Author: Cocoa2795.

Ranting: T.

Genre: Supranatural, Hurt/Family, Romance.

Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto, saya mah cuma pinjam Chara doang. Dan minjem ide Shirabyoushi dari Kumagai Kyoko-sensei.

Warning: Typo, OOC, Slow update.


Chapter 3 : Kenangan yang tertimbun dalam hati.

.

.

.

Bulan purnama bersinar indah di atas langit malam. Pepohonan berbaris lebat dengan cahaya kunang-kunang sebagai penghias malam yang dingin. Suara gemericik air dan tawa terdengar sayup-sayup dari arah sungai. Sosok gadis kecil dengan yukata biru gelap terlihat memainkan kaki mungilnya di tepi sungai.

"Apa kau yakin tidak apa-apa, meninggalkan rumahmu malam-malam seperti ini?" Seorang anak laki-laki menghampiri gadis kecil itu dan bertanya dengan nada cemas.

Gadis kecil itu tersenyum kecil sambil memainkan kedua telunjuknya. "Ti-tidak apa-apa, sekarang ini mereka pasti sedang tidur. Aku akan pulang sebelum tengah malam, jadi kau tidak perlu khawatir."

Senyum yang gadis kecil itu berikan membuat pemilik rambut pirang itu tersenyum lebar. Kedua kaki telanjangnya melompat-lompat di sungai membuat cipratan air dan mengenai si gadis kecil. Senyum dan tawa menghiasi wajah mereka berdua dalam gelapnya malam yang diterangi sang rembulan.

Setelah puas bermain air, keduanya kini duduk di tepi sungai sambil menatap bulan purnama. Gadis kecil dengan rambut biru gelap itu bersenandung pelan sembari menikmati belaian angin malam. Di sampingnya, anak laki-laki dengan rambut pirang tengah menatapnya melalui lubang jari yang ia buat.

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

Anak laki-laki itu memperlihatkan senyum lima jari miliknya, "Aku ingin mengabadikan sesuatu di jendela rubahku!"

Gadis kecil itu memiringkan kepalanya, "Jendela rubah? Apa itu?"

Anak laki-laki dengan mata biru itu mendekatkan dirinya pada si gadis kecil dan meraih tangan mungilnya. Gadis kecil itu memperhatikan dalam diam saat anak laki-laki itu membuat jari tengah dan jari manisnya terhubung dengan ibu jari sebelum mengarahkannya pada salah satu mata lavendernya.

"Kami menamainya, jendela rubah." Pemuda kecil itu tersenyum lebar setelahnya, "Setiap kami menemukan pemandangan atau kejadian yang berharga, kami akan menyimpannya dalam jendela rubah agak kelak bisa kami lihat kembali."

Gadis kecil itu mengangguk pelan lalu mulai mengarahkan jendela rubahnya pada temannya yang kini tengah tersenyum lebar. Anak laki-laki itu mengerjap beberapa kali sebelum tersenyum hangat pada si gadis kecil. Semburat merah kini hadir di kedua pipi si gadis kecil akibat senyuman dari anak laki-laki itu selalu membuat hatinya terasa hangat.

"Achoo!" Pemilik mata biru itu mengusap hidungnya yang gatal lalu memeluk badannya sendiri. Udara dingin serta yukata putihnya yang basah membuatnya kedinginan.

"Ka-kau baik-baik saja?" tanya si gadis kecil cemas.

Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya, "Aku kedinginan..." Jawabnya dengan badan kecil yang menggigil. Wajah gadis kecil itu berubah panik, dia segera mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk menghangatkan badan si anak laki-laki.

"Tu-tunggu sebentar! Akan aku carikan sesuatu—"

Belum sempat gadis kecil itu beranjak dari duduknya, anak laki-laki itu tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Pemilik yukata biru gelap itu mematung seketika, meski yukata anak laki-laki itu basah namun bukan dingin yang gadis kecil itu rasakan.

Anak laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya sambil bergumam pelan, "Hangatnya~"

Wajah gadis kecil itu kian lama semakin merah sebelum akhirnya dari atas kepalanya muncul kepulan asap dan membuatnya menunduk malu. Gadis kecil itu berusaha menenangkan debaran jantungnya yang menggila sementara temannya dengan sikap acuh terus memeluknya seperti boneka.

"Neh~ Hinata-chan... saat kau dewasa nanti, apa kau akan melupakanku?" Anak laki-laki itu bertanya pelan membuat gadis kecil itu membulatkan matanya sebelum menolehkan kepalanya.

Gadis kecil itu tidak bisa melihat ekspresi yang anak laki-laki itu berikan saat ini. Namun ada satu hal yang ia tahu. Pemilik mata biru itu sedikit melebarkan matanya saat merasakan sentuhan hangat di kedua tangannya yang melingkar di pinggang gadis kecil itu.

"A-aku tidak akan melupakanmu."

"Begitukah?" Senyum lega kini menghiasi wajah anak laki-laki itu. "Janji ya..."

"Un, aku janji Naruto-kun!"

.

.

.

Pelindung lavender itu terbuka dengan menyisakan setetes air mata di sudut pelopak mata. Hinata beranjak dari tidurnya lalu menyeka air matanya. Dipandanginya telapak tangan yang menampung beberapa tetesan air matanya. Ingatannya sedikit buram dan Hinata tidak bisa mengingat apa yang baru saja ia mimpikan.

Detak jantungnya juga berpacu agak cepat, seakan memintanya untuk mengingat sesuatu yang sangat penting. Ya, ada sesuatu yang telah ia lupakan, sesuatu yang begitu berharga untuknya dan hal itu ada hubungannya dengan pemuda misterius yang ia temui di taman lusa lalu. Setidaknya begitulah menurut firasat yang ia rasakan.

Hinata menolehkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya dan membuka pintu geser yang langsung terhubung dengan paviliun di atas danau buatan. Langit masih gelap dan bulan masih berada di atas kepala namun Hinata tidak ingin melanjutkan tidurnya.

Pewaris Hyuuga melangkahkan kakinya dan duduk bersandar pada pagar paviliun. Sepasang mata lavender itu lurus menatap bulan dengan tatapan menerawang. Rasa sesak yang ia alami belum hilang seutuhnya dan dia masih berusaha mengingat mimpi yang baru saja ia alami.

...

"—sama... Hinata-sama!"

Hinata tersentak kaget dan segera menoleh ke arah Neji yang menatapnya cemas. Gadis dengan rambut panjang itu tertawa gugup, lagi-lagi dia melamun. Tenten yang berada di sampingnya mendengus kesal sebelum kembali membaca bukunya.

"Hinata-sama, anda baik-baik saja? Anda terlalu banyak melamun akhir-akhir ini dan hal itu menarik perhatian para arwah."

"Aku sudah memberitahunya sejak kemarin Neji." Tenten menyahut lalu meletakkan buku novel yang sedang ia baca. "Berhentilah memikirkan laki-laki mesum itu Hinata!"

Neji menurunkan sebelah alisnya mendengar ucapan Tenten. "Laki-laki mesum?" ulang Neji penasaran.

Kini Tenten menatap lurus pada Neji dengan raut serius. "Laki-laki dengan rambut pirang dan mata biru, seperti yang Hinata mimpikan dan kami bertemu dengannya kemarin lusa." Neji sedikit melebarkan matanya. "Dan aku setuju dengan perkataanmu dulu," Tenten mengalihkan tatapannya dan menatap tajam Hinata. "Lupakan laki-laki mesum itu Hinata!"

Hinata menunduk, ia tidak berani membalas tatapan Tenten yang tegas dan tajam itu. Keadaan kelas yang sedang sepi karena jam istirahat dan hampir seluruh murid kelas 1-B keluar untuk makan siang membuat Hinata semakin tidak nyaman.

"Memang apa yang sudah dia lakukan?"

Tenten mendelik sengit pada Neji membuat remaja laki-laki itu sempat tersedak. Gadis dengan rambut coklat itu mengebrak meja keras membuat Hinata dan Neji terlonjak. "Dia menyibak rok Hinata dan mengatakan kami perempuan murahan!"

Neji menghela nafas pendek guna untuk menetralkan jantungnya yang seakan melompat akibat teriakan Tenten. Remaja laki-laki itu berdehem dan memasang raut tenangnya. "Kenapa dia bisa mengatakan hal itu?"

"Mana aku tahu! Dan apa hal itu penting?!" Tenten menjatuhkan pantatnya dengan kasar.

Kakak sepupu Hinata kembali menghela nafas, "Apa kau yakin kalau itu dia? Bagaimana mungkin sosok dalam mimpi ada di dunia nyata?" Tenten membuang muka dengan wajah cemberut. "Di dunia ini ada banyak laki-laki pirang dengan mata biru." Neji kembali berujar tenang.

"Kenapa kau jadi membelanya Neji? bukankah kau duluan yang menyuruh Hinata untuk melupakan anak laki-laki itu?"

"Aku tidak membelanya, menurutku apa yang sudah laki-laki itu lakukan memang kurang ajar. Tapi untuk masalah laki-laki itu benar atau tidak, anak kecil yang Hinata mimpikan—"

"—Itu benar nii-san..."

Neji dan Tenten menatap Hinata tidak mengerti saat pewaris Hyuuga itu memotong ucapan kakak sepupunya. Hinata mengangkat kepalanya, tatapan menerawang kembali hadir.

"Apa maksudmu Hinata?"

"Pemuda itu... aku yakin kalau itu dia." Hinata tersenyum getir, "Dan aku sudah melupakan sesuatu nii-san... sesuatu yang sangat berharga."

Tenten dan Neji kini saling pandang, mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Hinata. Benarkah laki-laki itu mempunyai suatu hubungan dengan pewaris klan Hyuuga ini? Neji kembali membuka mulutnya, ingin bertanya lebih lanjut namun seseorang menghentikannya.

"Hinata-chan!"

Haruno Sakura dengan tiba-tiba hadir dan memeluk gadis indigo itu dari belakang. Gadis dengan rambut merah muda itu tersenyum cerah membuat suasana yang semula murung berubah ceria. Sakura dengan wajahnya yang sedikit memerah menyapa Neji dan Tenten yang baru ia sadari keberadaan mereka berdua lalu kembali menatap Hinata.

"Neh~ Hinata-chan apa besok kau mau ikut uji nyali?"

"U-uji nyali?" Hinata mengerjapkan matanya. Terkejut dengan ajakan yang cukup ekstrem menurutnya.

"Ini bukan musim panas ataupun hari festival, kalian mau mengadakan uji nyali di mana?" Tenten mengernyit heran namun juga tertarik.

"Di sini!" seru Sakura dengan senyum tiga jarinya.

Hinata dan Tenten mengernyit tidak mengerti, "Di sini?" Tenten mengulang tak yakin.

Sakura mengangguk semangat sedangkan Neji menghela nafas. "Hinata-sama, sebaiknya anda tidak perlu ikut." Sakura membulatkan matanya mendengar ucapan Neji.

"kenapa?!"

"Hinata-sama sedang dalam kondisi yang tidak baik."

Sakura segera menatap Hinata cemas, "Apa kau sakit Hinata-chan? Kalau tidak enak badan lebih baik kamu pulang sekarang."

Hinata menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut, "Aku baik-baik saja Sakura-chan. Nii-san boleh aku ikut?" tanya Hinata dengan tatapan memohon.

Neji menggelengkan kepalanya, mengingat Hinata yang sering melamun membuat Neji cemas dengan keselamatan adiknya. Hinata tidak hanya terlahir dengan kemampuan penyembuh, gadis itu juga mampu melihat, merasakan dan mengirim para arwah. Hinata yang sering melamun dapat membuat para arwah mengambil kesempatan untuk merasukinya.

"Nii-san aku akan baik-baik saja, ada Tenten bersamaku." Hinata berusaha untuk membujuk Neji. Tenten hanya diam saja, gadis itu juga sebenarnya ingin ikut dan dia siap jika diminta untuk menjaga Hinata.

Melihat Neji tak kunjung mengizinkan, Tenten akhirnya bicara. "Aku akan menjaganya baik-baik Neji, kau tidak perlu khawatir."

Sakura yang sudah biasa dengan sifat protective Tenten dan Neji tidak merasa aneh. Gadis dengan mata hijau itu justru ikut memasang wajah memohon pada remaja coklat itu. Mendapatkan tatapan dari ketiga gadis di depannya membuat Neji menghela nafas lelah.

"Baiklah..."

Sakura berseru girang sambil memeluk Hinata. Gadis merah muda itu mulai berceloteh tentang kenapa dia mengajak Hinata dan Tenten. Neji menghela nafas pendek sebelum tersenyum kecil, biarlah untuk kali ini dia bersikap lembut. Adik sepupunya butuh kegiatan untuk membantunya melupakan sejenak masalahnya. Dan selama Hinata dan Tenten mengikuti kegiatan itu, Neji sudah bertekad untuk mencari tahu laki-laki yang dimaksud oleh Hinata.

Kegiatan uji nyali yang Sakura katakan berawal dari Kiba yang sedang membicarakan salah satu tujuh misteri sekolah Konoha-Gakuen. Shikamaru dan Sasuke yang sudah biasa berkumpul bersama hanya mendengarkan tanpa minat. Saat Kiba mengajukan untuk mengadakan uji nyali, Sakura tidak sengaja mendengarnya saat tengah memesan makanan.

Sakura yang menyukai Sasuke sudah berkhayal jika saat melakukan uji nyali gadis itu bisa memeluk Sasuke dengan alasan takut. Suka dengan khayalannya, Sakura segera bergabung dengan tiga remaja itu dan meminta ikut serta.

"Cermin es?" Tenten mengulang salah satu ucapan Sakura.

Saat ini mereka bertiga sedang dalam perjalanan pulang sekolah. Sakura mengangguk penuh semangat lalu mulai menceritakan salah satu tujuh misteri sekolah Konoha.

"Cermin es berada di dinding menuju lantai tiga di mana kelas tiga berada. Banyak kabar yang beredar bahwa dulu pernah ada seorang siswa yang mati mengenaskan dengan seluruh tubuhnya membeku." Tenten yang mendengarkan menugak ludah gugup.

"Saat tengah malam siswa itu terpaksa mengambil barangnya yang tertinggal. Sekolah yang sepi dan gelap, serta lorong sunyi cukup membuat siswa itu merinding. Dia segera berlari menaiki tangga untuk segera sampai di kelasnya. Saat dia melihat cermin besar yang menggantung di dinding, siswa itu tiba-tiba saja tidak bisa bergerak." Sakura menghentikan langkahnya membuat Tenten dan Hinata ikut berhenti dan menatap gadis merah muda itu.

"Udara berubah dingin, dari pantulan kaca yang seharusnya memantulkan pelajar laki-laki itu. Tiba-tiba saja muncul telapak tangan seseorang dan mengarah pada leher siswa tersebut." Sakura memberi jeda sejenak yang justru membuat Tenten penasaran. "Tangan yang dingin melebihi es dan pucat seperti salju itu melingkar di leher sang siswa serta menekannya. Suara samar-samar juga terdengar, suara itu berbisik 'darah... aku ingin darah...' terus seperti itu."

"Sudah hentikan kau membuatku takut Sakura!" seru Tenten tiba-tiba dan segera bersembunyi di belakang Hinata.

Sakura terkikik geli, "Ayolah cerita itu hanya mitos atau malah dongeng yang dibuat-buat agar tidak ada murid yang berani datang ke sekolah malam-malam."

"Tenten-chan apa sebaiknya kita tidak usah pergi?" tanya Hinata cemas yang langsung membuat Sakura membulatkan matanya.

"Tu-tunggu dulu, jangan sampai kalian tidak jadi ikut. Aku mengajak kalian agar bisa berpasang-pasangan. Aku ingin berpasangan dengan Sasuke!" Sakura mulai merengek manja pada kedua temannya.

Tenten mendengus sebal lalu menempeleng kepala Sakura membuat si empunya mengerucutkan bibirnya. "Kau itu selalu saja membicarakan bocah Uchiha itu. Apa kau tidak bosan? Aku yang mendengarnya saja hampir mati kebosanan."

"Itu karena kau tidak punya perasaan apa-apa terhadap Sasuke!"

"Lalu apa kau akan senang jika aku juga mempunyai perasaan terhadap anak Uchiha itu?"

"Tentu saja tidak!"

Hinata mulai tertawa gugup melihat kedua temannya kembali bertengkar. Gadis indigo itu hanya bisa pasrah dengan posisinya sebagai penengah untuk kedua temannya. Hinata menolehkan kepalanya saat ia baru menyadari bahwa mereka bertiga akan melewati taman dimana Hinata bertemu dengan pemuda misterius itu.

Hinata mulai mengingat kembali pertemuannya dengan pemuda itu. Pemuda pirang dengan mata birunya yang indah namun menyembunyikan banyak hal.

aku paling benci dengan perempuan murahan seperti kalian

Hinata menghentikan langkahnya saat ingatan itu terlintas di kepalanya. Tatapan dingin dan kosong itu, Hinata yakin dia mengenali tatapan itu. Namun sama halnya dengan mimpi yang ia alami tadi pagi, dia tidak bisa mengingatnya.

Hinata mengerang pelan, frustasi dengan segala hal yang membuatnya tak mengerti. Hinata menolehkan kepalanya ke arah taman, berharap sosok pemuda itu melintas dan membuatnya mendapat kesempatan untuk bertanya lebih jauh. Tentang apakah mereka saling mengenal satu sama lain.

...

Naruto mengacak-acak rambut pirangnya frustasi. Di depannya sesosok rubah merah dengan sembilan ekor tengah menikmati secangkir sake di tangannya. Mereka berdua berada di ruangan serba coklat dengan kesan kuno melekat kuat dalam arsitekturnya. Pemuda pirang itu dikelilingi anak-anak rubah yang bermain-main dengan semangatnya.

Naruto tidak mempedulikan para anak rubah yang mencoba mendapatkan perhatiannya. Saat ini mata birunya fokus menatap siluman rubah di depannya. Ah, mungkin kata 'siluman' terdengar tidak pantas untuk rubah tua di depannya. Meski dia adalah siluman namun kini rubah di depannya memiliki status tinggi.

"Aku tidak mau menjadi familiar selanjutnya, Jii-chan." Naruto mengucapkan kalimat yang sama untuk yang kesekian kalinya.

Kurama, rubah tua itu membuka sebelah matanya. Cucu satu-satunya ini memang sangat keras kepala jika sudah menyangkut hal ini. "Kau itu satu-satunya pewaris familiar Tsunade-sama."

Naruto berdecak sebal, "Aku tidak ingin mengabdi pada nenek tua cerewet sepertinya."

Duagh!

"Ittai! Apa yang kau lakukan kakek tua?!" Naruto mengelus kepalanya yang kena lemparan cangkir dari Kurama.

"Jaga bicaramu Naruto! Tsunade-sama adalah dewi kesembuhan dan dia yang menjaga daerah Konoha ini!" Kurama mulai geram dengan sikap cucunya. Dia tidak habis pikir dengan sikap Naruto, seingatnya dulu cucunya ini selalu ingin menjadi sepertinya.

"Aku tahu itu, kau tidak perlu mengucapkannya berulang kali." Naruto menghela nafas jengah, dia sama sekali tidak ingin menjadi familliar Tsunade. Bukan berarti dia membenci dewi kesembuhan itu, hanya saja dia tidak ingin terikat.

Kali ini Kurama yang menghela nafas panjang. "Kenapa kau masih tidak ingin menerimanya, Naruto?"

Pemuda pirang itu tak lekas menjawab, enggan lebih tepatnya. Mereka sudah membahas hal ini sejak ribuan tahun yang lalu. "Kenapa jii-chan ingin sekali turun tahta? Apa karena kau sudah tua membuatmu jadi mudah letih?" tanya Naruto setengah sarkastik.

Kurama berdecak kesal, "Agar kau melupakan gadis itu dan mencari calon istri secepatnya."

Naruto kini bergeming mendengar perkataan kakeknya. Kurama memperhatikan dalam diam gerak gerik cucu kesayangannya. Sudah lebih dari tiga ribu tahun sejak perempuan itu meninggal dan Kurama tahu betul bahwa cucunya masih belum bisa melupakan gadis itu.

"Yokai dan manusia tidak bisa bersatu, kau tahu itu Naruto." Kurama mulai berujar tegas, mata merahnya berpedar terang. "Kematian gadis itu memperkuat segalanya dan kau harus bisa menerima—OI NARUTO!"

Pemuda pirang itu beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja tanpa mempedulikan kakeknya yang berseru memanggil namanya. Naruto mengepalkan kedua tangannya, dia pergi meninggalkan rumahnya yang berupa pondok yang dikelilingi danau buatan dan bebatuan serta hutan asri di belakangnya. Naruto mulai melompati batang-batang pohon lebat yang mengarah ke hutan dan dunia tempat manusia berada.

Sesampainya dia di dunia manusia, Naruto terus berlari menuju kuil di atas bukit. Nafasnya terengah-engah dengan sesak di dadanya yang membuatnya jatuh terduduk begitu ia sampai di kuil. Perkataan kakeknya membuat darahnya mendidih dan emosinya jadi tidak stabil.

Naruto mengadahkan kepalanya menatap langit sore dengan matahari berada di perbatasan, siap untuk tenggelam kapan saja. Mata birunya bergetar dan terkadang berubah menjadi merah sebelum kembali menjadi biru safir. Naruto memejamkan matanya, ekspresi menahan perih kembali hadir di wajah tampannya. Ingatan saat hujan turun dan bulan purnama bersinar indah kembali hadir dalam benaknya.

.

.

.

Tangan yang dingin dengan wajah pucat pasi. Kimono selembut sutra dengan hiasan bunga anggrek yang indah. Gadis yang terbaring lemas dalam pelukannya serta senyum getir yang ia berikan. Naruto mencium kening perempuan yang ia cintai dengan lembut. Berusaha memberitahukan perasaannya lewat kecupan yang ia berikan.

"Naruto-kun... maafkan aku..." ujar gadis dengan rambut indigo yang tergerai panjang. Jemari lentiknya mengusap lembut pipi Naruto yang basah karena air mata si pemuda pirang.

Digenggamnya tangan yang lebih kecil darinya. Ingatan tentang janji yang mereka berdua buat hadir membuat hati Naruto semakin perih.

"Ja-jangan menangis Na-Naruto-kun..."

"Hinata..."

Senyum damai penuh ketulusan hadir di wajah cantik gadis bermata lavender sebelum menutup sepenuhnya. "Aku bahagia... mengenalmu... Naruto-k..u..n..."

Naruto melebarkan matanya, diguncangnya tubuh mungil sang gadis dan memanggil namanya berulang kali. "Hinata... Hinata! Hinata!" terus memanggilnya, berharap si gadis bulan kembali membuka mata dan tersenyum seperti biasa.

Isak tangis yang berubah raungan, hujan yang mulai melebat seakan turut bersedih. Bulan purnama juga tertutup awan hitam, menutupi sinar terangnya dan hanya memberikan kegelapan.

.

.

.

Kelopak mata itu terbuka dan terarah menuju sebuah taman yang terlihat dari kejauhan. Ingatan saat ia bertemu lagi dengan perempuan yang ia cintai hadir membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Kematian gadis itu memperkuat segalanya!

Mata biru itu menyipit dan semakin terlihat sayu, "Lantas apa yang ingin diperjelas takdir dengan membuatmu terlahir kembali, Hinata?"

.

.

.

To Be Continue...

AN/ Terima kasih untuk yang sudah me-review, follow and fav. Bagaimana, apa di chapter ini kebingungan kalian terobati? Apa di chapter ini sudah sedikit memperjelas? Aku sengaja membuat chapter lalu tidak terlalu jelas untuk membuat kalian penasaran. Tee hee~ *kelilipan*

Dan sejujurnya aku rada bingung, kenapa kebanyakan pada mengira kalau Naruto itu vampire? Padahal aku kan sudah kasih petunjuk di chapter dua lewat Gaara *seret Gaara* apa di sini ada yang belum tahu karase-tengu?

Karase-tengu itu adalah yokai menyerupai manusia yang memakai baju zirah dan sayap hitam khas gagak ^^. Kalau ada reader yang belum atau jarang baca tentang yokai. Nanti kedepannya akan aku beri penjelasan para yokai yang muncul dalam cerita.

Sekali lagi terima kasih sudah mau mampir dan RnR~