Author: Cocoa2795
Rating: T or M tergantung alur.
Genre: Supranatural, Romance, Hurt/Family, Little Angst.
Diclaimer: All Characters of Naruto is belongs to Masashi Kishimoto. All main Idea in this story is mine, but i borrow Kumagai kyoko-sensei's idea about shirabyoshi.
Warning: All Typo(s), Out Of Chara, If you dislike this story, please turn back with peace. No flames with barbarian's words. Thanks.
Chapter 16: Murid Pindahan.
.
.
.
Sinar mentari pagi membawa kehangatan dengan iringan kicauan burung gereja. Di kediaman Hyuuga, penerus Klan Hyuuga kini tengah membasuh wajahnya. Manik lavender indah itu memantulkan wajahnya yang sedikit basah. Hinata menatap lekat-lekat sosoknya, sebelum jemari lentiknya menyentuh kaca dan teringat dengan apa yang telah terjadi beberapa waktu lalu.
Seorang laki-laki yang mirip dengan anak kecil dalam mimpinya, Siluman yang menaruh kutukan pada Sasuke. Siluman yang menginginkan nyawanya, tentang kehidupan lalunya, tentang dia juga siluman rubah. Dan tentang...
"Haku..."
Haruskah Hinata mempercayainya, jika mereka dulu bertiga saling mengenal, saling terhubung. Dirinya, Naruto dan Haku. Manusia dan siluman, benarkah mereka berteman? Hal yang seakan hanyalah mimpi belaka dan mustahil.
'Hinata dan aku adalah sepasang kekasih.'
Detak jantung Hinata mendadak berdetak lebih cepat, bersama dengan rona merah memenuhi wajahnya. Buru-buru Hinata menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sembari berjongkok, menahan malu.
"Hyaa~ astaga... Hyuuga Hinata jangan sampai kau termakan kebohongannya! Bagaimana mungkin aku dan dia dulu sepasang kekasih?!"
Hinata kembali berdiri, ia mengibaskan tangannya, guna mendinginkan wajahnya. "Tidak mungkin... sungguh tidak mungkin, lagi pula memang kehidupan lalu itu benar-benar ada? Uh... aku bingung..."
"Nee-sama?"
Suara pelan Hanabi berhasil menarik perhatian Hinata. Adik perempuannya menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Raut keheranan terlihat jelas di paras Hanabi.
"Nee-sama... baik-baik saja?"
"Eh? A-aku baik-baik saja Hanabi!" Hinata melontarkan senyumnya, guna menghilangkan kekhawatiran Hanabi. "Ah, aku harus segera ganti baju!"
Gadis kecil itu menatap penuh heran pada kakak perempuannya yang kini sudah melesat menuju kamarnya. "Nee-sama... kenapa salah tingkah begitu?" Setelah agak lama terdiam, Hanabi mengangkat bahu lalu bersenandung kecil sembari merapikan rambut panjangnya di depan cermin.
...
"Hinata-chan!"
Gadis dengan rambut biru gelap itu menoleh saat namanya dipanggil. Sakura berlari menghampirinya dengan senyum ceria dan manik hijaunya yang berbinar. Gadis musim semi itu langsung merangkul lengan sahabatnya dan bergelayut manja.
"Hinata-chan, hari ini kau ada acara?"
Gadis manis bersurai biru gelap itu tampak berpikir sejenak sebelum menggeleng dan tersenyum manis. "Tidak, aku bebas hari ini. memang ada apa?"
"Temani aku membeli buku, nanti aku traktir minum deh~"
"Dan sepiring cheese berry cake?" mendapati Sakura mengernyit melihatnya, Hinata tertawa kecil. "Anggap bonus karena nanti kedua tanganku akan keram karena membawa buku-buku beratmu." Sambung gadis itu dengan kedipan jahil.
Sakura mendengus geli mendengarnya, "Baiklah baiklah, sepiring cheese berry cake, siap dipesan!" ujar gadis merah muda itu dengan gaya seorang pelayan.
Kedua gadis remaja itu tertawa riang, terlihat menikmati pagi dengan canda tawa. Saat mereka memasuki gerbang sekolah, Hinata menangkap sosok seseorang. Sudut bibirnya tertarik, melengkung indah dengan sarat akan kelegaan.
"Untunglah, Sasuke-kun sudah sehat dan bisa kembali bersekolah. Kau pasti sangat senang, benarkan Sakura-chan?" Hinata mengerling jahil saat dilihatnya manik hijau temannya terus menatap sosok Sasuke.
Sakura tersentak pelan, sebelum ia tertawa gugup. "Tentu saja. Sebagai temannya sejak kecil, mana mungkin aku tidak senang melihatnya sehat."
"Hanya teman sejak kecil?"
Kedua pipi gadis itu mulai bersemu merah, tidak kuat dengan tatapan jahil, Hinata. Sakura memukul pelan lengan sahabatnya dan membuang muka, pura-pura cemberut yang malah mengundang tawa pewaris Hyuuga.
"Berhenti tertawa Hinata-chan! Aku paham kau sudah tidak galau lagi tentang cintamu, tapi bukan berarti jadi menggodaku seperti ini."
"E-eh? A-apa ma-maksudmu Sa-sakura-chan?! Aku tidak akan percaya dengan omongannya!"
Sedetik kemudian, Hinata menutup mulutnya dengan matanya sedikit melebar. Rona merah mulai menjalar memenuhi wajahnya, sementara itu Sakura menyeringai tipis.
"Apa? Apa? Apa? Memang apa yang dia katakan? apa dia menyatakan suka padamu?"
"Tidak, bukan seperti itu! sudahlah kita harus cepat ke kelas!"
Hinata berlari pergi meninggalkan Sakura yang menatapnya dengan cengiran puas. Gadis merah muda itu kemudian berlari menyusul temannya. Ruang kelas 1-3 mulai ramai, mengingat bel tanda masuk sebentar lagi akan berbunyi. Pewaris klan Hyuuga itu duduk dengan wajah yang masih memerah menahan malu, bagaimana mungkin dia bisa kelepasan seperti itu. Hinata menggelengkan kepalanya cepat-cepat, berharap bisa melupakan semuanya, tentang hal yang tidak bisa ia pahami.
"Masalah itu sudah selesai dan kami tidak akan bertemu lagi." Ucap gadis itu pelan, mencoba meyakinkan dirinya.
Selang beberapa menit kemudian bel berbunyi, membuat seluruh murid-murid duduk di tempat mereka masing-masing. Dari balik pintu mucul, lelaki berusia sekitar dua puluh tahunan dengan rambut perak serta masker hitam yang menutupi separuh wajahnya. Sejak pertama kali mengenal wali kelasnya, Hinata sama sekali tidak mengerti dengan gaya berpakaian laki-laki itu. Lebih tepatnya, untuk apa gurunya itu memakai masker hitam-sementara lelaki itu pernah berkata bahwa ia tidak memiliki luka yang harus ditutupi- Hatake kakashi, memasuki ruang kelas dan berdiri di depan kelas dengan gaya santai serta tatapan malasnya.
Usai anak didiknya memberi salam, Kakashi berdehem sebelum mulai berbicara."Selamat pagi anak-anak, mungkin ini sangat mendadak. Namun kita kedatangan murid baru."
Pengumuman itu sukses membuat ruang kelas sedikit berisik. Murid-murid saling berbisik dengan antusias, walau ada juga yang acuh dan tidak peduli. Sakura yang duduk di samping Hinata, menyenggol gadis manis itu dengan senyum ceria.
"Kira-kira laki-laki atau perempuan? Aku harap dia murid laki-laki yang seksi!"
Hinata meringis pelan mendengar ucapan sahabatnya, "Sakura-chan... kata-kata mu itu agak..."
"Kenapa? Kelas ini memang kekurangan laki-laki seksi Hinata-chan."
Tenten yang berada di belakang Hinata, segera memukul belakang kepala gadis bersurai merah muda itu. Membuat Sakura mengaduh pelan dan mendelik sengit ke arah Tenten yang membalasnya dengan tatapan datar.
"Jangan menodai Hinata dengan otak kotor mu itu, jidat lebar."
"Aish! Kau tidak perlu memukulku Tenten~"
Kakashi menghela nafas pelan melihat murid-muridnya mulai berisik. Terutama Sakura dan Tenten, pemuda lajang itu lalu memukul meja, guna menarik perhatian murid-muridnya. Setelah kelas kembali tenang, Kakashi menatap pintu kelas yang terbuka.
"Baiklah, kau boleh masuk."
Seluruh perhatian murid kelas 1-3 mengarah pada pintu kelas. Langkah cukup lebar dengan celana bahan coklat muda serta kemeja putih berbalut sweater kuning soft dengan simbol Konoha di saku dada kirinya. Senyum yang terpatri di wajah kecoklatan dengan tiga guratan halus di kedua pipinya.
Manik lavender itu seolah terkunci, sejak pemuda itu melangkah masuk. Pemuda dengan helai kuning keemasan kala tertimpa bias matahari lewat celah jendela. Manik biru laut yang indah dan tajam itu, seakan pemicu bagi jantung Hinata untuk berpacu lebih cepat.
Sudut bibir itu tertarik, mengulas senyum menggoda. "Heya~ Uzumaki Naruto desu!. Mulai sekarang, mohon bantuannya-dattebayo!"
Hinata mengerjap dua kali, bibirnya terbuka sedikit dengan manik rembulan yang melebar. Tidak hanya dia, Tenten yang berada di belakang Hinata, ikut membulatkan matanya. kedua gadis itu tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sosok pemuda yang dikira tidak akan pernah mereka temui lagi, tahu-tahu berdiri di depan kelas dan mengenalkan dirinya sebagai anak baru.
Naruto mengedarkan atensinya, mulai hari ini dia akan belajar bersama para manusia di sini. Sudah sejak dulu, pemuda pirang itu ingin mencoba menjadi murid dan belajar, serta melakukan kegiatan sekolah dan pergi main sepulang sekolah. Selama raturan tahun, Naruto hanya memperhatikan para remaja manusia melakukan hal itu. Dan kali ini, dia bisa merasakannya. Senyum bahagia melengkung indah di wajah rupawannya, dan ketika manik biru lautnya menangkap sosok Hinata.
Siluman rubah itu tidak bisa menahan untuk tidak melambai ke arah gadis itu dan tersenyum serta menatapnya lembut. "Oh, hai Hinata~"
Hinata hampir memekik saat tiba-tiba seluruh kepala para gadis di kelas, dengan kompak menengok ke arahnya usai Naruto menyapanya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, saat para gadis mulai saling bisik-bisik sembari menatapnya. Rasa-rasanya, Hinata ingin bersembunyi di balik punggung Tenten sekarang juga.
"Tiga pertanyaan untuk anak baru, siapa yang mau bertanya?" suara Kakashi seakan menjadi penolong bagi Hinata. Para gadis langsung kembali menatap ke depan kelas dan saling berebut untuk mejadi yang pertama atau terpilih untuk bisa bertanya pada Naruto.
"Apa kau single?"
"Apa kau blasteran?"
"Seperti apa tipe gadis kesukaanmu?"
"Tolong bagi nomer ponselmu, Naruto-kun!"
Gadis dengan surai malam tanpa bintang itu mengerjap, tidak menyangka bahwa Naruto akan se-populer Sasuke. Hampir seluruh teman-teman perempuannya mengangkat tangan. Hinata melirik ke samping dan mendapati Sakura yang tengah tersenyum kecil. Meski gadis itu terlihat tertarik, namun ia tidak mengangkat tangan seperti yang lain.
"Masih cakepan Sasuke-kun, benarkan Sakura-chan?" Hinata bertanya dengan nada jahil.
Sakura menoleh dan rona merah kembali menjalar di wajah putihnya. "Bagiku sama saja, kok."
Hinata terkekeh pelan mendapati elakan Sakura, "Benarkah? Lalu kenapa tidak angkat tangan seperti yang lain?"
Manik hijau itu menatap Hinata seakan gadis itu sangatlah aneh, "Kau sedang menguji aku Hinata-chan? Dari sekali lihat aku sudah tahu kalau anak baru itu sudah ada yang punya." Perkataan Sakura berhasil mengejutkan Hinata. Belum sempat Hinata bertanya, Sakura sudah memotongnya dengan tatapan jahil dan senyum miringnya. "Tenang saja, aku tidak ada minat sama gebetan teman sendiri kok~"
"Maksudmu?" Hinata memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan kata-kata Sakura.
Gadis musim semi itu berdecak pelan, "Yang aku maksudkan itu kau Hinata-chan. Biar aku tebak, kalau anak baru itu orang yang sudah membuatmu belakangan ini melamun, benarkan?"
Sakura menyeringai puas begitu Hinata membulatkan matanya dan merona merah. Gadis dengan marga Haruno itu terkekeh pelan, "Jangan menjahili ku kalau tidak mau jadi bumerang untukmu, Hinata-chan."
Mendengar hal itu Hinata mengerucutkan bibirnya kesal. Memang selalu seperti itu, niat ingin menjahili Sakura namun yang ada malah dia yang kelabakan dan mati kutu.
"Hum... kekasih ya...," suara bariton yang lembut itu terdengar, menarik perhatian Hinata kembali pada sosok pirang di depan kelas. "Punya atau tidak, entahlah tapi yang jelas memang ada seseorang yang special bagiku." Naruto tertawa renyah sembari menggaruk pipinya dengan jari telunjuk.
Sakura menyenggol lengan Hinata, senyum miring masih di sana. "Oh... terang-terangan seperti itu, hebat juga dia. Kau hanya tinggal perlu menyatakan perasaanmu dan jaa~ kalian resmi pasangan."
"Berhentilah bercanda Haruno-san."
Sakura dan Hinata sama-sama menoleh kebelakang saat suara dingin terdengar. Tenten menatap tajam Sakura dengan manik coklatnya. Terlihat jelas dia tidak senang dengan apa yang Sakura katakan. Gadis merah muda itu mengerjap sebelum mengibaskan tangannya, berusaha mencairkan suasana yang mendadak tegang.
"Oh, ayolah Tenten kau juga berpikir seperti itu, bukan? Atau aku salah? Mereka sama sekali tidak ada hubungan apa-apa?"
"Mereka tidak ada hubungan apa-apa, jadi berhentilah bicara."
Sakura mengernyit, dia cukup kaget dengan sikap sinis Tenten. Tidak biasanya gadis itu bersikap seperti itu. "kau ini kenapa sih? Sedang hari pertama? Aku hanya bercanda Tenten."
"Su-sudahlah kalian berdua, kakashi-sensei sejak tadi memperhatikan kita." Hinata berusaha membuat Sakura untuk kembali menatap kedepan.
Gadis Hyuuga itu menghela nafas lega begitu Sakura dan Tenten kembali tenang. Setelah memberi waktu bagi murid-muridnya untuk sedikit mengenal anak baru, Kakashi menyuruh Naruto untuk duduk di kursi yang kosong. Meja yang terletak di barisan belakang dan tepat di samping jendela. Naruto tersenyum lebar dan duduk dengan nyaman di bangkunya.
Manik biru lautnya menatap langit luas tanpa awan. Dia tidak sabar untuk menikmati hari-harinya sebagai manusia. Beruntungnya, dia berhasil meyakinkan Kurama dan Gaara untuk diperbolehkan menjalani hari sebagai manusia untuk melindungi Hinata secara dekat. Naruto memutar kepalanya, menatap sosok Hinata yang berjarak sekitar tiga bangku di depannya. Gadis manis itu terlihat serius mendengarkan Kakashi.
Rambut panjang yang terkadang bergoyang saat dibelai angin pagi. Raut wajah yang terlihat serius, semakin menambah kecantikan seorang Hyuuga Hinata. Tanpa sadar, Naruto mulai memandangi perempuan itu. Menikmati setiap detik waktu yang ia miliki dengan menatap sosok yang ia rindukan.
Mungkin gadis itu menyadari tatapannya, karena tiba-tiba Hinata melirik ke arahnya. Dua pasang manik berbeda warna itu bertemu, saling memantulkan sosok mereka satu sama lain. Bagi pemuda pirang itu, waktu seakan melambat, sangat lambat hingga ia menyangka waktu berhenti berputar.
Manik rembulan itu melebar sedikit, lalu kedua pipi putih itu mulai merona merah. Dan ia memalingkan wajahnya, sesaat, sebelum ia kembali melirik dengan manik bulannya yang indah. Saat Naruto melambai ke arahnya, tubuh gadis itu sedikit menegang. Rona merah itu semakin pekat dan saat gadis itu menunduk malu, Naruto tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
...
Hari itu, dunia terasa lebih cerah dari biasanya, atau lebih tepatnya bagi anak-anak kelas 1-3. Semua itu karena adanya sosok cerah seperti matahari di kelas mereka. Sosok dengan senyum lebar yang selalu hadir setiap saat.
"Oi! Oi! Oper kemari, hey Naruto!"
"Aku tahu Kiba!"
Para anak perempuan berseru menyemangati anak laki-laki yang tengah bermain bola. Manik lavender itu sejak tadi mengikuti sosok dengan rambut pirang secerah kelopak bunga matahari. Naruto berlari bersama yang lain, menggiring bola lalu menendang dan mencetak score. Tak jarang laki-laki itu terjatuh sebelum ia bangkit kembali sambil tertawa. Terlihat jelas, bahwa pemuda itu menikmati waktunya bersama anak-anak lain. Melihat senyum itu, membuat sudut bibir Hinata ikut tertarik.
"Hinata."
Gadis itu menoleh dan mendapati Tenten menatapnya serius. Tanpa sadar, Hinata menelan ludah gugup, entah mengapa ia memiliki perasaan tidak enak.
"Kau... tidak percaya dengan omongan dia, benarkan?"
"Eh? Te-tentu saja tidak!"
Tanpa sadar, gadis itu membalasnya dengan nada sedikit tinggi. Dalam hati, Hinata mengutuk kebodohannya. Bagaimana mungkin dia bisa memperlihatkan kegugupannya di depan Tenten. Lihat saja, manik coklat itu kini menyipit dan memicing ke arahnya.
Keheningan menyelimuti mereka berdua, hanya sorak sorai teman-teman sekelas yang terdengar. Tenten menghela nafas pelan sebelum tersenyum kecil.
"Baguslah kalau begitu, bagaimanapun kau jangan mempercayai kata-kata siluman rubah itu."
"Um, aku tahu. Kau tenang saja Tenten-chan."
"Aku tidak ingin kau menyesal nantinya, ataupun terluka."
Sudut bibir Hinata tertarik, membuat lengkungan indah yang tulus. Gadis itu menarik pelan pundak sahabatnya, memeluknya erat sambil tertawa kecil. "Iya, iya. Aku paham Kaa-chan!"
"Hei jangan malah meledekku Hinata!"
"Tapi kau memang bertingkah seperti kaa-chan, Tenten-chan."
"Aku seperti ini karena peduli denganmu!"
"Iya. Aku paham, sangat paham! Karena itu terima kasih, karena perduli denganku, karena sayang padaku." Hinata melepaskan pelukannya dan tersenyum ceria.
Mendapat senyuman seperti itu dari Hinata, membuat wajah gadis keturunan China itu memerah. Dia tidak menyangka akan mendapat respon seperti itu. Tenten mengalihkan wajahnya, masih dengan rona merah merah menahan malu.
"Hentikan itu, kau membuatku merinding."
Hinata tertawa renyah dan dia semakin jahil begitu melihat Tenten yang salah tingkah. Kiba yang baru saja selesai bermain bola, menghampiri Hinata dan Tenten. Remaja laki-laki itu merangkul pundak Hinata dan tersenyum cerah.
"Ada apa? Kenapa kalian tertawa seperti itu? apa kalian senang melihat penampilanku tadi?"
Tenten memutar bola matanya malas, "Kami bahkan tidak melihat kau main tadi, Kiba."
"Hei apa itu! tega sekali kalian melewatkan permainan dari Ace Konoha Gakuen!"
Gerutuan Kiba kembali membuat Hinata tertawa. Terutama ketika Tenten dan Kiba saling beradu mulut hingga membuat suasana semakin ramai.
"Katanya kau mau beli minum Kiba, kenapa malah duduk di sini sih!"
Suara itu berhasil membuat tawa Hinata terhenti. Manik lavendernya dengan gugup melirik sosok pemuda yang kini berdiri di sebelahnya. Naruto menatap Kiba dengan tatapan sebal, kedua tangan dipinggang sebelum ia duduk di antara Hinata dan Kiba. Membuat pemuda pecinta anjing itu terpaksa bergeser dan melepaskan rangkulannya dari Hinata.
"Terus, kenapa kau malah ikutan duduk bodoh?"
"Siapa yang kau panggil bodoh, aku juga capek memang kau saja."
Naruto menghela nafas panjang, peluh masih menuruni pelipisnya dan leher jenjangnya. Tanpa sengaja, kedua bahu itu bersentuhan, dan efeknya cukup untuk membuat Hinata tertunduk dalam. Dentuman lembut yang mendadak menggila, desiran lembut juga Hinata rasakan hingga membuat wajahnya memanas. Hinata yakin, saat ini pasti wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Tenten yang berada di samping Hinata dapat dengan jelas melihat rona merah itu. Manik coklatnya menatap tajam, sosok yang masih tertawa bersama dengan Kiba. Tertawa dan bertingkah seakan tidak ada yang terjadi. Tanpa sadar Tenten mengepal tangannya, buru-buru Tenten menarik tangan Hinata.
"Te-Tenten-chan?" Hinata mengerjap, kaget dengan tarikan tiba-tiba dari sahabatnya.
"Sudah giliran kita, ayo!"
Tanpa menunggu sahutan Hinata, gadis China itu menarik tangan temannya dan membawanya pergi menjauhi Naruto dan Kiba. Manik biru laut itu masih menatap sosok gadis yang kini berlalu. Memandangi bagaimana rambut panjangnya bergoyang setiap ia melangkah, bahkan walau dari kejauhan pun Naruto mampu mencium harum lavender khas gadis itu. Sosok yang masih terasa bagai mimpi bahwa dia nyata.
...
Suara ketukan pintu terdengar sebelum disusul suara berat khas laki-laki paruh baya. Pintu kayu yang bergeser terdengar, membawa langkah dari seorang pemuda dengan rambut coklat panjang dan sepasang manik rembulan. Neji menunduk pelan sebelum kembali melangkah dan duduk di hadapan Hyuuga Hiashi.
"Maaf mengganggu waktu anda, Hiashi-sama."
"Tidak masalah, lagi pula aku sedang tidak ada kegiatan. Bagaimana kabar Hizashi?" Ayah dari Hinata dan Hanabi tersenyum tipis, laki-laki paruh baya itu menaruh secangkir teh di depan Neji sebelum ia menyesap tehnya. "Minggu depan ada acara makan keluarga, ingatkan dia untuk datang."
"Ya, akan saya sampaikan nanti Hiashi-sama. Dan kabar ayah baik, beliau saat ini tengah berada di Kyoto untuk mengurusi cabang Hyuuga di sana."
Hiashi mengangguk paham, lalu menatap Neji yang telihat lebih serius dari biasanya. "Lalu, apa yang ingin kau bicarakan sampai tidak masuk sekolah hari ini?'
Neji berdehem pelan, "Ada... yang ingin saya tanyakan pada anda, Hiashi-sama." Setelah mendapat anggukan sebagai tanda untuknya kembai bicara. Neji berujar, "Apa anda tahu... mengenai siluman rubah bernama Kurama, dan juga. Tentang sejarah keluarga Hyuuga?"
Jeda terjadi diantara keduanya, cukup lama hingga membuat Neji mulai gelisah. Saat Hiashi bersuara, remaja coklat itu sedikit tersentak pelan.
"Ya, aku tahu." Manik lavender yang mulai sedikit mengabu itu menatap keponakannya. "Apa kau ingin mengetahuinya?"
"Ya, tolong ceritakan Hiashi-sama." Balas Neji semakin serius.
...
"Jadi, kenapa dia ada di sini?" Tenten menatap Sakura malas. Sekali lagi, dia seharusnya tahu kebiasaan gadis merah muda itu. Pertama ia akan mengajak dia atau Hinata, lalu dia akan mengajak orang lain lagi. Selalu seperti itu, yah tidak masalah jika gadis merah muda itu mengajak Kiba, Shikamaru atau bahkan Sasuke. Karena mereka memang sudah berteman dekat. Tapi, "Kenapa kau mengajak anak baru?"
Naruto tersenyum tanpa rasa bersalah, "Tidak masalah bukan? Lagi pula aku memang ingin jalan-jalan sepulang sekolah."
"Aku tidak tanya kau, bocah nanas."
"Ouch! Kata-katamu masih saja pedas Tenten-chan~"
Tenten memutar bola matanya malas ketika dilihatnya Naruto bertingkah seakan ia menyakiti hatinya. Kiba yang berdiri di samping Naruto tertawa renyah, pemuda dengan gigi taring yang sedikit menyembul itu merangkul pundak Naruto.
"Maa.. tidak masalah, lagi pula kita memang harus memberi tour pada si anak baru!"
"Tidak terima kasih. Aku lebih senang jika wanita cantik yang mengajakku berkeliling."
Shikamaru mendengus pelan, "Jadi kau itu termasuk suka daun tua?"
Pemuda pirang itu menjentikkan jarinya sebelum menatap Shikamaru. "Bingo! Tambahan point jika berdada besar."
"Ouh! Aku lebih suka ukuran D!" Kiba ikut menimpali dengan senyum lebarnya. "Akan terasa kenyal saat tanpa sengaja ia terjatuh dalam pelukanmu. Tidak seperti yang berdada rata, aku yakin pasti sakit jika memeluknya." Kiba mengoceh dengan cerianya, bahkan seakan tengah berkhayal jika suatu saat nanti akan ada bidadari jatuh untuknya.
Naruto, Shikamaru dan Sasuke menatap remaja pecinta anjing itu dengan tatapan kasihan. Karena tak lama setelah Kiba mengoceh. Dua buah tas melayang dan mencetak score di kepala coklat cepak itu. Kiba mengaduh keras dan menatap sengit ke arah orang yang menganiyaya dirinya.
"Ki...Ba..."
Manik coklat itu melebar sebelum pemiliknya merasa berubah ciut dengan darahnya yang turun drastis. Kiba tertawa gugup, tidak pernah menyangka akan menghadapi dua perempuan muda yang memiliki prestasi di bidang material art.
"Ahaha... kalian berdua te-tenanglah..."
Kiba tersentak begitu mendengar suara kretek, tanpa sadar dia memegangi lehernya. Berharap lehernya masih di tempat. Manik coklatnya melirik, meminta tolong ke arah Hinata yang kini tengah menunduk malu dengan wajah memerah. Sadar kalau Hinata tak bisa menolongnya, Kiba mengalihkan tatapannya pada ketiga temannya.
"Hn... bodoh," Sasuke mengalihkan wajahnya, terlihat tak berminat membantu Kiba.
"Hahaha... gomen?" Naruto tersenyum kecil, terlihat jelas rautnya tidak menunjukkan rasa bersalah. Sementara itu Shikmaru hanya menggaruk kepalanya, menguap dan berkata. "Terlalu merepotkan bagiku."
"kalian jahat~ !"
Hinata memandang tindakan kekerasan di depannya dengan wajah pucat. Melihat Kiba yang dihajar habis-habisan oleh Tenten dan Sakura membuat Hinata kelabakan. Dia ingin menghentikan pertengkaran mereka bertiga, namun tiba-tiba kedua matanya di tutup seseorang.
"Hahaha sudahlah, anggap saja kau tidak lihat apa-apa Hinata~"
"Na-Naruto-kun?!"
"Hn, lebih baik kita pergi. Aku lapar," Sasuke ikut menimpali dan sudah melangkah pergi meninggalkan keramaian yang membuat telinganya sakit.
Shikamaru mengikuti dibelakang, sempat pemuda dengan rambut model nanas itu menoleh. Menyeringai tipis melihat wajah kiba yang memelas meminta ampun pada dua gadis itu. Oh, sungguh pemandangan yang menyenangkan untuk direkam. Beruntunglah, Shikamaru berhasil merekam salah satu aib Kiba untuk dijadikan blackmail.
.
.
.
To Be Continue...
AN/ LOL sungguh judul chapter yang mainstream 'Murid Pindahan' heol, selalu bingung mau ngasih judul apa tiap chapter hahaha. Ahem... okay, terima kasih untuk kalian yang sudah memfollow, fav dan review fiction ini. Deep Bow bareng krew Red Fox.
Untuk chapter ini, lebih ringan tanpa bumbu konflik berat macam chapter lalu, dan mungkin beberapa chapter kedepan juga masih ringan dengan khas cinta anak sekolah. *Comic shoujo mode on* thanks untuk kalian yang ngeflame dengan bahasa halus, kan enak dibacanya ^^
Terus untuk masalah flashback. Etto maaf saya termasuk author yang malas pake kata flashback, lebih seneng dikasih efek italic atau enggak dikasih bagian tersendiri untuk flashback, seperti chapter 11. Sorry, entah kenapa kurang sreg dan kurang feel kalau di kasih. Maaf ya kalau ternyata kekurangan ini malah bikin beberapa reader jadi bingung hehe.
Next, balasan review~
Naruruhina: thanks untuk dukungannya *terhura*
Cemilan: Omo... aku setuju dengan pendapatmu. Bukan cewek doang yang bisa dibilang bekas aoakaok.
Hoshi: peace mas broh~ jangan remukin saya, percuma diremuk gak guna apa2 mending beli lidi2an pedes, kan remuk masih bisa dimakan. Yahiko dan anaknya nyusul di flashback depan, tunggu aja. Sengaja di pisah2 biar chapter bagian flashback gak kebanyakaan. Dude, kasian valak masih dibully juga. gaji gak seberapa malunya sepanjang masa hahahaha. Ahem... sorry absrud mendadak.
Mawarputih: nanti dikasih tahu kok~
Chocolatte lavenje: maaf udah bikin bingung ;( penulisan masih payah tapi makasih udah setia baca ^^
Didiksaputra: makasih broh udah baca~
Keyko keinarra minami: iya... saya memang ingin menyiksa naruto dulu sebelum buat dia bahagia. *dihajar massa* iyaa sekarang udah waktunya mode present~ tenang aku udah nyiapain plot dramatis untuk Hinata yang ingat masa lalunya dan untuk perasaannya... lambut laun kok kan mereka berdua jodoh hahahaha.
NaruHina Legends: thanks untuk infonya~ akhirnya terjawab sudah rasa penasaran saya tentang NTR. Banzaaai~
Shiro: thanks shiro~
Kurotsuhi mangetsu: makasih buat penjelasannya~ makasih udah nganggep fic abal ini keren *banjir air mata* hahaha tenang, saya lebih baper kalau plot cerita udah melenceng jauh ;) thanks ya~
Lililala2499: mode normal datang~ masa-masa baper hinata mulai berjalan pelan-pelan. Gantian jangan Naruto mulu yang baper *ketawa nista*
Second09: makasih~ ^^
Chiaki arishima: iya ada, flashbacknya dibagi biar chapter masa lalu gak kebanyakan hehehe. Tunggu aja ya~ thanks udah baca.
Sampai jumpa chapter depan~
