TWILIGHT (KookV Version)

-EPILOGUE : ACARA ISTIMEWA-

.

.

.

.

.

.

Jungkook membantuku naik ke mobilnya dengan sangat berhati-hati, takut jika ada gerakan yang membuat kakiku terasa sakit. Setelah aku duduk nyaman, Jungkook menyelinap ke jok pengemudi, dan melaju dari jalanan sempit dan panjang itu.

"Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?" gerutuku. Aku benar-benar tidak suka kejutan. Dan Jungkook sangat tahu hal itu.

"Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga."

Jungkook tersenyum mengejek dan aku langsung tercekat. Apakah aku akan terbiasa dengan kesempurnaannya?

"Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan, bukan?" ujarku.

"Sudah."

Jungkook tersenyum. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam. Warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang pucat, membuat ketampanan seorang Jungkook meningkat berkali-kali lipat, benar-benar seperti mimpi. Itu yang tidak bisa aku sangkal, bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup. Meskipun aku juga sama dengan Jungkook –memakai tuksedo berwarna putih dengan kemeja biru muda. Tetap saja, kata sempurna lebih cocok disematkan pada Jungkook.

Karena ada satu alasan yang membuatku tampak aneh, atasanku memang setelan jas tapi aku harus memakai celana pendek selutut berbahan denim. Aku juga hanya memakai satu sepatu karena kaki yang lain masih rapat terbalut gips. Maksudku, tidakkah gaya berpakaianku sekarang terlihat aneh?

"Aku tidak mau bertamu lagi kalau Jin akan memperlakukanku seperti Barbie percobaan," sahutku seraya mencengkeram jok kursi.

Oh yeah, ini adalah hasil karya saudara Jungkook, Jin. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamarnya yang sangat luas, menjadi korban tidak berdaya saat dia berperan jadi penata rambut dan penata rias. Setiap kali aku merasa tidak nyaman atau mengeluh, Jin mengingatkanku bahwa dia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia, dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya. Kemudian Jin memakaikan berbagai jas yang ada didalam lemarinya, dipadu padankan dengan… segalanya. Satu yang paling aku suka dari penampilanku adalah, rambutku. Jin membuat rambut coklatku yang agak panjang menjadi terlihat keren.

Perhatianku teralihkan karena dering telepon. Jungkook mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya, melihat sebentar ke layar sebelum menjawab.

"Halo, sir." sahutnya hati-hati. Mulutnya berkata 'ayahmu' tanpa suara.

"Ayah?" Dahiku berkerut.

Ayahku... agar sedikit kurang bersahabat sejak kepulanganku kembali ke Forks. Ayah menyikapi pengalaman burukku dalam dua sikap. Disatu sisi, ayah sangat bersyukur dan berterima kasih. Di sisi lain, ayah sangat yakin semua ini salah Jungkook, karena kalau bukan karena Jungkook, aku tidak akan meninggalkan rumah. Dan hebatnya, Jungkook sama sekali tidak menentangnya. Belakangan ini ayah memberlakukan beberapa peraturan yang tidak pernah diterapkannya padaku sebelumnya yaitu jam malam dan jam berkunjung.

Sesuatu yang dikatakan ayah membuat mata Jungkook membelalak tidak percaya, kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya.

"Kau bercanda!" Jungkook tertawa.

"Ada apa?" desakku.

Jungkook mengabaikanku.

"Biarkan aku bicara padanya," saran Jungkook, kegembiraannya tampak nyata. Dia menunggu sebentar.

"Halo, Tyler, ini Jungkook." Suaranya sangat ramah, tapi hanya diawal. Aku mengenalnya cukup baik untuk menangkap kejahilan dibaliknya. Apa yang dilakukan Tyler dirumahku? Kebenaran mengerikan mulai terbentuk dibenakku. Sekali lagi aku memandang jas yang kukenakan atas paksaan Jin.

"Aku menyesal kalau ada semacam kesalahpahaman, tapi Taehyung sudah punya teman kencan malam ini." Nada suara Jungkook berubah, dan ancaman dalam suaranya tiba-tiba jauh lebih nyata saat dia melanjutkan katakatanya.

"Dan sejujurnya dia tidak akan punya waktu untuk siapapun kecuali aku, setiap malam. Jangan tersinggung. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan."

Jungkook sama sekali tidak terdengar menyesal. Kemudian dia menutup telepon, senyum lebar menghiasi wajahnya. Wajah dan leherku merah pedam karena marah. Aku bisa merasakan air mata kemerahan menggenangi mataku. Jungkook terkejut melihatku.

"Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu."

Aku mengabaikan kata-katanya.

"Kau mengajakku ke prom!" teriakku.

Sekarang semua sudah jelas. Kalau saja aku memperhatikan sejak awal, aku yakin pasti bisa melihat tanggal di poster-poster di seluruh penjuru sekolah. Tapi aku tidak pernah menyangka Jungkook akan mengajakku. Tidakkah Jungkook mengenalku sama sekali? Jungkook tidak mengira reaksiku bakal begitu, itu sudah jelas. Dia mengatupkan bibir dan matanya menyipit.

"Jangan mempersulit keadaan, Taehyung."

Aku menoleh keluar jendela, kami sudah setengah jalan menuju sekolah.

"Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyaku cemas.

Jungkook menunjuk tuksedonya. "Sungguh, Taehyung, menurutmu apa yang kita lakukan?"

Aku merasa dipermalukan. Pertama, karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas didepan mata. Juga karena kecurigaan samar, sebenarnya harapan, yang berkembang dihatiku seharian ini, mengingat Jin mencoba mengubahku jadi lebih stylish, benar-benar jauh melenceng. Harapanku yang setengah mengerikan kelihatannya sangat konyol sekarang.

Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. Tapi prom, yang benar saja! Itu sama sekali tidak terpikirkan olehku. Air mata kemarahan menetes di pipiku.

"Ini benar-benar konyol. Kenapa kau menangis?" tanya Jungkook kesal.

"Karena aku marah!"

"Taehyung." Mata keemasannya menatapku lekat-lekat.

"Apa?" gumamku, bingung.

"Ayolah," desaknya.

Tatapannya mencairkan segenap kemarahanku. Mustahil bertengkar dengan Jungkook kalau dia bersikap curang seperti itu. Aku menyerah.

"Baiklah." Bibirku mencebik, aku tidak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan.

"Aku akan ikuti maumu. Tapi nanti akan kau lihat. Nasib burukku belum berakhir. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain. Kau ingin kakiku yang ini juga memakai gips!" Aku menjulurkan kakiku yang masih baik-baik saja.

"Hmmm." Jungkook memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya. "Ingatkan aku untuk berterima kasih pada Jin untuk hal itu nanti malam." Huh? Apa maksudnya?

"Jin akan datang?" ini sedikit menenangkan.

"Bersama Namjoon tentu saja, dan Jimin... dan Suga." Jungkook mengakui.

Perasaan tenang itu seketika lenyap, hilang, musnah, sirna. Hubunganku dengan Suga tidak mengalami kemajuan, meskipun hubunganku dengan pasangannya –Jimin maksudku- bisa dibilang baik. Jimin senang berada didekatku. Menurut Jimin, reaksi manusiaku sangat menghiburnya... atau barangkali kenyataan bahwa aku sering kali terjatuh itu membuatnya menganggapku sangat lucu. Sedangkan Suga bersikap seakan-akan aku tidak ada. Setelah menggeleng-gelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu, terpikir olehku hal lain.

Akhirnya kami sudah sampai disekolah sekarang, mobil Suga tampak mencolok dilapangan parkir. Sinar matahari yang cerah tampak jauh di sebelah barat. Jungkook keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku. Dia mengulurkan tangan. Aku tidak bergerak dari tempat duduk, tangan terlipat, diam-diam berpuas diri. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal. Jungkook tidak bisa memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua.

Jungkook mendesah. "Saat seseorang akan membunuhmu, kau seberani singa, kemudian saat seseorang menyebut-nyebut soal dansa..." Jungkook menggeleng.

Aku menelan liurku. Berdansa.

"Taehyung, aku tidak akan membiarkan apapun melukaimu, bahkan tidak dirimu sendiri. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, aku janji."

Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik. Jungkook bisa melihatanya diwajahku.

"Sudah, sudah," katanya lembut, "Percayalah, dansa tidak akan seburuk itu."

Jungkook membungkuk dan memeluk pinggangku. Aku menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil. Jungkook tetap memelukku erat-erat, membantuku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah. Di Phoenix, prom diadakan di ballroom hotel. Di sini, pestanya berlangsung di ruang gym. Barangkali itulah satu-satunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa. Ketika kami sampai di dalam, aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding.

"Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai," olokku.

"Well," Jungkook bergumam saat kami pelan-pelan mendekati meja tempat penjualan karcis, meskipun dia praktis menggendongku, tapi aku masih harus melangkah tertatih-tatih. Aku melihat ke arah lantai dansa, bagian tengah lantai tampak lenggang, hanya ada dua pasangan berputar-putar anggun. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang, tidak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. Jimin dan Namjoon tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik. Jin tampak memukau dalam jas putih gading menutupi kaos merah muda berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih. Dan Suga... well, ya Suga. Penampilannya sungguh di luar dugaan. Kemeja putih dibalut jas merah menyala, sangat kontras dengan kulit putih sewarna salju miliknya. Aku menghela napas, menyadari bahwa keluarga dr. Choi tampak memukau, semuanya, tanpa terkecuali.

"Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tidak berdosa ini?" bisikku penuh konspirasi.

"Dan apa peranmu dalam adegan itu?" Jungkook menatapku geram.

"Oh, tentu saja aku bersama kelompok vampir."

Jungkook tersenyum enggan. "Apa pun asal kau tidak perlu berdansa."

"Apa pun."

Jungkook membayar tiket kami, kemudian membimbingku ke lantai dansa. Kupeluk lengannya, dan menyeret kakiku.

"Aku punya waktu semalaman," Jungkook mengingatkan.

Akhirnya dia menarikku ke tempat keluarganya sedang berdansa elegan, boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. Aku memperhatikan mereka dengan ngeri.

"Jungkook." Tenggorokanku benar-benar kering, hingga aku hanya bisa berbisik.

"Aku benar-benar tidak bisa berdansa!" Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku.

"Jangan khawatir, bodoh," Jungkook balas berbisik.

"Aku bisa." Jungkook melingkarkan tanganku di lehernya, mengangkatku, lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku. Kemudian kami pun berdansa.

"Aku merasa seperti berumur lima tahun," aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu bersusah payah.

"Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun," gumamnya, sesaat menarikku lebih rapat, sehingga kakiku sedikit terangkat dari lantai.

Jin dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati, aku balas tersenyum padanya. Aku terkejut menyadari aku menikmatinya... sedikit.

"Oke, ini tidak terlalu buruk," aku mengakui.

Tapi tatapan Jungkook kini terarah ke pintu, wajahnya tampak marah.

"Ada apa?" aku bertanya keras-keras. Aku mengikuti arah pandangannya, tidak fokus akibat berputar-putar, namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya. J-Hope, tidak mengenakan tuksedo melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi. Dia berjalan menghampiri kami.

Setelah kaget waktu mengenalinya tadi, kini aku merasa kasihan pada J-Hope. Dia jelas-jelas merasa tidak nyaman, teramat sangat tidak nyaman. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang. Jungkook mengeram sangat pelan.

"Jaga sikapmu!" desisku.

Suara Jungkook terdengar sinis. "Dia ingin mengobrol denganmu."

J-Hope sampai di tempat kami, perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya.

"Hei Tae, aku memang berharap kau ada di sini."

J-Hope terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. Tapi senyumnya tetap hangat.

"Hai, J-Hope." Aku balas tersenyum. "Apa kabar?"

"Boleh aku meminjamnya?" tanyanya ragu-ragu, memandang Jungkook untuk pertama kali.

Wajah Jungkook tenang, ekspresinya hampa. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri, lalu mundur selangkah.

"Terima kasih," kata J-Hope ramah.

Jungkook hanya mengangguk, menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh. J-Hope menaruh tangannya di pinggangku, dan aku mengulurkan tangan ke bahunya. Kami tidak benar-benar berdansa, mustahil dengan kondisi kakiku saat ini. Sebagai gantinya, dengan canggung kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki.

"Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa di sini?" aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu.

Melihat ekspresi Jungkook tadi, aku bisa menduga jawabannya.

"Kau percaya, ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?" ia mengakui, sedikit malu-malu.

"Ya, aku percaya," gumamku. "Well, kuharap setidaknya kau menikmatinya. Ada yang kau suka?" aku menggodanya, memberi isyarat ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai sekumpulan gaun warna pastel.

"Yeah.." J-Hope mendesah. "Tapi dia sudah bersama seseorang."

J-Hope menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku, kemudian kami sama-sama berpaling, merasa jengah.

"Omong-omong, kau cantik sekali," ia menambahkan malu-mal.

"Mm, terima kasih. Tapi kau bisa menyebutkan tampan mungkin lain kali." Ketusku. J-Hope malah tertawa geli.

"Jadi kenapa ayahmu membayarmu supaya datang ke sini?" aku buru-buru bertanya, meskipun aku tahu jawabannya.

J-Hope tidak kelihatan senang karena topik pembicaraan kami berubah. Dia memalingkan wajah, sekali lagi merasa jengah.

"Katanya, di sini tempat yang 'aman' untuk berbicara denganmu. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya."

Aku ikut tertawa, namun lemah.

"Lagi pula, katanya, kalau aku mengatakan sesuatu padamu, dia akan membelikan master cylinder yang kubutuhkan," J-Hope mengaku sambil tersenyum malu-malu.

"Kalau begitu, katakan saja padaku. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu." Aku balas tersenyum.

Setidaknya J-Hope tidak mempercayai satu pun kegilaan ini. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah. Sambil bersandar di dinding Jungkook memandang wajahku, sementara wajahnya sendiri datar. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu, namun sepertinya Jungkook tidak menyadari keberadaan cewek itu.

J-Hope berpaling lagi, merasa malu. "Jangan marah, oke?"

"Tidak mungkin aku marah padamu." aku meyakinkannya. "Aku bahkan tidak akan marah pada ayahmu. Katakan saja apa yang harus kau katakan."

"Well, ini bodoh sekali, maafkan aku Tae. Dia ingin kau putus dengan pacarmu. Dia memintaku untuk memohon padamu." J-Hope menggeleng jijik.

"Dia masih percaya takhayul, eh?"

"Yeah. Dia... seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix. Dia tidak percaya..." Dengan sadar J-Hope tidak meneruskan kata-katanya.

Mataku menyipit. "Aku terjatuh."

"Aku tahu itu," J-Hope menyahut.

"Dalam pikirannya, Jungkook ada kaitannya dengan kecelakaan yaang menimpaku." Itu bukan pertanyaan, dan terlepas dari janjiku, aku merasa marah.

J-Hope tidak berani menatapku. Kami bahkan tidak lagi repot-repot bergoyang mengikuti musik, meskipun tangannya masih di pinggangku, dan tanganku melingkar di lehernya.

"Begini J-Hope, aku tahu ayahmu mungkin tidak akan percaya, tapi aku hanya ingin kau tahu" J-Hope memandangku sekarang, bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku

"Jungkook benar-benar telah menyelamatkan nyawaku. Seandainya bukan karena Jungkook dan ayahnya, aku pasti sudah mati."

"Aku tahu," ujarnya. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit mempengaruhinya. Paling tidak, mungkin nantinya dia bisa meyakinkan ayahnya.

'Hei, aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini, J-Hope." aku meminta maaf.

"Setidaknya, yang penting kau mendapatkan onderdilmu, ya kan?"

"Yeah," gumamnya. J-Hope masih tampak canggung... kecewa.

"Ada lagi?" tanyaku tak percaya.

"Lupakan saja," gumamnya, "aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri."

Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang. "Katakan saja."

"Ini buruk sekali."

"Aku tak peduli. Beritahu aku," desakku.

"Oke.. tapi, hhh, ini kedengarannya buruk sekali." Ia menggeleng.

"Dia menyuruhku memberitahumu, bukan, memperingatkanmu, bahwa, dan ini kata-katanya, bukan aku", ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip, "Kami akan mengawasi." Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku.

Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia. Aku tertawa keras-keras.

"Aku menyesal aku harus melakukan ini, J-Hope," olokku.

"Aku tidak terlalu keberatan." J-Hope tertawa lega.

"Jadi, haruskah aku menyuruhnya untuk tidak ikut campur?" tanyanya penuh harap.

"Tidak," desahku. "Bilang padanya aku berterima kasih. Aku tahu dia bermaksud baik."

Musiknya berhenti, dan kulepaskan lenganku dari lehernya. Tangannya masih dipinggangku, dan J-Hope memandang kakiku yang digips.

"Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah aku membantumu bergerak ke suatu tempat?"

Jungkook menjawabnya untukku. "Tidak apa-apa, J-Hope. Aku yang mengambil alih."

J-Hope berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Jungkook yang tahu-tahu muncul di sebelah kami.

"Hei, aku tidak melihatmu disitu," gumam J-Hope. "Kalau begitu, sampai ketemu Tae." Dia melangkah mundur, melambai dengan setengah hati.

Aku tersenyum. "Yeah, sampai ketemu."

"Maaf," katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu.

Lengan Jungkook telah memelukku saat lagu berikut mulai dimainkan. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat, tapi sepertinya itu tidak mengganggunya. Kusandarkan kepalaku di dadanya, merasa senang.

"Merasa lebih baik?" godaku.

"Tidak juga," katanya singkat.

"Jangan marah pada ayahnya J-Hope," desahku. "Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan ayah. Bukan apa-apa."

"Aku tidak marah padanya." Jungkook meralat tajam. "Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel." Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya. Wajahnya sangat serius.

"Kenapa?"

"Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri."

Aku menatapnya tidak mengerti.

Jungkook setengah tersenyum. "Aku sudah berjanji tidak akan melepaskanmu malam ini," Jungkook menjelaskan.

"Oh. Well, aku memaafkanmu."

"Terima kasih. Tapi ada hal lain." Wajah Jungkook cemberut. Aku menunggu dengan sabar.

"Dia menyebutmu cantik,"

Mendengarnya aku mengangguk-anggukkan kepalaku dan berkata "Benar, seharusnya tidak cantik. Tapi tampan. Keren juga lumayan."

"Nah, nah" Jungkook menggelengkan kepalanya.

"Kau memang cantik" ujarny "Tapi mengingat penampilanmu saat ini, itu bisa dibilang menghina. Kau lebih dari sekedar cantik."

Aku tertawa. "Kau bercanda? Dengan setelan seperti ini?"

"Kurasa tidak. Lagi pula, aku punya daya lihat yang sempurna."

Kami kembali berdansa, kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat.

"Jadi, apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?" aku bertanya-tanya.

Jungkook menunduk menatapku bingung dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti. Jungkook berpikir sebentar kemudian mengubah arah, memutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran. Jessica melambai, dan aku balas tersenyum padanya. Angela juga aga di sana, tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si kecil Ben Cheney; Angela tidak pernah melepaskan pandangannya dari Ben, yang sedikit lebih pendek daripadanya. Lee, Samantha, Lauren, dan Conner menatap kami geram; aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku. Kemudian kami sampai di luar, di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk.

Begitu kami sendirian, Jungkook menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap kebangku dibawah bayangan pepohonan madrone. Jungkook duduk disana, sambil terus memelukku erat di dadanya. Bulan telah muncul di langit, tampak jelas di antara awan-awan tipis, dan wajahnya bertambah pucat dalam cahaya putih. Mulutnya tegang, matanya resah.

"Intinya?" aku memulai dengan lembut.

Jungkook mengabaikanku, menatap bulan.

"Twilight, lagi," gumamnya. "Akhir yang lain. Tidak peduli bertapa sempurna sebuah hari, toh harus berakhir juga."

"Beberapa hal tidak perlu berakhir," gumamku setengah mendesis, langsung tegang.

Jungkook mendesah.

"Aku membawamu ke prom," katanya pelan, akhirnya menjawab pertanyaanku, "karena aku tidak ingin kau kehilangan momen apapun. Aku tidak ingin kehadiranku menjauhkanmu dari segala peluang, kalau aku bisa membuatnya terjadi. Aku ingin kau menjadi manusia. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918."

Aku bergidik mendengar kata-katanya, lalu menggeleng marah.

"Dalam dimensi paralel aneh manakah aku akan mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri? Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku, aku tidak akan pernah membiarkanmu membawaku kemari."

Jungkook tersenyum sekilas, tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. "Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk."

"Itu karena aku bersamamu."

Beberapa saat kami terdiam. Jungkook menatap bulan dan aku menatapnya. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal.

"Maukah kau memberitahuku sesuatu?" Jungkook bertanya sambil menunduk, menatapku seraya tersenyum simpul.

"Bukankah aku selalu melakukannya?"

"Berjanjilah kau akan memberitahuku," desaknya, tersenyum. Aku tahu aku akan langsung menyesalinya.

"Baiklah."

"Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini," Jungkook memulai.

"Memang," selaku.

"Tepat," Jungkook menyetujui. "Tapi kau pasti sudah punya teori lain... aku penasaran, kau pikir kenapa aku mendandanimu seperti ini?"

Benar sekali, aku langsung menyesal. Kucibirkan bibirku, ragu-ragu.

"Aku tidak ingin memberitahumu."

"Kau sudah berjanji," tukasnya keberatan.

"Aku tahu."

"Apa masalahnya?"

Aku tahu Jungkook mengira perasaan malulah yang menahanku.

"Kurasa itu akan membuatmu marah, atau sedih."

Alisnya bertaut di atas matanya saat Jungkook memikirkannya. "Aku masih ingin tahu. Kumohon." Aku mendesah. Jungkook menunggu.

"Well... aku menduga itu semacam... acara istimewa. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa... prom!" ejekku.

"Manusia?" tanyanya datar. Jungkook memilih kata kuncinya.

Aku memainkan bagian bawah jas ku. Jungkook menunggu dalam diam.

"Oke," aku buru-buru mengaku.

"Aku berharap kau mungkin berubah pikiran... bahwa kau akan merubahku, akhirnya."

Berbagai emosi muncul bergantian diwajahnya. Aku mengenali beberapa diantaranya, amarah... sedih... kemudian Jungkook tampak senang.

"Kaupikir itu sejenis acara resmi, ya?" godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya.

Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku.

"Aku kan tidak tahu. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom."

Jungkook masih nyengir, menampilkan gigi kelinci nya yang menggemaskan.

"Tidak lucu tahu," kataku.

"Tidak, kau benar, ini tidak lucu," Jungkook menimpali, senyumnya memudar. "Meskipun begitu, aku lebih suka menganggapnya lelucon, daripada percaya bahwa kau serius."

"Tapi aku memang serius."

Jungkook menghela napas dalam.

"Aku tahu. Dan kau benar-benar menginginkannya?"

Kepedihan itu kembali tampak di mata indah Jungkook. Kugigit bibirku dan mengangguk.

"Kau siap mengakhiri ini semua," gumamnya, nyaris kepada dirinya sendiri,

"Siap menjadikan ini akhir hidupmu, meskpun hidupmu bahkan belum dimulai. Kau siap merelakan semuanya."

"Ini bukan akhir, ini baru permulaan," sergahku, suaraku berbisik.

"Aku tidak pantas mendapatkannya," katanya sedih.

"Kau ingat waktu kau bilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan jelas?" tanyaku, satu alisku terangkat. "Kau sama butanya denganku."

"Aku tahu siapa diriku."

Aku mendesah. Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah mempengaruhiku. Jungkook mengerutkan bibir dan matanya mencari-cari. Ia mengamati wajahku lama sekali.

"Kalau begitu, kau sudah siap?" tanyanya.

"Mmm." Kutelan liurku. "Ya?"

Jungkook tersenyum, lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat disudut rahang.

"Sekarang juga?" Jungkook berbisik, napasnya terasa sejuk di kulitku. Tanpa sadar aku gemetar.

"Ya," bisikku, jadi suaraku tidak terdengar parau.

Kalau dipikirannya aku cuma menggertak, Jungkook akan kecewa. Aku sudah membuat keputusan ini, dan aku yakin. Tidak peduli tubuhku kaku seperti papan, kedua tanganku mengepal, napasku tak beraturan...

Jungkook tergelak misterius, lalu menjauh. Wajahnya memang kelihatan kecewa.

"Kau tidak mungkin benar-benar percaya aku akan menyerah semudah itu," ejeknya.

"Aku boleh bermimpi."

Alisnya terangkat. "Itukah yang kau impikan? Menjadi monster?"

"Tidak juga," kataku, cemberut mendengar pilihan katanya. Monster. "Aku lebih sering memimpikan bersamamu selamanya."

Ekspresinya berubah, melembut, sedih mendengar kepedihan dalam suaraku.

"Taehyung-ie." Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku.

"Aku akan tinggal bersamamu, tidakkah itu cukup?" Aku tersenyum di bawah jemarinya.

"Untuk sekarang, ya."

Wajahnya cemberut melihat tekadku. Tidak seorangpun akan mengalah malam ini. Jungkook menghela napas, dan suara yang dikeluarkannya jelas geraman.

Kusentuh wajahnya. "Dengar," kataku. "Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan. Tidakkah itu cukup?"

"Ya, itu cukup," jawabnya, tersenyum. "Cukup untuk selamanya."

Dan Jungkook pun membungkuk lagi, menekankan bibir dinginnya sekali lagi ke leherku.

.

.

.

END

.

.

.

Hohohohoho… rasanya lega banget bisa selesain cerita ini sampe epilogue…

Mau mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada semua readers yang sudah menyempatkan membaca cerita ini, terutama kepada semua yang sudah memberikan review untuk cerita ini. Maaf kalau aku sempat nekan buat komen atau gimana.. Maaf yaaa…

Untuk seri berikutnya, akan aku buat. Masih dalam tahap editing. Semoga bisa cepet selesai dan segera dipublish.

.

.

.

Jangan di close dulu

.

.

.

New Moon

-00-

.

.

.

These violent delights have violent ends And in

their triumph die, like fire and powder, Which, as

they kiss, consume.

Romeo and Juliet, Act II, Scene VI

.

.

.

Aku merasa seperti terperangkap didalam mimpi buruk mengerikan. Didalam mimpi itu kamu harus berlari, terus berlari sampai paru-parumu terasa akan pecah. Akan tetapi kamu tidak sanggup memacu tubuhmu untuk bergerak cukup cepat.

Kakiku rasanya semakin lama semakin melambat sementara aku berjuang untuk menembus kerumunan orang yang tidak memiliki perasaan. Jarum di menara jam tidak juga melambat. Tidak peduli dan tanpa belas kasihan, jarum jam itu terus bergerak menuju akhir -akhir segalanya-. Tapi ini bukan mimpi, dan memang tidak seperti mimpi buruk, aku tidak sedang berlari untuk menyelamatkan nyawaku, melainkan berlari untuk menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Hidupku nyaris tidak ada artinya bagiku hari ini. Menurut Jin tadi, besar kemungkinan kami akan mati disini. Mungkin hasil akhirnya akan lain bila dia tidak terperangkap cahaya matahari yang menyilaukan. Hanya akulah yang bisa berlari melintasi lapangan terbuka yang terang benderang dan padat ini.

Tapi aku tidak bisa berlari cukup cepat. Jadi tidak ada artinya bagiku, kami dikelilingi musuh-musuh kami yang luar biasa berbahaya. Saat jam mulai berdentang, bergetar di bawah sol

sepatuku yang terasa berat, aku mengetahui bahwa aku terlambat dan aku senang sesuatu yang haus darah menungguku di sayap bangunan. Karena jika aku gagal dalam misiku ini, aku tidak lagi memiliki keinginan untuk hidup. Jam kembali berdentang, dan matahari memancarkan cahayanya yang terik tepat dari titik di tengah langit.

-End-

.

.

.

Sampai jumpa di chapter berikutnyaaaaa…..