TWILIGHT (KookV Version)
-Permainan-
.
.
.
.
.
.
Ayah pulang tepat setelah Jessica menutup telponnya, gadis itu begitu ceria menceritakan bagaimana pesta dansa tadi dan tentang Mike yang menciumnya. Oh yeah, aku ikut senang. Setidaknya dengan begitu, Mike tidak akan mendekatiku lagi untuk mencari perhatian dariku.
"Hai, Tae!" seru ayah saat berjalan ke dapur. Aku melambai padanya.
"Hei, Dad," kataku. Ayah sedang menggosok-gosok tangannya di bak cuci piring.
"Mana ikannya?"
"Aku meletakkannya di freezer."
"Akan kuambil beberapa sebelum membeku, J-Hope dan ayahnya mengantar beberapa ikan goreng Harry Clearwater sore ini." Aku berusaha terdengar bersemangat. Yeah, berusaha terdengar bersemangat, mengingat pertemuan Jungkook dan keluarga J-Hope membuat –entah bagaimana caranya- suasana menjadi tegang. Terlihat sekali perasaan benci dari mata mereka. Seperti, jika mereka bersama lebih lama lagi pasti aka nada pertempuran. Entahlah.
"Oh ya?" Mata ayah berbinar-binar. "Itu kesukaanku." Lanjutnya ceria.
Ayah membersihkan diri sementara aku menyiapkan makan malam. Dalam waktu singkat kami sudah duduk di meja, makan dalam diam. Ayah terlihat menikmati makanannya dan tanpa sadar membuatku tersenyum, perasaan senang melingkupi perasaanku melihat ayah begitu menikmati makanannya.
"Apa yang kaulakukan hari ini?" tanyanya, membuyarkan lamunanku.
"Well, sore ini aku di rumah saja..." Bukan sepanjang sore, sebenarnya. Aku berusaha menjaga suaraku tetap ceria, tapi perutku seperti berlubang.
"Dan pagi ini aku bertamu ke rumah keluarga Choi." Lanjutku dan sukses membuat ayah menjatuhkan garpunya.
"Rumah dr. Choi?" ia bertanya, kaget.
Aku berpura-pura tidak memperhatikan reaksinya. "Yeah."
"Apa yang kaulakukan disana?" Ia tidak mengambil garpunya lagi.
"Well, bisa dibilang aku punya kencan dengan Jungkook malam ini, dan dia ingin memperkenalkan aku dengan orangtuanya... ayah?"
Kelihatannya ayah mengalami penyempitan pembuluh darah. "Ayah, kau baik-baik saja?"
"Kau berkencan dengan Jungkook?" gelegar ayah. O-Oh.
"Kupikir kau menyukai keluarga Choi?"
"Dia terlalu tua untukmu," serunya marah.
"Kami sama-sama murid junior," aku meralatnya, meskipun ia lebih benar dari yang diduganya.
"Tunggu..." Ia berhenti. "Jongkok itu yang mana, ya?"
"Jungkook adalah yang paling muda, yang rambutnya cokelat kemerahan." Yang tampan, yang seperti dewa...
"Oh, well, itu" -ia berusaha keras mengucapkan kata-katanya, "lebih baik, kurasa. Aku tidak suka tampang yang bertubuh besar. Aku yakin dia anak laki-laki yang baik dan semuanya, tapi dia kelihatan terlalu... dewasa untukmu. Apakah Jongkok ini pacarmu?"
"Namanya Jungkook, ayah." Aku menatap datar ayahku. Selalu sebal jika dia salah mengeja nama Korea. Tidak berubah, seperti dulu. Tapi ayah tidak bereaksi apapun.
"Ya, tidak?"
Aku menghela napas. "Kurasa bisa dibilang begitu."
"Semalam katamu kau tidak tertarik dengan anak laki-laki mana pun di kota ini." Tapi ia mengambil garpunya lagi, jadi aku tahu yang terburuk telah berlalu.
"Well, Jungkook tidak tinggal di kota."
Ayah menatapku jengkel saat mengunyah.
"Lagipula," lanjutku, "ini baru tahap awal, kau tahu. Jangan membuatku malu dengan semua omongan soal pacar, oke?"
"Kapan dia akan kemari?"
"Dia akan tiba sebentar lagi."
"Dia akan mengajakmu ke mana?"
Aku mengeram keras-keras. "Kuharap kau singkirkan kecurigaan berlebihan dari pikiranmu sekarang. Kami akan bermain baseball bersama keluarganya."
Wajahnya cemberut, kemudian akhirnya tergelak. "Kau? Kim Taehyung bermain baseball?"
Aku cemberut mendengar ejekannya. "Well, barangkali kebanyakan aku menonton." Tapi senyum kotakku muncul begitu mendengar ayah tertawa.
"Kau pasti benar-benar menyukai laki-laki ini," ia mengamatiku curiga. Aku mendesah dan memutar bola mataku. Aku mendengar deruman mobil diparkir di depan rumah. Aku melompat dan mulai membersihkan piring bekas makanku.
"Tinggalkan saja piring-piring itu, aku bisa mencucinya malam ini. Kau sudah terlalu memanjakanku."
Bel pintu berbunyi, dan ayah berjalan terhuyung-huyung untuk membukanya. Aku hanya beberapa jengkal di belakangnya. Aku tidak menyadari betapa derasnya hujan di luar sana. Jungkook berdiri di bawah bias lampu teras, tampak seperti model pria dalam iklan jas hujan.
"Ayo masuk, Jungkook." Aku mendesah lega ketika ayah menyebut namanya dengan benar.
"Terima kasih, Kepala Polisi." sahut Jungkook dengan suara penuh hormat. "Oh, panggil saja aku Charlie. Sini, kusimpankan jaketmu."
"Terima kasih, Sir."
"Silahkan duduk, Jungkook."
Jungkook dengan luwes duduk di kursi satu dudukan, memaksaku duduk di sofa, di sebelah ayah. Aku cepat-cepat melirik jengkel padanya tapi Jungkook malah mengedip di belakang ayah.
"Jadi, kudengar kau mau mengajak anakku menonton pertandingan baseball." Faktanya, hanya di Washington-lah pertandingan olahraga luar ruangan tetap berjalan tak peduli hujan deras atau tidak.
"Ya, Sir, begitulah rencananya." Ia tidak tampak terkejut bahwa aku mengatakan yang sebenarnya pada ayahku. Lagipula, ia mungkin saja mendengarkan.
"Well, kurasa kau lebih punya kekuatan untuk itu." ayah tertawa, dan Jungkook ikut tertawa.
"Oke." Aku bangkit berdiri. "Sudah cukup menertawakanku. Ayo kita pergi." Aku kembali menyusuri lorong dan mengenakan jaket. Mereka mengikuti.
"Jangan pulang terlalu larut, Tae."
"Jangan khawatir, Sir. Aku akan mengantarnya pulang sebelum larut," Jungkook berjanji.
"Kau jaga anakku baik-baik, oke?"
Aku mengerang, tapi mereka mengabaikanku.
"Dia akan aman bersamaku, aku janji, Sir."
Ayah tak bisa meragukan ketulusan Jungkook, yang terdengar pada setiap kata-katanya. Aku melangkah keluar sambil mengentakkan kaki. Mereka tertawa, dan Jungkook mengikutiku. Aku berhenti tiba-tiba di teras. Disana, di belakang trukku, tampak Jeep berukuran sangat besar. Bannya lebih tinggi dari pinggangku. Di depan lampu depan dan belakangnya ada bemper baja dan empat lampu sorot besar terkait di rangka bemper yang besar. Atapnya merah mengkilat. ayah bersiul pelan.
"Kenakan sabuk pengamanmu," sahutnya tercekat.
Jungkook mengikuti ke sisiku dan membukakan pintu. Aku mengira-ngira jarak ke jok dan bersiap-siap melompat naik. Jungkook mendesah, kemudian mengangkatku dengan satu tangan, begitu mudah, seolah aku hanya sehelai bulu. Kuharap ayah tidak memperhatikan.
Ketika Jungkook beralih ke jok pengemudi, dalam langkah manusia normal, aku berusaha mengenakan sabuk pengamanku. Tapi terlalu banyak kaitan.
"Ini semua untuk apa?" tanyaku ketika ia membuka pintu.
"Itu perlengkapan keselamatan off-road." Jawabnya.
"Oh-oh."
Aku mencoba menemukan setiap kaitan yang tepat, tapi tidak mudah. Jungkook mendesah lagi dan mencondongkan tubuh untuk membantuku. Aku senang hujannya sangat lebat sehingga kurasa ayah tidak terlalu jelas melihat kemari. Berarti ia tidak bisa melihat tangan Jungkook yang menyentuh leherku, menyusuri tulang selangkaku. Aku menyerah berusaha menolongnya dan berkonsentrasi agar tidak terengah-engah. Jungkook memasukkan kunci kontak dan menyalakan mesin. Kami berlalu meninggalkan rumah.
"Ini... mmm... Jeep-mu besar sekali."
"Ini punya Jimin hyung. Kurasa kau pasti tidak ingin berlari sepanjang jalan." Yeah, Jungkook benar.
"Di mana kalian menyimpan benda ini?"
"Kami merenovasi salah satu bangunan lain di rumah kami dan menjadikannya garasi."
"Apa kau tidak akan mengenakan sabuk pengamanmu?" Jungkook menatapku tak percaya. Lalu aku tiba-tiba mengerti.
"Berlari sepanjang jalan? Itu berarti kita masih harus berlari separuh perjalanan?" Suaraku naik beberapa oktaf.
Jungkook tersenyum tegang. "Kau tidak akan berlari."
"Aku bakal mual."
"Pejamkan saja matamu, kau akan baik-baik saja." Kugigit bibirku, melawan rasa panik.
Jungkook mencondongkan tubuh mengecup keningku, kemudian mengerang. Aku menatapnya, bingung.
"Kau harum sekali ketika hujan," jelasnya.
"Dalam artian yang baik, atau buruk?" tanyaku hati-hati.
Jungkook mendesah. "Keduanya, selalu keduanya."
Aku tak tahu bagaimana dapat melihat jalan dalam kegelapan dan guyuran hujan, tapi entah bagaimana Jungkook menemukan jalan kecil yang tidak bisa dibilang jalan dan lebih menyerupai jalan setapak pegunungan. Untuk waktu yang cukup lama kami tak mungkin bercakap-cakap, karena aku melonjak-lonjak seperti mata bor. Meski begitu Jungkook kelihatannya menikmati perjalanan, tersenyum lebar sepanjang jalan.
Kemudian kami tiba di ujung jalan; pepohonan membentuk dinding hijau. Hujan tinggal gerimis, setiap detik semakin pelan, dan langit tampak lebih terang di balik awan.
"Maaf Taehyung, kita harus jalan kaki dari sini."
"Kau tahu? Aku akan menunggu disini saja."
"Apa yang terjadi dengan semua nyalimu?"
"Aku belum melupakan pengalaman terakhirku." Mungkinkah itu baru kemarin?
Jungkook mengitari bagian depan mobil, dan menuju sisiku dalam kelebatan. Dia mulai melepaskan kaitan sabuk pengamanku.
"Biar aku yang melakukannya, kau terus saja," protesku.
"Hmmm..." Jungkook berpikir sambil cepat-cepat menyelesaikannya. "Sepertinya aku harus memanipulasi ingatanmu."
Sebelum aku bereaksi, Jungkook menarikku dari Jeep dan membuatku berdiri di tanah. Nyaris tak berembun sekarang ini; Jin benar.
"Memanipulasi ingatanku?" tanyaku gugup.
"Semacam itu." Jungkook memperhatikanku dengan hati-hati, tapi jauh di dalam matanya ada rasa humor. Dia meletakkan kedua tangannya di Jeep di kedua sisi kepalaku dan mencondongkan tubuh, memaksaku menempel ke pintu. Jungkook mencondongkan tubuhnya semakin dekat, wajahnya hanya beberapa senti dariku. Aku tak bisa melepaskan diri.
"Nah," desahnya, aromanya saja telah mengganggu proses berpikirku, "apa tepatnya yang kau khawatirkan?"
"Well, mm, menabrak pohon, " aku menelan ludah, "dan sekarat. Kemudian mual."
Jungkook menahan senyum. Kemudian dia menunduk dan dengan lembut menyapukan bibir dinginnya di lekukan leherku.
"Kau masih khawatir sekarang?" gumamnya di atas kulitku.
"Ya." Aku berusaha berkonsentrasi. "Tentang menabrak pepohonan dan menjadi mual."
Menggunakan hidungnya, Jungkook menyusuri leherku hingga ke ujung dagu. Napasnya yang dingin menggelitik kulitku.
"Sekarang?" Bibirnya berbisik di rahangku.
"Pepohonan," aku terengah. "Mual."
Jungkook mengangkat wajah untuk mengecup kelopak mataku. "Tae, kau tidak berpikir aku akan menabrak pohon, kan?"
"Tidak, tapi aku mungkin." Tak ada kepercayaan diri dalam suaraku. Jungkook mengendus kemenangan dengan mudah. Perlahan-lahan ia mencium menuruni pipiku, berhenti tepat di sudut mulutku.
"Akankah kubiarkan pohon melukaimu?" Bibirnya nyaris menyapu bibir bawahku yang gemetaran.
"Tidak," desahku. Aku tahu pertahananku nyaris hancur, tapi tak ada yang bisa kulakukan.
"Kau lihat," katanya, bibirnya bergerak di bibirku. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan, ya kan?"
"Tidak," aku mendesah, menyerah.
Kemudian dengan dua tangan Jungkook meraih wajahku nyaris dengan kasar, dan menciumku sepenuh hati, bibirnya yang tak mau berkompromi melumat bibirku. Bukannya tetap diam dengan aman, lenganku malah terangkat dan memeluk erat lehernya, dan sekonyong-konyong aku pun melebur dengan tubuhnya yang kaku. Aku mendesah dan mengangkat bibirku.
Jungkook tergagap mudur, dengan mudah melepaskan cengkramanku.
"Sialan, Kim Taehyung!" ujarnya terengah-engah. "Kau akan menjadi alasan kematianku, aku bersumpah."
Aku berjongkok, mengaitkan tanganku di lutut agar tidak jatuh ke tanah.
"Kau tidak bisa mati," gumamku, berusaha mengatur napas.
"Aku mungkin mempercayai itu sebelum aku bertemu denganmu. Sekarang ayo keluar dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh," geramnya.
Jungkook mengangkatku ke punggungnya seperti sebelumnya, dan bisa kulihat dia berusaha keras untuk memperlakukanku selembut sebelumnya. Aku mengunci kedua kakiku di pinggangnya, dan melingkarkan tanganku erat-erat di lehernya.
"Jangan lupa untuk memejamkan mata," ia mengingatkan dengan nada kasar.
Aku cepat-cepat membenamkan wajahku dibahunya, dibawah lenganku sendiri, dan memejamkan mata. Dan aku nyaris tak bisa merasakan bahwa kami sedang bergerak. Aku bisa merasakannya meluncur dibawahku, tapi Jungkook bisa saja sedang berjalan di jalan setapak, gerakannya terlalu halus. Aku tergoda untuk mengintip, hanya untuk melihat apakah ia benar-benar terbang menembus hutan seperti sebelumnya, tapi aku menahannya. Tidak sebanding dengan rasa pusing yang menyiksa itu. Aku menghibur diri sendiri dengan mendengarkan irama napasnya yang teratur. Aku tidak begitu yakin apakah kami sudah berhenti hingga tangannya meraih ke belakang dan menyentuh rambutku.
"Sudah sampai, Tae."
Aku memberanikan diri membuka mata, dan cukup yakin, kami sudah berhenti. Dengan kaku kulepaskan cengkramanku dari tubuhnya dan merosot ke tanah.
"Oh!" dengusku ketika terempas ke tanah yang basah. Jungkook menatapku tak percaya, jelas-jelas tidak yakin apakah ia masih terlalu marah padaku untuk menganggapku lucu. Tapi ekspresiku yang kebingungan membuatnya santai, dan Jungkook pun tertawa terbahak-bahak.
Aku bangkit berdiri, mengabaikannya sambil membersihkan lumpur dan bagian belakang jaketku. Itu hanya membuatnya tertawa lebih keras. Merasa jengkel, aku mulai melangkah ke dalam hutan. Aku merasakan lengannya memeluk pinggangku.
"Taetae.."
Aku mengerutkan keningku. "Taetae?"
"Yup. Taete, kau lucu, menggemaskan. Dan Taetae cocok untukmu. Taetae, Taehyung-ie" Aku mengerjapkan mata mendengar bisikannya tepat disamping telingaku.
"Jadi, uri Taetae, kau mau kemana?" Ada perasaan senang dan juga rindu yang membuncah mengdengar dia menggunakan bahasa korea. Tapi sedetik kemudian, aku kembali cemberut. Aku sedang kesal padanya.
"Nonton pertandingan baseball. Kau kelihatannya tidak tertarik lagi bermain, tapi aku yakin yang lain akan bersenang-senang tanpa dirimu."
"Kau berjalan ke arah yang salah."
Aku berbalik tanpa melihat ke arah Jungkook dan berjalan menghentak-hentak ke arah sebaliknya. Jungkook menangkapku lagi.
"Jangan marah, aku tak dapat menahan diri. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri." Jungkook tergelak sebelum bisa menahannya.
"Oh, jadi hanya kau yang berhak marah?" tanyaku, alisku terangkat.
"Aku tidak marah padamu."
"'Sialan Kim Taehyung, kau akan menjadi alasan kematianku?" aku mengingatkannya dengan nada sinis.
"Itu hanya pernyataan sesungguhnya."
Aku berusaha menjauhkan diri darinya lagi, tapi Jungkook menangkapku dengan cepat.
"Kau marah," aku berkeras.
"Ya."
"Tapi kau baru bilang, "
"Aku tidak marah padamu. Tidak bisakah kau melihatnya, Tae?" Tiba-tiba Jungkook terlihat tegang, seluruh selera humornya lenyap.
"Tidakkah kau mengerti?"
"Mengerti apa?" tuntutku, bingung dengan perubahan suasana hatinnya yang tiba-tiba, begitu juga kata-katanya.
"Aku takkan pernah marah padamu, bagaimana mungkin bisa? Kau begitu berani, percaya... hangat."
"Lalu kenapa?" bisikku, mengingat suasana hatinya yang kelam yang menjauhkannya dariku, yang selalu ku anggap sebagai perasaan frustasi yang rasional, frustasi akan kelemahanku, kelambananku, dan reaksi manusiaku yang tak terkendali...
Hati-hati Jungkook meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku. Membuatku sedikit menengadah dan melihat tepat kearah mata yang mempesona itu.
"Aku membangkitkan kemarahanku sendiri," katanya lembut.
"Karena selalu membahayakan dirimu. Eksistensiku sendiri membahayakanmu. Kadang-kadang aku benar-benar membenci diriku sendiri. Aku harus lebih kuat, aku harus bisa, "
Kuletakkan tanganku di atas mulutnya. "Jangan."
Jungkook meraih tanganku, memindahkannya dari bibirnya, namun meletakkannya dipipinya.
"Aku mencintaimu," kata Jungkook. "Itu alasan menyedihkan untuk apa yang kulakukan, tapi itu masih benar."
Itulah pertama kalinya Jungkook menyatakan cintanya padaku, dalam begitu banyak kata-kata. Jungkook mungkin tidak menyadarinya, tapi aku tentu saja menyadarinya.
"Sekarang, kumohon bersikaplah yang baik," dia melanjutkan, dan membungkuk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut di bibirku. Aku diam tak bergerak. Lalu mendesah.
"Kau berjanji pada ayah akan mengantarku pulang tidak sampai larut, ingat? Sebaiknya kita pergi sekarang."
"Ya, Ma'am."
Jungkook tersenyum sedih dan melepaskanku, kecuali satu tanganku. Dia membimbingku menaiki ketinggian beberapa meter, menembus semak-semak yang basah dan padat, mengitari pohon cemara berdaun yang besar sekali, dan kami pun sampai, di ujung lapangan terbuka yang luas di pangkuan puncak Pegunungan Olympic. Luasnya dua kali stadion baseball.
Aku bisa melihat yang lain semua ada disana; Kyuhyun, Jimin, Suga yang duduk di atas pecahan batu yang menonjol adalah yang terdekat dengan kami, mungkin jauhnya seratus meter. Lebih jauh lagi aku bisa melihat Namjoon dan Jin, setidaknya jaraknya seperempat mil, kelihatannya sedang melempar-lempar sesuatu, tapi aku tak melihat bolanya. Kelihatannya dr. Choi sedang menandai base, tapi benarkah base-base itu terpisah sejauh itu?
Ketika kami sampai, Kyuhyun, Jimin, dan Suga bangkit berdiri. Kyuhyun menghampiri kami. Jimin mengikuti setelah lama menatap punggung Suga. Sementara Suga telah bangkit dengan gemulai dan melangkah ke lapangan tanpa melirik ke arah kami. Perutku langsung mual, gelisah.
"Kaukah yang kami dengar tadi, Jungkook?" kyuhyun bertanya sambil mendekati kami.
"Kedengarannya seperti beruang tersedak," Jimin membenarkan.
Aku tersenyum ragu-ragu kepada Kyuhyun. "Itu memang dia."
"Taehyung tahu-tahu melakukan sesuatu yang lucu," Jungkook menjelaskan, cepat-cepat membalasku.
Jin telah meninggalkan posisinya dan sedang berlari, atau menari ke arah kami. Dia meluncur cepat dan berhenti dengan luwes di dekat kami. "Sudah waktunya," ia mengumumkan.
Begitu ia berbicara, gemuruh petir yang menggelegar mengguncang hutan, kemudian pecah di barat kota.
"Menyeramkan, bukan?" kata Jimin dengan nada akrab, sambil mengedip padaku.
"Ayo." Jin meraih tangan Jimin dan mereka berlari ke lapangan yang luas. Jin berlari bagai rusa. Jimin juga nyaris seanggun dan secepat Jin, meski begitu dia tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan rusa.
"Kau siap bermain?" Jungkook bertanya, tatapannya bersemangat, berkilat-kilat.
Aku mencoba terdengar bersemangat. "Ayo, tim!"
Jungkook mengejek dan setelah mengacak-acak rambutku, mengejar kedua saudaranya. Larinya lebih agresif, lebih mirip cheetah daripada rusa dan dengan cepat Jungkook mendahului mereka. Keanggunan dan kekuatan itu mempesonaku.
"Mau ikut turun?" Kyuhyun bertanya dengan suaranya yang lembut dan merdu, dan aku menyadari aku telah melongo menatap Jungkook. Dengan cepat kubenahi ekspresiku dan mengangguk. Kyuhyun tetap menjaga jarak beberapa meter di antara kami, dan aku bertanya-tanya apakah dia masih berhati-hati agar tidak membuatku takut. Ia menyamakan langkah kami tanpa terlihat tidak sabar.
"Anda tidak bermain bersama mereka?" tanyaku malu-malu.
"Tidak, aku lebih suka menjadi wasit, aku suka menjaga mereka," ia menjelaskan.
"Kalau begitu, apakah mereka suka bermain curang?"
"Oh ya, kau harus dengar agrumentasi mereka! Sebenarnya, kuharap kau tak perlu mendengarnya, kau akan berpikir mereka dibesarkan sekawanan serigala."
"Anda terdengar seperti ibuku," aku tertawa, terkejut.
Ia juga tertawa. "Well, aku memang menganggap mereka anak-anakku dalam banyak sebabnya aku senang dia menemukanmu, Sayang." Ungkapan sayang itu terdengar sangat alami meluncur dari bibirnya. "Dia sudah terlalu lama menjadi laki-laki aneh, aku sedih melihatnya sendirian."
"Kalau begitu, Anda tidak keberatan?" aku bertanya, kembali ragu-ragu. "Bahwa aku... sangat tidak tepat untuknya?"
"Tidak." Kyuhyun tampak bersimpati. "Kaulah yang diinginkannya. Entah bagaimana, pasti akan ada jalan keluarnya" katanya, meskipun dahinya berkerut waswas. Gelegar petir terdengar lagi.
Kyuhyun menghentikan langkah; rupanya kami telah sampai di ujung lapangan. Kelihatannya mereka telah membentuk tim. Jungkook berada jauh di sisi kiri lapangan, dr. Choi berdiri diantara base pertama dan kedua, dan jin memegang bola, berada di titik yang pasti merupakan posisi pitcher.
Jimin mengayunkan tongkat aluminium; suaranya berdesis nyaris tak terdengar di udara. Aku menunggunya menghampiri home base, tapi saat ia mengambil posisi, aku baru menyadari bahwa ia sudah disana, lebih jauh dari posisi pitcher yang kupikir mungkin. Namjoon berdiri beberapa meter di belakangnya, sebagai anggota tim lawan. Tentu saja tak satupun dari mereka memakai sarung tangan.
"Baik," seru Kyuhyun lantang, dan aku tahu bahkan Jungkook pun akan mendengarnya, sejauh apa pun posisinya. "Ke posisi masing-masing."
Jin berdiri tegak, seolah-olah tak bergerak. Gayanya tampak licik daripada mengancam. Dia memegang bola dengan kedua tangannya setinggi pinggang, dan kemudian, bagai serangan kobra, tangan kanannya mengayun dan bola menghantam tangan Namjoon.
"Apakah itu strike?" Aku berbisik kepada Kyuhyun.
"Kalau mereka tidak memukulnya, baru disebut strike," ia memberitahu.
Namjoon melempar bolanya kembali pada Jin. Jin tersenyum sebentar. Kemudian tangannya mengayun lagi. Kali ini entah bagaimana tongkat pemukulnya berhasil memukul bola yang tak tampak itu tepat pada waktunya. Bunyi pukulan itu menggetarkan, menggelegar; menggema hingga ke pegunungan, aku langsung mengerti mengapa mereka memerlukan badai petir. Bola itu meluncur bagai meteor di atas lapangan, melayang menembus hutan yang mengelilingi.
"Home run," aku bergumam.
"Tunggu," Kyuhyun mengingatkan, mendengarkan dengan saksama, satu tangan terangkat. Jimin tampak seperti kelebatan dari satu base ke base berikut, dr. Choi membayanginya. Aku tersadar kalau Jungkook menghilang.
"Out!" Kyuhyun berteriak lantang. Aku menatap tak percaya ketika Jungkook melompat keluar dari tepi pepohonan, tangannya yang terangkat menggengam bola, senyumnya yang lebar nyata bahkan olehku.
"Jimin memukul paling keras," jelas Kyuhyun, "tapi Jungkook berlari paling cepat."
Permainan berlanjut di depan mataku yang keheranan. Mustahil mengikuti kecepatan bola yang melayang dan kecepatan mereka mengelilingi lapangan. Aku mempelajari alasan lain mengapa mereka menungggu badai petir untuk bermain ketika Namjoon, berusaha menghindari tangkapan sempurna Jungkook, memukul bola mati ke arah dr. Choi. Dr. Choi lari mengejar bola dan kemudian mengejar Namjoon ke base pertama. Ketika mereka bertabrakan, suaranya bagai tabrakan dua batu besar. Aku melompat dengan was-was, tapi entah bagaimana mereka sama sekali tidak terluka.
"Safe," seru Kyuhyun dengan suaranya yang tenang.
Tim Jimin memimpin dengan skor satu, Suga melayang mengelilingi base demi base setelah Jimin berhasil memukul bola jauh-jauh, ketika Jungkook menangkap bola. Dia berlari cepat ke sisiku, wajahnya memancarkan rasa senang.
"Bagaimana menurutmu?" tanyanya.
"Yang jelas, aku takkan pernah bisa duduk sepanjang pertandingan Major League Baseball kuno yang membosankan lagi."
"Dan kedengarannya kau sering melakukannya sebelumnya," Jungkook tertawa.
"Aku agak kecewa," godaku.
"Kenapa?" tanyanya, bingung.
"Well, akan menyenangkan kalau aku bisa menemukan satu saja hal yang kaulakukan tak lebih baik daripada siapapun di planet ini."
Jungkook menyunggingkan senyumnya yang istimewa, membuatku kehabisan napas. "Giliranku," katanya, menuju base.
Jungkook bermain dengan pintar, menjaga bola tetap rendah, jauh dari jangkauan Suga yang tangannya selalu siap dipinggir lapangan, melampaui dua base bagai kilat sebelum Jimin berhasil mengembalikan bolanya dalam permainan. Dr. Choi membuat sebuah pukulan sangat jauh keluar lapangan, dengan suara dentuman yang menyakitkan ditelingaku, sehingga dia dan Jungkook berhasil menyelesaikan putaran. Jin ber-high five dengan mereka.
Skor terus berubah ketika pertandingan berlanjut, dan mereka saling menertawakan layaknya pemain baseball normal saat mereka bergantian memimpin. Kadang-kadang Kyuhyun menyuruh mereka tenang. Petir terus bergemuruh, tapi kami tetap kering seperti yang diperkirakan Suga.
Sekarang giliran dr. Choi memukul dan Jungkook yang menangkap ketika tiba-tiba Jin terkesiap. Mataku tertuju pada Jungkook -seperti biasa-, dan aku melihat kepalanya tersentak untuk memandang Jin. Mata mereka bertemu dan dalam sekejap sesuatu terjadi diantara mereka. Jungkook sudah berada di sisiku sebelum yang lainnya dapat bertanya kepada Jin apa yang terjadi.
"Jin?" suara Kyuhyun tegang.
"Aku tidak melihat, aku tak bisa mengatakannya," bisiknya. Semua sudah berkumpul.
"Ada apa, Jin?" dr. Choi bertanya dengan suara tenang berwibawa.
"Mereka melesat jauh lebih cepat daripada yang kukira. Bisa kulihat penglihatanku sebelumnya keliru," gumamnya.
Namjoon mendekati Jin, posturnya protektif. "Apa yang berubah?" tanyanya.
"Mereka mendengar kita bermain, dan itu membuat mereka berbelok," katanya menyesal, seolah-olah dialah yang bertanggung jawab atas apa pun yang membuatnya ketakutan.
Tujuh pasang mata yang gesit menandang wajahku, kemudian berpaling. "Seberapa cepat?" dr. Choi bertanya, bebalik menghadap Jungkook. Ketegangan menyelimuti wajahnya.
"Kurang dari lima menit. Mereka berlari, mereka ingin bermain." Wajah Jungkook terlihat geram.
"Kau bisa melakukannya?" dr. Choi bertanya pada Jungkook, matanya kembali berkilat-kilat memandangku.
"Tidak, tidak sambil menggendong," Jungkook terdiam. "Lagipula, hal terakhir yang kita butuhkan adalah mereka mencium aromanya dan mulai berburu."
"Berapa banyak?" tanya Jimin pada Jin.
"Tiga," jawab Jin singkat.
"Tiga!" sahut Jimin meremehkan. "Biarkan mereka datang." Otot lengannya yang kekar tampak tegang.
Selama sesaat yang tampaknya lebih lama daripada yang sesungguhnya, dr. Choi berpikir. Hanya Jimin yang tampak tenang; yang lain menatap wajah dr. Choi dengan tatapan gelisah.
"Mari kita lanjutkan saja permainan ini," akhirnya dr. Choi memutuskan. Suaranya tenang dan datar.
"Jin bilang, mereka hanya penasaran."
Semua ini diucapkan dalam curahan kata-kata yang hanya berlangsung beberapa detik. Aku mendengarkan dengan saksama dan menangkap sebagian besar maksudnya, meskipun aku tak bisa mendengar apa yang sekarang Kyuhyun tanyakan pada Jungkook dengan getaran bibirnya yang tak bersuara. Aku hanya melihat Jungkook menggeleng samar dan wajah Kyuhyun tampak lega.
"Kau yang menangkap, Eomma," katanya. "Cukup untukku." Dan dia pun berdiri di depanku. Yang lain kembali ke lapangan, dengan was-was menyapu hutan yang gelap dengan mata mereka yang tajam. Jin dan Kyuhyun tampak memfokuskan pandangan ke sekitar tempatku berdiri.
"Rapikan rambutmu," Jungkook berkata dengan nada suara rendah dan datar. Aku mematuhinya, merapikan helaian rambutku dengan tangan.
Aku mengatakan apa yang tampak di depan mataku. "Yang lain berdatangan sekarang."
"Ya, kumohon diamlah, jangan bersuara, jangan bergerak dari sisiku." Jungkook menyembunyikan dengan baik ketegangan dalam suaranya, tapi toh aku dapat menangkapnya. Jungkook mengelus rambutku, kemudian membantuku merapikan rambutku. Jungkook membuat poniku yang mulai panjang sedikit menutupi mataku..
"Itu takkan membantu," kata Jin lembut. "Aku dapat mencium baunya dari seberang lapangan."
"Aku tahu." Sekelumit perasaan putus asa mewarnai nada suaranya.
Dr. Choi berdiri di base, dan yang lain ikut bermain dengan setengah hati.
"Apa yang Kyuhyun tanyakan padamu?" bisikku.
Jungkook ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. "apakah mereka haus," gumamnya enggan.
Detik-demi detik berlalu; sekarang permainan berlanjut tanpa semangat. Tidak seorang pun berani memukul lebih keras dari pukulan asal-asalan. Jimin, Suga, dan Namjoon berdiri di tengah lapangan. Ketika sesekali terlepas dari ketakutan yang membuat buntu pikiranku, aku menyadari mata Suga tertuju padaku. Tatapannya tanpa ekspresi, tapi sesuatu dari bentuk mulutnya membuatku berpikit ia marah. Jungkook sama sekali tidak memperhatikan permainan, mata dan pikirannya menerawang ke hutan.
"Maafkan aku, Taehyung," gumamnya marah.
"Sungguh bodoh dan tidak bertanggung jawab telah mengeksposmu seperti ini. Aku sungguh menyesal."
Aku mendengar napasnya berhenti, matanya menatap hampa sisi kanan lapangan. Jungkook setengah melangkah, memposisikan diri di antara aku dan apa yang bakal datang. Dr. Choi, Jimin, dan yang lain berpaling ke arah yang sama, mendengarkan suara langkah yang kelewat samar bagi telingaku. Mereka muncul satu per satu dari tepi hutan, terpisah-pisah sejauh 12 meter. Laki-laki yang pertama langsung mundur, membiarkan laki-laki yang lain yang berdiri di depan, menempatkan dirinya di dekat laki-laki tinggi berambut gelap yang sikapnya jelas menunjukkan dialah pemimpin mereka. Yang ketiga wanita, dari jarak ini aku hanya bisa melihat bahwa rambutnya bernuansa kemerahan yang mengagumkan.
Mereka bergerak saling mendekat sebelum dengan hati-hati menghampiri keluarga Jungkook, memperlihatkan rasa hormat alami sekelompok predator ketika bertemu jenisnya sendiri dalam kelompok yang lebih besar dan asing. Ketika mereka mendekat, bisa kulihat betapa berbedanya mereka dengan keluarga Choi. Langkah mereka pelan, anggun, langkah yang secara konstan nyaris berubah siap menerkam. Mereka berpakaian ala backpacker pada umumnya: jins dan atasan kasual berkancing yang terbuat dari bahan tebal dan tahan lama. Namun pakaian mereka tampak usang karena sering dipakai, dan mereka bertelanjang kaki. Kedua laki-laki itu berambut cepak, tapi rambut si wanita yang berwarna jingga terang dipenuhi dedaunan dan serpih-serpihan hutan.
Mata mereka yang tajam dengan hati-hati mengamati postur dr. Choi yang elegan dan sempurna. Dr. Choi berdiri diapit Jimin dan Namjoon. Para pendatang itu melangkah hati-hati menghampiri mereka, dan tanpa komunikasi yang kentara, mereka masing-masing menyesuaikan diri dan bersikap lebih santai dan berwibawa. Laki-laki yang berdiri di depan jelas yang paling tampan, kulitnya bernuansa hijau di balik warna pucat yang sama, rambutnya hitam mengkilap. Postur tubuhnya sedang, ototnya kekar, tapi kalah jauh dari jimin. Dia tersenyum ramah, memamerkan gigi putihnya. Si perempuan lebih liar, dengan resah ia memandang bergantian menatap para laki-laki di depannya serta yang berdiri di sekitarku, rambutnya yang berantakan berkibaran dalam angin yang bertiup pelan. Laki-aki kedua berdiri diam di belakang mereka, tubuhnya lebih ramping daripada si pemimpin, rambutnya yang coklelat muda serta bagian-bagian lainnya biasa-biasa saja. Matanya, meskipun diam, entah mengapa tampak paling waspada.
Mata mereka juga berbeda. Bukan warna emas atau hitam seperti yang kuharapkan, tapi warna burgundy gelap yang keji dan mengancam. Sambil masih tersenyum, laki-laki berambut gelap melangkah maju ke arah dr. Choi.
"Kami kira kami mendengar permainan," katanya santai dengan sedikit logat Prancis. "Aku Laurent, ini Victoria dan James." Ia menunjuk vampir-vampir di sebelahnya.
"Aku Choi Siwon. Ini keluargaku, Jimin dan Namjoon, Suga, Kyuhyun dan Jin, Jungkook dan Taehyung." Ia sengaja tidak menunjuk kami satu per satu. Aku terkejut mengdengar dr. Choi menyebut namaku.
"Wow. Nama-nama yang unik. Ada ruang untuk beberapa pemain lagi?" tanya Laurent ramah.
Dr. Choi membalas dengan sama ramahnya. "Sebenarnya, kami baru saja selesai. Tapi lain kali kami jelas tertarik mengajak kalian bermain. Apakah kalian berencana untuk tinggal lama di daerah ini?"
"Kami sedang menuju ke utara, tapi kami penasaran ingin melihat siapa yang ada di sekitar sini. Sudah lama kami belum berjumpa dengan siapa-siapa."
"Tidak, wilayah ini biasanya kosong kecuali kami dan terkadang beberapa pengunjung seperti kalian." Suasana tegang perlahan berganti menjadi pembicaraan santai, kurasa Namjoon menggunakan bakatnya yang tidak biasa untuk mengendalikan situasi.
"Jangkauan berburu kalian mencakup mana saja?" Laurent bertanya dengan sikap santai.
Dr. Choi mengabaikan maksud di balik pertanyaan itu. "Disini, di Olympic Range, di sekitar Coast Ranges untuk waktu tertentu. Kami mempunyai tempat tinggal permanen di dekat sini. Ada lagi yang menetap permanen seperti kami di dekat Denali."
Laurent mengetuk-ngetukkan kakinya perlahan.
"Permanen? Bagaimana kalian mengaturnya?" Ada rasa penasaran yang murni dalam suaranya.
"Kenapa kalian tidak ikut ke rumah kami dan kita bisa mengobrol dengan nyaman?" undang dr. Choi. "Ceritanya agak panjang."
James dan Victoria bertukar pandang kaget mendengar kata 'rumah', tapi Laurent lebih pandai mengendalikan ekspresinya.
"Kedengarannya sangat menarik dan bersahabat." Senyumnya ramah. "Kami telah berburu sepanjang perjalanan dari Ontario, dan sudah lama belum sempat membersihkan diri." Dia mengagumi penampilan dr. Choi yang beradab.
"Kumohon jangan tersinggung, tapi kami akan menghargai bila kalian tidak berburu di sekitar daerah ini. Kalian mengerti, kami harus menjaga agar eksistensi kami tetap terjaga," dr. Choi menjelaskan.
"Tentu saja." Laurent mengangguk. "Kami tentu tidak akan melanggar teritori kalian. Lagipula, kami baru saja bersantap di luar Seattle." Ia tertawa. Rasa ngeri menjalar di tulang punggungku dan tanpa sadar menggenggam jemari Jungkook erat, dibalas dengan genggaman menenangkan dari Jungkook.
"Akan kami tunjukkan jalannya kalau kalian ingin lari bersama kami, Jimin dan Jin, kalian bisa pergi bersama Jungkook dan Taehyung ke Jeep," dr. Choi menambahkan dengan tenang.
Tiga hal tampaknya terjadi secara bersamaan ketika dr. Choi bicara. Rambutku berantakan ditiup angin, tubuh Jungkook menegang, dan laki-laki kedua –James- tiba-tiba memutar kepalanya, mengamatiku, hidungnya mengendus-endus. Tubuh mereka langsung menegang ketika James maju selangkah dan siap menerkam. Jungkook memperlihatkan giginya, balas siap menerkam, menggeram penuh ancaman. Sama sekali bukan geraman main-main yang kudengar tadi pagi, melainkan hal yang paling mengerikan yang pernah kudengar. Rasa ngeri pun menjalar dari ujung rambut hingga ke ujung kakiku.
"Apa ini?" Laurent blak-blakan menunjukkan rasa terkejutnya. Baik Jungkook maupun James tidak mengubah pose agresif mereka. James bergerak sedikit ke samping, dan sebagai jawabannya Jungkook sedikit bergeser.
"Dia bersama kami." Jawaban dr. Choi yang tegas diarahkan langsung pada James. Laurent sepertinya tidak mencium aroma tubuhku setajam James, tapi tampaknya sekarang dia sudah menyadarinya.
"Kalian membawa snack?" tanyanya, ekspresinya keheranan saat ia melangkah enggan ke depan. Jungkook menggeram bahkan lebih menakutkan lagi, bengis, bibirnya terangkat tinggi memamerkan giginya yang berkilauan.
"Tapi dia manusia," protes Laurent. Ucapannya sama sekali tidak bernada agresif, semata-mata hanya terkejut.
"Ya." Jimin jelas-jelas membela dr. Choi, matanya tertuju pada James. Perlahan James menegakan tubuhnya, tapi tatapannya tidakk pernah lepas dariku, cuping hidungnya masih mengembang. Jungkook tetap tegang bagai singa di hadapanku. Ketika Laurent bicara, nada suaranya lembut, mencoba menenangkan permusuhan yang tiba-tiba muncul.
"Kelihatannya banyak yang harus kita pelajari tentang satu sama lain."
"Tentu." Suara dr. Choi masih tenang.
"Tapi kami ingin menerima undanganmu." Matanya bergantian menatap dr. Choi dan aku.
"Dan, tentu saja, kami takkan melukai manusia ini. Seperti kataku, kami takkan berburu dalam wilayah buruanmu." James memandang tak percaya dan kesal kepada Laurent. Sekali lagi dia bertukar pandang sekilas dengan Victoria, yang matanya menatap gelisah dari satu wajah ke wajah yang lain.
Sesaat dr. Choi mempelajari ekspresi wajah Laurent yang gamblang sebelum berbicara. "Akan kami tunjukkan jalannya. Namjoon, Suga, Kyuhyun?" panggilnya. Mereka mendekat, menghalangiku dari pandangan saat mereka berkumpul. Sementara Jin serta merta sudah berada disisiku, dan Jimin mundur perlahan, tatapannya terkunci pada James saat ia berjalan membelakangi kami.
"Ayo, Tae." Suara Jungkook pelan dan lemah.
Selama itu aku berdiri kaku tak bergerak di tempat yang sama, begitu ketakutannya hingga sama sekali tidak bergerak. Jungkook sampai harus meraih sikuku dan menyentakku hingga aku tersadar. Jin dan Jimin berada dekat di belakang kami, menyembunyikan diriku. Aku berjalan tersandung-sandung disebelah Jungkook, masih terkejut karena ngeri. Aku tak bisa mendengar apakah yang lain sudah pergi atau belum. Ketidaksabaran Jungkook begitu kentara ketika kami bergerak dengan kecepatan manusia menuju tepi hutan.
Kami tiba di Jeep dalam waktu teramat singkat, Jungkook nyaris tidak memperlambat gerakannya keika menaruhku di jok belakang.
"Pasangkan sabuk pengamannya," Jungkook memerintahkan Jimin, yang menyelinap masuk ke sebelahku. Jin telah berada di jok depan, dan Jungkook menyalakan mesin. Kemudian mesinnya menderu dan kami bergerak mundur, berputar menghadapi jalanan yang berliku.
Jungkook menggeramkan sesuatu yang terlalu cepat untuk bisa kumengerti, tapi kedengerannya jelas seperti serangkaian makian. Perjalanan yang berguncang-guncang itu membuatnya lebih buruk saat ini, dan kegelapan hanya membuatnya semakin mengerikan. Jimin dan Jin memandang saksama keluar jendela. Kami tiba di jalan utama, dan meskipun laju kami bertambah cepat, aku bisa melihat jauh lebih baik kemana tujuan kami. Dan kami menuju ke selatan, menjauh dari Forks.
"Kita mau kemana?" aku bertanya.
Tak ada yang menjawab. Bahkan tak seorangpun melihat ke arahku. "Sialan, Jungkook! Kemana kau membawaku?"
"Kami harus membawamu pergi dari sini, jauh sekali, sekarang." Jungkook tidak menoleh ke belakang, matanya terpaku ke jalan. Spidometer menunjukkan kecepatan 105 mil per jam.
"Kembali! Kau harus membawaku pulang!" aku berteriak. Aku memberontak, berusaha melepaskan kaitan tolol sabuk pengaman ini.
"Jimin," kata Jungkook dingin.
Dan Jimin mengamankan tanganku dalam genggamannya yang kuat.
"Tidak! Jungkook! Tidak, kau tidak boleh melakukan ini."
"Aku harus, Tae. Sekarang kumohon diamlah."
"Tidak akan! Kau harus membawaku pulang, ayah akan menelepon FBI! Mereka akan mengejar keluargamu, dr. Choi dan Kyuhyun! Mereka terpaksa harus pergi, bersembunyi selamanya!"
"Tenanglah, Tae." Suaranya dingin. "Kami sudah pernah mengalami itu sebelumnya."
"Tidak demi aku, tidak akan! Kau tidak akan menghancurkan segalanya demi aku!" Aku memberontak habis-habisan, dan sama sekali saia-sia.
Jin berbicara untuk pertama kali. "Menepilah, Jungkook." Jungkook menatapnya marah, kemudian menambah kecepatan.
"Kau tidak mengerti," Jungkook mengerang frustasi. Aku belum pernah mendengar suaranya selantang ini, begitu memekakan di dalam Jeep yang sempit. Jarum spidometer nyaris mendekati angka 115.
"Dia pemburu, Jin, tidakkah kau melihatnya? Dia pemburu!"
Aku merasakan Jimin menegang di sebelahku, dan aku mempertanyakan reaksinya terhadap kata itu. Kata itu memiliki arti lebih bagi mereka bertiga daripada bagiku, aku ingin memahaminya, tapi tak ada celah bagiku untuk bertanya.
"Menepilah, Jungkook." Nada suara Jin tenang, namun terselip wibawa di dalamnya yang belum pernah kudengar sebelumnya. Jarum spidometer bergerak melewati 120.
"Lakukan, Jungkook."
"Dengar, Jin. Aku melihat pikirannya. Berburu adalah hasratnya, obsesinya, dan dia menginginkan Taehyung, Jin. Taehyung, secara spesifik. Dia memulai perburuannya malam ini."
"Dia tak tahu kemana, "
Jungkook menginterupsi. "Pikirmu berapa lama waktu yang diperlukannya untuk menemukan baunya di kota? Rencananya bahkan sudah matang sebelum Laurent bicara."
Aku terkesiap, menyadari kemana aroma tubuhku akan membawanya.
"Ayah! Kau tidak bisa meninggalkannya disana! Kau tak boleh meninggalkannya!" Aku meronta-ronta di balik ikatan sabuk.
"Dia benar," kata Jin. Jeep sedikit melambat.
"Mari kita pertimbangkan pilihan kita sejenak," bujuk Jin. Jeep kembali melambat, lebih drastis, dan tiba-tiba kami berhenti sambil berdecit di bahu jalan tol. Aku terdorong ke depan, dan terhempas lagi ke jok.
"Tidak ada pilihan," desis Jungkook.
"Aku tidak akan meninggalkan ayahku!" teriakku. Jungkook benar-benar mengabaikanku.
"Kita harus membawanya kembali," Jimin akhirnya berbicara.
"Tidak," sahut Jungkook mantap.
"Dia bukan tandingan kita, Jungkook. Dia takkan bisa menyentuhnya."
"Dia akan menunggu."
Jimin tersenyum. "Aku juga bisa menunggu."
"Kau tidak mengerti. Sekali memutuskan untuk berburu, dia tak tergoyahkan. Kita harus membunuhnya."
Jimin kelihatan setuju-setuju saja dengan ide itu. "Itu sebuah pilihan."
"Dan yang perempuan. Dia bersamanya. Bila nantinya berubah menjadi perseteruan, si pemimpin akan turun tangan juga."
"Jumlah kita cukup banyak."
"Itu pilihan lain," kata Jin pelan.
Jungkook berbalik padanya, murka, suaranya mengeram. "Tidak. Ada. Pilihan. lain!"
Jimin dan aku memandangnya terkejut, tapi Jin kelihatannya biasa-biasa saja. Keheningan berlangsung panjang sementara Jungkook dan Jin saling menatap.
Aku memecahkannya. "Tidakkah kalian ingin mendengar rencanaku?"
"Tidak," geram Jungkook. Jin memberikan tatapan tajam, akhirnya terpancing juga
"Dengar," aku memohon. "Bawa aku kembali."
"Tidak," potong Jungkook.
Aku memandang marah dan melanjutkan. "Bawa aku kembali, akan kubilang pada ayahku bahwa aku ingin pulang ke Phoenix. Kukemasi barang-barangku. Kita tunggu sampai si pemburu memperhatikan, baru kita lari. Dia akan mengikuti kita dan tidak mengganggu ayahku. Ayah tidak akan melaporkan keluargamu pada FBI. Lalu kau bisa membawaku kemana pun kau mau."
Mereka menatapku, terkesiap.
"Bukan ide yang buruk, sungguh." Keterkejutan Jimin jelas penghinaan.
"Bisa saja berhasil, dan kita tidak bisa membiarkan ayahnya begitu saja tanpa perlindungan. Kalian tahu itu," kata Jin. Semua menatap Jungkook.
"Terlalu berbahaya, aku tak menginginkannya berada dalam radius 100 mil dari Taehyung."
Jimin tampak sangat percaya diri. "Jungkook, dia takkan bisa mengalahkan kita."
Jin berpikir sebentar. "Aku tidak melihatnya menyerang. Dia akan mencoba menunggu kita meninggalkannya sendirian."
"Takkan perlu waktu lama baginya untuk menyadari itu takkan terjadi."
"Aku memerintahkanmu untuk membawaku pulang." Aku berusaha terdengar tegas. Jungkook menekan jemarinya di pelipis dan memejamkan mata.
"Kumohon," kataku, suaraku jauh lebih pelan.
Jungkook tidak mendongak. Ketika bicara, suaranya terdengar terluka.
"Kau akan pergi malam ini, tak peduli apakah si pemburu melihat atau tidak. Katakan pada ayahmu, kau tak tahan lagi berada di Forks. Ceritakan apa saja agar dia percaya. Kemasi apapun yang bisa kau ambil, kemudian masuk ke trukmu. Aku tak peduli apa yang dikatakannya padamu. Kau punya waktu 15 menit. Kau dengar aku? 15 menit setelah kau keluar dari pintu."
Jeep menderu menyala, dan Jungkook memutarnya, bannya berdecit-decit. Jarum spidometer mulai bergerak sesuai kecepatan.
"Jimin?" Aku bertanya, menatap lurus tanganku.
"Oh, maaf." Ia melepaskannya.
Beberapa menit berlangsung dalam keheningan, kecuali bunyi deru mesin. Lalu Jungkook berbicara lagi. "Inilah yang akan kita lakukan. Sesampainya di rumah Taehyung, kalau si pemburu tidak ada disana, aku akan mengantarnya sampai ke pintu. Kemudian dia punya waktu 15 menit." Jungkook menatapku geram dari kaca spion.
"Jimin, kau berjaga di luar rumah. Jin, kau ambil truk Taehyung. Aku akan berada di dalam selama dia di sana. Setelah dia keluar, kalian boleh bawa Jeep-nya pulang dan memberitahu appa."
"Tidak akan," Jimin menyela. "Aku ikut kau."
"Pikirkan lagi, Jimin. Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi."
"Sampai kami tahu sejauh mana ini bakal berlangsung, aku ikut kau."
Jungkook mendesah. "Kalau si pemburu ada disana," ia melanjutkan perkataannya dengan muram, "kita tidak akan berhenti."
"Kita akan sampai disana sebelum dia," kata Jin yakin. Jungkook sepertinya setuju. Apapun masalahnya dengan Jin, sekarang ia tak meragukannya lagi.
"Apa yang akan kita lakukan dengan Jeep-nya?" Jin bertanya.
Suaranya terdengar pahit. "Kau akan membawanya pulang."
"Tidak, aku tidak mau," kata Jin tenang.
Rangkaian makian yang tak terdengar itu mulai lagi. "Kalian semua takkan muat di trukku," aku berbisik. Sepertinya Jungkook tidak mendengarku.
"Kurasa kau harus membiarkanku pergi sendiri." Aku berkata dengan suara yang bahkan lebih pelan. Jungkook mendengarnya.
"Taehyung, kumohon lakukan saja dengan caraku, sekali ini saja," katanya, mengertakkan giginya.
"Dengar, ayahku bukan orang bodoh," protesku. "Kalau besok kau tidak tampak di kota, dia bakal curiga."
"Itu tak ada hubungannya. Kami akan memastikan dia aman, dan itulah yang terpenting."
"Lalu bagaimana dengan si pemburu ini? Dia melihat bagaimana sikapmu malam ini. Dia akan berpikir kau bersamaku, dimanapun kau berada."
Jimin melihat ke arahku, terlihat terkejut lagi. "Jungkook, dengarkan dia," desaknya. "Kupikir dia benar."
"Ya, dia memang benar," Jin menimpali.
"Aku tak bisa melakukannya." Suara Jungkook dingin.
"Jimin juga harus tinggal," aku melanjutkan. "Dia jelas menaruh perhatian pada Jimin."
"Apa?" Jimin berbalik padaku.
"Kau akan menjadi lawan yang sebanding baginya bila kau tetap tinggal," timpal Jin.
Jungkook menatap Jin tak percaya. "Menurutmu, aku harus membiarkan Taehyung pergi sendirian?"
"Tentu saja tidak," sahut Jin. "Namjoon dan aku akan membawanya." Lanjutnya.
"Aku tak bisa melakukannya," Jungkook mengulangi kata-katanya, tapi kali ini terselip nada menyerah di balik suaranya. Akal sehatnya mulai bekerja.
Aku mencoba membujuk. "Tetaplah disini selama seminggu," aku melihat ekspresinya lewat kaca spion dan meralat kata-kataku "Beberapa hari. Biarkan ayahku melihat kau tidak menculikku, dan buat perburuan James ini berantakan. Pastikan dia benar-benar kehilangan jejakku. Lalu datanglah dan temui aku. Tentu saja ambil rute memutar, kemudian Jin dan Namjoon bisa pulang."
Aku bisa melihat Jungkook mempertimbangkan ideku. "Menemuimu dimana?"
"Phoenix." Tentu saja.
"Tidak. Dia akan mendengar bahwa itulah tempat yang kau tuju," katanya tidak sabar.
"Dan kau akan membuatnya kelihatan seperti jebakan, tentunya. Dia akan tahu kita sengaja membiarkannya mendengarkan percakapan kita. Dia takkan pernah percaya aku sebenarnya akan pergi ke tempat yang kukatakan."
"Dia licik," Jimin tergelak.
"Dan kalau itu tidak berhasil?"
"Beberapa juta orang tinggal di Phoenix," aku memberitahunya. "Tidak terlalu sulit mendapatkan buku telepon."
"Aku takkan pulang."
"Oh?" tanyanya, nada suaranya berbahaya.
"Aku cukup dewasa untuk punya tempat tinggal sendiri."
"Jungkook, kami akan menemaninya," Jin mengingatkan.
"Apa yang akan kalian lakukan di Phoenix?" Jungkook bertanya pada Jin.
"Tetap di dalam ruangan."
"Aku sepertinya menyukainya." Jimin sedang memikirkan tentang menghabisi James, tak diragukan lagi.
"Diam, Jimin."
"Dengar, kalau kita mencoba membunuhnya sementara Taehyung masih disini, kemungkinan besar akan ada yang terluka, dia akan terluka, atau kau karena mencoba melindunginya. Nah, kalau kita menyerang disaat dia sendirian..." dia tidak menyelesaikan kalimatnya, senyumnya mengembang perlahan. Aku benar.
Sekarang Jeep melaju pelan saat kami memasuki kota. Meskipun ucapanku terdengar berani, bisa kurasakan bulu kudukku meremang. Aku memikirkan ayah, sendirian di rumah, dan mencoba untuk berani.
.
.
.
.
.
End of this Chapter
.
.
.
.
Holaaaa… ada yang masih ingat dengan saya? Dengan ff ini? Semoga ada ya.. haha..
Maaf banget selama ini tiba-tiba menghilang, gak publish apapun dari kelanjutan ff ini. Biasalah, kesibukan di real life menyita waktuku. Tapi aku tetap usahakan untuk menyelesaikan ff twilight remake kookv version ini kok, tenang aja. Sebenarnya, aku mau minta saran. Nanti kan cerita ini pasti nyerempet2 ke rate M, kayak di chapter ini ada adegan you know what. Haha.. jadi, baiknya tetep di post di rate T aja atau pindah ke rate M?
Sebenarnya mau cari idol korea buat tokoh tiga vampire itu, tapi gak nemu2 yang sreg. Haha..
Terus, aku mutusin buat gak pakai panggilan 'hyung' disini. Mau pake nama-nama aja langsung, kan diceritanya juga mereka satu angkatan. XD
Ya udah itu aja sih.. tinggal 4-5 chapter lagi kok
mind to give me a review? ^^
