Charade (Jantung Sang Terkasih)
Naruto © Masashi Kishimoto
Inspirated from Charade by Sandra Brown
Warning, Not Under 16 years old
Happy reading!
.
.
.
Sakura melirik berita yang sedang dibacakan di layar kaca televisi rumah makan dengan wajah tegang. Ia menghentikan acara makan siangnya bersama Ino—teman sekantornya sekaligus sahabatnya—dan memperhatikan berita itu lekat-lekat.
Ino menyadari gelagat aneh dari sahabatnya dan mengoceh, "Kenapa kau forehead? Biasanya—"
"Sttt, sebentar," potong Sakura tanpa menolehkan pandangannya sekalipun dari layar televisi. Kepalanya seolah sudah terikat kuat untuk memandang kotak persegi bergambar tersebut.
Ino merengut sebal saat perkataannya dipotong oleh sahabatnya itu. Tapi ia akhirnya memutuskan untuk turut melihat apa yang tengah disiarkan di sana.
"Sebuah kecelakaan maut terjadi si rumah seorang lelaki di jalan Konoha kav 5 pagi hari tadi ..."
Ino memutuskan tidak mendengar lanjutan berita dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Ramen di hadapannya ini bisa dingin kalau tidak cepat dimakan sementara Sakura tetap lekat di televisi rumah makan.
"... Korban yang telah mendapat trasnplantasi jantung beberapa tahun silam jatuh dari tangga yang dipanjatnya dan langsung mengenai pagar yang berujung tajam di sekeliling rumahnya. Padahal setahu saksi mata, besok adalah upacara peringatan transplantasinya yang kesepuluh tahunnya ..."
Berita tersebut terus disiarkan dan Sakura terus menatapnya lekat-lekat. Ino yang kebetulan mendengar kilasan berita tadi langsung meletakkan sendok ramen-nya dan memandang Sakura.
"Kau teringat?"
Sakura menoleh kala berita tersebut usai disiarkan. Ia diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Sahabat gadis berambut merah muda itu menarik napas panjang-panjang sebelum akhirnya ia berkata, "Sudah sepuluh tahun, Sakura."
"Jantung Naruto juga diambil dan didonorkan," kata Sakura tanpa mau mendengar apa yang baru saja sahabatnya itu ucapkan pada dirinya. Ia hanya tertawa pelan sambil memandang kosong ramen di depannya. "Bagaimana aku bisa lupa?" katanya kemudian.
"Naruto sudah tenang di sana, Saku."
Sakura menggeleng. "Bagaimana ia bisa tenang kalau jantungnya diambil dari tubuhnya sendiri? Aku tidak yakin," balasnya cepat dengan suara gemetar. "Aku tahu dia tiap hari berolahraga hanya untuk menjaga jantungnya tetap sehat. Tapi kenapa pada akhirnya ..."
Lalu Sakura menangis. Ia kembali teringat akan masa lalunya bersama orang yang dikasihinya itu.
Ino menghela napas dan meremas tangan Sakura lembut. "Apa kau rindu dia?"
Sakura mengangguk. "Sangat," jawabnya dengan nada lemah. Air matanya menggenang di sekitar pelupuk matanya.
.
.
.
Selesai dengan acara tangis-menangis dan hibur menghibur, Sakura dan Ino sudah berjalan menyusuri trotoar bersama-sama. Mereka berencana akan kembali ke kantor untuk melanjutkan beberapa perkejaan yang belum selesai, walau hari sudah larut malam.
"Kudengar kau punya satu klien yang agak ... Err..."
"Begitulah," jawab Sakura seraya menghela napas pasrah. Ia jadi teringat akan kejadian beberapa jam yang lalu, yang membuatnya harus menarik napas sabar panjang-panjang beberapa kali. "Kau tahu, bisa-bisanya Uchiha itu melihat terus ke arah dadaku sejak pertama kali ia datang dan seolah memberikan tatapan 'wow dadamu oke juga' padaku!"
Ino tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana kau bisa yakin dia memandangi 'itu'mu yang biasa saja begitu?" Dan sebuah jitakan mampir ke kepala si gadis Yamanaka tersebut.
"Biasa saja? Wew, aku sudah berusaha membesarkannya dengan meminum banyak susu kedelai dan tahu tiap hari, Pig," kata Sakura yang tidak sadar kalau membongkar rahasianya sendiri. Saat ia sadar, ia sudah dihujani seringai sahabatnya.
"Oh, mungkin setelah ini kau tidak akan meminum susu kedelai atau tahu tiap hari lagi agar Uchiha itu tidak memelototi dadamu dengan air liur bertumpahan, forehead," ejeknya sambil tertawa kecil.
Wajah Sakura merah padam, tapi dalam hati ia menyetujui hal itu sepenuhnya. "Berisik!" katanya seraya menjitak satu kali lagi. Sayangnya kali ini hanya menimpa udara kosong.
"Oh Tuhan, aku tidak menyangka kalau Uchiha yang sudah tua renta itu bisa tertarik padamu Saku!" Ino berkata seperti itu dengan tawa terpingkal-pingkal dan air mata yang menitik di sudut matanya.
"Tua renta?"
Ino berhenti tertawa, "Lho? Kudengar dia sudah 50 lines? Om-om?" tanyanya bingung
Kali ini Sakura yang tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun, ini bukan tentang Madara," katanya sambil mengusapi air matanya yang menitik.
"Uchiha tua yang lain?"
"Bukan! Uchiha yang kumaksud berusia masih berusia 25-an atau lebih, bukan Madara. Ya Tuhan, aku tidak akan bisa bayangkan kalau Madara yang melakukannya," kata Sakura sambil terus tergelak.
"Jadi tidak apa-apa kalau Uchiha itu yang melakukannya?" seringai Ino. Wajah Sakura merah merona. "Hei, apa dia tampan?" tanya Ino penasaran.
Sakura terdiam. "Dia lebih dari itu," bisiknya diam-diam, tapi Ino punya telinga yang baik sehingga mendengar bisikan bagai angin tersebut.
"Oh my God! Jadi dia super-super tampan? Kalau begitu bukan masalah kalau ia terus memandangi dadamu! Dia tertarik padamu!" cerocos Ino bersemangat. Sedikit, ia merasakan ada secercah harapan yang bisa ditaruh kepada Uchiha-super-super-tampan itu untuk membuat Sakura kembali berkencan pada laki-laki lain.
"Bukan begitu juga! Lupakan masalah Uchiha itu, kita bahas saja tentang bagai—"
"Hei, siapa namanya? Umurnya? Apa kalian sudah tukar nomor telepon?" tanya Ino beruntut dengan penuh antusias.
"PIIIIIIG!"
.
.
.
"Jadi anda benar sudah mantap akan mengadopsi Hana?"
Uchiha itu mengangguk datar.
Sakura menarik napas panjang diam-diam dan berkata, "Baiklah, anda bisa mulai mengajaknya untuk bersama anda. Dalam dua minggu ini, saya harap anda masih membawannya ke King Kids untuk bertemu dengan teman-temannya agar ia bisa beradaptasi dengan lingkungan anda tanpa perlu mengalami tekanan mental karena berpindah ke tempat yang baru secara mendadak."
"Hn," balas lelaki itu datar.
Sakura segera menuntun arah menuju ruangan khusus tamu. "Silahkan, Madara-san," katanya sambil tersenyum ramah. "Dan Sasuke-san," lanjutnya dengan senyum yang 180 derajat beda dari sebelumnya.
Sasuke menyeringai tipis, sangat tipis tapi masih bisa dilihat oleh mata hijau bening Sakura. Dan pipi gadis itu memerah.
"Nah, Hana-chan, berikan salam pada Oji-san," kata Tenten yang sejak tadi menemani Hana duduk di kursi tamu berlapiskan beludru krem pucat.
Wajah gadis itu memerah lucu dan berkata, "Konnichiwa, Oji-chan." Ia tersenyum malu-malu pada orang yang bari-baru ini datang dan membawakan beberapa hadiah kecil padanya.
Madara tersenyum tipis—sama seperti Sasuke, hanya lebih ekspresif—dan berjongkok sejajar dengan gadis bermata Violet tersebut. "Panggil Tou-san, ya."
Mata Hana agak ragu memandang Sakura yang ada di belakang Madara. Sakura yang mengangguk dengan senyum membuat Hana mengangguk juga dan memeluk Madara dengan tangan mungilnya.
"Iya, Tou-san," katanya dengan suara riang.
Madara mengelus rambut sepunggung anak itu dan berkata, "Ikut Tou-san pulang, mau? Kaa-san sudah menunggu di rumah."
Hana menjerit riang. "Mau!" Tapi sejenak ia melepaskan pelukan hangat itu dan berkata ragu, "Tapi gimana dengan bunny? Bunny gak bisa tidur kalau gak ada yang ngerawat." Yang gadis kecil itu maksud adalah boneka kelinci yang ada di kamar. Properti milik King Kids.
"Nee-chan dan yang lainnya akan menjaganya," jawab Sakura dengan senyum tipis. "Lagi pula, Hana-chan bisa sering-sering kemari untuk melihat Bunny. Jangan cemas, oke?" katanya sabar.
Hana tersenyum cerah. "Arigatou Nee-chan! Hana mau ikut Tou-san!" katanya sambil memeluk erat Madara sekali lagi. Mudah sekali bagi seorang Madara untuk mendapatkan hati seorang anak kecil.
Lelaki paruh baya itu mengangkat tubuh mungil anak barunya dan berkata, "Hn, arigatou."
Sakura tersenyum tulus. "Sudah jadi kewajiban kami," katanya sambil beranjak untuk membukakan pintu ruang tamu dan mempersilahkan keluarga baru itu lewat.
Tapi sebelum itu, tangan lain mencegah tangannya dan membuka pintu terlebih dahulu. Tangan yang lebih besar itu sempat menyentuh jari-jari Sakura dan menimbulkan efek listrik yang belum pernah Sakura rasakan sebelumnya.
Pipi perempuan itu memerah.
"Tidak pantas seorang lady membukakan pintu," kata lelaki itu dengan wajah datarnya, tapi ada guratan jahil di matanya. Sasuke Uchiha.
"Eng, thanks," balas Sakura dengan wajah jengah. Sudah lama ia tidak pernah mendapat kata-kata seperti itu dari seorang laki-laki. Apalagi yang setampan dan seseksi Sasuke Uchiha.
"Berikutnya, aku akan membawanya sering-sering kemari," kata Madara sambil berlalu meninggalkan mereka. Di pelukannya sudah ada Hana yang berceloteh macam-macam tentang apa yang akan mereka lakukan nanti.
"Sakuraaaa!"
Sakura mengangguk paham. Ia kemudian menoleh pada Tenten yang memanggilnya dari belakang. "Kenapa?"
Tenten meringis. "Tas Hana banyak sekali dan aku masih harus mengerjakan tugas-tugasku," katanya sambil mengangkut setidaknya 3 buah tas besar dengan kedua tangannya. Kelihatan begitu berat dan banyak. Entah dari mana gadis itu punya tas sebanyak itu.
Sakura menarik napas panjang. "Oke, sebentar akan kubawa," katanya kemudian bergegas untuk mengambil dua tas untuk ia angkut menuju mobil sang Uchiha. "Permisi, Sasuke-san," panggil Sakura.
Sasuke yang mengekor di belakang Madara menoleh. Tanpa pertanyaan maupun ekspresi tanya.
Sakura berusaha tersenyum manis padahal ia keki setengah mati dengan sikap Uchiha satu ini. "Bisa anda membantu saya membawa satu tas ini?" tanyanya dengan wajah memohon.
"Apa imbalannya kalau aku membawakan tas itu?" tanya Sasuke yang berjarak agak jauh. Matanya menyiratkan sinar jahil di dalam sana.
Wajah Sakura memerah melihat kilatan mata hitam legam itu. Ia berani bersumpah kalau mata, wajah dan tubuh lelaki itu begitu menggairahkan. Apalagi tatapan matanya yang kadang nakal pada dirinya.
Sungguh menggoda.
"Apa ... yang anda minta? Saya tidak bisa memberikan apa-apa," katanya dengan napas terputus-putus. Tak sadar kalau sejak tadi ia memandang lelaki tampan itu dengan menahan napasnya.
Sasuke tidak menjawab dan mulai berjalan mendekat. Ia meraih satu-persatu tas yang tersampir di punggung dan tubuh Sakura—karena tas itu bermodel selempangan—sehingga beberapa jarinya yang nakal tak sengaja mengelus dada Sakura.
Blush
Jantung sakura mendadak berhenti saat jari-jari itu berusaha mengambil tas selempang yang tali ada di depan tubuhnya, seolah berjenti lama-lama di sana dan menendang-nendang dadanya ringan dengan beberapa jarinya yang panjang dan hangat.
Sasuke menyeringai tipis sekali sebelum dengan satu tangan ia mencengkram tali tersebut dan sengaja meraup lembut sebagian material kemeja Sakura hingga pakaian itu sedikit terbuka karena perbuatannya.
Ada dua gundukan yang bisa dilihat Sasuke dari posisinya yang lebih tinggi dari perempuan itu. Padat dan menantang. Membakar gairahnya.
"Umm, t-thanks," kata Sakura terbata-bata. Ia berusaha menutupi wajahnya yang malu akibat dadanya terjamah oleh tangan Sasuke. Diam-diam, gadis itu mengharapkan tangan itu meraup dadanya penuh dan meremasnya lembut hingga ia mendesah-desah.
Ah, pikiran nakal.
Lagi-lagi Sasuke tidak menjawab, tapi ia berjalan sejajar dengan Sakura dengan kedua tas yang dipanggulnya. Sesekali melirik Sakura yang membawa satu tas tanggung di punggung.
Sial, perempuan itu tidak sadar kalau kancing kemejanya terbuka dua karena kejadian tadi. Dengan posisi seperti ini, Sasuke bisa melihat belahan padat dan bergoyang itu ketika mereka berjalan beriringan.
Ingin sekali rasanya menyelusupkan tangan dan jari-jarinya ke dalam celah itu dan merasakan kulit halus yang ada di dalam sana. Ia bahkan bisa membayangkan perempuan di sampingnya ini akan mendesah dan menggelinjang oleh sentuhannya.
"Sasuke-san, apa anda masih tinggal di rumah Madara-san?" tanya Sakura membuyarkan keheningan dan pikiran nakal Sasuke akan perempuan itu.
"Hn," gumamnya pelan. Sedikit ia bisa melihat dada Sakura naik dan turun karena tarikan napasnya.
Sakura mengangguk dan bernapas lega karena mereka telah sampai ke parkiran bawah bangunan utama. "Kita sampai," katanya pelan.
Sasuke segera membuka bagasi belakang mobilnya dan memasukkan dua tas yang sejak tadi ia panggul ke dalam. Ia melirik Sakura yang sedang melepaskan tas dengan mata berkilat.
"Imbalannya?"
"Eh?" Sakura berhenti membebaskan tubuhnya dari jeratan tas itu dan menatap Sasuke heran. "Ah ya, aku tahu ini seharusnya tugasku dan ak—"
Belum sempat Sakura menyelesaikan perkataannya yang terdengar gugup, kalimat itu terhenti karena Sasuke mengangkat tas yang menjerat tubuhnya sambil menyenggol kembali dadanya.
Napasnya seolah berhenti dan semua darah naik ke wajah cantiknya. Lelaki itu menjatuhkan tas itu di aspal parkiran dan mencengkram material bajunya.
"Kau tahu," katanya dengan suara berat. Sakura bisa merasakan napas harum pria itu di wajahnya. "Pakaian kerjamu cukup nakal," lanjutnya dengan sentuhan jempol di belahan atas dada Sakura.
Gadis itu terkesiap dan hendak menjerit tertahan karena mengira Sasuke akan merengut dadanya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Lelaki itu mengancingkan kancingnya yang baru ia sadari terbuka dan menepuknya ringan.
"Jangan diulangi," katanya memerintah. Lalu ia meraup tas yang ia jatuhkan tadi, memasukkannya ke dalam bagasi dan bergegas menutupnya.
Ia memandang Sakura sekilas, mencubit pipi kanan gadis itu sedetik sebelum pergi melesat dengan mobilnya. Terlihat Hana melambaikan tangan dari kursi belakang dan Madara duduk di kursi sebelah kemudi.
"Dadah Sakura-nee-chan!"
Dan Sakura masih terbengong dengan wajah merah di tengah-tengah parkiran.
.
.
.
Gadis berambut merah muda itu meminum habis cola yang baru saja ia beli dalam satu kali tegukan. Dengan napas terengah-engah ia memukul-mukul handphone miliknya dan menyemburkan beberapa teriakan pada seseorang.
Beberapa orang yang ada di sana bahkan sampai menoleh dengan wajah cemas, curiga dan beberapa di antaranya terkikik-kikik melihat sikap tidak tenang gadis itu. Beberapa di antara mereka bahkan sampai mendekat dan bertanya, tapi Sakura malah berteriak dengan wajah merah padam.
"Hah? Bukan apa-apa! Tinggalkan aku sendiri!" katanya dengan napas yang masih sulit diatur. Lalu mereka mundur dan menjaga jaraknya.
"Sakuraaaaaa!"
Gadis itu menoleh dan menangkap lewat pandangannya. Tenten dan Ino mendekatinya dan melambaikan tangan. "Gomen lama, tadi Ino dandan dulu di kamar mandi," kata Tenten berinisiatif meminta maaf.
Sakura melemas di kursinya.
Ino terkikik-kikik dan mencolek-colek lengan Sakura. "Aku tadi lihat lho, kamu dan si super-super tampan itu di parkiran," katanya jahil.
"Bagaimana kau tahu?!" tanya Sakura tanpa basa-basi. Ia bahkan belum bercerita apapun sejak tadi.
Ino terkikik-kikik sambil menyenggol Tenten yang agak kebingungan. "Tadi aku mengantar Tenten mengambil beberapa berkas di ruang CCTV, kau tahu 'kan parkiran ada kameranya, jadi kelihatan. Ya ampun, panas banget! Beneran! Aku tadi lihat sebentar aja, apa kalian tadi sudah ciuman? Rangkul-rangkul? Remas-remas? Oral? Blow job? Oh, berani—"
"AKU TIDAK MELAKUKAN APAPAUN ITU INOOOOOOOO!" kata Sakura dengan wajah super merah. "Dia saja yang tadi pegang dadaku lalu—" ceritanya berhenti saat menyadari tidak hanya mereka bertiga yang mendengar pembicaraan ini. Bahkan semua orang di cafe minuman ini.
Wajah Sakura sudah bukan main lagi merahnya. Habis sudah.
Beberapa orang di sana bahkan terkikik dan bersiul mesum pada gadis berambut merah muda itu. Ia jadi ingin sekali menenggelamkan kepalanya ke mana saja agar tidak malu lagi.
"Seharusnya kita tidak bicara hal seperti ini dengan suara yang sangat kencang," kata Tenten dengan wajah merah juga. 'Yang mendengar saja malu, apalagi yang merasakan,' batinnya.
Ino malah tertawa. Ia sama sekali tidak sadar kalau temannya sendiri sedang dirundung malu yang begitu dalam oleh karena pancingan kata-katanya.
Sakura tidak terima kalau sahabatnya itu malah tertawa di atas penderitaannya. "Oh, baiklah,"katanya dengan wajah penuh kemengangan. "Akan kulaporkan kau pada Sai soal selingkuhanmu yang berambut nanas itu."
Ino berhenti tertawa. "Oh jangan Sakura. Jangan bilang Sai ..." katanya dengan nada memohon.
Kini giliran Sakura yang tertawa. "Hum, bagaimana ya?" katanya sambil pura-pura menimbang keputusannya. Ia tertawa dalam hati, 'Kena kau Pig!'
"Please ..." Mohon Ino. Ia memijati pundak Sakura sebagai tanda rayuan untuknya. "Kutraktir deh."
"Fufufu~" tawa Sakura licik.
"Aku pesan latte," kata Tenten pada pramusaji dengan wajah seolah melihat sebuah atraksi konyol di depannya. Ia menghela napas dan bergumam, "Bagaimana bisa aku berteman dengan orang-orang macam ini ..."
.
.
.
Sakura berjalan pulang sambil terus bergumam, "Lupakan Sakura, lupakan Sakura, lupakan, lupakan, lupakan ..."
Tapi nyatanya hingga ia sampai ke kamarnya, ia tetap tidak dapat melupakannya sekalipun. Sedetikpun.
Ingatan akan tangan dan jemari Sasuke yang menyentuh dadanya masih saja meliuk-liuk nakal di dalam ingatannya. Pikiran nakal.
Hingga Sakura membuka seluruh material terluarnya dan menghadap cermin hanya dengan bra dan celana dalam, ia melirik pada belahan dadanya dan payudaranya yang mengintip di balik mangkuk sutera itu.
Disentuhnya bagian di mana jemari lelaki itu sempat membuat tubuhnya terbakar oleh gairah. Sakura menggigit bibir menahan desahannya saat mengingat jari panas dan lihai itu menepuk bagian atas payudaranya pelan.
Saat dilihatnya wajah merah membara di pantulan kaca, gadis itu membuang muka dan sadar seketika akan apa yang ia pikirkan barusan. Segera saja ia menyelusup ke dalam selimut hangatnya dan menutup matanya.
Membayangkan Sasuke Uchiha yang seksi, menyentuh dadanya. Oh, tentu saja.
.
.
.
"Hei pemalas, ayo bangun!"
Sasuke mengernyitkan alisnya kuat-kuat saat suara familiar yang ia kenal baru-baru ini masuk ke dalam pendengarannya. Bagaimana mungkin ...
"Sakura?" Sasuke menggapai-gapai jam weker yang berdering entah sejak kapan di atas nakas dan mengerdipkan matanya beberapa kali untuk mendapatkan fokus. Sayangnya sebelum ia membuka penuh matanya dan mendapatkan fokus yang apik, perutnya serasa ditimpa sesuatu yang hangat.
Satu usapan lembut lewat singkat di bibir Sasuke, menimbulkan erangan lelaki itu. Ia menebak, Sakura menciumnya main-main dan yang berada di atas tubuhnya adalah tubuh gadis itu.
"Kau bau," bisikan suara manis itu terdengar bagaikan suara surga di telinga Sasuke. Lelaki itu tanpa sadar menaikkan sudut bibirnya tipis dan meraup tubuh gadis cantik itu dan meremas bokongnya lembut.
"Apa kau terangsang dengan itu?" tanya Sasuke dengan suara serak khas bangun tidur. Ia memainkan bagian kenyal di belakang tubuh gadis cantik itu berharap jawaban yang ia inginkan.
Sesuai harapannya, Sakura mendesah kuat dan mendekatkan dirinya pada Sasuke, membuat payudaranya yang menggantung kini menimpa dada Sasuke yang bidang, berharap akan sentuhan lelaki itu di sana. "Y-Yes—Hhh—please," desah gadis menggairahkan.
Sudut bibir Sasuke yang naik berubah menjadi seringaian, dalam sekejab ia merasakan kalah dadanya makin menghimpit dada Sakura yang sengaja digesekkan gadis itu. Ereksi Sasuke bahkan sudah siap menyentuh bagian ...
"Sasuke!"
Sasuke terbangun seketika dan sosok Sakura hilang digantikan oleh guling panjang yang sedang berada tepat di atas tubuhnya. Damn, itu tadi nyaris saja. Sasuke mengumpat dalam hati.
Saat ia bangun, dilihatnyalah nyonya Madara Uchiha sedang berkacak pinggang sambil memberikan death glare andalannya lalu kemudian berkata, "Harusnya aku tahu kalau kau baru pubertas."
Pubertas? Sasuke melirik apa yang ia duduki sekarang. Oh, tidak.
"Aku sudah melewati pubertasku belasan tahun yang lalu," kata Sasuke yang kemudian bangkit dan membereskan seprai yang sudah ia kotori sebagian itu. Ereksinya masih terasa ngilu, karena masih ada sisa-sisa gairah yang tak tersalurkan di sana. "Ini bukan mimpi basah," belanya datar.
"Oh tentu saja itu mimpi basah," kata nyonya Madara Uchiha itu sambil memberikan tatapan prihatin pada Sasuke. "Sekarang kau cuci dan jangan sampai Hana tahu apa yang sedang kau cuci itu. Ia masih belum pantas melihatnya," katanya.
Sasuke tidak menjawab dan membawa gumpalan yang berisi kebanggannya yang tercecer itu menuju kamar mandi. Dengan air dan deterjen, semuanya akan beres.
"Oh ya, kurasa sebaiknya kau kencani saja gadis yang kau bayangkan itu ketimbang kau harus mimpi basah setiap malam. Kurasa ia gadis yang hebat hingga membuatmu sampai seperti itu," lanjut nyonya Madara Uchiha sambil berlalu dengan satu seringaian jahil.
Sasuke dengan nada datarnya berkata, "Asal kau berikan rumah musim panasmu padaku, aku akan melakukannya."
"Oh tentu, pakailah sepuasmu dan bercintalah gila-gilaan dengannya."
Sasuke menyeringai. Bercinta gila-gilaan kedengarannya menarik.
.
.
.
"Jadi sampai mana tadi?"
Sakura mengerjapkan matanya dan kembali menajamkan pendengarannya dalam hitungan detik. Melamun di tengah-tengah rapat, yang benar saja. Gadis itu menepuk-nepuk pipinya yang merah dan memfokuskan pikirannya.
"Kurasa kasus ini buntu jalannya. Tidak ada banyak yang bisa kita lakukan kalau mengenai sponsor acara sosial seperti King Kids,"kata satu suara yang berada di seberang Sakura. Aura ragu dan sedikit pesimis segera membaur di ruangan tersebut.
"Tidak jika kau gunakan apa yang kau genggam sekarang." Suara Tenten yang percaya diri sekaligus ceria segera menekan suasana yang tidak mengenakkan tersebut dengan aura penuh tanya dan titik harap.
"Bagaimana caranya?" tanya Jiraiya selaku ketua perkumpulan sosial itu antusias. Bahkan sakura yang mendengarkannya juga merasakan keantusiasan yang sama seperti lelaki tua itu.
Tenten mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju whiteboard yang berdiri di depan kursi-kursi itu. Ia menuliskan beberapa kata dan panah lalu mempresentasikan idenya di depan semua orang.
"Kita punya satu superstar di sini—atau dua lebih tepatnya."
"Siapa itu?" tanya suara yang berada di ujung kursi.
"Sakura Haruno," kata Tenten penuh percaya diri. Ia menunjuk Sakura yang sedang duduk bersandar di kursinya yang langsung reflek menunjuk dirinya tidak percaya.
"Aku?" Sakura menunjuk diri dengan jarinya. Ada yang tidak beres di sini.
Tenten mengangguk diiringi tatapan bingung yang lainnya. "Sakura, kau pernah masuk babak final model swimsuit tingkat Internasional yang diadakan di Paris, kan?" tanya Tenten seolah menguji jawaban Sakura.
Gadis itu menelan ludah. Siapa lagi yang mengatakannya kalau bukan ... 'Pig,' desis Sakura dengan alis berkedut kesal. "No, I'm not," kilah Sakura tenang.
"Yes, that's you." Ucapan yang seharusnya diucapkan oleh Tenten malah sudah diucapkan terlebih dulu oleh Jiraiya yang berada di kursi besarnya. "Sungguh aneh, aku bisa lupa kalau itu kau. Oke, lalu siapa lagi superstar satunya?"
"Gak, gak. Tunggu dulu, itu—kau tahu aku tidak menang waktu itu dan itu semua karena Ino yang mendaftarkanku diam-diam tanpa sepengetahuanku, lalu—"
"Intinya kau pernah masuk final. Sudah. Dan aku yakin kau akan jadi pemenangnya jika saja kau tidak mengundurkan diri. Percaya dirilah sedikit, Sakura. Aku tahu kau punya kharisma untuk menjadi superstar," balas Tenten tajam. Kemudian gadis itu mengalihkan pandangannya dan berkata, "Dan satu lagi ..."
Sakura terduduk lemas di kursinya sementara beberapa anggota yang berjenis kelamin laki-laki mulai menatapinya dengan mata berbinar-binar. Sebelumnya mereka semua tahu kalau Sakura cantik dan seksi, tapi untuk jadi model baju renang ... Oh well.
"... Satu lagi adalah Tsunade-san."
Jiraiya mendelik saat nama isterinya disebut. "Tidak, aku menolak."
Tenten mengangkat bahu. "Kenapa tidak? Dia artis besar dua puluh tahun yang lalu, kau tahu."
Beberapa orang yang ada di sana berdecak kagum dengan kenyataan yang barusan dibeberkan oleh Tenten, sementara Jiraiya menutupi wajahnya yang merah dan berdehem salah tingkah.
"Pokoknya aku tidak mau kalau sampai dia yang harus turun tangan. Nenek-nenek seperti itu hanya akan—"
"Siapa yang nenek-nenek, hah?! Mau kupotong milikmu sampai tidak bisa berdiri lagi?"
Semua yang ada di sana bergidik dengan wajah merah saat orang yang dibicarakan mendadak muncul di belakang Jiraiya sambil menjewer telinga lelaki itu. Istri dari Jiraiya itu mendelik sebal dengan beberapa siku berkedut di pelipisnya.
"Rencanamu apa, err—"
"Tenten. Rencanaku seperti ini Tsunade-san, jadi kita akan membuat satu episode drama yang kira-kira berdurasi setengah jam. Tokoh utamanya adalah kalian berdua, Sakura dan anda."
"Hmmm ... Kedengarannya bagus. Lalu?"
Tenten merasa kalau idenya akan menjadi suatu terobosan besar mulai bersemangat dengan rencananya. "Jadi nanti Sakura akan jadi anak yang tertindas lalu anda yang jadi orang tua yang menganiaya Sakura. Di sini akan diceritakan kalau anda pemakai narkoba dan hyper sex."
Wajah Tsunade terlihat berkerut-kerut, entah ia senang atau marah. Tapi wanita itu mengatupkan bibirnya diam.
"Inti dari ceritanya nanti Sakura akan anda jual pada lelaki hidung belang untuk uang membeli narkoba, lalu sampai di sana semua shoot diarahkan pada Sakura dan penderitaannya sebagai anak yang dibuang dan disiksa."
Sakura menepuk jidatnya pasrah. Entah apa yang telah mengilhami pemikiran Tenten yang gila itu. "Lalu bagaimana dengan aku? Kau tahu aku bukan anak dibawah umur sementara acara kita ini berfokus pada anak di bawah umur," tanya Sakura ogah-ogahan.
"Dammit, Sakura. Wajahmu itu terlihat seperti gadis puber yang jangkung. Tak akan ada yang tahu kalau umurmu sudah dua puluh lebih," kata Tenten menyeringai tajam.
Sakura menjedukkan kepalanya ke atas meja.
"Aku tetap tidak setuju. Dia mungkin memang hyper sex, tapi—"
"Setidaknya tidak kulakukan dengan lelaki lain!" potong Tsunade lagi. "Kedengarannya menarik. Kapan kau bisa mulai?"
Tenten tersenyum cerah dan berkata, "Dua minggu lagi, setidaknya. Aku akan cari semua keperluannya."
Tsunade duduk di satu kursi yang kosong dan berkata tajam pada semua orang yang berada di sana. "Oke. Rapat selesai. Angkat bokong kalian dan mulai bekerja," katanya pedas.
Semua yang ada di sana serentak menghilang dari pandangan. Sementara Sakura yang terakhir keluar, hendak menutup pintu mendengar cekcok kecil dari pasangan Tsunade dan Jiraiya dan diakhiri oleh sebuah ciuman panas keduanya.
Sakura menghela napas dan menutup pintu rapat-rapat. Ini tidak baik-baik saja.
-TBC-
Special thanks to:
Iya baka-san, Yuuki Edna, Mizuira Kumiko, Tsurugi De Lelouch, Yumi Murakami, Dark Courriel, Love Foam, ocha chan, hachikodesuka, Furiikuhime, dark angel
And YOU!
Terima kasih sudah bersedia membaca, apalagi banyak yang bingung akan fic ini. LOL, saya sendiri juga bingung menjelaskan dan mengatur jalan ceritanya agar rapi dan beruntut. Apalagi saya kadang suka lupa akan hal-hal yang kecil. Jadi jangan sungkan berkomentar kalau ada hal yang janggal.
Bagaimana kesan anda? Bolehkah saya tahu kesan setelah membaca fiksi ini?
Saya harap tidak ada yang menjadi readers yang pendiam ya.
Review?
Mikakikukeko
