Author: Cocoa2795.

Ranting: T.

Genre: Supranatural, Hurt/Family, Romance.

Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto, saya mah cuma pinjam Chara doang. Dan minjem ide Shirabyoushi dari Kumagai Kyoko-sensei.

Warning: Typo, OOC.

Chapter 11: Awal dari Takdir, Bagian 1.

.

.

.

Tiga Ribu Tahun yang lalu, dimana daerah Konoha berada masih dikenal sebagai Negara Api. Negara yang cukup damai tanpa adanya peperangan serta terbagi menjadi beberapa daerah yang dikuasai para bangsawan. Desa Sawah Padi termasuk desa kecil yang sedang berkembang dengan banyaknya hasil pertanian serta kerajinan tangan yang cukup terkenal. Desa sederhana yang berdampingan dengan gunung-gunung, serta menyembah Dewi padi.

Disalah satu rumah kecil dengan dinding yang terbuat dari bambu. Aroma masakan menguar dari balik jendela yang terbuka. Sebuah suara merdu yang tengah bersenandung juga terdengar dari seorang gadis manis berusia lima belas tahun. Seorang gadis manis dengan rambut biru gelap serta memakai yukata bercorak bunga lavender.

Dari balik pintu yang terhubung dengan ruang makan, seorang wanita paruh baya menghampiri anak gadisnya. Wanita paruh baya yang memiliki rambut panjang sepunggung seperti putrinya, hanya saja ia memiliki rambut coklat gelap. Hyuuga Hikari tersenyum tipis meski gurat lelah terlihat walau samar.

"Apa yang sedang kau masak?"

Gadis dengan manik serupa bulan itu menolehkan kepalanya sebelum tersenyum manis pada Ibunya. "Ikan goreng, apa Ibu sudah lapar? Tunggu sebentar, sarapan sebentar lagi siap." Hyuuga Hinata, anak semata wayang Hikari berujar lalu dengan hati-hati mengangkat ikan tawar yang kemarin ia tangkap.

Hikari mengangguk paham lalu memperhatikan anak perempuannya sebelum cukup terkejut dengan besarnya ikan yang Hinata masak. "Besar sekali! Apa ikan di sungai sedang berpesta?"

Hinata tertawa geli mendengarnya, gadis manis itu menggeleng pelan. "Teman-temanku membantuku menangkap mereka," ujar Hinata dengan senyum manis masih terukir di sana.

Wanita paruh baya itu manggut-manggut lalu membantu putrinya memotong sayur. "Jangan lupa berikan beberapa ikan itu untuk teman-temanmu. Berkat mereka kita jadi bisa menikmati ikan segar dan besar ini."

"Iya Bu."

"Lalu kapan kamu mengenalkan mereka pada Ibu?" Hikari kembali berujar, tanpa menyadari gerakan tangan Hinata yang berhenti.

Gadis dengan rambut biru gelap itu kembali memotong bawang sebelum menjawab Ibunya. "Mungkin nanti, mereka berasal dari desa seberang dan mereka juga cukup sibuk." Hinata berujar, berharap alasannya bisa diterima Ibunya.

Hikari menghampiri Hinata lalu memberikan sayuran yang sudah ia potong kecil-kecil. Wanita paruh baya itu kembali mengangguk mengerti. "Ya sudah, tapi ingat, kalau mereka ada waktu ajaklah Naruto-kun dan Haku-kun untuk mampir kemari, mengerti?"

"Un, aku mengerti Bu."

...

Setelah selesai menikmati sarapan, Hinata pamit untuk pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Tidak lupa gadis indigo itu membawa keranjang yang berisi makanan untuk kedua sahabatnya. Langkah kecil Hinata menyusuri jalan setapak dengan banyaknya pohon-pohon rindang serta kupu-kupu yang terbang seakan menari. Senandung pelan kembali Hinata lantunkan, sembari menikmati mentari pagi yang baru menanjak naik.

Saat pemilik manik lavender itu sampai di tepi sungai. Senyum Hinata merekah dan berlari kecil menuju sebuah batu besar di depannya. Langkahnya berubah menjadi pelan dan berjinjit, mengendap-endap untuk mengejutkan seseorang di sana. Seseorang yang sudah sedari kecil menjadi teman berharganya. Hinata berusaha menahan diri untuk tidak tertawa sebelum ia melompat sembari merentangkan kedua tangannya.

Namun raut wajahnya kini berubah heran, tidak ada siapapun di sana. Tidak ada rambut kuning di sana, tidak ada manik biru laut yang melebar di sana. Hinata menghela nafas pelan, mungkin temannya itu belum datang. Dengan hati kecewa, Hinata berbalik dan hanya untuk dikejutkan oleh kehadiran seseorang.

"Naruto-kun!" pekiknya tertahan.

Di depannya, pemuda dengan rambut pirang serta memiliki tiga garis halus di kedua pipinya itu tersenyum lebar. "Kau terkejut?" tanyanya.

Hinata mengelus dadanya dan mengangguk. "Un, kau berhasil membuatku jantungan Naruto-kun!"

"Benarkah? Itu bagus, berarti balas dendamku berhasil." Naruto maju selangkah lalu mencubit kedua pipi gembil Hinata. Membuat gadis itu mengaduh pelan dan berusaha melepaskan cubitan Naruto.

"Na-Naruto-kun... lepaskan..."

"Tidak mau, hehehe..."

"Na-Naruto-kun... ku mohon..."

Pemuda pirang itu tertawa geli melihat raut memelas Hinata. "Baiklah-baiklah," ujar Naruto dan melepaskan cubitannya. Namun setelah itu dengan secepat kilat, Naruto mendaratkan bibirnya ke pipi Hinata yang memerah.

Manik lavender itu melebar, terkejut dengan apa yang Naruto lakukan. Gadis lavender itu menunduk guna menyembunyikan rona merah yang menyebar di wajahnya. Senyum lima jari terlihat jelas di wajah Naruto saat Hinata memukul pelan lengan Naruto.

"Naruto-kun no baka..." gumam Hinata pelan yang masih bisa didengar Naruto.

"Tapi tetap tampan, benarkan?"

Hinata mengangkat wajahnya dengan sebelah alis terangkat. Menyadari tatapan Hinata, pemuda pirang itu mengernyit. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa," ujar Hinata sembari menggelengkan kepalanya namun terlihat menahan tawa.

"Eeh... kenapa?"

"Tidak apa-apa Naruto-kun," ujar Hinata masih menahan tawa lalu beranjak untuk mengambil pakaian kotor. Naruto yang penasaran mengikuti Hinata dan mendesak gadis itu untuk mengatakan apa yang ia pikirkan tentangnya.

"Hei, ayolah katakan saja-ttebayo!"

"Katakan apa?"

Hinata dan Naruto sontak menoleh saat suara baru hadir di antara mereka. Senyum Hinata mengembang kala melihat sosok Haku yang menghampiri mereka. Haku mengulas senyum tipis dan menyapa kedua temannya.

"Jadi, apa yang harus dikatakan?" Haku kembali mengulang pertanyaannya.

Naruto mengerucutkan bibirnya, "Itu tidak ada hubungannya denganmu Okama*, itte!" pemuda pirang itu mengaduh pelan saat lengannya dipukul Haku. "Apa yang kau lakukan? sakit tahu!"

"Tadi ada nyamuk," elak Haku santai.

"Mana ada nyamuk di sini!"

Haku mengalihkan tatapannya, mengacuhkan Naruto yang mendelik sebal padanya. "Jadi Hinata, ada apa?"

"Eh, itu... tadi Naruto-kun bilang kalau dia itu tampan." Sekali lagi usai mengatakan hal itu, Hinata berusaha menahan tawanya.

"Hee... begitukah?" kini manik coklatnya menatap Naruto diam. Selang beberapa saat, setengah youkai itu tertawa pendek dengan nada meremehkan.

Sudut perempatan hadir di kepala Naruto dan youkai rubah itu berteriak kesal. "OI!"

"Harusnya kau pinjamkan kaca pada si rubah bodoh ini, Hinata." Sekali lagi, Haku mengacuhkan Naruto, membuat youkai rubah merah itu menarik-narik rambut hitam Haku.

"Apa yang kau lakukan rubah bodoh?"

"Mencabut rambut panjangmu," jawab Naruto ketus.

Haku berusaha melepaskan tarikan Naruto dengan menendangnya sebelum memukul puncak kepala Naruto saat tarikan di rambutnya terlepas. "Hentikan!"

Duagh!

"Itte! Berhentilah memukul kepalaku, kalau aku jadi bodoh bagaimana?"

"Bukannya sudah dari lahir?"

"Oi!"

Hinata yang sejak tadi memperhatikan kedua temannya, tidak sanggup lagi menahan tawanya. Suara tawa yang renyah dan manis terdengar, membuat kedua youkai itu menghentikan pertengkaran kecil mereka. Setelah berhasil meredakan tawanya, gadis Hyuuga itu tersenyum lebar.

"Apa kalian lapar? Aku memasak ikan yang kemarin kita tangkap sama-sama."

Kedua youkai itu saling tatap sebelum tersenyum. Naruto seperti biasa memberikan senyum lima jarinya sementara Haku tersenyum lembut. Mereka bertiga segera mencari tempat untuk menikmati makanan yang dibawakan Hinata. Sambil menikmati hembusan angin yang mulai menghangat, canda tawa menjadi pelengkap hari mereka.

...

Langkah kecil yang berusaha menambah tempo larinya di jalanan padat penduduk. Setelah melewati persimpangan, Hinata memasuki sebuah pekarangan rumah yang tidak terlalu besar. Rumah tradisional yang memiliki plang nama di temboknya. Papan persegi panjang yang bertuliskan 'Sanggar Terumi.'

Setelah menaruh barang-barang di sebuah kamar, Hinata segera mengganti yukata polosnya dengan sebuah yukata dengan motif bunga lavender. Tidak lupa, ia juga menyanggul rambut panjangnya dan memakai bedak tipis-tipis. Setelah merasa penampilannya rapi, Hinata bergegas menuju aula yang terletak di bagian selatan rumah ini.

Dengan perlahan Hinata membuka pintu di depannya. Kepalanya ia tolehkan ke kanan dan ke kiri sebelum mengendap-endap masuk dan duduk dibarisan paling belakang. Di dalam aula yang tidak terlalu besar ini, terdapat empat baris perempuan muda yang berpenampilan serupa dengan Hinata. Mereka semua memakai yukata, rambut yang disanggul rapi, serta memakai riasan.

Hinata memiringkan kepalanya, mencoba mengintip sedikit sebelum kembali duduk tegak saat suara seorang perempuan terdengar. Suara tegas dan penuh penekanan itu berasal dari seorang wanita cantik dengan rambut panjang berwarna coklat. Wanita muda itu menatap seluruh peserta di depannya, mereka yang berada di sini adalah para peserta yang akan belajar menjadi seorang Shirabyoshi, atau dikenal juga dengan sebutan Geisha.

"Sekali lagi aku ingatkan, seorang Shirabyoshi haruslah menguasai berbagai macam bidang kesenian. Tidak hanya menari, kalian juga dituntut untuk mampu melakukan, ikebana*, chanoyu*, bahkan mampu melakukan pekerjaan rumah."

Mei Terumi, adalah seorang wanita muda yang meneruskan usaha keluarganya. Wanita cantik itu kembali berujar dengan nada tegasnya. "Dan satu hal yang perlu kalian ingat adalah, Shirabyoshi bukanlah wanita penghibur. Kita adalah seorang seniman."

Manik lavender itu menatap kagum pada sosok wanita berpakaian serba biru di depannya. Setelah acara pembukaan yang selalu diadakan setahun sekali, untuk menyambut para peserta baru selesai. Barisan para gadis itu dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama adalah mereka yang baru mulai belajar dan kelompok kedua adalah mereka yang sudah senior.

Hinata termasuk kelompok yang kedua, karena sudah setahun ia belajar menjadi shirabyoshi demi membantu meningkatkan keuangan keluarganya. Hinata berdiri di barisan paling belakang yang tengah menunggu pembimbing mereka. Saat sedang menunggu, seseorang menarik telinganya membuat Hinata mengaduh pelan.

"Jangan kira aku tidak melihatmu, Hinata."

Gadis Hyuuga itu tersenyum kaku begitu tahu siapa yang menarik telinganya. Mei menghela nafas pelan lalu berkacak pinggang menatap Hinata. Pemilik rambut biru gelap itu menunduk pelan sambil meminta maaf.

"Jadi, kenapa kamu terlambat?"

"Hehehe... i-itu... a-ano... a-aku..." Mei mengernyit saat melihat Hinata semakin tertunduk dan memainkan kedua telunjuknya. "Aku... terlalu lama... berkumpul dengan te-temanku... maafkan aku sensei!"

Wanita dengan rambut coklat panjang itu sekali lagi menghela nafas pelan. Namun melihat Hinata yang meminta maaf dan tertunduk seperti itu, membuat Mei mengulas senyum tipis. Hinata memejamkan matanya saat tiba-tiba Mei mengacak-acak rambutnya.

"Untuk kali ini, aku biarkan. Tapi, jangan ulangi lagi, bagaimanapun kau itu sudah dianggap sebagai panutan bagi yang lain, mengerti?"

Hinata membulatkan matanya begitu mendengarnya. "Ti-tidak! a-aku tidak pantas untuk dijadikan panutan, sensei."

"Apa yang kau katakan? kau itu bintang di sanggar ini Hinata!" Mei menepuk punggung Hinata, membuat gadis manis itu meringis pelan. "Jadi berjuanglah!"

Manik lavender itu sedikit melebar sebelum mengangguk mantap dan senyum manis ia ulas menawan. Mei ikut tersenyum sebelum ia menepuk tangannya, guna menarik perhatian dari kelompok dua.

"Kalian semua dengar!" Manik coklat itu menelusur menatap sekitar sepuluh perempuan di depannya. Senyum menawan Mei ulas saat akan memberikan kabar gembira bagi mereka. "Kita mendapatkan undangan untuk menampilkan tarian kita, minggu depan..." Mei sengaja menggantungkan ucapannya, senyum manisnya kian melebar saat ia melanjutkan kata-katanya. "Di Istana Pain, di depan Raja, Ratu, serta Pangeran Mahkota."

Perkataan Mei sontak membuat ricuh, para peserta berteriak histeris dan sangat antusias. Hinata memandang teman-temannya, tidak paham dengan semangat mereka yang meledak-ledak.

"Aku harus menampilkan yang terbaik, siapa tahu istana akan memanggilku untuk menjadi penari tetap mereka!" salah satu dari mereka berujar dengan tatapan harap.

"Jika kita berhasil masuk ke Istana, sudah dipastikan hidup kita akan jauh lebih baik dari sekarang."

"Bukan lebih baik lagi, tapi sangat baik!"

"Setiap hari kita akan memakai pakaian indah yang semula hanyalah mimpi!"

"Hidup tanpa perlu memikirkan, 'bagaimana kita makan besok?' Haa..."

Hinata manggut-manggut, baru paham kenapa teman-temannya bersemangat seperti itu. Semula ia kira mereka antusias karena bisa tampil di Istana dan di depan para bangsawan. Rupanya ada yang lebih baik dari itu, dan tentu saja Hinata berharap dia bisa menjadi salah satunya. Senyum manis mengembang saat Hinata membayangkan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik untuk Ibunya.

Mei menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli, "Kalau kalian ingin itu terjadi, pertama kalian harus latihan keras untuk minggu depan, mengerti?!"

"Mengerti!"

Wanita cantik itu mengangguk puas melihat semangat anak didiknya. Di belakang sosok Hinata terlihat mengangguk pelan dengan kedua tangan terkepal erat. Dia juga harus berjuang lebih gigih lagi, demi masa depan yang lebih baik untuk Ibunya. Setelah itu selama seminggu penuh para Shirabyoshi berlatih lebih keras dalam menari dan kesenian lainnya.

...

"Kau akan pergi ke Istana?" manik biru laut itu melebar dengan binar antusias.

Hinata mengangguk dengan senyum manis. Saat ini Hinata tengah berada di tepi sungai, tempat di mana dia berkumpul bersama Naruto dan Haku. Namun saat ini hanya ada mereka berdua dan mentari mulai turun membuat langit mencair senja.

"Uwa! Aku belum pernah pergi ke kota, jii-chan melarangku untuk pergi ke tempat yang banyak manusia-nya." Naruto menyandarkan punggungnya ke batu besar di belakangnya. "Kira-kira seperti apa kota itu?"

Hinata ikut menyandarkan punggungnya dan menatap lurus ke arah langit sore. "Pastinya sangat ramai, dengan banyak toko yang berjajar, pedagang yang berlomba-lomba menarik minat pelanggan. Dan juga akan banyak benda-benda yang belum pernah kau lihat sebelumnya."

"Hee... sepertinya menarik."

"Un, aku tidak sabar menunggu lusa depan!"

Pemuda pirang itu tersenyum geli, "Lebih menarik mana? Kota atau Istana?"

Gadis Hyuuga itu memiringkan kepalanya, memikirkan mana yang lebih menarik. Namun sulit, karena baginya dua-duanya sama-sama menarik dan membuatnya penasaran. Pada akhirnya, Hinata hanya menggeleng dan tersenyum kecil.

"Aku tidak bisa memilihnya."

Keduanya lalu saling tatap sebelum tertawa renyah. Hinata menatap langit sore dengan bibir yang tertarik ke atas, sebelum sesuatu mengganggu pikirannya. Naruto yang menyadari perubahan Hinata, memandang gadis manis itu khawatir.

"Hei, Naruto-kun."

"Hum?"

"...Apa kau masih ingat dengan janji kita dulu?"

Rasanya, jantung Naruto seakan berhenti berdetak untuk beberapa detik tadi. Pemuda pirang itu dapat melihat sinar lavender itu sedikit meredup. Digenggamnya tangan kecil Hinata lalu menariknya agar membawa gadis itu kedalam pelukannya. Pelan Naruto meremas pundak Hinata, berharap dapat membuat gadis itu nyaman dan tenang.

"Tentu saja aku ingat, tidak mungkin aku melupakannya."

"Lalu, apa kita bisa melakukannya? Manusia dan Youkai, apa menurutmu orang lain bisa menerimanya? Ibu-ku, apa dia mau mengerti?"

Agak sulit bagi Naruto untuk menjawab pertanyaan Hinata. Karena dia pun tahu, meskipun desa Sawah Padi termasuk desa yang aman dari para siluman, berkat keberadaan Kurama. Tetap saja ada siluman yang berbuat seenaknya dan mencelakai manusia. Bukan rahasia pula kalau masih banyak daerah-daerah yang sibuk berperang melawan youkai jahat.

Suara hela nafas yang terasa berat terdengar sebelum Naruto berujar pelan. "...Entahlah, aku juga tidak yakin Hinata-chan."

...

Kota Sawah adalah kota yang sedang berkembang dibawah pimpinan Raja dari kerajaan Pain. Raja yang terkenal baik hati dan penuh wibawa itu sangat disanjung oleh rakyatnya. Raja dan Ratu juga memiliki seorang Putra Mahkota yang tahun ini berusia tujuh belas tahun. Umur yang sudah lebih dari cukup, untuk meminang seorang Putri. Namun sayangnya, sudah lebih dari setahun belakangan ini kondisi Pangeran memburuk.

"Apa cerita yang kau dengar itu benar adanya, Kurenai?" Mei yang duduk di samping wanita muda dengan rambut hitam bermata merah itu bertanya penuh rasa ingin tahu.

Kurenai mengangguk sebelum kembali berujar. "Pamanku yang tinggal di kota yang memberitahukan hal itu padaku. Bahkan kabar kalau banyak tabib kelas atas menyerah untuk mengobati penyakit Pangeran sudah beredar luas."

"Kurenai-sensei, sebenarnya Pangeran menderita sakit apa?" salah satu dari anak didik Kurenai bertanya dan seakan mewakili seluruh pertanyaan para Shirabyoshi. Hinata yang duduk di samping gadis yang bertanya tadi, ikut mendengarkan.

"Entahlah, tidak ada yang tahu, apa penyakit Pangeran. Aku rasa Raja dan Ratu sudah mewanti-wanti agar penyakit Pangeran tidak tersebar."

Manik lavender pucat itu melirik sekilas pada jalanan yang mulai ramai. Suara ketukan langkah kuda dan derit roda kayu dari kereta kuda terdengar membelah jalanan kota yang padat. Saat maniknya menangkap siluet gedung Istana, tanpa sadar gadis Hyuuga itu mengepalkan tangannya.

Kereta kuda berwarna coklat kemerahan itu memasuki pekarangan istana sebelum berhenti tepat di depan pintu besar berdaun dua. Mei dan Kurenai keluar terlebih dahulu sebelum yang lain mengikuti. Setelah anak didiknya berbaris rapi di depannya, Mei berbalik dan memberi isyarat agar mereka mengikutinya.

Rombongan Shirabyoshi itu melewati lorong dengan ornamen indah berwarna keemasan. Mereka semua mengikuti seorang dayang yang menyambut mereka dan menuntun mereka menuju ruang persiapan. Ruangan yang sudah disiapkan untuk mereka bersiap-siap sebelum tampil di atas panggung nanti. Hinata menarik nafas sebelum mengeluarkannya perlahan, rasa gugup mulai menyerangnya dan membuat telapak tangannya keringat dingin.

.

.

.

Di sebuah kamar yang cukup luas, duduk seorang remaja laki-laki dengan balutan pakaian serba hitam. Terdengar suara ketukan pintu sebelum dari balik pintu, muncul sosok laki-laki muda dengan rambut panjang berwarna lavender pucat yang ia ikat satu, memasuki kamar. Manik lavendernya menatap lurus pada sosok anak laki-laki dengan rambut berwarna orange yang memunggungginya.

"Yahiko-sama, anda dipanggil yang mulia Raja dan Ratu."

Laki-laki yang bernama Yahiko itu berbalik, menampilkan manik coklatnya yang sayu tanpa ada sinar di sana. Perlahan ia bangkit dan berjalan menuju sosok yang umurnya tidak jauh darinya. Yahiko mengulurkan salah satu tangannya dan diterima oleh pemuda lainnya. Pemuda itu tersenyum tipis lalu berbalik, masih tetap menggenggam tangan Yahiko.

Remaja yang memiliki tubuh kurus itu melangkahkan kakinya, mengikuti langkah pemuda di sampingnya. Sosok Yahiko sekarang itu tak ubahnya seperti sebuah boneka hidup. Dia bernafas namun matanya tidak memancarkan sinar, dia hidup tapi juga seakan tanpa nyawa.

"Ah, terima kasih sudah membawa Yahiko kemari, Momoshiki-kun."

Pemuda itu tersenyum tipis sebelum membungkuk penuh hormat pada wanita cantik di depannya. "Tidak masalah yang mulia Ratu."

Setelah mengantar Yahiko untuk duduk bersama dengan kedua orang-tuanya. Momoshiki mundur beberapa langkah sebelum menatap lurus ke arah panggung yang cukup besar. Panggung yang akan dipakai untuk acara Shirabyoshi nanti.

Suara tepukan gendang dan alunan nada dari suling bambu terdengar sebelum sekitar enam orang penari memasuki panggung. Mereka semua memakai kimono dengan riasan tebal serta rambut yang disanggul. Gerakan-gerakan lembut dan selaras tercipta saat ke-enam penari mulai menarikan tarian tradisional.

Raja dan Ratu serta para bangsawan yang diundang ke Istana, menikmati tarian serta musik yang dibawakan Sanggar Terumi. Di luar panggung, Mei dan Kurenai tersenyum bangga melihat anak didik mereka dapat melakukan yang terbaik di acara besar seperti ini. Sementara itu, Hinata tengah duduk di kursi yang telah disiapkan untuk mereka. Gadis manis dengan rambut biru gelap itu tengah menunduk, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Kedua tangannya sejak tadi tidak mau berhenti gemetar semenjak ia melangkahkan kakinya kemari.

'Perasaan apa ini? seakan... ada yang mengawasiku...'

Untuk kesekian kalinya, Hinata menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Berharap dengan begitu perasaan aneh yang sejak tadi ia rasakan bisa menghilang. Manik lavendernya terpejam sebelum kembali terbuka dan kali ini tatapannya lebih tegas walau sedikit bergetar.

'Jika apa yang dikatakan Kurenai-sensei benar, aku... ingin menolongnya. Aku ingin menyembuhkan Pangeran.' Hinata mengepalkan tangannya dan mengangkat wajahnya. Manik lavendernya menatap lurus ke arah balkon dimana tempat Sang Pangeran Mahkota berada. Namun sekali lagi perasaan tak mengenakan kembali hadir, membuat perutnya terasa mual.

Kurenai yang menyadari wajah Hinata memucat, segera menghampiri gadis itu. "Kau baik-baik saja Hinata?"

Hinata mengangguk pelan sambil tersenyum tipis, "Aku baik-baik saja Kurenai-sensei... hanya sedikit... gugup... hehehe..."

"Mau aku ambilkan minum?"

Hinata kembali mengangguk dan dengan cepat Kurenai beranjak untuk mengambil segelas air. Gadis dengan manik lavender itu kembali tertunduk, tangannya masih saja gemetar. Kalau seperti ini apa yang harus ia lakukan? perasaan gugup dan tak mengenakan itu menjadi satu, membuatnya merasa pening.

Dan untuk kesekian kalinya, Hinata menarik nafas dan membuangnya perlahan. "Na-Naruto-kun..."

Ajaibnya, begitu Hinata menggumamkan nama pemuda pirang itu. Perasaan Hinata menjadi lebih baik. Perasaan hangat dengan perlahan merayap memasuki hatinya, terutama saat ia mengingat senyum mentari yang selalu Naruto ulas. Hinata tersenyum tipis, pemuda pirang itu memang sudah seperti jimat keberuntungannya saja.

"Hinata minumlah," ujar Kurenai yang datang membawa secangkir air putih.

Gadis manis itu segera mengambilnya dan meneguknya perlahan hingga tandas. "Terima kasih Kurenai-sensei, aku sudah lebih baik sekarang."

"Baguslah kalau begitu, apa kau sudah siap?"

"Un, aku siap!"

.

.

.

Hinata melangkahkan kakinya, berdiri tepat di tengah-tengah panggung besar. Di depannya dapat ia lihat tiga sosok penting bagi kota Sawah. Manik lavendernya melirik sekilas pada sosok di sebelah kiri, dimana seorang laki-laki dengan rambut orange tengah duduk dengan tatapan kosong. Lantunan nada dari alat musik mulai terdengar, memberi tanda mulainya tarian.

Gadis manis itu mengulurkan tangan kanannya lalu membuka kipas yang ia bawa. Kipas dengan ukiran bunga lavender, kipas yang merupakan hadiah dari Naruto saat dia berhasil masuk sanggar ini. Hinata bergerak perlahan dengan gemulai dan hati-hati, tidak lupa pula ia mengulas senyum menawan.

Srak!

Kimi wo omoeba kono mune ni (Saat memikirkanmu dalam hatiku).

Hembusan angin membelai lembut, membawa kesejukan pada mereka yang berada sekitar panggung. Udara yang semula agak berat dan panas, kini berubah ringan dan sejuk. Kelopak bunga yang semula kuncup, perlahan mekar dan membiarkan aromanya terbawa angin.

Tachimachi sakura saki michite (Kuncup bunga sakura mekar sempurna).

Kelopak bunga yang mekar mulai meninggalkan dahannya. Terbang bersama angin, menari di udara mengikuti tarian dan musik. Mempercantik sosok gadis yang tengah menari di atas panggung. Tidak hanya Mei dan Kurenai yang terpesona dengan pemandangan di depan mereka. Bahkan perlahan namun pasti manik coklat tanpa sinar itu mulai goyah.

Fuwari Fuwari to mai nagara (Aku akan menari-nari perlahan-lahan).

Hinata berputar perlahan-lahan, kimono dengan corak kupu-kupu itu terlihat semakin menawan. Sesekali, Hinata menutup kipasnya sebelum kembali membukanya lalu kemudian menunduk pelan. Kipas lavender itu kembali terbuka sebelum terarah di depan wajahnya, untuk menutupi separuh wajahnya.

Tarian demi tarian serta nyanyian merdu mengalun, membuat perasaan hangat dalam dada. Saat manik lavender itu menatap lurus ke arah manik coklat di depannya. Pemilik rambut orange itu beranjak dari duduknya dengan tatapan yang masih lurus, seakan enggan untuk memutuskan kontak antar keduanya.

"Yahiko?" panggil Sang Ratu ketika melihat putranya berdiri.

Sutaete okure waga koi wo (Tuk sampaikan cintaku pada dirimu).

Tersampaikah? Perasaan hangat yang ingin Hinata bagi agar dapat membuat tatapan dingin dari manik coklat itu mencair. Terdengarkah? Bahwa dunia itu indah saat kau menyukai sesuatu. Saat manik lavender itu bertemu dengan manik coklat yang sudah melangkah keluar menuju cahaya mentari. Senyum lembut, Hinata berikan untuk Sang Pangeran, berharap apa yang ingin ia sampaikan terdengar oleh Putra Mahkota.

'Okaerinasai, Ouji-sama.'

.

.

.

To Be Continue...

AN/Hufh... untunglah kali ini aku berhasil Up tanpa telat! Hehehe... tapi entah kenapa aku ngerasa kalau chapter kali ini alurnya agak kecepetan *garuk2 kepala* well, aku berharap bagian masa lalu NaruHina enggak kebanyakan chapter *nyengir kuda* soalnya yang lebih pentingkan momen NaruHina yang sekarang hehehe... Terus Terus Coco juga ngucapin makasih banyak buat yang udah memfollow/fav/dan review cerita ini. *bow bareng NaruHina*

Next, Coco mau ngejelasin kata-kata yang dikasih tanda bintang.

Okama artinya Waria. Ikebana itu seni merangkai bunga. Chanoyu itu upacara minum teh.

Lalu Coco juga akan membalas beberapa review dari para guest.

Ain: hehe maaf ya lama tapi kali ini enggak telat kok, moga suka ya sama updateannya.

NaruHina Lovely: makasih udah RnR~ iyaa kamu juga jangan berhenti baca fic ini ya~

Hime: Makasih udah mau nungguin fiction ini~

Very: Siap~ makasih udah mau nunggu.

Iuchida-chan: apa ini udah termasuk up kilat? Hehehe

Sampai bertemu lagi~