Claiming
.
.
.
.
[ chapter 02 ]
.
.
"Seperti biasa kemampuanmu tidak berkurang, kau melakukan shifting selalu dengan baik."
"Apa kecepatannya bertambah?"
"Yah, lebih meningkat. Tenang kau tetap terhebat Sehun."
Sebotol minuman isotonik diraihnya dan meminumnya hingga setengah. Mendudukan diri pinggir lapangan sebagai tempat peristirahatan.
"Tahun ajaran baru sudah dimulai, dan banyak para peserta didik baru telah bergabung. Aku harap tahun ini adalah tahun kesempatan kau bisa menemukannya..."
"Kau tahu? Sudah cukup lama kau bertahan, jadi aku rasa sudah saatnya Sehun-..."
Errhh...
Geraman keras ke luar dari mulutnya. Gertakan gigi pun ikut andil terdengar tak kalah, tak perduli hal itu memutuskan ucapan pria lain. Ia mendadak buruk pada perasaannya, apalagi tahu maksud apa dari ucapan pria tersebut.
"Jangan memulai dengan apa yang tak aku sukai hyung!" Ia berbalas datar.
"Ayolah Sehun, aku hanya ingin kau lekas mencari tanda keberadaan mate untukmu? Terlalu lama kau bertahan dan itu tidak baik!"
Sekarang arah pembicaraan mereka berubah menjadi hal yang memuakan untuk Sehun dengarkan. Ia terlalu lelah usai berlatih, kini Kris datang hanya untuk membuat perasaannya lebih buruk.
Membicarakan hal yang sama berulang kali, sampai terlalu bosan didengarkan. Bahkan Sehun heran tidakkah pria lebih dewasa darinya ini lelah berbicara padanya? Yang bahkan ia tetap akan sama tidak ingin mendengarkannya.
Jika sudah seperti ini pasti berakhir atas ke amarahannya. Lalu mengapa harus sekarang kembali dibicarakan? Justru semakin menambah beban berat pada pikiran saja.
Sehun benci hal itu.
"Kris hyung, ku mohon jangan membuatku semakin buruk!" Ia memperingatkan.
"Tidak, aku hanya ingin kau menurut kali ini!" Sisi lain pria dewasa di sana tetap memaksa.
"Sejauh kau menolak memiliki seorang mate, takdir tetap berjalan Sehun!"
"Lalu, hyung tetap ingin memaksaku mencarinya begitu?" Kini emosi Sehun tidak bisa dikendalikan seperti biasanya.
"Sudah kewajibanku sebagai ketua organisasi."
Cih!
Benar alasan yang memuakan, menjadikan status sebagai pemaksa dalam tugas. Apa selalu seperti itu sistem kerja para tertua di academy ini? Jika benar Sehun mengutuk mereka semua.
Karena dirinya menjadi korban dalam kerja sialan mereka, yang sudah jelas ia takkan menginginkan segala peraturan yang ada. Termaksud memiliki mate untuknya.
"Semestinya hyung sudah tahu jawabanku bukan?"
"Menolak percuma Sehun, takdir akan berkata lain daripada keinginanmu itu!"
Terlalu muak Sehun ingin segera mengakhiri pembicaraan ini. Ia beranjak dari duduknya dengan gaya malas, meraih jaket merah maroon yang sering ia gunakan. Memakainya untuk menutupi tubuh atletisnya, sebelum memutuskan untuk pergi dari sana.
"Pecayalah Sehun, siapa pun orangnya dia tetap akan menjadi takdirmu."
Mengacuhkan seruan Kris sebelum ia benar pergi meninggalkan pria dewasa itu.
Kris masih di tempat mendesah resah, ada rasa kelelahan menumpuk pada kedua pundaknya. Pandangan sendu hanya bisa ia tujukan pada punggung Alpha muda di depan sana, tanpa bisa melakukan apa pun.
"Bocah keras kepala, semoga Tuhan menyadarkanmu..."
.
.
.
.
.
.
Setelah meninggalkan Kris akibat pria itu kembali berbicara dengan maksud ingin memaksanya, Sehun berencana akan kembali pada kamar asrama khusus. Mungkin sekadar mengistirahatkan diri usai berlatih.
"Hallo Sehun-shi..."
"Sehun, tunggu..."
"Annyeong Sehun."
Mengabaikan beberapa panggilan atau tatapan memuja dari peserta didik lainnya. Ia sama sekali tidak melirik pada siapa pun. Terus melangkah angkuh begitu acuh melewati lorong-lorong yang untungnya telah sunyi.
Menjadi kebiasaannya setelah berlatih ia akan menjauh dari keramaian yang ada. Entah akan terlelap di kamar atau, mungkin berada di ruang latihan khusus individu untuk berlatih lagi.
Oh Sehun seorang Alpha berbeda tidak sama dengan macam Alpha lainnya. Ia tertutup, terlalu angkuh dalam bersifat dan enggan berbaur dengan penghuni academy lainnya. Jadi, jangan heran jika ia tidak akan pernah terlihat sedang bersama orang lain, selain pelatihnya.
Ia sendiri dan mandiri itulah dirinya.
Berakhir melewati lorong ia berbalik arah menuju tangga lantai dua. Di sana masih terlalu sunyi dilewati. Kegiatan pun belum diaktifkan karena masih dalam masa bergabungnya peserta didik yang baru.
Hal yang Sehun syukuri sejenak karena ketika kegiatan telah diterapkan dan diaktifkan, dirinya pasti berada pada kelompok berbeda dan bertemu dengan anggota baru.
Itu hal yang Sehun tak sukai sejauh ini.
Ia akan menaiki anak tangga pada lantai dua masih dalam angkuhnya, tapi sebelum terjadi sesuatu mulai menusuk hidungnya. Tiba-tiba tercium entah dari mana aroma yang sulit dijelaskan. Aroma baru pertama kali ia rasakan, dan aroma tersebut secara perlahan membangkitkan sesuatu dalam dirinya entah apa.
Sehun menggantungkan langkah ketika ingin naik pada tangga. Terdiam untuk merasakan aroma tersebut. Yang tercium kini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Walau tidak tahu aroma jenis apa, tapi secara alamiah dapat menenangkan pikiran.
Jauh ini Sehun tidak pernah mendapati aroma senikmat ini. Akan mendapati itu jika pada saat masa heat para omega terjadi, itu pun tak ada yang bisa membuat dirinya ikut larut. Apalagi terangsang pada saat menciumnya.
Namun, kali ini...
Hhhh...
Tangan yang menyentuh pada pegangan tangga, Sehun remas kuat sekuat aroma yang dapat menghancurkan pertahanan pada dirinya.
Tidak tahu berasal dari mana, tapi saat tak sengaja Sehun melalui instinct serigalanya. Ia bertoleh kepala ke samping dan di sana tak begitu jauh, mata birunya menemukan punggung kecil dalam balutan hoodie biru langit.
Duduk membelakangi pada kursi teras gedung. Seorang diri entah sedang apa, hanya dari sanalah Sehun yakini aroma tersebut berasal.
Terjadi lebih kuat seperti aroma tersebut mulai nakal merenggut kesadaran yang Sehun miliki. Apalagi ketika ia bisa melihat sosok berhoodie biru beranjak dari tempatnya. Berbalik badan siap meninggalkan tempat tersebut.
Kala itu Sehun terpaku memperhatikan bagaimana pergerakan yang dilakukan sosok di sana. Seorang namja berwajah asing dan jauh lebih kecil tampak dari posture tubuhnya. Mata Sehun lebih menajam cukup tertuju pada gerak namja tersebut.
Tampaknya namja tersebut baru menyadari adanya sosok lain selain dirinya sendiri. Karena ketika menghadap pada arah depan sosok itu ikut berhenti dalam langkahnya.
Sepasang manik coklat bening bertemu dengan manik biru tajam milik Sehun. Pada saat itu Sehun merasa oksigen di sekitarnya menipis. Seperti terserap oleh sesuatu yang bisa membuatnya kehilangan nafas.
Wushh
Angin berhembus menerpah entah darimana, bersamaan dengan menguatnya aroma tadi. Berhasil mendirikan bulu-bulu halus pada tubuh si Alpha, dan Sehun masih memiliki kesadaran untuk segera menghentikan ketidaksadaran pada dirinya sendiri.
Ia lekas membuang muka ke depan, memutuskan kontak mata pada sosok namja di sana. Kemudian bertahan untuk melanjutkan langkahnya menjauh.
Berharap setelah perginya ia semua membawanya kembali pada suasana normal. Walau di sisi lain dari dirinya sedang menandai aroma tersebut. Aroma menenangkan juga nikmat hanya satu-satunya bisa melarutkan dirinya kapan pun itu.
Bahkan bisa lepas lalu berbuat di luar kuasanya. Dan hal itu meruntuhkan atas segala prinsip yang lama Sehun buat agar tak mengikat siapa pun sebagai mate hidupnya.
Namja bermanik coklat bening bak rusa, bersurai blonde lembut dan hoodie biru langit adalah sosok yang Sehun hindari mulai sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Luhan, kau dari mana saja heoh? Aku menunggumu!"
"Maaf, tadi orang tuaku menghubungiku..."
"Ah begitu, ini untukmu!"
Selembar kertas Luhan terima dari Baekhyun ketika ia mendatangi teman barunya itu. Kertas yang berisikan semua susunan kegiatan entah apa. Sesaat ia pandangi bengong pada kertas tersebut, lalu beralih pada Baekhyun.
"Apa ini?" Tanyanya.
"Itu kertas jabwal kegiatan kita, dan mulai besok semua kegiatan diaktifkan" jelas Baekhyun.
Mengerti Luhan berangguk kepala paham, sekali lagi memandang dan membaca setiap kegiatan yang telah disusun dari kertas tersebut.
Sementara Baekhyun tak sengaja memperhatikan sesuatu yang ada dipunggung tangan temannya. Sesuatu entah apa, namun tampak seperti gambar atau sejenisnya. Karena penasaran ia bertanya langsung.
"Luhan..." panggilnya.
"Yah?"
"Ada sesuatu dipunggung tangan kirimu."
Ia memberitahukan dan Luhan dengan sedikit bengong memeriksa punggung tangan kirinya. Di sana benar ada sesuatu.
"Apa itu?"
"Oh, ini aku juga tidak tahu Baek."
"Aku pikir itu luka Luhan?"
"Entahlah..."
Kemudian Baekhyun masih dalam rasa penasaran meraih tangan Luhan. Ia lebih mendekat dan memeriksa apa sebenarnya yang ada dipunggung tangan temannya itu.
"Awalnya aku juga berpikir itu luka, tapi saat aku periksa ini tidak sakit sama sekali. Aku juga tidak tahu kapan ini munculnya?"
Baekhyun tak begitu memperdulikan ucapan Luhan. Ia hanya fokus pada punggung tangan namja itu. Sesekali ibu jarinya mengusap tanda itu, entah mengapa tiba-tiba ia menyadari sesuatu setelah mengusapnya.
Benar bukan luka, melain sebuah gambar samar kecoklatan dalam bentuk yang tampaknya belum begitu sempurna. Masih terlalu acak-acakan dan tak menentu, tapi Baekhyun mulai menyadari apa sebenarnya gambar tersebut.
Maka sekali lagi ia mengusapnya dengan mata lebih menajam memperhatikannya, ingin lebih meneliti gambar tersebut.
"Luhan, kapan kau menyadari ini?" Ia bertanya sebelum mengambil keputusan.
"Emm...aku tidak begitu yakin, tapi tadi setelah aku menerima telepon dari orang tuaku, tepat saat aku akan pergi kemari aku tidak sengaja menemukannya" jawab Luhan mengingat-ingat.
"Lalu?" Tatapan antusias Baekhyun beralih pada temannya itu.
"Yah, aku pikir itu luka atau terkena kotoran tapi aku tidak bisa membersihkan-..."
"Luhan!"
"Em, yah?"
"Kau..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Pria dewasa memainkan pena di jari-jemarinya. Ada kertas lusuh di atas meja kerja yang sejak tadi pula ia pandangi, tanpa sadari sesosok lain memasuki ruangan tanpa permisi.
"Apa takdir benar tidak bisa diubah?"
Pertanyaan tak terduga didapatkan, bahkan tanpa sapaan sebagai tanda hormat dari yang lebih tua seakan tidak belaku lagi untuk sosok yang baru saja tiba. Pria itu akhirnya mengubah pandangannya menuju sosok lain.
Tatapan datar khas entah ada sedikit percikan amarah terpancar dari kedua manik biru tajam itu. Ia tahu pasti saat ini ada masalah lagi yang terjadi pada salah satu peserta didik terhebatnya ini.
"Apa kau baru saja mengalami Imprint nak?"
"Bukan itu tujuanku datang kemari!"
"Lalu?"
Geraman kesal tercampur muak begitu kentara terdengar hampir memenuhi ruangan. Sudah semestinya menjadi kebiasaan jika sosok Alpha muda ini datang ke ruangannya dengan amarah hampir berada di puncak kepala.
"Jawab saja pertanyaanku!"
"Tuhan sudah menentukan pasti takdir para mahkluknya nak, jadi sudah jelas tak ada yang bisa merubahnya sekalipun kau seorang dewa!"
Masih pada tatapan datar, lalu berubah dan tercampur pada rasa tak setuju. Ia selalu tahu reaksi lebih dari Alpha muda ini jika sudah membicarakan takdir para kaum seperti mereka.
"Kenapa? Apa kau merasa dekat dengannya?"
"Jika begitu, aku tetap tidak akan menerimanya. Beta atau Omega sekalipun, aku tidak mau!"
Kata berbeda tapi tetap sama dalam artian, ia cukup bosan mendapati dari mulut tipis si Alpha muda yang keras kepala.
"Yah, terserah kau mau bagaimana nak, tapi lihat saja pada akhirnya kau tidak bisa berbuat apa pun lagi?"
"Kau, Beta atau Omega...tidak bisa hidup tanpa seorang pasangan ingat itu!"
"Omong kosong, aku pergi!"
Si Alpha berakhir berlalu dari ruangan, tanpa kata-kata apa pun sebagai akhir pembicaraan dadakan mereka. Meninggalkan si pria dewasa dalam kesendirian lagi.
Pria itu bergeleng kepala melihat betapa keras kepalanya si Alpha muda. Yang entah sampai kapan batu akan hancur jika diserang dengan apa pun juga. Maka seperti itulah sosok si Alpha muda tersebut, terlalu keras dan sulit disadarkan atas namanya takdir.
Ia sandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja. Beralih memandang jendela kaca yang ada dan menerawang sejauh mungkin.
"Benar, kita lihat sejauh mana kau bertahan Oh Sehun?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Luhan dapat melihat daun-daun kering bergerak random tertiup oleh angin dari luar sana. Walau gelap malam membutakan mata, tapi ia bertahan berdiri di luar balkon kamar asrama untuk memandang pemandangan malam hari.
Dari daun-daun kering di sana, kini ia menunduk dan menatap pada punggung tangan kiri yang ia genggam. Gambar yang masih sama dalam samar, ia kembali teringat akan perkataan Baekhyun sore tadi.
"Setiap Omega akan memiliki tanda dipunggung tangannya, dan itu muncul ketika ia akan bertemu dengan mate-nya.""Kau akan mengetahui siapa mate-mu saat tanda di tanganmu terlihat jelas, tanda dari lambang sosok Alpha maka dialah mate-mu.""Luhan, walau aku tidak yakin jika kau benar sudah bertemu dengannya atau belum, tapi percayalah jika kapan saja kau benar akan mengetahui siapa Alphamu dan itu terjadi saat masa haet pertamamu terjadi...""Dan tanda ini adalah milik dari siapa pun mate-mu...aku juga akan seperti itu jika waktunya telah tiba, kita semua pasti akan memiliki seorang pemilik, jadi ingat itu baik-baik yah!"
Mengingatnya tanpa sadar Luhan mengusap gambar pada punggung tangannya itu. Ada desahan pelan ia keluarkan dari mulutnya, kini ia memikirkan segala ucapan Baekhyun padanya.
Mate?Alpha?
"Jadi, aku benar akan memiliki seorang Alpha?"
Ia bertanya entah pada siapa karena dirinya seorang diri di sana. Lalu ia kembali menatap ke atas pada langit yang gelap.
"Jika sudah menemukannya, apa yang harus aku lakukan?"
"Ayah, ibu aku merindukan kalian..." lirihnya dalam kesendirian.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Claiming chapter 02 end
Halo Shou back nih bawa ff abal-abalnya hehee
Seperti biasa makasih bagi yang udah baca, review, favorite atau follow.
Terutama yg udh review dichap sebelumnya
Buat kamu-kamu yg udh ngasih koreksi atau kritikan juga saran makasih banget :')
Emng gaya penulisan saya belum seberapa, ada yg bilang ini udh rapi dn sbgnya, tapi saya rasa masih perlu banyak perbaikian lagi yah :')
Atau dari kalian yg masih kurang paham dari setiap kalimat-kalimatnya, duhh maaf banget kalo udh buat kurang ngerti yah sama ceritanya, ntar Shou usahaain buat perbaikin lagi
Mau balas review dari kalian sih, tapi rada bingung balasnya gimana? Maklum saya masih awam dan baru disini, masih belum tau benar gimana gunain ffnnya hehee...
Tapi sekali lagi makasih untuk semua pembaca ff saya ini, semoga kedepan bisa lebih baik yah ceritanya
Last, sampai jumpa dilain waktu
Byebyee
