Author: Cocoa2795

Rating: T or M tergantung alur.

Genre: Supranatural, Romance, Hurt/Family, Little Angst.

Diclaimer: All Characters of Naruto is belongs to Masashi Kishimoto. All main Idea in this story is mine, but i borrow Kumagai kyoko-sensei's idea about shirabyoshi.

Warning: All Typo(s), Out Of Chara, If you dislike this story, please turn back with peace. No flames with barbarian's words. Thanks.

Chapter 24: Klimaks

.

.

.

BLAR!

Suara ledakan terdengar dari aula sekolah Konoha Gakuen. Namun para pengunjung tidak memedulikannya. Mereka menganggap suara ledakan itu adalah salah satu dari acara festival. Sementara itu di ruang aula, kepulan asap mulai menghilang. Dan memperlihatkan sosok Neji yang terkapar tak jauh dari panggung.

Kursi-kursi hitam sudah berserakan tak tentu. Bersama dengan beberapa pengunjung yang sudah tak sadarkan diri. Neji berdiri dengan deru nafas tidak beraturan. Menumbangkan sekelompok manusia lebih sulit dari pada menjatuhkan puluhan monster.

"Aku harus lebih sering berlatih mengontrol kekuatanku, saat lawanku adalah manusia." Neji menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya kasar. Setelahnya ia memasang posisi untuk kembali bersiap. "Hah! Eight Trigrams Mountain Crusher!"

Neji memutar tubuhnya, dan perlahan gerakannya semakin cepat. Ia menyerang titik-titik saraf di setiap tubuh manusia yang menyerangnya. Membuat mereka terkapar tak sadarkan diri. Sementara itu Naruto mencoba untuk menerobos pasukan manusia di depannya.

Ia mengibaskan ketiga ekornya, menjatuhkan para pengunjung dan mencoba menyerang Sasori. Namun siluman dengan rambut merah itu benar-benar licik. Ia menjadikan Sakura dan Kiba sebagai tameng. Membuat siluman rubah itu sempat ragu untuk menyerang. Dan Sasori mengambil kesempatan itu untuk memukul Naruto dengan boneka kayunya.

DUAK!

"Argh! Sial!" umpatan itu keluar dari bibir Naruto.

Ia menyeka darah yang keluar dari bibirnya yang sobek. Dan menyeringai kesal, dia tidak mungkin membiarkan ini terus terjadi. Mata biru lautnya melirik sosok Hinata yang tertidur tak jauh dari Toneri berdiri.

Gadis rembulannya, entah mimpi seperti apa yang tengah ia lihat. Naruto berharap, itu bukanlah mimpi buruk yang akan membuatnya menangis saat terbangun nanti.

"Apa hanya ini kemampuanmu, rubah?" Toneri mendengus geli, "Setelah ratusan tahun, sepertinya kemampuanmu menumpul."

Naruto berdecak kesal, mata birunya kembali memerah. Dengan aura kemerahan yang muncul dan bergumpal membentuk perisai, mengelilingi tubuhnya. "Kau... Momoshiki, jangan main-main denganku!"

Mata perak itu menyipit tak suka, "Kau tidak berhak memanggilku seperti itu!"

Toneri semakin menyipitkan matanya, membuat kulit di sekitar matanya membuat guratan halus seperti akar. Ia mengibaskan sabitnya dan memanggil para siluman yang berada dalam kendalinya. Kumpulan siluman dengan berbagai rupa muncul, menjadi tentara dibawah kendali Toneri.

"Tidak ada yang boleh memanggilku seperti itu. kecuali, Orochimaru-sama!"

"Uryaaaaa!"

Naruto menggeram pelan, dan melompat saat salah satu siluman menyerangnya. Retakan tanah terjadi akibat pukulan dari siluman berbentuk kerbau dengan satu anting perak di telinganya. tubuhnya yang besar hampir memenuhi ruang aula.

Neji mengeluarkan beberapa kertas shikigami dan memanggil roh pelindungnya. Kertas-kertas itu berubah bentuk menjadi seekor serigala perak. Ketiga serigala itu mengeluarkan cahaya keperakan dengan mata emasnya yang berbinar menakutkan.

"Naruto, jangan diam saja kau!"

Siluman rubah itu, merunduk saat sebuah pedang terayun di atas kepalanya." Siapa yang diam saja?!" Usai memberi tendangan berputar pada siluman cebol dengan kepala gundul. Naruto berseru keras, "Kau tidak lihat aku sedang apa?! Di mana matamu, hah?!"

Setelah melumpuhkan lawannya dan tidak sengaja kedua punggungnya dan punggung Naruto bertemu. Neji mendesah pelan, "Maksudnya jangan diam saja, dan lakukan sesuatu untuk menolong Hinata-sama!"

"Itu sedang aku lakukan-dattebayo!" Naruto berdecak kesal, ia juga ingin segera menyelamatkan Hinata. Tapi jumlah mereka yang banyak membuatnya kesulitan.

"ARGH!"

Kedua mata berbeda warna itu mengerjap, saat beberapa dari siluman itu mengerang kesakitan, lalu menghilang. Suara langkah dengan dua suara berbeda terdengar, tak jauh dari mereka.

"Uwa! Apa yang terjadi di sini?"

"Naruto-sama, seharusnya kau melapor jika sudah seperti ini."

Neji mengerjap begitu mendapati sosok remaja perempuan dengan kaus hitam dan celana katun di bawah lutut berwarna merah muda, berdiri tak jauh di depannya. Di samping Tenten, berdiri seorang laki-laki dengan rambut merah dengan mata hijau pudar. Ia menghela nafas lelah sebelum berpaling dan matanya menyipit penuh kebencian.

"Sasori..." desisinya dalam.

Siluman dengan rambut merah darah itu balas menatapnya dengan wajah datar. "Gaara, kita bertemu lagi."

"Kau... mahluk terkutuk." Gaara melangkah maju, ia mengayunkan tangannya. Dan seketika dari balik kibasan tangan, muncul gumpalan pasir coklat yang ia gunakan untuk menyerang Sasori. "Di sini, saat ini juga. Aku akan membunuhmu, demi membalas kematian Temari-nee dan Kankuro-nii."

"Hn, coba buktikan omonganmu." Dari balik jubah hitamnya, muncul ekor tajam berwarna coklat tanah. Ekor itu menyerang Gaara dengan cepat.

Di sisi lain, Tenten mengeluarkan senjatanya. Ia berkumpul dengan Naruto dan Neji. "Hei, sebenarnya apa yang terjadi? Di atas panggung itu, Toneri dan Hinata, benarkan?"

"Dia, Toneri adalah dalang yang telah membunuh Hiashi-sama."

Mata coklat Tenten melebar tidak percaya. "Bohong! Toneri bukan orang yang seperti itu!"

Naruto tertawa pendek, "Tapi memang itu kenyataannya. Dia, adalah reinkarnasi Momoshiki, siuman yang membunuh Yahiko dan Hinata-chan dulu."

"Mustahil..."

...

Hinata yang masih tertidur, menampilkan wajah yang tenang. Alam bawah sadarnya sudah sejak lama membawanya kembali ke masa tiga ribu tahun yang lalu. Mengulang kembali dari masa ia baru terlahir di sebuah keluarga kecil yang sederhana. Sampai ia bertemu dengan Naruto dan Haku.

"Ano..."

Gadis dengan manik rembulan itu berbalik. Rambut hitamnya yang panjang bergoyang pelan. Mata perak itu menatap penasaran sosok di depannya. Seorang anak laki-laki dengan rambut abu-abu yang ia kuncir tinggi, serta memakai hakama berwarna putih.

"Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" Ia tersenyum lembut dan menghampiri anak laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya.

Mata anak laki-laki itu bergerak gelisah, wajahnya yang cemas membuat Hinata mulai merasa khawatir. Sekali lagi gadis dengan yukata putih itu bertanya pelan.

"Apa terjadi sesuatu?"

"A-apa kau... Hyuuga Hinata?" akhirnya lelaki itu bertanya, dengan sinar berharap di mata peraknya. Dan saat Hinata mengangguk, ia tersenyum lebar sebelum wajahnya berubah sendu. "Aku dengar, kau bisa menyembuhkan luka. Jadi, bisakah aku meminta bantuanmu?"

"Tentu, aku mau membantu."

Siang itu, Hinata habiskan untuk mendengarkan cerita laki-laki asing itu. mereka duduk di tepi sungai dan gadis rembulan itu mendengarkan dengan seksama.

"Sudah hampir setengah tahun ini, keadaan beliau semakin memburuk. Jika dulu ia masih bisa berjalan dan duduk menikmati senja. Kini untuk sekedar bicarapun, ia tak mampu." Mata perak itu memandang riak air sungai di depannya. "Orochimaru-sama, beliau adalah salah satu dewa dari Timur. Dan dia sudah mau memungutku, yang hanya siluman rendahan untuk berada di sisinya. Karena itu, aku ingin menolong beliau."

"Aku mengembara, mencoba mencari tabib yang mampu menyembuhkannya. Tapi, mereka semua hanya menggeleng dan menyerah. Sampai akhirnya aku tidak sengaja mendengar tentangmu dari youkai-youkai pengembara." Remaja itu kemudian menghadap Hinata, ia bersujud dengan tiba-tiba. "Namaku Otsutsuki Momoshiki, youkai setengah manusia dari Timur. Dengan sepenuh hati, aku memohon padamu, Hyuuga Hinata-sama. Tolong, tolong selamatkan Orochimaru sama."

Hinata meraih pundak Momoshiki dengan lembut. Bagaimana mungkin dia bisa menolak, ketika yang meminta begitu tulus memohon padanya. Terlebih, Hinata jelas tahu bahwa Momoshiki sangat menyayangi Orochimaru. Karena itu, gadis rembulan itu akan mencoba sebisanya untuk membantu mereka.

"Aku akan mencoba sebisaku, Momoshiki-kun."

Remaja itu mengangkat kepalanya, manik lavender itu sudah basah dengan air mata. Perasaan lega tidak bisa ia bendung lagi. Membuat ia terus mengucapkan terima kasih pada Hinata. Tentu saja karena itu membuat Hinata menjadi salah tingkah. Ia tidak terbiasa diperlakukan seperti itu. Dan mencoba menenangkan Momoshiki lebih sulit daripada menyuruh Naruto diam.

Langit yang mulai senja menjadi latar ketika keduanya berpisah. Setelah sempat berjanji untuk bertemu kembali minggu depan. Ya, Hinata berjanji untuk menemui Momoshiki dan mencoba melihat keadaan Orochimaru. Gadis rembulan itu berencana untuk pergi ke daerah Timur bersama dengan Naruto dan Haku.

Karena itu lah, Hinata segera menuju bukit Inari, berharap siluman rubah itu ada di sana. Ia berjalan di tepian sungai yang akan membawanya menuju bukit. Mata peraknya memerhatikan sungai yang berkilau tertimpa sinar senja. Mengubahnya menjadi seperti karpet oranye yang melintang indah.

Namun sialnya, karena ia tidak memerhatikan langkahnya. Ia tidak sengaja terpeleset dan membuat pelipisnya membentur batu yang cukup besar. Berkat itu, Hinata kehilangan kesadarannya. Dan begitu tersadar, langit sudah sepenuhnya gelap dan ia bahkan tidak mengingat kenapa ia bisa berada di tepi sungai.

...

Naruto melompat tinggi dan mengayunkan ekornya yang tajam. Benturan dari ekor itu cukup untuk membuat tanah menjadi retak, namun tidak berhasil melukai Toneri. Remaja itu berhasil menghindar, menghindar, dan menghidar. Membuat darah Naruto terasa mendidih akan amarah yang meluap.

Sampai saat Toneri berpinjak kembali, baru lah ia menyadari kalau Naruto sengaja terus menyerangnya membabi-buta. Siluman rubah itu ternyata melakukannya agar Toneri menjauh dari Hinata. Dan membuat Naruto berhasil mendekat untuk meraih gadis rembulan itu dan membawanya dalam pelukan.

"Kau licik, rubah."

"Tidak selicik dirimu." Naruto melompat mundur bersama Hinata dalam gendongannya.

Dengan hati-hati Naruto merebahkan Hinata. Namun tiba-tiba kelopak mata itu terbuka. Memperlihatkan sepasang mata perak lembut yang terlihat kosong. Hinata menoleh, sebelum ia tersenyum lembut dan mengusap pelan pipi bergaris itu.

"Naruto-kun... kau kembali," manik rembulan itu meneteskan air mata. "Syukurlah... kau kembali dengan selamat."

"Hinata?"

Gadis rembulan itu melingkarkan kedua tangannya pada leher Naruto. Memeluknya erat sambil terisak pelan, "Maafkan aku... dan terima kasih sudah mau mendengarkan keegoisanku."

Naruto yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi, mencoba menenangkan Hinata. Ia mengusap pelan punggung gadis itu, berharap tangisnya mereda.

"Terima kasih... karena sudah mau menyelamatkan Yahiko-sama."

Mata biru laut itu melebar, ia segera melepaskan pelukan Hinata dan memerhatikan lekat-lekat gadis di depannya itu. Dengan perasaan ragu, Naruto mencoba mengutarakan pemikirannya. "Kau... Hinata-chan?"

Senyum Hinata melebar sebelum air mata kembali mengalir, ia mengangguk dan meraih tangan Naruto. Diciumnya lembut tangan siluman rubah itu sebelum ia kembali menangis.

"Aku... aku ingat sekarang. Tentang masa kecil kita berdua, tentang Haku, tentang Istana dan tentang Yahiko-sama." Hinata menatap mata biru laut di depannya dengan perasaan bersalah. "Maafkan aku, yang telah banyak memberi luka padamu dulu, Naruto-kun. maaf... sungguh maafkan aku."

Sinar mata itu melembut, dengan perasaan antara senang dan juga lega. Ia menyeka air mata yang begitu deras, jatuh membasahi pipi Hinata. Ia mengecup pelan sebelah mata Hinata, berharap tangisan itu berhenti. Sebelum ia tersenyum hangat dan membantu Hinata untuk berdiri.

"Tidak apa-apa, itu adalah masa lalu. Kau tidak perlu mengungkitnya kembali."

Hinata mengangguk pelan, "Terima kasih. Untuk selama ini Naruto-kun. Terima kasih, sudah mencintaiku selama ini."

"Terima kasih kembali," Naruto membungkuk penuh hormat, membawa tawa kembali hadir di wajah Hinata.

Sementara itu Toneri memerhatikan dari jauh. Perasaan kesal dan amarah itu kembali. Ia tidak terima, melihat Hinata terbangun dengan senyuman seperti itu. seharusnya gadis itu merasa bersalah, karena dia telah melanggar janjinya. Dia tidak menyelamatkan Orochimaru seperti yang dia janjikan. Dan itu semua hanya karena dia terjatuh dan hilang ingatan.

"Jangan bercanda... kau. Bagaimana bisa kau tersenyum seperti itu?!"

Hinata dan Naruto menatap Toneri waspada. Remaja laki-laki itu tanpa ia sadari telah mengumpulkan aura pekat di sekujur tubuhnya. Membuat semua yang ada di aula terdiam dan memerhatikan Toneri yang seakan kehilangan akal sehatnya.

"Kau seharusnya menyesal, kau seharusnya meminta maaf, karena kau melanggar janjimu. Kau membiarkan Orochimaru sekarat dan mati!" Toneri berteriak murka, wajahnya yang putih pucat kini berubah kemerahan.

Rambut putihnya berubah panjang hingga melebihi punggungnya. Dikepalanya juga tubuh dua buah tanduk berwarna abu-abu. Dagunya berubah runcing dengan taring menyembul dari balik mulutnya. Tidak hanya itu saja, di tengah keningnya sebuah kelopak mata terbuka. Memperlihatkan satu buah mata dengan pola lingkaran berwarna ungu.

Sasori menyipitkan matanya, ia tidak mengira kalau tuan-nya akan melakukan tindakan ekstrem seperti itu. "Dia... sejak kapan membuat kontrak dengan iblis?"

Gaara melompat mendekati Naruto dan Hinata, "Hati-hati. Penampilan itu, bukti bahwa dia terikat kontrak dengan Iblis."

Mata lavender Hinata melebar, ia melangkah maju sebelum ditahan oleh Naruto. "Hentikan, apa yang kau lakukan Hinata?!"

"Aku... aku tidak bisa membiarkannya. Ini semua salahku yang melupakan janjiku pada Momoshiki. Dan terlebih lagi, dia Toneri! Dia teman masa kecilku, keluargaku. Mana mungkin aku membiarkan dia mengikat kontrak dengan Iblis!"

Hinata mengalihkan antensinya menuju Naruto. Menatap lekat mata biru siluman rubah itu dengan tekad kuat. "Naruto-kun, maukah kau membantuku? Aku ingin menyelamatkan Toneri-kun."

Tenten dan Neji yang sudah menghampiri mereka bertiga, menatap penasaran. "Bagaimana caranya Hinata?"

Hinata mengeluarkan kipas yang selalu ia bawa setiap saat. Mata lavendernya menampilkan tekad kuat sebelum ia menatap teman-temannya. "Aku ada ide."

...

Toneri yang sudah kehilangan kesadarannya sebagai manusia, mulai menyerang tanpa pandang bulu. Naruto dan Gaara sibuk menyelamatkan para pengunjung dan juga teman sekelas Hinata. Neji dan Tenten membuat penghalang, agar para siluman tidak ada yang menyerang manusia di luar aula. Sementara itu Hinata, dia berjalan menuju ke tengah ruangan. Ia berdiri dengan tegak dengan mata yang tertuju pad Sasori dan Toneri.

Gerakan yang lembut namun penuh tekanan, memancar dari tubuh Hinata. Gadis itu, semenjak ingatan kehidupan lampaunya bangkit. Aura yang dikeluarkannya berubah, matanya lebih tegas dan jernih. Ia membuka mulutnya beserta kipas lavendernya, melantunkan sebuah lagu.

"Baik ketika rerumputan..."

Sasori dan Toneri membeku, mereka dapat merasakan tubuh mereka tiba-tiba terasa berat.

"Tumbuh maupun layu... rerumputan di ladang..."

"Akh...?!"

Tiba-tiba Sasori terjatuh, ia menggunakan satu kakinya untuk bertumpu. Ia mencengkram jubah hitam di bagian dadanya. Detak jantungnya tiba-tiba saja berdetak lebih cepat dan menyakitkan. Tidak hanya itu, kepalanya terasa sakit, seperti sesuatu memukul kepalanya.

Kondisi Toneri tak jauh berbeda, justru remaja itu terlihat lebih parah. Wajahnya yang sudah menyerupai sosok Iblis, semakin terlihat menakutkan ketika ia meraung keras. Raungan yang terdengar pilu, hingga Tenten mampu merasakan rasa sakitnya.

Gadis keturunan China itu menatap pemandangan di depannya dengan takjub. Bukan hanya dia, Neji, Gaara dan Naruto sama-sama dibuat tertegun. Mereka sama sekali tidak tahu, kalau Hinata menyimpan kekuatan seperti ini.

"Bahkan aku bisa merasakan aura di sekitar mulai berubah dingin dan kering." Tenten bergumam pelan, namun masih mampu didengar Neji.

Remaja dengan rambut coklat itu mengangguk setuju. "Jika kita tidak memasang penghalang, mungkin kita akan sama menderitanya dengan mereka."

"Menuju musim gugur... untuk bertemu kemudian sirna..."

Toneri memuntahkan isi perutnya, namun yang keluar adalah darah segar. Wajahnya membiru dan ia meraung keras. Dengan mata yang sudah berubah merah, ia menyerang Hinata. Sabit ia ayunkan hingga menimbulkan angin ribut. Naruto melompat di depan Hinata, ia mengibaskan tangan yang telah diselimuti aura kemerehan. Membuat angin itu berbelok dan menghantam dinding aula.

"ARGH!"

Gaara memerhatikan sosok Sasori yang mengerang kesakitan. Menatap siluman rakun yang menggeliat seakan tubuhnya terasa terbakar. Kilasan balik saat ia masih bersama dengan ketiga kakaknya datang tanpa diminta.

Bagaimana mereka berempat tertawa bersama, bermain bersama sebelum semua berubah dengan genangan berwarna merah di sekujur tubuh Temari dan Kankuro. Remaja berambut merah itu memejamkan kedua matanya, ia memalingkan wajah. Sebelum ia menghampiri Tenten dan Neji.

"Sepertinya rencananya berhasil. Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau ada kekuatan seperti ini."

"kamipun sama sekali tidak tahu!" Tenten menyahut tanpa mengalihkan perhatiannya dari Hinata yang masih bernyanyi. "Kami sama sekali tidak tahu, kalau tarian penyembuh juga memiliki sisi lain."

"Tarian kegelapan." Hinata berujar pelan saat Gaara sudah mulai bergerak untuk mengalihkan perhatikan musuh. "Istilah teknis untuk tarian penyembuhan disebut "iki", dinyanyikan dengan membuka tenggorokan dan mengeluarkan suara yang jelas."Ujar gadis rembulan itu menjelaskan. "Sementara Pengucapan tarian kegelapan disebut "Nuki", yaitu menurunkan getaran pita suara sampai ke perut dan bernyanyi lepas dengan suara rendah"

"Bagaimana kau tahu itu, Hinata-sama?" Neji jelas tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya. Karena ia sudah sering mempelajari gulungan kuno milik keluarga Hyuuga. Dan ia belum pernah menemukan informasi seperti yang Hinata katakan tadi.

Gadis rembulan itu tersenyum pahit, "Itu karena ingatan kehidupan lampauku kembali. Dulu aku pernah mencoba teknik "Nuki" dan hal itu cukup mengerikan."

Tenten menyeringai tipis, "Sekarang kita hanya bisa berharap strategi ini berhasil atau tidak."

"ARGH! KURANG AJAR KAU HINATA!"

Toneri kembali mengibaskan sabitnya, dan dari kibasan itu muncul puluhan tengkorak manusia. Tengkorak-tengkorak itu menghantam Naruto dan Hinata. Cukup kuat hingga membuat keduanya terpental. Tenten dan Neji berseru memanggil nama teman mereka. Namun kedua mata mereka melebar, saat tiba-tiba Toneri sudah ada di depan mereka.

Ia menatap keduanya dengan dingin. Ia menyeringai jahat dan tanpa banyak bicara lagi. Toneri mengayunkan sabitnya, hingga berhasil melukai Neji dan Tenten. Gaara yang berhasil menghindar, segera menyerang Toneri dengan badai pasir miliknya.

Toneri hanya berdiam diri sebelum menyeringai. Tiba-tiba Sasori sudah berada di depan Toneri. Siap menangkis serangan Gaara. Ia mematahkan badai pasir Gaara, lalu melesat menyerang sambil menghunuskan ekornya seperti pedang.

"Ukh!"

Darah menetes dari luka di perut kiri. Gaara mencengkram ekor rakun yang menancap di perutnya. Ia mencoba menarik ekor itu sambil berteriak keras. Matanya melebar, melotot dengan penuh amarah.

"Kuh... kau, memang seharusnya kubunuh bersama dengan mereka berdua."

Rahang Gaara mengeras begitu mendengarnya, "Kenapa... kenapa kau melakukan ini?!"

Sasori tersenyum sinis, "Karena mahluk rendahan kalian pantas mati." Ia mencabut ekornya dan membiarkan Gaara jatuh sambil memegang perutnya. "Aku sejak dulu, menginginkan kekuatan dan kekuasaan. Dengan bersama Momoshiki, aku bisa mendapatkannya. Dan tidak sepertimu yang malah menjadi bawahan siluman rubah. Aku akan menjadi penguasa daerah Timur."

"Kau... benar-benar gila, Sasori."

"Terserah kau mau berkata apa. Tapi inilah yang aku inginkan."

Perlahan separuh wajah Gaara berubah. Kulitnya mulai membentuk sosok rakun dan sebelah tangannya berubah menjadi pasir yang memadat. Membentuk lengan dengan tiga cakar besar siap mengoyak apapun. Gaara melompat dan mengayunkan tangan monsternya.

Sasori tersenyum dingin, ia siap melompat lagi. Namun sialnya, Hinata kembali bernyanyi. Membuat tubuhnya kembali berat dan ia tidak bisa bergerak dari tempatnya. Gaara menggunakan kesempatan itu dan berhasil mengoyak tubuh bagian dengan Sasori. Membuat tiga buah sayatan besar dengan cipratan darah.

Hinata memandang sosok Toneri yang kembali meraung kesakitan. Mata peraknya menatap penuh amarah saat melihat sosok Tenten dan Neji yang terkapar. Mereka terluka, berdarah, namun untungnya masih hidup.

"Toneri-kun, aku mohon sadarlah!" Hinata berteriak keras, "Aku tahu aku salah, tapi bukan seperti ini caranya."

"Berisik! Kau tidak pernah sendiri, mana mengerti perasaanku. Perasaan Momoshiki yang dibuang dan tidak dibutuhkan!" Toneri menunjuk Hinata dengan mata peraknya. "Sebelum aku membuatmu sengsara, dan membunuhmu. Aku tidak akan puas!"

Toneri melompat, ia menyerang Hinata dengan mengayunkan sabitnya. Hinata mencoba menghindar, namun ia kalah cepat. Tangan kirinya terluka akibat sayatan sabit dan membuatnya meringis. Naruto segera menghampiri Hinata dan menolong gadis itu.

"Jangan maju sendirian, Toneri biar aku yang urus. Lakukan saja strategi kita."

Hinata menggeleng, ia mencoba berdiri dan mendorong pelan tubuh Naruto. "Aku ingin menyelamatkannya. Karena itu biarkan aku melakukannya, Naruto-kun." Hinata memandang siluman rubah itu penuh tekad.

Sejujurnya Naruto ingin menghentikannya. Perasaannya sangat tidak enak, terlebih melihat gadis itu terluka membuat hatinya sakit. Namun tatapan yang Hinata berikan membuat ia tidak bisa menolak. Ia melangkah mundur dan membiarkan Hinata maju.

"Toneri-kun, kau temanku, kau keluargaku. Tidak akan aku biarkan kau sendirian." dengan tegas Hinata mengatakannya. Ia membuka kipasnya dan mulai memanggil para dewa.

"Wahai Dewa Pohon Kukunochi..." kipas lavender itu memancarkan cahaya kehijauan sebelum tiba-tiba dari tanah muncul akar-akar menjalar dan menyerang Toneri. "Bantu aku, untuk menyelamatkannya."

Akar-akar itu melilit tubuh Toneri dengan erat. Membuat ia sulit untuk menggerakan tubuhnya. Hinata berjalan mendekat, menghampiri Toneri yang berusaha meronta, melepaskan dirinya. Mata perak Hinata menatap lurus dan ia mengulurkan tangannya. Menyentuh dada Toneri dan mulai memanjatkan mantra.

"Wahai Para Dewa, tolong dengarkanlah doa ini. Pinjamkanlah aku kekuatan untuk mematahkan kontrak Para Iblis."

Toneri meraung keras saat ia dapat merasakan dadanya memanas. Dengan perasaan sakit saat tanda kontrak di dadanya mulai bersinar merah. Sasori yang memerhatikan bergerak maju, berniat menolong Toneri. Namun langkahnya dihentikan oleh Gaara saat sesuatu yang tajam menembus tubuhnya.

"Ka-kau..." Sasori mencoba menoleh menatap Gaara. "I-ini... ti-tidak mu-mungk-kin."

"Yang mati adalah dirimu, Sasori." Gaara semakin memperdalam cakarnya yang menembus tubuh Sasori. Ia mengangkat tangannya, membuat tubuh Sasori terangkat dan kakinya melayang. "Ini adalah hukuman yang pantas kau dapatkan."

Dalam sekali hentakan Gaara menghantamkan tangannya pada tanah. Membuat Sasori terbatuk keras dengan darah segar dari mulutnya. Perlahan wajahnya memucat dengan sinar mata yang mulai meredup. Sebelum akhirnya nafas meninggalkan tubuhnya.

Gaara menarik cakar dari tubuh tak bernyawa milik Sasori. Akhirnya ia berhasil membalaskan kematian kedua kakaknya. Mata hijau pudarnya menatap lurus sosok Sasori yang perlahan berubah menjadi seekor rakun dengan luka yang menganga di perutnya.

Remaja berambut merah itu mengambil rakun kecil itu. Menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebelum ia menghela nafas pelan dan memeluk rakun itu kedalam pelukannya.

"Ka-kau! Ja-jangan harap semua ini a-akan ber-akhir disini... Hinata!"

Hinata hanya diam dan terus mengeluarkan energinya untuk mematahkan kontrak di tubuh Toneri. Ia ingin menyelamatkannya, karena bagaimanapun Toneri adalah keluarganya. Kilas balik saat ia masih kecil dan bermain bersama dengannya kembali hadir. Menjadi pendukung dirinya untuk terus mencoba.

"Aargh!"

Sinar kemerahan di dada Toneri semakin terang dan menyilaukan mata. Naruto memerhatikan dari jauh, dia terus memanjatkan doa agar Hinata berhasil. Dan tiba-tiba ledakan terjadi dari tubuh Toneri, cukup kuat hingga membuat Hinata terpental.

"Hinata!"

Naruto berlari menghampiri Hinata. Gadis itu kembali mencoba berdiri dan menghampiri Toneri. Tidak memedulikan Naruto yang sudah menyuruhnya untuk berhenti.

"Hentikan, memutuskan kontrak Iblis itu sangat sulit. Bisa saja justru nyawamu yang dalam bahaya!"

Hinata kembali mengulurkan kedua tangannya, kembali memanjatkan doa. Memanggil para Dewa dan memberikan energinya untuk merusak kontrak itu.

"Hinata, aku mohon berhentilah. Aku tidak mau kehilanganmu!" Naruto dapat merasakan matanya memanas. Ia sungguh tidak mau terjadi sesuatu pada Hinata.

"Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu... untuk yang kedua kalinya, Naruto-kun." Hinata berujar pelan dengan senyum menenangkan. "Kali ini. Ayo, kita hidup bahagia bersama."

"ARRGHHHHH!"

Usai berkata seperti itu, simbol berbentuk bulat dengan tulisan kuno yang berada di dada Toneri, retak dan hancur berkeping-keping. Sinar kemerahan itu mulai lenyap dan bersamaan itu pula kesadaran Hinata menghilang. Tubuhnya limbung dan siap jatuh jika saja Naruto tidak segera menangkapnya.

"Hinata, Hinata, Hinata! Oi! Sadarlah Hinata!" Naruto mengguncangkan tubuh mungil itu, berharap gadis rembulannya kembali membuka mata. "Aku mohon, kembalilah... jangan tinggalkan aku lagi... Hinata..."

Air mata sudah jatuh membasahi pipi Naruto, namun tidak ada tanda-tanda gadis itu bangun dari tidurnya. Siluman rubah itu mengerang pelan, rasa sakit kembali hadir di dadanya. Dalam sekali tarikan nafas, ia memanggil gadis itu dengan rasa putus-asa.

"HINATA!"

.

.

.

To Be Continue...

Hahaha... malam sekali aku baru up. Well, berharap aja cerita ini memuaskan kalian. Semoga gak terlalu seperti dipaksakan endingnya. Hehe... terima kasih yang sudah mau mengikuti cerita The Red Fox. Minggu depan adalah chapter terakhir, akhirnya cerita ini minggu depan selesai. Yeahhh!

Ari-gate-san: makasih udah mau baca yah...

Rifkiaabadi-san: iya, ini konflik terakhir. Makasih buat doanya hehe, makasih yah udah ngikutin cerita ini.

Akane-san: hehe baguslah kalau kamu suka. Iya penampilan Hinata itu cocok banget buat jadi miko. Mereka itu mengingatkanku dengan kagome dan inuyasha kwkwkkwkw. Makasih yah udah mau baca.

Sampai jumpa di chapter terakhir minggu depan. Ciao.