Author: Cocoa2795.

Ranting: T.

Genre: Supranatural, Hurt/Family, Romance.

Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto, saya mah cuma pinjam Chara doang. Dan minjem ide Shirabyoushi dari Kumagai Kyoko-sensei.

Warning: Typo, OOC.


Chapter 6 : Perasaan dan Kutukan.

.

.

.

"Nee-sama... bangunlah! Nee-sama!"

Hinata membuka kedua matanya begitu suara Hanabi terdengar. Pemilik rambut panjang dengan potongan himestyle itu beranjak duduk. Di sampingnya, Hanabi Hyuuga menatapnya cemas. Hari ini, tidak biasanya kakak perempuannya bangun terlambat. Kecemasannya semakin menjadi begitu melihat Hinata melamun.

"Nee-sama, kau baik-baik saja?"

Hinata terlonjak pelan, "Ah! i-iya, aku baik-baik saja Hanabi." Tanpa membiarkan Hanabi bertanya lebih lanjut. Hinata segera beranjak dari futon, lalu berlari kecil menuju kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.

Suara pintu kamar mandi yang tertutup terdengar pelan. Hinata menyenderkan punggungnya pada pintu dengan tatapan menerawang. Salah satu tangannya terangkat dan menyentuh keningnya. Semalam, dalam tidurnya Hinata merasakan sesuatu, atau mungkin seseorang menyentuh keningnya. Sebuah perasaan lembut serta hangat membuat jantung pewaris Hyuuga itu berdetak cepat.

"Sebenarnya... apa yang terjadi...?"

Hinata mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi semalam. Seingatnya, semalam teman-temannya dikendalikan, Shikamaru mencekik serta melemparnya dari atas tangga. Lalu setelah itu...

Hinata melebarkan matanya saat sesosok pemuda dengan topeng rubah hadir dalam ingatannya. Debaran jantung yang semula sudah berdetak cepat, justru kini semakin menggila. Hinata menangkupkan wajahnya yang sudah merah padam.

"Ke-ke-ke-kenapa a-aku berdebar se-seperti ini?!" Hinata yang panik sendiri tanpa sadar berjalan kesana kemari dan tidak sengaja menginjak sabun mandi yang tergeletak manis di lantai. Alhasil suara keras terdengar disusul teriakan putri sulung Hiashi Hyuuga.

...

Tenten mengerjapkan matanya serta fokus menatap pada sebuah benjolan di belakang kepala Hinata. Baru saja Tenten hendak menyapa sahabatnya sebelum dibuat terkejut oleh benjolan besar berwarna merah muda itu.

"Hi-Hinata... kau baik-baik saja?"

Gadis dengan mata lavender itu tersenyum malu, "Sedikit... hehehe..."

"Uwa! Ada apa dengan kepalamu Hinata?!" Kiba yang juga baru datang, segera berlari menghampiri Hinata dan menatapnya khawatir.

"Maa... sedikit kecelakaan, aku rasa?"

Kiba menggelengkan kepalanya mendengar jawaban gadis indigo itu. "Kau harus lebih berhati-hati Hinata," ujar Kiba yang dibalas anggukan pelan dengan senyum tipis oleh Hinata. "Haa... baru juga jam pertama, kita sudah harus belajar matematika. Kepalaku bisa mendidih!" keluh Kiba sembari menuju tempat duduknya.

Pemilik mata lavender itu mengerjap beberapa kali saat melihat Kiba bersikap biasa-biasa saja. Seharusnya, remaja laki-laki itu datang dengan kehebohan akibat kejadian semalam. Kiba yang menyukai cerita ataupun fenomena tentang youkai, seharusnya sudah berisik menceritakan kejadian semalam. Hinata segera menolehkan kepalanya untuk menatap Tenten yang duduk di sebelahnya.

Merasa ditatap seseorang, Tenten menolehkan kepalanya. Tahu maksud dari tatapan Hinata, gadis dengan rambut coklat itu tersenyum tipis dan berbisik pelan. "Akan aku jelaskan saat istirahat nanti."

.

.

.

"Eh, Neji-nii-san datang menolong semalam?" Tenten tersenyum tipis, menanggapi Hinata. Saat ini Hinata, Tenten dan Neji berada di atas atap. Jam istirahat sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu.

"Maafkan saya Hinata-sama, karena semalam saya datang terlambat." Neji yang duduk berhadapan dengan Hinata, menunduk pelan. Melihat kakak sepupunya menunduk, membuat Hinata tak enak hati. Pewaris Hyuuga itu segera memohon pada Neji untuk tidak menunduk lagi.

"M-maa... tidak apa-apa, nii-san. Justru berkat nii-san, kami semua selamat, terimakasih." Setelah Neji mengangkat wajahnya Hinata kembali berucap. "Lalu, kenapa Kiba dan yang lain bersikap seperti biasa? Mereka seakan tidak mengingat kejadian semalam."

"Ah, itu karena aku menghapus ingatan mereka," ujar Tenten yang duduk di samping Neji.

"Eh, Tenten-chan kau bisa melakukannya?!"

"Tentu saja, hal seperti itu mudah sekali dilakukan!"

Hinata tertawa kecil melihat sikap Tenten yang tengah membanggakan kemampuannya. Mata lavender itu melirik pada Neji yang tengah menikmati makan siangnya. Jika apa yang dikatakan Tenten benar, bahwa semalam yang telah menolong mereka adalah Neji. Lalu siapa pemuda dengan topeng rubah yang datang sebelum ia pingsan?

"Neh~ apa yang menyelamatkanku saat jatuh dari tangga adalah nii-san?"

Tenten dan Neji saling pandang sebelum Neji menjawab, "Iya, memang kenapa Hinata-sama?"

"Ah ti-tidak ada apa-apa..."

Tenten menatap teman kecilnya yang kini sibuk dengan makan siangnya. Gadis dengan rambut coklat itu menyipitkan matanya, ada perasaan bersalah yang menelusup kedalam hatinya. Tenten melirik remaja laki-laki yang duduk di sampingnya, kemudian ia mengingat kembali apa yang terjadi semalam.

.

.

.

"Haku... aku belum pernah mendengar nama youkai seperti itu sebelumnya." Neji memasang pose berfikir sementara Tenten tengah rebahan di sampingnya.

Setelah menghapus ingatan keempat temannya serta menggunakan empat shikigami sekaligus. Tenten saat ini dilanda kelelahan yang luar biasa. Gadis remaja itu masih bersyukur ia bisa sampai ke rumah kediaman Hyuuga tanpa pingsan ditengah jalan.

"Uwa... aku lelah sekali, rasanya aku akan mati, Neji aku lelah!" Kakak sepupu dari Hinata Hyuuga itu menoleh menatap Tenten, sebelum raut wajahnya melembut.

"Kau baik-baik saja? Maaf karena sudah membuatmu menghadapi semuanya."

"Hahaha... tidak masalah Neji, ini sudah menjadi tugasku." Tenten memejamkan matanya saat tangan besar Neji membelai pelan anak-anak rambut yang menutupi keningnya. "Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi Haku dan youkai rubah?"

Neji bergumam pelan menjawab pertanyaan Tenten. Sejujurnya dia tidak tahu harus bagaimana sekarang, informasi yang ia miliki hampir tidak ada sama sekali. Jika ancaman yang diberikan Haku benar-benar akan ia lakukan, itu sangatlah berbahaya. Remaja dengan rambut coklat panjang itu menghela nafas frustasi. Tidak hanya Haku, youkai rubah yang Tenten ceritakan juga tak kalah membuat hatinya gusar.

Pemilik mata lavender itu menghembuskan nafas kuat-kuat, "Cucu dari Kurama... Kurama... rasa-rasanya aku pernah mendengar nama itu. Tapi sialnya aku tidak ingat dimana..."

Mata coklat Tenten memperhatikan Neji sesaat sebelum mengambil posisi bersila. Raut seriusnya tergurat jelas di sana bersama sirat keraguan. "Neh~ Neji," panggilnya menarik netra Neji ke arahnya. "Manusia dan youkai... bisakah mereka bersatu?"

Neji menyipitkan matanya, rahangnya seketika mengeras mendengar pertanyaan Tenten. "Tentu saja tidak. Manusia dan youkai bisa diibaratkan dengan bumi dan langit, kita sebagai manusia hidup di alam yang berbeda dengan mereka." Helaan nafas meluncur dari bibir tipis Neji sebelum kembali menatap Tenten yang menuduk. "Jangan lupa dengan apa yang sudah diajarkan para leluhur Hyuuga dan leluhurmu Tenten. Youkai itu hitam dan kita itu putih."

Tenten mengangguk pelan, "Aku tidak lupa Neji, hanya saja perkataan youkai rubah tadi membuatku penasaran. Kenapa dia menganggap Hinata sebagai manusia yang berharga baginya?"

"Entahlah, tapi bisa saja berharga yang ia maksud adalah menjadikan Hinata-sama sebagai alat untuk mencapai tujuannya." Neji kembali menghela nafas berat. "Aku akan mencari tahu tentang kedua youkai tersebut, dan aku harap kau jangan lagi mempercayakan keselamatan Hinata-sama kepada salah satu dari mereka." Teten tertawa gugup menanggapi tatapan serta kata-kata tajam Neji.

Tenten mengerjap beberapa kali saat sebuah ide terbesit dibenaknya. "Apa sebaiknya kita menanyakan langsung kepada Hinata tentang youkai rubah itu?"

"Jangan. Hal itu hanya akan membuat Hinata-sama penasaran dan mungkin dia akan berlari mencari rubah itu. Lebih baik besok jika Hinata-sama bertanya apa yang telah terjadi, kau katakan saja bahwa aku datang menolong." Tenten mengangguk mengerti lalu kembali merebahkan dirinya. Apa yang dikatakan Neji ada benarnya, lebih baik untuk sekarang Hinata tidak perlu diberitahu sebelum situasi mereka jelas.

...

Suara bel terdengar beberapa kali dari sebuah rumah bertingkat dua dengan plang nama, 'Uchiha.' Dari dalam rumah terdengar sebuah suara perempuan sebelum pintu terbuka. Kini di ambang pintu berdiri seorang wanita paruh baya dengan rambut serta mata hitam menatap empat sosok remaja di depannya.

"Ara... Sakura-chan dan yang lain."

Sakura, gadis yang tadi menekan bel rumah, tersenyum manis. Di belakangnya, Hinata menunduk sopan bersama dengan Neji serta Tenten. Mikoto, ibu dari Sasuke Uchiha tersenyum lembut dan mengajak teman anak bungsunya untuk masuk kedalam.

"Mikoto-san, bagaimana keadaan Sasuke-kun?" Sakura yang berdiri tak jauh dari Mikoto bertanya dengan raut cemas.

Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, namun sirat matanya tampak jelas menunjukkan kecemasan. "Setelah meminum obat yang dianjurkan dokter, panasnya sudah sedikit turun. Mungkin besok dia akan lebih baik."

Sakura menghembuskan nafas lega begitu mendengarnya, "Tenang saja Mikoto-san, Sasuke-kun pasti cepat sembuh!" Ibu dari dua anak itu tersenyum kecil dan mengucapkan terimakasih kepada keempat teman putranya karena sudah mau menjenguk anaknya. Setelah Sakura memberikan keranjang buah kepada Mikoto, wanita paruh baya itu mempersilahkan mereka berempat menuju ke lantai dua di mana kamar Sasuke berada. Keempatnya kini menaiki tangga menuju kamar anak bungsu keluarga Uchiha.

"Sakura-chan bagaimana kau tahu kalau Sasuke-kun sedang sakit?" Hinata yang berada di belakang Sakura bertanya pelan.

Tadi selepas jam istirahat, dengan tiba-tiba Sakura memeluknya sambil menangis dan meminta Hinata untuk menemaninya menjenguk Sasuke. Selain itu seingat Hinata, Sasuke berada di kelas 1-A sementara Tenten, Sakura dan Hinata berada di kelas 1-C. Jarak kelas mereka lumayan jauh tetapi teman merah mudanya ini, bisa tahu keadaan Sasuke dalam jangka waktu pendek.

"Dan aku juga ingin tahu kenapa kau selalu datang seperti meteor." Tenten yang berada di samping Hinata ikut menimpali ketika ia mengingat kebiasaan Sakura yang selalu muncul tiba-tiba dan berisik layaknya meteor.

Pemilik mata hijau itu menjulurkan lidah sebagai balasan kearah Tenten sebelum menjawab Hinata. "Aku pergi ke kantin dan hanya menemukan Kiba serta Shikamaru, lalu aku bertanya kepada mereka berdua. Selain itu biasanya Sasuke-kun berangkat sekolah duapuluh menit sebelum bel berbunyi, tapi aku sama sekali tidak melihatnya sejak setengah delapan pagi."

Tenten menatap Sakura tidak percaya, "kau itu... stalker Sakura?"

"Enak saja, aku mendapatkan informasi itu dengan bertanya langsung ke Mikoto-san!"

"Tetap saja itu tindakan penguntit, jidat lebar."

"Apa kau bilang?!"

Hinata menghela nafas dan tersenyum gugup, lagi-lagi ia harus melerai kedua temannya. "Te-teman-teman... tidak baik bertengkar saat menjenguk orang sakit." Dan seperti biasanya, Tenten serta Sakura membuang muka setelah puas saling melemparkan amarah mereka.

Hinata membuka pintu kamar Sasuke dengan pelan, takut kalau nanti ia tidak sengaja membangunkan temannya yang mungkin sedang tidur. Begitu mereka berempat masuk, sosok Sasuke yang tengah tertidur pulas di kasur menjadi pemandangan yang mereka lihat. Sakura berjalan mendekati Sasuke lalu berjongkok agar dapat memperhatikan pemuda itu lebih dekat.

Wajah Sasuke tampak pucat lebih dari biasanya, bibirnya juga kering serta peluh membasahi setiap sudut wajahnya. Dengan hati-hati Sakura mengambil handuk kecil di kening Sasuke lalu merendamnya kembali di ember dingin yang berada di sampingnya. Sepertinya tadi Mikoto tengah mengompres Sasuke ketika mereka berempat datang.

Erangan pelan terdengar sebelum pelindung mutiara malam itu terbuka. Sasuke menolehkan kepalanya saat merasakan sebuah tangan di keningnya. "Kaa-san...?"

Sasuke yang tiba-tiba bersuara membuat Sakura sedikit terlonjak kaget. Hinata segera menghampiri mereka berdua dan tersenyum tipis saat Sasuke melihatnya. "Sasuke-kun bagaimana keadaanmu?"

Pemuda dengan rambut hitam itu terlihat sedikit linglung sebelum tersadar sepenuhnya. "Ah, Hinata... seperti yang kau lihat, belum membaik."

Saat remaja laki-laki itu hendak bangkit dari tidurnya, Sakura dengan sigap menahan kedua bahu Sasuke. "Jangan bangun dulu Sasuke-kun!"

Mutiara Hitam Sasuke melirik tangan Sakura sebelum menatap mata gadis merah muda itu. Sepertinya dia baru menyadari keberadaan Sakura di sampingnya."Jangan sentuh aku!" ujarnya tiba-tiba sambil menepis tangan Sakura lalu memalingkan wajahnya.

Hinata, Tenten dan Neji mengernyit saat merasakan udara di ruangan mendadak turun. Pewaris Hyuuga itu menatap Sakura dan Sasuke bergantian, sepertinya ada sesuatu di antara mereka berdua. Sakura menunduk pelan, tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. keheningan yang terjadi tiba-tiba seakan menjadi penonton yang tengah menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.

"Kenapa kau kemari?" suara serak Sasuke memecahkan keheningan. Gadis dengan rambut merah muda itu menatap Sasuke hanya untuk bertemu dengan tatapan dingin dari pemuda itu. Sakura menelan ludahnya susah payah, seharusnya dia sudah terbiasa dengan tatapan yang laki-laki itu berikan.

"Aku dengar kalau Sasuke-kun sakit... karena itu aku datang untuk menjengukmu." Ingin rasanya gadis merah muda itu mengubur dirinya begitu sadar bahwa suaranya bergetar. "Apa... kehadiranku mengganggumu?"

"Kalau sudah tahu, pergilah."

Hinata kembali mengernyit begitu mendengar perkataan dingin Sasuke. Gadis muda itu sudah tahu dengan sifat Sasuke yang minim bicara, cuek dan selalu memberikan kesan dingin kepada orang-orang yang belum ia kenal baik. Tapi kali ini, cara bicara pemuda itu begitu tajam dan dingin hingga membuat Hinata menatapnya tak mengerti.

"A-ah... begitu..." Sakura beranjak dari duduknya, masih dengan wajah yang ia tekuk. "Kalau begitu aku pulang dulu, Sasuke-kun cepat sembuh ya..." Merasa Sasuke tidak akan menyahut, Sakura segera berjalan keluar meninggalkan ketiga temannya.

Hinata memperhatikan Sasuke beberapa saat sebelum meninggalkan kamar Sasuke untuk menyusul Sakura. Tenten dan Neji saling pandang sebelum berjalan menghampiri Sasuke yang kini kembali merebahkan dirinya.

"kau ini kenapa Sasuke? Dingin sekali terhadap Sakura, dia hanya ingin menjengukmu."

Sasuke berdecak sebal menanggapi ocehan Tenten, "Berisik, ini bukan urusanmu Tenten."

Gadis keturunan China itu mengerucutkan bibirnya tak senang. Memang benar ini semua tidak ada hubungannya dengan mereka. Apa masalahnya saja mereka tak tahu, tapi yang jelas Tenten tak suka dengan cara Sasuke memperlakukan Sakura. Tak ingin berlarut mendengar ocehan Tenten, Sasuke membalikkan badannya hingga menghadap dinding kamarnya.

Di luar kamar, Hinata berlari mengejar Sakura namun menghentikan langkahnya saat menemukan temannya tengah duduk di salah satu anak tangga. Sakura menenggelamkan wajahnya dilipatan lengannya. Hinata menghampirinya perlahan lalu duduk di samping Sakura dan membiarkan keheningan tetap terjaga.

"Aku tidak ingin seperti ini terus..." ujar Sakura pelan membuat Hinata menatapnya. Suara isakan terdengar pelan sebelum ia kembali berucap. "Kalau tahu seperti ini, aku akan menolak perjodohan ini... dan tetap menjadi teman masa kecilnya."

Hinata tersenyum samar, rasa-rasanya ia bisa menangkap apa masalah yang terjadi di antara mereka berdua. Pewaris Hyuuga itu mengusap punggung Sakura lembut, berharap dengan begitu perasaan temannya menjadi lebih baik.

"Aku menyukainya sejak dulu dan bodohnya, aku mengira kalau Sasuke juga memiliki perasaan yang sama." Sakura kembali terisak sebelum ia mengangkat wajahnya untuk menatap Hinata. "Apa salah kalau aku mencoba untuk membuat Sasuke jatuh cinta padaku? Apa salah kalau aku bahagia karena orang tua kami menjodohkan kami berdua?"

Melihat tangis Sakura mulai pecah, Hinata reflek langsung memeluk temannya. Hinata terus mengusap punggung Sakura, sejujurnya ia tidak tahu harus berkata apa di keadaan seperti ini. apa yang harus ia katakan sementara dirinya saja belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta. Hinata menghela nafas pelan berharap setidaknya kata-kata yang ia pilih tidak salah dan mampu membuat Sakura menjadi lebih tenang.

"Tidak salah kok, siapapun pasti ingin cintanya terbalas. Hanya saja... proses menuju kebahagiaan itu pasti berat dan tidak mudah. Karena berat dan banyak rintangan itulah yang membuat kebahagiaan disebut kebahagiaan." Hinata melepaskan pelukannya dan menatap Sakura dengan senyum lembut dan hangat. "Selama Sakura-chan tidak menyerah, aku yakin kebahagiaan itu akan datang menghampiri."

"Aku percaya selama kita tidak menyerah. Kebahagiaan pasti akan datang menghampiri."

Hinata mengerjapkan iris lavendernya saat sebuah ingatan terbesit tiba-tiba.

"Mungkin sekarang waktu adalah penghalang bagi kita, tapi aku yakin. Kelak kita akan berada di waktu yang sama."

Gadis lavender itu memijit pelipisnya yang terasa berkedut menyakitkan. Setelah rasa sakit mulai berangsur hilang Hinata bergumam pelan, "Tadi itu... apa?"

...

Tenten menolehkan kepalanya saat mendengar suara pintu yang terbuka. Senyumnya mengembang begitu melihat Hinata memasuki kamar. Tenten segera menghampiri Hinata lalu menanyakan keadaan Sakura.

"Dia sudah pulang, lalu bagaimana keadaan Sasuke-kun?"

Tenten melirik sekilas kearah Sasuke, "Dia sudah tertidur sejak tadi."

Hinata mengangguk pelan lalu berjalan menghampiri Sasuke. Ada perasaan tak tega saat melihat raut kesakitan dalam tidurnya. Hinata mengalihkan tatapannya menuju Neji, "Nii-san... apa boleh aku..."

Neji yang sudah tahu apa yang ingin adiknya lakukan hanya tersenyum kecil. "Lakukan apa yang mau kau lakukan Hinata-sama."

Senyum manis langsung mengembang begitu mendapatkan izin dari kakaknya. Hinata segera mengeluarkan kipas ungu dan menutup matanya dengan senyum yang masih mengembang. Tenten yang berdiri di samping Neji itu tersenyum sebelum berbisik pelan. "Neji, kau sudah tahu kalau Hinata memang berniat menyembuhkan Sasuke?"

"Kita sudah bersamanya sejak kecil Tenten, mana mungkin aku tidak tahu kebiasannya."

Tenten tersenyum kecil lalu mengalihkan tatapannya menuju Hinata. Gadis dengan rambut panjang sepunggung itu mulai membuka kipas dan melambaikannya dengan perlahan-lahan. Lantunan lagu mulai memenuhi kamar Sasuke bersamaan dengan hembusan angin.

.

Kimi wo omoeba kono mune ni (Saat memikirkanmu dalam hatiku).

.

Tachimachi sakura saki michite (Kuncup bunga sakura mekar sempurna).

.

Fuwari Fuwari to mai nagara (Aku akan menari-nari perlahan-lahan).

.

Sutaete okure waga koi wo (Tuk sampaikan cintaku pada dirimu).

.

.

"AARGGHH?!"

Tenten dan Neji membulatkan matanya sementara Hinata mematung akibat shok melandanya. Sosok Sasuke yang semula tidur dengan tenang, mendadak berteriak histeris. Remaja laki-laki itu bergerak gelisah dalam tidurnya. Matanya masih terpejam namun raut kesakitan terlihat jelas di sana. Neji yang tersadar lebih dulu segera berlari menghampiri Sasuke.

Remaja laki-laki itu menyibak selimut yang menutupi separuh badan Sasuke hanya untuk membuat mereka bertiga kembali membelalakan mata. Hinata menutup mulutnya sendiri saat mendapati kedua kaki Sasuke diselimuti es dan terdapat jarum-jarum tipis di kedua betisnya.

"Apa ini?!" Seru Tenten tak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Kalian terkejut?"

Tenten dan Hinata membulatkan kedua mata mereka. Suara yang sedikit lebih tinggi namun dalam itu sudah mereka ingat walau baru sekali bertemu. Sasuke mulai beranjak dari tidurnya dan menatap empat orang yang kini menatapnya.

Remaja dengan rambut hitam itu menampilkan seringaiannya saat manik hitamnya bertemu dengan Hinata. "Senang bertemu denganmu lagi, Hime-sama."

"Haku?! Bagaimana mungkin kau bisa di sini?!" seruan Tenten membuat Sasuke atau sekarang ini adalah Haku mengalihkan tatapannya.

"Aku hanya ingin memberitahu kalian, bahwa aku sudah mengutuk laki-laki ini."

Hinata membulatkan matanya dan dapat ia rasakan darahnya mengalir turun, "Bohong!"

Haku tertawa rendah yang terdengar begitu menyeramkan di telinga Hinata. "Kutukanku adalah, setiap anak ini mendengar nyanyianmu maka jarum-jarumku akan menusuknya dan membuat tubuhnya terselimut es yang lebih keras dari berlian." Haku kembali menyeringai, "Kalian sudah melihat apa yang terjadi padanya setelah Hime bernyanyi. Jadi apa yang akan kalian lakukan sekarang?"

Neji menggeram pelan, siluman ini, dia sudah mengambil langkah pertama tanpa ia sadari. Menjadikan kemampuan penyembuh Hinata sebagai pedang yang menusuk balik pemiliknya. Apa yang harus mereka lakukan untuk menyelamatkan Sasuke?

Seakan mampu membaca pikiran Neji, Haku berujar pelan. "Mudah saja, kalian cukup menyerahkan Hime-sama esok hari, tepat tengah malam di depan cermin es."

.

.

.

To Be Continue...

AN/ Terimakasih untuk yang sudah memfollow, fav dan para guest. Maaf aku belum bisa memunculkan scene NaruHina, semoga kalian masih mau bersabar dan terus mengikuti cerita ini :') sekarang Cocoa mau membalas beberapa review dari para guest.

Guest2: terima kasih sudah mau RnR, iyaaa aku juga berharap Natsume ada seasons 5 :")

: yah~ ada sedikit horror tapi lebih mengutamakan drama dan angst? Semoga terhibur~

Guest: ngejlebs bagian terakhir? Memang itu yang saya incar *plakk* hehehe iyaaa gpp makasih ya udah mau RnR

Ana: mohon bersabar ya :") saya termasuk author dengan alur lelet hehehe...

See you next chapter~