TWILIGHT (KookV Version)
-Malaikat-
.
.
.
.
.
.
Saat aku tak sadarkan diri, aku bermimpi.
Aku melayang-layang dibawah permukaan air yang gelap dan mendengar suara paling menyenangkan yang bisa ditangkap pikiranku. Suara yang indah, membahagiakan, sekaligus mengerikan. Suara geraman lain, lebih dalam, lebih ganas, dan sarat amarah. Aku diseret naik, nyaris mencapai permukaan, oleh rasa sakit tajam yang menusuk-nusuk tanganku yang terulur, namun aku tak punya cukup tenaga untuk membuka mata.
Kemudian aku tahu aku sudah mati. Karena, dari kedalaman air, aku mendengar suara malaikat memanggil namaku, memanggilku ke satu-satunya surga yang kuinginkan.
"Oh, tidak. Taehyung, tidak!" malaikat itu berseru putus asa.
Di belakang ratapan itu ada suara lain, keributan mengerikan yang berusaha kuhindarkan. Ruangan penuh ancaman, gelegar amarah yang mengerikan dan lengkingan kesakitan, sekonyong-konyong pecah. Namun aku berusaha berkonsentrasi pada suara si malaikat.
"Taehyung, jebal! Tae, dengar, kumohon, kumohon, Taehyung, kumohon!" dia memohon.
Aku ingin mengatakan ya. Apa saja. Tapi aku tidak bisa mengucapkannya.
"Appa!" si malaikat berseru, kesedihan mendalam memenuhi suaranya yang sempurna.
"Tae, Taehyung-ie, tidak, oh kumohon, tidak, tidak!" Dan si malaikatpun menangis tersedu-sedu. Malaikat tidak seharusnya menangis, itu tidak benar. Aku mencoba menemukannya, memberitahunya semua baik-baik saja, tapi airnya sangat dalam hingga menekanku, dan aku tidak bisa bernapas.
Kepalaku seperti ditekan. Rasanya sakit. Kemudian, saat rasa nyeri itu menembus kegelapan dan menggapaiku, aku merasakan sakit yang lain, lebih kuat. Aku menjerit, tersengal keluar dari kolam yang gelap.
"Taehyung!" si malaikat berseru.
"Dia kehilangan banyak darah, tapi luka dikepalanya tidak begitu dalam," suara tenang itu memberitahuku. "Hati-hati kakinya patah."
Geram kemarahan nyata di bibir malaikat. Aku merasakan tusukan tajam di dadaku. Ini tidak mungkin surga, ya kan? Terlalu banyak rasa sakit.
"Kurasa beberapa tulang rusuknya juga patah," pemilik suara merdu itu melanjutkan kata-katanya.
Tapi saat rasa sakit yang tajam itu telah lenyap. Ada rasa sakit yang baru, rasa terbakar di tanganku yang mengalahkan semua rasa sakit yang kurasakan.
"Jungkook." Aku mencoba memberitahunya, tapi suaraku terdengar sangat pelan dan berat. Aku tak bisa memahami diriku sendiri.
"Taehyung, kau akan baik-baik saja. Kau bisa mendengarku, Tae? Aku mencintaimu."
"Jungkook," aku mencoba lagi. Suaraku sedikit lebih jelas.
"Ya, aku disini."
"Sakit," rengekku.
"Aku tahu Tae, aku tahu,", kemudian, menjauh dariku, terdengar amat sangat ketakutan, "tak bisakah kau melakukan sesuatu?"
"Tolong ambilkan tasku... Tenangkan dirimu Jin, itu akan membantu," dr. Choi berjanji.
"Jin?" erangku.
"Dia disini, dia tahu dimana menemukanmu."
"Tanganku sakit," aku mencoba memberitahunya.
"Aku tahu, Tae. Appa akan memberimu sesuatu, rasa sakitnya akan berhenti."
"Tanganku terbakar!" aku berteriak, akhirnya terbebas dari kegelapan, mataku perlahan-lahan membuka. Aku tidak dapat melihat wajah Jungkook, sesuatu yang gelap dan hangat membayangi mataku. Kenapa mereka tidak bisa melihat apinya dan memadamkannya? Suaranya terdengar ngeri.
"Taehyung?"
"Apinya! Tolong matikan apinya!" aku menjerit saat rasa panas itu membakarku.
"Appa! Tangannya!"
"Dia menggigitnya." Suara dr. Choi tidak lagi tenang, melainkan terkejut. Aku mendengar Jungkook menghela napas ngeri.
"Jungkook, kau harus melakukannya." Itu suara Jin, didekat kepalaku. Jari-jari dingin mengusap kelembapan di kedua mataku.
"Tidak!" ia berteriak.
"Jin.." aku mengerang.
"Mungkin ada kesempatan," kata dr. Choi.
"Apa?" Jungkook memohon.
"Coba lihat apakah kau bisa mengisap racunnya keluar. Lukanya cukup bersih." Saat dr. Choi bicara, aku bisa merasakan kepalaku semakin tertekan, ada yang berdenyut-denyut di kulit kepalaku. Rasa sakitnya kalah oleh rasa sakit yang ditimbulkan oleh api itu.
"Apakah akan berhasil?" tanya Jin tegang.
"Aku tidak tahu," sahut dr. Choi. "Tapi kita harus bergegas."
"Appa, aku..." Jungkook ragu. "Aku tak tahu apakah aku bisa melakukannya." Ada kepedihan dalam suara indahnya lagi.
"Itu keputusanmu Jungkook, apa pun itu. Aku tidak bisa menolongmu. Aku harus menghentikan pendarahannya, kalau kau akan mengisap darah dari tangannya."
Aku mengeliat dalam cengkraman rasa sakit yang kuat, membuat rasa sakit di kakiku muncul lagi.
"Jungkook!" jeritku. Aku tahu mataku kembali terpejam. Aku membukanya, begitu putus asa menemukan wajahnya. Dan aku melihatnya. Akhirnya, aku melihat wajahnya yang sempurna memandangku, pergulatan antara kebimbangan dan kepedihan tampak nyata disana.
"Jin, cari sesuatu untuk menahan kakinya!" dr. Choi membungkuk di depanku, membereskan luka di kepalaku. "Jungkook, kau harus melakukannya sekarang, atau akan terlambat."
Wajah Jungkook tampak lelah. Aku memperhatikan matanya saat kebimbangan itu tiba-tiba berganti menjadi tekad yang membara. Rahangnya mengeras. Aku merasakan jemarinya yang kuat dan sejuk ditanganku yang terbakar, menahannya. Kemudian kepalanya menunduk ke atasnya, bibirnya yang dingin menekan kulitku. Awalnya rasa sakit itu semakin parah. Aku menjerit dan meronta dari cengkraman sejuk yang menahanku. Aku mendengar suara Jin, berusaha menenangkan diri. Sesuatu yang berat menekan kakiku di lantai, dan dr. Choi menahan kepalaku dengan tangannya yang keras bagai batu.
Kemudian, perlahan, saat tanganku mati rasa, aku pun tenang. Sengatan terbakar di tanganku mulai berkurang hingga tak lagi terasa. Aku mulai sadarkan diri saat rasa sakit itu lenyap. Aku takut jatuh lagi ke dalam air yang gelap, takut akan kehilangan dirinya di kegelapan.
"Jungkook," aku mencoba bicara, tapi tak dapat mendengar suaraku. Namun mereka bisa.
"Dia disini, Tae."
"Tinggallah Jungkook, tinggallah bersamaku..."
"Ya, aku akan bersamamu." Suaranya tegang, tapi terselip nada kemenangan disana.
Aku mendesah bahagia. Api itu lenyap, rasa sakit yang lain memudar berganti rasa kantuk yang melanda diriku.
"Sudah keluar semua?" dr. Choi bertanya dari jauh.
"Darahnya bersih," kata Jungkook pelan. "Aku bisa merasakan obat penghilang sakitnya."
"Taehyung?" dr. Choi mencoba memanggilku.
Aku berusaha menjawabnya. "Mmmm?"
"Apakah apinya sudah hilang?"
"Ya," desahku. "Terima kasih, Jungkook."
"Aku mencintaimu," jawabnya.
"Aku tahu," aku menghela napas, rasanya sangat lelah.
Aku mendengar suara favoritku di dunia ini : tawa pelan Edward, letih karena perasaan lega.
"Taehyung?" bertanya lagi.
Dahiku berkerut, aku ingin tidur. "Apa?"
"Dimana ibumu?"
"Di Florida," aku mendesah.
"Dia mengelabuhiku, Jungkook. Dia menonton video rekaman kami." Kemarahan dalam suaraku terdengar lemah. Tapi itu membuatku teringat.
"Jin." Aku mencoba membuka mata.
"Jin, videonya, dia tahu tentang kau. Dia tahu darimana asalmu." Aku bermaksud mengatakannya saat itu juga, tapi suaraku lemah.
"Aku mencium bau bensin," aku menambahkan, tersadar dari kabut yang menggelayuti pikiranku.
"Sudah saatnya memindahkannya," kata dr. Choi.
"Tidak, aku ingin tidur," aku menolak.
"Kau bisa tidur, Sayang, aku akan menggendongmu," Jungkook menenangkanku. Dan akupun berada dalam pelukannya, meringkuk didadanya, melayang-layang, semua sakitnya hilang.
"Sekarang tidurlah, Taehyung-ie," adalah kata-kata terakhir yang kudengar.
.
.
.
.
.
.
Ketika terbangun aku melihat cahaya putih terang. Aku berada di ruang yang asing, ruangan yang bernuansa putih. Dinding di sebelahku tertutup tirai yang memanjang dari atas hingga bawah, di atas kepalaku, cahaya terang menyilaukan pandangan. Aku dibaringkan di tempat tidur keras, dengan besi pengaman. Bantal-bantalnya kempis dan kasar. Ada bunyi bip yang menggangu tak jauh dariku. Aku berharap itu artinya aku masih hidup. Kematian tak seharusnya tidak senyaman ini.
Tangan-tanganku dipenuhi slang infus dan ada sesuatu direkatkan di wajahku, di bawah hidung. Kuangkat tanganku untuk melepaskannya.
"Jangan, tidak boleh." Jari-jari dingin menangkap tanganku.
"Jungkook?" Aku menoleh sedikit, dan wajahnya yang indah hanya beberapa senti dariku. Jungkook meletakkan dagunya diujung bantal. Sekali lagi aku menyadari diriku masih hidup, kali ini dengan perasaan bersyukur dan bahagia.
"Jungkook, aku benar-benar menyesal!"
"Ssssttt," dia menyuruhku diam. "Sekarang semuanya baik-baik saja."
"Apa yang terjadi?" Aku tak bisa mengingat dengan jelas, dan pikiranku memberontak saat mencoba mengingatnya.
"Aku nyaris terlambat. Aku bisa saja terlambat," Jungkook berbisik, suaranya terdengar menyesal.
"Aku bodoh sekali, Jungkook. Kupikir dia menyandera ibuku."
"Dia mengelabuhi kita semua."
"Aku harus menelepon ayah dan ibuku,"
"Jin sudah telepon mereka. Ibumu ada disini, well.. disini, di rumah sakit ini. Dia sedang mencari makan."
"Dia ada disini?" Aku mencoba duduk, tapi kepalaku semakin pusing, dan tangan Jungkook yang lembut menahanku di bantal.
"Sebentar lagi dia kembali," Jungkook berjanji. "Dan kau belum boleh bergerak."
"Tapi apa yang kau katakan padanya?" tanyaku panik. Aku sama sekali tak ingin ditenangkan. Ibuku ada disini, dan aku sedang dalam pemulihan setelah serangan vampir.
"Kenapa kau memberitahunya aku ada disini?"
"Kau jatuh dari dua deret tangga lalu dari jendela." Jungkook berhenti. "Harus kuakui, itu mungkin saja terjadi."
Aku mendesah dan rasanya nyeri sekali. Aku memandangi tubuhku di balik selimut, kakiku bengkak. "Seberapa buruk keadaanku?" aku bertanya.
"Kakimu patah, begitu juga empat rusukmu, beberapa bagian tengkorakmu rusak, memar hampir di sekujur tubuh, dan kau kehilangan banyak darah. Mereka memberimu transfusi. Aku tidak menyukainya, sesaat aromamu jadi berbeda."
"Itu pasti perubahan yang baik untukmu."
"Tidak, aku menyukai aromamu yang asli."
"Bagimana kau melakukannya?" tanyaku pelan. Jungkook langsung tahu maksudku.
"Aku tidak yakin."
Jungkook memalingkan wajah dari tatapanku yang bertanya-tanya, mengangkat tanganku yang dibalut perban dan menggenggamnya lembut dalam tangannya, berhati-hati agar tidak menyentuh kabel yang terhubung dengan salah satu monitor. Aku menunggu jawabannya dengan sabar. Jungkook kemudian mendesah tanpa membalas tatapanku.
"Rasanya mustahil... untuk berhenti," Jungkook berbisik. "Mustahil. Tapi aku melakukannya." Akhirnya dia memandangku, setengah tersenyum. "Aku melakukannya, karena aku mencintaimu."
"Tidakkah rasaku seenak aromaku?" Aku balas tersenyum. Dan itu membuat wajahku terasa sakit.
"Lebih baik. Bahkan lebih baik daripada yang aku bayangkan."
"Maafkan aku," ujarku menyesal.
Jungkook menatap langit-langit. "Dari semua yang perlu dimaafkan."
"Apa lagi yang harus kumintai maaf?"
"Karena nyaris menghilangkan dirimu selamanya dariku."
"Maafkan aku," aku meminta maaf lagi.
"Aku tahu kenapa kau melakukannya." Suaranya menenangkan. "Tentu saja itu masih tidak masuk akal. Kau seharusnya menungguku, seharusnya memberitahuku."
"Kau tidak akan membiarkanku pergi."
"Memang tidak," Jungkook menimpali dengan geram. Terlihat dengan jelas raut marah di wajah tampannya "Tidak akan kubiarkan." Lanjutnya, tegas.
Beberapa ingatan yang sangat tidak menyenangkan mulai menghantuiku. Aku merinding, kemudian meringis.
Jungkook langsung menatapku cemas. "Ada apa, Tae?"
"Apa yang terjadi pada James?"
"Setelah aku menjauhkannya darimu, Jimin dan Namjoon membereskannya." Kata-katanya sarat dengan penyesalan yang amat dalam. Ini membingungkanku.
"Aku tidak melihat Jimin dan Namjoon disana."
"Mereka harus meninggalkan ruangan... darahmu berceceran dimana-mana."
"Tapi kau tetap tinggal."
"Ya, aku tetap tinggal." Jungkook mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali,
"Jin dan ayahmu..." aku bertanya-tanya.
"Mereka juga menyayangimu, kau tahu."
Kelebatan ingatan menyakitkan dari saat terakhir aku melihat Jin, mengingatkanku akan sesuatu. "Apakah Jin melihat rekamannya?" tanyaku was-was.
"Ya." Suara Jungkook berubah kelam, samar-samar menguarkan kebencian.
"Jin tidak pernah mengerti, itu sebabnya dia tidak ingat."
"Aku tahu. Aku memahaminya sekarang." Suara Jungkook terdengar tenang, tapi wajahnya kelam oleh amarah.
Aku mencoba meraih wajahnya dengan tanganku yang lain, tapi sesuatu menghentikanku. Aku memandang ke bawah, melihat kantong transfusi menahan tanganku.
"Auw." Aku meringis.
"Ada apa?" tanyanya kembali cemas, perhatiannya teralihkan, tapi hanya sedikit. Kesedihan tak sepenuhnya memudar dari matanya.
"Jarum," aku menjelaskan, memalingkan pandang. Aku berkonsentrasi menatap langit-langit dan berusaha menarik napas panjang dalam-dalam dan mengabaikan nyeri di sekitar rusukku.
"Takut jarum," Jungkook bergumam pelan pada dirinya sendiri, sambil menggeleng. "Oh, tentu saja, kau tidak masalah dengan vampir sadis yang berniat menyiksamu sampai mati, kau langsung lari menemuinya. Tapi jarum infus..."
Aku memutar bola mataku. Aku senang mengetahui setidaknya reaksi seperti ini tidak menyakitkan. Kuputuskan untuk mengubah topik.
"Kenapa kau ada di sini?" aku bertanya.
Jungkook menatapku, pertama bingung, kemudian kepedihan terpancar di matanya. Alisnya bertaut saat wajahnya menekuk. "Kau ingin aku pergi?"
"Tidak!" protesku, ngeri membayangkannya.
"Bukan, maksudku, kenapa ibuku pikir kau ada di sini? Aku harus tahu apa yang harus kuceritakan saat dia kembali."
"Oh," kata Jungkook, dahinya kembali mulus bak pualam.
"Aku datang ke Phoenix untuk berbicara dari hati ke hati, untuk meyakinkanmu agar kembali ke Forks." Matanya yang lebar tampak jujur dan tulus, hingga aku sendiri nyaris mempercayainya.
"Kau setuju menemuiku dan kau mengemudi ke hotel tempatku menginap bersama appa dan Jin, tentu saja aku kesini ditemani orangtua," Jungkook menambahkannya lugu, "tapi kau terpeleset ketika sedang naik tangga menuju kamarku dan... well, kau tahu kelanjutannya. Tapi kau tak perlu mengingat detailnya; kau punya alasan bagus untuk tidak mengingatnya dengan jelas."
Aku memikirkannya beberapa saat. "Ada beberapa kekurangan dalam cerita itu. Tidak ada jendela yang pecah, misalanya."
"Tidak juga," katanya.
"Jin terlalu banyak bersenang-senang ketika menciptakan barang bukti. Setelah semua diatasi, kami membuatnya sangat meyakinkan, barangkali kau bisa menuntut hotelnya kalau mau. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, Taetae.." Jungkook berjanji, mengusap pipiku dengan sentuhan paling ringan. "Sekarang tugasmu hanya sembuh."
Aku tidak terlalu tenggelam dalam rasa sakit atau pengaruh obat hingga tidak bereaksi terhadap sentuhannya. Suara bip di monitor langsung bergerak tidak terkendali, sekarang bukan Jungkook satu-satunya yang bisa mendengar irama jantungku yang mendadak liar.
"Ini akan memalukan," gumamku pada diri sendiri.
Jungkook tertawa, dan tatapannya mengira-ngira. "Hmmm, aku jadi penasaran..."
Jungkook mencondongkan tubuhnya perlahan, suara bip semakin cepat bahkan sebelum bibirnya menyentuh bibirku. Tapi ketika akhirnya bibir kami bersentuhan, meskipun teramat lembut, bunyi bip itu mendadak berhenti. Jungkook langsung tersentak, ekspresi was-wasnya berubah lega saat monitor menunjukkan jantungku berdetak lagi.
"Sepertinya aku harus lebih berhati-hati lagi denganmu daripada biasanya." Dahinya berkerut.
"Aku belum selesai menciummu," aku mengeluh. "Jangan buat aku pergi menghampirimu."
Jungkook tersenyum dan membungkuk untuk mencium lembut bibirku. Monitor langsung bergerak kacau lagi. Tapi kemudian bibirnya menegang. Jungkook menarik diri.
"Kurasa aku mendengar ibumu," katanya, tersenyum.
"Jangan tinggalkan aku," aku berseru, merengek lebih tepatnya karena rasa panik yang tidak masuk akal merasukiku. Aku tidak bisa membiarkannya pergi, Jungkook mungkin akan menghilang dari diriku lagi.
Sekejap Jungkook melihat ketakutan di mataku.
"Aku tidak akan meninggalkanmu," Jungkook berjanji, terdengar sungguh-sungguh, kemudian tersenyum. "Aku akan tidur sebentar."
Jungkook pindah dari kursi plastik keras di sampingku ke sofa bersandaran dari kulit sintetis warna turquoise di ujung tempat tidur, lalu berbaring dan memejamkan mata. Posisinya diam tak bergerak.
"Jangan lupa bernapas," bisikku sinis. Jungkook menarik napas panjang, matanya masih terpejam.
Aku bisa mendengar ibuku sekarang. Dia sedang berbicara dengan seseorang, mungkin perawat, dan ibu terdengar lelah dan sedih. Ingin rasanya aku melompat dari tempat tidur dan berlari padanya, untuk menenangkannya, meyakinkan semuanya baik-baik saja. Tapi keadaanku tidak memungkinkan aku melompat, jadi aku menunggunya dengan tidak sabar.
Terdengar suara pintu berderit, dan ibu mengintip dari sana.
"Eomma!" aku berbisik, suaraku penuh sayang dan lega.
Ibu melihat Jungkook yang tertidur di sofa bersandaran dan berjingkat menghampiriku. "Dia tidak pernah pergi, ya kan?" gumamnya pada diri sendiri.
"Eomma, aku senang sekali bertemu denganmu!"
Ibu membungkuk dan memelukku lembut, dan aku merasakan air mata hangat menetes di pipiku.
"Taehyung-ie, aku sedih sekali!"
"Mianhae eomma. Tapi sekarang semua baik-baik saja, tidak apa-apa,"
Aku mencoba menenangkannya.
"Aku senang akhirnya kau tersadar." Ia duduk di tepi tempat tidur.
Aku tiba-tiba menyadari kalau aku tidak tahu ini hari apa. "Berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Sekarang hari Jumat, Sayang, kau tak sadar cukup lama."
"Jumat?" aku terkejut.
Aku mencoba mengingat hari ketika... tapi aku tak ingin memikirkannya.
"Mereka harus terus memberimu obat penenang untuk sementara waktu, Sayang, luka-lukamu parah sekali."
"Aku tahu." Aku bisa merasakannya.
"Kau beruntung dr. Choi ada di sana. Dia baik, meskipun masih sangat muda. Dan dia lebih mirip model daripada dokter..."
"Ibu bertemu dr. Cho?"
"Dan saudara Jungkook, Jin. Dia orang yang menyenangkan."
"Memang," aku menimpali sepenuh hati.
Ibu menoleh kearah Jungkook, yang berbaring di kursi dengan mata terpejam.
"Kau tidak bilang punya teman-teman yang baik di Forks. Dan lebih membahagiakannya lagi semuanya keturunan Korea. Aku tahu dengan sangat kau benar-benar merindukan Korea.."
Aku tersenyum membenarkan, tapi kemudian aku mengerang.
"Apa yang sakit?" Ibu bertanya dengan khawatir, kembali menghadapku. Mata Jungkook berkilat menatapku.
"Tidak apa-apa," aku meyakinkan mereka.
"Aku hanya perlu mengingat untuk tidak bergerak." Jungkook kembali pura-pura tidur.
Aku mengambil kesempatan untuk mengalihkan topik. "Di mana Phil?" tanyaku cepat.
"Di Florida, oh, Tae! Kau tidak akan menyangka! Tepat sebelum berangkat, kami mendapat berita terbaik!"
"Phil mendapatkan kontrak?" aku menebaknya.
"Ya! Bagaimana kau tahu? The Suns, kau percaya?"
"Itu hebat eomma." kataku, berusaha terdengar bersemangat, meskipun aku tidak begitu mengerti apa artinya itu.
"Dan kau akan sangat menyukai Jacksonville," Ibu sibuk meracau sementara aku hanya terpaku menatapnya.
"Aku sedikit khawatir saat Phil mulai membicarakan Akron, salju dan semuanya, karena kau tahu betapa aku sangat membenci dingin, tapi sekarang Jacksonville! Matahari selalu bersinar, dan kelembapannya tidak seburuk itu. Kami menemukan rumah yang paling menggemaskan, warna kuning dengan bingkai putih, dan teras persis seperti di film-film tua, dan pohon ek raksasa, dan jaraknya hanya beberapa menit dari laut, dan kau akan memiliki kamar mandimu sendiri, "
"Eomma, tunggu sebentar!" selaku. Mata Jungkook masih terpejam, tapi dia kelihatan terlalu tegang untuk bisa dibilang tidur.
"Apa yang kau bicarakan? Aku takkan pergi ke Florida. Aku tinggal di Forks."
"Tapi kau tidak perlu lagi, dasar bodoh," eomma tertawa.
"Phil bisa tinggal bersama kita lebih sering sekarang... kami sudah sering membicarakannya, dan kalau dia harus melakukan perjalanan jauh, aku akan tinggal separuh waktu denganmu dan separuh lagi dengannya."
"Eomma." Aku meragu, bertanya-tanya bagaimana bersikap diplomatis tentang hal ini.
"Aku ingin tinggal di Forks. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan baik di sekolah, dan aku punya beberapa teman baik"
Ibu melirik ke arah Jungkook saat aku mengingatkannya aku punya teman, jadi aku mencoba alasan lain,
"Dan ayah membutuhkanku. Dia sebatang kara disana dan dia sama sekali tidak bisa memasak."
"Kau mau tinggal di Forks?" tanyanya, heran. Ide ini tak terbayangkan olehnya. Lalu matanya kembali melirik Jungkook. "Kenapa?"
"Sudah kubilang, sekolah, ayah, aduh!" Aku mengangkat bahu. Bukan ide bagus.
Tangannya bergerak ke sana kemari, mencoba menemukan bagian tubuhku yang bisa ditepuk-tepuk. Ibu menaruh tangannya di dahiku, karena bagian itu tidak diperban.
"Taehyung-ie, sayang, kau tidak menyukai Forks," ia mengingatkanku.
"Kenyataannya Forks tidak terlalu buruk, eomma."
Ibu merengut, lalu memandangku dan Jungkook bergantian, kali ini benar-benar disengaja.
"Apakah karena anak laki-laki ini?" bisiknya.
Aku hendak berbohong, tapi mata ibu mengamati wajahku, dan aku tahu ia bisa melihat jawabannya disana.
"Dia salah satu alasannya," aku mengakui. Tidak perlu untuk kututupi, dialah alasan terbesarku
"Apakah kau sempat berbicara dengan Jungkook?" tanyaku.
"Ya…" Ibu terlihat bimbang, memandangi Jungkook yang diam tidak bergerak.
"Dan aku ingin bicara denganmu tentang hal ini."
"Tentang apa?" tanyaku.
"Kurasa lak-laki itu jatuh cinta padamu," tuduhnya, berusaha menjaga suaranya tetap pelan.
"Aku juga berpikir begitu," ujarku, menutupi bagaimana perasaan senang yang membuncah dalam hatiku.
"Dan bagaimana perasaanmu padanya?" Ibu tidak bisa menutupi rasa penasaran dalam suaranya.
Aku mendesah, memalingkan wajah.
"Aku cukup tergila-gila padanya." Aku tidak terlihat memalukan kan untuk mengatakan hal itu? Itu seperti, akulah yang mengejar-ngejarnya, tergila-gila padanya. Tapi, memang begitulah kenyataannya. -,-"
"Well, dia kelihatan sangat baik, dan, ya Tuhanku, dia luar biasa tampan, tapi kau masih sangat muda, Taehyung-ie..." Suaranya terdengar ragu-ragu. Sejauh yang bisa kuingat, inilah pertama kalinya sejak aku berusia delapan tahun ibu nyaris menunjukkan otoritasnya sebagai orangtua.
Aku mengenali nada masuk-akal-namuntegas dari percakapan yang pernah aku alami dengannya ketika membahas tentang orang yang kusukai atau dekat denganku.
"Aku tahu itu, bu. Jangan khawatir. Aku cuma naksir," aku menenangkannya.
"Benar." iba menimpali. Dari suaranya terdengar bahwa dia senang dengan jawabanku.
Kemudian iba mendesah, dan dengan perasaan bersalah melirik jam bundar besar di dinding.
"Kau harus pergi?" tebakku.
Ibu menggigit bibir. "Phil seharusnya menelepon sebentar lagi... Aku tidak tahu kau akan segera sadar..."
"Tidak apa-apa, bu." ujarku menenangkan. "Aku tidak akan sendirian." Lanjutku.
"Aku akan segera kembali. Aku tidur di sini, kau tahu," ujarnya, bangga pada dirinya sendiri.
"Eomm, kau tidak perlu melakukannya! Kau bisa tidur dirumah, aku juga tidak akan menyadarinya." Pengaruh obat tidur penghilang sakit di otakku membuatku sulit berkonsentrasi sekarang, meski nyatanya aku telah tidur berhari-hari.
"Aku terlalu tegang," Ibu mengakui malu-malu.
"Telah terjadi tindak kejahatan dikompleks kita dan aku tidak suka berada disana sendirian."
"Kejahatan?" tanyaku kaget.
"Seseorang menerobos ke studio tari di pojokan dekat rumah dan membakarnya hingga rata dengan tanah, sama sekali tidak bersisa! Dan mereka meninggalkan mobil curian tepat di halaman depan. Kau ingat dulu kau menari di sana, sayang?"
"Aku ingat." Aku bergidik dan meringis ngeri.
"Aku bisa tinggal, Taehyung-ie, kalau kau membutuhkanku."
"Tidak eomma, aku akan baik-baik saja. Jungkook akan menemaniku."
Ekspresinya menunjukkan bahwa sepertinya itulah alasannya ingin tinggal.
"Aku akan kembali malam ini."
Kedengarannya itu seperti peringatan sekaligus janji, dan ibu kembali menatap Jungkook saat mengucapkannya.
"Aku menyayangimu, eomma."
"Aku juga menyayangimu Taehyung-ie. Cobalah untuk lebih berhati-hati ketika berjalan, sayang. Aku tidak ingin kehilangan dirimu."
Mata Jungkook tetap terpejam, tapi senyum lebar mengembang di wajahnya. Perawat masuk untuk memeriksa semua infusku dan kabel-kabel yang menempel di tubuhku. Ibu mengecup dahiku, menepuk-nepuk tanganku yang diperban, kemudian pergi. Perawat memeriksa catatan di monitor jantungku.
"Kau tegang, sayang? Irama jantungmu sedikit lebih tinggi di bagian ini." perawat itu berujar dengan lembut, menenangkan. Cocok sekali dengan pekerjaannya sebagai perawat.
"Aku baik-baik saja," aku meyakinkannya.
"Akan kuberitahu dokter bahwa kalau kau sudah sadar. Dia akan ke sini sebentar lagi."
Begitu perawat menutup pintu, Jungkoo langsung berada di sisiku.
"Kau mencuri mobil?" Alisku terangkat.
Jungkook tersenyum, sama sekali tidak menyesal.
"Mobil bagus, lajunya sangat cepat."
"Bagiamana tidur siangmu?" tanyaku.
"Menarik." Matanya menyipit.
"Apa?"
Jungkook menunduk ketika menjawab, "Aku terkejut. Kupikir Florida... dan ibumu... well, kupikir itulah yang kau ingingkan."
Aku menatapnya tidak mengerti.
"Tapi kau harus berada di dalam ruangan seharian bila berada di Florida. Kau hanya bisa keluar pada malam hari, seperti vampir sejati."
Jungkook nyaris tersenyum, tapi tidak juga. Lalu wajahnya serius.
"Aku akan tinggal di Forks, Tae. Atau dimana pun yang keadaannya seperti di sana," Jungkook menjelaskan. "Di tempat aku tidak bisa melukaimu lagi."
Awalnya aku tidak langsung memahaminya. Aku terus menatapnya hampa saat kata-katanya satu persatu tersusun dalam benakku bagai kepingan puzzle mengerikan. Aku nyaris tidak menyadari detak jantungku yang semakin memburu, meskipun saat napasku semakin liar, aku merasakan nyeri di dadaku. Jungkook tidak mengatakan apa-apa, dia memperhatikan wajahku dengan saksama ketika rasa sakit yang tidak ada hubungannya dengan tulang-tulang yang patah, malah terasa sangat sakit, mengancam untuk menghancurkanku.
Kemudian perawat lain melangkah pasti memasuki ruangan. Jungkook duduk tidak bergerak saat perawat mengamati ekspresiku dengan pandangan terlatih, sebelum beralih ke monitor.
"Waktunya untuk obal penghilang sakit, Tae?" tanyanya ramah, sambil menepuk-nepuk kantong infus.
"Tidak, tidak," gumamku, berusaha menghilangkan kepedihan dari suaraku.
"Aku tidak membutuhkan apa-apa." Aku tidak bisa memejamkan mata sekarang.
"Tidak perlu berpura-pura berani, sayang. Sebaiknya kau tidak terlalu tegang, kau perlu beristirahat." Dia menunggu, tapi aku hanya menggeleng.
"Baiklah," ia mendesah. "Tekan saja tombol bantuan kalau kau sudah siap."
Perawat itu memandang Jungkook serius dan sekali lagi melirik was-was mesin-mesin itu, lalu pergi.
"Sssstt.. Tae, Taehyung-ie, tenanglah."
"Jangan tinggalkan aku," aku memohon, suaraku parau.
"Aku tidak akan meninggalkanmu," Jungkook berjanji. "Sekarang tenanglah sebelum aku memanggil perawat untuk memberimu obat penenang."
Tapi jantungku tidak mau tenang.
"Taehyung." Jungkook membelai wajahku hati-hati.
"Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan ada di sini selama kau membutuhkanku."
"Kau bersumpah tidak akan meninggalkanku?" bisikku.
Setidaknya aku mencoba mengendalikan napasku yang tersengal-sengal. Rusukku terasa nyeri. Jungkook meletakkan tangannya di kedua sisi wajahku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Matanya lebar dan serius.
"Aku bersumpah."
Aroma napasnya menenangkan. Sepertinya meringankan rasa nyeri yang muncul ketika aku bernapas. Jungkook terus menatapku sementara tubuhku pelan-pelan rileks dan suara bip mesin kambali normal. Matanya berwarna gelap, lebih mendekati hitam daripada keemasan.
"Lebih baik?" tanyanya.
"Ya," sahutku hati-hati.
Jungkook menggeleng dan menggumamkan sesuatu yang tidak kumengeri. Kurasa aku memilih kata 'overreaction', bereaksi berlebihan.
"Mengapa kau bilang begitu?" aku berbisik, menjaga suaraku agar tidak gemetaran.
"Apakah kau lelah menyelamatkanku setiap saat? Kau ingin aku pergi?" tanyaku ketakutan.
"Tidak, aku tidak ingin jika tanpa dirimu, Tae. Tentu saja tidak, yang benar saja. Dan aku juga senang-senang saja menyelamatkanmu, jika bukan karena fakta bahwa akulah yang justru menempatkanmu dalam bahaya... bahwa akulah alasan kau berada di sini."
"Ya, kaulah penyebabnya." Aku merengut. "Alasan aku berada di sini, hidup-hidup."
"Nyaris," Jungkook berbisik. "Dibalut perban dan plester dan nyaris tidak bisa bergerak."
"Maksudku bukan pengalaman nyaris mati yang baru saja kualami ini," kataku, mulai jengkel.
"Aku sedang memikirkan yang lain, kau boleh pilih. Kalau bukan karena kau, aku sudah membusuk di pemakaman Forks." Jungkook meringis mendengar kata-kataku, tapi raut khawatir tidak juga enyah dari wajahnya.
"Meski begitu, itu bukan yang terburuk," Jungkook kembali berbicara dengan berbisik, seolah-olah aku tidak pernah mengatakan apa-apa.
"Yang terburuk bukanlah saat melihatmu disana, terbaring dilantai... meringkuk dan terluka." Suara Jungkook tercekat.
"Yang terburuk bukanlah berpikir bahwa aku terlambat. Bahkan bukan mendengarmu menjerit kesakitan, semua ingatan mengerikan itu akan kubawa bersamaku sepanjang masa. Bukan, yang paling parah adalah merasa... mengetahui bahwa aku tidak bisa berhenti. Percaya bahwa aku sendirilah yang akan membunuhmu."
"Tapi kau tidak membunuhku."
"Aku bisa saja. Semudah itu."
Aku tahu aku harus tetap tenang... tapi Jungkook mencoba membujuk dirinya sendiri untuk meninggalkanku, dan rasa panik mencekat paru-paruku, mencoba melepaskan diri.
"Berjanjilah padaku," aku berbisik.
"Apa?"
"Kau tahu maksudku." Aku mulai marah sekarang. Jungkook benar-benar bersikeras untuk terus berpikir negatif.
Jungkook mendengar perubahan pada nada suaraku. Tatapannya tajam. "Sepertinya aku tidak cukup kuat untuk berada cukup jauh darimu, jadi kurasa kau akan menemukan caranya... entah itu akan membunuhmu atau tidak," Jungkook menambahkan dengan kasar.
"Bagus." Meski begitu dia tidak berjanji, fakta itu tidak terlewatkan olehku.
Kepanikanku nyaris tidak terbendung, tidak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk mengendalikan amarahku.
"Kau memberitahuku bagaimana kau berhenti... sekarang aku mau tahu kenapa," desakku.
"Kenapa?" ulangnya hati-hati.
"Kenapa kau melakukannya. Kenapa kau tidak membiarkan racunnya menyebar? Saat ini aku akan sama seperti dirimu."
Mata Jungkook sepertinya berubah hitam, dingin, dan aku ingat kalau Jungkook tidak ingin aku mengetahui hal seperti ini. Jin pasti terlalu disibukkan oleh hal-hal tentang dirinya yang baru diketahuinya... atau dia sangat berhati-hati dengan pikirannya ketika ia berada di sekitar Jungkook,. Jelas Jungkook tidak tahu bahwa Jin telah memberitahuku tentang penciptaan vampir. Jungkook terkejut, marah. Mulutnya seolah dipahat dari batu. Ia tidak akan menjawan, itu sangat jelas.
"Aku akan menjadi yang pertama mengakui bahwa aku tidak berpengalaman menjalin hubungan," kataku.
"Tapi kelihatannya masuk akal... sepasang kekasih seharusnya sederajat... salah satu dari mereka tidak bisa selalu menghambur dan menyelamatkan yang lain. Mereka harus saling menyelamatkan satu sama lain."
Jungkook melipat tangan dan meletakkannya disisi tempat tidurku, lalu meletakkan dagunya disana. Raut wajahnya lembut, kemarahannya mereda. Sepertinya Jungkook telah memutuskan untuk tidak marah padaku. Kuharap aku punya kesempatan untuk mengingatkan Jin sebelum Jungkook menemuinya.
"Kau telah menyelamatkanku," katanya pelan.
"Aku tidak bisa selalu menjadi Lois Lane," aku berkeras. "Aku juga ingin jadi Superman."
"Kau tidak tahu apa yang kau minta." Suaranya lembut, Jungkook menatap lekat-lekat ujung sarung bantal.
"Kurasa aku tahu."
"Taehyung, kau tidak tahu. Aku telah melewati hampir sembilan puluh tahun memikirkan hal ini, dan aku masih tidak yakin."
"Apakah kau berharap dr. Choi tidak menyelamatkanmu?"
"Tidak, aku tidak berharap begitu." Jungkook berhenti sebelum melanjutkan, "tapi hidupku sudah berakhir. Aku tidak menyerahkan apa pun."
"Kaulah hidupku. Hanya kehilangan dirimu yang bisa menyakitiku." Aku semakin baik dalam hal ini. Mudah rasanya mengakui betapa aku sangat membutuhkannya. Meski begitu Jungkook terlihat sangat tenang. Yakin.
"Aku tidak bisa melakukannya, Taehyung. Aku tidak akan melakukannya padamu."
"Kenapa tidak?" Tenggorokanku tercekat dan ucapanku tidak selantang yang kuinginkan.
"Jangan bilang padaku itu terlalu sulit untukmu! Setelah hari ini, atau kurasa beberapa hari yang lalu... setelah itu ,seharusnya bukan apa-apa."
Jungkook menatap geram padaku. "Dan rasa sakitnya?" tanyanya.
Wajahku memucat. Aku tidak bisa menahannya. Tapi aku berusaha menjaga ekspresiku hingga tidak terlihat betapa jelasnya aku mengingat rasanya... api dalam nadiku.
"Itu masalahku," kataku. "Aku bisa mengatasinya."
"Sangat mungin untuk bersikap berani hingga pada titik keberanian itu berubah jadi kegilaan."
"Bukan masalah. Tiga hari. Sama sekali bukan masalah."
Jungkook meringis lagi saat kata-kataku mengingatkannya bahwa aku tahu lebih banyak daripada yang mungkin diharapkan olehnya. Aku melihat Jungkook berusaha menekan amarah, memperhatikan saat matanya mulai bertanya-tanya.
"Ayahmu?" tanyanya tiba-tiba. "Ibumu?"
Waktu berlalu dalam keheningan saat aku berusaha menjawab. Aku membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Aku menutupnya lagi. Jungkook menunggu, kemudian ekspresinya berganti menjadi kemenangan karena tahu aku tidak mengetahui jawabannya.
"Begini saja, itu juga bukan masalah." gumamku akhirnya. Suaraku terdengar sama sekali tidak meyakinkan Jungkook seperti setiap kali aku berbohong.
"Ibu selalu membuat keputusan yang menurut dia benar, dia ingin aku melakukan yang sama. Dan ayah lebih fleksibel, dia terbiasa hidup sendirian. Aku tidak bisa menjaga mereka selamanya. Aku punya kehidupan sendiri yang harus kujalani."
"Tepat sekali," tukasnya. "Dan aku tidak ingin mengakhirinya."
"Kalau kau menungguku hingga sekarat, ada kabar baik untukmu! Aku baru saja mengalaminya!"
"Kau akan sembuh." Jungkook mengingatkanku.
Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri, mengabaikan nyeri yang muncul karenanya. Aku menatapnya dan Jungkook balas menatapku. Wajahnya tidak menunjukkan bahwa dia setuju dengan pendapatku.
"Tidak," kataku pelan. "Aku tidak akan sembuh."
Kerutan didahinya semakin dalam.
"Tentu saja kau akan sembuh. Paling-paling akan meninggalkan satu atau dua bekas luka..."
"Kau keliru," aku berkeras. "Aku akan mati."
"Sungguh, Tae." Sekarang Jungkook terlihat cemas. "Kau akan keluar dari sini beberapa hari lagi. Paling lama dua minggu." Lanjutnya.
Aku menatap Jungkook geram.
"Aku mungkin tidak akan mati sekarang... tapi suatu saat. Setiap menit dalam hidupku aku semakin dekat dengan kematian. Dan aku akan menjadi tua."
Wajahnya merengut saat dia memahami arti ucapanku. Jungkook menempelkan jemarinya yang panjang ke dahinya, matanya terpejam.
"Itulah yang memang seharusnya terjadi, semestinya terjadi, dan akan terjadi seandainya aku tidak ada. Memang aku seharusnya tidak ada."
Aku mendengus kasar. Jungkook membuka mata, terkejut.
"Itu bodoh. Itu seperti mendatangi orang yang baru menang lotre, mengambil uangnya, dan berkata, 'Begini, kita kembali saja ke bagaimana segalanya seharusnya terjadi. Lebih baik begitu.' Dan aku tidak mempercayainya."
"Aku bukan hadiah lotere," geramnya.
"Benar. Kau jauh lebih baik."
Jungkook memutar bola matanya dan merapatkan bibirnya.
"Taehyung, kita tidak akan membahasnya lagi. Aku menolak mengutukmu mengalami malam tidak berujung, dan inilah keputusanku."
"Kalau kau pikir ini akhirnya, berarti kau tidak mengenalku," aku mengingatkannya. "Kau bukan satu-satunya vampir yang kukenal."
Matanya kembali kelam. "Jin tidak akan berani."
Dan untuk beberapa saat Jungkook tampak sangat mengerikan hingga aku tidak dapat mencegah untuk mempercayainya. Aku tidak bisa membayangkan ada orang yang cukup berani untuk membuatnya marah.
"Jin sudah melihatnya, ya kan?" Aku mencoba menebak. "Itu sebabnya hal-hal yang dikatakannya membuatmu marah. Dia tahu aku akan jadi seperti dirimu... suatu hari nanti."
"Dia keliru. Dia juga melihatmu mati, tapi itu juga tidak terjadi."
"Kau tidak akan mendapatkanku bertaruh melawan Jin."
Lama sekali kami bertatapan. Suasana hening kecuali bunyi deru mesin, bunyi bip, tetesan, dan detak jam besar di dinding. Akhirnya ekspresinya melembut.
"Jadi bagaimana kesimpulannya?" aku bertanya-tanya.
Jungkook tertawa dingin. "Aku yakin itu namanya jalan buntu."
Aku mendesah. "Auw," gumamku.
"Bagaimana perasaanmu?" Jungkook sambil melirik tombol untuk memanggil perawat.
"Aku baik-baik saja," aku berbohong.
"Aku tidak percaya," kata Jungkook lembut.
"Aku tidak mau tidur lagi."
"Kau harus beristirahat. Semua perdebatan ini tidak baik untukmu."
"Jadi menyerahlah," aku menyarankan.
"Usaha bagus." Jungkook menggapai tombol.
"Jangan!"
Jungkook tentu saja mengabaikanku.
"Ya?" terdengar suara dari speaker di dinding.
"Kurasa Taehyung sudah siap untuk obat penghilang sakitnya," kata Jungkook tenang, tidak memedulikan kekesalan yang terpancar di wajahku.
"Aku akan menyuruh perawat ke sana." Suara itu terdengar bosan.
"Aku tidak akan meminumnya," aku berjanji.
Jungkook memandang kantong cairan di samping tempat tidurku. "Kurasa mereka tidak akan menyuruhmu meminum apa-apa."
Detak jantungku mulai memburu. Jungkook melihat ketakutan di mataku, dan mendesah putus asa.
"Taehyung, kau sedang sakit. Kau perlu tenang supaya bisa cepat sembuh. Kau benar-benar keras kepala. Saat ini mereka tidak akan memasang jarum lagi di tubuhmu."
"Aku tidak takut jarum," gumamku. "Aku takut memejamkan mata."
Kemudian Jungkook tersenyum simpul dan memegang wajahku dengan kedua tangannya.
"Sudah kubilang, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Jangan khawatir. Selama kau senang karenanya, aku akan di sini."
Aku balas tersenyum, mengabaikan rasa sakit di pipiku. "Itu berarti selamanya, tahu."
"Oh, kau akan melupakannya, kau cuma naksir aku."
Aku menggeleng tidak percaya, berakhir dengan membuatku pusing. "Aku terkejut waktu ibu mempercayai ucapanku itu. Aku tahu kau tahu lebih baik darinya."
"Itulah hal terindah menjadi manusia," Jungkook memberitahuku. "Segala sesuatu berubah."
Mataku menyipit. "Jangan kelewat berharap."
Jungkook tertawa ketika perawat masuk sambil mengacungkan suntikan. "Permisi," katanya pada Jungkook.
Jungkook bangkit dan pergi ke ujung ruangan, bersandar di dinding. Dia bersedekap dan menunggu. Aku terus menatapnya, masih was-was. Jungkook menatapku tenang.
"Nah, ini obatnya, Sayang." Perawat tersenyum saat menyuntikkan obat ke tabung infusku.
"Kau akan merasa lebih baik sekarang."
"Terima kasih," gumamku datar. Hanya sebentar. Aku langsung merasakan kantuk menetes-netes dalam aliran darahku.
"Kurasa sudah bereaksi," gumamnya, saat kelopak mataku mulai memejam.
Perawat pasti sudah meninggalkan ruangan, karena sesuatu yang dingin dan lembut menyentuh wajahku.
"Tinggallah."Kata itu nyaris tidak terdengar.
"Aku akan ada di sini," Jungkook berjanji. Suaranya indah, bagai nina bobo.
"Seperti kataku, selama ini membuatmu bahagia... selama ini adalah yang terbaik untukmu."
Aku mencoba menggerak-gerakkan kepala, tapi terlalu berat. "Itu tidak sama," gumamku.
Jungkook tertawa. "Sudah, jangan khawatirkan itu Tae. Kau bisa berdebat denganku saat kau bangun nanti."
Kurasa aku tesenyum mendengarnya. "Oke"
Aku bisa merasakan bibirnya di telingaku.
"Aku mencintaimu," bisiknya.
"Aku juga."
"Aku tahu," Jungkook tertawa pelan.
Aku menoleh sedikit, mencari. Jungkook tahu apa yang kucari. Bibirnya menyentuh lembut bibirku.
"Terima kasih," desahku.
"Sama-sama."
Aku sudah nyaris tidak sadarkan diri. Tapi aku melawannya dengan sisa-sisa tenagaku. Tinggal satu lagi yang ingin kukatakan padanya.
"Jungkook?" aku berusaha mengucapkan namanya dengan jelas.
"Ya?"
"Aku bertaruh memegang Jin." gumamku.
Kemudian aku pun tertidur.
.
.
.
.
.
End of this chapter
.
.
.
.
.
Oh yeaaaah… akhirnya selesai juga twilight ini… lega sekali rasanya…
Ada satu chapter lagi sebenarnya, epilogue.. nanti aku update lagi…
Ada pertanyaan, ini mau dilanjut ke seri berikutnya atau nggak?
Kalau banyak yg minat, aku usahakan untuk edit yang New Moon nya.. Kalau nggak juga nggak apa-apa… XD
Dan semua reader-deul… maaf banget kalau belum sempat balesin review an kalian.. *bow*
And… so many good news from Bangtan these days.. I feel so happy and proud of them.. Apartement mereka yg sekarang juga gila, luaaaaaasss banget… they deserve it..
Oh ya, maaf banget kemarin editannya kayak gitu.. aku posting nya lewat app ffn , di copy paste. pas dilihat, titik titik nya pada hilang. Biasanya aku posting lewat PC. jadi maafkan atas ketidaknyamanan membaca kalian semua.. XD
Ya gitu aja.. hehe… sampai jumpa di chapter epilogue… bay bay~~~
