Author: Cocoa2795.

Ranting: T

Genre: Supranatural, Drama, Romance.

Disclaimer: Naruto milik Om Masashi Kishimoto, saya mah cuma pinjam Chara doang. Dan minjem ide Shirabyoshi dari Kumagai Kyoko-sensei.

Warning: Typos, OOC, Slow Update.

Chapter 14: Awal dari Takdir, Bagian 4.


.

.

.

Suara genderang, serta alunan musik menyatu dengan keramaian para warga Kota Sawah. Hari ini adalah hari bahagia, tidak hanya bagi keluarga kerajaan, tetapi juga bagi para rakyat. Hari ini adalah hari pernikahan Sang Pangeran. Kerajaan mengadakan pesta tiga hari tiga malam yang disambut gembira rakyatnya. Kedua mempelai itu dibawa berkeliling kota untuk melakukan pawai dan menyambut antusiasme rakyat Kota Sawah.

Di atas tandu berwarna merah keemasan, Hinata dengan Kimono serba putih, duduk di samping Yahiko dengan senyum tipis. Manik rembulannya memperhatikan orang-orang yang menyambut mereka dengan senyum hangat dan ceria. Mereka terlihat bahagia atas pernikahannya dengan Pangeran Yahiko. Hinata memejamkan matanya, mencoba menepis rasa sakit yang datang tanpa diminta.

"Hinata."

Panggilan lembut itu, datang bukan dari laki-laki pirang yang ia kenal. Panggilan serta genggaman lembut yang ia terima, berasal dari laki-laki yang kini berstatus 'suami' sejak dua jam yang lalu. Hinata memalingkan wajahnya, menatap lurus sepasang mata coklat yang menatapnya lembut. Gadis itu tahu, mata laki-laki itu tidak berbohong. Seakan ada bisikan suara yang terus menggema dalam kepalanya, mengatakan kata-kata cinta penuh kasih.

Yahiko meraih tangan putih yang begitu mungil dalam genggamannya. Membawanya untuk ia cium jemari lentik yang kini tersemat cincin putih dengan bandul ungu pucat. Yahiko bahagia. Dia merasa dia adalah laki-laki paling beruntung di muka bumi ini. Gadis yang telah menyelamatkannya dari kesendirian dan kegelapan, gadis yang begitu indah dan memukaunya, kini adalah istrinya. Yahiko tidak mampu menahan senyum bahagianya.

"Terima kasih, karena mau menjadi istri-ku Hinata."

Gadis lavender itu tersenyum tipis, ia menggeleng pelan sebelum menatap suaminya. "Tidak, Yahiko-sama. Saya yang seharusnya berterima kasih, karena telah menjadikan saya yang seorang rakyat biasanya, menjadi pendamping Tuan."

Senyum Yahiko kian mengembang, dan dapat Hinata lihat semburat merah di kedua pipi suaminya. laki-laki itu terlihat begitu bahagia, pemandangan yang semakin membuat ulu hatinya semakin nyeri. Hinata mengalihkan netranya, menatap lurus, kosong pada hamparan lalu lalang dengan kerumunan warga kota. Pikirannya mulai melayang, membayangkan sosok pemuda dengan tiga garis halus di kedua pipinya.

...

Gaara menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, manik hijau pudarnya menatap pintu di depannya. Memberikan tatapan datar dan tajam, seakan dengan begitu, pintu itu akan terbuka dan memunculkan sosok rubah yang sudah hampir seminggu ini bersembunyi di dalam sana. Pemuda merah itu kembali menghela nafas sebelum membuka pintu geser dan masuk ke dalam. Di dekat jendela besar, sosok Naruto yang tengah tiduran memunggunginya terlihat.

"Mau sampai kapan kau hibernasi, Naruto?"

"Aku rubah, bukan beruang."

"Baiklah, aku ganti pertanyaannya." Gaara melangkah mendekat dan duduk di depan Naruto yang masih memunggunginya. "Mau sampai kapan kamu seperti ini?"

"...Seperti apa maksudmu?"

Gaara menatap punggung Naruto agak lama, sebelum ia menarik pundak pemuda itu. Memaksa Naruto untuk menatapnya, manik biru itu bertemu dengan manik hijau pudar.

"Seperti ini maksudku," usai berkata seperti itu Gaara memukul kepala Naruto.

Pemuda itu segera beranjak duduk sembari mengaduh dan memegangi kepalanya. "Apa yang kau lakukan bocah rakun?!"

"Membangunkan mu, apa lagi?"

"Hah?!"

"Pergilah ketempat Hinata-san." Seketika Naruto mematung dan memalingkan wajahnya. Enggan menatap mata Gaara dan enggan untuk membicarakan perihal tentang Hinata. "Mau sampai kapan kamu bersembunyi di sini? kau mencintai Hinata, lalu kenapa tidak mengejarnya dan langsung menyerah saat dia bilang akan menikah dengan laki-laki lain?"

"Kau pikir aku tidak mengejarnya?" Naruto berujar sinis. Apa pemuda merah itu mengira dia tidak mengejar Hinata dan mencoba menghentikannya? Jangan bercanda, selama dua hari dia terus mencoba, membujuk Hinata untuk mengubah keputusannya, bahkan dia sampai bertemu dengan Ibu dari gadis yang ia cintai itu untuk meminta restu meminang Hinata.

Dan saat ia bertemu dengan Hikari, pemuda pirang itu ingat bahwa dia pernah bertemu dengan Hikari dulu. Tidak sengaja, dan mereka sempat berbincang banyak hal, bahkan wanita paruh baya itu sempat memberinya saran dan nasehat. Dulu saat ia bertemu dengan Hikari, wanita itu tersenyum lembut dan ia juga memancarkan aura hangat yang membuat Naruto merasa nyaman. Namun saat mereka bertemu lagi untuk yang kedua kalinya, senyum dan kehangatan yang Hikari pancarkan dulu, telah berubah.

'Jadi kau yang bernama Naruto-kun?'

Naruto tidak bisa melupakan betapa dinginnya tatapan yang Hikari berikan padanya saat itu. Wanita paruh baya itu menatapnya, seakan Naruto adalah sosok monster yang patut dimusnahkan. Dan saat Naruto menyampaikan isi hatinya, keinginannya untuk menikahi Hinata. Justru tamparan keras yang Naruto dapatkan, serta kalimat menusuk yang membuat pemuda pirang itu akhirnya memilih mengurung dirinya.

'Kalian berdua berbeda, kalaupun aku merestui kalian. Dewa tidak akan pernah merestui kalian.'

Kata-kata itu terus berputar di dalam benak Naruto. Apa yang Hikari katakan benar-benar menusuk hatinya. Gaara memperhatikan temannya dalam diam, tatapan yang pemuda pirang itu berikan terlihat bergolak penuh emosi.

"Aku harus bagaimana lagi, Gaara... belum cukup Haku yang menghilang. Sekarang aku harus kehilangan Hinata," Naruto berujar pelan. Ia tertawa tanpa suara dan menjadi pemicu emosi yang telah ia pendam selama ini. Naruto memandang telapak tangannya sebelum mengepalnya erat, "Mereka lenyap tanpa sempat aku sadari."

Gaara beringsut mendekati Naruto, siluman rakun itu bingung. Bagaimana caranya ia menghibur temannya, meski dia pernah merasakan kehilangan. Tetap saja, menghibur seseorang bukanlah hal mudah bagi dirinya. Alhasil, Gaara hanya menepuk pelan punggung Naruto, membiarkan siluman rubah itu mulai terisak dan menangis dalam diam.

...

Manik lavender itu menatap lingkaran putih yang menggantung di langit malam. Bersinar lembut dengan kilauan cahaya menemani para bintang. Sebulan telah berlalu semenjak ia menyadang status 'Putri Mahkota' dan hatinya masih menantikan Sang pemuda pirang. ketukan pintu terdengar, membuatnya menoleh dan menemukan sosok Momoshiki berdiri di ambang pintu kamarnya.

Lelaki berumur dua puluh tahun itu membungkuk hormat lalu melangkah masuk sembari membawa nampan berisi makanan. Pemuda dengan manik serupa dengan Hinata, tersenyum tipis.

"Saya membawakan makan malam anda, Hinata-sama."

Hinata membalas senyum Momoshiki, "Maaf membuatmu repot, Momoshiki-kun. Dan sudah aku katakan, jangan terlalu formal denganku."

Momoshiki tertawa pelan, "Maaf maaf, tapi aku masih tidak terbiasa Hinata-sama." Pemuda itu sedikit berdehem, guna menghilangkan kegugupan saat manik Hinata menatapnya tak suka. "M-maksudku, Hinata-san."

Gadis dengan rambut biru gelap itu tersenyum puas, lalu ia beranjak dan duduk di tengah ruangan. Momoshiki segera menaruh meja berbentuk bundar dan meletakan piring berisi makanan di atas meja. Setelahnya Hinata mulai menikmati makan malamnya dengan ditemani Momoshiki.

"Apakah Yahiko-sama belum kembali dari kota sebelah?" tanya Hinata.

Momoshiki mengangguk sebelum berujar, "Jika tidak ada masalah, kemungkinan besok siang Yahiko-sama akan sampai di Istana."

Hinata mengangguk paham lalu kembali menikmati makanannya. Namun baru dua suap, Hinata menghela nafas pelan, membuat Momoshiki mengernyit heran.

"Ada apa? Apa kau tidak suka dengan makanannya Hinata-san?"

"Ah tidak! makanannya sangat enak. Aku hanya..." Momoshiki semakin menurunkan alisnya saat Hinata menggantung kalimatnya. "Apa aku harus menari di depan banyak orang besok?"

Sedetik kemudian Momoshiki tertawa kecil, "Kau itu dulu seorang Shirabyoshi yang menari di depan banyak orang. Jadi kenapa kau gugup sekarang?"

"Dulu dan sekarang itu berbeda, apa lagi jika aku hanya menari seorang diri dan belum lagi di depan mereka yang tengah menahan sakit."

Tawa Momoshiki mereda saat maniknya melihat raut sedih di wajah Hinata. "Apa kau tidak mau menari di depan orang sakit? Apa kau tidak mau menyembuhkan mereka?"

Sekali lagi Hinata menggelengkan kepalanya dan menatap lurus manik Momoshiki. "Tentu saja aku mau! Aku ingin menyembuhkan mereka, jika aku bisa menyembuhkan mereka, aku pasti akan melakukannya."

"Lalu apa masalahnya?"

"Aku hanya memiliki perasaan yang tidak enak setiap kali menari atas permintaan Raja."

Momoshiki menatap gadis itu lekat-lekat sebelum mengusap puncak kepala Hinata. Hal itu tentu saja membuat rambut Hinata menjadi berantakan. "Tidak usah memikirkan hal-hal remeh seperti itu, kau fokus saja dengan keinginan mu menyembuhkan mereka."

"Mou... Momoshiki-kun, kau menyebalkan."

Momoshiki tertawa melihat wajah Hinata yang cemberut sebelum sesuatu menarik perhatiannya. Pemuda itu menyibak poni Hinata dan maniknya menyipit saat melihat bekas luka melintang di pelipis kanan Hinata.

"Hinata-san, kau pernah terluka?"

Gadis itu menyentuh bekas lukanya sebelum mengangguk, "Ya, kalau tidak salah tiga tahun yang lalu dan hal itu membuatku tidak ingat dengan apa yang terjadi sehari sebelum aku pingsan dan ditemukan Na—maksudmu temanku."

"Bagaimana kau bisa terluka?"

"Sepertinya aku terjatuh dan membentur bebatuan di sekitar sungai."

Mendengar penuturan Hinata, Momoshiki berdecak pelan dan kembali mengacak rambut gadis itu. "kau itu terlalu ceroboh, Hinata-san."

"Kau sudah terlalu sering mengatakannya, Momoshiki-kun."

Pemuda itu menghela nafas pendek sebelum beranjak dari duduknya dan merapikan bekas makan Hinata. "Kalau begitu lebih berhati-hatilah, jangan membuat Yahiko-sama cemas." Momoshiki tertawa tanpa suara saat mendapati tanggapan pendek Hinata.

Momoshiki membuka pintu namun sebelum melangkah, ia kembali berbalik menatap Hinata. "Kau tahu, Ratu benar-benar menginginkan seorang cucu." Saat melihat wajah bingung Hinata berubah menjadi malu dan memerah, Momoshiki tersenyum jahil. "Jadi, cobalah menerima pelukan Yahiko-sama."

"Mo-Momoshiki-kun no baka!"

Pemuda itu tertawa renyah dan menutup pintu sebelum bantal menghantam wajahnya. Setelah pintu tertutup rapat, tawa renyah itu menghilang tanpa bekas. Wajah yang semula ramah kini berubah kaku dan dingin sebelum ia tersenyum miring dan melangkah pergi.

Hinata menghela nafas panjang sebelum maniknya kembali menatap bulan di langit malam. Tatapannya kosong dan menerawang jauh, memikirkan seorang laki-laki dengan senyum mentari. Apa yang tengah pemuda itu lakukan sekarang? apakah dia sudah merelakan dirinya? ataukah ia masih terpuruk atas pilihan egois yang Hinata putuskan?

Gadis itu menggunakan lengan kanannya sebagai bantalan untuk kepalanya, matanya terpejam, dan ia berbisik pelan. "Aku merindukanmu... Naruto-kun."

...

Malam semakin larut dengan rembulan yang bersinar samar-samar. Sesosok bayangan menyerupai hewan berkaki empat, terlihat dari balik pintu kamar Hinata. Dengan perlahan dan hati-hati, sosok itu membuka pintu yang menghubungkan antara kamar Hinata dan pekarangan Istana. Saat langkah sosok itu mulai memasuki kamar, cahaya lilin yang samar-samar masih mampu menyinari sosok itu.

Sosok yang itu berubah menjadi sosok manusia dengan yukata hitam serta rambut kuning terang, melambai pelan. Naruto menatap lekat-lekat sosok Hinata yang tertidur lelap. Rasa rindu mulai berdesir, membuat dadanya terasa sesak akan kerinduan pada sang gadis bulan. Naruto duduk di samping Hinata dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. Terus seperti itu selama berjam-jam, tanpa merasa bosan.

"Aku merindukanmu, Hinata-chan." Naruto tersenyum samar, betapa bodohnya dia karena butuh setengah tahun untuk dirinya kembali berdiri dan datang menemui Hinata. Bahkan meski begitu, ia masih tidak berani untuk bertemu terang-terangan dengan Hinata.

Dia lebih memilih cara pengecut seperti ini, mendatangi Hinata saat gadis itu tertidur. Namun manik yang menyembunyikan rembulan cantik itu terbuka, mengejutkan Naruto. Keduanya terdiam, tidak ada yang berucap untuk waktu yang agak lama. Sampai Hinata yang memecah kesunyian.

"Aku merindukanmu... Naruto-kun..." usai berkata seperti itu, Hinata menoleh dan melempar senyum yang sangat pemuda itu rindukan.

Senyuman yang mampu meluapkan emosi yang telah laki-laki itu pendam selama setengah tahun lamanya. Naruto menunduk, menyembunyikan wajahnya namun lama-lama isakan terdengar samar-samar. Hinata beranjak dari tidurnya dan mengusap lembut pipi Naruto, sebelum menarik dagu pemuda itu agar kedua mata mereka saling bertemu.

Manik biru laut yang sangat Hinata rindukan, berkilat sebelum tetesan air mata jatuh membasahi pipi Naruto. Pemuda itu kembali tertunduk, kata maaf terucap berulang kali. Hinata mengangguk paham sebelum menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Naruto.

"Hinata... maukah kamu memberiku kesempatan kedua?" Hinata menarik dirinya dan menatap Naruto tak mengerti. Lelaki pirang itu menatapnya lekat-lekat. "Aku ingin membawamu."

Sebenarnya, bukan niatnya untuk membuat keputusan seperti ini. Naruto hanya ingin melihat wajah Hinata. Namun ia salah, melihat Hinata hanya membuatnya ingin membawa pergi wanita dalam pelukannya ini dan menjadikannya miliknya. Manik lavender itu membulat sebelum tertutup dengan raut sedih.

"Maafkan aku... Naruto-kun," wanita itu menggeleng pelan sebelum menatap kembali sepasang mata yang menatapnya kecewa. "Aku tidak bisa..."

Naruto mengerutkan alisnya tidak mengerti, saat Hinata menarik tangannya dan membawanya untuk menyentuh perut datar wanita itu. Ada getaran aneh, serta dentuman pelan yang Naruto rasakan di telapak tangannya. Getaran itu terasa hangat, dan dentuman pelan yang seakan bernafas itu membuat Naruto paham dan menatap Hinata yang memandangnya sedih.

"Aku terus menunggumu, walau aku telah menjadi milik orang lain. Tapi desakan yang terus menekan, membuatku tidak bisa terus mengelak." Hinata menunduk, tidak berani menatap Naruto. Perasaannya berkecamuk, ia ingin menjerit dan mengatakan kalau ia masih mencintai pemuda di depannya. Namun ia tidak berhak untuk mendapatkan cinta Naruto, karena ia telah menghianati pemuda itu. tidak hanya sekali, tapi lebih dan ini adalah yang terparah.

"Maafkan aku..."

...

Butuh waktu cukup lama untuk Naruto menenangkan hatinya. Harapan yang tiba-tiba muncul terpaksa ia hempaskan kembali, jatuh dan berserakan. Hembusan angin malam membelai rambut kuningnya. Manik biru lautnya menatap lurus ke arah Istana megah dengan kilauan cahaya api obor yang mengelilinginya. Naruto menutup matanya sebelum kembali membukanya dengan tatapan tegas. Dia sudah membuat keputusan. Walaupun mereka tidak bersatu, bukan berarti cintanya terhadap Hinata lenyap begitu saja. Jika dengan melindungi Hinata dari jauh bisa membuatnya bahagia, hal itu akan Naruto lakukan sepenuh hati.

"Wah wah... Aku kira siapa malam-malam seperti ini bertengger di atas pohon." Suara asing yang tiba-tiba hadir membuat Naruto menyipitkan matanya. Sesosok laki-laki bercadar putih, berdiri di puncak pohon yang berseberangan dengan Naruto. "Apa yang dilakukan rubah merah di sini?"

"Siapa?"

Dari mata yang menyipit itu, Naruto yakin bahwa pemuda misterius itu tengah menyeringai. Aura yang laki-laki itu pancarkan juga sama sekali tidak mengenakan. "Bukan siapa-siapa untukmu, tapi cukup dikenal oleh manusia yang kau sayangi itu."

Naruto beranjak dari duduknya dan berhadap-hadapan dengan sosok asing itu. "Apa mau mu?"

"Hanya menyapa, rubah merah yang jatuh cinta terhadap manusia." Pemuda dengan kepala yang tertutupi kain putih itu tertawa. Seakan perkataannya sangatlah lucu dan membuatnya geli. "Ha... bagaimana mungkin penerus Familiar Tsunade-sama bisa begini bodohnya."

Manik biru laut itu sedikit berkilat, menatap tajam dan awas terhadap sosok itu. "Dan apa hal itu merugikanmu? Jatuh cinta terhadap manusia bukanlah kebodohan, dan aku bahagia mengenalnya."

"Meski kau tidak bisa memilikinya? Meski dia malah menikahi orang lain? Dan memiliki anak dari orang—"

"Berhenti bicara dan katakan saja apa mau mu!" sentak Naruto memotong kata-kata sosok misterius itu. Jujur saja hatinya terasa panas mendengar kata-kata pemuda itu. karena apa yang laki-laki itu katakan membuat emosinya kembali bergejolak.

"Apa kau rela mati demi seorang manusia?"

Manik biru laut itu membulat sempurna, tidak pernah menduga kata-kata itu sebelumnya.

...

Hinata mengerang pelan, tendangan pelan di dalam perutnya membuatnya terjaga. Hinata bangun dengan hati-hati agar tidak membangunkan suaminya yang tertidur pulas di sampingnya. Manik lavendernya menatap perutnya yang besar sebelum mengulas senyum hangat. Pelan ia mengusap perutnya, kebahagian dan rasa tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya kian hari semakin besar.

"Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu, anakku."

Senyum yang semula Hinata ulas kini berubah saat dirasanya tenggorokannya sedikit sakit. Ia memutar kepalanya dan menemukan secangkir air dan sebutir obat yang biasa ia minum untuk menjaga kesehatannya. Hinata menoleh, menatap suaminya yang tertidur pulas sebelum mengambil obat dan air dan meminumnya. Setelahnya Hinata kembali tidur tanpa menyadari kertas bekas obat pil yang ia minum mengeluarkan asap kehitaman sebelum lenyap tanpa bekas.

...

Naruto membulatkan matanya, kedua tangannya mengepal erat dan manik biru itu berubah merah. Gigi gerahamnya saling beradu hingga menimbulkan suara gemeletuk. Youkai rubah itu menatap nyalang sosok di depannya.

"Apa kau bilang?"

Sosok itu semakin menyeringai, "Aku bilang, nyawa Hyuuga Hinata ada di tanganku. Saat ini wanita itu pasti sudah meminum pil yang aku taruh di dekat tempat tidurnya. Pil, yang sebenarnya adalah benih dari kutukan yang aku tanamkan untuk wanita itu."

"Kenapa kau melakukannya?"

"Kau ingin jawaban jujur atau bohong?" lontaran kata yang seakan bercanda itu membuat Naruto emosi.

"KAU!—"

"—Aku membencinya." Embusan angin malam memainkan tudung abu-abu pucat lelaki itu. "Aku membencinya hingga mengakar dalam nadiku. Kebencian yang membuatku ini mencengkramnya dan meremukannya dengan tangan ini."

Naruto menyipitkan matanya, kedua tangannya terkepal erat. Dia tidak tahu, apa yang membuat laki-laki itu menaruh dendam yang amat dalam. Selain itu, kenapa harus Hinata? kenapa harus anak adam yang bahkan tidak sanggup untuk menyakiti seekor semut sekalipun?

Belum cukup rasa penasaran, kecemasan, dan kemarahan melanda Naruto. Laki-laki asing itu kembali membuatnya membulatkan mutiara merahnya. Bisikan yang laki-laki itu lontarkan saat dengan sekejap mata ia berdiri di samping Naruto.

"Kau hanya perlu melakukan satu hal untuk menyelamatkannya..."

Seringaian licik terukir dari balik cadar laki-laki itu.

"...Bunuh Pangeran Yahiko."

...

Hinata memandang pemandangan di depannya dengan wajah pucat. Kilatan dari sebilah belati perak terpantul cahaya rembulan dari sela-sela jendela yang terbuka. Sosok yang berada dalam bayangan itu masih mampu Hinata kenali. Rambut berantakan yang sedikit mencuat, serta manik biru laut indah yang sangat ia tahu siapa pemiliknya.

"Na-Naruto...-kun?"

Hinata kembali menatap belati yang ada dalam genggaman Naruto lalu menatap sosok suaminya yang tertidur pulas. Baru saja ia kembali dari kamar kecil dan dikejutkan dengan kehadiran Naruto. Hinata mengambil langkah, ia menghampiri pemuda itu yang masih terdiam dan enggan melangkah menuju cahaya lilin berada.

Manik biru laut itu terpaku, menatap kosong dan enggan membalas tatapan Hinata. Bahkan saat Hinata sudah berdiri di depannya dan menggenggam tangannya, Naruto masih enggan menatap wanita itu. Dari genggaman tangan itu lah Hinata tahu, bahwa laki-laki di depannya tengah bergelut dengan emosinya. Tangan yang yang selalu terasa hangat itu, terasa dingin, dan bergetar pelan.

Dengan perlahan, Hinata menarik ujung ganggang belati dan menjatuhkannya agak jauh dari posisi mereka. Manik lavendernya menatap lekat-lekat manik biru laut itu dan tersenyum lembut. Dia tahu, dan Hinata percaya bahwa ada alasan dibalik tindakan Naruto. Karena itu wanita itu memilih untuk tersenyum dan mencoba menyampaikan bahwa semua akan baik-baik saja.

Naruto dapat merasakan kedua matanya memanas. Senyum yang Hinata berikan mampu mencairkan emosi yang membuatnya terdiam dan terpaku sejak beberapa menit yang lalu. Dia tidak sanggup, meski ia ingin menyelamatkan Hinata, namun membunuh laki-laki itu bukanlah jawabannya. Bagaimana mungkin ia sampai berfikir kalau membunuh Yahiko adalah jawaban yang tepat. Bagaimana mungkin dia sampai mengikuti kemauan sosok misterius itu.

Perlahan, Naruto merebahkan kepalanya pada pundak kecil Hinata. Bisikan tanda maaf ia lontarkan dan membalas pelukan Hinata. Saat ini, pelukan dari wanita yang ia cintai sangatlah Naruto butuhkan.

"Maaf Hinata... aku tidak akan lagi... bertindak sebodoh ini."

Wanita itu mengangguk pelan, untuk saat ini dia tidak butuh kata-kata. Karena baginya saat ini yang lebih membutuhkan dukungan adalah Naruto. Hinata sadar betul kalau dirinya telah menggoreskan luka berulang kali pada Naruto. Dengan egoisnya, ia memilih meninggalkan laki-laki ini dengan luka yang menganga lebar.

.

.

.

To Be Continue...

AN/ hai~ maaf karena aku lama tidak update. Akhir-akhir ini ada banyak kesibukan, belum lagi komputer yang harus di servis karena error. Jadi maaf ya telat. Lalu terima kasih untuk kalian yang masih setia dengan fiction abal ini. masih mau RnR dan follow serta favorite. Thank you so much for all of you guys.

Well, aku harap kalian puas dengan update kali ini, walau jujur aja. Yang bikin aja kurang puas sama chapter kali ini. peace. Aku harap kedepannya tidak telat lagi dan lebih memuaskan kalian dalam segi cerita. Thanks again and now i will replay beberapa review dari para guest.

Naruto Boruto: Thanks for your review. Well, naruto di sini memang masih polos dan karena Hinata itu termasuk pasif jadi yah pasti dia kaget sekaget kagetnya. *nyengir kuda*

Naruruhina: thanks ya udah mau baca, hehe. Yah... hampir ya? Next time aku bakal bikin kamu nangis sesegukan hahaha. Maaf ya lama lanjutannya, terlalu banyak kendala *plak*

Guest: wow wow~ sabar non atau mas? Well kalau enggak begitu nanti cerita gak seru dong. Hehehe well naruto itu kan bangsawan youkai yang melindungi para umat manusia. secara kakeknya kan familiarnya dewi padi *kedip2*

Hitamputih904: well pemikiranmu hampir bener, Cuma yah... dibaca aja ya biar greget hehe. Thanks udah mau baca.

Salsabilla12: kan trauma... gimanapun suaminya itu dibunuh youkai. So di mata mami Hika semua youkai itu sama aja.

Lililala2499: sebenarnya aku tahu kok masalah umur jaman dulu, Cuma sengaja aja untuk ngasih sedikit perbedaan di fiction ini. but thanks ya udah mau berbagi ilmu, thank you so much *peyuk*

Haswan: kebanyakan kata lavender? Ups sorry... thanks udah ngasih tau, kedepannya akan aku usahain lebih banyak menggunakan kata-kata selain kata 'lavender' ^^

Second09: iyaaa makasih ya udah mau baca ^^ moga lanjutannya juga terus kamu baca dan menikmatinya.

Kurotsuhi mangetsu: hehehe iya... mami hika trauma sama youkai, tapi anaknya malah temanan bahkan jatuh cinta pula. Ibu mana yang rela anaknya nikah sama youkai *plakk*

Bluemond: uhuhuhu itu drama dari dulu aku pengen nonton kagak kesampeaaaaan *mewek* katanya ceritanya bagus ya? Jadi penasaran buat nonton... thanks ya udah mau baca ^^

Guest: hampir tapi gak jadi, kan masa bully si valak udah ekspayet broh... hehehe updatean datang, sorry lama, and thank udah mau nunggu ^^

Aldo scott kennedy: hadir... maaf karena gak bisa up kilat, ada banyak problem hehehe. Doain ya minggu depan enggak telat. Thanks udah mau baca~