Author: Cocoa2795.
Ranting: T.
Genre: Supranatural, Hurt/Family, Romance.
Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto, saya mah cuma pinjam Chara doang. Dan minjem ide Shirabyoushi dari Kumagai Kyoko-sensei.
Warning: Typo, OOC.
Chapter 10: Pembawa Pesan.
'Untuk apa kamu mendengar kata-kata mereka, jika kau punya dua sahabat yang kamu ceritakan itu?'
.
'Apa yang harus aku takutkan dari mu?'
.
'Datanglah kemari, aku akan menyiapkan teh untuk mu.'
.
Walau hanya seminggu, namun manusia itu mampu membuatnya nyaman, dan merasa dapat mempercayainya. Walau hanya lontarakan kata singkat dan berbalut keheningan. Haku merasakan perasaan yang tidak pernah ia kira akan rasakan.
Kerinduan, kehangatan dan kebahagiaan. Ketiga rasa itu berbeda dengan apa yang ia rasakan ketika bersama Naruto dan Hinata. Perasaan yang membuatnya merasa bahagia setiap saat, merasakan rasa rindu dan ketidak-sabaran untuk menemuinya.
Namun, berkali-kali Haku selalu mempertanyakan keadilan Dewa padanya. Lidah api yang menjilat tanpa belas kasih, membumi hanguskan rumah kecil beserta isinya. Api kemerahan itu bahkan membakar Zabuza sampai menjadi abu. Di depan matanya, Haku hanya bisa memandang kobaran api itu. Tak ada tangisan, tak ada gerakan berarti, youkai itu hanya berdiri diam dengan tatapan kosong.
"Za...bu...za...?"
Manik coklatnya melebar, wajahnya yang putih berubah pucat. Saat dari kejauhan Haku dapat melihat jelas sesosok laki-laki yang ia kenali, berbaring di bawah reruntuhan kayu dengan kobaran api mengelilinginya. Hampir separuh wajah Zabuza hangus terbakar api, pemandangan yang membuat Haku menjeritkan nama anak manusia itu dengan keputus-asaan.
...
Hembusan angin malam membelai lembut, memainkan anak-anak rambut yang tidak terlindungi mantel hitam. Dua sosok laki-laki tengah berdiri di atas salah satu atap rumah dan menatap gedung sekolah Konoha Gakuen.
Salah satu dari mereka tersenyum tipis, manik yang terlindungi kelopak mata itu terbuka. "Hanya mereka yang memiliki tekad yang akan bahagia, Haku." Tawa kecil terdengar sebelum seulas senyum sinis hadir di wajah putih pucat itu. "Sekarang, apa yang akan kalian berdua lakukan Naruto, Hinata-chan?"
...
Neji melompat kesana kemari untuk menghindari ribuan jarum. Tenten berlari dan mengeluarkan dua buah belati perak dari balik punggungnya. Remaja perempuan itu melakukan salto ke belakang sebelum menghunuskan belatinya. Gaara yang berdiri di samping Naruto menatap pertarungan di depannya.
"Mereka boleh juga," ujar Gaara pelan.
Naruto melirik sebelum menatap Hinata yang memperhatikan kedua temannya. Manik serupa bulan itu terlihat cemas dan sedikit bergetar pelan. Naruto tersenyum tipis lalu menepuk puncak kepala Hinata pelan, membuat gadis manis itu menatapnya.
"Tenang saja, mereka bisa mengatasinya."
Hinata menatap lurus manik biru laut di depannya. Sekali lagi perasaan nyaman dan rindu menyebar dalam hatinya. Pewaris Hyuuga itu mengulas senyum tipis, "Un."
Manik hijau pudar Gaara beralih dari kedua insan di sebelahnya. Pemuda dengan rambut merah itu hanya bisa menghela nafas pelan. Semula dia tidak ingin turun tangan dan berurusan dengan para manusia. Tapi dia tidak bisa meninggalkan Naruto begitu saja. Manik hijau pudarnya menatap Haku yang semakin terlihat mengerikan. Kedua tangannya terkepal erat tanpa ia sadari, jujur saja emosinya sedikit naik saat melihat sosok Haku.
"Hei, apa sebaiknya aku juga melawannya?" Gaara melirik Naruto yang menatap pertempuran di depannya. Raut cemas, gelisah dan kebimbangan terlihat jelas di manik biru laut itu.
"Dan membuat identitasmu terbongkar? Itu bukanlah hal bijak, Naru."
Youkai rubah merah itu berdecih pelan, mau identitasnya ketahuan atau tidak, itu tidak jadi masalah baginya. Tapi jika mengingat kembali apa yang Neji katakan beberapa waktu lalu, Naruto memilih diam.
.
.
.
Tenten segera menarik Hinata kebelakangnya saat maniknya melihat sosok Naruto. Gadis onmyouji itu dengan lantangnya menyerukan sebuah nama panggilan yang membuat Gaara hampir tertawa terbahak-bahak.
"KAU! Durian busuk! Kenapa bisa di sini?!"
Naruto melirik kanan kiri sebelum menujuk dirinya sendiri, "Aku?"
Tenten berdecak sebal, "Memang di sini yang kepalanya mirip durian siapa lagi?"
"Te-Tenten-chan... he-hentikan..." wajah Hinata merah merona, agak tidak enak dengan sikap serta kata-kata Tenten pada Naruto. Bagaimanapun lelaki pirang itu sudah menolongnya dua kali.
Neji yang tidak mengerti, menatap Tenten dan Naruto bergantian. "Tenten?" panggil Neji meminta penjelasan.
"Dia laki-laki mesum kurang ajar yang waktu itu aku ceritakan Neji!" Tenten berujar gemas dan menatap tajam Naruto.
Pemuda pirang itu meringis pelan lalu tetawa pendek. Sial, gadis onmyouji itu masih mengingatnya. Naruto segera memasang raut bingung, "Em... apa aku mengenalmu?"
Tatapan dan wajah datar Tenten berikan pada Naruto, "Enggak ada alasan lebih bodoh dari itu?"
Naruto tertawa pelan, dia tidak tahu harus berkata apa. Pemuda pirang itu belum menemukan alasan yang masuk akal agar membuat dua manusia di depannya itu mau membuka hati dan membiarkannya melindungi Hinata.
"Tenten-chan, sudahlah. Naruto-kun telah menolongku, jadi bisa kita lupakan hal yang sudah lalu?" pinta Hinata dengan wajah memelas.
kedua onmyouji itu saling tatap sebelum menatap Naruto dan Hinata bergantian. Neji menyipitkan matanya dan menghampiri Naruto. Tatapan serta aura yang Neji berikan, sedikit membuat badan Naruto menegang. Takut-takut lelaki itu menyerangnya tiba-tiba, tetapi untungnya Neji hanya menepuk pundak Naruto.
"Terimakasih karena sudah menolong adikku, tapi." Neji melirik Naruto tajam membuat pemuda pirang itu semakin tegang. "Kalau kau sama seperti 'dia', aku tidak akan segan membunuhmu."
Cucu dari Kurama menelan ludahnya susah payah. 'Dia' Naruto tahu betul siapa yang lelaki itu maksudkan. Tapi, jangan salah paham, mengira kalau Naruto takut dengan ancaman pemuda gondrong itu. kata-kata yang berbarengan dengan ucapan terimakasih yang lelaki itu katakan, membuat Naruto mati kutu. 'Adikku' pemuda pirang itu sama sekali tidak ingin menjadi musuh kakaknya Hinata.
.
.
.
Naruto menghela nafas pelan, 'kalau sampai si gondrong itu tahu identitasku, habislah sudah.' Manik biru laut itu menatap lurus pada Haku. Sosok sahabatnya itu mulai berubah menjadi sesuatu yang mengerikan dan juga menjijikan. Sosok Haku yang selalu anggun dan menawan kini sirna dan berganti dengan sosok iblis. Yukata putih itu telah berubah menjadi hitam, rambut hitam panjangnya terus memanjang dan manik coklat lembut itu telah berubah menjadi seperti mata hewan buas.
"Haku..." gumam Naruto pelan, miris rasanya melihat sosok sahabatnya seperti itu. Sosok yang menandakan bahwa dia telah membuat perjanjian dengan iblis. Naruto mengerjap saat merasakan senggolan dari Gaara. Manik birunya mengikuti arah dagu Gaara sebelum membulat.
"Hinata!"
Gadis dengan rambut yang tergerai panjang itu mengacuhkan panggilan Naruto. Manik lavendernya tetap melekat pada sosok Haku dengan getaran pelan. Langkahnya terus terayun tanpa niat berhenti meski Naruto berusaha menariknya mundur. Hinata sama sekali tidak mengerti dengan rasa sakit dan rasa sesak di dadanya. Tiap kali ia melihat sosok Haku yang berubah menjadi sesuatu yang menyedihkan, ada sebuah perasaan yang membuncah dalam dadanya. Perasaan untuk berlari dan memeluk erat Haku dan mengatakan maaf padanya.
"Hinata, apa yang kau lakukan?! kembalilah!" seruan Tenten juga diacuhkan Hinata.
Hinata tetap melangkah mendekati medan tempur dengan tatapan lurus. Langkah yang semula pelan kini berganti tempo lari. Namun langkahnya tertahan oleh kedua lengan Naruto yang memeluknya dari belakang.
"Hinata, tenanglah..." bisikan di samping telinga Hinata yang lembut, justru membuat emosi gadis itu membuncah. Air mata mengalir lembut, membelah pipi putihnya dan isakan pelan terdengar.
"Kenapa... kenapa Haku jadi seperti ini...? kenapa... kenapa aku tidak menyadarinya...?" Mati-matian Naruto mengacuhkan rasa sakit yang hadir. Manik biru lautnya menyipit, menyayu saat Hinata terus menerus mengucapkan kata maaf. "Maaf... maafkan aku... maaf..."
"Ini bukan salahmu, Hinata-chan." Naruto memeluk erat Hinata, berusaha membuat gadis itu tenang dan berhenti menangis. Senyum tipis hadir di wajah Naruto, sedikit pahit, karena dia baru menyadari sesuatu.
"Neji! Tenten!"
Mereka berdua menoleh saat mendengar panggilan Naruto. Pemuda pirang itu menatap keduanya dengan tatapan tegas. "Biarkan aku yang melakukannya."
Neji dan Tenten saling pandang sebelum menatap Naruto. Keduanya sudah babak belur akibat serangan yang Haku berikan pada mereka. Gaara yang berdiri tidak jauh dari Naruto hanya bisa menghela nafas berat. Dia sudah tahu kalau akan jadi begini akhirnya. Temannya itu pasti akan melakukannya, terutama setelah melihat sosok Hinata yang seperti itu.
Naruto tersenyum tipis sebelum menyeka jejak air mata Hinata. "Hinata-chan... nyanyikan lagu pertemuan kita bertiga."
Hinata yang mulai tenang walau masih menangis, mengangguk tanpa sadar. Pemuda pirang itu tersenyum lembut, anggukan yang Hinata berikan semakin membuatnya yakin. Bahwa alam bawah sadar Hinata terguncang dan membuat perasaan kekasihnya bergetar dan meronta untuk menolong sahabat mereka.
Neji melompat mundur dan berdiri di samping Naruto. "Apa yang mau kau lakukan?"
Pemuda pirang itu memberikan cengiran bodohnya, "Melakukan apa yang sudah seharusnya seorang sahabat lakukan." Belum sempat Neji kembali bertanya, Naruto melompat dan mengeluarkan sebilah kunai. Naruto menyipitkan matanya saat matanya bertatapan dengan manik merah Haku.
"Seperti rerumputan hijau dan air yang mengalir."
Tenten mengalihkan tatapannya saat alunan lagu terdengar. Manik coklatnya sedikit melebar melihat sosok teman masa kecilnya tengah menari. Erangan terdengar, memecahkan keheningan malam sebelum Haku mengamuk dan menyerang membabi buta. Naruto berusaha menghindari serangan Haku walau kadang gagal dan terpental.
"Ladang hijau dan luas tempat kita menari. Bersama iringan musik hutan yang selalu terdengar."
Haku mengerang kuat, ia memeganggi kepalanya yang seakan ingin pecah. Siksaan yang ia terima dari alunan nada nyanyian Hinata. Hatinya yang kelam perlahan memudar dengan secercah kehangatan yang Haku rindukan.
"Kita menari bersama dengan kebahagiaan, tanpa tahu luka, sedih, dan cemas."
Naruto tidak menyia-yiakan kesempatan yang Hinata berikan. Remaja pirang itu mengeluarkan ketiga ekornya dan menyerang Haku beruntun. Neji dan Tenten membulatkan kedua mata mereka begitu melihat sosok Naruto.
Neji mengepalkan kedua tangannya dan menggeram rendah. "Dia... ternyata memang youkai," desisnya rendah.
Saat kepulan asap yang dihasilkan oleh serangan Naruto mulai memudar. Sosok Haku terlihat terbujur di lantai. Pelan namun pasti, aura hitam yang semula menyelimuti Haku mulai memudar. Naruto menghampiri Haku dan berjongkok di samping sahabatnya yang sudah babak belur itu. Manik biru lautnya menatap sedih sosok sahabatnya, tangan kanannya terangkat di udara.
Plak!
Tamparan keras Naruto berikan, "Haku... kau itu memang bodoh."
Tawa kecil terdengar sebelum Haku membuka matanya pelan. "Me-memangnya... kau tidak?" youkai cermin itu tersenyum tipis sebelum melirik pada Hinata saat suara teriakan Tenten terdengar.
Hinata yang limbung dan kehilangan kesadaran, berhasil ditangkap Neji. Anak dari Hyuuga Hizashi itu segera mengecek keadaan Hinata. Menyadari kalau Hinata hanya tertidur membuat Neji dan Tenten menghela nafas lega. Begitupula dengan Naruto dan Haku, kedua sahabat itu kembali saling tatap.
"Sa-sampaikan maaf dan terimakasih ku pada Hime-sama." Haku berusaha untuk duduk dan menatap Naruto serius. "Da-dan de-dengarkan aku Na-Naruto... ada yang mengincar Hime-sama, se-selain aku."
"Apa maksudmu?" Neji yang sejak awal mendengarkan mereka, segera menghampiri dua youkai itu. Manik serupa bulan itu menyipit tajam.
"Aku... mengincar Hime-sama karena terhasut dengan buaiannya. Dia mengaku bisa membuat Zabuza terlahir kembali." Haku tersenyum pahit mengingat perasaan iri yang membuatnya gelap mata. Manik coklatnya menatap lurus ke sepasang manik biru laut di depannya. Kenapa ia baru menyadari, kalau tatapan itu sedikit berbeda. Memang manik biru itu masih bersinar namun tersirat pula luka dan kesedihan yang mendalam.
"Ha... nyanyian Hinata tidak pernah berubah." Haku terbatuk pelan, rasa nyeri akibat serangan Naruto di dadanya ia rasakan. "Masih sama, masih mampu menghapus segalanya."
Naruto tersenyum tipis, "Sudah aku katakan, dia masih sama seperti dulu."
Haku mengangguk setuju, "Begitu juga de-denganmu, masih tidak tanggung-tanggung menyerangku."
"Jangan salahkan aku! Butuh pukulan keras untuk menyadarkan sahabatku yang bodoh." Pukulan pelan yang Naruto terima di dadanya dari Haku membuatnya tersenyum tipis. "Ah, dan tamparan itu bagian Hinata." Gelak tawa terdengar dari youkai cermin itu kala mendengarnya.
Haku menatap Naruto dalam. "Naruto... yang menghasutku untuk membunuh Hinata adalah—GAKH!"
"HAKU!"
Manik biru laut itu membulat saat Haku memuntahkan darah. Haku menatap dadanya yang secara tiba-tiba terdapat sebuah benda tajam di sana. Saat benda runcing itu masuk kembali kedalam dadanya, Haku dapat merasakan benda tajam itu keluar dari balik punggungnya. Sekali lagi Haku memuntahkan darah dan mengerang pelan.
Naruto mencoba untuk meraih temannya, namun sekali lagi benda runcing itu menikam dada Haku dan membuat youkai cermin itu melayang di udara. Gaara yang berdiri di samping Tenten dan Hinata, membulatkan matanya. Benda runcing yang sedikit melengkung itu sangat Gaara kenali walau sudah hampir tiga ribu tahun lamanya tidak ia lihat lagi.
"Kau benar-benar tidak berguna, Haku."
Manik biru laut itu menatap nyalang ke arah lorong koridor yang gelap. Suara asing yang tiba-tiba hadir serta aura kelam membuat Naruto waspada. Suara tepukan langkah berbarengan dengan kepulan asap membuat suasana terasa mencekam.
Dengan tiba-tiba sosok Haku yang sudah terkulai lemas itu terpental menuju Gaara, Tenten dan Hinata berada. Neji berbalik hendak menyelamatkan mereka, namun langkahnya terhenti saat dinding pasir tiba-tiba muncul sebelum menangkap badan Haku. Dari balik pasir, sosok Gaara dengan tatapan tajam terlihat. Naruto yang sudah bersama Gaara ribuan tahun, langsung menyadari kalau temannya ini tengah menahan amarah.
"Hn, aku tidak tahu kau ada di sana, Gaara." Suara asing itu kembali bersuara dan kali ini pemiliknya terlihat dibawah sinar lampu yang remang. Sesosok laki-laki yang memakai mantel panjang berwarna hitam dengan corak awan merah.
Manik hijau pudar itu menatap tajam sosok di depannya. Saat sosok itu melepaskan tudungnya dan memperlihatkan rambut merah serupa dengan Gaara. Tanpa aba-aba, kumpulan pasir memadat lalu berubah menjadi bola-bola sebelum melesat cepat menuju sosok bermantel hitam.
Tenten memekik tertahan dan refleks memeluk Hinata yang masih pingsan. Neji melompat mundur saat serangan Gaara mendesaknya untuk mundur. Sementara itu Naruto kini berada disebelah Haku dan menatap temannya yang sudah tiada. Youkai rubah itu menutup mata Haku yang semula terbuka dan menatap lurus ke sosok baru yang datang tanpa diundang.
Setelah kepulan asap dari pasir yang menyerang beruntun memudar. Gaara berdecih pelan begitu melihat sosok itu masih berdiri, tanpa ada luka ataupun goresan. Sosok misterius itu menepuk pundaknya untuk menghilangkan debu pasir yang menempel.
"Seranganmu masih lemah seperti biasanya, Gaara. Apa kau masih berpikir untuk menjadi penerus Sabaku dengan dirimu yang payah itu?"
Gaara mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Pemuda dengan rambut merah itu tidak pernah menyangka akan melihat lagi, laki-laki yang memiiki rupa yang hampir sama dengannya itu. Laki-laki yang sudah membunuh kakak laki-lakinya serta menjadi penghianat.
Manik hijau pudar itu menyipit tajam, "Nii-san..."
Laki-laki yang memiliki rambut merah pendek itu menyeringai. Seakan tatapan tajam dari Gaara maupun Naruto sama sekali tidak ia rasakan. Neji menatap pendatang baru itu dengan hati-hati, sosoknya hampir mirip dengan laki-laki merah yang berada di samping Tenten.
"Kau membuatku terharu, karena setelah apa yang aku lakukan kau masih mau memanggilku 'nii-san', Gaara."
Pemuda merah itu berdecak keras, sejujurnya ia tidak sengaja mengucapkannya. Siapa yang masih ingin memanggil laki-laki itu kakak. Mengingat apa yang telah ia lakukan dimasa lalu. Gaara menyipitkan matanya, raut datar kembali terlihat setelah sempat berkerut sesaat.
"Apa lagi yang kau inginkan, Sasori?"
Naruto menaikkan sebelah alisnya begitu mendengar nama yang tidak asing ditelinganya. Manik biru lautnya melirik sekilas pada Gaara sebelum kembali menatap Sasori. Pemuda dengan rambut merah yang agak lebih panjang dan sedikit bergelombang dari Gaara, tersenyum samar.
"Hanya membuang sampah yang sudah tidak berguna lagi." Perkataan sinis Sasori berhasil membuat Naruto mengepalkan tangannya. "Sekaligus datang untuk menyampaikan sebuah pesan untuk cucu dari Kurama-sama."
Pemuda pirang itu lantas mengernyit mendengarnya. Sasori mengalihkan tatapannya ke arah Naruto, masih dengan seringaian tipis di wajah pucatnya.
"Hyuuga Hinata akan menjadi milikku."
Kalimat singkat itu mampu membuat jantung Naruto, Tenten dan Neji serasa berhenti berdetak mendengarnya. Neji maju selangkah, kerutan di dahinya terlihat jelas dengan matanya yang menyipit tajam.
"Dan sampaikan pesanku, jangan pernah bermimpi memiliki Hinata!"
Sasori menatap Neji dengan santainya, "Kau tidak ada hubungannya, jadi diamlah!"
"Apa kau bilang—"
"—Tiga ribu tahun!" Sasori menyela perkataan Neji dengan nada tinggi dan mimik wajahnya berubah serius. "Meski butuh waktu tiga ribu tahun, itu tidaklah masalah. Hyuuga Hinata akan menjadi miliknya. Dan pada saat waktunya tiba kau pasti akan berpikiran sama dengan kami, cucu dari Kurama-sama."
Gaara kembali berdecih pelan, ia mengulurkan salah satu tangannya untuk memerintahkan pasirnya menyerang Sasori. Tetapi seperti tadi, serangan Gaara berhasil dipatahkan oleh Sasori. Pemuda dengan mantel hitam itu tertawa kecil bersamaan dengan tubuhnya yang mulai memudar.
"Sampai berjumpa lagi, cucu dari Kurama-sama. Kita akan bertemu lagi saat Hyuuga Hinata bersanding dengannya."
Usai mengatakan hal itu, sosok Sasori benar-benar lenyap dari hadapan mereka berempat. Naruto masih berdiri mematung di tempatnya berpijak. Sejak tadi suara Sasori terus terngiang di kepalanya. Bagaimana mungkin, laki-laki itu masih hidup. Bukankah dia sudah mati bersama dengan kematian Hinata? Naruto merasa tanah yang ia pijak bergetar dan membuatnya sedikit limbung.
Saat dia hampir terjatuh, seseorang menarik kerah jaket hitamnya dengan kasar. Manik lavender yang menyipit tajam bertemu dengan manik biru lautnya. Pancaran amarah terlihat jelas dari kedua mata Neji.
"Jelaskan apa yang terjadi sebenarnya!" titah Neji dengan tatapan yang menunjukkan ia tidak ingin dibantah. "Kenapa kau dan youkai cermin itu seperti mengenal Hinata? Kenapa Hinata dibawa-bawa dan apa hubungannya dia denganmu serta, serta masalah tiga ribu tahun yang lalu, hah?!"
"Neji!" Tenten berseru memanggilnya, mencoba mengingatkannya agar tidak terlalu emosi.
Kakak sepupu Hinata menoleh sesaat sebelum menghembuskan nafasnya kasar dan melepaskan cengkramannya. Gaara memperhatikan keduanya dari jauh, sosok Naruto yang terlihat masih terkejut hanya bisa mengerjap pelan. Setelah bisa meredakan rasa terkejutnya, manik biru laut itu melirik sekilas pada sosok Hinata yang masih dalam pelukan Tenten.
"Hinata dan aku..." Naruto berujar pelan, menarik perhatian Tenten dan Neji ke arahnya. Manik biru lautnya masih tetap menatap lekat-lekat sosok Hinata yang mulai membuka matanya. "...Adalah sepasang kekasih."
"Huh?"
"Mantan lebih tepatnya."
Tenten dan Neji sama-sama mengerjapkan mata mereka sebelum mata mereka melebar dan membulat sempurna.
"APA?!"
.
.
.
To Be Continue...
AN/ Hallo~ Hallo Fandom NaruHina. Lagi, saya telat updatenya, sudah tiga minggu yah. Berharap masih ada yang menantikan fiction ini. Aku ucapkan terima kasih yang telah memfollow/Fav/ dan review cerita ini. Semoga kalian terhibur dengan humor yang aku sisipkan di chapter ini, entah kerasa apa kagak lucunya hehehe.
Next, Coco mau balas review kalian di sini.
Kurotsuhi mangetsu: kenapa Haku aku buat jadi cowok? Yah selain katanya di canon itu dia emang cowok, dan aku rasa menarik aja gitu hehe *plakk* lalu untuk bagian Hinata yang perutnya ngebuncit, yeep Hinata itu lagi bunting alias hamil muda. Makin penasarankaaaan sama masa lalu NaruHina? Baca terus yaaa~ makasih buat reviewnya.
Salsabilla12: maunya juga di up tiap minggu, Cuma apalah daya saya, ketika ide gak muncul-muncul dan rasa malas menyerang. T^T maaf ya, tapi semoga kamu gak bosan nunggu hehehe. Makasih ya udah baca.
Guest: hallo~ makasih udah baca dan review cerita coco. Iyaaa Haku itu hombreng, tapi semoga gak bikin kamu illfeel dan jadi berenti baca ya huhuhu... Cuma cerita Haku doang kok yang hombreng, sisanya straight semua bener lohh... siaaap, nanti kalau cerita ini kelar baru aku publish ya, biar gak lama updatenya...
Ishida: iya ini lanjut kok, makasih udah mau baca ^^.
Sampai jumpa lagi~
