Charade (Jantung Sang Terkasih)

Naruto © Masashi Kishimoto

Inspirated from Charade by Sandra Brown

Warning, Not Under 16 years old

Happy reading!

.

.

.

"Gimana?" tanya Ino yang baru saja masuk ke kantor setelah menyurvei salah satu calon orang tua angkat yang ingin mengadopsi anak-anak dari King Kids. Ia tadi tidak ikut rapat panas barusan dan bertanya pada Sakura yang sedang minum kopi kaleng.

"Terima kasih untuk mulut embermu, Pig," cerca Sakura yang kemudian menghirup kopi kalengnya pelan-pelan. Kerongkongannya sakit, itu yang dirasakannya saat ini.

Ino duduk di samping Sakura dan bertanya, "Maksudmu?"

Sakura menghela napas. Kemudian mengalirlah semua cerita perjalanan rapat yang panjang tadi dari kedua belah bibir Sakura disertai beberapa umpatan dan kalimat menyalahkan untuk sahabatnya itu.

Ino tergelak bukan main. "Kau! Kau benar-benar akan jadi superstar setelah ini! Berterima kasihlah padaku yang telah menunjukkanmu jalan, forehead!" katanya sambil tergelak.

Sakura memutar kedua bola matanya dan membalas, "Aku lebih memilih untuk melemparmu ke jurang ketimbang harus jadi superstar."

"Siapa yang superstar?"

Keduanya yang sedang asyik berbicang—atau memaki dan mengejek—itu menoleh bersamaan. Ino menganga seketika pada detik pertama dan diikuti Sakura pada detik kedua.

"A-aa—Sialan Sakura, dia bahkan lebih hot dari yang ada di CCTV!" bisik Ino yang tanpa sadar lupa mengecilkan volume suaranya.

"Sasuke ... san." Sakura menutup mulutnya yang dua setik lalu sempat terbuka lebar digantikan dengan satu senyuman formal yang dibuat-buat. "Apa yang membawa anda kemari?"

Sasuke mengangkat alis mendengar keformalan Sakura yang tidak segera cair itu. Tapi ia memutuskan untuk diam saja tentang masalah itu dan meneruskan aksinya. "Aku ... Butuh sedikit konsultasi. Mengenai Hana."

"Mengenai Hana." Sakura mengangguk-angguk paham. "Harusnya yang datang adalah wali aslinya—err maksudku ... Begitulah," kata gadis itu bingung bagaimana menjelaskannya.

"Kau tidak suka aku kemari?" tanya Sasuke dengan wajah dingin datarnya. Tidak disangkanya perempuan yang sudah membuat ereksinya mengacung ngilu tadi pagi bisa berkata kalau seolah ia tidak diharapkan di sini.

"Oh, tentu saja tidak! Sakura sangat senang anda di sini. Sungguh!" potong Ino cepat sambil menginjak kaki Sakura dengan sepatu hak tingginya.

Sakura meringis dan menginjak balik kaki Ino dua kali lebih keras. "Kita bisa bicara di ruang tamu," kata Sakura seraya bangkit tertatih-tatih oleh karena injakan dahsyat dari kaki Ino padanya. Sayangnya ia kurang sigap melangkah hingga dia oleng oleh karena sepatu hak tingginya.

"Aku ingin mengajakmu minum kopi untuk membicarakan masalah ini," kata Sasuke setelah tangannya dengan sigap menangkap siku kanan Sakura sopan dan membantu gadis itu berdiri tegak.

Wajah Sakura memerah. Ini sudah terjadi ribuan kali sebelumnya, bahkan sebelum Sasuke muncul dan menyentuh sikunya lalu membantunya berdiri tegap, tapi rasanya pipinya tidak pernah seterbakar ini rasanya.

"Tapi kurasa kau tidak memerlukan kopi lagi," kata Sasuke setelah melirik kaleng kopi yang berada di atas bangku panjang yang diduduki Ino. Ngomong-ngomong gadis itu sedang menahan cekikikannya karena adegan drama ini.

Sakura melihat apa yang kini dipandang Sasuke dan mendelik. Entah karena apa, lidahnya bergerak sendiri dan berkata, "Aku biasanya butuh dua kopi. Jangan khawatir."

Sasuke mengangkat alis. Bingung dengan pernyataan Sakura, sementara gadis itu sedang menjedukkan kepalanya—tentu saja di dalam pikirannya—menyadari kalau perkataannya merupakan perkataan yang bodoh.

"Sudahlah, memangnya di dunia ini kalian hanya bisa minum kopi? Kalian bisa minum soda di toko seberang, milkshake di sebelah bioskop, atau vodka di bar? Martini? Gin? Vermouth?"

"Terima kasih, Ino-Pig atas saranmu yang berharga itu," desis Sakura pada Ino yang duduk sambil menyilangkan kakinya anggun.

"Well, sama-sama Sakura. Senang bisa membantumu."

Sakura menggeram sambil tersenyum berbahaya.

.

.

.

"Jadi?"

Sasuke berdiri di hadapan Sakura sambil menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana jeans—yang kali ini untungnya terkancing rapat—dan berkata, "Hn."

Salah, itu bukan kata, itu gumaman yang tidak jelas maksudnya apa.

Sakura merapikan sisi rambutnya ke belakang telinga dan bertanya, "Jadi kita harus naik ini? Bagaimana kalau kita minum latte di seberang saja?"

Sasuke menepuk sepeda motor besar kebanggannya dan bertanya balik, "Kau takut?"

Gadis berambut merah muda itu menggigit bibir atasnya. "Kau tahu aku mengenakan rok," katanya seraya memandang rok ketatnya yang berada sedikit di atas lutut.

Mau tidak mau pandangan mata Sasuke ikut tertuju pada rok krem Sakura yang menempel ketat di bawah gadis itu. Ya Tuhan, pastikan dirimu tidak bergerak sekarang, Sasuke. Lelaki itu menggeram dalam hati menahan dirinya sendiri.

Meninggalkan pandangannya dari rok ketat Sakura, lelaki itu melemparkan jaket kulitnya dan segera ditangkap dengan baik oleh gadis itu. Sakura bingung dan hanya memandangi jaket besar Sasuke tanpa tahu harus berbuat apa.

"Pakai di pinggangmu," kata Sasuke yang sudah menaiki motor besarnya dan menstarter mesinnya.

Sakura menuruti apa yang diperintahkan lelaki itu padanya dan ia dengan ragu-ragu meloncat ke arah kursi penumpang. Segera saja dadanya menyentuh punggung Sasuke tanpa ia sadari. "Apa kau tidak punya helm?"

Sasuke berusaha memfokuskan kemudinya dari pada benda kenyal yang beberapa detik lalu sudah menyentuh punggungnya. "Tidak."

Belum sempat motor itu berjalan satu sentipun, Sakura langsung melompat turun dan lagi-lagi gerakannya itu membuat dadanya kembali bersinggungan dengan punggung Sasuke. Lelaki itu bahkan sampai sempat miring dan oleng jika saja ia tidak memiliki reflek yang baik.

"Apa?" tanya Sasuke kebingungan dengan sikap Sakura yang berubah-rubah ini.

"Aku tidak mau ikut kalau kau tidak memiliki helm," jawab Sakura datar. "Lebih baik kita bicara di seberang saja."

Sasuke mematikan mesin dan segera menyangga sepeda besarnya dengan besi penyangganya yang sudah tersedia di sana. "Demi Tuhan Sakura, kau pikir aku pengemudi ugal-ugalan? Kupastikan seratus persen kau selamat!" kata Sasuke dengan nada bicara yang sedikit naik karena kesal.

Nyatanya gadis itu bukannya malah menurut dan ketakutan, malah ia balas kesal pada lelaki di hadapannya. "Kalau begitu konsultasikan di sini saja. Aku akan menjawabmu dan kau bisa pergi dengan motor sialanmu itu."

Sasuke menggeram melihat kegigihan gadis yang tidak mau disanggah pemikirannya ini. sedikit banyak ia merasa kalau sosok mungil di hadapannya ini keras kepala atas apa yang ia inginkan. "Fine, tidak perlu. Aku pergi," kata Sasuke yang secepat kilat menyalakan mesin motornya dan melesat pergi dengan kecepatan yang tidak bisa dibayangkan.

Uh-oh.

Lelaki itu marah.

Sakura menghela napasnya. Segera ia berbalik dan masuk kembali ke dalam gedung kantornya yang megah.

'Lelaki keras kepala,' batin Sakura dalam hati. Sedikit banyak ia merasa kesal dan kecewa dengan sikap lelaki itu padanya. Bukankah seharusnya mereka berbincang-bincang sekarang?

"Lho, kata Ino tadi kau pergi bersama si 'hot' itu? Siapa namanya?" tanya Tenten saat melihat sosok Sakura masuk ke dalam ruangan dan duduk di dalam kubikelnya yang aman.

"Bokongnya mendadak tersengat lebah dan sekarang ia kabur entah ke mana," jawab Sakura asal-asalan.

Tenten tertawa, menganggap kalau candaan Sakura itu adalah hal terlucu di dunia. Padahal Sakura sendiri tidak tertawa karenanya. Gadis itu malah sebal.

"Oh ya, tadi ada kiriman paket untukmu," kata Tenten setelah tawanya reda. Ia melemparkan sebuah kotak berukuran seperti kotak sepatu ke atas meja sakura pelan.

"Dari siapa?" tanya Sakura heran. Setahunya ia tidak ada orang-orang yang benar-benar memiliki motif, mengirimkan paket padanya.

"Entah, tidak ada namanya," kata Tenten mengangkat bahu. Dari kubikelnya, ia melirik kotak paket yang kini sedang dibuka Sakura hati-hati.

Gadis berambut merah muda itu mengiris sisi kotaknya dengan cutter dan dalam sekejap kotak itu terbuka. Mata hijau hutannya segera memandangi isi dari dalam sana dan segera meneliti isinya.

"Apa itu maksudnya?" tanya Tenten keheranan. Ia melihat tidak ada satupun hal lain kecuali sobekan-sobekan koran berbentuk persegi dan persegi panjang di dalamnya.

Mata Sakura membelalak beberapa detik. Tapi kemudian ia membuang kotak sekaligus isinya itu ke dalam tong sampah seraya berkata, "Mungkin orang iseng. Biarkan saja."

"Haruskan kita lapor polisi? Kelihatannya itu seperti berita yang mengancam," tanya Tenten ragu.

"Tidak, tidak perlu. Biarkan saja," kata Sakura cepat. "Lanjutkan saja pekerjaanmu," katanya lagi.

Tenten mengangkat bahu dan kembali duduk di posisinya, melewatkan wajah Sakura yang baru saja mendadak pucat dengan tangan gemetaran.

Di sisi lain, Sakura kembali mengobrak-abrik tempat sampahnya dan meraup kotak yang dikirimkan padanya itu dalam satu genggaman. Segera saja ia memasukkannya ke dalam tas dan kemudian duduk diam di posisinya dalam beberapa menit.

'Orang itu tahu siapa yang membunuh Naruto ...' batin Sakura ketakutan.

.

.

.

Sakura pulang dengan tangan dan kaki sebeku es. Padahal hawa jelas-jelas masih terasa panas tapi tidak begitu dengan tubuhnya. Tangan kanannya tanpa sadar menggenggam erat tas tangannya yang mendadak besar dan menggelembung.

"Apa itu di dalam tasmu?" tanya Ino saat mereka berdiri di depan basement.

"Jaket Sasuke-san," katanya seraya tersenyum dibuat-buat. Bukan hanya jaket Sasuke yang ada di dalam sana, tapi kardus berisikan teror terselubung bagi Sakura juga ada di dalam sana.

"Hoo," komentar Ino dengan seringai mesum terselubungnya.

Biasanya Sakura bakalan pura-pura marah atau kesal, tapi ia lelah untuk melakukannya. Jadi ia hanya tersenyum lemah dan meninggalkan Ino sendirian sementara ia beranjak pulang.

"Sakura."

Gadis itu menoleh kala suara yang tadi sempat meninggalkannya di parkiran kini muncul tepat beberapa meter di sisi kirinya. Tapi bukannya membalas, Sakura lebih memilih untuk menghiraukannya dan meneruskan langkahnya menuju rumah.

"Sakura!" Suara itu memanggil lagi, bahkan kini suara itu mendekat di sisinya. Gadis itu menoleh kaget, menyadari kalau Sasuke sudah berada di sisi tubuhnya. "Kau menghiraukanku."

Sakura menyentakkan dirinya ke hadapan lelaki itu dan berkata tajam, "Aku tidak sedang ingin berdebat ataupun main-main saat ini, Sasuke-san."

Sasuke berhenti dan mencengkram pergelangan tangan Sakura lembut. Diseretnya gadis yang tengah meronta-ronta minta dilepaskan itu ke sisi motor besarnya dan memasukkan helm warna hitam ke atas kepalanya.

"Jadi?" tanya Sasuke dengan siratan mata penuh kemenangan.

Sakura mendesah panjang, mengancingkan pengait helm dan berkata, "Tiga puluh menit."

.

.

.

"Begitu ..." Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya paham dan sedetik kemudian ia memakan satu gigitan besar hamburger-nya yang berminyak dan berlemak tebal.

Sasuke menyelesaikan hamburger besar miliknya dalam tiga gigitan dan mulai mengambil hamburger lain yang sempat dipesannya tadi.

"Kurasa kalian harus membelikannya boneka kelinci baru untuk menghibur hatinya," kata Sakura pada solusi terakhir yang bisa dipikirkannya. Untuk sementara ini pikirannya terarah pada hamburger lezatnya saja.

"Maksudmu, kita?" koreksi Sasuke saat gigitannya berakhir.

"Kalian," kata Sakura mengoreksi bagian yang tepat. Tapi saat melihat mata hitam Sasuke memandang lurus ke arahnya, cepat-cepat ia menjawab, "Oke. Kita."

Bagaimana mungkin ia bisa menolak mengatakan kita kalau mata hitam itu seolah menyedot seluruh akal sehat dan pernapasannya? Rasa-rasanya ia perlu mendekatkan diri pada psikiater sesegera mungkin.

"Jadi, kapan kita bisa menemukan kelinci baru itu?" tanya Sasuke sambil meraih cola di atas meja dan menyeruputnya hingga tandas.

Atau tidak. Ia butuh lebih dari sekedar psikiater.

Sakura mengelap sudut bibirnya dengan kertas bekas hamburger tadi dan menyusul Sasuke untuk menghabiskan cola-nya sendiri hingga tandas. "Sekarang kalau kau mau," balas Sakura pura-pura tenang. "Atau besok? Kurasa hari sudah malam dan tidak ada toko boneka yang buka jam segini."

Bohong, ia sama sekali tidak sedang tenang sekarang.

"Besok, jam lima sore," balas Sasuke santai. "Kuantar kau pulang," lanjut Sasuke datar. Ia segera menuntun Sakura dengan gerakan lihai dan membuat gadis itu merasa kalau ia Putri Diana yang sedang diantarkan menuju istana kerajaan oleh Pangeran Charles yang tampan.

Sayangnya Sasuke lebih tampan, jauh lebih tampan dari Pangeran itu—menurut persepsi Sakura tentunya.

Perjalanan tidak mengandung banyak pembicaraan, mereka berdua bahkan diam selama perjalanan berlangsung. Hanya ada sesekali percakapan seperti, "Belok mana?" atau, "Pelankan sedikit motornya," dan lainnya.

Hingga Sakura sudah seutuhnya turun dengan selamat di atas permukaan tanah, ditambah bonus debaran di jantungnya—karena ini kali pertama ia naik sepeda motor dengan kecepatan gila macam itu—sekaligus kaki yang sedikit oleng menyesuaikan diri dengan daratan.

"Kau perlu aku mengantarmu sampai ke dalam?" tanya Sasuke saat melihat Sakura masih belum terbiasa dengan langkahnya di atas permukaan aspal. Dalam hati ia menyadari kalau memang kecepatan sepeda motornya barusan sedikit di atas rata-rata dan mungkin ia harus menguranginya saat jalan lagi dengan gadis di hadapannya ini.

Sakura menggeleng, berusaha tersenyum formal dan berkata, "Terima kasih atas makan malamnya. Hamburger-nya enak. Selamat malam, Sasuke-san." Lalu ia berbalik mendekati rumahnya sambil berusaha tetap berpijak di tanah.

"Sakura," panggil Sasuke. Perempuan itu menoleh dan tahu-tahu Sasuke sudah berdiri tepat di hadapannya, bahkan jarak mereka tidak sampai satu meter.

"Ya?" balas Sakura sambil mengangkat kepalanya ke atas, menghadap tepat langsung ke mata hitam Sasuke yang kebetulan sekali sangat pas menatap dirinya.

Berikutnya yang Sakura tidak bisa melihat apapun lagi karena semua inderanya berpusat pada permukaan bibirnya yang baru saja dikecup oleh Uchiha tampan itu dengan cepatnya.

"Ada saus di bibirmu," kata Sasuke seraya mengusap-usap pinggiran bibir Sakura menggunakan jempol tangannya, membersihkan ujung bibir gadis itu dari sesuatu yang sebenarnya sejak awal tidak ada di sana.

Sakura mematung sejenak sebelum dengan kaku menjawab. "O-oh."

Sasuke merasa kalau perbuatannya berlebihan kali ini, tapi barusan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup bibir merah muda yang merekah dan menggodanya itu. "Well, good night," kata Sasuke canggung.

"Y-yeah, good ... night."

Dan Sakura yakin ia merasakan kalau lidah Sasuke turut andil dalam 'pembersihan' tadi.

.

.

.

Demi apapun di dunia ini, Sasuke benat-benar nekat!

Lelaki itu membanting tubuhnya ke atas ranjang sambil mengusap-usap permukaan bibirnya yang masih merasakan lembutnya kecupan yang ia lakukan beberapa saat yang lalu.

Bagaimana ia bisa memiliki muka setebal tadi? Mencium perempuan yang bahkan baru kaukenal tanpa alasan yang jelas. Saus hamburger? Lupakan itu, itu cara yang cerdik, tapi kekanakan.

Lalu bagaimana jika tadi ia mendapatkan tamparan telak di wajahnya? Atau mungkin tendangan di-anu-nya? Untung saja Sakura cukup baik hanya melongo kaget begitu saja saat jilatannya di bibir mungil itu berakhir.

Dan demi apapun juga, sepanjang jalan lelaki tampan itu harus menahan nyeri hingga berjalan dengan kaki terbuka lebar satu sama lain menahan beban besar yang tergantung di antara dua pahanya. Sungguh, merasakan bibir tadi nyaris membuat Sasuke 'sampai' tanpa harus menyentuh apapun.

Bagaimanapun, Sasuke harus mendapatkannya. Harus. Atau ereksinya akan selamanya bergelantungan dengan beban berat seperti ini.

Ia harus mendapatkan Sakura.

.

.

.

Sakura terduduk lemas di atas ranjangnya tanpa satu busana luarpun yang melekat pasti di sana. Kemejanya sudah masuk ke dalam keranjang cucian dan kini hanya bersisa kamisol tipis yang melekat, tidak pasti antara lepas atau tidaknya.

Sekali lagi Sakura harus dibuat kacau oleh si tampan yang kurang ajar itu. Apa yang barusan si tampan itu lakukan? Menciumnya? Ah tidak, menjilat bibirnya.

Sakura bahkan masih merasakan bagaimana lidah hangat itu menyapu lembut permukaan bibirnya dengan nakal beberapa saat yang lalu. Gadis itu mengerang dan membuka tas kerjanya untuk sekedar mengalihkan perhatian yang tercurah pada bayangan erotisnya.

Dan benar saja, bayangannya benar-benar teralihkan untuk saat ini.

Dilihatnya pesan kaleng yang berisikan potongan-potongan surat kabar itu dengan wajah pucat pasi dan tangan gemetar. Seketika fantasinya benar-benar lenyap dan digantikan dengan rasa bersalah juga ketakutan yang mendalam.

"Naruto ..."

Ia tidak bisa. Ia tidak bisa mengkhianati Naruto begitu saja, apalagi dengan si bajingan tampan yang sudah mencuri ciumannya tanpa ijin barusan. Jantung Naruto belum kembali, demikian pulalah harusnya hatinya masih berada digenggaman Naruto.

Tidak bisa. Ia tidak boleh terhanyut oleh arus godaan lelaki tampan-dan-tidak-sopan itu.

Walaupun ia tidak punya kuasa untuk menolak pesona si cassanova.

-TBC-

Special thanks to:

Chapter ini lebih lama dari yang saya bayangkan. Sebenarnya sudah selesai sejak beberapa bulan yang lalu, hanya saja belum sempat saya koreksi karena sedang WB berat. Terima kasih atas kritik dan sarannya. Dan beberapa kekurangan akan sedapat mungkin saya tambal.

Oh ya, dan ada juga yang bertanya mengenai Sakura yang langsung saja seolah jatuh hati pada Sasuke dalam sekejap saja. Bukan seperti itu, Sakura masih tetap mencintai Naruto dalam hatinya, namun sebagai perempuan ia juga tidak bisa menolak pesona Sasuke. Jadi istilahnya Sakura masih tahap tertarik, tapi bukan suka. Seperti yang sering dibaca di novel terjemahan erotis, bahkan berhubungan sex-pun tidak bisa dibilang pasangan tersebut saling jatuh cinta, bukan?

Jadi harap menyesuaikan diri. Terima kasih atas pertanyaan, saran dan kritiknya. Saya sangan senang melihat jumlah Review yang naik banyak sekali. Doumo arigatou gozaimasu.

Chapter selanjutnya saya tidak bisa berjanji kapan akan di update, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin mengerjakannya.

Review selalu dinantikan.

Mikakikukeko