disana. Saat ditanya kenapa, ia hanya ingin wanita itu duduk dengan nyaman tanpa risih bersinggungan dengan plastik kresek. "Ah, no need to pay me. I'm honestly want to help a beautiful woman here,"
Wanita itu terkekeh geli. Mengangguk singkat dan menutup pintu taksi, lembaran uang yang tadi hendak diberikannya masuk ke kantung mantelnya. Tangannya melambai dan tersenyum, mengucap selamat tinggal dengan lembut. Meninggalkan Jungkook yang tersenyum menatapnya jalan menjauh. Berdiri seperti orang idiot senyum-senyum sendiri.
"Jaga bayimu, Nyonya." Gumamnya.
Entah apa yang membuatnya ingin menangis sekarang. Dadanya seperti panas, yang jelas paru-parunya sesak begitu saja. Matanya sudah basah, tetapi Jungkook tidak mau dianggap aneh karena menangis seperti anak hilang di pinggir jalan seperti ini. Tidak.
Dia hanya teringat Mamanya.
.
.
.
.
.
Taehyung duduk sendirian. Sudah bosan berlari-lari dan mengeluarkan keringat. Teman-temannya satu per satu pergi meninggalkannya karena mereka sudah dijemput. Dia tadi sudah ingin menangis tetapi ditahannya susah payah. Kata Mama anak lelaki tidak boleh gampang menangis, karena orang akan meledeknya. Jadi Taehyung mengunyah permen lemon yang disiapkan Mama sembari berayun pelan menunggu di jemput.
Padahal dia ingin pulang ke rumah sendiri. Dia sudah SD dan berani berjalan kaki ke rumahnya, tetapi Mama bersikeras menjemputnya. Taehyung juga sudah membujuknya untuk pulang dengan Jimin (teman dan tetangganya) tetapi entah kenapa Mama ingin menjemputnya. Taehyung ingin marah tetapi karena dia selalu mendapat ciuman dari Mama jadi dia tidak jadi.
"Hai, adik manis."
Kepalanya mendongak. Wanita yang cantik. "Ung?"
"Kok main sendirian, sih?"
"Mama belum jemput,"
Wanita itu duduk di ayunan yang bersisian dengannya. "Wah, kebetulan aku juga sedang mencari seorang anak kecil. Katanya sekolah disini, tapi aku belum pernah ketemu dengannya." Taehyung menoleh dengan wajah bingung, "Memangnya itu siapa? Anak tante?"
"Bukan, sih. Temanku menitipkan anaknya padaku,"
Taehyung mengangguk lucu. "Siapa namanya? Mungkin aku kenal biar kupanggilkan."
"Sudah tahu kok. Lee Taehyung, kan?"
"Eh?"
Senyumnya terulas. "Aku mencari-cari dari tadi. Ternyata main di taman sini, ya? Ibumu tidak bilang kalau kau biasa menunggu disini, sih. Ibumu ada urusan penting jadi menyuruhku datang membawamu." Tangannya mengelus rambut Taehyung, "Mau pulang sekarang? Atau mau makan bingsoo dulu? Disana ada bingsoo jeruk yang enak, loh. Taehyungie lapar tidak?"
"A-Aku tidak kenal tante,"
"Wah, Mamamu mengajari Taehyungie dengan baik."
"Taehyungie!"
Percakapan mereka terputus. "Mama!"
Taehyung turun dari ayunan dan berlari ke pelukan Mamanya. Wajahnya gelisah dan takut, remasan tangannya di kaus Hana mengantarkan stimulan yang sama untuknya. Tetapi dia harus menenangkan Taehyung dulu, dia mungkin harus membelikan sesuatu yang manis di perjalanan pulang nanti.
Ia bangkit dari jongkoknya setelah mencium pipi Taehyung. Bertatap mata dengan wanita itu, yang balas menantangnya dengan tatapan tajam. Irisnya betul-betul gelap hingga Hana nyaris pingsan hanya dengan memandang mata bulat itu. Jemarinya meremas tubuh mungil Taehyung yang gemetaran memeluk pinggangnya. "Luna,"
"Apa saatnya untuk bertukar kabar?"
Ludahnya membuat ia tersedak sendiri. "K-Kenapa –"
"Kenapa aku ada disini?" tanyanya dengan nada menantang. "Wah, kau ini benar-benar. Apa gila bisa jadi kata yang tepat untuk itu? Aku tidak mengerti, seharusnya aku yang bertanya itu, loh. Kenapa kamu ada disini? Apa kau bodoh, ini bukan waktumu bermain-main lagi. Kau tidak bisa selamanya berlari untuk kesenangan sesaat. Korea Selatan tidak cukup besar untukku dapat menemukanmu, Hana. Ini terlalu mudah untukku, semacam aku memegang cheat untuk sebuah game online. Atau kau yang terlalu payah untuk menerima; bahwa hidup bukan tentang kamu dan Namjoon. Apa kau bahkan menggunakan otakmu?"
Pelukannya mengerat. Berharap Taehyung menutup telinganya. "Tidak bisa, Luna. Tidak bisakah kamu biarkan hidup berjalan tetap seperti ini? Ini kehidupan yang susah payah kubangun bersamanya, dan kamu tidak bisa merusaknya hanya karena kau ingin."
"Kau yang egois, Hana. Aku hanya mempertahankan apa yang harusnya kumiliki."
"Kamu bukan Tuhan, Luna!"
"Tapi aku bisa!"
Hana meneguk ludahnya susah payah. Berjongkok menangkup pipi gembil Taehyung. Menatap mata besarnya yang berkaca-kaca. Geraknya gelisah dan siap menangis. Hana luluh karena tak tega, Taehyung mendengar hal-hal yang tak seharusnya ia tahu. Dan dia pasti bingung, ketakutan, tetapi tak bisa melakukan apa-apa. Senyum tulus ia berikan untuknya, kemudian ia cium pipi merah Taehyung dan bibirnya. "Kita pulang, hm? Taehyung ingin beli apa pun Mama kasih. Jangan ingat apa pun yang terjadi hari ini, dan tersenyum, oke?"
"Mama,"
Ia bangkit dan mengangkat tubuh kecil Taehyung. "Meski harus mati sekali pun, tak kubiarkan kau merusak keluargaku. Coba saja kalau berani, dan aku akan melawan kali ini. Camkan ini, Luna. Aku tidak akan diam jika kau menyakiti keluargaku. Dan jangan coba-coba bicara dengan anakku karena dia milikku!" tekadnya bulat. "Aku akan melindungi keluargaku."
"Apa sih, yang kau harapkan dari anak haram sepertinya?"
"Jangan ganggu hidup kami!"
Luna mendengus geli. Menatap Hana yang kabur dan berlari darinya. Padahal dia juga tak berniat mengejarnya atau apa. Terlalu melelahkan. Orang sepertinya hanya cukup diam dan Luna mampu menemukannya hanya dengar suara napasnya. Sejauh apa pun mereka lari, mudah baginya menemukan mereka. Ini hanya sebuah permainan, dan mereka bukan tandingan Luna.
Ia berdecih. "Kau ingin cara kasar, ya?"
.
.
.
Namjoon menautkan jemari panjangnya. Teh hangat sudah kandas bermenit-menit lalu. Matanya melirik Jungkook yang ekspresinya tak terbaca. Terlalu berantakan, isi kepalanya amburadul mendengar kisah menyeramkan. Namjoon memahami itu, karena memang ini hal yang betul-betul konyol untuk dibagi. Tetapi dia sudah bersumpah, untuk melepas lukanya. Kata orang, ada baiknya membagi luka agar merasa lebih baik. Dan ia pikir, memang seharusnya Jungkook tahu tentang ini. Meski ia tak tahu, apakah ini baik untuknya atau tidak.
"Aku juga tahu, kami berdua salah untuk egois sejak awal." Namjoon mendesah lelah, "Aku yang membuatnya hamil, dan aku sudah niat untuk bertanggungjawab. Aku sudi menjadi seorang Ayah untuk Taehyung. Maka dari itu aku bekerja seperti orang gila uang. Sebab membina rumah tangga perlu uang dan kesiapan yang matang,"
Jungkook menyeruput tehnya. Semua cerita ini membuat kepalanya berdenyut.
"Tetapi aku tak tahu Tuhan suka nonton sinetron. Kisah hidupku tak ubahnya macam drama ratusan episode yang membosankan. Terlalu klise dan tak masuk akal, tetapi percayalah kalau itu memang terjadi," ia bisa melihat kilat marah di mata Jungkook. "Dan mungkin ini salahku yang mengubah Luna menjadi monster. Gadis itu baik, tetapi berubah menjadi iblis egois hanya karena seorang bajingan sepertiku. Aku bisa memahami itu, tetapi Ibumu tidak. Aku tak akan pernah paham pola pikir perempuan yang rumit,"
Atau karena dirimu memang terlalu payah, Namjoon.
"Aku terlalu takut untuk berpikir," ujarnya gelisah. "Ketika kau dihadapkan pada dua pilihan yang membuatmu sama-sama hancur, apa yang akan kau lakukan, Jungkook?"
Meski umpatannya terkumpul, lidahnya malah membeku.
"Aku mengerti Ibuku tidak punya pilihan. Dia hanya wanita tua yang kebingungan, dia seseorang yang memegang rasa hormat yang tinggi, dia menjunjung rasa kepercayaan, dan sebisa mungkin membangun relasi yang baik dengan siapa pun. Mungkin ini pertama kalinya ia dibenci seseorang, dan menjadikannya takut karena ia tidak suka mempunyai hubungan buruk dengan orang lain. Apalagi pria itu adalah bos besar Nenekmu, sumpah, aku tak tahu pemikiran perempuan bisa serumit itu untuk hidup."
Jungkook jadi ikut bingung. Tak tahu harus memosisikan diri dimana.
"Sejujurnya, dia tak memberikanku pilihan. Ibuku atau Hana dan Taehyung; mereka semua orang yang aku sayangi dalam hidup. Ketika Luna menodongkan belati kepada mereka, tetapi aku juga tak ingin hidup bersamanya, aku benar-benar tidak bisa berpikir. Ini sesuatu yang rumit, dan aku bisa saja melukai banyak pihak jika salah langkah. Meski aku juga tak yakin apakah yang kuambil ini sudah hal yang betul atau belum,"
Jungkook mengakui posisi Namjoon juga rumit. Mungkin orang akan menyumpahinya karena begitu bodoh untuk memulai, tetapi menurut Jungkook, Namjoon juga kebingungan. Tak tahu harus memilih apa. Jika ia menjadi Namjoon pun, ia pasti kelimpungan untuk memutuskan. Dia benar, bahwa ini situasi yang sulit.
Dia ingin hidup bersama orang yang disayanginya, tetapi juga tak bisa membiarkannya terluka jika terus bersamanya. Pilihan yang menyebalkan.
"Lalu kecelakaan itu," Jungkook mencoba pelan-pelan.
"Ah, ya." Namjoon mendengus keras. Wajahnya diusap frustasi. "Aku memang harus melepas mereka untuk menyelamatkannya. Setelah berperang dengan sisi egoisku, akhirnya aku memilih untuk terluka sendirian. Memang kedengaran bodoh, tetapi aku juga tak bisa berpikir. Aku dikejar waktu, Jungkook. Detik terus berlalu dan jika aku tak cepat akan ada banyak lagi yang terluka. Jadi kupikir, lebih baik aku yang harus melakukannya. Meski ini juga menyakitiku,"
Tunggu. Pembicaraan apa itu?
Jantungnya berdentum-dentum. Ia merasa tidak enak tentang ini.
"Pikirmu aku bisa membiarkan orang lain menyakiti keluargaku?"
Napasnya tertahan. Tidak, jangan katakan...
"Tidak seorang pun boleh melukai mereka. Kecuali aku sendiri,"
Setangkai bunga krisan kuning diletakkannya.
Bibirnya mengulas senyum. "Apa kabar, Mama?"
"Aku sudah berumur dua puluh delapan kemarin." Taehyung menatap figura Mamanya. Betul-betul cantik. "Berarti Jungkook sudah dua puluh, ya. Mama, berarti Jungkook sudah boleh minum alkohol belum? Bukankah Amerika itu negara yang bebas? Aku pikir teman-temannya juga sudah banyak yang minum sejak SMP." Ia terkekeh ringan, "Aku bahkan tidak suka aromanya. Dan ya, aku yang sudah mau kepala tiga ini tak pernah menenggak satu pun. Apakah aku anak baik, Ma?"
Kali ini dia sendirian.
Taehyung mengerjap dua kali. "Aku lupa memberitahumu satu hal. Mereka pergi, Ma. Jungkook, Jihoon, dan Papa –mereka terbang dan hidup di Ohio. Aku juga tak tahu apa disana lebih menyenangkan karena mereka tak jua kembali." Napasnya lambat, "Meski aku memahami itu. Jungkook sedang belajar di negeri orang, Ma! Dia hebat, ya? Aku bahkan cuma tahu hello, good morning, good night, dan i love you. Pasti aku akan kelaparan disana, karena tidak tahu caranya membeli nasi. Tapi yang kita bicarakan ini kan Jungkook, jadi dia pasti baik-baik saja,"
"Mama," jemarinya mengelus foto Mamanya.
Seandainya ia bisa memeluk Mamanya lagi.
"Kurasa, aku sudah cukup bahagia seperti ini." katanya ragu. "Tetapi aku ingin memulai semuanya lagi dari awal. Meski rasanya akan hambar. Aku masih berharap Jungkook pulang dan memelukku dengan perasaan tulus seorang adik kepada kakak, lalu kami jalan-jalan berdua ke taman bermain naik bianglala dan roller coaster. Apakah itu boleh, Ma?"
Tangisnya turun. "Tapi aku tak yakin. Setelah semua yang didapatkannya dari Papa, aku bukan apa-apa. Aku tidak ada apa-apanya dibanding Papa. Memangnya apa yang bisa diharapkannya dariku selain rasa sakit dan penyesalan? Meski ia kembali pun, ia pasti akan memiliki perasaan itu: bersalah dan iba. Aku memang lemah, tetapi aku tak ingin dikasihani, Ma. Itu menyakiti harga diriku, sungguh."
Benar juga. Memangnya Jungkook mau kembali? Untuk apa?
"Kenapa Papa begitu? Apa sihir yang dipakainya? Kenapa Papa selalu merebut kebahagiaanku? Aku sudah belajar dengan baik dan menjadi anak yang nurut, tetapi... kenapa?" ia mengepalkan tangannya hingga ujung jemarinya memutih. "Kenapa Papa dengan mudahnya mengambil kalian dariku? Apa Papa membenciku? Kenapa harus aku? Kenapa harus kalian... dan kenapa kalian sudi untuk percaya padanya, kenapa kalian sudi untuk datang padanya... meninggalkan aku?"
Airmatanya sudah deras. "Apa yang tak kupunya untuk menahan kalian bersamaku?"
Di malam yang keruh tanpa bintang, Namjoon berdiri. Menyaksikan mahakarya yang menyedihkan, paling buruk yang bisa ia lakukan selama hidup. God of destruction adalah nama bekennya, tetapi kali ini ia benar-benar telah merusak kehidupan itu. Dengan mudah ia menghancurkan kehidupan seolah dia hanya perlu meludah untuk membuat manusia tunduk padanya.
Darah. Amis. Mobil yang ringsek dan hancur. Baru kali ini ia melihat dewi mengalami kematian, dan kali ini matanya memastikan dengan betul kalau dewi cantik itu meregang nyawa. Tergeletak berendam di kubangan darahnya sendiri. Diam membatu. Idiotnya, Namjoon tetap memujinya luar biasa cantik.
Lalu mata itu. Yang menjadikannya gemetaran. Dia tak pernah setakut ini menatap mata kelam yang keruh oleh amarah. Ada emosi yang tertahan disana. Namjoon malu mengakui, kalau anak itu jauh lebih menakutkan dari segala hal yang ada di dunia ini. Mereka bertatapan selama satu menit lebih, dengan Namjoon yang ketar-ketir takut anak itu berlari dan turut membunuhnya.
"Taehyung," lirihnya.
Mata itu benar-benar gelap. Seakan tak sadar tubuhnya sendiri nyaris kehabisan darah. Dia lupa denyutan nyeri di sekujur tubuhnya. Lupa dunia. Tidak tahu kata apa yang harus dikeluarkan dari bibirnya yang sudah robek. Kepalanya merasa pusing.
Wajah itu, akan selalu diingatnya.
Monster? Bajingan? Kata apa yang pantas untuknya?
"Aku membencimu," jawabnya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
[edisi: sesi panjang lebar]
Noun; cuap-cuap
..
Apakah sudah terjawab bagaimana masa lalu Namjoon?
Jadi selamat yang pernah kepikiran kalau Namjoon lah yang membunuh Hana! Anda tepat sekali, dia yang menabrak mobil Hana dan membunuhnya. Tetapi ia membiarkan Taehyung hidup (atau ia sendiri juga gak nyangka Taehyung masih sanggup berdiri dan natap dia setajam itu).
Apakah sudah terjawab mengapa Namjoon selalu 'lari' dari Tae?
Sebab dia masih takut. Dia takut sama mata Taehyung yang sebenarnya memendam kebencian untuknya. Dia sudah dianggap monster sama Tae jadi gak ada alasan lagi buat dia untuk hidup bersama Taehyung. Dan juga karena ia akan selalu teringat kebrengsek-annya ke Hana dan juga Tae sendiri. Dia selalu keinget gimana dia udah jadi pembunuh. Makanya dia takut. Dan kenapa ke Jungkook enggak? Karena ya memang dia setulus itu: ingin mengasuh Jungkook. Karena anak itu belom pernah keasuh orangtuanya. Dan sebenernya dia gak nyangka kalo Jungkook tuh masih hidup. Kirain udah meninggal dari Hana ketabrak.
Buat yang bingung hubungan darahnya.
Jadi Namjoon ini udah berhubungan sama Hana diluar nikah. Makanya Ibunya gak tahu. Jadilah si Taehyung itu, dia lahir tahun 1992 disini. Nah, ketika empat tahun batas itu abis, mereka malah lari. Kabur, tapi Luna akhirnya nemuin mereka saat Tae udah SD. Kira-kira umur 8 tahun, nah balik lagi ke kenangan-kenangan sebelumnya. Kalo akhirnya Namjoon dipaksa menikah, dan Tae minta adik. Jadi Namjoon akhirnya berhubungan terakhir sama Hana dan jadilah Jungkook. Gak selang lama, Luna sama Namjoon nikah dan jadilah Jihoon. Jadi anggap Jihoon dan Jungkook ini seumuran. Beda 8 tahun sama Tae. Dan semenjak kepergian Namjoon Tae memakai marga Hana untuk namanya, jadi dia pakai Kim Taehyung.
Beberapa kesalahan author yang fatal.
Saya pernah salah mencantumkan status kelas Jungkook itu kelas 2 atau 3. Itu sudah disinggung ya. kemudian untuk pembaca yang jeli sekali matanya, terima kasih! Ya, SNL, Running Man, dan kakaotalk harusnya belum lahir di jaman itu. Maafkan atas riset saya yang kurang bagus. Karena emang aku juga gak riset bener-bener sih. Aku cuma kepikiran nulis, terus ngitungin tahun. Udah. Makanya saya mohon maaf banget. Dan dengan menyesal gak saya rubah-rubah karena ngedit ff di FFn ini gak semudah di wattpad. Saya males ribet-ribet, harap maklum.
Lama banget, sih? Kelarin aja!
Selamat datang di chapter 19! Memang rencananya hanya akan sampai chapter 20. Karena saya juga gak kuat lama-lamain cerita ini menuju akhir. Dan saya update cepat ini karena saya harus bertempur dengan praktik komunitas di sebuah desa selama sebulan sebagai beban tanggung jawab perkuliahan. Makanya saya pikir, pasti saya gak punya waktu banyak untuk ngurus ff ini jadi saya meluncurkan chapter 19 untuk kemudian kalian bisa sabar di chapter terakhir. inshaAllah akan berakhir di chapter 20. Fyuh! Panjang banget yak ini cuap-cuapnya.
Oke, untuk saat ini terima kasih dan sekian.
Selamat membaca.
[ sugantea ]
