Author: Cocoa2795

Rating: T or M tergantung alur.

Genre: Supranatural, Romance, Hurt/Family, Little Angst.

Diclaimer: All Characters of Naruto is belongs to Masashi Kishimoto. All main Idea in this story is mine, but i borrow Kumagai kyoko-sensei's idea about shirabyoshi.

Warning: All Typo(s), Out Of Chara, If you dislike this story, please turn back with peace. No flames with barbarian's words. Thanks.

Chapter 22: Kamu tidak sendiri.

Neji menatap lekat-lekat pintu kamar Hinata. Adik sepupunya masih tidak mau keluar dan mengurung diri di kamar. Ia menghela nafas berat, rasa cemas sama sekali tidak membantunya. Untuk yang kesekian kalinya, Neji mengetuk pintu kamar Hinata.

"Hinata-sama keluarlah, dan mari kita makan bersama."

Hening kembali menyambutnya, membuatnya kembali putus-asa. Namun suara pintu yang dibuka membuat senyum Neji merekah. Dari balik pintu, Hinata menatapnya dengan tatapan sayu.

Hati Neji seraca mencelos melihatnya, tidak tega mendapati adiknya seperti itu. Ia mencoba memaksakan senyum lebar sambil meraih tangan Hinata. Menggenggamnya dan menepuk pelan punggung tangan Hinata.

"Semua menunggumu, Hinata-sama."

Hinata tak menyahut, namun ia melangkah keluar kamar dengan wajah tertunduk. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang makan. Di sana Hanabi dan Hizashi menyambut Hinata dengan hangat. Anak bungsu Hyuuga tersenyum cerah dan mengajak Hinata untuk duduk di sampingnya.

"Nee-sama, hari ini aku membuat masakan kesukaanmu." Hanabi dengan telaten menyiapkan piring untuk Hinata.

Ia senang karena akhirnya kakak perempuannya mau keluar dari kamar dan makan bersama. Rasanya sudah begitu lama ia tidak melihat Hinata, meski saat ini wajah gadis itu sangat pucat. Hizashi tersenyum ia menaruh teh hijau hangat di depan Hinata.

Manik lavender itu terangkat, menatap sosok saudara kembar ayahnya.

"Paman... kau datang," Suara Hinata terdengar serak dan pelan.

Hizashi mengangguk, wajahnya terlihat lelah namun masih menarik senyum untuk keponakannya. "Ya, sekarang mari kita makan Hinata."

Hinata mengangguk, perlahan ia mengambil sumpit dan mulai menikmati makan paginya bersama keluarga Hyuuga. Manik lavender itu kembali melirik Hizashi, sebelum ia kembali fokus pada makanannya.

Setelah selesai makan, Hinata menghampiri Hizashi yang tengah memandangi kolam ikan. Gadis manis itu duduk di samping Hizashi dan ikut memandangi kolam.

"Paman senang, kau sudah mau keluar kamar." Hizashi membuka suara tanpa memandang Hinata. "Kemarin, teman-temanmu datang untuk menjenguk. Mereka semua mencemaskanmu," Hizashi kembali berujar dan kali ini ia menatap ke arah Hinata.

"Kau tidak sendirian Hinata, kau punya teman-teman yang baik dan kami ada di sini bersamamu."

Hinata menoleh, membalas tatapan Hizashi sebelum tersenyum tipis. "Aku tahu, paman."

...

"Kamu yakin mau berangkat sekolah?"

Untuk kesekian kalinya, Hizashi bertanya dengan raut cemas. Di depan pintu gerbang, Hinata tersenyum lembut. Ia sudah berpakaian rapi dengan seragam sekolahnya, tidak lupa ia mengenakan jaket kesayangannya.

Hinata mengangguk dengan senyum kecil, "Aku tidak bisa terlalu lama absen, dan ada banyak hal yang harus aku kerjakan." Manik lavendernya bergetar pelan, "Terlebih aku harus bersiap untuk acara penting. Aku tidak bisa bersantai di kamar terus."

Hizashi menatap gadis itu sedih, rasa bersalah terlihat jelas dari pancaran matanya. Hinata menggeleng pelan, ia tersenyum lebar."Jangan merasa bersalah, paman. Ini memang sudah tugasku."

"Tapi, tetap saja... paman merasa kamu terlalu cepat untuk menjadi kepala keluarga."

"Aku sudah dilatih sejak kecil oleh ayah untuk menjadi kepala keluarga. Jadi bagiku tidak ada kata terlalu cepat." Hinata kembali tersenyum lembut untuk meyakinkan Hizashi.

Pria paruh baya itu menghela nafas pendek, ia mengalah dan mencoba menerima keputusan Hinata. "Baiklah, paman mengerti."

"Terima kasih, paman." Senyum Hinata merekah dan ia berbalik untuk membuka pintu setelah pamit.

Dan saat gadis itu membuka pintu gerbang, seseorang berdiri di depannya. Manik lavendernya mengerjap saat mendapati seorang remaja laki-laki bermata sama dengannya. Wajahnya tak asing bagi Hinata, sampai matanya melebar begitu ia mengingat siapa remaja di depannya.

"To-Toneri-kun?"

Toneri tersenyum hangat dan melambaikan tangannya, "Pagi Hinata!"

"Eh? Sejak kapan kamu kembali ke Jepang?" Hinata tidak menyangka akan bertemu lagi dengan teman masa kecilnya. Senyumnya merekah terlebih saat ia melihat Toneri memakai seragam sekolahnya. "Kamu sekolah di Konoha juga?"

Toneri tersenyum lebar, "Sudah lumayan lama aku kembali ke Jepang , dan baru seminggu ini aku bersekolah di Konoha."

"Mou~ kenapa kamu tidak bilang?" Hinata mengerucutkan bibirnya kesal.

Sementara Toneri hanya tertawa pelan, "Soalnya keadaannya tidak memungkinkan untuk menemuimu." Raut wajah Toneri berubah, ia menatap Hinata cemas. "Kamu yakin sudah tidak apa-apa untuk pergi ke sekolah?"

Hinata mengangguk dengan senyum hangat, "Aku tidak bisa terus-terusan bersedih! Dan aku yakin, Tou-sama tidak mau melihatku murung terus."

Toneri tersenyum senang, ia menepuk pelan puncak kepala Hinata."Itu baru Hyuuga Hinata!"

Hinata membiarkan Toneri mengusap puncak kepalanya. Senyum tipis hadir di wajahnya, ketika ia teringat seseorang yang dulu sering membelai kepalanya. Ada rasa rindu yang hadir di benaknya saat mengingat mata biru itu.

"Ayo kita berangkat!" Toneri meraih tangan Hinata dan menggenggamnya yang di balas Hinata dengan senyum manis.

...

Sesampainya di sekolah, Hinata segera melangkah masuk. Kiba yang pertama kali melihat Hinata segera menghampiri gadis itu dengan senyum lebar.

"Hinata, akhirnya kau masuk!"

Naruto segera menoleh dan tersenyum lega melihat gadis itu ada di sana. Tersenyum dan tertawa melihat Kiba yang sedang heboh sendiri. Saat mereka tanpa sengaja saling tatap, ada rasa canggung yang datang. Membuat Naruto tertunduk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Kau datang tepat waktu Hinata-chan!" Sakura tersenyum penuh arti saat Hinata menatapnya tak mengerti. Gadis merah muda itu lalu memukul pelan papan tulis di belakangnya. "Karena kamu bisa mengikuti acara festival Konoha!"

Manik rembulan itu mengerjap, ia baru sadar kalau sebentar lagi sekolahnya akan mengadakan festival. Karena banyaknya kejadian yang terjadi, serta ia mengurung diri di kamar, membuatnya benar-benar lupa akan hal itu.

"Terus, kau tahu apa yang dipilih anak-anak untuk festival nanti?"

Sweat-drop mengalir pelan di pelipis Hinata, saat Sakura menatapnya begitu dekat. "A-apa?"

Senyuman Sakura semakin lebar saat ia dan Kiba merentangan kedua tangan mereka. "Drama Romeo dan Juliet!"

"Bukan hanya itu saja, tapi versi genderbender desu!" Kiba dengan sikap sok imutnya, ikut menimpali. "Argh! Aku tidak sabar untuk tau, siapa yang bakal jadi Juliet!"

Bibir Sakura tertarik membentuk senyum jahil, "Kalau ternyata yang kepilih itu kamu, gimana Kiba?"

Dan detik itu juga raut wajah Kiba berubah, ia menelan ludah gugup sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak mau, pokoknya jangan sampai aku yang kepilih jadi Juliet!"

Tawa renyah lolos dari Hinata, membuat Kiba dan Sakura ikut tertawa bersama. Rasanya sudah begitu lama ia tidak tertawa seperti ini. Bersama dengan teman-temannya, Hinata dapat merasakan rasa rindu membuncah dalam dadanya. Terlebih saat Tenten yang baru datang, langsung melompat memeluknya erat.

Suara bel tanda masuk berbunyi, membuat seluruh murid langsung duduk di tempat masing-masing. Begitu juga dengan Hinata yang duduk di kursinya. Tak selang berapa lama, Kakashi-sensei masuk ke kelas.

Ia berdiri di depan kelas sambil menaruh kotak berukuran sedang berwarna putih di meja. Usai anak-anak memberi salam, barulah Kakashi memberitahukan maksud dari kotak yang ia bawa.

"Baiklah, kalian sudah tahu kalau sebentar lagi kita akan mengadakan festival sekolah. Dan kelas kita memutuskan untuk mementaskan drama Romeo dan Juliet." Terang Kakashi berbasa-basi, "Dan hari ini kita akan menentukan peran kalian masing-masing untuk drama nanti."

Sakura yang merupakan panitia festival, langsung berdiri dan mengambil kotak yang dibawa Kakashi. Gadis berambut merah muda itu memberi intruksi kepada teman-teman sekelasnya. Untuk menulis nama yang mereka calonkan sebagai Romeo dan Juliet. Setelah mereka memutuskan siapa yang menjadi Remeo dan Juliet, baru lah mereka akan mengambil undian untuk menentukan tugas mereka masing-masing selama pentas drama.

...

"Jadi, Toneri-kun itu teman kecil Hinata?" Sakura menatap pemuda berambut putih itu dengan mata berbinar. "Aku baru tahu!"

"Ya, kami sudah berteman sejak umur enam tahun." Toneri tersenyum sambil menoleh ke arah Hinata yang duduk di sampingnya. "Keluarga Otsutsuki cukup dekat dengan keluarga Hyuuga. Jadi aku sering main ke kediaman Hyuuga."

"Uwa! Satu lagi anak orang kaya!" Kiba menyahut tiba-tiba dan mendapat jitakan dari Sakura.

Gadis itu mendelik sebal dengan kebiasaan Kiba yang suka asal nyeletuk. Remaja dengan rambut coklat itu tersenyum malu. Menyadari kesalahannya, Kiba pun meminta maaf pada Toneri.

"Tidak apa-apa, banyak yang sering bilang begitu kok. Jadi aku sudah terbiasa." Ujar Toneri dengan senyum maklum, "Daripada itu, aku dengar kelas kalian akan mementaskan drama Romeo dan Juliet. Siapa yang memerankan kedua tokoh itu?"

Sakura dan Kiba saling tatap sebelum senyum lebar yang lebih terkesan konyol, hadir di wajah mereka berdua. Sementara itu dengusan sebal juga terdengar dari pemuda berambut pirang. Membuat perhatikan mereka teralih padanya.

Kiba menyeringai sambil menyenggol Naruto yang duduk di sampingnya. "Jangan cemberut saja, nanti cantikmu hilang, loh. Juliet-sama."

Manik biru laut itu melotot tak suka, "Sialan kau Kiba! Kalau tahu aku harus jadi perempuan, mending tadi aku tolak mentah-mentah!"

"Oh, tidak bisa itu! hampir seluruh anak-anak di kelas memilihmu sebagai Juliet." Sakura ikut menimpali dengan cengiran lebar. "Jadi kau tidak bisa menolaknya, Naruto."

Naruto berdecak sebal, semula ia terima-terima saja saat terpilih. Karena ia belum tahu kalau ternyata Juliet itu perempuan. "Aku ini tidak pantas jadi Juliet!"

"Kuhuhu..." Suara tawa rendah itu menarik perhatian Naruto. "Benar sekali, kau itu tidak pantas jadi Juliet." Tenten berujar sembari bersedekap. Mata coklatnya menatap nyalang ke arah Naruto dengan aura pekat di sekitar tubuhnya. "Peran yang cocok untukmu itu, jadi gelandangan yang diikat lalu diceburkan kedalam laut berkali-kali, sampai wajahmu tidak bisa dikenali lagi."

Naruto tertawa pelan, sudah biasa dengan kata-kata Tenten. Sementara Sakura menatap Tenten tak percaya. "Tenten-chan... kau menakutkan."

"...Ternyata Tenten itu tipe sadis." Kiba bergumam pelan yang langsung mendapat cubitan di lengan oleh Tenten.

"Kau bilang apa barusan?"

Kiba meringis pelan dan mencoba melepaskan cubitan Tenten, "Tidak ada bu, tidak ada..."

Tanpa melepaskan cubitan di lengan Kiba, gadis itu kembali berujar. "Lagipula, bagaimana bisa hampir seluruh anak memilih Naruto? Hinata terpilih jadi Romeo sih. masih wajar, nah ini? si durian bodoh malah dipilih."

"A-ano... Tenten-chan... ta-tanganmu..."

Sakura mencoba menenangkan Tenten yang mulai panas, "Maa... tidak masalah, kan? Lagi pula ini bagus untuk Naruto, karena dia murid pindahan. Biar dia lebih beradaptasi dengan teman sekelas."

Tenten memicingkan matanya, ia tidak puas dengan alasan Sakura. "Kau tidak melakukan sabotase saat pemilihan, kan. Sakura?"

"Te-tentu saja tidak!" bantah Sakura. "Lalu, bagaimana dengan kelasmu, Toneri-kun?" atensinya beralih pada Toneri.

Remaja dengan manik rembulan itu tersenyum tipis, "Kelasku akan membuat rumah hantu."

"Eh, serius? Itu pasti seru!" Naruto menyahut dengan tatapan antusias.

"Kebetulan sekali," Tenten tiba-tiba menyahut dengan seringaian lebar. "Lebih baik kau ke kelas Toneri, dan buat dirimu berguna di sana, siluman rubah!"

Naruto tertawa dengan peluh mengalir di pelipisnya, "Oh, ayolah... Tenten-chan. Kau tahu sendiri kalau aku harus menjadi Juliet untuk kelas kita."

Tenten kembali menatap Naruto gemas, "Aku berharap kau sakit perut dan tidak bisa tampil. Biar orang lain yang menggantikanmu!"

"Uwa! Terima kasih buat doa-nya, Tenten-chan!"

Wajah Tenten berubah merah karena marah. Ia selalu sebal setiap Naruto membalas kata-katanya. Hal itu membuatnya tanpa sadar mencubit keras lengan Kiba. Tenten benar-benar melupakan temannya yang satu itu.

"Astaga! Lepaskan tanganmu, Tenten!" Kiba yang tidak kuat lagi dengan cubitan gadis itu, langsung menjerit kesal.

Sementara itu Tenten yang baru sadar langsung melepaskan cubitannya. Ia meringis pelan dan tertawa kecil, "Ma-maaf Kiba-kun."

Kiba terus meniupi lengannya yang kini sudah memerah. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca dan dengan tiba-tiba, ia memeluk Naruto yang kebetulan ada di sebelahnya.

"Sakit sekali, Tenten bodoh, bodoh, bodoh!"

Naruto merasa bulu kuduknya berdiri, ia segera mencoba melepaskan pelukan Kiba. Bahkan tak segan untuk menarik kerah belakang Kiba, agar anak laki-laki itu melepaskannya.

"Oi! Lepaskan aku, bodoh! Kau membuatku geli!"

"Tidak mau! Hibur aku Naruto! Hajar gadis bodoh itu dengan rambut durimu!"

"Kau ngajak ribut, ya?!"

Hinata yang sejak tadi hanya memerhatikan, tidak sanggup untuk menahan tawanya. Melihat tingkah teman-temannya, sungguh membuat dirinya terhibur. Rasanya ia benar-benar rugi hanya mengurung dirinya di kamar dan melewatkan waktunya bersama teman-temannya. Senyum gadis itu merekah dengan ada rasa haru didalamnya.

"Terima kasih, teman-teman." Bisiknya pelan.

...

Festival seni sekolah Konoha termasuk acara yang pasti ditunggu para murid. Begitu juga dengan kelas Hinata. Mereka sudah sibuk melakukan persiapan, sehari setelah pembagian tugas. Sakura yang merupakan panitia festival tahun ini, adalah orang yang paling bersemangat. Ia sibuk mengatur tugas-tugas teman sekelas dan juga membantu teman-teman saat mengalami kendala.

Kiba mendapat bagian belakang layar, ia dan para anak laki-laki lainnya sibuk membuat latar untuk drama. Sementara itu, Tenten mendapatkan tugas untuk mengurusi persiapan kostum. Ia dan anak perempuan yang mahir dalam menjahit, sibuk membeli bahan-bahan untuk membuat baju.

"Juliet! Oh, Julietku... kau mau pergi?" Manik lavender itu menyipit dan ia mengulurkan tangannya. "Aku ingin membawamu lari saat ini juga!"

Manik biru laut itu mengerjap, "I-i-i-itu ya-yang ku-ku ma-mau Ro-Ro-me-o!"

Keheningan menyelimuti ruang kelas, seluruh atensi anak-anak mengarah pada dua sosok di tengah kelas yang sedang beradu akting. Sampai kemudian gelak tawa terdengar keras, membuat wajah pemuda pirang itu semakin merona hingga ke telinga.

"Aktingmu payah sekali, Naruto!" Kiba tertawa terbahak-bahak tanpa merasa bersalah.

Naruto melemparkan buku naskah yang sejak tadi ia pegang. Tanpa segan, menimpuk kepala Kiba yang tak kunjung berhenti tertawa.

"Berisik! Siapa yang tanpa pendapatmu?!"

Kiba mengaduh saat kepalanya tertimpuk buku, "Hei! Itu kenyataan. Daripada jadi Juliet, kau lebih cocok berakting jadi robot!"

Naruto berdecak sebal, ia menggulungkan lengan jersey biru tuanya dan menyisir rambut pirangnya dengan jemarinya. Saat ini mereka sedang latihan sambil menghapal dialog, dan jujur saja Naruto sangat kikuk ketika ia harus berakting seperti perempuan di depan Hinata. Bagaimanapun harga dirinya terus menolak, dan yang dia inginkan adalah bersikap layaknya pria sejati di depan gadis itu.

Sementara itu Hinata yang juga memakai baju olahraga hanya menunduk. Rambut panjangnya ia kuncir rendah dengan model ekor kuda. Gadis itu berusaha terlihat tenang dan cuek, meski kenyataannya jantungnya sudah tidak karuan.

"Tidak bisakah aku saja yang jadi Romeo? Kenapa harus ditukar, sih?"

Kakashi yang sejak tadi hanya mengawasi, menjawab protesan Naruto. "Tidak bisa. Kita sudah terlanjur mendaftarkannya ke anggota Osis. Dan versi ini lebih menarik."

"Cih!"

"Lagian apa bedanya kalau kau yang jadi Romeo?" Kiba kembali menyahut, "Tetap saja aktingmu payah!" dan sekali lagi Kiba tertawa tanpa dosa.

Manik biru laut itu menyipit, senyumnya berubah menjadi seringaian. "Perhatikan baik-baik!" sahut Naruto lalu ia berjalan mendekati Hinata.

"Juliet!" Hinata terlonjak kaget saat tiba-tiba Naruto berseru. Manik biru laut itu menatap Hinata dalam, sebelum raut wajah Naruto berubah lembut. "Oh, Juliet... kau mau pergi?"

Naruto mengulurkan tangannya, menarik pelan tangan kecil Hinata dan memeluk gadis itu erat. Hinata membulatkan matanya, ia dapat mencium semilir harum mint dari rambut Naruto. Remaja pirang itu menarik ikat rambut Hinata, membuat rambut biru gelap itu tergerai indah. Ia tersenyum hangat dan menatap lurus ke sepasang manik rembulan itu.

Tatapan serta gestur tubuh Naruto, jelas menunjukkan kasih sayang yang tulus. Bukan hanya Hinata saja yang dapat merasakannya. Hampir seluruh anak-anak yang ada di kelas tertegun melihatnya. Bahkan kini wajah Hinata dan beberapa anak perempuan lainnya sudah memerah.

Siluman rubah itu mengusap pelan pipi Hinata, "Aku ingin membawamu lari saat ini juga!" katanya sambil memejamkan mata dengan raut menahan perih.

Naruto kembali membuka matanya, dan mendekatkan wajahnya pada Hinata yang diam tak berkutik. "Juliet..." bisiknya lembut.

Hinata sontak memejamkan kedua matanya. Jantungnya berdetak lebih cepat saat nafas panas Naruto menerpa wajahnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa, seluruh sarafnya terasa lupuh dan yang dapat ia lakukan hanya membiarkan nafas panas itu semakin dekat dengan wajanya.

Manik biru laut Naruto semakin melembut. Melihat wajah Hinata yang begitu dekat dengannya serta dapat ia rasakan bahwa gadis itu dalam pelukannya. Membuatnya lupa akan segalanya, dan yang ingin ia lakukan sekarang adalah mengecup lembut bibir Hinata.

"Apa yang kau lakukan?!" bersamaan dengan teriakan itu, tubuh Naruto limbung dengan rasa sakit di kepalanya.

Naruto mengerjap sambil mengusap kepalanya yang sakit. Di bawah kakinya ada gulungan kain yang cukup tebal. Ia mengambilnya dan menemukan Tenten berdiri di ambang pintu dengan wajah sangar. Naruto menelan ludah gugup saat Tenten menghampirinya.

"Kau siluman rubah!" Tenten menunjuk Naruto dan membuat remaja itu mundur selangkah. "Memang tidak seharusnya aku membiarkanmu hidup."

"Uwa! Te-tenanglah Tenten-chan... aku tidak melakukan apapun!" Naruto berusaha menenangkan amukan Tenten. Wajahnya sudah pucat pasi saat Hinata siap mengeluarkan Shikigami miliknya.

"Betul itu Tenten!" salah satu anak perempuan tiba-tiba menyahut.

Dan yang lain ikut menimpali, "Kau merusak suasana saja! Padahal tadi itu lagi bagus-bagusnya!"

Tenten dan Naruto sama-sama menoleh dengan raut bingung. Tidak mengerti kenapa mendadak anak-anak sekelas terlihat kecewa. Kiba datang menghampiri Naruto, dan ia merangkul leher pemuda pirang itu sambil tertawa.

"Gila! Aktingmu keren sekali! Aku bahkan sampai ikut merona, melihat tatapanmu ke Hinata."

"Eh, apa?"

Salah seorang siswi menghampiri Naruto, "Tatapanmu benar-benar bagus Naruto-kun. Kau terlihat sangat mencintai Juliet dan apa tadi kau berniat menciumnya?"

Hinata tersentak pelan begitu mendengar penuturan gadis itu. Wajahnya kini merona dan ia dapat merasakan darahnya terasa panas. Jantungnya yang berdetak cepat membuat keadaanya semakin buruk.

"Kalau Tenten tidak mengganggu, pasti kita sudah melihat adegan ciuman yang paling romantis!"

"Benar-benar sangat disayangkan!"

Wajah Tenten kini memerah, ia marah dan mulai mengamuk begitu mendengar apa yang dikatakan anak-anak. Ia mendelik sengit ke arah Naruto, membuat pemuda itu hampir memekik.

"Na-ru-to!"

Siluman rubah itu segera merapal mantra, memohon pada Dewi Tsunade untuk menolongnya agar selamat dari amukan Tenten. Dan seperti doanya terdengar, saat suara salah satu murid menghentikan Tenten yang siap melayangkan tinjunya.

"Uwa! Hinata pingsan!"

Naruto dan Tenten berubah panik dan menghampiri gadis lavender itu. Tenten mengerjap saat ia menyadari wajah Hinata yang sangat merah. Ia menghela nafas pelan, sepertinya teman sejak kecilnya ini pingsan, karena tidak sanggup menahan malu. Sudah berapa lama ia tidak melihat Hinata seperti ini, dan semua itu karena ulah si siluman rubah yang mencari kesempatan.

Tenten mendelik sengit saat Naruto bersiap membopong Hinata menuju ruang kesehatan. Gadis keturunan China itu memberi kode lewat tatapan mata dan gerakan tangannya.

'Kau mati, siluman rubah!' batin Tenten sembari memberi isyarat tangannya bergerak lurus di depan lehernya.

Naruto tertawa gugup, ia berharap kalau ancaman Tenten kali ini juga sama seperti yang lalu-lalu. hanya candaan belaka, meski dia rasa harapannya itu hanyalah harapan palsu.

To Be Continue...

AN/ Um, hello? Aku telah bangkit dari kubur... oke, itu menyeramkan hehe...

Uwah... sudah empat bulan saya hiatus dadakan. Masih adakah yang menantikan cerita ini? masih adakah yang ingat dengan cerita ini? hiks, maaf reader tersayang. Kemarin aku difokuskan sama cerita switching sehingga belum sempet update. Selain itu aku juga bingung buat ngelanjutin cerita ini. chapter ini bahkan aku revisi sampai tiga kali kayaknya.

Semoga chapter ini cukup untuk mengobati rasa rindu kalian. Itu juga kalo ada yang kangen sama nih, ff. Huks pudung saya. Dan aku usahakan cerita ini bisa update setiap hari minggu. Karena cerita the red fox sudah tinggal beberapa chapter lagi. Saya mau menyelesaikannya dan lanjut ke ide cerita yang baru-baru ini nongol lagi dikepala.

Sungguh udah gak sabar buat nuangin imajinasi saya, tapi juga gak mau kebanyakan utang ff. Takut ujung-ujungnya malah discontinue.

Terima kasih untuk para reader terkasih yang sudah mau menyempatkan untuk membaca ff ini, ngefollow juga, ngefavoritin juga, review lagi. Makasih reader kesayangaannya akoh.

Hime-chan: iya, maaf menunggu lama, semangat diriku semoga lanjut sampai tamat.

Kazehaya pratama: maaf ya bikin kamu nunggu 4 bulan, udah berasa bang toyib saya.

Ari-gates: iya, semoga cerita ini makin seru.

Ana: sama-sama makasih yang udah mau baca.

Heimayu20: makasih, maaf juga udah greget nungguin ff ini update.

Hinatalavendercitrus14: uwah makasih banyak buat reviewnya *nangis barenga Krew* iyah gpp, maaf juga aku baru update sekarang.

Deva: rencana fic ini tamat di chapter 25. Semoga aja bisa terselesaikan.

Kamvang: itu... belum aku jelasin yah? Walah kelupaan kayaknya. Hehe... dibaca aja yah ceritanya biar tahu.

Nakama naka-chan: eto itu yang gaara lihat si rambut coklat itu si shion. Sampe sekarang saya masih bingung mendeskripsikan rambut shion itu gimana. Rambut coklat muda, apa pirang pucat? iyah, makasih untuk dukungannya.

Mawar: iyah, pasti tenang aja! Hehe...

Rifkiabadi99: akhirnya aku bisa up juga *banjir air mata* makasih yah udah mau mendukung ceritaku. Ampe ngerekom juga hiks, moga chapter ini gak mengecewakanmu.

Baiklah, sampai jumpa minggu depan...