TWILIGHT (KookV Version)

.

.

.

.

.

.

Pagi telah tiba, satu lagi pagi dengan mendung menyambutku. Aku masih terbaring, dengan lengan yang menutupi mata. Sesuatu, sebuah mimpi yang coba kuingat, mencoba menyusup masuk kedalam kesadaranku. Aku mengerang dan berguling ke sisi, berharap bisa tertidur lagi. Lalu bayangan hari kemarin membanjiri kesadaranku. Kemarin, Jungkook memutuskan untuk menginap dirumahku, dikamar. Tentu tanpa sepengetahuan ayah, dengan melompat masuk lewat jendela. Jungkook.. disini.. semalaman kan?

"Oh!" Aku bangun dan duduk begitu cepat hingga kepalaku pusing.

"Rambutmu terlihat seperti tumpukan jerami... tapi aku menyukainya." Suara yang tenang terdengar dari kursi goyang di sudut kamar. Aku membulatkan mataku.

"Jungkook! Kau tidak pergi!" Aku berseru gembira, dan tanpa berpikir langsung menghambur ke pangkuannya. Begitu menyadari apa yang kulakukan, aku membeku, terkejut karena semangatku yang menggebu. Aku menatapnya, khawatir tindakanku telah melewati batas.

Tapi sepertinya tida, Jungkook malah tertawa.

"Tentu saja," jawabnya kaget, tapi kelihatan senang melihat reaksiku. Tangannya mengusap-usap punggungku.

Aku membaringkan kepalaku hati-hati di bahunya, menghirup aroma kulitnya. "Aku yakin itu mimpi."

"Kau tidak sekreatif itu, lagi," dengusnya.

"oh, ayah!" Aku teringat, tanpa berpikir melompat menuju pintu.

"Dia pergi sejam yang lalu, setelah memasang kembali kabel akimu, kalau boleh kutambahkan. Harus kuakui, aku kecewa. Benarkah hanya itu yang diperlukan untuk menghentikanmu, seandainya kau berniat pergi?"

Aku menimbang-nimbang dari tempatku berdiri, ingin sekali kembali padanya, tapi khawatir napasku bau. Yeah, kau baru bangun, belum menggosok gigimu, apa kau berani kembali kepangkuan orang yang sukai dengan keadaan seperti itu? -_-

"Kau tidak biasanya sebingung ini dipagi hari," ujarnya. Jungkook lantas merentangkan lengannya untuk menyambutku lagi. Undangan yang nyaris tak sanggup kutolak.

"Aku butuh waktu sebentar untuk menjadi manusia," aku mengakuinya.

"Kutunggu."

Aku melompat ke kamar mandi, sama sekali tak memahami emosiku. Aku tak mengenali diriku, didalam maupun diluar. Wajah yang ada di cermin praktis asing, matanya terlalu ceria, rona merah menyebar ditulang pipiku. Setelah menggosok gigi aku merapikan rambutku yang berantakan. Kupercikan air dingin ke wajahku, dan berusaha bernapas secara normal, tapi nyaris gagal. Setengah berlari aku kembali kekamar. Rasanya seperti mukjizat bahwa ia masih disana, lengannya masih menantiku. Jungkook meraihku dan jantungku berdebar tak keruan.

"Selamat datang lagi," gumamnya, membawaku ke dalam pelukannya.

Jungkook menggoyang-goyangkan tubuhku sebentar dalam keheningan, sampai aku menyadari ia telah berganti pakaian, dan rambutnya sudah rapi.

"Kau pergi?" tuduhku, sambil menyentuh kerah kausnya yang baru.

"Aku tak bisa pergi mengenakan pakaian yang sama dengan ketika aku datang, apa yang akan dipikirkan para tetangga?"

Aku mencibir mendengarnya.

"Kau tidur sangat pulas semalam, aku tak melewatkan apapun." Matanya berkilat-kilat.

"Kau mengigau lebih awal."

Aku menggerutu. "Apa yang kau dengar?"

Mata keemasannya melembut. "Kaubilang kau mencintaiku."

"Kau sudah tahu itu," aku mengingatkannya, menyusupkan kepalaku.

"Tapi toh aku senang mendengarnya." Ujar Jungkook.

Kesembunyikan wajahku di bahunya dan berbisik "Aku mencintaimu,

"Kau hidupku sekarang," jawabnya sederhana.

Tak ada lagi yang perlu dikatakan saat itu. Jungkook bergerak maju-mundur sementara ruangan semakin terang.

"Saatnya sarapan," akhirnya ia berkata, dengan kasual, untuk membuktikan, aku yakin, bahwa ia mengingat semua kelemahan manusiaku. Jadi aku mencekik tenggorokanku dengan kedua tangan dan mataku membelalak ke arahnya. Jungkook terperanjat.

"Bercanda!" aku nyengir.

"Padahal katamu aku tidak bisa berakting!" Jungkook mengerutkan dahi mengdengarnya.

"Tidak lucu."

"Itu sangat lucu, dan kau tahu itu." Tapi hati-hati aku mengamati mata emasnya, memastikan ia memaafkanku. Dan tampaknya aku dimaafkan.

"Boleh kuulangi?" tanyaku. "Saatnya sarapan untuk manusia."

"Oh, baiklah."

Jungkook mengusungku di bahunya yang kokoh, dengan lembut, namun dengan kecepatan yang membuatku menahan napas. Aku memprotes saat ia dengan mudah membawaku menuruni tangga, tapi dia malah mengabaikanku. Jungkook mendudukanku di kursi. Ruang dapur terang, ceria, seolah-olah menyerap suasana hatiku.

"Apa menu sarapannya?" tanyaku riang. Pertanyaanku membuatnya berpikir sebentar.

"Mm, aku tak yakin. Kau mau apa?" Alis pualamnya berkerut. Aku tersenyum, melompat berdiri.

"Tidak apa-apa, aku bisa mengurus diriku sendiri dengan cukup baik. Perhatikan caraku berburu."

Aku mengambil mangkuk dan sekotak sereal. Bisa kurasakan tatapan Jungkook ketika aku menuang susu dan mengambil sendok. Kuletakkan makananku di meja, lalu berhenti.

"Kau mau sesuatu?" tanyaku, tak ingin bersikap tidak sopan. Jungkook memutar bola matanya.

"Makan saja, Tae."

Aku duduk di meja makan, memperhatikannya sambil menyuap sereal. Jungkook balas memandangiku, mempelajari setiap gerakanku. Seujujurnya itu membuatku tidak nyaman. Aku berdeham untuk bicara, mengalihkan perhatiannya.

"Apa acara hari ini?" tanyaku.

"Hmmm..." Aku melihatnya berhati-hati memikirkan jawabannya. "Bagaimana menurutmu kalau kita bertemu keluargaku?"

Aku menelan liurku.

"Apa sekarang kau takut?" Jungkook terdengar berharap.

"Ya," aku mengakui. Bagaimana mungkin aku menyangkalnya. Kau akan mendatangi rumah yang dipenuhi oleh vampire. Bukan karena perasaan takut akan diserang oleh mereka, bukan karena itu. Kurasa Jungkook bisa melihat ketakutan di mataku.

"Jangan khawatir." Jungkook mencibir. "Aku akan melindungimu."

"Aku tidak takut pada mereka," jelasku. "Aku khawatir mereka takkan... menyukaiku. Tidakkah mereka akan, well, terkejut kau membawa seseorang... seperti aku... ke rumah menemui mereka? Tahukah mereka aku tahu tentang mereka?"

"Oh, mereka sudah mengetahui semuanya. Kau tahu, kemarin mereka bertaruh" Jungkook tersenyum, tapi suaranya parau,

"Apakah aku membawamu kembali, meski aku tak mengerti mereka mau bertaruh melawan Jin hyung. Bagaimanapun kami sekeluarga tak pernah menyimpan rahasia, terutama dengan kemampuanku membaca pikiran dan Jin hyung melihat masa depan, dan semuanya."

"Dan Namjoon hyung membuat kalian semua nyaman untuk menumpahkan kegelisahan kami." Tambahnya, aku mengangguk beberap kali.

"Jadi, apakah Jin hyung sudah melihat kedatanganku?"

Reaksinya aneh. "Kira-kira begitu," katanya jengah, berpaling sehingga aku tak bisa melihat matanya. Aku menatapnya penasaran.

"Apa itu enak?" tanyanya, tiba-tiba berbalik menghadapku dan menatap sarapanku dengan pandangan menggoda. "Jujur, makananmu tidak terlalu mengundang selera."

"Well, sama sekali bukan beruang pemarah..." gumamku, mengabaikan tatapan marahnya.

Aku masih bertanya-tanya mengapa Jungkook bereaksi seperti itu saat aku menyebut soal Jin hyung. Aku buru-buru menghabiskan serealku, sambil berspekulasi. Jungkook berdiri di tengah dapur, mirip patung Adonis lagi, menerawang ke luar jendela belakang. Kemudian tatapannya kembali padaku, dan ia memamerkan senyumnya yang menawan.

"Dan kurasa kau juga harus mengenalkanku pada ayahmu."

"Dia sudah mengenalmu," aku mengingatkannya.

"Maksudku sebagai pacarmu."

Aku menatapnya curiga. "Kenapa?"

"Bukankah begitu kebiasaannya?" tanya Jungkook polos.

"Aku tidak tahu," aku mengakui. Pengalaman berkencanku yang minim tidak cukup bagiku untuk mengetahui kebiasaan itu. Bukan berarti aturan berkencan yang normal berlaku disini.

"Itu tidak perlu, kau tahu. Aku tidak berharap kau... maksudku, kau tak perlu berpura-pura demi aku."

Senyumnya penuh kesabaran. "Aku tidak berpura-pura."

Aku mengumpulkan sisa serealku ke ujung mangkuk, menggigit bibir.

"Kau akan memberitahu ayahmu bahwa aku pacarmu atau tidak?"

"Apakah harus?"

"Well, aku tidak tahu apakah kita perlu memberitahunya semua detail mengerikan itu." Jungkook meraih ke seberang meja, mengangkat daguku dengan jarinya yang dingin dan lembut.

"Tapi dia akan memerlukan penjelasan mengapa aku sering kemari. Aku tak ingin Kepala Polisi menetapkan larangan untukku."

"Benarkah?" aku sekonyong-konyong was-was.

"Benarkah kau akan berada disini?"

"Selama yang kauinginkan," ia meyakinkanku.

"Aku akan selalu menginginkanmu," aku mengingatkannya. "Selamanya."

Perlahan Jungkook mengelilingi meja, setelah beberapa senti dariku dia berhenti, mengulurkan tangan untuk menyentuhkan ujung jarinya ke pipiku, ekspresinya penuh makna.

"Apa itu membuatmu sedih?" tanyaku.

Jungkook tidak menjawab. Lama sekali dia menatap ke dalam mataku. "Kau sudah selesai?" Jungkook akhirnya bertanya.

Aku melompat berdiri. "Ya."

"Berpakaianlah, aku akan menunggu disini."

Sulit memutuskan apa yang harus kukenakan. Aku ragu ada buku etika yang menjelaskan bagaimana seharusnya berpakaian ketika kekasih vampirmu hendak memperkenalkanmu kepada keluarga vampirnya. Lega rasanya bisa berpikir begitu. Aku tahu aku sengaja tak mau memikirkannya. Akhrinya aku memakai kemeja putih kebesaran, bahkan tanganku tertutupi. Bagian depan kemeja kuselipkan kedalam celana jeans hitam. Aku merapikan rambutku yang masih berantakan dengan tangan. Apa ini sudah oke? Apa aku tidak terlihat memalukan? Apa mereka tidak akan menatapku aneh? Aku mematung beberapa saat didepan cermin. Ck. Sejak kapan aku memikirkan pendapat orang lain tentang gayaku berpakaian?!

"Oke." Aku melompat-lompat menuruni tangga. "Aku sudah pantas bepergian."

Jungkook menunggu di ujung tangga, lebih dekat dari yang kukira, dan aku langsung menghambur ke arahnya. Jungkook memegangiku beberapa saat sebelum tiba-tiba menarikku lebih dekat.

"Kau salah lagi," gumamnya di telingaku. "Bagaimana bisa hanya dengan kemeja seperti itu kau terlihat begitu menggoda. Itu tidak adil."

"Menggoda bagaimana?" tanyaku. "Aku bisa mengganti..."

Jungkook mendesah, menggeleng-gelengkan kepala. "Kau sangat konyol." Dengan lembut Jungkook menempelkan bibirnya yang sejuk di dahiku, dan ruangan pun berputar. Aroma napasnya membuatku mustahil bisa berpikir.

"Haruskah aku menjelaskan bagaimana kau membuatku tergoda?" katanya. Jelas itu pertanyaan retoris. Jemarinya perlahan menyusuri tulang belakangku, napasnya makin menderu di permukaan kulitku. Tanganku membeku di dadanya, dan aku kembali melayang. Jungkook memiringkan kepala perlahan, dan menyentuhkan bibir dinginnya ke bibirku, dengan sangat hati-hati membukanya. Kemudian aku tak sadarkan diri.

"Taehyung?" suaranya terdengar kaget ketika Jungkook menangkap dan memegangiku. "Kau... membuatku... jatuh pingsan," aku meracau.

"Apa yang akan kulakukan denganmu?" Jungkook menggerutu, putus asa. "Aku hanya menciummu dan kau pingsan di hadapanku!"

Aku tertawa lemah, membiarkan lengannya menahanku sementara kepalaku masih berputar-putar. "Dan katamu aku bisa melakukan segalanya," Jungkook mendesah.

"Itulah masalahnya." Aku masih pusing. "Kau terlalu pintar melakukannya. Amat sangat terlalu pintar."

"Kau merasa sakit?" Jungkook bertanya. Dia pernah melihatku seperti ini sebelumnya.

"Tidak, pingsanku kali ini berbeda. Aku tak tahu apa yang terjadi." Aku menggeleng menyesalinya. "Kurasa aku lupa bernapas."

"Aku tak bisa membawamu kemana-mana dalam keadaaan seperti ini."

"Aku baik-baik saja," aku bersikeras. "Lagipula keluargamu toh bakal menganggapku gila, jadi apa bedanya?"

Jungkook mengamati ekspresiku beberapa saat. "Aku sangat menyukai warna kulitmu," ujarnya tak disangkasangka. Wajahku memerah senang, dan berpaling.

"Begini, aku berusaha sangat keras untuk tidak memikirkan apa yang akan kulakukan, jadi bisakah kita berangkat sekarang?" tanyaku.

"Dan kau khawatir, bukan karena kau akan pergi ke rumah yang isinya vampir semua, tapi karena kaupikir vampir-vampir itu takkan menerimamu, betul?"

"Betul," aku langsung menjawabnya, menyembunyikan keterkejutanku pada kata-katanya yang terdengar wajar.

Jungkook menggeleng. "Kau sulit dipercaya."

Aku menyadari, saat ia mengemudikan trukku meninggalkan pusat kota, aku sama sekali tak tahu dimana dia tinggal. Kami melewati jembatan di Sungai Calawah, jalanan membentang ke utara, rumah-rumah yang kami lalui semakin jarang, dan semakin besar. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah yang kami lalui tadi. Kemudian kami meninggalkan rumah-rumah, dan memasuki hutan berkabut. Aku mencoba memutuskan untuk bertanya atau tetap bersabar, ketika Jungkook tiba-tiba membelok ke jalanan tak beraspal. Jalanan itu tak bertanda, nyaris tak tampak diantara tumbuh-tumbuhan pakis. Hutan menyelimuti kedua sisinya, hingga jalanan di depan kami hanya kelihatan sejauh beberapa meter, meliuk-liuk seperti ular di sekeliling pepohonan kuno.

Kemudian, setelah beberapa mil, hutan mulai menipis, dan tiba-tiba kami berada di padang rumput kecil, atau sebenarnya halaman rumput sebuah rumah? Meski begitu kemuraman hutan tidak memudar, karena ada enam pohon cedar tua yang menaungi tempat itu dengan cabang-cabangnya yang lebar. Bayangan pepohonan itu menaungi dinding rumah yang berdiri di antaranya, membuat serambi yang mengitari lantai dasar tampak kuno.

Aku tak tahu apa yang kuharapkan, tapi jelas bukan yang seperti ini. Rumah itu tampak abadi, elegan, dan barangkali berusia beberapa tahun. Cat putih yang membalutnya lembut dan nyaris pudar, berlantai tiga, berbentuk persegi dan proporsional. Jendela-jendela dan pintu-pintunya entah merupakan struktur asli atau hasil pemugaran yang sempurna. Trukku satu-satunya kendaraan yang tampak disana. Aku bisa mendengar suara aliran sungai di dekat kami, tersembunyi di kegelapan hutan.

"Wow."

"Kau menyukainya?" Jungkook tersenyum.

"Bangunan ini memiliki pesona tersendiri."

"Siap?" Jungkook bertanya sambil membukakan pintuku.

"Sama sekali tidak, ayo." Aku mencoba tertawa, tapi sepertinya tenggorokanku tercekat. Aku merapikan rambut dengan gugup.

"Kau cantik Tae." Jungkook menggenggamtanganku dengan luwes, tanpa ragu.

Kami berjalan menembus bayangan pepohonan menuju teras rumah. Aku tahu Jungkook bisa merasakan keteganganku. Ibu jarinya membuat gerakan lingkaran yang menenangkan di punggung tanganku.

Jungkook membukakan pintu untukku.

Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mengejutkan lagi, lebih tak bisa diramalkan, daripada bagian luarnya. Sangat terang, sangat terbuka, dan sangat luas. Dulunya ruangan ini pasti kumpulan beberapa kamar, namun dinding-dindingnya disingkirkan untuk menciptakan satu ruangan luas di lantai dasar. Di bagian belakang, dinding yang menghadap selatan telah digantikan seluruhnya dengan kaca, dan di balik bebayangan pohon cedar terbentang rerumputan luas hingga ke sungai. Tangga meliuk yang lebar dan besar mendominasi sisi barat ruangan. Dinding-dindingnya, langit-langitnya yang tinggi, lantainya yang terbuat dari kayu, dan karpet tebal, semuanya merupakan gradasi warna putih.

Terlihat seperti menanti untuk menyambut kami, berdiri persis di kiri pintu, pada bagian lantai yang lebih tinggi di sisi grand piano yang spektakuler, adalah orangtua Jungkook. Aku pernah melihat dr. Choi Siwon sebelumnya, tapi tetap saja aku tak bisa menahan keterkejutanku melihat kemudaannya, kesempurnaannya yang luar biasa. Kurasa pria manis dengan wajah kekanakan disampingnya ada Kyuhyun, satu-satunya anggota keluarga Choi yang belum pernah kulihat. Dia memiliki wajah yang pucat dan indah seperti yang lainnya. Wajahnya menggemaskan dengan pipi yang gembil, mata bulat dengan rambut hitam Tubuhnya tinggi, hampir setinggi dr. Siwon, tubuhnya langsing namun tidak terlalu kurus, lebih berisi dibanding yang lainnya. Mereka mengenakan pakaian kasual berwarna terang yang serasi dengan warna ruangan dalam rumah mereka. Mereka tersenyum menyambut kami, tapi tidak bergerak mendekat. Kurasa mereka tak ingin membuatku takut.

"Appa, eomma." suara Jungkook memecah keheningan yang terjadi sebentar, "Ini Taehyung."

"Selamat datang, Taehyung." Langkah dr. Siwon terukur, berhati-hati saat mendekatiku. Dia mengulurkan tangannya dan aku melangkah maju untuk menjabatnya.

"Senang bisa bertemu Anda lagi, dr. Choi."

"Tolong panggil saja ahjusshi." dr. Choi tertawa kecil setelahnya, aku membalasnya dengan cengiran.

"Ahjusshi." Kepercayaan diriku yang muncul tiba-tiba mengejutkanku. Aku bisa merasakan Jungkook merasa lega di sampingku. Kyuhyun –atau aku harus menambah ahjusshi juga- tersenyum dan melangkah maju juga, menjabat tanganku. Genggamannya yang kuat dan dingin persis yang kuperkirakan.

"Senang sekali bisa berkenalan denganmu," sahutnya tulus.

"Terima kasih. Aku juga senang bisa bertemu Anda." Memang itulah yang kurasakan. Pertemuan itu bagaikan pertemuan dongeng, Putri Salju dalam wujud aslinya.

"Panggil aku seperti kau memanggil Siwon hyung saja. Agar kita lebih akrab." Aku hanya mengangguk malu

"Dimana Jin hyung dan Namjoon hyung?" Jungkook bertanya, tapi mereka tidak menjawab, berhubung keduanya muncul di puncak tangga yang lebar.

"Hei, Jungkook!" Jin hyung memanggilnya bersemangat. Dia berlari menuruni tangga, perpaduan rambut hitam dan kulit putih, sekonyong-konyong berhenti dengan anggun di hadapanku. Dr. Siwon dan Kyuhyun memelototinya, tapi aku menyukainya. Lagipula, itu sesuatu yang alami, baginya.

"Hai, Tae!" sapa Jin hyung, dan dia melesat ke depan untuk mengecup pipiku. Bila dr. Siwon dan Kyuhyun sebelumnya tampak berhati-hati, sekarang mereka tampak terkesiap. Mataku juga memancarkan rasa terkejut, tapi aku juga senang bahwa sepertinya ia menerima keberadaanku sepenuhnya. Aku bingung melihat Jungkook yang mendadak kaku di sebelahku. Aku memandang wajahnya, tapi ekspresinya tak bisa ditebak.

"Kau memang harum, aku belum pernah memperhatikan hal itu sebelumnya," Jin hyung berkomentar, membuatku sangat malu.

Tampaknya tak seorang pun tahu apa yang harus dikatakan, kemudian Namjoon hyung ada disana, tinggi bagai singa. Perasaan lega menyeruak dalam diriku, dan tiba-tiba aku merasa nyaman terlepas dimana aku tengah berada. Jungkook menatap Namjoon hyung, salah satu alisnya terangkat.

"Halo, Taehyung," sapa Namjoon hyung. Dia tetap menjaga jarak, tidak menawarkan untuk berjabat tangan.

"Halo, Namjoon hyung." Aku tersenyum malu-malu padanya, dan pada yang lainnya juga. "Senang bisa bertemu kalian semua, rumah kalian sangat indah," tambahku apa adanya.

"Terima kasih," sahut Kyuhyun.

"Kami senang sekali kau datang." Dia berbicara penuh perasaan, dan aku menyadari Kyuhyun pasti menganggapku berani. Aku juga menyadari bahwa Suga hyung dan Jimin hyung tak terlihat dimanapun di rumah itu, dan aku ingat penyangkalan Jungkook yang terlalu polos ketika aku bertanya padanya apakah keluarganya yang lain tidak menyukaiku.

Ekspresi dr. Siwon mengalihkanku dari pikiran ini. Dia memandang Jungkook penuh makna, ekspresinya mendalam. Dari sudut mata aku melihat Jungkook mengangguk sekali. Aku mengalihkan pandangan, berusaha terlihat sopan. Mataku kembali menatap instrumen indah di dekat pintu. Tiba-tiba aku teringat khayalan masa kecilku, seandainya aku menenangkan lotere, aku akan membeli grand piano untuk ibuku. Ia tidak terlalu pintar memainkan piano, ia hanya memainkan piano upright bekas kami untuk dirinya sendiri, tapi aku suka melihatnya memainkan piano. Ia terlihat bahagia, begitu tenggelam, bagiku ia kelihatan seperti sosok misterius yang baru, seseorang di luar sosok 'ibu' yang kukenal selama ini. Ia mengajariku cara bermain piano, tentu saja, tapi seperti kebanyakan anak, aku terus mengeluh hingga ia membiarkanku berhenti berlatih.

"Kau bisa main piano?" tanya Kyuhyun, menunjuk piano dengan kepalanya. Sepertinya dia memperhatikanku sejak aku menatap piano itu.

Kugelengkan kepalaku. "Tidak sama sekali. Tapi piano itu indah sekali. Apakah itu milik ahjusshi?"

"Tidak," ia tertawa. "Jungkook tidak memberitahumu dia pandai bermain musik?"

"Tidak." Dengan marah kutatap Jungkook yang memasang ekspresi tak berdosa. "Kurasa seharusnya aku tahu."

Alis Kyuhyun yang lembut terangkat, bingung.

"Jungkook bisa melakukan segalanya, bukan begitu?" kataku menjelaskan. Namjoon hyung tertawa sinis dan Kyuhyun menatap Jungkook tak setuju.

"Kuharap aku tidak pamer pada Taehyung, itu tidak sopan," bentaknya.

"Hanya sedikit," Jungkook tertawa lepas. Wajah Kyuhyun melembut mendengar suara itu, dan sesaat mereka saling menatap, tatapan yang tidak kumengerti, meskipun wajah Kyuhyun tampak nyaris puas.

"Sebenarnya, dia terlalu rendah hati," aku meralatnya.

"Kalau begitu, bermainlah untuknya," bujuk Kyuhyun.

"Eomma, kau baru saja bilang memamerkan diri tidak sopan," sergah Jungkook keberatan

"Selalu ada pengecualian terhadap setiap peraturan," balas Kyuhyun, pintar.

"Aku ingin mendengarmu bermain piano," sahutku.

"Kalau begitu sudah diputuskan." Kyuhyun mendorong Jungkook menuju piano. Jungkook menarikku bersamanya, mendudukkanku di kursi di sampingnya. Lama sekali Jungkook menatapku putus asa, sebelum beralih pada tuts-tuts pianonya. Kemudian jari-jarinya dengan lincah menekan tuts-tuts gading itu, dan ruangan itu pun dipenuhi irama yang begitu rumit, begitu kaya, mustahil hanya dimainkan dengan sepasang tangan. Aku merasakan mulutku menganga terkesima karena permainannya, dan mendengar tawa pelan di belakangku, menertawakan reaksiku. Jungkook menatapku santai, musik masih melingkupi kami tanpa henti dan dia berkedip.

"Kau menyukainya?"

"Kau menciptakannya?" Aku terperangah menyadarinya. Jungkook mengangguk. "Kesukaan eomma." Lanjutnya.

Aku memejamkan mata sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ada apa?"

"Aku merasa amat sangat tidak berguna."

Irama musik memelan, berubah jadi lebih lembut, dan aku terkejut menemukan melodi nina bobonya mengalun di antara sekumpulan not yang dimainkannya.

"Kau yang menginspirasi ini," katanya lembut. Musiknya berkembang menjadi sesuatu yang teramat manis. Aku tak sanggup berkata-kata.

"Tae, kau tahu? Mereka menyukaimu." katanya. "Terutama eomma."

Aku melirik ke belakang, tapi ruangan besar itu kosong sekarang. "Mereka kemana?"

"Kurasa mereka ingin memberi kita privasi."

Aku mendesah. "Mereka menyukaiku. Tapi Suga hyung dan Jimin hyung..." aku tidak menyelesaikan katakataku, tak yakin bagaimana caranya mengekspresikan keraguanku.

Jungkook merengut. "Jangan khawatirkan Suga hyung," katanya, matanya melebar dan persuasif. "Dia akan datang."

Aku mencibir. "Jimin hyung?"

"Well, dia pikir aku gila dan dia benar. Tapi dia tidak punya masalah denganmu. Dia mencoba berempati dengan Suga hyung."

"Apa yang membuat Suga hyung tidak suka?" Aku tak yakin apakah aku ingin mengetahui jawabannya.

Jungkook menarik napas dalam-dalam. "Suga hyung yang paling berjuang keras... menutupi jati diri kami. Sulit baginya bila ada seseorang dari luar mengetahui kebenarannya. Dan dia agak cemburu."

"Suga hyung cemburu padaku?" tanyaku tak percaya. Aku berusaha membayangkan sebuah kehidupan dimana di dalamnya ada seseorang semenawan Suga memiliki alasan apapun untuk merasa cemburu pada seseorang seperti aku.

"Kau manusia." Jungkook mengangkat bahu. "Dia berharap seandainya dia juga manusia."

"Oh," gumamku, masih terkejut. "Bahkan Namjoon hyung..."

"Ini benar-benar salahku," katanya. "Sudah kubilang, dia yang terakhir mencoba cara hidup kami. Aku mengingatkannya untuk menjaga jarak."

Aku memikirkan alasannya melakukan hal itu, dan bergidik.

"ayah dan ibumu...?" lanjutku cepat, untuk mencegahnya menyadari kengerianku.

"Senang melihatku bahagia. Sebenarnya, Kyuhyun eomma tidak akan peduli seandainya kau punya tiga mata dan kakimu berselaput. Selama ini dia mengkhawatirkan aku, takut ada sesuatu yang hilang dari karakter utamaku, bahwa aku terlalu muda ketika Siwon appa mengubahku... Dia sangat senang. Setiap kali aku menyentuhmu, dia nyaris tersedak oleh perasaan puas."

"Ceritakan padaku!"

Jungkook mengangkat alisnya, kemudian terkekeh geli. Mungkin dia mengerti maksudku dari melihat mataku.

"Sepertinya kau penasaran sekali dengan keluargaku, huh?" Aku melihat Jungkook menyeringai dan betapa bodohnya aku yang terpesona karena seringaiannya.

"Kau tahu sendiri…" aku mengendikkan bahu.

Jungkook mendesah, "Baiklah…"

"Aku lahir di Busan tahun 1901." Jungkook berhenti sejenak dan melirikku dari sudut matanya. Dengan hati-hati kujaga wajahku agar tetap tenang, sabar menantikan penjelasan selanjutnya. Jungkook tersenyum simpul dan melanjutkan,

"Appa menemukanku di rumah sakit pada tahun 1918. Usiaku tujuh belas saat itu, sekarat akibat penyakit flu yang menyerang Busan saat itu."

Jungkook mendengarku terkesiap. Aku tidah tahu jika Busan pernah seperti itu. Jungkook menunduk menatap mataku lagi.

"Aku tak mengingatnya dengan baik, sudah lama sekali, dan ingatan manusia memudar." Sesaat Jungkook larut dalam ingatannya sebelum melanjutkan lagi,

"Tapi aku ingat bagaimana rasanya, ketika Siwon appa menyelamatkanku. Bukan hal mudah, bukan sesuatu yang bisa kaulupakan."

"Orangtuamu?"

"Mereka sudah meninggal lebih dulu akibat penyakit itu. Aku sebatang kara. Itu sebabnya dia memilihku. Di tengah-tengah kekacauan bencana epidemik itu, tak seorangpun bakal menyadari bahwa aku menghilang."

"Bagaimana dia... menyelamatkanmu?"

Beberapa detik berlalu sebelum Jungkook menyahut. Sepertinya dia memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Sulit. Tak banyak dari kami memiliki kendali diri yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Tapi Siwon appa selalu menjadi yang paling manusiawi, yang paling berbelas kasih di antara kami... Kurasa kau tak bisa menemukan yang setara dengannya sepanjang sejarah." Jungkook terdiam.

"Bagiku, rasanya amat… sangat menyakitkan."

Dari garis bibirnya aku tahu Jungkook tidak akan mengatakan apa-apa lagi mengenai masalah ini. Kutekan rasa penasaranku, meskipun nyaris tak mungkin. Banyak yang perlu kupikirkan mengenai hali ini, hal-hal yang baru saja muncul dalam benakku.

Suaranya yang lembut membuyarkan lamunanku.

"Kesendirianlah yang menggerakkannya. Biasanya itulah alasan di balik pilihan tersebut. Aku adalah yang pertama dalam keluarga ini, meski tak lama setelah itu dia menemukan Kyuhyun eomma. Dia terjatuh dari tebing. Mereka langsung membawanya ke rumah sakit, meski entah bagaimana jantungnya masih berdenyut."

"Kalau begitu kau harus dalam kondisi sekarat untuk menjadi..." Kami tak pernah mengucapkan kata itu, dan aku tak dapat mengucapkannya sekarang.

"Tidak, itu hanya Siwon appa. Dia takkan pernah melakukannya pada orang yang memiliki pilihan lain." Rasa hormat yang sangat dalam terpancar dalam suaranya setiap kali Jungkook membicarakan orang yang menjadi figur ayah baginya itu.

"Meski begitu, katanya lebih mudah bila aliran darahnya lemah," lanjutnya.

"Jimin hyung dan Suga hyung?"

"Siwon appa membawa Suga hyung ke keluarga kami setelah ada Kyuhyun eomma. Lama setelahnya barulah aku menyadari bahwa dia berharap Suga hyung akan menjadi seseorang bagiku seperti Kyuhyun eomma baginya. Appa berhati-hati dengan pikirannya yang menyangkut diriku." Jungkook memutar bola matanya.

"Tapi Suga hyung tak pernah lebih daripada seorang saudara. Dua tahun kemudian dia menemukan Jimin hyung. Suga hyung sedang berburu, waktu itu kami sedang di Applachia, dan mendapati seekor beruang nyaris menghabisi Jimin hyung. Suga hyung membawanya kepada Appa, menempuh jarak lebih dari seratus mil, khawatir ia tak dapat melakukannya sendiri. Aku hanya menduga-duga bagaimana sulitnya perjalanan itu baginya." Jungkook menatapku dalam-dalam, dan mengangkat tangannya lalu mengusap pipiku dengan punggung tangannya.

"Tapi dia berhasil."

"Ya," gumamnya.

"Dia melihat sesuatu di wajah Jimin hyung yang membuatnya cukup kuat. Dan sejak itu mereka selalu bersama-sama. Kadang-kadang mereka tinggal terpisah dari kami, sebagai pasangan. Semakin muda umur yang kami pilih sebagai identitas kami, semakin lama kami bisa tinggal dimana pun. Forks kelihatannya sempurna, jadi kami semua mendaftar di SMA." Jungkook tertawa.

"Kurasa kami harus menghadiri pernikahan mereka dalam beberapa tahun, lagi."

"Jin hyung dan Namjoon hyung?"

"Mereka berdua makhuk yang sangat langka. Mereka mengembangkan kesadaran, begitu kami menyebutnya, tanpa bimbingan dari luar. Namjoon hyung berasal dari keluarga... lain, jenis keluarga yang sangat berbeda. Dia tertekan, dan akhirnya memilih mengembara sendirian. Jin hyung menemukannya.

"Jin hyung melihat Namjoon hyung dan tahu dia mencari dirinya bahkan sebelum Namjoon hyung sendiri mengetahui hal itu. Dia melihat appa dan keluarga kami, dan mereka datang bersama-sama menemui kami. Jin hyung paling sensitif dengan makhluk bukan manusia. Dia selalu melihat, contohnya adalah ketika kelompok lain mendekat. Dan ancaman apapun yang mungkin ditimbulkan."

"Apakah jenis kalian... ada banyak?" Aku terkejut. Berapa banyakkah dari mereka yang bisa berjalan diantara manusia tanpa terdeteksi.

"Tidak, tidak banyak. Tapi kebanyakan tidak akan menetap di satu tempat. Hanya yang seperti kami, yang telah berhenti memburu kalian, para manusia" Jungkook mengerling licik padaku, "bisa hidup bersama manusia selama apapun. Kami hanya menemukan satu keluarga yang seperti kami, di desa kecil di Alaska. Kami hidup bersama untuk waktu yang lama, tapi jumlah kami terlalu banyak sehingga manusia mulai menyadari keberadaan kami. Jenis seperti kami yang hidup... secara berbeda cenderung berkumpul bersama."

"Dan yang lain?"

"Kebanyakan berpindah-pindah. Dari waktu ke waktu kami hidup seperti itu. Seperti yang lainnya, kebiasaan ini mulai membosankan. Kadang-kadang kami bertemu yang lain, karena kebanyakan dari kami lebih menyukai daerah Utara."

"Kenapa begitu?"

"Kau pikir aku bisa berjalan bebas di jalanan di bawah sinar matahari tanpa menyebabkan kecelakaan lalu lintas? Ada alasan mengapa kami memilih Semenanjung Olympic, salah satu tempat di dunia dengan sinar matahari paling sedikit. Rasanya menyenangkan bisa keluar di siang hari. Kau takkan percaya betapa membosankannya malam setelah delapan puluh tahun yang aneh."

"Padahal aku ingin kita jalan-jalan ke Korea." Jungkook tertawa pelan mendengar pengakuanku.

"Mungkin bisa, saat malam hari.."

Aku hanya mengangguk seadanya.

"Dan Jin hyung berasal dari keluarga yang lain, seperti Namjoon hyung?"

"Tidak, dan itu adalah misteri. Jin hyung tidak ingat kehidupan manusianya sama sekali. Dan dia tidak tahu siapa yang menciptakannya. Dia terbangun sendirian. Siapapun yang menciptakannya telah meninggalkannya, dan tak satupun dari kami mengerti kenapa, atau bagaimana orang itu bisa melakukannya. Seandainya Jin hyung tidak memiliki indra istimewa itu, seandainya dia tidak melihat Namjoon hyung dan appa dan tahu suatu hari nanti dia akan menjadi salah satu dari kami, dia barangkali bisa berubah jahat."

"Tadi Jin hyung tampak sangat... bersemangat."

"Jin hyung punya caranya sendiri dalam melihat hal-hal," katanya dengan bibir terkatup rapat.

"Dan kau takkan menjelaskannya, ya kan?"

Sesaat keheningan melintas diantara kami. Jungkook menyadari bahwa aku tahu kalau dia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tahu ia takkan mengatakan apa-apa. Tidak sekarang.

"Tapi aku benar-benar senang.." ujarku, memecah keheningan.

"Senang?"

"Karena kalian sama denganku. Sama-sama orang Korea. Kau tahu? Jarang sekali aku punya teman dari negara itu. Melihat kalian berasal dari negara yang sama denganku, membuatku merasa… hm.. lebih nyaman?"

Jungkook tidak mengatakan apapun. Dia hanya memamerkan senyum indahnya dan tangannya mengusak rambutku.

Aku berdeham sekali. "Jadi, tadi ayahmu bilang apa padamu?" Tanyaku.

Alisnya menyatu. "Aku tahu kau pasti memperhatikan."

Aku mengangkat bahu. "Tentu saja."

Jungkook memandangku lekat-lekat sebentar sebelum menjawab.

"Dia ingin memberitahuku beberapa hal, dia tidak tahu apakah aku mau memberitahumu."

"Apakah kau akan memberitahuku?"

"Aku harus, karena aku akan sedikit... kelewat protektif selama beberapa hari kedepan, atau minggu, dan aku tak mau kau berpikir bahwa sebenarnya aku ini orang yang kejam."

"Ada apa?"

"Sebenarnya tidak ada apa-apa. Jin hyung hanya melihat akan ada beberapa tamu. Mereka tahu kami ada disini, dan mereka penasaran."

"Tamu?"

"Ya... well, mereka tidak seperti kami, tentu saja, maksudku dalam kebiasaan berburu mereka. Barangkali mereka sama sekali tidak akan datang ke kota, tapi jelas aku takkan melepaskanmu dari pengawasanku sampai mereka pergi."

Aku bergidik ngeri.

"Akhirnya, respon yang masuk akal!" gumamnya.

"Aku mulai berpikir kau sama sekali tidak menyayangi dirimu." Jungkook melanjutkan.

Aku mengabaikan gurauannya, memalingkan wajah, mataku sekali lagi menjelajahi ruangan yang luas itu. Jungkook mengikuti arah pandanganku.

"Tidak seperti yang kau harapkan, ya kan?" tanyanya, suaranya terdengar arogan

"Tidak," aku mengakuinya.

"Tidak ada peti mati, tidak ada tumpukan kerangka di sudut. Aku bahkan yakin kami tidak memiliki sarang laba-laba... pasti semua ini sangat mengecewakanmu," lanjutnya mengejek.

Aku mengabaikannya. "Begitu terang... begitu terbuka."

Jungkook terdengar lebih serius saat menjawab. "Ini satu-satunya tempat dimana kami tak perlu bersembunyi."

Lagu yang masih dimainkannya, laguku, tiba di bagian akhir, kord terakhir berganti menjadi not yang lebih melankolis. Not terakhir mengalun sedih dalam keheningan.

"Terima kasih," gumamku. Aku tersadar airmata merebak di pelupuk mataku. Aku menyekanya, malu. Jungkook menyentuh sudut mataku, menyeka titik air mata yang tersisa. Jungkook mengangkat jarinya, mengamati tetes air itu lekat-lekat. Kemudian, begitu cepat hingga aku tak yakin dia benar-benar melakukannya, dia meletakkan jarinya ke mulutnya untuk merasakannya.

Aku menatapnya bertanya-tanya, dan Jungkook balas memandangku lama sekali sebelum akhirnya tersenyum. "Apakah kau ingin melihat ruangan lainnya di rumah ini?"

"Tidak ada peti mati?" aku mengulanginya, kesinisan dalam suaraku tak sepenuhnya menyamarkan perasaan was-was yang kurasakan.

Kami menaiki anak tangga yang besar-besar, tanganku menyusuri birai tangga yang halus bagai satin. Ruangan panjang di lantai atas memiliki elemen kayu berwarna kuning madu, sama seperti lantai keramiknya.

"Kamar Suga hyung dan Jimin hyung... ruang kerja ayah... kamar Jin hyung..." Jungkook menunjukkannya sambil menuntunku melewati pintu-pintu itu.

Jungkook bisa saja melanjutkan, tapi aku berhenti mendadak dan terperanjat di akhir ruang besar itu, terkesiap memandang ornamen yang menggantung di dinding di atas kepalaku, Jungkook tergelak, menertawai ekspresiku yang bingung.

"Kau boleh tertawa," katanya. "Bisa dibilang ironis."

Aku tidak tertawa. Tanganku terulus dengan sendirinya, satu jari menunjuk seolah ingin menyentuh salib kayu besar itu, warna permukaannya yang gelap mengkilat, sangat kontras dengan warna dinding yang terang dan ringan. Aku tidak menyentuhnya, meskipun penasaran apakah kayu yang sudah sangat tua itu terasa sama lembutnya seperti kelihatannya.

"Pasti sudah sangat tua," aku menebaknya.

Jungkook mengangkat bahu. "Awal 1630-an, kurang lebih."

Aku mengalihkan pandangan dari salib itu kepada Jungkook.

"Mengapa kalian menyimpannya disini?" aku bertanya-tanya.

"Nostalgia. Itu milik ayahnya appa."

"Dia mengoleksi barang-barang antik?" aku menebak ragu-ragu.

"Tidak. Dia mengukirnya sendiri. Salib ini digantungkan di atas altar rumah gereja tempatnya memberi pelayanan."

Aku tidak yakin apakah wajahku dapat menutupi keterkejutanku, tapi aku kembali memandang salib kuno dan sederhana itu, untuk berjaga-jaga. Aku langsung menghitung dalam hati salib itu berusia lebih dari 370 tahun. Keheningan berlanjut saat aku berusaha menyimpulkan pikiranku mengenai tahun-tahun yang begitu banyak.

"Kau baik-baik saja?" Jungkook terdengar was-was.

"Berapa umur dr. Siwon?" tanyaku pelan, mengabaikan pertanyaannya, masih memandangi salib.

"Dia baru saja merayakan ulang tahunnnya yang ke-362," jawab Jungkook. Aku kembali menatapnya, berjuta-juta pertanyaan tersimpan di mataku. Dia memperhatikanku dengan hati-hati ketika berbicara.

"Appa sebenarnya lahir di London, bukan di Korea meski turunan Korea asli, pada tahun 1640-an, menurutnya. Lagipula bagi orang-orang awam, saat itu perhitungan waktu belum terlalu tepat. Meski begitu, saat itu tepat sebelum pemerintahan Cormwell."

Aku tetap menjaga ekspresiku, sadar ia mengamatiku saat aku menyimak. Lebih mudah seandainya aku tidak mencoba mempercayainya.

"Dia putra tunggal seorang pendeta Aglican. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya berpandangan sempit. Saat penganut Protestan mulai berkuasa, dia begitu semangat membantai umat Katolik Roma dan agama lainnya. Dia juga sangat percaya adanya roh jahat. Dia mengizinkan perburuan penyihir, werewolf... dan vampir." Tubuhku semakin kaku mendengar kata itu. Aku yakin ia memperhatikan, tapi Jungkook melanjutkannya.

"Mereka membakar banyak orang tak berdosa, tentu saja makhluk-makhluk sesungguhnya yang dicarinya tidak mudah ditangkap. Ketika sang pendeta semakin tua, dia menempatkan anak laki-lakinya yang patuh sebagai pimpinan dalam pencarian. Awalnya kemampuan appa mengecewakan. Dia tidak gesit menuduh, untuk menemukan roh-roh jahat dizaman mereka tidak eksis. Tapi dia tetap ngotot, dan lebih pintar dari ayahnya. Dia benar-benar menemukan vampir sejati yang hidup tersembunyi di gorong-gorong kota, hanya keluar pada malam hari untuk berburu. Pada masa itu, ketika monster bukan hanya mitos dan legenda, begitulah cara mereka hidup. Orang-orang mengumpulkan garu dan obor mereka, tentu saja", tawanya lebih menyeramkan sekarang, "dan menunggu di tempat appa telah melihat para monster itu keluar dari jalanan. Akhirnya salah satu dari mereka muncul."

Suaranya sangat pelan. Aku harus benar-benar berkonsentrasi untuk menangkap kata-katanya.

"Dia pasti makhluk kuno, dan lemah karena kelaparan. Appa mendengarnya memanggil yang lain dalam bahasa Latin saat mencium keramaian. Dia berlari ke jalanan dan appa, dia berumur 23 tahun dan sangat tangkas, memimpin pengejaran. Makhluk itu bisa dengan mudah mengalahkan mereka, tapi appa mengira makhluk itu terlalu lapar, jadi dia berbalik dan menyerang. Makhluk itu menjatuhkan appa terlebih dahulu, tapi yang lain ada di belakangnya, dan ia berbalik untuk membela diri. Dia membunuh dua manusia, dan kabur membawa korban ketiganya, meninggalkan appa berdarah-darah di jalanan."

Jungkook berhenti. Aku bisa merasakan dia mengedit sesuatu, menyembunyikan sesuatu dariku.

"Appa tahu apa yang akan dilakukan ayahnya. Tubuh-tubuh akan dibakar, apa saja yang terinfeksi oleh makhluk itu harus dibakar. Appa mengikuti instingnya dan menyelamatkan nyawanya sendiri. Dia merangkak menjauh dari jalan sementara kerumunan pemburu mengikuti makhluk jahat dan korbannya. Dia bersembunyi di gudang bawah tanah, mengubur dirinya sendiri diantara tomat-tomat yang membusuk. Benar-benar mukjizat dia dapat tetap diam, dan tak ditemukan."

"Akhirnya semua itu selesai, dan dia menyadari dirinya telah menjelma sebagai apa." Aku tak yakin bagaimana ekspresiku, tapi tiba-tiba Jungkook berhenti.

"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.

"Aku baik-baik saja," aku menenangkannya.

Jungkook mengajakku kembali berjalan. Tangannya yang dingin memegang erat tanganku. Kami berhenti di depan pintu terakhir di lorong itu.

"Kamarku," Jungkook memberitahu, membuka dan menarikku masuk.

Kamarnya menghadap ke selatan, dengan jendela seluas dinding seperti ruangan besar di bawah. Seluruh bagian belakang rumah ini pasti terbuat dari kaca. Pemandangan disini menyajikan Sungai Sol Duc yang meliuk-liuk melintasi hutan tak terjamah hingga ke deretan Pegunungan Olympic. Pegunungan itu jauh lebih dekat dari yang kuduga.

Dinding sebelah barat sepenuhnya tertutup rak demi rak CD. Koleksi CD di kamarnya jauh melebihi yang dimiliki toko musik. Di sudut ada satu set sound system yang tampak canggih, jenis yang tak akan kusentuh karena yakin bakal merusaknya. Tidak ada tempat tidur, hanya sofa kulit hitam yang lebar dan mengundang.

Lantainya dilapisi karpet tebal berwarna keemasan, dan dindingnya dilapisi bahan tebal yang bernuansa lebih gelap.

"Perlengkapan audio yang bagus?" aku mencoba menebak. Jungkook tergelak dan mengangguk.

Jungkook mengambil remote dan menyalakan stereonya. Suaranya pelan, namun musik jazz lembut itu terdengar seolah-olah dimainkan secara live di ruangan ini. Aku melihat-lihat koleksi musiknya.

"Bagaimana kau menyusunnya?" aku bertanya.

"Mmmm, berdasarkan tahun, lalu berdasarkan pilihan pribadi dalam rentang waktu itu," katanya setengah melamun.

Aku berbalik, dan Jungkook sedang memandangku dengan ekspresi aneh di matanya. "Apa?"

"Aku tahu aku akan merasa… lega. Setelah kau mengetahui semuanya, aku tak perlu lagi menyimpan rahasia darimu. Tapi aku tak berharap merasakan lebih dari itu. Ternyata aku menyukainya. Ini membuatku… bahagia." Jungkook mengangkat bahu, tersenyum samar.

"Aku senang," kataku, balas tersenyum. Aku khawatir dia menyesal telah mengatakan semua ini padaku. Senang mengetahui bukan itu masalahnya. Tapi kemudian, ketika tatapannya memilah-milah ekspresiku, senyumnya memudar dan dahinya berkerut.

"Kau masih menungguku berlari dan menjerit-jerit, kan?" aku menebak. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, dan Jungkook mengangguk.

"Aku benci menghancurkan harapanmu, tapi kau benar-benar tidak semenakutkan yang kukira. Sebenarnya, aku sama sekali tidak menganggapmu menakutkan," aku berbohong.

Jungkook berhenti, alisanya terangkat, jelas-jelas tidak percaya. Kemudian ia tersenyum lebar dan licik.

"Taehyung. Kau seharusnya tidak mengatakan itu," Jungkook tergelak.

Dia mengeram dengan suara pelan, bibirnya ditarik dan memamerkan giginya yang sempurna. Tiba-tiba saja Jungkook menggeser posisinya, setengah membungkuk, tegang seperti singa yang siap menerjang. Aku mundur darinya, menatapnya nanar.

"Kau tidak akan melakukannya."

Aku tidak melihatnya melompat ke arahku, terlalu cepat. Secara tiba-tiba aku mendapati diriku melayang, kemudian kami mendarat di sofa yang menyentak keras sampai ke dinding. Lengannya membentuk sangkar baja disekeliling tubuhku, nyaris menyentuhku. Tapi aku toh terengah-engah saat mencoba memperbaiki posisiku. Jungkook tidak membiarkanku. Digulungnya tubuhku menyerupai bola ke dadanya, dicengkramnya diriku lebih erat daripada rantai besi. Aku menatapnya ngeri, tapi sepertinya dia dapat mengendalikan dirinya dengan baik, rahangnya melemas ketika ia tersenyum, matanya berkilat-kilat penuh canda.

"Apa katamu tadi?" Jungkook berpura-pura mengeram.

"Kau monster yang sangat, sangat menakutkan," kataku, kesinisanku sedikit melunak karena terengah-engah.

"Jauh lebih baik," ia menyetujuinya.

"Mmm." Aku berusaha bangkit. "Boleh aku bangun sekarang?"

Jungkook hanya tertawa.

"Boleh kami masuk?" terdengar suara lembut dari lorong.

Aku berjuang melepaskan diri, tapi Jungkook hanya menggeser posisiku hingga aku duduk sopan di pangkuannya. Aku bisa melihat bahwa itu Jin hyung, dan Namjoon hyung berdiri di belakangnya, di pintu masuk. Pipiku merah padam, tapi Jungkook nampak santai.

"Silahkan." Jungkook masih menahan tawa.

Jin hyung sepertinya tidak menemukan sesuatu yang aneh melihat kami berpelukan seperti itu. Dia berjalan, nyaris menari, gerakkannya sangat anggun, ke tengah ruangan, disana ia duduk bersila dengan luwes di lantai. Sebaliknya Namjoon hyung berhenti di pintu, ekspresinya agak terkejut. Dia menatap wajah Jungkook, dan aku bertanyatanya apakah ia sedang merasakan suasana dengan kepekaannya yang luar biasa.

"Kedengarannya kau akan memangsa Taehyung untuk makan siang, dan kami datang untuk melihat apakah kau mau berbagi," ujar Jin hyung.

Tubuhku langsung kaku, sampai aku menyadari Jungkook tersenyum, entah karena komentar Jin hyung atau reaksiku, aku tak dapat mengatakannya.

"Maaf, rasanya aku tak ingin berbagi," jawabnya, dengan seenaknya memelukku lebih dekat.

"Sebenarnya," kata Namjoon hyung, tersenyum sambil memasuki ruangan. "Jin hyung bilang akan ada badai besar malam ini, dan Jimin ingin bermain baseball. Kau mau ikut?"

Ucapannya terdengar cukup biasa, tapi konteksnya membuatku bingung. Meskipun kusimpulkan Jin hyung lebih bisa diandalkan daripada ramalan cuaca. Mata Jungkook berkilat-kilat, tapi dia terlihat ragu.

"Tentu saja kau harus mengajak Taehyung," seru Jin hyung. Sepertinya aku melihat Namjoon hyung melirik ke arahnya.

"Apa kau ingin ikut?" Jungkook bertanya padaku, kelihatan senang, wajahnya bersemangat.

"Tentu." Aku tak mungin mengecewakannya. "Mmm, kita akan kemana?"

"Kami harus menunggu petir untuk bermain baseball, kau akan tahu kenapa," ia berjanji.

"Apakah aku akan memerlukan payung?"

Mereka tertawa keras.

"Perlukah?" Namjoon hyung bertanya pada Jin hyung.

"Tidak." Jin hyung terdengar cukup yakin. "Badai akan menghantam kota. Akan cukup kering di hutan."

"Kalau begitu, bagus." Semangat dalam suara Namjoon hyung menular. Aku mendapati diriku bersemangat, bukannya ketakutan.

"Ayo kita lihat apakah appa mau ikut." Jin hyung melompat-lompat menuju pintu dalam balutan pakaian yang akan membuat iri siapapun.

"Seperti kau tidak tahu saja," goda Namjoon hyung, dan mereka langsung berlalu. Namjoon hyung berhasil menutup pintu tanpa bersuara.

"Kita akan main apa?" tanyaku.

"Kau akan menonton," Jungkook meralat.

"Kami yang akan bermain baseball."

Aku memutar bola mataku. "Vampir suka baseball?"

"Itu permainan bangsa Amerika di masa lampau," ejeknya.

.

.

.

.

.

.

Hi gaesss…. Ini kelanjutan twilight KookV version..

Masih full of KookV ditambah dengan keluarga vampire nya…

Semoga suka, ditunggu review nya… maaf gak bisa balesin review nya..

Ah, maaf kalo ada typo dimana2.. XD