2018, Jakarta

Suara gebrakan pintu masuk mengagetkan seisi rumah yang tengah sibuk mondar-mandir di dapur dan meja makan. Ketiga orang yang berada di sana menoleh ke arah pintu dan menemukan sesosok pria yang masih berseragam sekolah masuk dan menghempaskan diri ke atas sofa empuk di ruang tamu sembari menghela napas panjang. Amat panjang.

Kedua orang yang sudah berusia empat puluhan itu masih mengunyah makan malam mereka, kemudian menatap pria bersurai coklat mengkilap yang tampak sepantaran dengan pria yang baru masuk tadi, menyuruhnya untuk menghampiri si pria berseragam sekolah dan menjadi seorang kakak yang baik. Ia pun meletakkan piring kosongnya ke atas meja makan dan menghampiri sang adik.

"Hei Kyungsoo, kau pulang lebih cepat dari yang kau bilang kemarin." Pria yang tengah bersandar malas pada sofa menoleh malas, tidak mengangguk maupun menggeleng.

"Jongin lagi?" Kali ini, ia mengangguk. Tersirat kekesalan dalam bola matanya yang lebih bulat dari sang kakak angkat.

Pria berseragam sekolah menengah atas itu kemudian membenarkan posisi duduknya, bersiap untuk melontarkan berbagai keluh-kesahnya di hari panjang yang baru saja ia lewati. "Kau harus tahu apa yang dia lakukan hari ini, hyung! Kurasa kau tidak akan bisa menahan diri untuk tidak men-sleding orang itu!"

Kyungsoo lagi-lagi harus dipersatukan dengan Jongin, si anak tukang tidur di kelas 12-1 IPA.

Sudah ke sekian kalinya mereka berdua menjadi teman sekelompok untuk mengerjakan tugas yang dianugerahkan oleh sang guru. Terlebih lagi, di mata pelajaran kimia yang paling tidak Kyungsoo kuasai dan sukai. Kimia dan Kim Jongin, perpaduan luar biasa antara dua hal yang paling membuat Kyungsoo pusing kepala bukan main.

Pak Piyan mengamanatkan semua kelompok berisi dua orang yang sudah terbentuk untuk membuat laporan setelah melakukan praktek pengujian kadar antioksidan. Jongin awalnya sangat bersemangat karena satu kelompok (lagi) dengan Kyungsoo, orang yang sama-sama memiliki darah Korea dengan dirinya, dan Jongin merasa mempunyai banyak kesamaan dengan pria yang lebih mungil itu.

Jongin lantas mengajak Kyungsoo untuk mengerjakan tugas kelompok tersebut di rumahnya yang tak begitu jauh dari sekolah. Tugas kelompok, dia bilang? Kenyataannya, di sini Kyungsoo hanya bekerja bersama otak dan kesabarannya.

Kyungsoo menyapa sosok pria berwibawa yang membukakan pintu untuknya dan Jongin, dan dirinya agak bingung mengapa kakak Jongin sangat berbeda dari Jongin baik secara fisik maupun karakter. Sang kakak, Junmyeon, begitu ramah dan tampak sangat bisa diandalkan. Sementara ketika Kyungsoo menoleh ke arah Jongin, ia hanya bisa mendengus singkat. Bagai langit dan bumi.

Mereka berdua pun mengerjakan tugas di dalam kamar Jongin ditemani oleh seekor anjing pudel berwarna coklat yang sama sekali tidak bisa diam. Kyungsoo mengeluarkan beberapa lembar kertas folio bergaris dan penggaris panjang serta alat tulis lengkap yang ia koleksiㅡtak heran ia disebut toko alat tulis berjalan oleh teman-teman sekelasnyaㅡdan meletakkan barang-barang tersebut dengan rapi di lantai. Pria yang berpipi lebih chubby itu membuka buku beratus-ratus lembar yang isinya entah apa dirinya juga tidak mengerti meski sudah belajar semalam-subuh dan tetap mendapat nilai lima puluh. Tidak, Kyungsoo tidak bodoh. Ia merasa dirinya hanya memang tidak berbakat di bidang itu.

Lima belas menit pertama, kepala Kyungsoo sudah sakit sebelah. Ia mengerang dalam hati, meratapi nasibnya yang lagi-lagi harus dihadapkan dengan cobaan yang begitu berat. "Setelah lulus, hal pertama yang akan aku lakukan adalah membakar buku ini." gumamnya dalam hati.

Ia menoleh, mendapati sosok Jongin yang bersandar pada kasur sambil menatap layar ponsel yang ia balik dan Kyungsoo sudah langsung tahu apa yang sedang pria tidak berguna itu lakukan.

"Hei, ini tugas kelompok." tegurnya.

"Iya, Kyungsoo. Sebentar. Ini tanggung."

"Apa kau mau tanggung jawab juga kalau nilai kita nol?" Kyungsoo memukul kaki Jongin yang melintang santai dekat tubuhnya menggunakan penggaris bening panjang berlogo kupu-kupu yang sedang ia pegang.

Bukannya menghentikan sejenak permainannya, Jongin malah mengeluh manja seperti anak SD yang merajuk. "Please,Kyung. Satu lagi dan- WHOA, PENTAKILL! Yes, akhirnya Epic!" Jongin meloncat-loncat sendiri seperti orang kerasukan, masih sambil memencet layar ponselnya menggunakan kedua ibu jarinya.

Kyungsoo menghela napas untuk kesekian kalinya. Percuma dirinya membuang tenaga dan waktu untuk mengomeli pria berkulit eksotis itu. Jongin begitu keras kepala, Kyungsoo sangat tahu itu mengingat dirinya selalu satu kelompok dengannya. Jadi yang Kyungsoo lakukan sekarang adalah kembali melanjutkan 'tugas kelompok'-nya agar bisa cepat pulang.

Yang bisa terdengar setelah itu hanyalah detak jarum jam, bunyi yang timbul akibat guratan pulpen dengan kertas, dan dengkuran anjing pudel Jongin yang tertidur pulas bersandar pintu kamar. Kyungsoo mengetuk-ngetuk pulpennya pada pelipisnya, mencoba menggali inspirasi dan ingatannya akan penjelasan sang guru.

"Kyungsoo." panggil sosok yang sudah telentang di atas kasur, masih sibuk dengan Mobile Legend-nya. Yang dipanggil pun reflek menoleh, menduga apakah akhirnya Jongin ingin membantu tugas ini.

"Apa kau lapar?" Pertanyaan itu otomatis membuat Kyungsoo membanting pulpennya ke lantai.

Tarik napas, buang. Tarik, buang. Pejamkan mata, tarik lalu buang.

"Memang kenapa kalau iya?" jawab Kyungsoo dengan nada kesal.

"Yuk, makan martabak."

Ada satu hal yang sama-sama disukai keduanya, yang membuat mereka langsung akur seperti diberi mantra sihir. Martabak keju.

"Kau- ugh. Bukannya membantu agar tugasnya cepat selesai malah semakin menghambat-"

Jongin sudah mengganti seragam sekolahnya dengan kaus dan celana selutut, mengambil dompet dan menggendong anjingnya yang menghalangi pintu.

"Hei, hei! Argh! Tunggu aku!" Kyungsoo buru-buru memasukkan secara asal semua barangnya yang berceceran ke dalam tas dan menyusul Jongin yang sudah keluar kamar.

Dan di sinilah mereka sekarang. Duduk di dalam kedai martabak langganan yang bahkan tanpa memberitahu apa pesanan mereka sang penjual sudah tahu.

"Martabak keju dengan susu yang banyak?" Seorang pelayan meletakkan seporsi pesanan mereka ke meja dan berlalu. Jongin dan Kyungsoo sama-sama tidak bisa mengontrol ekspresi sumringahnya. Ah, andaikan saat mengerjakan tugas sialan itu bisa sesumringah ini. Jongin mengulurkan selembar tisu kepada Kyungsoo dan mulai menikmati hidangan pendamai mereka itu.

Jongin selalu begitu, dan Kyungsoo selalu menurut. Entah sekesal apa pun Kyungsoo kepada pria itu, pria itu selalu tahu cara memadamkan api amarah Kyungsoo. Seperti sudah mengenal lama satu sama lain.

"Daaaaan sekarang aku di sini, tugasku belum kelar, dan harus dikumpul besok. Aaaaah! Baekhyun-hyung, bagaimana ini!?" Kyungsoo mengusap sofa yang ia duduki menggunakan tisuㅡia memiliki kebiasaan untuk mengelap barang di sekitarnya memakai tisu jika sedang kesal.

Baekhyun, pria yang bersurai coklat mengkilap tadi, memeluk kepala sang adik dengan penuh sayang. "Aku akan mencekik si hitam itu, oke? Lihat wajah adikku tersayang ini," Ia mengelus pipi Kyungsoo, "Duh, aku saja tak tega melihat wajah sedihmu." Ia memeluk kepalanya lagi, kali ini lebih erat sampai Kyungsoo kesulitan bernapas.

"Hyung, aku tidak bisa napas, lepaskan aku-" Kyungsoo mencoba melepaskan diri dan Baekhyun pun berhenti menggoda sang adik.

Baekhyun dan Kyungsoo bukanlah kakak-beradik kandung. Keluarga Byun kala itu hanya bisa dikarunai seorang anak laki-laki bernama Baekhyun, dan Baekhyun yang baru berusia lima tahun sangat kesepian. Ia menginginkan seorang adik, namun sang ibu tak bisa mengandung lagi. Lalu mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak dari kerabat dekatnya yang sedang mengalami krisis ekonomi waktu itu. Ya, anak yang diadopsi itu adalah Kyungsoo. Baekhyun senang bukan kepalang saat melihat Kyungsoo yang satu tahun lebih muda tinggal bersama dirinya di rumah; bersama-sama belajar dan bermain, menghabiskan hari demi hari hingga Baekhyun berkuliah dan Kyungsoo menduduki tahun terakhirnya di sekolah menengah atas di Jakarta.

Tak perlu lagi menanyakan seberapa sayang pria yang lebih sipit itu kepada adiknya. Ketika Kyungsoo di-bully karena berdarah Korea saat sekolah dasar, Baekhyunlah yang melaporkan pembullytersebut ke pihak sekolah. Ketika Kyungsoo dilirik oleh banyak orang saat sekolah menengah pertama karena memiliki paras yang rupawan, Baekhyunlah yang memasang tatapan tajam dan galak agar orang-orang tersebut tidak berinteraksi dengan sang adik. Ketika Kyungsoo sekarang berjuang di sekolah menengah atas, Baekhyunlah yang bersikukuh mengantar-jemput Kyungsoo karena takut ia diculik. Seorang kakak yang sangat posesif, Baekhyun suka menyebut dirinya dengan sebutan itu.

Tapi Kyungsoo tidak suka tindakan Baekhyun yang terlalu mengekangnya. Ia ingin kebebasan, ia ingin mengeksplor dan merasakan dunia yang sebenarnya mengingat ia telah menginjak usia delapan belas tahun. Jika ia harus membandingkannya dengan penanggalan umur di Korea, maka ia sudah sembilan belas tahun.

Sayangnya, sekeras kepala apa pun Kyungsoo yang terus merengek agar Baekhyun berhenti bersikap layaknya seorang kakak sekaligus penguntit, pria yang lebih tua akan tetap melakukan hal yang sama, mengekang persis seperti Kyungsoo adalah miliknya seorang. Tidak ada yang boleh menjatuhkan pandangannya pada Kyungsoo.

Beberapa kali pria dengan rambut poni yang menutup sepertiga dari dahinya merengek, terkadang ia sampai marah sampai mengurung diri di dalam kamar salah satunya ketika ia diajak oleh teman-temannya untuk makan di McDonald's namun yang Baekhyun lakukan adalah duduk di meja yang berjarak sejauh dua meter dengan pakaian aneh yang mengundang tatapan tidak nyaman dari orang-orang, termasuk teman-temannya. Akibatnya, Kyungsoo juga tidak jarang menjadi bahan tertawaan.

"Itu kakakmu atau pacarmu, sih?"

"Posesif sekali." tambah yang lainnya.

"Kakak rasa pacar, kali."

"Kyungsoo juga cantik kalau ia menjadi tunangan hyung-nya."

Kyungsoo tidak pernah mengindahkan kata-kata tersebut melainkan pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan sesapan Cola-nya.

.


.

Resah adalah satu kata yang paling bisa dengan sempurna menggambarkan perasaan Kyungsoo beberapa tahun terakhir.

Kyungsoo merasa dirinya seperti terkena sebuah kutukan. Setiap pergantian tahun, ia akan merasa sedih secara tiba-tiba dan tanpa alasan, bahkan hingga menangis sesengukan yang mengakibatkan matanya bengkak luar biasa. Seisi rumah tidak ada yang mengetahui tentang persoalan ini. Kyungsoo lebih memilih menyimpannya sendiri ketimbang mendengar nasehat demi nasehat yang sama sekali tidak membantu dan malah menambah beban pikiran. Ia lebih memilih untuk menemukan petunjuk lain sendirian.

Karena itulah ia mulai menyelidiki hal ini saat dirinya menginjak tingkat kedua sekolah menengah pertama. Dalam buku catatan kecil seukuran kantung celana yang ia simpan rapat-rapat di sisi paling dalam lemari bukunya, tertulis berbagai coretan dan tulisan hasil spekulasi. Setiap kali perasaan resah yang tak lazim itu hadir, ia akan membuka buku catatan tersebut dan mencatat semua yang bisa ia catat. Bagaimana perasaannya, di mana ia merasakannya, saat sedang melakukan apa, bersama siapa, hingga tanggal dan pukul berapa ia merasakan perasaan aneh itu.

Kyungsoo butuh bantuan karena perasaan itu semakin membuatnya gusar sebelum seorang anak baru di kelas 10 bernama Sehun datang. Awalnya mereka sangat canggung, namun tiba-tiba berteman baik begitu saja saat Kyungsoo memberikan pria tinggi tersebut segelas Chataime 'buy 1 get 1' karena dirinya tidak kuat menghabiskan dua gelasmilk tea. Selain menyukai minuman manis tersebut, Sehun juga suka membaca buku fiksi dan mistis. Ia percaya dengan takhayul dan makhluk gaib, mungkin akibat dari neneknya yang suka menceritakan berbagai kisah astral saat ia kecil.

Entah apa yang mendorong Kyungsoo untuk menceritakan keanehan yang dirasakannya beberapa tahun terakhir kepada Sehun. Ia menceritakannya secara detil bahkan hingga bagian yang tidak terlalu penting, namun Sehun masih betah mendengarkan. Malah dia tampakexciteddan sangat penasaran.

Sehun menepuk pundak Kyungsoo dan menatapnya dalam-dalam. Untung saja siswa-siswi lain masih berkeliaran di kantin sehingga kelas hanya tersisa mereka berdua dan beberapa anak lain yang belum mengerjakan pekerjaan rumah.

"Aku sangat yakin, Kyungsoo, kau terkena santet."

Kyungsoo menepis tangan Sehun dari pundaknya dan berdiri. Sia-sia ia bercerita panjang lebar tapi malah direspon sekonyol itu.

Hingga detik ini, di mana Kyungsoo telah menginjak tingkatan terakhir sekolah menengah atas, Kyungsoo masih belum mengetahui alasan di balik kejanggalan yang ia rasakan.

Ada dua hal yang saling berkesinambungan satu sama lain dari catatan kecil miliknya: mimpi sampai menangis dan merasa gundah di hari ia terbangun dari mimpi itu.

Setiap bulan, Kyungsoo akan terbangun sambil terengah-engah. Pipinya akan terdapat jejak air mata yang entah dari mana datangnya. Kyungsoo menangis dalam lelapnya, menangisi entah apa yang berada di alam mimpi. Yang ia ingat hanyalah wajah samar seorang pria dengan senyum menawan yang memancarkan kedamaian. Kyungsoo sama sekali tidak mengenali pria itu, namun ia merasa begitu kenal. Ia merasa dirinya mencintai pria itu dan hatinya berdenyut tidak karuan ketika mimpi itu mulai memudar. Ia merasa kehilangan jejak akan ingatan namun ia mampu merasakannya dengan jelas. Seperti orang hilang, gusar, penuh ketakutan dan kegelisahan.

Benar-benar aneh, mungkin benar kata Sehun bahwa dirinya terkena santet.

Kyungsoo melemparkan pandangannya ke luar jendela, mencuci matanya dengan pemandangan langit yang meski sarat bintang namun tetap indah berkat rembulan. Ia sudah cukup sakit mata melihat tulisan hasil laporan yang baru saja selesai.Akhirnya.

Puas menikmati bulan sabit, Kyungsoo menutup tirai dan merebahkan tubuhnya ke atas kasur, membuka ponselnya yang sudah dihujani berpuluh-puluh notifikasi dari grup kelas. Kyungsoo yakin seratus persen isinya tidak ada yang berfaedah. Ia pun men-scroll dan isinya hanyameme, 'WKWK' yang di-caps lock, meme lagi, meme lainnya, 'Wkwk' panjang. Tidak ada yang membahas ujian akhir semester yang dalam hitungan hari akan dimulai, tidak ada yang membahas pelajaran tertentu. Mungkin semuanya sudah terlanjur berserah kepada Yang Maha Kuasa.

Notifikasi bertubi-tubi dari kontak ber-display picture anjing pudel reflek membuat Kyungsoo membuka ruang chat mereka.

KJI: Sudah sampai rumah dengan selamat, kan? Maaf tidak bisa mengantar

KJI: (stiker sorry)

KJI: (stiker sorry)

KJI: (stiker sorry)

Kyungsoo: Sudah.

Kyungsoo: Tugasnya juga sudah kelar. :)

KJI: (stiker wow)

KJI: (stiker thank you)

KJI: Setelah UAS hari pertama kita martabak lagi, yuk.

Kyungsoo: Tidak bisa, Baekhyun-hyungakan mencekikmu.

KJI: (stiker please)

KJI: Kutraktir deh!

KJI: Sekalian ajari aku fisika hehehe

Kyungsoo: (stiker OK)

Lihat? Kyungsoo begitu lemah pada martabak.

Dan rayuan Kim Jongin.

.


.

Kyungsoo tiba-tiba terlonjak dari kasurnya, terduduk dan terengah.

"Pria itu lagi…." gumamnya pelan sambil memijat pelipisnya. Air mata seketika mengalir begitu saja dari ujung maniknya, Kyungsoo reflek menutup mulutnya agar isakan tidak terdengar.

Entah kenapa Kyungsoo mengambil kalender dan menuliskan tanggal hari ini pada halaman baru catatan kecil penuh rahasia miliknya. "Tanggal 12… Hari ini 12 Desember 2018…"

Manik Kyungsoo sontak terbelalak, terkejut bukan main saat melihat kesamaan di antara gejala-gejala aneh yang ia catat di buku catatannya. Semua tangisan dari mimpi itu terjadi pada tanggal 12 setiap bulannya.

Pria setinggi sekitar 170 cm tersebut lantas bergegas masuk kamar mandi untuk membasuh wajahnya menggunakan air agar matanya tak bengkak. Ia harus ujian hari ini dan semua orang akan menatapnya penuh bingung jika wajahnya sembab.

"Kyungsoo, aku tunggu di mobil, ya!" teriak Baekhyun dari luar kamar setelah mengetuk dua kali, membuat Kyungsoo buru-buru merapikan buku-bukunya ke dalam tas dan keluar dengan seragam yang masih berantakan.

"Maaf hyung, aku terlambat bangun tadi." Kyungsoo duduk di sebelah kursi setir dan menutup pintu mobil. Tanpa perlu menunggu lama Baekhyun pun menginjak pedal gas dan melaju.

Baekhyun yang masih hanya mengenakan kaus kebesaran dan celana selutut menoleh ke sebelah kiri dan merapikan poni Kyungsoo. "Bajumu bahkan masih keluar-keluar begitu." kekehnya.

Di lampu merah, Baekhyun memperhatikan Kyungsoo dari ujung kaki ke ujung kepala. "Matamu kenapa agak bengkak? Kau menangis?" tanya pria yang lebih tua setahun itu dengan nada penuh kekhawatiran.

Kyungsoo hanya bisa mengangguk dan menyengir tipis. "Materi ujian hari ini sangat banyak, jadi ya begitulah…."

"Aw, adikku yang malang," Ia mencubit pipi gempal Kyungsoo dengan gemas, pipinya bahkan lebih chubby dibanding boneka Mampang yang biasa berjoget di pinggir jalan. "Sebentar lagi kau akan keluar dari neraka itu kok."

"Tapi masuk ke neraka baru lagi." timpal Kyungsoo membuat keduanya tertawa.

Sebenarnya Baekhyun tidak percaya begitu saja dengan alasan yang diberikan adiknya barusan. Namun menanyakan hal yang tidak lebih penting dari materi ujian juga bukan jalan keluar. Firasatnya buruk, namun memilih bungkam. Yang ia tahu adalah Kyungsoo harus melakukan ujiannya dengan baik karena Baekhyun menginginkannya masuk ke salah satu universitas terbaik yang kebetulan tidak jauh dari rumah mereka.

Lagi-lagi Baekhyun yang menentukan. Hal ini tentu menjadi sebuah alasan agar pria itu bisa mengawasi adiknya dua puluh empat jam dikurang jam tidur karena ia tahu Kyungsoo tidak pernah bertindak yang tidak-tidak.

"Good luck!" serunya di ujung waktu ketika Kyungsoo beranjak keluar dari mobil.

Selama ujian, otak Kyungsoo terus dibayang-bayangi oleh sang pria misterius di dalam mimpinya. Ujian ini seharusnya mudah, namun malah menjadi sulit karena benaknya tak bisa diajak kompromi di saat yang tidak tepat.

Kyungsoo mengacak-acak surainya frustrasi sambil sesekali melirik ke arah jam dinding di atas papan menit pun menggeleng seakan pikiran-pikiran tersebut bisa terusir, dan mengerjakan beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab sebisa dirinya.

Lima menit lagi.

"Ah, masa bodo. Dapat ongkos tulis juga sudah bersyukur." gumamnya dalam hati dan mengumpulkan kertas jawabannya ke meja pengawas ujian sebelum kembali duduk di kursinya dengan gontai.

"Apakah sesusah itu?" tanya Jongin yang duduk di seberang kirinya. "Kau kelihatannya stress sekali." Ia mengenakan ranselnya dan mengeluarkan ujung kemeja seragam yang tadinya rapi di dalam celana.

Kyungsoo hanya melipat kedua tangannya dan menyembunyikan wajahnya ke dalam sana. Namun ia merasa sesuatu terus memainkan telinganya.

Baru saja ia ingin marah, Jongin kembali mengatakan mantra ajaib yang selalu dia pakai. "Martabak, yuk."

Keduanya lagi-lagi ditemukan sedang menikmati seporsi martabak keju susu yang wanginya sangat penuh dosa. Hening, tak ada yang berbicara sama sekali, terlalu fokus menggunakan indera perasa mereka pada sepotong martabak yang diapit di tangan. Tapi Jongin sangat tidak tahan dengan kesunyian seperti ini.

"Aku masih tidak menyangka kau kesulitan mengerjakan ujian Bahasa, ya aku juga orang Korea sepertimu, sih, tapi tadi soalnya biasa saja, ah." ucap Jongin mencoba membuka topik pembicaraan.

Kyungsoo ragu apakah ia harus memberitahu Jongin mengenai mimpi anehnya itu. Dirinya ragu apakah Jongin tidak akan menganggapnya sebagai seorang freak atau apalah setelah mendengar cerita darinya. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan? Lagipula jika setelah ini Jongin tidak mau berteman dengannya lagi, harusnya dirinya bersyukur karena tidak perlu dibebankan lagi.

"Jongin." panggil Kyungsoo yang membuat pria berkulit lebih eksotis itu tidak jadi memasukkan potongan martabak ketiganya ke dalam mulut.

"Apakah kau pernah merasakan resah yang tidak jelas?"

Jongin masih menatapnya dengan tatapan bingung, otaknya berusaha memproses apa yang Kyungsoo baru saja katakan. Ia kesulitan untuk sinkron karena demi apa pun martabaknya begitu menggoda jiwa raga.

Melihat Jongin yang masih 'tablo', Kyungsoo menghela napas singkat. "Aku menceritakan ini padamu karena aku sudah tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Jadi jangan anggap dirimu sespesial itu, oke?"

Ia menggigit bibir bawahnya ragu, kemudian akhirnya bercerita, "Beberapa tahun terakhir, aku selalu memimpikan sosok yang sama. Seorang pria, tersenyum, menghilang, lalu aku terbangun sambil menangis."

"Tapi setahun terakhir ini, mimpiku semakin terasa nyata… dan jelas. Seperti kepingan puzzle yang meminta untuk disambungkan satu sama lain membentuk sebuah cerita yang begitu menyedihkan." lanjut Kyungsoo.

"Siapa pria itu?"

"Kalau aku tahu aku tidak akan curhat begini, bodoh."

"Hehe, maaf. Lanjutkan ceritamu."

"Aku sendiri tak begitu yakin, tapi mimpi itu ingin memberitahuku sesuatu."

"Oh, sepertinya aku tahu!"

Kyungsoo menanti lanjutan kalimat Jongin.

"Sepertinya kau terkena santet?"

Kyungsoo menendang kaki Jongin dari bawah meja dengan keras, membuat beberapa pelanggan lain menoleh. Pria yang menerima tendangan tersebut hanya bisa meringis dan mengatakan 'Ampun'.

"Kau sama saja dengan Sehun, sama-sama tidak membantu." gerutu Kyungsoo sambil mengunyah martabaknya kesal.

.


.

"Kyungsoo! Main, yuk!" teriak seseorang dari luar rumah yang suaranya terdengar hingga ke dalam kamar Kyungsoo yang terletak di lantai dua. Kyungsoo pun mau tak mau menjeda kegiatan belajarnya dan mengintip dari jendela.

Oh. Hanya Sehun.

Ia keluar dari kamar dan mendapati Sehun sudah duduk di ruang tamu denganbackpackberisi buku-bukuㅡKyungsoo sangat yakinㅡdan Baekhyun yang sedang melihat si pria tinggi dari atas hingga ke bawah hingga ke atas lagi. Ini bukan kali pertama Sehun berkunjung ke rumahnya, tapi ya begitulah Baekhyun.

"Kau tidak bilang mau datang."

Sehun mengendikkan bahu sambil merebahkan diri ke atas kasur Kyungsoo. "Aku bosan di rumah."

"Besok ujian dan kau malah bisa bilang 'bosan'!?" Yang ini adalah Baekhyun. Ya, dia ikut masuk ke dalam kamar Kyungsoo. Takut terjadi yang iya-iya, katanya.

"Besok hanya Bahasa Inggris, aku sudah belajar banyak dari game." balas Sehun sebelum menjulurkan lidahnya jahil pada Baekhyun.

Kyungsoo menatap sang kakak, memintanya untuk meninggalkan mereka berdua di dalam kamar. Namun Baekhyun tidak mengerti kode yang diberikan oleh sang adik.

"Hyung, aku ingin membicarakan hal penting dengan Sehun."

"Hal penting apa?"

"Hal yang hanya sesama pria ketahui."

"Kau pikir aku bukan pria juga!?"

"Aish, hyung. Please, kumohon, dia tidak akan berani mengapa-apakan aku. Aku seratus ribu persen menjamin."

Baekhyun masih belum ingin beranjak.

Kyungsoo terpaksa menunjukkan aegyo-nya.

Baekhyun kalah telak.

Usai Baekhyun menghilang dari balik pintu, Kyungsoo langsung mengerang frustrasi. "Sekarang kau tahu kan kenapa aku masih jomblo sampai saat ini? Aku seperti terkena kutukan dari masa lampau-"

"AH!" Sehun tiba-tiba berteriak dan membuat Kyungsoo menjeda kalimatnya.

"Kenapa?"

"Kau barusan mengatakan itu!"

"Yang mana?"

"Coba kau katakan lagi."

"Aku saja tidak tahu yang kau maksud yang mana!"

"Masa lampau! Itu dia!"

Kyungsoo menatap Sehun bingung, benar-benar clueless dengan apa yang pria berparas bak model itu ingin katakan.

"Kemarikan buku catatan kecilmu itu." Kyungsoo menurut dan mengambilkan buku tersebut kemudian menyerahkannya pada Sehun.

Sehun menyibak lembar demi lembar catatan tersebut sambil menunjukkannya pada Kyungsoo. "Aku yakin kau memimpikan masa lalumu, Kyungsoo."

"Aku tidak mengerti, Sehun."

Sehun mengeluarkan sebuah buku yang sampulnya terdapat tulisan besar 'Reinkarnasi' dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas paha Kyungsoo. "Kau baca ini dan mungkin kau akan mengerti."

Selembar demi selembar Kyungsoo membolak-balikkan helaian kertas yang menjelaskan tentang banyak hal, kehidupan, jiwa, kesadaran, roh yang sama sekali tidak familiar baginya. Kepalanya seperti ingin pecah karena setiap paragraf di mana maniknya bertumpu tidak terlihat masuk akal sama sekali, setidaknya untuk dirinya.

Setiap lembarnya menceritakan tentang ingatan akan orang-orang yang mengingat masa lampaunya. Dituliskan bahwa seorang anak kecil selalu memohon kepada kedua orang tuanya untuk pulang ke rumah yang berada di Hollywood ketika mereka tinggal di Manchester sejak ia berumur empat tahun. Bocah itu juga mengatakan bahwa ia mengenal artis Hollywood Rita Hayworth dan mengaku pernah bekerja di Broadway Production. Dan bersama dengan detil-detil lainnya ketika anak itu mampu mengingat dua adik perempuan yang dimiliki oleh seorang pria yang diduga adalah dirinya di masa lampau, Kyungsoo menjatuhkan rahangnya ke lantai.

"Sehun, ini tidak mungkin."

"Kenapa tidak? Itu semua sudah terbukti. Bisa saja kematian seseorang diakibatkan karena kesedihan yang berlebih yang menyebabkan perasaan tetap melekat hingga ingatan juga ikut terkena dampak." jelas Sehun panjang lebar seraya mengendikkan bahu, masih fokus pada tulisan-tulisan yang sama mencoba mencerna lebih jauh.

"Tapi jika itu bukan kesedihan? Pria dalam mimpiku tersenyum, bukan menangis."

Yang ditanya masih bergeming, Kyungsoo melamun sejenak sebelum Sehun kembali berseru yang mana membuat jantung Kyungsoo mencelos keluar.

"Lihat," Ia menggeser buku tebal itu mendekat pada Kyungsoo dan mulai membacakan setiap kalimat yang terdengar sinkron dengan apa yang terjadi oleh sahabatnya, "jika perasaan itu menyakitkan, maka biasanya seseorang cenderung akan menangis. Walaupun yang diingat hanyalah kebahagiaan, namun perasaan resah, gundah, tidak nyaman, pasti ada." Sehun menatap wajah Kyungsoo lurus, yang dipandang merasa ia tengah ditelan bulat-bulat.

"Tapi…"

"Apakah kau bisa ingat lebih jelas, apa pun yang ada di dalam mimpimu?"

"Sudah kutuliskan semua di buku…"

"Bentuk bibir dari pria yang tersenyum itu, sudah digambar?"

Kyungsoo menggeleng, tampak tidak mengerti dengan usulan konyol yang diberikan Sehun.

"Cepat digambar!"

Kyungsoo yang mulai merasakan pelupuknya perih buru-buru meraih buku catatan kecil miliknya, mengabaikan rasa gundah yang merangkak naik karena setiap kali ia mengingat mimpi itu dirinya terasa seperti dicekik.

"Kau ingat yang lain lagi?"

Kyungsoo mengerutkan kening, sebelum membulatkan mata tidak percaya pada dirinya sendiri. "Astaga Sehun! Aku ingat kalau pria itu... meninggal dibunuh karena ditusuk."

"Di bagian mana ia ditusuk?"

"Di dada bagian kiri? Kurasa di jantungnya?"

"Bagus! Seperti ini lebih detil. Kita bisa menemukan kepingan puzzle lain."

Pria yang lebih gempal terisak seraya mengusap pipinya yang kejatuhan satu bulir air mata, bibir ditekuk ke bawah. Dan kemudian Baekhyun masuk ke dalam kamar.

"Kyungsoo, kau kenapa?"

Yang dipanggil buru-buru menyeka sisa air mata. Dan merengek, "Hyung! Bisakah kau jangan masuk tiba-tiba?"

"Aku hanya khawatir. Kau kenapa?" ulangnya sekali lagi.

Baekhyun selalu memiliki firasat tentang Kyungsoo yang hendak diculik oleh orang, disakiti, atau ketika adiknya merasa tidak nyaman. Ia juga tidak mengerti mengapa instingnya begitu kuat. Semua yang ia lakukan seperti gerak refleks.

"Tidak apa-apa! Sana keluar!" usir Kyungsoo galak. Sehun menggelengkan kepalanya ketika ditatap dengan tajam oleh pria yang bermata lebih sipit.

"Hyung…, keluarlah." rengeknya sekali lagi untuk membuat Baekhyun benar-benar menghilang di balik pintu.

Satu napas lolos dengan pasrah. Kyungsoo tidak mengerti lagi apa yang harus dipikirkan. Segala sesuatu menjadi rumit, ujian, reinkarnasi, mimpi. Semuanya bercampur menjadi satu seolah berperang untuk menguasai pikirannya yang sudah terkikis setengah.

"Sehun pulanglah, aku mau belajar."

"Baiklah, selamat belajar, Kyungsoo." katanya sembari mengacak rambut pria berperawakan lebih pendek. Kyungsoo hanya bisa mencibir dalam diam karena fakta telah mengatakan segalanya. Sehun tidak hanya tinggi, namun berparas terlampau menawan. Sayangnya anak itu agak aneh, menyukai sesuatu berbau astral.

Manusia memang tidak ada yang sempurna.

.


.

Dua cangkir kopi belum juga tersentuh, asapnya mengepul menjembatani manusia yang duduk canggung dalam sebuah kantin sekolah.

"Tadi ujiannya tidak susah, kan?"

Yang ditanya hanya refleks menggeleng, bukan untuk menjawab 'tidak susah' namun mengucapkan 'tidak tahu' dalam hati.

Sudah beberapa hari sejak mimpi buruk itu menghantuinya namun Kyungsoo tetap saja tidak seceriwis biasanya. Kyungsoo akan marah-marah jika ia tidak bisa mengerjakan ujian, tapi kali ini, ia lebih tidak peduli daripada Jongin yang sudah pasrah.

Ia perawani cangkir di depannya. Kyungsoo sangat jarang minum kopi. Namun kali ini, otaknya harus tetap segar di belantara kegamangan. Pria itu hanya tidur selama beberapa jam dan itupun bukan tidur pulas yang sungguh-sungguh berkualitas, mengakibatkan pelipisnya berdenyut hari ini. Ditambah lagi, ia telah berjanji pada pria di depannya untuk mengajarkan fisika.

"Sudah mau pulang?"

Kyungsoo mengangguk lemah. "Ya sudah, kau tunggu di pagar aku ambil tas dulu di dalam kelas."

Kyungsoo tidak seceroboh Jongin, ia telah mengambil tasnya tadi dan beranjak menuju pagar sekolah. Ia tampak banyak melamun sebelum seseorang berteriak tidak jauh dari sana.

"Kyung! Kyungsoo!"

Dia lagi. Dia lagi.

"Kenapa kau datang kesini, hyung?"

"Menjemputmu. Aku tidak telat, kan?"

Yang lebih kecil membulatkan matanya. Baekhyun ada di sini yang berarti keselamatan Jongin terancam. Buru-buru ia menggeleng. "Aku akan ke rumah teman untuk belajar fisika. Besok ujian itu."

Baekhyun mengernyit curiga, setengah tidak percaya, setengah kecewa karena adiknya tidak akan berada dalam pengawasannya dalam beberapa jam. Namun bukan Baekhyun namanya jika ia tidak bisa memaksa Kyungsoo.

"Baiklah aku bis mengantarmu ke sana!"

"Tidak! Tidak perlu!"

"Kau sendirian?"

"Tidak. Sama teman."

"Ya sudah, sekalian saja."

"Tidak perlu, hyung. Aku sudah besar. Mau sampai kapan aku seperti anak kecil yang diantar-jemput oleh kakaknya sendiri?"

"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin melindungimu. Itu salah?"

"Ya tentu salah. Aku laki-laki, hyung. LAKI. LAKI."

"Ku antar sampai depan pagar rumah temanmu."

"Tidak."

"Depan kompleks."

"Tidak."

"Ayolah. Ini bahaya."

"Hyung!" Kyungsoo membentaknya cukup keras hingga seorang satpam menoleh ke arah mereka. Alih-alih ia tidak peduli. "Berhentilah seperti ini. Aku bukan anak kecil dan aku laki-laki. Aku bukan pacarmu yang harus kau jaga setiap menit."

Kalimat itu meleset keluar begitu saja tanpa aba-aba. Baekhyun yang dimarahi oleh Kyungsoo terhenyak, hanya bisa menghela napas dan bergumam 'baiklah, hati-hati' sebelum melajukan mobilnya di tengah jalan raya yang padat.

Pria dengan rambut poni panjangnya menghembuskan napas dalam, sedikitnya merasa bersalah namun Baekhyun tidak pernah sadar bahwa ia telah memperlakukan Kyungsoo terlalu semena-mena, terlalu posesif, seperti tunangannya. Kyungsoo bahkan tidak berani membayangkan siapa pun yang akan berpacaran dengan kakaknya itu, harus kuat lahir batin.

"Hei."

"Kenapa lama sekali?" tanya Kyungsoo seraya mengusap seragam sekolahnya yang tidak kotor. Jongin menatapnya aneh, ingin bertanya namun takut dimarahi karena pria itu tidak sedang terlihat ramah.

"Ini." Jongin mengulurkan sebuah buku yang tidak begitu tebal namun hanya disambut dengan "Apa lagi!" milik Kyungsoo yang paling ketus.

"Jangan marah-marah kenapa, sih." balasnya lagi masih memandangi Kyungsoo yang mengalihkan pandangan dari bersih-bersih dirinya yang tidak kotor.

Kyungsoo mengambil barang pemberian Jongin walaupun pria yang lebih tinggi tidak mengharapkan ucapan terima kasih apalagi sebuah senyuman, selanjutnya Kyungsoo memasukkan buku itu ke dalam tasnya, bahkan enggan untuk mengintip judulnya saja.

"Ayo jalan."

Kyungsoo duduk di belakang menolak untuk berpegangan pada pria di depannya ketika Jongin menyalakan mesin motor dan siap melaju. Alih-alih, ia selalu berakhir meremas sisi kiri kanan seragam Jongin dan menutup matanya rapat-rapat walau sudah berulang kali diingatkan oleh pria tinggi itu bahwa Kyungsoo sudah cukup sipit untuk partikel debu masuk ke matanya. Dan yang lebih kecil akan membela diri dengan mengatakan bahwa ia takut dengan cara Jongin yang agak semrawutan jika sudah mengendarai motor atau menyetir mobil.

Mereka sampai di rumah dengan waktu yang singkat, tidak ada Suho hari itu karena Jongin mengatakan kalau kakaknya harus pergi untuk urusan pekerjaan.

"Paling tidak pulang lagi. Ia sudah lelah mengurusmu." kata Kyungsoo di sela belajarnya yang sudah berlangsung selama lima puluh lima menit setelah pemilik rumah memberitahu di mana Suho berada.

Lebih anehnya lagi, Kyungsoo menarik sehelai tisu yang dapat dijangkau oleh tangannya dan mulai membersihkan meja kaca penuh sampah penghapus. Ia bahkan mengusapnya hingga mengkilap. Jongin yang memperhatikan kegiatan aneh temannya refleks bertanya. Kali ini benar-benar spontan karena pria itu memang agak polos.

"Kyung..."

"Apa."

"Kenapa kau suka mengelap sesuatu?"

"Kesal. Karena kesal. Daripada marah-marah, lebih baik bersih-bersih."

"Tapi kau tetap terlihat marah?" godanya.

Kyungsoo refleks melempar pria itu dengan sebuah stabilo secepat laju cahaya.

"Yah!"

Setelah hampir empat jam mereka membicarakan sesuatu mengenai torsi, kerapatan, interferensi, Jongin menghempaskan tubuhnya di kaki sofa yang berada di belakang seraya menghela napas panjang. Kyungsoo masih asyik tenggelam dalam dunianya sendiri yang begitu hening sampai tidak menyadari bahwa rambut Jongin lebih mirip dengan jerami yang tertiup angin topan, air wajah mendadak keriput dan bibirnya dikerucutkan.

Butuh sekitar tiga menit sebelum Jongin memutuskan untuk menyadarkan Kyungsoo dari dunianya dengan cara mengerang penuh frustrasi. Yang dipanggil hanya menoleh acuh sebelum melanjutkan menjawab lima soal terakhir dari dua puluh lima.

"Kyungsoo."

"Hm."

"Aku lapar."

Kyungsoo tidak ingin diingatkan seberapa cintanya ia terhadap makanan terlepas dari rasa lapar atau pun tidak. Bagi Jongin, kali ini ia benar-benar lapar karena selama empat jam berturut-turut Kyungsoo menjelaskan sesuatu yang sulit dicerna oleh pikirannya. Ditambah, kegiatan belajar mereka hanya ditemani dengan segelas jus jeruk dan satu kotak es krim Haagen Dazs yang dibagi berdua. Kyungsoo yang suka makan dan Jongin yang selalu makan terlepas dari perawakannya yang jauh lebih kurus dari Kyungsoo.

"Martabak, yuk."

"Belajar dulu, Jongin." Kyungsoo mencoba menolak, ia tidak terlalu bernapsu makan hari ini, tapi jika itu menyangkut martabak, es krim, keju, kue, tidak ada kata tidak untuk mereka semua.

"Tapi aku lapar…. Aku tidak bisa belajar kalau lapar. Lagipula tinggal lima nomor. Aku bisa pasrahkan itu jika sepuluhnya bisa dijawab."

"Tsk. Bukan begitu caranya belajar." Kyungsoo kembali fokus pada soal-soal latihan sebelum membereskan buku dan alat-alat tulis. Jongin baru saja ingin beranjak untuk ke kamar kecil namun Kyungsoo mendahuluinya.

"Ayo."

"Ke mana?"

"Makan martabak?" katanya seraya mengerutkan kening lucu ketika menatap ke bawah, membuat matanya tampak lebih lebar seraya senyuman bersembunyi dibalik hati yang berteriak girang.

Tiba-tiba senyuman lebar merekah di bibir pria itu, tidak kalah antusias dari kepura-puraan Kyungsoo yang berniat untuk mengurangi makannya sekaligus selagi mood-nya kurang baik.

Jongin buru-buru berdiri, masih menggunakan seragam sekolah yang sudah dikeluarkan dari celana dan meninggalkan semua barangnya di ruang tamu kecuali ponsel dan dompet. Selanjutnya, mereka berjalan menuju sebuah depot pinggir jalan yang menjual martabak, tempat langganan biasa.

Hening. Keduanya asik menikmati lembutnya adonan yang dilapis mengkilap oleh Wijsman dan mentega, ditambah dengan keju tebal di tengah dan susu kental manis yang meleleh di rongga mulut ketika digigit. Kyungsoo tidak tahu lagi apa yang bisa memperbaiki suasana hatinya jika bukan martabak keju.

Dan anehnya, Jongin selalu mengerti kelemahan Kyungsoo. Dan selalu mentraktirnya setiap kali pria itu mendadak berubah galak.

Pria yang lebih tinggi memasukkan martabak keempatnya ke dalam mulut. Begitu pula dengan Kyungsoo. Kemudian Jongin mengukir sebuah senyuman di balik bibir tebal yang berkilau akibat mentega yang meleleh menjadi minyak, seperti dipoles kepada bibir dengan sengaja.

Kyungsoo tidak mampu menahan senyumannya yang dua kali lebih cerah dari milik Jongin sebelum tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam kantung celana. Buru-buru ia menarik benda itu keluar sebelum memasukkannya lagi.

Baekhyun baru saja menghubunginya melalui seluruh sosial media yang dimiliki Kyungsoo. Kakaotalk, Line, WhatsApp, bahkan Instagram yang tidak pernah aktif.

Setelah menghabiskan satu kotak martabak yang dibagi dua, Jongin mengantar Kyungsoo pulang meskipun itu berarti ia harus kembali ke rumah dan mengambil motor. Pria itu sudah menolak, tapi kali ini Jongin bersikeras hingga Kyungsoo harus mengatakan 'kau sangat keras kepala'. Itu pun tidak menghentikan Jongin untuk berlarian dan kembali dengan suara knalpot yang berisik.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk berhenti dan menatap punggung Kyungsoo yang kian menjauh dari pagar rumah. Jongin menunggunya masuk dan menghilang di balik pintu.

Pukul tujuh lewat dua puluh menit. Kyungsoo menghempaskan tubuhnya di atas kasur, menikmati kepuasan tiada tara dari kelezatan martabak yang selalu membahagiakan hidupnya. Ia juga tidak pernah menyadari apakah itu martabak atau Kim Jongin yang menawarkannya martabak. Sejengkel apapun Kyungsoo pada pria itu, Jongin selalu bisa menyembuhkan amarahnya.

Kyungsoo teringat dengan buku yang diberikan Jongin tadi siang. Sebenarnya ia ingin bertanya dari mana pria itu mendapatkan buku tersebut karena Jongin jarang terlihat mau membaca. Pengumuman libur yang ditempel di mading sekolah saja tidak pernah dilirik.

"Kyungsoo? Kau sudah pulang?" Itu suara Baekhyun dari luar sembari mengetuk pintunya.

"Sudah, hyung." jawab Kyungsoo yang berarti mengundang kakaknya masuk ke dalam kamar, hanya untuk memeriksa dan memastikan bahwa yang lebih kecil baik-baik saja.

"Buku apa itu?"

Baekhyun tidak benar-benar berniat untuk bertanya, ia hanya basa basi.

Yang ditanya baru mulai membuka lembar-lembar bagian tengah sambil bergumam, "Sepertinya buku puisi."

Baekhyun mendengarnya namun tidak berniat untuk tahu lebih jauh. Baekhyun tidak suka hal-hal yang berbau klise. Ia lebih menyukai pertempuran, senjata, apa pun yang mencekam. Ia menyukai film-film sejarah yang menceritakan kisah-kisah tua yang penuh kekejaman terutama yang terjadi di negara yang ditinggali sekarang. Menurutnya itu sangat menarik dan memacu adrenalin. Ia bahkan membayangkan jika dirinya menjadi bagian dari tentara yang harus menembak mati masyarakat awam atau melancarkan serangan bom. Jadi pria itu segera keluar dari kamar Kyungsoo. Baekhyun juga masih sedikit merasa bersalah akibat kejadian tadi siang. Kyungsoo tidak pernah benar-benar marah namun tadi siang berbeda cerita.

Kedua obsidian bulat milik Kyungsoo bertumpu pada jejeran kalimat yang bertuliskan:

Tatkala hidup mampu memutuskan rantai takdir. Saat cinta dikenal, kala itulah aku mendambakan akhir yang bahagia. Niscaya perpisahan harus terjadi, biarkan itu semua menjadi awal di lembayung pagi. Agar penantian menjadi singkat dan pertemuan yang lebih panjang. Aku menginginkan cinta yang menjadi jalan keluar ketika dunia menolak untuk mengabulkan doa.

Setiap kalimatnya menohok Kyungsoo hingga ke ulu hati. Jantungnya berdenyut tak karuan namun tidak ada airmata untuk ditangisi. Rasanya seperti dihujam oleh ribuan anak panah, perih dan pilu. Kyungsoo secara tidak sadar mencengkram dada kirinya, merasakan setiap detak terasa begitu nyeri dan sulit. Kyungsoo merasa dirinya bisa mati kapan pun jika ia terus seperti ini. Menangis untuk hal yang tampak kabur, terluka yang tidak pernah berdarah.

Ia menggigit bibirnya kuat-kuat menahan erangan yang hampir lolos ketika pikirannya kembali dilintasi oleh bayangan senyuman itu. Sudut bibirnya, bentuknya.

Kemudian Kyungsoo ditarik kembali ke kehidupan nyata bahwa senyum itu bukan ilusi. Senyum itu ada. Ia pernah melihatnya di suatu tempat, di satu waktu yang terasa masih sangat dekat. Tapi kapan? Yang ia tahu adalah dirinya telah menemukan seseorang dengan senyum persis seperti yang digambarkan oleh benaknya. Bahkan hingga garis di sudut bibir. Semua itu nyata. Kyungsoo tidak lagi bermimpi.

.


.

Ujian akhir sekolah telah usai, namun ini bukan sebuah pertanda bahwa anak-anak kelas menengah atas tahun terakhir akan dibebas-tugaskan dan dibiarkan tidur dengan tenang. Sebaliknya, sebelum liburan natal dan tahun baru dimulai, mereka harus belajar dan mempersiapkan ujian-ujian yang akan memborbardir mereka tanpa henti. Sebagian bersikap tidak peduli, sebagian lain biasa saja, dan sisanya panik. Jongin termasuk golongan pertama dan Kyungsoo yang terakhir. Bagaimana tidak, mereka dikelompokkan kembali hanya karena memiliki asal usul yang sama, kata orang-orang.

"Sama-sama orang Korea." katanya.

Kyungsoo sebenarnya tidak begitu menolak Jongin lagi karena ia sudah melewati banyak sekali latihan ketika ia harus mengerjakannya seorang diri dan Jongin hanya bertindak sebagai supplier alat tulis. Jangankan alat tulis, pena saja kadang meminjam.

"Hutang jodoh, mungkin." jawab Sehun pada saat Kyungsoo meringis penuh kepahitan ketika kedua kalinya ia harus dipersatukan dengan pria dengan kulit gelap eksotis itu. Kyungsoo memukulnya saat itu, sangat keras, sebelum kemudian ia mulai memikirkan setiap kalimat-kalimat bodoh yang dilontarkan oleh sahabatnya.

Dan sekarang ia curiga apakah Sehun terlibat dalam penyebab sakit kepalanya.

"Tidak, aku tidak kenal kau sebelum ini." katanya acuh seraya menghisap bubble tea. Namun bagi Kyungsoo, setiap kata adalah berharga. Maka ia tidak pernah benar-benar bercanda yang terlewat batas melalui kata-katanya. Jadi ia memikirkan komentar-komentar Sehun seakan pria itu dapat dipercaya.

Malam itu malam tahun baru, hari di mana Jongin akhirnya merasa kesepian dan tidak berkenan untuk maingamesama sekali. Ia telah duduk di ruang tamu selama dua jam berharap siaran TV akan menayangkan sesuatu yang menarik, film Kungfu Panda, misalnya. Namun nihil. Jam terus berdenting dan itu sudah pukul delapan malam. Suho belum kembali, jadi ia sendirian.

Jongin merasa kesepian ketika teman-temannya mengajak untuk keluar rumah dan melakukan barbeque. Ia menolak menggunakan alasan tidak punya uang untuk membeli bahan padahal sebenarnya ia hanya malas. Lalu ia menyesal karena telah menolak. Seharusnya ia bisa saja datang, namun benaknya berkata lain. Satu-satunya yang melintas di pikiran adalah Kyungsoo.

Jongin meraih ponselnya dari nakas dekat sofa dan buru-buru menelepon tanpa mempertimbangkan hal lain. Kemudian senyumannya sumringah ketika suara yang familiar muncul dari seberang sana.

"Halo, Kyungsoo. Kau di mana sekarang? Aku jemput, ya? Kita pergi makan."

"Eh? Sekarang? Tidak bisa, Jongin."

"Loh, kenapa? Aku yang traktir deh!"

"Bukan masalah traktir. Aku sudah diajak pergi oleh Baekhyun hyung."

Tidak ada jawaban lagi di detik berikutnya. Air wajah Jongin berubah drastis dan pria di ujung sana seperti bisa merasakan seberapa murungnya Jongin sekarang sebelum sebuah suara kembali terdengar. "Kau ikut aku saja kalau begitu. Gimana?"

"Hah? Kau bercanda?"

Kyungsoo menggeleng di tempatnya, "Tidak, tidak. Aku serius. Temannya Baekhyunhyungmengadakan acara di rooftop di Kempinski. Kau datang saja ke sana ya? Tunggu aku di lobby."

"Y-Yaudahdeh." jawabnya ragu-ragu. Ia tidak pernah bertemu dengan Baekhyun sebelumnya dan menurut cerita Kyungsoo, kakaknya itu sangat posesif dan galak. Jongin bahkan membayangkan secara konkrit ketika Kyungsoo membohonginya kalau Baekhyun pernah mengurung pria itu di kamar.

Mengingat cerita itu Jongin terpaksa menelan liur bulat-bulat, berharap agar ia akan pulang dengan selamat sehingga Suho setidaknya tidak akan hidup sendirian. Tanpa berpikir dua kali, Jongin melesat ke tempat tujuan dan membiarkan jantungnya mencelos begitu saja ketika Kyungsoo membawanya ke sebuah tempat yang lebih mirip dengan night club.

"Kau clubbing, Kyung?" tanya Jongin masih menggenggam lengan pria yang lebih kecil dengan erat. Maniknya menjelajahi hampir seluruh sudut bar outdoor yang berada di lantai tujuh belas itu. Di sisi lain, Kyungsoo menepis tangan Jongin dengan cepat lalu berdecak lidah, tidak tahan melihat ekspresi wajah Jongin yang terlihat dua kali lebih polos dari biasanya.

"Tsk. Suda kubilang ini pestanya teman Baek hyung!"

"Kenapa seperti night club?"

"Mana aku tahu?"

Kyungsoo membalas dengan mata sama bulatnya seraya alis bertautan satu sama lain. Jongin berhenti mengerutkan keningnya dan mencoba untuk berbaur, masih menarik baju Kyungsoo dari belakang. "Berhenti menarik kaosku, Jongin."

Yang diperingatkan hanya mengerucutkan bibir, mengambil satu gelas cairan putih yang ia pikir adalah air tawar. Wajahnya berubah kecut begitu cairan itu mengalir menyentuh lidahnya dan turun melalui tenggorokan, nyaris memuntahkannya kembali. Kyungsoo mendadak tampak khawatir sambil menepuk pundak Jongin, menanyakannya berkali-kali, "Kau baik-baik saja?"

Jongin hanya mengangguk. "Aku tidak tahu kalau rasanya sepahit ini. Tapi enak juga sih kalau diminum pelan-pelan."

Kyungsoo hanya memberikannya tatapan datar berharap ia tidak pernah peduli sebelum seseorang yang berperawakan lebih tinggi sedikit dari Jongin datang menghampiri mereka.

"Guys. Sepertinya kita kedatangan tamu."

"We should introduce some rules to them." sahut yang lainnya.

"Jangan gila, Kris. Dia adikku. Dan itu temannya."

Jongin hanya ikut menyeringai karena pesta itu sangat keren. Kolam renang,rooftop, botol-botol Whiskey dan Vodka yang berjejer.

"Cheers with me, dude." Pria berambut pirang itu mengangkat gelasnya, mengundang Jongin ke dalam segelasone shotyang disanggupi oleh pria itu walaupun wajahnya agak terlihat sedikit tersiksa. Kyungsoo mencubit kecil perutnya, "Jangan minum terlalu banyak. Kau pulang sendiri nanti." mengingatkan.

Seperti sebuah lubang harimau, tidak akan ada yang lolos dari tempat itu dalam keadaan selamat, alias sadar. Selalu adaalgojoyang memeriahkan pesta sekaligus memaksa orang-orang untuk meneguk habis botol demi botol yang disediakan.

Pesta itu adalah milik Tao, teman Baekhyun yang memiliki kekayaan berlebih untuk mengundang orang-orang. Ia memperhatikan Kyungsoo dan Jongin yang begitu polos, di mana Jongin tengah dipaksa untuk menelan setengah botol Jack Daniel's yang mereka bilang adalah air madu.

"Dasar orang-orang sinting." batin Kyungsoo yang juga ditarik oleh beberapa dari mereka untuk mencoba scotch whiskey buatan Johnnie Walker seraya pandangannya masih memperhatikan Jongin, was-was jika pria itu tidak sadarkan diri.

Suara dentuman musik yang liar menghipnotis siapa pun yang berada di sana. Liukan tubuh, asap rokok, tawa riuh, bercampur menjadi satu. Ada lagi yang berseru sangat keras sebelum menghabiskan botol keduanya dari Absolute Vodka, persis seperti seseorang yang membuang air bekas pakai ke dalam parit, seperti itulah cara mereka minum. Meneguk habis tanpa ampun hingga beberapa korban sudah tergeletak di atas sofa. Sebagian dari mereka malah berniat untuk mendorong yang sudah mabuk ke dalam kolam renang. Kyungsoo yang masih sadar, segera menghampiri Jongin yang sedang diserang di sisi lain sofa tidak jauh dari sana.

Mereka yang berniat mengundang Jongin untuk terus meneguk habis Whiskey-nya kemudian mengurungkan niat begitu menyadari figur Kyungsoo mendekat. Kepalanya memang terasa sedikit pusing, namun untuk berjalan Kyungsoo masih sanggup. Ia tidak menyadari jika dirinya termasuk peminum yang kuat.

"Jongin. Kau masih sadar?" Kyungsoo menepuk lengan pria itu seraya menatap kelopak mata Jongin yang terasa berat, mulutnya menguarkan bau alkohol begitu kuat hingga Kyungsoo mampu menciumnya dalam jarak mereka. Rambutnya acak-acakan tidak karuan, Jongin tiba-tiba melingkarkan satu lengannya ke sekitar lengan Kyungsoo yang menariknya begitu kuat sampai-sampai pria yang lebih kecil terhuyung mendekat, bertanya-tanya dari mana asal tenaga itu saat seorang pria tengah mabuk berat.

Jongin hanya menarik sudut bibir ke atas membentuk sebuah senyuman, kemudian mengerling nakal yang membuat jantung Kyungsoo berhenti sejenak karena mata yang berkhianat menolak untuk berpaling.

"Jongiiiiin. Banguuuun!"

Yang dipanggil malah menguburkan wajahnya di ceruk leher Kyungsoo, menghirup dalam-dalam aroma bedak bayi seakan itu adalah zat adiktif baru yang memanjakan paru-paru. Tiba-tiba ia bergumam, "Aku mau tidur."

Kyungsoo tidak bisa menolak. Jongin memang menyebalkan karena ia tidak pernah membantu dalam membuat tugas. Tapi Kyungsoo tidak pernah bisa mengabaikan Kim Jongin dan rayuannya. Karena tidak bisa dipungkiri, Kyungsoo selalu merasakan jantungnya yang berdegup aneh di dalam sana setiap kali ia melihat pria itu tersenyum, ketika ia memelas, ketika ia berseru saat memenangkan pertandingan Mobile Legend apalagi mengerucutkan bibir. Hanya saja ia bisa menyembunyikan itu semua dengan rapi tanpa dicurigai oleh siapa pun.

Malam semakin larut, dan pesta terus berlanjut. Bahkan suara ledakan kembang api tidak lagi bisa mengusik Jongin yang bernapas tenang di tulang selangka milik Kyungsoo yang menonjol. Pria itu kesulitan untuk membangunkan Jongin untuk berdiri karena dirinya yang memiliki bobot tubuh lebih kecil. Ketika menolehkan pandangan, hidungnya menabrak surai Jongin yang bau asap rokok, Vape, bahkan Shisha, namun masih terasa selembut itu. Selanjutnya Kyungsoo mendekatkan wajahnya agar pemuda yang satu lagi bisa mendengar jelas, "Jongin, kau bisa bangun sebentar? Kita akan ke kamar."

Jongin mengerutkan hidungnya dan mendongak, menatap Kyungsoo diantar kedua manik yang ditutup oleh pelupuk dengan senyuman menggemaskan yang masih sama. Kyungsoo menepuk kedua pipi Jongin seraya mengatakan, "Bagus, ayo bangun."

Kyungsoo tidak tahu apakah terlahir untuk menjadi adik seorang Byun Baekhyun adalah sebuah keberuntungan atau kesialan, namun Baekhyun yang membuatnya marah akhir-akhir telah memberikan kartu kamar hotel di lantai 16, berjaga-jaga jika adiknya tidak sanggup menghadapi kebrutalan orang dewasa. Ia sendiri tidak yakin kalau ia masih mengenali Kyungsoo selepas acara ini berakhir, Kyungsoo tidak mengkhawatirkannya. Alih-alih, Kyungsoo merasa cemas dengan keadaan pria yang berada di dalam rangkulannya, takut Jongin tiba-tiba muntah atau sakit perut.

Mereka sampai di sebuah kamar berdesain minimalis yang sederhana, tidak banyak perabotan ataupun pajangan klasik. Yang terlihat sejauh pandangan mata hanyalah ranjang berukuran besar dan gorden yang menutup kaca jendela balkon. Kyungsoo segera menghempaskan tubuh pria itu ke atas ranjang.

"Kyung…, Kyungsoo." lenguhnya di tengah ambang kesadaran. Pria itu mencari keberadaan telapak tangan milik yang satunya lagi untuk memastikan bahwa Kyungsoo ada di sana.

Pria yang lebih kecil juga telah ikut menghempaskan tubuhnya di samping Jongin sebelum kemudian menoleh, memeriksa apakah Jongin masih menyadarkan diri. Jongin tidak memberikan tanda-tanda apapun kecuali kausnya yang basah karena ketumpahan minuman alkohol. Kyungsoo hanya bisa menggeleng dan bangun lagi mau tidak mau untuk melepas pakaian itu dari tubuhnya.

Ketika Kyungsoo berada di jarak yang sangat dekat setelah kaus berhasil dilepas dan dilempar ke lantai, Jongin tiba-tiba mendekap tubuhnya kembali ke dalam sebuah pelukan hangat.

"Kyung. Jangan pergi." racaunya tidak jelas, Kyungsoo membiarkan dirinya untuk didekap oleh pria itu dari sisa tenaganya.

Dengan kepala yang juga mulai berat, Kyungsoo berusaha sadar penuh untuk memperhatikan fitur wajah yang sudah sering ia lihat, namun tidak pernah diperhatikan dalam jarak seintim ini. Jongin memiliki tulang pipi yang tinggi, kening yang lebar dengan alis tebal yang menambah kesan menawan pada dirinya. Pria itu tidak memiliki pipi segempal Kyungsoo, malah kebalikannya, tirus dan rahangnya yang lancip. Kyungsoo memperhatikan bibir Jongin yang merah merekah, rasanya ingin melupakan segala sesuatu yang sedang diproses benaknya dan mengecap rasa bibir itu.

Kyungsoo pikir ia telah kehilangan akal sehat jadi ia melakukan apa yang hatinya perintahkan. Hatinya adalah pengkhianat paling besar, ia bahkan tidak tahu lagi sudah berapa lama ia menginginkan ini. Kontras dengan janji yang ia ikrarkan untuk diri sendiri, Kyungsoo tersesat di antara dua jalan yang masing-masing memberikan efek yang sama. Di jalan pertama, ia akan menemukan Jongin untuk menggenggam tangannya dan bersama-sama menghadapi dunia yang menolak cinta dua insan yang bertajuk tabu. Di jalan kedua, Kyungsoo akan menemukan Jongin juga, namun ia harus membiarkan perasaan itu mengendap selamanya di dalam sana, berpura-pura, menjalankan skenario yang telah disusun olehnya.

Ia benar-benar kehilangan keahlian dalam menganalisis dan mengambil keputusan ketika Jongin mendadak menginvasi udara yang berputar di antara mereka dengan napas berat serta aroma madu bercampur alkohol. Pria itu menyesap bibir tebal miliki Kyungsoo dan merekam rasa manis di bawah alam sadar.

Ciuman itu menjadi semakin intim ketika Jongin meloloskan lenguhan dan Kyungsoo bergeser lebih dekat, satu telapaknya bertumpu di atas dada Jongin meminta akses lebih tatkala panas tubuh saling beradu. Jongin menarik pinggang ramping milik Kyungsoo untuk menguncinya rapat-rapat, melenyapkan jarak seakan mereka akan terpisahkan lagi untuk yang kedua kalinya.

Kemudian perasaan itu datang. Kyungsoo merasa hatinya kembali berkecamuk. Perasaan Jongin bergejolak hebat walaupun pikirannya tidak lagi aktif untuk menerjemahkan semua yang terjadi pada organ tubuh. Ciuman yang mereka bagi bukan lagi mewakilkan hasrat maupun napsu, ciuman itu menggambarkan gusar, sesak, rasa takut kehilangan yang teramat dalam yang terus menyayat luka yang belum sepenuhnya sembuh. Luka yang tidak tahu dari mana datangnya. Luka tanpa status yang sungguh menyakitkan.

Mereka berhenti ketika kekalutan kian mendesak hingga ke paru-paru. Kyungsoo mengecap rasa asin yang menyentuh ujung lidahnya sebelum ditarik mundur dan menyadari bahwa ia lagi-lagi menangis setiap kali menemukan kepingan teka-teki berserakan di lantai yang entah sudah berapa kali ia coba rekatkan. Di akhir hari, semua akan tetap sama. Dan ini sudah menginjak tahun ketiga. Kyungsoo hampir putus asa untuk menyusun setiap potong yang seperti berkorelasi satu sama lain namun masih tetap salah. Ia terisak, Jongin tertidur agar gejolak itu dapat berhenti mengusiknya.

Ketika Kyungsoo menarik wajahnya dari sana, ia berusaha untuk berhenti terisak walaupun Jongin tidak akan terbangun karena itu. Mengusap jejak airmata yang menodai pipi, pandangan Kyungsoo tidak sengaja menemukan tanda lahir di dada sebelah kiri Jongin, bukan warna biru ataupun warna kecoklatan seperti kelainan pigmentasi kulit, namun lebih mirip sebuah goresan yang membekas akibat luka jahit sepanjang tiga sentimeter.

Kemudian kepalanya memberat, seluruh dunia seakan berputar sangat cepat Kyungsoo tertinggal di belakang. Hatinya mengerti betul bagaimana perih dan perihal itu menggerogoti batinnya lagi dan lagi. Ia terbaring di samping Jongin, pasrah jika perasaan itu harus membunuhnya sekarang juga.

Rasa itu bukan rasa sakit biasa. Seribu kata pun tak ayal melukiskan rasa sakit itu.

Jika apa yang terjadi dalam batin telah banyak membunuhnya, mengapa rasa itu tak kunjung hilang? Ia ingin menemukan cara untuk menyingkirkan perasaan itu. Ia ingin menyerah. Setiap tanggal dua belas adalah mimpi buruk yang mencekiknya dan sekarang semua bertambah rumit.

Mimpi, ciuman itu, rayuan Jongin. Semuanya membuat dirinya menderita. Ia sungguh sakit kepala.

Kyungsoo merasakan napasnya tiba-tiba berhenti sekitar tiga puluh detik.

Tiba-tiba ia terbatuk seraya memijat pelipis kuat-kuat. Apa yang ia pikirkan tadi? Kyungsoo sekali lagi mencoba mengulang apa yang terlintas di benaknya.

Mimpi, ciuman itu, rayuan Jongin.

Kim Jongin.

Kyungsoo seketika menangis sangat keras namun diredam dengan bantal. Pria itu menggigit bibirnya kuat-kuat. Kepalanya seakan pecah. Ia telah menemukan potongan-potongan lain untuk melengkapi setiap teka-teki tiga tahun belakangan. Ia telah menyelami kesedihan lama yang hidup bahagia dalam pelukan puisi-puisi. Ia menyelami wajah kelam yang menengadah ke langit lapang ketika Kyungsoo bertanya mengenai cinta.

Semua yang terjadi perihal diciptakan sebagai batas. Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. Hari ini membatasi besok dan kemarin. Kehidupan ini membatasi dimensi waktu lampau dan masa depan. Kyungsoo telah menyadari bahwa ia telah pulang di mana sebelumnya tidak pernah ada rumah. Yang ada hanya mimpi buruk yang sekali waktu terburu-buru membangunkan dan meminta ia pergi. Membelahnya. Mengubah ingatannya menjadi deretan hukuman. Takdir selalu meletakkan jiwanya diantara keinginan dan keengganan kembali, di antara kisah yang tidak mungkin selesai.

Kemudian ia melihat jalanan di malam hari, bentangan langit, buku-buku, cerahnya sebuah senyuman, lalu dihapus oleh sebuah gores yang meninggalkan luka dalam. Seharusnya ia tidak lagi menangis. Tidak ada lagi masa lalu ketika ia terbangun menemukan hari yang ingin dihapus menunggu di dekat pintu. Di tempat jauh sekalipun, tidak ada lagi masa lalu. Walaupun jarak antara kenangan dan masa depan adalah kalut di dada yang berusaha tidak meluap di mata. Akhirnya Kyungsoo mengerti bahwa penantian telah berakhir. Yang tersisa hanyalah pertemuan-pertemuan yang membahagiakan. Ia tidak ingin lagi hidup penuh kesedihan. Karena sebagai manusia, keinginannya tidak serakah. Hanya Jongin, Kyungsoo berjanji ia tidak akan meminta lebih.

Cukup Kinan.

Malam hampir habis, Kyungsoo tidak tertidur sedikit pun. Ia memilih untuk menatap Jongin sepanjang waktu jikalau itu harus ia lakukan hingga rambutnya beruban dan tubuhnya telah berubah ringkih.

Sebelum pagi menjelang, ia menyempatkan diri untuk menelepon Sehun.

"Sehun!" pekiknya di ujung jalan.

Yang terdengar hanya deru nafas, sekaligus dehaman yang tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata.

"Aku rasa aku menemukan pria di mimpiku."

"Yeah, kurasa kau memang wanita gila di kehidupanmu sebelumnya." balas Sehun dan suara lain yang muncul adalah sambungan telepon terputus di akhir kalimat.

.


.

Sore di hari Jumat selalu terasa aneh. Sepi dan terlalu tenang. Dan karena terlalu tenang, sampai-sampai Kyungsoo merasa waktu berhenti bergerak. Daun-daun pohon pinus yang berjajar di sekitar kompleks perumahan tidak bergerak sedikit pun. Tidak ada suara gesekan dedaunan maupun kicauan burung-burung gereja yang melintas di antara pepohonan di atas awan. Udara seperti terhisap alat vaccum raksasa dan dunia ini menjadi hampa udara.

Meski nuansanya yang kurang menyenangkan, namun hari Jumat selalu memberikan pemandangan yang indah dan memukau. Langit di hari Jumat selalu tampak cerah dan berwarna biru. Gumpalan awan putih dibentuk padat berisi serta ukurannya terlihat pas. Digantung pada posisi masing-masing yang disediakan di langit sana. Ada yang berdekatan, ada yang berjauhan. Dari sekian banyak gumpalan awan itu, tatapannya jatuh kepada segumpal awan berukuran kecil yang bentuknya agak berbeda dari yang lain, terletak di sudut langit yang paling sepi, jauh dari gerombolan yang lainnya. Ia berada di ujung paling selatan pada lanskap langit.

Semakin ia memperhatikannya, Kyungsoo melakukan manifestasi kecil dalam benaknya sendiri dengan mengatakan betapa bebasnya jiwa awan tersebut jika ia adalah sebuah wujud manusia. Tidak ada yang membelenggu, tanpa ada rasa putus asa dan penderitaan. Karena setiap kali keburukan-keburukan itu muncul, maka ia akan dengan mudahnya melepaskan semua itu ke bumi. Sesaat, narasi yang ia buat berhasil membuat Kyungsoo merasa iri terlebih ketika ia membandingkan bahwa mereka adalah dua makhluk yang berbeda, makhluk langit dan makhluk bumi.

Rasanya sungguh tidak adil untuk berpikiran demikian, namun setelah apa yang terjadi pada pria itu, pada jiwa yang selalu sama, menunggu giliran untuk hidup dan mati dari tubuh yang berbeda, setidaknya pantas bagi Kyungsoo untuk membandingkan dua kehidupan yang bertolak belakang. Karena layaknya manusia biasa, kita semua mendambakan kehidupan yang berjalan sesuai dengan cara yang diinginkan masing-masing orang.

Hari itu adalah dua hari paska perayaan tahun baru di Jakarta. Sebelum lusa, Kyungsoo menikmati hari-hari tenang di mana tidak ada tugas dan ricuh anak-anak kelas yang menyerang notifikasi ponsel karena masing-masing sibuk liburan. Pagi ini Baekhyun mengajaknya pergi mengunjungi kota Bandung namun Kyungsoo menolak tanpa berpikir dua kali. Katanya ia butuh tidur, banyak tidur. Baekhyun juga tidak lagi memaksa hingga Kyungsoo harus membentaknya secara tidak sengaja. Lagipula, Kyungsoo juga ada janji dengan seseorang di sekolah.

"Hyung, aku mau pergi."

Baekhyun yang baru pulang buru-buru mengenakan sepatunya lagi dan berangsur berdiri di muka pintu. "Ke mana?"

"Sekolah."

"Oke, aku antar."

"Tidak, hyung."

"Bukankah kau masih libur?"

"Iya, tapi kami harus latihan drama untuk ujian praktek."

Baekhyun dengan mudah membiarkan Kyungsoo berangkat adalah sesuatu yang patut dicurigai sekalipun itu ke sekolah. Ia berniat untuk menyusulnya, namun mengurungkan niat. Ketika ia sudah meraih kunci mobil, langkah berhenti lagi. Baekhyun dilanda bimbang apakah ia harus pergi atau tidak.

Kyungsoo di sisi lain mengandalkan transportasi umum atauonlineyang belum pernah mengecewakannya. Ia berjalan sekitar dua ratus meter dari halte busway menuju pagar sekolah yang tampak sepi, namun tetap terbuka. Satpam sekolah yang menyadari kedatangannya hanya memperhatikan wajah datar Kyungsoo tanpa berniat menyapa.

Selama perjalanan, Kyungsoo memikirkan keputusan yang dibuatnya tempo hari.

Kyungsoo: Temui aku di sekolah hari Jumat.

KJI: Ngapain? Kangen ya?

Kyungsoo: G.

KJI: Galak.

Kyungsoo tidak lagi membalasnya. Malah gugup sekaligus gelisah jika usahanya sia-sia. Jika semua tidak pernah terjadi seperti yang ia harapkan. Kyungsoo takut untuk menderita berulang kali yang di mana rasa sakit itu tidak kian membunuhnya, yang di mana ia tahu penyebab dari semua masalah yang menimpa dirinya. Apakah ia istimewa? Baik jawaban iya maupun tidak, jika kali ini tidak berhasil, jika usahanya kembali gagal, Kyungsoo bersumpah kalau ia akan menyerah. Ia tidak akan lagi berjuang seorang diri walau hati berkata sebaliknya. Kyungsoo rela untuk dibunuh secara perlahan oleh cinta yang tidak pernah ia miliki.

KJI: Hari ini jadi, kan?

Kyungsoo: Mhm.

KJI: Galak banget dari kemarin.

Jadi di sinilah mereka. Di lapangan sekolah yang tidak seluas Batavia tempo dulu, ditemani dengan sore hari yang menjelang malam.

Kyungsoo memantapkan hatinya sebelum menemui Jongin di tengah lapangan, yang berdiri di sana hanya menatap Kyungsoo bingung. "Kenapa di sini? Kita mau melakukan apa?"

Yang ditanya masih menunduk, sesekali mengarahkan pandangan ke arah utara sebelum menarik napas panjang dan menatap pria yang lebih tinggi tepat di matanya.

"Kau punya tanda lahir?"

Jongin mengernyit, ia ingin menggoda Kyungsoo namun mengurungkan niat ketika pria di hadapannya tidak terlihat ingin bercanda sama sekali. Selanjutnya Jongin mengangguk.

"Di mana?"

Dengan polos, Jongin menyentuh dada kirinya seraya masih menatap Kyungsoo bingung.

"Apakah terasa sakit?"

Jongin mencoba untuk mengingat-ingat sebentar, pandangannya jauh ke atas langit mencoba menggali memorinya. "Iya, tapi tidak sering. Sebulan sekali, itu pun hanya nyeri. Suho hyung bilang jantungku lemah? Aku juga tidak mengerti."

Kalimat polos Jongin berhasil membuat Kyungsoo ingin menyeka air mata sekaligus tertawa, yang hanya mengundang ribuan pertanyaan lain di balik kepala pria tinggi itu. "Memangnya kenapa?"

"Apakah kau ingat di hari apa ketika rasa sakit itu datang? Tanggalnya?

Jongin menjatuhkan rahangnya seraya membulatkan bola mata, "Kyungsoo, rumus fisika untuk ujian saja aku lupa, kau malah suruh aku mengingat kapan jantungku nyeri? Kau sakit?" Tangan satunya lagi ditempelkan pada kening Kyungsoo yang tertutup rambut poni, pria itu menengadah untuk menemui manik Jongin setelah berkedip beberapa kali untuk menahan bulir air yang semakin menumpuk.

Jongin pikir Kyungsoo sedang bertingkah imut karena obsidian bak anak anjing itu tampak merayu, yang sebenarnya menyeramkan bagi Jongin karena Kyungsoo tidak pernah sekalipun dalam hidupnya melakukan itu. Ia selalu menjadi yang paling galak dan sangar. Kyungsoo selalu menjadi yang paling kuat dan keras kepala, Jongin tahu itu sejak mereka bertemu di bangku sekolah dasar.

"Sepertinya pertengahan bulan? Tanggal belasan, kadang 13, kadang 12, kadang 15. Tidak jauh-jauh dari sana." jawabnya terburu-buru. Kedua ujung bibir berbentuk hati tertarik ke atas mengukir senyum. Kini, Kyungsoo meletakkan satu telapaknya menimpa tangan Jongin yang di luar kesadaran masih memegang tanda lahirnya dari balik baju.

Jongin tampak bingung dengan yang dilakukan Kyungsoo secara tiba-tiba, namun bukan berarti ia menolak. Ia malah membeku di posisinya dan menatap fitur wajah itu lekat-lekat. Kyungsoo juga tidak bergerak, ia tengah berharap kalau Jongin mampu mengingatnya melalui sisa kenangan yang dimiliki oleh benak payah kekasihnya di kehidupan sekarang. Ia sungguh berharap perasaan milik Jongin setidaknya muncul bagai isyarat yang mengungkapkan bahwa sesuatu telah terjadi di antara mereka. Bahwa mereka pernah mencintai satu sama lain di waktu dan tempat yang buruk, lalu kemudian berjanji untuk menemui satu sama lain lagi ketika kehidupan sudah lebih baik.

Kyungsoo salah menuliskan harapan waktu itu. Ia hanya mengatakan bahwa ia ingin melihat Jongin hidup dengan baik, orangtua yang baik, dan pekerjaan yang tidak membuatnya harus berkorban nyawa. Kyungsoo tidak pernah mengatakan bahwa ia ingin dipersatukan dengan Kinan yang kelak dilahirkan kembali sebagai manusia dengan apa pun latar belakangnya. Sehingga itu salah bagi Kyungsoo untuk mengharapkan akhir yang bahagia.

Ada kali di mana kesedihan mendominasi seluruh jiwa, seseorang lupa mengatakan apa yang benar-benar ia inginkan. Mereka hanya meminta yang paling kecil karena takut yang besar tidak akan dikabulkan. Di hari lain, si pembuat harapan jugalah yang akan marah ketika dunia berjalan sesuai dengan keinginannya.

"Jantungku sakit, Kyung." katanya lirih, Kyungsoo membelalakkan kelopak matanya dua kali lebih besar dari yang sudah ada.

Jongin mulai merasakan disposisi batin yang selanjutnya membuat pikirannya berputar dan hati berkecamuk, gelenyar kepakan sayap kupu-kupu memenuhi seisi perut ketika yang ia rasakan bukanlah jatuh cinta, namun rasa pilu yang mendalam, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, seterusnya menarik alam sadarnya ke suatu tempat yang buram dan gelap.

"Kyung…." Ia memanggil sekali lagi, masih tidak tahu apa pun tentang apa yang terjadi namun air mata melesak keluar dari sudut pelupuk. "Aku kenapa?"

"Jongin, kau ingat buku yang kau berikan waktu itu? Penantian yang singkat untuk pertemuan yang panjang…. Kau pernah menginginkan cinta yang menjadi jalan keluar ketika dunia menolak untuk mendengar harapan…."

Kyungsoo masih melanjutkan kalimat demi kalimat secara perlahan. Jongin merasa kepalanya berat. Kata-kata tidak jelas, ia terbata, kesulitan untuk menyusun bagian-bagian yang hancur seperti keping domino. "Kertas…. Kertas itu…. Di mana?"

Kertas yang ia tulis di dalam kamar dan ditinggal sebelum berjalan menuju alun-alun tempat pengeksekusian dirinya.

Air mata Kyungsoo sudah tidak terbendung, Jongin merasakan sakit yang teramat sangat hingga ia jatuh bertekuk lutut masih mencengkeram dada kirinya yang seperti ditusuk oleh pedang paling tajam milik seseorang. Jongin memejamkan mata memohon agar ribuan spektrum cahaya dengan potongan kecil setiap kejadian yang pernah dialaminya berhenti berputar, menariknya, menjungkirbalikkan seisi pikiran. Dirinya seperti ditarik mundur secepat kilat melewati batas ruang dan waktu. Perjalanan panjang melewati berbagai dimensi seolah ingin menghapusnya. Mereka yang tidak bisa mengeja sebuah nama dengan benar, Jongin harus menggunakan nama-nama yang tidak dikenal, berganti-ganti, kemudian berakhir pada sebuah tempat persembunyian. Hidupnya bagai penyamaran yang takut terungkap. Di luar ingatan, tidak ada yang nyata.

Ia terus mengerang nama Kyungsoo karena hanya itu yang diingat olehnya. Kyungsoo. Kyungsoo. Kyungsoo.

Setelah kertas, kemudian darah. Tubuhnya berlumuran darah. Lalu gelap. Suara rumput di malam hari. Suara ricuh, tembakan. Hal selanjutnya yang ia ingat adalah tekstur bibir yang menempel pada miliknya, begitu manis namun menyakitkan.

Kyungsoo menangkup kedua pipi Jongin dan menciumnya penuh ketulusan. Kyungsoo memberikan lumatan-lumatan kecil berharap mengembalikan semua yang telah terlupakan. Karena ia ingin memori itu datang sekali lagi, kembali ke dalam pikirannya, tatkala bukan untuk menyesali dan berserapah tentang takdir, namun untuk mengabarkan bahwa mereka telah pulang. Dunia telah mendengarkan doa-doa manusia yang putus asa. Agar Jongin bisa mencintainya dengan nama yang sama, di setiap bunyi yang bergetar seperti ledakan mesiu pengantar tidur para penguasa. Atau jika malam terlalu dalam menyepikannya atau jarak terlalu jauh menepikan Jongin, Kyungsoo ingin membisikkan namanya sebagai permintaan untuk terakhir kali.

Rindu tidak pernah mengenal waktu rehat. Bagai musim yang tidak pernah berhenti bergulir, bagai satu negri sedang berjuang menebus jiwa dari tangan-tangan orang asing. Jongin memikirkannya, seketika angkasa perlahan menjadi tenang dan bintang-bintang lebih banyak dari biasanya. Semesta seolah tercipta sedetik yang lalu, Jongin baru saja bangun dari tidur pulasnya. Yang ia dengarkan hanyalah keheningan yang jatuh dan pecah.

Ciuman itu usai dengan deru airmata yang melesak keluar tanpa suara, tidak ada isakan, hanya denyut nadi yang hampir berhenti. Malam semakin gelap, Jongin berdiri diikuti dengan Kyungsoo.

Semilir angin, suara rumput teki, bunyi sirine berisik, hingga jangkrik pengganggu yang menjadi saksi ke mana cinta itu berlabuh. Mereka menyatukan detak jantung dalam sebuah pelukan barangkali hati sempat terbelah dua dan tidak bisa hidup satu sama lain.

"Maafkan aku. Maaf."

Kesunyian panjang selepas ciuman ringkas, hanya itu yang lolos dari bibir Jongin. Menahan isakan, namun sesungguhnya begitu sesak. Tidak ingin percaya, namun cintanya tidak membutuhkan jarak lagi.

Kyungsoo tidak mampu berkata apa-apa, setelah terpisah oleh lamanya waktu, ia tidak membutuhkan apapun untuk mengulang salam sapa yang tidak pernah terjadi.

Dari balik pintu gerbang lapangan luas itu, sepasang manik memandang kedua insan yang memancarkan hangat penuh cinta di sana. Bukan dengan tatapan kedengkian, melainkan senyum rela karena ia tahu adiknya telah berhasil menemukan kebahagiaan miliknya yang lama hilang.

Malam itu tidak ada yang sanggup ia lakukan selain membuka jendela dan menatap kekosongan hingga langit menutup matanya yang tenang dan lapang. Membayangkan dirinya yang tidur di pelupuk. Ia tidak ingin tertelan mimpi barangkali besok tidak ada kepastian siapa lagi yang akan datang mengetuk pintu untuk memisahkan mereka berdua. Ia tidak ingin bangun, kalau begitu.

Kau ingat pertama kali kita berjumpa?

Kota itu tidak begitu bersahabat dan kita hanyalah dua manusia yang dipertemukan dalam konspirasi alam semesta. Di sanalah kau berada, dengan sorot lembut yang meluluhlantakkan benteng yang sudah kubangun dalam kesia-siaan. Jantungku berlari tak tentu arah, senyummu pencuri kewarasan. Caramu menatap dunia membuatku tertegun seribu bahasa, betapa menatapmu membuatku cemburu pada angin yang mampu merangkulmu sewaktu-waktu. Di matamu aku tersesat dan berharap terus tersesat.

.

.

.

END


.

Trivia

Kinan Arya Imas / Kai = Kim Jongin

Oshiro Hiina = Do Kyungsoo

Yamada Akio = Byun Baekhyun

Komandan Sugih = Kim Junmyeon

.


.

Chingchongs:

HOLAAAAAAAA~ /muncul dari dalam goa/

Yes, we're finally back with a new story. Sebetulnya ini adalah one shot yang didedikasikan untuk event KFF2K18 yang sudah berlangsung Januari kemarin (yang ketinggalan jangan sedih, karena taun depan pasti ada lagi!). Aku memutuskan untuk repost di akun ini dan membaginya jadi dua bagian; past life present life.

Personally ingin minta maaf karena sudah sangat jarang mengunggah FF di sini, tapi gak berarti kami udah berhenti nulis. Banyak cerita yang belum terselesaikan karena satu dan lain hal huhu so sorry guys! TT But we promise we'll be back with another (hopefully) exciting stories!~

Thanks for reading this!

Saranghaja,

exoblackpepper