Author: Cocoa2795.
Ranting: T.
Genre: Supranatural, Hurt/Family, Romance.
Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto, saya mah cuma pinjam Chara doang. Dan minjem ide Shirabyoushi dari Kumagai Kyoko-sensei.
Warning: Typo, OOC.
Chapter 7: Hati yang tidak bertemu.
.
.
.
"Mudah saja, kalian cukup menyerahkan Hime-sama esok hari, tepat tengah malam di depan cermin es."
"Apa kau gila?! Tidak ada hari esok untukmu, youkai." Tenten mendengus pelan dan menatap Haku tajam. Iris coklatnya menyipit sebelum melirik sekilas pada Hinata yang menatap Haku—atau lebih tepatnya Sasuke— dengan cemas.
Haku menatap mereka bertiga sebelum berhenti dan fokus menatap Hinata. Gadis dengan rambut panjang itu terlonjak pelan saat ditatap Haku. Tatapan sayu dengan getaran pelan yang sama sekali tidak Hinata pahami artinya. Iris hitam malam yang tampak begitu kosong dan penuh kesedihan yang membuat pewaris Hyuuga bertanya-tanya. Apa yang telah dialami youkai itu hingga memiliki tatapan seperti itu. Ah tidak, lebih tepatnya kenapa youkai itu menatap Hinata seperti itu.
"Haku, kau tidak menakutkan seperti yang mereka katakan." laki-laki itu masih mengingat dengan jelas tatapan yang gadis itu berikan, seakan kejadian itu baru kemarin terjadi. "Kau itu indah dan sangat cantik, sama sekali tidak menakutkan. Jadi jangan turunkan wajahmu, angkatlah dan tatap dunia dengan mata coklat besarmu."
"...kau manusia aneh ..dan tidak ada laki-laki yang senang dipuji karena dia cantik."
"Eh, begitukah? Tapi kau memang menawan."
Laki-laki itu memilih diam dan hanya menatapnya datar. Tahu apa yang tengah ia pikirkan, gadis itu tertawa pelan sebelum tersenyum manis. "Baiklah baiklah hahaha."
Haku menutup matanya untuk sejenak sebelum kembali menatap mereka bertiga dengan tatapan teguh dan tajam tak tergentarkan. "Hime-sama, apa kau ingin tahu tentang laki-laki pirang bermata biru?"
Iris lavender itu melebar bersamaan desakan dalam dada yang memintanya untuk bertanya. Hinata maju selangkah dengan tatapan yang tertuju pada Haku. "Ka-kau mengenalnya?"
"Hinata-sama jangan mempercayainya!" Neji segera mendekatkan dirinya dan menahan gadis itu untuk melangkah lagi. "Dia hanya memancingmu, dia tidak tahu apa-apa tentang laki-laki itu."
"Aku tahu dan mengenalnya," ucapan Haku kembali membuat Hinata menatapnya setelah sempat teralih oleh kakak sepupunya. "Jika kau ingin tahu, datanglah besok seperti yang aku katakan."
"Hinata tidak akan pernah datang!" Tenten berseru keras lalu melempar beberapa kertas jimat ke arah Haku.
"Aku tahu kau akan datang, Hime-sama." Saat kertas jimat hampir mengenai Haku, tubuh Sasuke limbung dan tersungkur jatuh di atas lantai. "Karena kalian berdua saling terikat." Setelah itu Haku tidak ditemukan di manapun dan suara langkah yang mendekat terdengar, sebelum pintu kamar terbuka lebar.
Mikoto terperangah saat melihat anak bungsunya tersungkur di lantai. Neji sudah berada di samping Sasuke untuk memeriksa keadaan remaja laki-laki itu. Sosok pemuda dengan rambut hitam panjang yang ia kuncir rendah segera menghampiri Neji dan Sasuke. Saat merasakan badan Sasuke yang sangat dingin, Itachi segera menggendongnya di punggung. Tenten menarik tangan Hinata yang sempat mematung untuk mengikuti langkah Neji mengikuti keluarga Uchiha.
"Kita harus ke rumah sakit secepatnya," ujar Itachi sambil menyenderkan Sasuke di dalam mobil. Mikoto sudah duduk di samping putranya sementara Itachi menatap ketiga teman adiknya. "Kalian pulanglah, terimakasih sudah menjenguk adikku."
"Tu-tunggu dulu aku ikut—"
"—Hinata-sama," Neji menahan pundak adik sepupunya lalu menggeleng lemah. "Ada yang harus kita lakukan sekarang."
Hinata menggigit bibir bawahnya, tatapannya beralih bergantian dari Neji ke Sasuke sebelum kembali pada kakaknya sembari menghela nafas pendek. Gadis dengan rambut biru gelap itu menunduk pelan, membiarkan Neji tahu bahwa ia memilih untuk menurut. Neji melempar senyum tipis pada Itachi yang dibalas anggukan sebelum pemuda itu masuk dan mengendarai mobil sport hitam miliknya.
...
Hinata memainkan jemarinya gemas, sudah hampir sejam dia hanya duduk diam menunggu Neji dan tenten. Mereka berdua tengah menghadap kepala keluarga Hyuuga yang tidak lain adalah ayah Hinata, Hyuuga Hiashi. Kutukan serta musuh yang kuat membuat Neji dan Tenten memutuskan untuk mendiskusikannya dengan Hiashi. Dan entah mengapa, hari ini tidak biasanya Neji dan Tenten menyuruhnya untuk tinggal. Biasanya jika ada masalah seperti ini, Hinata selalu diikutsertakan dan tidak pernah diperbolehkan untuk tidak ikut. Alasannya ketika dia tidak ingin hadir adalah sebagai pewaris keluarga, Hinata harus tahu bagaimana mengambil keputusan disaat situasi genting. Tapi mengapa sekarang justru Neji memintanya untuk menunggu di ruangan terpisah? Hinata menghela nafas panjang sebelum mengalihkan tatapannya untuk menatap bulan purnama di atas langit.
Hime-sama, apa kau ingin tahu tentang laki-laki pirang bermata biru?
Pertanyaan Haku benar-benar menarik perhatiannya. Bagaimana mungkin youkai itu mengetahui tentang laki-laki itu? Pemuda dengan rambut pirang dan mata biru yang sudah memenuhi pikirannya, terutama semenjak ia bertemu dengan pemuda yang memiliki ciri serupa dengan anak kecil dalam mimpinya. Hinata memejamkan kedua matanya, rasa sakit di kepalanya tiba-tiba menghampiri dan membuatnya mengerang tertahan.
Bukan hanya perkataan Haku saja yang membuatnya kepikiran. Ingatan yang tiba-tiba melesat saat ia tengah mendengarkan curahan hati Sakura, tak kalah memusingkannya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Entah sudah berapa kali Hinata mengeluarkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sudah berapa kali ia cari jawabannya namun justru mendatangkan pertanyaan-pertanyaan baru yang tak jelas ujungnya.
"Kon... Kon..."
Hinata mencondongkan tubuhnya saat sebuah suara tertangkap oleh gendang telinganya. Pewaris klan Hyuuga itu beranjak dari duduknya untuk berjalan menuju beranda yang mengarah ke taman belakang. Manik lavendernya menelusuri sekelilingnya dan mencoba mempertajam indra pendengarnya untuk menemukan asal suara kecil itu.
"Kon... kon..."
Iris lavender itu membulat saat dari balik semak-semak, seekor rubah kecil keluar sembari menjilati kakinya. Hinata hampir menjerit melihat hewan kelewat imut di depannya. Dengan perlahan-lahan Hinata berjalan menghampiri rubah kecil berwarna coklat kemerahan itu. Pemilik mata lavender itu mengulurkan tangannya pelan-pelan dan berhenti beberapa senti tepat di depan rubah kecil.
"Kemarilah rubah kecil," ujar Hinata dengan senyum manis. Rubah kecil itu menatapnya sejenak sebelum dengan takut-takut mengendus jemari Hinata. "Bagaimana kau bisa berada di sini? jarak hutan dari sini cukup jauh kau tahu." Tutur Hinata lagi saat rubah kecil itu mulai berani untuk mengusapkan kepalanya pada tangan Hinata.
Melihat rubah kecil itu mulai memanjakan dirinya pada Hinata, membuatnya mengulas senyum tipis. Gadis itu membawa rubah kecil itu ke atas pangkuannya dengan hati-hati lalu mulai mengelus punggungnya. "Kau... rubah kecil yang waktu itu," gumam Hinata saat dia melihat salah satu kakinya memiliki corak bulu yang berbeda. Corak yang membentuk gelang putih di kaki kanannya.
Tatapan Hinata menyayu lalu ia membawa rubah kecil itu kedalam pelukannya. Melihat rubah kecil itu membuatnya teringat dengan pemuda misterius yang ia temui di taman dan juga yang telah menolongnya tempo hari. Hinata yakin sekali, kalau pemuda yang telah menolongnya memiliki aura yang sama dengan pemuda misterius di taman waktu itu.
"Uwa! Aku pusing!" keluh Hinata dan membaringkan tubuhnya, membiarkan punggungnya bersandar pada hamparan rumput. Rubah kecil itu memiringkan kepalanya sebelum berjalan mendekat dan menjilati wajah Hinata. "He-hentikan, geli tahu! Ahahahaha." Hinata mengangkat tubuh kecil si rubah dan menatapnya hangat. "Besok aku akan mengantarmu pulang ke hutan, jangan sampai tersesat lagi dan membuat orangtuamu khawatir rubah kecil." Hinata tertawa renyah saat rubah kecil itu memiringkan kepalanya sebelum mengangguk seakan mengerti apa yang gadis itu katakan.
...
"APA KAU BODOH?!"
Naruto mengerjapkan matanya sebelum menatap sosok rubah besar di depannya dengan pandangan malas. Saat dia tengah menikmati matahari tenggelam di kuil Inari, Gaara menemuinya dan memberitahu bahwa kakeknya memanggilnya. Naruto menghela nafas malas, memang seharusnya dia tidak datang jika hanya untuk mendengarkan ocehan kakeknya.
Kurama mendengus kasar lalu meneguk sake sebelum menunjuk cucunya kesal. "Seharusnya kau memberitahuku saat ada youkai yang mengganggu wilayah Konoha!" Naruto memejamkan matanya, takut-takut kalau rubah tua di depannya tidak sengaja menyemburkan sake yang diminumnya. "Kau malah mendatanginya dan bukannya mengusir malah membiarkannya kabur."
Naruto menyipitkan matanya dan melirik Gaara yang duduk santai tanpa mempedulikan tatapan tajam yang Naruto berikan padanya. "Kau, bukan hanya memata-matai tapi juga melapor pada si tua bangka ini rupanya." Gaara tak membalas perkataan Naruto, ia hanya melemparkan senyum tipis pada sahabatnya.
"Siapa yang kau panggil tua bangka huh?!"
"Tentu saja kau! Siapa lagi di sini yang kerjanya hanya minum sake sampai mabuk?"
"Apa katamu? Kau tidak tahu saja betapa enaknya sake ini!"
"Aku memang tidak mau tahu!"
Gaara menggelengkan kepalanya, bosan sebenarnya dengan tingkah mereka berdua. Tapi memang seperti itulah cara mereka untuk menunjukkan keakraban mereka. Tidak mau perang mulut berlarut dengan cucunya, Kurama menyenderkan punggungnya sebelum menatap Naruto dalam. "Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang setelah gadis itu kembali?"
Manik biru laut itu melebar sesaat sebelum kembali mengecil. Dalam hati pemuda itu mengumpat pada Gaara yang sama sekali tidak menutupi apa-apa dari Kurama. Naruto tersenyum samar dan menatap manik merah darah kakeknya. "Tentu saja aku akan melindunginya."
Kedua mata berbeda warna itu saling bertatapan dan membiarkan keheningan menyelimuti. Kurama mendengus pelan, "Kau akan melindunginya? Jangan membuatku tertawa anak muda."
Tanda perempatan muncul di pelipis Naruto, "Hah? Diam kau tu—"
"—Kalau niatmu hanya setengah, lebih baik lupakan manusia itu!" herdik Kurama tajam yang langsung membuat Naruto terdiam. "Harus berapa kali aku mengatakannya, manusia dan youkai tidak bisa disatukan. Dua hal yang berbeda bila disatukan hanya akan membawa bencana ataupun kemalangan." Kurama melembutkan tatapannya begitu melihat Naruto tertunduk. "Waktu yang kalian miliki berbeda Naruto. Mereka yang sesama manusia saja sulit untuk saling mengerti dan sering menimbulkan kesalahpahaman. Lantas bagaimana dengan kita yang jelas-jelas memiliki waktu serta alam yang berbeda?"
Pemuda pirang itu diam mendengarkan nasihat Kurama. Gaara yang duduk tak jauh dari mereka berdua, menatap Naruto cemas. Pemuda dengan rambut merah itu selalu berada di dekat Naruto, karena itulah dia juga mengenal Hinata yang dulu. Gadis manis yang lahir dari kalangan rendah namun memiliki kemampuan penyembuh. Seorang manusia yang sama sekali tidak takut pada mereka yang merupakan siluman. Dengan lugunya, gadis itu memberikan senyum penuh kepolosan serta membiarkannya untuk dikelilingi para siluman.
"Lepaskan dia Naruto," Gaara melirik Kurama yang kembali bersuara. "Kalian hanya akan menyakiti diri sendiri jika tetap bersama."
Gaara memejamkan kedua matanya, ada rasa sakit yang menelusup di dadanya. Pemuda merah itu tidak ingin mengingat kenangan yang jelas-jelas menorehkan luka pada Naruto maupun manusia itu. kenangan saat Naruto dan Hinata berkali-kali tidak bisa mempertahankan satu sama lain. Pelupuk yang menyembunyikan manik hijau pudar itu terbuka saat suara tawa kecil Naruto terdengar.
"Niat yang hanya setengah? Tidak bisa saling memahami?" Naruto mengangkat wajahnya, Kurama dan Gaara sama-sama terkejut mendapati mata pemuda pirang itu berubah merah. "Berhenti bercanda pak tua. Persetan dengan takdir dan waktu yang kami miliki, aku tidak akan gagal untuk yang kedua kalinya. Aku akan melindungi Hinata dengan seluruh nyawaku!"
Manik merah ruby yang berpedar, tatapan tajam yang Naruto berikan. Serta aura yang terasa kental akan tekad, ambisi, dan ketegasan, menguar dari balik tubuh Naruto. Untuk pertama kalinya, Gaara melihat sosok sahabatnya seperti itu. Kurama menutup matanya dan tersenyum penuh bangga melihat ketetapan hati cucunya. Rubah ekor sembilan itu tertawa keras sembari menepuk-nepuk sebelah pahanya.
Kurama menyeringai lebar, "Tunjukan padaku bocah tengik."
"Tentu saja pak tua!" Naruto membalasnya dengan seringaian yang tak kalah lebar.
Gaara menggelengkan kepalanya sebelum tersenyum tipis. Tidak terkejut dengan sikap Kurama yang akhirnya mendukung Naruto, meski Kurama tampak menolak hubungan Naruto dan Hinata. Familiar dari Tsunade itu tetaplah hanya seorang kakek yang takut jika cucunya terluka. Gaara menatap Naruto dan Kurama yang kini mulai kembali bertengkar, sebelum sesuatu menarik perhatiannya. Dari balik pintu geser, Gaara sempat melihat seorang wanita dengan rambut coklat muda yang tergerai panjang berlalu pergi. Senyum yang sempat ia ukir kini mengabur dan tatapannya berubah simpati saat dia tahu siapa gadis itu.
"Selalu akan ada yang harus mengalah demi kebahagiaan oranglain." Gaara bergumam pelan sebelum menyesap teh hijaunya.
...
Sosok gadis dengan celana jeans biru dongker dan memakai kaos longar berwarna putih itu tersenyum tipis saat memasuki sebuah rumah sakit. Hinata membenarkan tas kain yang ia bawa dengan hati-hati. Dari balik tas itu sempat terdengar suara kecil dan gerakan-gerakan yang membuat Hinata sedikit panik. Gadis dengan rambut biru gelap itu menunduk dan tersenyum malu saat berpapasan dengan salah satu perawat. Hinata membuka sedikit tas kain berwarna biru gelap dengan corak bintang itu. Ia memberikan senyum tipis pada sosok rubah kecil yang berada dalam tasnya.
"Maaf, tapi tolong jangan berisik dulu. Setelah urusanku selesai, aku akan mengantarmu, neh~"
Hinata kembali mengayunkan langkahnya menusuri lorong rumah sakit. Setelah pulang sekolah, pewaris Hyuuga berniat mengantar rubah kecil itu. Namun sebelum itu Hinata ingin menjenguk Sasuke yang kini tengah menjalani rawat inap. Hinata menatap papan nama yang bertuliskan 'Uchiha Sasuke' di sebelah pintu geser. Ada rasa takut dan sedih serta penyeselan, mengingat apa yang terjadi pada Sasuke, sebagian adalah salah dirinya.
"Sasuke-kun... aku mohon... buka matamu..."
Suara yang ia kenali itu membuat jari Hinata tehenti ketika menggeser pintu putih di depannya. Diam-diam, gadis itu mencoba untuk melihat siapa yang berada di kamar Sasuke. Saat manik lavendernya menangkap sosok gadis dengan rambut merah muda, Hinata membalikkan badannya dan bersendar di belakang pintu.
Iris hijau yang selalu memancarkan keceriaan itu terlihat redup. Telapak tangan Sakura menyentuh kening Sasuke dan tatapannya berubah sedih saat rasa dingin ia rasakan. Sepulang sekolah tadi, Sakura melewati rumah Sasuke dan berpapasan dengan Mikoto yang terlihat terburu-buru. Dari wanita paruh baya itulah Sakura mengetahui keadaan Sasuke.
Gadis dengan rambut merah muda itu menggenggam erat tangan Sasuke yang begitu dingin. Mata hijau jernihnya menatap lekat wajah Sasuke yang pucat pasi. Setetes air mata mengalir turun, membasahi pipi sang gadis musim semi.
"Sasuke-kun... maafkan aku... aku akan membatalkan perjodohan ini, karena itu... aku mohon buka matamu..." Tangis Haruno Sakura mulai pecah saat ia tidak sanggup untuk menahan gejolak rasa sedih dan ketakutan dalam hatinya. Rasa takut bila Sasuke tidak akan pernah membuka matanya lagi membuat Sakura mengerang menahan tangis.
Hinata memejamkan kedua matanya, tangisan pilu Sakura membuat sudut hatinya seakan teriris. Gadis dengan rambut biru gelap itu tidak pernah melihat sosok Sakura yang rapuh seperti ini. Gadis musim semi itu selalu ceria dan seakan tidak memiliki masalah sama sekali. Siapa yang menyangka bahwa sikapnya yang seperti cinta mati terhadap Sasuke, adalah kedok yang ia pakai untuk menutupi permasalahannya.
Apa salah kalau aku bahagia karena orangtua kami menjodohkan kami berdua?
Kelopak mata itu terbuka dan memperlihatkan mata Hinata yang bergetar pelan. Kau tidak salah Sakura-chan, karena kau berhak untuk merasa bahagia. Kedua tangan Hinata terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. Bagaimanapun caranya, Hinata harus bisa membuat Haku untuk melepaskan kutukannya dari Sasuke. Hinata mengayunkan langkahnya meninggalkan lorong rumah sakit Konoha.
...
Dengan beralaskan rerumputan, Naruto membaringkan badannya sembari menatap langit yang mulai mencair senja. Pikirannya tengah melayang mengingat kejadian kemarin malam di kediaman kakeknya. Pemuda pirang itu tidak pernah menyangka bahwa rubah tua itu akan mendukungnya untuk melindungi Hinata. Naruto beranjak dari duduknya dan memasang pose berpikir, bibirnya ia majukan dengan mata terpejam.
"Meski aku mengatakan akan melindungi Hinata, tapi bagaimana caranya?"
Naruto menghela nafas pendek, ia sama sekali belum memikirkan bagaimana caranya bertemu dengan Hinata tanpa menimbulkan kesalahpahaman. Pemuda pirang itu sudah terlanjur memberikan kesan brengsek pada Hinata dan temannya. Jika Naruto tiba-tiba muncul dan mengatakan bahwa ia akan melindungi Hinata, sudah jelas teman-teman Hinata tidak akan mempercayainya.
"Apa yang harus aku lakukan? mendatangi mereka dan bilang 'Hai! Maafkan aku kemarin, mulai sekarang aku akan melindungi Hinata, mohon kerjasamanya'..." Naruto mengacak-acak rambutnya frustrasi, "Tentu saja tidak mungkin bodoh!"
"Kon!"
Iris biru laut itu tertarik otomatis ke arah suara kecil dari balik semak-semak. Seekor rubah kecil melompat keluar sebelum disusul seorang gadis yang baru saja Naruto pikirkan. Manik biru laut Naruto melebar saat kedua irisnya menangkap sosok Hinata yang kini tengah memeluk rubah kecil. Hinata yang menyadari ada seseorang tengah menatapnya, segera mengalihkan tatapannya sebelum matanya membulat sempurna.
Lama keduanya terdiam, sama-sama terhanyut dalam pikirannya masing-masing. Hinata adalah yang pertama memecahkan keheningan di antara mereka. Gadis bulan itu tertunduk dengan semburat merah di pipinya, "Se-selamat sore."
"Um... sore."
Setelah itu mereka kembali terdiam. Keringat dingin mulai keluar membasahi tengkuknya, Naruto ingin menjerit keras untuk menghilangkan kegugupan serta menenangkan detak jantungnya. Sungguh, pemuda pirang itu belum siap untuk bertemu dengan Hinata. Apa yang harus ia lakukan? apa yang harus ia bicarakan? bagaimana caranya agar ia bisa mendekati Hinata agar gadis itu mau menerimanya sebagai teman? Naruto dapat merasakan kepalanya mulai terasa pening.
"Ma-maaf," suara Hinata membuat tatapan Naruto kembali fokus terhadapnya. "Bo-boleh aku duduk di sa-sampingmu?"
Naruto mengangguk pelan, sejujurnya ia tidak menyangka bahwa Hinata mau duduk di sampingnya, setelah apa yang sudah ia lakukan terhadapnya beberapa hari yang lalu. Hinata duduk di samping Naruto, masih memeluk rubah kecil yang semula ingin ia lepaskan ke dalam hutan sebelum binatang liar itu tiba-tiba saja melompat kemari. Manik lavender Hinata memperhatikan sekelilingnya, hamparan rumput luas yang tidak pernah ia kira ada di sebelah bukit kuil Inari. Pepohonan yang tidak terlalu tinggi dan rindang membuat Hinata mampu melihat luasnya langit.
"A-ano... sejak dulu aku ingin bertanya," Naruto melirik Hinata saat gadis itu kembali bersuara. "A-apa kita pernah bertemu saat kecil dulu?"
Naruto menyipitkan matanya, "Entahlah... aku tidak ingat."
"Be-begitukah?"
Iris biru laut itu masih setia memperhatikan raut Hinata yang kini berubah sendu. Naruto mendengus pelan membuat Hinata menatapnya. Pemuda pirang itu memberikan tatapan tajamnya ke arah Hinata. "Apa tadi itu kau mencoba untuk menggodaku?"
"Eh –kya!?"
Secara tiba-tiba Naruto mendorong kasar tubuh Hinata dan menggenggam kedua pergelangan tangan gadis itu. Hinata mengerjapkan matanya tidak mengerti sebelum manik lavendernya bertemu dengan iris biru laut di depannya. Tatapan dingin kembali Hinata lihat dari pancaran biru laut di depannya.
Rasa kesal dan putusasa mulai berkecamuk dalam dada Naruto. Mengapa... ingatan Hinata tidak menghilang sepenuhnya? Mengapa gadis itu harus mengingat kenangan kehidupan lampaunya? Lebih baik Hinata tidak mengingat masa lalunya, lebih baik jika Hinata mengenalnya sebagai laki-laki yang kurang ajar dan laki-laki yang harus ia jauhi. Semua akan terasa mudah jika Hinata membencinya.
Gadis dengan manik serupa bulan itu meringis pelan saat cengkraman Naruto makin mengerat. Sebuah seringaian hadir di wajah Naruto, "Apa kau memang sebegitu inginnya, aku jadikan mainanku?" Pemuda itu dapat merasakan tubuh Hinata yang bergetar, namun ia tidak peduli. "Seharusnya kau menjauhiku selagi ada kesempatan, bukannya malah mendekatiku. Aku ini bukanlah laki-laki baik."
"Ti-tidak."
"Hm... kau bilang apa?"
Hinata menggigit bibir bawahnya, mencoba mengumpulkan segala keberanian yang ia punya untuk membalas tatapan biru laut itu. "Kau itu laki-laki baik."
Perkataan Hinata sukses membuat Naruto terdiam sesaat sebelum kembali menyeringai tipis. "Oya, sepertinya kau terlalu banyak menonton dorama dimana laki-laki jahat itu sebenarnya baik." Kekehan kecil meluncur dari bibir pemuda pirang itu, "Maaf sudah menghancurkan khayalanmu, tapi aku bukanlah seperti yang kau pikirkan."
"Kau yang telah menolongku kemarin." kali ini Naruto benar-benar terdiam, mata birunya membalas tatapan tegas dari Hinata. "Kau... pemuda dengan topeng rubah yang waktu itu. Kau memiliki kehangatan yang sama dengan pemuda yang telah menolongku."
Setelah cukup lama terdiam, Naruto mulai tertawa kecil. "Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Kau salah orang nona—"
"—Aku tidak salah!" Hinata menatap lurus manik biru Naruto, tatapan yang begitu tegas tak tergoyahkan. "Terimakasih sudah menolongku waktu itu." seulas senyum hangat Hinata berikan pada Naruto. "Untunglah aku bisa bertemu denganmu dan mengatakannya."
Iris biru laut itu melebar dan dengan perlahan cengkraman Naruto mengendur. Pemuda pirang itu tertunduk, membiarkan poninya menutupi ekspresi yang ia buat. Hinata menatap cemas pemuda itu saat dilihatnya kedua bahu Naruto bergetar pelan.
"Ka-kau baik-baik saja?"
Seulas senyum tipis menjawab pertanyaan Hinata, sementara pemiliknya menatap teduh pada mutiara lavender itu. Perlahan Naruto mencondongkan tubuhnya dan menarik Hinata kedalam pelukan hangat.
"E-ekh...?" wajah Hinata berubah merah karena perubahan sikap yang tiba-tiba dari pemuda itu.
Naruto semakin mengeratkan pelukannya dan menghirup dalam-dalam aroma yang sudah begitu lama ia rindukan. "Kau... sama sekali tidak berubah Hinata."
Bisikan lembut serta pelukan yang menyalurkan kehangatan itu tidak pernah Hinata bayangkan bahwa akan memberinya perasaan rindu seperti ini. Meski ada perasaan ragu dan takut-takut, namun Hinata membalas pelukan itu bersama dengan senyum hangatnya.
"Namaku Hyuuga Hinata, maukah kau memberitahu namamu?"
.
.
.
To Be Continue...
AN/ Terimakasih untuk kalian yang sudah memfollo-fav. Terimakasih yang sudah mau review dan untuk para guest terimakasih banyak~ maaf karena telat update dan bagaimana? Apakah cerita ini semakin menarik? Apa pertemuan naru dan Hinata tidak terlalu mainstream atau terkesan sinetron? Aku sih berharapnya tidak TT_TT
Sekarang Coco mau membalas beberapa review dari para guest.
Guest2* : campur tangan? Betul sekali memang ada campur tangan dalam penyerangan Haku. Semoga scene Haruhina di sini cukup menghibur ya~
Guest2 : TERIMAKASIH BUAT INFONYA~ *deepbow*aku langsung nyari infonya dan memang banyak info yang beredar kalau Natsume seasons 5 bakal ada di musim fall~ semoga saja memang terjadi. Yeeey banzaiii~ bisa bertemu lagi dengan kucing gembul dan suara 'arigatou' khas kamiya hiroshi~~
Guest: aku gak punya akun tumblr, tapi makasih banget udah ngasih link gambar Hinata miiko dan naru-youkai. Aku sama sekali gak tahu kalau ada fanart itu~ dan fanartnya manis bangeeeet~ bahkan sampai aku download dan aku pasang sebagai DP laptop ahahaha~
Maa~ see you next chapter guys~
