Author: Cocoa2795.

Ranting: T.

Genre: Supranatural, Hurt/Family, Romance.

Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto, saya mah cuma pinjam Chara doang. Dan minjem ide Shirabyoushi dari Kumagai Kyoko-sensei.

Warning: Typo, OOC.


Chapter 8: Yin dan Yang.

.

.

.

Malam semakin larut dengan bulan sabit bersandar di atas langit bersama ribuan bintang. Di kediaman Hyuuga, tepatnya di kamar Hinata. Gadis dengan rambut biru gelap itu tengah duduk berlutut dengan kedua mata terpejam. Saat ini Hinata memakai atasan berupa jinbe* berlengan pendek berwarna merah dengan dalaman kaos berlengan panjang berwarna hitam serta celana rok lima senti di atas lutut, berwarna senada dengan jinbe miliknya.

Ia juga memakai mantel berwarna putih dengan panjang melebihi perutnya sedikit. Sebuah tali hitam yang dibuat menyerupai pita di dada kanannya serta dua buah kancing berbentuk bola bulu berwarna ungu gelap dan merah. Bola bulu yang menjadi ciri khas pakaian shirabyoushi. Serta terdapat kain persegi panjang berwarna biru gelap yang dibuat selang seling melingkari pinggiran mantel.

Hinata menarik nafas sebelum menghembuskannya perlahan. Pelupuk mata yang semula tertutup kini terbuka dan memperlihatkan sepasang manik lavender menatap taman serta langit malam di depannya.

Setelah berdebat cukup lama dengan Neji dan ayahnya, akhirnya dua laki-laki berbeda umur itu menyetujui keinginan Hinata untuk ikut melawan Haku. Di atas pangkuannya, Hinata menggenggam erat kipas berwarna lavender peninggalan ibunya. Kedua matanya kembali terpejam ketika ia mengingat kembali Sasuke yang terbaring koma serta Sakura yang setia menunggu pemuda berambut hitam itu. Hinata membuka matanya, menampilkan tekad dalam pancaran matanya.

Suara langkah terdengar sebelum menampilkan sosok Tenten dan Neji. Remaja laki-laki itu memakai pakaian yang biasa ia pakai setiap Hinata melakukan ritual suci. Hanya pewaris Hyuuga dan Tenten yang memiliki penampilan berbeda, baju shirabyoushi dibuat sesederhana mungkin agar membuat Hinata mudah bergerak. Sementara Tenten memakai celana merah dan baju china berlengan panjang serta lebar di bagian pergelangan tangan.

"Hinata-sama, sudah waktunya kita pergi."

Gadis lavender itu beranjak dari duduknya dan mengangguk pelan. Hinata melirik sekilas jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh lewat tigapuluh menit. Masih ada waktu sekitar satu jam setengah dari waktu yang ditentukan oleh Haku. Hinata kembali mengambil nafas, guna menghilangkan rasa gugupnya.

Setelah tenang, Hinata berujar mantap. "Ayo, kita pergi."

...

Hembusan angin malam membelai pelan anak-anak rambut berwarna kuning cerah. Pemilik tiga garis halus di kedua pipinya itu, tengah berdiri di atas salah satu dahan pohon besar. Mata biru lautnya lurus menatap hamparan atap-atap rumah di depannya. Remaja pirang itu kembali mengenakan jubah putih dengan corak api di pinggirannya. Topeng rubah berada dalam genggaman tangan kirinya sementara tangan kanannya ia masukan kedalam saku celana orange-nya.

"Sikap sok keren tidak cocok untukmu, Naruto."

Sosok remaja dengan rambut merah serta bola mata berwarna hijau pudar terlihat. Ia duduk bersandar dengan sebelah kaki ia biarkan menggantung di udara. Tanpa berbalik menatap Gaara, Naruto tersenyum kecil sebelum berkacak pinggang. "Enak saja, dari lahir aku sudah keren." Gaara mendengus pelan, sudah biasa dengan sikap narsis sahabatnya. "Lalu, ada apa? Kau tidak datang kemari tanpa alasan, benarkan Gaara?"

Gaara tak lekas menjawab, manik hijau pudarnya justru menatap punggung sahabatnya. Setelah lama keheningan menyelimuti mereka, pemuda dengan tato bertuliskan 'Ai' di keningnya itu berujar pelan. "Apa kau yakin akan melakukannya?"

"Ya, aku yakin." Tidak butuh waktu lama bagi Naruto untuk menjawabnya. "Kau sudah mendengarnya dengan jelas kemarin malam, jadi untuk apa bertanya lagi."

Pemuda dengan baju berlengan panjang serta celana bahan berwarna merah tua itu menghela nafas pelan. Walau kadang sahabatnya ini bersikap plin-plan, namun jika dia sudah memutuskan sesuatu, maka tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Meski begitu, yang Gaara takutkan adalah jika sahabatnya harus kembali mendapatkan luka dari gadis yang sama.

"Bagaimana jika dia tidak bisa menerima sosokmu yang sebenarnya?"

Suara tawa pelan terdengar membuat Gaara mengernyit tak mengerti. Apa yang lucu? dia sungguh mengkhawatirkan sahabatnya. Dulu, gadis itu memang dengan mudahnya menerima para youkai, bahkan jatuh cinta pada Naruto meski laki-laki itu adalah siluman rubah. Tapi kali ini berbeda, gadis itu tumbuh besar bersama dengan seorang keturunan onmyouji*. Dan mungkin saja sejak kecil Hinata sudah diajarkan bahwa youkai itu jahat dan tidak seharusnya gadis itu berdekatan dengan mereka.

"Aku tidak peduli, jika dia pada akhirnya takut ataupun membenciku." Kali ini pemuda pirang itu menatap lurus sahabatnya. "Karena tujuanku adalah untuk melindunginya."

Gaara menghela nafas lelah, sebenarnya ia ingin memukul kepala Naruto kuat-kuat agar pemuda itu sadar. Sikapnya ini lah yang membuat Kurama mengherdiknya dan mengatakan niatnya hanya setengah. Manik hijau pudar itu melirik sosok sahabatnya yang kembali menatap hamparan cahaya lampu di depannya. Percuma jika ia memberitahu Naruto, pemuda itu harus menyadari sendiri arti dari makna melindungi. Jika tidak, dia hanya akan berlari di tempat dan mendapatkan luka yang sama.

"Gaara, apa kau mengenal Haku?"

Pemilik rambut merah itu berfikir sejenak sebelum menggeleng pelan, "Aku hanya mendengar kabar tentangnya, banyak yang mengatakan dia termasuk youkai yang kuat. Namun entah sejak kapan kabar tentangnya tidak terdengar lagi. Dan siapa yang menyangka kalau selama ini ia bersembunyi di gedung sekolah." Gaara beranjak dari duduknya lalu berdiri di samping Naruto. "Apa kau mengenalnya Naruto?" Pemuda merah itu balik bertanya.

"Ya, dan sejujurnya aku tidak pernah menyangka dia akan menjadi musuh Hinata."

...

Hinata menelan ludah gugup begitu manik lavendernya menatap gedung sekolah di depannya. Kedua telapak tangannya dapat ia rasakan mulai berkeringat dingin. Hati kecilnya merutuk pelan dengan nyalinya yang menciut seketika. Kemana perginya tekad yang ia miliki tadi? Hanya karena melihat banyaknya arwah berkeliaran di setiap sudut sekolah, Hinata mulai merasa resah.

"Tenanglah Hinata, semua akan baik-baik saja." Tenten yang berdiri di sampingnya, mencoba menghibur dirinya. Gadis lavender itu tersenyum tipis menanggapi sahabatnya.

"Sudah aku katakan, lebih baik Hinata-sama tidak perlu ikut," ujar Neji datar yang langsung mendapat hadiah berupa pukulan di lengan kanannya.

Tenten mendelik tajam pada pemilik rambut coklat panjang itu, "Jangan seperti itu Neji! Apa kau lupa Hinata memiliki kemampuan untuk memurnikan arwah jahat?"

"Justru kau yang lupa, Hinata-sama hanya memurnikan arwah jahat saat ritual suci berlangsung. Dia belum pernah terjun kelapangan seperti yang biasa kita lakukan."

Perkataan Neji yang memang benar membuat Hinata meringis pelan. Selama ini ia hanya menyembuhkan dan memurnikan arwah saat ritual suci. Dia belum pernah menghadapai arwah ataupun siluman kuat sebelumnya. Pekerjaan untuk membasmi youkai jahat adalah tugas Neji dan Tenten. Tapi untuk kali ini, Hinata tidak ingin tinggal diam dan menunggu bersama rasa cemas serta khawatir di kamarnya seorang diri.

Neji menolehkan kepalanya saat merasakan seseorang menarik lengan bajunya. Anak dari Hyuuga Hizashi mengernyit, mendapati Hinata mencengkram kuat bajunya. Gadis berkulit agak pucat itu menatap kakak sepupunya tegas. "Memang benar aku belum pernah melakukannya, tapi..."

Manik Hinata menatap dalam mata Neji. "Pengalaman akan membuatku menjadi lebih baik, lagipula ada kalian berdua di sampingku, benarkan nii-san?"

Pemilik mata yang sama dengan Hinata, menghela nafas pelan sebelum tersenyum lembut. Terkadang ia tidak bisa membantah perkataan adik sepupunya ini. Sifat keras kepala dan berkemauan kuat jika ia sudah memutuskan sesuatu. Terlebih lagi, Hinata yang menatapnya serta mempercayai dirinya dan Tenten semakin membuat remaja itu tidak bisa menolak.

"Kau benar, kami pasti akan menjagamu." Hinata tersenyum manis dan menikmati usapan lembut di puncak kepala yang Neji berikan.

Tenten memandang kakak beradik di depannya dengan senyum simpul sebelum berubah menjadi seringaian tipis. "Ara~ kau punya sisi lembut juga Neji?"

Neji melirik Tenten malas, "Kau bodoh ya?" tak mau ambil pusing, Neji kembali melanjutkan langkahnya menyusuri koridor sekolah.

Tenten yang belum puas meledek remaja tanggung itu, segera menyenggol pundak Neji sambil terkikik geli. "Sosok kakak itu memang harus lembut, benarkan?"

"Yang benar itu tegas."

"Eeh~ aku rasa Neji akan menjadi kakak perempuan yang baik, benarkan Hinata?" Gadis asia itu sempat menengok Hinata sebelum ia tertawa renyah saat Neji memberinya lirikan tajam.

Hinata yang berada di belakang mereka berdua tersenyum hangat. Perasaan gugupnya kini sudah hilang, pergi entah kemana. Kegelisahan dan kecemasan, rasa itu kini terganti dengan perasaan hangat, menyadari bahwa ada mereka berdua di sampingnya. Daripada menghadapi masalah sendirian, memiliki seseorang di sampingmu itu jauh lebih baik.

Syut!

"!"

Manik lavender itu membulat seketika saat tiba-tiba dari belakang ada yang menyekapnya. Tangannya berusaha menggapai dua punggung di depannya namun percuma. Sebuah kain berwarna putih itu melilitnya dan tidak memberi Hinata kesempatan berteriak ataupun melawan. Serta tak butuh waktu lama, kain itu membawa Hinata menjauh dan membuatnya tak sadarkan diri.

.

.

.

"Anda hanya perlu mengikuti perkataan saya, Hinata...sama?" Neji membalikkan badannya hanya untuk mendapati tidak ada siapa-siapa di belakangnya.

Tenten dan Neji sempat beradu pandang sebelum menegang dan berlari mencari sosok Hinata yang lenyap. Tenten memanggil berulang kali nama sahabatnya sembari menelusuri lantai satu. Neji menggeram pelan, kesal karena ia sama sekali tidak menyadari adiknya yang menghilang. Manik lavender itu bergetar kala ia teringat sesuatu.

"Tenten, kita pergi ke lantai tiga!"

Gadis dengan rambut coklat itu mengangguk mengerti. Hinata yang menghilang, pasti merupakan ulah Haku yang sudah menyadari keberadaan mereka. Youkai itu sengaja memisahkan Hinata dari Tenten dan Neji. Mereka berdua segera berlari namun terhenti begitu kumpulan youkai menutupi tangga yang harus mereka naiki.

"Kalian tidak boleh lewat," ujar salah satu youkai berbentuk gumpalan awan hitam dengan mata merah menyala.

Neji berdecak pelan, "Minggir. Kau mengganggu!"

"Kau yang mengganggu di sini, manusia!" balas youkai lainnya yang memiliki rupa seperti macan putih dengan mata kuning terang.

Helaan nafas jengah Neji keluarkan sebelum memundurkan salah satu kakinya. Tiga lembar kertas putih berada di sela-sela jarinya. Tenten yang berdiri di samping Neji sudah mengeluarkan dua buah belati dengan ukiran huruf kuno di kedua sisinya.

"Kami tidak punya waktu untuk kalian, bodoh!" seru Tenten sebelum dalam sekali hentakan, ia melompat sembari menghunuskan belati peraknya.

Para youkai berseru keras hingga membuat suara geraman yang melengking tajam. Satu persatu mereka menyerang Tenten dan Neji. Mereka sama sekali tidak memberi celah pada dua manusia itu untuk melewati tangga di belakang mereka. Malam yang belum terlalu larut kini riuh dengan pertempuran antara manusia dan youkai. Antara putih dan hitam, antara yin dan yang, dimana dua kubu yang tak mungkin bisa disatukan saling berputar dalam lingkaran yang sama.

...

Cahaya bulan menembus kaca jendela dan membuat tangga menuju lantai tiga, terang karenanya. Sesosok laki-laki cantik dengan rambut hitam panjang terlihat. Manik coklatnya menatap sosok gadis yang tengah tertidur dalam kurungan berbentuk bola besar berwarna biru muda. Tatapannya berubah sendu kala menatap wajah yang begitu ia kenali. Bulu mata yang panjang dengan bentuk wajah agak bulat, serta kulitnya yang agak pucat serta rambut biru gelap dengan potongan himestyle.

"Hinata..." gumaman pelan dengan banyaknya perasaan yang tertahan.

Telapak tangan seputih salju itu terarah seakan hendak mengusap pipi si gadis lavender. Nyatanya, memang ada perasaan rindu setiap kali manik coklatnya menatap rupa Hinata. Bagaimanapun Hinata adalah sosok pertama yang mau menerima dirinya. Haku menggelengkan kepalanya perlahan, menjauhkan tangannya dan menutup matanya. Berkali-kali, laki-laki itu mengingatkan dirinya sendiri, bahwa di depannya gadis itu bukanlah Hinata yang ia kenal. Dia bukanlah Hinata, manusia pertama yang ia anggap sebagai sahabat.

"Aku benar-benar lupa dengan wajahmu, Haku."

Suara berat yang begitu Haku kenali, youkai muda itu berbalik. Manik coklatnya kini bertemu dengan topeng rubah yang kemarin ia lihat. Naruto menyandarkan punggung pada kaca jendela, membelakangi sinar rembulan. Sosoknya yang sedikit gelap membuatnya terlihat misterius dan berbahaya. Haku juga dapat merasakan aura yang Naruto pancarkan begitu berat dan terasa panas.

Haku mengulas senyum samar, "Kejam sekali. Padahal kita bertiga selalu bersama." Laki-laki itu berusaha terdengar santai.

Naruto mendengus pelan, "Menghilang tanpa kabar, seakan waktu yang kita lalui tidak ada artinya." Pemuda pirang itu menatap Haku tajam dari balik topeng rubahnya. "Dan setelah kembali, kau berusaha membunuh Hinata. Wao~ jelas saja aku tidak mengenalimu," sambung Naruto setengah menyindir.

Haku tersenyum pahit, ia tidak menyalahkan Naruto. Bagaimanapun yang mengambil keputusan untuk menghilang adalah dirinya. Dirinya yang lebih memilih orang itu daripada Naruto dan Hinata. Youkai yang memiliki kemampuan serupa dengan para yuki-onna* itu lebih memillih manusia yang baru ia kenal seminggu daripada Naruto dan Hinata yang sudah bersamanya selama lima tahun.

.

.

.

3000 tahun lalu...

"Pergi kau!"

"Kau menyeramkan tahu!"

"Jangan dekati desa ini!"

Seruan yang disertai pukulan dari lemparan batu, diterima seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun. Anak laki-laki dengan rambut hitam panjang sepunggung dengan kulit putih serta yukata berwarna biru pudar yang kotor di sana sini.

Anak laki-laki itu berusaha melindungi kepalanya dari lemparan batu. Ia mencoba menahan rasa sakit yang ia terima dari pukulan serta goresan batu tajam. "Maaf... maaf... maafkan aku..." kata-kata itu terus ia ucapkan, berharap mereka mau mengerti dan memaafkannya.

Apa yang telah anak laki-laki itu perbuat hingga harus memohon maaf pada warga desa. Mengapa mereka begitu membenci keberadaannya? Tidak kuat lagi akan rasa perih yang ia rasakan, anak laki-laki itu berlari memasuki hutan. Suara anak-anak yang seusia dengannya terdengar gembira dan ada pula yang berseru padanya untuk tidak pernah kembali lagi. Dengan kedua kaki kecilnya, ia terus berlari memasuki hutan. Terus berlari tanpa mempedulikan rasa sakit di kakinya yang tergores bebatuan dan duri-duri tajam. Anak laki-laki itu terus berlari hingga ia sampai pada sebuah sungai yang cukup besar dan jernih.

Anak laki-laki itu mencoba mengatur nafasnya yang berantakan. Namun bukannya membaik, justru rasa sesak semakin membuatnya kesulitan bernafas. Setetes air mata kini jatuh pelahan dan semakin lama semakin deras. Tidak kuat untuk menompang berat badannya, anak laki-laki itu berjongkok dan menyembunyikan wajahnya dilipatan kedua lengannya.

"Kaa-san... kaa-san..." suara isakan pelan lolos dari bibir kecilnya.

Bayangan tentang ibunya yang selalu menyapanya dengan senyuman serta pelukan hangat membuatnya semakin tersedu sedan. Lalu ingatan para warga desa yang memperlakukannya seperti monster membuatnya bergidik takut.

"Kau baik-baik saja?"

Suara lembut dan jernih bagai lonceng yang berdenting itu terdengar. Semula anak kecil itu tak mengindahkannya, ia fikir suara itu hanyalah delusinya saja.

"A-ano... kau baik-baik saja?" lagi, suara itu terdengar membuat anak laki-laki itu mulai was-was. Namun ia tetap memilih diam dan tak mau mengangkat wajahnya.

"Biarkan saja dia Hinata-chan, mungkin dia sedang bermain petak umpet dengan anak-anak lainnya." Sebuah suara baru yang ia tahu milik seorang anak laki-laki terdengar.

"Eh? Tapi dia tidak sedang berhitung." Anak perempuan itu terdiam sejenak sebelum kembali bersuara, dan kali ini anak laki-laki itu dapat merasakan kalau anak perempuan itu menyentuh lengannya. "Kau terluka..."

Desisan menahan sakit terdengar dan membuat anak laki-laki itu refleks mengangkat wajahnya. Manik coklatnya yang terbuka kini dapat melihat jelas dua sosok anak kecil di depannya. Seorang anak perempuan dengan rambut pendek berwarna biru gelap serta seorang anak laki-laki dengan rambut kuning cerah.

"Ma-ma-maafkan aku, apa sakit sekali?" anak perempuan itu menatapnya cemas.

Untuk beberapa saat anak laki-laki itu menatap sepasang manik lavender di depannya. Ia belum pernah melihat sepasang mata tanpa pupil dengan warna seperti itu. Warna yang begitu lembut dan terlihat seperti bulan purnama.

"Hei, kau baik-baik saja? Kenapa diam seperti itu?" kali ini giliran anak laki-laki bermata biru yang bersuara. Wajahnya yang agak kecoklatan itu menatap anak laki-laki berkulit putih pucat itu dengan begitu dekat.

Hinata menarik salah satu lengan temannya agar menjauh dari si anak laki-laki. "Naruto-kun, wajah kamu terlalu dekat dengannya."

"Ah, maaf hehehe."

Hinata menghela nafas pelan sebelum kembali menatap anak laki-laki yang terluka itu. Manik lavendernya terang-terangan mempelihatkan kecemasannya. "Tidak baik membiarkan luka terkena kotoran debu." Gadis kecil itu menghampirinya dan mengulurkan tangannya. "Kita bersihkan lukamu, baru aku sembuhkan ya!"

Manik coklat itu secara bergantian menatap uluran tangan dan senyum Hinata sebelum meraihnya. Hinata tersenyum manis lalu menepuk-nepuk beberapa debu yang menempel di yukata biru si anak laki-laki. Naruto menaruh kedua tangannya di belakang kepala dan mengekori Hinata dan anak kecil itu.

"Namaku Hyuuga Hinata, boleh aku tahu siapa namamu?" tanya Hinata sembari mengusapkan kain putih yang sudah lebih dulu ia rendam dengan air dingin.

Anak laki-laki itu sempat meringis pelan saat rasa dingin menyentuh luka di lututnya. "Namaku... Haku... hanya Haku."

"Hee... namaku Uzumaki Naruto, salam kenal!" Haku menatap Naruto yang memperlihatkan senyum lebarnya. Senyuman yang terlihat begitu berkilau dan membuatnya tak mampu menatapnya terlalu lama.

Hinata tersenyum lembut lalu mengeluarkan sebuah kipas sederhana yang terbuat dari kayu dan kain tipis berwarna biru gelap. Haku yang menyadari Hinata mengeluarkan kipas, menatapnya penasaran.

"Rasa sakit pergi... pergilah..."

Untaian lagu yang begitu sederhana. Namun mampu membuat manik coklat itu melebar saat kipas itu bercahaya dan dengan perlahan-lahan, luka-lukanya menutup hingga tidak berbekas satupun. Haku memandang takjub, bahkan bibirnya kini terbuka sedikit dan meraba-raba lututnya.

"Kau bisa sihir?" tanya Haku cepat.

Hinata tertawa kecil dengan senyum malu-malu, "Entahlah... aku belum tahu apakah ini sihir atau hadiah yang aku terima dari tuhan."

"Tentu saja itu hadiah! Kekuatan penyembuh merupakan berkat yang luar biasa!" seruan Naruto yang penuh semangat, menarik perhatian kedua anak lainnya. "Kau mempunyai kekuatan yang sama dengan Tsunade-sama. Kata jii-chan, Tsunade-sama adalah dewi kesembuhan yang kini menjadi dewi Inari (dewi padi) dan melindungi daerah Konoha!"

Haku memiringkan kepalanya, tanda ia tidak mengerti. "Tsunade-sama? Dewi kesembuhan?"

Naruto mengangguk antusias, lalu ia membusungkan dadanya penuh bangga. "Jii-chan adalah familiar dari Tsunade-sama. Dan kelak aku juga akan menjadi familiar Tsunade-sama!"

Hinata tersenyum kecil menyadari Haku semakin tidak mengerti. "Tsunade-sama adalah dewa yang menjaga wilayah Konoha, dan Naruto-kun adalah cucu dari Kurama-sama. Youkai rubah berekor sembilan yang melayani Tsunade-sama."

Haku membulatkan matanya begitu mengerti. Manik coklatnya menatap Naruto tidak percaya, "Ka-kau itu... youkai?" Naruto mengernyit sebelum mengangguk. "Berarti kau juga?" tanya Haku pada Hinata.

"Hinata-chan itu manusia! masa kau tidak bisa membedakannya!" sentakan Naruto membuat Haku berjengit kaget. Manik biru laut itu menyipit tajam lalu mengendus pelan membuat Haku mundur selangkah. "kau... memiliki bau yang unik, antara youkai dan manusia."

"Eh?!"

Naruto memundurkan badannya dan memasang pose berfikir, "Tidak tidak, kau hanya memiliki sedikit bau manusia, bau youkai lebih pekat. Argh! Aku tidak mengerti, ini pertama kalinya aku mencium bau seperti ini." anak laki-laki itu mulai mengacak-acak rambut pirangnya tanpa menyadari perubahan raut Haku yang memucat.

Hinata yang melihat perubahan itu menatap anak laki-laki itu cemas. Untuk saat ini, gadis kecil itu memilih diam dan mengajak Haku serta Naruto untuk bermain air. Semejak hari itu, Haku selalu pergi menuju sungai untuk bertemu dengan Hinata dan Naruto. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama untuk bermain, memancing, ataupun mencoba membuat sebuah mainan. Tiada hari tanpa canda tawa dan kebahagiaan yang tidak pernah Haku bayangkan akan ia rasakan. Haku juga mengetahui, kalau Hinata tinggal tak jauh dari rumah kecilnya. Sementara Naruto harus melewati kuil Inari untuk ke rumahnya, dan hanya para youkai yang bisa ke rumah Naruto. Serta ia juga mengetahui bahwa dirinya adalah setengah youkai.

Mereka bertiga selalu bersama, hingga tanpa sadar sudah lima tahun mereka saling mengenal satu sama lain. Dan Haku juga menyadari bahwa Naruto dan Hinata memiliki perasaan untuk satu sama lain. Tak jarang manik coklatnya menangkap sosok keduanya yang saling melempar senyum dan tawa dengan tatapan yang berbeda. Tatapan lembut serta penuh kasih sayang untuk keduanya, tatapan yang sangat Haku pahami makna di dalamnya. Dan Haku tulus merasa ikut bahagia untuk keduanya.

.

.

.

Haku tersenyum tipis, kenangan masa lalu selalu membuatnya rindu dan ingin mengulang kembali masa-masa itu. Manik coklatnya melirik sekilas pada sosok Hinata yang masih tertidur sebelum beralih pada Naruto. Senyum tipis masih ia ulas di sana, "Apa kau mau mengabulkan permintaan egois dari teman lamamu, Naruto?"

Sebelah alis Naruto terangkat, cukup penasaran dengan permintaan laki-laki itu. Ia juga sebenarnya ingin tahu dengan apa yang sudah terjadi padanya, hingga membuat pemuda itu menghilang serta mengapa ia mengincar nyawa Hinata.

"Apa?"

Senyum tipis itu mulai berubah samar, "Biarkan aku mengorbankan nyawa hime-sama."

Manik biru laut itu bergetar sebelum berubah warna menjadi merah dan berkilat tajam. Naruto menggeram penuh amarah hingga membuatnya mengeluarkan aura berwarna orange kemerahan yang kental akan tekanan dan membuat udara di sekitar mereka terasa panas.

"Jangan bercanda Haku! Apa kau lupa bahwa Hinata adalah temanmu?!"

Haku memejamkan matanya lalu membuat puluhan jarum-jarum melayang di sekitar tubuhnya. Manik coklatnya terbuka dan membalas tatapan Naruto. "Aku tidak lupa dan tidak akan pernah lupa."

Sudah sampai sini, tidak mungkin ia mundur sekarang. Ia sudah bertekad untuk membangkitkan kembali sosok laki-laki itu, untuk membuat manusia itu hidup kembali. Haku melirik sekilas sosok Hinata dengan tatapan sayu.

"Hinata... kau boleh mengutuk aku sepuas yang kau mau. Tapi, tolong... berikan dia kesempatan untuk hidup kembali..."

Laki-laki itu kembali menatap Naruto, kali ini tatapan matanya berubah tegas. Pemuda pirang itu menggeram begitu menyadari Haku tidak memiliki niat untuk mundur. Dalam sekali hentakan Naruto melompat ke arah Haku dan mengeluarkan tiga ekornya.

"Akan ku buat kau sadar Haku!"

Manik coklat itu menatap sosok Naruto tajam sebelum ia juga ikut melompat dan membawa jarum-jarumnya untuk melawan ekor tajam Naruto.

.

.

.

To Be Continue...

AN/ hehe updatean kali ini lebih panjang, semoga kalian puas. Dan mulai dari chapter ini kehidupan masa lalu Hinata terpampang sedikit demi sedikit. Aku gak bisa janji tapi kalau lancar, chapter depan kalian bisa liat moment NaruHina mulai dari yang zaman sekarang sama yang 3000 tahun lalu. Terima kasih untuk kalian yang sudah follow/Favorite/ Review~

Thanks juga buat para guest. Terutama guest2 makasih buat reviewmu dan juga dan aku gak nyangka kalau yang buat tuh fan art orang indonesia. Moga makin banyak karya anak indonesia dan meramaikan komik asli indonesia. Biar gak kalah dari para komikus jepang dan korea ^^

Dan aku mau ngasih beberapa info seputar fanfic ini. pertama untuk mereka yang belum tahu jinbe itu apa. Jinbe itu terlihat seperti kimono tetapi alih-alih merupakan satu potong pakaian yang panjang, jinbei terdiri dari dua potong pakaian dengan bagian atasnya kimono dan bagian bawahnya celana pendek, dan biasanya terbuat dari bahan katun atau rami.

Lalu untuk onmyouji. Onmyouji itu mereka yang mempelajari ilmu yin dan yang dan mereka rata2 bekerja sebagai pengusir youkai.

Lalu terakhir yuki-onna, bagi reader yang suka baca cerita tentang youkai pasti tahu dong. Yuki-onna adalah wanita salju, wanita cantik dengan kimono putih yang dinginnya minta ampun hahaha. Bukan sikapnya yang dingin macam sasuke ya, tapi suhu tubuh mereka dan kemampuan mereka memanipulasi salju.

See you guys~