TWILIGHT (KookV Version)

-Perpisahan-

.

.

.

.

.

.

Ayah sedang menungguku, terlihat dari semua lampu di rumah yang menyala. Pikiranku kosong ketika aku mencoba memikirkan cara agar dia mau membiarkanku pergi. Ini tidak akan menyenangkan. Perlahan Jungkook menepikan Jeep, memarkirnya tepat dibelakang truk ku. Mereka bertiga sangat waspada, duduk tegak di kursi mereka, mendengarkan setiap suara di hutan, mengamati setiap bayangan, menghirup setiap aroma, mencari sesuatu yang tidak pada tempatnya. Mesin dimatikan, dan aku duduk tak bergerak ketika mereka terus mendengarkan.

"Dia tidak disini," kata Jungkook tegang.

"Ayo."

Jimin meraih ke sisiku untuk membantuku melepaskan sabuk pengaman.

"Jangan khawatir, Tae," katanya pelan namun ceria, "kami akan membereskan semuanya disini dalam waktu singkat."

Aku merasakan mataku nyaris berkaca-kaca saat memandang Jimin. Aku nyaris tidak mengenalnya, namun bagaimanapun juga, tidak mengetahui kapan aku bisa bertemu lagi dengannya setelah malam ini, membuatku sedih. Aku tahu ini hanyalah rasa perpisahan yang harus kutahankan selama satu jam ke depan, dan pikiran itu membuat air mataku mulai turun.

"Jin, Jimin." Suara Jungkook memerintah. Mereka menyelinap tanpa suara menembus kegelapan, langsung menghilang. Jungkook membukakan pintuku dan memegang tanganku, kemudian menarikku dalam pelukkannya yang melindungi. Jungkook mengantarku dengan cepat ke rumah, matanya selalu menjelajahi kegelapan malam.

"Lima belas menit," Jungkook mengingatkanku dengan berbisik.

"Aku bisa melakukannya," isakku. Air mata memberiku inspirasi. Aku berhenti di teras dan menggenggam wajahnya dengan kedua tanganku. Aku menatap matanya lekat-lekat.

"Aku mencintaimu," kataku, suaraku pelan dan dalam. "Aku akan selalu mencintaimu, tak peduli apa yang terjadi sekarang."

"Takkan terjadi apa-apa padamu, Tae." katanya, sama tajamnya.

"Jalankan saja rencananya, oke? Jaga ayahmu untukku. Dia takkan menyukaiku lagi setelah ini, dan aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf nantinya."

"Masuklah, Tae. Kita harus bergegas." Suaranya mendesak.

"Satu lagi," aku berbisik penuh hasrat. "Jangan dengarkan kata-kataku malam ini."

Jungkook mencondongkan tubuhnya, jadi yang perlu kulakukan hanya berjingkat untuk mencium bibirnya yang beku dan terkejut sekuat mungkin. Kemudian aku berbalik dan menendang pintu hingga terbuka.

"Pergilah, Jungkook!" Aku berteriak padanya, berlari masuk dan membanting pintu hingga tertutup di hadapan wajahnya yang masih terkejut.

"Taehyung?" ayah sedang bersantai di ruang tamu, dan sekarang ia bangkit berdiri.

"Jangan ganggu aku!" aku berteriak padanya, air mataku mengalir deras sekarang. Aku berlari menaiki tangga menuju kamar, membanting pintu dan menguncinya. Aku berlari ke tempat tidur, mengempaskan diri di lantai untuk mengambil tasku. Aku langsung mengulurkan tangan ke bawah kasur dan mengambil kaus kaki usang tempatku menyimpan uangku. Ayah mengedor-gedor pintu kamar.

"Tae, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Suaranya terdengar was-was.

"Aku mau pulang," aku berteriak, memberi tekanan pada kata yang tepat.

"Apakah dia melukaimu?" suaranya hampir marah.

"Tidak!" jeritku. Aku berbalik ke lemari pakaian dan Jungkook sudah ada disana, tanpa suara meraup asal-asalan pakaianku, lalu melemparkannya padaku.

"Apakah dia mencampakkanmu?" Ayah benar-benar bingung.

"Tidak!" jeritku, agak terengah-engah saat menjejalkan semuanya kedalam tas. Jungkook melempar beberapa helai pakaian lagi padaku. Sekarang tasnya sudah lumayan penuh.

"Apa yang terjadi, Taehyung?" seru ayah dari balik pintu sambil mengedor-gedor lagi.

"Aku mencampakkannya!" aku balas berteriak, sambil menarik-narik resleting tasku.

Tangan Jungkook yang sedang tidak melakukan apa-apa mendorong tanganku dan menutup risleting itu dengan mulus. Dengan hati-hati ia menaruh talinya di bahuku.

"Aku akan menunggu di truk, pergilah." Jungkook berbisik dan mendorongku ke pintu. Jungkook menghilang lewat jendela.

Aku membuka pintu dan menghambur melewati ayah, berjuang keras membawa tasku yang berat menuruni tangga.

"Apa yang terjadi?" Ayah berteriak. Dia berada tepat di belakangku.

"Kupikir kau menyukainya?"

Ayah menangkap sikuku ketika kami sampai di dapur. Meskipun dia masih bingung, cengkramannya kuat. Ayah memutar tubuhku menghadapnya dan aku bisa melihat ekspresi di wajahnya, bahwa ia tak berniat membiarkanku pergi. Aku hanya bisa memikirkan satu cara untuk melepaskan diri dan ini akan sangat melukai hatinya hingga aku membenci diriku sendiri bahkan ketika memikirkannya. Tapi aku tidak punya waktu dan aku harus memikirkan keselamatannya. Aku menatap geram pada ayahku, air mata kembali menggenangi mataku memikirkan apa yang akan segera kulakukan.

"Aku memang menyukainya, itulah masalahnya. Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku tak bisa hidup disini lebih lama lagi! Aku tak mau terjebak di kota tolol dan membosankan ini seperti eomma! Aku tidak akan membuat kesalahan bodoh yang saam seperti yang dilakukan eomma. Aku benci, aku tak bisa tinggal disini lebih lama lagi!"

Ayah melepaskan lenganku seolah-olah aku telah menyetrumnya. Aku berpaling dari wajahnya yang terkejut dan terluka, lalu bergegas ke pintu.

"Taehyung, sayang, kau tidak bisa pergi sekarang. Sudah malam," bisiknya dibelakangku.

Aku tidak menoleh, terlalu menyakitkan melihat betapa sedihnya ayah malam ini. "Aku akan tidur di truk bila mengantuk."

"Tunggu satu minggu lagi," ayah memohon, masih terkejut setengah mati "Ibumu akan kembali pada saat itu."

"Apa?"

Ayah melanjutkan dengan bersemangat, hampir meracau lega ketika melihat keraguanku. "Dia menelepon ketika kau sedang keluar. Kehidupannya di Florida tidak berjalan baik, dan kalau Phil tidak mendapatkan kontrak hingga akhir pekan, mereka akan kembali ke Arizona. Asisten pelatih Sidewinders bilang mereka masih punya posisi sementara untuknya."

Aku menggeleng, berusaha mengumpulkan pikiranku yang sedang berantakan. Setiap detik yang berlalu akan semakin membahayakan nyawa ayah.

"Aku punya kunci," gumamku, memutar kenop pintu. Ayah berdiri terlalu dekat, satu tangannya terulur ke arahku, wajahnya syok. Aku tak bisa membuang waktu dan berdebat dengannya lagi. Aku harus membuatnya lebih sakit lagi.

"Biarkan aku pergi, ayah." Aku mengulangi kata-kata terakhir ibuku ketika ia melewati pintu yang sama ini bertahun-tahun yang lalu. Aku mengucapkannya semarah mungkin, lalu membuka pintu, dan mengempaskannya.

"Semuanya kacau, oke? Aku sungguh, sungguh membenci Forks!" Ucapanku yang jahat berhasil. Ayah bergeming di ambang pintu, terpana, sementara aku berlari menembus malam. Aku amat sangat ketakutan berada di pekarangan yang kosong. Aku berlari seperti kerasukan menuju trukku, membayangkan bayangan gelap di belakangku. Kulempar tasku ke jok dan menarik pintunya hingga terbuka. Kuncinya sudah menggantung di lubang starter.

"Besok aku akan menelepon!" aku berteriak, berharap melebihi apapun bahwa aku bisa menjelaskan semua ini padanya saat itu, namun sadar aku takkan pernah sanggup. Kunyalakan mesin truk dan melesat meninggalkan halaman rumah.

.

.

.

.

.

.

Jungkook meraih tanganku.

"Menepi," katanya begitu rumah ayah tidak terlihat lagi.

"Aku bisa mengemudi," kataku di balik air mata yang mengalir ke pipi.

Tahu-tahu tangannya yang panjang mencengkeran pinggangku, dan kakinya mendorong kakiku hingga lepas dari pedal gas. Jungkook menarikku ke pangkuannya, melepaskan tanganku dari kemudi, dan tiba-tiba saja ia sudah pindah ke jok pengemudi. Trukku tidak oleng sedikitpun.

"Kau takkan bisa menemukan rumahnya," Jungkook menjelaskan. Tiba-tiba lampu menyorot terang di belakang kami. Aku memandang lewat kaca belakang, mataku membelalak ketakutan.

"Itu hanya Jin," Jungkook menenangkanku. Dia memegang tanganku lagi.

Benakku dipenuhi sosok ayah yang berdiri di ambang pintu.

"Si Pemburu?"

"Dia mendengar akhir sandiwaramu," kata Jungkook geram.

"Ayah?" tanyaku ngeri.

"Si pemburu mengikuti kita. Sekarang ia berlari di belakang kita." Tubuhku langsung membeku.

"Bisakah kita meninggalkannya?"

"Tidak." Tapi Jungkook mempercepat mesin trukku sambil berbicara. Mesin truk menggeram. Rencanaku tiba-tiba tidak terasa brilian lagi. Aku menoleh ke belakang menatap lampu Jin ketika truk bergetar dan bayangan gelap meluncur di luar jendela.

Darahku bergejolak sesaat sebelum Jungkook membekap mulutku. "Itu Jimin!"

Jungkook melepaskan tangannya dari mulutku, dan memeluk pinggangku.

"Semuanya baik-baik saja Taehyung," Jungkook berjanji. "Kau akan aman."

Kami melesat melalui kota yang sepi, menuju jalan tol utara.

"Aku tak tahu kau masih bosan dengan kehidupan kota kecil," katanya berbasa-basi, dan aku tahu bahwa Jungkook sedang berusaha mengalihkan perhatianku.

"Sepertinya kau menyesuaikan diri dengan sangat baik, terutama akhir-akhir ini. Barangkali aku hanya menyanjung diriku sendiri karena telah membuat hidupmu jauh lebih menarik."

"Aku benar-benar bukan anak yang baik," aku mengaku, mengabaikan perhatianku, sambil menunduk memandangi lutut.

"Tadi adalah hal yang sama yang diucapkan ibuku saat dia meninggalkan ayah. Bisa dibilang itu sangat kejam dan tidak adil."

"Jangan khawatir. Dia akan memaafkanmu." Jungkook tersenyum sedikit, meskipun matanya tidak. Aku menatapnya putus asa, dan ia melihat kepanikan di mataku.

"Tae, semuanya akan baik-baik saja."

"Tapi tidak akan baik-baik saja saat aku tidak bersamamu," bisikku.

"Kita akan bersama-sama lagi dalam beberapa hari," katanya seraya mempererat pelukannya. "Jangan lupa, ini idemu."

"Ini ide terbaik, tentu saja ini ideku." Senyumnya pucat dan langsung lenyap.

"Kenapa ini terjadi?" tanyaku, suaraku melengking. "Kenapa aku?"

Jungkook menatap marah ke jalanan di depan kami. "Ini salahku, aku bodoh sekali mengeksposmu seperti itu." Kemarahan dalam suaranya ditujukan untuk dirinya sendiri.

"Bukan itu maksudku," aku berkeras.

"Aku ada disana, memangnya kenapa? Kehadiranku tidak mengganggu dua yang lain. Kenapa si James ini memutuskan untuk membunuhku? Ada orang dimana-mana, kenapa aku?"

Jungkook ragu-ragu, berpikir sebelum menjawab.

"Aku mendengarkan pikirannya malam ini," ia memulai dengan suara pelan. "Aku tidak yakin ada yang bisa kulakukan untuk menghindari ini, begitu dia melihatmu. Sebagian adalah salahmu." Suaranya masam.

"Seandainya aromamu tidak begitu menggiurkan, dia mungkin saja tidak terusik. Tapi ketika aku membelamu... well, itu membuat segalanya tambah parah. Dia tak terbiasa dikecewakan, tak peduli betapa tidak pentingnya objek itu. Dia menganggap dirinya pemburu, bukan yang lain. Eksistensinya hanya melulu tentang berburu, dan baginya tantangan adalah satu-satunya hal yang penting. Tiba-tiba kita mempersembahkan tantangan yang indah di hadapannya, satu klan besar yang terdiri atasa pejuang tangguh semua bersatu melindungi satu elemen yang lemah. Kau takkan percaya betapa bergembiranya dia sekarang. Ini permainan favoritnya, dan kita baru saja menjadikannya permainan paling menarik baginya." Suaranya penuh kejijikan. Jungkook berhenti sebentar.

"Tapi seandainya aku tidak membelamu, dia bisa saja membunuhmu saat itu juga," katanya putus asa.

"Kupikir... aromaku tidak sama bagi yang lain... tidak seperti bagimu," kataku ragu-ragu.

"Memang tidak. Tapi bukan berarti kau bukan godaan bagi mereka. Seandainya kau telah menarik perhatian si pemburu, atau salah satu dari mereka, dengan cara yang sama seperti terhadapku, pertarungan akan terjadi saat itu juga."

Aku bergidik ngeri.

"Kurasa, aku tak punya pilihan lain kecuali membunuhnya sekarang," gumamnya. "Appa takkan menyukainya." Lanjutnya.

Aku bisa mendengar suara ban melintasi jembatan, meskipun aku tidak bisa melihat sungainya di kegelapan. Aku tahu kami semakin dekat. Aku harus bertanya sekarang.

"Bagaimana kau membunuh vampir?"

Jungkook melirikku dengan tatapan yang tidak bisa kutebak dan suaranya mendadak parau.

"Satu-satunya yang bisa memastikan kematiannya adalah dengan menghancurkannya berkeping-keping, lalu membakarnya."

"Dua vampir lainnya, apakah mereka akan ikut bertarung dengannya?"

"Yang perempuan ya. Aku tak yakin dengan Laurent. Mereka tidak punya ikatan kuat, dia bersama mereka hanya demi kemudahan. James mempermalukannya ketika berada di padang rumput..."

"Tapi James dan wanita itu, mereka akan mencoba membunuhmu?" tanyaku, suaraku gemetar.

"Taehyung, jangan berani-berani membuang waktumu untuk mengkhawatirkan aku. Satu-satunya yang harus kaupikirkan adalah menjaga dirimu sendiri tetap aman dan, kumohon, kumohon, usahakanlah jangan ceroboh."

"Apakah dia masih mengikuti?"

"Ya. Meskipun begitu dia tidak akan menyerang rumah kami. Tidak malam ini." Jungkook membelok ke jalanan yang tak terlihat, Jin mengikuti di belakang. Kami langsung menuju rumah. Lampu-lampu di dalam menyala terang, tapi nyaris tak dapat menguraikan kegelapan hutan yang rapat. Jimin telah membukakan pintuku sebelum truk berhenti, dia menarikku dari jok, meletakkanku bagai bola rugby di dadanya yang bidang, dan membawaku berlari menuju pintu.

Kami menghambur ke ruangan putih yang luas, Jungkook dan Jin berada di sisi kami. Semua ada disana, mereka bangkit berdiri ketika mendengar kami mendekat. Laurent berdiri di tengah mereka. Aku bisa mendengar geraman pelan Jimin saat dia mendudukanku di sisi Jungkook.

"Dia mengikuti kami," ungkap Jungkook, menatap galak pada Laurent.

Wajah Laurent tampak muram. "Aku sudah mengkhawatirkan hal itu."

Jin bergerak anggun ke sisi Namjoon dan berbisik di telinganya, bibirnya bergetar cepat mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar. Mereka menaiki tangga bersama-sama. Suga mengamati mereka, kemudian bergerak cepat ke sisi Jimin. Matanya yang indah penuh cinta dan, ketika beralih menatapku, aku melihat ada rasa enggan dan marah.

"Apa yang akan dilakukannya?" dr. Choi bertanya pada Laurent dengan perasaan was-was.

"Maafkan aku," jawabnya. "Aku khawatir, ketika anak laki-lakimu tadi membelanya, itu justru memicunya."

"Bisakah kau menghentikannya?"

Laurent menggeleng. "Tak ada yang bisa menghentikan James begitu dia sudah mulai."

"Kami akan menghentikannya." Jimin berjanji. Tidak ada keraguan di balik maksud perkataannya.

"Kau tidak akan bisa menaklukkannya. Aku tak pernah melihat kekuatan seperti yang dimilikinya selama 300 tahun kehidupanku. Dia sangat mematikan. Itu sebabnya aku bergabung dalam kelompoknya."

Kelompoknya tentu saja, pikirku. Pertunjukkan soal siapa sang pemimpin di lapangan tadi hanya pura-pura. Laurent menggeleng. Dia melirikku bingung, kemudian kembali menatap dr. Choi. "Kau yakin ini layak?"

Geraman marah Jungkook menggema di seluruh ruangan, Laurent langsung ciut.

Dr. Choi menatap Laurent dingin. "Aku khawatir kau harus menentukan pilihan."

Laurent mengerti. Dia menimbang-nimbang sebentar. Laurent menatap satu per satu setiap wajah disana, dan akhirnya menyapu seluruh ruangan terang itu.

"Aku tertarik pada kehidupan yang kau ciptakan disini. Tapi aku takkan terlibat dalam urusan ini. Aku sama sekali tidak membenci kalian, tapi aku tidak akan menentang James. Kurasa aku akan menuju utara, menemui klan yang ada di Denali." Ia ragu-ragu.

"Jangan remehkan James. Dia memiliki pemikiran yang blirian dan indra yang tak ada tandingannya. Dia sama nyamannya berada dalam dunia manusia seperti kalian, dan dia tidak akan mendatangi kalian dengan terang-terangan... Aku minta maaf atas apa yang terjadi disini. Aku sungguh menyesal." Ia membungkuk, tapi aku melihatnya melirik bingung lagi ke arahku.

"Pergilah dengan damai," ujar dr. Choi dengan nada formal.

Laurent kembali memandang sekelilingnya untuk waktu yang lama, kemudian bergegas keluar. Keheningan hanya bertahan sebentar.

"Seberapa dekat?" dr. Choi menatap Jungkook.

Kyuhyun sudah bergerak; tangannya menekan tombol tak kasat mata di dinding, dan dengan suara menderu, jendela baja besar mulai menutupi dinding kaca. Aku memandang terkesima.

"Sekitar 3 mil dari sungai, dia sedang memutar untuk menemui si wanita."

"Apa rencananya?"

"Kita akan mengalihkan perhatiannya, kemudian Namjoon dan Jin akan membawanya ke selatan."

"Lalu?"

Nada suara Jungkook terdengar mematikan. "Begitu Taehyung aman dari bahaya, kita akan memburu James."

"Kurasa tak ada pilihan lain," dr. Choi menimpali, wajahnya kelam.

Jungkook berbalik menghadap Suga.

"Bawa Taehyung ke atas dan tukarlah pakaian kalian," perintah Jungkook. Suga balas menatapnya dengan tatapan marah dan tak percaya.

"Kenapa aku harus melakukannya?" desisnya.

"Memangnya dia siapa bagiku? Dia hanya membawa sial, bahaya yang kaupilih untuk kita semua." Aku tersentak mendengar kebengisan dalam suaranya.

"Yoong..." gumam Jimin, sambil meletakkan satu tangan di bahunya. Yoong?

Suga menepisnya. Tapi aku mengamati Jungkook dengan hati-hati, teringat temperamennya yang meledak-ledak, mengkhawatirkan reaksinya. Jungkook membuatku terkejut. Dia berpaling dari Suga seolah-olah ia tak pernah mengatakan apa-apa, seolah ia tidak ada.

"Eomma?" tanyanya tenang.

"Tentu saja," gumam Kyuhyun.

Tak sampai sedetik Kyuhyun sudah berada di sisiku, mengayunkan tubuhku dengan mudah kemudian menggendongku, dan melompati anak tangga sebelum aku menyadarinya.

"Apa yang kita lakukan?" tanyaku terengah-engah saat ia menurunkanku di ruangan gelap entah dimana di lantai dua.

"Berusaha mengaburkan aromamu. Tidak akan bertahan lama memang, tapi mungkin bisa membantumu melarikan diri." Aku bisa mendengar suara pakaiannya berjatuhan di lantai.

"Kurasa pakaian Anda takkan muat..." aku ragu, tapi tangan-tangannya langsung melepaskan T-shirt-ku. Aku bergegas melepaskan jinsku. Dia memberi sesuatu padaku, rasanya seperti kaus. Aku berjuang memasukkan tanganku te lubang yang tepat. Begitu aku selesai, ia menyerahkan celana panjangnya. Aku mengenakannya, tapi tak bisa mengeluarkan kakiku; terlalu panjang. Dengan mahir ia menggulung ujung lipatannya beberapa kali hingga aku bisa berdiri. Entah bagaimana ia sudah mengenakan pakaianku. Ia menarikku kembali ke tangga, ke tempat Jin berdiri sambil membawa tas kulit kecil. Mereka masing-masing memegang sikuku dan setengah mengangkatku ketika melayang menuruni tangga.

Sepertinya segala sesuatu di bawah telah beres saat kami pergi tadi. Jungkook dan Jimin sudah siap berangkat. Jimin menyampirkan ransel yang kelihatannya berat di bahunya. Dr. Choi menyerahkan sesuatu yang kecil kepada Kyuhyun. Ia berbalik dan menyerahkan benda yang sama kepada Jin, ponsel kecil berwarna perak.

"Kyuhyun dan Suga akan membawa trukmu, Taehyung." ia memberitahu saat melewatiku. Aku mengangguk, melirik cemas ke arah Suga. Dia sedang menatap geram ke arah dr. Choi.

"Jin, Namjoon, kalian bawa Mercedes-nya. Warna gelapnya akan berguna bagi kalian ketika berada di Selatan." Mereka juga mengangguk.

"Kami naik Jeep."

Aku terkejut mengetahui dr. Choi berniat pergi bersama Jungkook. Tiba-tiba aku menyadari, dengan ngeri, bahwa mereka akan ikut meramaikan perburuan.

"Jin," Carlisle bertanya, "apakah mereka akan memakan umpannya?"

Semua memperhatikan Jin ketika ia memejamkan mata dan bergeming.

Akhirnya matanya membuka. "James akan memburumu. Si wanita akan mengikuti truk. Kita seharusnya bisa pergi setelah itu." Suaranya yakin.

"Ayo kita pergi." Dr. Choi berjalan menuju dapur. Tapi Jungkook serta merta telah berdiri di sisiku. Jungkook menangkapku dalam genggamannya yang kuat, memelukku erat-erat. Jungkook sepertinya tidak menyadari keluarganya memperhatikan saat dia meraih wajahku dan mendekatkannya ke wajahnya, mengangkat tubuhku dari lantai. Dalam waktu sekejap bibirnya yang dingin dan keras mencium bibirku. Kemudian semuanya selesai. Ia menurunkanku ke lantai, masih memegangi wajahku, matanya yang indah membara menatapku.

Sorot matanya berubah hampa, mematikan, ketika ia berpaling dariku. Dan merekapun pergi. Kami berdiri disana, yang lain memalingkan pandangan dariku saat air mata mulai menetes tanpa suara di wajahku. Keheningan terus berlanjut, kemudian ponsel Kyuhyun bergetar. Dia langsung mendengarkan.

"Sekarang," katanya. Suga berjalan sambil mengentak-entakkan kaki menuju pintu depan tanpa melihat lagi ke arahku, tapi Kyuhyun menyentuh pipiku ketika melewatiku.

"Jaga dirimu." Bisikannya menggema dibelakang mereka saat mereka menyelinap keluar. Aku mendengar suara trukku menderu, lalu lenyap.

Namjoon dan Jin menunggu. Ponsel Jin sepertinya sudah menempel di telinganya sebelum sempat bergetar.

"Jungkook bilang si wanita membuntuti Kyuhyun. Aku akan ambil mobil." Dia lenyap ke dalam kegelapan seperti ketika Jungkook pergi.

Namjoon dan aku berpandang-pandangan. Dia berdiri agak jauh di pintu masuk... berhati-hati. "Kau salah, kau tahu itu," katanya pelan.

"Apa?" aku terkesiap.

"Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan sekarang, dan kau memang layak."

"Tidak," gumamku. "Kalau terjadi sesuatu pada mereka, pengorbanan mereka bakal sia-sia."

"Kau keliru," Namjoon mengulanginya, tersenyum ramah padaku.

Aku tidak mendengar apa-apa, tapi kemudian Jin melangkah melalui pintu depan dan menghampiriku dengan tangan terentang.

"Bolehkah?" tanyanya.

"Kau yang pertama yang meminta izin." Aku tersenyum pahit.

Tangannya yang ramping mengangkatku semudah yang dilakukan Jimin, memelukku dengan sikap melindungi, meninggalkan cahaya terang di belakang kami.

.

.

.

.

.

.

Ketika terbangun, aku bingung. Pikiranku kabur, masih antara tak sadar dan mimpi buruk. Butuh waktu lebih lama dari seharusnya untuk menyadari dimana aku berada. Ruangan ini terlalu biasa untuk berada dimana pun, kecuali di hotel. Aku memandang jam digital di meja sisi tempat tidur. Angkat yang berwarna merah menunjukkan pukul tiga, tapi tak ada indikasi apakah ini malam atau siang. Tak sedikitpun cahaya menembus tirai yang tebal, tapi ruangan benderang karena cahaya lampu.

Aku bangkit dengan tubuh kaku dan berjalan tertatih-tatih ke jendela, menyingkap tirainya. Di luar gelap. Kalau begitu sekarang pukul tiga dini hari. Kamarku menghadap bagian jalan bebas hambatan yang terbengkalai dan areal parkir jangka panjang bandara yang baru. Rasanya sedikit nyaman bisa mengenali waktu dan tempat. Aku memandang diriku sendiri, ternyata aku masih mengenakan pakaian Kyuhyun yang kebesaran. Aku mengedarkan pandang, senang menemukan tas pakaianku di atas lemari pakaian yang pendek. Aku baru saja akan mencari pakaian baru ketika ketukan pelan di pintu membuatku kaget.

"Boleh aku masuk?" tanya Jin.

Aku menghela napas panjang. "Tentu."

Jin melangkah masuk dan memandangiku hati-hati. "Sepertinya kau butuh tidur lebih lama," katanya. Aku hanya menggeleng.

Jin bergerak tanpa suara ke jendela dan menutup tirai rapat-rapat sebelum berbalik lagi padaku. "Kita harus tinggal di kamar," ia memberitahuku.

"Oke." Suaraku serak, parau.

"Haus?" ia bertanya.

Aku mengangkat bahu. "Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?"

"Tak ada yang tak bisa diatasi." Jin tersenyum. "Aku memesan makanan untukmu, ada di ruang depan. Jungkook mengingatkanku bahwa kau harus makan lebih sering daripada kami."

Aku langsung lebih waspada. "Dia menelepon?"

"Tidak," katanya, dan melihatku kecewa. "Dia mengatakannya sebelum kita pergi."

Hati-hati dia meraih tanganku dan membimbingku melewati pintu menuju ruang tamu suite yang kami tempati. Aku bisa mendengar suara pelan yang datangnya dari arah TV. Namjoon duduk diam di meja di sudut, menonton berita tanpa gairah sedikit pun. Aku duduk di lantai di sebelah meja tamu. Di atasnya sudah tersedia makanan dalam nampan. Aku mulai makan tanpa menyadari apa yang kumakan. Jin bertengger di lengan sofa dan menatap hampa ke TV seperti yang dilakukan Namjoon. Aku makan dengan pelan, mengamati Jin dan sesekali melirik Namjoon. Aku mulai menyadari bahwa mereka terlalu diam. Mereka tak pernah berpaling dari layar, meskipun sekarang sedang jeda iklan. Aku mendorong nampannya, perutku langsung mulas. Jin menatapku.

"Ada apa?" aku bertanya.

"Tidak ada apa-apa."

Matanya lebar, jujur... dan aku tidak mempercayainya. "Apa yang kita lakukan sekarang?"

"Kita tunggu sampai appa menelepon."

"Dan apakah seharusnya dia sudah menelepon sekarang?" Aku tahu pertanyaanku nyaris benar. Tatapan Jin beralih dariku ke telepon diatas tas kulit kemudian menatapku lagi.

"Apa artinya?" suaraku bergetar, dan aku berusah mengendalikannya. "Kalau dia belum menelepon?"

"Itu artinya tak ada yang perlu mereka beritahukan kepada kita." Tapi suaranya kelewat datar, dan semakin sulit rasanya untuk bernapas. Namjoon tiba-tiba sudah berada di sebelah Jin, lebih dekat denganku daripada biasanya.

"Taehyung," kata Namjoon dengan suara menenangkan yang mencurigakan. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa. Kau benar-benar aman disini."

"Aku tahu itu."

"Lalu kenapa kau ketakutan?" tanyanya, bingung. Namjoon mungkin merasakan perubahan emosiku, tapi dia tak bisa menebak maksud di balik itu semua.

"Kaudengar apa yang dikatakan Laurent." Suaraku hanya bisikan, tapi aku yakin mereka bisa mendengarnya.

"Katanya James sangat berbahaya. Bagaimana kalau sesuatu berjalan tidak semestinya, dan mereka terpisah? Kalau sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, dr. Choi, Jimin, Jungkook..."

Aku menelan ludahku. "Kalau si wanita liar itu melukai Kyuhyun..." Suaraku meninggi, kecemasan mulai mewarnainya.

"Bagaimana aku bisa terus hidup sementara semua itu adalah salahku? Tak satupun dari kalian seharusnya membahayakan hidup kalian demi aku-"

"Tae, Taehyung, hentikan." Namjoon menyelaku, kata-katanya mengalir begitu cepat hingga sulit untuk dimengerti.

"Kau mengkhawatirkan hal yang salah, Taehyung. Percayalah padaku untuk yang satu ini, tak satu pun dari kami berada dalam bahaya. Kau hanya terlalu tegang, itu saja. Jangan ditambah lagi dengan kekhawatiran yang tidak penting ini. Dengankan aku!" perintahnya, karena aku telah memalingkan wajah.

"Keluarga kami kuat. Ketakutan kami satu-satunya adalah kehilangan dirimu."

"Tapi kenapa kalian harus merasa seperti itu."

Jin menyela kali ini, menyentuh pipiku dengan jemarinya yang dingin.

"Hampir satu abad lamanya Jungkook seorang diri. Sekarang dia telah menemukanmu. Kau tidak bisa melihat perubahan yang kami lihat, kami telah bersama dengannya untuk waktu yang lama. Kau pikir kami tega melihat ke dalam matanya selama ratusan tahu yang akan datang bila dia kehilangan dirimu?"

Rasa bersalahku perlahan surut saat aku memandang matanya yang gelap. Tapi meskipun ketenangan menyelimutiku, aku tahu aku tak bisa mempercayai perasaanku selama Namjoon ada disana.

.

.

.

.

.

.

.

Hari itu berlangsung sangat lama. Kami tetap di kamar. Jin menelepon front office dan meminta mereka tidak membereskan kamar kami untuk saat ini. Jendela tetap tertutup, televisi menyala, meski tak seorangpun menonton. Secara teratur mereka mengantar makanan untukku. Para pengasuhku menghadapi ketegangan lebih baik dariku. Saat aku mondar-mandir dengan gelisah, mereka hanya bertambah kaku, dua patung yang matanya tanpa kentara mengikuti gerakanku. Aku menyibukkan diri dengan menghafal ruangan tempatku berada; pola sofa yang bergaris-garis, cokelat, peach, krem, emas kusam, dan cokelat lagi. Kadang-kadang aku memandangi cetakan bermotif yang abstrak, secara acak mencari bentuk-bentuk disana, seperti aku mencari bentuk di awan ketika masih kecil. Aku menemukan tangan biru, wanita menyisir rambutnya, dan kucing meregangkan tubuhnya. Tapi ketika lingkaran merah pucat itu membentuk mata yang menatap, aku memalingkan wajah.

Ketika petang berganti malam, aku naik ke tempat tidur, hanya untuk mencari sesuatu yang bisa kulakukan. Aku berharap dengan berada sendirian dalam kegelapan, aku bisa menyerah pada rasa takut luar biasa yang menanti di ujung kesadaranku, tak mampu melepaskan diri dari pengawasan Namjoon yang tajam. Tapi Jin mengikutiku dengan sikap santai, seolah-olah ia kebetulan juga bosan berada di ruang depan. Aku mulai bertanya-tanya instruksi seperti apakah yang tepatnya diberikan Jungkook padanya. Aku berbaring di tempat tidur, dan ia duduk dengan kaki terlipat di sebelahku. Awalnya aku mengabaikannya, tiba-tiba merasa cukup lelah untuk tertidur. Tapi setelah beberapa menit, perasaan panik yang tadinya lenyap karena berada di dekat Namjoon, kini mulai unjuk gigi. Dengan cepat aku melupakan ide untuk tidur, lalu meringkuk sambil memeluk kakiku.

"Jin?" aku bertanya.

"Ya?"

Aku menjaga suaraku tetap tenang. "Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?"

"Appa ingin membimbing si pemburu sejauh mungkin ke utara, menunggunya mendekat, kemudian berbalik dan menjebaknya. Eomma dan Suga seharusnya menuju barat sejauh si wanita tetap mengikuti mereka. Kalau wanita itu berbalik, mereka akan kembali ke Forks dan mengawasi ayahmu. Jadi, aku membayangkan segalanya akan berjalan baik bila mereka tidak bisa menelepon. Itu artinya si pemburu berada cukup dekat sehingga mereka tidak ingin dia menguping pembicaraan di telepon."

"Dan Kyuhyun?"

"Kurasa dia pasti sudah kembali di Forks. Dia takkan menelepon bila ada kemungkina si wanita bisa mendengar. Aku menduga merka semua hanya ingin berhati-hati."

"Menurutmu mereka benar-benar aman?"

"Taehyung, berapa kali kami harus memberitahumu bahwa kami sama sekali tidak terancam bahaya?"

"Meski begitu, maukah kau mengatakan yang sejujurnya?"

"Ya. Aku akan selalu mengatakan yang sejujurnya padamu." Suaranya tulus.

Aku berpikir sejenak, dan memutuskan ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. "Kalau begitu ceritakan padaku... bagaimana kau menjadi vampir?"

Pertanyaanku membuatnya kaget. Jin diam. Aku berbalik untuk memandangnya, dan ekspresinya tampak ragu.

"Jungkook tidak ingin aku memberitahumu," katanya tegas, tapi aku merasa dia tak sependapat.

"Itu tidak adil. Kurasa aku punya hak untuk mengetahuinya."

"Aku tahu."

Aku mentapnya, menunggu.

Jin mendesah. "Dia bakal sangat marah."

"Itu bukan urusannya. Ini antara kau dan aku. Jin, sebagai teman, aku memohon padamu." Dan sekarang kami memang teman, entah bagaimana, seperti yang sudah diduganya selama ini. Jin menatapku dengan matanya yang indah dan bijaksana... mempertimbangkan.

"Aku akan menceritakan cara kerjanya," akhirnya ia berkata, "tapi aku sendiri tidak ingat, dan aku tidak pernah melakukannya atau melihatnya dilakukan, jadi camkan dalam pikiranmu bahwa aku hanya bisa menceritakan teorinya."

Aku menunggu.

"Sebagai predator, kami punya banyak sekali senjata dalam gudang senjata fisik kami, sangat, sangat banyak dari yang sebenarnya diperlukan. Kekuatan, kecepatan, pengindraan yang tajam, belum lagi kami yang seperti Jungkook, Namjoon dan aku, yang mempunyai indra tambahan. Kemudian bagai kantong semar, secara fisik kami menarik bagi mangsa kami."

Aku diam tak bergerak, mengingat betapa jelas Jungkook menggambarkan konsep yang sama padaku ketika berada di padang rumput.

Senyumnya yang lebar tampak jahat. "Kami juga punya senjata ekstra lain. Kami juga berbisa," katanya, giginya berkilauan. "Bisa kami tidak mematikan, hanya melumpuhkan. Daya kerjanya lambat, menyebar ke seluruh aliran darah, sehingga begitu tergigit, mangsa kami sangat kesakitan sehingga tak bisa melarikan diri. Kelewat berlebihan, seperti kataku tadi. Bila kami sedekat itu, si mangsa tak bisa melarikan diri. Tentu saja, selalu ada pengecualian. Appa misalnya."

"Jadi... kalau racunnya dibiarkan menyebar..." gumamku.

"Perlu beberapa hari agar perubahannya sempurna, tergantung berapa banyak bisa yang ada dalam aliran darah, seberapa dekat bisa itu memasuki jantung. Selama jantungnya tetap berdetak, bisa itu menyebar, menyembuhkan, mengubah tubuh saat melewatinya. Akhirnya jantungnya berhenti, dan perubahannya pun selesai. Tapi selama waktu itu, setiap menit, si korban akan mengharapkan kematian."

Aku gemetar mendengarnya.

"Itu tidak menyenangkan, kau tahu."

"Jungkook bilang itu sangat sulit dilakukan... aku tidak begitu mengerti," kataku.

"Di satu sisi kami juga seperti hiu. Begitu kami merasakan darah, atau bahkan menciumnya saja, akan sangat sulit menahan diri untuk memangsa. Terkadang mustahil. Jadi kau tahu, dengan benar-benar menggigit seseorang, mengecap darahnya, itu akan memancing kegilaan. Sulit untuk kedua pihak, yang satu godaan darahnya, yang lain rasa sakit yang luar biasa."

"Menurutmu, mengapa kau tidak mengingatnya?"

"Aku tidak tahu. Bagi orang-orang lain, rasa sakit akibat transformasi adalah ingatan terkuat yang mereka miliki dari masa kehidupan mereka sebagai manusia." Suaranya terdengar muram.

Kami berbaring tak bersuara, diselimuti pikiran masing-masing. Detik-demi detik berlalu dan aku nyaris melupakan kehadirannya, aku begitu larut dalam pikiranku. Kemudian tanpa peringatan apapun, Jin melompat dari tempat tidur dan mendarat mulus di kakinya. Kepalaku tersentak saat aku menatapnya, terkejut.

"Ada yang berubah." Suaranya mendesak, dan ia tidak sedang berbicara padaku lagi.

Jin sampai ke pintu bersamaan dengan Namjoon. Jelas dia telah mendengarkan pembicaraan kami dan seruan Jin yang tiba-tiba. Namjoon meletakkan tangannya di bahu Jin dan membimbingnya kembali ke tempat tidur, mendudukannya di ujung tempat tidur.

"Apa yang kau lihat?" tanyanya hati-hati, menatap ke dalam mata Jin.

Mata Jin terpusat pada sesuatu yang sangat jauh. Aku duduk di dekatnya, mencondongkan tubuh untuk menangkap suaranya yang pelan dan cepat sekali.

"Aku melihat sebuah ruangan. Panjang, ada cermin di mana-mana. Lantainya dari kayu. Dia di ruangan itu, dan dia menunggu. Ada emas... garis emas di seberang cermin-cermin itu."

"Di mana kamar itu?"

"Aku tidak tahu. Ada yang hilang, keputusan yang lain belum dibuat."

"Berapa lama lagi?"

"Segera. Dia akan berada di ruang cermin hari ini, atau barangkali besok. Tergantung. Dia menunggu sesuatu. Dan sekarang dia berada dalam kegelapan."

Suara Namjoon tenang, teratur, saat ia menayainya dengan cara terlatih. "Apa yang dilakukannya?"

"Dia menonton televisi... tidak, dia menyalakan VCR, di kegelapan, di tempat lain."

"Bisakah kau melihat dimana dia berada?"

"Tidak, terlalu gelap."

"Dan ruangan cermin itu, apa lagi yang ada disana?"

"Hanya cermin, dan emas itu. Itu garis, mengelilingi ruangan. Dan ada meja hitam dengan stereo besar, juga sebuah televisi. Dia menyentuh VCR itu, tapi dia tidak menonton seperti yang dilakukannya di ruangan gelap. Ini adalah ruangan tempatnya menunggu." Pandangan Jin menerawang, kemudian terpusat di wajah Namjoon.

"Tak ada yang lainnya?"

Jin menggeleng. Mereka berpandangan, tak bergerak. "Apa maksudnya?" aku bertanya.

Sesaat tak satu pun dari mereka menyahut, kemudian Namjoon menatapku.

"Itu artinya si pemburu mengubah rencananya. Dia telah membuat keputusan yang akan membimbingnya ke ruangan cermin, dan ruangan gelap."

"Tapi kita tidak tahu dimana ruangan-ruangan itu."

"Tidak."

"Tapi kita tahu dia takkan berada di pegunungan Washington, diburu. Dia akan kabur dari mereka." Suara Jin terdengar putus asa.

"Haruskah kita menelepon?" tanyaku. Mereka bertukar pandangan dengan serius, ragu-ragu. Telepon berbunyi. Jin sudah menyeberangi kamar sebelum aku sempat mendongak. Dia menekan sebuah tombol dan mendekatkan telepon itu di telinganya, tapi ia tidak bicara lebih dulu.

"Appa," desahnya. Ia tidak tampak terkejut atau lega, seperti yang kurasakan.

"Ya," katanya, menatapku. Ia mendengarkan untuk waktu yang lama.

"Aku baru saja melihatnya." Ia menggambarkan lagi apa yang dilihatnya.

"Apapun yang membuatnya naik ke pesawat itu, yang membimbingnya ke ruangan-ruangan itu." Jin terdiam.

"Ya," ia berbicara di telepon, kemudian ia berbicara padaku. "Taehyung?"

Ia menyodorkan teleponnya. Aku berlari menghampirinya. "Halo?" desahku.

"Tae," Itu suara Jungkook!

"Oh, Jungkook! Aku sangat khawatir."

"Taehyung," ia mendesah frustasi, "sudah kubilang jangan mengkhawatirkan hal lain kecuali dirimu sendiri." Tak kusangka rasanya senyaman ini mendengar suaranya. Kurasakan kebut keputusasaan menipis dan lenyap saat ia bicara.

"Kau dimana?"

"Kami berada di luar Vancouver. Taehyung, maafkan aku, kami kehilangan jejaknya. Dia kelihatannya curiga, dia berhati-hati, menjaga jarak sejauh mungkin sehingga aku tidak bisa mendengar apa yang dipikirkannya. Tapi dia sudah pergi sekarang, sepertinya naik pesawat. Kami kira dia kembali lagi ke Forks untuk memulai lagi dari awal." Aku bisa mendengar Jin menggantikan Namjoon di belakangku, kata-katanya yang cepat terdengar bagai gumaman.

"Aku tahu. Jin melihat dia berhasil kabur."

"Meski begitu kau tak perlu khawatir. Dia takkan menemukan apa pun yang akan membawanya padamu. Kau hanya perlu tetap disana dan menunggu sampai kami menemukannya lagi."

"Aku akan baik-baik saja. Apakah Kyuhyun bersama ayah?"

"Ya, si wanita ada di kota. Dia pergi ke rumah ayahmu, tapi dia sedang di tempat kerja. Dia tidak mendekati ayahmu, jadi jangan khawatir. Dia aman dalam pengawasan Suga dan eomma."

"Apa yang dilakukan wanita itu?"

"Barangkali sedang mencoba mengikuti jejak. Dia mengelilingi kota sepanjang malam. Suga mengikutinya hingga ke bandara, semua jalanan di kota, sekolah... dia mencari-cari, Taehyung, tapi tak ada yang bisa ditemukannya."

"Kau yakin ayahku aman?'

"Ya, eomma takkan membiarkannya luput dari pengawasan. Dan sebentar lagi kami akan tiba disana. Kalau si pemburu berada dekat-dekat Forks, kami akan menghabisinya."

"Aku merindukanmu," bisikku.

"Aku tahu, Taehyung. Percayalah padaku, aku tahu. Rasanya seolah-olah kau telah membawa separuh diriku bersamamu."

"Kalau begitu datang dan ambillah," aku menantangnya.

"Segera, begitu aku bisa. Aku akan membuatmu aman dulu." Suaranya tegang.

"Aku mencintaimu," aku mengingatkannya.

"Bisakah kau mempercayainya, terlepas dari semua yang telah kau alami karena aku, bahwa aku juga mencintaimu?"

"Ya, sebenarnya aku percaya."

"Aku akan segera datang padamu."

"Aku akan menunggu."

Setelah percakapan selesai, kabut depresi pun menyelimutiku lagi. Aku berbalik untuk mengembalikan telepon itu kepada Jin dan mendapati ia dan Namjoon membungkuk di atas meja. Jin sedang membuat sketsa pada sehelai memo hotel. Aku bersandar di sofa, mengintip dari balik bahunya. Dia sedang menggambar sebuah ruangan : panjang, persegi, dengan bagian lebih sempit berbentuk segi empat di bagian belakang. Potongan-potongan kayu yang membentuk lantai membentang sepanjang ruangan. Di bawah dinding terdapat garis-garis yang menandakan batasan cermin. Sepanjang dinding, setinggi pinggang, tampak garis yang disebut Jin berwarna emas.

"Itu studio balet," kataku, tiba-tiba mengenali bentuknya yang tidak asing. Mereka memandangku, terkejut.

"Kau tahu ruangan ini?" suara Namjoon terdengar tenang, tapi di baliknya ada sesuatu yang tak bisa kuduga. Jin menunduk menatap gambarnya, tangannya menyapu kertas itu sekarang, menggambar tangga darurat di dinding belakang, stereo dan TV di meja rendah di sudut kanan depan.

"Kelihatannya seperti tempat yang biasa kukunjungi unutk belajar menari, ketika usiaku delapan atau sembilan tahun. Bentuknya tak berubah." Kusentuh kertas itu pada bagian yang menonjol kemudian menyempit di bagian belakang ruangan.

"Di sana letak kamar mandinya, pintunya bisa menembus ke lantai dansa lainnya. Tapi stereonya tadinya di sini", aku menunjuk sudut kiri

"Sudah lama, dan tidak ada TV. Ada jendela di ruang tunggu, kau akan melihat ruangan itu dari sudut pandang ini kalau kau melihatnya dari jendela itu."

Jin dan Namjoon menatapku.

"Kau yakin ini ruangan yang sama?" Namjoon bertanya, masih tenang.

"Tidak, sama sekali tidak, kurasa kebanyakan dari studio tari kelihatannya sama, cermin-cerminnya, palangnya." Jari-jariku menelusuri palang balet yang terpasang di cermin.

"Bentuknya saja yang kelihatannya tidak asing." Aku menyentuh pintunya, terpasang pada tempat yang sama persis seperti yang kuingat.

"Apa kau punya alasan apa pun untuk pergi ke sana sekarang?" Jin bertanya, membuyarkan lamunanku.

"Tidak, sudah hampir sepuluh tahun aku tak pernah pergi ke sana. Aku penari yang payah, mereka selalu menjadikanku cadangan pada acara resital," aku mengakui.

"Jadi tak mungkin itu ada hubungannya denganmu?" tanya Jin sungguh-sungguh.

"Tidak, kurasa pemiliknya bahkan bukan orang yang sama. Aku yakin itu hanya studio tari lainnya, entah dimana."

"Di mana letak studio yang biasa kau datangi?" Namjoon bertanya dengan nada kasual.

"Di sekitar sudut rumah ibuku. Aku biasa berjalan kaki ke sana sepulang sekolah..." kataku, suaraku menghilang. Aku melihat mereka bertukar pandang.

"Kalau begitu di sini, di Phoenix?" Suara Namjoon masih santai.

"Ya," bisikku. "58th Street dan Cactus."

Kami duduk terdiam, memandangi gambar Jin. "Jin, apakah telepon itu aman?"

"Ya," ia menyakinkanku. "Nomornya hanya akan terdeteksi ke Washington."

"Kalau begitu aku bisa menggunakannya untuk menelepon ibuku."

"Kupikir dia di Florida."

"Memang, tapi dia akan segera pulang, dan dia tak bisa kembali ke rumah itu sementara..." Suaraku gemetar. Aku sedang memikirkan sesuatu yang dikatakan Jungkook, tentang wanita berambut merah yang mendatangi rumah ayah, sekolah, dimana catatan tentang diriku berada.

"Bagaimana kau akan menghubunginya?"

"Mereka tidak punya nomor tetap kecuali di rumah, dia seharusnya memeriksa mesin penjawabnya secara teratur."

"Namjoon?" tanya Jin.

Namjoon mempertimbangkannya. "Kurasa itu tidak mungkin berbahaya, pastikan kau tidak menyebutkan di mana kau berada, tentu saja."

Dengan bersemangat aku meraih telepon genggam Jin dan memutar nomor yang sudah tidak asing lagi. Terdengar nada sambung sebanyak empat kali, kemudian aku mendengar suara ibuku yang mendesah memberitahukan untuk meninggalkan pesan.

"Eomma," kataku setelah bunyi bip, "Ini aku, Taehyung. Dengar, aku mau kau melakukan sesuatu. Ini penting. Begitu kau sudah menerima pesan ini, hubungi aku di nomor ini." Jin sudah di sisiku, menuliskan nomornya untukku di bagian bawah gambar. Aku membacanya perlahan, dua kali.

"Kumohon jangan pergi kemana-mana sampai kau berbicara denganku. Jangan khawatir, aku baik-baik saja, tapi aku harus bicara denganmu secepatnya, tak peduli kapan pun kau menerima pesan ini, oke? Saranghae, eomma. Bye." Aku memejamkan mata dan berdoa sepenuh hati agar tak ada perubahan rencana tiba-tiba yang membawanya pulang sebelum ia mendengar pesanku.

Aku duduk di sofa, mengunyah buah-buahan yang tersisa di piring, mengantisipasi malam yang panjang. Aku berpikir untuk menelepon ayah, tapi tak yakin apakah ia sudah pulang atau belum. Aku berkonsentrasi menonton berita, mencari berita tentang Florida, atau tentang pelatihan musim semi, aksi demo atau badai topan atau serangan teroris, apa pun yang mungkin membuat mereka pulang lebih awal.

Keabadian pasti melahirkan kesabaran yang tiada habisnya. Baik Namjoon maupun Jin tidak merasa perlu melakukan sesuatu sama sekali. Selama beberapa waktu Jin membuat sketsa samar ruangan gelap itu berdasarkan penglihatannya, sebanyak yang dapat dilihatnya dengan mengandalkan cahaya yang berasal TV. Tapi ketika selesai ia hanya duduk, menatap dinding-dinding kosong tanpa berkedip. Namjoon juga kelihatan tidak terdorong untuk mondar-madir atau mengintip dari balik tirai, atau menghambur ke pintu sambil berteriak-teriak, seperti yang kurasakan.

Aku pasti tertidur di sofa, menantikan telepon berbunyi lagi. Sentuhan tangan Jin yang dingin membangunkanku sebentar saat ia menggendongku ke tempat tidur, tapi aku kembali pulas sebelum kepalaku menyentuh bantal.

.

.

.

.

.

End of this chapter

.

.

.

.

See you next part ^^