Charade (Jantung Sang Terkasih)
Naruto © Masashi Kishimoto
Inspirated from Charade by Sandra Brown
Warning, Not Under 16 years old
Happy reading!
.
.
.
Orang itu membuka tiap lembaran bukunya dengan perlahan. Ia membaca tiap deretan kata dan huruf yang tertuang di dalam kliping yang sudah ia kumpulkan selama 10 tahun belakangan ini dengan senyum tipis.
Berbagai macam berita di koran yang menuliskan berbagai artikel tentang transplantasi jantung dari beberapa penjuru dunia yang terjadi pada tahun 2002 dan beberapa artikel didapatnya dari internet mengenai informasi terkini para orang yang melakukan transplantasi tersebut.
"Sudah saatnya, sayangku ..." bisik orang tersebut mesra sambil meraih sebuah bingkai foto berisi sesosok wajah tersenyum. Ia meraihnya dan mengelusnya lembut.
"Kita mulai ya ... Tenang, aku akan pelan-pelan ..."
.
.
.
Hari ini panas. Begitulah yang dirasakan oleh Sakura.
Ia berjalan menyusuri trotoar di sepanjang kota Konoha dengan langkah tergesa-gesa. Tungkai kakinya yang panjang disangga oleh high heels sepanjang tujuh senti terasa begitu menyakitkan. Andai saja ia tidak diwajibkan memakai hak setinggi ini, sudah pasti ia akan melemparnya dan berjalan dengan kaki telanjang ke studio.
Ya, gadis cantik itu sekarang bekerja di sebuah acara di salah satu stasiun televisi terkenal sebagai presenter sebuah acara sosial. Di mana acara tersebut memperkenalkan berbagai anak dari pusat perlindungan anak naungan mereka untuk diadopsi para orang tua yang ingin memiliki anak.
Anak-anak dari panti asuhan yang mereka bangun, adalah anak-anak dari berbagai penjuru kota, yang mana mereka adalah anak yang memiliki berbagai permasalahan. Bukan dalam arti mereka anak yang bermasalah, tapi keluarga mereka.
Contohnya, Konohamaru. Ia adalah anak korban kekerasan ayah tirinya. Sakura mengingat jelas bagaimana anak itu datang diantar oleh Tenten—partner kerjanya—dalam keadaan mata biru lebam. Ia akhirnya dibawa oleh pusat perlindungan anak dan kemudian ayahnya siap dijebloskan penjara.
Sakura tahu dan yakin, ayah anak itu akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya. Lelaki itu akhirnya bunuh diri di dalam penjara karena tidak kuat menahan diri dari keinginannya menghisap obat-obatan.
Kini, setelah beberapa bulan berada di naungan mereka, bocah kecil yang manis itu mulai mau membuka diri terhadap sekitarnya. Ia mulai mampu berbicara beberapa kata, walau hanya sekedar meminta diantarkan ke toilet atau menginginkan camilan siang.
Sebelumnya, lebih parah lagi. Sakura bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana trauma Konohamaru atas kekerasan ayah tirinya.
"Oh, Sakura! Kau sudah datang!"
Gadis itu tersenyum mengangguk kala kepala direktur menyapa dirinya. Ia memberikan salam sejenak sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya—memeriksa beberapa dokumen orang yang ingin mengajukan diri sebagai orang tua asuh.
Mereka tidak akan sembarangan memilih orang tua asuh untuk para anak-anak yang mereka naungi. Mereka butuh rumah berlindung yang tepat di mana mereka bisa merasakan kehangatan keluarga yang sebenarnya.
Kasus yang sering terjadi saat ini, beberapa orang yang meminta hak asuh untuk mereka, malah mempergunakan anak asuh mereka untuk kesenangan sendiri. Seperti dipelacurkan, dianggap pembantu ataupun hanya sebagai korban siksaan. Itu akan lebih kejam lagi.
"Sakuraaaa, ini ada satu calon orang tua asuh yang ingin mengasuh Hana-chan sebagai anak mereka. Keluarga Uchiha namanya," suara partner kerja Sakura, Tenten, memanggil Sakura sambil melambai-lambaikan kertas di tangannya.
Sakura menarik napas panjang sebelum ia mendekat dan mengambil surat yang dibawa Tenten. Dibacanya aplikasi tersebut berulang-ulang dengan alis tertaut.
"Madara ... Uchiha." Sakura tanpa sadar menyebutkan nama kliennya dengan pelan. Ia mencoba mengingat-ingat.
"Bagaimana? Dia dan istrinya sudah tua untuk memiliki seorang bayi, jadi mereka ingin mengadopsi Hana-chan sebagai anak mereka," kata Tenten.
"Setahuku, keluarga Uchiha memang kekurangan anggota klan, tapi yang benar mereka mencari seorang anak asuh? Yang benar saja," kata Sakura bingung. Ia yakin, keluarga Uchiha bukanlah sembarang klan yang mau memasukkan orang baru dengan begitu mudahnya.
Tenten meraih sebuah kertas lagi dan berkata, "Tenang saja Sakura, mereka tidak tinggal di klan inti, tepatnya mereka memisahkan diri dari klan inti dan hidup di desa. Jadi jangan khawatir kalau-kalau Uchiha yang lain akan mempermasalahkan ini."
Sakura mengerutkan kening. Memisahkan diri dari klan inti?
"Maksudmu, mereka putus hubungan dengan klan?"
"Kira-kira seperti itu. Gimana? Atau kau mau bertemu orangnya langsung?"
Sakura berpikir sejenak. Beberapa kali ia membaca aplikasinya, berulang-ulang. Dan akhirnya dia mengangguk.
"Berikan aku alamatnya, ya. Aku akan datang besok," kata Sakura dengan senyuman kecil.
Wajah Tenten mendadak cerah, secerah bunga matahari pagi yang kedatangan sinar sang surya. "Hana-chan pasti akan sangat senang punya orang tua asuh!"
.
.
.
Ting tong
Tidak ada balasan. Sakura menunggu beberapa menit, barangkali Madara beserta istrinya masih tidur. Terkadang orang kota memang bangun siang saat mereka dihadapkan pada hari libur panjang.
Beberapa menit terlewat dan tidak ada tanggapan. Sakura mencoba memencet bel lagi.
"Permisi?"
Tidak ada tanggapan. Ia sudah berdiri, menunggu dan memencet bel selama sepuluh menit dan sama sekali tidak ada reaksi yang berarti. Apa Madara dan istrinya terkena perampokan? Atau mereka dibantai?
Sakura segera menyingkirkan pikiran-pikiran anehnya dan memencet bel sekali lagi. Kali ini agak lama karena dirinya sudah tidak sabar. Masih pagi, tapi udara terasa sangat panas di sini.
"Halo, apakah ada orang?" teriak Sakura sambil terus memencet bel. Mulai kesal ia rupanya. Kakinya sudah serasa tiang bendera yang goyah.
"Ya?"
Akhirnya terdengar suara pintu teralis dibuka dan suara orang menanggapi. Sakura mendongkakkan kepalanya dengan penuh syukur dan berkata, "Saya—"
Wajah Sakura berubah merah seketika. Ini bukan pemandangan yang biasa ia lihat. Seorang pria tampan dengan celana jeans yang tidak terkancing sepenuhnya dan topless. Wajahnya yang datar dan kusut menyadarkan Sakura kalau pria ini baru bangun dari tidurnya.
Demi Tuhan, apa Madara Uchiha seseksi ini? Seingatnya Madara berusia 50 tahun, begitu yang tertulis dalam aplikasinya.
Orang di hadapannya itu bagaikan malaikat yang turun dari surga. Cassanova tampan nan seksi. Sakura bahkan sempat melihat bagaimana bentuk perut sempurna pria itu.
Tidak terlalu menonjol, tapi bagus. Sempurna.
"A-anu, apakah anda biasa menyambut tamu—"
"Silahkan langsung saja, jangan bertele-tele," potong pria tampan itu cepat. Ia mengusap-usapkan tangannya ke wajah seraya menguap tidak sopan. Kelihatan dari sikapnya kalau ia tidak mengharapkan Sakura ada di sana.
Salah, dia bukan malaikat yang jatuh dari surga. Ia Lucifer. Sakura telah keliru dengan persepsinya akan pria di hadapannya.
Gadis itu menarik napas diam-diam dan mendongakkan kepalanya lebih tinggi lagi seraya berkata, "Baik, sekarang biarkan saya masuk dan menjelaskan apa yang harus saya jelaskan, Uchiha-san."
Pria itu berkedip dua kali. "Hn," gumamnya pelan, kemudian menggeser posisi tubuhnya agar Sakura bisa masuk dan segera bercerita.
Ya Tuhan, bahkan Sakura bisa mencium aroma maskulin lelaki itu ketika ia berlalu masuk ke dalam rumah. Bagaimana pria ini bisa begitu wangi bahkan saat ia baru bangun tidur? Pastilah bahagia orang yang jadi istri seorang Madara Uchiha.
Setelah ia duduk, ia disuguhi berbagai macam sampah yang ada di hadapan dan sekitarnya. Bungkus-bungkus makanan, majalah dan berbagai pakaian kotor berceran di mana-mana—dan oh, apa itu? Kaos kaki di atas cangkir kopi?
Sakura yang pada dasarnya cinta kebersihan ingin sekali memekik saat melihat betapa kacaunya rumah ini. Sejenak ia ragu kalau Madara Uchiha ini bisa menjadi orang tua yang baik.
'Tampan-tampan tapi jorok,' batin Sakura keki. Ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak menampilkan wajah jijiknya.
"Kopi atau teh?" tawar pria itu, masih dengan tubuh topless dan celananya yang belum terkancing sempurna. Menggairahkan.
"Kopi. Terima kasih," kata Sakura sebisa mungkin tidak melihat ke arah sana. Ia berusaha menyingkirkan beberapa tumpukan majalah di sampingnya agar ia bisa lebih leluasa duduk.
Pria itu tanpa banyak bicara menuangkan sebungkus kopi instan dan menaruh dua blok gula di samping tatakannya. Setelah ia menaruhnya di atas meja, ia duduk dan bersandar di atas sofa dengan secangkir kopi miliknya sendiri.
Sakura bergumam terima kasih dan mengangkat cangkir kopinya. Ia mengangkatnya sedikit dan memastikan diam-diam kalau bibir cangkirnya bersih tanpa minyak maupun debu. Pria ini bisa saja mengambil cangkir bekas di bak cucian.
"Itu bersih," sindir pria itu saat mendapati Sakura yang secara sembunyi-sembunyi memeriksa kebersihan si cangkir kopi. Ia dengan wajah datar menghirup pelan kopinya, sama sekali tidak kelihatan merasa tersinggung.
Sakura dengan salah tingkah menghirup kopinya sedikit dan kemudian berkata, "Jadi, kurasa anda harus pertimbangkan lagi untuk mengadopsi anak. Dilihat—"
"Tunggu. Adopsi?" sela pria itu dengan wajah yang masih datar. Tapi nada suaranya terdengar agak bingung.
Sakura menaikkan alis. "Ya, adopsi," katanya menekankan kembali kata adopsi.
"Aku tidak berniat mengadopsi seorang anak," kata lelaki itu dengan nada yang kembali datar. Ia melirik meja yang ada di depannya dan tersadar apa yang ada di depan mereka. Cepat-cepat ia menyambarnya dan meletakkannya di bawah kakinya.
Alis Sakura ganti tertaut. "Ini benar Jalan Konoha kav. 5 no 10, kan?" yakinnya. Masa ia salah alamat?
Pria itu mengangguk.
"Berarti saya tidak salah alamat. Anda Madara Uchiha yang sudah mengajukan aplikasi pada King Kids agar bisa mengadopsi—"
"Oh ya Tuhan, itu bukan aku," potong pria itu sekali lagi. Ia menyandar lega di sofanya dan menambahkan, "Itu Madara-san."
"Anda Madara-san," kata Sakura cepat. Ia tidak ingin kata-katanya terpotong lagi. Berkali-kali lelaki di hadapannya ini memotong kata-katanya.
"Bukan, bukan aku." Pria itu menggeleng cepat dan melanjutkan, "Itu pamanku."
Pikiran Sakura berputar-putar. "Tapi, tapi alamat ini—"
"Mereka ada perkerjaan di Oto dan baru kembali minggu depan. Aku yang tinggal di sini."
Sakura menepuk dahinya pelan dan menyeka keringatnya. Hilanglah sudah kata-katanya di depan pria tampan ini.
Ia sudah menunggu di depan pintu begitu lama, duduk di antara kubangan sampah dan sekarang setelah bicara panjang lebar di tengah tumpukan barang yang bau nan kotor, bukan Madara orangnya.
Hell, ke mana otakmu Sakura? Harusnya kau bertanya dulu sebelum mengoceh panjang lebar. Buang-buang waktu.
"Kau bisa pulang dan aku akan melanjutkan tidurku," kata lelaki itu dengan santainya seraya beranjak berdiri untuk membuka pintu rumahnya—maksudku rumah Madara Uchiha.
Oh. Tuhan.
Sakura ganti berkedip beberapa kali sebelum akhirnya dengan wajah separuh kesal ia berdiri seanggun dan semartabat mungkin menuju pintu keluar yang telah dibukakan pria tersebut. Ia bisa melihat kalau pria itu meliriknya dengan pandangan mengganggu dan berharap ia segera pulang.
Hell, siapa juga yang ingin tetap tinggal di kandang babi seperti ini? Sakura tidak ingin kehilangan martabatnya dan berjalan seanggun mungkin.
"Ck," decak pria di ujung pintu tidak sabar. Wajahnya tetap datar namun nada bicaranya sangatlah pedas dan menyakitkan.
Sakura yang tersulut emosinya melirik tajam pria di samping tubuhnya itu dan berkata, "Terima kasih atas kopinya, tuan. Aku harap lain kali jika ada tamu, jangan lupa bereskan kaos kakimu dari atas meja. Selamat tinggal." Lalu Sakura dengan langkah lebar-lebar dan seanggun mungkin.
Lelaki itu nampaknya sedikit terkejut oleh perkataan Sakura, ia bisa lihat dari ekspresi kakunya yang sedikit melumer tersebut. Tapi Sakura tidak peduli. Ia sudah tersulut emosi atas ketidaksopanan 'orang numpang' yang ada di rumah kliennya.
Pria itu tampan, sayangnya tidak tahu aturan. Ia berjanji untuk melemparkan sebuah sandal ke wajah pria tampan-tidak-tahu-aturan itu JIKA bertemu lagi.
Tapi ia harap tidak.
"Naruto, kenapa semuanya terasa berat tanpamu?" gumam Sakura sambil menatap arah langit luas yang bernaung di atasnya. Batinnya kembali berkemelut akan masa lalunya.
.
.
.
"Siapa?"
Orang yang berada di depan pintu tersenyum seraya melambaikan tangan ringan. "Hai," sapanya kala si pemilik rumah menatapnya.
"Wah, lama tidak jumpa. Apa kabar?" Si pemilik rumah menyapa dengan wajah sedikit surprise kala mendapati kawan lamanya di Suna datang berkunjung. "Ayo, masuk."
Si tamu mengangguk dan berkata, "Aku mencari-cari rumahmu tapi tidak ketemu-ketemu. Untung saja tadi aku melihat van milikmu di garasi yang terbuka."
Si pemilik rumah tergelak dan berkata, "Hapal saja kau."
"Bagaimana tidak? Itu van yang unik, Hampir tidak ada yang punya yang seperti itu," candanya ringan. Ia melirik kalender yang tertempel di permukaan dinding dan berkata," Besok, peringatan transplantasi jantungmu, bukan?"
Si pemilik rumah mengangguk. Dengan senyum lemah ia menyentuh dadanya dan mengelus-elusnya, "Sudah yang ke sepuluh tahun. Menakjubkan tubuh ini bisa menerima jantung baru."
"Tentu saja, bukankah teknologi sudah maju pesat?" kata si tamu dengan senyuman.
Pemilik rumah itu mengangguk, tapi kemudian ia menoleh ke luar jendela. "Ah, aku harus memperbaiki atap rumahku yang bocor. Kadang hujan datang pada saat yang tak diduga," katanya.
Si tamu bangkit dan berkata, "Perlu bantuan?"
"Yes, please. Aku sedang memanggang kue dan aku tidak ingin mereka hangus. Sementara aku membenarkan atap, bisa kau jaga kuenya?"
"Tentu," jawab orang itu dengan senyum yang dikulum. Ia melirik sang pemilik rumah yang mengambil tangga di samping rumah dan kemudian berjalan menuju samping jendela dan memanjat naik.
Satu tangga, dua tangga.
"Arggggggh!"
Lalu ia menyeringai.
.
.
.
"Sakuraaaaa, ada yang ingin bertemu denganmu," panggil Tenten dari kubikel sebelah Sakura duduk bekerja. Rambut cepolnya terlihat sedikit berantakan kala itu. Pastilah ia ketiduran lagi dan terbangun oleh suara telepon.
"Siapa?" tanya Sakura tanpa melepaskan diri dari layar komputernya. Ia kala ini sedang membaca berbagai informasi mengenai transplantasi jantung yang terjadi pada tahun 2002 silam.
"Katanya dari Madara Uchiha, yang waktu itu. Dia menunggu di lobby bawah," jawab Tenten agak keras. Partnernya ini tahu kalau Sakura tidak terlalu fokus padanya, jadinya ia mengeraskan suaranya agar Sakura mendengarnya dengan jelas.
Sakura mendecak kesal dan berkata, "Tidak bisakah kau yang ke sana, Ten? Aku sedang—sedikit sibuk." Ia mengetikkan beberapa kata dan terus lekat di layar komputernya.
"Aku sudah bilang begitu, tapi katanya dia mau bertemu denganmu. Minggu lalu 'kan kamu yang datang ke rumahnya, jadi dia ingin langsung saja," jawabnya lagi. Tenten melongokkan kepalanya ke arah komputer Sakura penasaran. "Apa sih, yang kau lihat?"
Sebelum Tenten berhasil menangkap apa yang tersaji di layar komputer Sakura, gadis itu sudah menutup jendela tampilannya dan me-stand by komputernya.
Tenten mengerut sebal. Kalau sudah begini ia tidak akan pernah bisa membuka komputer partnernya itu. Sakura selalu memberinya sandi agar tidak bisa dibuka siapapun.
"Oke, oke. Aku akan ke sana," ucap Sakura sambil bercermin sekilas lewat cermin lipat yang ia simpan di saku. Sekedar memastikan kalau lipstick yang ia kenakan tidak meluber ke mana-mana dan membuat dirinya malu.
"Terus aku akan bawa Hana-chan, ya?" tawar Tenten seraya ikut keluar dari kubikelnya. Matanya melirik komputer Sakura untuk terakhir kali, sebelum dirinya merapikan kemejanya dan berdiri tegak.
"Jangan dulu, kurasa akan lebih baik kalau aku bicara dan lihat sikon dulu."
"Oh, baiklah kalau begitu. Tenten beringsut mundur dan duduk kembali ke kursinya dan mulai berkutat dengan pekerjaannya—entah apa itu.
Sakura membuka pintu dan berjalan pelan menuju lobby bawah. Dalam benaknya sudah tersusun berbagai macam kata yang ia siapkan untuk berbicara empat mata dengan Madara, kliennya yang akan mengasuh Hana—salah satu bagian dari King Kids.
Itu nama yang diberikan oleh direkturnya yang baik hati saat mereka memutuskan untuk membuka sebuah lembaga asuhan anak dan Sakura sebagai ketua koordinatornya. Gadis itu punya banyak bakat dan ia sudah lama akrab dengan sang direktur.
Ia diharapkan mampu membawa para anak-anak menemukan di mana seharusnya mereka tinggal. Dengan orang tua yang menyayangi mereka.
"Selamat siang, Madara-san," sapa Sakura saat mereka bertemu di lobby utama. Ia tersenyum sekilas dan menjabat tangan orang yang dipanggilnya Madara tersebut dengan sopan.
Madara mengangguk dan duduk. Tidak jauh beda dengan pria yang bicara padanya di rumah Madara beberapa hari yang lalu. Mereka sama-sama tampan dengan sifat dingin yang serupa. Bedanya, Madara sudah termakan umur dan rambutnya panjang.
"Saya berkunjung ke rumah anda beberapa—"
"Saya tahu."
Sakura menarik napas dan berusaha tersenyum. Bahkan Madara juga suka memotong ucapannya seperti lelaki itu.
"To the point saja," tambah Madara singkat.
"Baiklah. Apa anda sudah mempertimbangkannya baik-baik? Anda seharusnya membawa istri anda turut serta agar bisa melihat Hana-chan langsung," kata Sakura berusaha menelan bulat-bulat kekesalannya.
"Istriku sedang sakit, jadi aku membawa keponakanku," jawabnya lagi-lagi singkat padat dan juga jelas. Heran, Sakura harus mengakui ke to the point-an lelaki itu.
Sakura berkedip dua kali sebelum bereaksi. "Keponakan?"
"Hn. Itu aku."
Sakura menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati pria yang setengah telanjang beberapa hari yang lalu itu berada di belankangnya. Dan Sakura harus mengakui kalau pria itu tampan. Lebih tampan dari sebelumnya.
Kemeja yang dikenakan asal dan jeans yang dikenakan pria itu membuatnya nampak gagah, tampan dan seksi secara bersamaan. Rambutnya yang kapan hari berantakan kusut kini nampak berantakan dengan style yang jarang Sakura lihat sebelumnya. Tapi itu keren.
Dan matanya, Oh Tuhan ... Jika lebih dekat beberapa langkah lagi, mungkin Sakura bisa tersedot masuk ke dalam tatapan tajam itu. Tatapan yang menjengkelkan tapi memukau seperti yang beberapa hari lalu memandang Sakura risih.
"O-oh, begitu."
Jadi, Sakura tidak jadi bicara empat mata saja. Tapi enam mata. Bersama si tampan Lucifer tentunya.
"Bisa kita diskusikan segera?"
-TBC-
Special thanks to: kim yoome, Michiko Agatha, iya baka-san, Kyoko Raa, dinosaurus, Guest, , Raditiya, Mizuira Kumiko
Maaf untuk lanjutan fiksi yang begitu lama ... Kesibukan menelan saya dan memaksa untuk menjauhkan diri dari layar word.
Untuk semuanya, terima kasih banyak. Review kalian sangat berharga untuk saya dan saya sangat menghargainya.
Ada beberapa yang bingung ya? hehe, jangan bingung dong, nanti tiap chapter akan terbuka satu persatu.. jadi tetap nantikan ya..
Review lagi? :D
Mikakikukeko
