Author: Cocoa2795.
Ranting: T.
Genre: Supranatural, Drama, Romance.
Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto, saya mah cuma pinjam Chara doang. Dan minjem ide Shirabyoshi dari Kumagai Kyoko-sensei.
Warning: Typos, OOC, Sedikit menjurus M.
Chapter 13: Awal dari Takdir, Bagian 3.
.
.
.
'Itu benar, aku akan sangat bahagia jika kau mau menerimaku sebagai calon suami-mu, Hinata-san.'
Kalimat itu, berputar berulang kali dalam benaknya. Seakan sebuah delusi indah, jika yang mengatakannya adalah pemuda pirang dengan mata biru. Pemuda yang sudah ia kenal sejak ia kecil, remaja pirang yang telah memenuhi hatinya.
"Bagaimana ini? aku masih merasa bahwa semua ini hanyalah mimpi."
Manik lavender itu sontak menatap wanita paruh baya yang sejak tadi tidak berhenti mondar-mandir. Hinata menghela nafas pelan, melihat tingkah Sang Ibu yang masih seperti itu semenjak mereka pulang dari Istana Pain.
"Kaa-san," panggilnya.
"Ah! Hinata, bagaimana bisa kamu menarik perhatian Putra Mahkota?" Hikari segera menghampiri putrinya, dengan senyum yang belum juga luntur semenjak tadi. "Tapi, apa tidak masalah jika kita berbesan dengan keluarga kerajaan? Kita ini hanya rakyat biasa."
"Kaa-san." Sekali lagi Hinata memanggilnya, berusaha mendapatkan perhatian dari Hikari.
"Raja memberikan waktu seminggu untuk kita memikirkan lamaran itu. Tapi, jika melihat cara Putra Mahkota menatapmu, Ibu rasa dia serius."
Hinata kembali menghela nafas pelan, melihat Ibunya masih asyik sendiri. "Aku tidak bisa menerimanya kaa-san!" Sentakan kecil dari Hinata, cukup untuk membuat wanita paruh baya itu terdiam. Manik lavender putrinya sedikit menyayu dengan raut memelas sebelum berujar pelan. "Aku mencintai orang lain."
"O-oh..." Hikari mengerjapkan matanya, butuh beberapa saat baginya untuk tersadar. "Benarkah? Seperti apa orangnya?"
Hinata mengangkat wajahnya saat mendapati suara lembut dari Sang Ibu. Senyum hangat penuh pengertian Hinata dapatkan dari wajah Hikari. Wanita paruh baya itu menghampiri Hinata dan mengajak putrinya untuk duduk di depannya.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita?" ujar Hikari lembut sembari mengelus rambut panjang putrinya.
Selama ini Hinata selalu bekerja keras untuk membantunya. Dia jarang sekali melihat putrinya itu bermain dengan para gadis di sekitar desa mereka. Namun Hinata selalu menceritakan kedua temannya yang belum pernah Hikari temui. Meski begitu, dari raut wajah Hinata yang terlihat bahagia dan ceria, sudah cukup untuk membuatnya tahu, kalau mereka adalah teman yang baik untuk putrinya.
"Apa dia... salah satu dari temanmu?"
"Eh?" Hinata menatap Ibunya dengan manik sedikit melebar. Agak terkejut mendengar pertanyaan Ibunya, dan maniknya semakin melebar saat Hikari dengan tepatnya mengatakan nama laki-laki yang memang sudah memenuhi hatinya.
"Apa dia Naruto-kun?"
"Ba-ba-bagaimana... kaa-san tahu?!"
Hikari tertawa geli melihat reaksi putrinya. Wajah Hinata yang memerah serta pundaknya yang sedikit tegang membuatnya terlihat sekali, bahwa dia gugup setengah mati.
"Wajahmu selalu berseri setiap kali menceritakan dirinya, dan matamu... mirip dengan mata ayahmu ketika berbicara dengan kaa-san." Hikari tersenyum samar, betapa ia merindukan sosok suaminya. Melihat tatapan Hinata saat dia tengah bercerita tentang Naruto, tatapan itu selalu mengingatkan Hikari pada mendiang suaminya. "Tatapan kalian berdua sama... karena itulah Kaa-san tahu."
Hinata merasa darahnya mendidih dan wajahnya terasa panas. Namun ada rasa kesal yang mengganjal hatinya. "Kalau kaa-san sudah tahu, kenapa masih meributkan masalah lamaran Yahiko-sama?" bibir gadis lavender itu mengerucut lucu.
"Karena kaa-san tidak tahu perkembangan hubungan kalian berdua." Hinata mengalihkan tatapannya dengan wajah yang semakin memerah. "Kaa-san tidak tahu, apa kalian benar-benar serius atau tidak. Itu karena kamu tidak pernah mengajak Naruto-kun kemari," terang Hikari lalu menyentil kening putrinya.
Gadis lavender itu meringis pelan, "Itu karena Naruto-kun sibuk," elak Hinata. Dan dengan seenaknya hatinya mencelos, mendengar alasan yang ia berikan pada Ibunya.
Hikari kembali tertawa geli mendengar jawaban putrinya. "Dengar Hinata, jika laki-laki itu serius denganmu. Sesibuk apapun dia, dia pasti akan datang ke rumah dan mengenalkan dirinya pada kaa-san."
"Lalu... apa kaa-san mau menerima Naruto-kun, jika dia kemari?"
Wanita paruh baya itu bergumam pelan, senyumnya berubah geli saat ia seakan tengah mempertimbangkan jawabannya. "Selama dia serius denganmu, kaa-san tidak masalah. Karena yang terpenting dia harus benar-benar mencintaimu Hinata."
Hikari sama sekali tidak menyadari raut wajah Hinata yang sayu dengan sinar matanya yang meredup. Gadis manis itu memalingkan wajahnya, "Kalau..." ujarnya pelan hampir setengah berbisik, membuat Hikari menatap putrinya.
"...Kalau dia Youkai, apa tidak masalah?"
"Eh?"
Hinata menutup matanya rapat-rapat, mencoba siap dengan apa yang akan wanita itu katakan. karena bagaimanapun Hinata tahu apa jawabannya.
"A-apa yang ka-kau katakan Hinata? Yo-youkai?"
Mendengar nada suara Hikari sudah membuat Hinata tahu, bahwa tebakannya benar. Tanpa sadar gadis manis itu mengulas senyum samar." Iya. Dia, Naruto-kun juga termasuk bangsawan." Manik lavendernya kini beralih menatap lurus mata Hikari. "Karena Naruto-kun, adalah cucu dari penguasa daerah Konoha. Cucu dari siluman rubah ekor sembilan."
Plak!
Rasa nyeri dan panas yang seakan menyengat itu Hinata rasakan. Tangan kirinya menyentuh pipi kirinya yang memanas akibat tamparan keras Hikari. Wanita paruh baya itu menatap tajam putri semata wayangnya itu, wajahnya memerah menahan amarah.
"Kamu bercanda Hinata?"
Gadis lavender itu menunduk, menyembunyikan wajah sendunya. "Aku tidak bercanda, kaa-san."
Kedua tangan Hikari mengepal kuat, darahnya seakan naik dan mendidih. Meluap bersama dengan emosi yang membuncah. "Apa yang kau pikirkan Hinata?! Bagaimana mungkin kamu mencintai youkai?! Monster seperti mereka?!"
"Naruto-kun bukan monster seperti yang lain!" sentak Hinata tidak terima dengan kata-kata Hikari. "Naruto-kun, Haku, dan Kurama-sama bukanlah youkai jahat. Mereka semua baik, bahkan berkat merekalah, desa kita aman dari serangan youkai jahat!"
Wanita paruh baya itu temangu, dengan tatapan tidak percaya. Hikari sama sekali tidak habis pikir, bagaimana bisa putrinya berteman baik bahkan jatuh cinta pada salah satu dari mereka. Tidakkah ia ingat penyebab mengapa mereka bisa dalam situasi sulit seperti ini?
"Naruto-kun tidak sama dengan youkai yang membunuh Tou-san, kaa-san."
Seakan tahu apa yang tengah Hikari pikirkan, Hinata berujar dengan tatapan tegas. Tatapan yang baru kali ini Hikari lihat. Manik lavendernya berkilat, saat kilas balik masa lalu datang begitu saja. Ketika malam dengan rembulan bertengger indah di langit berbintang. Ketukan pintu ditengah malam, dengan rombongan anak buah suaminya berjajar rapi dengan wajah tertunduk. Cahaya obor yang saling berjajar seakan menjadi pengantar jalan langkahnya menuju sesosok jasad tanpa nyawa dengan wajah yang begitu ia kenali. Terbujur kaku dengan noda merah yang menyebar seakan bunga yang tengah mekar di dada kirinya.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?" Hikari berujar dengan nada yang bergetar, seakan menahan sesuatu di ujung tenggorokannya. "Bisa saja mereka yang mengaturnya, agar telihat seperti itu. Dan ayahmu yang menjadi korban untuk menipumu."
"Kaa-san, kematian Tou-san tidak ada hubungannya dengan mereka—"
"Tentu saja ada!" Hikari memotong cepat bantahan Hinata. Wanita paruh baya itu mundur selangkah dengan tubuh yang bergetar menahan emosi. "Mereka youkai, mereka monster, dan salah satu dari mereka telah membunuh ayahmu!"
"Kaa-san!" Hinata segera meraih kedua pundak Ibunya, berharap wanita paruh baya itu mau mendengarnya. "Mereka melindungi kita. Walau mereka tidak bisa melindungi Tou-san, tapi—"
"—Jangan pernah menemuinya lagi," desis Hikari lalu menepis kedua tangan Hinata.
Manik lavender gadis itu melebar, "A-apa...?"
"Jangan temui mereka lagi. Lusa, kita pergi ke Istana dan menerima lamaran Yahiko-sama."
Hinata melebarkan matanya, jantungnya terasa berhenti berdetak begitu mendengar kata-kata Ibunya. Menerima... itu artinya dia akan menikah dengan Pangeran Yahiko dan berpisah dengan Naruto.
"Tidak mau..." Hikari memalingkan wajahnya, berniat pergi tanpa mempedulikan protesan putrinya. "Tidak mau! Aku tidak mau menikah dengan orang lain selain Naruto-kun!" Hinata segera berbalik pergi meninggalkan Hikari yang memanggil namanya.
Gadis dengan rambut biru gelap itu terus berlari menyusuri jalan yang sudah amat ia kenal. Nafasnya memburu, dengan emosi yang membuncah dalam dada. Matahari yang mulai turun dan mengubah langit biru menjadi senja, sama sekali tidak membantunya. Jika biasanya, Hinata selalu menyukai langit senja, kali ini ingatan tentang senja hanya membuatnya ingin menangis dan meraungkan nama Naruto.
"Hinata-chan, apa kamu mau menjadi pengantinku?" Saat itu, Hinata mengira kalau remaja di depannya itu tengah bercanda. Namun tatapan dari manik biru lautnya yang tertimpa cahaya senja, mampu memesona Hinata.
"Umur tiga belas tahun, adalah umur dewasa bagi para siluman. Tapi untuk manusia adalah umur enam belas tahun. Karena itu, saat kamu berusia enam belas tahun, maukah kamu menjadi pengantinku?"
Gadis berumur empat belas tahun itu tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan saat Naruto meraih kedua tangannya dan menciumnya lembut, dia bahkan tidak sadar sejak kapan remaja pirang itu berlutut di depannya. Saat dia tersadar sepenuhnya, hal pertama yang ia sadari adalah kedua kuping Naruto yang memerah. Kebiasaan dari remaja pirang itu saat menahan malu, dan hal itu sukses membuat Hinata tertawa kecil.
"Kenapa malah tertawa, Hinata-chan!" sungut pemuda pirang itu, mengerucutkan bibirnya kesal.
Hinata berusaha meredakan tawanya, namun yang ada badannya semakin berguncang hebat. "Ma-maafkan aku Naruto-kun...kuhu..hu... ta-tapi kau sungguh lucu!"
Tidak hanya gadis itu tertawa, tapi dia juga malah mengatakan kalau dirinya itu lucu. Naruto mengembungkan pipinya dan bersedakap. "Ini tidak benar, seharusnya hal ini menjadi romantis seperti yang aku lihat dari sepasang manusia beberapa hari yang lalu. Tapi kenapa justru menjadi lawakan di mata Hinata-chan?"
Hinata semakin tertawa mendengar keluhan Naruto, namun melihat remaja tanggung itu mengerucut lucu membuat Hinata berdehem pelan. Berusaha menghilangkan rasa geli di perutnya sebelum memeluk Naruto dari belakang.
"Un, aku mau jadi pengantinmu, Naruto-kun!"
Setelah Hinata memberikan jawabannya, manik lavendernya merekam jelas bagaimana Naruto mengulas senyum bahagia. Senyum yang menurutnya paling bersinar dan paling hangat yang pernah ia ingat.
Bruk!
Hinata beranjak duduk dan meringis pelan saat rasa sakit menyerangnya. Manik lavendernya melirik kakinya yang sedikit memerah akibat tersandung batu tadi dan membuatnya terjatuh. Air mata sudah mengalir membasahi pipinya tanpa ia sadari. Suara isakan tangis lah yang membuatnya tersadar yang justru membuat perasaannya semakin memburuk. Hinata menggigit bibir bawahnya, berharap dengan melakukan hal itu, ia bisa meredakan tangisnya. Namun nyatanya itu percuma, tangisnya justru pecah dan membuatnya meraungkan nama laki-laki yang sejak tadi ia raungkan dalam hatinya.
"NARUTO-KUN!"
...
"Yang Mulia Raja, tolong pertimbangkan kembali keputusan anda." Salah satu dari tiga laki-laki paruh baya itu berujar. Saat ini mereka berlima tengah berada di ruangan tempat peristirahatan Raja Pain.
"Dia hanyalah gadis biasa, bahkan dia seorang shirabyoshi. Apa yang akan rakyat pikirkan nanti jika Putra mahkota menikah dengan gadis kalangan bawah?" seorang laki-laki tua berbadan kecil ikut menambahkan.
"Tapi, gadis itu juga bukanlah gadis biasa." Seorang laki-laki berbadan besar dan kekar berujar, membuat kedua temannya menoleh menatapnya tidak mengerti. "Apa kalian lupa, Yahiko-sama sembuh dari penyakitnya karena gadis itu. Terlebih lagi jika mengingat banyaknya tabib kelas atas yang semuanya gagal menyembuhkan Pangeran."
Kedua perdana menteri itu mengangguk, menyetujui apa yang teman mereka katakan. Sementara itu Sang Raja hanya duduk dengan tatapan menerawang. Sesungguhnya ia juga agak ragu dengan keputusan anak dan Istrinya, bahkan ia tidak percaya dia menyetujui hal ini begitu saja. Saat itu dia hanya memikirkan putra semata wayangnya yang akhirnya sembuh dan dapat berbicara serta tersenyum hangat seperti dulu lagi.
"Jika gadis itu memang bukanlah gadis biasa, mungkin keputusan Raja tidak sepenuhnya salah." Raja Pain melirik sekilas pada sosok perdana menterinya yang masih terbilang muda di antara dua rekannya. Pemuda itu membenarkan kacamatanya sebelum kembali berujar pelan. "Jika dia bisa menyembuhkan segala macam penyakit, maka akan ada banyak bangsawan serta kerajaan lain yang akan memintanya untuk menyembuhkan mereka."
Mengerti dengan arah pembicaraan laki-laki dengan rambut biru itu, laki-laki tua itu menyipitkan matanya. "Kita bisa membuat mereka untuk bekerja sama dengan kita, dan juga mungkin kita bisa memperluas kekuasaan kerajaan Pain, begitu maksudmu?"
Pria muda itu tersenyum samar, "Entahlah, bagaimanapun keputusan ini ada di tangan Baginda Raja." Pemuda itu lantas menatap Raja yang masih terdiam dan tenggelam dalam pemikirannya setelah mendengarkan kata-kata para perdana menterinya.
Di sudut ruangan, Momoshiki berdiri dalam diam. Wajahnya tertunduk dengan tatapan tenang dengan sinar matanya yang sedikit meredup.
...
Naruto menggaruk belakang kepalanya sembari menyusuri jalan setapak. Bulan sudah berada di atas langit, dan dia baru selesai membaca laporan yang diberikan Gaara. Laporan yang seharusnya dikerjakan kakeknya, namun dengan tidak bertanggung jawab dan seenaknya, tugas itu dilemparkan kepadanya. Pemuda pirang itu menggeram kesal, pekerjaan yang cukup menyita waktu itu membuatnya seharian ini tidak bisa keluar rumah.
Cucu dari Kurama itu menguap lebar, mungkin malam ini dia akan tidur di luar sembari menikmati angin malam. Lumayan, dengan begitu mungkin dapat membantunya untuk kembali merasa segar. Naruto mengayunkan langkahnya menuju sungai, tempat di mana dia biasa menghabiskan waktu bersama kedua temannya.
Saat manik biru lautnya bisa melihat sungai yang tampak berkilau terkena sinar rembulan. Maniknya menangkap sosok seseorang yang sangat ia kenali. Naruto membulatkan matanya begitu menyadari siapa sosok itu, buru-buru dia berlari menghampirinya.
"Hinata-chan!" seru pemuda itu dan segera berjongkok di samping Hinata. Penampilan Hinata saat ini sungguh menyedihkan dengan yukata putihnya yang kotor terkena tanah di sana sini, serta rambut panjangnya yang berantakan. "Oi, kau baik-baik saja Hinata-chan?" Naruto mengguncangkan bahu Hinata pelan, berharap gadis itu baik-baik saja.
Hinata mengangkat wajahnya, menampilkan manik lanvendernya yang memucat dengan sudut matanya yang sedikit memerah. Jejak air mata juga terlihat jelas di kedua pipi putih gadis itu, membuat Naruto bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Naru...to-ku...n"
"Iya. Ini aku, kau baik-baik saja Hinata-chan?"
Gadis lavender itu terdiam cukup lama, hanya menatap dalam sepasang manik biru laut di depannya. Sebelum akhirnya dia merangkul Naruto, menelusupkan kepalanya di sela-sela leher pemuda pirang itu. Naruto membalas pelukan gadis itu dengan perasaan bingung. Apa yang terjadi padanya, kenapa dia menangis dan terlihat berantakan seperti ini.
Saat pelukan Hinata makin mengerat, pemuda pirang itu menghela nafas pelan. Percuma jika ia menanyakannya sekarang, lebih baik sekarang ia membantu Hinata membersihkan dirinya. Dengan hati-hati Naruto menggendong Hinata tanpa membiarkan gadis itu melepaskan pelukan di lehernya. Naruto berjalan mendekati bebatuan yang dekat dengan air sungai dan mendudukkan Hinata di atas batu dengan hati-hati.
"Hinata-chan," panggil Naruto lembut, dia berusaha melepaskan rangkulan Hinata pelan-pelan.
Setelah terlepas, Naruto membuat beberapa bola api rubah berwarna biru muda dengan kilatan cahaya putih dan membiarkan bola-bola api itu melayang di udara agar membuat sekitarnya lebih terang. Lalu setelahnya Naruto mengeluarkan sebuah kain kecil yang biasa ia bawa dan merendamnya ke dalam air sebelum memerasnya dan dengan hati-hati membersihkan tanah kotor yang mengenai wajah putih Hinata. Naruto membasuh wajah Hinata lalu kedua tangannya serta kedua kakinya.
Manik biru lautnya sedikit menyipit saat melihat rona merah di sekitar pergelangan kaki Hinata. Naruto membasuh kedua kaki Hinata sebelum memijitnya pelan-pelan, berharap tidak ada luka serius sebelum menghela nafas lega. Setelah selesai, tangan besar pemuda pirang itu beralih pada rambut panjang Hinata. Dengan senyum lembut, Naruto menyisir pelan rambut panjang yang menjadi kesukaannya dengan hati-hati. Jemari panjangnya mencoba menata kembali poni Hinata yang sempat berantakan sebelum tersenyum puas.
"Ini baru gadisku," ujar Naruto dengan cengiran khasnya.
Manik biru lautnya menatap teduh pada sepasang bulan kembar cantik di depannya. Cukup lama mereka berdua bertatapan sampai rona merah mulai muncul di kedua pipi Hinata. Gadis lavender itu kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan dan memberikan kecupan singkat pada kekasihnya.
Senyum miring tercipta di wajah pemuda pirang saat Hinata memundurkan wajahnya, Naruto terkekeh pelan. "Tidak biasanya kau agresif seperti ini, Hinata-chan."
Gadis itu tersenyum malu namun tidak membantah, justru ia kembali merangkul leher Naruto dan menaruh dagunya di atas pundak Naruto. Pemuda pirang itu membalas pelukan Hinata dan mengusap lembut rambut panjang gadis lavender itu.
"Jadi..." ujar Naruto pelan, mencoba untuk mulai menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ada masalah apa?" manik biru lautnya melirik sekilas, saat ia merasakan Hinata mencengkram yukata hitamnya.
Gadis lavender itu memejamkan matanya, raut perih terlihat jelas di sana. Hinata menghela nafas perlahan sebelum tersenyum tipis dan berbisik pelan di samping telinga Naruto.
"Naruto-kun... jadikan aku milikmu, seutuhnya."
.
.
Manik biru laut itu membulat sempurna, agak tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Cepat-cepat Naruto mendorong pelan badan Hinata dan menatap gadis itu dengan wajah yang sudah merah padam.
"Hi-Hi-Hi-Hinata-chan? A-apa yang ka-kau katakan barusan?" Naruto berharap kalau Hinata sedang mengerjainya, namun nyatanya tatapan lurus yang ia dapatkan dari gadis itu. "Ka-ka-kau... serius?" Naruto kembali bertanya dengan terbata-bata.
Hinata mengangguk pelan sebelum tersenyum tipis, "Aku menginginkanmu, Naruto-kun. Apa... tidak boleh?"
Naruto mengerutkan kedua alisnya, berfikir. Ada apa dengan Hinata? kenapa sikap gadis itu aneh sekali, ataukah gadis di depannya ini bukanlah Hinata yang ia kenal? Naruto melirik, mengamati Hinata yang balas menatapnya tenang dan teduh. Tidak, Naruto yakin kalau yang ada di hadapannya kini adalah Hinata, teman masa kecilnya dan juga kekasihnya. Saat ini yang mengganggu pikirannya adalah tatapan yang Hinata berikan padanya.
"Naruto-kun..."
"Eh, huh? U-uwa..." Pemuda pirang itu mengerjapkan matanya, masih terkejut dengan Hinata yang tiba-tiba memeluknya dan mencium lehernya. Kecupan singkat yang Hinata berikan, mampu membuat jantung Naruto seakan meledak. Darahnya seketika naik dan mendidih membuat wajahnya memanas.
"Tu-tunggu dulu Hinata-chan?!" Naruto kembali mendorong badan Hinata, namun saat manik biru lautnya bertemu dengan dua pasang rembulan itu. Hati Naruto mencelos saat itu juga, tatapan yang Hinata berikan berhasil meluluh lantakkan pertahanan mentalnya.
Pemuda pirang itu menarik pinggang Hinata, membawanya untuk menghapus jarak antara mereka berdua. Bibir keduanya saling berpangutan, menciptakan suara decapan saat kedua bibir mereka saling beradu. Naruto melumat lembut bibir kenyal kekasihnya sebelum beralih dan mencium leher gadis itu. Perlahan kecupan itu mulai turun, bersamaan dengan tangan Naruto yang mencoba merebahkan Hinata dengan perlahan.
Suara desahan dan nafas yang terengah dari Hinata menjadi pacuan bagi Naruto. Pemuda pirang itu mulai membuka perlahan yukata yang menutupi tubuh Hinata. Bibirnya kembali melumat leher jenjang Hinata, membuat gadis itu mendesah hebat. Naruto menggunakan tangannya yang bebas untuk memeluk Hinata dan membenamkan kepalanya di antara celah leher Hinata dan mencium aroma lavender dari gadisnya.
Hinata membuka matanya perlahan, manik lavendernya bertemu dengan kulit kecoklatan Naruto. Dari balik yukata hitam yang mulai longar itu, Hinata mampu melihat dada bidang Naruto yang berbentuk. Hal itu mengundang rona merah di pipinya dan membuatnya mengalihkan wajahnya. Hinata kembali memejamkan matanya, saat merasakan sentuhan Naruto pada setiap inchi tubuhnya yang begitu lembut dan perlahan, seakan pemuda pirang itu takut menyakitinya.
Sadar dengan apa yang tengah ia pikirkan, Hinata tersenyum pahit. Saat ini, dia lah yang menyakiti pemuda itu. Tanpa pikir panjang dan terbawa emosi serta nafsu, Hinata memaksakan kehendaknya pada Naruto. Memaksa pemuda itu untuk menjadikan dirinya milik Naruto seutuhnya, tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi nanti.
'Jangan temui mereka lagi. Lusa, kita pergi ke Istana dan menerima lamaran Yahiko-sama.'
Ingatan itu kembali hadir, membuat Hinata memejamkan matanya dan mengepal kedua tangannya. Dia tidak ingin berpisah dengan Naruto, dia tidak ingin menikah dengan siapapun kecuali dengan Naruto. Dia tidak ingin menyerahkan hati dan tubuhnya selain pada Naruto, karena itu jika dia masih tidak berhasil meluluhkan hati Ibunya. Jika pada akhirnya dia harus berpisah dengan Naruto, maka setidaknya biarkan dia mengingat bagaimana Naruto memeluknya, mendekapnya, dan mencurahkan rasa cintanya terhadap siluman rubah ini.
"Maafkan aku... Naruto-kun..."
Pemuda pirang itu mengernyit begitu mendengar bisikan pelan dari Hinata. Sekali lagi, dia tidak mengerti dengan sikap aneh Hinata. Gadis itu terlihat begitu putus-asa dan terlihat rapuh, karena itulah dia ingin memeluknya, ingin menyiraminya dengan kasih sayang untuknya. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, seakan ada sesuatu yang salah namun Naruto tidak tahu apa itu.
'Cinta dengan nafsu tidak akan pernah berakhir baik, tapi jika dengan kasih sayang. Maka cinta itu akan tumbuh menjadi abadi.'
Manik biru laut itu melebar saat kata-kata itu terngiang di kepalanya. Akhirnya dia tahu apa yang salah, Naruto menatap Hinata yang tengah memejamkan matanya. Bagaimana bisa, Naruto tidak melihat kesedihan dan kecemasan dari gurat wajah Hinata. Jemari kekar dan panjangnya mengusap lembut pipi Hinata sebelum mengecupnya pelan. Kecupan itu membuat Hinata membuka matanya dan memandang Naruto tidak mengerti.
Naruto mengulas senyum hangat sebelum beranjak duduk, "Rapikan bajumu, Hinata-chan."
"Eh? Ke-kenapa?" gadis lavender itu ikut beranjak duduk, ia menggunakan yukata-nya untuk menutupi tubuh setengah polosnya. "Apa... kau tidak menginginkanku?"
Naruto tertawa kecil begitu mendapati nada sedih dari kekasihnya. Bohong jika dia bilang dia tidak menginginkannya, Naruto sangat menginginkan Hinata untuk menjadi miliknya. Siluman rubah itu ingin menjadikan Hinata pengantinnya, menjadi istri dan menjadi Ibu dari anak-anaknya nanti. Tapi karena itulah, karena keinginannya itulah yang membuatnya harus berhenti, sebelum semua terlambat dan menjadi sulit untuk diperbaiki lagi.
"Aku menginginkanmu, Hinata-chan."
"Lalu kenapa?"
"Aku memang ingin, tapi bukan begini caranya." Pemuda pirang itu duduk berhadapan dengan Hinata, lalu membantu gadis itu merapikan pakaiannya. "Aku ingin mempersuntingmu, aku ingin menjadikanmu pengantinku, lalu kita akan melakukannya setelah itu-ttebayo!" Naruto terkekeh pelan dengan semburat merah di pipinya.
"Karena itu, tunggulah setahun lagi dan setelah itu kau akan menjadi milikku." Setelah selesai merapikan yukata Hinata, pemuda pirang itu memberikan kecupan singkat di pipi gadis lavender itu. "Bagaimana? Kau mau menunggu, Hinata-chan?"
Hinata tidak tahu, haruskah ia menangis atau marah mendengar kata-kata manis Naruto. Haruskah ia marah atau meminta maaf pada laki-laki itu karena tidak yakin bisa melakukannya. Hinata tidak tahu, mana yang harus ia pilih. Menunggu Naruto atau menolak lamaran Yahiko-sama dan membuat satu-satunya anggota keluarganya bersedih.
Seandainya saja Ibunya mau mengerti, mau memahami, bahwa tidak semua youkai itu jahat. Namun Hinata juga tidak bisa memaksakan Ibunya ketika dia sadar betul luka yang Ibunya alami begitu dalam karena youkai jahat.
"Maafkan aku... Naruto-kun..."
Naruto memandang Hinata tidak mengerti, saat gadis itu mengangkat wajahnya, air mata sudah membasahi pipinya. Hinata terisak pelan, gadis lavender itu berusaha setengah mati untuk tidak menangis, namun upayanya gagal. Hatinya terlalu sakit, memikirkan apa yang harus ia pilih, mana yang harus ia pertahankan dan mana yang harus dikorbankan.
"Aku sangat mencintaimu, Naruto-kun. Aku ingin menunggumu... berapa lamapun akan aku tunggu, bertahun-tahun ataupun ribuan tahun. Tapi..." Hinata menutup mulutnya, berusaha meredam tangisnya yang kian menjadi.
"He-hei... Hinata-chan... sebenarnya apa yang terjadi?"
Hinata beranjak dari duduknya, ia berdiri dan diikuti Naruto. Gadis itu tersenyum samar, membawa kepedihan dan penyesalan. "Aku tidak bisa, aku... akan menikah dengan Putra Mahkota."
Detik itu juga, Naruto merasa tubuhnya dihempas tanpa ampun. Wajahnya berubah pucat dengan tatapan kosong, ia menahan langkah Hinata.
"Kau bercanda, Hinata-chan?"
Hinata, gadis lavender itu melepaskan cekalan tangan Naruto darinya. Senyum tipis Hinata berikan pada siluman rubah itu.
"Maafkan aku, dan selamat tinggal, Naruto-kun."
.
.
.
To Be Continue...
AN/ Pertama coco ucapkan terima kasih untuk kalian semua yang sudah memfollow/fav/ dan mereview cerita ini. Maaf telat update, harusnya minggu kemarin. Tapi... jujur chapter ini chapter yang paling aku tunggu-tunggu. Setelah beberapa kali sempat aku hapus karena kurang gimana gitu. Akhirnya bisa aku kelarin juga, hehehe *banzai* chapter kali ini penuh dengan drama... semoga dramanya gak bikin kalian mutah yah tapi berhasil bikin kalian mewek *pletak*
Terus ada scene yang hampir menjerumus hahaha, udah gitu kayaknya kesan Hinata itu murahan banget ya di sini*dibom!* uh... uh... aku hanya mencoba untuk melukiskan pergaulan anak zaman sekarang aja kok *alesan* well, jujur aja, rada sedih melihat pergaulan anak zaman sekarang yang dengan gampangnya ngelakuin hal begitu. Seakan menjaga keperawanan itu udah out of date, kalo bahasa gaolnya. Okeh ini kenapa jadi curhat begini ya?
Teruss aku juga pengen mencoba membuat cerita, dimana kita kena dilema. Antara milih orang yang kita cintai sama satu-satunya keluarga yang kita punya, terutama Ibu. Lalu mana yang akan kita pilih, melukai hati kekasih atau melukai hati seorang Ibu. Eaaa curhat lagi saya.
Yoweslah, kalau merasa AN saya itu gak penting dan mungkin sedikit sensitif bagi kalian. Anggap saja gak pernah ada ya, aku hanya sedikit curhat kok hehehe *peace, nyengir kuda*
Next, coco mau pojok review dulu.
Thanks buat yang udah mereview, buat kalian para guest di sini coco bakal bales beberapa review kalian.
Yamato Yumi: thanks untuk review-nya, iyaa moga chapter depan bisa membuat kamu makin terkejut, tercengkang, dan histeris. *plakk, apalah saya*
Tachibana Shiro: makasih udah nganggep fic ini keren, moga kamu terus penasaran sama lanjutan cerita ini ya ^^
Guest: ini guest paling fenomenal, paling aku tunggu reviewnya, karena apa? Selalu sukses bikin saya ngakak dan semangat buat ngelanjutin fic ini. Bukan Cuma guest aja loh yang fenomenal, kalian semua yang mau menyisihkan waktu untuk sekedar memberi komentar itu the best banget! *Kasih 4 jempol* terus... apalah kamu bawa-bawa valak, kasian atuh ampe sekarang valak masih aja dibully xP. Lalu lalu maaf aku gak tahu fik yang kayak punya sanpaci TT_TT jadi yah... terima lapang dada aja ya cerita ini hehe *ditimpuklah*
Nixie Pluviophile: "coco-san jahat ngebuat si hina ama yahiko"... etto di sini aku Cuma bisa *puk2 kamu doang, dan bilang "kalau jodoh gak bakal kemana kok, Nixie-san" *nyengir kuda* terus soal kematian Hinata, next chapter akan terungkap kok. *wink* thanks ya udah mau baca *bow*
Nuruko03: kenapa harus yahiko? Kenapa bukan sasuke? Itu soalnya sasuke perannya udah ada di masa yang sekarang. Jadi umpan buat manggil Hinata *uhuk* terus kenapa Yahiko, soalnya yahiko itu rada mirip Naruto, jadi yahhh begitulah... *begitu apanya?!* lalu lalu, iya Hinata hamil dan jawabannya bakal terjawab di chapter depan hehe, thanks udah mau baca ya Nuru-chan!
Lililala249: yang nyuruh bersambung siapaaa? Sayaaa *ucung jari* yah jangan nangis dong *kasih tisu* masa baru segitu aja udah mewek, gimana dengan chapter ini? *keluar tanduk setan* kalo mewek, aku siapin sekotak tisu dehh hehehe *nyengir bareng Yahiko* yah ngadu ama Naru, Heronya aja lagi cengo gegara digood-bye-in ama heroinnya *plakk* thanks ya udah mau baca ^^
Fyuhhh... untuk pertama kalinya, words ampe 4k. Njiir... moga kalian semua yang menunggu cerita ini puas ya... sampai jumpa hari minggu, doakan saya gak telat lagi hehehe. Bye *ngilang pake asap 7warna*
