Author: Cocoa2795.

Ranting: T.

Genre: Supranatural, Hurt/Family, Romance.

Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto, saya mah cuma pinjam Chara doang. Dan minjem ide Shirabyoushi dari Kumagai Kyoko-sensei.

Warning: Typo, OOC, Slow update.


Chapter 2 : Mereka yang berada dalam Kegelapan.

.

.

.

Senyum dan tawa, serta tatapan dari mata biru itu selalu ia kenang. Sejak saat itu, ada hal yang selalu Hinata sesali setiap langit biru mulai mencair senja. 'Andai aku menanyakan namanya saat itu...'

Pemuda misterius yang memiliki wajah serupa dengan anak kecil dalam mimpinya. Sudah seminggu Hinata tidak bisa tidur dibuatnya. Setiap ia memejamkan mata, rambut pirang dengan mata biru itu senantiasa hadir dalam benaknya. Ada segelintir perasaan aneh setiap kali ia mengingat pemuda itu. Di dalam hatinya ada perasaan rindu yang tertahan.

"Hinata, bagaimana menurutmu?"

Suara Tenten membuyarkan lamunannya seketika, membuat Hinata sedikit terlonjak. "Ma-maaf Tenten-chan, bisa kau ulangi?" Hinata tersenyum gugup, dia benar-benar lupa bahwa dia sedang bersama dengan Tenten dan Sakura.

Gadis dengan rambut coklat itu mengeryit sebentar sebelum mengulangi pertanyaannya. "Sakura mengajak kita untuk makan donat di Kono kafe, kau mau ikut?" Tanpa pikir panjang Hinata segera mengangguk setuju.

Sakura, gadis dengan rambut merah muda dengan sweater merah marun mengerling jahil pada Hinata. "Neh~ Hinata-chan, apa kau sedang kasmaran?"

Wajah Hinata berubah merah begitu mendengar pertanyaan Sakura. Gadis dengan marga Hyuuga itu menggeleng kuat, "Ti-tidak! aku tidak sedang jatuh cinta, Sakura-chan!"

Tenten yang berada di samping Hinata tersenyum penuh arti, sementara Sakura tertawa kecil. Gadis merah muda itu mencubit pipi Hinata gemas sebelum kembali berjalan.

"Kau itu seperti buku yang terbuka, Hinata-chan!" Ujarnya sambil tertawa renyah, sementara Hinata menunduk malu. "Wajahmu tampak pucat dan kau sering melamun akhir-akhir ini. Terlebih wajahmu langsung memerah saat aku menanyakan hal tadi."

Sakura memutar tubuhnya dan menunjuk Hinata tepat di hidungnya, "Kau positif terkena penyakit cinta!" Tudingnya yang membuat Tenten tak kuasa menahan tawanya lagi.

"Penyakit cinta? Apa itu? Norak sekali hahaha!"

Sakura memajukan bibirnya dan mendelik kesal pada Tenten. "Memang menurutmu apa lagi jika bukan penyakit cinta? Sudah seminggu ini Hinata-chan melamun terus. Untuk anak seumuran kita, masalah apa lagi kalau bukan masalah cinta?" Sakura memberikan pelototannya dan bersikeras pada pendapatnya.

"Hei itu menurutmu, setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Dan hal itu tidak harus tentang percintaan."

"Hm... apa itu pernyataan untuk gadis tomboi sepertimu, Tenten?" Tanya Sakura sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

Kini giliran Tenten menurunkan alisnya, "Apa kau tidak sadar dengan dirimu sendiri Haruno Sakura, si gadis tinju?"

Pelipis kanan sakura berkedut dan tanpa peringatan keduanya saling meleparkan tatapan maut. Hinata yang berada di tengah-tengah mereka tertawa gugup dan berusaha untuk menghentikan keduanya. Begitu mereka bertiga sampai di depan sebuah kafe kecil dengan nuansa coklat dan hitam, Hinata segera mendorong punggung kedua temannya untuk masuk ke dalam.

"Oh? Hinata, Tenten dan Sakura?"

Sebuah suara yang menyebut nama ketiga gadis itu terdengar, membuat mereka menolehkan kepala mereka. Di sudut ruangan terdapat tiga orang remaja laki-laki, salah satu dari mereka melambaikan tangannya.

"Sa-Sasuke-kun?" Wajah gadis merah muda yang semula cemberut itu, kini berubah dengan senyum manis di wajahnya. Sakura segera berlari menghampiri tiga remaja laki-laki itu dan meninggalkan Tenten dan Hinata.

"Tunggu, jadi karena Sasuke dia mengajak kita kemari?" Tenten menatap Sakura kesal sementara Hinata tertawa kecil.

"Sudahlah, lebih baik kita menghampiri mereka." Hinata segera menarik tangan Tenten untuk menyusul Sakura yang sudah terlebih dahulu bergabung.

Sakura menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga lalu menyapa Sasuke semanis mungkin. "Ha-hai Sasuke-kun, kebetulan sekali bisa bertemu di luar sekolah."

Remaja laki-laki dengan rambut hitam itu hanya membalasnya dengan gumaman. Tanpa mempedulikan Sakura, dia tetap sibuk pada kertas tugas di tangannya. Kiba, remaja laki-laki dengan rambut coklat panjang itu mencibir kesal.

"Hei! aku yang menyapa kenapa diacuhkan?"

"karena kau tidak dianggap Kiba," celetuk Shikamaru, remaja dengan rambut hitam yang ia ikat satu.

Kiba mendengus sebal lalu memukul lengan Shikamaru hingga membuatnya meringis pelan. Hinata dan Tenten yang sudah menghampiri mereka segera menyapa Kiba dan yang lain. Sakura yang merasa sangat senang karena bisa bertemu dengan laki-laki yang ia sukai, meminta Tenten dan Hinata untuk duduk bersama dengan anak laki-laki.

Hinata yang tidak bisa menolak sementara Tenten yang risih melihat tatapan memohon Sakura akhirnya hanya menurut. Siang hari itu Hinata habiskan untuk menikmati sepiring donat dengan canda tawa bersama teman-temannya. Saat lembayung senja datang, mereka berenam berpisah di persimpangan jalan.

Hinata dan Tenten berjalan beriringan menuju rumah mereka yang memang bersebelahan. Saat melewati taman bermain, mata lavender itu melirik tanpa dipinta. Ingatan tentang pemuda itu kembali hadir dan membuat langkahnya terhenti.

Angin berhembus pelan, memainkan rambut biru gelapnya. Ada niat untuk melangkahkan kakinya menuju taman serta harapan jika dapat bertemu dengan pemuda misterius itu lagi. Setelah agak lama terdiam, akhirnya Hinata memilih untuk memasuki taman bermain itu. Pewaris klan Hyuuga itu membulatkan matanya, saat mendapati sosok yang ia pikirkan tengah duduk di atas ayunan.

Remaja dengan jaket hitam itu berayun pelan, biru safir miliknya fokus menatap tanah. Batin Hinata bergelut, antara menyapa pemuda itu atau hanya memperhatikannya saja. Tangan gadis itu mengepal lalu menarik nafas panjang. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk menyapa pemuda itu.

"A-ano!"

Biru safir itu segera menoleh dan bertemu dengan mata lavender milik Hinata. Keheningan menyelimuti mereka berdua sampai suara Hinata yang sedikit meninggi terdengar. "A-apa kau sering kemari?"

Remaja pirang itu tak lekas menjawab, dia seperti biasa mengamati Hinata dengan mata biru jernihnya. Hinata sudah menunduk malu dengan dua jari telunjuk saling bermain.

"Begitulah." Jawaban singkat dari pemuda misterius itu mampu membuat Hinata mendongak dengan perasaan senang di dadanya. "Aku sering kemari untuk menenangkan pikiran."

"Apa... ka-kamu belum terbiasa dengan kota ini?" Hinata bertanya dengan hati-hati. Ia takut jika membuat pemuda itu tidak nyaman dengan pertanyaannya. Bagaimanapun untuk seseorang yang baru saja pindah ketempat baru, terkadang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Namun diluar dugaan, pemuda itu justru tertawa kecil. Remaja pirang dengan tiga garis halus itu menggelengkan kepalanya sebelum kembali menatap Hinata. "Aku sudah sangat terbiasa dengan kota ini."

Pemilik rambut pirang itu beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Hinata. Langkah demi langkah pemuda itu ambil hingga sampai di depan Hinata. Senyum miring hadir di wajah tampan si remaja pirang.

"Kenapa kau bertanya? Apa kau khawatir?"

"Eh? I-itu..."

Melihat wajah Hinata yang merah serta gugup membuat remaja pirang itu tertawa kecil. Dengan raut geli pemilik mata biru itu bertanya, "Neh~ Jangan-jangan kau... jatuh cinta padaku?"

Mendengar pertanyaan itu Hinata sontak membulatkan matanya. Wajahnya semakin merah padam dan dengan panik, Hinata menggelengkan kepalanya cepat. "Te-tentu saja tidak! Na-namamu saja aku tidak tahu, ba-bagaimana mungkin aku jatuh cinta padamu!"

"Hahaha aku hanya bercanda."

"Eh? To-tolong jangan bercanda seperti itu!"

Kini suara tawa renyah terdengar sementara Hinata menunduk dengan wajah merah. Saat melihat Hinata yang memakai jaket berwarna lavender, serta rok biru kotak-kotak yang merupakan seragam khas sekolah menengah atas. Remaja pirang itu mengernyit, "Kau pulang sekolah sendirian selarut ini?"

Gadis Hyuuga itu melihat seragamnya terlebih dulu sebelum menjawab, "Ah iya, tapi aku tidak sendirian, aku bersama dengan—"

"HINATA!"

Suara lantang itu sukses memotong ucapan Hinata. Gadis Hyuuga itu membalikkan badannya dan tersenyum lebar saat melihat Tenten yang berlari ke arahnya. Hinata tersenyum manis dan berniat untuk memanggil Tenten. Namun Tenten terlebih dahulu mencubit kedua pipi Hinata dan memberinya tatapan maut.

"Hinata! Jangan menghilang seperti itu tiba-tiba! Kau membuatku ketakutan!"

Wajah Hinata kembali memerah akibat cubitan di kedua pipinya. Pewaris Hyuuga itu sampai meringis akibat kuatnya cubitan Tenten. Setelah berhasil melepaskan tangan Tenten dari kedua pipinya, Hinata tertawa gugup. "Te-Tenten-chan... te-tenanglah..."

"Kau menyuruhku tenang?"

Hinata menelan ludah gugup, wajah Tenten saat marah begitu menakutkan. "Ma-maafkan aku..."

Mata coklat Tenten kini teralih pada sosok remaja pirang yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan raut geli. Remaja laki-laki dengan rambut pirang dan mata biru jernih... rambut pirang... mata biru... rambut pirang... mata...

"KAU ITU—HMPH!"

Pemuda pirang itu mengernyit saat gadis dengan rambut coklat itu menunjuk wajahnya sambil berteriak hanya untuk dibekap mulutnya oleh gadis bermata lavender. Hinata tertawa gugup, tangannya masih membekap mulut sahabatnya.

"Ma-maafkan aku, sahabatku terkadang su-suka bertindak berlebihan seperti ini ahahaha."

Pemilik tiga garis halus di kedua pipinya itu sweatdrop melihat Tenten yang meronta dan berteriak keras meski Hinata masih membekap mulutnya. Hinata tertawa gugup lalu memperkenalkan dirinya dan Tenten pada remaja pirang itu sebelum menanyakan nama pemuda itu.

"Bo-boleh aku tahu siapa namamu?"

Senyum miring kembali hadir di wajah pemuda misterius itu dan bukannya memberitahukan namanya. Remaja pirang itu berjalan mendekati Hinata lalu menyibak rok biru kotak-kotak Hinata. Tenten membulatkan matanya sementara Hinata mematung selama beberapa detik sebelum menjerit dan jatuh terduduk dengan wajah merah padam.

"Putih dengan pita berenda, hm... seperti yang diharapkan dari seorang perawan."

Pemuda pirang itu menyeringai lebar. kedua tangannya ia masukkan kedalam kantong celana sementara mata birunya membalas tatapan Hinata. Tenten yang berdiri di sebelah Hinata menggeram kesal.

"Kau... bisa-bisanya kau melakukan hal seperti itu!"

Remaja pirang itu masih setia memasang senyum miringnya, "Aku hanya menguji temanmu, apa dia pantas untuk menjadi mainan baruku atau tidak." Lalu tidak sampai sedetik kemudian raut wajahnya kini berubah menjadi dingin dan datar. "Biar aku katakan dengan jelas, aku paling benci dengan perempuan murahan seperti kalian."

Hinata membulatkan kedua matanya sementara Tenten sudah mengeluarkan aura membunuh. Pewaris klan Hyuuga itu menatap sosok remaja pirang di depannya tak percaya. Mata birunya yang tenang dan dingin itu mampu membuat Hinata bergetar. Tapi bukan ketakutan yang ia rasakan, justru ada perasaan lain dalam hatinya. Tatapan itu... Hinata merasa mengenali tatapan itu.

"Ku hajar kau, laki-laki mesum!" Tenten merogoh sesuatu dari balik kantong roknya. Namun sebuah tangan menghentikan gerakannya. Gadis China itu menolehkan kepalanya dan mendapati Hinata menggelengkan kepalanya. Cukup lama mereka saling bertatap mata sebelum Tenten akhinya mengalah dan menghela nafas.

Gadis dengan rambut coklat itu mendelik sengit pada remaja pirang tersebut, lalu menujuk tepat di hidungnya. Tenten mendengus kasar, "Aku pasti akan menghajarmu!" tanpa bicara lagi Tenten segera menarik tangan Hinata dan berlari pergi meninggalkan pemuda itu.

Setelah sosok Tenten dan Hinata tak terlihat lagi, remaja misterius itu menghela nafas lelah lalu memandang matahari terbenam dengan tatapan kosong. Suara gemerisik dedaunan terdengar lalu di susul sebuah suara laki-laki yang membuat pemuda pirang itu menolehkan kepalanya.

"Di sini kau rupanya, Naruto." Ujar seorang remaja laki-laki dengan rambut merah.

Naruto, pemuda dengan mata biru itu tersenyum lebar. "Yo! Kau berhasil menemukanku, Gaara!"

Gaara menghampiri Naruto sambil bersedekap. Seharian penuh pemuda merah itu mencari keberadaan temannya dan tidak menyangka bahwa dia akan berada di taman kanak-kanak seperti ini.

"Kurama-sama membuat karase-tengu mabuk berat, sebaiknya kau cepat pulang atau beliau akan membuat kekacauan lebih dari ini."

Naruto memejamkan matanya dengan wajah cemberut, "Aku ini bukan pawangnya!"

"Tapi ini semua ulahmu yang membuat beliau seperti itu," Gaara menyahut yang hanya dibalas dengusan oleh Naruto. Pemuda dengan rambut merah dan memiliki tato di keningnya itu menghela nafas pendek.

Matanya yang berwarna hijau pudar menatap sosok sahabatnya. Ada yang ia tanyakan pada remaja pirang itu, setelah terdiam cukup lama akhirnya Gaara bersuara. "Apa kau kenal dengan dua manusia tadi?" Gaara bertanya pelan dan hati-hati.

Tidak ada jawaban dari Naruto, pemuda itu justru menatap bulan yang baru saja muncul. Gaara menyipitkan matanya pada sahabatnya. Sudah seminggu remaja dengan rambut merah itu merasakan gelagat aneh Naruto. Pemuda pirang itu lebih suka melamun serta menghilang entah kemana.

"Entahlah, aku tidak mengenalnya," Naruto berujar tiba-tiba. Pemilik jaket hitam itu berjalan dan duduk di atas ayunan. Mata birunya menatap bulan yang mulai menanjak naik secara perlahan.

Gaara memperhatikan Naruto dalam diam, ada banyak pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya. Meski dia hanya melihat sekilas namun perempuan dengan rambut biru panjang itu menarik perhatiannya. Wajah dari gadis itu tidak terasa asing bagi Gaara, namun ia tidak bisa mengingat dimana ia bertemu dengan gadis itu. Gaara ingin bertanya pada Naruto tapi mengingat pemuda itu tengah bersikap aneh, bertanya pun akan percuma.

Gaara menghembuskan nafas panjang sebelum berbalik, "Lebih baik kau pulang secepatnya Naruto." Setelah mengatakan itu kepulan asap muncul menyelimuti Gaara tiba-tiba dan membuat pemuda itu hilang bersama asap yang memudar.

Naruto mendorong tubuhnya pelan dan mulai berayun. Mata birunya yang semula menatap tbulan, kini turun ke tanah sebelum menutup bersamaan dengan ekspresi perih yang dibuat pemuda itu. Ada ingatan yang tidak ingin ia ingat, memaksa untuk berputar di kepalanya.

'Na-Naruto-kun!'

Senyum malu-malu yang gadis kecil itu berikan.

'Itu karena... aku menyukaimu Naruto-kun...'

Senyum getir yang ia lukiskan di paras cantiknya.

'Suatu saat... aku ingin menjadi pengantinmu...'

Serta senyum damai sebagai penghias terakhir dalam tidur panjangnya.

Suara pelan dan merdu bagai dentingan bel. Rambut panjang yang lembut melebihi sutra serta senyum yang mampu membuat hatinya tentram. Tangan yang begitu kecil dalam genggamannya namun memberinya ketenangan. Naruto mengadahkan kepalanya, kelopak matanya terbuka hanya untuk bertemu dengan bulan purnama di atas langit.

Tangan kanannya terangkat dengan jari tengah dan manis terhubung dengan ibu jarinya. Salah satu dari mata biru jernihnya menatap bulan melalui lubang yang ia buat dengan jarinya. Seorang gadis kecil muncul dengan senyum lebarnya. Naruto tersenyum kecil saat mengingat bahwa mungkin itu adalah senyumnya yang paling lebar serta berkilau yang pernah ia tunjukkan.

Naruto membawa genggaman tangannya dan menciumnya, berharap ia masih mampu merasakan hawa sang gadis. Perempuan yang selamanya akan terus ia cintai sepanjang masa.

...

"Takdir itu memiliki sistem yang tidak bisa dipahami." Dalam ruangan bergaya tradisional, terdapat dua sosok tengah berdiri di bawah cahaya remang-remang. Salah satu sosok itu menyeringai lebar, "Sistem rumit yang membuatku semakin ingin memecahkannya dan menghancurkannya."

Sosok yang tidak terlihat jelas itu mengarahkan tatapannya pada sosok yang lain. "Kau sudah menyiapkan apa yang kuperintahkan?"

Sosok lain itu membungkuk hormat, "Segalanya sudah saya persiapkan, tuan." Saat sosok itu membuka matanya, kilatan cahaya terlihat membuat tatapannya menajam. "Anda tinggal memerintahkan kapan anda ingin memulainya."

Suara tawa kini memenuhi ruangan itu sebelum tenggelam dalam senyum miring dari pemilik kulit putih pucat itu. "kalau begitu, mari kita lanjutkan ambisi yang sempat tertunda."

"Baik, tuanku."

.

.

.

To Be Continue...

AN/ Terima kasih banyak bagi yang sudah Review, follow dan Fav. Etto untuk chapter pertama Coco lupa memberi kredit pada lagu yang Hinata nyanyikan dalam ritual sucinya. Lirik dalam lagu itu berasal dari komik Scarlet Fan karya Kumagai Kyoko. Sekali lagi terima kasih banyak untuk kalian yang sudah RnR~

Jaa, see you next chapter ^^