TWILIGHT (KookV Version)
- Undangan -
KookV - NamJin - MinYoon - J-Hope - WonKyu
BxB / Boys Love / YAOI
Don't Like Don't Read!
Didalam mimpiku terlihat sangat gelap, hanya ada cahaya samar-samar didepanku yang terpancar dari kulit Jungkook. Aku tak bisa melihat wajahnya. Aku hanya bisa melihat punggungnya ketika ia menjauh dariku, meninggalkanku dalam kegelapan. Tidak peduli seberapa cepat aku berlari, seberapa kerasa aku memanggil namanya. Aku tidak bisa mengejarnya, Jungkook tidak pernah berbalik.
Aku terbangun dari mimpiku. Mimpi tadi terasa begitu nyata untukku. Sampai aku merasa ketakutan sendiri dan membuatku tidak bisa tidur untuk beberapa jam kedepan. Setelah itu Jungkook nyaris selalu ada dalam mimpiku setiap malam. Mimpi yang sama, mimpi dimana aku bisa melihatnya tapi selalu tidak bisa kujangkau.
Satu bulan setelah kecelakaan itu segalanya terasa tidak nyaman, menegangkan, dan pada awalnya memalukan. Yang membuatku cemas adalah aku mendapati diriku menjadi perhatian selama sisa minggu itu. Tyler Crowley selalu mengikuti kemana saja aku pergi, terobsesi untuk memperbaiki segalanya, entah dengan cara apa. Aku mencoba menyakinkannya bahwa yang kuinginkan adalah agar ia melupakan kejadian itu. Terutama karena aku baik-baik saja, tapi ia tetap berkeras. Ia mengikuti dan duduk bersamaku dimeja makan siang yang sekarang penuh orang. Mike dan Eric bahkan tak kalah sebal padanya. Dan aku jadi khawatir telah mengundang penggemar yang tak kuinginkan.
Dan ngomong-ngomong tentang Jungkook. Sepertinya tidak ada satu orang pun yang peduli tentang Jungkook. Meskipun aku terus-menerus menceritakan bahwa dialah sang pahlawan, bagaimana Jungkook menarikku dan nyaris saja ikut terlindas. Aku berusaha terdengar meyakinkan. Tapi Jessica, Mike, Eric, dan orang-orang lain selalu berkomentar bahwa mereka tidak melihatnya sampai van itu ditarik. Aku bertanya-tanya mengapa tidak satupun melihatnya berdiri jauh dariku, sebelum ia tiba-tiba -dengan tidak mungkinnya- menyelamatkan hidupku. Entah kenapa aku merasa kecewa dengan reaksi semua orang terhadap Jungkook. Dan aku menyadari satu hal karena sikap mereka, bahwa tidak satupun yang menyadari keberadaan Jungkook seperti aku. Bahwa tidak satupun yang memperhatikannya seperti aku. Dan itu, terasa… menyedihkan.
Jungkook tidak pernah dikelilingi orang-orang yang penasaran ingin mendengar cerita itu dari sudut pandangnya. Orang-orang menghindarinya seperti biasa. Keluarga Choi duduk di meja yang sama seperti biasa, tidak makan, hanya mengobrol sendiri. Tak satupun dari mereka, terutama Jungkook, memandang ke arahku lagi.
Saat didalam kelas, dia masih duduk disebelahku, tapi mengambil posisi sejauh mungkin. Dan sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiranku. Aku sangat ingin bicara dengannya dan aku sudah berusaha melakukannya sehari setelah kecelakaan. Terakhir kali aku bertemu dengan Jungkook itu di luar ruang UGD, kami berdua begitu marah. Aku masih marah karena ia tak mau mengatakan yang sebenarnya kepadaku, meskipun aku tidak akan memberitahu siapapun. Tapi nyatanya ia toh telah menyelamatkan nyawaku, entah bagaimana caranya. Dan dalam sekejap kemarahanku berganti rasa syukur yang mengagumkan.
.
.
.
-TWILIGHT [KookV Version]-
.
.
.
Jungkook sudah duduk ketika aku sampai di kelas Biologi, tanpa melirik kanan-kiri. Aku duduk, berharap ia akan berpaling ke arahku. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyadari aku berada disana.
"Halo, Jungkook," sapaku ramah, mencoba terlihat sopan.
Dia menoleh sedikit tanpa memandang mataku, mengangguk sekali, lalu berpaling lagi. Dan itulah kontak terakhirku dengannya, meskipun ia ada disana, sejengkal dariku, setiap hari. Terkadang, karen aku tidak sanggup menahan diriku. Aku memperhatikannya dari jauh, baik itu di kafetaria atau di parkiran. Kuperhatikan matanya yang keemasan semakin hari semakin gelap. Tapi di kelas aku seolah tak memedulikannya, seperti Jungkook yang juga tidak memedulikanku. Aku benar-benar merana. Dan mimpi-mimpiku masih terus berlanjut.
Meskipun aku bersikap tak peduli, emosi yang terpancar dalam semua e-mail ku membuat ibu menyadari keadaanku yang tertekan. Ia menelepon beberapa kali, terlihat sekali dia mengkhawatirkan aku. Aku berusaha meyakinkannya, bahwa cuacalah yang membuatku sedih.
Salju benar-benar lenyap setelah hari bersalju yang berbahaya itu. Mike kecewa tidak bisa main perang-perangan salju lagi, tapi senang perjalanan ke pantai akan segera terwujud. Meski begitu hujan terus-menerus turun dan minggu demi minggu pun berlalu. Jessica membuatku menyadari satu masalah lagi, ia meneleponku hari Selasa pertama di bulan Maret untuk meminta izin mengajak Mike ke pesta dansa musim semi dua minggu lagi.
"Kau yakin tidak keberatan... kau tak ingin mengajaknya?" ia mendesak terus ketika aku mengatakan sama sekali tidak keberatan.
"Tidak, Jess, aku tak akan pergi," aku meyakinkannya. Berdansa sudah jelas di luar kemampuanku.
"Bakal asyik banget lho." Usahanya membujukku benar-benar setengah hati, aku curiga Jessica lebih menikmati popularitasku yang tidak biasa dan bukannya kehadiranku yang sesungguhnya. Kalian tahu kan, teman seperti itu? Tapi kuharap itu hanya kecurigaanku saja.
"Bersenang-senanglah dengan Mike," aku mendukungnya.
.
.
.
-TWILIGHT [KookV Version]-
.
.
.
Keesokan harinya aku terkejut Jessica tidak cerewet seperti biasa di kelas Trigono dan Spanyol. Ia diam saja ketika berjalan di sebelahku menuju kelas, dan aku takut menanyakan alasannya. Kalau Mike menolak ajakannya, pasti akulah orang terakhir yang ingin diberitahunya. Kekhawatiranku semakin menguat saat makan siang, ketika Jessica duduk sejauh mungkin dari Mike, berbincang sangat akrab dengan Eric. Mike juga diam, tidak seperti biasa.
Mike masih diam ketika mengantarku ke kelas, wajahnya yang suram pertanda buruk. Tapi ia tidak mengungkit-ungkit masalah itu hingga aku duduk di kursi dan ia bertengger di mejaku. Seperti biasa, aku sadar Jungkook duduk cukup dekat hingga aku bisa menyentuhnya, namun toh begitu jauh seolah ia hanyalah imajinasiku saja.
"Jadi," kata Mike menatap lantai, "Jessica memintaku pergi dengannya ke pesta dansa musim semi."
"Bagus dong." Aku berusaha terdengar ceria dan bersemangat. "Kau akan bersenang-senang dengan Jessica."
"Well..." ia berkata ragu sambil mengamati senyumku, jelas tidak menyukai reaksiku. "Aku bilang padanya aku akan memikirkannya."
"Kenapa kau bilang begitu?" Kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku, meskipun aku lega Mike tidak langsung mengatakan tidak.
Wajahnya memerah ketika menunduk lagi. Aku merasa iba.
"Aku bertanya-tanya kalau... well, kalau kau berencana mengajakku, Tae."
Aku berhenti sesaat, membenci perasaan bersalah yang menyelimutiku. Tapi dari sudut mata kulihat kepala Jungkook tanpa sadar miring ke arahku.
"Mike, kurasa kau harus bilang ya padanya," kataku.
"Apa kau sudah mengajak seseorang?" Apakah Jungkook sadar Mike menatap nanar ke arahnya?
"Tidak," aku menyakinkannya. "Aku tidak akan pergi ke pesta dansa."
"Kenapa tidak?" desak Mike.
Aku tak jadi mengatakan bahaya yang bakal muncul bila aku berdansa, jadi aku langsung menyusun rencana baru.
"Hari Sabtu itu aku akan pergi ke Seattle," tuturku. Lagipula aku memang perlu ke luar kota,
"Tak bisakah kau pergi lain kali?"
"Maaf, tidak bisa," kataku. "Jadi seharusnya kau tidak membuat Jess menunggu lebih lama, itu tidak baik." saranku.
"Yeah, kau benar," gumamnya, lalu berbalik, dengan muram berjalan ke mejanya.
Aku memejamkan mata dan menekan jari-jariku ke kening, mencoba mengusir perasaan bersalah dan simpati dari benakku. Mr. Banner mulai bicara. Aku menghela napas dan membuka mata. Dan Jungkook sedang menatapku penasaran, raut frustrasi yang sama dan tak asing bahkan lebih jelas terpancar di matanya yang hitam. Aku balas menatap, terkejut, berharap ia akan langsung membuang muka. Tapi ia malah terus menatap tajam mataku. Tak diragukan lagi aku akan berpaling. Tanganku mulai gemetaran.
"Mr. Jung?" panggil Mr. Banner, menunggu jawaban dari pertanyaan yang tak sempat kudengar.
"Siklus Krebs," jawab Jungkook, tampak enggan memalingkan wajah dan menatap Mr. Banner.
Aku menunduk, memandang bukuku begitu ia tak lagi menatapku, berusaha menenangkan diri. Pengecut seperti biasa. Aku tak mempercayai aliran emosi yang bergetar dalam diriku, hanya karena ia kebetulan menatapku untuk pertama kali setelah enam minggu lamanya. Aku tak bisa membiarkannya mempengaruhiku seperti ini. Menyedihkan. Lebih dari menyedihkan, ini tidak sehat.
Aku berusaha sangat keras agar tidak mempedulikannya selama sisa pelajaran. Ketika bel akhirnya berbunyi, aku berbalik memunggunginya untuk mengumpulkan barang-barangku, berharap ia langsung pergi seperti biasa.
"Taehyung?" Suaranya seharusnya tidak sefamilier itu, seolah-olah aku telah mengenalnya sepanjang hidupku dan bukannya beberapa minggu yang singkat.
Perlahan aku berbalik, enggan.
"apa yang kau inginkan, Jungkook?" aku bertanya, mataku tetap terpejam, lebih mudah berbicara rasional padanya dengan cara ini.
"Aku minta maaf." Ia terdengar tulus. "Aku tahu sikapku sangat kasar. Tapi lebih baik seperti itu, sungguh."
Aku membuka mata. Wajahnya sangat serius.
"Aku tidak tahu apa maksudmu," kataku, hati-hati.
"Lebih baik kalau kita tidak berteman," ia menjelaskan. "Percayalah." Mataku menyipit. Aku pernah mendengar hal itu sebelumnya.
"Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal," desisku tertahan. "Kau jadi tidak perlu repot-repot menyesal begini."
"Menyesal?"Perkataan itu dan nada suaraku, jelas membuatnya kaget. "Menyesal kenapa?"
"Karena tidak membiarkan van bodoh itu menimpaku."
Jungkook terpana. Dia memandangku keheranan. Ketika akhirnya bicara, ia nyaris terdengar marah.
"Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?"
"Aku tahu kau merasa begitu," tukasku.
"Kau tidak tahu apa-apa, Taehyung." Ia jelas sangat marah.
Aku memalingkan wajah dan menelan semua tuduhan liar yang ingin kulontarkan kepadanya. Ku kumpulkan semua buku, lalu berdiri dan berjalan ke pintu. Aku bermaksud meninggalkan kelas dengan gaya dramatis. Tapi tentu saja, kecerobohan seperti teman sejatiku. Ujung sepatu boot ku tersangkut sudut pintu sehingga semua buku jatuh berantakan. Aku terdiam beberapa saat, sempat berpikir untuk pergi saja. Aku menghela napas dan membungkuk untuk memungutinya. Jungkook ada disana, ia sudah menyusun semuanya kembali. Ia menyerahkan buku-buku itu padaku, wajahnya tegang.
"Terima kasih," kataku dingin.
Matanya menyipit. "Sama-sama," balasnya geram.
Aku langsung bangkit berdiri, berpaling darinya dan melangkah ke gymnasium tanpa menoleh. Hari ini kami belajar basket. Sebenarnya aku menyukai basket, tapi sekali lagi kerane teman sejatiku –kecerobohan- aku jadi malas menekuni olahraga yang ini. Anggota timku tidak pernah mengoper bola padaku, dan itu bagus, tapi aku sering sekali terjatuh. Terkadang aku menyeret orang lain jatuh bersamaku. Hari ini aku lebih kacau daripada biasanya karena kepalaku penuh dengan Jungkook. Aku mencoba berkonsentrasi pada kakiku, tapi pikiran itu terus muncul persis ketika aku membutuhkan keseimbangan.
.
.
.
-TWILIGHT [KookV Version]-
.
.
.
Seperti biasa, rasanya lega ketika sekolah berakhir. Aku nyaris berlari ke truk, banyak orang yang ingin kuhindari. Kecelakaan itu hanya meninggalkan sedikit kerusakan pada trukku. Aku harus mengganti lampu belakangnya, dan kalau mahir mengecat aku akan mengecat ulang trukku. Aku nyaris terkena serangan jantung saat berbelok dan melihat sosok yang tinggi dan gelap bersandar di sisi trukku. Lalu aku sadar itu hanya Eric. Aku mulai melangkah lagi.
"Hei, Eric," sapaku.
"Hai, Tae."
"Ada apa?" tanyaku sambil membuka pintu. Aku tidak memperhatikan nada suaranya yang kaku, jadi kata-kata berikutnya mengagetkanku.
"Ehh, aku hanya bertanya-tanya... maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi denganku?" Suaranya bergetar.
Aku berhasil menenangkan diri dan berusaha tersenyum hangat. "Terima kasih untuk ajakannya, tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu."
"Oh," katanya. "Well, mungkin lain kali."
"Tentu," aku menyetujuinya, lalu menggigit bibir. Aku tak ingin dia kelewat serius menanggapinya.
Aku melihat Eric yang berjalan dengan malas-malasan kembali ke dalam sekolah. Kemudian aku mendengar suara tawa samar-samar. Jungkook sedang melangkah melewati depan trukku, menatap lurus ke depan, bibirnya terkaput. Aku membuka pintu, melompat masuk, dan membantingnya keras-keras. Kupacu trukku hingga mengeluarkan suara memekakkan dan mundur ke jalanan. Jungkook sudah berada di mobilnya, hanya selang dua kendaraan, meluncur mulus dihadapanku, memotong jalanku. Ia berhenti disana, menunggu keluarganya; aku bisa melihat mereka berempat berjalan kemari, tapi masih di sekitar kafetaria.
Aku menimbang-nimbang untuk menyengol bemper Volvo yang mengkilap itu, tapi ada banyak saksi. Mobil-mobil lain sudah mulai antre. Tepat di belakangku, Tyler Crowler dengan Sentra bekas yang baru dibelinya melambai padaku. Aku terlalu jengkel untuk menyapanya. Aku mendengar suara ketukan di jendela truk. Aku memandang, ternyata Tyler. Aku melirik spionku, bingung. Mobilnya masih menyala, pintunya terbuka. Aku mencondongkan tubuhku ke sisi truk untuk membuka jendela. Keras sekali. Aku berhasil membukanya separuh, lalu menyerah.
"Maaf, Tyler, Jungkook menghalangiku." Aku kesal, jelas kemacetan ini bukan salahku.
"Oh, aku tahu, aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita terjebak disini." Ia nyengir. Ini… tidak mungkin seperti yang aku perkirakan kan?
"Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?" atau tidak?
"Aku akan pergi ke luar kota, Tyler." Suaraku agak ketus. Aku harus mengingat-ingat bukan salahnya kalau Mike dan Eric telah menguras kesabaranku hari ini.
"Yeah, Mike sudah bilang," akunya.
"Lalu kenapa…"
Ia mengangkat bahu. "Aku hanya berharap kau hanya ingin menolaknya secara halus."
Oke, ini benar-benar salahnya.
"Maaf, Tyler," kataku, berusaha menyembunyikan kejengkelanku. "Aku benar-benar akan pergi ke luar kota."
"Oke, tidak apa-apa. Masih ada pesta prom."
Sebelum aku bisa bicara, ia sudah berjalan kembali ke mobilnya. Aku tak sabar lagi menunggu Jin, Suga, Jimin, dan Namjoon masuk ke Volvo mereka. Dari kaca spionnya, mata Jungkook tertuju padaku. Tidak diragukan lagi ia gemetar karena tawa, seolah-olah ia mendengar sendiri setiap kata yang diucapkan Tyler. Kakiku gatal ingin menginjak pedal gas... satu tabrakan kecil tak akan melukai mereka, paling-paling cuma lecet. Benarkan? Kuinjak pedal gasnya.
Tapi sebelum aku melakukan niat jahatku, mereka semua sudah masuk kedalam mobil dan Jungkook memacu kencang Volvo-nya. Perlahan aku mengemudikan trukku menuju rumah, hati-hati, sambil menggerutu sendiri sepanjang jalan.
.
.
.
-TWILIGHT [KookV Version]-
.
.
.
Sesampainya di rumah aku memutuskan untuk membuat enchiladas ayam untuk makan malam. Memasak makanan itu lumayan lama, tapi itu bisa membuatku tetap sibuk. Ketika aku sedang menumis bawang dan cabe, telepon berbunyi. Aku nyaris takut mengangkatnya, tapi itu bisa saja ibu atau ayah.
Ternyata Jessica, dia hanya menelponku untuk memberi kabar bahwa Mike menerima ajakannya. Setelah menutup telepon aku berusaha berkonsentrasi membuat makan malam, terutama mengiris daging ayamnya tipis-tipis, aku tak mau masuk ruang UGD lagi. Tapi kepalaku berputar-putar, mencoba menganalisis setiap perkataan yang dilontarkan Jungkook hari ini. Apa maksudnya, lebih baik kami tidak berteman?
Perutku bergejolak begitu aku memahami maksudnya. Ia pasti tahu betapa aku sangat terpesona olehnya, ia pasti tidak ingin itu berlanjut... karena itu kami tidak bisa berteman... karena ia sama sekali tidak tertarik padaku. Tentu saja ia tidak tertarik padaku dasar bodoh kau Kim Taehyung, pikirku marah. Tidak tahu kenapa, yang jelas sekarang mataku perih dan itu bukan karena irisan bawang. Aku tidak menarik. Sementara Jungkook kebalikannya. Menarik... dan pintar... dan misterius... dan sempurna... dan tampan...dan barangkali bisa mengangkat van berukuran besar dengan satu tangan.
Well, tidak apa-apa. Aku bisa melupakannya sekarang. Aku akan meninggalkannya. Aku akan selamat melewati semua pikiran ini, kemudian berharap ada sekolah di barat daya, atau mungkin Hawaii, yang akan menawariku beasiswa. Aku memikirkan pantai-pantai dengan sinar matahari dan pohon palem ketika enchiladas-ku selesai dan aku memasukkannya ke oven.
Saat makan malam, aku langsung meminta izin –bukan meminta izin sebenarnya, tapi memberitahu- kalau aku akan pergi ke Seattle. Tentu saja awalnya ayah ingin ikut, hell no. Aku tidak ingin dia ikut! Situasinya pasti akan canggung, dan aku tidak ingin diganggu oleh hal semacam itu. Jadi dengan kejeniusanku aku beralasan akan berlama-lama disana, membeli buku, baju dan segala. Dan, seperti magic. Ayah langsung mengurungkan niatnya untuk itu. Mengingat pria itu tidak tahan jika harus menunggu.
.
.
.
-TWILIGHT [KookV Version]-
.
.
.
Keesokan paginya, ketika akan memarkir truk, aku sengaja parkir sejauh mungkin dari Volvo silver itu. Kalau berada di dekatnya, bisa-bisa aku tergoda untuk merusaknya. Ketika keluar dari truk, kunciku terjatuh dari genggaman dan mendarat di kaki. Sebelum tanganku sampai untuk mengambilnya, sebuah tangan putih bergerak cepat dan mendahului. Aku langsung menegakkan tubuhku. Jungkook tampak tepat di sebelahku, bersandar santai di trukku.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanyaku kaget sekaligus sebal.
"Melakukan apa?" tanyanya sambil mengulurkan kunci trukku. Ketika aku meraihnya, ia menjatuhkannya di telapak tanganku.
"Muncul tiba-tiba."
"Taehyung, bukan salahku kalau kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu." Seperti biasa suaranya tenang, lembut, merdu.
Kutatap wajahnya yang sempurna. Warna matanya berubah terang lagi hari ini, warna madu keemasan yang kental. Lalu aku menunduk, untuk menenangkan diri.
"Kenapa kau membuat kemacetan kemarin?"tanyaku sambil tetap mengalihkan pandangan.
"Itu demi kebaikan Tyler, bukan aku. Aku harus memberinya kesempatan," oloknya.
"Kau..." ujarku geram. Aku tak bisa memikirkan kata-kata yang cukup jahat. Seharusnya amarahku ini bisa membakarnya, tapi sepertinya ia malah semakin terhibur.
"Jadi, kau sedang berusaha membuatku kesal sampai mati? Mengingat van Tyler gagal membunuhku?"
Amarah berkilat-kilat di matanya yang kekuningan. Bibirnya terkatup rapat, selera humornya lenyap.
"Taehyung, kau benar-benar gila," katanya, suaranya dingin.
Telapak tanganku memanas, ingin sekali rasanya aku memukul sesuatu. Aku terkejut pada diriku sendiri. Aku biasanya tidak menyukai kekerasan. Aku berbalik dan meninggalkannya.
"Tunggu," panggilnya. Aku terus berjalan marah, menerobos hujan. Tapi dia menyusulku dengan mudah.
"Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar," katanya sambil berjalan. Aku mengabaikannya.
"Aku tidak bilang itu tidak benar," lanjutnya, "tapi bagaimanapun juga itu kasar."
"Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?" gerutuku.
"Aku ingin menanyaimu sesuatu, tapi kau menghalangiku," ia tertawa. Sepertinya selera humor Jungkook sudah kembali.
"Kau ini berkepribadian ganda ya?" tanyaku ketus.
"Kau melakukannya lagi."
Aku menghela napas. "Baik kalau begitu. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Aku sedang bertanya-tanya, seminggu setelah Sabtu depan, kau tahu, pesta dansa musim semi,"
"Kau sedang melucu ya?" aku menyelanya, mengitarinya. Wajahku jadi basah kuyup saat menengadah memandangnya.
Matanya bersinar jail. "Izinkan aku menyelesaikannya."
Aku menggigit bibir, dan mengatupkan kedua telapak tangan serta mengaitkan jemariku, sehingga aku tak bisa melakukan hal-hal berbahaya.
"Aku dengar kau mau ke Seattle hari itu, dan aku juga bertanya-tanya apakah kau memerlukan tumpangan."
Benar-benar tak terduga.
"Apa?" Aku tak yakin maksud perkataannya.
"Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?"
"Dengan siapa?" tanyaku terkesima.
"Tentu saja aku." Ia mengucapkan setiap suku kata perlahan-lahan, seolah-olah bicara dengan orang cacat mental.
Aku masih tertegun. "Kenapa?"
"Well, aku berencana pergi ke Seattle beberapa minggu lagi dan sejujurnya, aku tak yakin trukmu bisa sampai kesana."
"Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak untuk kepedulianmu." Aku mulai berjalan lagi, tapi terlalu terkejut hingga tidak semarah tadi.
"Tapi apakah trukmu bisa sampai dengan sekali mengisi bensin?" Ia berhasil menyusulku.
"Kupikir itu bukan urusanmu." Dasar pemilik Volvo silver tolol. Jungkook tampan yang bodoh.
"Penyia-nyiaan sumber daya yang tak dapat diperbaharui adalah urusan semua orang."
"Jujur saja, Jungkook." Aku merasakan kebahagiaan merasukiku ketika menyebut namanya, dan aku membencinya.
"Aku tak mengerti maksudmu. Kupikir kau tak mau berteman denganku."
"Aku bilang akan lebih baik kalau kita tidak berteman, bukannya tidak mau menjadi temanmu."
"Oh, terima kasih, sekarang semuanya jelas." Sindiran tajam. Aku sadar ternyata aku sudah berhenti melangkah. Kami berada di bawah atap kafetaria, jadi aku bisa dengan mudah melihat wajahnya. Yang jelas itu tidak membantuku berpikir lebih jelas.
"Akan lebih bijaksana bagimu untuk tidak berteman denganku," ia menjelaskan. "Tapi aku sudah lelah berusaha menjauh darimu, Tae."
Tatapannya begitu lekat ketika ia mengucapkan kalimatnya yang terakhir, suaranya berapi-api. Aku sampai tak ingat bagaimana caranya bernafas.
"Maukah kau pergi ke Seattle bersamaku?" tanyanya, masih menatapku tajam. Aku masih belum bisa bicara, jadi aku hanya mengangguk. Ia hanya tersenyum sekilas, lalu wajahnya kembali serius.
"Kau benar-benar harus menjauh dariku," ia mengingatkan. "Sampai ketemu di kelas." Ia langsung berbalik dan berjalan kembali ke arah kami datang tadi.
.
.
.
-TWILIGHT [KookV Version]-
.
.
.
Sisa pagi itu berlangsung samar-samar. Sulit dipercaya, bahwa aku tidak hanya mengkhayalkan perkataan Jungkook, dan sorot matanya. Barangkali itu hanya mimpi yang sangat nyata hingga sulit membedakannya dengan kenyataan sebenarnya. Kelihatannya itu lebih mungkin. Jadi aku merasa tidak sabar dan sekaligus ngeri ketika Jessica dan aku memasuki kafetaria. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin tahu apakah ia telah berubah dingin dan tidak peduli lagi, seperti yang kulihat beberapa minggu terakhir ini. Atau barangkali, berkat sebuah keajaiban, aku benar-benar mendengar yang kudengar tadi pagi.
Jessica terus saja berceloteh tentang rencananya di pesta dansa, Lauren dan Angela sudah mengajak Eric dan Tyler dan mereka akan pergi bersama-sama. Ia benar-benar tidak menyadari sikapku yang tak menyimak. Huh, biarkanlah.
Perasaan kecewa langsung menyergapku saat aku menyadari bahwa Jungkook tidak bersama dengan keempat saudaranya. Apakah dia pulang? Aku antre di belakang Jessica yang masih terus mencerocos. Hatiku hancur. Selera makan siangku lenyap begitu saja, aku hanya membeli sebotol limun. Aku cuma ingin duduk dan mengasihani diriku.
"Tae, Jungkook sedang memandangimu lagi," kata Jessica, akhirnya membuyarkan lamunanku.
"Aku ingin tahu kenapa dia duduk sendirian hari ini." lanjutnya
Kuangkat kepalaku cepat-cepat. Aku mengikuti tatapan Jessica dan menemukan Jungkook, tersenyum lebar, menatapku dari meja kosong di seberang kafetaria tepat dari tempat dia biasanya duduk. Begitu kami beradu pandang, ia mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuknya kepadaku, mengajakku bergabung dengannya. Aku menatapnya tidak percaya, ia mengedipkan mata.
"Hm? Apa maksudnya itu kamu Tae?" Jessica bertanya, suaranya terkejut.
"Mungkin dia butuh bantuan untuk mengerjakan PR Biologi," gumamku menenangkannya.
Aku merasakan tatapan Jessica ketika pergi menghampiri Jungkook. Setibanya di meja Jungkook, aku berdiri di belakang kursi di seberangnya, ragu-ragu.
"Duduklah bersamaku hari ini," pintanya sambil tersenyum.
Aku duduk, dengan hati-hati mengawasinya. Ia masih tersenyum. Sulit dipercaya. Bagaimana bisa seorang yang begitu tampan ini tampak nyata. Aku khawatir ia bisa menghilang tiba-tiba di balik asap, lalu aku terbangun dari mimpi.
Jungkook masih diam, sepertinya menungguku mengatakan sesuatu.
"Ini tidak seperti biasanya," akhirnya aku berkata.
"Yaah..." ia berhenti.
"Mengingat akhirnya aku akan ke neraka. Jadi kuputuskan untuk melakukan semuanya saja sekalian." Ujarnya kemudian.
Aku mengerjapkan mataku berulang kali. Otakku sedang mencerna semua kalimat yang dia ucapkan tadi. Kalimat yang terasa jauh dari kata 'masuk akal'.
"Kau tahu? Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu," akhirnya aku mengaku.
"Aku tahu." Ia tersenyum lagi, lalu mengubah topik. "Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu."
"Mereka akan baik-baik saja." Bisa kurasakan mereka mulai bosan menatapku.
"Aku mungkin saja takkan mengembalikanmu," katanya sambil mengedip jail. Aku menelan ludah.
Jungkook tertawa. "Kau tampak khawatir."
"Tidak," kataku, tapi konyolnya suaraku bergetar.
"Sebenarnya aku terkejut... apa yang menyebabkan ini semua?"
"Sudah kubilang, aku lelah berusaha menjauh darimu. Jadi aku menyerah." Ia masih tersenyum, tapi matanya yang kekuningan tampak serius.
"Menyerah?" ulangku bingung.
"Ya, menyerah berusaha bersikap baik. Sekarang aku hanya melakukan apa yang kuinginkan, dan membiarkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya." Senyumnya memudar ketika ia menjelaskan, dan suaranya terdengar serius.
Aku menghela napas "Lagi-lagi kau membuatku bingung."
Senyum menawan itu muncul lagi. Dan sukses membuat hatiku berdebar. Sialan.
"Aku selalu berkata terlalu banyak kalau bicara denganmu, itu salah satu masalahnya."
"Jangan khawatir, aku tak mengerti satu pun ucapanmu," sindirku.
"Syukurlah." Bolehkah aku memukul wajah tampannya itu? Cara bicaranya menyebalkan sekali.
"Jadi, terus terang, apakah sekarang kita berteman?" Tanyaku memastikan.
"Teman..." sahutnya menerawang, ragu-ragu.
Jungkook menunjukkan cengirannya yang lucu, menampakkan dua gigi depan yang lebih besar, seperti kelinci. Dan itu menggemaskan sekali.
"Hmm, kurasa kita bisa mencobanya. Tapi kuperingatkan kau, aku bukan teman yang baik untukmu." Di balik senyumnya peringatan itu tampak sangat nyata.
"Kau sering bilang begitu," aku mengingatkannya, berusaha mengabaikan perutku yang tiba-tiba bergejolak, dan menjada suaraku tetap tenang.
"Ya, karena kau tidak mendengarkan. Aku masih menunggu kau mempercayainya. Kalau pintar, kau akan menghindariku."
"Jadi, selama aku adalah... orang yang tidak pintar, kita akan mencoba berteman?" aku berjuang menyimpulkan pembicaraan yang membingungkan ini.
"Kedengarannya mauk akal."
Aku menunduk memandang tanganku yang memegangi botol limun, tak yakin apa yang harus kulakukan.
"Apa yang kaupikirkan?" tanyanya penasaran.
Aku memandang matanya yang keemasan, bingung, dan seperti biasa mengatakan yang sejujurnya. "Aku mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini."
Rahangnya menegang, tapi ia tetap berusaha tersenyum.
"Apa kau berhasil?" ia bertanya dengan nada tak acuh. "Tidak terlalu," ujarku jujur.
Jungkook tertawa. "Apa teorimu?"
"Maukah kau memberitahuku?" pintanya, memiringkan kepala ke satu sisi dengan senyuman menggoda yang tak disangka-sangka. Ya Tuhan! Selamatkan jantungku! Apa-apaan Jungkook itu?!
Aku menggeleng. "Terlalu memalukan."
"Itu sangat memusingkan, kau tahu," keluhnya.
Mataku menyipit.
"Aku tak bisa membayangkan kenapa itu harus memusingkan. Hanya karena seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan, kenapa itu memusingkan?"
Jungkook kembali menunjukkan cengirannya.
"Lebih memusingkan seperti ini," lanjutku, semua pikiran mengganggu yang terpendam selama ini akhirnya bisa kukeluarkan dengan bebas,
"Seseorang melakukan hal-hal yang aneh. Mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari, sampai memperlakukanmu seperti orang asing pada keesokan harinya, dan ia tak pernah menjelaskan apa-apa, bahkan setelah berjanji akan melakukannya. Itu… bukankah sangat sangat memusingkan?"
"Kau marah, ya?"
"Aku tidak suka bertele-tele."
Kami bertatapan, tanpa tersenyum.
Ia memandang lewat bahuku, lalu tanpa diduga mencemooh. "Apa?"
"Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu, dia sedang mempertimbangkan untuk menghentikan pertengkaran kita atau tidak." Ia mencemooh lagi.
"Aku tak tahu apa maksudmu," kataku dingin.
"Lagipula, aku yakin kau salah."
"Tidak. Aku pernah bilang, kebanyakan orang mudah ditebak."
"Kecuali aku, tentu saja."
"Ya, kecuali kau." Tiba-tiba suasana hatinya berubah, tatapannya muram. "Aku bertanya-tanya kenapa bisa begitu."
Aku harus berpaling dari tatapannya. Aku berkonsentrasi untuk membuka tutup botol limunku. Aku meneguknya sekali, sambil menatap meja tanpa benar-benar melihatnya.
"Apa kau tidak lapar?" tanyanya, pikirannya teralih.
"Tidak." Rasanya aku tak ingin memberitahunya perutku sudah kenyang, dengan ketegangan. "Kau?" Kutatap meja yang kosong didepannya.
"Tidak, aku tidak lapar." Aku tak mengerti raut wajahnya, sepertinya ia merasa lucu dengan ucapannya sendiri.
"Taehyung-ah.. apa.. kau tidak penasaran denganku? Setelah semua kejadian yang menurutmu itu sangat memusingkan?"
"Hmm.. Penasaran, tapi tidak juga. Lagipula, aku pikir nanti juga aku tahu," kataku mengingatkan.
"Kuharap kau tidak mencobanya." Ia berubah serius lagi.
"Karena...?"
"Bagaimana kalau aku bukan superhero? Bagaimana kalau aku orang jahat?" Jungkook tersenyum mengodaku, tapi aku tak mengerti maksud di balik tatapannya.
"Oh," kataku, ketika beberapa potongan ucapannya yang misterius tiba-tiba terasa masuk akal. "Aku mengerti."
"Benarkah?" Wajahnya langsung mengang, seolah-oleh ia khawatir telah tidak sengaja bicara terlalu banyak.
"Kau berbahaya?" aku menebak, denyut nadiku lebih cepat ketika dengan sendirinya aku menyadari kebenaran kata-kataku sendiri. Ia memang berbahaya. Ia telah mencoba memberitahuku selama ini. Ia hanya memandangku, tatapannya sarat emosi. Aku tidak mengerti.
"Tapi tidak jahat," bisikku, sambil menggeleng. "Tidak, aku tidak percaya kau jahat."
"Kau salah." Suaranya nyaris tak terdengar. Ia menunduk, lalu mengambil tutup botol, dan memutar-mutarnya di antara jemarinya. Aku menatapnya, membayangkan kenapa aku tidak merasa takut. Ia sungguh-sungguh dengan ucapannya, itu jelas. Tapi aku hanya merasa khawatir, tidak nyaman... dan, lebih dari segalanya, terpesona. Perasaan sama yang selalu kurasakan ketika berada di dekatnya.
Keheningan berlanjut hingga aku tersadar kafetaria sudah hampir kosong. Aku melompat kaget. "Ayo pergi, kita akan terlambat."
"Aku tidak ikut pelajaran hari ini," kata Jungkook, memutar tutup botol begitu cepat hingga tampak kabur.
"Kenapa tidak?"
"Membolos itu menyehatkan." Ia tersenyum padaku, tapi matanya masih was-was.
"Baiklah, aku masuk," kataku. Aku kelewat pengecut mengenai resiko ketahuan guru.
Ia mengalihkan perhatiannya lagi ke tutup botol bekasnya. "Kalau begitu, sampai ketemu lagi."
Aku ragu-ragu, bingung, tapi kemudian bunyi bel pertama membuatku bergegas menuju pintu keluar, sambil menatap untuk terakhir kali, memastikan ia tak bergeser dari posisinya.
.
.
.
-TWILIGHT [KookV Version]-
.
.
.
Ketika aku setengah berlari menuju kelas, kepalaku berputar lebih kencang daripada tutup botol tadi. Hanya sedikit sekali pertanyaan yang telah terjawab, mengingat banyaknya pertanyaan yang muncul.
Aku beruntung, Mr. Banner belum tiba di kelas ketika aku sampai. Aku bergegas duduk di kursiku, sadar Mike dan Angela menatapku. Mike tampak kesal; Angela kelihatan terkejut, dan sedikit kagum. Lalu Mr. Banner masuk, dan mengabsen kamu satu per satu. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil di tangannya. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Mike, menyuruhnya membagikannya ke yang lain.
"Palang Merah menggelar acara donor darah di Port Angeles akhir pekan yang akan datang, jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian." Ia terdengar bangga. "Kalian yang belum genap 18 tahun perlu izin dari orangtua, aku punya formulir izinnya di mejaku." Ucapannya terdengar seperti mantra yang mengerikan bagiku.
Pemeriksaan golongan darah. Darah. Itu bukan pertanda baik bagiku. Selama proses pengambilan beberapa tetes darah dari setiap siswa, seperti neraka bagiku. Kepalaku terasa berputar, pusing. Dan sekarang, aku merasa mual. Ya Tuhan, kenapa tadi aku tidak memutuskan membolos saja?
Mr. Banner berkeliling dengan air tetesnya. Kutempelkan pipiku ke permukaan meja yang hitam, mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar. Aku bisa mendengar jeritan, suara anak-anak mengeluh, dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. Aku menghirup napas pelan lewat mulutku.
"Taehyung, kau baik-baik saja?" tanya Mr. Banner. Suaranya terdengar sangat dekat, mengagetkanku.
"Aku sudah tahu golongan darahku, Mr. Banner," kataku lemah. Aku takut mengangkat kepala.
"Apa kau mau ke UKS?"
"Ya, Sir," gumamku,
"Ada yang mau mengantar Taehyung ke UKS?" seru Mr. Banner.
Aku tak perlu melihat untuk mengetahui Mike-lah yang mengajukan diri.
"Kau bisa jalan?" tanya Mr. Banner.
"Ya," bisikku. Keluarkan saja aku dari sini, pikirku. Kalau perlu, aku akan merangkak.
Mike sepertinya bersemangat sekali ketika memeluk pinggangku dan menarik lenganku ke bahunya. Aku menyandarkan tubuhku sepenuhnya padanya ketika kami berjalan keluar dari kelas. Mike menarikku pelan menyeberangi sekolah. Ketika kami tiba di sekitar kafetaria, tidak terlihat dari gedung empat -kalau-kalau Mr. Banner memperhatikan- aku berhenti.
"Biarkan aku duduk dulu sebentar," aku memohon padanya. Ia membantuku duduk di ujung jalan setapak.
"Dan apapun yang kau lakukan, jaga tanganmu," kataku mengingatkan. Aku masih sangat pusing. Aku merebahkan diri dengan posisi miring, menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembap, memejamkan mata. Sepertinya ini agak membantu.
"Wow, kau pucat, Tae," kata Mike khawatir.
"Taehyung?" suara yang berbeda memanggil dari jauh. Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi.
"Apa yang terjadi, apakah dia sakit?" Suaranya lebih dekat sekarang, dan ia terdengar muram. Aku tidak sedang berkhayal. Aku terus memejamkan mata, berharap diriku mati. Atau setidaknya, tidak muntah.
Mike tampak sangat khawatir. "Kurasa dia pingsan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, dia bahkan tidak menusuk jarinya."
"Tae." Jungkook sudah disebelahku sekarang, lega.
"Kau bisa mendengarku?"
"Tidak," erangku. "Pergilah."
Ia tertawa.
"Aku sedang membawanya ke UKS," Mike menjelaskan dengan nada defensif, "tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi."
"Aku akan mengantarnya," kata Jungkook. Aku masih bisa mendengar senyuman dalam kata-katanya. "Kau bisa kembali ke kelas."
"Tidak," protes Mike. "Aku yang seharusnya melakukannya."
Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawahku. Kubuka mataku karena terkejut. Jungkook telah menggendongku, begitu mudahnya. Tenaganya memang luar biasa.
"Turunkan aku!" Kumohon, kumohon, jangan biarkan aku muntah di tubuhnya. Ia sudah berjalan sebelum aku selesai bicara.
"Hei!" seru Mike, yang tertinggal jauh di belakang kami.
Jungkook mengabaikannya. "Kau tampak kacau," katanya padaku, nyengir.
"Turunkan aku," keluhku. Ayunan langkahnya tidak membuatku lebih baik. Ia membopongku dengan lembut, menaruh seluruh berat tubuhku pada lengannya, dan ini sepertinya tidak mengganggunya.
"Jadi kau pingsan karena melihat darah?" ia bertanya. Sepertinya ini menghiburnya.
Aku tidak menyahut. Kupejamkan mataku lagi dan dengan segenap tenaga melawan mualku. Kukatupkan bibirku rapat-rapat.
"Bahkan dengan darahmu sendiri," lanjutnya, menikmati perkataannya.
Aku tidak tahu bagaimana ia membuka pintu sambil menggendongku, tapi tiba-tiba suasananya hangat, jadi aku tahu kami berada di dalam ruangan. Setelah mengabiskan beberapa menit didalam UKS, aku memutuskan keluar –bersama Jungkook- tentu saja. Sebenarnya aku masih diharuskan berbaring, tapi kuputuskan untuk keluar karena ada satu lagi mahasiswa yang pingsan. Kami berdiri didepan ruang UKS. Lalu melihat Mike melangkah terhuyung-huyung melewati pintu, menatapku dan Jungkook bergantian. Tatapannya pada Jungkook benar-benar menyiratkan kebencian.
"Kau kelihatan lebih baik, Tae" tuduhnya.
"Jangan ikut campur," aku mengingatkannya.
"Sudah tidak ada darah lagi," gumamnya. "Apa kau akan kembali ke kelas?"
Aku berdecak sebal. "Kau bercanda? Aku pasti harus diangkut kemari lagi."
"Yeah, kurasa begitu... Jadi kau ikut akhir pekan ini? Ke pantai?" Sambil bicara Mike melirik Jungkook yang bersandar di konter yang berantakan, tak bergerak bagai patung, tatapannya kosong.
Aku berusaha terdengar seramah mungkin. "Tentu saja, kan sudah kubilang aku akan ikut."
"Kita berkumpul di toko ayahku jam 10." Matanya berkilat-kilat menatap Jungkook. Bahasa tubuhnya cukup menjelaskan bahwa undangan itu tak berlaku untuk Jungkook.
"Aku akan datang," aku berjanji.
"Kalau begitu, sampai ketemu di gymnasium," kata Mike, berjalan gontai ke pintu.
"Daahh," balasku. Ia menatapku sekali lagi, wajahnya yang bulat cemberut sedikit, kemudian ketika ia berjalan pelan melewati pintu, bahunya merosot. Perasaan simpati menyeruak dalam diriku. Aku membayangkan wajahnya yang kecewa lagi, di gymnasium.
"Gymnasium," erangku. Mendadak malas pergi kesana.
"Aku bisa mengaturnya." Aku tidak memperhatikan Jungkook pindah ke sisiku, tapi suaranya terdengar jelas sekarang. "Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu," gumamnya.
Ini sama sekali bukan tantangan; wajahku memang sedang pucat, dan pingsan yang baru saja kualami menyisakan sedikit keringat di wajahku. Aku duduk di kursi lipat yang berderik dan menyandarkan kepalaku di dinding, mata terpejam. Mantra pingsan selalu membuatku lemas.
Aku mendengar Jungkook berbicara pelan pada seseorang di konter. "Miss Cope?"
"Ya?" Aku tak mendengar ia sudah kembali ke mejanya.
"Setelah ini Kim Taehyung ada pelajaran Olahraga, dan kurasa dia belum pulih benar sekarang. Sebenarnya aku berpikir akan mengantarnya pulang sekarang. Apakah Anda bisa memintakan izin untuknya?" Suaranya semanis madu dan memabukkan. Bisa kubayangkan betapa memukau matanya.
"Apa kau juga perlu izin, Jungkook?" tanya Miss Cope agak memprotes.
"Tidak, Mrs. Goff takkan keberatan."
"Oke, kalau begitu semuanya beres. Kau merasa lebih baik, Tae?" serunya. Aku mengangguk lemah, mencoba tampak selemah mungkin.
"Apa kau bisa berjalan, atau kau perlu kugendong lagi?" Karena sekarang ia memunggungi Miss Cope, ekspresinya kembali mengejek.
"Aku jalan saja."
Aku berdiri hati-hati, dan aku baik-baik saja. Ia membukakan pintu untukku, senyumnya ramah tapi matanya mengejek. Aku berjalan menembus udara dingin dan kabut tebal yang baru saja mulai turun. Rasanya menyenangkan, pertama kalinya aku menikmati tetesan hujan yang turun dari langit, aku bisa membersihkan wajahku dari keringat yang lengket.
"Terima kasih," kataku ketika ia mengikutiku keluar. "Asyik juga bisa membolos Olahraga."
"Sama-sama." Ia menatap lurus ke depan, menyipitkan mata menembus hujan.
"Jadi, kau akan pergi? Maksudku, Sabtu ini?" Aku berharap jawabannya ya, meskipun mustahil. Aku tak bisa membayangkan ia berdesak-desakkan di mobil bersama anak-anak lain; ia bukan tipe seperti itu.
"Sebenarnya kalian mau ke mana?" Ia masih menatap ke depan, tanpa ekspresi.
"La Push, ke First Beach." Kuamati wajahnya, mencoba membacanya. Sepertinya mata Jungkook nyaris terpejam.
Ia menunduk dan melirikku, tersenyum ironis. "Sepertinya aku benar-benar tidak diundang."
Aku menghela napas. "Aku baru saja mengundangmu."
"Sudahlah, sebaiknya kau dan aku tidak mendesak Mike lagi minggu ini. Kita tidak ingin dia marah, kan?" Sorot matanya menari-nari, ia menikmati gagasan ini lebih daripada seharusnya. Dan aku terpesona dengan caranya mengucapkan 'kau dan aku'. Aku sangat menyukainya dari seharusnya.
.
.
.
-TWILIGHT [KookV Version]-
.
.
.
Sekarang kami sudah berada di dekat parkiran. Aku berbelok ke kiri menuju trukku. Sesuatu menarik jaketku hingga aku tertahan.
"Mau kemana kau?" tanyanya, marah. Dicengkramnya jaketku hanya dengan satu tangan.
Aku bingung. "Pulang, tentu saja."
"Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini?" Suaranya masih marah.
"Kondisi apa? Lalu trukku bagaimana?" keluhku.
"Akan kusuruh Jin mengantarnya sepulang sekolah nanti." Sekarang ia menarikku ke mobilnya, lebih tepatnya menarik jaketku.
"Lepaskan!" desakku. Ia mengabaikanku. Aku berjalan terseret-seret sepanjang jalan yang basah hingga kami sampai di tempat Volvo Jungkook diparkir. Lalu akhirnya ia melepaskanku, aku terhuyung ke pintu penumpang.
"Kau kasar sekali!" gerutuku.
"Sudah terbuka," cuma itu reaksinya. Lalu ia masuk ke kursi pengemudi.
"Aku sangat mampu menyetir sendiri sampai rumah!" Aku berdiri di sisi mobil, marah. Hujan turun semakin deras, dan aku tidak mengenakan tudung jaketku, jadi air menetes-netes ke punggungku.
Ia menurunkan jendela otomatisnya dan mencondongkan tubuhnya ke kursi di seberangnya.
"Masuk, Tae."
Aku tak menjawab. Dalam pikiranku aku menghitung-hitung kesempatanku untuk mencapai trukku sebelum ia bisa menangkapku. Harus kuakui, tidak mungkin.
"Aku tinggal menyeretmu lagi," ancamnya, seolah bisa menebak apa yang kurencanakan.
Aku mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diriku seraya naik ke mobilnya. Usahaku tidak begitu berhasil, aku tampak seperti kucing setengah kuyup dan sepatu boot ku berdecit-decit.
"Ini benar-benar tidak perlu," kataku.
Jungkook dia tak menjawab. Ia menekan tombol kontrol, menyalakan pemanas dan menyetel musik. Ketika mobilnya meninggalkan parkiran, aku bersiap-siap menerornya dengan berdiam diri. Wajahku sudah cemberut sepenuhnya, tapi sejurus kemudian pendengaranku mengenali musik yang mengalun itu, dan rasa penasaranku mengalahkan niatku semula.
"Claire de Lune?" tanyaku, terkejut.
"Kau tahu Debussy?" Jungkook juga terdengar terkejut.
"Tidak terlalu," aku mengakui. "Ibuku suka menyetel musik klasik di rumah kami, aku hanya tahu yang kusuka."
"Ini juga salah satu favoritku." Ia memandang menembus hujan, termenung.
Aku mendengarkan musiknya, bersantai di jok kulit abu-abu muda yang kududuki. Mustahil aku tak bereaksi terhadap melodi yang amat kukenal dan menenangkan ini. Hujan membuyarkan semua yang ada di luar jendela menjadi hijau dan kelabu. Aku mulai menyadari mobil melaju cepat sekali -meski stabil dan tenang- sehingga aku tidak merasakan kecepatannya. Hanya kelebatan kota di sisi kami yang menunjukkan betapa cepatnya kami.
"Ibumu seperti apa?" tiba-tiba ia bertanya.
Aku memandangnya, mengamatinya dengan tatapan penasaran.
"Dia sangat mirip denganku, tapi tentu saja lebih cantik," kataku. Alisnya terangkat, heran.
"Terlalu banyak sifat ayah yang tertanam dalam diriku. Ibuku punya sifat lebih terbuka dan lebih berani. Tapi dia tak bertanggung jawab dan sedikit nyentrik, dan juru masak yang sangat payah. Dia teman baikku." Aku berhenti berbicara. Membicarakan ibuku membuatku sedih. Jujur aku merindukannya
"Berapa umurmu, Tae?"
Suaranya terdengar frustasi kerena alasan yang tak bisa kubayangkan. Ia menghentikan mobil, dan aku tersadar kami sudah tiba didepan rumah ayah. Hujan turun sangat deras hingga aku nyaris tak bisa melihat rumah itu sama sekali. Seolah mobil Jungkook tenggelam di dalam sungai.
"Tujuh belas," jawabku, sedikit bingung.
"Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas." Nada suaranya mencela, membuatku tertawa. "Kenapa?" tanyanya, penasaran lagi.
"Ibuku selalu bilang aku berusia 35 tahun ketika dilahirkan dan umurku semakin mendekati paruh baya setiap tahun." Aku tertawa, lalu menghela napas.
"Yah, harus ada yang menjadi orang dewasanya." Aku berhenti sebentar. "Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA yang masih baru," kataku.
Raut wajahnya berubah dan ia langsung mengganti topik pembicaraan. "Jadi, kenapa ibumu menikah dengan Phil?"
Aku terkejut ia mengingat nama itu. Aku baru menyebutnya sekali, itu pun hampir dua bulan yang lalu. Butuh beberapa saat untuk menjawabnya.
"Ibuku... sangat muda bagi umurnya. Kupikir Phil membuatnya merasa lebih muda lagi. Bagaimanapun juga, dia tergila-gila pada Phil." Aku menggeleng-gelengkan kepala. Ketertarikan ibu pada Phil merupakan misteri bagiku.
"Kau menyetujuinya?" tanya Jungkook.
"Apakah itu penting?" tantangku. "Aku ingin dia bahagia... dan Phil laki-laki yang diinginkannya."
"Kau baik sekali... aku jadi berpikir," ujarnya kagum.
"Apa?"
"Menurutmu, apa dia akan melakukan hal yang sama untukmu? Siapapun pilihanmu?" Tiba-tiba ia berubah serius, matanya mencari-cari jawaban di mataku.
"Ku-kurasa," ujarku terbata-bata. "Tapi bagaimanapun, dialah sang orangtua. Jadi agak berbeda."
"Kalau begitu tak ada yang terlalu menyeramkan? Macam-macam tindikan di wajah dan tato-tato?"
"Kurasa itu salah satunya."
"Menurutmu bagaimana?"
Tapi ia mengabaikan pertanyaanku dan menanyakan hal lain.
"Apakah pikirmu aku bisa menyeramkan?" Satu alisnya terangkat dan secercah senyum membuat wajahnya tampak sedikit cerah.
Sesaat aku berpikir mana yang sebaiknya kukatakan, kebenaran atau kebohongan. Kuputuskan untuk mengatakan yang sejujurnya. "Hmm... kupikir kau bisa, kalau mau."
"Apakah sekarang kau takut padaku?" Senyumnya lenyap dan wajahnya yang indah sekonyong-konyong serius.
"Tidak." Tapi aku menjawab terlalu cepat. Ia kembali tersenyum.
"Jadi, apakah sekarang kau mau menceritakan tentang keluargamu?" aku bertanya untuk mengalihkan perhatiannya. "Pasti ceritamu lebih bagus daripada aku."
Ia langsung berhati-hati. "Apa yang ingin kau ketahui?"
"Dr. Choi mengadopsimu?" tanyaku.
"Ya."
Beberapa saat aku jadi ragu. "Apa yang terjadi dengan orangtuamu?"
"Mereka meninggal bertahun-tahun yang lalu." Suaranya datar.
"Maafkan aku," gumamku.
"Aku tak begitu ingat mereka. Sekarang Siwon appa dan Kyuhyun eomma sudah cukup lama menjadi orangtua bagiku."
"Dan kau menyayangi mereka." Itu bukan pertanyaan. Perasaan itu tampak jelas dari caranya membicarakan mereka.
"Ya." Ia tersenyum. "Aku tak pernah membayangkan dua orang lain yang lebih baik."
"Kau sangat beruntung."
"Aku tahu."
"Ah, aku penasaran tentang satu hal." Ujarku, terdengar antusias.
"Apa itu?" Aku suka. Aku menyukai saat dimana Jungkook menjadikanku sebagai fokus pandangannya. Menatapku dengan kedua mata mempesonanya itu.
"Dari semua nama kalian.. Jungkook, Dr. Siwon, Jin, Namjoon dan semua keluargamu. Aku penasaran.. apa kalian semua dari Korea Selatan?"
Jungkook tertawa pelan, terdengar seperti geli dengan pertanyaanku.
"Kau sudah tahu jawabannya."
"Dan kenapa kalian pindah kesini? Bukankah disini lebih dingin dari Korea?"
"Lalu, kenapa kau ada disini?"
Aku mengerutkan alisku "Karena,, ayahku ada disini-" kemudian aku paham. Jungkook disini karena orang tuanya disini. Dr. Choi memiliki pekerjaan disini, membuat mereka harus pindah kesini.
"Ceritakan lagi tentang saudaramu?"
"Mereka, akan sangat kecewa kalau mereka harus kehujanan menungguku."
"Oh, maaf, kurasa kau harus pergi." Aku tak ingin keluar dari mobil.
"Dan barangkali kau ingin trukmu kembali ke rumah sebelum ayahmu pulang, jadi kau tidak perlu memberitahunya tentang insiden di kelas Biologi." Ia tersenyum padaku.
"Aku yakin dia sudah mendengarnya. Tak ada rahasia di Forks." Aku mendesah. Jungkook tertawa, ada kekhawatiran dalam tawanya.
"Selamat bersenang-senang di pantai... cuacanya bagus untuk berjemur." Ia memandangi hujan yang masih turun.
"Apa aku akan bertemu denganmu besok?"
"Tidak, Namjoon dan aku memulai akhir pekan lebih awal."
"Apa yang akan kalian lakukan?" Seorang teman boleh menanyakan itu, kan? Kuharap suaraku tidak terdengar terlalu kecewa.
"Kami akan mendaki Goat Rocks Wilderness, di selatan Rainier."
Aku ingat ayah pernah bilang keluarga Dr. Choi sering pergi kemping.
"Oh, well, selamat bersenang-senang." Aku berusaha terdengar antusias. Kurasa aku tak berhasil membodohinya. Senyum tipis merekah di ujung bibirnya.
"Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?" Ia berbalik dan menatapku lekat-lekat, matanya yang keemasan menyala-nyala. Aku mengangguk putus asa.
"Jangan tersinggung, tapi kau sepertinya tipe orang yang dengan mudah tertarik bahaya seperti magnet. Jadi... cobalah tidak jatuh ke lautan atau tertabrak atau semacamnya, oke?" Ia tersenyum sangat lebar.
Keputusasaan memudar ketika ia berbicara. Aku memandangnya.
"Akan kuusahakan," ujarku marah ketika melompat menerobos hujan. Aku membanting pintu mobil sekuat tenaga. Ia masih tersenyum ketika berlalu dari pandanganku. Meski sedikit kesal dengan kalimat yang menurutku penuh ejekan itu. Tapi aku juga menanamkan dalam diriku untuk tidak melakukan hal ceroboh –apapun itu-.
.
.
.
-TWILIGHT [KookV Version]-
.
.
.
Haaaai gaaaeeessss~~~
Akhirnya bisa update cerita ini lagi. Maaf kemarin sempet ngilang (?) ada berbagai pekerjaan yang harus aku lakukan.. haha..
Oleh karena itu, aku putuskan untuk memperpanjang cerita di chapter ini. 49 pages! Bayangkan betapa panjangnya cerita ini. Semoga kalian tidak bosan yaaa?
Ah, aku belum bisa move on sama highlight reel (bener gak sih nulisnya). Aku suka couple nya Yoongi sama yng cewek itu. Mereka cute dan swag sekaligus. Aku juga suka akting marahnya Yoongi, keren! Pokoknya sukaaaaa.. Tapi aku bener2 dibikin pusing sama cerita Jimin-Jeihop. mereka kenapa sih? Ada yg bilang kalo ceweknya itu refleksi dari jimin. duh.. pokoknya, I cant wait for their comeback, really.. haha..
Okay, sampai bertemu di chapter selanjutnya… see ya~~
