TWILIGHT (KookV Version)

-Telepon-

Aku bisa merasakan hari masih terlalu dini ketika aku terbangun. Aku tahu siang dan malamku perlahan-lahan terbalik. Aku berbaring di tempat tidur, mendengarkan suara Jin dan Namjoon yang pelan dari ruangan yang lain. Kenyataan bahwa suara mereka cukup keras untuk bisa kudengar adalah aneh. Aku berguling hingga kakiku menyentuh lantai, lalu tertatih-tatih menuju ruang tamu. Jam di TV menunjukkan baru lewat pukul dua pagi. Jin dan Namjoon duduk di sofa, Jin membuat sketsa sementara Namjoon mengintip dari bahunya. Mereka tidak mendongak saat aku masuk, terlalu asyik memperhatikan gambar yang dibuat oleh Jin.

Aku berjinjit ke sisi Namjoon untuk mengintip.

"Apakah dia melihat sesuatu yang baru?" aku bertanya pelan pada Namjoon.

"Ya. Sesuatu membawa James kembali ke ruangan ber-VCR, hanya saja kali ini keadaannya terang."

Aku melihat Jin menggambar ruang persegi dengan balok-balok berwarna gelap pada langit-langitnya yang rendah. Dinding-dindingnya berpanel kayu, agak terlalu gelap, ketinggalan zaman. Lantainya diselimuti karpet berpola warna gelap. Di dinding di sebelah selatan ada jendela besar. Di ambang terbuka di dinding sebelah barat ada ruang tamu. Satu sisi ambang itu terbuat dari batu, perapian dari batu cokelat yang ternuka ke dua ruangan itu. TV dan VCR ditaruh diatas lemari pajang kayu yang kelewat kecil di sudut barat daya ruangan. Sofa panjang kuno terletak di depan TV, meja tamu yang bundar berdiri di depannya.

"Teleponnya di sebelah sana," bisikku, sambil menunjuk. Dua pasang mata yang abadi menatapku.

"Itu rumah ibuku."

Jin telah bangkit dari sofa, telepon di tangan, menekan nomor. Aku menatap ruang keluarga rumah ibuku yang amat tepat itu. Tidak seperti biasa Namjoon mendekatiku. Dengan lembut dia menyentuh bahuku, dan kontak fisik itu sepertinya dilakukan untuk membuat kemampuan menenangkannya lebih kuat lagi. Kepanikanku tetap samar, tidak fokus. Bibir Jin bergetar akibat kecepatan ucapannya, suara dengung pelan itu mustahil ditangkap. Aku tak bisa berkonsentrasi.

"Taehyung," Aku menatap Jin yang memanggilku.

"Tae.. Jungkook akan datang menjemputmu. Dia, Jimin dan appa akan membawamu ke suatu tempat, menyembunyikanmu untuk sementara waktu."

"Jungkook akan datang?" Kata-kata itu bagikan pelampung penyelamat, menjaga kepalaku tetap terapung.

"Ya, dia akan naik penerbangan pertama dari Seattle. Kita akan menemuinya di bandara, dan kau akan pergi bersamanya."

"Tapi ibuku... dia kesini untuk mengincar ibuku!" Terlepas dari kemampuan Namjoon, kepanikan terdengar jelas dalam suaraku.

"Namjoon dan aku akan tinggal sampai ibumu aman."

"Aku tak bisa menang, Jin. Kau tidak bisa menjaga semua orang yang kukenal selamanya. Tidakkah kau mengerti apa yang dilakukannya? Dia sama sekali tidak memburuku. Dia akan menemukan seseorang, dia akan melukai orang yang kucintai... Jin, aku takkan bisa, "

"Kami akan menangkapnya, Taehyung." dia meyakinkanku.

"Dan bagaimana kalau kau terluka, Jin? Kau pikir aku bisa menerimanya? Kau pikir hanya keluarga manusiaku yang bisa digunakannya untuk menyakitiku?"

Jin menatap Namjoon penuh arti. Kabut tebal kelelahan menyapuku dan mataku terpejam tanpa bisa kukendalikan. Pikiranku mencoba melawan kabut itu, menyadari apa yang sedang terjadi. Aku memaksa membuka mataku dan berdiri. Menjauhkan diri dari tangan Namjoon yang sedang menggunakan kekuatannya.

"Aku tak ingin tidur lagi," bentakku.

Aku berjalan ke kamar dan menutup pintu, sebenarnya membantingnya, supaya bisa mengeluarkan semua perasaanku tanpa ada yang melihat. Kali ini Jin tidak mengikutiku. Selama tiga setengah jam aku menatap dinding, meringkuk, bergoyang-goyang. Pikiranku berputar-putar, mencari cara untuk keluar dari mimpi buruk ini. Tidak ada jalan keluar, tidak ada kompromi. Aku hanya bisa melihat satu-satunya akhir yang menghadang masa depanku. Satu-satunya pertanyaan adalah, berapa banyak lagi orang yang harus terluka sebelum aku mencapainya.

Satu-satunya penghiburan, satu-satunya harapan yang tersisa adalah aku akan segera bertemu Jungkook. Barangkali, kalau bisa melihatt wajahnya lagi, aku juga bisa melihat pemecahan masalah yang tidak terlihat olehku sekarang.

Ketika telepon berbunyi aku kembali ke ruang depan, merasa sedikit malu dengan sikapku. Kuharap aku tidak menyinggung perasaan mereka, bahwa mereka tahu betapa aku bersyukur atas pengorbanan yang mereka lakukan untukku. Jin berbicara dengan sangat cepat seperti biasa, tapi yang menarik perhatianku adalah, untuk pertama kalinya Namjoon tidak ada di ruangan itu. Aku melihat jam, pukul 5.30.

"Mereka baru saja lepas landas," Jin memberitahu. "Mereka akan mendarat pukul 09.45." lanjutnya. Hanya beberapa jam lagi sebelum Jungkook tiba disini.

"Dimana Namjoon?"

"Dia pergi untuk check out."

"Kalian tidak menginap disini?"

"Tidak, kami akan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan rumah ibumu." Perutku melilit mendengar kata-katanya. Tapi telepon berbunyi lagi, mengalihkan perhatianku. Jin tampak terkejut, tapi aku telah melangkah maju, menggapai telepon sambil berharap-harap cemas.

"Halo?" sapa Jin.

"Tidak, dia ada disini." Dia menyodorkan teleponnya padaku. Ibumu, katanya tanpa suara.

"Halo eomma?"

"Tae? Taehyung-ie?" Itu suara ibuku, dalam nada familier yang telah kudengar ribuan kali pada masa kecilku, setiap kali aku berjalan terlalu dekat dengan tepian trotoar atau menghilang dari pandangannya ketika berada di keramaian. Suaranya panik.

Aku mendesah. Aku sudah menduganya, meskipun aku telah berusaha sebisa mungkin agar pesanku tidak mengagetkan tanpa mengurangi urgensinya.

"Eomma tenanglah." kataku dengan suaraku yang paling menenangkan, seraya berjalan pelan menjauhi Jin. Aku tidak yakin apakah aku bisa berbohong dengan meyakinkan sementara matanya mengawasiku.

"Semua baik-baik saja, oke? Beri aku waktu satu menit dan aku akan menjelaskan semuanya, aku janji."

Aku diam, terkejut karena ia belum menyela kata-kataku.

"Eomma?"

"Berhati-hatilah, jangan katakan apa-apa sebelum aku menyuruhmu." Suara yang kudengar sekarang sama asing dan mengejutkannya. Itu suara tenor laki-laki, suara yang amat menyenangkan dan umum, jenis suara yang menjadi narator pada iklan mobil mewah. Dia berbicara sangat cepat.

"Nah, aku tidak perlu melukai ibumu, jadi tolong lakukan sesuai yang kuperintahkan, maka dia akan baik-baik saja." Dia berhenti sebentar sementara aku mendengarkan dalam keheningan mencekam.

"Bagus sekali," Dia memujiku. "Sekarang ulangi kata-kataku, dan cobalah mengatakannya sewajar mungkin. Tolong katakan, 'Tidak, Mom, tetaplah di tempatmu.'"

"Tidak, Mom, tetaplah di tempatmu." Suaraku tak lebih dari bisikan.

"Bisa kulihat ini bakalan sulit." Suara itu terdengar senang, masih ringan dan ramah.

"Kenapa kau tidak pergi ke ruangan sebelah sehingga wajahmu tidak mengacaukan segalanya? Tidak ada alasan ibumu untuk menderita. Sambil berjalan, tolong katakan, 'Mom, tolong dengarkan aku.' Katakan sekarang."

"Mom, tolong dengarkan aku," aku memohon. Aku berjalan sangat pelan ke kamar tidur, merasakan tatapan was-was Jin di belakangku. Aku menutup pintu, berusaha berpikir jernih dalam ketakutan yang mencengkram benakku.

"Nah, bagus, kau sendirian? Jawab saja ya atau tidak."

"Ya."

"Tapi mereka masih bisa mendengarmu. Aku yakin itu."

"Ya."

"Baik, kalau begitu," suara menyenangkan itu melanjutkan, "katakan, 'Mom, percayalah padaku."

"Mom, percayalah padaku."

"Ini berjalan lebih baik dari yang kuperkirakan. Aku sedang bersiap-siap menunggu, tapi ibumu pulang lebih awal. Lebih mudah begini, ya kan? Tidak terlalu menegangkan, kau jadi tidak terlalu khawatir."

Aku menunggu.

"Sekarang aku mau kau mendengarkan dengan saksama. Aku ingin kau meninggalkan teman-temanmu. Menurutmu, kau bisa melakukannya? Jawab ya atau tidak."

"Tidak."

"Aku menyesal mendengarnya. Aku berharap kau bisa lebih kreatif lagi daripada itu. Menurutmu, apakah kau bisa melarikan diri dari mereka bila nyawa ibumu bergantung pada hal itu? Jawab ya atau tidak."

Entah bagaimana, harus ada cara. Aku ingat kami pernah akan pergi ke Bandara. Sky Harbour International Airport: penuh sesak, memusingkan...

"Ya."

"Itu lebih baik. Aku yakin takkan mudah, tapi seandainya aku mendapat sedikit saja petunjuk bahwa kau bersama seseorang, well, itu akan sangat buruk bagi ibumu." Suara ramah itu mengancam.

"Saat ini kau pasti sudah mengetahui cukup banyak tentang kami hingga menyadari betapa aku bisa segera tahu jika kau mencoba mengajak seseorang bersamamu. Dan betapa singkatnya waktu yang kubutuhkan untuk membereskan ibumu bila diperlukan. Kau mengerti? Jawab ya atau tidak."

"Ya." Suaraku parau.

"Bagus sekali, Tae. Sekarang inilah yang harus kau lakukan. Aku ingin kau pergi ke rumah ibumu. Di sebelah telepon adan sebuah nomor. Teleponlah, dan aku akan memberitahumu kemana kau harus pergi selanjutnya."

Aku sudah tahu kemana aku akan pergi, dan dimana ini akan berakhir. Tapi aku akan mengikuti setiap perintahnya dengan tepat.

"Bisakah kau melakukannya? Jawab ya atau tidak."

"Ya."

"Sebelum siang, kumohon, Tae. Waktuku tidak banyak," katanya sopan.

"Dimana Phil?" aku langsung bertanya.

"Ah, hati-hati, Tae. Kumohon, tunggu sampai aku menyuruhmu bicara." Aku menunggu.

"Ini penting, nah, jangan buat teman-temanmu curiga saat kau kembali pada mereka. Bilang ibumu menelepon dan kau sudah membujuknya agar tidak pulang ke rumah untuk sementara waktu. Sekarang ulangi kata-kataku ' Terima kasih, Mom.' Katakan sekarang."

"Terima kasih, Mom." Air mataku menetes. Aku mencoba menahannya.

"Katakan, 'Aku mencintaimu, Mom, sampai ketemu.' Katakan sekarang."

"Aku mencintaimu, Mom." Suaraku terdengar dalam. "Sampai ketemu," aku berjanji.

"Selamat tinggal, Tae. Aku menantikan bertemu denganmu lagi." Ia menutup telepon.

Aku menempelkan telepon di telingaku. Sendi-sendiku kaku karena rasa takut yang amat sangat, aku tidak bisa meregangkan jemariku untuk melepaskan telepon itu. Aku tahu aku harus berpikir, tapi kepalaku dipenuhi suara panik ibuku. Detik demi detik berlalu saat aku berjuang mengendalikan diri.

Perlahan, amat perlahan, pikiranku mulai menembus dinding sakit. Menyusun rencana. Karena sekarang aku hanya punya satu pilihan yaitu pergi ke ruang cermin dan mati. Aku tidak memiliki jaminan, tidak ada yang bisa kuberikan agar ibuku tetap hidup. Aku hanya bisa berharap James akan merasa puas karena memenangkan pertandingan, bahwa mengalahkan Jungkook cukup baginya. Keputusasaan mencengkramku, tidak ada cara untuk bernegosiasi, tidak ada yang bisa kutawarkan atau kupertahankan yang bisa mempengaruhinya. Tapi aku masih tidak punya plihan. Aku harus mencoba.

Aku mengesampingkan kekuatanku sebisa mungkin. Keputusanku sudah bulat. Tidak ada gunanya membuang-buang waktu meratapi hasilnya. Aku harus berpikir dengan baik, karena Jin dan Namjoon menungguku, dan menghindari mereka adalah sangat penting sekaligus sangat mustahil. Tiba-tiba aku beryukur Namjoon sedang keluar. Seandainya dia berada disini dan merasakan kepedihanku selama lima menit terakhir ini, bagaimana aku bisa mencegah mereka agar tidak curiga? Aku kembali menelan ketakutan dan kekhawatiranku, mencoba mengenyahkannya. Aku tidak boleh takut sekarang. Aku tidak tahu kapan Namjoon akan kembali.

Aku berkonsentrasi pada rencana melarikan diri. Aku harus berharap pengenalanku akan kondisi bandara bakal membantuku. Entah bagimana caranya aku harus menjauhkan Jin. Aku tahu Jin berada di ruangan lain menungguku, penasaran. Tapi aku harus membereskan satu hal lagi selagi sendirian, sebelum Namjoon kembali.

Aku harus menerima kanyataan bahwa aku tidak akan bertemu Jungkook lagi, tidak akan ada pertemuan terkahir sebelum aku ke ruangan cermin. Aku akan menyakitinya, dan aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal. Kubiarkan gelombang penyiksaan menyapu diriku sebentar, kemudian aku mengesampingkannya juga, dan pergi menemui Jin. Satu-satunya ekspresi yang bisa kuperlihatkan adalah muram. Aku melihatnya was-was dan aku tidak menunggunya bertanya. Aku hanya punya satu skenario dan sekarang aku tidak akan bisa berimprovisasi.

"Ibuku khawatir, ia ingin pulang. Tapi tenang saja, aku berhasil meyakinkannya untuk tetap disana." Suaraku lemas.

"Kami akan memastikan dia baik-baik saja, Tae, jangan khawatir." Aku berpaling, aku tak bisa membiarkannya melihat wajahku.

Mataku tertuju pada lembaran kosong memo hotel di atas meja. Perlahan-lahan aku menghampirinya, sebuah rencana mulai tesusun di benakku. Disana juga ada amplop. Bagus.

"Jin," kataku pelan, tanpa berbalik, menjaga suaraku tetap tenang. "Kalau aku menulis surat untuk ibuku, maukah kau memberikannya padanya? Maksudku, meninggalkan suratnya di rumahnya?"

"Tentu saja, Tae." Suaranya terdengar hati-hati. Dia bisa melihat kegelisahanku. Aku harus bisa lebih menguasai emosiku.

Aku masuk lagi ke kamar, dan berlutut di sebelah meja kecil disisi tempat tidur untuk menulis surat. "Jungkook," tulisku. Tanganku gemetaran, tulisanku nyaris tak terbaca

Aku mencintaimu. Aku sangat menyesal. Dia, James, menyandera ibuku, dan aku harus berusaha. Aku tahu ini mungkin tidak berhasil. Aku teramat menyesal.

Jangan marah pada Jin dan Namjoon. Kalau aku bisa kabur dari pengawasan mereka, itu namanya mukzizat.

Sampaikan rasa terima kasihku kepaada mereka. Terutama pada Jin, kumohon.. .

Dan kumohon dengan sangat jangan mengejarnya. Kurasa, itulah yang ia inginkan. Aku tidakkan tahan bila ada yang harus menderita karena aku, apalagi kau. Kumohon hanya ini yang bisa kuminta darimu saat ini. Demi aku.

Aku mencintai mu. Maafkan aku.

Kim Taehyung.

Kulipat surat itu dengan hati-hati dan memasukkannya kedalam amplop. Akhirnya Jungkook toh akan menemukannya juga. Aku hanya berharap dia bisa mengerti dan mau mendengarku sekali ini saja. Kemudian dengan hati-hati kututup hatiku.

Butuh waktu jauh lebih sedikit dari yang kuduga, semua ketakutan, keputusasaan, kehancuran hatiku. Detik demi detik berlalu lebih lambat daripada biasanya. Namjoon masih belum kembali ketika aku akhirnya menghampiri Jin. Aku takut berada satu ruangan dengannya, takut dia akan menebaknya... tapi juga takut bersembunyi darinya untuk alasan yang sama. Seharusnya aku tahu, aku tidak akan mungkin sanggup terkejut, pikiranku begitu tersiksa dan labil, tapi aku tetap terkehut juga saat melihat Jin membungkuk di meja, mencengkeram tepiaannya dengan kedua tangan.

"Jin?"

Dia tidak bereaksi ketika aku memanggil namanya, tapi kepalanya perlahan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain dan aku melihat wajahnya. Tatapannya hampa, terpana... Pikiranku melayang pada ibuku. Apakah aku sudah terlambat? Aku bergegas ke sisinya, otomatis menyentuh tangannya.

"Seokjin!" seru Namjoon, muncul tepat di belakang Jin –atau Seokjin seperti yang diucapkannya tadi-, kedua tangannya memeluk tangan Jin, melepaskan cengkramannya dari meja. Dari seberang ruangan, pintu menutup dengan bunyi klik pelan.

"Ada apa?" desak Namjoon.

Jin memalingkan wajah dariku dan membenamkannya didada Namjoon. "Taehyung," katanya.

"Aku di sini," balasku.

Kepalanya menoleh, matanya terpaku padaku, ekspresinya masih hampa, aneh. Aku langsung tersadar dia tidak berbicara padaku, dia menjawab pertanyaan Namjoon.

"Apa yang kau lihat?" kataku, suaraku yang datar dan tak peduli tidak mencerminkan pertanyaan. Namjoon menatapku tajam. Aku menjaga ekspresiku tetap hampa dan menunggu. Mata Namjoon terlihat kebingungan saat dengan cepat menatap wajahku dan Jin, merasakan kepanikan.. karena sekarang aku bisa menebak apa yang dilihat Jin.

Aku merasakan ketenangan meliputi sekelilingku. Aku menyambutnya, menggunakannya untuk megendalikan emosiku. Jin sendiri juga berhasil mengontrol dirinya.

"Tidak ada apa-apa, sungguh," akhirnya Jin menjawab, suaranya luar biasa tenang dan meyakinkan. "Hanya ruangan yang sama seperti sebelumnya."

Jin akhirnya memandangku, ekspresinya lembut dan tenang. "Kau mau sarapan?"

"Tidak, aku makan di bandara saja." Aku juga terdengar sangat tenang. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hampir seolah meminjam indera istimewa yang dimiliki Namjoon, aku bisa merasakan keinginan Jin meskipun tersembunyi dengan baik, agar aku meninggalkan kamar dan ia bisa berdua saja dengan Namjoon. Supaya dia bisa memberitahu Namjoon bahwa mereka melakukan sesuatu yang keliru, bahwa mereka bakal gagal...

Oke. Katakanlah aku menjadi jenius atau Jin dan Namjoon yang terlalu lengah. Aku berhasil melarikan diri dari pengawasan mereka. Berpura-pura untuk pergi mencari makan, dan kabur lewat toilet yang memang memiliki dua pintu, aku berhasil sampai disini. Tapi rumahnya kosong. Aku harus bergegas; ibuku menantiku, ketakutan, mengandalkan aku.

Aku lari ke pintu, mengulurkan tangan ke atasnya dan mengambil kunci. Kubuka pintunya. Di dalam gelap, kosong, normal. Aku berlari menghampiri telepon seraya menyalakan lampu dapur. Di sana, di whiteboard, tampak sepuluh digit angka yang rapi. Jemariku gemetaran menekan nomor itu, beberapa kali keliru. Aku harus menutup dan memulai lagi. Kali ini aku hanya berkonsentrasi pada tombol-tombolnya, dengan saksama menekannya satu per satu. Berhasil. Aku mendekatkan gagang telepon ke telinga dengan tangan gemetar. Hanya berdering satu kali.

"Halo Tae," suara tenang itu menyambut di ujung telepon. "Ini sangat cepat. Aku terkesan."

"Apakah ibuku baik-baik saja?"

"Dia sangat baik-baik. Jangan khawatir Tae, aku sama sekali tak punya masalah dengannya. Kecuali kau tidak datang sendirian, tentunya." Ringan, senang.

"Aku sendirian." Aku tak pernah sesendiri ini seumur hidupku.

"Bagus sekali. Sekarang, kau tahu studio balet di belokan dekat rumahmu?"

"Ya, aku tahu jalan ke sana."

"Well, kalau begitu, kita akan bertemu sebentar lagi."

Begitu kututup telponnya, aku langsung berlari meninggalkan ruangan, melewati pintu muka, menuju panas yang menyengat. Tidak ada waktu untuk menoleh dan memandang rumahku, dan aku tak ingin melihatnya seperti saat ini, kosong, simbol rasa takut dan bukannya tempat berlindung. Orang terakhir yang memasuki ruang-ruang yang sangat kukenal itu adalah musuhku.

Dari sudut mata aku nyaris bisa melihat ibuku berdiri di bawah bayangan pohon kayu putih tempat aku biasa bermain ketika masih kanak-kanak. Atau berlutut di gundukan tanah di sekitar kotak pos, makam segala macam bunga yang coba ditanam ibu. Ingatan-ingatan itu lebih baik daripada kenyataan mana pun yang bakal kulihat hari ini. Tapi aku menjauh dari semua itu, menuju belokkan, meninggalkan semua di belakangku.

Aku merasa sangat lamban, seperti berlari di pasir basah, seolah-olah aku tak memiliki kekuatan untuk menyusuri jalanan ini. Beberapa kali aku terpeleset, sekali jatuh, menahan tubuhku dengan tangan, lalu tertatih-tatih bergerak maju. Tapi akhirnya aku sampai di ujung jalan. Tinggal satu ruas jalan lagi sekarang. Aku berlari, peluh menetes-netes di wajahku, napas terengah-engah. Sinar matahari terasa panas di kulitku, kelewat terang saat memantul di aspal putih dan menyilaukan pandangan. Aku merasa terekspos habis-habisan. Lebih mengerikan daripada yang pernah kubayangkan, aku kini mengharapkan hutan-hutan hijau Forks yang protektif... rumahku.

Ketika berbelok di sudut terakhir, menuju jalan Cactus, aku bisa melihat studio itu, seperti yang selama ini kuingat. Lapangan parkir di depannya kosong, semua kerai jendela tertutup. Aku tak bisa lari lagi, aku tak sanggup bernapas, kelelahan dan ketakutan mengalahkanku. Aku memikirkan ibuku agar bisa terus bergerak, langkah demi langkah. Ketika semakin dekat, aku bisa melihat tanda di balik pintu. Ditulis tangan di atas kertas pink menyala, tulisan itu berbunyi 'studio tari ditutup selama libur musim semi'. Kusentuh gagang pintunya, menariknya membuka perlahan. Tidak dikunci. Aku berusaha mengatur napas, dan membuka pintu Lobi gelap dan kosong, sejuk, terdengar deru suara pendingin ruangan. Kursi plastik lipat ditumpuk sepanjang dinding, karpetnya beraroma shampo. Lantai dansa sebelah barat gelap, aku bisa melihatnya lewat jendela yang terbuka. Lanpu-lampu di lantai dansa sebelah timur yang lebih besar menyala, tapi kerai jendelanya tertutup.

Ketakutan mencengkramku begitu kuat hingga seperti menjeratku. Aku tak bisa memaksa kakiku melangkah. Kemudian suara ibuku memanggil.

"Taehyung? Taehyung-ie?!" Nada histeris yang sama. Aku berlari menuju pintu, tempat dimana sumber suara berada.

"Taehyung, kau membuatku takut! Jangan pernah lakukan itu lagi!" Suaranya berlanjut ketika aku berlari memasuki ruangan panjang berlangit-langit tinggi itu.

Aku memandang sekeliling, berusaha menemukan dari mana datang suaranya ibu. Aku mendengarnya tertawa, dan aku pun berputar menghadap ke arah suara itu. Dan disanalah dia, di layar televisi, mengacak-acak rambutku, merasa lega. Rekaman itu diambil saat Thanksgiving, waktu usiaku dua belas. Kami pergi mengunjungi nenekku di California, itu tahun terakhir sebelum ia meningal. Suatu hari kami ke pantai, dan aku menjulurkan tubuhku terlalu jauh ke bibir dermaga. Ibu melihatku nyaris jatuh, berusaha menggapai keseimbangan.

"Taehyung? Taehyung-ie?!" ia memanggilku ketakutan.

Kemudian layar televisi berubah menjadi biru. Perlahan-lahan aku berbalik. James berdiri mematung di ambang pintu belakang, begitu kaku hingga awalnya aku tak mengenalinya. Ia memegang remote control. Lama kami bertatapan, kemudian dia tersenyum. James berjalan menghampiriku, lumayan dekat, lalu melewatiku untuk meletakkan remote di sebelah VCR. Aku hati-hati berbalik, memperhatikannya.

"Maafkan hal tadi, Tae. Tapi tidakkah lebih baik kalau ibumu tak perlu terlibat urusan kita?" Suranya sopan, ramah.

Dan tiba-tiba aku tersadar kalau ternyata ibuku aman. Dia masih di Florida. Dia tidak pernah menerima pesanku. Dia tidak pernah dibuat ketakutan oleh mata merah gelap milik wajah amat pucat di depanku ini. Ibuku aman.

"Ya," aku menjawab, suaraku lega.

"Kau tidak terdengar marah meskipun aku telah mengelabuhimu."

"Memang tidak." Suaraku meninggi memicu keberanianku. Apa artinya sekarang? Sebentar lagi segalanya bakal berakhir. Ayah dan ibu tidak akan pernah terluka, tidak perlu merasa takut.

Aku nyaris pusing. Bagian analitis dalam benakku mengingatkan bahwa aku nyaris meledak akibat tekanan yang kurasakan.

"Betapa aneh. Kau benar-benar tulus dengan perkataanmu." Matanya yang gelap menilaiku dengan sangat tertarik. Irisnya nyaris hitam, hanya ada sedikit nuansa kemerahan di sekelilingnya. Haus.

"Kalian manusia bisa lumayan menarik. Kurasa aku bisa membayangkan gambaranmu. Mengagumkan, sebagian kalian sepertinya sama sekali tidak memikirkan kepentingan sendiri."

James berdiri beberapa meter dariku, tangan dilipat, menatapku dengan sorot mata penasaran. Tidak ada kebengisan pada wajah atau sikap tubuhnya. Hanya kulitnya yang putih dan mata berkantong yang sudah biasa bagiku. Dia mengenakan kaus lengan panjang biru pucat dan jins belel.

"Kurasa kau akan memberitahuku bahwa kekasihmu akan membalaskan dendam untukmu?" dia bertanya, dan bagiku ia seperti berharap-harap.

"Tidak, kurasa tidak. Setidaknya, aku memintanya untuk tidak melakukanya."

"Apa katanya?"

"Aku tidak tahu." Rasanya aneh sekali bisa berkomunikasi dengan pemburu yang sopan ini.

"Aku meninggalkan surat untuknya."

"Betapa romantis, surat terakhir. Dan menurutmu dia akan menghargainya?" Suaranya hanya sedikit tegang sekarang, nada sinis mewarnai nada bicaranya yang sopan.

"Kuharap begitu."

"Hmmmm. Well, kalau begitu harapan kita berbeda. Kau tahu, semua ini sedikit terlalu mudah, kelewat cepat. Sejujurnya, aku kecewa. Aku mengharapkan tantangan yang lebih besar. Lagi pula, aku hanya memerlukan sedikit keberuntungan."

Aku menunggu dalam diam.

"Kalau Victoria tidak dapat menyentuh ayahmu, aku menyuruhnya mencari tahu lebih banyak tentangmu. Tidak ada gunanya berlari mengejarmu ke seluruh dunia padahal aku bisa menunggu nyaman di tempat yang kutentukan. Jadi, setelah berbicara dengan Victoria, kuputuskan untuk pergi ke Phoennix mengunjungi ibumu. Kudengar kau ingin pulang. Awalnya, aku tak pernah mengira kau bersungguh-sungguh. Kemudian aku bertanya-tanya. Manusia bisa sangat mudah ditebak. Mereka suka berada di tempat yang familiar, tempat aman. Dan bukankah ini rencana yang sempurna, pergi ke tempat terakhir yang mungkin menjadi tempat persembunyianmu, tempat yang katamu akan kau datangi"

"Tapi tentu saja aku tidak yakin, itu hanya dugaan. Aku biasanya punya insting mengnai mangsa yang kuburu, kau boleh menyebutnya indra keenam. Aku mendengarkan pesanmu setibanya di rumah ibumu, tapi tentu saja aku tak yakin dari mana kau menelepon. Memiliki nomormu tentu sangat berguna, tapi kau bisa saja berada di Amerika, dan permainan ini takkan berjalan kecuali kau di dekat-dekat sini."

"Kemudian kekasihmu naik pesawat ke Phoenix. Victoria mengawasi mereka untukku, tentu saja. Dalam sebuah permainan dengan banyak pemain, aku tak bisa bekerja sendirian. Jadi mereka memberitahu apa yang kuharapkan, bahwa kau ada di sini. Aku sudah siap; aku telah menyaksikan semua video rekamanmu yang menarik. Kemudian tinggal sedikit gertakan saja."

"Sangat mudah, kau tahu, tidak terlalu memenuhi standarku. Jadi, begini, kuharap kau salah mengenai kekasihmu. Jungkook, bukan?"

Aku tidak menyahut. Nyaliku benar-benar ciut. Aku punya firasat sebentar lagi dia akan mencapai tujuannya yang sebenarnya. Dan kemenangannya sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Tak ada kepuasan dalam mengalahkan diriku, manusia lemah ini.

"Apakah kau sangat keberatan kalau aku meninggalkan pesan untuk Jungkook-mu?"

James mundur selangkah dan menyentuh video kamera digital seukuran telapak tangan, dengan hati-hati meletakkannya di atas stereo. Nyala lampu merah kecil menandakan alat itu sudah mulai merekam. Dia mengaturnya beberapa kali, melebarkan lensanya. Aku menatapnya ngeri.

"Maafkan aku, tapi aku hanya berpikir dia takkan mampu menahan diri untuk tidak memburuku setelah menyaksikan ini. Dan aku tak ingin dia melewatkan apa pun. Tentu saja, ini semua untuknya. Kau hanya manusia, yang sayang sekali berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah, dan tak diragukan lagi, boleh kutambahkan, berada bersama kelompok yang salah."

Dia menghampiriku, tersenyum. "Sebelum kita mulai..." Perutku mual ketika ia berbicara. Sesuatu yang tidak kuperkirakan.

"Aku senang memanas-manasi sedikit. Sebenarnya jawabannya sudah ada disana selama ini, dan aku begitu takut Jungkook akan mengetahuinya dan merusak kesenanganku. Hal seperti itu pernah terjadi, oh, sudah lama sekali. Satu-satunya mangsaku yang berhasil kabur dariku."

"Kau tahu, vampir yang begitu tololnya untuk jatuh cinta pada korban kecilnya ini mengambil keputusan yang tidak sanggup diambil oleh Jungkook-mu yang lemah itu. Ketika vampir tua itu tahu aku mengincar teman kecilnya, dia menculik gadis itu dari rumah sakit jiwa tempatnya bekerja, aku takkan pernah mengerti obsesi yang dimiliki beberapa vampir terhadap kalian manusia, dan begitu vampir tua itu membebaskannya, dia membuat gadis itu aman. Gadis itu sepertinya bahkan tidak merasakan sakitnya, makhluk kecil malang. Dia telah terperangkap dalam lubang hitam itu terlalu lama. Ratusan tahun sebelumnya dia bisa saja dibakar karena pengliatannya. Pada tahun 1920-an, hukumannnya adalah rumah sakit jiwa dan terapi syok. Ketika gadis itu membuka mata, kemudaannya yang baru membuatnya kuat, seolah-olah dia belum pernah melihat matahari. Si vampir tua menjadikannya vampir baru yang kuat dan tidak ada alsan lagi bagiku untuk menyentuhnya." Ia mendesah. "Sebagai balas dendam, aku menghancurkan si vampir tua."

"Jin," desahku, terkejut.

"Ya, teman dekatmu. Aku terkejut melihatnya di lapangan itu. Jadi kurasa pengalaman ini tidak terlalu buruk bagi kelompoknya. Aku mendapatkanmu, tapi mereka mendapatkannya. Satu-satunya korban yang berhasil kabur dariku, suatu kehormatan, sebenarnya."

"Dan aromanya memang sangat lezat. Aku masih menyesal tak sempat mencicipinya... Aromanya bahkan lebih lezat daripada dirimu. Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aroma tubuhmu sangat menyenangkan. Bunga-bungaan, bagaimanapun..."

Jaems maju selangkah lagi, sampai jaraknya tinggal beberapa senti. Dia mengangkat beberapa helai rambutku dan mengendusnya dengan lembut. Lalu aku merasakan ujung jarinya yang dingin dileherku. James mengangkat tangannya dan mengelus pipiku sekilas dengan ibu jarinya, wajahnya penasaran. Aku ingin sekali menjauhkan diri darinya, tapi tubuhku membeku. Aku bahkan tak bisa beringsut.

"Tidak," gumamnya pada diri sendiri, lalu menjatuhkan tangannya, "aku tak mengerti."

Ia mendesah. "Well, kurasa kita selesaikan saja sekarang."

Aku benar-benar mual sekarang. Ada rasa sakit yang mendekat, dan aku bisa melihat di matanya. Dia tidak akan puas hanya dengan menang, memangsaku, lalu pergi. Takkan berakhir cepat seperti yang kuharapkan. Lututku gemetaran, dan aku khawatir bakal jatuh. Dia melangkah mundur dan mulai mengelilingiku, dengan wajar, seakan-akan mencari sudut pandang yang lebih baik dari patung di museum. Wajahnya masih ramah dan terbuka saat memutuskan dari mana harus memulai. Kemudian dia mencondongkan tubuh, dan senyumnya yang menawan perlahan melebar, semakin lebar, hingga tidak menyerupai senyuman sama sekali melainkan deretan gigi, terpapar jelas dan berkilauan.

Aku tidak bisa menahan diri, aku mencoba lari. Sama sia-sianya seperti yang kuperkirakan, selemah lututku saat itu. Kepanikan menguasaiku dan aku melesat ke pintu darurat. Dalam sekejap James sudah ada didepanku. Aku tidak melihat apakah dia menggunakan tangan atau kakinya, terlalu cepat. Hentakan keras menghantam dadaku, tubuhku melayang ke belakang, dan aku mendengar suara pecahan saat kepalaku menghantam cermin. Kacanya hancur berantakan, serpihan-serpihannya berserakan dan bertebaran di lantai di sampingku.

Aku kelewat terkejut untuk bisa merasakan sakit. Aku tidak bisa bernapas. Perlahan-lahan dia menghampiriku.

"Itu efek yang sangat menyenangkan," katanya mengamati kaca-kaca yang berserakan, suarnya kembali ramah.

"Kupikir ruangan ini cukup dramatis untuk film sederhanaku. Itu sebabnya aku memilih tempat ini untuk berjumpa denganmu. Sempurna, ya kan?"

Aku mengabaikannya, dengan tangan dan lutut aku merangkak ke pintu lain. James langsung menghadangku, kakinya menginjak kakiku. Aku mendengar suara retakan itu sebelum merasakannya. Tapi kemudian aku merasakannya, dan aku tak dapat menahan jerit kesakitanku. Aku berbalik untuk meraih kakiku, dan dia berdiri menjulang di atasku, tersenyum.

"Apakah kau mau memikirkan kembali permintaan terkahirmu?" tanyanya ramah. Ibu jarinya menekan kakiku yang patah dan aku mendengar lengkingan kesakitan. Aku terkejut menyadari bahwa akulah yang menjerit itu.

"Tidakkah aku lebih ingin Jungkook berusaha mencariku?" ujarnya.

"Tidak!" seruku parau.

"Tidak, jangan Jungkook.." Lalu sesuatu mengantam wajahku, melemparkanku kembali ke cermin yang sudah pecah.

Selain sakit di kakiku, aku merasakan robekan tajam di kulit kepalaku, di tempat pecahan kaca itu menusukku. Cairan hangat mengalir deras di antara helai rambutku. Aku bisa merasakannya membasahi bagian bahu kausku, mendengarnya menetes-netes di lantai kayu di bawahku. Aromanya membuatku mual. Dalam keadaan pusing dan mual aku melihat sesuatu yang tiba-tiba memberiku secercah harapan terakhir. Matanya, yang sebelumnya penuh tekad, kini membara dengan hasrat tak terkendali. Darah yang mengalir, meninggalkan noda kemerahan dikaus putihku, dengan cepat menggenang di lantai, membuatnya sinting karena dahaga. Terlepas dari tujuan awalnya, James tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.

Biarlah segera berlalu sekarang, hanya itu yang bisa kuharapkan saat aliran darah dari kepalaku muloai membuatku tak sadarkan diri. Mataku memejam. Aku mendengar, seolah dari kedalaman air, raungan terakhir si pemburu. Aku bisa melihat, lewat lorong panjang yang terbentuk di mataku, sosok gelapnya menghampiriku. Dengan kekuatan terakhir, tanganku terangkat menutupi wajah. Mataku terpejam dan aku pun tak sadarkan diri.

End of this chapter

Update lagiiii... fast update kaaan???

gimana sama chapter ini? semoga tidal mengecewakan

oh ya, selama ini aku gak nuntut kalian buat komen. Tapi makin sini, kok aku ngerasa yg review berbanding terbalik sama yg read. rasanya kayak gimana gitu.. ehehehe...

aku pengen, tembus angka 70 buat chapter selanjutnya. Tinggal 2 chapter lagi..

Tapi aku ttp gak maksa kok.. ini bakal ttp update.. tenang aja..

gitu aja sih.. bye bye...