TWILIGHT (KookV Version)

-Pengakuan-

.

.

.

.

.

.

Tiba-tiba lampu sorot muncul dari sudut jalan dan sebuah mobil nyaris menabrak si kekar, memaksanya melompat ke trotoar. Aku berlari ke tengah jalan, mobil ini akan berhenti, atau menabrakku. Tapi mobil silver itu tak disangka-sangka menukik, lalu berhenti dengan salah satu pintu terbuka hanya beberapa jengkal dariku.

"Masuk Taehyung," terdengar suara gusar memerintahku.

Sungguh mengagumkan betapa cepatnya cekaman rasa takut itu lenyap, mengagumkan bagaimana perasaan aman tiba-tiba menyelimutiku, bahkan sebelum aku meninggalkan jalanan, hanya sedetik setelah aku mendengar suaranya. Aku melompat masuk, membanting pintu hingga tertutup. Suasana di dalam mobil gelap, tak ada cahaya seiring pintu yang tadi terbuka, dan aku nyaris tak bisa melihat wajahnya dalam cahaya temaram yang terpancar dari dasbor. Ban mencicit ketika ia berputar menuju utara, melaju terlalu cepat, berbelok menuju keempat cowok yang terperangah itu. Sekilas kulihat mereka melompat ke trotoar saat kami melaju menuju pelabuhan.

"Pakai sabuk pengamanmu," perintahnya, dan aku tersadar kedua tanganku meremas jok erat-erat. Ia membelok tajam ke kiri, terus melesat cepat, melewati beberapa rambu stop tanpa menghentikan laju mobil. Tapi aku merasa sangat aman, dan sejenak aku sama sekali tak peduli kemana tujuan kami. Kutatap wajahnya dengan perasaan lega yang dalam, kelegaan yang melebihhi kebebasanku yang mendadak itu. Kuamati rupanya yang tak bercela dalam cahaya yang terbatas, menunggu napasku kembali normal, hingga tampak olehku ekspresinya yang amat sangat marah.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku, terkejut mendengar betapa parau suaraku.

"Tidak," katanya kasar, nada suaranya marah.

Aku duduk diam, memperhatikan wajahnya sementara matanya yang berkilat-kilat menatap lurus ke depan, sampai mobilnya tiba-tiba berhenti. Aku memandang berkeliling, tapi terlalu gelap untuk melihat apa pun selain barisan pepohonan di sisi jalan. Kami sudah meninggalkan kota.

"Taehyung?" ujarnya, suaranya tegang namun terkendali.

"Ya?" suaraku masih parau. Diam-diam aku berusaha berdeham.

"Kau baik-baik saja?"Ia masih tidak memandang ke arahku, tapi amarah tampak jelas di wajahnya.

"Ya," jawabku lembut.

"Tolong alihkan perhatianku," perintahnya.

"Maaf, apa katamu?" Ia menghela napas keras-keras.

"Ceritakan apa saja yang remeh sampai aku tenang," ia menjelaskan. Dipejamkannya matanya dan dicubitnya cuping hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk.

"Mmm." Aku memutar otak untuk menemukan sesuatu yang remeh. "Aku akan menabrak Tyler Crowley besok sebelum sekolah dimulai?"

Ia masih memejamkan mata dengan susah payah, tapi sudut bibirnya menegang. "Kenapa?"

"Dia memberitahu semua orang akan mengajakku ke pesta prom, entah dia itu tidak waras atau masih mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo...well, kau pasti ingat, dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. Jadi kupikir kalau aku membahayakan hidupnya, berarti kedudukan kami seri, dan dia tidak perlu terus menerus memperbaiki hubungan. Aku tidak memerlukan musuh, dan barangkali Lauren akan kembali bersikap biasa kalau Tyler menjauhiku. Meski begitu mungkin aku perlu menghancurkan mobil Sentra-nya. Kalau tidak punya kendaraan, berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke prom..." cerocosku.

"Aku sudah dengar." Ia terdengar lebih tenang.

"Oh ya?" tanyaku tidak percaya, kejengkelanku menyala-nyala lagi sekarang.

"Kalau dia lumpuh dari leher ke bawah, dia juga tidak bisa pergi ke prom," gumamku, menjelaskan rencanaku. Jungkook menghela napas, akhirnya membuka mata.

"Lebih baik?"

"Tidak juga."

Aku menunggu, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia menyandarkan kepala ke kursi, menatap langit-langit mobil. Wajahnya kaku.

"Apa yang terjadi?" bisikku.

"Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku, Tae." Ia juga berbisik, memandang ke luar jendela, matanya menyipit.

"Tapi tidak akan lebih baik bagiku bila aku berbalik dan memburu..." Ia tidak menyelesaikan kata-katanya, memalingkan wajah, beberapa saat berusaha keras mengendalikan amarahnya lagi.

"Setidaknya," lanjutnya, "itulah yang sedang coba kukatakan pada diriku sendiri."

"Oh." Kata itu sepertinya tidak cukup, tapi aku tak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik. Kami duduk diam lagi. Aku melihat jam di dasbor. Sudah lewat 18.30.

"Jessica dan Angela pasti khawatir," gumamku. "Aku seharusnya menemui mereka."

Ia menyalakan mesin mobil tanpa mengatakan apa-apa, berbelok mulus dan meluncur kembali menuju kota. Tak lama kemudian kami sudah disinari lampu-lampu jalan, mobilnya masih ngebut, dengan mudah menyalip mobil-mobil yang melaju pelan di jalur boardwalk. Ia memarkir paralel di tempat sempit yang tadinya kukira tak cukup untuk Volvo-nya, tapi ia melakukannya dengan mudah. Kami sudah sampai direstoran tempat aku, Jessica dan Angela janjian. Dan aku melihat mereka baru saja keluar dari restoran itu.

"Jess! Angela!" seruku mengejar mereka, melambai ketika mereka menoleh. Mereka bergegas menghampiriku. Kelegaan di wajah mereka langsung berubah jadi terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingku. Mereka ragu, enggan mendekat.

"Kau dari mana saja?" suara Jessica terdengar curiga.

"Aku tersesat," aku mengaku malu-malu. "Kemudian aku berpapasan dengan Jungkook," kataku sambil menunjuknya.

"Boleh aku bergabung dengan kalian?" ia bertanya, suaranya lembut dan menggoda. Dari ekspresi mereka yang terkejut, aku tahu Jungkook belum pernah bicara seperti itu pada mereka.

"Mmm... tentu saja," dengus Jessica.

"Mmm, sebenarnya, Bella, kami sudah makan ketika menunggumu tadi, maaf," aku Angela

"Tidak apa-apa, lagi pula aku tidak lapar." Aku mengangkat bahu.

"Kurasa kau harus makan sesuatu." Suara Jungkook pelan, tapi bernada memerintah. Ia menatap Jessica dan berkata sedikit lebih keras, "Apakah kau keberatan kalau aku saja yang mengantar Taehyung pulang malam ini? Dengan begitu kalian tak perlu menunggu dia makan."

"Eehh, tidak masalah, kurasa..." Jessica menggigit bibir, berusaha menebak lewat ekspresiku apakah aku menginginkannya. Aku mengedip padanya. Tak ada yang kuinginkan selain bisa berduaan dengan penyelamatku. Ada begitu banyak pertanyaan yang tak bisa kulontarkan hingga kami tinggal berdua saja.

"Oke." Angela mendahului Jessica. "Sampai besok, Tae... Jungkook." Ia meraih tangan Jessica dan menariknya ke mobil, yang samar-samar kulihat diparkir di seberang First Street.

.

.

.

-TWILIGHT [KookV Version]-

.

.

.

Restorannya tidak ramai, saat ini Port Angeles sedang sepi pengunjung. Kami disambut seorang cewek dan aku memahami sorot matanya ketika ia menilai Jungkook. Ia menyambutnya dengan kehangatan yang lebih daripada seharusnya. Aku terkejut menyadari betapa itu menggangguku. Ia lebih tinggi beberapa senti dariku, dan rambutnya dicat pirang.

"Untuk dua orang?" suara Jungkook terdengar menawan, entah disengaja atau tidak. Kulihat mata si cewek berkilat ke arahku lalu berpaling lagi, puas dengan rupaku yang sangat biasa dan kenyataan bahwa Jungkook berdiri tidak terlalu dekat denganku. Aku hendak duduk, tapi Edward menggeleng.

"Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?" desaknya lembut. Aku tak yakin, tapi sepertinya Jungkook menyelipkan tip ke tangan si cewek. Aku tak pernah melihat ada orang yang menolak tawaran meja kecuali di film-film lama.

"Tentu." Ia juga tampak sama terkejutnya dengan aku. Ia berbalik dan memandu kami ke deretan pojok, semua kursinya kosong. "Bagaimana dengan yang ini?"

"Sempurna." Jungkook memamerkan senyumnya yang memukau, membuat cewek itu sesaat terpana.

"Mmm", ia menggeleng, matanya mengerjap, "pelayan kalian akan segera datang." Ia berlalu dengan langkah sempoyongan.

"Kau seharusnya tidak melakukan itu pada orang-orang," aku mengkritiknya. "Tidak adil."

"Melakukan apa?"

"Membuat mereka terpesona seperti itu, barangkali sekarang ia sedang sesak napas di dapur." Ia tampak bingung.

"Oh, ayolah," aku berkata ragu. "Kau pasti tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu."

Ia memiringkan kepala, sorot matanya perasaran. "Aku membuat orang terpesona?"

"Kau tidak sadar? Kaupikir orang bisa jadi seperti itu dengan mudahnya?"

Ia mengabaikan pertanyaanku. "Apakah aku membuatmu terpesona?"

"Sering kali," aku mengakuinya.

Pelayan datang, wajahnya penuh harap. Cewek tadi pasti sudah bercerita di belakang, dan cewek yang baru datang ini tidak tampak kecewa. Ia menyelipkan helaian rambut hitam pendeknya di belakang telinga dan tersenyum dibuat-buat.

"Hai. Namaku Amber, dan aku akan menjadi pelayan kalian malam ini. Kalian mau minum apa?" Tentu sja aku menyadari ia hanya bertanya pada Jungkook. Jungkook memandangku.

"Aku mau Coke." Jawabanku lebih terdengar seperti bertanya.

"Dua," kata Edward.

"Aku akan segera kembali dengan pesanan kalian," ia meyakinkan Jungkook sambil lagi-lagi tersenyum dibuat-buat. Tapi Jungkook tidak memandangnya. Ia sedang memperhatikanku.

"Kenapa?" tanyaku ketika si pelayan berlalu.

Pandangannya terpaku di wajahku. "Bagaimana perasaanmu?"

"Aku baik-baik saja," jawabku, terkejut karena kusungguhan hatinya.

"Kau tidak merasa pusing, sakit, kedinginan...?"

"Apakah seharusnya aku merasa seperti itu?" Ia tergelak mendengar kebingunganku.

"Well, sebenarnya aku menunggumu syok." Senyum lebar mengembang di wajahnya.

"Kupikir itu tidak bakal terjadi," kataku setelah bisa bernapas lagi. "Aku selalu pandai menahan diri bila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan."

"Sama, aku akan merasa lebih baik kalau kau makan sesuatu atau minum yang manis-manis." Pucuk dicinta ulam pun tiba, si pelayan muncul membawa minuman kami dan sekeranjang roti Prancis. Ia berdiri memunggungiku sambil menaruh barang-barang bawaannya di meja.

"Kau sudah mau memesan?" tanyanya pada Jungkook.

"Taehyung?" tanya Edward. Si pelayan dengan enggan berbalik menghadapku.

Aku memilih makanan pertama yang kulihat di menu. "Mmm.. aku mau mushroom ravioli."

"Kau?" pelayan itu berbalik lagi sambil tersenyum.

"Aku tidak pesan," kata Jungkook. Tentu saja.

"Panggil aku kalau kau berubah pikiran." Senyum malu-malu masih mengembang di bibirnya, tapi Jungkook tidak melihatnya dan si pelayan pergi meninggalkan kami dengan perasaan kecewa.

"Minum," ia menyuruhku.

Kusesap sodanya dengan patuh, lalu minum lagi lebih banyak. Aku terkejut menyadari betapa hausnya aku. Aku baru sadar telah menegak habis minumanku ketika ia mendorong gelasnya kearahku.

"Terima kasih," gumamku, masih haus. Rasa sejuk soda yang dingin itu masih terasa di dadaku, membuatku gemetaran.

"Kau kedinginan?"

"Tidak, hanya Coke yang kuminum," aku menjelaskan, kembali gemetaran.

"Kau tidak punya jaket?" suaranya tidak puas dengan penjelasanku.

"Punya." Aku memandang kursi kosong di sebelahku. "Oh, ketinggalan di mobil Jessica," aku tersadar.

Jungkook menanggalkan jaketnya. Tiba-tiba aku menyadari tak sekalipun aku pernah memperhatikan pakaian yang dikenakannya, bukan hanya malam ini, tapi sejak awal. Sepertinya aku tak bisa berpaling dari wajahnya. Namun sekarang aku melihatnya, benar-benar memperhatikannya. Ia menanggalkan jaket kulit warna krem muda; dibalik jaketnya Jungkook mengenakan sweter turtleneck kuning gading. Sweter itu amat pas di tubuhnya, memperjelas bentuk dadanya yang kekar. Ia memberikan jaketnya kepadaku, mengalihkan kerlingan mataku.

"Terima kasih," kataku lagi, sambil mengenakan jaketnya. Rasanya sejuk, seperti ketika pertama kali memakai jaketku di pagi hari. Aku kembali gemetaran. Aromanya menyenangkan. Aku menghirupnya, mencoba mengenali aroma itu. Tidak seperti aroma kolonye. Lengannya kelewat panjang; aku harus mendorongnya naik supaya tanganku kelihatan.

"Warna biru itu kelihatan indah di kulitmu," katanya memperhatikan. Aku terkejut; lalu menunduk, wajahku memerah tentu saja. Ia menyorongkan keranjang rotinya ke arahku.

"Sungguh, aku tidak merasa syok," protesku.

"Kau seharusnya syok, seperti pada umumnya orang normal. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran." Jungkook tampak khawatir. Dia menatap ke dalam mataku, dan aku melihat betapa matanya terang, lebih terang daripada yang pernah kulihat, cokelat keemasan.

"Aku merasa sangat aman denganmu," ujarku, begitu terkesima hingga mengatakan yang sebenarnya lagi. Perkataanku membuatnya tidak nyaman; alisnya yang berwarna pualam mengerut. Ia menggeleng, wajahnya cemberut.

"Ini lebih rumit daripada yang kurencanakan," gumamnya pada diri sendiri.

Aku mengambil roti dan menggigit ujungnya, sambil menebak ekspresinya. Aku bertanya-tanya kapan saat yang tepat untuk mulai bertanya padanya.

"Biasanya suasana hatimu lebih baik bila warna matamu terang," ujarku, mencoba mengalihkannya dari pikiran apa pun yang membuatnya cemberut dan murung.

Ia menatapku, terkesima. "Apa?"

"Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam, tadi kupikir matamu berubah kelam," lanjutku. "Aku punya teori tentang itu."

Matanya menyipit. "Teori apa?"

"Mm-hm."Aku mengunyah sepotong kecil roti, berusaha terlihat cuek.

"Kuharap kau lebih kreatif... atau kau mengutip dari buku-buku komik?" Senyumnya mengejek, namun tatapannya masih tegang.

"Well, tidak, aku tidak mendapatkannya dari komik, tapi aku juga tidak menduga-duganya sendiri," aku mengakui.

"Dan?" sambarnya. Tapi kemudian si pelayan muncul membawa pesananku. Aku menyadari tanpa sadar kami telah mencondongkan tubuh ke tengah, karena kami langsung duduk tegak lagi ketika si pelayan datang. Ia menaruh makanan itu di depanku, sepertinya lumayan enak, dan langsung berbalik menghadap Jungkook.

"Apakah kau berubah pikiran?" tanyanya. "Kau tak ingin kubawakan sesuatu?" Aku mungkin saja membayangkan makna ambigu dalam kata-katanya.

"Tidak, terima kasih, tapi kau boleh membawakan soda lagi." Dengan tangan pucatnya yang jenjang ia menunjuk gelasku yang kosong.

"Tentu." Ia menyingkirkan gelas-gelas kosong dari meja dan berlalu.

"Apa katamu tadi?" tanya Edward.

"Aku akan menceritakannya di mobil. Kalau..." aku berhenti.

"Ada syaratnya?" Ia mengangkat satu alisnya, suaranya terdengar waswas.

"Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan."

"Tidak masalah."

Si pelayan kembali dengan dua gelas Coke. Kali ini ia meletakkannya tanpa bicara, lalu pergi. Aku menyesapnya.

"Well, ayo mulai," ia mendesakku, suaranya masih tegang.

Aku memulai dengan yang paling sederhana. Atau begitulah menurutku. "Kenapa kau berada di Port Angeles?" Ia menunduk, perlahan-lahan melipat tangannya yang besar di meja. Meski menunduk, bisa kulihat matanya berkilat menatapku dari balik bulu matanya, menandakan ia mengejekku.

"Berikutnya."

"Tapi itu yang paling mudah," ujarku keberatan.

"Berikutnya," ia mengulangi perkataannya. Aku menunduk, kesal. Kuambil garpu dan dengan hati-hati membelah ravioli-nya. Pelan-pelan aku memasukkannya ke mulut, masih menunduk, mengunyah sambil berpikir. Jamurnya enak. Aku menelan dan menyesap Coke lagi sebelum mendongak.

"Oke, kalau begitu." Aku memandangnya marah, dan perlahan melanjutkan pertanyaan.

"Katakan saja, secara hipotesis tentu saja, seseorang... bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain, membaca pikiran, kau tahu, dengan beberapa pengecualian."

"Hanya satu pengecualian," ia meralatku, "secara hipotetis."

"Baik kalau begitu, dengan satu pengecualian." Aku senang ia berusaha meladeniku, tapi aku berusaha terlihat kasual.

"Bagaimana cara kerjanya? Apa saja batasan-batasannya? Bagaimana bisa... seseorang... menemukan orang lain pada saat yang tepat? Bagaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?" Aku bertanya-tanya apakah pertanyaanku yang kusut ini bisa dimengerti.

"Secara hipotetis?" tanyanya.

"Tentu saja."

"Well, kalau... seseorang itu..."

"Sebut saja dia Joe," aku mengusulkan.

Ia tersenyum ironis. "Ya sudah. Kalau Joe memperhatikan, pemilihan waktunya tak perlu setepat itu." Ia menggeleng, memutar bola matanya. "Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. Kau bisa membuat angka tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade, kau tahu itu."

"Kita sedang membicarakan kasus secara hipotetis," aku mengingatkannya dengan nada dingin. Ia tertawa, matanya hangat.

"Betul juga," sahutnya menyetujui. "Bisakah kita memanggilmu Jane?"

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku, tak mampu lagi membendung rasa penasaranku. Aku menyadari telah mencondongkan tubuhku ke arahnya lagi.

Sepertinya ia sedang bergidik, disiksa dilema yang berkecamuk dalam batinnya. Kami bertatapan, dan kurasa ia sedang membuat keputusan, mengatakan yang sejujurnya atau tidak.

"Kau tahu, kau bisa mempercayaiku," gumamku. Tanpa berpikir aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya yang terlipat, tapi ia langsung menariknya, begitu juga aku.

"Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan." Suaranya nyaris seperti bisikan. "Aku salah, kau lebih teliti daripada yang kukira."

"Kupikir kau selalu benar."

"Biasanya begitu." Ia kembali menggeleng. "Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal. Kau bukan daya tarik terhadap kecelakaan, penggolongan itu tidak cukup luas. Kau daya tarik terhadap masalah. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil, masalah itu selalu bisa menemukanmu."

"Dan kau menempatkan dirimu sendiri dalam kategori itu?" tebakku.

Raut wajahnya berubah dingin, tanpa ekspresi. "Tak salah lagi."

Kuulurkan tanganku sekali lagi, mengabaikan ketika ia mencoba menariknya, dan dengan hati-hati menyentuh punggung tangannya. Kulitnya dingin dan keras, seperti batu.

"Terima kasih." Suaraku benar-benar tulus. "Sudah dua kali kau menyelamatkanku." Ketegangan di wajahnya mencair.

"Jangan ada yang ketiga kali, oke?"

Aku cemberut, tapi mengangguk. Ia menarik tangannya dan menaruhnya di bawah meja. Tapi ia mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Aku membuntutimu ke Port Angeles," akunya terburu-buru.

"Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya, dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. Orang normal sepertinya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana." Ia berhenti. Aku bertanya-tanya apakah seharusnya aku merasa terganggu mengetahui ia membuntutiku; tapi sebaliknya aku malah senang. Ia menatapku, barangkali bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba tersenyum.

"Pernahkah kau berpikir mungkin takdir telah memilihku sejak pertama, pada insiden van itu, dan kau malah mencampurinya?" tanyaku berspekulasi, mengalihkan kecurigaanku.

"Itu bukan yang pertama," katanya, suaranya sulit didengar. Aku menatapnya terpana, tapi ia menundukkan kepala. "Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu."

Aku merasakan sekelumit perasaan ngeri mendengar kata-katanya, ditambah ingatan akan tatapan kelam matanya yang sekonyong-konyong hari itu... tapi perasaan aman yang sangat hebat berkat kehadirannya mengenyahkan semuanya. Ketika ia mendongak untuk menatap mataku, tak ada secercah pun rasa takut di dalamnya.

"Kau ingat?" tanyanya, wajahnya yang tampan berubah serius.

"Ya," sahutku tenang.

"Tapi toh sekarang kau duduk disini." Ada secercah keraguan dalam suaranya, salah satu alisnya terangkat.

"Ya, disinilah aku duduk... berkat dirimu." Aku terdiam sebentar. "Karena entah bagaimana kau bisa tahu bagaimana menemukanku hari ini?" semburku.

Jungkook mengatupkan bibirnya erat-erat, matanya yang menyipit menatapku, kembali menimbang-nimbang. Ia memandangi piringku yang masih penuh, lalu menatapku lagi.

"Kau makan, aku bicara," usulnya.

Aku cepat-cepat menyendok ravioli-ku lagi dan mengunyahnya.

"Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya. Biasanya, setelah pernah mendengar pikiran seseorang, aku bisa dengan mudah menemukannya." Ia menatapku was-was, dan aku menyadari tubuhku mematung. Kupaksa menelan makananku, lalu menusuk ravioli-nya lagi dan menyuapnya.

"Secara tidak hati-hati aku mengikuti jejak Jessica, seperti kataku, hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles, dan awalnya aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian. Lalu, ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi, aku pergi mencarimu ditoko buku yang kulihat dalam pikirannya. Aku tahu setelah kau dari toko buku, kau pergi ke arah selatan... dan aku tahu toh kau harus kembali. Jadi, aku hanya menunggumu, sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan, melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu dimana kau berada. Aku tak punya alasan untuk khawatir... tapi anehnya aku toh khawatir juga." Jungkook melamun, tatapannya menembusku, melihat hal-hal yang tak bisa kubayangkan.

"Aku mulai berputar-putar, sambil masih... mendengarkan. Matahari akhirnya terbenam, dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. Dan lalu, " Ia berhenti, menggertakkan giginya akibat amarah yang sekonyong-konyong muncul. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.

"Lalu apa?" bisikku. Pandangannya tetap menerawang.

"Aku mendengar apa yang mereka pikirkan," geramnya, bibir atasnya menyelip masuk diantara giginya.

"Aku melihat wajahmu dalam pikirannya." Tiba-tiba Jungkook mencondongkan tubuh, satu siku bertengger di meja, tangan menutupi mata. Gerakan itu begitu cepat sehingga membuatku bingung.

"Sulit... sekali, kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya, hanya pergi menyelamatkanmu, dan membiarkan mereka.. tetap hidup." Suaranya tidak jelas, tertutup lengannya.

"Aku bisa saja membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela, tapi aku takut kalau kau meninggalkanku sendirian, aku akan pergi mencari mereka," ia mengakui dalam bisikan.

Aku duduk diam, kepalaku pening, pikiranku campur aduk. Tanganku terlipat di pangkuan, dan aku bersandar lemah di kursi. Tangannya masih menutupi wajah, dan ia masih tak bergerak, bagai patung batu. Akhirnya Jungkook mendongak, matanya mencari-cari mataku, penuh dengan pertanyaannya sendiri.

"Kau sudah siap pulang?" tanyanya.

"Ya, aku siap," aku mengiyakan, amat sangat bersyukur dapat pulang bersamannya. Aku belum siap berpisah dengannya.

Pelayan muncul seolah ia telah dipanggil. Atau memperhatikan. "Jadi bagaimana?" ia bertanya kepada Jungkook.

"Kami mau bayar, terima kasih." Suaranya tenang, agak serak, masih tegang oleh obrolan tadi. Sepertinya ini membuat si pelayan bingung. Jungkook mendongak, menunggu.

"T-tentu," ujar pelayan itu terbata-bata. "Ini dia." Ia mengeluarkan folder kulit kecil dari saku depan celemek hitamnya dan menyerahkannya pada Jungkook. Ternyata Jungkook sudah menyiapkan uangnya. Ia menyelipkannya ke folder itu dan menyerahkannya lagi pada si pelayan.

"Simpan saja kembaliannya." Jungkook tersenyum, lalu bangkit. Aku ikut berdiri dengan susah payah.

Pelayan itu tersenyum menggoda lagi pada Jungkook. "Semoga malammu menyenangkan."

Kenapa dia menyebalkan sekali sih? Tapi Jungkook tidak berpaling dariku ketika mengucapkan terima kasih padanya. Aku menyembunyikan senyumku, diam-diam aku merasa puas sekali dengan sikap Jungkook pada pelayan itu. Jungkook berjalan dekat disisiku menuju pintu, masih berhati-hati agar tidak menyentuhku. Aku teringat ucapan Jessica tentang hubungannya dengan Mike, bagaimana mereka nyaris sampai ke tahap ciuman. Aku menghela napas. Jungkook sepertinya mendengar, dan ia menunduk penasaran. Aku memandang trotoar, bersyukur karena ia sepertinya tidak bisa mengetahui apa yang kupikirkan.

Ia membukakan pintu untukku dan menunggu sampai aku masuk, lalu menutupnya dengan lembut. Aku memperhatikannya memutar kedepan, masih mengagumi keanggunannya. Barangkali seharusnya aku sudah terbiasa dengan itu sekarang, tapi nyatanya belum. Firasatku mengatakan tak seorang pun akan pernah terbiasa dengan Jungkook.

Begitu masuk ke mobil ia menyalakan mesin dan pemanas hingga maksimal. Udara dingin sekali, dan kurasa cuaca bagusnya sudah berakhir. Meski begitu aku merasa hangat dalam balutan jaketnya, menghirup aromanya ketika kupikir ia sedang tidak melihat. Jungkook mengeluarkan mobilnya dari parkiran, sepertinya tanpa melirik, berputar menuju jalan tol

"Sekarang," katanya," giliranmu."

"Boleh aku bertanya satu hal lagi?" aku memohon ketika Jungkook memacu mobilnya cepat sekali di jalan yang sepi. Sepertinya ia tidak memperhatikan jalan. Jungkook menghela napas.

"Satu saja," katanya menyetujui. Bibirnya mengatup membentuk espresi hati-hati.

"Well... kau bilang kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu, dan aku pergi ke selatan. Aku hanya bertanya-tanya bagaimana kau mengetahuinya." Jungkook berpaling setelah mendengarku bicara.

"Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura itu," gerutuku dan Jungkook nyaris tersenyum.

"Baiklah kalau begitu. Aku mengikuti aroma tubuhmu." Jungkook memandang jalan, memberiku waktu untuk mengatur ekspresi. Aku tak bisa memikirkan reaksi yang tepat untuk menanggapinya, tapi akan kusimpan jauh-jauh untuk kupikirkan nanti. Aku mencoba berkonsentrasi lagi. Aku belum siap membiarkannya selesai, mengingat sekarang dia mau menjelaskan semuanya.

"Lalu kau tidak menjawab satu pertanyaanku tadi..." aku tidak menyelesaikan kalimatku.

Jungkook memandangku tidak setuju padaku. "Yang mana?"

"Bagaimana caranya, membaca pikiran? Bisakah kau membaca pikiran siapa saja, di mana saja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu yang lain bisa..." Aku merasa konyol, meminta penjelasan atas sesuatu yang tidak nyata.

"Itu lebih dari satu pertanyaan," protesnya. Aku hanya menjalin jari-jariku dan menatapnya, menanti jawaban.

"Tidak, hanya aku yang bisa. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja, di mana saja. Aku harus cukup dekat dengan orang itu. Semakin aku mengenal 'suara' seseorang, meski jauh pun aku bisa mendengar mereka. Tapi tetap saja, tak lebih dari beberapa mil." Jungkook berhenti dengan penuh pertimbangan.

"Kurang-lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang, semua bicara serentak. Hanya suara senandung, suara-suara dengungan di latar belakang. Setelah aku terfokus pada satu suara, barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas. Kebanyakan aku mendengarkan semuanya, dan itu bisa sangat mengganggu. Kemudian lebih mudah untuk terlihat normal", dahinya berkerut ketika mengatakannya, "ketika aku sedang tidak sengaja menjawab pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya."

"Kenapa pikirmu kau tak bisa mendengarku?" tanyaku penasaran. Jungkook menatapku dengan sorot matanya yang misterius.

"Aku tidak tahu," gumamnya. "Satu-satunya dugaanku, adalah mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. Dengan kata lain misalnya pikiranmu ada di gelombang AM sementara aku hanya bisa menangkap gelombang FM." Jungkook tersenyum jail, tiba-tiba tertawa.

"Pikiranku tidak berjalan dengan benar? Maksudmu aku aneh?" Kata-katanya lebih menggangguku lebih dari yang seharusnya, barangkali karena memang benar. Aku sendiri menduga diriku memang aneh, ibuku juga bahkan pernah terang-terangan bilang kalau aku adalah alien aneh. Menyebalkan sekali. Semakin menyebalkan karena aku merasa itu memang hingga berakhir dengan malu.

"Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku dan justru kau yang khawatir dirimu. Aneh," ia tertawa.

"Jangan khawatir, itu cuma teori..." Wajahnya menegang. "Yang mengingatkan aku, sekarang giliranmu.

Aku menghela napas. Bagaimana memulainya.

"Bukankah kita sudah melewati tahap mengelak sekarang ini?" dengan lembut ia mengingatkanku. Untuk pertama kali aku memalingkan wajah darinya, mencoba berpikir. Kebetulan aku memperhatikan spidometernya.

"Gila!" seruku. "Pelankan mobilnya!"

"Kenapa?" Jungkook bingung. Tepi kecepatan mobil tidak berkurang.

"Kau melaju seratus mil per jam!" aku masih berteriak. Aku menatap panik ke luar jendela, tapi terlalu gelap sehingga tak bisa melihat apa-apa. Jalanan hanya tampak sejauh jangkauan cahaya kebiruan lampu mobil. Hamparan hutan di kedua jalan bagai dinding hitam, sekeras dinding baja bila kami melaju keluar jalan dengan kecepatan ini.

"Tenang, Taehyung." Ia memutar bola matanya, masih tidak memperlambat kecepatannya

"Apa kau mencoba membunuh kita berdua?" tanyaku.

"Kita tidak akan tabrakan."

Aku mencoba mengubah intonasiku. "Kenapa kau terburu-buru seperti ini?"

"Aku selalu mengemudi seperti ini." Ia berbalik, tersenyum lebar padaku.

"Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!"

"Aku belum pernah mengalami kecelakaan, Taehyung. Aku bahkan belum pernah ditilang." Ia nyengir dan menepuk-nepuk dahinya. "Radar pendeteksi alami."

"Sangat lucu," tukasku marah. "Ayahku polisi, kau tidak lupa, kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi aturan lalu lintas. Lagipula, kalau kau menabrak pohon dan membuat kita berdua cedera, barangkali kau masih bisa selamat."

"Barangkali," ia menyetujui gurauanku, kemudian tertawa sebentar.

"Tapi kau tidak." Ia menghela napas, dan dengan lega aku memperhatikan jarum kecepatan perlahan-lahan menunjukkan angka delapan puluh. "Puas?"

"Hampir."

"Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan," gumamnya.

"Kau bilang ini pelan?" Seruku kaget

"Sudah cukup mengomentari cara mengemudiku," tukasnya. "Aku masih menantikan teorimu."

Aku menggigit bibir. Jungkook menunduk memandangku, matanya yang kuning keemasan tak disangka-sangka melembut.

"Aku tidak akan tertawa," janjinya.

"Aku khawatir kau akan marah padaku."

"Seburuk itukah?"

"Kurang-lebih, ya."

Jungkook menunggu. Aku menunduk memandang tanganku, jadi aku tak bisa melihat raut wajahnya. "Katakan saja." Suaranya tenang.

"Aku tak tahu bagaimana memulainya," akuku.

"Kenapa kau tidak mulai dari awal... katamu kesimpulanmu tak muncul begitu saja.

"Tidak."

"Apa yang memicunya, buku? Film?" Jungkook mencoba menebak.

"Tidak, semuanya berawal hari Sabtu, di pantai." Aku memberanikan diri melirik wajahnya. Jungkook tampak bingung.

"Aku bertemu teman lama keluargaku, J-Hope Black," aku melanjutkan. "Ayahnya dan ayahku telah berteman sejak aku masih bayi." Jungkook masih tampak bingung.

"Ayahnya salah satu tetua suku Quileute." Aku mengamatinya dengan hati-hati. Ekspresinya masih sama.

"Kami jalan-jalan, " aku mengubah ceritaku, tidak seperti rencana semula. "dan dia menceritakan beberapa legeda tua, kurasa ia mencoba menakut-nakutiku. Dia menceritakan salah satunya..." aku berhenti, ragu-ragu.

"Lanjutkan," katanya.

"Tentang vampir." Aku sadar suaraku berbisik. Aku tak sanggup menatap wajahnya sekarang. Tapi aku melihat genggamannya menguat, mencengkram roda kemudi.

"Dan kau langsung teringat padaku?" Suaranya masih tenang.

"Tidak. Dia... menyebut keluargamu."

Jungkook tidak mengatakan apa-apa, terus menatap jalan. Sekonyong-konyong aku mengkhawatirkan keselamatan J-Hope.

"Dia hanya menganggap itu takhayul yang konyol," aku buru-buru berkata. "Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan." Sepertinya ucapanku itu tidak cukup; aku harus mengaku. "Itu salahku, aku yang memaksanya bercerita padaku."

"Kenapa?"

"Lauren mengatakan sesuatu tentang kau, dia mencoba memprovokasiku. Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang keluargamu tidak datang ke reservasi, hanya saja sepertinya ada maksud lain dibalik perkataannya. Jadi aku memancing J-Hope pergi berduaan denganku dan memancingnya agar mau bercerita," aku mengakuinya.

Jungkook tertawa, dan aku terkejut dibuatnya. Aku menatapnya. Jungkook tertawa, tapi sorot matanya sengit, menatap lurus ke depan.

"Memancingnya bagaimana?" tanyanya.

"Aku mencoba merayunya, dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga." Saat mengingatnya lagi, suaraku memancarkan keraguan.

"Kalau saja aku melihatnya." Jungkook tergelak.

"Dan kau menuduhku membuat orang terpesona, J-Hope Black yang malang."

Wajahku merah padam dan aku memandang ke luar jendela menembus malam. "Lalu apa yang kaulakukan?" ia bertanya lagi setelah beberapa saat.

"Aku mencari keterangan di Internet."

"Dan apakah hasilnya membuatmu yakin?" Suaranya nyaris terdengar tidak tertarik. Tapi tangannya semakin kuat mencengkeram kemudi.

"Tidak. Tidak ada yang cocok. Kebanyakan konyol. Kemudian..." aku berhenti.

"Apa?"

"Kuputuskan itu tidak penting," bisikku.

"Itu tidak penting?" nada suara Jungkook membuatku mendongak, akhirnya aku berhasil membuatnya menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan, denan sedikit amarah yang membuatku was-was.

"Tidak," kataku lembut. "Tidak penting bagiku apa pun kau ini."

Nada mengejek terdengar dalam suaranya. "Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan manusia?"

"Tidak."

Jungkook terdiam, kembali memandang lurus ke depan. Wajahnya pucat dan kaku.

"Kau marah," keluhku. "Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa."

"Tidak," katanya, tapi suaranya setegang wajahnya. "Lebih baik aku tahu apa yang kaupikirkan, bahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras.

"Jadi aku salah lagi?" tantangku.

"Bukan itu maksudku. 'Itu tidak penting!'" Jungkook mengutip kata-kataku, sambil mengatupkan rahangnya erat-erat.

"Aku benar?" tanyaku menahan napas.

"Apakah itu penting?"

Aku menghela napas panjang.

"Tidak juga." Aku diam sebentar. "Tapi aku memang penasaran." Setidaknya aku bisa mengendalikan suaraku.

Tiba-tiba Jungkook menyerah. "Apa yang membuatmu penasaran?"

"Berapa umurmu?"

"Tujuh belas," Jungkook langsung menjawab.

"Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?"

Bibirnya mengejang ketika memandang jalan. "Cukup lama," akhirnya Jungkook mengaku.

"Oke." Aku tersenyum, senang karena setidaknya dia mau jujur padaku. Jungkook menunduk menatapku dengan sorot memperhatikan, seperti yang dilakukannya sebelumnya, ketika dia khawatir aku syok. Aku tersenyum lebar, menghiburnya, dan ia cemberut.

"Jangan tertawa, tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?"

Bagaimanapun juga ia tertawa. "Mitos."

"Terbakar matahari?"

"Mitos."

"Tidur di peti mati?"

"Mitos." Jungkook ragu sesaat, lalu nada suaranya berubah aneh. "Aku tidak bisa tidur.

Butuh beberapa saat bagiku untuk memahami jawabannya. "Sama sekali?"

"Tidak pernah," katanya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menengok ke arahku dengan ekspresi sedih. Mata emasnya bertemu pandang denganku, dan aku tak mampu berkata-kata. Aku menatapnya sampai ia berpaling.

"Kau belum melontarkan pertanyaan paling penting." Suaranya tegang sekarang, dan ketika menatapku lagi, tatapannya dingin.

Aku berkedip, masih terkesima. "Yang mana?"

"Kau tidak peduli dengan makananku?" tanyanya sinis.

"Oh," gumamku, "itu."

"Ya, itu." Suaranya muram. "Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah?"

Aku tersentak. "Well, J-Hope mengatakan sesuatu tentang itu."

"Apa yang dikatakan J-Hope?" tanyanya datar.

"Dia bilang kau tidak... memburu manusia. Katanya keluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian hanya memburu binatang."

"Dia bilang kami tidak berbahaya?" Suaranya terdengar sangat sinis.

"Tidak juga. Dia bilang kalian seharusnya tidak berbahaya. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalian di tanah mereka, untuk berjaga-jaga."

Jungkook menatap ke depan, tapi aku tak bisa menduga apakah ia sedang melihat ke jalan atau tidak.

"Jadi, apakah ia benar? Tentang tidak memburu manusia?" Aku berusaha membuat suaraku sewajar mungkin.

"Suku Quileute punya ingatan yang panjang," bisiknya. Aku menganggapnya sebagai pembenaran.

"Tapi jangan senang dulu," ia mengingatkanku. "Mereka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami. Kami masih berbahaya."

"Aku tidak mengerti."

"Kami berusaha," Jungkook menjelaskan perlahan. "Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakukan. Tapi terkadang kami juga membuat kesalahan. Aku, contohnya, membiarkan diriku berduaan denganmu."

"Kau sebut ini kesalahan?" aku mendengar nada sedih dalam suaraku, tapi tak tahu apakah Jungkook mendengarnya juga.

"Kesalahan yang sangat berbahaya," gumamnya.

Kami sama-sama terdiam. Aku mengamati lampu sorot yang meliuk mengikuti jalan. Sorot lampu itu bergerak terlalu cepat; hingga tidak tampak nyata, seperti dalam video game. Aku sadar waktu berlalu begitu cepat, seperti jalanan hitam di bawah kami dan aku teramat sangat takut takkan ada lagi kesempatan untuk bisa bersamanya seperti ini, secara terbuka, tanpa dinding diantara kami. Kata-katanya mencerminkan nada final, dan aku tersentak dibuatnya. Aku tak boleh menyia-nyiakan setiap detik berharga bersamanya.

"Ceritakan lagi," pintaku putus asa, tak peduli apa yang dipikirkannya, hanya supaya aku bisa mendengar suaranya lagi. Jungkook menatapku, terkejut karena perubahan nada suaraku.

"Apa lagi yang ingin kau ketahui?"

"Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia," kataku, suaraku masih memancarkan keputusasaan. Aku menyadari mataku basah, dan aku bergulat melawan kesedihan yang mencoba menguasaiku.

"Aku tidak ingin menjadi monster." Suaranya sangat pelan.

"Tapi binatang tidak cukup bukan?"

Ia berhenti.

"Aku tidak yakin tentu saja, tapi aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dengan susu kedelai; kami menyebut diri kami vegetarian, lelucon diantara kami sendiri. Tidak benar-benar memuaskan lapar kami, atau dahaga tepatnya. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. Hampir sepanjang waktu." Suaranya berubah licik. "Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya."

"Apakah sekarang sangat sulit bagimu?" tanyaku.

Jungkook menghela napas. "Ya."

"Tapi kau tidak sedang lapar," kataku yakin, menyatakan, bukan bertanya.

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Matamu. Sudah kubilang aku punya teori. Aku memperhatikan bahwa orang-orang, khususnya cowok, lebih pemarah ketika mereka lapar."

Jungkook tergelak. "Kau ini memang pengamat, ya kan?

Aku tidak menjawab; hanya mendengarkan suara tawanya, berusaha mematrinya dalam ingatan.

"Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini, dengan Jimin?" tanyaku memecah kesunyian.

"Ya." Jungkook berhenti sesaat, seolah-olah akan mengatakan sesuatu atau tidak. "Aku tidak ingin pergi, tapi ini penting. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku sedang tidak haus."

"Kenapa kau tidak ingin pergi?"

"Itu membuatku... khawatir... berada jauh darimu." Tatapannya lembut tapi dalam, dan sepertinya membuatku lemah. "Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh ke laut atau tidak tertabrak hari Kamis lalu. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu. Dan setelah apa yang terjadi malam ini, aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan tanpa tergores." Jungkook menggeleng, lalu sepertinya teringat sesuatu

"Well, tidak benar-benar tanpa tergores."

"Apa?"

"Tanganmu," ia mengingatkanku. Aku memandang telapak tanganku, ke guratan-guratan yang nyaris sembuh di pergelangan tanganku. Matanya tak pernah luput dari apapun.

"Aku terjatuh," keluhku.

"Sudah kuduga." Bibirnya tersenyum. "Kurasa, mengingat siapa dirimu, kejadiannya bisa lebih buruk lagi, dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku. Tiga hari yang amat panjang. Aku benar-benar membuat Jimin kesal." Jungkook tersenyum menyesal.

"Tiga hari? Bukankah kau baru kembali hari ini?"

"Tidak, kami kembali hari Minggu."

"Lalu kenapa tak satupun dari kalian masuk sekolah?" Aku merasa kesal, nyaris marah memikirkan betapa kecewanya aku karena ia tidak muncul.

"Well, kau bertanya apakah matahari menyakitiku, dan memang tidak. Tapi aku tak bisa keluar jika matahari bersinar, setidaknya, tidak di tempat yang bisa dilihat orang."

"Kenapa?"

"Kapan-kapan akan kutunjukkan padamu," ia berjanji. Aku memikirkannya beberapa saat.

"Kau kan bisa meneleponku," kataku.

Jungkook bingung. "Tapi aku tahu kau baik-baik saja."

"Tapi aku tak tahu dimana kau berada. Aku, " aku ragu-ragu, mengalihkan pandanganku

"Apa?" suaranya yang lembut mendesakku.

"Aku tidak suka tidak bertemu denganmu. Itu juga membuatku was-was." Wajahku merona ketika mengatakannya terus terang.

Jungkook terdiam. Aku melirik was-was dan melihat ekspresi terluka di wajahnya. "Ah," erangnya pelan. "Ini salah."

Aku tak bisa memahami reaksinya. "Memangnya aku bilang apa?"

"Tidakkah kau mengerti, Taehyung? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana, tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh, itu masalah lain lagi." Ia memalingkan tatapannya yang terluka ke jalan, katakatanya meluncur terlalu cepat untuk dimengerti.

"Aku tak mau mendengar kau merasa seperti itu lagi." Suaranya pelan namun tegas. Kata-katanya melukaiku.

"Ini salah. Ini tidak aman. Aku berbahaya, Tae, kumohon, mengertilah."

"Tidak." Aku berusaha sangat keras supaya tidak terdengar seperti anak kecil yang merajuk

"Aku serius," geramnya.

"Begitu juga aku. Sudah kubilang, tidak penting kau itu apa. Sudah terlambat."

Suaranya menghardik, pelan dan parau. "Jangan pernah mengatakan itu."

Kugigit bibirku, lega ia tidak bisa mengetahui betapa itu menyakitiku. Aku memandang jalan. Pasti kami sudah dekat sekarang. Ia mengemudi terlalu cepat.

"Apa yang kaupikirkan?" tanya Jungkook, suaranya masih muram. Aku hanya menggeleng, tak yakin apakah aku sanggup bicara, Kurasakan tatapannya diwajahku, tapi aku tetap memandang lurus kedepan.

"Kau menangis?" Jungkook terdengar terkejut. Aku tidak sadar air mataku telah menetes. Bergegas aku menyekanya, dalam hati sangat yakin tak bisa menahannya lagi.

"Tidak," kataku, tapi suaraku parau.

Aku melihat Jungkook hendak mengulurkan tangan kanannya, ragu-ragu ingin meraihku, tapi kemudian mengurungkannya dan pelan-pelan meletakkannya lagi di roda kemudi.

"Maafkan aku." Suaranya sarat penyesalan. Aku tahu dia tidak sekadar minta maaf atas kata-katanya yang telah membuatku sedih. Kegelapan menyusup diantara keheningan.

"Katakan," Jungkook akhirnya bicara setelah beberapa menit, dan aku bisa mendengarnya berusaha lebih ceria.

"Ya?"

"Apa yang kaupikirkan malam ini, sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimu, kau tidak terlihat setakut itu, kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada sesuatu."

"Aku sedang mencoba mengingat bagaimana cara menghadapi serangan, kau tahu kan, ilmu bela diri. Aku bermaksud menghancurkan hidungnya hingga melesak ke kepalanya." Aku membayangkan cowok berambut gelap itu dengan penuh kebencian.

"Kau akan melawan mereka?" Ini membuatnya kecewa. "Tidakkah kau ingin melarikan diri?"

"Aku sering terjatuh kalau lari," aku mengakuinya.

"Bagaimana kalau berteriak minta tolong?"

"Aku juga bermaksud melakukannya."

Jungkook menggeleng. "Kau benar, aku jelas-jelas melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidup."

Aku menghela napas. Lalu mobil memelan, melewati perbatasan Forks. Hanya butuh kurang dari dua puluh menit.

"Apakah besok kita akan bertemu?" tanyaku.

"Ya, ada tugas yang harus dikumpulkan." Jungkook tersenyum.

"Aku akan menunggumu saat makan siang."

Konyol, setelah semua yang kami lalui malam ini, janji kecil itu masih saja membuat perutku mulas, dan aku tak mampu bicara.

Kami sudah berada didepan rumah ayah. Lampu-lampunya menyala, trukku ada di tempatnya, semuanya sangat wajar. Rasanya seperti terbangun dari mimpi. Jungkook menghentikan mobilnya, tapi aku tidak beranjak.

"Kau janji akan datang besok?"

"Aku janji." Jawab Jungkook.

Aku mempertimbangkannya beberapa saat, lalu mengangguk. Kutanggalkan jaketnya, dan menghirup aromanya untuk terakhir kali.

"Kau boleh menyimpannya, kau tidak punya jaket yang bisa kau pakai besok," ia mengingatkanku. Aku tetap Mengembalikan jaket itu padanya.

"Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie." Jelasku kemudian

"Oh, benar." Ia tersenyum.

Aku ragu-ragu, tanganku pada pegangan pintu, mencoba mengulur-ulur waktu.

"Tae?" panggilnya dengan nada berbeda, serius, tapi ragu.

"Ya?" aku berbalik padanya, terlalu antusias.

"Maukah kau berjanji padaku?"

"Ya," kataku, dan langsung menyesali kesepakatan tanpa syarat itu. Bagaimana kalau ia memintak menjauhinya? Aku tak bisa menepati janji itu.

"Jangan pergi ke hutan seorang diri."

Aku menatapnya bingung. "Kenapa?"

Dahinya mengerut, tatapannya tegang ketika menerawang melewatiku, terus menembus jendela. "Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. Anggap saja begitu."

Aku agak gemetar juga mendengar suaranya yang tiba-tiba dingin, tapi lega. Ini, setidaknya, janji yang mudah dipenuhi. "Terserah apa katamu."

"Sampai ketemu besok," desahnya, dan aku tahu ia menginginkanku pergi sekarang.

"Baik kalau begitu." Dengan engggan kubuka pintunya.

"Taehyung?" aku berbalik dan ia mendekat padaku, wajah tampannya yang pucat hanya beberapa senti dari wajahku. Jantungku berhenti berdetak.

"Tidur nyenyak ya," kata Jungkook. Napasnya menyapu wajahku, membuatku terpana.

Ini aroma menyenangkan yang sama dengan yang tercium di jaketnya, namun lebih kental. Mataku mengerjap, benarbenar terpesona. Lalu ia menjauh. Aku tak bisa bergerak hinggga otakku mengurai dengan sendirinya. Lalu aku melangkah canggung keluar, sampai harus berpegangan pada sisi pintu. Kupikir aku mendengarnya tertawa, tapi suaranya terlalu pelan jadi aku tak yakin.

Jungkook menunggu hingga aku sampai di pintu depan, kemudian aku mendengar mesin mobilnya menyala pelan. Aku berbalik dan melihat mobil silver itu menghilang di pojokan. Aku menyadari udara sangat dingin. Aku meraih kunciku tanpa berpikir, membuka pintu, dan masuk ke dalam.

Ayah langsung memanggilku dari ruang tamu. "Tae?"

"Ya ayah, ini aku." Aku beranjak masuk untuk menemuinya. Ia sedang menonton pertandingan baseball.

"Kau pulang cepat."

"Oh ya?" aku terkejut.

"Sekarang bahkan belum jam delapan," ia memberitahuku."Apakah kalian bersenang-senang?"

"Yeah, sangat menyenangkan." Kepalaku berputar-putar ketika mencoba mengingat saat-saat belanja tadi. "Mereka membeli gaun."

"Kau baik-baik saja?"

"Aku hanya lelah. Aku cukup banyak berjalan tadi."

"Well, barangkali kau harus berbaring." Ayah terdengar was-was. Aku membayangkan bagaimana rupaku.

"Aku akan menelepon Jessica dulu."

"Bukankah kau baru saja bersamanya?" ia bertanya, terkejut.

"Ya, tapi jaketku tertinggal di mobilnya. Aku mau mengingatkan supaya dia membawakannya besok."

"Well, biarkan dia sampai rumah dulu."

"Benar," aku menyetujuinya.

Aku pergi ke dapur, menjatuhkan diri di kursi, kelelahan. Sekarang aku benar-benar merasa pusing. Aku membayangkan apakah akhirnya aku bakal syok juga. Pegangan, perintahku. Tiba-tiba telepon berbunyi, mengagetkanku. Aku mengangkatnya. "Halo?" desahku.

"Tae?"

"Hei, Jess, aku baru saja mau meneleponmu."

"Kau sudah sampai di rumah?" Suaranya terdengar lega... dan terkejut.

"Ya. Jaketku tertinggal di mobilmu, bisakah kau membawakannya besok?"

"Tentu saja. Tapi ceritakan apa yang terjadi!" pintanya.

"Mmm, besok saja, di kelas Trigono, oke?"

Ia langsung mengerti. "Oh, ayahmu ada disana ya?" "Ya, benar."

"Oke, kalau begitu kita ngobrol besok. Bye!" Aku tahu ia sudah tidak sabar. "Bye, Jess."

Aku menaiki tangga perlahan, benar-benar nyaris pingsan, Aku melakukan semua ritual persiapan tidur tanpa memperhatikan apa yang kulakukan. Baru ketika aku berada di kamar mandi, airnya terlalu panas, menyengat kulitku, aku tersadar diriku kedinginan. Selama beberapa menit tubuhku bergetar cukup keras, hingga akhirnya semburan air hangat melemaskan otot-ototku yang kaku. Lalu aku berdiri di bawah pancuran, terlalu lelah untuk bergerak, sampai air hangatnya menyembur lagi.

Aku melangkah sempoyongan, membalut diriku dengan handuk, berusaha menahan panasnya air di tubuhku supaya aku tidak gemetar lagi. Aku langsung mengenakan pakaian tidur dan menyusup ke bawah selimut, meringkuk, memeluk diriku sendiri agar tetap hangat. Beberapa kali aku sempat gemetaran. Pikiranku masih berputar-putar dipenuhi bayangan yang tak bisa kumengerti, dan beberapa yang kucoba enyahkan. Awalnya tak ada yang jelas, tapi semakin aku nyaris tertidur, beberapa kemungkinan pun menjadi nyata.

Ada tiga hal yang kuyakini kebenarannya. Pertama, Jungkook adalah vampir. Kedua, ada sebagian dirinya, dan aku tak tahu seberapa kuat bagian itu, yang haus akan darahku. Dan ketiga, aku jatuh cinta padanya, tanpa syarat, selamanya.

Tidak ada yang perlu aku khawatirkan kan? Benarkan? Tidak apa-apa kan jika aku jatuh cinta pada Jungkook? Seorang vampir?

.

.

.

-TWILIGHT [KookV Version]-

.

.

.

Pagi ini, aku merasakan perasaan yang tidak bisa kugambarkan. Ada perasaan senang, gelisah, takut, dan juga, bersemangat? Jungkook mengajakku kehutan. Bayangkan itu? Jungkook, yang ternyata benar-benar seorang vampir, mengajakku kehutan. Berdua saja! Tidak akan terjadi apapun benar? Jungkook tidak akan menjadikanku sebagai mangsanya secara tiba-tiba. Benarkan?

Awalnya aku terus menggerutu dalam hati. Aku bukanlah pendaki yang baik. Aku ini ceroboh, ada banyak hal yang bisa saja membuatku terluka atau tersandung dan jatuh. Tapi ternyata tidak sesulit yang kukhawatirkan. Jalan yang kami lalui kebanyakan datar, Jungkook juga menahan dahan-dahan basah dan juntaian lumut supaya aku bisa lewat. Ketika jalan lurus yang dilaluinya terhalang pohon tumbang, atau bebatuan besar, ia membantuku, mengangkatku dengan memegangi sikuku, dan langsung melepasku begitu selesai melewati rintangan. Sentuhan dingin kulitnya selalu membuat jantungku berdebar tak karuan. Ketika terjadi untuk kedua kali, aku sempat melihat wajahnya dan aku seratus persen yakin bahwa Jungkook bisa mendengar detak jantungku. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari kesempurnaannya sebisa mungkin, tapi sering kali aku gagal. Setiap kali ketampanannya menusukku dengan kepedihan.

Kami lebih sering berjalan dalam diam. Kadang-kadang Jungkook melontarkan pertanyaan asal yang belum ditanyakannya beberapa hari setelah rahasia besarnya terungkap. Jungkook menanyakan hari ulang tahunku, guru-guru sekolah dasarku, hewan peliharaanku semasa kecil, dan harus kuakui setelah tiga ekor ikan yang kuperlihara berturut-turut mati, aku menyerah, tak ingin lagi memiliki hewan peliharaan. Jungkook menertawaiku, lebih keras dari biasanya, gema yang seperti lonceng memantul ke arah kami dari hutan yang kosong.

"Tapi aku punya anjing yang masih hidup sampai sekarang!" seruku, kesal sekali melihat dan mendengar tawanya itu.

"Ooooh.. benarkah?" Jungkook mengangkat alisnya, terlihat jelas ketidakpercayaan di raut wajahnya. "Aku tidak pernah melihatnya dirumah ayahmu." Lanjutnya.

Aku menunduk, tanganku memainkan ujung hoodie ku "Dibawa ibu.."

Terdengar dengusan geli dari Jungkook. "Ah, aku mengerti kenapa anjingmu selamat sampai sekarang Tae.."

Tanpa sadar aku mencubit pinggangnya. Jungkook malah kembali tertawa lebar. Huh, menyebalkan sekali!

Pendakian itu nyaris memakan waktu sepagian, tapi tak sekalipun ia menunjukkan tanda-tanda tidak sabar. Hutan itu membentang di sekeliling kami, dipenuhi jaring pepohonan kuno, dan aku mulai merasa gugup bahwa kami takkan menemukan jalan keluar lagi. Sebaliknya ia merasa sangat tenang, merasa nyaman berada di tengah-tengah jaring hijau, tak pernah tampak ragu tentang arah yang kami tuju.

Setelah beberapa jam cahaya menyusup di antara dedaunan berubah, warna kehijauan yang suram berganti jadi hijau cerah. Untuk pertama kali sejak kami memasuki hutan aku merasa gembira, yang dengan cepat berubah menjadi tidak sabar.

"Apakah kita sudah sampai?" godaku, pura-pura kesal.

"Hampir." Jungkook tersenyum melihat suasana hatiku yang sudah ceria lagi.

"Kau lihat cahaya terang di depan sana?"

Mataku menyipit memandang hutan lebat itu. "Apakah seharusnya aku bisa melihatnya?"

Jungkook nyengir, memperlihatkan gigi kelinci menggemaskannya. "Barangkali belum kasat oleh matamu."

"Waktunya mengunjungi dokter mata," gumamku. Ia nyengir semakin lebar.

Tapi kemudian, setelah melangkah seratus meter lagi, aku bisa melihat jelas cahaya di pepohonan di depan kami. Cahaya itu kuning, bukan hijau. Aku mempercepat langkah, hasratku semakin bertambah di setiap langkahku. Ia membiarkanku berjalan di depan sekarang, dan mengikutiku tanpa suara. Aku mencapai ujung kolam cahaya dan melangkah menembus tumbuhan pakis menuju tempat terindah yang pernah kulihat. Padang rumput itu kecil, melingkar sempurna, dan ditumbuhi bunga-bunga liar, biru keunguan, kuning, dan putih lembu. Tak jauh dari tempatku berdiri, aku bisa mendengar senandung sungai.

Matahari tepat bersinar di atas kami, menyinari lingkaran itu dengan kabut kekuningan. Aku berjalan pelan, melintasi rumput halus, bunga-bunga yang melambai-lambai, serta udara hangat dan keemasan. Aku benar-benar terpesona dengan pemandangan alam yang indah ini. Aku setengah membalikan badan, ingin berbagi ini semua dengan Jungkook, tapi dia tak ada di belakangku. Aku memandang berkeliling, dengan ketakutan mencari-carinya. Akhirnya aku menemukannya, berdiri dibawah bayangan pepohonan lebar ditepi kegelapan hutan, memperhatikanku dengan tatapan was-was.

Aku kembali melangkah ke arahnya, sorot mataku sarat oleh rasa ingin tahu. Tatapan Jungkook terasa hati-hati. Aku tersenyum menyemangati, mengulurkan tangan, sambil terus melangkah ke arahnya. Jungkook mengangkat tangan mengingatkan, dan aku pun ragu, lalu berhenti. Jungkook tampak menghela napas dalam-dalam, lalu ia melangkah ke tengah cahaya mentari siang.

Aku mengerjapkan mataku pelan. Melihat Jungkook dibawah sinar matahari benar-benar membuatku terpesona. Aku tidak akan pernah terbiasa dengannya, meskipun aku telah memandanginya seharian ini. Kulitnya terlihat putih meski agak memerah, tampak kemilau, seolah-olah ribuan berlian mungil tertanam di bawah permukaan kulitnya. Jungkook berbaring tidak bergerak direrumputan, kausnya tersingkap dan memamerkan dada bidangnya yang bercahaya, lengannya yang telanjang juga berkilauan. Kelopak matanya yang keunguan dan berbinar terpejam, meski tentu saja ia tidak tertidur. Patung yang sempurna, terukir dari bebatuan entah apa namanya, halus bagai pualam, berkilauan bagai kristal.

Terkadang bibirnya bergerak-gerak, begitu cepat hingga seperti gemetar. Tapi ketika ku tanya, katanya ia sedang bernyanyi untuk dirinya sendiri; terlalu pelan untuk bisa kudengar. Aku juga menikmati sinar matahari, meskipun udara tidak cukup kering bagiku. Aku ingin berbaring, seperti yang dilakukannya, dan membiarkan matahari menghangatkan wajahku. Tapi toh aku hanya duduk memeluk kakiku, dagu kuletakkan di lutut, tak ingin berpaling dari wajahnya. Angin bertiup pelan, membelai rambutku dan rerumputan yang menari-nari di sekitar tubuh Jungkook yang tak bergerak.

Padang rumput yang awalnya sangat mengagumkan bagiku, kini tampak pudar di samping keberadaan Jungkook yang bersinar cemerlang. Kuulurkan satu jariku dan kuelus punggung tangannya yang berkilauan, yang berada di dekatku dengan hati-hati, khawatir jika sosok ini akan menghilang bagaikan halusinasi. Terlalu indah untuk menjadi kenyataan dan hampir membuatku gila karena terpesona. Aku kembali mengagumi tekstur kulitnya yang sempurna, halus bagai satin, dingin seperti batu. Ketika aku memandangnya lagi, Jungkook tengah mengamatiku. Hari ini warnanya cokelat keemasan, lebih ringan dan hangat setelah berburu. Senyumnya dengan cepat mengembang di sudut bibirnya yang tak bercela.

"Aku tidak membuatmu takut, kan?" guraunya, tapi aku bisa mendengar rasa penasaran yang sesungguhnya dalam suara lembutnya.

"Tak lebih dari biasanya."

Jungkook tersenyum lebih lebar; giginya mengkilap di bawah sinar matahari. Aku beringsut mendekat, sekarang mengulurkan tangan untuk menyusuri lekuk lengan bawahnya dengn ujung jari. Jemariku gemetaran, dan aku tahu ini pun takkan luput dari perhatiannya.

"Kau keberatan?" tanyaku, karena ia sudah memejamkan mata lagi.

"Tidak," katanya tanpa membuka mata.

"Kau tak dapat membayangkan bagaimana rasanya." Jungkook mendesah.

Dengan lembut tanganku menyusuri otot lengannya yang sempurna, mengikuti jejak samar nadinya yang kebiruan menuju lipatan sikunya. Dengan tanganku yang lain, aku meraih dan membalikkan tangannya. Menyadari apa yang kuinginkan, Jungkook membalikkan tangan dengan cepat, gerakannya membuatku terkesiap. Aku terkejut, sesaat jari-jariku membeku di lengannya.

"Maaf," gumamnya. Aku mendongak tepat saat matanya yang berwarna emas menutup lagi

"Terlalu mudah menjadi diriku sendiri ketika bersamamu."

Kuangkat tangannya, membolak-balikkannya sambil mengamati sinar matahari yang menyinari telapak tangannya. Kudekatkan tangannya ke wajahku, mencoba melihat sisi kulitnya yang tersembunyi.

"Katakan apa yang kau pikirkan," Jungkook berbisik. Aku melihat dan mendapatinya menatapku, mendadak begitu lekat.

"Masih tidak biasa untukku, untuk tidak mengetahui." Ungkapnya.

"Kau tahu, kita semua merasa seperti itu setiap saat."

"Hidup ini sulit." Apakah aku hanya membayangkan nada kesal dalam suaranya?

"Tapi kau tidak memberitahuku."

"Aku sedang berharap dapat mengetahui apa yang kau pikirkan..." ujarku ragu-ragu.

"Dan?"

"Aku berharap dapat mempercayai bahwa dirimu nyata. Dan aku berharap aku tidak takut."

"Aku tidak ingin kau takut." Suara Jungkook menggumam lembut. Aku mendengar apa yang sebenarnya ingin Jungkook sampaikan tapi tidak sanggup ia katakana. Bahwa aku tidak perlu takut, bahwa tak ada yang perlu ditakuti.

"Well, bukan itu yang kumaksud, meskipun jelas itu sesuatu yang perlu dipikirkan."

Semua berlangsung begitu cepat hingga aku tidak melihat gerakannya, sekarang ia setengah duduk, bertopang pada lengan kanannya, telapak tangan kirinya masih dalam genggamanku. Wajah malaikatnya hanya beberapa senti dariku. Aku mungkin saja, seharusnya, menjauh dari kedekatannya yang tak disangka-sangka, tapi aku tidak bisa bergerak. Mata Jungkook yang keemasaan mempesonaku.

"Lalu apa yang kau takutkan?" bisiknya sungguh-sungguh.

Tapi aku tidak bisa menjawab. Seperti yang pernah kualami sebelumnya, aku mencium napas sejuknya di wajahku. Manis, nikmat, aroma yang membuatku meneteskan air liur. Tidak seperti apapun didunia ini. Secara naluriah, tanpa berpikir, aku mendekat padanya, menghirupnya. Dan ia menghilang, melepaskan tangannya dariku. Ketika akhirnya mataku bisa melihat dengan fokus, ia berada enam meter dariku, berdiri di ujung padang rumput kecil ini, di bawah bayangan gelap pohon fir raksasa. Jungkook menatapku, matanya tampak kelam dalam bayangan itu, ekspresinya tidak dapat kutebak. Aku bisa merasakan kekecewaan dan perasaan syok terpancar di wajahku. Tanganku yang kosong bagai tersengat.

"Maafkan... aku... Jungkook," bisikku. Aku tahu ia bisa mendengarnya.

"Beri aku waktu sebentar," sahutnya, cukup lantang untuk bisa didengar telingaku yang tidak terlalu peka. Aku duduk diam tak bergerak.

Setelah sepuluh detik yang terasa sangat lama, Jungkook berjalan kembali ke arahku, pelan untuk ukurannya. Ia berhenti, masih beberapa meter jauhnya dan duduk anggun di tanah, kakinya menyilang. Tak sekalipun Jungkook pernah melepaskan pandangannya dariku. Jungkook kemudian menghela napas panjang dua kali, lalu tersenyum menyesal.

"Aku sangat menyesal," ujarnya ragu. "Apakah kau bisa mengerti maksudku, kalau kubilang aku hanya manusia?"

Aku mengangguk sekali, tak bisa tersenyum mendengar gurauannya. Adrenalin memompa deras di nadiku ketika pemahamanku akan bahaya pelan-pelan muncul. Jungkook dapat menciumnya dari tempatnya duduk sekarang. Senyumnya berubah mengejek.

"Aku predator terbaik di dunia, bukankah begitu? Segala sesuatu tentang diriku yang mengundangmu mendekat, suaraku, wajahku, bahkan aromaku. Seperti aku membutuhkannya saja!" Tak disangka-sangka ia sudah bangkit berdiri, pergi, langsung lenyap dari pandangan, dan muncul kembali di bawah pohon yang sama seperti sebelumnya, setelah mengelilingi padang rumput hanya dalam setengah detik.

"Seperti kau bisa kabur dariku saja," Jungkook tertawa getir.

Jungkook mengulurkan satu tangannya, dan tanpa kesulitan mematahkan dahan yang sangat tebal dari batang pohonnya, hingga menimbulkan bunyi patahan yang mengerikan. Beberapa saat Jungkook menimbang-nimbang batang pohon itu dengan tangannya, lalu melemparnya begitu cepat, menghempaskannya ke pohon besar lain. Pohon itu bergoyang dan bergetar.

Lalu ia sudah berada di hadapanku lagi, setengah meter dariku, kaku bagai batu. "Seperti kau bisa melawanku saja," kata Jungkook lembut.

Aku duduk tak bergerak, merasa lebih takut padanya daripada selama ini. Aku tak pernah melihatnya begitu bebas di balik penyamarannya yang sempurna. Jungkook tak pernah benar-benar lebih tidak manusiawi... atau lebih menawan. Dengan wajah pucat dan mata membelalak, aku duduk bagai burung siap dimangsa ular. Matanya yang indah seolah berkilat-kilat karena perasaan senang yang meluap-luap. Lalu, ketika detik demi detik berganti, percikan itu memudar. Ekspresinya perlahan berganti menjadi kesedihan yang amat sangat.

"Jangan takut," Jungkook bergumam, suara lembutnya tak disengaja terdengar menggoda.

"Aku berjanji..." ujarnya ragu. "Aku bersumpah tidak akan menyakitimu." Jungkook kelihatan ingin meyakinkan dirinya sendiri daripada aku.

"Jangan takut," bisiknya lagi sambil mendekat, dengan amat perlahan. Jungkook duduk dengan gerakan tak bergegas yang disengaja, hingga wajah kami sejajar, hanya terpisah tiga puluh senti.

"Kumohon maafkan aku," pintanya.

"Aku bisa mengendalikan diri. Kau membuatku tak berdaya. Tapi sekarang aku dalam keadaan sangat terkendali." Jungkook menunggu, tapi aku masih tak sanggup bicara.

"Sejujurnya, hari ini aku tidak merasa haus." Jungkook mengedipkan mata.

Mendengar itu aku harus tertawa, meski suaraku gemetar dan tertahan.

"Apakah kau baik-baik saja?" tanyanya lembut, perlahan dan hati-hati mengulurkan tangannya yang bak pualam dan kembali menggenggam tanganku.

Aku memandang tangannya yang dingin dan halus, lalu matanya. Mata itu lembut, penuh penyesalan. Aku kembali menatap tangannya, kemudian dengan sengaja menelusuri garis tangannya dengan ujung jariku. Aku memandangnya dan tersenyum gugup. Senyuman balasannya sungguh mempesona.

"Jadi, tadi kita sampai dimana, sebelum aku bersikap kasar?" tanya Jungkook dengan aksen tempo dulu yang lembut.

"Sejujurnya, aku tidak bisa mengingatnya."

Jungkook tersenyum, tapi wajahnya tampak malu. "Kurasa kita sedang membicarakan kenapa kau merasa takut, disamping alasan yang sudah jelas."

"Oh, benar."

"Jadi?"

Aku menunduk menatap tangannya, dan dengan lembut menggerak-gerakkan tanganku di telapak tangannya yang berkilauan. Detik demi detik pun berlalu.

"Betapa mudahnya aku marah," desahnya. Aku menatap mata Jungkook, dengan cepat memahami bahwa setiap kejadian ini adalah hal baru baginya, juga bagiku. Dan terlepas dari begitu banyaknya hal yang tak terpahami yang dialaminya bertahun-tahun. Ini juga masih sama sulitnya bagi Jungkook. Kubersarkan hatiku melihat kenyataan ini.

"Aku takut... karena, untuk, well, alasan yang jelas, aku tak bisa terus berada di dekatmu. Dan aku takut keinginan untuk terus bersamamu lebih kuat dari seharusnya." Aku menunduk menatap tangan-tangannya ketika mengatakan semua itu. Sulit bagiku untuk menyatakannya secara gamblang.

"Ya," timpalnya pelan.

"Jelas, itu sesuatu yang perlu ditakutkan. Keinginan untuk bersamaku. Itu sungguh bukan keinginanmu yang terbaik."

Aku cemberut mendengarnya.

"Aku seharusnya pergi sejak lama," desahnya. "Aku seharusnya pergi sekarang. Tapi aku tak tahu apakah aku bisa."

"Aku tak ingin kau pergi," gumamku sedih, seraya menunduk lagi.

"Itulah sebabnya aku harus pergi. Tapi jangan khawatir. Pada dasarnya aku makhluk egois. Aku selalu menginginkan kehadiranmu untuk melakukan apa yang seharusnya kulakukan."

Aku tersenyum tulus "Aku senang."

"Jangan!" Jungkook menarik tangannya, kali ini lebih lembut; suaranya lebih parau daripada biasanya. Parau untuk ukurannya, tapi toh masih lebih indah daripada suara manusia mana pun. Sulit rasanya untuk mengikutinya, perubahan suasana hatinya yang tiba-tiba selalu membuatku terlambat memahami situasi, dan bingung.

"Bukan hanya keberadaanmu yang kuinginkan! Jangan pernah lupakan itu. Jangan pernah lupa aku lebih berbahaya bagimu daripada bagi orang lain." Jungkook berhenti dan aku melihatnya diam-diam memandang ke dalam hutan.

Aku berpikir sesaat.

"Sepertinya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau maksud, terutama bagian terakhir," kataku. Jungkook kembali menatapku dan tersenyum, belum apa-apa suasana hatinya lagi-lagi berubah.

"Bagaimana aku menjelaskannya?" godanya. "Tanpa membuatmu takut lagi... . hmmmm."

Tanpa terlihat memikirkannya, Jungkook meletakkan tangannya dalam genggamanku dan aku menggenggamnya erat-erat dengan kedua tanganku. Jungkook memandang tangan kami.

"Kehangatan ini luar biasa menyenangkan." Ia mendesah. Sesaat berlalu saat ia mengumpulkan pikirannya.

"Kau tahu bagaimana orang-orang menikmati rasa yang berbeda-beda?" Jungkook memulai

"Beberapa orang menyukai es krim cokelat, yang lain memilih stroberi?"

Aku mengangguk.

"Maaf aku menggunakan makanan sebagai perumpamaan, aku tak tahu cara lain untuk menjelaskannya."

Aku tersenyum. Ia balas tersenyum menyesal.

"Kau tahu, setiap orang punya aroma berbeda, inti berbeda. Bila kau mengunci seorang peminum dalam ruangan penuh bir basi, dia akan dengan senang meminumnya. Tapi dia bisa menolaknya, kalau ia memang ingin, kalau ia bukan peminum lagi. Sekarang, misalnya kau taruh sebotol brendi berumur ratusan tahun di ruangan itu, cognac langka terbaik, dan memenuhi ruangan itu dengan aromanya yang hangat, menurutmu, apa yang akan dilakukannya?" tanya Jungkook.

Kami duduk diam, saling menatap, mencoba membaca pikiran satu sama lain. Jungkook lah yang akhirnya mengakhiri keheningan itu.

"Barangkali itu bukan perbandingan yang tepat. Barangkali terlalu mudah untuk menolak brendi. Mungkin aku harus mengganti si peminum dengan pecandu heroin."

"Jadi maksudmu, aku semacam heroin bagimu?" godaku, berusaha mencairkan suasana. Jungkook langsung tersenyum, sepertinya menghargai usahaku.

"Ya, kau adalah heroin bagiku."

"Apakah itu sering terjadi?" tanyaku.

Jungkook memandang melampaui puncak pohon, memikirkan jawabannya.

"Aku membicarkan hal ini dengan saudara laki-lakiku." Jungkook masih memandang kejauhan.

"Bagi Namjoon hyung, kalian manusia kurang-lebih sama. Dialah yang terakhir bergabung dalam keluarga kami. Sulit baginya untuk sama sekali berpantang. Dia tak punya waktu untuk menumbuhkan kepekaan untuk membedakan aroma, juga rasa." Jungkook memandangku, raut wajahnya menyesal. Aku tidak terkejut saat dia menyebut 'hyung', malah sedikit senang, karena kami memiliki adat korea yang masih dilakukan.

"Maaf," katanya.

"Aku tak keberatan. Kumohon jangan khawatir kau akan membuatku tersinggung, atau takut, atau apapun. Begitulah caramu berpikir. Aku bisa mengerti, atau setidaknya mencoba. Jelaskan saja sebisamu."

Jungkook menghela napas dalam-dalam dan kembali menatap langit.

"Jadi, Namjoon hyung tak yakin apakah dia pernah menemukan seseorang yang sama", ia ragu, mencari-cari kata yang tepat,

"Menariknya seperti kau bagiku. Yang membuatku tidak menggunakan akal sehat. Jimin hyung bisa dibilang sudah lebih lama bersama kami, jadi dia mengerti maksudku. Dia mengatakan sudah dua kali mengalaminya, yang kedua lebih kuat daipada yang pertama."

"Dan kau?"

"Tidak pernah."

Kata itu melayang sesaat di sana, dalam embusan angin yang hangat.

"Apa yang dilakukan Jimin?" tanyaku memecah keheningan, sebenarnya ragu apakah aku harus memanggilnya dengan hyung juga.

Pertanyaan yang salah. Wajahnya menjadi gelap, tangannya mengepal dalam genggamanku. Jungkook membuang muka. Aku menunggu, tapi ia takkan menjawab.

"Kurasa aku tahu," kataku akhirnya.

Ia melirik; wajahnya muram, memohon.

"Bahkan yang terkuat di antara kita pun pernah khilaf, bukan begitu?"

"Apa yang kauminta dariku? Izinku?" Suaraku lebih tajam daripada yang kuinginkan. Aku mencoba membuat suaraku lebih ramah, aku bisa menebak harga yang harus dibayarnya karena telah bersikap jujur.

"Maksudku, apakah tidak ada harapan lagi?" Betapa tenangnya aku membahas kematianku sendiri!

"Tidak, tidak!" Jungkook langsung menyesal.

"Tentu saja ada harapan! Maksudku, tentu saja aku tidak akan..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, matanya nanar menatapku.

"Kisah kita berbeda. Jimin hyung.. dia tidak mengenal kedua gadis itu, mereka hanya kebetulan berpapasan denganya. Kejadiannya sudah lama sekali, dan dia tidak... setangkas dan sehati-hati sekarang."

Jungkook terdiam dan mengamatiku lekat-lekat ketika aku merenungkannya. "Jadi kalau kita bertemu... oh, di lorong gelap atau apa..." Nyaliku ciut.

"Aku harus mengerahkan segenap kemampuan agar tidak melompat ke tengah kelas penuh murid dan-"

Tiba-tiba Jungkook berhenti, memalingkan wajah. "Ketika kau berjalan melewatiku, aku bisa saja menghancurkan semua yang ayahku, maksudku dr. Choi bangun untuk kami, saat itu juga. Seandainya aku tidak menyangkal rasa hausku sejak, yah, bertahun-tahun yang lalu, aku takkan sanggup menghentikan diriku sendiri." Jungkook berhenti, memandang geram pepohonan.

Jungkook memandangku muram, kami mengingat saat-saat itu. "Kau pasti menduga aku kerasukan."

"Aku tidak mengerti alasannya. Bagaimana kau bisa membenciku secepat itu..."

"Bagiku rasanya kau seperti semacam roh jahat yang dikirim dari nerakaku sendiri untuk menghancurkanku. Aroma yang menguar dari kulitmu... Kupikir akan membuatku gila pada hari pertama itu. Dalam satu jam itu aku memikirkan seratus cara berbeda untuk memancingmu keluar dari ruangan itu bersamaku, agar aku bisa berdua saja denganmu. Dan aku terus melawan keinginan itu, memikirkan keluargaku, apa yang akan menimpa mereka akibat kebodohanku. Aku harus pergi, menghilang, sebelum aku mengucapkan kata-kata yang bisa membuatmu mengikutiku..."

Jungkook menatap ekspresiku yang gentar ketika mencoba memahami ingatannya yang pahit. Matanya yang keemasan membara di balik bulu matanya, menghipnotis dan mematikan.

"Kau pasti datang," ujarnya.

Aku mencoba berkata dengan tenang, "Tak diragukan lagi."

Dahinya mengerut ketika dia menatap tanganku, membebaskanku dari kekuatan tatapannya. "Kemudian, ketika aku sia-sia berusaha mengatur jadwalku agar bisa menghindarimu, kau ada disana, di ruangan kecil itu, begitu dekat. Aroma tubuhmu membuatku gila. Saat itu aku nyaris menculikmu. Hanya ada satu manusia lemah disana, sangat mudah untuk diatasi."

Tubuhku gemetar di bawah hangatnya matahari, ingatanku diperbaharui lewat matanya, hanya saja sekarang aku menyadari bahayanya. Mrs. Cope yang malang; aku bergidik lagi mengingat betapa aku nyaris menjadi penyebab kematiannya.

"Tapi aku menolaknya. Aku tidak tahu bagaimana. Aku memaksa diriku agar tidak menunggumu, tidak mengikutimu dari sekolah. Bagiku di luar lebih mudah, karena disana aku tak bisa mencium aromamu. Aku bisa berpikir lebih jernih, membuat keputusan yang tepat. Aku meninggalkan yang lain di dekat rumah, aku merasa sangat malu memberitahu mereka betapa lemahnya diriku, mereka hanya tahu ada sesuatu yang sangat salah, lalu aku pergi menemui ayah di rumah sakit, untuk memberitahunya aku akan pergi."

Aku menatapnya terpana.

"Aku bertukar mobil dengannya, bahan bakar mobilnya penuh dan aku tak ingin berhenti. Aku tidak berani pulang menemui ibu. Dia tidak akan tinggal diam sampai mengetahui apa yang terjadi. Dia akan mencoba meyakinkanku bahwa itu tidak penting... Keesokan paginya aku sudah berada di Alaska." Jungkook terdengar malu, seolah-olah mengakui betapa pengecut dirinya.

"Dua hari aku disana, bersama beberapa kenalan lama... tapi aku rindu rumah. Aku benci karena telah mengecewakan ibu dan yang lainnya, keluarga adopsiku. Dalam udara bersih pegunungan, sulit mempercayai betapa sangat menggodanya dirimu. Aku meyakinkan diriku sendiri, bahwa melarikan diri menunjukkan betapa lemah diriku. Sebelumnya aku juga pernah menghadapi cobaan, tidak sebesar ini, dekat pun tidak, tapi aku kuat. Siapa kau ini sebenarnya huh Kim Taehyung?" tiba-tiba Jungkook nyengir, "yang mengusirku dari tempat yang ingin kutinggali? Jadi aku pun kembali..." Pandangannya menerawang.

Dan aku tak sanggup berkata-kata.

"Aku melakukan tindakan pencegahan tentu saja, berburu, makan lebih banyak daripada biasanya sebelum bertemu lagi denganmu. Aku yakin aku cukup kuat untuk memperlakukanmu seperti manusia lainnya. Aku sombong mengenai hal ini." ujarnya dilanjutkan dengan kekehan singkat.

"Kenyataan bahwa aku tak dapat membaca pikiranmu untuk mengetahui reaksimu terhadapku benar-benar menggangguku. Aku tidak terbiasa melakukannya lewat perantara, mendengarkan pikiranmu melalui pikitan Jessica... pikirannya tidak terlalu orisinal, dan sangat mengganggu harus merendahkan diri seperti itu. Lagipula aku tidak tahu apakah kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. Sangat menyebalkan." Jungkook cemberut mengingatnya. Hei, dan itu terlihat menggemaskan.

"Aku ingin kau melupakan sikapku pada hari pertama itu, bila mungkin, jadi aku mencoba berbicara denganmu seperti yang akan kulakukan dengan siapapun. Sebenarnya aku sangat ingin, aku berharap dapat menguraikan sebagian pikiranmu. Tapi kau terlalu menarik, aku mendapati diriku tertawan dalam ekspresimu... dan sesekali kau mengibas-ibaskan tangan atau memainkan rambutmu dan aroma yang menguar membuatku terkesima lagi... "

"Tentu saja, kemudian kau nyaris mati tepat di hadapanku. Baru setelahnya aku menemukan alasan yang sangat tepat mengapa aku beraksi saat itu, karena jika aku tidak menyelamatkanmu, jika darahmu tercecer disana didepanku, kurasa aku takkan bisa menghentikan diriku mengungkapkan siapa diri kami sebenarnya. Tapi aku baru memikirkan alasan itu setelahnya. Saat itu, yang bisa kupikirkan hanya, 'Jangan dia'."

Jungkook memejamkan mata, larut dalam pengakuannya yang menyiksa. Aku mendengarkan, lebih antusias daripada rasional. Akal sehatku mengingatkan seharusnya aku takut. Tapi sebagai ganti aku lega akhirnya bisa mengerti. Aku sangat bersimpati atas penderitaannya, bahkan sekarang, ketika ia mengakui hasratnya untuk menghabisi nyawaku.

Akhirnya aku bisa bicara, meski suaraku samar-samar. "Di rumah sakit?"

Matanya berkilat-kilat menatapku. "Aku kaget Tae. Aku tak percaya aku telah membahayakan diri kami, menaruh diriku dalam kuasamu, dirimu, dari semua orang yang ada. Seolah-olah aku memerlukan alasan lain untuk membunuhmu." Kami beringsut menjauh ketika kata itu terucap.

"Tapi efeknya justru kebalikannya," Jungkook segera melanjutkan.

"Aku bertengkar dengan Suga hyung, Jimin hyung, dan Namjoon hyung ketika mereka bilang sekaranglah waktunya... pertengkaran terburuk kami. Ayah membelaku, begitu juga Jin hyung." Jungkook meringis ketika menyebut nama itu. Aku tak bisa menebak alasannya.

"Ibu menyuruhku melakukan apa saja yang harus kulakukan untuk tetap tinggal." Ia menggeleng tulus.

"Sepanjang keesokan harinya, aku membaca pikiran setiap orang yang berbicara denganmu, dan aku terkejut kau memegang kata-katamu. Aku sama sekali tidak memahami dirimu. Tapi aku tahu, aku tak bisa terlibat lebih jauh lagi denganmu. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhimu. Dan setiap hari aroma kulitmu, napasmu, rambutmu... memukulku sama kerasnya seperti hari pertama."

Mata kami kembali bertemu, dan aku terkejut melihat betapa lembut tatapannya.

"Karenanya," lanjutnya, "akan lebih baik jika aku mengungkapkan siapa kami pada saat pertama itu, daripada sekarang, disini, tanpa saksi dan apa pun yang bisa menghentikanku, seandainya aku akan menyakitimu."

Cukup manusiawi bagiku untuk bertanya, "Kenapa?"

"Kim Taehyung." Jungkook mengucapkan nama lengkapku dengan hati-hati, kemudian mengacak-acak rambutku dengan tangannya. Sentuhan ringannya membuat sekujur tubuhku tegang.

"Taehyung, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika aku sampai menyakitimu. Kau tidak tahu betapa itu menyiksaku." Jungkook menunduk, kembali malu-malu.

"Bayangan dirimu, kaku, putih, dingin... tak bisa melihatmu merona lagi, tak bisa melihat kelebatan intuisi di matamu ketika mengetahui kepura-puraanku... rasanya tak tertahankan." Jungkook menatapku dengan matanya yang indah, namun tersiksa.

"Kau yang terpenting bagiku sekarang. Terpenting bagiku sampai kapan pun."

Kepalaku berputar karena betapa cepatnya pembicaraan kami berubah-ubah. Dari topik menyenangkan tentang kematianku, sekonyong-konyong kami mengungkapkan perasaan kami. Jungkook menunggu, dan meskipun aku menunduk mengamati tangan kami, aku tahu matanya yang keemasan mengawasiku.

"Kau sudah tahu bagaimana perasaanku, tentu saja," kataku akhirnya.

"Aku ada disini... yang secara kasar berarti aku lebih baik mati daripada harus menjauh darimu." Wajahku muram. "Bodohnya aku."

"Kau memang bodoh," Jungkook menimpaliku sambil tertawa. Tatapan kami bertemu, dan aku ikut tertawa. Kami sama-sama menertawakan kebodohan dan kemustahilan situasi itu.

"Jadi sang singa jauh cinta pada domba..." gumamnya. Aku berpaling, menyembunyikan mataku sementara hatiku senang mendengar kata-kata itu.

"Domba yang bodoh," desahku.

"Singa sakit, yang suka menyakiti dirinya sendiri." Lama sekali Jungkook memandang hutan yang gelap, dan aku bertanya-tanya kemana pikirannya telah membawanya.

"Kenapa?" aku memulai, kemudian berhenti, tak yakin bagaimana meneruskannya.

Jungkook memandangku dan tersenyum; sinar matahari membuat wajah berkilauan.

"Ya?"

"Katakan padaku kenapa kau lari dariku sebelumnya."

Senyumnya memudar. "Kau tahu kenapa."

"Tidak, maksudku, tepatnya apa salahku? Aku harus berjaga-jaga, tahu, jadi sebaiknya aku mulai belajar apa yang tidak seharusnya kulakukan. Ini, contohnya", aku membelai punggung tangannya, "Sepertinya tidak masalah."

Jungkook tersenyum lagi. "Kau tidak melakukan kesalahan apapun, Taehyung. Itu salahku.

"Tapi aku ingin membantu, kalau bisa, agar ini tidak lebih sulit lagi bagimu."

"Well..." Sesaat ia memikirkannya.

"Masalahnya kau begitu dekat. Kebanyakan manusia dengan sendirinya menjauhi kami, mundur karena keanehan kami... Aku tidak berharap kau akan sedikit ini. Dan aroma lehermu."

Jungkook berhenti sesaat, melihat apakah ia membuatku marah.

"Baik kalau begitu," kataku bergurau, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang.

Aku melipat daguku. "Aku takkan memperlihatkan leherku." Dengan sengaja aku menutupi leherku oleh kerah hoodie ini.

Berhasil, Jungkook tertawa. "Tidak, sungguh, lebih pada kejutannya daripada yang lainnnya."

Jungkook mengangkat tangannya yang bebas, dan menaruhnya dengan lembut di leherku. Aku duduk diam tak bergerak, sentuhannya yang dingin bagai peringatan alami, peringatan yang menyuruhku untuk takut. Namun tak ada rasa takut dalam diriku, yang ada justru perasaan lain...

"Lihat, kan," kata Jungkook. "Benar-benar tidak apa-apa."

Darahku mengalir deras, dan aku berharap bisa memperlambatnya, sadar ini pasti membuat segalanya lebih sulit, detak jantung dalam nadiku. Pasti ia mendengarnya.

"Rona pipimu cantik Tae," gumamnya. Dengan lembut Jungkook membebaskan tangannya yang lain. Tanganku jatuh lunglai dipangkuan. Jungkook membelai pipiku, lalu memegang wajahku di antara sepasang tangan pualamnya.

"Jangan bergerak," bisiknya, seolah aku belum membeku saja.

Perlahan, tanpa mengalihkan pandangan dariku, Jungkook mencondongkan wajah ke arahku. Lalu tiba-tiba, namun dengan teramat lembut, ia menempelkan pipinya yang dingin di relung leherku. Aku tak bisa bergerak, meskipun aku ingin bergerak. Aku mendengarkan suara napasnya yang teratur, mengawasi bagaimana matahari dan angin bermain-main di rambutnya yang perunggu, lebih manusiawi daripada bagian dirinya yang lain.

Dengan kelambatan yang disengaja, tangannya meluncur menuruni leherku. Aku gemetar, dan aku mendengarnya terengah. Tapi tangannya tidak berhenti ketika dengan lembut beralih ke bahuku, kemudian berhenti. Wajahnya bergeser kesamping, hidungnya menyusuri tulang selangkaku. Jungkook berhenti, salah satu sisi wajahnya menempel lembut di dadaku.

Mendengarkan detak jantungku.

Aku tak tahu berapa lama kami duduk diam tanpa bergerak. Bisa jadi berjam-jam. Akhirnya detak jantungku memelan, tapi Jungkook tidak bergerak atau bicara lagi ketika memegangku. Aku tahu kapan pun ini bisa jadi kelewat berlebihan, dan hidupku bisa berakhir, begitu cepat hingga aku bahkan mungkin takkan menyadarinya. Dan aku tak bisa membuat diriku ketakutan. Aku tak bisa memikirkan apa pun, kecuali bahwa ia sedang menyentuhku.

Kemudian, terlalu cepat, Jungkook melepaskanku. Sorot matanya damai.

"Tidak akan sesulit itu lagi," katanya puas.

"Apakah sulit sekali bagimu?"

"Tak seburuk yang kubayangkan. Kau?"

"Tidak, itu tidak buruk... bagiku."

Jungkook tersenyum mendengar nada suaraku. "Kau tahu maksudku." Aku tersenyum.

"Kemarilah." Jungkook meraih tanganku dan menaruhnya di pipinya. "Bisa kaurasakan hangatnya?"

Kulitnya yang biasanya dingin terasa hangat. Tapi aku nyaris tidak memperhatikan, berhubung aku sedang menyentuh wajahnya, sesuatu yang selalu kuimpikan sejak hari pertama aku melihatnya.

"Jangan bergerak," bisikku.

Tidak ada yang bisa setenang Jungkook. Dia memejamkan mata dan diam tak bergerak bagai batu, sebuah ukiran dalam genggamanku.

Aku bergerak sangat pelan, berhati-hati agar tidak membuat gerakan yang tidak diinginkan. Kubelai pipinya, dengan lembut mengusap kelopak matanya, bayangan keunguan di bawah matanya. Kutelusuri bentuk hidungnya yang sempurna, kemudian, dengan sangat berhati-hati kutelusuri bibirnya yang tak bercela. Jungkook membuka bibirnya dibawah tanganku, dan aku bisa merasakan hembusan napasnya yang sejuk di ujung jemariku. Aku ingin mencondongkan tubuh, menghirup aromanya. Jadi kujatuhkan tanganku dan menjauh, tak ingin mendorongnya terlalu jauh.

Jungkook membuka mata, dan keduanya tampak kelaparan. Bukan dengan cara yang membuatku takut, tapi yang membuat otot perutku tegang dan jantungku berdebar-debar lagi.

"Kuharap," Jungkook berbisik "kuharap kau bisa merasakan... kesulitan... kebingungan... yang kurasakan. Agar kau mengerti."

Jungkook mengulurkan tangannya kerambutku, kemudian dengan hati-hati mengusap wajahku.

"Katakan padaku," desahku.

"Kurasa aku tidak bisa. Sudah kubilang, di lain sisi, rasa lapar, haus, yang menjadikanku makhluk tercela, kurasakan padamu. Dan kurasa kau bisa memahami itu. Meskipun", ia setengah tersenyum, "berhubung kau tidak kecanduan obat terlarang, barangkali kau tak bisa mengerti sepenuhnya."

"Tapi..." Jemarinya menyentuh lembut bibirku, membuatku gemetaran lagi. "Ada hasrat lain. Hasrat yang tak bisa kumengerti, sesuatu yang asing bagiku."

"Aku mungkin mengerti itu lebih baik dari yang kau sangka."

"Aku tak terbiasa merasa begitu manusiawi. Apakah rasanya selalu seperti ini?"

"Bagiku?" Aku berhenti. "Tidak, tidak pernah. Tidak pernah sebelumnya."

Jungkook menggenggam tanganku diantara kedua tangannya. Begitu rapuh dalam kekuatan baja yang dimilikinya.

"Aku tak tahu bagaimana caranya dekat denganmu," ia mengaku. "Aku tak tahu apakah aku bisa."

Dengan sangat perlahan kucondongkan tubuhku, mengingatkannya lewat tatapanku. Kutempelkan pipiku di dadanya yang keras. Aku hanya bisa mendengar desah napasnya, tak ada yang lain.

"Ini sudah cukup," desahku, memejamkan mata.

Dengan gerakan yang amat manusiawi Jungkook memelukku dan menekankan wajahnya di rambutku. "Untuk urusan ini kau lebih baik daripada yang kusangka," sahutku.

"Aku punya naluri manusia, naluri itu mungkin saja terkubur dalam-dalam, tapi masih ada."

Lama sekali kami duduk seperti itu; aku bertanya-tanya mungkinkah Jungkook sama enggannya untuk bergerak seperti halnya diriku. Tapi aku bisa melihat cahaya mulai memudar, bayangan hutan mulai menyentuh kami, dan aku pun mendesah.

"Kau harus pergi." Jungkook berucap tiba-tiba.

"Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku."

"Sudah jelas." Aku bisa mendengar senyuman dalam perkataannya. Jungkook meraih bahuku, dan aku menatap wajahnya.

"Bisakah aku memperlihatkanmu sesuatu?" pintanya, kegembiraan tiba-tiba menyala-nyala di matanya.

"Memperlihatkan apa?"

"Akan kuperlihatkan bagaimana aku berjalan-jalan dihutan." Jungkook mengamati ekspresiku.

"Jangan khawatir, kau akan sangat aman, dan kita akan tiba di trukmu lebih cepat daripada yang kau bayangkan." Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah hingga jantungku nyaris berhenti berdetak.

"Apakah kau akan berubah menjadi kelelawar?" tanyaku hati-hati.

Jungkook tertawa, lebih keras daripada yang pernah kudengar. "Seolah-olah aku belum pernah mendengar yang satu itu saja!"

"Benar, aku yakin kau sering mendengarnya."

"Ayo, pengecut kecilku, naik ke punggungku."

Aku menunggu untuk meyakinkan apakah Jungkook sedang bergurau, tapi tampaknya dia bersungguh-sungguh. Jungkook tersenyum melihat keraguanku, lalu mengulurkan tangan meraihku. Jantungku bereaksi, meskipun tak bisa mendengar pikiranku, ia tetap bisa mengetahuinya lewat detak jantungku. Kemudian Jungkook mengayunkanku ke punggungnya tanpa aku perlu bersusah payah. Setelah itu aku mengaitkan tangan dan kakiku di tubuhnya begitu erat hingga bisa membuat orang biasa tersedak. Rasanya seperti memeluk batu.

"Aku agak berat daripada tas ranselmu," aku mengingatkannya.

"Hah!" dengusnya. Aku tak pernah melihatnya begitu bersemangat sebelumnya.

Jungkook membuatku terkejut ketika tiba-tiba Jungkook meraih tanganku, menekankan telapak tanganku ke wajahnya, dan menghirupnya dalam-dalam.

"Selalu lebih mudah daripada sebelumnya," gumamnya. Kemudian ia berlari.

Jika sebelumnya keberadaannyya pernah membuatku mengkhawatirkan kematian, itu tak sebanding dengan yang kurasakan saat ini. Jungkook menerobos kegelapan hutan yang lebat bagai peluru, bagai hantu. Tak ada suara, tak ada bukti ia memijakkan kakinya di tanah. Irama napasnya tak pernah berubah, tidak menunjukkan bahwa ia mengerahkan segenap tenaga. Tapi pepohonan di sekitar kami berkelebat sangat cepat, selalu luput menyentuh kami.

Aku terlalu takut untuk memejamkan mata, meskipun hawa hutan yang sejuk menyapu wajahku dan membakarnya. Aku merasa seolah-olah dengan bodoh menjulurkan kepala ke luar jendela pesawat yang sedang mengudara. Dan untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasa mabuk. Kemudian selesai. Kami mendaki berjam-jam tadi pagi untuk mencapai padang rumput dan sekarang, dalam hitungan menit, kami sudah sampai di truk.

"Asyik, bukan?" Suaranya meninggi, senang.

Jungkook berdiri tak bergerak, menungguku turun. Aku mencobanya, tapi otot-ototku kaku. Lengan dan kakiku tetap mengunci tubuhnya sementara kepalaku berputar-putar dan membuatku tidak nyaman.

"Taehyung?" panggilnya, sekarang terdengar was-was.

"Rasanya aku perlu berbaring," aku menahan napas.

"Oh, maaf." Jungkook menungguku, tapi aku masih tetap tak bisa bergerak.

"Sepertinya aku butuh bantuan," ujarku.

Jungkook tertawa pelan, dan dengan lembut melepaskan cengkramanku di lehernya. Kupasrahkan diriku. Kemudian ia menarikku menghadapnya, menggendongku seolah-olah aku kanak-kanak. Jungkook memelukku sebentar, lalu hati-hati menurunkanku ke atas hamparan pakis.

"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.

Aku tak yakin apa yang kurasakan saat kepalaku berputar cepat sekali. "Rasanya pusing.

"Letakkan kepalamu di antara kedua lututmu."

Aku mencobanya, dan lumayan membantu. Aku bernapas palan, menjaga kepalaku tetap tenang. Aku merasakan Jungkook duduk di sisiku. Waktu berlalu, dan akhirnya aku dapat mengangkat kepala. Telingaku berdenging.

"Kurasa itu bukan gagasan yang bagus," gumamnya.

Aku mencoba bersikap positif, namun suaraku lemah. "Tidak, itu tadi sangat menarik.

"Yah! Wajahmu sepucat hantu begitu, oh bukan, kau sepucat aku!"

"Seharusnya tadi aku memejamkan mata."

"Lain kali ingat itu."

"Lain kali!" erangku.

Jungkook tertawa. Suasana hatinya masih bagus.

"Tukang pamer," gumamku.

"Buka matamu, Taehyung," ujarnya pelan.

Dan disanalah dia, wajahnya sangat dekat denganku. Ketampanannya memukauku, terlalu berlebihan, kelebihan yang belum bisa membuatku terbiasa.

"Aku sedang berpikir, ketika aku berlari..." Jungkook terdiam.

"Kuharap bukan tentang tidak menabrak pepohonan."

"Tae, kau lucu," Jungkook tergelak. "Berlari adalah sesuatu yang alami, bukan sesuatu yang harus kupikirkan."

"Tukang pamer," gumamku lagi. Jungkook tersenyum.

"Bukan," lanjutnya, "aku berpikir ada sesuatu yang ingin kucoba." Dan ia memegangi wajahku dengan tangannya lagi.

Aku tak bisa bernafas. Jungkook ragu-ragu, tidak seperti biasanya, seperti cara manusia. Bukan seperti pria yang ragu-ragu sebelum mencium psangannya, untuk mengira-ngira bagaimana reaskinya, untuk melihat bagaimana wanita itu menerimanya. Barangkali ia ingin mengulur-ulur waktu, saat penantian yang tepat terkadang lebih baik daripada ciuman itu sendiri. Jungkook ragu untuk menguji dirinya sendiri, untuk mengetahui apakah ini aman, untuk memastikan dirinya masih dapat mengendalikan hasratnya.

Kemudian bibir pualamnya yang dingin menekan lembut bibirku. Tapi kami sama sekali tidak siap dengan reasksiku. Darahku mendidih dan membara di bibirku. Napasku terengah-engah. Jariku meremas rambutnya, mencengkeram tubuhnya di tubuhku. Bibirku membuka saat kuhirup aroma tubuhnya yang keras. Tiba-tiba kurasakan Jungkook mematung di bawah bibirku. Dengan lembut dan tegas tangannya mendorong wajahku. Aku membuka mata dan melihat ekspresinya yang waspada.

"Ups," desahku.

"Itu namanya melecehkan."

Tatapannya liar, rahangnya menegang, meski begitu artikulasinya tetap sempurna. Jungkook memegang wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Aku terpana dibuatnya.

"Haruskah aku...?" Aku mencoba menahan diri, memberinya sedikit ruang. Tangannya tidak mengizinkanku bergerak sedikitpun.

"Tidak, aku bisa mentolerirnya. Tolong tunggu sebentar." Suaranya sopan, terkendali.

Aku terus menatap matanya, memperhatikan hasrat yang berkobar-kobar di dalamnya mulai memudar dan melembut. Kemudian Jungkook tersenyum, dan senyumnya tak disangka-sangka nakal. "Nah," katanya, jelas puas dengan dirinya sendiri.

"Bisa ditolerir?" tanyaku.

Jungkook tertawa keras. "Aku lebih kuat daripada yang kuduga. Senang mengetahuinya.

"Kuharap aku bisa mengatakan hal yang sama. Maafkan aku."

"Kau toh hanya manusia biasa."

"Terima kasih banyak," sahutku getir.

Dalam satu gerakan yang luwes dan cepat dia sudah berdiri. Jungkook mengulurkan tangan padaku, gerakan yang tak kusangka-sangka. Aku begitu terbiasa berhati-hati agar kami tidak bersentuhan. Kugenggam tangannya yang dingin, memerlukannya lebih dari dugaanku. Keseimbanganku belum kembali sepenuhnya.

"Apa kau masih mau pingsan akibat lari kita tadi? Atau karena ciumanku yang menghanyutkan?" Betapa ceria, betapa manusianya dia ketika sedang tertawa sekarang ini, wajah manusianya tampak tenang. Dia adalah Jungkook yang berbeda dari yang kukenal. Dan aku merasa lebih tergila-gila lagi padanya. Akan menyakitkan bila harus berpisah darinya sekarang.

"Aku tidak yakin, aku masih pening," akhirnya aku berhasil menyahut. "Kurasa gabungan keduanya."

"Kurasa kau harus membiarkanku mengemudi."

"Kau gila ya?" protesku.

"Aku bisa mengemudi lebih baik darimu bahkan pada hari terbaikmu," godanya

"Refleksmu jauh lebih lambat." Aku tidak sakit hati dengan kalimatnya ini.

"Aku yakin itu benar, tapi kurasa keberanianku, atau trukku, bisa menerimanya."

"Percayalah Tae, sedikit saja."

Kuselipkan tanganku di saku celana, menggenggam kunci mobilku erat-erat. "Tidak. Tidak sedikitpun."

Alisnya terangkat tidak percaya. Aku mulai mengitarinya, menuju sisi pengemudi. Jungkook mungkin membiarkanku lewat kalau saja aku tidak terhuyung. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Jungkook mungkin tidak akan membiarkanku lewat sama sekali. Lengannya menciptakan perangkap tak tertembus di sekeliling pinggangku.

"Taehyung, aku telah mengerahkan segenap usaha yang kubisa untuk menjagamu tetap hidup. Aku takkan membiarkanmu mengemudi ketika berjalan luruspun kau tidak bisa. Lagipula, seorang teman takkan membiarkan temannya mengemudi dalam keadaan mabuk," kutipnya sambil tergelak. Aku bisa mencium aroma manis yang tak tertahankan dari dadanya.

"Mabuk?" timpalku keberatan.

"Kau mabuk oleh kehadiranku." Jungkook memamerkan senyumnya yang menggoda lagi.

"Aku tak bisa menyangkal yang satu itu," desahku. Tak ada jalan keluar, aku tak bisa menolaknya untuk apapun. Aku mengangkat kunci trukku tinggi-tinggi dan menjatuhkanya, mengamati tangannya berkelebat bagai kilat dan menyambarnya tanpa suara.

"Santai saja, trukku sudah cukup tua."

"Sangat masuk akal," timpalnya.

"Dan apakah kau sama sekali tidak terpengaruh?" tanyaku jengkel. "Oleh kehadiranku?"

Lagi-lagi ekspresinya yang mudah berubah berganti lagi, menjadi lembut dan hangat. Awalnya Jungkook tidak menjawab; hanya menundukkan wajahnya ke arahku, dan mengusapkan bibirnya perlahan sepanjang rahangku, mulai dari telinga ke dagu, berulang-ulang. Aku gemetaran.

"Bagaimanapun," akhirnya Jungkook bergumam, "refleksku lebih baik."

.

.

.

-TWILIGHT [KookV Version]-

.

.

.

Hai gaeeeeesssss~~~ ada yang menunggu cerita ini? Semoga ada TT

Ini lanjutannya yaaah.. 89 pages! Udah cukup panjang kaaan?

Disini full of KookV.. aye~ XD

Okay, jangan lupa kasih review nya yaaaa?

Terima kasih sudah membaca, semoga tidak mengecewakan~~

Btw, aku sedang jatuh cinta sama lagu Go Go Go & Mic Drop! So liiiit!