TWILIGHT (KookV Version)

.

.

.

.

.

.

.

Jarak antara La Push dan Fork hanya 15 mil. Sepanjang jalan kesana dipenuhi hutan hijau lebat yang indah sekali, dan Sungai Quillayute yang lebar. Aku senang bisa duduk dekat jendela. Keadaan di dalam Suburban agak sesak dengan 9 penumpang, dan aku berusaha menyerap sinar matahari sebanyak mungkin.

Setibanya disana, kami bergegas menuju pantai, Mike memimpin di depan menuju lingkaran driftwood yang sepertinya telah digunakan orang-orang yang juga berpesta seperti kami. Ada api unggun disana, penuh abu hitam. Eric dan cowok yang kukira bernama Ben, mengumpulkan patahan ranting driftwood dari sisi yang kering di dekat hutan, dan tak lama kemudian tampaklah tumpukan ranting diatas sisa-sisa abu.

Setengah jam setelah mengobrol tentang ini dan itu, beberapa orang ingin mendaki ke kolam pasang-surut terdekat. Ini benar-benar dilema. Di satu sisi aku menyukai kolam pasang-surut. Aku sudah menyukainya sejak kecil; kolam-kolam inilah yang kunanti-nantikan setiap kali aku datang ke Forks. Di sisi lain aku juga sering tenggelam disana. Bukan masalah besar ketika kau berumur tujuh tahun dan sedang bersama ayahmu. Ini mengingatkanku pada permintaan Jungkook, agar tidak jatuh ke lautan.

Lauren-lah yang menyuarakan keputusanku. Ia tidak ingin mendaki, dan jelas ia mengenakan sepatu yang tidak cocok untuk mendaki. Kebanyakan cewek lain kecuali Angela dan Jessica memutuskan untuk tetap di pantai. Aku menunggu sampai Tyler dan Eric memutuskan untuk tetap bersama mereka. Lalu aku bangkit diam-diam menuju anak-anak yang ingin mendaki. Mike tersenyum lebar ketika melihatku bergabung.

.

.

.

-TWILIGHT [KookV Version]-

.

.

.

Ketika kami kembali ke First Beach, jumlah orang disana sudah bertambah. Semakin dekat, kami bisa melihat para pendatang baru itu berambut hitam panjang berkilauan, kulit mereka berwarna tembaga. Rupanya para remaja dari reservasi datang untuk bersosialisasi.

Makanan sudah diedarkan dan semua segera meminta jatah mereka sementara Eric memperkenalkan kami satu per satu sambil memasuki lingkaran. Angela dan aku tiba terakhir, dan ketika Eric memperkenalkan nama kami, aku memperhatikan cowok lebih muda yang duduk dibatu dekat perapian menatapku tertarik. Aku duduk di sebelah Angela, dan Mike membawakan kami sandwich dan beberapa minuman bersoda, sementara seorang cowok yang sepertinya lebih tua menyebutkan tujuh nama lain yang ikut bersamanya. Yang bisa kutangkap adalah salah satunya juga bernama Jessica, dan si cowok yang memerhatikanku bernama J-Hope –aku benar-benar merasa nama itu sangat unik-.

Selama makan siang awan mulai berkumpul, perlahan-lahan menutupi langit biru, kadang-kadang menghalangi matahari, menciptakan bayangan panjang sepanjang pantai, dan membuat ombak berubah gelap. Selesai makan orang-orang mulai berpencar dalam kelompok yang lebih kecil, berdua atau bertiga. Beberapa menghampiri gelombang yang menyapu bibir pantai, mencoba melompati bebatuan yang permukaannya kasar. Yang lain bersama-sama mengadakan ekspedisi menuju kolam pinggir laut. Mike, bersama Jessica yang selalu mengekorinya, beranjak ke toko di pedesaan. Beberapa anak setempat ikut bersama mereka; yang lain ikut mendaki. Ketika mereka sudah berpencar dengan urusan masing-masing, aku duduk sendirian, bersama Lauren dan Tyler yang sibuk mendengarkan CD yang dibawa satu dari kami. Tiga remaja dari reservasi mengitari api, termasuk cowok bernama J-Hope dan cowok lebih tua yang sepertinya berperan sebagai juru bicara.

Beberapa menit setelah Angela pergi bersama para pendaki, J-Hope pindah duduk di sebelahku, menggantikan Angela. Sepertinya dia berumur 14, mungkin 15, rambutnya hitam gelap sedikit panjang, sebatas bahu, tapi tetap terlihat pantas untuknya. Kulitnya menawan, halus dan kecoklatan –tapi lebih putih dari kulit tan milikku- matanya gelap, sangat cekung karena tulang pipinya tinggi. Ia masih tampak kekanak-kanakan. Secara keseluruhan wajahnya sangat tampan.

"Kau Kim Taehyung, kan?"

Rasanya seolah pengalaman hari pertama sekolah terulang kembali. "Cukup Taehyung," keluhku.

"Aku J-Hope." Ia mengulurkan tangan dengan ramah. "Kau membeli truk ayahku."

"Oh," sahutku lega, sambil menjabat tangannya yang ramping. "Kau putra Billy. Mungkin seharusnya aku mengingatmu."

"Bukan, aku yang bungsu, kau pasti ingat kakak-kakakku."

"Fanny dan Sunny," tiba-tiba aku teringat. Ayah dan Billy –maksudku ayah mereka- sering menyuruh kami bermain bersama setiap kali aku berkunjung ke Forks, agar mereka bisa pergi memancing. Kami semua pemalu sehingga sulit untuk bisa berteman. Tentu saja ketika umurku 11 tahun, aku selalu membuat ayahku marah sehingga acara memancing pun terhenti.

"Apakah mereka ada disini?" Aku memperhatikan orang-orang di ujung pantai, membayangkan apakah sekarang aku bisa mengingat mereka.

"Tidak." J-Hope menggeleng. "Fanny mendapat beasiswa untuk belajar di Washington, dan Sunny sudah menikah dengan peselancar Samoa, sekarang dia tinggal di Hawaii."

"Menikah. Wow." Aku terpana mengingat usia mereka tak beda jauh dariku. Mereka hanya satu tahun lebih tua dariku.

"Jadi, kau menyukai truknya?" tanyanya.

"Aku menyukainya. Truknya hebat."

"Yeah, tapi jalannya pelan sekali," ia tertawa.

"Aku lega sekali ketika ayahmu membelinya. Ayahku takkan mengizinkanku membuat yang baru kalau kami masih memiliki kendaraan yang menurutnya sempurna." Jelasnya

"Kau pernah mencoba lebih dari 60 kilometer per jam?" lanjutnya bertanya

"Belum," jawabku.

"Bagus. Kalau begitu jangan." Ia nyengir. Baru menyadari kalau J-Hope memiliki gigi yang rapi. Dan aku tak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum.

"Tapi truk itu hebat untuk urusan tabrak menabrak," kataku membanggakan truk yang sekarang milikku itu.

"Kurasa tank pun tak bisa mengalahkannya," J-Hope menimpali sambil tertawa.

"Jadi, kau bisa merakit mobil?" tanyaku, terkagum-kagum.

"Ya, kalau aku punya waktu dan semua perlengkapannya. Kau tidak tahu dari mana aku meperoleh kemampuan mengotak-atik silinder mesin Volkswagen Rabbit tahun 1986, kan?" candanya. Suaranya enak didengar. Bicara apa kau ini Kim Taehyung? Ck.

"Maaf," aku tertawa, "aku belum tahu, tapi aku berjanji akan mencari tahu." Seolah-olah aku tahu saja apa maksudnya tadi. Ia sangat mudah diajak tersenyum menawan, memandangku bersahabat, sorot matanya masih coba kupahami. Ternyata bukan hanya aku yang memperhatikan.

"Kau kenal Taehyung, J-Hope?" tanya Lauren, dengan nada yang kupikir kasar, dari seberang.

"Boleh dibilang kami sudah saling kenal sejak aku lahir," ia tertawa, tersenyum padaku lagi.

"Bagus sekali." Lauren sama sekali tak terdengar sungguh-sungguh dengan ucapannya, dan matanya yang curiga menyipit.

"Taehyung," panggilnya lagi, sambil memperhatikan wajahku.

"Aku baru saja bilang pada Tyler, sayang sekali tak satu pun anak-anak dr. Choi ikut hari ini. Tidakkah ada yang terpikir untuk mengajak mereka?" Ekspresi kepeduliannya tidak meyakinkan.

"Maksudmu anak-anak dr. Choi Siwon?" cowok lebih tua bertubuh jangkung bertanya sebelum aku menjawab Lauren, dan tentu saja ini membuat Lauren jengkel. Cowok itu lebih mirip pria dewasa daripada remaja, dan suaranya sangat berat.

"Ya, kau kenal mereka?" Lauren terdengar mengejek, dan setengah berbalik menghadapnya.

"Anak-anak dr. Choi tidak datang kesini," jawabnya dengan nada mengakhiri pembicaraan, mengabaikan pertanyaan Lauren. Tyler, yang mencoba menarik kembali perhatian Lauren, meminta pendapat tentang CD yang dipegangnya. Perhatian Lauren pun teralihkan.

Aku menatap cowok bersuara berat itu, terkejut, tapi ia menatap lurus ke hutan gelap di belakang kami. Katanya anak-anak dr. Choi tidak datang kesini, tapi nada suaranya seperti mengatakan hal lain, bahwa mereka tidak diizinkan; mereka dilarang datang. Sikapnya meniggalkan kesan janggal bagiku, kucoba mengabaikannya tapi tidak berhasil.

J-Hope mengusik ketenanganku. "Jadi, apakah Forks sudah membuatmu sinting?"

"Oh, bagiku itu sesuatu yang ironis." Aku nyengir. Ia tersenyum penuh pengertian.

J-Hope mengajakku jalan-jalan kearah utara, melewati bebatuan aneka warna, menuju garis batas yang penuh driftwood, awan akhirnya menutupi langit, membuat laut gelap dan suhu turun. Kumasukkan tanganku ke saku jaket.

"Jadi, berapa umurmu? Enam belas?" tanyaku.

"Aku baru saja berumur 15," ia mengaku malu-malu.

"Sungguh?" J-Hope hanya mengangguk

"Kupikir kau lebih tua." Lanjutku, jujur.

"Untuk anak seusiaku, tubuhku cukup tinggi," jelasnya.

"Kau sering ke Forks?" aku sengaja bertanya.

"Tidak terlalu," ia mengaku keheranan. "Tapi setelah mobilku selesai, aku bisa pergi sesering yang kumau, setelah aku dapat SIM," lanjutnya.

"Siapa cowok yang sedang berbicara dengan Lauren? Dia kelihatan agak tua untuk bergaul dengan kita." Aku sengaja meletakkan diriku di kelompok yang lebih muda, mencoba menunjukkan bahwa aku lebih memilih J-Hope.

"Itu U-Know, umurnya 19," ia memberitahuku. U-Know? Like,, You know?! Apa dia serius? Namanya adalah Kau-Tahu? Ok, tapi bukan itu fokus utamamu sekarang Kim Taehyung.

"Apa sih maksudnya soal keluarga dokter itu?" tanyaku polos.

"Keluarga Choi? Oh, mereka tak seharusnya datang ke reservasi." Ia memalingkan wajah, memandang Pulau James, ketika membenarkan apa yang kutangkap dari perkataan U-Know.

"Kenapa tidak?"

Ia menatapku sambil menggigit bibir. "Upss, aku tak seharusnya mengatakan apa-apa tentang itu."

"Oh, aku takkan bilang siapa-siapa, aku hanya penasaran." Aku berusaha tersenyum semenawan mungkin, sambil bertanya-tanya apakah terlalu berlebihan.

Ia balas tersenyum menawan. Lalu satu alisnya terangkat dan suaranya lebih parau dari sebelumnya. "Kau suka cerita-cerita seram?" tanyanya, suara tak menyenangkan.

"Aku suka," kataku bersemangat.

J-Hope beralih ke onggokan kayu terdekat yang akar-akarnya menjulur seperti kaki laba-laba besar yang pucat. Ia duduk di salah satu akar sementara aku duduk di bawahnya. Ia memandang bebatuan, senyum merekah di ujung bibirnya yang lebar. Aku tahu ia sedang mencoba membuatku jatuh hati. Aku berusaha mengabaikannya.

"Tidakkah kau mengetahui satu saja legenda kami, tentang asal-muasal kami, maksudku suku Quileute?" ia memulai ceritanya.

"Tidak juga," jawabku jujur.

"Well, ada banyak legenda, salah satu nya adalah mengatakan kami keturunan serigala, dan serigala-serigala masih bersaudara dengan kami. Membunuh mereka berarti melanggar hukum suku ." Ia tersenyum, untuk menunujukkan padaku ia tidak terlalu mempercayai sejarah.

"Lalu ada cerita tentang yang berdarah dingin." Suaranya semakin rendah.

"Yang berdarah dingin?" tanyaku kaget, tak lagi berpura-pura.

"Ya, ada cerita-cerita tentang yang berdarah dingin, cerita-cerita itu sama tuanya dengan legenda serigala. Menurut legenda itu, kakek buyutku sendiri mengenal beberapa dari mereka. Dialah yang membuat kesepakatan yang mengharuskan mereka menjauhi tanah kami." J-Hope memutar bola matanya.

"Kakek buyutmu?" aku memberanikan diri untuk bertanya.

"Dia tetua suku, seperti ayahku. Kau tahu, yang berdarah dingin adalah musuh alami serigala, well, bukan serigala sesungguhnya, tapi serigala yang menjelma menjadi manusia, seperti leluhur kami. Kau bisa menyebutnya werewolf, serigala jadi-jadian."

"Werewolf punya musuh?"

"Hanya satu."

Aku menatapnya serius, berharap bisa menyamarkan kejengkelanku menjadi kekaguman.

"Jadi kau tahu, kan," lanjut J-Hope, "secara tradisional, yang berdarah dingin adalah musuh kami. Tapi kawanan yang datang ke wilayah kami pada masa kakek buyutku berbeda. Mereka tidak memburu seperti yang dilakukan jenis mereka, mereka seharusnya tidak berbahaya bagi suku kami. Jadi kakek buyutku membuat kesepakatan damai dengan mereka. Kalau mereka mau berjanji untuk tidak menginjak tanah kami, kami tidak akan memberitahu kawanan mereka lainnya yang bermuka pucat mengenai mereka." Ia mengedip.

"Kalau mereka tidak berbahaya, lalu kenapa..." Aku mencoba mengerti, berusaha supaya ia tidak menyadari betapa seriusnya aku menanggapi cerita seramnya.

"Selalu berbahaya bagi manusia untuk berada dekat dengan mereka yang berdarah dingin, meskipun mereka beradab seperti halnya klan ini. Kau takkan pernah tahu kapan mereka benar-benar lapar hingga tak bisa menahan diri." Ia sengaja memberi tekanan pada kata-katanya barusan.

"Apa maksudmu dengan 'beradab'?"

"Mereka menyatakan tidak memburu manusia. Konon, entah bagaimana caranya, mereka memburu binatang sebagai ganti manusia."

Aku berusaha terdengar tetap tenang. "Lalu apa hubungannya dengan keluarga dr. Choi? Apakah mereka termasuk yang berdarah dingin yang ditemui kakek buyutmu?"

"Tidak." J-Hope tiba-tiba berhenti. "Mereka adalah kelompok yang sama."

Ia pasti berpikir raut wajahku yang ketakutan disebabkan ceritanya. Ia tersenyum senang, dan melanjutkan ceritanya lagi.

"Sekarang jumlah mereka bertambah. Pada masa kakek buyutku, mereka sudah mengenal pemimpinnya, Choi Siwon. Dia sudah sering datang dan pergi bahkan sebelum bangsa kalian datang kesini." Jacob berusaha menahan senyumnya.

"Lalu mereka itu apa?" akhirnya aku bertanya.

"Apakah yang berdarah dingin?" Ia tersenyum misterius.

"Peminum darah," jawabnya, suaranya membuat bulu kuduk meremang.

"Bangsa kalian menyebutnya vampir."

Aku memandang ombak besar setelah ia menjawab pertanyaanku. Aku tak tahu bagaimana rupaku.

"Kau merinding," ia tertawa gembira.

"Kau pencerita yang baik," aku memujinya, sambil masih menatap ombak.

"Cerita yang cukup sinting, ya? Tak heran ayahku tak ingin kami membicarakannya dengan orang lain." Aku belum dapat menahan emosiku, jadi aku tak berpaling menatapnya.

"Kurasa aku baru saja melanggar kesepakatan kami," J-Hope tertawa.

"Aku akan menyimpannya rapat-rapat," kataku berjanji, kemudian bergidik.

"Tapi sungguh, jangan bilang apa-apa pada ayahmu. Dia agak marah pada ayahku ketika mendengar beberapa anggota suku kami tak lagi pergi ke rumah sakit begitu tahu dr. Choi mulai bekerja disana."

"Tentu, aku takkan bilang."

"Jadi, apakah menurutmu kami ini penduduk yang percaya takhayul atau apa?" tanyanya bercanda, namun sedikit was-was. Aku masih belum mengalihkan pandanganku dari lautan. Aku berbalik dan tersenyum sewajar mungkin.

"Tidak. Kupikir kau sangat mahir menceritakan kisah-kisah seram. Bulu kudukku masih berdiri, lihat, kan?" Aku mengulurkan lengan.

"Keren." Ia tersenyum.

.

.

.

-TWILIGHT [KookV Version]-

.

.

.

Aku membuka mata dan menyaksikan tempat yang tak asing lagi. Aku mengenali cahaya kehijauan hutan itu, dan setengah menyadari kalau aku sedang bermimpi. Aku bisa mendengar suara ombak menghantam karang tak jauh dari tempatku berada. Aku mencoba mengikuti suara itu, tapi ada J-Hope disana, menarik-narik tanganku, membawaku kembali ke bagian hutan yang paling kelam.

"Hei, J-Hope, ada apa?" aku bertanya. Wajahnya ketakutan dan ia menarikku sekuat tenaga sementara aku menolak, tak ingin pergi ke tengah kegelapan.

"Lari Tae, kau harus lari!" bisiknya ketakutan.

"Lewat sini, Tae!" Aku mengenali suara Mike memanggil-manggil dari antara pepohonan yang gelap, tapi aku tak bisa melihatnya.

"Kenapa?" tanyaku, masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman J-Hope.

Tapi J-Hope melepaskan tanganku dan mendengking. Tiba-tiba saja dia jatuh ke lantai hutan yang gelap, sekujur tubuhnya gemetaran. Ia menggeliat-geliat di tanah sementara aku menyaksikannya dengan ngeri.

"J-Hope!" jeritku. Tapi ia sudah lenyap. Dari tempatnya tadi berada muncul serigala besar berwarna merah kecoklatan dengan sepasang mata hitam. Serigala itu memalingkan wajah ke pantai, bulu-bulu tengkuknya meremang. Terdengar geraman pelan di antara taring-taringnya yang keluar.

"Lari, Tae!" seru Mike dari aku tidak berpaling. Aku sedang memandang cahaya yang menyinariku dari pantai. Lalu Jungkook muncul dari balik pepohonan, kulitnya bercahaya samar, matanya gelap dan berbahaya. Ia mengulurkan satu tangan dan menyuruhku datang padanya. Serigala itu mengeram-geram di kakiku.

Aku maju selangkah, menghampiri Jungkook. Ia tersenyum, dan giginya tajam, runcing.

"Percayalah padaku," ujarnya. Aku melangkah sekali lagi. Serigala itu melompat ke antara diriku dan si vampir, taringnya siap menerkam leher Jungkook.

"Tidak!" teriakku, langsung bangkit dari tempat tidur.

Mimpi apa tadi? Dengan kondisi yang masih bingung aku melihat jam dinding disamping lemari. Sudah pukul 05.30. Seketika aku mengerang, menjatuhkan diri lagi ke tempat tidur dengan wajah menelungkup sambil melepaskan sepatu bot -yah, aku masih berpakaian lengkap, sepertinya langsung tertidur saat pulang-. Dan yang menjengkelkan adalah aku tak bisa tidur lagi. Aku menggulingkan tubuh dan berbaring terlentang, membuka kancing jinsku, melepaskannya dengan susah payah sambil berusaha agar tubuhku tetap lurus. Aku menutup mataku lagi dengan bantal. Percuma, tentu saja. Alam bawah sadarku telah menemukan bayangan yang tepat yang dengan putus asa kucoba hindari. Aku harus menghadapinya sekarang.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mandi. Memilih pakaian yang hangat tapi tidak terlalu tebal. Dan pilihanku jatuh pada hoodie berwarna coklat yang kebesaran ditubuhku, tapi aku nyaman memakainya. Aku sempat mengintip lewat jendela, memeriksa apakah ayah sudah pergi atau belum. Dan ternyata, mobil patrolinya sudah tidak ada. Setelahnya, aku bergegas menuju meja belajar dan menyalakan komputer tuaku. Aku benci menggunakan internet disini. Modemku sudah ketinggalan jaman, layanan servis gratisnya buruk, untuk men-dial-up saja butuh waktu lama hingga kuputuskan membuat semangkuk sereal sambil menunggu.

Aku makan pelan-pelan, mengunyah setiap suapan dengan sempurna. Setelah selesai kucuci mangkuk dan sendoknya, lalu menyimpannya dan kembali ke kamar. Kuambil CD player-ku dan menyalakannya membuat kamar yang awalnya sepi menjadi bising karena musik.

Sambil menghela napas aku berbalik menghadap komputer. Layarnya sudah dipenuhi iklan pop-up. Aku duduk di kursi lipatku yang keras dan menutup jendela-jendela kecil itu. Akhirnya aku bisa mengakses search engine favoritku. Kututup beberapa iklan pop-up yang masih bermunculan, lalu mengetik satu kata. Vampir.

Tentu saja butuh waktu yang sangat lama. Ketika hasil pencariannya muncul, ada banyak pilihan yang harus dibaca, semuanya mulai dari film dan acara televisi hingga permainan sandiwara, grup metal underground, dan perusahaan kosmetik gotik. Lalu aku menemukan situs yang tepat, Vampir A-Z. Aku tak sabar menunggu situs itu hingga terdownload sempurna, sambil cepat-cepat menutup iklan-iklan yang bermunculan di layar. Akhirnya selesai, latar belakang putih sederhana dengan tulisan hitam, kelihatannya seperti situs pendidikan. Dua kutipan di halaman depan situs itu menyambutku.

Situs tersebut berisi daftar seluruh mitos vampir yang ada di seluruh dunia, tersusun secara alfabetik. Aku membaca uraiannya dengan saksama, mencari apa saja yang tidak asing bagiku, apalagi masuk akal. Hanya tiga catatan yang menarik perhatianku : Varacolaci dari Rumania, sosok yang tak bisa mati, sangat kuat yang bisa tampil sebagai manusia rupawan berkulit pucat, Nelapsi dari Slovakua, makhluk ekstra kuat dan cepat hingga bisa membantai seluruh desa hanya sejam setelah tengah malam, dan satunya lagi Stegoni benefici. Mengenai yang terakhir ini, hanya ada satu kalimat pendek. Stregoci benefici : vampir Italia, konon memihak kebaikan, dan musuh abadi semua vampir jahat.

Rasanya lega ada satu catatan kecil, satu-satunya mitos di antara ratusan lainnya yang mengungkapan keberadaan vampir yang baik. Meski begitu, secara keseluruhan hanya sedikit yang mirip dengan cerita menurut J-Hope atau menurut pengamatanku sendiri. Aku telah membuat katalog kecil ketika membaca dan membandingkannya dengan masing-masing mitos. Kecepatan, kekuatan, keindahan, kulit pucat, warna mata yang berganti-ganti; lalu kriteria yang diberikan J-Hope : peminum darah, musuh werewolf, berkulit dingin, dan abadi. Sedikit sekali mitos yang cocok bahkan dengan salah satu kriteria.

Lalu masalah lainnya, satu yang kuingat dari sedikit film horor yang pernah kutonton dan didukung apa yang baru saja kubaca, vampir tidak bisa keluar di siang hari, matahari menjadikan mereka abu. Mereka tidur di dalam peti seharian, dan hanya keluar di malam hari. Merasa jengkel, kumatikan komputer langsung dari tombol utama, tanpa melalui tahapan semestinya. Di balik kekesalanku, aku merasa malu. Semua ini benar-benar konyol. Aku duduk di kamar, mencari keterangan tentang vampir. Kenapa sih aku ini? Kurasa kau sudah mulai gila Kim Taehyung! Kuputuskan sebagian besar kesalahannya ada pada Forks, dan seluruh Semenanjung Olympic yang selalu hujan.

.

.

.

-TWILIGHT [KookV Version]-

.

.

.

Malam aku tidur tanpa mimpi, kelelahan karena telah memulai hari itu sangat awal, padahal malamnya aku kurang tidur. Untuk kedua kali sejak tiba di Forks, aku terbangun melihat cahaya kuning terang, pertanda hari akan cerah. Aku melompat ke jendela, tercenung melihat nyaris tak ada awan di langit, hanya ada guratan kecil seperti kapas yang tak mungkin membawa air hujan. Kubuka jendela, terkejut karena tak ada bunyi deritan, mulus, padahal entah berapa lama hendela itu tak pernah dibuka, dan menghirup udara yang kering. Udara nyaris hangat dan sama sekali tak berangin. Darahku bagai meledak-ledak dalam nadiku.

Ayah telah menyelesaikan sarapannya ketika aku turun, dan sambutannya sama riangnya dengan suasana hatiku.

"Hari yang bagus untuk berada di luar," komentarnya.

"Ya," aku menimpalinya sambil tersenyum.

Ia balas tersenyum, mata cokelatnya berkerut di sudut-sudutnya. Ketika ayah tersenyum, sangat mudah memahami kenapa ia dan ibuku cepat-cepat memutuskan menikah. Hampir seluruh sisi romantis masa mudanya telah memudar sebelum aku mengenalnya. Rambut cokelat ikalnya telah menipis, perlahan memperlihatkan dahinya yang mengkilat. Tapi ketika ia tersenyum, aku bisa melihat sedikit bagian dari pria yang kawin lari dengan ibu ketika umurnya masih 2 tahun lebih tua dari umurku sekarang.

Saat aku sampai disekolah, ternyata masih sedikit siswa yang datang dan aku menjadi salah satu murid pertama yang tiba di sekolah. Kuparkir trukku dan menuju bangku piknik yang jarang digunakan di sisi selatan kafetaria. Bangku-bangku itu masih sedikit lembab, jadi aku duduk beralaskan jas hujan, senang bisa menggunakannya. PR-ku sudah selesai, hasil kehidupan sosial yang menyedihkan, tapi ada beberapa soal Trigono yang jawabannya masih meragukan. Kukeluarkan bukuku dengan penuh semangat, tapi di tengah soal pertama aku mulai melamun, memperhatikan sinar matahari bermain-main dengan pepohonan redbarked. Aku mencorat-coret pinggiran kertas PR-ku. Beberapa menit kemudian tiba-tiba aku menyadari telah menggambar lima pasang mata berwarna gelap. Kuhapus gambar-gambar itu dengan penghapus.

Mike menghampiriku dan seperti biasa dia selalu berusaha untuk bisa 'dekat' denganku. Tapi, aku benar-benar tidak tertarik dengannya jadi aku hanya membalas seadanya. Setelah obrolan yang benar-benar membosankan kami memutuskan untuk pergi. Kami berjalan tanpa bicara ke gedung tiga. Ketika aku melihat Jessica di kelas Trigono, ia kelihatannya sangat antusias. Ia, Angela, dan Lauren akan berbelanja ke Port Angeles malam ini. Mereka ingin membeli gaun yang akan dikenakan di pesta dansa, dan Jessica ingin aku ikut bersama mereka, meskipun sebenarnya aku tidak perlu membeli gaun. Tidak perlu kujelaskan kenapa aku tidak perlu membeli gaun -_-

Aku tidak mengiyakan dan menolak, aku masih bingung apakah harus pergi bersama mereka atau tidak. Jadi kubilang akan memikirkannya, kubilang akan minta izin ayah dulu.

.

.

.

-TWILIGHT [KookV Version]-

.

.

.

Sepanjang perjalanan menuju kelas Spanyol, yang dibicarakan Jessica hanya pesta dansa. Ia kembali membicarakannya lagi setelah kelas selesai lima menit lebih lama, dan kami pun menuju kafetaria untuk makan siang. Aku sendiri terlalu larut dalam penantian yang sarat emosi sehingga tidak menyimak apa yang dibicarakannya. Aku bukan hanya ingin sekali bertemu dengan Jungkook, tapi juga dengan semua keluarga dr. Choi, untuk membandingkan mereka dengan kecurigaan yang menggelayuti pikiranku. Ketika melintasi pintu kafetaria, kurasakan rasa takut yang sesungguhnya menuruni punggungku, lalu menetap di perut. Apakah mereka bisa mengetahui apa yang kupikirkan? Lalu perasaan yang lain menyapaku, apakah Jungkook menunggu untuk duduk bersamaku lagi?

Seperti biasa aku mulai memandang meja keluarga dr. Choi. Gelombang panik bergejolak dalam perutku ketika menyadari tempat itu kosong. Dengan harapan yang semakin menipis pandanganku menyapu sekeliling kafetaria, berharap menemukannya duduk sendirian, menungguku. Kafetaria itu sudah nyaris penuh, kelas Spanyol menahan kami, tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Jungkook atau saudara-saudaranya. Kesepian menghantamku dengan kekuatan menghancurkan.

Aku berjalan tertatih-tatih di belakang Jessica, sama sekali tak repot-repot berpura-pura mendengarkan. Sepertinya kami sudah sangat terlambat karena yang lain sudah duduk di meja kami. Aku menghindari kursi kosong di sebelah Mike dan memilih duduk di sebelah Angela. Samar-samar kuperhatikan Mike mempersilahkan Jessica duduk dengan sopan, dan tentu saja wajah Jessica berseri-seri karenanya.

Sisa hari itu berjalan sangat pelan, muram. Aku senang bisa meninggalkan sekolah akhirnya. Itu artinya aku bisa bebas menekuk wajahku dan mengasihani diriku sebelum nanti malam pergi bersama Jessica dan kawan-kawan. Tapi tepat setelah aku masuk ke rumah, Jessica menelepon membatalkan rencana kami. Aku mencoba terdengar ceria ketika ia bercerita bahwa Mike mengajaknya makan malam, aku benar-benar lega karena Mike akhirnya mengerti, tapi semangatku terdengar tidak tulus di telingaku sendiri. Jessica menunda rencana belanja kami jadi besok malam.

Yang berarti aku hanya butuh beberapa hal untuk mengalihkan perhatianku. Aku menghabiskan setengah jam mengerjakan PR, tapi aku bisa menyelesaikannya dengan cepat. Akhirnya kuperiksa e-mail-ku, membaca tumpukan surat dari ibuku. Aku menghela napa dan mengetik jawaban singkat.

[Eomma,

Mianhae. Aku tidak ada dirumah. Aku pergi ke pantai dengan beberapa teman. Dan aku harus membuat makalah.]

Alasanku terdengar menyedihkan, jadi aku menyerah saja.

[Hari ini cuaca cerah, aku tahu, aku juga terkejut, jadi aku akan keluar dan menyerap vitamin D sebanyak yang kubisa. Aku sayang eomma.

Taetae.]

.

.

.

-TWILIGHT [KookV Version]-

.

.

.

Paginya matahari bersinar cerah lagi. Hari ini sama seperti kemarin, aku tak bisa menahan harapan yang tumbuh dalam benakku, hanya untuk menyaksikannya hancur berantakan saat aku tidak melihat keluarga dr. Cullen di ruang makan siang dan duduk sendirian di kelas Biologi.

Perjalanan ke Port Angeles akhirnya akan terwujud malam ini. Rencana itu jadi semakin menarik karena Lauren mendadak ada urusan. Aku benar-benar tak sabar lagi ingin meninggalkan kota. Aku berjanji akan bersikap ceria malam ini dan tidak merusak kesenangan Angela dan Jessica berburu pakaian. Mungkin aku juga bisa membeli beberapa potong pakaian, tuxedo putih atau hitam mungkin? Kegembiraanku meningkat cepat ketika kami akhirnya mengemudi meninggalkan batas kota.

Kami bisa tiba di Port Angeles pukul 14.00. Jessica langsung menuju department store terbesar disana, yang jaraknya hanya beberapa ruas jalan dari semenanjung yang sanagt menarik bagi pengunjung. Pesta dansa nanti sifatnya setengah formal, dan kami tidak terlalu yakin apa maksudnya. Jessica dan Angela kelihatannya terkejut dan nyaris tidak percaya ketika kubilang aku tak pernah pergi ke pesta dansa ketika masih di Phoenix.

"Serius Tae. Apa kau tak pernah berkencan?" Jess bertanya ragu-ragu ketika kami memasuki toko.

"Sungguh," aku berusaha meyakinkannya, tanpa harus menceritakan masalah yang kualami ketika berdansa. "Aku tidak pernah punya pacar, atau teman dekat. Aku jarang keluar."

"Kenapa?" tanya Jessica.

"Tidak ada yang mengajakku," jawabku jujur.

Ia tampak ragu. "Disini orang-orang mengajakmu berkencan," ia mengingatkanku, "dan kau menolaknya." Kami sekarang berada di bagian remaja, melihat-lihat rak di sekitar kami, mencari gaun.

"Well, kecuali Tyler," ralat Angela.

"Maaf?" aku menahan napas. "Apa katamu?"

"Tyler bilang pada semua orang dia mengajakmu ke pesta prom," Jessica memberitahuku dengan pandangan curiga.

"Dia bilang apa?" aku kedengaran seperti tersedak.

"Sudah kubilang itu tidak benar, kan," Angela bergumam pada Jessica.

Aku terdiam, masih syok yang dengan cepat berganti jadi sebal. Tapi kami sudah menemukan pakaian yang kami cari, dan sekarang ada pekerjaan lain yang harus dilakukan.

"Itu sebabnya Lauren tidak menyukaimu," Jessica cekikikan sementara kami memilih-milih.

Dengan geram aku berkata, "Apa kalian pikir kalau aku menabraknya dengan trukku, dia bakal berhenti merasa bersalah mengenai kejadian itu? Apakah dia akan berhenti membayar semuanya dan menganggapnya impas?"

"Mungkin?" Jess nyengir. "Kalau memang itulah alasannya mengajakmu."

Pilihan pakaiannya tidak terlalu banyak, tapi mereka menemukan beberapa yang pas untuk dicoba. Aku duduk di kursi pendek dikamar pas, didepan cermin tiga arah, berusaha mengendalikan amarahku. Proses memilih pakaian ternyata hanya berlangsung sebentar dan lebih mudah daripada yang kulakukan bersama ibu di Phoenix. Kurasa karena pilihan disini lebih terbatas. Kami beralih ke bagian sepatu dan aksesori. Sementara mereka menjajal macam-macam, aku hanya memperhatikan dan mengkritik. Aku sedang tidak ingin berbelanja, meskipun sebenarnya membutuhkan sepatu baru. Semangatku lenyap seiring munculnya perasaan sebalku terhadap Tyler, dan itu kembali menciptakan ruang untuk kesedihan.

"Angela?" ujarku ragu-ragu, sementara ia mencoba sepasang sepatu tali tumit tinggi berwarna pink, ia senang sekali pasangan kencannya cukup tinggi sehingga ia bisa mengenakan sepatu tumit tinggi. Jessica sudah pindah ke bagian aksesori, tinggal aku dan Angela sendirian.

"Ya Tae?" Ia menjulurkan kaki, menggerakkan pergelangan kakinya supaya bisa mengamati sepatunya dari sudut pandang berbeda.

Lalu aku mendadak takut. "Aku suka yang itu."

"Kurasa aku akan membelinya, meskipun hanya cocok dengan gaun baruku ini," ia melamun.

"Beli saja, sedang diskon kan?" dukungku. Ia tersenyum, menutup kembali kotak sepatu putih yang kelihatannya lebih praktis.

Aku mencoba lagi. "Mmm, Angela..." Ia menatap penasaran.

"Apakah anak-anak... dr. Choi", aku terus memandangi sepatu, "memang sering membolos sekolah?" Aku benar-benar gagal untuk terdengar biasa saja.

"Ya, ketika cuaca bagus mereka pergi berkemah, bahkan ayah mereka juga. Mereka benar-benar pecinta alam sejati," ujarnya tenang, sambil mengamati sepatunya. Ia tidak menanyakan apa pun, tidak seperti Jessica yang pasti akan melontarkan ratusan pertanyaan. Aku mulai benar-benar menyukai Angela.

"Oh." Aku tidak membahasnya lagi ketika Jessica kembali untuk memperlihatkan perhiasan yang serasi dengan sepatu silvernya.

Kami bermaksud makan malam di restoran Italia kecil di pinggir jalan, tapi acara belanjanya ternyata tak selama yang kami kira. Jess dan Angela akan membawa pakaian baru mereka ke mobil, kemudian kami akan berjalan kaki ke teluk. Kukatakan aku akan menemui mereka di restoran satu jam lagi, aku mau mencari toko buku. Mereka sebenarnya bersedia ikut denganku, tapi aku menyuruh mereka bersenang-senang, mereka tak tahu betapa asyiknya aku bila sudah dikelilingi buku-buku, sesuatu yang lebih suka kulakukan sendirian. Mereka pergi ke mobil sambil mengobrol riang, dan aku pergi ke arah yang tadi ditunjuk Jess.

.

.

.

-TWILIGHT [KookV Version]-

.

.

.

Mudah bagiku menemukan toko buku, meskipun aku harus melewati jalan di gang sempit. Dan juga suasana sepi yang sedikit mencekam karena sudah malam, tapi tidak apa. Setelah mendapat buku yang kuinginkan, aku langsung bergegas untuk pergi menuju restoran dimana aku, Jessica dan Angela berjanji untuk bertemu kembali. Saat akan melewati gang kecil yang menuju jalan raya, dari jauh aku melihat empat orang yang saling tertawa dan berbicara tidak jelas muncul dari pojokan gang. Saat mereka mendekat, aku menyadari jika mereka berempat adalah pemuda yang usianya tidak beda jauh denganku. Aku bergegas menyingkir sejauh mungkin, memberi jarak pada mereka, berjalan cepat, sambil menoleh ke arah mereka.

"Hei, kau!" panggil salah satu dari mereka saat kami berpapasan, dan ia pasti berbicara denganku, mengingat tak ada orang lain di sekitarku. Aku pun memandangnya. Dua dari mereka telah menghentikan langkah, dua lagi memperlambat jalannya. Sepertinya yang berbicara denganku tadi adalah yang paling dekat denganku. Tubuhnya besar, berambut gelap. Ia melangkah ke arahku.

"Halo," gumamku sebagai reaksi spontan. Lalu aku cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berjalan lebih cepat menuju belokan. Bisa kudengar mereka tertawa keras di belakangku.

"Hei, tunggu!" salah satu memanggil lagi, tapi aku terus menunduk dan berbelok sambil menghela napas lega. Masih kudengar mereka tertawa tergelak-gelak di belakangku. Aku mendapati diriku berjalan di trotoar yang melintasi bagian belakang gudang-gudang yang suram, masing-masing dilengkapi pintu untuk bongkar-muat truk, terkunci pada malam hari. Sisi selatan jalan tidak bertrotoar, hanya pagar kawat dengan kawat berduri untuk melindungi sejenis tempat penyimpanan mesin. Sepertinya aku telah sampai dibagian Port Angeles yang bukan diperuntukkan bagi turis. Aku tersadar hari mulai gelap. Aku tadi meninggalkan jaketku di mobil, dan dingin yang sekonyong-konyong kurasakan membuatku bersedekap erat-erat.

Langit tiba-tiba menggelap, dan ketika menoleh untuk memandang awan yang semakin mengancam, aku terkejut menyadari dua cowok diam-diam mengendap-endap enam meter di belakangku. Mereka cowok-cowok yang tadi, meski bukan yang berambut gelap yang telah bicara denganku. Aku langsung membuang muka dan mempercepat langkah. Perasaan merinding yang tak ada hubungannya dengan cuaca membuatku gemetar lagi. Tas kecilku kuselempangkan di tubuh seperti yang seharusnya dilakukan supaya tidak bisa dicuri. Aku tahu persis dimana aku menaruh semprotan ladaku, masih di ranselku di kolong tempat tidur, belum dibuka. Aku tidak membawa banyak uang, hanya selembar dua puluh dollar dan sedikit recehan. Aku berpikir akan menjatuhkan tasku dengan sengaja lalu kabur. Tapi suara ketakutan di sudut benakku mengingatkanku mereka mungkin saja lebih dari sekadar pencuri.

Aku mendengarkan langkah mereka dengan saksama, yang sekarang jauh lebih pelan daripada langkah berisik yang mereka buat tadi. Kedengarannya mereka tidak mempercepat ataupun semakin dekat denganku. Tarik napas, Tae. Kau harus tenang. Aku terus berjalan secepat mungkin tanpa benar-benar berlari, berkonsentrasi pada belokan kanan yang tinggal beberapa meter. Aku bisa mendengar mereka tertinggal jauh di belakang.

Aku sampai disudut, tapi hanya dengan pandangan sekilas aku tahu itu jalan buntu ke belakang bangunan yang lain. Aku setengah berbalik dengan siaga; aku harus bergegas berlari menyeberangi gang sempit itu, kembali ke trotoar. Jalanannya berakhir disudut berikut, di sana ada rambu stop. Aku berkonsentrasi mendengarkan langkah-langkah samar di belakangku, memutuskan akan lari atau tidak. Mereka sepertinya tertinggal jauh di belakang, dan aku tahu kapan saja mereka bisa menyusulku. Aku yakin bakal tersandung dan terjatuh kalau berjalan lebih cepat lagi. Suara langkah kaki itu jelas sudah jauh di belakang. Aku memberanikan diri menoleh sekilas, dan dengan lega melihat mereka kurang lebih 12 meter di belakangku. Tapi kedua cowok itu sedang memadangiku.

Rasanya lama sekali baru aku sampai di sudut. Langkahku tetap stabil, dan kedua cowok di belakangku semakin tertinggal. Mungkin mereka sadar telah membuatku takut dan menyesalinya. Aku melihat dua mobil yang menuju utara melewati persimpangan yang akan kutuju, dan aku menghela napas lega. Akan ada lebih banyak orang begitu aku keluar dai jalanan sepi ini. Aku membelok dengan helaan napas lega. Lalu menghentikan langkah.

Di kedua sisi jalan tampak dinding kosong tanpa pintu dan jendela. Dari jauh aku bisa melihat dua persimpangan, lampu jalan, mobil-mobil, dan lebih banyak lagi pejalan kaki, tapi mereka terlalu jauh. Karena terhalang bangunan di sebelah barat, di tengah jalan berdiri dua cowok lainnya. Mereka menatapku sambil tersenyum puas, sementara aku berdiri membeku di trotoar. Aku pun tersadar, aku tidak sedang diikuti. Aku dijebak.

Aku berhenti sedetik yang rasanya lama sekali. Kemudian aku berbalik dan berlari ke sisi lain jalan. Dengan hati ciut aku menyadari usahaku sia-sia. Suara langkah di belakangku semakin jelas sekarang.

"Disitu kau rupanya!" Suara gelegar cowok berambut gelap dan bertubuh kekar itu memecah keheningan dan membuatku kaget. Dalam kegelapan yang menyelimuti, ia seolah-olah memandang kebelakangku.

"Yeah," suara keras menyahut dari belakangku, membuatku terperanjat sekali lagi ketika mencoba lari. "Kami hanya mengambil jalan pintas."

Langkahku sekarang pelan. Jarak yang memisahkanku dengan dua pasang cowok itu semakin dekat. Aku ingin berteriak, tapi tenggorokanku begitu kering sehingga aku tak yakin apakah aku bisa teriak dengan keras atau tidak. Dengan cepat aku meloloskan tasku dari kepala, menggenggamnya, siap menyerahkan atau menggunakannya sebagai senjata bila perlu. Si cowok kekar meninggalkan tembok ketika aku berhenti dengan hati-hati, dan berjalan pelan ke jalan.

"Jangan dekati aku," aku mengingatkan dengan suara yang seharusnya lantang dan berani. Tapi aku benar tentang tenggorokan yang kering, tak ada suara yang keluar.

"Jangan begitu, Manis," seru cowok itu, dan suara tawa liar itu terdengar lagi di belakangku.

Aku memasang kuda-kuda, kaki terbuka, dengan panik mengingat-ingat jurus bela diri yang kutahu. Tentu saja itu tidak akan bekerja, badan mereka jauh lebih besar dariku, tenaga mereka juga pasti lebih kuat dariku. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Appa.. Eomma…

.

.

.

TBC

.

.

.

Hai gaeeeeeeessss...

Maaf banget update nya telaaaat... agak sibuk minggu2 ini, banyak kerjaan... dan ternyata nerjemahin dari novel luar gak semudah yang dibayangkan! banyak kalimat yang bikin "ini maksudnya apaaaa?" dan banyak banget adegan yang menurutku gak terlalu penting, jadi banyak yang aku hapus dari cerita. Kayak Tae sama Mike, atau Tae bikin makan malam, bla bla bla.. hahaha..

Okay deh, silahkan membac teman-teman~~~

semoga gak mengecewakan, dan give me a feedback pleaasseee~~