Author: Cocoa2795
Rating: T or M tergantung alur.
Genre: Supranatural, Romance, Hurt/Family, Little Angst.
Diclaimer: All Characters of Naruto is belongs to Masashi Kishimoto. All main Idea in this story is mine, but i borrow Kumagai kyoko-sensei's idea about shirabyoshi.
Warning: All Typo(s), Out Of Chara, If you dislike this story, please turn back with peace. No flames with barbarian's words. Thanks.
Chapter 25: The Ending.
.
.
.
Suara lonceng mengalun lembut ketika hembusan angin menyentuhnya. Langit terlihat cerah tanpa adanya setitik awan. Samar-samar terdengar alunan musik dengan tempo lambat dan lembut. Dari balik pintu geser rumah tradisional. Berdiri seorang perempuan dengan mengenakan atasan putih dan celana merah panjang.
Di tangannya tergenggam kipas berwarna oranye dengan corak kelopak bunga. Ia menari mengikuti irama musik dari ponsel yang ia letakan di lantai kayu. Sesekali ia berputar pelan, lalu memindahkan kipas miliknya dengan gerakan anggun.
"Fuwari fuwari to mai nagara (Aku akan menari-nari perlahan-lahan.)"
Kelopak mata yang semula terpejam, terbuka sempurna. Rambut panjangnya yang ia ikat rendah, mengikuti gerakannya. Selama gadis itu menari, perlahan aura di sekitarnya berubah. Udara yang berhembus terasa sejuk dan ringan.
Usai alunan musik berhenti, tarian gadis itupun berhenti. Ia menutup kipasnya lalu menghela nafas lega. Gadis itu mengambil handuk dingin dan menyeka wajahnya. Suara tepuk tangan mengalihkan atensinya dan tersenyum lebar.
"Tenten-san!" ia menghampiri seorang wanita muda dengan rambut coklat yang ia ikat. "Kapan kau kembali ke Jepang?"
Tenten tersenyum lebar, "Tadi pagi bersama Neji." ia menepuk pelan puncak kepala gadis itu. "Wah! Kau sudah berjuang keras, Hanabi-chan!"
Hanabi tersenyum malu mendapat pujian dari wanita yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri. "Ini tidak seberapa, aku harus lebih banyak belajar lagi." Mata lavendernya terlihat sendu, "Aku harus berjuang keras, sampai nee-sama kembali."
Wanita muda itu menarik Hanabi dalam pelukannya. Ia menepuk punggung kecil gadis itu dengan senyum getir. "Kau benar, kita semua harus berusaha sampai Hinata kembali."
...
Tenten melambaikan tangannya dari kursi kafe yang ia duduki. Mata coklatnya memerhatikan sosok wanita muda dengan rambut merah muda yang di potong pendek dengan poni menyamping, memasuki kafe. Di belakangnya dua orang laki-laki berambut hitam terlihat mengobrol bersama. Mereka bertiga berjalan menghampiri Tenten.
"Tenten-chan! Lama tidak bertemu!" wanita muda itu memeluk Tenten erat. "Bagaimana Amerika? Apa ada bule yang menarik perhatianmu?"
Wanita keturunan China itu tertawa renyah, "Tentu saja tidak ada."
"Tidak ada yang menarik selain Neji, benarkan?"
Wajah Tenten berubah merah, ia memukul pelan lengan temannya. "Apa yang kau bicarakan, sih. Sakura!"
Wanita dengan mata hijau itu terkekeh pelan, ia duduk di depan Tenten dan meraih tangan kirinya. "Ini yang ku maksud!" katanya lagi sambil menunjuk cincin putih yang melingkar manis di jari manis kirinya.
Tenten menarik tangannya, pipinya merona sempurna. Lalu suara deheman terdengar, membuat kedua wanita itu menoleh. Salah satu dari dua laki-laki itu menghela nafas pendek.
"Apa lebih baik kami pergi?"
Sakura tertawa pelan, ia menarik lembut lengan laki-laki dengan poni yang menutupi sebelah matanya. ia membimbing laki-laki itu untuk duduk di sampingnya, sementara laki-laki lain duduk di sebelah Tenten.
"Jadi, di mana Neji-san?" laki-laki dengan mata malas itu berujar.
"Ah! Neji, dia pulang malam ini, jadi dia masih ada di Amerika." Jawab Tenten lalu tersenyum jahil, "Aku dengar, kau akan bertunangan Shikamaru. Hebat juga kau bisa mendapatkan hati Temari-san."
"Betul! Aku sampai kaget dengar kalau kakak dari pengusaha Sabaku mau menerima tunangan Shikamaru." Sakura menggelengkan kepalanya, mendramatisir keadaan.
Shikamaru berdecak pelan, "Cepat sekali kabar menyebar. Perempuan itu memang menyusahkan!"
"Tunggu! Apa itu berlaku juga untuk Temari-san?" Tenten menyipitkan mata coklatnya. "Aku pasti akan mengadukanmu!"
Laki-laki itu tertawa hambar, "Oke. Aku tarik kembali kata-kataku."
Sakura dan Tenten tertawa mendengarnya. Tidak menyangka Shikamaru akan termakan ancaman palsu yang Tenten berikan. Mata coklat Tenten beralih pada laki-laki yang berada di samping Sakura.
"Jadi, kapan kalian memutuskan untuk menikah, Sasuke, Sakura?"
Keduanya langsung terdiam, mengerjap dan memasang raut gugup mereka masing-masing. Sakura mengibaskan tangannya dan berusaha tertawa normal.
"Untuk itu, bisa kita bahas kapan-kapan saja?"
"Kenapa? Apa kalian berdua malu?" Tenten semakin menyeringai jahil.
Sakura tertawa pelan, "Bukan hanya itu saja, tapi..." mata hijaunya berubah sendu dan menatap langit lewat jendela besar di sampingnya. "Aku ingin menunggu, sampai Hinata-chan kembali."
Senyum Tenten memudar, dan mereka berempat terdiam. Sakura bertompang dagu dengan tatapan menerawang. Mengingat kembali kenangannya bersama seorang teman bermata lavender.
"Apa yang sedang Hinata lakukan sekarang, ya? Mata hijaunya beralih pada Tenten. "Apa kau sama sekali tidak mendapat kabar darinya? Bukankah saat festival kau mengantar Hinata ke bandara?"
"M-maa... begitulah, aku rasa ia sedang giat belajar untuk bersiap menjadi kepala keluarga Hyuuga."
"Tapi bukankah terlalu mendadak? Bahkan dia tidak sempat mengucapkan perpisahan." Sasuke berujar setelah lama terdiam, "Dan Naruto juga pindah tiba-tiba. Bukankah itu aneh?"
Tenten menelan ludah gugup, ia kembali tertawa kecil. "Entahlah... tapi kalau si durian bodoh. Aku sempat dengar kabarnya, dia sedang stress menghadapi pekerjaannya."
"Oh, ya? Memang dia kerja di mana?"
Tenten menarik nafas lega karena ia berhasil mengalihkan topik. Bagaimanapun membicarakan soal Hinata selalu sulit baginya. Karena bagaimanapun, sudah sepuluh tahun ia tidak melihat teman masa kecilnya itu.
Semenjak hari itu, hari yang tidak pernah bisa Tenten dan Neji lupakan. Serta hari yang sama sekali tidak mereka harapkan. Semua terasa begitu lambat dan hampa ketika gadis dengan rambut hitam malam itu menutup mata. Ketika Hanabi hanya menangis dan memohon agar Sang kakak membuka matanya.
Tenten mengalihkan mata coklatnya, memandang langit serta dedaunan yang terbawa angin. Bertanya-tanya, apakah dedaunan itu akan terbang menuju bukit. Tempat dimana siluman rubah yang dulu pernah mereka kenal berada.
Angin berhembus pelan, saat senja mulai nampak. Mengubah langit yang semula biru menjadi kemerahan. Suara burung-burung gereja terdengar di ranting pepohonan. Sebelum salah satu dari mereka terbang dan hinggap di jari seorang pemuda.
Rambut kuning serupa kelopak matahari itu bergoyang pelan. Mata biru lautnya menatap burung gereja sebelum tersenyum tipis.
"Sebaiknya aku pulang."
Ia beranjak dari duduknya, membuat jubah putih yang ia kenakan berkibar pelan. Baju oranye dengan celana hitam yang ia kenakan, terlihat kontras dengan hijau pepohonan. Tak lama tiba-tiba sosoknya menghilang, seakan ia tidak pernah ada di sana sebelumnya.
Suara tawa anak kecil terdengar, mengiringi langkah pemuda bermata biru laut. Ia tersenyum dan mengelus pelan puncak kepala salah satu dari mereka. Lalu ia memasuki sebuah ruangan yang terletak di depan kolam buatan. Angin berhembus pelan, membawa kelopak bunga memasuki kamar.
Di tengah ruangan, terdapat futon yang digelar dengan beberapa hiasan bunga lavender. Dan di atas futon itu terbaring seorang wanita muda dengan wajah putih bersih. Bibirnya kecil dan berwarna merah cheri. Rambut hitam malamnya tergerai panjang melebihi lututnya. Dan ia mengenakan kimono putih dengan corak bunga lavender.
Wanita muda itu begitu cantik, dengan kelopak bunga yang terkadang jatuh di atasnya. Serta bunga-bunga di dekatnya semakin memperindah dirinya. Wanita itu seperti sebuah lukisan, begitu indah namun juga terlihat rapuh.
Pemuda itu melangkah mendekat dan duduk bersila. Ia mengusap lembut pipi gadis itu dan tersenyum pedih. "Hinata... bagaimana kabarmu?"
Hanya keheningan yang membalasnya, namun pemuda itu kembali berujar. "Sudah sepuluh tahun kau tertidur. Apa kau tidak ingin membuka matamu? Apa kau tidak ingin melihat Tenten dan yang lain?"
Jemarinya meraih rambut panjang itu dan menciumnya. Mata birunya menatap lekat sosok cantik di depannya. Senyumnya berubah sendu, "Apa kau tidak ingin melihatku?"
Sepuluh tahun semenjak gadis itu tertidur. Begitu banyak usaha yang telah Naruto dan keluarga Hyuuga lakukan. Namun tidak ada yang membuahkan hasil, sampai Dewa Inari akhirnya turun tangan. Dewa kesembuhan dan kesuburan itu memerintahkan agar Hinata dibaringkan di kuil Inari. Gadis itu telah menggunakan seluruh energi kehidupan-nya untuk mematahkan kontrak Iblis di tubuh Toneri.
Beruntung nyawa Hinata masih selamat dengan energi yang hanya tinggal sedikit. Selama sepuluh tahun ini Hinata tertidur. Menyerap sedikit demi sedikit energi kehidupan yang ada di daerah bukit Inari. Selama sepuluh tahun pula, Naruto berada di sampingnya, menjaganya dan secara rutin membagi energi kehidupannya pada gadis itu.
Naruto menoleh saat ia merasa hawa kehadiran seseorang. Mata birunya memerhatikan ketika secercah cahaya muncul di depannya. Cahaya itu memadat hingga menyerupai sosok seorang wanita muda dengan rambut pirang dan bibir ranum. Ia mengenakan kimono panjang berwarna putih dengan kimono luar berwarna hijau lumut.
Kelopak mata yang semula tertutup kini terbuka. Menampilkan sepasang mata coklat jernih yang memancarkan kelembutan serta ketegasan. Ia tersenyum anggun ke arah Naruto dan memerhatikan wanita berambut hitam malam yang tengah tertidur.
"Apa semua sudah berkumpul?" tanyanya sambil berjalan mendekat.
Naruto mengangguk, "Sebentar lagi mereka sampai, Baa-chan."
Pelipis wanita itu berkedut pelan, lalu tanpa rasa bersalah menarik sebelah telinga Naruto. Membuat siluman rubah itu mengaduh kesakitan. "Yang benar itu Tsunade-sama. Bukan Baa-chan rubah kecil."
"Aw aw aw! Hentikan-tebayo!"
Tsunade melepaskan tarikannya dan bersedekap, "Kau itu benar-benar tidak berubah, Naruto."
Siluman rubah itu mengelus telinganya yang memanas. "Begitu juga denganmu, Tsunade-sama." Balasnya dengan seringaian jahil.
Dewa kesembuhan itu menggeleng pelan. Sudah biasa sebenarnya dengan tingkah bocah rubah satu ini. Tapi tetap saja ia sedikit berharap, Naruto bisa lebih memikirkan status dan kedudukannya di bukit Inari. Bagaimanapun, Kurama sudah memutuskan untuk memberikan statusnya sebagai Familiar Dewa Inari pada Naruto.
Suara ketukan dipintu mengalihkan kedua mata berbeda warna itu. Naruto memersilahkan mereka untuk masuk. Dan ketika pintu itu terbuka, sosok Tenten, Hanabi dan Neji terlihat. Mereka bertiga terkejut saat melihat Tsunade dan buru-buru ketiganya membungkuk penuh hormat.
"Terima kasih atas kedatangan anda, Tsunade-sama." Neji berujar mewakili kedua perempuan di sampingnya.
Tsunade tersenyum lembut, "Angkat wajah kalian, wahai anak Adam." Setelah ketiganya mengangkat kepala mereka. Tsunade duduk dengan kipas menutupi separuh wajahnya. "Bagaimana kalau kita mulai ritualnya?"
Tenten, Neji saling tatap sebelum mengangguk. Mereka membimbing Hanabi untuk berdiri di depan Hinata yang tengah tertidur. Sementara itu Naruto masih setia di tempatnya, saat Neji dan Tenten duduk di depan Naruto. Tsunade sendiri duduk di dekat kepala Hinata. Mata coklatnya memerhatikan sekeliling sebelum menutup kipasnya.
"Baiklah, selama Hanabi bernyanyi. Kalian harus bisa memfokuskan diri kalian pada energi kehidupan yang terletak di daerah perut kalian. Bayangkan energi itu mengalir keluar dari tubuh kalian dan masuk, terserap pada tubuh Hinata." Ujar Tsunade mengarakan.
Mereka mengangguk paham, dan denting musik tiba-tiba hadir saat Tsunade menjentikkan jemarinya. Hanabi bersiap untuk menari, sementara Tenten, Neji dan Naruto memejamkan mata agar bisa lebih fokus.
Kimi wo omoeba kono mune ni (Saat memikirkanmu dalam hatiku).
Samar angin berhembus pelan memasuki ruangan bertatami. Kuncup bunga mulai bermekaran dan udara terasa sejuk dan ringan. Tenten dan Neji merapalkan mantera yang meembuat tubuh mereka bercahaya putih lembut.
Tachimachi sakura saki michite (Kuncup bunga sakura mekar sempurna).
Perlahan kumpulan cahaya datang mengelilingi mereka dan masuk perlahan ke dalam tubuh Hinata. Cahaya putih itu terus terserap hingga membuat tubuh gadis itu memancarkan cahaya putih bercampur hijau lembut.
Fuwari fuwari to mai nagara (Aku akan menari perlahan-lahan).
Tsunade tersenyum lembut, ia mengulurkan kedua tangannya di antara kepala Hinata. Tanda berlian hijau di keningnya perlahan berubah. Membentuk sebuah garis hitam yang menjalar di wajah dan tangannya.
Tsutaete okure waga koi wo (Tuk sampaikan cintaku pada dirimu).
Ketika bait lagu terakhir dinyanyikan, perlahan kelopak mata itu terbuka. Menampilkan sepasang rembulan yang amat cantik. Perlahan ia beranjak duduk dengan sinar yang belum redup dari sekujur tubuhnya.
Naruto menatap lekat wajah Hinata, terutama sepasang mata perak yang begitu ia rindukan. Mata biru lautnya berkilat, sebelum ia memejamkan kedua matanya dan kembali membuka matanya. Menampilkan sepasang mata biru yang sudah basah dan tersenyum hangat.
"Okaeri, Hinata..."
Gadis rembulan itu menoleh saat ia mendengar namanya. Kelopak matanya mengerjap dan dengan cepat sinar putih menghilang dari tubuhnya. Seakan ia baru tersadar dari lamunan panjangnya, dan ketika mendapati sosok Naruto di depannya. Bibirnya tertarik, melengkung indah dengan rona merah di pipi putihnya.
"Tadaima, Naruto-kun..."
Hanabi yang baru saja selesai bernyanyi, menatap tidak percaya sosok kakak perempuannya. Tenten dan Neji juga sama, mereka membulatkan mata sebelum air mata penuh kelegaan, turun membasahi pipi mereka. Hanabi berlari, menghambur dalam pelukan Hinata dengan tangisan kencang. Begitu pula Tenten, wanita keturunan China itu memeluk erat Hinata dan menangis.
Hinata tertawa pelan, ia menepuk pelan punggung adik perempuannya. Mencoba menenangkan tangis keduanya dengan kata-kata penenang. Di sampingnya Naruto menatap dalam diam, sebelum menoleh ke arah Neji. Pemuda itu menyeka air matanya dan tersenyum penuh kelegaan.
"Kau tidak ikutan?" tanya Naruto jahil.
Neji mendengus geli, "Ada saatnya aku akan memeluknya erat."
"Cih, dia milikku." Dan Neji hanya tertawa melihat wajah cemberut Naruto.
"Jaga dia baik-baik, Naruto." Suara Neji yang lembut mengalihkan perhatian Naruto. Pemuda itu tersenyum dan mengangguk. "Aku akan membunuhmu, kalau kau membuat Hinata menangis."
Siluman rubah itu tertawa pelan, "Aku mengerti, kakak ipar."
Delikan Neji mengundang tawa Naruto, membuat Tsunade menggeleng pelan. Dewi Inari itu tersenyum tipis, menikmati suasana hangat dengan suara tangis dan tawa yang menjadi satu. Setelah merasa tidak ada lagi yang harus ia lakukan, perlahan tubuh Tsunade berubah menjadi buih sebelum hilang bersama angin.
...
Tirai senja mulai turun dengan warna kemerahan yang dominan. Embusan angin lembut menerpa pelan wajah kedua orang yang tengah memandang langit. Setelah Hanabi, Tenten dan Neji pulang, Naruto masih setia berada di samping Hinata.
Mereka sama-sama menikmati senja, dengan keheningan di antara mereka. Sampai Hinata akhirnya berujar pelan, "...Sepuluh tahun, aku masih belum memercayai kalau sudah sepuluh tahun berlalu sejak waktu itu."
Siluman rubah itu memandang lekat Hinata, membiarkan ia kembali berujar. "Rasanya aku hanya tertidur sebentar dan begitu terbangun, semua telah banyak yang berubah." Hinata menoleh, mata peraknya memandang mutiara biru laut di depannya. "Dan lagi-lagi, aku membuatmu menunggu."
Tangan mungil itu bergerak, meraih tangan besar dan kekar yang berada di sampingnya. "Lagi-lagi aku membuatmu sendirian." mata perak itu mulai basah sebelum jatuh perlahan, "Terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan, Naruto-kun."
Bibir itu tertarik, membentuk senyuman hangat di wajah tampannya. Naruto menatap tangan mungil yang kini dalam genggamannya. Sebelum ia menaruh telapak tangan Hinata di dada kirinya, berharap detak jantungnya terasa oleh Hinata.
"Meskipun jantung ini sudah tidak berdetak lagi, jiwaku akan selalu tahu dimana aku harus berlabuh." Naruto menarik pelan pundak kecil Hinata, membawa gadis itu kedalam pelukannya. Ia memeluk Hinata erat, dan membiarkan aroma gadis itu memenuhi paru-parunya. Karena akhirnya, kini ia kembali bisa memeluk erat gadisnya. Rembulannya yang dulu tertutupi langit hitam dan tidak bisa ia jangkau.
"Meski ribuan tahun berlalu, meski kau terlahir berulang kali pun. Aku hanya milikmu, Hinata..."
Air mata itu mencair lembut, jatuh membasahi pipi Hinata. Dengan suaranya yang serak, Hinata berujar. "Begitu pula denganku, selamanya hati ini hanya milikmu..."
Naruto tertawa pelan, senyum lebar membuat kedua matanya menyipit. Ia melepaskan pelukannya dan mencium lembut bibir kenyal itu. Kecupan demi kecupan yang berubah menjadi lumatan pelan. Hinata memejamkan kedua matanya, ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Naruto. Membiarkan siluman rubah itu menuntunnya dan ia membalas setiap sentuhan lelaki itu.
Pelan Naruto merebahkan Hinata, ia menyibak pelan poni gadis itu sebelum mencium keningnya. Mata biru laut itu memancarkan kasih sayang yang dibalas Hinata dengan kecupan di bibir.
"Aku mencintaimu, Naruto-kun..."
Hinata mengecup lembut bibir tebal itu dan mendesah pelan saat ia merasa desakan di bibirnya. Naruto melepaskan ciuman mereka dan mencium leher jenjang Hinata. Lalu ia berbisik pelan di telinga Hinata.
"Aku juga mencintaimu, selamanya..."
.
.
.
Fin~
Akhirnya aku menuliskan kata "fin" bahagia sekali hati ini... saya ucapkan terima kasih banyak yang sudah mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir. Begitu pula yang mungkin baru-baru ini ngikutin. Tanpa dukungan kalian, mungkin cerita ini gak akan kelar atau malah discontinue...
Soalnya jujur saja, feel buat nulis cerita ini menghilang entah kemana. Mungkin karena stok ide tentang youkai dan manusia kurang kali yah... pokoknya, semoga kalian puas dengan cerita ini. Dan maafkan saya yang telat update.
Kemarin saya terlalu lelah dengan pikiran yang bercabang. Jadi saya tidak bisa up... dan kabar gembira, minggu depan ada OMAKE. Karena saya ingin menceritakan beberapa hal yang tidak sempat aku ceritakan di sini, hehehe...
Baiklah itu aja dulu... selanjutnya special thanks buat kalian para reader terkasih.
Nuzumakiuchiha19. Kazehaya pratama. Ucihaii. Namikaze. Aldrin. Agusgnw72. Byakugan no hime. Triavivi354. Puterateluan. The balanda619. Cuka-san. Reichan hiyukeitashi. Julianto merry. Wylan. Red hawk. Bill arr. Kurotsuhi mangetsu. B37G4R. Hitam putih904. Hikarishe. Alinda504. N. Ares. Netizen07. Wid-wid. Akane-rihime. Ana. Detektif kadal. . mrheza26. Hyuuzu avery. Chiharu kazawa. Yadi. Aru hasuna 2409. Lophelyna. Hana raikatuji. Ishida. Kamvang. Luchida-chan. Haruna izuyu. Hime. Naruhina lovely. Ain. Hinataprincess byakugan. Hime-chan. Uchiha ara. Rimerry. Lililala249. Kookminni. Nixie pluviophile. Yamato yumi. Uzumakisrhy. Bluemond. Second09. Haswan. Naruruhina. Keyko keinarra minami. Pecinta NH. Krulciferakitsukii. armyNHL. Aoi doi. Hoshi. Zty naruchan. Mawarputih. Permana-ryu. Chiaki arishima. Shiro. NHHY99. Cemilan. Fika2710. Yunus PR. Billyyo566. Tomhib12. K. Rikudou pein 007. Magendrik. Ryuu-chan. Andini4121. Ari-gates. Qqq. Luffy. Th0822626. Musasi. Rifkiabadi99. Mawar. Nakama naka-chan. Deva. Hinatalevendercitrus14. Heimayu20. Aissy hime. Niswan11. Bedak baby blue. Jhonii zand. Guest.
Sampai jumpa minggu depan untuk Omake.
