Author: Cocoa2795

Rating: T or M tergantung alur.

Genre: Supranatural, Romance, Hurt/Family, Little Angst.

Diclaimer: All Characters of Naruto is belongs to Masashi Kishimoto. All main Idea in this story is mine, but i borrow Kumagai kyoko-sensei's idea about shirabyoshi.

Warning: All Typo(s), Out Of Chara, If you dislike this story, please turn back with peace. No flames with barbarian's words. Thanks.

Chapter 18: Like Before.

.

.

.

Genggaman dari kulit yang selalu dingin. Menyejukan sekaligus menusuk hati bagi pemilik gadis bersurai merah muda. Manik hijau jernih itu pasrah dan hanya menatap genggaman tangan serta punggung pemuda bermarga Uchiha di depannya.

Pemuda itu terus menariknya melangkah entah kemana. Sampai wajah Sakura membentur punggung tegap itu dan membuatnya meringis pelan. Matanya menyipit tajam, mendelik kesal pada Sasuke yang berbalik dan memandangnya acuh.

"Jadi, berikutnya apa?"

Pelipis Sakura terasa berkedut mendengarnya, "Maaf?"

"Berikutnya kau mau naik apa?" tanya Sasuke memperjelas pertanyaannya. Masih dengan tampang acuh serta kurangnya ekspresi.

Sakura menghembuskan nafas pelan, seharusnya ia sudah terbiasa dengan tingkah ajaib Uchiha Sasuke. Bagaimanapun sudah hampir sepuluh tahun Sakura mengenal pemuda di depannya. Jadi sudah seharusnya dia mengerti kalimat pendek yang dilontarkan manusia di depannya ini.

"Terserah, kau yang menarikku dari tadi."

Kali ini giliran pelipis Sasuke yang berkedut, "Kau yang dapat tiket ini."

"Lalu? kau juga datang, berarti kau tertarik untuk bermain."

"Tidak, aku hanya bosan di rumah."

Sakura mencoba mengatur emosinya dan tersenyum ceria. "Baiklah, kalau begitu kita main arum jeram!"

"Tidak, nanti bajuku basah."

"Um...Istana boneka?"

"Aku bukan bocah."

"Rumah hantu?"

"Terlalu gelap."

"Halilitar?"

"Kita sudah main itu tadi."

Gadis musim semi itu mengepalkan kedua tangannya, "Lalu kita main apa?" Sakura ingin mengerang putus asa. Dia sedang tidak ingin berurusan dengan Uchiha bungsu satu ini. Bagaimanapun dia masih dalam tahap 'menata hatinya'. Tapi entah kenapa pemuda di depannya ini justru seakan tengah memancing emosinya.

"Lebih baik aku balik dan mengajak Naruto untuk menemaniku bermain." Sakura berujar ketus dan berbalik.

Namun belum sempat ia melangkah, tangan besar Sasuke menahan lengannya. Sakura memutar kepalanya cepat dengan delikan tajam. Mencoba memerintahkan pemuda itu untuk melepaskannya lewat tatapan tajam yang ia berikan. Namun sekali lagi, Sasuke tidak bergeming.

"Aku datang kemari bukan untuk bermain, tapi untuk bicara denganmu."

Delikan dari mata hijau itu mengendur, berganti dengan tatapan heran dan penasaran. Sebelum berubah lagi menjadi sendu dan tegas. Sakura berbalik dan melepaskan cengkraman tangan Sasuke sebelum menatap lurus pemuda di depannya.

"Kalau hal yang mau kau bicarakan adalah tentang perjodohan kita. Tenang saja, aku sudah melakukannya." Ucap Sakura tenang, gadis manis itu tersenyum tipis sebelum berujar lagi. "Aku sudah membatalkan perjodohan kita."

Situasi saat ini adalah hal yang paling ingin Sakura hindari. Semenjak Sasuke sembuh dan sudah bersekolah kembali, Sakura tidak pernah sekalipun mengunjungi pemuda ini. Gadis itu selalu berusaha untuk menjaga jarak serta mencoba untuk tidak sendirian dengan Sasuke. Karena dia tahu, hatinya belum siap untuk semua ini.

"Lagi pula jika dipikir kembali, rasanya kuno sekali. Dizaman seperti ini masih melakukan perjodohan, seakan aku gadis yang tidak laku." Sakura tertawa kecil, kaki jenjangnya melangkah kecil. Membawanya pada sebuah pohon rindang dan ia bersandar di sana.

Sasuke menatap gadis musim semi itu dalam diam, mata hitamnya tidak lepas dari sosok Sakura. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya, sesuatu yang membuatnya gelisah dan tidak tenang. Sesuatu yang membuat hatinya sedikit sakit dan penat. Namun pemuda itu tidak mengerti, selama ini dia menjauhi gadis itu karena ia kesal dengan keputusannya yang mau saja menurut dengan keinginan orang tua mereka. Namun... sejak ia terbangun di rumah sakit dan tidak menemukan sosok gadis musim semi itu di dekatnya.

Entahlah... Sasuke merasa... sepi?

"Jadi, lupakan saja masalah perjodohan ini. Dan bisakah kita kembali menjadi... teman sejak kecil?"

Sasuke tersentak dengan kata-kata terakhir Sakura. Suara gadis itu memelan dan hampir terdengar berbisik. Namun bagi gendang telinga Uchiha Sasuke terdengar keras dan seakan memukulnya kuat-kuat hingga wajah tampan itu hampir menjatuhkan rahangnya.

Mata hijau cantik yang semula menatap sepatu pemiliknya, kini terangkat dan menatap lurus sepasang manik hitam di depannya. Sakura tersenyum getir dan berusaha tertawa kecil, "Apa kau lapar? Mungkin sebaiknya kita makan siang. Jadi, ayo kembali ke tempat Hinata-chan."

Sakura berbalik, ia ingin cepat-cepat pergi dari situasi yang membuat air matanya terus berkumpul di ujung mata. namun sekali lagi tarikan di tangannya mencegat ia untuk melangkah pergi. Sakura menoleh, menatap tidak mengerti pemuda yang kini menyeretnya menuju antrian bianglala.

"Sa-Sasuke-kun?"

"Cepat naik." Tanpa membiarkan Sakura protes, Sasuke mendorong punggung yang lebih kecil darinya itu untuk masuk ke dalam bianglala berbentuk bundar dan berwarna merah tua. Sakura menatap keluar jendela, tidak mengerti kenapa Sasuke membawanya kemari.

"Bicara di sini lebih baik," suara Sasuke yang terdengar datar menarik perhatian Sakura ke arahnya. Pemuda itu bersandar sembari memejamkan matanya. "Sudah aku katakan, aku kemari karena ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Tapi sudah tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Kau dengar kata-kataku barusan, Sasuke-kun."

Sebelah mata pemuda itu terbuka, sebelum menghela nafas berat. "Itu kau, bukan aku yang bicara. Dan sekarang giliran aku yang bicara."

Nada suara Sasuke yang dingin, berhasil membuat Sakura sedikit menegang karena takut. Baru kali ini gadis itu melihat Sasuke bersikap seperti ini. Jika dulu, Sasuke lebih bersikap dingin, mengacuhkannya dan menyakiti dengan kata-katanya. Kali ini dengan sikap tenangnya, justru membuat Sakura meremas tangannya gusar.

"Haruno Sakura..."

Gadis musim semi itu memejamkan matanya, mencoba bersiap dengan segala kata-kata tajam yang menusuk dari pemuda di depannya ini.

"...Tetaplah di sampingku."

"Eh?"

Sakura mengerjap mencoba mengulang kembali kata-kata yang ia dengar dari Sasuke. Berada di sampingnya... sebagai apa? Teman sejak kecil? Atau... apa? Sakura tidak berani untuk memikirkan posisi kedua yang seakan terlalu indah bila menjadi kenyataan.

keduanya kini terdiam, larut dalam pemikiran masing-masing. Sampai bianglala kini telah selesai berputar. Pintu terbuka dan Sasuke beranjak lebih dulu baru di susul Sakura yang masih terdiam. Saat gadis itu hendak melangkah keluar, sebuah tangan terulur di depannya. Menarik salah satu tangannya yang bebas dan terkunci dalam genggaman tangan besar.

"Tetaplah di sampingku dan mungkin kau tidak perlu membatalkan penjodohan itu." Bisikan itu lembut, datar dan hampir tak terdengar. Namun Sakura yakin seratus persen bahwa suara itu miik Sasuke. Dan genggaman pemuda itu yang mengerat menjadi bukti, bahwa Sakura tidaklah bermimpi saat ini.

"Un, aku akan selalu di sampingmu Sasuke-kun!" seru Sakura ceria dan tersenyum penuh kebahagiaan serta kelegaan.

Tanpa diketahui gadis itu, segaris senyuman hadir di wajah Sasuke. Senyuman lembut yang tulus.

...

Tenten mengerutkan kedua alisnya, semenjak ia melangkah masuk ke dalam kelas. Ada sesuatu yang berbeda dan mengganjal bagi dirinya. Mata coklatnya melirik ke kanan, dan mendapati sosok Sakura yang tengah mengobrol dengan Sasuke. Ah, tidak mungkin lebih tepatnya sosok Sakura yang tengah asyik bicara sendiri sementara Sasuke membaca buku. Tunggu sebentar, memang sejak kapan Sasuke sekelas dengan mereka?

Lalu mata coklat itu melirik ke kiri dan kali ini membuat sudut pelipisnya berkedut kesal. Di sudut ruangan, lebih tepatnya di meja yang bersebelahan dengan jendela. Tempat duduk dari kepala durian serta berkumis kucing itu. Sosok Naruto terlihat sedang membaca majalah harian yang biasa dibaca ibunya setiap pagi. Tidak hanya itu ada Hinata di sana, duduk di samping pemuda pirang itu sembari menunjuk entah apa yang ada di majalah lalu tertawa bersama dengan siluman rubah itu.

"Sebenarnya apa yang aku lewatkan saat mereka pergi kemarin?"

Gadis China itu menghela nafas pelan, ia memutuskan untuk tidak mengganggu mereka berdua. Saat ini dia hanya akan mengawasi, dan jika rubah itu bertindak mencurigakan. Maka Tenten tidak akan segan-segan untuk membasminya.

"Glup!"

Naruto mengerjap beberapa kali, baru saja ia merasakan hawa dingin yang sangat tidak mengenakan. Hawa membunuh yang pekat itu berhasil membuatnya tengok kanan dan kiri tanpa menyadari Tenten yang duduk tidak jauh darinya tengah menulis sesuatu di lembaran kertas putih.

"Ada apa Naruto-kun?"

"Tidak... sepertinya hanya perasaanku saja, Hinata. Hahaha..."

Hinata menatap aneh Naruto sebelum ia tertawa kecil. Mereka kembali saling bercerita tentang apa saja. Semenjak dari taman bermain, Hinata memandang Naruto dari segi yang berbeda. Gadis lavender itu sedikit terharu dengan apa yang sudah rubah itu perbuat. Tidak hanya dia mau memikirkan kesalahan yang telah ia lakukan, tapi dia juga segera memperbaikinya.

Jika mengingat bahwa pemuda pirang ini adalah siluman rubah. Siluman yang seharusnya mengganggu dan menyesatkan manusia. Justru merasa tertarik untuk lebih mengenal manusia dan sikapnya yang polos, menjadi sisi manis yang Hinata temukan darinya.

"Kenapa kau senyum-senyum sendiri, Hinata?"

Suara bariton yang mendadak hadir di telinganya sedikit mengejutkannya. Hinata menoleh dan mendapati pemuda pirang itu berjalan di sampingnya.

"Ka-kau mengejutkan aku saja Narut-kun!"

"Hahaha maaf maaf, kau mau kemana dengan kardus besar itu?"

Manik lavender itu turun melihat kardus yang sedang ia bawa. Saat ini dia sedang berada di koridor, setelah Kakashi-sensei memanggilnya begitu bel istirahat berbunyi.

"Ah, Kakashi-sensei memintaku untuk menaruh kardus ini di ruang lab." Jawab Hinata tanpa lupa senyum kecilnya. "Naruto-kun sendiri, kau tidak pergi ke kantin bersama Kiba-kun?"

"Tadinya sih, tapi aku melihatmu sendirian di sini. jadi..." Sebelum Naruto melanjutkan ucapannya, pemuda pirang itu merebut kardus besar di tangan Hinata dengan cengiran lebar. "Biar aku bantu, jadi kita bisa pergi makan siang bersama!"

"Tu-tunggu dulu, itu tugasku Naruto-kun!"

"Maa maa, seorang lady dilarang bawa barang berat-dattebayo!"

Wajah Hinata seketika merona mendengarnya, buru-buru gadis itu berusaha merebut kembali kardus dari tangan Naruto. Namun sialnya, perbedaan tinggi badan mereka benar-benar mengesalkannya.

"Hei, Kembalikan Naruto-kun, ayolah!"

"Tidak mau~ hahaha..."

Naruto ingin tertawa saat maniknya melihat wajah cemberut Hinata. Gadis itu mengerucutkan bibirnya dan menatapnya kesal. Ekspresi yang baru Naruto tahu kalau Hinata memilikinya. Bahkan Hinata, kekasihnya dulu tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu.

Gadis manis itu terdiam, tiba-tiba saja raut wajah Naruto berubah. Seperti ia sedang memikirkan sesuatu dengan tatapannya yang sayu, sedih serta kosong itu. Tatapan yang entah kenapa membawa rasa sakit di hati Hinata.

"Na-Naruto-kun?"

"Oh, maaf aku melamun hahaha. Ayo kita pergi, aku sudah sangat lapar nih!"

Tanpa menunggu Hinata, pemuda pirang itu melangkah sembari bersiul. Bersikap biasa seakan tadi ia tidak sedang melamun dengan tatapan sedih. Manik lavender itu menatap sendu pada punggung lebar yang terlihat sepi itu.

'Apa... dia teringat dengan kekasihnya dulu?'' Ada rasa sedih yang hadir begitu saja, meski Hinata tidak mengingat sama sekali masa lalunya. Tapi, jika memikirkan bagaimana rasanya hidup tanpa orang yang dicintai. Hinata memandang keluar jendela dimana langit biru tanpa awan terlihat jelas.

'Bagaimana perasaanmu dulu... saat kau meninggalkan Naruto-kun, Hinata-san?''

...

Suara langkah ringan terdengar menyusuri lorong rumah berkayu. Rambut merah itu melambai pelan setiap pemiliknya melangkah. Setelah sampai di depan pintu geser, Gaara membuka pintu setelah mengetuk pintu tiga kali. Tanpa menunggu sahutan dari dalam, pemuda berkepala merah itu memasuki ruangan yang cukup besar dengan beberapa gulungan kertas di tangannya.

"Selamat malam Naruto-sama, saya membawakan beberapa laporan yang harus anda periksa—" kedua pelipis Gaara berkedut seketika. Manik hijau pudarnya menatap datar sosok pemuda pirang yang tengah tiduran santai dengan beberapa majalah di sana sini.

"Haa... terlalu banyak model, mana yang harus aku pilih?" gerutu Naruto sembari mengacak-acak rambut pirangnya. Sosok Gaara yang sudah duduk di sampingnya ia hiraukan begitu saja.

"Naruto-sama..."

"Seharusnya aku tanya Hinata, kalau tahu ada sebanyak ini!"

"Naruto-sama, laporan ini—"

"Hei Gaara, menurutmu mana yang harus ku beli dan cocok denganku?" Naruto dengan santainya memotong ucapan Gaara dan malah menunjukkan sebuah gambar yang menjual berbagai merek ponsel. "Yang warna ungu, hitam, atau orange? Hei hei!"

Bletak!

Tanpa banyak kata, Gaara dengan santainya memukul kepala Naruto. Membuat pemuda pirang itu mengerang pelan dan mendelik kesal.

"Hei kenapa kau malah memukulku?!"

"Agar kau sadar dan segera membaca laporan ini." Gaara mendorong sekitar sepuluh gulungan ke arah Naruto dan pemuda pirang itu menatapnya horror. "Jangan mencoba kabur, Naruto."

"Ukh..." pemuda pirang itu menatap Gaara ngeri saat pemuda merah itu menatapnya tajam. kalau Gaara sudah mengancamnya seperti ini, mau tidak mau Naruto harus menurut. "Baiklah, tapi kalau aku sudah menyelesaikan laporan ini. Aku ingin permintaanku dikabulkan!"

Manik hijau itu menatap curiga, biasanya apapun permintaan Naruto itu selalu menyusahkan. Seperti permintaannya yang ingin bersekolah di sekolah Hinata. Gaara memijat pelipisnya, menyiapkan mental untuk mendengar apa lagi permintaan atasan sekaligus teman kecilnya ini.

"Baiklah, apa itu?"

Naruto memasang cengiran menyebalkan yang membuat Gaara menghela nafas spontan.

'Demi Dewi Tsunade... biarkan Naruto normal untuk sekali ini saja.'

...

Suara ketukan pisau terdengar bercampur dengan aroma masakan yang menguar dari dapur keluarga Hyuuga. Hinata dengan telaten mengiris potongan daging sebelum memasukkan ke minyak panas. Di sampingnya, Hanabi membantunya menyiapkan hidangan lain sembari bersenandung.

Malam ini adalah jadwal mereka untuk memasak bersama. Jika hari biasanya makanan sudah disiapkan oleh para pengurus rumah. Maka hari ini kedua kakak beradik Hyuuga lah yang akan memasak dan menyiapkan makan malam mereka.

Di ruang makan, Hyuuga Hiashi menunggu sembari menyesap teh hijau yang disiapkan anak bungsunya. Senyum tipis hadir di wajah laki-laki yang biasanya memasang wajah datar dan kaku itu. Setiap melihat kedua putrinya memasak seperti ini, selalu membawa kebahagiaan dan kerinduan tersendiri baginya.

Setelah selesai memasak dan menyiapkan makan malam, keluarga kecil itu kini berkumpul. Sembari berbincang-bincang tentang banyak hal, acara makan mereka terasa hangat dengan celotehan konyol Hanabi dan senyum hangat Hinata.

Hiashi menatap kedua putrinya dengan tatapan ramah. Dia tidak menyangka kalau waktu berjalan begitu cepat. Ia merasa Hinata dan Hanabi masih kecil kemarin dan sekarang kini dia melihat dua bidadari kecilnya tumbuh menjadi seorang gadis.

"Mungkin tak lama lagi, aku akan menimang cucu."

Perkataan tiba-tiba Hiashi berhasil membuat Hinata tersedak. Kedua gadis Hyuuga itu menatap ayah mereka dengan tatapan berbeda-beda.

"Kenapa kalian terkejut begitu? Hinata, dua tahun lagi kau lulus dan bisa menikah."

Wajah sang penerus Hyuuga kini memerah, "To-tou-sama, dua tahun itu masih lama..."

"Tentu saja tidak, rasanya baru kemarin kau masih bayi. Tapi sekarang kau tumbuh menjadi gadis yang cantik." Hiashi menaruh sumpit dan menatap kedua putrinya. "kalian berdua sudah besar, dan pasti sudah tahu mana yang terbaik buat kalian serta apa kewajiban kalian sebagai anggota keluarga Hyuuga."

"Tapi, jangan pernah lupa bahwa kebahagiaan kalian berdua adalah yang terpenting dan paling utama."

Hinata maupun Hanabi sama-sama terdiam mendengar kata-kata ayah mereka. Baru kali ini, kepala keluarga Hyuuga berbicara panjang seperti itu. Terlebih dengan topik mengenai kebahagiaan dan perasaan mereka berdua.

"Apa itu artinya, nee-sama dan aku bisa bebas memilih pasangan kami?" Hanabi memecahkan keheningan yang terjadi di antara mereka.

Gadis manis berusia empat belas tahun itu, tahu bahwa sebagai keluarga Hyuuga mereka selalu terikat oleh peraturan. Terutama bagi Hyuuga Hinata, pewaris keluarga Hyuuga yang selamanya akan mengabdi pada darah Hyuuga yang mengalir di dalam nadi mereka.

Hiashi menyesap teh hijaunya sebelum menatap sosok Hinata yang tertunduk dengan aura gugup yang telihat jelas darinya. Manik bulan yang merupakan ciri khas dari keluarga Hyuuga terlihat sayu. Saat pemiliknya menatap pantulan wajahnya yang kian hari kian menua. Hiashi tahu, hanya satu hal yang dia harapkan.

"Apapun yang terjadi nanti percayalah, ayah hanya ingin yang terbaik untuk kalian."

...

Aroma teh hijau menguar dari dalam cangkir putih yang tengah digenggam seorang pemuda. Senyum tipis di wajahnya yang putih pucat menambah kesan damai yang remaja itu rasakan. Ketukan pintu terdengar sebelum terbuka dan menampilkan sosok laki-laki paruh baya dengan sepasang manik lavender.

Lelaki itu tersenyum ramah dan saat ia melangkah memasuki ruangan kamar hotel berbintang lima. Pemuda yang tengah duduk menatap pemandangan malam perkotaan itu beranjak dari duduknya. Rambut putih itu bergoyang pelan saat pemiliknya berbalik.

"Selamat sore, paman Hizashi."

Hizashi mengernyitkan alisnya, "Bagaimana kau tahu?"

Pemuda dengan manik perak itu tertawa kecil, "Tentu saja aku tahu, dengan kepribadian kalian yang sangat berbeda begitu. Semua orang pasti dengan mudah mengenali kalian berdua, meski paman kembar identik."

Hizashi mengerjap beberapa kali sebelum ikut tertawa. Laki-laki paruh baya dengan nama lengkap Hyuuga Hizashi itu menghampiri remaja yang menjadi alasan dia kemari. Hizashi menepuk puncak kepala pemuda itu lalu mengacak-acaknya dengan lembut.

"Mou... Jii-sama berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil. Aku sudah enam belas tahun, kau tahu!"

"Hahahaha maaf maaf, Toneri-kun."

Remaja yang memiliki nama lengkap Ootsuki Toneri mendengus pelan. Setelahnya mereka berdua duduk sembari berbincang-bincang. Menikmati waktu mereka untuk sekedar mengingat masa nostalgia sebelum membicarakan alasan kenapa Toneri datang ke Konoha.

"Jadi, apa Hinata-sama sudah tahu mengenai hal itu?" usai menyesap teh hijaunya, Toneri menatap Hizashi.

Melihat raut Hizashi membuat Toneri paham. Walau laki-laki paruh baya itu tak menjawab pertanyaannya. Toneri tersenyum kecut, ia tidak bisa berbohong pada rasa kecewa yang ia rasakan. Namun pemuda itu mencoba mengerti.

"Meski Hinata-sama belum tahu, tapi aku rasa itu tidak masalah. Mengingat kalian adalah teman sejak kecil." Hizashi berujar, mencoba meyakinkan pemuda di depannya.

Toneri tertawa kecil sebelum berujar, "Maa... aku hanya bisa berharap, Hime-sama belum memiliki seseorang yang menarik perhatiannya."

Tiba-tiba Hizashi tertawa terbahak-bahak, lelaki paruh baya itu menepuk punggung Toneri kuat-kuat. "Kalau itu kau tenang saja! Dengan adanya Neji dan Tenten yang sangat over protective terhadapnya. Aku ragu kalau ada laki-laki yang menarik perhatian Hinata-sama."

Anak dari keluarga Ootsuki itu hanya bisa tertawa kecil dengan sweat drop mengalir pelan di pelipisnya. "Hahaha... yah semoga saja."

...

Langit malam mulai semakin gelap dan larut. Bulan bersinar indah, menggantung di atas langit malam bersama taburan bintang. Suara langkah yang terhenti tepat di depan supermarket yang memiliki plang besar dengan penanda bahwa bagunan itu buka 24 jam.

Hinata menatap supermarket di depannya dengan raut cemas. Gadis manis itu melirik jam tangan yang menunjukkan pukul delapan malam. Pewaris klan Hyuuga itu menghela nafas pelan sembari mengerucutkan bibirnya.

"Apa aku harus melakukannya? Uh... kenapa harus disaat seperti ini sih..."

Dengan langkah gontai, Hinata masuk ke dalam dan menelusuri rak-rak yang tertata rapi. Manik lavendernya melirik seluruh rak dengan seksama, mencoba mencari barang yang ia cari-cari. Senyum Hinata merekah saat ia mendapatkan barang yang ia cari, sebelum wajahnya berubah merah padam.

"Uh... ini benar-benar memalukan..."

Gadis manis itu mengintip dari balik rak menuju meja kasir. Berharap bahwa yang jaga adalah seorang perempuan. Dan saat melihat sosok perempuan dengan manik biru serta rambut hitam, Hinata tersenyum cerah.

Hinata segera menghampiri meja kasir dengan wajah tertunduk. Meski dia sudah tahu kalau yang jaga adalah perempuan. Tetap saja membeli barang yang kini ada di tangannya tetap saja membuatnya malu.

Setibanya di depan meja kasir, Hinata segera menaruh barang yang ingin dia beli. Masih dengan wajah yang tertunduk dengan semburat merah di pipinya. "A-ano... be-berapa harga barang ini?"

"Oh, pembalut ini harganya 200 yen."

Hinata memejamkan kedua matanya kuat-kuat, 'Hiii! Ini memalukan! Jangan dengan mudahnya mengatakan hal itu dong! Eh tu-tunggu dulu... suara ini?'

"Huh? Hi-Hinata?"

Suara bariton yang akhir-akhir ini sering kali Hinata dengar, gadis manis itu segera mengangkat wajahnya. Dan benar saja, sosok di depannya adalah pemuda pirang dengan mata biru laut.

"Na-Naruto-kun?" Hinata membulatkan matanya saat ia teringat sesuatu. Buru-buru ia mengambil kembali bungkusan pembalut dan menyembunyikannya di belakang punggung kecilnya. "Ke-ke-kenapa Naruto-kun ada di sini?!"

'Huwaa ini memalukan! Benar-benar memalukan!'

Pemuda pirang itu tertawa riang, lalu ia mengeluarkan sebuah selebaran dan menunjukkannya pada Hinata. "Lihat ini-ttebayo! Apa menurutmu warna orange cocok denganku?"

"Eh?"

"Haa! Akhirnya aku berhasil membuat kepala merah itu setuju dengan permintaanku. Setelah menyelesaikan tumpukan laporan sialan itu. Aku bisa bekerja paruh waktu untuk membeli ponsel!"

"Kerja paruh waktu? Ponsel?" Hinata memiringkan kepalanya, agak bingung dengan perkataan Naruto yang tiba-tiba.

'Hee dengan benda ini, kau bisa bicara dengan orang itu tanpa perlu melihatnya?'

"Na-Naruto-kun, kau mau membeli ponsel juga?"

"Tentu saja-dattebayo! Tapi aku tidak tahu kalau ponsel itu ternyata mahal, apa aku bisa membelinya dengan gajiku saat ini?"

Manik lavender itu mengerjap beberapa kali, sebelum ia tertawa kecil. Hinata tidak menyangka Naruto akan mencoba membeli ponsel, terlebih dia membelinya dengan uangnya sendiri sampai-sampai ia bekerja paruh waktu. Padahal pemuda pirang itu siluman yang bisa mengubah daun menjadi uang. Kenapa harus repot-repot bekerja paruh waktu. Tapi sikap Naruto yang bekerja untuk membeli ponsel itu...

"Rasanya, kau sangat keren Naruto-kun."

Senyuman lembut serta wajahnya yang berseri indah. Sekali lagi jantung pemuda itu berdetak cepat dengan desiran di dadanya. Wajah Naruto memanas dan detik itu juga rona merah hadir begitu saja saat manik birunya terhipnotis akan paras Hinata.

Senyuman yang sangat ia rindukan, senyuman yang sudah ribuan tahun tidak ia lihat, kini hadir kembali. Sosok Hinata, sosok gadis yang selama ini selalu hadir dalam setiap tidurnya. Kini dia ada di depannya, nyata dan tersenyum seperti biasanya.

"Hinata...-chan..."

Naruto mengulurkan tangannya, meraih rambut panjang berwarna biru gelap yang terasa halus dalam genggamannya. Ditariknya pelan rambut panjang Hinata, membuat gadis itu mencondongkan tubuhnya.

"Na-Naruto-kun...?"

"Aku merindukanmu... Hinata-chan..."

"Tu-tunggu dulu..."

"Hinata-chan..."

Situasi seperti ini sudah termasuk situasi berbahaya, benarkan? Hinata tidak mengerti dengan tindakan Naruto yang tiba-tiba menarik rambutnya dan wajah pemuda itu semakin lama semakin dekat. Bahkan ia bisa merasakan panasnya nafas Naruto yang mengenai ujung hidungnya. Bukan hanya itu saja, dirinya sedang dalam bahaya jika jantungnya semakin berdetak cepat seperti ini.

"Aku ingin bertemu denganmu... Hinata-chan..."

Sentuhan yang terasa dingin di pipinya, jemari yang panjang itu menelusupkan rambutnya ke belakang kuping sebelum menarik dagunya untuk maju. Mungkin tidak apa-apa, karena ada tarikan dari dalam dirinya, yang juga menginginkan sentuhan dari pemuda pirang di depannya. Yah... mungkin tidak masalah, karena dia adalah Naruto...

.

.

.

To Be Continue...

AN/ Terima kasih untuk kalian semua yang masih setia mengikuti cerita ini. Dan juga bagi kalian yang sudah mau memfollow dan memfavorite kan fanfik ini. makasih untuk dukungannya. Semoga kedepannya aku gak telat lagi, hehehe.

Sampai jumpat dichapter berikutnya.