Author: Cocoa2795

Rating: T or M tergantung alur.

Genre: Supranatural, Romance, Hurt/Family, Little Angst.

Diclaimer: All Characters of Naruto is belongs to Masashi Kishimoto. All main Idea in this story is mine, but i borrow Kumagai kyoko-sensei's idea about shirabyoshi.

Warning: All Typo(s), Out Of Chara, If you dislike this story, please turn back with peace. No flames with barbarian's words. Thanks.

Chapter 17: Dream and Reality.

.

.

.

Suara tetesan air yang berulang kali terdengar, menggema dalam gelapnya malam. Dingin dan hampa. Saat kelopak mata itu terbuka, dua pasang rembulan bersinar indah. Hinata menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak mengerti bagaimana bisa ia sampai di tempat ini. Sebuah ruangan berdinding bebatuan tanpa adanya lampu penerang, namun ia masih bisa melihat sekitarnya.

Hinata melangkah dengan hati-hati, membiarkan langkah kecilnya membawanya menuju suatu tempat. Hingga langkahnya benar-benar berhenti di tengah ruangan dengan atap langitnya menjulang tinggi. Gadis dengan rambut biru gelap itu mengerjap pelan.

"Ini... di mana?"

Merasakan kehadiran seseorang, Hinata berbalik dan mendapati sosok seorang laki-laki yang seumuran dengannya. Laki-laki berambut hitam panjang dengan sepasang manik lavender. Garis wajahnya tegas, namun senyum tipisnya membuat Hinata merasa tenang. Hinata menunduk pelan, menyapa sebelum melangkah mendekat.

Laki-laki itu hanya membalas dengan senyum, lalu ia menoleh menatap jendela besar tanpa kaca dengan bulan bersinar indah. Dan entah sejak kapan, mereka mulai menghabiskan waktu dengan menatap sinar rembulan dengan pasir bintang di langit malam. Terus begitu sampai laki-laki misterius itu hendak melangkah pergi.

"Kau mau pergi?" Hinata berujar, mencoba menahan langkah pemuda itu. "Tidak bisakah kau menunggu? Minggu depan aku pasti akan mengantarmu, jadi...!" Hinata sama sekali tidak mengerti, kenapa ia berkata seperti itu.

Namun tatapan sayu dengan senyum getir yang pemuda itu berikan. Berhasil membuat dada Hinata seakan diremas, nyeri dan sesak. Remaja itu menggeleng lemah sebelum tersenyum pahit dan melepaskan cekalan Hinata di lengannya.

"Dia sudah memanggilku..."

Kata-kata itu terngiang begitu saja. Membekas dan tidak menghilang, justru semakin menggema dalam benak Hinata. Dia... siapa yang pemuda itu maksud. Hinata tidak perduli, yang ia tahu, gadis itu tidak rela jika pemuda itu pergi.

"Jangan pergi! aku mohon... jangan pergi!"

"To—!"

.

.

"Hinata!"

Seruan serta guncangan dibahunya seketika menyadarkan Hinata dari tidurnya. Gadis manis itu mengerjap, masih merasa pusing dan belum tersadar sepenuhnya. Setelah pandangannya fokus, raut cemas Naruto lah, hal pertama yang ia lihat.

"Kau baik-baik saja?"

"Uh, ya. Aku baik-baik saja Naruto-kun."

Pemuda pirang itu duduk di depan Hinata dengan meja lebar sebagai pembatas. Di atas meja, ada beberapa tas belanjaan yang tadi dibawa Naruto. Hinata mengusap wajahnya dan sedikit terkejut saat mendapati telapak tangannya basah oleh air matanya.

Sepertinya saat dia tanpa sengaja tertidur ketika menunggu teman-temannya selesai belanja. Hinata bermimpi sesuatu. Ya, dia yakin memimpikan seseorang. Seorang laki-laki yang tidak ia kenali, namun mampu membuatnya tidak rela saat laki-laki itu pergi.

"Hinata, kau benar baik-baik saja?" suara Naruto menarik lamunan Hinata.

Gadis itu tersentak dan mengangguk cepat sambil tersenyum tipis, "A-aku baik Naruto-kun, hanya sedikit lelah."

"Hee~ Kau pasti lelah sekali, sampai menangis dalam tidurmu."

Perkataan Naruto berhasil membuat Hinata mengerang pelan. Jelas sekali bahwa pemuda itu bersikap sarkastik terhadapnya. Tidak salah sih, karena memang Hinata berbohong pada siluman rubah di depannya ini. Namun jangan salahkan dia juga, karena bagaimanapun Hinata harus menjaga jarak terhadap siluman satu ini. Ah! salah, semua siluman memang harus dijauhi. Walau mungkin dalam kasus Naruto, Hinata sedikit menurunkan kewaspadaannya.

"Tenten dan yang lain belum kembali, Naruto-kun?"

Pemuda pirang itu mendengus pelan, memperlihatkan dengan jelas bahwa dia tahu kalau Hinata berusaha mengalihkan pembicaraan. Dan perempuan bermarga Hyuuga itu menghela nafas lega saat Naruto menjawab pertanyaannya.

"Sebentar lagi juga mereka akan datang."

Hinata bergumam pelan menanggapinya, dan setelah itu keheningan mulai menyelimuti mereka. Hanya suara pengunjung kafe yang terdengar serta lantunan musik jazz. Manik lavender itu memutuskan untuk menatap langit dengan gumpalan putih yang mulai kelabu. Sepertinya sore nanti akan turun hujan, Hinata berharap Sakura dan yang lain tidak akan menahannya terlalu lama.

Dan Hinata juga berharap, teman-temannya akan segera datang agar membebaskan dirinya dari keadaan canggung ini. Gadis itu sama sekali tidak berani melirik pemuda di seberangnya. Dia takut, Hinata takut akan merasakan perasaan aneh yang ia rasakan seperti waktu Naruto pindah ke sekolahnya. Namun rasa penasaran terus mendorong dan mendesaknya untuk mencuri pandang pada siluman rubah itu.

'Mungkin... sebentar saja tidak apa-apa kan?'

Rembulan itu bergerak, dan dari ekor matanya. Hinata dapat melihat dengan jelas sosok pemuda pirang itu. Sosok Naruto yang tengah menatap keluar jendela dimana pejalan kaki yang berlalu lalang sembari menompang dagu.

Bola mata yang indah seperti samudera yang ditimpa bias cahaya mentari. Tatapan teduh namun tajam itu seakan menyimpan sebuah rasa, sejuta hal yang ia coba tutupi. Hinata sama sekali tidak sadar bahwa ia mulai terhanyut, menikmati saat dimana waktu seakan melambat dan membiarkannya memandang sosok indah namun juga sepi itu. Sampai manik biru laut itu tiba-tiba melirik ke arahnya.

Hinata merogoh kantung jaket lavendernya buru-buru. Berharap dia tidak tertangkap basah telah memandangi laki-laki itu. Suara tawa kecil terdengar saat jemari lentik itu hendak menggeser layar ponselnya. Dengan ragu, Hinata mengangkat wajahnya hanya untuk membiarkan wajahnya memanas akibat melihat pemuda pirang itu tertawa kecil.

"Puas memandangku?" seringai tipis hadir di wajah kecoklatan Naruto sebelum berubah menjadi senyum puas begitu Hinata menunduk dengan wajah merah padam. "Sikapmu benar-benar terlihat jelas, Hyuuga-san."

"A-aku tidak mengerti maksudmu, Uzumaki-san!"

"Ho... apa ini yang orang-orang sebut dengan sikap Tsundere?"

"Uh..."

Hinata kesal, gadis itu benar-benar kesal dengan dirinya yang tidak mampu membalas godaan Naruto. Ia kesal karena lagi-lagi membiarkan pemuda pirang itu tertawa dan membuat dadanya berdesir pelan. Ini aneh, sungguh! Bagaimana mungkin hanya dalam waktu singkat, pemuda itu berhasil membuatnya seperti ini.

"Huwa... nona Hyuuga ternyata bisa bersikap manis juga. Tapi jangan sampai kau jatuh cinta padaku, karena itu menyebalkan."

Degh...

Manik lavender itu menatap lurus pada sepasang samudera di depannya. Tatapan dingin seperti waktu mereka pertama kali bertemu. Tatapan dingin yang tidak asing baginya dan membuat hatinya serasa mencelos.

"Apa... karena aku mirip dengan Hinata-mu?"

Untuk beberapa saat manik biru laut itu melebar, hanya sesaat sebelum berubah semakin dingin. Naruto tersenyum kecil, berusaha tidak peduli.

"Kau tahu bahwa kau tidak hanya sekedar mirip, Hinata."

"Tapi aku tidak mengingat sama sekali kehidupan lalu ku."

"Itu lebih baik, jadi jangan ambil pusing masalah itu dan cukup jauhi aku."

Hinata tidak mengerti, sebentar pemuda pirang ini bersikap baik padanya, lalu kemudian berubah dingin dan memberi jarak. Apa dia tengah bermain tarik ulur dalam sebuah hubungan yang dulu pernah Sakura ceritakan padanya? Gadis Hyuuga itu memalingkan wajahnya, lebih baik ia tidak ambil pusing. Toh Hinata sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap siluman rubah itu, hanya perasaan aneh yang kadang mengganjal dan membuat dadanya berdesir.

Yah... hanya itu.

...

"Hehehe maaf menunggu lama, Hi-na-ta-chan~"

Sakura berlari memasuki kafe dengan senyum cerianya. Di belakang gadis musim semi itu, Tenten dan yang lain menyusul dengan raut letih serta kedua tangan mereka penuh dengan barang belanjaan. Hinata tertawa kecil dengan sweat drop mengalir pelan di pelipisnya. Setelah mereka duduk dan memesan minuman, Tenten mendelik sengit ke arah Naruto.

"Kau tidak melakukan apapun terhadap Hinata, saat aku tidak ada 'kan, bocah rubah?!"

"Oi oi, jangan menuduhku sembarangan Tenten-chan~"

"JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU!"

"M-maa maa..." Hinata menarik ujung seragam Tenten dan berusaha membuat sahabatnya kembali duduk. "Lalu apa saja yang kalian beli tadi?" Hinata mengalihkan atensinya pada teman-temannya.

Namun hanya Sakura yang menjawab Hinata penuh antusias. "Lihat lihat! Semua buku yang aku perlukan untuk persiapan ujian masuk universitas, sedang ada diskon hampir 50%. Aku benar-benar beruntung sekali hari ini!" Gadis musim semi itu menunjukkan beberapa tas belanjaan yang berisikan kumpulan buku-buku tebal.

"Uwa... apa kau sanggup membaca semuanya, Sakura? Kalau aku sih, sudah jelas tidak akan sanggup. Melihatnya saja sudah bikin pusing kepala." Tenten mendengus pelan dan mendorong jauh-jauh tumpukan buku tebal dari hadapannya.

"Itu karena kau belum mencoba untuk membacanya, Tenten. Setelah membacanya, kamu pasti akan terbiasa dan menyadari kalau pelajaran ini cukup mudah." Sakura meraih buku-bukunya dan tersenyum puas karena berhasil mendapatkan buku yang ia incar sejak dulu.

Tenten menatap Sakura malas, "Mudah? Kau pasti bercanda Haruno Sakura?"

"Memang mudah kok, tapi membaca buku itu sekaligus? Terlalu merepotkan." Celetukan Shikamaru mendapat delikan tajam dari gadis berdarah China yang duduk di depannya.

"Jelas mudah bagi nanas jenius seperti mu."

"Terima kasih untuk pujiannya."

Gadis onmyoiji itu mengerang pelan, "Pasti menyenangkan memiliki otak jenius seperti kalian bertiga. Jadi tidak perlu susah-susah belajar untuk masuk universitas." Manik coklat Tenten melirik Shikamaru, Sasuke dan Sakura yang menampilkan ekspresi berbeda.

"Kau hanya membuang waktu dengan berpikiran seperti itu." Sasuke berujar acuh tanpa menatap Tenten.

"Benar Tenten-chan. Semua orang memiliki keistimewaannya tersendiri. Kalau aku dan Sasuke-kun jenius, maka kau seorang material art yang handal." Sakura ikut menimpali ucapan Sasuke.

"Benar-benar! sama halnya dengan kemampuan kaki besi yang aku miliki dan terkenal seantero Konoha Gakuen!" Kiba tiba-tiba berseru penuh semangat yang malah mendapat pukulan di belakang kepalanya oleh Sakura.

"kaki besi? Tidak bisa kau ganti sebutan payah itu?"

"Sakura kau jahat!"

"Etto... apa itu artinya aku harus merasa senang karena kalian berusaha menghiburku?" Tenten yang sejak tadi hanya diam, kini memiringkan kepalanya dan menatap teman-temannya polos.

"Tentu saja! Karena itu traktir kami minuman Tenten-chan~"

Sekali lagi Tenten mendelik sengit saat pemuda pirang itu memanggilnya seakan mereka akrab. Hinata yang melihatnya buru-buru menengahi. "M-Maa sebaiknya kita cepat pulang, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan."

Kiba melirik ke arah jendela, dan benar saja langit siang yang semula terang kini berubah mendung. Rombongan Hinata memutuskan untuk pulang dan meninggalkan kafe. Saat berada diperjalanan pulang, Sakura yang teringat sesuatu memekik tertahan.

"Astaga aku hampir melupakannya!"

"Apa yang kau lupakan Sakura-chan?" Hinata memiringkan kepalanya penasaran. Dan teman merah mudanya menatapnya dengan senyum lebar serta menggenggam kedua tangan Hinata.

"Hinata-chan apa kau bebas minggu besok?"

"Eh?"

"Jadi tadi saat aku membeli buku kedokteran," ujar Sakura sembari mencari sesuatu dari balik kantung belanjaannya. "Jang! Aku mendapatkan hadiah empat lembar tiket taman bermain untuk minggu depan!" ujar Sakura sembari melambaikan empat kertas dengan senyum ceria.

"Ehh?! Taman bermain?! Aku mau!" Tenten serta Kiba berseru kompak dan penuh semangat.

"Tunggu sebentar! aku hanya punya empat tiket. Jadi kita hitung dulu siapa saja yang mau pergi." Sakura segera mundur beberapa langkah. Lalu mengangkat tinggi-tinggi empat lembar tiket di tangannya.

"Jadi yang mau pergi ke taman bermain, angkat tangan!"

...

Suara ramai dari pengunjung taman bermain terdengar walau jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Para pengunjung sudah bekumpul di depan gerbang besar berwarna keemasan yang masih tertutup rapat. Sekitar satu meter dari pintu gerbang, berdiri dengan kokoh sebuah menara jam berlapis keemasan.

Di samping menara jam, berdiri seorang gadis manis dengan rambut biru gelap yang tergerai sampai punggung. Ia mengenakan dress one piece selutut, putih polos dan mengenakan cardigan berwarna baby purple. Sebuah tas selempang berwarna cream bersandar di sekitar pinggangnya yang ramping.

Beberapa menit kemudian, datang seorang gadis manis lainnya dengan rambut merah muda serta memakai bando pita berwarna merah cherry. Haruno Sakura berlari menghampiri Hinata yang melambai ke arahnya. Gadis manis itu memakai hotpants berwarna biru dongker serta kaos oblong merah muda yang tertutupi jaket bisbol merah dengan lengan putih. Suara ketukan sepatu kets semata kaki berwarna putih dengan garis merah di kedua sisinya terdengar berirama.

"Pagi Hinata-chan~" Sakura menyapa pewaris Hyuuga dengan senyum cerianya yang dibalas Hinata dengan senyum lembut yang selalu terpatri di wajah putihnya. "Tinggal Kiba dan Tenten saja yang belum datang?" tanya Sakura sembari menoleh sekitarnya.

Hinata mengangguk kecil lalu melihat jam besar di belakang mereka. "Sepertinya mereka datang terlambat—"

"Oi! Kalian berdua~"

"Eh?"

Lavender dan batu hijau itu melebar saat menangkap dua sosok pemuda yang berjalan ke arah mereka. Pemuda dengan rambut hitam serta memiliki kulit putih, ia memakai kaos oblong putih dengan jaket bisbol biru dongker. Kaki jenjangnya dilapisi celana jeans putih polos dan sepatu kets hitam. Sementara di sampingnya berdiri seorang pemuda pirang dengan tiga garis halus di kedua pipinya. Dia memakasi kaos polo lengan pendek berwarna abu-abu serta celana denim biru gelap.

"Lihat! Siapa mereka berdua? Model kah?"

"Apa mereka sendirian? coba tanya!"

"Hyaa! Tapi aku malu!"

"Sudahlah, cepat-cepat! Kita tanya mereka!"

"A-ano... apa kalian datang sendirian?" salah seorang gadis dari beberapa gadis yang sejak tadi berbisik sembari memandang ke arah Sasuke dan Naruto. Memberanikan diri untuk bertanya pada Naruto.

Pemuda pirang itu tersenyum ceria dan menunjuk ke arah dua gadis yang berada di dekat menara jam dengan ibu jarinya. "Maaf, tapi kami sudah memiliki teman kencan yang menunggu kami di sana."

Hinata dan Sakura menatap pemandangan di depan mereka dengan dua ekspresi yang berbeda. Gadis dengan rambut biru gelap itu tertawa kecil dengan sweat drop mengalir pelan di pelipisnya. Sementara itu Sakura menatap dua pemuda itu dengan tatapan malas. Para gadis itu pun menjauh setelah mendengar perkataan Naruto dengan perasaan kecewa.

"Yo~ apa kalian menunggu lama?" tanya Naruto setelah kedua pemuda itu berdiri di hadapan Hinata dan Sakura.

"Ke-Kenapa jadi kalian berdua yang datang? Bukannya kemarin kalian bilang tidak mau datang?" Sakura berseru sembari menunjuk hidung Sasuke dan Naruto.

"Hiya... sebenarnya aku juga tidak menyangka. Tiba-tiba saja Tenten-chan datang ke tempatku dan memberikan tiketnya padaku."

Jawaban Naruto berhasil mengejutkan Hinata. Dia sama sekali tidak percaya, Tenten yang menaruh curiga dan tidak mempercayai Naruto, memberikan tiketnya pada pemuda pirang itu. Merasakan tatapan yang Hinata berikan ke arahnya, Naruto membalasnya dengan senyum tipis.

"Lalu, kenapa bukan Kiba yang datang dan justru malah Sasuke-kun?" kali ini giliran Hinata yang bertanya dan menatap sosok pemuda rambut hitam yang bersandar pada menara jam.

Sasuke mengangkat bahu, acuh tanpa membalas tatapan Hinata, pemuda itu berujar. "Kiba memberikannya karena dia sakit dan tidak bisa pergi."

"Dan kau mau?"

Sasuke menguap pelan, sama sekali tidak terusik dengan nada serta tatapan curiga dari Sakura. Sebaliknya pemuda itu membalasnya dengan tatapan santai, "Memang salah kalau aku ikut?" Sasuke balas bertanya yang membuat Sakura terdiam.

"...Tidak salah sih."

"Ya sudah, jangan banyak tanya."

Sakura mengerucutkan bibirnya kesal, memang salah kalau dia penasaran? Padahal dia sudah bernafas lega saat kemarin Tenten dan Kiba paling ingin ikut. Dan Sasuke, Naruto serta Shikamaru sama sekali tidak tertarik. Yah, dari awal dia memang tidak menaruh harap kalau Sasuke akan tertarik ikut ke taman bermain, tapi lihat sekarang. Pemuda itu justru muncul disaat Sakura tidak mengharapkannya.

Manik biru laut yang sejak tadi memperhatikan keduanya tertutup, sebelum tawa kecil lepas dari bibirnya. Hinata yang berada di samping Naruto, menatapnya heran. Menyadari tatapan Hinata, pemuda pirang itu melambaikan tangannya santai. Memberitahu bahwa tidak ada apa-apa yang dibalas tatapan acuh Hinata.

"Neh..." panggil Hinata mencoba menarik perhatian Naruto. "Apa benar Tenten yang memberikan tiketnya padamu?"

Seringaian tipis khas pemuda pirang itu kembali muncul, "Kenapa? kau tidak percaya dengan perkataanku?"

Gadis manis itu mengangguk cepat, "Aku tahu bagaimana perasaan Tenten terhadapmu. Jadi aku rasa perkataanmu itu agak aneh."

"APA?! Tenten-chan menaruh rasa terhadapku?! Wah ini tidak benar..." ujar Naruto dengan raut kaget yang ia buat-buat.

"Berhentilah bercanda, aku serius Naruto-kun!"

"Hahaha aku juga serius, Tenten-chan yang memberikannya padaku. Kalau kau tidak percaya tanyakan saja pada laki-laki dengan rambut panjang itu."

Hinata menurunkan alisnya, laki-laki dengan rambut panjang? Siapa yang siluman rubah itu maksudkan? Belum sempat Hinata bertanya lebih lanjut, Sakura sudah memanggil mereka berdua karena gerbang taman bermain sudah dibuka.

"Uwo~ jadi ini yang namanya taman bermain?" Naruto berujar penuh semangat begitu manik biru lautnya menatap kumpulan permainan di depannya.

Sakura yang berdiri di sampingnya mengernyit heran, "Memang kau belum pernah pergi ke taman bermain sebelumnya, Uzumaki-san?"

"Hahaha... begitulah. Kakekku termasuk orang yang keras dan beliau selalu menentang apa yang aku suka."

"Hee... sulit juga jadi dirimu, Uzumaki-san."

Naruto tertawa kecil sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Hehe... yang lebih penting, jangan memanggilku seperti itu. Rasanya seperti orang asing saja, panggil saja aku 'Naruto' seperti yang lain."

"Kalau begitu kau juga panggil aku seperti yang lain, Naruto."

"Tentu-dattebayo!"

"Baiklah, hari ini mari kita bersenang-senang!" Sakura berseru penuh semangat bersama dengan Naruto. Mereka berdua tertawa riang sembari saling menunjuk permainan yang ingin mereka naiki terlebih dahulu.

Di belakang mereka berdua, Hinata menatap mereka sambil tertawa kecil. Sementara itu manik hitam setajam elang, hanya menatap pada satu sosok riang dengan rambut merah muda. Sasuke memalingkan wajahnya, ada segelintir perasaan tak mengenakan yang ia rasakan saat ini. Dan pemuda itu tahu, penyebab perasaan yang ia alami ini adalah ulah dari gadis musim semi yang tengah tertawa lepas dengan si anak baru.

...

BRAK!

"SEBENARNYA APA YANG KAU PIKIRKAN, NEJI?!"

Pemuda dengan rambut panjang kecoklatan itu tetap tenang menyesap teh hijaunya. Sama sekali tidak tersentak ataupun terkejut dengan gebrakan meja Tenten dan amarah gadis di depannya. Saat ini mereka berdua ada di ruang makan rumah Tenten. Pagi tadi, Neji datang dan meminta Tenten untuk menemaninya kesuatu tempat. Tempat yang ternyata adalah sebuah kuil Inari di puncak bukit kota Konoha.

"BAGAIMANA BISA KAMU MENYURUH RUBAH ITU UNTUK PERGI BERSAMA HINATA?!"

Tenten benar-benar marah saat ini, sangat marah dengan keputusan sepihak dari Neji. Dia tidak mengerti dengan sikap Neji yang tiba-tiba berubah. Bukankah laki-laki di depannya ini yang selalu mengingatkannya tentang hubungan manusia dan siluman. Tentang betapa licik serta kejinya mereka, lalu kenapa sekarang...

Neji meletakan cangkir teh sebelum menatap lurus manik coklat Tenten. Dari tatapan itu, ada sesuatu yang Neji ketahui dan itu membuat Tenten terdiam. Tanpa perlu disuruhpun Tenten segera duduk kembali dan menatap serius pemuda di depannya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

Setelah merasa Tenten sudah tenang, Neji membuka mulut dan berniat menceritakan apa yang sudah dia dengar dari kepala keluarga Hyuuga.

"Kita bisa mempercayai siluman rubah itu."

Manik coklat itu menyipit tajam, "Maksudmu?"

...

NGUIIIIING!

"HUWAAAAA!"

" HAHAHAHA!"

Suara teriakan dan tawa terdengar saat Roller Couster meluncur cepat di lintasan rel. Sakura dan Naruto terlihat jelas menikmati sensasi adrenalin mereka yang memuncak. Sementara wajah Hinata memucat dan menjerit tertahan dan Sasuke hanya memasang wajah bosan.

Setelah itu mereka melanjutkannya dengan bermain Histeria dan permainan ekstrim lainnya. Setelah sekitar empat permainan menegangkan, mereka berempat beristirahat di kursi panjang. Hinata duduk dengan wajah tertunduk, Sakura yang melihatnya merasa cemas saat wajah putih Hinata begitu pucat.

"Hi-Hinata-chan, kau baik-baik saja? Apa kita... terlalu berlebihan?"

"A-aku baik-baik saja Sakura-chan... bi-biarkan aku istirahat sebentar. Kalian pergi main lagi saja, nanti aku menyusul setelah agak mendingan."

Sakura terlihat tidak yakin dengan perkataan Hinata dan gadis merah muda itu cukup terkejut saat tiba-tiba Sasuke meraih tangannya.

"Hei, Dobe. Kau tunggu di sini dan jaga Hinata, mengerti?"

Naruto mengerjap beberapa kali dan menunjuk dirinya sendiri, "Dobe? Maksudmu aku?"

"Tentu saja bodoh."

"Haa?! Jangan mengganti nama orang seenaknya, pantat ayam!"

"Tu-tunggu dulu Sasuke-kun, maksudmu kita pergi main sementara meninggalkan Hinata di sini?" Sakura buru-buru menepis tangan Sasuke dan menatapnya lurus.

"Kita tidak meninggalkannya, hanya membiarkannya istirahat sebentar. Dan dia tidak sendirian, si dobe juga ada bersamanya."

"Maa... aku memang hanya butuh istirahat sebentar." ujar Hinata sambil tersenyum simpul, lalu gadis manis itu menarik tangan Sakura dan berbisik pelan di telinga gadis merah muda itu. "Ini kesempatanmu Sakura-chan. Maju dan jatuhkan hati Sasuke-kun!"

Wajah gadis merah muda itu berubah merah, "A-tu-tunggu Hinata-chan apa maksudmu? I-itu tidak mungkin! Kau sudah tahu kalau dia... tidak menyukaiku." Suara Sakura melemah di ujung kalimatnya. Manik hijaunya yang biasanya bersinar kini meredup saat ingatan beberapa minggu yang lalu. Hari dimana ia menyatakan penolakan dan meminta perjodohan antara dirinya dan Sasuke dihentikan.

Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam, tidak mempedulikan suara Naruto dan Sasuke yang berdebat. Hinata menepuk pelan punggung Sakura dan memberinya senyum hangat.

"Tidak apa-apa, usahamu tidak akan memberikan hasil yang mengecewakan Sakura-chan."

Manik hijau itu mengerjap beberapa kali, dapat Sakura rasakan hatinya menghangat. Ia merasa bisa mempercayai kata-kata Hinata. Ya, setelah berjuang keras untuk mendapatkan hati teman masa kecilnya, mungkin saat ini adalah waktu yang tepat baginya untuk berhenti dan beristirahat sejenak. Sebelum kembali berjuang untuk mendapatkannya.

Setelah Sakura dan Sasuke pergi, kini tinggalkan Hinata dan Naruto. Sudah beberapa menit berlalu dengan keheningan, kedua telapak tangan Hinata sudah basah oleh keringat dingin. Sementara itu Naruto yang duduk di sebelahnya hanya bersandar dan menatap penuh minat permainan di depannya.

'Apa yang mesti aku lakukan sekarang?' Hinata ingin menjerit saat ini, dia sama sekali lupa bahwa dia ditinggal berdua saja dengan siluman rubah. Gadis lavender itu menghela nafas lelah dan baru menyadari rasa haus yang melanda tenggorokannya.

Hinata membuka tas selempangnya, berniat mengambil dompet untuk membeli minuman dimesin otomatis. Tapi setelah membuka tasnya, gadis itu baru menyadari kalau ia lupa membawa dompet. Naruto yang melihat wajah Hinata semakin pucat, mengernyit heran.

"kau kenapa?"

"Eh, itu... sepertinya aku lupa membawa dompet ahaha..." Hinata menghela nafas pelan. Bagaimana bisa dia seceroboh ini, sampai melupakan dompetnya di rumah. Kalau sudah begini, terpaksa nanti ia meminjam uang pada Sakura untuk membeli minum dan—

"Hya!" manik lavender itu mengerjap, kaget dengan sensasi dingin yang tiba-tiba hadir di pipinya. Hinata menoleh dan mendapati Naruto berdiri di depannya dengan sekaleng cola dingin.

Pemuda itu tersenyum lebar dan memberikan minuman kaleng itu pada Hinata. "Untukmu."

"Un, terima kasih... Naruto-kun." Hinata mengambilnya dan meneguk sampai puas. Air muka Hinata yang semula pucat kini sudah lebih baik. "Maaf sudah merepotkanmu Naruto-kun, besok aku akan mengembalikan uangmu." Ujar Hinata dengan senyum tulus.

Pemuda itu melambaikan tangannya, masih dengan senyum lebarnya. "Tidak perlu, lagi pula aku menggunakan daun yang ku ubah menjadi uang untuk membeli minuman itu. Jadi kau tidak perlu menggantinya Hinata."

"Eh?"

"Nanti kalau kau lapar, bilang saja. Aku bisa mengubah lagi daun menjadi uang untuk membelimu makanan. Jadi—"

Plak!

Manik biru laut itu melebar, terkejut dengan sengatan listrik pada pipinya. Pemuda pirang itu menatap Hinata, dalang penyebab pipinya terasa perih dan panas. Perempuan itu menampar pipinya tiba-tiba dan menatap tajam ke arahnya.

Butuh waktu beberapa detik sebelum Naruto tersadar. 'Eh? EHHH? APA SALAHKU?!' pemuda pirang itu menyentuh sebelah pipinya dengan tatapan syok.

"Yang kau lakukan itu... sangat rendah Naruto-kun." ucap Hinata dingin dan beranjak dari duduknya. Gadis manis itu hendak pergi namun Naruto berhasil meraih tangan Hinata dan menghentikannya.

"Tu-tunggu dulu, memang apa salahku?"

Untuk sesaat Hinata terdiam, gadis manis itu menoleh dengan tatapan kecewa yang berhasil membuat hati Naruto mencelos. "Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana lelahnya orang yang berjualan demi mencari nafkah?"

"Eh?"

Hinata berbalik dan menatap lurus-lurus manik biru laut di depannya. "Mereka berjualan untuk mendapatkan uang demi keluarga mereka. Dan kau tanpa rasa bersalah menipu mereka dengan uang palsu yang kau buat."

Gadis dengan rambut biru laut itu menghela nafas sebelum berbalik. "Tunggu di sini, aku akan meminjam uang pada Sakura-chan."

Naruto hanya bisa menatap punggung Hinata yang mulai menjauh sebelum menghilang dari balik kerumunan. Kaki jenjangnya seakan menempel pada tanah, sulit untuk membuatnya bergerak. Bukan hanya pipinya yang perih akibat tamparan Hinata, tapi kata-kata gadis itu lebih membuat hatinya perih dan... perasaan bersalah mulai menyakitinya.

"Sial, bagaimana bisa aku sebodoh ini?!" gerutu pemuda pirang itu, ia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Saat siluman rubah itu menyesali perbuatannya, sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah grup kecil yang tengah bermain musik dengan riangnya. Detik itu juga, senyum Naruto merekah saat sebuah ide muncul dalam benaknya.

...

"Eh, kau melupakan dompetmu Hinata-chan?"

Hinata tersipu malu melihat Sakura menatapnya tak percaya. Setelah berhasil menemukan Sakura dan Sasuke yang baru saja turun dari bianglala. Gadis itu segera menghampiri mereka berdua dan meminta tolong Sakura untuk meminjamkannya beberapa uang.

"Memang si Dobe tidak bawa uang? Sampai membuatmu berlari mencari Sakura."

Hinata kembali tertawa kecil mendengar pertanyaan Sasuke. Gadis manis itu menggaruk pipinya dengan telunjuknya. "Be-begitulah... dia juga lupa bawa uang sepertiku," jawab Hinata gugup.

"Mou... kalian berdua benar-benar deh..." Sakura tersenyum kecil sembari berkacak pinggang. Mau bagaimana lagi, gadis merah muda itu lalu merangkul Hinata dan tersenyum ceria.

"Ya sudah, hari ini biar nona Sakura yang mentraktir kalian pasangan kikuk!"

"He-hei! Siapa yang kamu panggil pasangan kikuk?!" Hinata mengerang pelan saat Sakura mengacuhkannya.

Mereka bertigapun segera menuju tempat Naruto berada. Dan saat mereka sampai, mereka bertiga dibuat terkejut dengan apa yang mereka lihat. Di depan mereka terlihat banyak sekali orang-orang yang berkumpul dengan suara sorakan dan tepukan berirama.

"Memang ada parade siang-siang begini?" tanya Sakura heran.

Hinata yang berada disebelahnya menggeleng pelan, "Entahlah, sebaiknya kita coba lihat!"

Mereka bertigapun memutuskan untuk menghampiri kerumunan orang-orang yang terlihat menikmati sesuatu. Setelah Hinata dan Sakura berhasil menyela dan berada di depan kerumunan, keduanya membulatkan mata mereka.

Di depan mereka, sosok pemuda pirang tengah menari break dance sembari sesekali ikut menyanyi. Mengiringi seorang gadis manis dengan rambut panjang berwarna merah dengan kacamata berbingkai merah. Para penonton terlihat terbuai dan menikmati penampilan band kecil-kecilan di depan mereka. Terlebih dengan adanya sosok Naruto yang ceria dan tariannya yang berhasil memukau penonton, bersalih membuat sorak sorai terdengar riuh.

Usai membawakan lagu serta tarian, Naruto melambai ke arah pengunjung dan mengeluarkan sebuah kotak kosong dan menghampiri penonton. Banyak penonton yang tanpa segan memberikan uang cukup besar kedalam kotak yang semakin membuat senyum Naruto merekah.

"Terima kasih semuanya-dattebayo!"

Setelah kerumunan penonton bubar, Sakura, Hinata dan Sasuke memutuskan untuk duduk sembari menunggu Naruto yang tengah berbagi hasil dengan teman barunya. Setelah menunggu agak lama, Naruto datang menghampiri mereka dengan senyum tidak biasa. Yah, Hinata langsung menyadarinya saat melihat senyum lima jari Naruto terasa lebih ramah dan hangat. Tidak seperti senyum lebar yang biasa ia berikan pada mereka.

"Maaf membuat kalian menunggu lama-dattebayo!"

"Aku tidak menyangka kau bisa menari dan menyanyi Naruto!" Sakura adalah yang pertama menyapa pemuda pirang itu dengan antusias.

Naruto menampilkan cengirannya, "Hehe... asal kau tahu, masih banyak yang tidak kau ketahui tentangku, Sakura!"

"Hn, tapi kau tetap saja Dobe karena lupa membawa uang." Celetukan dingin Sasuke malah membuat pemuda itu harus menahan aduh saat Sakura menyikutnya.

"Berhenti bersikap menyebalkan seperti itu, Sasuke-kun."

"Hn!"

Hinata tertawa kecil melihat interaksi Sasuke dan Sakura yang sudah seperti biasanya. Tidak ada lagi kecanggungan yang terjadi seperti beberapa minggu ini. Mungkin telah terjadi sesuatu dengan mereka bedua saat mereka pergi berdua saja, dan Hinata bersyukur dengan hal itu.

"Hinata, ikut aku!"

"Eh?"

Tanpa sempat bertanya, Naruto menggandengnya dan mengajaknya berlari meninggalkan Sakura dan Sasuke sendirian. Hinata mengerjap beberapa kali, tidak tahu kemana laki-laki itu akan membawanya. Dan pertanyaanya terjawab saat mereka berhenti di tempat mesin otomatis. Naruto mengeluarkan selebar uang dan memasukannya ke dalam mesin otomatis. Tidak melewati tempat memasukan uang, justru tangannya menembus masuk ke dalam mesin otomatis sebelum ia menariknya lagi dan uang yang tadi ditangan kini berubah menjadi daun.

Naruto berbalik dan menunjukkan daun di tangannya. "Ini daun yang aku gunakan untuk membelikanmu minuman tadi." Usai berkata seperti itu, Naruto membuang daun itu, membiarkan daun berwarna hijau tua itu terbang terbawa angin.

"Aku... minta maaf karena telah melakukan hal bodoh seperti itu. Seperti yang kau katakan, aku sama sekali tidak memikirkan mereka yang bersusah payah mencari uang." Naruto menggaruk tengkuknya dengan semburat merah menahan malu. "Jadi, terima kasih sudah mengajariku hal penting tentang manusia, Hinata."

Keheningan kembali melanda, dan hal itu membuat Naruto sedikit keringat dingin. Takut, kalau-kalau Hinata tidak mau memaafkanya. Namun saat sebuah sapu tangan menyentuh wajahnya yang berkeringat, serta senyum lembut menyapanya. Naruto merasa waktu kembali berjalan lambat, seakan membiarkannya menikmati pemandangan indah di hadapannya.

"Un, terima kasih karena sudah mau mencoba mengerti, Naruto-kun."

.

.

.

To Be Continue...

AN/ haloha~ maaf dengan keterlambatan saya meng-up cerita ini. Ada banyak hal yang terjadi dalam beberapa bulan belakangan ini. dan sebagai tanda permintaan maaf, kali ini chapter up dengan cerita yang agak panjang. Bayangkan saja sampai 14 halaman dan empat ribu kata. Wao~

Semoga kalian menikmati cerita ini ya, karena jujur saja saya puas dengan chapter kali ini hehehe. Lalu terima kasih bagi mereka yang sudah memfollow/fav/ dan review cerita ini. mohon maaf karena aku tidak membalas review kalian semua. Tapi sungguh makasih bangeeeet untuk reviewnya TT_TT

Jadi, sampai jumpa chapter depan kawan-kawan~