Author: Cocoa2795.

Ranting: T.

Genre: Supranatural, Hurt/Family, Romance.

Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto, saya mah cuma pinjam Chara doang. Dan minjem ide Shirabyoushi dari Kumagai Kyoko-sensei.

Warning: Typo, OOC.


Chapter 5 : Di bawah Bulan Purnama.

.

.

.

Sepasang lavender menatap penuh penasaran pada sosok di depannya. Sosok anak kecil dengan rambut hitam dan mata biru. Anak kecil itu duduk di bawah pohon rindang, sendirian dan tampak kesepian. Gadis kecil dengan rambut biru malam, mulai melangkahkan kakinya menuju anak laki-laki misterius itu. Namun baru sampai langkah ketiga, seseorang menepuk bahu dan menahan langkahnya.

"Kaa-sama?"

Wanita muda dengan rambut serupa dengan gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. Istri dari Hyuuga Hiashi berjongkok lalu memeluk putri kecilnya.

"Dia bukan manusia, Hinata-chan."

Hinata memiringkan kepalanya, "Apa dia arwah?"

"Ingatlah baik-baik, Hinata-chan. Di antara para arwah, mereka yang bisa menyentuhmu... adalah yang paling berbahaya."

.

.

.

Bruk!

Rasa sakit yang Hinata kira siap ia tanggung, ternyata tak pernah datang. Gadis berumur lima belas tahun itu membuka kedua matanya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Bola mata lavender itu memantulkan sosok yang tidak ia kenali.

Sosok laki-laki dengan topeng rubah serta memakai jubah berwarna putih dengan kobaran api di pinggirnya. "Si-siapa?" Hinata bertanya pelan.

Sosok misterius itu menatapnya, topeng yang ia kenakan membuat Hinata tidak tahu seperti apa wajahnya. Namun ada satu hal yang Hinata tahu, ia kenal dengan rasa hangat dan kenyamanan dari pelukan pemuda ini.

Dengan hati-hati, pemuda misterius itu menyenderkan punggung Hinata di dinding. Lalu mengalihkan tatapannya pada Kiba. Remaja yang dirasuki oleh sesuatu yang tidak dikenal itu membalikkan badannya.

Tatapan dingin kembali hadir di mata coklat Kiba, "Siapa kamu? Jangan mengganggu!" Kiba melemparkan sesuatu dari balik jaketnya.

Pemuda itu mengadahkan kepalanya saat dari atas, ribuan hujan jarum siap menikamnya tanpa ampun. Dalam sekali hentakan, ia melompat tinggi lalu mengibaskan tangan kanannya. Sapuan angin kuat membuat laju jarum-jarum terhenti lalu berbalik arah hingga menancam pada dinding-dinding di sekitar.

Tenten menatap kejadian di depannya tidak percaya. Kiba melompat mundur saat sosok itu mendarat di depannya. Tangan kanan ia kibaskan, lalu entah darimana jarum-jarum kembali muncul di sela-sela jarinya.

"Jangan mengganggu rubah kecil, atau kau akan ku bunuh!"

Keheningan menjawab ancaman Kiba. Tatapan dingin dan tajam seolah tak berarti bagi si pemakai topeng rubah. Pemuda itu hanya lurus menatap ke arah Kiba tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Badan Kiba menegang saat pemuda itu mengangkat tangan kanannya.

"Lupakan gadis itu, tidak akan ku biarkan kau menyentuhnya walau seujung jari pun." Suara berat dan sedikit serak menjadi pemecah dalam keheningan.

Telapak tangan yang terulur ke arah Kiba, dengan perlahan, aura mengerikan menguar dari seluruh tubuh pemuda misterius itu. Rasa takut serta was-was mulai muncul hingga membuat Kiba tanpa sadar melangkah mundur.

Aura yang berwarna orange bercampur dengan gumpalan merah darah serta tekanan penuh intimidasi, membuat Kiba sadar. Bahwa sosok di depannya tidak main-main dengan ucapannya. Peluh mulai turun membasahi kening Kiba, lalu tiba-tiba saja remaja rambut coklat itu tertawa kecil.

Tenten mengernyitkan alisnya, ia tidak mengerti kenapa Kiba tertawa. Namun mata coklatnya membulat tidak percaya dengan apa yang ia dengar setelahnya.

"Siluman sepertimu, melindungi seorang manusia? kau sedang bercanda?" Sosok itu tidak bergeming, ia tetap menatap lurus sampai tawa Kiba memudar dengan rasa pahit di ujungnya. "Maaf saja, kau bercanda ataupun tidak. Jika kau menghalangi, kau akan ku bunuh!" usai mengatakan hal itu, Kiba berlari menyerang sosok misterius di depannya.

Sosok dengan topeng rubah mengayunkan kedua tangannya, dalam sekali hentakan dia berhasil membuat Kiba berputar seratus delapan puluh derajat lalu jatuh tersungkur. Desisan terdengar dari Kiba lalu berubah menjadi erangan saat lehernya dicekik oleh lawannya.

"Kau masih ingin membunuhku?" tanya sosok itu dengan nada rendahnya. Kiba menggeram pelan, berulang kali ia mencoba untuk melepaskan tangan yang mencekiknya. Paru-parunya mulai terasa terbakar dan sesak luar biasa.

Tenten yang melihatnya dapat merasakan kecemasan dan kepanikkan mulai melandanya. Tubuhnya masih belum bisa bergerak akibat jarum-jarum sialan itu menutup sarafnya. Kiba terbatuk keras, wajahnya mulai berubah pucat. Jika seperti ini terus, Kiba bisa mati ditangan pemuda misterius itu.

Senyum kemenangan terukir dari balik topeng rubah, saat pemiliknya melihat kepulan asap keluar dari kepala Kiba. Tenten melebarkan mata coklatnya, sosok yang telah memperdaya Kiba dan teman-temannya. Ternyata seorang gadis cantik dengan yukata berwarna putih polos bercorak bunga anggrek. Rambut hitam panjang serta kulit seputih salju dengan raut tenang, semakin memperlihatkan kecantikannya. Tenten tidak bisa untuk tidak menganggumi paras arwah di depannya. Siapa yang menyangka, bahwa youkai yang menyerang mereka memiliki aura lembut dan anggun sepertinya.

Remaja dengan jubah putih itu melepaskan cengkramannya dari Kiba yang kini tak sadarkan diri. Mereka berdua saling adu tatap, sampai Remaja misterius itu membuka suara. "Heh~ kau cukup cantik untuk seorang pria, youkai-san."

Mata bulat Tenten melebar begitu mendengar ucapan si rubah. 'Pria? Dia laki-laki?!' batin Tenten berseru keras, tidak percaya dengan apa yang ia lihat atau yang ia dengar.

"Namaku Haku, suatu kehormatan untuk bertemu dengan cucu kurama-sama." Haku menunduk hormat namun Tenten dapat merasakannya. Aura yang menguar dari arwah itu, berbahaya.

Pemuda itu tampak bergeming, "Bagaimana kau tahu?"

"Siapa yang tidak mengenal cucu dari siluman rubah ekor sembilan, terumata jika dia adalah fa—"

"Hentikan." Tenten dan Haku dapat merasakan aura yang dipancarkan pemuda itu. Aura yang mengerikan dengan tekanan kuat hingga mampu membuat siapapun mundur ketakutan. "kalau kau sudah tahu, jauhi dia."

Untuk beberapa saat, keheningan kembali melanda mereka. Haku menggeleng pelan, lalu bersamaan dengan tubuhnya yang mulai menghilang. Laki-laki muda itu memberikan mereka peringatan.

"Maaf saja, tapi aku tidak bisa. Sampaikan pada Hime-sama, lusa aku akan menunggunya. Jika dia tidak datang." Haku memberi jeda sejenak, matanya menyipit tajam. "Aku akan mengambil salah satu dari kalian secara paksa."

"Ceh! Jangan pikir kau bisa kabur!" Naruto berseru, lalu mengayunkan cakar tajamnya. Namun sayang, Haku sudah lebih dulu lenyap dari hadapan mereka. Pemuda itu berdecak lalu berbalik dan menuruni tangga.

Tenten yang akhirnya bisa menggerakkan badannya, segera berlari mengejar remaja yang baru ia sadari memiliki rambut pirang. Naruto menghampiri Hinata yang masih pingsan, dengan hati-hati dan lembut, ia menggendongnya bridestyle.

"Tunggu sebentar! Apa yang mau kau lakukan pada Hinata? Turunkan dia sekarang!"

Naruto menghentikan langkahnya, lalu berbalik untuk menatap Tenten. Di kedua tangan gadis itu sudah tersedia kertas-kertas jimat yang siap ia lemparkan pada Naruto. "Tenang saja, aku hanya mengantarnya pulang."

Tenten berdecak kesal, "kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu?!" serunya sengit. Tenten tidak akan membiarkan Hinata dibawa pergi olehnya. Jujur saja, hari ini dia merasa sangat malu dengan apa yang sudah terjadi. Jika siluman rubah di depannya ini tidak datang, Hinata pasti sudah... Tenten menggelengkan kepalanya cepat-cepat. 'Di tolong oleh siluman, itu adalah penghinaan terbesar bagi seorang onmyouji!'

"Kau dengar kata-kataku, turunkan Hinata sekarang!"

Naruto tetap diam di tempatnya. Rasa enggan untuk melepaskan sang gadis kian membuncah. Dalam hati, Naruto mengumpat dengan keputusannya untuk datang kemari. kalau saja dia tidak mengikuti ego serta mendengarkan saran Gaara. Saat ini pasti, dia tidak akan bergelut dengan dua perasaan di hatinya.

.

.

.

Bulan purnama sudah berada di atas langit. Malam yang panjang baru saja mulai dengan semilir angin musim dingin. Walau sebentar lagi memasuki musim semi, dinginnya malam tak kunjung berubah. Sembari menatap sang pelita malam, Naruto bersandar di bawah pohon rindang. Tatapan matanya seperti biasa memancarkan kekosongan. Terus seperti itu, sampai tepukan di bahu membuyarkan lamunannya.

"Di sini kau rupanya."

Iris biru safir bertemu dengan hijau pudar yang menatapnya teduh. Naruto tersenyum kecil lalu menyapa teman sejak kecilnya. Gaara mengambil tempat di sebelah Naruto lalu ikut memandang bulan purnama. Kini keheningan menyelimuti mereka dengan suasana tenang dan damai.

"Hei Naruto, boleh aku bertanya? Dan aku harap kau menjawabnya jujur." Gaara memecahkan keheningan, tanpa mengalihkan tatapannya. Suara gumaman dari temannya, ia anggap sebagai jawaban ya. "Apa kau... masih memikirkan gadis itu?"

Gaara menoleh ke arah Naruto saat temannya tak kunjung menjawab. Cucu dari Kurama itu, kini tengah tersenyum samar pada sang rembulan. Ah... Gaara sudah tahu jawabannya tanpa harus menunggu yang bersangkutan menjawab.

"Aku ini benar-benar bodoh, persis seperti yang jii-chan katakan." Gaara segera menatap Naruto ketika pemuda itu bertutur pelan. "Seribu tahun, aku mencoba melupakannya setelah kau menghajarku. Aku mencoba untuk menjalani hidupku seperti biasanya. Tapi siapa yang menyangka semua itu percuma begitu kau kembali melihatnya." Naruto membuang napasnya kuat-kuat, seakan dengan begitu penat di dada bisa hilang setengahnya.

Gaara mengernyit tak mengerti, "Kembali melihatnya? Apa maksudmu Naruto?"

Naruto menoleh ke arah Gaara dengan tatapan lembut serta penuh cahaya di sana. "Dia kembali, Gaara. Hinata... dia kembali." Gaara melebarkan matanya tidak percaya. Naruto kembali menatap bulan, kali ini cahaya di biru safir miliknya meredup. "Hei Gaara, menurutmu apa yang diinginkan takdir dengan membawa Hinata hidup kembali?"

Gaara memperhatikan temannya yang sudah tumbuh besar bersamanya. Ingatan seorang gadis cantik dengan kimono biru gelap serta senyum malu-malu yang ia ulas, hadir dalam benaknya. lalu ingatan seorang gadis remaja yang ia lihat di taman saat mencari Naruto. Gaara tersenyum samar, pantas rasanya ia pernah melihat manusia itu, ternyata dia adalah Hinata. Gadis yang dulu merupakan kekasih sahabatnya yang telah lama meninggal.

"Maaf Naruto, aku tidak tahu jawabannya."

"Hahaha... kau tidak perlu minta maaf. Lagi pula, aku sudah memutuskan untuk tidak akan menemuinya lagi." Pernyataan Naruto membuat Gaara menoleh cepat.

"Kau yakin Naruto?"

Pemuda dengan rambut pirang itu menyengir lebar, "Aku tidak mau membuatmu khawatir terus, Gaara." Naruto merenggangkan otot lengannya sebelum berbaring dengan beralaskan rumput. Ia menjadikan kedua lengannya sebagai bantal lalu tersenyum tipis menatap langit malam penuh bintang. "Lagi pula, Hinata yang terlahir kembali sebagai manusia, seakan menjadi peringatan keras dari dewa. Bahwa sampai kapan pun, kami tidak mungkin bersatu."

Pemuda dengan rambut merah itu tidak tahu harus mengatakan apa di saat seperti ini. Iris hijau pudarnya hanya bisa menatap Naruto yang kini melihat langit dengan tatapan yang sulit ia artikan.

Degh...

Gaara sedikit terlonjak saat Naruto tiba-tiba beranjak duduk. Remaja dengan rambut pirang itu terlihat tegang dan wajahnya berubah pucat. Gaara yang semula ingin bertanya, mengurungkan niatnya begitu samar-samar ia merasakan aura jahat. Keduanya lalu segera berlari menuju asal aura yang terasa mengerikan itu. Saat mereka berdua sampai di bukit tempat kuil rubah merah berada. Naruto mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Gaara menyipitkan matanya saat dari kejauhan ia melihat kabut berwarna hitam mengelilingi sebuah sekolah. "Hinata..." suara Naruto yang berada di sampingnya membuatnya menoleh dan terkejut saat dilihatnya wajah sahabatnya berubah.

Mata biru safir yang selalu menjadi ciri khas Naruto, tidak terlihat di manapun. Warna merah serupa batu ruby kini menggantikannya, serta kedua taringnya menyembul sedikit dari sela-sela bibirnya. Sosok Naruto yang sekarang, menunjukkan bahwa emosi pemuda itu sedang tidak stabil. Gaara buru-buru menahan pundak sahabatnya.

"Naruto, tenanglah!"

"Hinata... dia ada di sana Gaara!"

"Kalaupun dia ada di sana, kau jangan mendatanginya!" Perkataan Gaara menarik perhatian Naruto. Remaja pirang itu menyipitkan matanya, "Apa maksudmu? Kenapa aku tidak boleh mendatanginya? Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada Hinata?!"

Gaara menghela nafas lelah, "Kau sendiri yang bilang, kalau kau tidak akan menemuinya lagi." Naruto bergeming begitu mendengarnya. Dia memang sudah bertekad untuk tidak akan menemui Hinata, bukankah dia sampai bersikap brengsek agar Hinata membencinya. Jika dia datang, maka tidak akan ada yang berubah.

Pemuda dengan rambut merah itu bernafas lega begitu Naruto tenang. Mata hijau pudarnya kini beralih ke arah sekolah yang berjarak tak jauh dari tempat mereka berpijak. Kedua alisnya menukik tajam, tidak suka melihat ada youkai yang mencari masalah di daerah kekuasaan Kurama.

"Naruto, kita harus kembali dan melaporkan kejadian ini kepada Kurama-sama." Gaara segera berbalik namun berhenti melangkah saat Naruto tidak mengikuti langkahnya. "Naruto."

"Maaf Gaara... tapi, aku tidak bisa tinggal diam!" usai berkata seperti itu, Naruto segera berlari melompati atap-atap rumah, meninggalkan Gaara yang berseru memanggil namanya.

"NARUTO!"

.

.

.

"Aku akan mengantarnya dengan selamat, kau tenang saja."

"Kau dengar kata-kataku tidak?! turunkan Hinata dan jauhi dia!"

Naruto masih bersikeras untuk tidak melepaskan pelukannya dari Hinata yang tertidur dalam gendongannya. Wajah gadis keturunan China itu sudah memerah menahan amarah. Merasa percuma berbicara, Tenten melemparkan tiga lembar kertas yang dengan mudahnya dimusnahkan Naruto.

"Ukh..."

"Menyerah saja dan biarkan aku mengantar gadis ini."

Tenten mendengus kasar, "Tidak akan aku biarkan!"

Naruto menghela nafas lelah, tidak mengerti kenapa gadis di depannya ini sangat keras kepala. Bukankah dia melihatnya menolong Hinata serta menggertak mundur youkai tadi. Seharusnya itu sudah cukup untuk membuatnya mengerti dan membiarkannya mengantar Hinata. Toh dia tahu dimana letak rumah gadis dalam dekapannya.

"Aku tidak akan melukainya, gadis ini adalah orang yang berharga untukku. Jadi kau tidak perlu khawatir."

Tenten menurunkan alisnya, perkataan siluman di depannya semakin membuatnya tidak mengerti. "Apa maksudmu dengan 'orang yang berharga'? Tenten bertanya dengan nada rendah dan berbahaya.

"Kau tidak mengerti arti berharga? Ck payah sekali, berharga itu—"

"BUKAN ITU YANG AKU MAKSUD YOUKAI MESUM!"

"Hei aku tidak mesum!"

Tenten menggeram pelan, tidak mengerti dengan jalan pikir siluman di depannya. Naruto kembali menghela nafas lelah.

"Seperti yang kau tahu, berharga. Gadis ini adalah manusia berharga bagiku. Tapi tenang saja aku tidak akan menemuinya lagi setelah ini, mungkin." Naruto tersenyum samar sambil memandangi wajah Hinata yang tertidur. Selama gadis ini tidak dalam bahaya, Naruto tidak akan menemuinya. Dia tidak akan menemui dan hadir kembali dalam hidup Hinata.

Tenten menghela nafas, ia menyerah dan memasukkan kembali kertas-kertas jimatnya. "Kali ini saja, aku akan membiarkannya." Naruto menatap Tenten yang tengah mengeluarkan tiga shikigami*. Tenten melirik tajam ke arahnya, "Tapi jangan berharap kau bisa pergi tanpa salah satu shikigami milikku!"

"Baik baik, aku mengerti nona onmyouji."

Tenten kembali mengeluarkan satu shikigaminya, seekor monster kecil menyerupai peri bunga muncul dari balik asap. Shikigami kecil itu terbang mendekati Hinata lalu bersembunyi di belakang telinga gadis cantik itu. Naruto segera melompat keluar dari kaca jendela, meninggalkan Tenten bersama dengan tiga shikigami serta empat temannya yang masih pingsan.

...

Naruto menapaki beranda rumah kediaman Hyuuga tanpa mengeluarkan suara dan hawa keberadaannya sedikitpun. Pelan-pelan remaja pirang itu merebahkan Hinata di atas futon lalu menyelimutinya hingga di atas dada. Shikigami yang terus bersembunyi di dekat Hinata, kembali menjadi kertas begitu Hinata sampai di kamarnya.

Naruto duduk bersila di samping Hinata, mata birunya menatap lekat serta menusuri setiap sudut wajah Hinata. Naruto mengulas senyum lembut dan hangat dengan semburat merah di wajahnya. Melihat gadis itu tidur dengan lelap membuatnya mengingat masa lalu.

Tangan kanannya terangkat lalu mengusap lembut pipi Hinata yang putih bersih. Bibirnya yang pucat terbuka untuk menyenandungkan sebait lagu.

"Tsutaete okure waga koi wo... (Tuk sampaikan cintaku dirimu...)"

Iris biru safir bergetar bersamaan gemuruh di dada yang menyesakkan hati. Naruto mendekatkan dirinya, lalu mengecup lembut dan penuh hayat. Berharap dalam satu kecupan di kening, mampu menyampaikan segala sesak akan rindu serta doa yang tak pernah henti ia panjatkan untuknya.

"Meski kita tidak akan pernah bersatu, setidaknya... izinkan aku untuk selalu melindungimu. Hinata..."

.

.

.

To Be Continue...

AN/ terima kasih untuk yang sudah Review, fav, dan follow. Thanks juga buat para guest. Bagaimana? Akhirnya di chapter ini ada scene manis Naruto dan Hinata :3 meski di ending dan kurang nyes banget hehe. Kedepannya aku usahakan scene manis-manis buat NaruHina diperbanyak.

See next chapter desu~